Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Hidrokel adalah pembengkakan yang terjadi pada skrotum akibat


terkumpulnya cairan serous yang berlebihan di antara lapisan parietalis dan
viseralis tunika vaginalis yang membungkus testis atau di dalam prosesus
vaginalis. Kondisi ini dapat timbul saat lahir atau didapat saat dewasa dan dapat
mengenai satu skrotum atau keduanya. Dalam keadaan normal, cairan yang
berada di dalam rongga itu memang ada dan berada dalam keseimbangan antara
produksi dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya.1

Gambar 1. Macam hidrokel

2.2 Anatomi Testis

Testis adalah organ genetalia pria yang pada orang normal jumlahnya ada dua
yang masing-masing terletak di dalam skrotum kanan dan kiri. Bentuknya ovoid
dan pada orang dewasa ukurannya adalah 4x3x2,5cm dengan volume 15-25ml.
Kedua buah testis terbungkus oleh jaringan tunika albugenia yang melekat pada
testis. Di luar tunika albugenia terdapat tunika vaginalis yang terdiri atas lapisan
viseralis dan parietalis, serta tunika dartos. Otot kremaster yang berada di sekitar
testis memungkinkan testis dapat digerakkan mendekati rongga abdomen untuk
mempertahankan temperature testis agar tetap stabil.5

2
3

Gambar 2. Anatomi testis

Secara histopatologis, testis terdiri atas ± 250 lobuli dan tiap lobulus terdiri
atas tubuli seminefri. Di dalam tubulus seminiferous terdapat sel spermatogonia
dan sel sertoli, sedangkan diantara tubuli seminiferi terdapat sel leydig. Sel-sel
spermatogenia pada proses spermatogenesis menjadi sel spermatozoa. Sel-sel
sertoli berfungsi memberi makanan pada bakal sperma, sedangkan sel-sel leydig
atau disebut sel interstisial testis berfungsi dalam menghasilkan hormone
testosteron.5

Sel-sel spermatozoa yang diproduksi di tubuli seminiferi testis disimpan dan


mengalami pematangan atau maturasi di epididimis setelah matur sel-sel
spermatozoa bersama-sama dengan getah dari epididimis dan vas deferens
disalurkan menuju ampula vas deferens. Sel-sel itu setelah dicaampur dengan
cairan-cairan dari epididimis, vas deferens, vesikula seminalis, serta cairan prostat
membentuk cairan semen atau mani.5

Testis mendapatkan darah dari beberapa cabang arteri, yaitu : arteri


spermatika interna yang merupakan cabang dari aorta, arteri deferensialis cabang
dari arteri vesikalis inferior, dan arteri kremasterika yang merupakan cabang dari
arteri epigastrika.
4

2.3 Epidemiologi

Mayoritas pada bayi atau sangat umum di jumpai pada neonatus. Biasanya
berkembang selama 5 minggu kehamilan. Di Amerika Serikat Hidrokel
diperkirakan mempengaruhi 1% dari pria dewasa. Lebih dari 80% dari anak laki-
laki yang baru lahir memiliki prosesus vaginalis paten, tapi yang paling dekat
secara spontan dalam waktu 18 bulan. Insiden hidrokel meningkat dengan tingkat
peningkatan survival bayi prematur dan dengan meningkatnya penggunaan rongga
peritoneal untuk ventriculoperitoneal (VP) shunts, dialisis, dan transplantasi
ginjal. Hydroceles Kebanyakan kongenital dan dicatat pada anak usia 1-2 tahun.
Kronis atau hydroceles sekunder biasanya terjadi pada pria yang lebih tua dari 40
tahun.2

2.4 Etiologi

Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena : 3

- Belum sempurnanya penutupan prosesus vaginalis sehingga terjadi aliran


cairan peritoneum ke prosesus vaginalis atau
- Belum sempurnanya sistem limfatik di daerah skrotum dalam melakukan
reabsorbsi cairan hidrokel.

