Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Indonesia menurut data yang ada terdapat kecenderungan autisme ini meningkat,
merujuk pada prevalensi di dunia, saat ini terdapat 15 - 20 kasus per 10.000 anak atau
0,15% - 0,20%. Jika kelahiran di Indonesia enam juta per tahun maka jumlah
penyandang autis di Indonesia bertambah 0,15% atau sekitar 6900 anak pertahun dengan
perbandingan anak laki-laki tiga sampai empat lebih banyak dari anak perempuan.
Autisme tidak dapat disembuhkan (not curable) namun dapat di terapi (treatable).
Maksudnya adalah kelainan yang ada di dalam otak tidak dapat diperbaiki, namun
gejala-gejala yang ada dapat dikurangi semaksimal mungkin. Sehingga anak tersebut
bisa berbaur dengan anak lain secara normal.
Secara umum anak-anak dengan gangguan perkembangan ini minimal memerlukan
terapi intesif awal selama 2 tahun. Dengan merujuk pada data maka akan ada 1000 anak
setiap tahun yang tidak dapat mengikuti terapi tersebut. Tujuh puluh lima persen anak
autis yang tidak tertangani akhirnya menjadi tuna grahita. Salah satu metode yang sering
digunakan karena terbukti efektif adalah terapi metoda Lovaas, yaitu terapi yang
dikembangkan dari terapi Applied Behaviour Application (ABA). Di dalam terapi
Lovaas salah satu pelatihannya adalah pelatihan komunikasi melalui gambar-gambar,
tujuannya selain untuk melatih daya ingat juga untuk mengenal benda - benda sekitar. Ini
dikarenakan anak autis secara umum memiliki kemampuan yang menonjol di bidang
visual. Mereka lebih mudah untuk mengingat dan belajar, bila diperlihatkan gambar atau
tulisan dari benda - benda, kejadian, tingkah laku maupun konsep - konsep abstrak.
Dengan melihat gambar atau tulisan, anak autis akan membentuk gambaran mental atau
mental image yang jelas dan relatif permanen dalam benaknya.
Bila materi tersebut hanya diucapkan saja mereka akan mudah melupakannya karena
daya ingat mereka amat terbatas. Karena itu dalam melakukan terapi digunakan sebanyak
mungkin kartu - kartu bergambar dan alat bantu visual lain untuk membantu mereka
mengingat, hal ini juga berlaku untuk anak autis yang hanya mengalami gangguan di
bidang verbal. Untuk melatih penderita agar bisa berkomunikasi, kita harus
menyesuaikan diri dengan gaya komunikasi mereka.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan komunikasi terapeutik?
2. Apa yang dimaksud dengan autism?
3. Apa yang menyebabkan autism?
4. Bagaimana karakteristik penderita autism?
5. Bagaimana teknik komunikasi atau terapi yang digunakan pada penderita autism?
6. Bagaimana Penerapan komunikasi terapeutik?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menambah informasi mengenai:
1. Pengertian komunikasi terapeutik
2. Pengertian autism
3. Penyebab autism
4. Karakteristik penderita autism
5. Terapi dan pendekatan yang digunakan pada penderita autism
6. Penerapan komunikasi terapeutik

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Komunikasi teraupetik


Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar,
bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik
termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian
antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dan komunikasi in adalah adanya
saling membutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam
komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien
menerima bantuan (Indrawati, 2003: 48). Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang
bisa dikesampingkan, namun harus direncanakan, disengaja, dan merupakan tindakan
profesional. Akan tetapi, jangan sampai karena terlalu asyik bekerja, kemudian
melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya
(Arwani, 2003 50).
Tujuan komunikasi terapeutik membantu pasien untuk memperjelas dan
mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif
untuk pasien, membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri.
Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh
kualitas hubungan perawat-klien, Bila perawat tidak memperhatikan hal ini, hubungan
perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang
mempercepat kesembuhan klien, tetapi hubungan sosial biasa. (Indrawati, 2003 48).

