Anda di halaman 1dari 7

Penerapan Hasil Kali Kelarutan

Meskipun mempunyai keterbatasan – keterbatasan, hubungan hasilkali kelarutan


mempunyai nilai yang besar sekali dalam analisis kualitatif karena dengan bantuannya
memungkinkan kita bukan saja untuk menerangkan, melainkan juga meranalkan reaksi-
reaksi pengendapan. Hasil kali kelarutan dalam keadaan sebenarnya merupakan nilai akhir
yang dicapai oleh hasil kali ion ketika keseimbangan tercapai antara fase padat dari garam
yang hanya sedikit larut dan larutan itu. Hasil kali ion berbeda dengan hasil kali kelarutan,
sistem menyesuaikan diri , sehingga hasil kali ion mencapai hasil kali kelarutan. Jadi, jika
hasil kali ion dengan sengaja dibuat lebih besar dari hasil kali kelarutan, misalnya
menambah suatu garam lain dengan satu ion-sekutu, penyesuaian oleh sistem
mengakibatkan mengendapnya garam padat. Sebaliknya, jika hasil kali ion dibuat lebih
kecil dari hasil kali keloarutan, missalnya dengan mengurangi konsentrasi salah satu ion,
kesetimbangan dalam sistem dicapai kembali dengan melarutnya garam padat ke dalam
larutan.
Sebagai contoh pembentukan suatu endapan,marilah kita tinjau kasus perak klorida.
Hasil kali kelarutan adalah

K5 = [ Ag+] x [Cl-] = 1,5 x 10-10

Jika pada larutan dengan ion perak 0.1 molar, kita tambahkan cukup kalium klorida
untuk menghaslkan sementara konsentrasi klorida 0.01 molar. Hasil kali ion dalam hal ini
akan menjadi 0,1 x 0.01 = 10-3, karena 10-3 > 1,5 x 10-10, keseimbangan tak akan
terdapat,maka akan jadi pengendapan perak klorida,

Ag+ + Cl- ↔ AgCl

Sampai hasil kali ion berkuran menjadi sama dengan hasil kali kelarutan, yaitu
sampai K5 = [ Ag+] x [Cl-] = 1,5 x 10-10. Pada titik ini, tercapailah keseimbangan, yaitu laju
pembentukan perak klorida sama dengan laju pelarutnya. Jika kita tambahkan suatu garam
klorida atau garam perak yang larut dalam jumlah sedikit, terjadi lagi sedikit pengendapan
perak klorida lebih lanjut, samkeseimbangan tercapai lagi dan seterusnya. Hasil kali
kelarutan menentukan keadaan keseimbangan, tetapi tak memberi informasi laju dengan
mana keseimbangan itu terjadi.
Pengendapan sempurna suatu elektrolit yang sangat sedikit larut adalah tidak
mungkin, karena betapa pun besarnya konsentrasi salah satu ion dinaikkan dengan sengaja ,
konsentrasi ion lainnya tak dapat dikurangkan sampai nol, karena hasil kali kelarutan
merupakan nilai yang konstan. Memang konsentrasi suatu ion itu dapat diturunkan sampai
nilai yang terkecil sekali, contoh : konsentrasi ion perak adalah serendah 3 x 10-9 mol l -1.
Namun dalam prakteknya ternyata dalam titik tertentu, penambahan lebih lanjut dari zat
pengendap , tak menambah bobot endapan dengan berarti. Kelebihan zat pengendap terlalu
banyakspat menyebabkan sebagian endapan melarut kembali, sebagai akibat bertambahnya
efek garamatau pembentukan ion-kompleks.

