Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berdirinya Negara ini tidak hanya ditandai oleh Proklamasi dan keinginan untuk bersatu
bersama, akan tetapi hal yang lebih penting adalah adanya UUD 1945 yang merumuskan
berbagai masalah kenegaraan. Atas dasar UUD 1945 berbagai struktur dan unsur Negara mulai
ada. Undang-undang dibuat harus sesuai dengan keperluan dan harus peka zaman, artinya aturan
yang dibuat oleh para DPR kita sebelum di sahkan menjadi undang-undang sebelumnya harus di
sosialisasikan dahulu dengan rakyat, apakah tidak melanggar norma-norma adat atau melanggar
hak-hak asasi manusia. Salah satu bukti bahwa undang-undang yang sudah tidak relevan lagi
dengan kondisi zamanya adalah undang-undang dasar 1945. Dengan mengalami empat kali
perubahan yang masing-masing tujuanya tidak lain hanya untuk bisa sesuai dengan kehendak
rakyat dan bangsa kita, dalam arti bisa mewakili aspirasi rakyat yang disesuaikan zamannya.
Dalam praktek bernegara pemerintahan, pembagian kekuasaan dalam Negara (sharing of
power) merupakan suatu hal yang tak terelakan, bahkan pembagian kekuasaan itu tidak dapat
dipisahkan dengan esensi hidup bernegara atau tujuan didirikannya Negara.

B. Tujuan
1) Untuk mengetahui suprastruktur dan infastruktur politik di Indonesia.
2) Untuk mengetahui lembaga-lembaga Negara Republik Indonesia Menurut UUD NRI
Tahun 1945.
3) Untuk mengetahui tata kelola pemerintahan yang baik di Indonesia.
4) Untuk mengetahui bagaimana partisipasi warga negara dalam sistem politik di Indonesia.

C. Manfaat
1) Siswa dapat menambah wawasan tentang Kewenangan Lembaga-Lembaga Negara
Menurut UUD NRI Tahun 1945.
2) Makalah ini dapat menjadi tambahan refrensi di perpustakaan sekolah.

1
BAB II
KEWENANGAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA MENURUT UUD NEGARA
REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

A. Suprastruktur dan Infrastruktur Politik di Indonesia


Suprastruktur dan infrastruktur ada hubungannya dengan demokrasi. Demokrasi atau
lengkapnya sistem pemerintahan demokrasi berkaitan dengan faktor-faktor seperti adanya sistem
perwakilan, adanya pemilihan umum secara berkala, adanya keterbukaan dan adanya
pengawasan sosial dari rakyat atau masyarakat. Beberapa hal tersebut merupakan bagian dari ciri
khas demokrasi. Namun, hakikat dan prasyarat dari semua itu adalah terdapatnya kondisi
seimbang antara “suprastruktur politik” dengan “infrastruktur politik”.
Suprastruktur di pegang oleh beberapa orang yang disebut pemerintah, dengan disertai
berbagai badan dan aparatur yang membantu pemerintah untuk terselenggaranya pemerintahan.
Sementara itu, yang tidak termasuk suprastruktur disebut rakyat yang secara otomatis tergolong
infrastruktur. Namun, perlu disadari bahwa dalam sistem pemerintahan demokrasi, infrastruktur
bukan sekedar rakyat yang sepenuhnya tunduk dan patuh terhadap suprastruktur. Infrastruktur
seharusnya ikut berpartisipasi dan di dengar serta di perhatikan aspirasinya dalam perumusan
kebijakan pemerintah. Bahkan, infrastruktur di tempatkan pada posisi yang mampu
memengaruhi apa yang dilaksanakan oleh lembaga suprastruktur, termasuk pula untuk bersama-
sama ikut bertanggung jawab atas kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh suprastruktur.

