Anda di halaman 1dari 12

PEREKONOMIAN INDONESIA

EKONOMI INDONESIA DAN GLOBALISASI

SAP 14

OLEH:

KELOMPOK 12

 Ni Kadek Lia Indahyani (1607532081)


 Ni Kadek Dwi Aryandari (1607532086)
 Ni Luh Putu Pitayani Vinensya (1607532088)

Program Non Reguler

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Udayana
2018
1
1. Perekonomian Dunia
Kata “Globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal atau
internasional. Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama
dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan, tetapi tidak
dengan istilah universalisasi. Dari arti katanya sendiri dapat dikatakan bahwa globalisasi
adalah satu proses peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarmanusia dan
antarbangsa di seluruh dunia melalui aliran modal (investasi), tenaga kerja, perdagangan,
dan interaksi lainnya seperti perjalanan, budaya populer dan lain-lain sehingga batas-batas
satu negara menjadi bias. Untuk melihat kaitan globalisasi dengan perekonomian
Indonesia, kita harus memperhatikan bagaimana aliran-aliran tersebut terjadi baik di dalam
negeri Indonesia maupun dengan negara lain.
1.1. Aliran Modal
Aliran modal dari luar negeri sudah terjadi sejak jaman penjajahan Belanda
melalui penanaman modal oleh perusahaan asing Belanda di Indonesia termasuk di
bidang transportasi, perdagangan, perkebunan, perbankan dan sebagainya. Presiden
Suharto mengundangkan UUPMA (Undang-undang Penanaman Modal Asing) pada
tahun 1971 yang berarti mengundang pengusaha asing untuk beroperasi di Indonesia.
1.2. Aliran Tenaga Kerja
Yang dimaksud di sini adalah aliran manusia untuk mencari kerja baik di
dalam negeri maupun masuk dan ke luar negeri. Dalam hal aliran di dalam negeri,
tenaga kerja umumnya bebas bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun
karena kepadatan penduduk dan pembangunan ekonomi daerah yang berbeda
beberapa provinsi/kabupaten seperti misalnya DKI Jakarta dan Bali mengawasi
pendatang baru dengan ketat. Bahwa seorang harus menjadi penduduk daerah untuk
dapat mencari kerja di tempat tersebut. Keadaan yang demikian ini sama dengan
aliran tenaga kerja ke dalam dan ke luar negeri yang penuh Indonesia dengan
hambatan.
1.3. Aliran Dagang (Perdagangan)
Keadaan yang normal di masa lalu mengenai aliranbarangkeluar
masuksatunegaraadalah adanya berbagai hambatan tarif dan nontarif. Hal ini tidak
terkecuali untuk perekonomian Indonesia, meskipun hambatan tersebut tampaknya
sudah makin berkurangkarena berbagai negosiasi dagang yang diikuti oleh Indonesia.
Aliran barang antardaerah di dalam negeri untuk produksi nasional sering menghadapi
berbagai pungutan, entah pungutan itu dilaksanakan oleh pemerintah daerahnya atau
2
oleh oknum tertentu. Hal ini berkaitan dengan masalah korupsi, sehingga muncul
istilah ekonomi biaya tinggi.
1.4. Interaksi Lainnya
Yang dimaksudkan di sini adalah aliran informasi karena kemajuan teknologi
seperti televisi, radio, media cetak, internet, telepon genggam, literatur, pariwisata dan
sebagainya sehingga masyarakat satu negara dapat mengonsumsi dan mengalami
gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam
budaya, dan dunia menjadi satuunityang utuh. Interaksi internasional yang demikian
ini rupanya tidak bisa dibendung meskipun bukan tanpa hambatan/pengawasan
pemerintah.
1.5. Kebaikan Globalisasi
Dari literatur dapat dikatakan bahwa globalisasi ekonomi/perdagangan
mempunyai setidaknya 5 butir kebaikan, yakni:
1) Meningkatkan produksi global.
2) Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam satu negara.
3) Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri.
4) Meningkatkan akses akan modal dan teknologi yang lebih baik.
5) Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi.
1.6. Keburukan Globalisasi
Globalisasi perdagangan/ekonomi sering membawa keburukan sebagai
berikut:
1) Menghambat Pertumbuhan sektor industri.
2) Memperburuk neraca pembayaran.
3) Sektor keuangan semakin tidak stabil.
4) Memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

