Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PENDAHULUAN

EPIDURAL HEMATOMA (EDH)

I. Konsep Dasar Medis

A. Definisi

1. Cedera Kepala

Cedera kepala merupakan cedera yang meliputi trauma kulit

kepala, tengkorak dan otak. (Morton, 2012).

Cedera kepala adalah gangguan fungsi normal otak karena

trauma, baik trauma tumpul maupun tajam. Deficit neurologys

terjadi karena robeknya substansia alba, iskemia, dan pengaruh

massa karena hemorogik, serta edema serebral disekitar

jaringan otak. (Batticaca, 2008)

a. Klasifikasi cedera kepala :

Berdasarkan patologi :

1) Cedera Kepala Primer

Merupakan akibat cedera awal. Cedera awal

menyebabkan gangguan intregitas fisik, kimia dan listrik

dari sel di area tersebut yang menyebabkan kematian

sel.

2) Cedera Kepala Sekunder

Cedera ini merupakan cedera yang menyebabkan

kerusakan otak lebih lanjut yang terjadi setelah trauma

sehingga meningkatkan TIK yang tak terkendali, meliputi


respon fisiologis cedera otak, termasuk edema cerebral,

perubahan biokimia, dan perubahan hemodinamik

serebral, iskemia serebral, hipotensi sistemik, dan infeksi

local atau sistemik.

b. Jenis cedera :

1) Cedera kepala terbuka dapat menyebabkan fraktur

tulang, tengkorak dan laserasi diameter. Trauma yang

menembus tengkorak dan jaringa otak.

2) Cedera kepala tertutup : dapat disamakan pada pasien

dengan gegar otak ringan dengan cedera cerebral yang

luas.

c. Menurut berat ringannya berdasarkan GCS (Glasgown

Coma Scale) :

1) Cedera kepala ringan / minor

a) GCS 14-15

b) Dapat terjadi kehilangan kesadaran, amnesia tetapi

kurang dari 30 menit

c) Tidak ad fraktur tengkorak

d) Tidak ada kontusia serebral, hemotoma

2) Cedera kepala sedang

a) GCS 9-13

b) Kehilangan kesadaran dan asam anamnesa lebih

dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam.


c) Dapat mengalami fraktur tengkorak

d) Diikuti kontusia serebral, laserasi dan hematoma

intracranial.

3) Cedera Kepala Berat

a) GCS 3-8

b) Kehilangan kesadaran atau terjadi anamnesa lebih

dari 24 jam

c) Juga meliputi kontusia serebral, laserasi atau

hematoma intracranial.

Trauma kepala atau Head trauma juga digambarkan sebagai

trauma yang mengenai otak yang dapat mengakibatkan

perubahan pada fisik, intelektual, emosional, sosial, atau

vokasional Fritzell et al, 2001).

2. Anatomi Kepala

a. Kulit kepala

Kulit kepala terdiri atas 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu :

1) Skin atau kulit

2) Conneccive tissue atau jaringan penyambung.

3) Aponeurosis atau galea aponeurotika.

4) Lose connectife atau jaringan penunjang longgar.

5) Pericranium Tulang Tengkorak terdiri dari kubah

(kalvaria) dan basis crani.


Tulang tengkorak terdiri dari beberapa tulang yaitu

frontal, parietal, temporal dan oksipital. Kalvaria khususnya

di regio temporal adalah tipis, namun disini dilapisi oleh otot

temporalis. Basis crania berbentuk tidak rata sehingga dapat

melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses

akselerasi dan deselerasi. Rongga tengkorak dasar terbagi

atas 3 fosa yaitu : Fosa anterior tempat lobus frontalis, fosa

media tempat temporalis dan fosa posterior ruang bagi

bagian bawah batang otak dan serebrum.

b. Meningen

Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan

terdiri dari 3 lapisan yaitu :

1) Duramater

Dura kranialis atau pachymeninx adalah suatu struktur

fibrosa yang kuat dengan suatu lapisan dalam

(meningeal) dan lapisan luar (periostal). Kedua lapisan

dural yang melapisi otak umumnya bersatu, kecuali di

tempat di tempat dimana keduanya berpisah untuk

menyediakan ruang bagi sinus venosus (sebagian besar

sinus venosus terletak di antara lapisan-lapisan dural),

dan di tempat dimana lapisan dalam membentuk sekat di

antara bagian-bagian otak.


2) Arachnoidea

Membrana arachnoidea melekat erat pada permukaan

dalam dura dan hanya terpisah dengannya oleh suatu

ruang potensial, yaitu spatium subdural. Ia menutupi

spatium subarachnoideum yang menjadi liquor

cerebrospinalis, cavum subarachnoidalis dan

dihubungkan ke piamater oleh trabekulae dan septa-

septa yang membentuk suatu anyaman padat yang

menjadi system rongga-rongga yang saling berhubungan.

