Anda di halaman 1dari 18

EKSISTENSI DAN PERANAN ORGANISASI KERJA SAMA ISLAM

(OKI)

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu: Dr, Ajid Thohir, M.Ag., Widiati Isana, M.Ag.

Oleh:

Hermawan Arisusanto 1145010056


Iryad Hanief 1145010070
Jawad Mughofar KH 1145010071

JURUSAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM


FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016
KATA PENGANTAR
Bismillaahirrahmaanirrohiim,
Puji syukur Kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa atas petunjuk, rahmat,
dan hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan tugas ini tanpa ada halangan
apapun sesuai dengan waktu yang telah di tentukan.
Makalah ini di susun dalam rangka memenuhi tugas terstruktur pada mata
kuliah Sejarah Peradaban Islam. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat
penyusun harapkan.
Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan
umumnya bagi para pembaca. Aamiin.

Bandung, 1 Desember 2016

Penyusun,

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................... 1


B. Rumusan Masalah .......................................................................... 1
C. Tujuan ............................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) .............................................. 3


B. Peran Indonesia Didalam OKI ....................................................... 7
C. Konflik Palestina dan Peran Strategis OKI .................................... 10

BAB III PENUTUP

A. Simpulan ........................................................................................ 14

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menjamurnya berbagai polemik di dunia terutama di bumi bagian
timur serta adanya unsur keagamaan yang menjadi asal mula dari konflik
tersebut, memberikan keterikatan tersendiri bagi para pemeluk agama
Islam di suatu negara untuk bergabung bersama dengan negara-negara
Islam lainnya, untuk membentuk suatu organisasi keislaman. Tujuan
utama dari organisasi ini yaitu membentuk persatuan negara-negara islam,
kerjasama di bidang ekonomi, politik, kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Dikutip dari Wikipedia (2016), menjelaskan bahwa Organisasi
Kerja Sama Islam (dahulu Organisasi Konferensi Islam) (OKI) bahasa
Arab: ‫ )اإلسالمي التعاون منظمة‬adalah sebuah organisasi internasional dengan
57 negara anggota yang memiliki seorang perwakilan tetap di Perserikatan
Bangsa-Bangsa. OKI didirikan di Rabat, Maroko pada 12 Rajab 1389 H
(25 September 1969) dalam Pertemuan Pertama para Pemimpin Dunia
Islam yang diselenggarakan sebagai reaksi terhadap terjadinya peristiwa
pembakaran Masjid Al Aqsa pada 21 Agustus 1969 oleh pengikut fanatik
Kristen dan Yahudi di Yerusalem. OKI mengubah namanya dari
sebelumnya Organisasi Konferensi Islam pada 28 Juni 2011.
Penjelasan lebih lanjut terkait OKI dari sejarah sampai peranannya
insyaallah akan menjadi pembahasan dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka dapat
dibuat perumusan masalah sebagai berikut:
1. Seperti apa sejarah, latar belakang, tujuan dan prinsip OKI?
2. Bagaimana peran Indonesia didalam OKI?
3. Seperti apa konflik Palestina dan peran strategis OKI?

1
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan diatas, tujuan penyusunan makalah ini
adalah untuk:
1. Mengetahui seperti apa sejarah, latar belakang, tujuan dan prinsip
OKI
2. Mengetahui peran Indonesia didalam OKI
3. Mengetahui seperti apa konflik Palestina dan peran strategis OKI

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. ORGANISASI KERJA SAMA ISLAM (OKI)


a. Latar belakang berdirinya OKI
Sejarah berdirinya Organisasi Kerja Sama Islam tidak lepas dari
berbagai peristiwa di Timur Tengah mengenai umat Islam. Konflik yang
terjadi antara Israel dan Palestina yang berlangsung lama dan tak kunjung
selesai merupakan suatu hal yang bertali temali dengan gerakan Zionisme
yang ingin mendirikan negara Yahudi di Palestina.

