Anda di halaman 1dari 5

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENDAHULUAN
Tiap individu mempunyai potensi untuk terlibat dalam hubungan sosial pada
berbagai tingkat hubungan, yaitu dari hubungan intim biasa sampai huungan saling
ketergantungan. Keintiman dan saling ketergantungan dalam menghadapi dan
mengatasi berbagai kebutuhan sehari hari. Individu tidak akan mampu memenuhi
kebutuhan hidupnya tanpa adanya hubungan dengan lingkungan sosial. oleh
karena itu individu perlu membina hubungan interpersonal yang memuaskan.
Kepuasan hubungan dapat dicapai jika individu terlibat secara aktif dalam
proses berhubungan. Peran serta yang tinggi dalam berhubungan disertai respons
lingkungan yang positif akan meningkatkan rasa memiliki, kerja sama, hubungan
timbal balik yang sinkron (Stuart dan Sundeen, 1995, hal. 518). Peran serta dalam
proses hubungan dapat berfluktuasi sepanjang rentang tergantung (dependen) dan
mandiri (independen), artinya suatu saat individu tergantung pada orang lain dan
suatu saat orang lain tergantung pada individu.
Pemutusan proses hubungan terkait erat dengan ketidakpuasan individu
terhadap proses hubungan yang disebabkan oleh kurangnya peran serta, respons
lingkungan yang negatif. Kondisi ini dapat mengembangkan rasa tidak percaya
diri dan keinginan untuk menghindar dari orang lain (tidak percaya pada orang
lain).

B. PERKEMBANGAN HUBUNGAN SOSIAL


Pada dasarnya kemampuan hubungan sosial berkembang sesuai dengan
proses tumbuh kembang individu mulai dari bayi sampai dengan dewasa lanjut.
6

Untuk mengembangkan hubungan sosial yang positif, setiap tugas perkembangan


sepanjang daur kehidupan diharapkan dilalui dengan sukses. Kemampuan
berperan serta dalam proses hubungan diawali dengan kemampuan tergantung
pada masa bayi dan berkembang pada masa dewasa dengan kemampuan saling
tergantung (tergantung dan mandiri).
Bayi. Bayi sangat tergantung pada orang lain dalam pemenuhan kebutuhan
biologis dan psikologisnya. Bayi umumnya menggunakan komunikasi yang sangat
sederhana dalam menyampaikan kebutuhannya, misalnya : menangis untuk semua,
kebutuhan. Respons lingkungan (ibu atau “pengasuh”) terhadap kebutuhan bayi
harus sesuai agar berkembang rasa percaya diri bayi akan respons / perilakunya
dan rasa percaya bayi terhadap orang lain (Ericson).
Kegagalan pemenuhan kebutuhan bayi melalui ketergantungan pada orang
lain akan mengakibatkan rasa tidak percaya pada diri sendiri dan orang lain, serta
menarik diri (Haber, dkk., 1987, hal. 90).
Pra Sekolah. Anak pra sekolah mulai memperluas hubungan sosialnya di luar
lingkungan keluarga khususnya ibu (“pengasih”). Anak menggunakan kemampuan
berhubungan yang telah dimiliki untuk berhubungan dengan lingkungan di luar
keluarga. Dalam hal ini akan membutuhkan dukungan dan bantuan dari keluarga
khususnya pemberian pengakuan yang positif terhadap perilaku anak yang adaptif.
Hal ini merupakan dasar rasa otonomi anak yang berguna untuk mengembangkan
kemampuan hubungan independen.
Kegagalan anak dalam berhubungan dengan lingkungan disertai respons
keluarga yang negatif akan mengakibatkan anak menjadi tidak mampu mengontrol
diri, tidak mandiri (tergantung), ragu, menarik diri dari lingkungan, kurang
percaya diri, pesimis, takut perilakunya salah (Haber, dkk., 1987, hal. 91).
Anak Sekolah. Anak mulai mengenal hubungan yang lebih luas khususnya
lingkungan sekolah. Pada usia ini anak mulai mengenal bekerja sama, kompetisi,
7