2. GATT dan Tindakan Antisipasi


Pada tahun 1944 sekitar 24 negara bertemu di Bretton Woods New Hampshire
dalam satu konferensi yang diprakarsai oleh UN Conferencee on Trade and Employment
untuk memetakan strategi pasca perang dalam membangun kembali perekonomian dunia.
Dari konferensi ini pada tahun 1947 dibentuk tiga organisasi interasional, yakni the
General Agreementon Tarriffs and Trade (GATT), the International Bank for
Reconstruction and Development (IBRD sekarang Bank Dunia), dan the International
Monetary Fund (IMF). Sesungguhnya salah satu gagasan yang muncul dalam konferensi
3
tersebut adalah membentuk satu organisasi (di samping Bank Dunia dan IMF) yang
mengatur perdagangan sebagai bagian yang lebih luas dalam rencana membangun kembali
perekonomian dunia. Organisasi yang dimaksud adalah the International Trade
Organisation (ITO). Sementara diadakan negosiasi mengenai pembentukan ITO, 15
negara mulai mengadakan negosiasi paralel untuk GATT sebagai cara awal dalam
pengurangan tarif. Negosiasi pendirian ITO mengalami kegagalan pada tahun 1950,
sehingga yang masih tertinggal hanyalah kesepakatan GATT. Perlu diingat bahwa GATT
itu bukanlah organisasi, melainkan hanya berupa kesepakatan walaupun dia menempati
kantor sekretariat di the Centre William Rappard, Geneva, Switzerland. Menurut
Anggaran Dasarnya, tujuan utama dari GATT adalah pengurangan tarif dan segala jenis
hambatan lain dalam perdagangan internasional, dan menghilangkan preferensi dagang
atas dasar timbal balik dan keuntungan bersama.
Prinsip-prinsip yang mendasari kesepakatan pada GATT adalah bahwa
perdagangan seharusnya:
2.1. Tanpa diskriminasi. Kalau satu negara mengenakan tarif tertentu (paling murah)
kepada satu negara partner dagangnya, maka perlakuan yang demikian itu juga harus
diberikan kepada partner dagang lainnya. Prinsip ini dikenal dengan Most favoured
Nation (MFN).
2.2. Perdagangan yang lebih bebas (freeer), yakni pengurangan hambatan dagang melalui
negosiasi.
2.3. Perdagangan terprediksi, yang artinya bahwa pengusaha asing, investor dan
pemerintah harus mempunyai keyakinan bahwa hambatan perdagangan (termasuk
tarif dan nontarif) tidak diubah seenaknya saja; tarif dan pembukaan pasar dalam
negeri terhadap partner dagang bersifat mengikat.
2.4. Lebih kompetitif, yang berarti satu negara seharusnya tidak melaksanakan praktek
dagang yang tidak jujur seperti misalnya subsidi ekspor dan melaksanakan dumping
pada harga lebih rendah dari biaya untuk merebut pasar.
GATT secara berkala melakukan negosiasi untuk merumuskan kesepakatan
dagang baru yang harus dipatuhi oleh semua negara anggota. Rangkaian kesepakatan
tersebut dikenal dengan istilah putaran (round). Biasanya kesepakatan baru tersebut juga
menyangkut kasus-kasus tertentu untuk produk tertentu dengan pengecualian dan
modifikasinya. GATT telah melaksanakan 8 putaran, yakni:
1. Putaran Geneva,
2. Putaran Annecy,
4
3. Putaran Torquay,
4. Putaran Geneva II,
5. Putaran Dillon,
6. Putaran Tokyo,
7. Putaran Uruguay,
8. Putaran Doha,

Dari pemaparan aktivitas pencapai kesepakatan dagang dalam GATT seperti di


atas dapat dikatakan bahwa sejarah GATT dapat dibagi menjadi tiga fase, yakni pertama,
dari tahun berdirinya, 1947, sampai Putaran Torquay, yang pada dasarnya mengagendakan
barang-barang mana saja yang dimasukkan dalam kesepakatan dan memberlakukan tarif
yang ada. Fase ke dua mencakup tiga putaran, dari tahun 1959 sampai 1979, yang
memfokuskan perhatiannya pada kesepakatan penurunan tarif. Fase ke tiga, yang hanya
meliputi Putaran Uruguay dari 1986 sampai 1994, memperluas cakupan kesepakatan untuk
meliputi masalah yang baru seperti perdagangan jasa, pergerakan modal investasi hak atas
kekayaan intelektual (intelectual property right) dan masalah perdagangan hasil-hasil
pertanian. WTO lahir dalam putaran ini, 1995.