Kemudian setelah Israel merdeka pada tahun 1948, mereka gencar


malakukan pengusiran warga Palestina. Bukan hanya sebuah pengusiran
yang dilakukan Israel terhadap Palestina melainkan berbagai teror dan
siksaan secara perlahan agar rakyat Palestina meninggalkan tanah airnya.
(Mustafa Abd. Rahman, 2002:177)

Dengan berbagai konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina


sampai pada perang yang terjadi dalam merebutkan kota al-Quds
(Jerussalem) pada tahun 1967, kemudian memuncak dengan kaum Radikal
Yahudi yang membakar masjid al-Aqsa pada 21 Agustus 1969, membuat
umat islam di seluruh dunia tersadarkan dan mulai membetuk suatu
organisasi.

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) merupakan organisasi


internasional non militer yang didirikan di Rabat, Maroko pada tanggal 25
September 1969. Dipicu oleh peristiwa pembakaran Mesjid Al Aqsha yang
terletak di kota Al Quds (Jerusalem) pada tanggal 21 Agustus 1969 telah
menimbulkan reaksi keras dunia, terutama dari kalangan umat Islam. Saat
itu dirasakan adanya kebutuhan yang mendesak untuk mengorganisir dan
menggalang kekuatan dunia Islam serta mematangkan sikap dalam rangka
mengusahakan pembebasan Al Quds.

3
4

Atas prakarsa Raja Faisal dari Arab Saudi dan Raja Hassan II dari
Maroko, dengan Panitia Persiapan yang terdiri dari Iran, Malaysia, Niger,
Pakistan, Somalia, Arab Saudi dan Maroko, terselenggara Konperensi
Tingkat Tinggi (KTT) Islam yang pertama pada tanggal 22-25 September
1969 di Rabat, Maroko. Konferensi ini merupakan titik awal bagi
pembentukan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Secara umum latar belakang terbentuknya OKI sebagai berikut:
 Tahun 1964: Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab di
Mogadishu timbul suatu ide untuk menghimpun kekuatan Islam dalam
suatu wadah internasional.
 Tahun 1965: Diselenggarakan Sidang Liga Arab sedunia di Jeddah
Saudi Arabia yang mencetuskan ide untuk menjadikan umat Islam
sebagai suatu kekuatan yang menonjol dan untuk menggalang
solidaritas Islamiyah dalam usaha melindungi umat Islam dari
zionisme khususnya.
 Tahun 1967: Pecah Perang Timur Tengah melawan Israel. Oleh
karenanya solidaritas Islam di negara-negara Timur Tengah
meningkat.
 Tahun 1968: Raja Faisal dari Saudi Arabia mengadakan kunjungan ke
beberapa negara Islam dalam rangka penjajagan lebih lanjut untuk
membentuk suatu Organisasi Islam Internasional.
 Tahun 1969: Tanggal 21 Agustus 1969 Israel merusak Mesjid Al
Agsha. Peristiwa tersebut menyebabkan memuncaknya kemarahan
umat Islam terhadap Zionis Israel.
Seperti telah disebutkan diatas, Tanggal 22-25 September 1969
diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara
Islam di Rabat, Maroko untuk membicarakan pembebasan kota
Jerusalem dan Mesjid Al Aqsa dari cengkeraman Israel. Dari KTT
inilah OKI berdiri.
5

b. Tujuan OKI
Secara umum tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk
mengumpulkan bersama sumber daya dunia Islam dalam mempromosikan
kepentingan mereka dan mengkonsolidasikan segenap upaya negara
tersebut untuk berbicara dalam satu bahasa yang sama guna memajukan
perdamaian dan keamanan dunia muslim. Secara khusus, OKI bertujuan
pula untuk memperkokoh solidaritas Islam diantara negara anggotanya,
memperkuat kerjasama dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan
iptek.
Pada Konferensi Tingkat Menteri (KTM) III OKI bulan February
1972, telah diadopsi piagam organisasi yang berisi tujuan OKI secara lebih
lengkap, yaitu:
I. Memperkuat/memperkokoh:
1. Solidaritas diantara negara anggota;
2. Kerjasama dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan
iptek.
3. Perjuangan umat muslim untuk melindungi kehormatan
kemerdekaan dan hak-haknya.
II. Aksi bersama untuk:
1. melindungi tempat-tempat suci umat Islam;
2. memberi semangat dan dukungan kepada rakyat Palestina
dalam memperjuangkan haknya dan kebebasan mendiami
daerahnya.
III. Bekerjasama untuk:
1. menentang diskriminasi rasial dan segala bentuk penjajahan;
2. menciptakan suasana yang menguntungkan dan saling
pengertian diantara negara anggota dan negara-negara lain.

