Anda di halaman 1dari 286

ht

tp
s:
//w
w
w
.b
ps
.g
o.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
STATISTIK
PENDUDUK LANJUT USIA
2018
ISSN : 2086-1036

Nomor Publikasi : 04220.1809

id
Katalog : 4104001

.
go
Ukuran Buku : 182 mm x 257 mm
s.
Jumlah Halaman : xxiv + 260 halaman
p
.b
w

Naskah :
w

Subdirektorat Statistik Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial


//w

Gambar Kulit :
s:

Subdirektorat Statistik Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial


tp
ht

Sumber Gambar :
https://www.pexels.com/photo/old-man-wearing-brown-beanie-88479/
https://pixabay.com/id/kakek-manusia-ketertarikan-manusia-2978109/
https://unsplash.com/photos/WSrgO-8GYgo

Diterbitkan oleh :
©Badan Pusat Statistik

Dicetak Oleh:

-----------------------------------------
Dilarang mengumumkan, mendistribusikan, mengomunikasikan, dan/atau
menggandakan sebagian atau seluruh isi buku ini untuk tujuan komersial tanpa
izin tertulis dari Badan Pusat Statistik
PENYUSUN NASKAH

Penanggung Jawab Umum : Gantjang Amannullah, M.A.

Penanggung Jawab Teknis : Wachyu Winarsih, M.Si.

Editor : Dwi Susilo, M.Si.

id
Ida Eridawaty Harahap, S.Si., M.Si.

.
go
Raden Sinang, SST, M.Si.

Penulis
s.
: Mega Silviliyana, SST
p
Ika Maylasari, SST, M.Si.
.b

Rida Agustina, SST. M.Si.


w

Karuniawati Dewi Ramadani, S.Si.


w

Rini Sulistyowati, SST


//w

Linda Annisa, SST


Freshy Windy Rosmala Dewi, SST
s:
tp
ht
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
KATA PENGANTAR

Peningkatan penduduk lansia di Indonesia merupakan salah satu


dampak dari keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan. Hal ini tentu saja
membawa konsekuensi yang tidak sederhana, baik potensi maupun tantangan
bagi pembangunan nasional. Menyikapi fenomena ini, keberadaan data informasi
yang akurat dan komprehensif diharapkan dapat memetakan kondisi lansia
Indonesia terkini guna merumuskan suatu kebijakan yang dapat mengayomi
kehidupan lansia.
BPS berusaha mengakomodir kebutuhan akan data kelanjutusiaan yang

id
konkret dan komprehensif serta mewujudkannya dalam Publikasi Statistik

.
Penduduk Lanjut Usia 2018. Publikasi ini merupakan publikasi tahunan yang

go
memuat informasi makro mengenai kondisi demografi penduduk lansia, status
s.
pendidikan, kondisi kesehatan, peran lansia dalam ketenagakerjaan, potensi
p
ekonomi, keadaan sosial, serta akses penduduk lansia terhadap berbagai fasilitas
.b

perlindungan dan pemberdayaan bagi peningkatan kualitas hidupnya. Melalui


w

buku ini dapat diketahui sejauh mana potensi dan sumber daya penduduk
w

lansia di Indonesia. Data yang digunakan dalam publikasi ini bersumber dari
//w

data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret tahun 2018, Survei
Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus tahun 2018, dan data sekunder dari
s:

Kementerian/Lembaga.
tp

Publikasi ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak, baik dari
ht

kalangan masyarakat, lansia, para penggiat lansia, serta pemangku kepentingan


sebagai salah satu dasar dalam penyusunan kebijakan. Selain itu, sebagai acuan
untuk dapat mengoptimalkan potensi penduduk lansia sebagai bagian dari
kekuatan pembangunan.
Akhir kata, kami menyampaikan terima kasih kepada tim penyusun
dan semua pihak yang telah menyumbangkan pikiran dan tenaganya sehingga
publikasi ini dapat diselesaikan. Semoga hasil karya ini dapat memberi manfaat
sebesar-besarnya untuk dunia kelanjutusiaan Indonesia.

Jakarta, Desember 2018


Kepala Badan Pusat Statistik

Dr. Suhariyanto

v
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
RINGKASAN EKSEKUTIF

Perubahan tatanan demografi pada dua dekade awal abad ke-21 sebagai
dampak dari baby boom yang terjadi pada beberapa puluh tahun lalu,
menciptakan tantangan tersendiri bagi negeri ini. BPS memproyeksikan bahwa
pada tahun 2045, Indonesia akan memiliki sekitar 63,31 juta penduduk lanjut
usia (lansia) atau hampir mencapai 20 persen populasi. Bahkan, proyeksi PBB
juga menyebutkan bahwa persentase lansia Indonesia akan mencapai 25 persen
pada tahun 2050 atau sekitar 74 juta lansia. Peningkatan yang begitu pesat ini
membawa konsekuensi tersendiri terhadap pembangunan nasional. Di satu sisi,

id
peningkatan lansia menunjukkan keberhasilan program-program terkait layanan

.
go
kesehatan beserta segala turunannya yang telah dicanangkan pemerintah selama
ini. Bahkan jika kondisi lansia dalam keadaan mandiri, sehat, aktif, dan produktif,
s.
secara tidak langsung juga akan berdampak pada perekonomian masyarakat dan
p
.b

negara ini kelak. Akan tetapi, di sisi lain, peningkatan jumlah lansia juga akan
menjadi tantangan tersendiri ketika persiapan pra-lansia untuk menyambut
w

masa senja tidak terlalu baik yang mengakibatkan lansia di masa mendatang
w

jauh dari kata sehat, aktif, dan produktif. Hal tersebut berimplikasi terhadap
//w

berbagai aspek kehidupan, baik kesehatan, sosial, ekonomi, maupun lingkungan.


s:
tp

Selama kurun waktu hampir 50 tahun (1971-2018), persentase penduduk lansia


Indonesia meningkat sekitar dua kali lipat. Pada tahun 2018, persentase lansia
ht

mencapai 9,27 persen atau sekitar 24,49 juta orang. Adapun persentase lansia
di Indonesia didominasi oleh lansia muda (kelompok umur 60-69 tahun) yang
persentasenya mencapai 63,39 persen, sisanya adalah lansia madya (kelompok
umur 70-79 tahun) sebesar 27,92 persen, dan lansia tua (kelompok umur 80+)
sebesar 8,69 persen. Pada tahun 2018 setiap 100 orang penduduk usia produktif
harus menanggung 15 orang penduduk lansia. Jika dilihat secara total, persentase
lansia yang menjadi Kepala Rumah Tangga (KRT) ada sekitar 61,29 persen atau
dengan kata lain enam dari sepuluh lansia di Indonesia berperan sebagai KRT,
terlepas apakah mereka produktif atau tidak. Selain itu, sebagian besar lansia
masih mempunyai pasangan, sekitar 60,87 persen lansia berstatus kawin.

Jika dilihat dari aspek pendidikan, Angka Melek Huruf (AMH) lansia cenderung
stagnan dalam lima tahun terakhir di angka 78 persen. Angka buta huruf lansia
yang tinggal di perdesaan dua kali lebih besar dibandingkan di perkotaan.
Dilihat dari segi gender, angka buta huruf lansia perempuan lebih tinggi
dibandingkan lansia laki-laki. Kemudian dilihat dari status disabilitas, lansia
penyandang disabilitas lebih berisiko buta huruf. Berdasarkan hasil Susenas
2018, sepertiga lansia penyandang disabilitas tidak mampu baca tulis.

vii
Pola keterkaitan karakteristik demografi dengan tingkat pendidikan masih terlihat
pada penduduk lanjut usia. Ketimpangan pendidikan antar tipe daerah, jenis
kelamin, dan kelompok pengeluaran sesuai dengan pola klasik dimana pendidikan
tinggi lebih banyak di perkotaan, lebih terbuka untuk laki-laki, dan dienyam oleh
mereka yang tinggal di rumah tangga dengan status ekonomi tinggi. Dilihat dari
jenis kelamin, lansia laki-laki bersekolah dua tahun lebih lama dibandingkan lansia
perempuan. Lansia dari kelompok pengeluaran tertinggi rata-rata bersekolah
sampai kelas 8 (setara kelas 2 SMP/sederajat), sedangkan lansia dari kelompok
pengeluaran menengah dan terbawah rata-rata tidak lulus SD/sederajat.
Salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) adalah meningkatkan
akses �eknologi �nformasi �omunikasi (TIK) bagi seluruh lapisan masyarakat,
tidak terkecuali lansia. Telepon seluler merupakan sarana TIK yang paling banyak
digunakan lansia, dimana 4 dari 10 lansia menggunakan telepon seluler (HP).