1. Suprastruktur politik
Suprastruktur politik yaitu struktur politik pemerintahan yang berkaitan dengan lembaga-
lembaga negara yang ada serta hubungan kekuasaan antara lembaga satu dengan lainnya. Hal ini
terutama dapat diketahui dari UUD dasarnya dan peraturan perundangan lainnya. Bagi Negara
Republik Indonesia, suprastruktur politik yaitu lembaga-lembaga Negara seperti MPR, DPR,
Presiden, BPK dan MA. Suprastruktur politik dapat pula dinyatakan sebagai kelompok orang
yang jumlah anggotanya hanya sedikit, terdiri atas tokoh politik, tetapi memegang kekuasaan
pemerintahan negara. Kelompok ini merupakan mesin politik resmi dari suatu negara yang
merupakan penggerak politik formal.
Suprastruktur berfungsi untuk menetapkan kebijakan. Namun, tidak sepenuhnya serta
berdaulat guna menetapkan kebijakan-kebijakannya tanpa persetujuan mayoritas rakyat. Segi
saling mengisi antara suprastruktur politik dengan infrastruktur politik inilah, yang paling
diandalkan sebagai keunggulan serta kebaikan sistem pemerintahan demokrasi. Khususnya, jika
dibandingkan dengan interaksi antara suprastruktur dengan infrastruktur pada sistem-sistem
pemerintah yang lain (monarki, otoritarian dan otalitarian).

2
2. Infrastruktur politik
Infrastruktur politik yaitu suasana kehidupan politik rakyat yang berhubungan dengan
kehidupan lembaga-lembaga kemasyarakatan. Dalam kegiatannya dapat memengaruhi baik
secara langsung maupun tidak langsung terhadap kebijakan lembaga-lembaga kenegaraan dalam
menjalankan fungsi dan kekuasaannya masing-masing. Kelompok ini jumlahnya sangat banyak,
tetapi dengan sukarela mereka bersedia diatur dan diperintah. Oleh karena jumlahnya yang relatif
sangat besar, mereka tidak dapat seluruhnya menjadi anggota parlemen. Untuk menyalurkan
aspirasi dan berbagai kepentingannya, dibentuklah partai-partai politik yang membawa aspirasi
mereka ke lembaga parlemen (legislatif).
Selain partai politik resmi, ada pula organisasi abstrak yang tidak resmi, tetapi sangat
menguasai keadaan sebagai elite power. Kelompok ini disebut kelompok penekan (prssure
groups) dan kelompok yang mempunyai kepentingan (interest groups) dalam penyelenggaraan
pemerintahan negara. Kelompok-kelompok ini mengadakan kegiatan atau gerakan-gerakan
politik untuk merespons kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan atau mengganggu
kepentingan kelompok atau rakyat banyak. Aksi kelompok ini juga sering didukung atau diikuti
kelompok lain atau unsur masyarakat yang bersimpati dengan tuntutan mereka. Semua
tergantung pada tujuan dan kepentingan masing-masing. Beberapa contoh organisasi yang
termasuk infrastruktur politik adalah organisasi pelajar, mahasiswa, serikat buruh, LSM, PGRI,
serikat tani dan partai politik.
Antara bagian-bagian suprastruktur politik dengan unsur-unsur infrastruktur politik
terdapat suatu hubungan yang saling memengaruhi sehingga menumbuhkan suasana kehidupan
politik yang serasi. Unsur-unsur infrastruktur politik berfungsi memberi masukkan kepada
suprastruktur politik. Dengan memerhatikan masukan-masukan yang di terima dari infrastruktur
politik, suprastruktur politik atau bagiannya dapat menentukan kebijakan umum atau keputusan
politik.
Peranan politik sangat penting dalam memengaruhi kebijakan politik adalah sekelompok
warga negara yang terorganisir, wakil-wakil yang duduk dalam lembaga legislatif (DPR, DPRD)
dan lembaga eksekutif di pusat maupun daerah. (Intan Pariwara, 2010: 232)

B. Lembaga-Lembaga Negara Republik Indonesia Menurut UUD NRI Tahun 1945


Menurut kamus hukum, Lembaga adalah badan atau organisasi yang bertujuan untuk melakukan
suatu penyelidikan keilmuan atau melakukan suatu usaha. (Kamus Hukum; Drs. Sudarsono,
S.H., M.Si)
Sebagai negara demokrasi, pemerintahan Indonesia menerapkan teori trias politika. Trias
politika adalah pembagian kekuasaan pemerintahan menjadi tiga bidang yang memiliki
kedudukan sejajar. Ketiga bidang tersebut yaitu:
a) Legislatif bertugas membuat undang-undang. Bidang legislatif adalah Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR).