c. Prinsip OKI
Untuk mencapai tujuan diatas, negara-negara anggota menetapkan 5
prinsip, yaitu:
6

1. Persamaan mutlak antara negara-negara anggota


2. Menghormati hak menentukan nasib sendiri, tidak campur tangan
atas urusan dalam negeri negara lain.
3. Menghormati kemerdekaan, kedaulatan dan integritas wilayah
setiap negara.
4. Penyelesaian setiap sengketa yang mungkin timbul melalui cara-
cara damai seperti perundingan, mediasi, rekonsiliasi atau arbitrasi.
5. Abstein dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap
integritas wilayah, kesatuan nasional atau kemerdekaan politik
sesuatu negara.

d. Pernanan OKI

Melihat latar belakang terbentuknya OKI, terdapat kesan bahwa


organisasi ini bersifat dan bersikap lebih melayani kepentingan Arab dan
Timur Tengah. Kesan tersebut tidak dapat dipungkiri sepenuhnya, karena:

Pertama, salah satu persoalan dan kemelut dunia yang menjadi


perhatian masyarakat internasional terjadi di kawasan Arab dan
Timur Tengah.

Kedua, dalam OKI persoalan Timur Tengah dan Palestina terlihat


lebih menonjol karena terkait didalamnya pembicaraan dan desakan
yang bernafaskan kepentingan agama dan umat Islam seluruh dunia.
Perlu diingat bahwa hampir separuh dari negara anggota OKI adalah
negara-negara Arab.

Meskipun demikian, masalah-masalah internasional lainnya


semakin mendapat perhatian yang proporsional. Dalam masalah politik,
OKI memberi perhatian dalam konflik India – Pakistan, masalah Afrika
Selatan, Philipina Selatan, Afghanistan, dll.
7

Dalam bidang ekonomi telah dikumpulkan "Dana Konsolidasi


Program Pembangunan Dunia Islam". Hal ini untuk menunjang progaram-
program pembangunan negara anggota OKI.

Pengumpulan dana tersebut telah melahirkan "Rencana Aksi untuk


memperkuat kerjasama ekonomi diantara negara-negara anggota OKI".

Selain itu, dalam pengembangan sosial – budaya, OKI telah


membentuk banyak Badan-Badan Subsider seperti misalnya yang
menangani masalah pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, hukum,
kebudayaan, yang tugasnya hampir menyerupai badan-badan khusus PBB.
Diantara badan-badan subsider ini antara lain adalah: Komisi Internasional
Peninggalan Kebudayaan Islam yang menangani masalah-masalah yang
menyangkut pemeliharaan hasil-hasil budaya Islam yang ada di negara-
negara Islam; Akademi Fikih Islam yang bertujuan mempelajari masalah-
masalah yang menyangkut kehidupan "ijtihad" yang berasal dari tradisi
Islam; Komisi Hukum Islam Internasional guna menyumbangkan
kemajuan prinsip-prinsip Hukum Islam beserta kodifikasinya; dll.