3. Putaran Uruguay
Putaran Uruguay dalam GATT dimulai September 1986 sampai 1993 (selama 87
bulan. Putaran ini adalah yang paling ambisius dari semua putaran GATT dan diharapkan
untuk memperluas kompetensinya sehingga tidak hanya meliputi perdagangan barang saja
melainkan juga mencakup masalah penting seperti perdagangan jasa, modal atau investasi,
kekayaan intelektual, tekstil, penyelesaian sengketa dagang dan perdagangan hasil
pertanian. Pada tahun 1993 GATT telah disesuaikan (updated) untuk mencakup tugas
barunya di samping tugas lama. Putaran ini diikuti oleh 123 negara. Salah satu perubahan
yang mendasar pada GATT adalah berdirinya WTO (the World Trade Organization).
Sejak berdirinya WTO negara bukan anggota GATT masuk menjadi anggota dan 29
negara sedang bernegosiasi akan menjadi anggota. Sampai saat ini tercatat 153 negara
anggota WTO.

Pertanian umumnya dikeluarkan dari kesepakatan sebelumnya karena diberikan


perlakuan khusus mengenai kuota impor dan subsidi ekspor. Namun, ketika Putaran
Uruguay, banyak negara berpendapat bahwa pengecualian sektor pertanian dari
kesepakatan agaknya kurang dapat diterima dan mereka menolak untuk menandatangani

5
kesepakatan baru tanpa adanya sedikit kemajuan dalam bidanghasil-hasil pertanian. Empat
belas negaraini kemudian dikenal sebagai "kelompok Cairns". Tujuan dari kesepakatan ini
adalah untuk meningkatkan akses terhadap produk pertanian, mengurangi bantuan dalam
negeri terhadap sektor pertanian dalam bentuk subsidi harga dan kuota, mengurangi secara
bertahap subsidi ekspor terhadap produk pertanian dan menyelaraskan sejauh mungkin
kebijaksanaan sanitasi di antara negara anggota.

Putaran Uruguay yang telah selesai pada tanggal 15 Desember 1993, setelah
mengadakan negosiasi selama tujuh tahun, menghasilkan kesepakatan di antara 117 negara
anggota (termasuk Amerika Serikat untuk menurunkan (mengurangi) hambatan
perdagangan dan untuk menciptakan aturan perdagangan internasional yang lebih
komprehensif dan dapat dilaksanakan. Kesepakatan yang muncul dari putaran ini, the
Final Act Embodying the Results of the Uruguay Round of Multilateral Trade
Negotiations, ditandatangani pada April 1994. WTO memperluas cakupan masalahnya
dari perdagangan barang ke perdagangan di sektor jasa dan hak atas kekayaan intelektual.
Kesepakatan di WTO pada umumnya bersifat multilateral seperti mekanisme pada GATT.

4. Sengketa Dagang Antarnegara


Masalah atau isu mengenai penyelesaian sengketa di dalam GATT hanya dibahas
pada pertemuan-pertemuan regular atau tetap dan bukan secara langsung mengatur
penyelesaian sengketa. Namun demikian ada dua pasal, yakni pasal XXII dan XXIII
GATT yang dapat dirujuk dalam hal adanya sengketa dagang. Jadi dalam GATT pada
prinsipnya ada dua cara penyelesaian sengketa dagang internasional, yakni melalui jalur
diplomatic dan melalui jalur “contracting party” GATT.
4.1. Penyelesaian Sengketa Melalui Jalur Diplomatik
Negara anggota peserta kesepakatan dagang pada GATT diharapkan
menyelesaikan sendiri masalah sengketa yang di alami melalui konsultasi secara
bilateral. Hal ini sesuai dengan bunyi pasal XXII GATT. Mereka disyaratkan untuk
memberikan pertimbangan simpatik terhadap setiap sengketa mengenai segala sesuatu
hal yang menyangkut pelaksanaan GATT.
4.2. Penyelesaian Sengketa Melalui Jalur GATT
Untuk jalur GATT salah satu pihak atau keduanya harus mengajukan
keberatan/complain dengan memberikan dasar pembenaran yang lengkap kepada
GATT yang dalam hal ini kepada badan dalam GATT yang disebut contracting party,