3
b) Eksekutif bertugas menerapkan atau melaksanakan undang-undang. Bidang eksekutif
adalah Presiden dan Wakil Presiden.
c) Yudikatif bertugas mempertahankan pelaksanaan undang-undang. Adapun unsur
yudikatif terdiri atas Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). (Asa
generasiku, 2012, Lembaga Negara.

1. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)


Anggota MPR terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD yang dipilih melalui pemilihan
umum untuk masa jabatan selama lima tahun dan berakhir bersamaan pada saat anggota MPR
yang baru mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung dalam sidang
paripurna MPR. Sebelum UUD 1945 di amandemen, MPR berkedudukan sebagai lembaga
tertinggi negara. Namun, setelah UUD 1945 istilah lembaga tertinggi negara tidak ada yang ada
hanya lembaga negara. Dengan demikian, sesuai dengan UUD 1945 yang telah di amandemen
maka MPR termasuk lembaga negara. Sesuai dengan Pasal 3 Ayat 1 UUD 1945 MPR
amandemen mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut :
a) Mengubah dan menetapkan undang-undang dasar;
b) Melantik presiden dan wakil presiden;
c) Memberhentikan presiden dan wakil presiden dalam masa jabatannya menurut undang-
undang dasar.
MPR bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di ibu kota negara. Dalam menjalankan
tugas dan wewenangnya, anggota MPR mempunyai hak berikut ini:
a) Mengajukan usul perubahan pasal-pasal undang-undang dasar
b) Menentukan sikap dan pilihan dalam pengambilan keputusan
c) Memilih dan dipilih
d) Membela diri
e) Imunitas;
f) Keuangan dan administratif.
Anggota MPR mempunyai kewajiban sebagai berikut:
a) Mengamalkan Pancasila;
b) Melaksanakan UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan;
c) Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Kerukunan Nasional;
d) Mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan
e) Melaksanakan peranan sebagi wakil rakyat dan wakil daerah.

2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)


DPR merupakan lembaga perwakilan rakyat yang berkedudukan sebagai lembaga negara.
Anggota DPR berasal dari anggota partai politik peserta pemilu yang dipilih berdasarkan hasil
pemilu. DPR berkedudukan di tingkat pusat, sedangkan yang berada di tingkat provinsi disebut

4
DPRD provinsi dan yang berada di kabupaten/kota disebut DPRD kabupaten/kota. Berdasarkan
UU Pemilu Nomor 10 Tahun 2008 ditetapkan sebagai berikut:
a) Jumlah anggota DPR sebanyak 560 orang;
b) Jumlah anggota DPRD provinsi sekurang-kurangnya 35 orang dan sebanyak- banyak 100
orang;
c) Jumlah anggota DPRD kabupaten/kota sedikitnya 20 orang dan sebanyak-banyaknya 50
orang.
Keanggotaan DPR diresmikan dengan keputusan presiden. Anggota DPR berdomisili di
ibu kota negara. Masa jabatan anggota DPR adalah lima tahun dan berakhir pada saat anggota
DPR yang baru mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung dalam
sidang paripurna DPR.
Dewan Perwakilan Daerah (DPD) lahir pada tanggal 1 Oktober 2004, ketika 128 anggota
DPD yang terpilih untuk pertama kalinya dilantik dan diambil sumpahnya. Pada awal
pembentukannya, masih banyak tantangan yang dihadapi oleh DPD. Tantangan tersebut mulai
dari wewenangnya yang dianggap jauh dari memadai untuk menjadi kamar kedua yang efektif
dalam sebuah parlemen bikameral, sampai dengan persoalan kelembagaannya yang juga jauh
dari memadai. Tantangan-tantangan tersebut timbul terutama karena tidak banyak
dukungan politik yang diberikan kepada lembaga baru ini.