B. PERAN INDONESIA DIDALAM OKI


Sesuai dengan Artikel VIII Piagam OKI yang menyangkut
keanggotaan dijelaskan bahwa organisasi terdiri dari negara-negara Islam
yang turut serta dalam KTT yang diadakan di Rabat dan KTM-KTM yang
diselenggarakan di Jeddah, Karachi serta yang menandatangani Piagam.
Kriteria yang dirancang oleh Panitia Persiapan KTT I adalah bahwa
"Negara Islam" adalah negara yang konstitusional Islam atau mayoritas
penduduknya Islam. Semua negara muslim dapat bergabung dalam OKI.
Keanggotaan Indonesia di dalam OKI adalah unik. Pada tahun-tahun
pertama, kedudukan Indonesia dalam OKI menjadi sorotan baik di
kalangan OKI sendiri maupun di dalam negeri. Indonesia menjelaskan
kepada OKI bahwa Indonesia bukanlah negara Islam secara konstitusional
dan tidak dapat turut sebagai penandatangan Piagam. Tetapi Indonesia
8

telah turut sejak awal dan juga salah satu negara pertama dan yang turut
berkecimpung dalam kegiatan OKI. Kedudukan Indonesia disebut sebagai
"partisipan aktif". Status, hak dan kewajiban Indonesia sama seperti
negara-negara anggota lainnya.
Sebagai negara yang berfalsafah Pancasila dan sebagai negara yang
sebagian besar penduduknya beragama Islam, maka Indonesia patut
menyambut positif setiap usaha untuk meningkatkan derajat, status sosial
dan kesejahteraan serta kemakmuran umat Islam seperti yang menjadi
tujuan Konferensi, terutama dalam hal-hal yang bermanfaat bagi usaha-
usaha pembangunan dalam segala bidang yang merupakan program utama
Pemerintah Indonesia.
Selain untuk memperoleh manfaat langsung bagi kepentingan
nasional Indonesia, keikutsertaan Indonesia diharapkan dapat menggalang
dukungan bagi kepentingan Indonesia di forum-forum internasional
lainnya, baik yang menyangkut bidang politik maupun bidang ekonomi
dan sosial budaya.
Tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip yang tertera dalam Piagam OKI
menunjukkan semangat yang sejalan dengan prinsip Bandung dan Non
Blok, khususnya dalam rangka pengembangan solidaritas dan tekad
menghapuskan segala bentuk kolonialisme serta sikap tidak campur tangan
di dalam urusan dalam negeri masing-masing negara anggota.
Peranan Indonesia selama ini dinilai oleh negara-negara anggota
lainnya sangat positif dan konstruktif. Hal ini tidak berlebihan jika dilihat
bahwa banyak pertentangan kepentingan antara kelompok-kelompok
"progresif revolusioner" dengan kelompok "konservatif/moderat" dapat
dijembatani oleh Indonesia. Hal ini dimungkinkan antara lain oleh sikap
tidak memihak RI terhadap sengketa regional Arab.
Sebagai peserta, Indonesia telah berperan secara aktif dalam OKI,
baik dalam kegiatannya maupun dengan sumbangan yang diberikan
kepada organisasi ini dalam rangka meningkatkan kesetiakawanan
diantara anggota OKI, disamping untuk membina kerjasama di bidang
9

ekonomi, sosial budaya dan bidang-bidang lainnya yang semuanya


dilakukan dalam rangka menunjang pembangunan nasional Indonesia di
segala bidang.

Alasan masuknya Indonesia di dalam OKI

Pada KTT III tahun 1972 di Jeddah, Saudi Arabia, Indonesia secara
resmi menjadi anggota OKI dan turut menandatangani piagam OKI.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Indonesia termasuk salah satu
negara anggota OKI pemula. Bahkan didalam pertemuan-pertemuan
resmi, Indonesia dianggap telah menjadi anggota OKI sejak tahun 1969.

Bagi Indonesia keterlibatannya didalam OKI merupakan


kesempatan yang baik dalam rangka pengembangan ekonomi/
perdagangan diantara sesama negara-negara OKI terutama dalam
kaitannya dengan kepentingan pembangunan yang sedang berlangsung di
Indonesia, khususnya dalam peningkatan ekspor non migas.