id
Penggunaan (HP), komputer, ataupun internet lebih tinggi di perkotaan dibandingkan

.
go
perdesaan. Dilihat dari jenis kelamin, lansia laki-laki cenderung lebih terpapar TIK.
s.
Kesehatan merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan lansia. Panjangnya
p
masa hidup pada lansia tak akan berarti tanpa disertai kesehatan prima dan
.b

produktivitas. Data Susenas tahun 2018 menunjukkan separuh lansia mengalami


w

keluhan kesehatan sebulan terakhir. Angka kesakitan lansia cenderung menurun


w

setiap tahun. Pada tahun 2018, satu dari empat lansia sakit dalam sebulan
//w

terakhir. Meskipun demikian, 9 dari 10 lansia Indonesia sudah memiliki


s:

respon aktif dalam mengatasi keluhan kesehatan yang dialami, baik dengan
mengobati sendiri, berobat jalan maupun kombinasi kedua respon aktif tersebut.
tp
ht

Tempat pilihan lansia dalam berobat jalan cukup bervariasi, akan tetapi
mayoritas lansia memilih praktik dokter/bidan untuk berobat jalan (35,30
persen). Kemunduran fungsi organ tubuh diiringi dengan penurunan
daya tahan tubuh menyebabkan rawat inap pada lansia seringkali tak
dapat dihindari. Rata-rata lamanya lansia dirawat inap kurang dari
seminggu (sekitar 6 hari) dan sekitar 47,55 persen lansia memilih RS
pemerintah sebagai tempat untuk memulihkan kondisi kesehatan mereka.

Dari sisi ketenagakerjaan, lansia bekerja merupakan fenomena yang kerap


terjadi. Motivasi yang melatarbelakangi lansia bekerja terbagi menjadi dua,
yaitu kebutuhan ekonomi atau keinginan untuk tetap aktif di hari tua. Faktanya,
sekitar 49,79 persen lansia di Indonesia masih bekerja. Pekerja lansia didominasi
oleh mereka yang tidak tamat SD dan tamat SD berturut-turut sebesar 47,59
persen dan 33,50 persen. Lapangan usaha yang mendominasi pekerjaan lansia
adalah pertanian yaitu sebesar 54,23 persen. Sektor pertanian identik dengan
upah rendah, sehingga hal ini dapat berpengaruh pada kesejahteraan lansia.

Dari aspek stabilitas pekerjaan, 9,97 persen lansia termasuk precarious worker

viii
yaitu pekerja bebas baik pertanian maupun non-pertanian. Precarious worker
cenderung tidak stabil dari segi upah dan jam kerja. Sementara itu, pekerja yang
termasuk vulnerable employment sebesar 50,39 persen. Lansia yang terserap
dalam vulnerable employment lebih cenderung untuk jatuh miskin ketika
permintaan menurun. Dari aspek jam kerja, sekitar 17,96 persen lansia bekerja
melebihi jam kerja layak dan 33,80 persen buruh lansia memperoleh upah
rendah. Dari data ketenagakerjaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kondisi
tenaga kerja lansia masih memprihatinkan bila dilihat dari aspek decent work.

Untuk menunjang kehidupan lansia, maka tempat tinggal yang aman dan
nyaman sangat diperlukan. Kepemilikan tempat tinggal juga menjadi salah satu
gambaran kesejahteraan penduduk lansia. Sekitar 9 dari 10 lansia tinggal di
rumah dengan status milik sendiri. Jika dilihat berdasarkan kriteria kelayakan,

id
persentase lansia di perkotaan yang tinggal di rumah layak huni terlihat lebih

.
go
tinggi dibandingkan lansia di perdesaan. Secara ekonomi, sebagian besar lansia
tinggal di rumah tangga dengan kelompok pengeluaran 40 persen terbawah.
s.
Dimana sumber pembiayaan dari rumah tangga lansia sebagian besar berasal
p
dari anggota rumah tangga yang bekerja yaitu sekitar 78,39 persen. Selain
.b

itu salah satu permasalahan sosial yang dihadapi oleh masyarakat baik di
w

perkotaan maupun di perdesaan adalah kriminalitas atau tindak kejahatan.


w

Sekitar 1,31 persen lansia pernah menjadi korban kejahatan dalam setahun
//w

terakhir. Jenis kejahatan yang paling banyak dialami oleh lansia yang pernah
s:

menjadi korban kejahatan adalah pencurian yaitu sekitar 86,41 persen.


tp

Beberapa bantuan sosial yang diterapkan di Indonesia adalah Bansos Rastra, Kartu
ht

PKH, KPS/KKS, dan Kredit Pengembangan Usaha. Sebesar 42,06 persen rumah
tangga lansia menerima Bansos Rastra pada tahun 2018. Sayangnya, penyaluran
Bansos Rastra tersebut belum berjalan sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah.
Kemudian, tercatat sekitar 7 dari 100 rumah tangga lansia di Indonesia memiliki
kartu PKH dan masih tercatat/menjadi penerima PKH, dengan persentase di
perdesaan lebih tinggi dibandingkan di perkotaan. Persentase rumah tangga
lansia yang memiliki KPS/KKS mengalami penurunan dibandingkan tahun 2017
(17,38 persen menjadi 15,85 persen). KPS/KKS yang seharusnya ditujukan kepada
keluarga miskin pada kenyataannya masih belum sepenuhnya tepat sasaran
karena ada sekitar 4,53 persen rumah tangga lansia pada kelompok 20% teratas
yang ternyata memiliki KPS/KKS. Pemerintah juga berupaya memberdayakan
lansia melalui pemberian bantuan Kredit Pengembangan Usaha. Sebesar
22,29 persen rumah tangga lansia menerima kredit pengembangan usaha,
dimana kredit yang paling banyak diterima adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Jaminan kesehatan nampaknya belum menjangkau seluruh penduduk lansia.


Masih ada satu dari tiga penduduk lansia yang tidak memiliki jaminan kesehatan.
Pemerintah berupaya meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan bagi

ix
penduduk lansia miskin melalui PBI. Sayangnya, masih ada 1 dari 5 penduduk
lansia dengan status ekonomi 20% teratas yang menerima PBI. Selain jaminan
kesehatan, terdapat jaminan pensiun, jaminan hari tua, jaminan kecelakaan
kerja, jaminan kematian, dan pesangon PHK bagi para penduduk lansia. Pada
tahun 2018, tercatat sekitar 13 dari 100 rumah tangga lansia memiliki jaminan
sosial, dengan mayoritas jaminan sosial yang dimiliki adalah jaminan pensiun.

. id
go
p s.
.b
w
w
//w
s:
tp
ht

x
DAFTAR ISI

Halaman
Kata Pengantar v
Ringkasan Eksekutif vii
Daftar Isi xi
Daftar Gambar xiii
Daftar Tabel xv

id
Daftar Lampiran Tabel xvii

.
go
Daftar Tabel Sampling Error xxi
Daftar Singkatan s. xxiii
p
.b

BAB 1 Pendahuluan
Penuaan Penduduk di Indonesia
w

3
Tren Penduduk Lansia: Kesempatan dan Tantangan
w

5
Bingkai Kebijakan Kelanjutusiaan
//w

7
Bonus demografi 8
s:

Data Lansia untuk Pembangunan 9


tp

BAB 2 Demografi
ht

Struktur Umur Penduduk Lansia 13


Lansia dalam Rumah Tangga 17
Status Tinggal Lansia 19

BAB 3 Pendidikan
Kemampuan Baca Tulis Lansia 25
Tingkat Pendidikan Lansia 27
Akses Teknologi Informasi dan Komunikasi 31

BAB 4 Kesehatan
Kondisi Kesehatan Lansia 37
Perilaku Pencarian Pengobatan Lansia 39
Perilaku Merokok Lansia 47

xi
Halaman
BAB 5 Ketenagakerjaan DAFTAR ISI
Kesempatan Lansia untuk Bekerja 53
Lapangan Pekerjaan dan Status Pekerjaan Lansia 56
Jam Kerja Layak 60
Pendapatan/Upah/Gaji yang Mencukupi 61