B. Pengertian Autis
Beberapa defisini Autisme menurut beberapa ahli psikologi Indonesia:
Kartono (2000) berpendapat bahwa Autisme adalah gejala menutup diri sendiri
secara total, dan tidak mau berhubungan lagi dengan dunia luar keasyikan ekstrim
dengan fikiran dan fantasi sendiri.
Supratiknya (1995) menyebutkan bahwa penyandang autis memiliki ciri-ciri yaitu
penderita senang menyendiri dan bersikap dingin sejak kecil atau bayi, misalnya dengan
tidak memberikan respon ( tersenyum, dan sebagainya ), bila di ‘liling’, diberi makanan
dan sebagainya, serta seperti tidak menaruh perhatian terhadap lingkungan sekitar, tidak

3
mau atau sangat sedikit berbicara, hanya mau mengatakan ya atau tidak, atau ucapan-
ucapan lain yang tidak jelas, tidak suka dengan stimuli pendengaran ( mendengarkan
suara orang tua pun menangis ), senang melakukan stimulasi diri, memukul-mukul
kepala atau gerakan-gerakan aneh lain, kadang-kadang terampil memanipulasikan obyek,
namun sulit menangkap.
Kartono (1989) berpendapat bahwa Autisme adalah cara berpikir yang dikendalikan
oleh kebutuhan personal atau diri sendiri, menanggapi dunia berdasarkan penglihatan
dan harapan sendiri dan menolak realitas, oleh karena itu menurut Faisal Yatim (2003),
penyandang akan berbuat semaunya sendiri, baik cara berpikir maupun berperilaku.
Sarwindah (2002) berpendapat bahwa Autisme adalah gangguan yang parah pada
kemampuan komunikasi yang berkepanjangan yang tampak pada usia tiga tahun
pertama, ketidakmampuan berkomunikasi ini diduga mengakibatkan anak penyandang
autis menyendiri dan tidak ada respon terhadap orang lain.
Yuniar (2002) menambahkan bahwa Autisme adalah gangguan perkembangan yang
komplek, mempengaruhi perilaku, dengan akibat kekurangan kemampuan komunikasi,
hubungan sosial dan emosional dengan orang lain, sehingga sulit untuk mempunyai
ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat. Autisme
berlanjut sampai dewasa bila tak dilakukan upaya penyembuhan dan gejala-gejalanya
sudah terlihat sebelum usia tiga tahun.
Dari keterangan diatas, maka dapat kami menyimpulkan
bahwa Autisme adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada seseorang yang
dialami sejak lahir ataupun saat masa balita dengan gejala menutup diri sendiri secara
total, dan tidak mau berhubungan lagi dengan dunia luar, merupakan gangguan
perkembangan yang komplek, mempengaruhi perilaku, dengan akibat kekurangan
kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain dan tidak
tergantung dari ras, suku, strata-ekonomi, strata sosial, tingkat pendidikan, geografis
tempat tinggal, maupun jenis makanan.
C. Penyebab Autisme
Sejak autis pertama kali ditambahkan ke literatur psikiatri 50 tahun lalu, telah ada
sejumlah penelitian dan teori tentang penyebabnya. Para peneliti masih belum mencapai
kesepakatan mengenai penyebab spesifik nya. Pertama, harus diketahui bahwa autis
adalah sekumpulan berbagai gejala yang luas dan mungkin mempunyai banyak
penyebab. Konsep ini lazim di dunia medis.