3) Piamater

Piamater merupakan selaput jaringan penyambung

yang tipis yang menutupi permukaan otak dan

membentang ke dalam sulcus,fissure dan sekitar

pembuluh darah di seluruh otak. Piamater juga

membentang ke dalam fissure transversalis di abwah

corpus callosum. Di tempat ini pia membentuk tela

choroidea dari ventrikel tertius dan lateralis, dan

bergabung dengan ependim dan pembuluh-pembuluh

darah choroideus untuk membentuk pleksus choroideus

dari ventrikel-ventrikel ini. Pia dan ependim berjalan di

atas atap dari ventrikel keempat dan membentuk tela

choroidea di tempat itu.


c. Otak

Otak merupakan satu struktur gelatin yang mana berat pada

orang sekitar 14 kg. otak terdiri dari beberapa bagian yaitu

proensefalon (atak depan) yaitu terdiri dari serebrum

diensefalon, nesensefalon (otak tengah) dan ronbensefalon

(otak belakang ) terdiri dari pons, medulla oblongata dan

serebellum.

Fisura membagi otrak menjadi beberapa lobus. Lobus frontal

berkaitan dengan fungsi emosi, fungsi motorik dan pusat

ekspresi bicara. Lobus parietal berhubungan dengan fungsi

sensorik dan orientasi ruang. Lobus temporal mengatur

fungsi memori tertentu. Lobus oksipital bertanggungjawab

dalam proses penglihatan. Mesensefalon dan pons bagian

atas berisi sitem aktivitas reticular yang berfungsi dalam

kesadaran dan kewaspadaan. Pada medulla oblongata

terdapat pusat kardiorespiratorik kardiorespiratorik.

Cerebellum bertanggungjawab dalam fungsi kordinasi dan

keseimbangan.

3. Cidera otak merupakan kerusakan akibat perdarahan atau

pembengkakan otak sebagai respon terhadap cedera dan

menyebabkan peningkatan tekanan intra kranial

(Smeltzer,2000).
Jenis cidera otak menurut fritzell et al (2001) :

a. Concussion: benturan pada otak yang cukup keras dan

mampu membuat jaringan otak mengenai tulang tengkorak

namun tidak cukup kuat untuk menyebabkan memar pada

jaringan otak atau penurunan keasadaran yang menetap.

Contohnya seperti ketika kita membentur tembok atau

benda lain, sesaat kemudian kita akan merasa kepala

berputar dan diatasnya ada burung-burung emprit yang

mengelilingi kepala kita, dan beberapa saat setelah itu kita

akan kembali sadar. Recovery time 24-48 jam. Gejala:

penurunan kesadaran dalam waktu singkat, mual, amnesia

terhadap hal hal yang baru saja terjadi, letargi, pusing.

b. Contusion: memar pada jaringan otak yang lebih serius

daripada concussion. Lebih banyak disebabkan oleh

adanya perdarahan arteri otak, darah biasanya

terakumulasi antara tulang tengkorak dan dura. Gejala:

penurunan kesadaran,hemiparese, perubahan reflek pupil.

c. Epidural Hematoma: terjadi berhubungan dengan proses

ekselerasi-deselerasi atau coup-contracoup yang

menyebabkan adanya gangguan pada sistem saraf pada

daerah otak yang mengalami memar. Gejala: penurunan

kesadaran dalam waktu singkat yang akan berlanjut

menjadi penurunan kesadaran yang progresif, sakit kepala


yang parah, kompresi batang otak, keabnormalan

pernafasa (pernfasan dalam), gangguan motorik yang

bersifat kontralateral,dilatasi pupil pada sisi yang searah

dengan trauma, kejang, perdarahan. Epidural hematoma

merupakan jenis perdarahan yang paling berbahaya karena

terjadi pada artesi otak.

d. Subdural hematoma: merupakan tipe trauma yang sering

terjadi. Perdarahan pada meningeal yang menyebabkan

akumulasi darah pada daerah subdural (antara duramater

dan arachnoid). Biasanya mengenai vena pada korteks

cerebri (jarang sekali mengenai arteri). Gejala: mirip dengan

epidural hematoma namun dengan onset of time yang

lambat karena sobekan pembuluh darah terjadi pada vena

sedangkan pada epidural mengenai arteri.

e. Intracerebral hemorrhage: merupakan tipe perdarahan yang

sub akut dan memiliki prognosa yang lebih baik karena

aliran darah pada pembuluh darah yang robek berjalan

relatif lambat. Sering terjadi pada bagian frontal dan

temporal otak. Ich sering disebabkan oleh hipertensi.