Beberapa alasan masuknya Indonesia di dalam OKI, antara lain :

a. Secara obyektif, Indonesia ingin mendapatkan hasil yang


positif bagi kepentingan nasional Indonesia.

b. Indonesia merupakan negara yang sebagian besar


penduduknya beragama Islam meskipun secara konstitusional
tidak merupakan negara Islam.

c. Dari segi jumlah penduduk yang beragama Islam, maka


jumlahnya merupakan jumlah penduduk beragama Islam
terbesar di dunia.

d. Indonesia menganut politik luar negeri yang bebas dan aktif


sehingga dapat diterapkan dalam organisasi-organisasi
internasional termasuk OKI sejauh tidak menyimpang dari
kepentingan nasional Indonesia. Terdapat kesamaan
pandangan antara OKI dan Indonesia, yaitu sama-sama
10

memperjuangkan perdamaian dunia berdasarkan kemanusiaan


yang adil dan beradab, disamping kepentingan dalam bidang
perekonomian dan perdagangan.

Kepentingan Indonesia didalam OKI

a. Menyangkut masalah politis dimana Indonesia sebagai salah satu


negara berkembang berpijak pada politik luar negeri yang bebas
dan aktif.
b. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam,
ikut menggalang solidaritas Islamiyah.
c. Menarik manfaat bagi kepentingan pembangunan Indonesia,
khususnya dalam kerjasama ekonomi dan perdagangan di antara
negara-negara anggota OKI.

C. KONFLIK PALESTINA DAN PERAN STRATEGIS OKI


Syamsudin Kadir1 menjelaskan, di Palestina kekerasan masih terus
terjadi. Konflik Palestina-Israel yang bernuansa kekerasan sebetulnya
sudah terjadi sejak lama dengan berbagai latar sebab. Walau demikian,
bukan berarti tak ada solusi bagi terwujudnya perdamaian di bumi para
nabi itu. Di saat dunia Barat lesu menghadapi guncangan ekonomi dan
budaya, serta Jazirah Arab masih dilanda konflik sosial dan politik, maka
kekuatan Dunia Islam semisal Organization of Islamic Conference (OIC)
yang dikenal dengan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) didesak untuk
mengambil peran penting dalam penyelesaian konflik.
Sebagaimana yang dilansir berbagai media massa, pada 6-7 Maret
2016 negara-negara yang tergabung dalam OKI kembali mengadakan
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa di Jakarta. OKI sendiri
dideklarasikan melalui Deklarasi Rabat di Maroko pada 25 September

1
Lih. Halaman 4 Kolom Wacana Koran Radar Cirebon Senin 7 Maret 2016 dengan Judul: Konflik
Palestina dan Peran Strategis OKI (Catatan untuk KTT Luar Biasa OKI).
11

1969 dengan anggota 25 negara sebagai respon terhadap pembakaran


Masjid Al-Aqsha oleh Israel ketika itu.
Kini jumlah negara yang tergabung dalam OKI mencapai 57
negara. OKI sendiri didirikan berdasarkan keyakinan agama Islam dan
nilai-nilai luhur universal kemanusiaan seperti penghormatan terhadap hak
azasi manusia (HAM), kerjasama politik, ekonomi, dan sosial-budaya,
mendukung perdamaian dan keamanan internasional, melindungi tempat-
tempat suci Islam dan membantu perjuangan kemerdekaan dan kedaulatan
Palestina dari jajahan Israel (Sulistyio, 2016)

Peran Srategis

Dalam berbagai pertemuan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi


menegaskan bahwa KTT Luar Biasa yang berlangsung sebagai respon
terhadap permintaan Presiden Palestina Mahmud Abas yang mengangkat
tema “United for a Just Solution” kali ini diharapkan akan menghasilkan
resolusi yang akan memuat pernyataan dan komitmen politik negara
anggota OKI dan Jakarta Declaration (Deklarasi Jakarta) yang memuat
sejumlah rencana aksi penyelesaian isu Palestina dan Al-Quds Al-Syarif
dengan enam isu utama: masalah perbatasan, pengungsi Palestina,
sengketa Kota Yerusalem, permukiman ilegal, keamanan, dan akses air
bersih.
Pada KTT Luar Biasa kali ini ada beberapa langkah strategis yang
bisa ditempuh oleh OKI dan Indonesia. Pertama, menyolidkan negara-
negara OKI dan meneguhkan Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin.
Dalam situasi konflik yang tak berkesudahan di kawasan Timur Tengah
(termasuk di Palestina) dan fenomena islamfobia di beberapa negara Barat,
negara-negara OKI perlu memperteguh konsolidasi sesama negara OKI
dan memproklamirkan secara masif Islam yang damai secara damai pula.
Bahwa umat Islam sejatinya dapat berdialog dan berdampingan secara
damai dan terbuka dengan berbagai elemen kemanusiaan lintas latar
12