4
Misalnya, sekumpulan gejala yang kita rasakan sebagai “dingin” dapat disebabkan
oleh ratusan virus yang berbeda, bakteri dan bahkan sistem imun kita sendiri. Autis tidak
diragukan lagi adalah kelainan dengan dasar biologis. Di masa lalu, beberapa peneliti
mengatakan bahwa autis adalah akibat buruknya skil kasih sayang pada ibu.
Kepercayaan ini telah menyebabkan banyak rasa sakit dan bersalah yang tidak perlu pada
orang tua anak autis, ketika nyatanya ketidakmampuan pada individu dengan autis untuk
berinteraksi dengan baik merupakan satu gejala kunci dari kelainan perkembangan ini.
Mendukung teori biologis autis, beberapa kelainan saraf yang telah diketahui
berhubungan dengan gambaran autis. Autis adalah satu dari gejala kelainan-kelainan ini.
Kondisi-kondisi ini termasuk tuberous sclerosis (suatu kelainan keturunan), fragile X
syndrome, cerebral dysgenesis (perkembangan abnormal otak), Rett syndrome, dan
beberapa kelainan metabolisme bawaan (defek biokimia). Autis, tampaknya merupakan
hasil akhir dari “jalur umum akhir” dari banyak kelainan yang mengenai perkembangan
otak. Namun, umumnya, ketika klinisi membuat diagnosis autis, mereka mengeluarkan
penyebab-penyebab yang telah diketahui dari perilaku autis sebagai pertimbangan.
Namun, jika pengetahuan tentang kondisi-kondisi yang menyebabkan autis mengalami
kemajuan, semakin dan semakin sedikit kasus yang akan dipikirkan sebagai “murni”
autis dan lebih banyak individu akan diidentifikasi mengalami autis karena sebab
tertentu.
Kaitan genetik dengan autisme muncul dari pernyataan Steven Scherer, peneliti di
Universitas Toronto, Kanada. Ia bersama para ilmuwan dari sejumlah negara melakukan
penelitian tentang autisme yang didanai Autism Genome Project Cabang Kanada.
Scherer bersama para ilmuwan dari sembilan negara mengumpulkan gen dari 1.168
keluarga. Tiap-tiap keluarga itu memiliki minimal dua anak autis. Scherer memeriksa
kromosom X yang berjumlah 23. Ternyata, pada masing-masing kromosom ada beberapa
gen yang abnormal. Dari situlah ia berkesimpulan bahwa autisme bersifat genetik. Dan
pada kromosom nomor 11 itulah yang paling menonjol kelainannya.
"Fakta ini menunjukkan bahwa 90% penyebab autisme adalah gen," kata Scherer,
seperti dikutip ABCnews.com, Senin pekan silam. Ia menyatakan bahwa studi itu belum
kelar. Kemungkinan Scherer bisa merampungkan penelitiannya ini paling singkat tiga
tahun lagi. Lewat penelitian itu, Scherer berharap, nanti bisa diketahui berapa banyak
gen abnormal yang terlibat dan punya keterkaitan di antara gen-gen. "Jika hal itu sudah
diketahui, kemungkinan akan dapat dibuat obatnya," kata Scherer.

5
D. Karakteristik Penderita Autisme
Diagnosis dan Statistical Manual of Mental Disorders-Fourth Edition, Treatment
Revision (DSM-IV-TR) terbaru mengidentifikasi tiga gambaran yang berhubungan
dengan autis:
1. Lemahnya interaksi sosial
Pertama, pasien-pasien dengan autis gagal mengembangkan interaksi personal
normal dalam hampir semua situasi. Ini artinya orang yang mengalaminya gagal
untuk membentuk kontak sosial normal yang merupakan suatu bagian penting dalam
perkembangan manusia. Kelemahan ini bisa sangat berat yang bahkan berpengaruh
bagi ikatan antara seorang ibu dan bayinya.
Penting untuk dicatat, bahwa berlawanan dengan keyakinan yang populer,
banyak, jika tidak hampir semua, orang autis mampu menunjukkan afeksi (kasih
sayang) dan mendemonstrasikannya dan menunjukkan ikatan dengan ibunya atau
orang yang memberinya perhatian. Namun, cara penderita autis mendemonstrasikan
afeksi dan ikatan bisa sangat berbeda dengan cara orang normal. Sosialisasi mereka
yang terbatas bisa dengan tak menentu menyebabkan orang tua dan dokter anak
menjauh dari mempertimbangkan diagnosis autis. Ketika anak berkembang,
interaksi dengan orang lain berlanjut menjadi abnormal. Perilaku yang tidak normal
meliputi kontak mata, ekspresi wajah, dan postur tubuh.
Biasanya terdapat suatu ketidakmampuan untuk mengembangkan hubungan
normal dengan saudara kandung dan teman sebaya dan anak sering terlihat terisolasi.
Mungkin ada sedikit atu tidak sam sekali kesenangan atau ketertarikan kepada
aktivitas-aktivitas sesuai umurnya. Anak-anak atau orang dewasa yang menderita
autis tidak mencari teman sebaya untuk bermain atau interaksi sosial lainnya. Pada
kasus yang berat mereka mungkin bahkan tidak memperhatikan keberadaan orang
lain.