Pengendapan Sulfida

Gas hidrogen sulfida sering dipakai reagensia dalam analisis anorganik kualitatif. Bila
gas hidrogen sulfide dialirkan dalam larutan, sulfida-sulfida logam mengendap. Untuk
pengendapan ini, kaidah yang disebut diatas dapat diterangkan ; pengendapan hanya bisa
terjadi, jika hasil kali konsentrasi- konsentrasi ion logam dan ion sulfida (dipangkatkan
dengan sesuai) melampaui nilai hasil kali larutan. Sementara konsentrasi ion logam
biasanya jatuh dalam daerah 1-10-3 mol l -1, konsentrasi ion sulfida dapat berbeda-beda
banyak sekali dan dapat dipilih dengan mudah dengan menyesuaikan pH larutan sampai
suatu nilai yang cocok.

Perbedaan-perbedaan konsentrasiion sulfide dengan pH disebabkan oleh fakta bahwa


hidrogen sulfida sendiri mempunyai asam lemah dengan dua tingkat disosiasi

ANALISIS ANORGANIK KUALITATIF

H2S ↔ H+ + HS-

dengan
[H+ ][HS− ]
K1 = = 9,1 x 10-8
𝐻2𝑆

dan

HS- ↔ H+ + S2-

dengan
[H+ ][S2− ]
K2 = = 1,2 x 10-15
𝐻𝑆−

Mengalikan kedua persamaan kita peroleh


[H+ ][HS− ]
= K1 K2= 1,09 x 10-22 ≈ 10-22
𝐻2𝑆
Pada suhu kamar (25oC) dan tekanan atmosfer; larutan air dari hidrogen sulfida jenuh
hampir tepat 0,1 molar, karena zat asam lemah, disosiasinya boleh diabaikan, dan nilai
[H2S] = 0,1 dimasukkan ke dalam persamaan di atas :
[𝐻 + ]2 [𝑆 2− ]
= 10-22
0,1

Rumus ini dapat diubah sehingga memberi :


10−23
[S2-] = [𝐻 +]2 (i)

Persamaan ini menunjukkan kolerasi antara konsentrasi ion-hidrogen dan konsentrasi


ion sulfida. Dapat kita lihat bahwakonsentrasi ion-sulfida \berbanding terbalik dengan
konsentrasi ion-hidrogen pangkat dua. Dalam arutan yang bersifat asam kuat ([H+] = 1),
konsentrasi ion-sulfida mungkin tak lebih besar dari 10-23 mol l-1. Dalam keadaan demikian
hanya sulfida-sulfida yang paling larut yang dapat diendapkan. Dalam larutan netral ([H+] =
10-7) kkonsentrasi ion-sulfida naik menjadi 10-9 mol l-1, yang memungkinkan pengendapan
sulfida logam-logam yang mempunyai hasil kali kelarutan lebih tinggi.

Persamaan (i) dapat disederhanakan lebih lanjut, bila kita memperkenalkan besaran
pS, yaitu eksponan ion sulfida. Definisinya analog dengan pH:

pS = -log[S2-]

Dengan memakai notasi dengan persamaan (i) menjadi

pS = 23-2pH

Persamaan ini hanya berlaku khusus untuk jangka pH 0-8; diatas pH = 8 disosiasi
hidrogen sulfida tak dapat diabaikan, dan karena itu cara-cara perhitungan yang sederhana
di atas tak boleh dipakai.

Pengendapan dan Pelarutan Hidroksida Logam

Prinsip hasilkali kelarutan dapat juga dipakai untuk endapan hidroksida logam; ini
juga dimanfaatkan dalam analisis anorganik kualitatif. Endapan akan terbentuk hanya jika
konsentrasi ion logam dan hidroksil saat itu adalah lebih tinggi dari yang diperbolehkan
oleh hasil kali kelarutan, karena konsentrasi ion-logam dalam sampel tak jauh berbeda satu
sama lain (daerah konsentrasi biasa 10-1 – 10-3 mol l-1), maka konsentrasi ion-hidroksil lah
yang memegang peranan menentukan pembentukan endapan-endapan demikian karena
fakta bahwa dalam larutan air, hasil kali konsentrasi ion-hidrogen dan hidroksil benar-benar
konstan (Kw=10-14 pada 25oC), pembentukan suatu endapan hidroksida logam tergantung
terutama pH larutan, dengan memakai prinsip hasil kali kelarutan , kita dapat menghitung
pH (minimum) yang diperlukan untuk pengendapan suatu hidroksida logam.
Contoh ; Hitunglah pH(a) pada mana Fe(OH)3 mulai mengendap dari larutan FeCl3
0.01 M; dan (b) pH pada mana konsentrasi ion Fe3+ dalam larutan tak melebihi 10-5 M,
yaitu ketikan pengendapan praktis sempurna. Nlai dari hasilkali kelarutan adalah