Gejala: deficit neurologis yang tergantung pada letak

perdarahan, gangguan motorik, peningkatan tekanan

intracranial.
f. Skull fracture (fraktur tulang tengkorak): terdapat 4 tipe yaitu

linear, comminuted, basilar, dan depressed. Fraktur pada

bagian depan dan tengah tulang tengkorak akan

mengakibatkan sakit kepala yang parah. Gejala: mungkin

asimtomatik tergantung pada penyebab trauma,

displacemenet (perubahan/pergeseran letak) tulang,

perubahan sensor motorik,periorbital ekimosis (bercak

merah pada mata), adanya battle’s sign (ekimosis pada

tulang mstoid), akumulasi darah pada membran timpani.

B. Epidural Hematoma

Beberapa definisi epidural hematoma menurut beberapa ahli

sebagai berikut :

1. Epidural hematoma adalah hematom antara durameter dan

tulang, biasanya sumber perdarahannya adalah robeknya arteri

meningea media. (NICNOC2015)

2. Epidural hematoma (EDH) adalah suatu perdarahan yang terjadi

di antara tulang tengkorak dan lapisan duramater.

3. Epidural hematom adalah perdarahan intrakranial yang terjadi

karena fraktur tulang tengkorak dalam ruang antara tabula

interna kranii dengan duramater.

4. Epidural hematoma adalah hematoma yang terletak antara dura

mater dan tulang, biasanya sumber perdarahannya adalah

sobeknya arteri meningica media(paling sering), vena diploica


(oleh karena adanya fraktur kalvaria), vena emmisaria, sinus

venosus duralis.

5. Epidural hematoma adalah adanya pengumpulan darah

diantara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya

pembuluh darah/cabang-cabang arteri meningeal media yang

terdapat di duramater, pembuluh darah ini tidak dapat menutup

sendiri karena itu sangat berbahaya.

6. Epidural hematoma sebagai keadaan neurology yang bersifat

emergency dan biasanya berhubungan dengan linear fraktur

yang memutuskan arteri yang lebih besar sehingga

menimbulkan perdarahan. (Anderson, 2005)

7. Epidural Hematoma adalah hematom/perdarahan yang terletak

antara durameter dan tubula interna/ lapisan bawah tengkorak

dan sering terjadi pada lobus tengkorak dan paretal

(Smeltzer&Bare, 2001).

Pada kejadian epidural hematoma jika pendarahan membesar

dilakukan tindakan pebedahan craniotomy. Craniotomy adalah

operasi membuka tengkorak (tempurung kepala) untuk mengetahui

dan memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh adanya luka

yang ada di kepala.

C. Etiologi

Mekanisme cedera kepala meliputi cedera akselerasi, deslerasi,

akselerasi- deselerasi, coup-countere coup, dan cedera rotasional.


1. Cedera akselerasi terjadi jika objek bergerak menghantam

kepala yang tidak bergerak (misalnya alat pemukul

menghantam kepala atau peluru yang ditembakkan ke kepala).

2. Cedera deselerasi terjadi jika kepala yang bergerak membentur

objek diam, seperti pada kasus jatuh atau tabrakan mobi ketika

kepala membentur kaca depan mobil.

3. Cedera akselerasi-deselerasi terjadi dalam kasus kecelakaan

kendaraan bermotor dan episode kekerasan.

4. Cedera coup-counter coup

Terjadi jika kepala terbentur yang menyebabkan otak bergerak

dalam ruang cranial dan dengan kuat mengenai area tulang

tengkorak yang berlawanan serta area kepala yang pertamakali

terbentur. Sebagai contoh : pasien dipukul dibagian belakang

kepala.

5. Cedera rotasional terjadi jika pukulan / benturan menyebabkan

otak berputar dalam rongga tengkorak yang mengakibatkan

perenggangan atau robeknya neuron dalam substansia alba

serta robeknya pembuluh darah yang memfiksasi otak dengan

bagian dalam rongga tengkorak.

D. Manifestasi Klinis

Pasien dengan EDH seringkali tampak memar di sekitar mata dan

di belakang telinga. Sering juga tampak cairan yang keluar pada

saluran hidung atau telinga.


Tanda dan gejala yang tampak pada pasien dengan edh antara

lain:

1. Penurunan kesadaran, bisa sampai koma.

2. Perubahan tanda vital. Biasanya kenaikan tekanan darah dan

bradikardi.

3. Nyeri kepala yang hebat

4. Keluar cairan darah dari hidung atau telinga.

5. Nampak luka yang dalam atau goresan pada kulit kepala.

6. Gangguan penglihatan dan pendengara.

7. Kejang otot.

8. Mual.

9. Pusing.

10. Muntah.

11. Berkeringat.

12. Sianosis / pucat.

13. Pupil anisokor yaitu pupil ipsilateral menjadi melebar.

14. Susah bicara.

E. Patofisioloigi

Pada hematom epidural, perdarahan terjadi di antara tulang

tengkorak dan dura meter. Perdarahan ini lebih sering terjadi di

daerah temporal bila salah satu cabang arteria meningea media

robek. Robekan ini sering terjadi bila fraktur tulang tengkorak di


daerah bersangkutan. Hematom dapat pula terjadi di daerah frontal

atau oksipital.