2. Komunikasi
Komunikasi biasanya memburuk dengan berat pada orang autis. Apa yang
dimengerti oleh seorang individu (bahasa reseptif) juga apa yang benar-benar
diucapkan oleh individu tersebut (bahasa ekspresif) secara signifikan terhambat atau
tidak ada. Kurangnya pengertian bahasa meliputi ketidakmampuan untuk memahami

6
arah sederhana, pertanyaan mudah, atau perintah sederhana. Mungkin tidak ada
permainan berpura-pura atau drama dan anak-anak ini mungkin tidak mampu terlibat
dalam permainan dengan game-game untuk anak kecil.
Individu-individu autis yang berbicara mungkin tidak mampu memulai atau
berpartisipasi dalam percakapan dua arah (resiprox). Seringnya, cara seorang autis
berbicara terasa tidak biasa. Perkataannya mungkin tampak kurang akan emosi
normal dan terdengar datar atau monoton. Kalimat-kalimatnya sering sangat
kekanak-kanakan: “ingin air” dari yang semestinya ”saya ingin air.” Mereka yang
mengalami autis sering mengulang kata atau frase yang dikatakan kepada mereka.
Misalnya, anda mungkin berkata “lihat pesawat itu!” dan anak atau orang autis
mungkin merespon “lihat pesawat,” tanpa pengetahuan tentang apa yang dikatakan.
Pengulangan ini disebut dengan echolalia. Pengingatan dan hafalan terhadap lagu,
cerita, iklan atau bahkan naskah lengkap tidaklah jarang. Sementara banyak yang
merasa ini merupakan tanda intelijensia, orang autis biasanya tidak tampak mengerti
isi dari kata-katanya.

3. Perilaku
Orang autis sering menunjukkan berbagai pengulangan perilaku abnormal.
Terdapat juga suatu hipersensitifitas terhadap input sensoris dalam penglihatan,
pendengaran dan sentuhan (taktil). Akibatnya, mungkin terdapat suatu intoleransi
ekstrim terhadap suara bising atau kerumunan, stimulasi visual, atau sesuatu yang
dirasakan.
Anak-anak dan orang autis sering terikat pada banyak tugas rutin setiap hari
yang mungkin seperti ritual. Sesuatu yang sesederhana mandi mungkin hanya
dilakukan setelah jumlah yang tepat air di dalam tempat mandinya, suhu yang tepat,
sabun yang sama di tempat yang sama dan bahkan handuk yang sama di tempat yang
sama. Perubahan apa pun dari rutinitas itu dapat memicu reaksi yang berat pada
individu tersebut dan menempatkan ketegangan yang luarbiasa pada orang dewasa
yang berusaha bekerja dengannya.
Bisa juga ada suatu aksi atau perilaku tanpa tujuan yang diulang-ulang. Terus-
menerus mengayun, menggeretakkan gigi, memilin rambut atau jari, bertepuk tangan
dan berjalan pada ujung jari tidak jarang dilakukan. Sering ada keasyikan dengan
suatu ketertarikan yang sangat terbatas atau pada suatu alat permainan tertentu.

7
Gejala anak autis bisa dilihat dini,karena coba perhatikan perkembangan anak
dalam setiap tahap tiap tahap terkadang orang tua tidak terlalu peka terhadap tingkah
laku anak,jangan sampai terlambat.walau autis ini tidak penyakit,tetapi ganguan
kelemahan terhadap sistem saraf akibat faktor genetika yang lemah.untuk itu perlu
perhatian extra dalam penanganan anak penyangdang autis sejak awal. Adapun ciri-
ciri anak autisme menurut usia, yaitu:
1. Usia 0 -6 bulan.
Apabila anak terlalu tenang dan jarang menangis,terlalu sensitif,gerakan
tangan dan kaki yang terlalu berlebihan terutama pada saat mandi.tidak perna
terjadi kontak mata atau senyum secara sosial,dan digendongkan mengepal
tangan atau menegangkan kaki secara berlebihan.
2. Usia 6-12 bulan.
Kalau digendongkan kaku atau tegang dan tidak berinteraksi atau tidak
tertarik pada mainan atau tidak beraksi terhadap suara atau kata.dan selalu
memandang suatu benda atau tanganya sendiri secara lama.itu akibat terlambat
dalam perkembangan motorik halus dan kasar
3. Usia 2-3 tahun.
Tidak berminat atau bersosialisasi terhadap anak-anak lain,dan kotak mata
tidak menyambung dan tidak pernah fokus.juga kaku terhadap orang lain dan
masih senang di gendong dan malas mengerakan tubuhnya.
4. Usia 4-5 tahun.
Sukanya anak ini berteriak-teriak dan suka membeo atau menudukan suara
orang lain dan mengeluarkan suara-suara yang aneh.dan gampang marah atau
emosi apabila rutinitasnya di gangu dan kemauannya tidak di turuti dan agresif
dan mudah menyakiti diri sendiri.
5. Sejak lahir sampai dengan umur 24-30 bulan
Anak-anak yang terkenal autisme umumnya terlihat normal.selain itu orang
tua mulai melihat perubahan seperti keterlambatan berbicara,berbain dan
berteman.