Pada bayi laki-laki hidrokel dapat terjadi mulai dari dalam rahim. Pada usia
kehamilan 28 minggu ,testis turun dari rongga perut bayi ke dalam skrotum,
dimana setiap testis ada kantong yang mengikutinya sehingga terisi cairan yang
mengelilingi testis tersebut.

Pada orang dewasa, hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan
sekunder. Penyebab sekunder dapat terjadi karena didapatkan kelainan pada testis
atau epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem sekresi atau reabsorbsi
cairan di kantong hidrokel. Kelainan pada testis itu mungkin suatu tumor, infeksi,
atau trauma pada testis atau epididimis. Kemudian hal ini dapat menyebabkan
produksi cairan yang berlebihan oleh testis, maupun obstruksi aliran limfe atau
vena di dalam funikulus spermatikus.
5

2.5 Klasifikasi

1. Berdasarkan kapan terjadinya, yaitu : 4

a) Hidrokel primer
Hidrokel primer terlihat pada anak akibat kegagalan penutupan prosesus
vaginalis. Prosesusvaginalis adalah suatu divertikulum peritoneum
embrionik yang melintasi kanalis inguinalisdan membentuk tunika
vaginalis. Hidrokel jenis ini tidak diperlukan terapi karena
dengansendirinya rongga ini akan menutup dan cairan dalam tunika akan
diabsorpsi.
b) Hidrokel sekunder
Pada orang dewasa, hidrokel sekunder cenderung berkembang lambat
dalam suatu masa dandianggap sekunder terhadap obstruksi aliran keluar
limfe. Dapat disebabkan oleh kelainantestis atau epididimis. Keadaan ini
dapat karena radang atau karena suatu proses neoplastik.Radang lapisan
mesotel dan tunika vaginalis menyebabkan terjadinya produksi
cairanberlebihan yang tidak dapat dibuang keluar dalam jumlah yang
cukup oleh saluran limfedalam lapisan luar tunika.

2. Menurut letak kantong hidrokel dari testis, yaitu :

a) Hidrokel testis
Kantong hidrokel seolah-olah mengelilingi testis sehingga testis tak dapat
diraba. Pada anamnesis, besarnya kantong hidrokel tidak berubah
sepanjang hari.
6

b) Hidrokel funiculus
Kantong hidrokel berada di funikulus yaitu terletak disebelah cranial dari
testis, sehingga pada palpasi, testis dapat diraba dan berada diluar kantong
hidrokel. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya tetap sepanjang hari.

c) Hidrokel Komunikan
Merupakan hidrokel yang terjadi pada anak-anak akibat terdapat hubungan
antara prosesus vaginalis dengan rongga peritoneum sehingga prosesus
vaginalis dapat terisi cairan peritoneum. Pada anamnesis kantong hidrokel
besarnya dapat berubah-ubah yaitu bertambah pada saat anak menangis.
Pada palpasi kantong hidrokel terpisah dari testis dan dapat dimasukkan
kedalam rongga abdomen.

d) Hidrokel Non-komunikan
Merupakan jenis hidrokel yang biasa terjadi pada orang dewasa. Pada
hidrokel jenis ini tidak didapatkan hubungan antara tunika vaginalis
dengan rongga peritoneum dan prosesus vaginalis paten
7

3. Menurut onset :

a) Hidrokel akut
Biasanya berlangsung dengan cepat dan dapat menyebabkan nyeri. Cairan
berrwarna kemerahan mengandung protein, fibrin, eritrosit dan sel
polimorf.
b) Hidrokel kronis
Hidrokel jenis ini hanya menyebabkan peregangan tunika secara perlahan
dan walaupun akan menjadi besar dan memberikan rasa berat, jarang
menyebabkan nyeri.