BAB 6 Sosial Ekonomi


Rumah Layak Bagi Lansia 67
Status Ekonomi Lansia 70
Lansia Korban Kejahatan 73

BAB 7 Perlindungan Sosial


Bantuan Sosial Lansia 77

id
Jaminan Sosial Lansia 83

.
go
BAB 8 Program Pro Lansia s.
Kebijakan Umum Pelayanan Kesejahteraan Lansia 89
p
Program-Program Pelayanan Lansia 90
.b
w
w

Daftar Pustaka 109


//w

Catatan Teknis 113


Lampiran Tabel 123
s:

Penghitungan Sampling Error 211


tp
ht

xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
1.1 Persentase Penduduk Lansia dan Balita, 1971-2045 4
2.1 Piramida Penduduk Indonesia, Tahun 1971, 2000, 2018 14
2.2 Distribusi Penduduk Lansia, 2018 15
2.3 Lima Provinsi dengan Struktur Penduduk Tua di Indonesia, 2018 16
2.4 Rasio Ketergantungan Penduduk Lansia, 2010-2018 17
Persentase Penduduk Lansia yang Menjadi Kepala Rumah
2.5 18

id
Tangga (KRT), 2018

.
go
3.1 Angka Melek Huruf Penduduk Lansia, 2014-2018 25
3.2 Angka Melek Huruf Penduduk Lansia Menurut Provinsi, 2018
s. 27
Persentase Penduduk Lansia Menurut Pendidikan Tertinggi
p
3.3 28
.b

yang Ditamatkan dan Kelompok Pengeluaran, 2018


w

Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Penduduk Lanjut


3.4 29
w

Usia, 2018
//w

Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Penduduk Lansia Menurut


3.5 30
Kelompok Pengeluaran dan Status Disabilitas, 2018
s:

Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Lansia Menurut


tp

3.6 30
Provinsi, 2018
ht

Persentase Penduduk Lansia yang Mengakses Internet, 2015-


3.7 32
2018
4.1 Angka Kesakitan Penduduk Lansia, 2015-2018 39
Persentase Lansia yang Tidak Berobat Jalan Menurut Alasan
4.2 43
Utama Tidak Berobat Jalan, 2018
Rata-rata Lama Rawat Inap Penduduk Lansia (hari) Menurut
4.3 44
Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2018
4.4 Persentase Lansia yang Merokok Selama Sebulan Terakhir, 2017 49
Persentase Lansia yang Pernah Merokok Menurut Tipe Daerah
4.5 49
dan Jenis Kelamin, 2017
5.1 Persentase Penduduk Lansia Bekerja, 2015-2018 54
Persentase Penduduk Lansia Menurut Jenis Kegiatan dalam
5.2 54
Seminggu Terakhir, 2018
Distribusi Penduduk Lansia yang Bekerja Menurut Tingkat
5.3 56
Pendidikan, 2018

xiii
Gambar Judul Halaman
5.4 Persentase Penduduk Lansia Bekerja yang Termasuk 59
Precarious Work, 2018
5.5 Persentase Penduduk Lansia Bekerja yang Termasuk 59
Vulnerable Employment, 2018
5.6 Rata-rata Jumlah Jam Kerja (dalam jam) dari Penduduk 61
Lansia yang Bekerja Menurut Kelompok Umur, 2018
5.7 Persentase Penduduk Lansia yang Bekerja sebagai Buruh 63
dengan Upah Rendah, 2018
5.8 Rata-rata Besarnya Pendapatan/Upah/Gaji (rupiah) dari 63
Lansia yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama,

id
2018

.
6.1 Persentase Penduduk Lansia yang Tinggal di Rumah Layak

go
69
Huni, 2014-2018 s.
6.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Kelompok 71
p
Pengeluaran Rumah Tangga, 2018
.b

6.3 Persentase Rumah Tangga Lansia Menurut Sumber 72


w

Pembiayaan Terbesar Rumah Tangga, 2018


w
//w

6.4 Persentase Lansia yang Pernah Menjadi Korban Kejahatan, 73


2018
s:

7.1 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Menerima Bansos 78


tp

Rastra, 2016-2018
ht

7.2 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Menerima Bansos 78


Rastra Menurut Tipe Daerah, 2018
7.3 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki Kartu 81
PKH dan yang Masih Tercatat/Menjadi Penerima PKH
Menurut Tipe Daerah, 2018
7.4 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki KPS/KKS, 81
2017-2018
7.5 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki KPS/KKS, 82
Menurut Tipe Daerah dan Kelompok Pengeluaran, 2018
7.6 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki Jaminan 85
Sosial Menurut Tipe Daerah, 2018
7.7 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki Jaminan 86
Sosial Menurut Tipe Daerah dan Jenis Jaminan Sosial,
2018

xiv
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
2.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Kelompok Umur, 15
2018
2.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Status Perkawinan, 19
2018
2.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Status Tinggal 20
Bersama, 2018

id
3.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Kemampuan Baca 26

.
Tulis, 2018

go
3.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Pendidikan
s. 28
Tertinggi yang Ditamatkan, 2018
p
3.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Akses Teknologi 31
.b

Informasi dan Komunikasi, 2018


w

4.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Kondisi Kesehatan, 38


w

2018
//w

4.2 Persentase Penduduk Menurut Tindakan Pengobatan, 40


s:

2018
tp

4.3 Persentase Penduduk Lansia yang Berobat Jalan Menurut 41


ht

Tempat Berobat, 2018


4.4 Persentase Penduduk Lansia yang Berobat Jalan Menurut 42
Jaminan Kesehatan yang Digunakan, 2018
4.5 Persentase Penduduk Lansia yang Rawat Inap menurut 45
Lamanya Rawat Inap, 2018
4.6 Persentase Penduduk Lansia yang Pernah Rawat Inap 46
Setahun Terakhir Menurut Tempat Rawat Inap, 2018
4.7 Persentase Penduduk Lansia yang Rawat Inap Menurut 47
Jaminan Kesehatan yang Digunakan, 2018
4.8 Persentase Lansia Menurut Kebiasaan Merokok, 2017 48
5.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Jenis Kegiatan 55
dalam Seminggu Terakhir, 2018
5.2 Persentase Penduduk Lansia Bekerja Menurut Lapangan 57
Pekerjaan Utama, 2018

xv
Tabel Judul Halaman
5.3 Persentase Penduduk Lansia Bekerja Menurut Status 58
Pekerjaan Utama, 2018
5.4 Persentase Penduduk Lansia Bekerja Menurut Jumlah 60
Jam Kerja dalam Seminggu, 2018
5.5 Persentase Penduduk Lansia Bekerja Menurut 62
Pendapatan/Upah/Gaji dalam Sebulan, 2018
6.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Karakteristik 68
Demografi dan Status Kepemilikan Tempat Tinggal, 2018
6.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Karakteristik 70
Demografi dan Status Kelayakan Rumah Tempat Tinggal,

id
2018

.
6.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Kelompok 72

go
Pengeluaran Rumah Tangga, 2018 s.
6.4 Persentase Lansia yang Menjadi Korban Kejahatan 74
p
Menurut Jenis Kejahatan, 2018
.b

7.1 Karakteristik Penyaluran Bantuan Sosial Beras Sejahtera 79


w

(Bansos Rastra) kepada Rumah Tangga Lansia, 2018


w
//w

7.2 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Menerima Bansos 80


Rastra Menurut Tipe Daerah dan Kelompok Pengeluaran,
s:

2018
tp

7.3 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Menerima 83


ht

Kredit Pengembangan Usaha Menurut Tipe Daerah dan


Kelompok Pengeluaran, 2018
7.4 Persentase Penduduk Lansia yang Menerima Jaminan 84
Kesehatan Menurut Jenis Jaminan Kesehatan, 2018

xvi
DAFTAR LAMPIRAN TABEL

Tabel Judul Halaman


2.1.1 - 2.1.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan 123 - 127
Kelompok Umur, 2018
2.2 Persentase Rumah Tangga Lansia Menurut Provinsi dan 128
Tipe Daerah, 2018
2.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi, Tipe 129
Daerah, dan Jenis Kelamin, 2018

id
2.4 Rasio Ketergantungan Penduduk Lansia Menurut Provinsi, 130

.
Tipe Daerah, dan Jenis Kelamin, 2018

go
2.5.1 - 2.5.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
s. 131 - 135
Keanggotaan rumah Tangga, 2018
p
2.6.1 - 2.6.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status 136 - 140
.b