Arteri meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui

foramen spinosum dan jalan antara durameter dan tulang di

permukaan dan os temporale. Perdarahan yang terjadi

menimbulkan hematom epidural, desakan oleh hematoma akan

melepaskan durameter lebih lanjut dari tulang kepala sehingga

hematom bertambah besar. Hematoma yang membesar di daerah

temporal menyebabkan tekanan pada lobus temporalis otak kearah

bawah dan dalam. Tekanan ini menyebabkan bagian medial lobus

mengalami herniasi di bawah pinggiran tentorium. Keadaan ini

menyebabkan timbulnya tanda-tanda neurologik yang dapat dikenal

oleh tim medis.

Tekanan dari herniasi unkus pada sirkulasi arteria yang

mengurus formation retikularis di medulla oblongata menyebabkan

hilangnya kesadaran. Di tempat ini terdapat nuclei saraf cranial

ketiga (okulomotorius). Tekanan pada saraf ini mengakibatkan

dilatasi pupil dan ptosis kelopak mata. Tekanan pada lintasan

kortikospinalis yang berjalan naik pada daerah ini, menyebabkan

kelemahan respons motorik kontralateral, refleks hiperaktif atau

sangat cepat, dan tanda babinski positif.

Dengan makin membesarnya hematoma, maka seluruh isi otak

akan terdorong kearah yang berlawanan, menyebabkan tekanan


intracranial yang besar. Timbul tanda-tanda lanjut peningkatan

tekanan intracranial antara lain kekakuan deserebrasi dan

gangguan tanda-tanda vital dan fungsi pernafasan. Karena

perdarahan ini berasal dari arteri, maka darah akan terpompa terus

keluar hingga makin lama makin besar. Ketika kepala terbanting

atau terbentur mungkin penderita pingsan sebentar dan segera

sadar kembali. Dalam waktu beberapa jam , penderita akan

merasakan nyeri kepala yang progersif memberat, kemudian

kesadaran berangsur menurun. Masa antara dua penurunan

kesadaran ini selama penderita sadar setelah terjadi kecelakaan di

sebut interval lucid. Fenomena lucid interval terjadi karena cedera

primer yang ringan pada epidural hematom. Kalau pada subdural

hematoma cedera primernya hamper selalu berat atau epidural

hematoma dengan trauma primer berat tidak terjadi lucid interval

karena pasien langsung tidak sadarkan diri dan tidak pernah

mengalami fase sadar.

F. Komplikasi

Hematoma epidural dapat memberikan komplikasi :

1. Edema serebri, merupakan keadaan gejala patologis, radiologis

di mana keadaan ini mempunyai peranan yang sangat

bermakna pada kejadian pergeseran otak (brain shift) dan

peningkatan tekanan intracranial.


2. Kompresi batang otak.

Subdural hematom dapat memberikan komplikasi berupa :

a. Hemiparese/hemiplegia.

b. Disfasia/afasia

c. Epilepsi.

d. Hidrosepalus.

e. Subdural empiema

G. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan diagnostik yang diperlukan pada klien meliputi:

1. Ct scan (dengan/tanpa kontras)

Mengidentifikasi luasnya lesi, perdarahan, determinan,

ventrikuler dan perubahan jaringan otak.

2. MRI

Digunakan sama dengan ct scan dengan/tanpa kontras

radioaktif.

3. Cerebral angiography

Menunjukan anomali sirkulasi serebral seperti perubahan

jaringan otak sekunder menjadi edema, perdarahan dan trauma.

4. Serial eeg

Dapat melihat perkembangan gelombang patologis.

5. Sinar x

Mendeteksi parubahan struktur tulang (fraktur), perubahan

struktur garis (perdarahan/edema), fragmen tulang.


6. Baer

Mengoreksi batas fungsi korteks dan otak kecil.

7. Pet

Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak.

8. Css

Lumbal pungsi dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan

subarachnoid.

9. Kadar elektrolit

Untuk mengoreksi keseimbangan elektrolit sebagai peningkatan

tekanan intrakranial.

10. Screen toxicology

Untuk mendeteksi pengaruh obat yang dapat menyebabkan

penurunan kesadaran

11. Rontgen thoraks 2 arah (pa/ap dan lateral)

Rontgen thoraks menyatakan akumulasi udara/cairan pada area

pleural. Toraksentesis menyatakan darah/cairan

12. Analisa gas darah (agd/astrup)

Analisa gas darah (agd/ astrup) adalah salah satu tes diagnostik

untuk menentukan status respirasi. Status respirasi yang dapat

digambarkan melalui pemeriksaan agd ini adalah status

oksigenasi dan status asam basa (arif muttaqin ; 2008 : 284).