2.6 Patofisiologi

Hidrokel adalah pengumpulan cairan pada sebagian prosesus vaginalis


yang masih terbuka. Kantong hidrokel dapat berhubungan melalui saluran
mikroskopis dengan rongga peritoneum dan berbentuk katup. Dengan demikian
cairan dari rongga peritoneum dapat masuk ke dalam kantong hidrokel dan sukar
kembali ke rongga peritoneum. Pada kehidupan fetal, prosesus vaginalis dapat
berbentuk kantong yang mencapai scrotum. Hidrokel disebabkan oleh kelainan
kongenital (bawaan sejak lahir) ataupun ketidaksempurnaan dari prosesus
vaginalis tersebut menyebabkan tidak menutupnya rongga peritoneum dengan
prosessus vaginalis. Sehingga terbentuklah rongga antara tunika vaginalis dengan
cavum peritoneal dan menyebabkan terakumulasinya cairan yang berasal dari
sistem limfatik disekitar. Cairan yang seharusnya seimbangan antara produksi
dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya. Tetapi pada penyakit ini, telah
terganggunya sistem sekresi atau reabsorbsi cairan limfa. Dan terjadilah
8

penimbunan di tunika vaginalis tersebut.Akibat dari tekanan yang terus-menerus,


mengakibatkan Obstruksi aliran limfe atau vena di dalam funikulus spermatikus.
Dan terjadilah atrofi testis dikarenakan akibat dari tekanan pembuluh darah yang
ada di daerah sekitar testis tersebut.4

Hidrokel dapat ditemukan dimana saja sepanjang funikulus spermatikus, juga


dapat ditemukan di sekitar testis yang terdapat dalam rongga perut pada
undensensus testis. Hidrokel infantilis biasanya akan menghilang dalam tahun
pertama, umumnya tidak memerlukan pengobatan, jika secara klinis tidak disertai
hernia inguinalis. Hidrokel testis dapat meluas ke atas atau berupa beberapa
kantong yang saling berhubungan sepanjang processus vaginalis peritonei.
Hidrokel akan tampak lebih besar dan kencang pada sore hari karena banyak
cairan yang masuk dalam kantong sewaktu anak dalam posisi tegak, tapi
kemudian akan mengecil pada esok paginya setelah anak tidur semalaman.1

Pada orang dewasa hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan
sekunder. Penyebab sekunder terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau
epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem sekresi atau reabsorpsi cairan
di kantong hidrokel. Kelainan tersebut mungkin suatu tumor, infeksi atau trauma
pada testis atau epididimis. Dalam keadaan normal cairan yang berada di dalam
rongga tunika vaginalis berada dalam keseimbangan antara produksi dan
reabsorpsi dalam sistem limfatik.3

2.7 Diagnosa

Gambaran klinis hidrokel kongenital tergantung pada jumlah cairan yang


tertimbun. Bila timbunan cairan hanya sedikit, maka testis terlihat seakan – akan
sedikit membesar dan teraba lunak. Bila timbunan cairan banyak terlihat skrotum
membesar dan agak tegang. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya benjolan
dikantong skrotum dengan konsistensi kistus dan pada pemeriksaan
penerawangan menunjukkan adanya transiluminasi. Menurut letak kantong
hidrokel terhadap testis, secara klinis dibedakan beberapa macam hidrokel, yaitu
hidrokel testis. Pada hidrokel testis, kantong hidrokel seolah – olah mengelilingi
testis sehingga testis tak dapat diraba. Pada anamnesis, besarnya kantong hidrokel
9

tidak berubah sepanjang hari. Pada hidrokel funikulus, kantong hidrokel berada di
funikulus yaitu terletak disebelah kranial testis, sehingga pada palpasi, testis dapat
diraba dan berada diluar kantong hidrokel.3

1. Anamnesis

Pada anamnesis keluhan utama pasien adalah adanya benjolan di kantong


skortum yang tidak nyeri. Biasanya pasien mengeluh benjolan yang berat dan
besar di daerah skortum. Benjolan atau massa kistik yang lunak dan kecil pada
pagi hari dan membesar serta tegang pada malam hari. Tergantung pada jenis dari
hidrokel biasanya benjolan tersebut berubah ukuran atau volume sesuai waktu
tertentu.

Pada hidrokel testis dan hidrokel funikulus besarnya kantong hidrokel tidak
berubah sepanjang hari. Pada hidrokel komunikan, kantong hidrokel besarnya
dapat berubah-ubah yang bertambah besar pada saat anak menangis. Pada riwayat
penyakit dahulu, hidrokel testis biasa disebabkan oleh penyakit seperti infeksi
atau riwayat trauma pada testis.