K3 = [Fe3+] [OH-]3 = 3,8 x 10-38

(a) Dengan [Fe3+] = 10-2, konsentrasi hidroksil


3𝐾 3,8 𝑥 10−38
[OH-] =√[𝐹𝑒 3+ =√ = 1,56 x 10-12
] 10−2

Konsentrasi ion hidrogen adalah


𝐾 10−14
[H+] = [𝑂𝐻𝑤−] = 1,56 𝑥 10−12 = 6,41 x 10-3
dan pH adalah
pH = -log[H+] = -log (6,41 x 10-3) = 2,19
Jadi, Fe(OH)3 akan mulai mengendap pada pH 2,19.
(b) Dengan [Fe3+] = 10-3, konsentrasi ion-hidroksil
𝐾
3 3,8 𝑥 10−38
[OH-] = √[𝐹𝑒 3+ =√ = 1,56 x 10-11
] 10−3

Konsentrasi ion hidrogen


𝐾 10−14
[H+] = [𝑂𝐻𝑤−] = 1,56 𝑥 10−11 = 6,41 x 10-4
dan pH
pH = -log[H+] = -log (6,41 x 10-4) = 3,19
Jadi, pada pH = 3,19 Fe(OH)3 telah mengendap sempurna
Kelarutan Garam Dari Asam Lemah Yang Sangat Sedikit Larut Dalam Asam-Asam
Mineral Kuat
Prinsip hasil kali kelarutan menmungkinkan untuk memberi penjelasan yang
sederhana atas fenomena ini, yang relative sering timbul dalam analisis kualitatif. Contoh
yang khas adalah kelarutan kalsium dan barium karbonat dalam asam klorida. Bila asam
klorida encer ditambahakan pada sesuatu suspense kalsium oksalat, ketimbangan yang
berikut akan terjadi dengan berbarengan :
Ca(COO)2(s) ↔ Ca2+ + (COO)2− 2 (i)
2− −
(COO)2 + H ↔H(COO)2
+
(ii)

H(COO)2 +H ↔ (COOH)2
+
(iii)
Keseimbangan (i) dapat ditandai dengan hasil kali larutan :
K5 = [Ca2+] x [(COO)2−
2 ] = 2,6 x 10
-9

Untuk kesetimbangan (ii) dan (iii), berlaku ketetapan kesetimbangan ionisasi yang
berikut :
[𝐻 + ][(COO)2−
2 ]
K= = 5,4 x 10-5 (v)
[H(COO)−
2]
dan
[𝐻 + ][H(COO)−
2]
K= = 2,4 x 10-2 (vi)
[(COOH)2 ]
Jelaslah dari persamaan (v) bahwa jika [H+] besar, ia akan mengurangi [(COO)2− 2 ]

dengan membentuk H(COO)2 dan seterusnya (COOH)2 dalam larutan jenuh kalsium
oksalat, karena hasil kali kelarutan adalah konstan (persamaan (iv), sebagian kalsium
oksalat harus larut untuk menghasilkan ion oksalat. Jjika konsentrasi ion-hidrogen cukup
tinggi, seluruh jumlah endapan bisa melarut.
Sama halnya, jika asam klorida ditambahkan kepada larutan yang mengandung
endapan barium karborat, kesetimbangan berikut akan terjadi dalam larutan :
BaCO3(s) ↔ Ba2+ + 𝐶𝑂32− (vii)
2− −
H + 𝐶𝑂3 ↔ 𝐻𝐶𝑂3
+
(viii)