H. Penatalaksanaan

1. Penanganan darurat :

a. Dekompresi dengan trepanasi sederhana.

b. Kraniotomi untuk mengevakuasi hematom

2. Terapi medikamentosa

a. Memperbaiki/mempertahankan fungsi vital

Usahakan agar jalan nafas selalu babas, bersihkan lendir

dan darah yang dapat menghalangi aliran udara pemafasan.

Bila perlu dipasang pipa naso/orofaringeal dan pemberian

oksigen. Infus dipasang terutama untuk membuka jalur

intravena : gunakan cairan nac10,9% atau dextrose in saline.

b. Mengurangi edema otak

Beberapa cara dapat dicoba untuk mengurangi edema otak:

1) Hiperventilasi.

Bertujuan untuk menurunkan pao2 darah sehingga

mencegah vasodilatasi pembuluh darah. Selain itu suplai

oksigen yang terjaga dapat membantu menekan

metabolisme anaerob, sehingga dapat mengurangi

kemungkinan asidosis. Bila dapat diperiksa, pao2

dipertahankan > 100 mmhg dan paco2 diantara 2530

mmhg.
2) Cairan hiperosmoler.

Umumnya digunakan cairan manitol 1015% per infus

untuk “menarik” air dari ruang intersel ke dalam ruang

intra-vaskular untuk kemudian dikeluarkan melalui

diuresis. Untuk memperoleh efek yang dikehendaki,

manitol hams diberikan dalam dosis yang cukup dalam

waktu singkat, umumnya diberikan : 0,51 gram/kg bb

dalam 1030 menit. Cara ini berguna pada kasus-kasus

yang menunggu tindak-an bedah. Pada kasus biasa,

harus dipikirkan kemungkinan efek rebound; mungkin

dapat dicoba diberikan kembali (diulang) setelah

beberapa jam atau keesokan harinya.

3) Kortikosteroid.

Penggunaan kortikosteroid telah diperdebatkan

manfaatnya sejak beberapa waktu yang lalu. Pendapat

akhir-akhir ini cenderung menyatakan bahwa

kortikosteroid tidak/kurang ber-manfaat pada kasus

cedera kepala. Penggunaannya berdasarkan pada

asumsi bahwa obat ini menstabilkan sawar darah otak.

Dosis parenteral yang pernah dicoba juga bervariasi :

dexametason pernah dicoba dengan dosis sampai 100

mg bolus yang diikuti dengan 4 dd 4 mg. Selain itu juga


metilprednisolon pernah digunakan dengan dosis 6 dd 15

mg dan triamsinolon dengan dosis 6 dd 10 mg.

4) Barbiturat.

Digunakan untuk mem”bius” pasien sehingga

metabolisme otak dapat ditekan serendah mungkin,

akibatnya kebutuhan oksigen juga akan menurun; karena

kebutuhan yang rendah, otak relatif lebih terlindung dari

kemungkinan kemsakan akibat hipoksi, walaupun suplai

oksigen berkurang. Cara ini hanya dapat digunakan

dengan pengawasan yang ketat.

Pala 24jam pertama, pemberian cairan dibatasi sampai

1500-2000 ml/24 jam agar tidak memperberat edema

jaringan. Ada laporan yang menyatakan bahwa posisi

tidur dengan kepala (dan leher) yang diangkat 30° akan

menurunkan tekanan intrakranial. Posisi tidur yang

dianjurkan, terutama pada pasien yang berbaring lama,

ialah: kepala dan leher diangkat 30°. Sendi lutut diganjal,

membentuk sudut 150°. Telapak kaki diganjal,

membentuk sudut 90° dengan tungkai bawah

b. Obat-obat neurotropik

Dewasa ini banyak obat yang dikatakan dapat membantu

mengatasi kesulitan/gangguan metabolisme otak, termasuk

pada keadaan koma.


1) Piritinol

Piritinol merupakan senyawa mirip piridoksin (vitamin b6)

yang dikatakan mengaktivasi metabolisme otak dan

memperbaiki struktur serta fungsi membran sel. Pada

fase akut diberikan dalam dosis 800-4000 mg/hari lewat

infus. Tidak dianjurkan pemberian intravena karena sifat-

nya asam sehingga mengiritasi vena.

2) Piracetam

Piracetam merupakan senyawa mirip gaba – suatu

neurotransmitter penting di otak. Diberikan dalam dosis

4-12 gram/ hari intravena

3) Citicholine

Disebut sebagai koenzim pembentukan lecithin di otak.

Lecithin sendiri diperlukan untuk sintesis membran sel

dan neurotransmitter di dalam otak. Diberikan dalam

dosis 10q-500 mg/hari intravena.