2. Pemeriksaan Fisik

Pada inspeksi Skrotum akan tampak lebih besar dari yang lain. Palpasi pada
skrotum yang hidrokel terasa ada fluktuasi, dan relatif kenyal atau lunak
tergantung pada tegangan di dalam hidrokel, permukaan biasanya halus. Palpasi
hidrokel seperti balon yang berisi air. Bila jumlah cairan minimum, testis relatif
mudah diraba. Sedangkan bila cairan minimum, testis relatif mudah diraba. Juga
penting dilakukan palpasi korda spermatikus di atas insersi tunika vaginalis.
Pembengkakan kistik karena hernia atau hidrokel serta padat karena tumor.
Normalnya korda spermatikus tidak terdapat penonjolan, yang membedakannya
dengan hernia skrotalis yang kadang-kadang transiluminasinya juga positif. Pada
Auskultasi dilakukan untuk mengetahui adanya bising usus untuk menyingkirkan
adanya hernia.

Langkah diagnostik yang paling penting adalah transiluminasi massa


hidrokel dengan cahaya di dalam ruang gelap. Sumber cahaya diletakkan pada sisi
10

pembesaran skrotum.Struktur vaskuler, tumor, darah, hernia, penebalan tunika


vaginalis dan testis normal tidak dapat ditembusi sinar. Trasmisi cahaya sebagai
bayangan merah menunjukkan rongga yang mengandung cairan serosa, seperti
hidrokel. Hidrokel berisi cairan jernih, straw-colored dan mentransiluminasi
(meneruskan) berkas cahaya.

Gambar 3. Pemeriksaan Transiluminasi

Hidrokel biasanya menutupi seluruh bagian dari testis. Jika hidrokel muncul
antar 18 – 35 tahun harus dilakukan aspirasi. Massa kistik yang terpisah dan
berada di pool atas testis dicurigai spermatokel. Pada aspirasi akan didapatkan
cairan kuning dari massa skortum. Berbeda dengan spermatokel, akan didapatkan
cairan berwarna putih, opalescent dan mengandung spermatozoa.

3. Pemeriksaan Penunjang

Ultrasonografi dapat mengirimkan gelombang suara melewati skrotum dan


membantu melihat adanya hernia, kumpulan cairan (hidrokel atau spermatokel),
vena abnormal (varikokel), dan kemungkinan adanya tumor.

2.8 Diagnosis Banding

Secara umum adanya pembengkakan skrotum memberikan gejala yang


hampir sama dengan hidrokel, sehingga sering salah terdiagnosis. Oleh karena itu
diagnosis banding hidrokel adalah : 4
11

1. Varikokel : adalah varises dari vena pada pleksus pampiniformis akibat


gangguan aliran darah balik vena spermatika interna.

Gambaran klinis :
a. Anamnesa
1. Pasien biasanya mengeluh belum mempunyai anak setelah beberapa tahun
menikah.
2. Terdapat benjolan di atas testis yang tidak nyeri
3. Terasa berat pada testis

a. Pemeriksaan Fisik : (Pasien berdiri dan diminta untuk manuver valsava).


Inspeksi dan Palpasi terdapat bentukan seperti kumpulan cacing di dalam
kantung, yang letaknya di sebelah kranial dari testis, permukaan testis
licin, konsistensi elastis.

2. Torsi Testis : adalah keadaan dimana funikulus spermatikus terpuntir


sehingga terjadi gangguan vaskularisasi dari testis yang dapat berakibat
terjadinya gangguan aliran darah daripada testis.

Gambaran klinis :
a. Anamnesa
1. Timbul mendadak, nyeri hebat dan pembengkakan skrotum.
2. Sakit perut hebat, kadang mualdan mual dan muntah
3. Nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal

b. Pemeriksaan Fisik :
 Inspeksi
Testis bengkak, terjadi retraksi testis ke arah kranial, karena funikulus
spermatikus terpuntir dan memendek, testis pada sisi yang terkena lebih tinggi
dan lebih horizontal jika dibandingkan testis sisi yang sehat.