belakang. Sehingga perdamaian global pun sejatinya dapat diwujudkan


secara bersama-sama dengan negara manapun di belahan bumi ini.
Kedua, menegaskan peran OKI dalam menyelesaikan konflik
Palestina, terutama dalam mengintervensi Israel. Mesti diakui bahwa Israel
telah melanggar hukum HAM internasional dan berbagai resolusi
Perserikatan Bagsa-Bangsa (PBB), karena telah menjajah Palestina yang
seharusnya memiliki hak untuk merdeka dan menjalankan pemerintahanya
secara bebas-aktif. Atas dasar itu, OKI mesti mendesak dan mendukung
laporan Palestina kepada Mahkamah Pidana Internasional (Internastional
Criminal Court, ICC) untuk melakukan penyidikan atas kejahatan perang
dan kejahatan atas kemanusiaan yang dialukan Israel dan memperkuat
kapasitas pemerintah dan rakyat Palestina di segala sektor (pendidikan,
kesehatan, pemerintahan, infrastruktur dan lain-lain).
Ketiga, mendesak negara-negara Barat dan PBB agar bersikap
tegas kepada Israel. Mesti diakui bahwa selama ini negara-negara Barat
dan PBB kerap menghambat resolusi perdamaian. Mereka sangat lamban
dan mandul dalam menyelesaikan konflik Palestina-Israel. Dengan hak
vetonya, Amerika Serikat dengan begitu mudahnya mementahkan semua
keputusan Dewan Keamanan dan Sidang Umum PBB (Adian Husaini,
2004). Bahkan negara Barat seperti Amerika Serikat dan Inggris turut
menopang dan memelihara konflik dengan mendukung dan menyumbang
besar terhadap penyediaan persenjataan Israel dalam melancarkan
agresinya selama puluhan tahun. Dalam kondisi demikian, OKI mesti
meyakinkan negara-negara Barat dan PBB bahwa sikap adil dan tegas
adalah prinsip sekaligus kunci perdamaian sejati.
Keempat, memperkuat posisi dan peran Indonesia dalam
percaturan global, termasuk dalam lingkup OKI dan PBB. Indonesia
memegang tanggungjawab besar atas berlangsung dan efektivitas OKI
sebagai media perjuangan negara-negara Islam di tengah tarik-menarik
kepentingan global dalam menyelesaikan konflik di berbagai negara
berbasis muslim, terutama di Palestina. Sebagaimana diungkapkan Bung
13

