Anda di halaman 1dari 5

TUGAS RESUME (5)

FILSAFAT ILMU

“MENJELASKAN HAKIKAT APA YANG DIKAJI”

OLEH

SARI RAHMA CHANDRA 17205038

Dosen Pembimbing:
Dr. ALI ASMAR, M. Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2018
MENJELASKAN HAKIKAT APA YANG DIKAJI
A. Metafisika
Metafisika berasal dari kata “meta” berarti sesudah dan “fisika” berarti
nyata/alam fisik. Dengan kata lain metafisika adalah cabang filsafat yang
membicarakan hal-hal yang berada di belakang gejala-gejala yang nyata.
Ditinjau dari segi filsafat secara menyeluruh metafisika adalah ilmu yang
memikirkan hakikat di balik alam nyata. Metafisika membicarakan hakikat
dari segala sesuatu dari alam nyata tanpa dibatasi pada sesuatu yang dapat
diserap oleh pancaindera.
Aristoteles menyinggung masalah metafisika dalam karyanya tentang
“Filsafat Pertama” yang berisi hal-hal yang bersifat gaib. Menurutnya, ilmu
metafisika termasuk cabang filsafat teoritis yang membahas masalah hakikat
segala sesuatu, sehingga ilmu metafisika menjadi inti filsafat. Selanjutnya,
Aristoteles menjelaskan bahwa masalah-masalah yang metafisik merupakan
sesuatu yang fundamental bagi kehidupan. Oleh karena itu, setiap orang yang
sadar berhadapan dengan sesuatu yang metafisik tetap tersangkut di
dalamnya.
Dalam memahami metafisika umum (ontologi) ada beberapa
aliran/pandangan pokok pikiran yaitu:
1. Aliran Monoisme
Paham monoisme menganggap bahwa hakikat yang asal dari
seluroh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah
satu hakikat saja sebagai sumber asal, baik yang asal berupa materi
maupun berupa rohani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas
dan berdiri sendiri. Paham monoisme kemudian dibagi menjadi 2 aliran
yaitu aliran materialisme dan aliran idealisme.
Aliran materialisme menganggap bahwa sumber yang asal itu
adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut sebagai
naturalisme, menurutnya zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya
cara tertentu. Sedangkan aliran idealisme disebut juga spiritualisme
berarti serba roh/“idea” yang berarti sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran
ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beranekaragam ini semua
berasal dari roh, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang.
Materi/zat itu hanyalah suatu jenis dari penjelmaan rohani.
2. Aliran Dualisme
Aliran ini mencoba memadukan antara dua paham yang saling
bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme. Menurut aliran dualisme
materi maupun roh sama-sama merupakan hakikat. Materi muncul bukan
karena adanya roh, begitupun roh muncul buka karena materi.
Aliran dualisme memandang bahwa alam terdiri dari 2 macam
hakikat sebagai sumbernya. Aliran dualisme merupakan paham yang
serba dua, yaitu antara materi (hule) dan bentuk (eidos).
3. Aliran Pluralisme
Aliran ini beranggapan bahwa segenap macam bentuk merupakan
kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa
segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme sebagai paham
yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur,
lebih dari satu atau dua identitas.
B. Metafisika dan Pendidikan
Metafisika merupakan bagian dari filsafat spekulatif. Yang menjadi
pusat persoalannya adalah hakikat realitas akhir. Mempelajari metafisika bagi
filsafat pendidikan diperlukan untuk mengontrol secara implisit tujuan
pendidikan, untuk mengetahui dunia anak, apakah ia merupakan makhluk
rohani atau jasmani saja atau keduanya. Seorang filosof pendidikan, tidak
hanya tahu tentang hakikat dunia di mana ia tinggal, melainkan juga ia harus
tahu hakikat manusia, khususnya hakikat anak.