 Palpasi teraba lilitan / penebalan funikulus spermatikus


12

Testis bengkak, terjadi retraksi testis ke arah kranial, karena funikulus


spermatikus terpuntir dan memendek, testis pada sisi yang terkena lebih tinggi
dan lebih horizontal jika dibandingkan testis sisi yang sehat.

3. Spermatokel : adalah benjolan kistik yang berasal dari epididmis dan


berisi sperma.

Gambaran klinis :
Anamnesa : Benjolan kecil, tidak nyeri

Pemeriksaan fisik :
- Teraba masa kistik
- Mobile
- Lokasi dari cranial dari testis
- Transiluminasi (+)
- Aspirasi : cairan encer, keruh keputihan

4. Hematokel : adalah penumpukan darah di dalam tunika vaginalis,


biasanya didahului oleh trauma.

Gambaran klinik : benjolan pada testis

Pemeriksaan fisik :
- Masa kistik
- Transiluminasi (+)

5. Hernia Inguinalis Lateral

Gambaran klinis :
Anamnesa
Benjolan didaerah iguninal/skrotal yang hilang timbul. Timbul saat mengedan,
batuk, atau menangis, dan hilang bila pasien tidur.
13

Pemeriksaan fisik :
Terdapat benjolan di lipat paha/skrotum pada bayi saat menangis dan bila
pasien diminta untuk mengedan. Benjolan menghilang atau dapat dimasukkan
kembali ke rongga abdomen.
Transiluminasi (-)

6. Tumor Testis : Keganasan pada pria terbanyak usia antara 15-35 tahun.

Gambaran klinis :
Anamnesa : Keluhan adanya pembesaran testis yang tidak nyeri.
Terasa berat pada kantong skrotum

Pemeriksaan Fisik :
Benjolan pada testis yang padat, keras, tidak nyeri pada palpasi.
Transiluminasi (-)

2.9 Penatalaksanaan

Hidrokel biasanya tidak berbahaya dan pengobatan biasanya baru dilakukan


jika penderita sudah merasa terganggu atau merasa tidak nyaman atau jika
hidrokelnya sedemikian besar sehingga mengancam aliran darah ke testis.7

Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 1 tahun
dengan harapan setelah prosesus vaginalis menutup, hidrokel akan sembuh
sendiri, tetapi jika hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar perlu dipikirkan
untuk dilakukan koreksi.7

Pengobatannya bisa berupa aspirasi (pengisapan cairan) dengan bantuan


sebuah jarum atau pembedahan. Tetapi jika dilakukan aspirasi, kemungkinan
besar hidrokel akan berulang dan bisa terjadi infeksi. Setelah dilakukan aspirasi,
bisa disuntikkan zat sklerotik tetrasiklin, natrium tetra desil sulfat atau urea untuk
menyumbat/menutup lubang di kantung skrotum sehingga cairan tidak akan
tertimbun kembali. Hidrokel yang berhubungan dengan hernia inguinalis harus
diatasi dengan pembedahan sesegera mungkin.
14

Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah : 8

1. Hidrokel yang besar sehingga dapat menekan pembuluh darah


2. Indikasi kosmetik
3. Hidrokel permagna yang disarankan terlalu berat dan menganggu pasien
dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari

Tindakan pembedahan berupa hidrokelektomi. Pengangkatan hidrokel bisa


dilakukan anestesi umum ataupun regional (spinal).

Pada hidrokel kongenital dilakukan pendekatan inguinal karena seringkali


hidrokel ini disertai dengan hernia inguinalis sehingga pada saat operasi hidrokel,
sekaligus melakukan herniorafi. Pada hidrokel testis dewasa dilakukan
pendekatan scrotal dengan melakukan eksisi dan marsupialisasi kantong hidrokel
sesuai cara Winkelman atau plikasi kantong hidrokel sesuai cara Lord. Pada
hidrokel funikulus dilakukan ekstirpasi hidrokel secara in toto. Pada hidrokel
tidak ada terapi khusus yang diperlukan karena cairan lambat laun akan diserap,
biasanya menghilang sebelum umur 1 tahun.