H + 𝐻𝐶𝑂2 ↔ H2CO3 ↔ H2O + CO2
+
(ix)
Kesetimbangan-kesetimbangan ini dapat dinyatakan secara khas dengan hasil kali
kelarutan
K = [Ba2+] x 𝐶𝑂32− = 8,1 x 10-9 (x)
dan dengan tetapan-tetapan ion asam karbonat
[𝐻 + ][HCO)−
3]
K= = 4,31x10-7 (xi)
[HCO3 ]
dan
[𝐻 + ][CO2−
3 ]
K= = 5,61 x 10-11 (xii)
[HCO−
3]
Kini, karena nilai-nilai yang rendah dari kedua tetapan ion asam karbonat, ion
hidrogen akan segera bergabung dengan ion karbonat yang terdapat dalam larutan (karena
proses vii) membentuk mula-mula hidrogen karbonat (persamaan viii), lalu akhirnya asam
karbonat (persamaan ix) ini terurai menjadi air dan karbon dioksida, dan (kecuali
dipompakan kembali ke daam larutan pada tekanan yang lebih tinggi) karbon dioksida
keluar daroi sistem, karena keluar sebagai gelembung dari dalam larutan. Jika ion hidrogen
yang ditambahkan cukup banyak, seluruh rangkaian kesetimbangan bergeser ke arah kanan,
dan berakhir dengan barium karbonat terurai dan melarut sama sekali. Setiap karbonat
logam lainnya mengalami penguraian serupa bila diolah dengan asam. Bahkan asam yang
lemah seperti asam asetat akan menguraikan karbonat.
Pengendapan Fraksional
Perhitungan-perhitungan tentang yang mana dari kedua garam yang sangat sedikit
larut, akan diendapkan padakondisi eksperimen tertentu, dapat juga dibuat dengan prinsip
hasil kali kelarutan. Salah satu contoh mempunyai arti penting yang praktis adalah metode
Mohr untuk menaksir halida-halida. Larutan ion klorida dititer dengan larutan baku perak
nitrat, dengan ditambahkan sedikit kalium dikromat yang berfungsi sebagai indikator. Dua
garam yang sangat sedikit larut, dapat terbentuk, yaitu perak klorida (endapan putih) dan
perak kromat (yang berwarna merah):
Ag+ + Cl- ↔ AgCl (s)
dan
2Ag+ + 𝐶𝑟42− ↔ Ag2CrO4(s)
Hasil kali kelarutan endapan-endapan ini adalah sebagai berikut
K(AgCl) = [Ag+] x [Cl-] = 1,5 x 10-10 (i)
+ 2 2− -12
K(Ag2CrO4) = [Ag ] x 𝐶𝑟𝑂4 = 2,4 x 10 (ii)
Dalam larutan jenuh dari campuran kedua endapan, kesetimbangan kelarutan ini akan
terjadi berbarengan. Maka dari kedua persamaan ini kita peroleh
[Cl− ]2 (1,5 𝑥 10−10 )2 1
= =(1,1 𝑥 108 ) (iii)
𝐶𝑟𝑂42− (2,4 𝑥 10−12 )
Rumus ini menunjukkan bahwa pada kondisi kesetimbangan,konsentrasi ion kromat
dalam larutan selalu jauh lebih besar daripada in klorida . maka jika pada suatu campuran
ion-ion klorida dan kromat di tambahkan ion-ion pera, ion-ion perak ini akan bersenyawa
dengan ,ion-ion klorida dalam larutan berkurang sedemikian sehingga rasio (perbandingan)
yang dinyatakan dalam persamaan (iii) dicapai. Mulai saat itu seterusnya, kedua endapan
akan terbentuk berbarengan. Jika larutan 0,1 M natrium klorida dititer dengan perak nitrat
dengan ada sertanya kalium kromat 0,002 M, konsentrasi ion klorida pada mana perak
kromat mulai mengendap dapat dinyatakan dari persamaan (iii) :
1 2 𝑥 10−3
[Cl-] = √(1,1 𝑥 108 ) [𝐶𝑟𝑂42− ] = √1,1 𝑥 108 = 4,26 x 10-6M
