Anda di halaman 1dari 5

Mekanisme Kerja NSAID

Mekanisme kerja obat NSAID berhubungan dengan sistem biosintesis


prostaglandin (PG). Prostaglandin akan dilepaskan bila sel mengalami kerusakan.
Walaupun in vitro obat AINS diketahui menghambat berbagai reaksi biokimiawi,
hubungan dengan elek analgesik, antipiretik dan anti-inflamasinya belum jelas.
Selain itu obat AINS secara umum tidak menghambat biosintesis leukotrien, yang
diketahui ikut berperan dalam inflamasi. Golongan obat ini menghambat enzim
siklooksigenase sehingga konversi asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu.
Setiap obat menghambat siklo-oksigenase dengan cara yang berbeda. Khusus
parasetamol, hambatan biosintesis PG hanya terjadi bila lingkungannya rendah
kadar peroksid seperti di hipotalamus" Lokasi inflamasi biasanya mengandung
banyak peroksid yang dihasilkan oleh leukosit. lni menjelaskan mengapa efek anti-
inflamasi parasetamol praktis tidak ada. Sementara pada aspirin sendiri
menghambat dengan mengasetilasi gugus aktif serin dari enzim ini. Dan trombosit
sangat rentan terhadap penghambatan ini karena sel ini tidak mampu mengadakan
regenerasi enzimnya. Sehingga dosis tunggal aspirin 40 mg sehari telah cukup
untuk menghambat siklo-oksigenase trombosit manusia selama masa hidup
trombosit, yaitu 8-11 hari (Ganiswarna, 2001).
Inflamasi
Inflamasi menyebabkan kerusakan mikrovaskular, meningkatnya
permeabilitas kapiler dan migrasi leukosit ke jaringan radang. Gejala proses
inflamasi yang sudah dikenal ialah kalor, rubor, tumor, dolor dan functio /aesa.
Selama berlangsungnya proses inflamasi banyak mediator kimiawi yang dilepaskan
secara lokal antara lain histamin, S-hidroksitriptamin (5HT), laktor kemotaktik,
bradikinin, leukotrien dan PG. Dengan migrasi sel lagosit ke daerah ini, terjadi lisis
membran lisozim dan lepasnya enzim pemecah. Obat mirip-aspirin dapat dikatakan
tidak berefek terhadap mediator-mediator kimiawi tersebut kecuali PG
(Ganiswarna, 2001).
Secara in vitro terbukti bahwa prostaglandin E2 (PGE2) dan prostasiklin
(PGl2) dalam jumlah nanogram, menimbulkan eritema, vasodilatasi dan
peningkatan aliran darah lokal. Histamin dan bradikinin dapat meningkatkan
permeabilitas vaskular, tetapi efek vasodilatasinya tidak besar. Dengan
penambahan sedikit PG, efek eksudasi histamin plasma dan bradikinin menjadi
lebih jelas. Migrasi leukosit ke jaringan radang merupakan aspek penting dalam
proses inflamasi. PG sendiri tidak bersifat kemotaktik, tetapi produk lain dari asam
arakidonat yakni leukotrien B4 merupakan zat kemotaktik yang sangat poten. Obat
mirip'aspirin tidak mengham' bat sistem hipoksigenase yang menghasilkan
leukotrien Sehingga golongan obat ini tidak menekan migrasi sel. Walaupun
demikian pada dosis tinggi terlihat iuga penghambatan migrasi sel taopa
mempengaruhi enzim lipoksigenase. Obat yang menghambat biosintesis PG
maupun leukotrien tentu akan lebih poten menekan proses inflamasi (Ganiswarna,
2001).
Nyeri
Prostaglandin hanya berperan pada nyeri yang berkaitan dengan kerusakan
jaringan atau inflamasi. Penelitian telah membuktikan bahwa PG menyebabkan
sensitisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi. Jadi PG
menimbulkan keadaan hiperalgesia, kemudian mediator kimiawi seperti bradikinin
dan histamin merangsangnya dan menimbulkan nyeri yang nyata. Obat mirip-
aspirin tidak mempengaruhi hiperalgesia atau nyeri yang ditimbulkan oleh elek
langsung PG. lni menunjukkan bahwa sintesis PG yang dihambat oleh golongan
obat ini, dan bukannya blokade langsung (Ganiswarna, 2001).
Demam
Suhu badan diatur oleh keseimbangan antara produksi dan hilangnya panas.
Alat pengatur suhu tubuh berada di hipotalamus. Pada keadaan demam
keseimbangan ini terganggu tetapi dapat dikembalikan ke normal oleh obat mirip-
aspirin. Ada bukti bahwa peningkatan suhu tubuh pada keadaan patologik diawali
pelepasan suatu zat pirogen endogen atau sitokin seperti interleukin-1 (lL- 1) yang
memacu pelepasan PG yang berlebihan di daerah preoptik hipotalamus. Selain itu
PGE2 terbukti menimbulkan demam setelah diinfuskan ke ventrikel serebral atau
disuntikkan ke daerah hipotalamus. Obat mirip-aspirin menekan efek zat pirogen
endogen dengan menghambat sintesis PG. Tetapi demam yang timbul akibat
pemberian PG tidak dipengaruhi, demikian pula peningkatan suhu oleh sebab lain
seperti latihan fisik (Ganiswarna, 2001).