Teknik Operasi

Secara singkat teknik dari hidroelektomi dapat dijelaskan sebagai berikut : 8

1. Dengan pembiusan regional atau umum.


2. Posisi pasien terlentang (supinasi).
3. Desinfeksi lapangan pembedahan dengan larutan antiseptik.
4. Lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril.
5. Insisi kulit pada raphe pada bagian skrotum yang paling menonjol lapis
sampai tampak tunika vaginalis.
6. Dilakukan preparasi tumpul untuk meluksir hidrokel, bila hidrokelnya besar
sekali dilakukan aspirasi isi kantong terlebih dahulu.
7. Insisi bagian yang paling menonjol dari hidrokel, kemudian dilkukan :
8. Teknik Jaboulay : tunika vaginalis parietalis dimarsupialisasi dan bila
diperlukan diplikasi dengan chromic cat gut.
15

9. Teknik Lord : tunika vaginalis parietalis dieksisi dan tepinya diplikasi dengan
benang chromic cat gut.
10. Luka operasi ditutup lapis demi lapis dengan benang chromic cat gut.

Tindakan Pembedahan Pada Dewasa

 Pendekatan pembedahan melalui skrotum

Pada tindakan pembedahan dengan pendekatan skrotum, insisi dapat


dilakukan di samping mediana raphe secara vertikal (pararaphe) atau insisi
transversal. Teknik hidrokeletomi memiliki berbagai macam variasi dan nama,
secara garis besar hidrokeletomi dibagi menjadi dua teknik yaitu dengan teknik
eksisi dan teknik dengan plikasi. Teknik-teknik hidrokelektomi tersebut yang
populer dilakukan adalah teknik Jaboulay (eksisi) dan teknik plikasi Lord.8

Pada teknik Jaboulay, dilakukan eksisi pada kantong hidrokel secara tipis
dengan meninggalkan sisa lapisan kantong yang cukup banyak sehingga dapat
dijahit bersamaan setelah dilakukan eversi kantong kebelakang testis dan
funikulus spermatikus. Teknik ini sangat berguna untuk kantong hidrokel yang
lebar, berat dan tipis.

Teknik plikasi Lord dapat digunakan pada dinding hidrokel yang tipis
namun tidak dianjurkan untuk digunakan pada kantong yang lebar, panjang dan
tebal karena teknik ini akan meninggalkan ikatan-ikatan lipatan dari jaringan yang
diplikasi pada skrotum. Prinsip teknik Lord dilakukan dengan membuka kantong
hidrokel, mengeluarkan testis dari kantong, menjahit tepi kantong hidrokel dan
dengan menggunakan jahitan interrupted, secara radial dijahit untuk plikasi
kantong.8
16

A B

Gambar 4. Pendekatan skrotal

(A.) teknik Jaboulay, (B.) teknik plikasi Lord

Langkah-langkah pendekatan pembedahan melalui skrotum:

 Insisi dilakukan di paramediana raphe, sepanjang 6-10 cm pada


permukaan anterior skrotum diatas bagian dari hidrokel.
 Insisi lapis demi lapis dari kulit, lapisan otot dartos, fasia cremaster hingga
tampak lapisan parietal dari tunica vaginalis dimana lapisan ini adalah
dinding luar dari kantong hernia.
 Insisi dinding luar hidrokel, cairan hidrokel dievakuasi dengan
menggunakan suction
 Kantong hidrokel dipisahkan dari skrotum, setelah lalu dibuka secara utuh
sehingga tampak jelas bagian funikulus spermatikus dan testis..
 Pada teknik Jaboulay, dinding kantong hidrokel dipotong dengan gunting
dengan hanya menyisakan batas dinding sekitar 2 cm dari testis,
epididimis dan funikulus spermatikus tepi dinding hidrokel yang tersisa
lalu dijahitkan dibelakang testis dan funikulus spermatikus dengan
jahitan interrupted atau dapat menggunakan jahitan continues (untuk
17