Perkawinan, 2018
w

2.7.1 - 2.7.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status 141 - 145
w

Tinggal Bersama, 2018


//w

3.1.1 - 3.1.3 Angka Melek Huruf Penduduk Lanjut Usia Menurut 146 - 148
s:

Provinsi dan Jenis Kelamin, 2018


tp

3.2.1 - 3.2.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan 149 - 153
ht

Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2018


3.3.1 - 3.3.3 Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Lanjut Usia Menurut 154 - 156
Provinsi dan Jenis Kelamin, 2018
3.4 Persentase Penduduk Lansia Menurut Akses Teknologi 157
Informasi dan Komunikasi, 2018
4.1 Persentase Penduduk Lansia yang Mengalami Keluhan 158
Kesehatan Selama Sebulan Terakhir Menurut Provinsi,
Jenis Kelamin, dan Tipe Daerah, 2018
4.2 Angka Kesakitan Penduduk Lansia Menurut Provinsi, Jenis 159
Kelamin, dan Tipe Daerah, 2018
4.3 Persentase Penduduk Lansia yang Mengalami Keluhan 160
Kesehatan Selama Sebulan Terakhir dan Mengobati
Sendiri Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan Tipe Daerah,
2018

xvii
Tabel Judul Halaman
4.4 Persentase Penduduk Lansia yang Mengalami Keluhan 161
Kesehatan Selama Sebulan Terakhir dan Berobat Jalan
Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan Tipe Daerah, 2018
4.5 Persentase Penduduk Lansia yang Berobat Jalan Menurut 162
Provinsi dan Tempat Berobat, 2018
4.6 Persentase Penduduk Lansia yang Tidak Berobat Jalan 163
Menurut Provinsi dan Alasan Utama Tidak Berobat Jalan,
2018
4.7 Persentase Penduduk Lansia Berobat Jalan yang 164
Menggunakan Jaminan Kesehatan untuk Berobat Jalan,
2018

. id
4.8 Persentase Penduduk Lansia yang Pernah Dirawat Inap 165

go
Setahun Terakhir Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan
Tipe Daerah, 2018
p s.
4.9 Rata-rata Lama Rawat Inap (dalam hari) Lansia yang 166
.b

Pernah Dirawat Inap Setahun Terakhir Menurut Provinsi,


w

Jenis Kelamin, dan Tipe Daerah, 2018


w

4.10 Persentase Penduduk Lansia yang Pernah Dirawat Inap 167


//w

Setahun Terakhir Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan


Tipe Daerah, 2018
s:

4.11 Persentase Penduduk Lansia yang Rawat Inap Menurut 168


tp

Provinsi dan Tempat Rawat Inap, 2018


ht

4.12 Persentase Penduduk Lansia Rawat Inap yang 169


Menggunakan Jaminan Kesehatan untuk Rawat Inap,
2018
4.13 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan 170
Kebiasaan Merokok, 2017
5.1.1 - 5.1.5 Persentase Penduduk Lanjut Usia Menurut Provinsi dan 172 - 175
Jenis Kegiatan dalam Seminggu Terakhir, 2018
5.2 Persentase Penduduk Lanjut Usia Bekerja Menurut 176
Provinsi dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2018
5.3 Persentase Penduduk Lanjut Usia Bekerja Menurut 177
Provinsi dan Lapangan Usaha Utama, 2018
5.4 Persentase Penduduk Lanjut Usia Bekerja Menurut 178
Provinsi dan Status Pekerjaan Utama, 2018
5.5 Persentase Penduduk Lanjut Usia yang Termasuk 179
Precarious Work Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2018

xviii
Tabel Judul Halaman
5.6 Persentase Penduduk Lanjut Usia yang Termasuk 180
Vulnerable Employment Menurut Provinsi dan Tipe
Daerah, 2018
5.7 Rata-rata dan Persentase Jumlah Jam Kerja dalam 181
Seminggu dari Penduduk Lansia Bekerja Menurut
Provinsi, 2018
5.8 Rata-rata dan Persentase Pendapatan/Upah/Gaji dari 182
Penduduk Lansia Bekerja Menurut Provinsi, 2018
5.9 Persentase Penduduk Lanjut Usia yang Bekerja sebagai 183
Buruh dan Memperoleh Upah Rendah, 2018

id
6.1.1 - 6.1.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status 184 - 188

.
Kepemilikan Tempat Tinggal, 2018

go
6.2.1 - 6.2.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
s. 189 - 193
Kelayakan Tempat Tinggal, 2018
p
6.3.1 - 6.3.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status 194 - 198
.b

Ekonomi Rumah Tangga, 2018


w

6.4 Persentase Penduduk Lansia yang Pernah Menjadi Korban 199


w

Kejahatan Setahun Terakhir Menurut Provinsi dan Tipe


//w

Daerah, 2018
s:

7.1 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Membeli/ 200


tp

Menerima Bantuan Sosial Beras Sejahtera (Bansos Rastra)


dalam Empat Bulan Terakhir, 2018
ht

7.2 Rata-Rata Banyaknya (kg) Beras Sejahtera yang Dibeli/ 201


Diterima Rumah Tangga Lansia Menurut Provinsi, 2018
7.3 Rata-Rata Harga per kg (rupiah) Beras Sejahtera yang 202
Dibeli/Diterima Rumah Tangga Lansia Menurut Provinsi,
2018
7.4 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki Kartu 203
PKH Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2018
7.5 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Masih Tercatat/ 204
Menjadi Penerima PKH Menurut Provinsi dan Tipe
Daerah, 2018
7.6.1 - 7.6.3 Persentase Rumah Tangga Lansia Menurut Provinsi 205 - 207
dan Kepemilikan Kartu Perlindungan Sosial (KPS)/Kartu
Keluarga Sejahtera (KKS), 2018
7.7 Persentase Penduduk Lansia yang Memiliki Jaminan 208
Kesehatan Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan Tipe
Daerah, 2018

xix
Tabel Judul Halaman
7.8 Persentase Penduduk Lansia yang Memiliki Jaminan 209
Kesehatan Menurut Provinsi dan Jenis Jaminan Kesehatan,
2018
7.9 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki Jaminan 210
Sosial Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2018
7.10 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki/ 211
Menerima Jaminan Sosial Menurut Provinsi dan Jenis
Jaminan Sosial, 2018

. id
go
p s.
.b
w
w
//w
s:
tp
ht

xx
DAFTAR TABEL
SAMPLING ERROR

Tabel Judul Halaman


A1 - A.5 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia Menurut 217-221
Provinsi, 2018
B.1 - B.3 Sampling Error Persentase Rumah Tangga Penduduk Lansia 222-224
Menurut Provinsi, 2018

id
C.1 - C.5 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia yang Tinggal 225-229

.
Sendiri Menurut Provinsi, 2018

go
D.1 - D.5 Sampling Error Rata-rata Lama Sekolah dari Penduduk Lansia
s. 230-234
Menurut Provinsi, 2018
p
E.1 - E.5 Sampling Error Angka Kesakitan Penduduk Lansia Menurut 235-239
.b

Provinsi, 2018
w

F.1 - F.5 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia yang Bekerja 240-244
w

Menurut Provinsi, 2018


//w

G.1 - G.5 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia yang Tinggal di 245-249
s:

Rumah Tangga Ekonomi Bawah Menurut Provinsi, 2018


tp

H.1 - H.3 Sampling Error Persentase Rumah Tangga Lansia yang 250-252
ht

Menerima Beras Sejahtera (Rastra) Menurut Provinsi, 2018


I.1 - I.3 Sampling Error Persentase Rumah Tangga Lansia yang 253-255
Memiliki Jaminan Sosial Menurut Provinsi, 2018
J.1 - J.5 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia yang Memiliki 256-260
Jaminan Kesehatan Menurut Provinsi, 2018

xxi
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
DAFTAR SINGKATAN

1. ART: Anggota Rumah Tangga


2. AMH: Angka Melek Huruf
3. ABH: Angka Buta Huruf
4. ASKESKIN: Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin
5. ASLUT: Asistensi Sosial Lanjut Usia
6. Bansos: Bantuan Sosial
7. BPS: Badan Pusat Statistik
8. BPNT: Bantuan Pangan Non Tunai

id
9. DPTK: Daerah Tertinggal Perbatasan Kepulauan

.
HP: Handphone/telepon seluler

go
10.
11. JKN: Jaminan Kesehatan Nasional s.
12. Jamkesda: Jaminan Kesehatan Daerah
p
13. Jamkesmas: Jaminan Kesehatan Masyarakat
.b