3. Dewan Perwakilan Daerah (DPD)


Dewan Perwakilan Daerah (DPD) merupakan lembaga negara baru yang sebelumnya tidak
ada. DPD merupakan lembaga perwakilan daerah yang berkedudukan sebagai lembaga negara.
DPD terdiri atas wakil-wakil dari provinsi yang dipilih melalui pemilihan umum.
Jumlah anggota DPD dari setiap provinsi tidak sama, tetapi ditetapkan sebanyak-
banyaknya empat orang. Jumlah seluruh anggota DPD tidak lebih dari 1/3 jumlah anggota DPR.
Keanggotaan DPD diresmikan dengan keputusan presiden. Anggota DPD berdomisili di daerah
pemilihannya, tetapi selama bersidang bertempat tinggal di ibu kota Republik Indonesia. Masa
jabatan anggota DPD adalah lima tahun.
Sesuai dengan Pasal 22 D UUD 1945 maka kewenangan DPD, antara lain sebagai berikut:
a) Dapat mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR yang berkaitan dengan
otonomi daerah, hubungan pusat dengan daerah, pembentukan dan pemekaran, serta
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya.
b) Ikut merancang undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat
dengan daerah, pembentukan dan pemekaran, serta penggabungan daerah, pengelolaan
sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya.
c) Dapat memberi pertimbangan kepada DPR yang berkaitan dengan rancangan undang-
undang, RAPBN, pajak, pendidikan dan agama.

5
d) Dapat melakukan pengawasan yang berkaitan dengan pelaksanaan undang-undang
otonomi daerah, hubungan pusat dengan daerah, pembentukan dan pemekaran serta
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya.

4. Presiden dan Wakil Presiden


Presiden adalah lembaga negara yang memegang kekuasaan eksekutif yaitu presiden
mempunyai kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan. Presiden mempunyai kedudukan
sebagai kepala pemerintahan dan sekaligus sebagai kepala negara. Sebelum adanya amandemen
UUD 1945, presiden dan wakil presiden dipilih oleh MPR, tetapi setelah amandemen UUD1945
presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum.
Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat
dipilih kembali hanya untuk satu kali masa jabatan. sebelum menjalankan tugasnya bersumpah
atau mengucapkan janji dan dilantik oleh ketua MPR dalam sidang MPR. Setelah dilantik,
presiden dan wakil presiden menjalankan pemerintahan sesuai dengan program yang telah
ditetapkan sendiri. Dalam menjalankan pemerintahan, presiden dan wakil presiden tidak boleh
bertentangan dengan UUD 1945. Presiden dan wakil presiden menjalankan pemerintahan sesuai
dengan tujuan negara yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.
Sebagai seorang kepala negara, menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, Presiden mempunyai wewenang sebagai berikut:
a) Membuat perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
b) Mengangkat duta dan konsul. Duta adalah perwakilan negara Indonesia di
negara sahabat. Duta bertugas di kedutaan besar yang ditempatkan di ibu kota
negara sahabat itu. Sedangkan konsul adalah lembaga yang mewakili negara Indonesia di
kota tertentu di bawah kedutaan besar kita.
c) Menerima duta dari negara lain
d) Memberi gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan lainnya kepada warga negara Indonesia
atau warga negara asing yang telah berjasa mengharumkan nama baik Indonesia.