8
E. Terapi dan Pendekatan pada Penderita Autism
Terapi pada dasarnya perlu diberikan untuk membangun kondisi yang lebih baik.
Terapi juga harus rutin dilakukan agar apa yang menjadi kekurangan anak dapat dipenuhi
secara bertahap. Terapi juga harus diberikan sedini mungkin sebelum anak berusia 5
tahun. Sebab, perkembangan pesat otak anak umumnya terjadi pada usia sebelum 5
tahun, tepatnya puncak pada usia 2-3 tahun. Beberapa terapi yang ditawarkan oleh para
ahli adalah :
1. Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam
Defeat Autism Now . Pada terapi ini difokuskan pada pembersihan fungsi-fungsi
abnormal pada otak. Dengan terapi ini diharapkan fungsi susunan saraf pusat bisa
bekerja lebih baik sehingga gejala autism berkurang atau bahkan menghilang. Obat-
obatan juga digunakan untuk penyandang autism, namun harus dengan pengawasan

9
dokter spesialis yang lebih memahami dan mempelajari autism. Terapi biomedik
melengkapi terapi lainnya dengan memperbaiki dari dalam (biomedis). Dan juga
didukung oleh terapi dari dalam dan luar diri agar mengalami kemajuan yang cukup
bagus.
2. Terapi Okupasi
Terapi okupasi berguna untuk melatih otot-otot halus anak. Menurut penelitian,
hamper semua kasus anak autistic mempunyai keterlambatan dalam perkembangan
motorik halus. Gerak-geriknya sangat kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk
memegang benda dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan
menyuapkan makanan ke dalam mulutnya,dsb. Dengan terapi ini anak akan dilatih
untuk membuat semua otot dalam tubuhnya berfungsi dengan tepat.
3. Terapi Integrasi Sensoris
Terapi ini berguna meningkatkan kematangan susunan saraf pusat, sehingga
lebih mampu untuk memperbaiki struktur dan fungsinya. Aktivitas ini merangsang
koneksi sinaptik yang lebih kompleks, dengan demikian bisa meningkatkan
kapasitas untuk belajar.
4. Terapi Bermain
Terapi bermain adalah pemanfaatan pola permainan sebagai media yang efektif
dari terapis, melalui kebebasan eksplorasi dan ekspresi diri. Pada terapi ini, terapis
bermain menggunakan kekuatan terapiutik permainan untuk membantu klien
menyelesaikan kesulitan-kesulitan psikososial dan mencapai pertumbuhan,
perkembangan yang optimal.
5. Terapi Perilaku
Terapi ini memfokuskan penanganan pada pemberian reinforcement positif
setiap kali anak berespons benar sesuai intruksi yang diberikan. Tidak ada
punishment dalam terapi ini, akan tetapi bila anak menjawab salah akan
mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai. Terapi ini digunakan untuk
meningkatkan pemahaman dan kepatuhan anak pada aturan. Dari terapi ini hasil
yang didapatkan signifikan bila mampu diterapkan secara intensif.
6. Terapi Fisik
Beberapa penyandang autism memiliki gangguan perkembangan dalam motorik
kasarnya. Kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat.
Keseimbangan tubuhnya juga kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris

10
akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-otot dan memperbaiki
keseimbangan tubuh anak.
7. Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan asutism mempunyai kesulitan dalam bicara dan
berbahasa. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak
mampu untuk memakai kemampuan bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi
dengan orang lain.
8. Terapi Musik
Terapi music menurut Canadian Association for Music Therapy (2002) adalah
penggunaan music untuk membantu integrasi fisik, psikologis, dan emosi individu,
serta untuk treatment penyakit atau ketidakmampuan. Sedangkan menurut American
Music Therapy Association (2002) terapi music adalah semacam terapi yang
menggunakan music yang bersifat terapiutik guna meningkatkan fungsi perilaku,
social, psikologis, komunikasi, fisik, sensorik motorik dan kognitif.
9. Terapi Perkembangan
Terapi ini didasari oleh adanya keadaan bahwa anak dengan autis melewatkan
atau kurang sedikit bahkan banyak sekali kemampuan bersosialisasi.yang termasuk
terapi perkembangan misalnya Floortime, dilakukan oleh orang tua untuk membantu
melakukan interaksi dan kemampuan bicara.
10. Terapi Visual
Individu autistic lebih mudah belajar dengan melihat. Hal inilah yang kemudian
dipakai untuk mengembangkan metode belajar berkomunikasi melalui gambar-
gambar. Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan
keterampilan komunikasi.
11. Terapi Medikamentosa
Disebut juga terapi obat-obatan. Terapi ini dilakukan dengan pemberian obat-
obatan oleh dokter yang berwenang. Para penyandang jangan diberi sembarang obat,
tapi obat harus diberikan bila timbul indikasi kuat. Gejala yang sebaiknya
dihilangkan dengan obat : hiperaktivitas yang hebat, menyakiti diri sendiri,
menyakiti orang lain (agresif), merusak (destruktif), dan gangguan tidur.
12. Terapi Melalui Makanan
Terapi melalui makanan diberikan untuk anak-anak dengan masalah alergi
makanan tertentu. Di sisi lain, ada bebrapa makanan yang mengandung zat yang

11
dapat memperberat gejala autis pada anak. Dalam terapi ini diberikan solusi tepat
bagi para orang tua untuk menyiasati menu yang cocok dan sesuai bagi putra-
putrinya sesuai dengan petunjuk ahli mengenai gizi makanan.

Adapun terapi lain yang diberikan pada penderita autism, yaitu:


1. Terapi dengan Pendekatan Psikodinamis
Pendekatan terapi berorientasi psikodinamis terhadap individu autistik
berdasarkan asumsi bahwa penyebab autisme adalah adanya penolakan dan sikap
orang tua yang “dingin” dalam mengasuh anak. Terapi Bettelheim dilakukan dengan
menjauhkan anak dari kediaman dan pengawasan orang tua. Kini terapi dengan
pendekatan psikodinamis tidak begitu lazim digunakan karena asumsi dasar dari
pendekatan ini telah disangkal oleh bukti-bukti yang menyatakan bahwa autisme
bukanlah akibat salah asuhan melainkan disebabkan oleh gangguan fungsi otak..
Pendekatan yang berorientasi Psiko-dinamis didominasi oleh teori-teori awal yang
memandang autisme sebagai suatu masalah ketidakteraturan emosional.

2. Terapi Dengan Intervensi Behavioral


Pendekatan Behavioral telah terbukti dapat memperbaiki perilaku individu
autistik. Pendekatan ini merupakan variasi dan pengembangan teori belajar yang
semula hanya terbatas pada sistem pengelolaan ganjaran dan hukuman (reward and
punishment). Prinsipnya adalah mengajarkan perilaku yang sesuai dan diharapkan
serta mengurangi/mengeliminir perilaku-perilaku yang salah pada individu autistik.
Pendekatan ini juga menekankan pada pendidikan khusus yang difokuskan pada
pengembangan kemampuan akademik dan keahlian-keahlian yang berhubungan
dengan pendidikan. Saat ini ada beberapa sistem behavioral yang diterapkan pada
individu dengan kebutuhan khusus seperti autisme:
a. Operant Conditioning (konsep belajar operan)
Pendekatan operan merupakan penerapan prinsip-prinsip teori belajar
secara langsung. Prinsip pemberian ganjaran dan hukuman, perilaku yang
positif akan mendapatkan konsekuensi positif (reward), sebaliknya perilaku
negatif akan mendapat konsekuensi negatif (punishment). Dengan demikian
diharapkan pendekatan ini dapat mengembangkan dan meningkatkan perilaku
positif, serta mengurangi perilaku negatif yang tidak produktif.