6
selanjutnya sesuai dengan sifat dan beratnya sengketa dapat membentuk satuan tugas
dari beberapa Negara yang dibentuk khusus untuk satu sengketa. Anggota dari satuan
tugas berasal dari Negara yang mengalami sengketa dari GATT, sedangkan anggota
dari satu panel tidak hanya dari Negara yang bersengketa tetapi juga dari Negara
ketiga. Tugas mereka adalah mempertimbangkan tuduhan-tuduhan yang dialamatkan
oleh Negara yang bersengketa dan memberi rekomendasi dan putusan kepada
contracting party.
Dengan atau tanpa pembentukan satuan tugas atau panel, contracting party GATT
dapat:
1. Mengeluarkan rekomendasi kepada Negara yang sedang bersengketa.
2. Memberikan putusan pada satu sengketa.
3. Memberi wewenang kepada satu Negara peserta untuk menangguhkan penerapan
konsesi atau kewajibannya kepada pihak lain berdasarkan perjanjian GATT.
4.3. Para Pihak Dalam Sengketa
Memuat beberapa stake-holders atau subyek hukum dalam hukum
perdagangan internasional, yaitu negara, perusahaan atau individu. Dalam urian
berikut, para pihak yang menjadi pembahasan dibatasi pada pihak pedagang (badan
hukum atau individu) dan Negara. Karena sifat dari hukum perdagangan internasional
adalah lintas batas, pembahasan pun dibatasi hanya antara:
1. Pedagang dan pedagang
Sengketa antara dua pedagang adalah sengketa yang sering dan paling
banyak terjadi. Sengketa seperti ini terjadi hampir setiap hari. Sengketanya
diselesaikan melalui berbagai cara. Kesepakatan dan kebebasan akan pula
menentukan forum pengadilan apa yang akan menyelesaikan sengketa mereka.
Kesepakatan dan kebebasan pula yang akan menyelesaian sengketa mereka.
Kesepakatan dan kebebasan pula yang akan menentukan hukum apa yang akan
diberlakukan dan diterapkan oleh badan pengadilan yang mengadili sengketanya.
2. Pedagang dan Negara asing
Kontrak-kontrak dagang antara pedagang dan Negara sudah lazim di tanda
tangani. Kontrak-kontrak seperti ini biasanya dalam jumlah/nilai yang relatif
besar. Termasuk didalamnya adalah kontrak-kontrak pembangunan, misalnya
kontrak dibidang pertambangan. Yang menjadi masalah adalah adanya konsep
imunitas Negara yang diakui hukum internasional. Dengan adanya konsep
imunitas inilah yang sedikit banyak berpengaruh terhadap keputusan pedagang
7
untuk menentukan penyelesaian sengketanya. Masalah adanya adalah dengan
adanya konsep imunitas ini, suatu Negara dalam situasi apapun, tidak akan pernah
dapat diadili di hadapan badan-badan peradilan asing.