5. Mahkamah Agung
Mahkamah Agung merupakan lembaga negara yang memegang kekuasaan kehakiman.
Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan
guna menegakkan hukum dan keadilan. Mahkamah Agung adalah pengadilan tertinggi di negara
kita. Perlu diketahui bahwa peradilan di Indonesia dapat dibedakan peradilan umum, peradilan
agama, peradilan militer dan peradilan tata usaha negara (PTUN). Kewajiban dan wewenang
Mahkamah Agung, antara lain sebagai berikut:
a) Berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundangundangan di
bawah undang-undang terhadap undang-undang dan mempunyai wewenang lainnya yang
diberikan oleh undang-undang;

6
b) Mengajukan tiga orang anggota hakim konstitusi;
c) Memberikan pertimbangan dalam hal presiden memberi grasi dan rehabilitasi.

6. Mahkamah Konstitusi
Keberadaan Mahkamah Konstitusi diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi.

7. Komisi Yudisial
Komisi Yudisial adalah lembaga negara yang mempunyai wewenang berikut ini:
a) Mengusulkan pengangkatan hakim agung;
b) Menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim.
Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang
hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. Anggota Komisi Yudisial
diangkat dan diberhentikan oleh presiden dengan persetujuan DPR. Anggota Komisi Yudisial
terdiri atas seorang ketua merangkap anggota, seorang wakil ketua merangkap anggota, dan tujuh
orang anggota. Masa jabatan anggota Komisi Yudisial lima tahun.

8. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)


Kedudukan BPK sejajar dengan lembaga negara lainnya. Untuk memeriksa pengelolaan
dan tanggung jawab keuangan negara diadakan satu Badan Pemeriksan Keuangan yang bebas
dan mandiri. Jadi, tugas BPK adalah memeriksa pengelolaan keuangan negara.
Hasil pemeriksaan BPK diserahkan kepada DPR, DPD, dan DPRD sesuai dengan
kewenangannya. Berdasarkan UUD 1945 Pasal 23 F maka anggota BPK dipilih oleh DPR
dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh presiden. BPK berkedudukan di
ibu kota negara dan memiliki perwakilan di setiap provinsi.

C. Tata Kelola Pemerintah Yang Baik


Istilah good and clean governance merupakan wacana baru dalam kosakata ilmu politik. Ia
muncul pada awal 1900-an. Secara umum istilah good and governance memiliki pengertian akan
segala hal yang terkait dengan tindakan atau memengaruhi urusan public untuk mewujudkan
nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

1. Pengertian Good Governance


Pengertian Good Governance adalah pelaksanaan politik, ekonomi, dan administrasi dalam
mengelola masalah-masalah bangsa. Pelaksanaan kewenangan tersebut dapat dikatakan baik
(good atau sound) jika dilakukan dengan efektif dan efisien, responsif terhadap kebutuhan
rakyat, dalam suasana demokratis, akuntabel, serta transparan. Prinsip-prinsip tersebut tidak

7
hanya terbatas dilakukan dikalangan birokrasi pemerintahan, tetapi juga disektor swasta dan
lembaga-lembaga nonpemerintah.
Di Indonesia, substansi wacana good governance dapat dipadankan dengan istilah
pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa. Pemerintah yang baik adalah sikap dimana
kekuasaan dilakukan oleh masyarakat yang diatur oleh berbagai tingkatan pemerintahan Negara
yang berkaitan dengan sumber-sumber sosial, budaya, politik, serta ekonomi.

2. Prinsip-prinsip Pokok Good & Clean Governance


Untuk merealisasikan pemerintahan yang professional dan akuntabel yang bersandar pada
prinsip-prinsip good governance, Lembaga Administrasi Negara (LAN) merumuskan sembilan
aspek fundamental (asas) dalam good governance yang harus diperhatikan, yaitu :
a) Partisipasi (participation)
b) Penegakan hukum (rule of law)
c) Transparansi (transparency)
d) Responsif (responsiveness)
e) Orientasi kesepakatan (consensus orientation)
f) Kesetaraan
g) Efektivitas (effectiveness) dan efisiensi (efficiency)
h) Akuntabilitas (accountability)
i) Visi strategis

3. Good and Clean Governance dan Kontrol Sosial


Kontrol masyarakat akan berdampak pada tata pemerintahan yang baik dan efektif (Good
Governance) dan bersih (Clean Governance), bebas dari KKN. Untuk mewujudkan
pemerintahan yang baik dan bersih berdasarkan prinsip-prinsip pokok good governance,
setidaknya dapat dilakukan melalui pelaksanaan prioritas program.