Mekanisme Nyeri
Pada umumnya nyeri dibagi menjadi dua yaitu nyeri nosiseptif dan nyeri
neuropatik. Nyeri nosiseptif merupakan nyeri yang disebabkan oleh kerusakan
jaringan, proses penyakit ataupun fungsi abnormal dari otot atau orgam dalam.
Sedangkan nyeri neuropatik merupakan nyeri yang disebabkan oleh kerusakan saraf
(Schulte, 2010). Nyeri nosiseptif terdiri dari empat rangkaian proses yang terlibat
yaitu, transduksi, transmisi, modulasi dan persepsi.
1. Transduksi
Transduksi merupakan konversi stimulus noksious termal, mekanik, atau
kimia menjadi aktivitas listrik pada akhiran serabut sensorik nosiseptif. Proses ini
diperantarai oleh reseptor ion channel yang spesifik. Konduksi merupakan
perjalanan aksi potensial dari akhiran saraf perifer ke sepanjang akson menuju
akhiran nosiseptor di sistem saraf pusat. Kerusakan jaringan menyebabkan
pelepasan mediator kimia, seperti prostaglandin, bradikinin, serotonin, substansi P,
dan histamin. Mediator-mediator ini kemudian mengaktifkan nosiseptor, sehingga
terjadilah proses yang disebut transduksi. Pertukaran ion natrium dan kalium terjadi
pada membran sel sehingga mengakibatkan potensial aksi dan terjadinya impuls
nyeri (Woolf, 2004).
2. Transmisi
Transmisi merupakan bentuk transfer sinaptik dari satu neuron ke neuron
lainnya. Potensial aksi dari tempat cedera bergerak dari sepanjang serabut saraf
afferen ke nosiseptor di medulla spinalis (Wuhrman, 2011).
3. Modulasi
Pelepasan substansi P dan neurotransmitter lainnya membawa potensial aksi
melewati celah ke kornu dorsalis pada medulla spinalis, kemudian naik sebagai
traktus spinotalamikus ke thalamus dan otak tengah. Proses yang terjadi setelah
potensial aksi melewati talamus yaitu serabut saraf mengirim pesan nosisepsi ke
korteks somatosensori, lobus parietal, lobus frontal, dan sistem limbik setelah
melewati talamus, dimana proses modulasi terjadi (Wuhrman, 2011).
4. Persepsi
Proses akhir nosiseptif yakni modulasi merupakan hasil dari aktivasi otak
tengah. Beberapa neuron dari daerah tersebut memiliki berbagai neurotransmiter,
yaitu endorfin, enkephalins, serotonin (5-HT), dan dinorfin, turun ke daerah-daerah
dalam sistem saraf pusat yang lebih rendah. Neuron ini merangsang pelepasan
neurotransmiter tambahan, yang pada akhirnya memicu pelepasan opioid endogen
dan menghambat transmisi impuls nyeri di kornu dorsal. Proses persepsi melibatkan
kedua komponen sensorik dan affektif nyeri. Penelitian klinis dalam beberapa tahun
terakhir telah menghasilkan pemahaman yang lebih besar mengenai sistem limbik
di daerah gyrus cingula anterior dan perannya dalam respon emosional terhadap
rasa sakit (Wuhrman, 2011).
Sumber:
Ganiswarna, Sulistia G.. 2001. Farmakologi dan Terapi edisi 4. Jakarta: Gaya Baru.
Schulte Fried , Andreas Filis, Nikolaos Karageorgos, et al. 2010. Pain After
Craniotomy-Really a Problem?. Archive of Medical Science. 6(6): 827-828.
Woolf, C.J. 2004. Pain: moving from symptom control towards mechanismspecific
pharmacologic management. Annals of Internal Medicine. 140(6):441.
Wuhrman Elsa, Maureen F, Cooney, et al. 2011. Acute Pain: Assessment and
Treatment. Topics in Advanced Practice Nursing. Medscape.