12
b. Cognitive Learning (konsep belajar kognitif)
Struktur pengajaran pada pendekatan ini sedikit berbeda dengan konsep
belajar operan. Fokusnya lebih kepada seberapa baik pemahaman individu
autistik terhadap apa yang diharapkan oleh lingkungan. Pendekatan ini
menggunakan ganjaran dan hukuman untuk lebih menegaskan apa yang
diharapkan lingkungan terhadap anak autistik. Fokusnya adalah pada seberapa
baik seorang penderita autistik dapat memahami lingkungan disekitarnya dan
apa yang diharapkan oleh lingkungan tersebut terhadap dirinya. Latihan
relaksasi merupakan bentuk lain dari pendekatan kognitif. Latihan ini
difokuskan pada kesadaran dengan menggunakan tarikan napas panjang,
pelemasan otot-otot, dan perumpamaan visual untuk menetralisir kegelisahan.

c. Social Learning (konsep belajar sosial)


Ketidakmampuan dalam menjalin interaksi sosial merupakan masalah
utama dalam autisme, karena itu pendekatan ini menekankan pada pentingnya
pelatihan keterampilan sosial (social skills training). Teknik yang sering
digunakan dalam mengajarkan perilaku sosial positif antara lain: modelling
(pemberian contoh), role playing (permainan peran), dan rehearsal
(latihan/pengulangan). Pendekatan belajar sosial mengkaji perilaku dalam hal
konteks sosial dan implikasinya dalam fungsi personal.

Salah satu bentuk modifikasi dari intervensi behavioral yang banyak di terapkan
di pusat-pusat terapi di Indonesia adalah teknik modifikasi tatalaksana perilaku oleh
Ivar Lovaas. Terapi ini menggunakan prinsip belajar-mengajar untuk mengajarkan
sesuatu yang kurang atau tidak dimiliki anak autis. Misalnya anak diajar
berperhatian, meniru suara, menggunakan kata-kata, bagaimana bermain. Hal yang
secara alami bisa dilakukan anak-anak biasa, tetapi tidak dimiliki anak penyandang
autisme. Semua keterampilan yang ingin diajarkan kepada penyandang autisme
diberikan secara berulang-ulang dengan memberi imbalan bila anak memberi
respons yang baik. awalnya imbalan bisa berbentuk konkret seperti mainan,
makanan atau minuman. Tetapi sedikit demi sedikit imbalan atas keberhasilan anak
itu diganti dengan imbalan sosial, misalnya pujian, pelukan dan senyuman.
Bentuk-bentuk psikoterapi menggunakan pendekatan behavioral (behavior

13
therapy) kepada anak/individu dengan ASD, bersumber pada teori belajar,
khususnya pengondisian operan Skinner. Perspektif behaviorisme Skinner
memandang individu sebagai organisme yang perbendaharaan tingkah lakunya di
peroleh melalui belajar.
Skinner membedakan dua tipe respons tingkah laku: responden dan operan
(operant). Respons (tingkah laku) selalu didahului oleh stimulus dan tingkah laku
responden diperoleh melalui belajar serta bisa dikondisikan. Skinner yakin
kecenderungan organisme untuk mengulang ataupun menghentikan tingkah lakunya
di masa datang tergantung pada hasil atau konsekuensi (pemerkuat/positive dan
negative reinforcer) yang diperoleh oleh organisme/individu dari tingkah lakunya
tersebut. Para ahli teori belajar membagi pemerkuat (reinforcer) menjadi dua: (1)
pemerkuat primer (unconditioned reinforcer), adalah kejadian atau objek yang
memiliki sifat memperkuat secara inheren tanpa melalui proses belajar seperti:
makanan bagi yang lapar; sedangkan (2) pemerkuat sekunder (pemerkuat sosial)
merupakan hal, kejadian, atau objek memperkuat respons melalui pengalaman
pengondisian atau proses belajar pada organisme. Meskipun menurut Skinner nilai
pemerkuat sekunder belum tentu sama pada setiap orang, namun pemerkuat
sekunder memiliki daya yang besar bagi pembentukan dan pengendalian tingkah
laku.
Thorndike dan Watson memandang bahwa “organisme dilahirkan tanpa sifat-
sifat sosial atau psikologis; perilaku adalah hasil dari pengalaman; dan perilaku di
gerakkan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan
mengurangi penderitaan”. Behavioris melalui beberapa eksperimen seperti: metode
pelaziman klasik (classical conditioning), operant conditioning, dan konsep belajar
sosial (social learning) menyimpulkan bahwa manusia sangat plastis sehingga dapat
dengan mudah di bentuk oleh lingkungan.