3. Hal-hal lain

Perawatan luka dan pencegahan dekubitus harus mulai di-

perhatikan sejak dini; tidak jarang pasien trauma kepala juga

menderita luka lecet/luka robek di bagian tubuh lainnya. Anti-

biotika diberikan bila terdapat luka terbuka yang luas, trauma

tembus kepala, fraktur tengkorak yang antara lain dapat me-

nyebabkan liquorrhoe. Luka lecet dan jahitan kulit hanya


memerlukan perawatan local. Hemostatik tidak digunakan

secara rutin; pasien trauma kepala umumnya sehat dengan

fungsi pembekuan normal. Per- darahan intrakranial tidak bisa

diatasi hanya dengan hemostatik. Antikonvulsan diberikan bila

pasien mengalami kejang, atau pada trauma tembus kepala dan

fraktur impresi; preparat parenteral yang ada ialah fenitoin,

dapat diberikan dengan dosis awa1250 mg intravena dalam

waktu 10 menit diikuti dengan 250-500 mg fenitoin per infus

selama 4 jam. Setelah itu diberi- kan 3 dd 100 mg/hari per oral

atau intravena. Diazepam 10 mg iv diberikan bila terjadi kejang.

Phenobarbital tidak dianjurkan ka-rena efek sampingnya berupa

penurunan kesadaran dan depresi pernapasan.

4. Terapi operatif

Operasi di lakukan bila terdapat :

a. Volume hamatom > 30 ml ( kepustakaan lain > 44 ml).

b. Keadaan pasien memburuk.

c. Pendorongan garis tengah > 5 mm.

d. Fraktur tengkorak terbuka, dan fraktur tengkorak depress.

Dengan kedalaman >1 cm.

e. Edh dan sdh ketebalan lebih dari 5 mm dan pergeseran garis

tengah dengan gcs 8 atau kurang

f. Tanda-tanda lokal dan peningkatan tik > 25 mmhg


Indikasi operasi di bidang bedah saraf adalah untuk life

saving dan untuk fungsional saving. Jika untuk keduanya tujuan

tersebut maka operasinya menjadi operasi emergenci. Biasanya

keadaan emergenci ini di sebabkan oleh lesi desak ruang.

Indikasi untuk life saving adalah jika lesi desak ruang bervolume

adalah :

a. > 25 cc à desak ruang supra tentorial

b. > 10 cc à desak ruang infratentorial

c. > 5 cc à desak ruang thalamus

Sedangkan indikasi evakuasi life saving adalah efek masa yang

signifikan :

a. Penurunan klinis

b. Efek massa dengan volume > 20 cc dengan midline shift > 5

mm dengan penurunan klinis yang progresif.

c. Tebal epidural hematoma > 1 cm dengan midline shift > 5

mm dengan penurunan klinis yang progresif.


II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Riwayat Keperawatan

1. Pengkajian

a. Identitas Klien

Nama pasien, umur : kebanyakan terjadi pada usia muda,

jenis kelamin kebanyakan laki-laki, agama pendidikan

pekerjaan status perkawinan alamat suku bangsa.

b. Riwayat kesehatan

1) Keluhan utama

Pada umumnya klien mengalami penurunan kesadaran

baik biasanya mengeluh sakit atau nyeri kepala, pusing,

mual muntah.

2) Riwayat kesehatan sekarang

a) Kaji penyebab trauma : biasanya karena kecelakaan

lalu lintas atau sebab lain tanyakan kapan dimana apa

penyebab serta bagaimana proses terjadinya trauma

b) Apakah saat trauma pingsan, disertai muntah

perdarahan atau tidak.

c) Riwayat amnesia setelah cedera kepala menunjukkan

derajat kerusakan otak.


a. Prymary survey

1) Airway apakah ada sumbatan jalan nafas seperti darah

secret lidah dan benda sing lainnya, sura nafas

normal/tidak, apakah ada kesulitan bernafas

2) Breathing : pola nafas teratur, observasi keadaan umum

dengan metode : look : liat pergerakan dada pasien,

teratur, cepat dalam atau tidak. Listen : dengarkan aliran

udara yang keluar dari hidung pasien. Feel : rasakan

aliran udara yang keluar dari hidung pasien

3) Sirkulasi : akral hangat atau dingin, sianosis atau tidak,

nadi teraba apakah ada.

b. Secondary

1) Disability apakah terjadi penurunan kesadaran, nilai

GCS, pupil isokor, nilai kekuatan otot, kemampuan ROM.

2) Eksposure ada atau tidaknya trauma kepala ada atau

tidaknya luka lecet ditangan atau dikaki.