kompromi. Konflik sering terjadi dengan orang tua karena pembatasan dan
dukungan yang tidak konsisten. Teman dengan orang dewasa di luar keluarga
(guru, orang tua, teman) merupakan sumber pendukung yang penting bagi anak.
Kegagalan dalam membina hubungan dengan teman di sekolah kurangnya
dukungan guru dan pembatasan serta dukungan yang tidak konsisten dari orang
tua mengakibatkan anak frustasi terhadap kemampuannya, putus asa, merasa tidak
mampu dan menarik diri dari lingkungan (Haber, dkk., 1987, hal. 91).
Remaja. Pada usia ini anak mengembangkan hubungan intim dengan teman
sebaya dan sejenis dan umumnya mempunyai sahabat karib. Hubungan dengan
teman sangat tergantung sedangkan hubungan dengan orang tua mulai independen.
Kegagalan membina hubungan dengan teman dan kurangnya dukungan orang tua
akan mengakibatkan keraguan akan identitas, ketidakmampuan mengidentifikasi
karir dan rasa percaya diri yang kurang.
Dewasa muda. Pada usia ini individu mempertahankan hubungan
interdependen dengan orang tua dan teman sebaya. Individu belajar mengambil
keputusan dengan memperhatikan saran dan pendapat orang lain, seperti : memilih
pekerjaan, memilih karir, melangsungkan perkawinan.
Kegagalan individu dalam melanjutkan sekolah, pekerjaan, perkawinan akan
mengakibatkan individu menghindari hubungan intim, menjauhi orang lain, putus
asa akan karir.

C. DIAGNOSA : Risiko perubahan sensori persepsi berhubungan dengan menarik.


TUJUAN UMUM : tidak terjadi perubahan sensori persepsi.
TUJUAN KHUSUS : Klien dapat :
1. Membina hubungan saling percaya.
2. Menyebutkan penyebab menarik diri.
3. Menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain.
8

4. Melakukan hubungan sosial secara bertahap : klien-perawat, masyarakat,


klien/perawat; klien-kelompok; klien-keluarga.
5. Mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain.
6. Memberdayakan sistem pendukung.
7. Menggunakan obat dengan benar dan tepat.

D. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


1.1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan
tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas
pada tiap pertemuan (topik yang akan dibicarakan, tempat berbicara, waktu
berbicara).
1.2. Berikan perhatian dan penghargaan : temani klien walau klien tidak
menjawab, katakan “saya akan duduk disamping anda, jika ingin
mengatakan sesuatu saya siap mendengarkan”, jika klien menatap perawat
katakan “ada yang ingin anda katakan”.
1.3. Dengarkan klien dengan empati : beri kesempatan bicara (jangan diburu-
buru), tunjukkan perawat mengikuti pembicaraan klien.
2.1. Bicarakan dengan klien penyebab tidak ingin bergaul dengan orang lain.
2.2 Diskusikan akibat yang dirasakan dari menarik diri.
3.1. Diskusikan keuntungan bergaul dengan orang lain.
3.2. Bantu klien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki klien untuk bergaul.
4.1. Lakukan interaksi sering dan singkat dengan klien (jika mungkin perawat
yang sama).
4.2. Motivasi / temani klien untuk berinteraksi / berkenalan dengan klien /
perawat lain. Beri contoh cara berkenalan.
4.3. Tingkatkan interaksi klien secara bertahap (satu klien, dua klien, satu
perawat, dua perawat, dan seterusnya).
9

4.4. Libatkan klien dalam terapi aktifitas – aktifitas kelompok sosialisasi.


4.5. Bantu klien melaksanakan aktifitas hidup sehari – hari dengan interaksi.
4.6. Fasilitasi hubungan klien dengan keluarga secara terapeutik.
5.1. Diskusikan dengan klien setiap selesai interaksi / kegiatan.
5.2. Beri pujian akan keberhasilan klien.
6.1. Berikan pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui penemuan
individu secara rutin dan pertemuan keluarga.
7.1. Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar obat, benar
dosis, benar cara, benar waktu, benar klien).
7.2. Anjurkan klien membicarakan efek atau efek samping obat yang dirasakan.

E. HASIL AKHIR YANG DIHARAPKAN


Pada klien :
1. Tidak terjadi perubahan sensori persepsi.
2. Klien mengetahui penyebab menarik diri.
3. Klien mengetahui keuntungan berinteraksi.
4. Klien mampu berinteraksi dengan orang lain.

Pada keluarga :
1. Keluarga mampu berkomunikasi dengan klien secara terapeutik.
2. Keluarga mampu mengurangi penyebab klien menarik diri.