5. Kerja Sama Perdagangan dan Ekonomi Antarwilayah dan Regional


Kerjasama perdagangan antar negara bisa dilaksanakan oleh dua negara (bilateral),
seperti misalnya Amerika Serikat – Kanada, Australia - New Zealand, Indonesia – Cina,
atau oleh banyak negara (multilateral), yang bersifat regional seperti Uni Eropa, South
Asian Association for regional Cooperation ataupunyang bersifat internasional seperti
misalnya World Trade Organization (WTO). Kerjasama perdagangan (ekonomi) yang
paling erat mempunyai sifat sama seperti satu hal nya satu negara seperti European Union
(EU) dan Australia New Zealand Closer Economic Agreement (ANZCERTA). Yang
terakhir ini sering dikenal sebagai integrasi ekonomi.
5.1. Kerja Sama Perdagangan
5.1.1. ASEAN Free Trade Area (AFTA). Adalah suatu perjanjian dagang untuk
mendorong manufaktur di seluruh negara-negara anggota ASEAN. Perjanjian
ini ditandatangani tanggal 28 Januari 1992 di Singapura. Dewasa ini AFTA
terdiri dari sepuluh negara negara anggota ASEAN. Tujuan utama dari AFTA
adalah untuk meningkatkan daya saing ASEAN di pasar dunia melalui
penurunan hambatan perdagangan, tarif dan non tariff, dan menarik lebih
banyak investasi asing melalui apa yang disebut dengan Common Effective
Preferential Tariff (CEPT), yakni tarif impor 0-5 persen berlaku untuk
perdagangan antar negara anggota ASEAN.
5.1.2. Asia Pacific Economic Cooperation (APEC). APEC adalah forum utama
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, kerja sama, perdagangan dan
investasi di wilayah Asia dan Pasifik dan satu-satunya blog antar pemerintah
di dunia yang berdasarkan atas janji yang tidak mengikat, dialog terbuka dan
kesamaan derajat dari semua peserta. Berbeda dengan WTO atau badan
perdagangan multilateral lainnya, APEC tidak mempunyai fakta kewajiban
bagi setiap anggota. APEC mempunyai 21 anggota yang disebut "Member
Economic".
5.1.3. Shout Asian Association for Regional Cooperation (SAARC). SAARC adalah
suatu organisasi di bidang ekonomi dan politik dari delapan negara-negara di
Asia Selatan. Tujuan dari organisasi ini, antara lain, meliputi usaha bersama
8
untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk di Asia Selatan, percepatan
pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan budaya, meningkatkan percaya
diri kolektif dari negara-negara di Asia Selatan di forum internasional, dan
mendorong kerja sama aktif dan solidaritas di bidang ekonomi, sosial, budaya,
dan di bidang teknologi ilmu pengetahuan.
5.1.4. Australia New Zealand Closer Economic Agreement (ANZCERTA). Adalah
perjanjian dagang bilateral antaran Australia dan New Zealand, yang efektif
berlaku sejak 1983, dan mencakup hampir semua masalah perdagangan barang
(termasuk hasil-hasil pertanian) dan jasa (termasuk investasi, penerbangan dan
jasa lainnya). Aturan kepabeanan juga diadakan penyesuaian untuk kedua
negara, misalnya mengenai kebijaksanaan, prosedur administrasi, investigasi
dan pencegahan dan penyelesaian pelanggaran system pabean, termasuk
masalah karantina, dan peraturan standar perdagangan. Prinsip dasar dari
ANZCERTA adalah perlakuan nasional, akses ke pasar, hak untuk masuk
pasar tanpa hambatan, dan perlakuan yang aling menguntungkan.
5.1.5. The North American Free Trade Agreement (NAFTA). Adalah suatu
perjanjian dagang yang ditandatangani oleh Amerika Serikat, Kanada dan
Meksiko yang menimbulkan blok dagang tiga negara di Amerika Utara.
Perjanjian ini menggantikan perjanjian perdagangan bebas asntara Amerika
Serikat dan Kanada. NAFTA ini mempunyai dua perjanjian tamban the North
American Agreement on Enviromental Cooperation (NAAEC – perjanjian
kerja sama lingkungan Amerika Utara) dan the North American Agreement on
Labour Cooperation (MAALC – perjanjian kerja sama perburuhan Amerika
Utara). NAFTA bertujuan untuk menghilangkan hambatan perdagangan dan
investasi di antara Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko.
5.1.6. Uni Eropa (UE atau European Union yang disingkat EU). Adalah sebuah
organisasi antarpemerintahan dan supranasional, yang terdiri dari negara-
negara Eropa, yang sejak 1 Januari 2007 telah memiliki 27 negara anggota.
Bila dianggap sebagai satu kesatuan, Uni Eropa memiliki ekonomi terbesar di
dunia. Ekonomi UE diharapkan tumbuh lebih jauh dalam dekade berikutnya
sejalan dengan lebih banyak negara bergabung dalam persatuan ini dan
terlebih lagi negara-negara baru ini biasanya lebih miskin dari rata-rata UE,
dan oleh karena itu diharapkan pertumbuhan GDP yang cepat dapat membantu
dinamika Uni Eropa.
9
5.2. Integrasi Ekonomi
Menurut integrasi ekonomi (economic integration) dari Bela Balasa 1961
(seperti pada internet) ada enam tahapan kerja sama peerdagangan untuk menuju
integrasi ekonomi. Masing-masing tahapan diuraikan secara singkat sebagai berikut.
1) Tahap pertama adalah Preferential Trading Area (PTA). Sering juga disebut
sebagai Preferential Trade Agreetment (PTA) yang merupakan kelompok (blok)
perdagangan yang memberikan preferensi (keringanan) terhadap jenis produk
tertentu kepada negara anggota, dilaksanakan dengan cara mengurangi tariff
(tidak menghaouskan tariff menjadi nol). PTA dapat muncul melalui perjanjian
(kesepakatan) dagang dan kadang-kadang dicampuradukkan saja dengan FTA di
mana pada umumnya PTA mengarah ke FTA sesuai dengan General Agreetment
on Traffs and Trade (GATT). Sesungguhnya keringanan tariff impor ini tidak
sesuai dengan prinsip hubungan dagang yang normal di bawah WTO di mana
anggota WTO dapat minta perlakuan tarif yang sama.
2) Tahap kedua adalah Free Trade Area (FTA). Beberapa negara sepakat untuk
menghilangkan tariff, kuota dan preferensi kepada sebagian besar barang dan jasa
yang diperdagangkan di antara mereka. Negara tersebut memilih bentuk integrasi
ekonomi jenis ini jika struktur ekonomi mereka bersifat komplementer. Namun
kalau struktur ekonomi mereka bersifat kompetitif, maka bentuk yang lebih
sesuai adalah custom union (uni daerah pebean). Tujuan dari FTA adalah untuk
menurunkan hambatan perdagangan sehingga volume perdagangan meningkat
karena spesialisasi, pembagian kerja, dan yang terpenting melalui teori
keuntungan komparatif.
3) Tahap ketiga adalah Custom Union. Adalah satu perjanjian dagang di mana
sejumlah negara memberlakukan perdagangan bebas di antara mereka dan
menerapkan serangkaian tarif bersama terhadap barang dari negara lain. Custom
union ini adalah bentuk antara dari integrasi ekonomi, yakni bentuk dari
perdagangan bebas di antara anggota, tetapi tidak ada system tariff bersama,
dengan bentuk pasar bersama (Common Market), yang menerapkan tarif bersama
dan memperkenankan pergerakan bebas dari pada sumber daya termasuk modal
dan tenaga kerja di antara negara anggota. Tujuan penndirian custom union
biasanya adalah untuk meningkatkan efisiensi dan mendekatkan hubungan
diplomatik (politik dan budaya) di antara negara anggota.