3) Fareinhead ada atau tidaknya trauma didaerah kepala,

ada tau tidaknya peningkatan suhu yang mendadak,

demam

c. Riwayat kesehatan terdahulu

Apakah klien pernah mengalami cedera kepala atau penyakit

persyarafan maupun system lain yang dapat memperburuk


keadaan klien. Riwayat trauma yang lalu hipertensi, jantung

dan sebagainya.

d. Riwayat kesehatan keluarga

Apakah ada salah satu anggota keluarga yang mengalami

penyakit hipertensi jantung dan sebagainya. seperti dampak

biaya perawatan dan pengobatan yang besar.

e. Riwayat psikososial

Bagaimana mekanisme klien terhadap penyakit dan

perubahan perannya, pola persepsi dan konsep diri sebagai

rasa tidak berdaya tidak ada harapan, mudah marah dan

tidak kooperatif, kondisi ekonomi klien

B. Pemeriksaan Fisik Keperawatan

1. Keadaan umum

Tergantung berat ringannya cedera, keadaan umum biasanya

emah

2. Kesadaran

Pada cedera ringan biasanya tidak sadar kurang dari 10 menit,

kemudian sadar. Compas mentis: pada cedera sedang bisa

tidak sadar lebih dari 10 menit , perubahan kesadaran sampai

koma. Pada cidera berat, tidak sadar lebih dari 24 jam.

Perubahan kesadaran sampai koma.


Tanda-tanda vital

Tekanan darah hipertensi bila ada peningkatan Tekanan Intra

Cranial dan bisa normal pada keadaan yang lebih ringan, nadi

bisa terjadi bradicardi, tachicardi.

3. Kepala

a. Kulit kepala

Pada trauma tumpul terdapat hematom, bengkak dan nyeri

tekan. Pada luka terbuka terdapat robekan dan perdarahan

b. Wajah/muka

Pada cedera kepala sedang, cedera kepala berat yang

terjadi contusion cerebri, terjadi mati rasa pada wajah

c. Mata

Terjadi penurunan fungsi penglihatan , reflek cahaya

menurun, keterbatasan lapang pandang. Dapat terjadi

perubahan ukuran pupil, bola mata tidak dapat mengikuti

perintah.

d. Telinga

Penurunan fungsi pendengaran pada trauma yang mengenai

lobus temporal yang menginterprestasikan pendengaran,

drainase cairan spinal pada fraktur dasar tengkorak,

kemungkinan adanya perdarahan dari tulang telinga.


e. Hidung

Pada cedera kepala yang mengalami lobus oksipital yang

merupakan tempat interprestassi penciuman dapat terjadi

penurunan fungsi penciuman. Bisa juga terdapat drainase

caran serebro spinal pada fraktur dasar tengkorak yang

mengenai sinus paranasal

f. Mulut

Gangguan menelan pada cedera kepala yang menekan

reflek serta gangguan pengecapan pada cedera kepala dan

berat

4. Leher

Dapat terjadi gangguan pergerakan pada cedera kepala sedang

dan berat yang menekan pusat motorik, kemungkinan

didapatkan kaku kuduk

5. Dada

a. Inspeksi : biasanya bentuk simetris, terjadi perubahan irama,

frekuensi dan kedalaman pernafasan terdapat retraksi

dinding dada.

b. Palpasi : biasanya terjadi nyeri tekan apabila terjadi trauma

c. Perkusi : bunyi resonan pada seluruh lapang paru, terkecuali

daerah jantung dan hepar bunyi redup


d. Auskultasi : biasanya bunyi nafas normal (vesikuler), bisa

ronchi apabila terdapat gangguan, bunyi S1 dan S2 bisa

teratur bisa tidak, perubhan frekuensi dan irama

6. Abdomen

a. Inspeksi : bentuk simetris tidak terdapat bekas opersi

b. Auskultasi : bissing usus bisanya normal, bisa meningkat

dan bisa menurun

c. Palpasi : biasanya terdapat nyeri tekan, ditemukan adanya

jejas dan luka tumpul

d. Perkusi : bunyi timpani

7. Ektremitas

Ektremitas atas dan bahwa tidak ada atrofi dan hipertrofi. Tidak

ada udem. Reflex bicep (+), reflek triceps (+) patella (+) achiles

(+) babinski (+) pada ektremitas atas terdapat fleksi abnormal

8. Aktifitas

Gejala : merasa lemah lelah dan hilang keseimbangan.

Tanda : .Perubahan kesadaran, letargi, hemiparese

quadreplegia, ataksia, cara berjalan tak tegap.

Masalah dalam keseimbangan cedera (trauma)

ortopedi, kehilangan tonus otot, otot spastik.

9. Sirkulasi

Gejala : Perubahan tekanan darah atau normal (hipertensi).


Perubahan frekwensi jantung (bradikardia, takikardia

yang diselingi dengan bradikardia, disritmia).

10. Integritas Ego

Gejala : Perubahan tingkah laku atau kepribadian (tenang atau

dramatis).