4. Good and clean Governance dan Gerakan Anti Korupsi


Korupsi adalah tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna
meraih keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum dan Negara secara spesifik. Korupsi
menjadi penyebab ekonomi menjadi berbiaya tinggi, politik yang tidak sehat dan kemerosotan
moral bangsa yang terus-menerus merosot.

5. Tata Kelola Kepemerintahan yang Baik dan Kinerja Birokrasi Pelayanan Publik
Pelayanan publik adalah pemberian jasa baik oleh pemerintah, pihak swata atas nama
pemerintah ataupun pihak swasta kepada masyarakat. Pelayanan public kepada masyarakat bisa
diberikan secara cuma-cuma ataupun disertai dengan pembayaran.

8
6. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kinerja Birokrasi
Faktor-faktor yang mememngaruhi kinerja birokrasi antara lain: manajemen organisasi
dalam menerjemahkan dan menyelaraskan tujuan birokrasi; budaya kerja; dan organisasi pada
birokrasi; kualitas sumber daya manusia yang dimiliki birokrasi; Kepemimpinan birokrasi yang
efektif; koordinasi kerja pada birokrasi;
Kinerja birokrasi dimasa depan akan dipengaruhi oleh factor-faktor berikut :
a) Struktur birokrasi sebagai hubungan internal yang berikatan dengan fengsi yang
menjalankan aktivitas birokrasi.
b) Kebijakan pengelolaan, berupa visi, misi, tujuan dalam perencanaan strategis pada
birokrasi.
c) Sumber daya manusia, yang berkaitan dengan kualitas kerja dan kapasitas diri untuk
bekerja dan berkarya secara optimal.
d) Sistem informatikan manajemen, yang berhubungan dengan pengelolaan database dalam
kerangka mempertinggi kinerja birokrasi.

D. Partisipasi Warga Negara dalam Sistem Politik di Indonesia


1. Ciri-ciri Masyarakat Politik
Partisipasi politik adalah kegiatan yang dilakukan oleh warga negara baik secara individu
maupun kolektif, atas dasar keinginan sendiri maupun dorongan dari pihak lain yang tujuannya
untuk memengaruhi keputusan politik yang akan diambil oleh pemerintah, agar keputusan
tersebut menguntungkannya.
Kegiatan politik yang tercakup dalam konsep partisipasi politik mempunyai bermacam-
macam bentuk dan intensitas. Hal ini menyebabkan bervariasinya partisipasi politik yang
dilakukan oleh warga negara dari mulai tingkatan yang pasif sampai pada tingkatan yang aktif.
Bila dihubungkan dengan hak dan kewajiban warga negara, partisipasi politik meruapakan
kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai wujud tanggung jawab warga negara yang
berkesadaran politik tinggi dan baik.
Partisipasi politik yang baik akan terwujud dalam masyarakat politik yang sudah mapan. Suatu
komunitas masyarakat dapat disebut masyarakat politik jika masyarakat tersebut telah memiliki
ciri-ciri tertantu yaitu sebagai berikut.
a) Memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap masalah-masalah yang dihadapi bangsa.
b) Memiliki rasa tanggung jawab terhadap perkembangan dan keadaan negara dan
bangsanya.
c) Memiliki kesadaran untuk berpartisipasi dalam kegiatan perumusan penentuan kebijakan
negara, mengawasi dan mendukung pelaksanaan kebijakan tersebut dalam berbagai
bidang kehidupan

9
d) Menyadari akan pentingnya pembelaan terhadap negara, kedaulatan, keberadaan dan
keutuhan negara memahami, menyadari dan melaksanakan sikap dan perilaku yang
seseuai dengan hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan warga negaraPatuh
terhadap hukum dan menegakkan supremasi hukum.
e) Membangun budaya politik yang demokratis.
f) Menjunjung tinggi demokrasi, hak asasi manusia, keadilan dan persamaan
g) . Mengawasi jalannya pemerintahan agar tertata dengan baik.
h) Memiliki wawasan kebangsaan, sikap dan perilaku yang mencerminkan cinta tanah air.