10
4) Tahap keempat adalah Single Integrated Market (Common Market). Satu
pasar tunggal bersama adalah sejenis blok dagang yang merupakan gabungan
dari custom union dengan kebijaksanaan bersama terhadap produk dan
pergerakan yang bebas atas faktor produksi (modal dan tenaga kerja) dan
wirausaha. Tujuan agar terjadi pergerakan bebas dari modal, tenaga kerja,
barang, dan jasa di antara negara anggota adalah agar memudahkan bagi mereka
untuk mencapai efisiensi ekonomi yang lebih tinggi. Kadang-kadang pasar
tunggal dianggap sebagai bentuk selangkah lebih maju dari Common Market
(pasar bersama).
5) Tahap kelima adalah Economic and Monetary Union (kesatuan ekonomi dan
moneter). Merupakan satu blok dagang seperti pasar tunggal dengan kesatuan
moneter untuk semua negara anggota. Bentuk ini harus dibedakan dari hanya
menerapkan mata uang bersama seperti yang dilakukan oleh Latin Monetary
Union pada tahun 1980-an yang tidak diikuti oleh adanya pasar tunggal.
Kesatuan ekonomi dan moneter dilaksanakan melalui pakta dagang dari semua
sistem moneter yang berlaku di negara anggota.
6) Tahap keenam adalah Complete Economic Itegration. Ini adalah tahap akhir
dari integrasi ekonomi. Pada tahap ini, tidak lagi diperlukan kebijaksanaan
pengawasan ekonomi kepada unit-unit yang bergabung. Mereka telah menjadi
satu kesatuan moneter dan fiskal secara penuh dan mendekati penuh. Uni Eropa
adalah salah satu contoh yang baik mengenai integrasi ekonomi penuh.

11
DAFTAR PUSTAKA

Tambunan, Tulus T.H. 2009. Perekonomian Indonesia. Ghalia Indonesia. Bogor.


Anisa. 2017. Makalah Peranan Indonesia dalam Globalisasi Ekonomi.
anisasa15.wordpress.com. Diakses pada tanggal 27 November 2018, pukul 10.15
WITA.

12