14. JSLU: Jaminan Sosial Lanjut Usia


w

15. KB: Keluarga Berencana


w

16. Kemenkes: Kementerian Kesehatan


//w

17. KIS: Kartu Indonesia Sehat


18. KKS: Kartu Keluarga Sejahtera
s:

19. KPM: Keluarga Penerima Manfaat


tp

20. KPS: Kartu Perlindungan Sosial


ht

21. KRT: Kepala Rumah Tangga


22. KUR: Kredit Usaha Rakyat
23. Lansia: Lanjut usia
24. PBI: Penerima Bantuan Iuran
25. Permensos: Peraturan Menteri Kementerian Sosial
26. PHK: Pemutusan Hubungan Kerja
27. PKH: Program Keluarga Harapan
28. PT: Perguruan Tinggi
29. Pustu: Puskesmas Pembantu
30. Raskin: Beras untuk Masyarakat Miskin
31. Rastra: Beras Sejahtera
32. RSE: Relative Standard Error
33. RTS: Rumah Tangga Sasaran
34. RPJMN: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
35. Sakernas: Survei Angkatan Kerja Nasional
36. SD: Sekolah Dasar
37. SDGs: Sustainable Development Goals / Target Pembangunan Berkelanjutan
38. SDM: Sumber Daya Manusia

xxiii
39. SE: Standard Error
40. SJSN: Sistem Jaminan Sosial Nasional
41. SM: Sekolah Menengah
42. SMP: Sekolah Menengah Pertama
43. SMK: Sekolah Menengah Kejuruan
44. Stranas: Strategi Nasional
45. Susenas: Survei Sosial Ekonomi Nasiona
46. TIK: Teknologi Informasi dan Komunikasi
47. TPAK: Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
48. UEP: Usaha Ekonomi Produktif
49. UKBM: Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
50. UU: Undang-undang

. id
go
p s.
.b
w
w
//w
s:
tp
ht

xxiv
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
1
PENDAHULUAN
Sebagai sebuah negara kepulauan dengan jumlah populasi keempat terbesar di
dunia menurut World Population Prospect 2017 Revision oleh Perserikatan Bangsa-
Bangsa (PBB), pertumbuhan penduduk Indonesia sangat berpengaruh terhadap
komposisi penduduk dunia. Bahkan, dari tahun 2017 hingga 2050 diperkirakan
bahwa separuh dari pertumbuhan penduduk dunia akan terkonsentrasi pada
sembilan negara saja, salah satunya adalah Indonesia. Populasi dunia saat ini
berada pada era penduduk menua (ageing population) dengan jumlah penduduk

id
yang berusia 60 tahun ke atas melebihi 7 persen populasi. Seiring dengan

.
go
pertumbuhan tersebut, jumlah penduduk lanjut usia (lansia) semakin lama
juga semakin meningkat dan berkontribusi cukup tinggi terhadap pertumbuhan
s.
penduduk secara keseluruhan. Populasi lansia mencapai 962 juta orang pada
p
tahun 2017, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 1980 yaitu hanya 382 juta
.b

lansia di seluruh dunia. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat pada tahun
w

2050 yang prediksinya akan mencapai sekitar 2,1 miliar lansia di seluruh dunia.
w
//w

Bagaimana dengan Indonesia? Sejalan dengan hal tersebut, persentase lansia


s:

di Indonesia juga semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2018,
terdapat 9,27 persen atau sekitar 24,49 juta lansia dari seluruh penduduk.
tp

Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya terdapat


ht

8,97 persen (sekitar 23,4 juta) lansia di Indonesia. Kenaikan ini diperkirakan
akan terus terjadi untuk beberapa tahun ke depan, walaupun jumlah serta
komposisi penduduk sebenarnya sangat dinamis dan tergantung pada tiga proses
demografi yang tidak dapat diprediksi secara pasti yaitu kelahiran, kematian,
dan migrasi. Perubahan ini juga tentu akan berdampak pada pergeseran struktur
umur penduduk dan akan mempengaruhi berbagai lini kehidupan negara.

Penuaan Penduduk di Indonesia

Lanjut usia atau lansia adalah seseorang yang telah


mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas menurut UU Nomor
13 Tahun 1998. Secara global, populasi lansia tumbuh lebih cepat
dibandingkan penduduk usia lebih muda.
Persentase penduduk lansia yang semakin meningkat,
berbanding terbalik dengan persentase balita yang cenderung
menurun setiap tahunnya. Hal ini tidak lepas dari berhasilnya program
Keluarga Berencana (KB) yang telah dicanangkan sejak tahun 1970.
Setelah program KB mulai dilaksanakan, terjadi perubahan persepsi

3
masyarakat mengenai jumlah anak yang ideal yang mengakibatkan
penurunan angka kelahiran yang cukup signifikan. Sejalan dengan
hal ini, peningkatan program-program layanan kesehatan oleh
pemerintah ikut turut berkontribusi terhadap membaiknya tingkat
kesehatan masyarakat, ditandai dengan peningkatan angka harapan
hidup penduduk.

Gambar 1.1 Persentase Penduduk Lansia dan Balita, 1971-2045

. id
go
p s.
.b
w
w
//w
s:

Sumber : BPS, SP 1971, 1980, 1990, 2000, 2010


tp

BPS, SUPAS 1985, 1995, 2005


ht

BPS, Proyeksi Penduduk Indonesia (2015-2045)

Jika melihat secara global, Indonesia


berkontribusi secara signifikan terhadap
pertumbuhan lansia di seluruh dunia. Indonesia
diperkirakan akan mengalami “elderly population
boom” pada 2 dekade awal abad ke-21 sebagai
dampak dari baby boom pada beberapa puluh
tahun yang lalu. BPS memproyeksikan pada
tahun 2045 Indonesia akan memiliki sekitar 63,31 juta lansia atau
hampir mencapai 20 persen populasi. Bahkan, proyeksi PBB juga
menyebutkan bahwa persentase lansia Indonesia akan mencapai
25 persen pada tahun 2050 atau sekitar 74 juta lansia. Penuaan
penduduk ini terlihat sebagai hasil dari berhasilnya program yang
telah dicanangkan seperti program peningkatan nutrisi, kesehatan,
perumahan, KB, air minum bersih dan sanitasi yang secara signifikan
mencegah kematian pada anak.
Persentase penduduk lansia akan terus meningkat seiring
bertambahnya waktu. PBB juga memprediksi bahwa tahun 2030

4
jumlah lansia akan melebihi jumlah anak di bawah 10 tahun (1,41
miliar berbanding 1,35 miliar). Bahkan, proyeksi di tahun 2050
mengindikasikan bahwa akan lebih banyak lansia usia 60 tahun ke
atas daripada remaja dan pemuda usia 10 s.d. 24 tahun yaitu sekitar
2,1 miliar berbanding 2 miliar di seluruh dunia.
Pertumbuhan lansia yang sangat pesat ini diperkirakan
juga akan terjadi di Indonesia. Berdasarkan data proyeksi yang
dikeluarkan BPS, diperkirakan pada tahun 2045 lansia Indonesia
akan meningkat sebesar 2,5 kali lipat dibandingkan lansia tahun
2018. Pada 2045 nanti berdasarkan prediksi ini dapat dikatakan
bahwa hampir seperlima penduduk Indonesia adalah lansia. Angka
ini begitu besar jika disandingkan dengan prediksi jumlah balita
yang hanya sekitar 22 juta jiwa atau 6,88 persen dari total populasi.