C. Asumsi
Asumsi adalah suatu pernyataan yang tidak terlihat kebenarannya, atau
kemungkinan benarnya tidak tinggi. Asumsi diperlukan untuk menyuratkan
segala hal yang tersirat. Mc Mullin (2002) menyatakan hal yang mendasar
yang harus ada dalam ontologi suatu ilmu pengetahuan adalah menentukan
asumsi pokok (the standard presumption) keberadaan suatu obyek sebelum
hendak melakukan penelitian. Dalam mengembangkan asumsi harus
diperhatikan dua hal :
1. Asumsi harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian displin
keilmuan. Asumsi yang seperti ini harus oprasional, dan merupakan dasar
dari pengkajian teoritis.
2. Asumsi harus disimpulkan dari “keadaan sebagaimana adanya „bukan‟
bagaimana keadaan yang seharusnya.”
D. Beberapa Asumsi Dalam Ilmu
Setiap ilmu selalu memerlukan asumsi. Asumsi diperlukan untuk
mengatasi penelaahan suatu permasalahan menjadi lebar. Semakin terfokus
obyek telaah suatu bidang kajian, semakin memerlukan asumsi yang lebih
banyak. Asumsi dapat dikatakan merupakan latar belakang intelektual suatu
jalur pemikiran. Asumsi dapat diartikan pula sebagai gagasan primitif, atau
gagasan tanpa penumpu yang diperlukan untuk menumpu gagasan lain yang
akan muncul kemudian. Asumsi diperlukan untuk menyuratkan segala hal
yang tersirat.
Terdapat beberapa jenis asumsi yang dikenal, antara lain:
a) Aksioma yaitu pernyataan yang disetujui umum tanpa memerlukan
pembuktian karena kebenaran sudah membuktikan sendiri.
b) Postulat adalah pernyataan yang dimintakan persetujuan umum tanpa
pembuktian, atau suatu fakta yang hendaknya diterima saja sebagaimana
adanya.
Ada dua bentuk asumsi yang berbeda yaitu sebagai berikut:
1. Nominalime: kehidupan sosial dalam persepsi individu tak lain adalah
kumpulan konsep–konsep baku, nama dan label yang akan
mengkarakteristikkan realitas yang ada. Intinya, realita dijelaskan melalui
konsep yang telah ada.
2. Realisme: kehidupan sosial adalah merupakan kenyataan yang tersusun
atas struktur yang tetap, tidak ada konsep yang mengartikulasikan setiap
realita tersebut dan realita tidak tergantung pada persepsi individu.
E. Batas-Batas Penjelajahan Ilmu
Pada saat ilmu mulai berkembang pada tahap ontologis, manusia mulai
mengambil jarak dari obyek sekitar. Manusia mulai memberikan batas-batas
yang jelas kepada obyek tertentu yang terpisah dengan eksistensi manusia
sebagai subyek yang mengamati dan yang menelaah obyek tersebut. Dalam
menghadapi masalah tertentu, dalam tahap ontologis manusia mulai
menentukan batas-batas eksistensi masalah tersebut, yang memungkinkan
manusia mengenal wujud masalah itu, untuk kemudian menelaah dan mencari
pemecahan jawabannya.
Dalam usaha untuk memecahkan masalah tersebut, ilmu mencari
penjelasan mengenai permasalahan yang dihadapinya agar dapat mengerti
hakikat permasalahan yang dihadapi itu. Dalam hal ini ilmu menyadari bahwa
masalah yang dihadapi adalah masalah yang bersifat konkret yang terdapat
dalam dunia nyata. Secara ontologis, ilmu membatasi masalah yang dikajinya
hanya pada masalah yang terdapat pada ruang jangkauan pengalaman
manusia.
Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di
batas pengalaman manusia. Pembatasan ini disebabkan karena fungsi ilmu itu
sendiri dalam kehidupan manusia yakni sebagai alat pembantu manusia dalam
menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Persoalan
mengenai hari kemudian tidak akan kita tanyakan kepada ilmu, melainkan
kepada agama.
Ruang penjelajahan keilmuan kemudian menjadi cabang-cabang ilmu.
Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang
utama yakni filsafat alam yang kemudian berkembang menjadi rumpun ilmu-
ilmu alam dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang
ilmu-ilmu sosial. Ilmu-ilmu alam dibagi lagi menjadi ilmu alam dan ilmu
hayat. Ilmu-ilmu sosial berkembang menjadi antropologi, psikologi,
ekonomi,sosiologi dan ilmu politik.
Di samping ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, pengetahuan mencakup
juga humaniora dan matematika. Humaniora terdiri dari seni, filsafat, agama,
bahasa dan sejarah. Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia
dan berhenti di batas pengalaman manusia. Fungsi ilmu yakni sebagai alat
pembantu manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya
sehari-hari. Ilmu diharapkan membantu kita memerangi penyakit,
membangun jembatan, irigasi, membangkitkan tenaga listrik, mendidik anak,
memeratakan pendapatan nasional dan sebagainya. Persoalan mengenai hari
kemudian tidak akan kita tanyakan kepada ilmu, melainkan kepada agama,
sebab agamalah pengetahuan yang mengkaji masalah-masalah seperti itu.