3. Intervensi Biologis
Intervensi biologis mencakup pemberian obat dan vitamin kepada individu
autistik. Pemberian obat tidak telalu membantu bagi sebagian besar anak autistik.
Secara farmakologis hanya sekitar 10-15% pengidap autisme yang cocok dan
terbantu oleh pemberian obat-obatan dan vitamin.

14
F. Penerapan Komunikasi Terapeutik
Jangan menganggap pasien sebagai orang yang rendah, mereka sama seperti kita,
namun mereka memiliki kekurangan yang tidak dapat berkomunikasi layaknya orang
normal. Berikut beberapa teknik yang dapat diterapkan:
1. Perjelas kata-kata yang diucapkan klien dengan mengulang kembali, biasanya
orang yang terkena retardasi mental berbicara kurang jelas
2. Melakukan interaksi secara verbal sehingga disini akan menumbuhkan rasa
percaya diri
3. Batasi topik dan buat topik tentang hal yang disukainya
4. Ciptakan lingkungan yang respondif dan kaya akan bahasa sehingga
memungkinkan anak untuk berkomunikasi
5. Jangan menyinggung kata-kata yang klien ucapkan
6. Berikan klien jika ingin berbicara sesuatu

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Meskipun mengalami masalah dalam komunikasi, namun anak autis bukanlah
manusia yang tidak akan pernah bisa melakukan aktifitas-aktifitas seperti manusia
normal lainnya. Secara psikologi komunikasi, anak autis memang bisa dikatakan menjadi
kasus yang sangat unik dibandingkan dengan psikologi manusia normal pada umumnya.
Bahkan bisa dikatakan mereka seperti menyimpan sebuah misteri dalam dirinya yang
tidak akan pernah terungkap jika mereka tidak pernah dibimbing untuk memahami
makna kehidupan terutama menyangkut komunikasi dan interaksi social.

B. Saran
Dalam komunikasi terhadap penderita autism, sebaiknya lebih mengedepankan kasih
sayang. Karena penderita autism, begitu peka terhadap kasih sayang. Selain itu, perlu
adanya terapi yang berkelanjutan pada penderita autism untuk memperbaiki komunikasi.

16
DAFTAR PUSTAKA

http://www.sekolahdasar.net/2008/04/kromosom-abnormal-penyebab-
autisme.html#ixzz3lyqdm5Uc (diunduh pada tanggal 17 September 2015)
https://tsantsantsan.wordpress.com/2012/04/01/12-terapi-efektif-untuk-anak-autisme/
(diunduh pada tanggal 17 September 2015)
http://bloggerpem.blogspot.co.id/2013/09/makalah-dan-askep-komunikasi-terapeutik_23.html
(diunduh pada tanggal 17 September 2015)
Laani Setiawan di 00.16 http://keperawatancianjur.blogspot.co.id/2012/06/prinsip-dan-
teknik-komunikasi-dalam.html (diunduh pada tanggal 17 September 2015)
http://www.kompasiana.com/stevanie.ocha/memahami-psikologi-komunikasi-
autisme_550f1c4a8133118b2cbc67af (diunduh pada tanggal 17 September 2015)
https://riantipuspaandita.wordpress.com/2010/04/10/pendekatan-terapi-autisme/ (diunduh
pada tanggal 17 September 2015)
http://komter-anak-vefi.blogspot.co.id/2009/07/komunikasi-terapeutik-pada-anak-autis.html
(diunduh pada tanggal 17 September 2015)
http://seputarautismepadaanak.blogspot.co.id/2013/07/pengertian-autis.html (diunduh pada
tanggal 17 September 2015)

17