Contoh lain yang mempunyai sedikit arti praktis yang menarik, adalah pengendapan
dengan sulfat yang terdapat dalam suatu larutan yang mengandung ion-ion strontium dan
barium. Hasil kali kelarutan endapan-endapan SrSO4 dan BaSO4 adalah sebagai berikut
K(SrSO4) = [Sr2+] x [𝑆𝑂42− ] = 2,8 x 10-7 (iv)
2+ 2− -11
K(BaSO4) = [Ba ] x [𝑆𝑂4 ] = 9,2 x 10 (v)
Kedua rumus ini juga hubungan
[Sr2+ ] 2,8 𝑥 10−7 3000
= 9,2 𝑥 10−11 ≈ (vi)
[Ba2+ ] 1
Sistem Koloid
Sistem koloid adalah suatu cairan yang merupakanmedium dispersinya sering
dinamakan sol, untuk membedakannya dari larutan sejati; sifat cairan itu ditunjukkan
dengan awalan, misalnya akuasol, alkosol, dan seterusnya. Zat padat yang dihasilkan pada
koagulasi atau flokulasi suatu sol disebut gel, tetapi sekarang nama ini umumnya terbatas
pada kasus yang seluruh sistem mengeras menjadi suatu keadaan semi-padat, tanpa adanya
sedikitpun cairan supernatan pada mulanya.
Larutan koloid dapat secara kasar dalam duagolongan utama, yang dinamakan liofob
(bahasa Yunani = benci pelarut) dan liofil(bahasa Yunani : sukapelarut); bila air merupakan
medium dispersinya , istilah yang dipakai adalah hidofob dan hidrofil. Sifat-sifat dari setiap
golongan sebagai berikut namun perbedaannya tidaklah mutlak, karena sebagian koloid,
terutama sol-sol hidroksida-hidroksida logam, menunjukkan sifat-sifat pertengahan.
Sol hidrofob Sol hidrofil
Viskositas sol hampir sama dengan Viskosotasnya jauh lebih tinggi dari pada
viskositas medium. Misalnya sol dari viskositas medium ; sol mengeras menjadi
logam, perak halide, hidroksida logam, dan massa yang mnyerupai selai; sering
barium sulfat. dinamakan gel. Contoh : sol dari asam
silikat, timah (IV), gelatin, kanji, dan
protein.
Elektrolit dala jumlah yang relative sedikit Elektrolit dalam jumlah kecil mempunyai
sekali, menimbulkan flokulasi. Perubahan- efek sedikit sekali; dalam jumlah banyak
perubahan pada umunya adalah tak dapat menyebabkan pengendapan,
reversible; air tidak mempunyai efek atas ‘penggaraman’. Perubahan umumnya
flokulan. reversible dengan penambahan air.
Biasanya partikel-partikel mempunyai Partikel-partikel dengan mudah dapat
muatan listrik dengan tanda muatan berubah muatannya, misalnya mereka
tertentu, yang hanya bisa diubah dengan bermuatan positif dalam medium asam dan
metode-metode khusus. Partikel-partikel bermuatan negative dalam medium basa.
bermigrasi ke satu arah dalam medan listrik Partikel-partikel bisa bermgrasi ke salah
(kataforesis atau elektroforesis satu arah atau tidak samasekali dalam
medan listrik.
Ultra mikroskop memperlihatkan partikel- Hanya cahaya difus yang terlihat dalam
partikel terang dalam gerakan-geraaakan ultra-mikroskop
yang kuat (gerakan Brown)
Tegangan permukaannya hampir sama Tegangan permukaannya sering lebih
dengan tengan permukaan air rendah daripada tegangan permukaan air
busa. Busa sering terjadi.