meminimalisir rembesan darah dari tepi luka), sehingga bagian kantong


hidrokel tereversi.
 Pada teknik plikasi Lord, dilakukan jahitan plikasi (terbentuknya lipatan-
lipatan seperti plika) di sekitar dinding hidrokel dengan jahitan interupted
 Dilakukan kontrol perdarahan untuk mencegah terjadinya hematoma,
 Testis dan funikulus spermatikus ditempatkan kembali pada skrotum
secara hati-hati untuk menghindari pluntiran, bila perlu dilekatkan ke
bagian dasar dinding skrotum dengan satu hingga dua jahitan absorbable.
 Fasia dartos ditutup dengan jahitan interupted absorbable. Lalu dipasang
drainase Penrose pada celah insisi yang telah dibuat (jika diperlukan),
untuk mengurangi resiko terjadinya hematom
 Kulit ditutup dengan jahitan subkutan.
18

Gambar 5. Teknik operasi Jaboulay

Gambar 6. Teknik plikasi Lord


19

 Pendekatan pembedahan melalui inguinal

Laki-laki yang didiagnosa dengan hidrokel, dimana dicurigai adanya


keganasan, sebaiknya dilakukan pembedahan dengan pendekatan inguinal agar
dapat mengendalikan funikulus spermatikus untuk persiapan kemungkinan
dilakukan orchiektomi. 8

Gambar 7. Pendekatan hidrokelektomi melalui inguinal (dewasa)

Langkah-langkah Teknik Inguinal Dewasa:

 Insisi pada kuadran bawah abdomen sepanjang 4-6 cm, ke arah lateral dari
titik tepat di atas tuberkulum pubikum.
 Insisi menembus kutis, subkutis, fascia camper, fascia scarpa. Aponeurosis
musculus obliqus externus terlihat.
 Aponeurosis musculus obliqus externus telah diincisi, tampak kantung
hidrokel dan spermatical cord. Spermatical cord dipreservasi lalu
keluarkan isi kantong hidrokel (cairan) dengan pungsi menggunakan spuit
20

atau diberikan insisi pada dinding kantong hidrokel lalu dimasukan


suction.
 Kantong hidrokel yang telah dinsisi kemudian dapat dilanjutkan dengan
penjahitan yang digunakan pada teknik Jaboulay atau teknik Lord.
 Testis dan spermatic cord dikembalikan ke tempat awal.
 Aponeurosis musculus oblique externus dijahit, lapis demi lapis ditutup.
 Kulit dijahit dengan jahitan subcuticular.

Tindakan Pembedahan Pada Anak

Pada beberapa penelitian , temuan intraoperasi pada anak usia di bawah 10


tahun terbanyak adalah hidrokel komunikans dimana merupakan indikasi
dilakukan teknik ligasi tinggi. Hidrokel komunikans kerap disertai dengan hernia
inguinalis sehingga diperlukan tindakan herniorafi . Sebaliknya, pada anak usia di
atas 10-12 tahun, 80-86% temuan intraoperasi adalah hidrokel nonkomunikans
sehingga pendekatan melalui skrotum sudah dapat dilakukan. Tidak dianjurkan
penanganan hidrokel pada anak dengan menggunakan aspirasi-skleroterapi.5

 Langkah-langkah Teknik Inguinal (Ligasi Tinggi pada Anak):


 Insisi pada kuadran bawah abdomen sepanjang 2-4cm, ke arah lateral dari
titik tepat di atas tuberkulum pubikum.
 Fascia superfisialis telah diinsisi. Aponeurosis musculus obliqus externus
terlihat.
 Aponeurosis musculus obliqus externus telah diinsisi, tampak kantung
hidrokel dan cord. Lalu keluarkan isi kantong hidrokel (cairan).
 Aponeurosis oblique externus dijepit, memperlihatkan musculus cremaster
dan fascia spermaticus interna melapisi kantung dan cord.
 Kantung yang melalui canalis inguinalis dan annulus inguinalis externa
dipisahkan dari cord di bawahnya. Ujung distal telah dibuka sebagian.
Ujung proximal akan dilakukan high ligation pada leher kantung.
 Ujung proksimal kantung diangkat. Retroperitoneal fat pad yang selalu ada
dan merupakan indikasi titik untuk high ligation. Jahitan dilakukan pada
21

leher kantung. Setelah dijahit, jahitan kedua dilakukan pada distal dari
jahitan pertama untuk memastikan ligasi yang permanen.
 Aponeurosis musculus oblique externus dijahit, lapis demi lapis ditutup.
 Kulit dijahit dengan jahitan subkutis.