Karno pada 1 Juni 1945—sebagaimana yang dikutip oleh Yudi Latif


dalam “Negara Paripurna” (2012: 239) “Kita bukan saja harus mendirikan
negara Indonesia, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan
bangsa-bangsa”.
Selain terikat pada tujuan OKI, Pembukaan UUD 1945 telah
menegaskan peran dan tanggungjawab Indonesia untuk melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial. Demikian juga dengan Deklarasi Universal HAM yang
menegaskan bahwa pengakuan dan penghormatan atas hak azasi manusia
adalah dasar dari kemerdekaan, keadilan dan perdamaian dunia. Termasuk
Statuta Roma yang mengatur tentang Mahkamah Pidana Internasional
yang mengatur soal hukuman atas suatu negara atau kekuatan bersenjata
terhadap negara atau masyarakat sipil.
Salah satu kemajuan signifikan peran OKI, terutama Indonesia
dalam proses menuju kemerdekaan yang hakiki bagi Palestina adalah
diakuinya Palestina sebagai salah satu negara anggota PBB melalui
resolusi Sidang Umum PBB di New York pada 10 September 2015 silam.
Suatu kemajuan yang seharusnya menambah optimisme OKI dan
Indonesia untuk berperan lebih maksimal hingga Palestina benar-benar
merdeka.
Di atas segalanya, perhelatan KTT Luar Biasa kali ini akan
menjadi salah satu pengujian paling akurat atas peran Indonesia—dalam
hal ini pemerintahan Jokowi-JK—dalam memperjuangkan Palestina
sebagaimana yang disampaikan pada momentum Pilpres lalu. Kita
berharap agar aksi politik luar negeri Indonesia kali ini sungguh-sungguh,
tulus, serius, dan berjangka panjang, terutama untuk mengamini kehendak
konstitusi, para pendiri bangsa dan negara serta seluruh rakyat Indonesia
yaitu melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial, termasuk memerdekakan Palestina
dari jajahan Israel.
BAB III

PENUTUP
A. Simpulan
Kerjasama antara Negara-negara OKI yang selama ini telah terjalin
perlu lebih dipererat. Hal ini perlu ditegaskan mengingat persepsi sebagian
kalangan barat yang mengidentikkan citra islam dengan kekerasan dan
terorisme. Persepsi tersebut harus dihilangkan. Oleh sebab itu berbagai
kalangan berharap agar diantara sesama Negara anggota OKI terdapat
solidaritas yang tinggi dalam menyikapi berbagai permasalahan yang
terjadi dan menimpa Negara-negara OKI khususnya dunia Islam.
Dalam bidang ekonomi dan perdagangan telah ditandatangani
Agreement on Trade Preferential System of the Organization of the
Islamic Conferences (TPS-OIC). Meskipin termasuk Negara yang pertama
kali menandatangani Agreement tersebut, tetapi sampai saat ini Indonesia
belum meratifikasi TPS-OIC dimaksud. Pada Putaran Pertama
Perundingan TPS-OIC yang diselenggarakan pada bulan April 2004 di
Turki, Indonesia hanya sebagai peninjau dan diharapkan segera dapat
meratifikasi agreement TPS-OIC. Untuk itu Indonesia perlu secara serius
mempertimbangkan kemungkinan ratifikasi perjanjian tersebut dalam
waktu dekat.
Perdagangan Indonesia dengan Negara-negara OKI sampai dengan
tahun 2003 masih relative kecil padahal OKI merupakan salah satu pasar
potensial untuk produk-produk Indonesia. Berbagai usaha perlu
dilaksanakan dalam rangka mempromosikan produk Indonesia di Negara-
negara OKI diantaranya dengan mengadakan pameran sebagai tindak
lanjut pameran di Sharjah dan Libya. Disamping itu upaya-upaya
peningkatan perdagangan perlu dilaksanakan secara optimal melalui fora
multilateral

14
DAFTAR PUSTAKA

Abd.Rahman, Mustafa. 2002. Jejak-JJejak Juang Palestina. Jakarta: Kompas

Kadir, Syamsudin. 2016. “Konflik Palestina dan Peran Strategis OKI (Catatan
untuk KTT Luar Biasa OKI)”. Rada Cirebon, 7 Maret 2016.

Reydian, 2016. Kerja Sama Multilateral Organisasi Konferensi Islam (OKI).


[online].
(https://www.academia.edu/11380114/KERJA_SAMA_MULTILATERAL
_ORGANISASI_KONFERENSI_ISLAM_OKI diakses 1 Desember 2016)

Shihbudi, Riza. 2007. Menyandera Timur Tengah. Jakarta: Mizan.

Tami, Hani. 2016. OKI (Organisasi Konferensi Islam). [online].


(https://www.hanitami.blogspot.com/2016/03/oki-organisasi-konferensi-
islam.html diakses tanggal 30 November 2016)

Wikipedia, 2016. Organisasi Kerjasama Islam. [online].


(https://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_Kerjasama_Islam diakses tanggal
28 November 2016)