Tanda : Cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung,

depresi dan impulsif.

11. Eliminasi

Gejala : Inkontinentia kandungan kemih/usus atau mengalami

gangguan fungsi.

12. Makanan/Cairan

Gejala : Mual, muntah, dan mengalami perubahan selera.

Tanda : Muntah (mungkin proyektil). Gangguan menelan

(batuk, air liur keluar disfagia)

13. Neurosensori

Gejala : Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar

kejadian. Vertigo, sinkope, tinitus, kehilangan pendengaran,

tingling, baal pada ekstremitas. Perubahan dalam penglihatan

seperti ketajamannya, diplopia, kehilangan sebagian lapang

pandang, fotofobia.

Gangguan pengecapan dan juga penciuman.

Tanda ; Perubahan kesadaran sampai koma. Perubahan status

mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi,


pemecahan masalah, pengaruh emosi/tingkah laku dan

memori). Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri)

deviasi pada mata, ketidakmampuan mengikuti. Kehilangan

penginderaan seperti pengecapan, penciuman dan

pendengaran. Wajah tidak simetri. Genggaman lemah, tidak

seimbang. Refleks tendon dalam tidak ada atau lemah.

Apraksia, hemiparise, quedreplegia. Postur (dekortikasi,

deserebrasi), kejang. Sangat sensitif terhadap sentuhan dan

gerakan. Kehilangan sensasi sebagian tubuh

14. Nyeri/Kenyamanan

Gejala : Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yang

berbeda, biasanya lama. Tanda : Wajah menyeringai, respon

menarik pada rangsangan nyeri yang hebat, gelisah, tidak bisa

beristirahat, merintih.

15. Pernapasan

Tanda : Perubahan pola napas (apnea yang diselingi oleh

hiperventilasi). Napas berbunyi, stridor, tersedak. Ronki, mengi

positif (kemungkinan karena aspirasi)

16. Keamanan

Gejala : Trauma baru/trauma karena kecelakaan.

Tanda : Fraktur/dislokasi.

Gangguan penglihatan
Kulit laserasi, abrasi, perubahan warna, seperti

“raccoon eye” tanda Batle di sekitar telinga

(merupakan tanda adanya trauma).. Adanya aliran

cairan (drainase) dari telinga/hidung (CSS).

Gangguan kognitif. Gangguan rentang gerak, tonus

otot hilang, kekuatan secara umum mengalami

paralysis. Demam, gangguan dalam regulasi suhu

tubuh.

17. Interaksi Sosial

Tanda : Afasia motorik atau sensorik, bicara tanpa arti,

bicara berulang-ulang, disartria, anomia.

C. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada epidural

hematoma adalah :

1. Perfusi jaringan serebral tidak efektif berhubungan dengan

penghentian aliran darah (hemoragi, hematoma); edema

cerebral; penurunan td sistemik/hipoksia (hipovolemia, disritmia

jantung).

2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan

neurovaskuler (cedera pada pusat pernapasan otak) dan

penurunan energi dalam bernafas.


3. Resiko infeksi berhubungan dengan jaringan trauma, kulit rusak,

prosedur invasif. Penurunan kerja silia, stasis cairan tubuh.

Kekurangan nutrisi. Respon inflamasi tertekan (penggunaan

steroid). Perubahan integritas sistem tertutup (kebocoran css)

4. Resiko injury berhubungan dengan peningkatan tik : kejang.

5. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebuthan tubuh

berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk mencerna

nutrien (penurunan tingkat kesadaran). Kelemahan otot yang

diperlukan untuk mengunyah, menelan.

6. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik, bilogis :

trauma, peningkatan asam laktat di otak.

7. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan pupil

anisokor dan ptosis kelopak mata.

8. Gangguan mobilita fisik berhubungan dengan kaku desebrasi.

Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada epidural

hematoma adalah :

1. Perfusi jaringan serebral tidak efektif berhubungan dengan

penurunan suplai darah ke otak dan peningkatan TIK

2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan

suplai O2 akibat penurunan kerja organ pernapasan.

3. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, prosedur

invasive dan invasi bakteri.


4. Resiko Injury berhubungan dengan peningkatan TIK : kejang/

gelisah

5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan perubahan kemampuan mencerna / menelan nutrient.

6. Nyeri akut berhubungan dengan luka insisi (stimulasi nyeri)

akibat prosedur operasi invasive.

7. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan

tonus otot sensori.

8. Cemas berhubungan dengan krisis situasional.

9. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan

pergerakan sendi akibat kerusakan neuromuskuler

10. Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan

kebutuhan ADL akibat penurunan kesadaran.


DAFTAR PUSTAKA

Chesnut RM, Gautille T, Blunt BA, et al. The localizing value of asymmetry in

pupillary size in severe head injury: relation to lesion type and location.

Neurosurgery. May 1994.