Berdasarkan karakteristiknya, masyarakat politik berkedudukan sebagai masyarakat yang


menjalankan aktivitas yang berkaitan dengan kekuasaan negara, baik sebagai penyelenggara
kekuasaan negara maupun sebagai pengawas pelaksanaan kekuasaan negara, dalam bentuk
institusi formal (DPR) ataupun informal (partai politik, kelompok kepentingan dan kelompok
penekan).

2. Bentuk Partisifasi Politik


Partisipasi politik dapat terwujud dalam bentuk perilaku anggota masyarakat. Partisipasi dan
perilaku politik harus berlandaskan pada nilai dan norma yang berlaku. Berikut adalah contoh
partisipasi dan perilaku politik yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.

a. Di Lingkungan Sekolah
Setiap siswa dapat menampilkan pola perilaku politik yang mencerminkan pelaksanaan
demokrasi langsung melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1) Pemilihan ketua kelas, ketua OSIS dan ketua organisasi ekstrakurikuler seperti Pramuka,
Pecinta Alam, PMR, Paskibra dan sebagainya.
2) Pembuatan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga OSIS atau organisasi
ekstrakurikuler yang diikuti.
3) Forum-forum diskusi atau musyawarah yang diselenggarakan di sekolah.

Dalam pelaksanaan demokrasi tidak langsung siswa dapat menyampaikan aspirasi dan
pendapatnya melalui usulan dan saran yang ditujukan kepada pejabat sekolah atau pejabat
pemerintahan. Cara lain yang bisa ditempuh adalah dengan membuat artikel yang berisikan
aspirasi siswa yang dimuat di majalah dinding, buletin sekolah, dan sebagainya. Supaya perilaku
politik yang ditampilkan mencerminkan perilaku politik yang sesuai aturan, maka setiap siswa
harus memperhatikan ketentuanketentuan atau norma-norma sebagai berikut :
1) Pancasila.
2) Undang-Undang Dasar RI 1945
3) Undang-Undang RI Nomor 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat
di Muka Umum.
4) Tata tertib siswa, dan sebagainya.

b. Di Lingkungan Masyarakat
Perilaku politik yang merupakan cerminan dari demokrasi langsung dapat ditampilkan warga
masyarakat melalui beberapa kegiatan sebagai berikut:

10
1) Forum warga.
2) Pemilihan ketua RT, RW, kepala desa, ketua organisasi masyarakat dan sebagainya.
3) Pembuatan peraturan yang berupa anggaran dasar dan anggaran rumah tangga bagi
organisasi masyarakat, koperasi, RT-RW, LMD dan sebagainya.

Warga masyarakat dapat menampilkan perilaku politiknya yang mencerminkan pelaksanaan


demokrasi tidak langsung melalui penyampaian pendapat atau aspirasi baik secara lisan ataupun
tertulis melalui lembaga perwakilan rakyat atau melalui media massa seperti koran, majalah dan
sebagainya. Agar dalam pelaksanaan perilaku politik tersebut sesuai dengan aturan dan norma-
norma sebagai berikut :
1) Pancasila dan UUD RI 1945.
2) Peraturan perundang-undangan yang terkait, misalnya undang-undang HAM, undang-
undang parpai politik dan sebagainya.
3) Peraturan yang berlaku khusus di lingkungan setempat, seperti peraturan RT-RW,
Peraturan Desa dan sebagainya.
4) Norma-norma sosial yang berlaku.