. id
go
Tren Penduduk Lansia: Kesempatan dan Tantangan
p s.
Pertumbuhan lansia yang cukup signifikan menandakan
.b

bahwa program-program terkait pelayanan kesehatan yang telah


w

dicanangkan pemerintah beberapa tahun ke belakang sudah


w

cukup berhasil, seperti penguatan pelayanan kesehatan di Daerah


//w

Tertinggal Perbatasaan Kepulauan (DPTK), peningkatan pelayanan


fasilitas puskesmas serta sarana dan prasarananya, optimalisasi
s:

program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat


tp

(JKN-KIS), dan berbagai program-program pemerintah lainnya.


ht

Selain itu, fakta ini juga menggambarkan bahwa sistem jaminan


sosial nasional (termasuk jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan
kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan jaminan kematian)
yang diatur pada UU No. 40 Tahun 2004 telah berjalan dengan
semestinya. Seiring dengan semakin baiknya program yang telah
dicanangkan pemerintah, termasuk pelayanan kesehatan, maka
harapan hidup masyarakat juga terus meningkat dan berdampak
pada meningkatnya jumlah lansia di Indonesia.
Tak luput dari sorotan adalah berbagai program kelanjutusiaan
yang terus digenjot agar kesejahteraan lansia semakin meningkat
seperti program family support, pelayanan sosial kedaruratan bagi
lansia, day care services, lansia tangguh, pengembangan kawasan
ramah lansia, dan berbagai program lainnya. Keberhasilan berbagai
program dan kegiatan yang telah dicanangkan ini bukan hanya
tugas pemerintah, namun peran serta seluruh pihak termasuk juga
lembaga kelanjutusiaan dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk
mendukung keberhasilan kegiatan-kegiatan ini.
Pertumbuhan penduduk lansia yang sangat pesat seperti

5
yang telah dijabarkan akan membawa dampak baik positif maupun
negatif terhadap pembangunan Indonesia. Dampak tersebut
dipengaruhi oleh seberapa baik bangsa ini mempersiapkan
kehidupan lansianya di masa yang akan datang. Ibarat dua sisi mata
pisau, peningkatan jumlah penduduk lansia dapat memberikan
kesempatan sekaligus tantangan yang harus dihadapi yang akan
menentukan ke mana nasib bangsa ini ke depan.
Hal ini akan berdampak positif, jika lansia
Indonesia berada dalam keadaan mandiri, sehat,
aktif, dan produktif. Lansia ‘mapan’ yang telah
mempersiapkan masa tua nya sebaik mungkin
sebelum memasuki usia senja sedikit banyak
turut membantu kesejahteraan keluarga. Secara

id
tidak langsung, hal ini akan berdampak pula

.
go
pada peningkatan ekonomi masyarakat dan
bermuara pada semakin baiknya nasib bangsa s.
ini kelak.
p
Fenomena tersebut juga akan meringankan beban penduduk
.b

usia produktif yang seharusnya menanggung hidup para lansia.


w

Semakin banyaknya lansia yang masih bisa produktif dalam ekonomi


w

dan menanggung hidup (paling tidak) untuk dirinya sendiri, maka


//w

ketergantungan lansia terhadap orang lain juga dapat berkurang


s:

secara signifikan.
Di sisi lain, peningkatan jumlah lansia juga akan menjadi
tp

tantangan tersendiri ketika persiapan pra-lansia untuk menyambut


ht

masa senja tidak terlalu baik yang mengakibatkan lansia di masa


mendatang jauh dari kata sehat, aktif, dan produktif. Hal tersebut
berimplikasi terhadap meningkatnya beban penduduk usia
produktif terhadap penduduk usia nonproduktif, khususnya lansia.
Ditambah lagi, seiring berjalannya waktu, lansia secara alami juga
akan menghadapi masalah penurunan kesehatan yang berakibat
pada peningkatan biaya kesehatan, penurunan pendapatan,
peningkatan disabilitas, yang pada akhirnya akan mempengaruhi
tingkat kesejahteraan rakyat. Dengan berbagai kebutuhan lansia
dari sisi kesehatan, asistensi, dan berbagai kebutuhan lain yang
semakin meningkat, keluarga penanggung lansia dituntut untuk
lebih memperoleh pendapatan ekstra dalam memenuhi kebutuhan
tersebut, di samping memenuhi kebutuhan anggota keluarga
yang lain. Jika keluarga-keluarga dengan kondisi seperti ini tidak
dapat bertahan dengan baik, akan berpengaruh pada daya beli
masyarakat yang ujung-ujungnya juga berdampak pada menurunnya
perekonomian negara di masa mendatang.

6
Bingkai Kebijakan Kelanjutusiaan

Pemerintah tidak main-main dalam menyoroti usaha


peningkatan kesejahteraan lansia di Indonesia, bahkan hal ini telah
dilakukan sejak orde lama melalui UU RI Nomor 4 Tahun 1965 tentang
Pemberian Bantuan Penghidupan Orang Jompo. Seiring berjalannya
waktu dan perkembangan permasalahan lanjut usia, UU tersebut
dianggap tidak relevan lagi dan dicabut, kemudian digantikan
dengan UU RI Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan
Lanjut Usia. Turut mendukung hal tersebut, disusunlah Peraturan
Pemerintah RI Nomor 43 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Upaya
Peningkatan Kesejahteraan Lanjut Usia, yang meliputi pelayanan
keagamaan dan mental spiritual, pelayanan kesehatan, pelayanan

id
kesempatan kerja, pelayanan pendidikan dan latihan, pelayanan

.
go
untuk mendapatkan kemudahan dalam penggunaan fasilitas,
sarana dan prasarana umum, pemberian kemudahan dan layanan
s.
bantuan hukum, pemberian perlindungan sosial, bantuan sosial
p
.b

dan pemberian penghargaan terhadap


masyarakat. Selain itu, sebagai bentuk
w

penghargaan terhadap lansia, Hari


w

Lanjut Usia Nasional (HLUN) dicanangkan


//w

secara resmi oleh presiden Soeharto


s:

pada tanggal 29 Mei 1996. Sejak saat itu,


tp

HLUN diperingati setiap tanggal 29 Mei


setiap tahun sebagai wujud kepedulian
ht

dan penghargaan pemerintah terhadap


keberadaan kaum lansia.
Kebijakan kelanjutusiaan juga dituangkan dalam perumusan
RPJMN 2015-2019 dengan memfokuskan pada dua hal yaitu
Peningkatan pemenuhan hak dasar dan inklusivitas penyandang
disabilitas, lansia, serta kelompok masyarakat marjinal pada setiap
aspek penghidupan, serta penguatan skema pelindungan sosial bagi
lansia. Hal ini sejalan dengan sasaran dan target dari Sustainable
Development Goals (SDGs) yang bertujuan memenuhi hak setiap
orang tanpa memandang kelompok umur, dengan fokus khusus
pada kelompok paling rentan, termasuk lansia.
Selain itu, sejalan dengan apa yang tertera pada Nawacita
butir kelima yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia,
pemerintah beserta Kementerian/Lembaga terkait kelanjutusiaan
juga sedang menyiapkan rancangan Strategi Nasional (Stranas)
Kelanjutusiaan 2018-2025. Dalam dokumen Stranas Kelanjutusiaan
2018-2025 tersebut memuat lima hal pokok yang perlu menjadi
perhatian, yaitu: pembangunan masyarakat dan SDM kelanjutusiaan,

7
penguatan institusi pelaksana kelanjutusiaan, perlindungan sosial,
jaminan pendapatan dan kapasitas individu, peningkatan derajat
kesehatan lansia, dan perlindungan pemenuhan dan penghormatan
terhadap hak lansia.
Kemudian, Kementerian Sosial mengeluarkan Permensos RI
Nomor 4 Tahun 2017 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan
Ramah Lanjut Usia sebagai acuan dalam pengembangan kawasan
ramah lanjut usia bagi pemerintah, masyarakat, maupun dunia
usaha. Pengembangan kawasan ramah lansia tersebut ditujukan
untuk mendukung kebutuhan serta pemenuhan hak lansia dalam
mewujudkan lansia yang mandiri, sehat, aktif, dan produktif. Dengan
adanya peraturan tersebut, diharapkan kawasan yang ramah akan
lansia juga semakin banyak, sehingga para lansia juga semakin

id
terfasilitasi dengan baik dalam melakukan berbagai aktifitasnya.

.
go
Semakin banyak pihak yang memberikan perhatian terhadap
masalah kelanjutusiaan, diharapkan dapat menghasilkan regulasi
s.
yang terarah, terstruktur, komprehensif, serta mampu memayungi
p
para lansia agar mereka mampu menjadi lansia yang mandiri,
.b

bermartabat, dan produktif. Sehingga dengan begitu kehadiran


w

lansia tidak lagi dipandang sebelah mata, akan tetapi mampu


w

memberikan rasa keadilan yang proporsional.