Gambar 8. Teknik hidrokelektomi pada Anak

2.10 Komplikasi

Hidrokel dapat mempengaruhi pasokan darah testis. Jika pasokan darah testis
kurang maka akan terjadi Iskemia yang dapat menyebabkan
penurunan kesuburan. Perdarahan ke dalam hidrokel dapat menyebabkan trauma
testis. Hidrokel menetap atau berhubungan dengan rongga peritoneum dapat
menyebabkan terjadinya Hernia Inguinalis. Pada saat bedah dapat terjadi
komplikasi sebagai berikut : 9

 Cedera ke vas deferens saat operasi ingunal


 2% pasca operasi dapat terjadi luka
 hemoragik pasca operasi, cedera langsung ke pembuluh spermatika
22

 Kompresi pada peredaran darah testis. Jika dibiarkan, hidrokel yang


cukup besar mudah mengalami trauma dan hidrokel permagna bisa
menekan pembuluh darah yang menuju ke testis sehingga menimbulkan
atrofi testis.
 Perdarahan yang disebabkan karena trauma dan aspirasi.
 Sekunder Infeksi.

2.11 Prognosis

Prognosis untuk hidrokel kongenital sangat baik. Sebagian besar kasus


bawaan menyelesaikan pada akhir tahun pertama kehidupan. Persistent hidrokel
kongenital adalah mudah diperbaiki melalui pembedahan. Prognosis hidrokel
kemudian dalam kehidupan tergantung pada etiologi dari hidrokel tersebut.
Dewasa-onset hidrokel ini tidak jarang dikaitkan dengan keganasan yang
mendasarinya.1
23

DAFTAR PUSTAKA

1. Adel L. Hydrocelectomy through the inguinal approach versus scrotal


approach for idiopathic hydrocele in adults. Journal of the Arab for
medical research. September 2012; 7:68-72
2. Agbakwuru EA, dkk. Hydrocelectomy under local anaesthesia in a
Nigerian adult population. African Health Science. 2008;8(3): 160-2
3. Parviz K, dkk. Surgery of the skrotum and seminal vesicles. Dalam:
Campbell-Walsh Urology, Louis R, dkk (editor). Vol 1. Edisi ke-
10.Philadelphia: WB Saunders Company. 2012. hal 1009-11.
4. Sudeep K, dkk. Comparison of aspiration-sclerotherapy with
hydrocelectomy in the management of hydrocele: A prospective
randomized study. International journal of surgery. Juli 2009; 40(29):392-
5.
5. Sadler T. Langman’s medical embryology. New York: Lippincott
Williams and Wilkins; 2006. hal. 272-310.
6. Tanagho EA . Embriology of the genitourinary system. Dalam:Tanagho
EA, McAninch JW. Smith’s General Urology. Edisi ke-17. California:The
McGraw Hill companies; 2000. hal.23-45.
7. Zollinger RM, Ellison EC. Hydrocele repair. Dalam: Zollingers Atlas of
Surgical Operations, Marita dkk (edtior). California:The McGraw Hill
companies; 2011. hal.474-5.
8. Khaniya S, Agrawal CS, Koirala R, Regmi R, Adhikary S. Comparison of
aspiration-sclerotherapy with hydrocelectomy in the management of
hydrocele: A prospective randomized study. Int J Surg. Aug 2009;
7(4):392-5.
9. Beiko DT, Kim D, Morales A. Aspiration and sclerotherapy versus
hydrocelectomy for treatment of hydroceles. Urol. April 2003; 61(4):708-
12