c. Di Lingkungan Negara
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, perilaku politik yang dapat kita tampilkan secara
langsung di antaranya adalah sebagai berikut:
1) Pemilihan umum untuk memilih anggota legislatif dan presiden.
2) Pemilihan kepala daerah secara langsung (Pilkada).
3) Aksi demonstrasi yang tertib, damai dan santun.
Perilaku politik yang tidak langsung dapat diwujudkan melalui penyampaian aspirasi pada
lembaga perwakilan rakyat, partai politik, organisasi masyarakat dan media massa. Supaya
perilaku yang ditampilkan mencerminkan perilaku politik yang sesuai aturan, maka harus
menaati ketentuan-ketentuan dan norma-norma sebagai berikut:
1) Pancasila.
2) UUD NRI 1945.
3) Undang-Undang seperti Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas
UU Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor
1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-
Undang, Undang- Undang RI Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, Undang-Undang RI Nomor 9 tahun
1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum dan sebagainya.
4) Peraturan Pemerintah.
5) Keputusan Presiden.
6) Peraturan daerah.
Berbagai bentuk partisipasi dan perilaku politik di atas merupakan peran serta aktif dalam
pelaksanaan sistem politik di indonesia. Peran aktif warga negara juga dapat dilakukan dalam
berbagai aspek lainnya seperti dalam bidang politik, hukum, ekonomi dan sosial budaya.
keseluruhan.

11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sistem pemerintahan negara menggambarkan adanya lembaga-lembaga yang bekerja
dan berjalan saling berhubungan satu sama lain menuju tercapainya tujuan penyelenggaraan
negara. Lembaga-lembaga negara dalam suatu sistem politik meliputi tiga institusi pokok,
yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Tujuan pemerintahan negara pada umumnya didasarkan pada cita-cita atau tujuan
negara. Misalnya, tujuan pemerintahan negara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan social. Lembaga-lembaga yang berada dalam satu sistem pemerintahan Indonesia
bekerja secara bersama dan saling menunjang untuk terwujudnya tujuan dari pemerintahan di
negara Indonesia.
Dalam sistem pemerintahan negara republik, lembaga-lembaga negara itu berjalan
sesuai dengan mekanisme demokratis, sedangkan dalam sistem pemerintahan negara
monarki, lembaga itu bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip yang berbeda.

B. Saran
Dalam hal ini Presiden dan Menteri Negara merupakan bagian yang paling berperan
dalam kekuasaan pemerintahan Negara. Maka dari itu Presiden harus bisa mengambil
keputusan yang tepat dalam pembuat kebijakan kekuasaan, karena keputusan tersebut
tentunya akan memiliki peranan besar dalam Pembangunan di daerah-daerah di Indonesia.
Sistem pemerintah harus saling bekerja sama membangun Indonesia agar indonesia lebih
sejahtera dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Unsur-unsur demokrasi yang kadang menjadi akar permasalahan harus bisa
diselesaikan dan diperbaiki, karena konsep demokrasi bukan hak paten yang tidak bisa
diubah. Ia harus bersifat dinamis dan bisa mengikuti kultur sosial-politik-budaya Negara yang
menggunakannya sebagai asas Negara.

12
DAFTAR PUSTAKA

Andi Asrianti. 2013. Tugas dan Wewenang Lembaga Negara Indonesia Hasil Amandemen
UUD 1945 . http://andi-asrianti.blogspot.com. Diakses pada 28 Januari 2019

BSE.Mahoni, 2016. Lembaga-Lembaga Negara Republik Indonesia Menurut UUD NRI


Tahun 1945 . https://www.maolioka.com. Diakses pada 28 Januari 2019

Civiciscool, 2017. Suprastruktur & Infrastruktur Politik Indonesia. https://


civiciscool.wordpress.com. Diakses pada 28 Januari 2019

Mas Rozak, 2016. Inilah Bentuk Partisipasi Warga Negara dalam Sistem Politik di
Indonesia. https://www.maolioka.com. Diakses pada 28 Januari 2019

Syatriadi.Tommy, 2013. Suprastruktur dan Infrastruktur Politik Indonesia.http:// tommy


syatriadi.blogspot.com. Diakses pada 28 Januari 2019

13