//w
s:

Bonus demografi
tp

Pada saat ini, Indonesia sedang berada pada periode


ht

kesempatan demografi. Kesempatan ini harus dimanfaatkan


sepenuhnya baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Bonus
demografi dihitung berdasarkan economic support ratio dengan
melihat jumlah penduduk usia produktif menanggung penduduk
usia tidak produktif (termasuk lansia). Hal ini akan memberikan
gambaran lebih efektif mengenai potensi penduduk yang tersedia
untuk selanjutnya dapat lebih dioptimalkan dalam pembangunan.
Menurut perhitungan, Indonesia telah mengalami bonus
demografi sejak 2012, dan puncaknya akan terjadi pada 2020an.
Berdasarkan proyeksi penduduk 2015-2045 yang dilakukan oleh BPS,
diperoleh bahwa prediksi rasio ketergantungan/dependency ratio
terendah berada pada tahun 2022 yaitu sebesar 45,4 persen yang
menggambarkan bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif
mempunyai tanggungan sebanyak setidaknya 45 orang yang tidak
produktif. Rasio ketergantungan ini akan meningkat sejalan dengan
meningkat pula jumlah lansia beberapa tahun mendatang.
Pemanfaatan kondisi bonus demografi ini tentu akan
memberi dampak yang positif pula pada peningkatan jumlah lansia

8
di masa yang akan datang. Apabila lapangan kerja yang diciptakan
semakin banyak sehingga penduduk usia produktif juga semakin
produktif dari sisi perekonomian, maka masyarakat juga dapat lebih
mempersiapkan masa tua dengan sebaik-baiknya, tabungan hari
tua mulai dapat disisihkan, pengobatan dan pencegahan penyakit
juga dapat dilakukan sedini mungkin, bahkan berbagai usaha
ekonomi sebagai penopang hidup di masa lansia nanti juga sudah
mulai dipersiapkan. Hal itu akan terjadi jika bonus demografi dapat
dimanfaatkan dengan baik.
Pemerintah berusaha semaksimal mungkin agar dapat
mengambil manfaat penuh dari hal tersebut melalui kebijakan
ekonomi dan tenaga kerja yang mendukung. Namun, tentunya
harus didukung dengan program lain seperti program KB yang tetap

id
harus diperkuat untuk mencapai penurunan fertilitas.

.
go
Melihat tantangan demografi ini melibatkan semua pihak di
berbagai sektor, maka pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus
s.
terus berkoordinasi secara intensif dengan berbagai pemangku
p
kepentingan dalam menyusun kebijakan yang berkesinambungan.
.b

Kerja sama dan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat,


w

pemerintah daerah, pelaku usaha dan industri, serta masyarakat


w

luas juga memegang peranan penting dalam menjawab tantangan


//w

demografi ini.
s:

Data Lansia untuk Pembangunan


tp
ht

Melihat peningkatan jumlah lansia yang semakin tinggi


dari waktu ke waktu, maka dibutuhkan kebijakan dan peraturan
pemerintah yang dinamis, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
lansia dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam penyediaan data
dan informasi terkait lansia yang selalu berubah secara kontinu
dari waktu ke waktu, BPS telah melakukan berbagai kegiatan
pengumpulan data (baik primer maupun sekunder) terkait kondisi
lansia dan mengemasnya dalam suatu bentuk buku publikasi
“Statistik Penduduk Lanjut Usia 2018”. Publikasi ini memuat
informasi lansia yang dilihat dari berbagai aspek, yaitu : demografi,
pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial ekonomi, dan
perlindungan sosial, serta program-program pro lansia yang sudah
dijalankan oleh pemerintah.
Secara keseluruhan, publikasi ini menyajikan data dan
informasi tantang lansia yang sangat bermanfaat sebagai bahan
perencanaan, monitoring, dan evaluasi kebijakan maupun program
pembangunan di bidang kelanjutusiaan berdasarkan data yang
bersumber dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)

9
Maret 2018, Survei Angkatan kerja Nasional (Sakernas) Agustus
2018, serta data sekunder dari berbagai Kementerian/Lembaga.
Selain itu, publikasi ini juga disusun secara sistematis menjadi
delapan bagian dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang
mampu menggambarkan kehidupan lansia Indonesia serta berbagai
fenomena yang menyertainya. Ringkasan eksekutif di bagian awal
publikasi dimaksudkan untuk memberikan gambaran ringkas dari
keseluruhan isi publikasi. Uraian yang rinci disajikan dalam bab-
bab sesuai tema bahasan dari publikasi. Bagian pertama (Bab 1)
menyajikan bagaimana perjalanan penuaan penduduk Indonesia
dari waktu ke waktu beserta kesempatan dan tantangan yang akan
dihadapinya. Selanjutnya, bagaimana potret lansia Indonesia dari
sudut pandang demografi dijabarkan secara komprehensif pada

id
Bab 2. Lansia juga memiliki potensi yang dapat diberdayakan guna

.
go
menunjang pembangunan nasional. Hal ini dikupas tuntas pada
Bab 3 dan Bab 4, masing-masing untuk melihat sejauh mana tingkat
s.
pendidikan dan kesehatan lansia. Sementara itu, untuk mengukur
p
keterlibatan lansia secara nyata dalam menggerakkan perekonomian
.b

negeri ini dapat dilihat pada Bab 5. Kondisi sosial ekonomi rumah
w

tangga lansia juga tidak luput dari perhatian penulisan publikasi ini,
w

di mana fakta-fakta yang ada dijabarkan pada Bab 6. Selanjutnya,


//w

program-program yang sudah diterima oleh rumah tangga lansia


s:

digambarkan pada Bab 7 dan Bab 8 menjelaskan sudah sejauh


mana Kementerian/Lembaga sudah menjalankan program pro
tp

lansia. Sebagai penutup dari penulisan buku ini ditampilkan catatan


ht

teknis yang mampu menjelaskan beberapa istilah yang digunakan


dalam penulisan buku ini serta Relative Standard Error (RSE) yang
menggambarkan rentang kesalahan data hasil survei yang digunakan
dalam publikasi ini.

10
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
2
DEMOGRAFI
Demografi adalah studi tentang perubahan dalam ukuran, keragaman, distribusi
dan komposisi populasi penduduk dari waktu ke waktu (A.B. Newman dan J.A.
Cauley, 2012). Komposisi umur penduduk dunia telah berubah selama abad ke-
20. Perubahan tersebut berlanjut hingga abad ke-21. Secara spesifik, ukuran
dan proporsi dari penduduk lanjut usia (penduduk 60 tahun ke atas) mengalami
kenaikan yang cukup signifikan dan akan terus bertambah. Ini terjadi karena

id
penduduk dunia secara umum sedang mengalami transisi demografi. Kemajuan

.
go
di bidang kesehatan telah meningkatkan angka harapan hidup dan menurunkan
angka kematian. Hal tersebut salah satunya berimplikasi terhadap struktur umur
s.
penduduk lansia, kedudukan lansia dalam rumah tangga, serta status tinggal lansia.
p
.b

Struktur Umur Penduduk Lansia


w
w

Peningkatan struktur umur penduduk merupakan dampak


//w

dari peningkatan usia harapan hidup sehingga membawa


konsekuensi bertambahnya jumlah dan persentase penduduk
s:

usia lanjut. Keberhasilan pembangunan terkait perbaikan kualitas


tp

kesehatan dan kondisi sosial masyarakat yang meningkat menjadi


ht

faktor pendorong tingginya jumlah dan persentase penduduk lanjut


usia. Hal tersebut tentu saja tidak serta merta terjadi begitu saja
akan tetapi telah melalui suatu proses yang cukup lama berlangsung,
dimana saat ini prevalensi kematian dan kelahiran sudah relatif stabil.
Sebagaimana yang terlihat pada gambar 2.1, selama kurun
waktu 1971-2018 terlihat bahwa struktur umur penduduk
Indonesia terus mengalami perubahan dan mulai bergeser
menuju usia lanjut. Mereka yang sebelumnya merupakan
bonus dari demografi dan terlahir di era baby boom, mulai
bergeser menjadi penduduk produktif yang nantinya akan
menjadi penduduk lansia.
Menjadi lansia artinya menduduki puncak dari siklus hidup
manusia dan setiap fase di dalamnya bagaikan rantai kehidupan yang
saling berkaitan. Oleh karena itu, keadaan lansia saat ini ditentukan
bagaimana kehidupan mereka di masa lalu. Mempersiapkan pra
lansia untuk menyongsong masa tua dengan tangguh dan produktif
perlu dilakukan sejak dini dengan melibatkan seluruh lapisan
masyarakat. Hal ini bertujuan agar 16 persen pra lansia Indonesia

13
di tahun 2018 ini tetap memiliki kesehatan prima dan produktivitas
tinggi hingga memasuki masa lansia, sehingga dapat diandalkan
sebagai bagian dari aset bangsa dalam menggerakkan roda
perekonomian negeri ini.

Gambar 2.1 Piramida Penduduk Indonesia, Tahun 1971, 2000,


2018

. id
go
p s.
.b
w

Sumber : SP 1971, SP 2000, dan Proyeksi Penduduk Indonesia 2018


w
//w

Selama kurun waktu hampir 50 tahun (1971-2018),


persentase penduduk lansia Indonesia meningkat sekitar dua kali
s:

lipat. Pada tahun 2018, persentase lansia mencapai 9,27 persen


tp

lansia atau sekitar 24,49 juta orang. Kondisi ini menunjukkan bahwa
ht

Indonesia sedang bertransisi menuju ke arah struktur penduduk tua


(ageing population) karena persentase penduduk berusia di atas
60 tahun mencapai di atas 7 persen dari keseluruhan penduduk.
Fenomena tersebut akan semakin berarti jika kelompok lanjut usia
bisa mandiri, berkualitas, dan tidak menjadi beban masyarakat
serta dapat berperan dalam pembangunan nasional. Keberadaan
penduduk lansia tersebut tersebar di perkotaan dan perdesaan.
Pada tahun 2017, lansia di perdesaan mencapai 50,36 persen,
sedangkan di perkotaan sekitar 49,64 persen. Pada tahun 2018
terjadi suatu pergeseran, lansia Indonesia lebih banyak yang tinggal
di perkotaan (51,60 persen) dibandingkan di perdesaan (48,40
persen). Adapun persentase lansia di Indonesia didominasi oleh
lansia muda (kelompok umur 60-69 tahun) yang persentasenya
mencapai 63,39 persen, sisanya adalah lansia madya (kelompok
umur 70-79 tahun) sebesar 27,92 persen dan lansia tua (kelompok
umur 80+) sebesar 8,69 persen sebagaimana yang dapat dilihat
pada Gambar 2.2 berikut.

14
Gambar 2.2 Distribusi Penduduk Lansia, 2018

. id
go
Sumber: BPS, Susenas Maret 2018.
s.
Kelompok lanjut usia biasanya merasakan kesepian di
p
.b

tengah masyarakat. Kondisi tersebut akan semakin buruk jika


w

ditambah dengan perekonomian yang sulit dan kondisi sosial yang


w

tidak kondusif sehingga menyebabkan lansia stress, depresi, hingga


schizophrenia. Keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki lansia
//w

tersebut menjadikan mereka mempunyai pilihan ruang yang sempit


s:

sehingga lebih nyaman berada di tengah komunitas yang kultur dan


tp

kondisinya relatif sama.


ht

Tabel 2.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Kelompok


Umur, 2018

Kelompok Umur
Karakteristik Lansia Lansia
Pra Lansia Lansia Lansia
Muda Madya
(45-59) Tua (80+) (60+)
(60-69) (70-79)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Total 16,91 5,88 2,59 0,81 9,27
Tipe Daerah
Perkotaan 16,88 5,61 2,43 0,71 8,75
Perdesaan 16,95 6,19 2,78 0,93 9,90

Jenis Kelamin
Laki-Laki 16,81 5,83 2,33 0,62 8,78
Perempuan 17,01 5,93 2,84 1,00 9,77
Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

15
Persentase lansia mengalami penurunan dibandingkan tahun
2018, hal ini terjadi di sebagian besar provinsi yang diantaranya
merupakan provinsi dengan persentase penduduk lansia terbanyak.
Data Susenas Maret 2018 menunjukkan bahwa provinsi dengan
persentase penduduk lansia terbanyak pada tahun 2018 adalah
DI Yogyakarta (12,37 persen), Jawa Tengah (12,34 persen), Jawa
Timur (11,66 persen), Sulawesi Utara (10,26 persen), dan Bali (9,68
persen).

Gambar 2.3 Lima Provinsi dengan Struktur Penduduk Tua di


Indonesia, 2018

. id
go
p s.
.b
w
w
//w
s:
tp
ht

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

Meskipun terjadi penurunan penduduk lansia akan tetapi


karena kecenderungan penduduk lansia yang semakin
bertambah perlu diperhatikan. Perlu dilakukan banyak
investasi pengembangan di bidang pelayanan untuk
lanjut usia yang mempertimbangkan kebutuhan lansia,
dan kondisi/metabolisme lansia yang menurun agar
memberikan rasa nyaman dan aman bagi lansia baik
secara fisik maupun psikologis sehingga mereka dapat
mengaktualisasikan dirinya secara optimal, berinteraksi
sosial, serta mudah mengakses pelayanan yang dibutuhkan.
Investasi ini perlu dilakukan di seluruh provinsi dan pelosok negeri.
Seringkali, penduduk lanjut usia dipandang sebagai
beban pembangunan karena sudah tidak produktif dan hidupnya
bergantung pada generasi yang lebih muda. Beberapa penduduk
lansia masih berperan dalam dunia kerja, namun produktifitasnya

16
sudah menurun sehingga umumnya mereka memiliki pendapatan
yang lebih rendah dibandingkan penduduk usia produktif.

Gambar 2.4 Rasio Ketergantungan Penduduk Lansia, 2010-2018

. id
go
p s.
Sumber: BPS, Susenas Maret 2018
.b

Pada tahun 2018, angka rasio ketergantungan lansia terhadap


w

penduduk produktif meningkat menjadi 14,49 dibandingkan tahun


w

sebelumnya yang angkanya 14,02. Artinya, pada tahun 2018 setiap


//w

100 orang penduduk usia produktif harus menanggung 15 orang


s:

penduduk lansia. Banyaknya populasi lansia menyebabkan tuntutan


perawatan yang lebih besar sehingga menambah tanggungan beban
tp

ekonomi penduduk usia produktif untuk membiayai penduduk


ht

lansia. Oleh karena itu, penuaan berpengaruh besar terhadap


generasi lainnya. Apabila jumlah penduduk lanjut usia semakin
meningkat, maka angka rasio ketergantungan penduduk lansia juga
meningkat yang berakibat pada bertambahnya beban tanggungan
penduduk usia produktif. Hal ini berkaitan dengan tuntutan biaya
perawatan lansia yang cukup besar. Sebaliknya, apabila penduduk
lansia dalam kondisi kesehatan yang sehat, aktif, dan produktif,
maka besarnya jumlah penduduk lansia berdampak positif terhadap
angka rasio ketergantungan (umur) serta kondisi sosial ekonomi
keluarga, masyarakat, dan negara.

Lansia dalam Rumah Tangga

Jumlah lansia yang semakin bertambah tiap tahunnya,


berpengaruh terhadap banyaknya jumlah rumah tangga yang
dihuni oleh lansia. Dalam lima tahun terakhir, rumah tangga lansia
bertambah hampir 3 persen (dari 24,5 persen menjadi 27,20 persen).

17
Dengan kata lain, diantara empat rumah tangga di Indonesia, satu
diantaranya merupakan rumah tangga lansia. Berdasarkan angka
proyeksi, penduduk lansia semakin bertambah tiap tahunnya. Hal
tersebut menjadi perhatian bagi seluruh kalangan, baik keluarga
maupun masyarakat di sekitar lingkungan tempat tinggal lansia
untuk memberikan perhatian dan dukungan yang lebih.

Gambar 2.5 Persentase Penduduk Lansia yang Menjadi Kepala


Rumah Tangga (KRT), 2018

. id
go
p s.
.b
w
w
//w
s:
tp
ht

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

Jika dilihat secara total, persentase lansia yang menjadi


KRT sedikit relatif sama dengan tahun sebelumnya yaitu ada 61,29
persen. Atau dengan kata lain enam dari sepuluh lansia di Indonesia
yang berperan sebagai KRT, terlepas apakah mereka produktif atau
tidak. Masih banyaknya lansia yang berperan sebagai KRT berkaitan
dengan sudut pandang sosial masyarakat tradisional Asia, termasuk
Indonesia, dimana penduduk lansia menduduki kelas sosial yang
tinggi sehingga harus dihormati oleh masyarakat yang usianya lebih
muda. Sistem budaya patrilineal yang juga masih sangat melekat
di masyarakat Indonesia. Terlihat dari masih tingginya lansia laki-
laki yang menjadi KRT yaitu sembilan dari sepuluh lansia laki-laki
menjadi KRT.
Salah satu fenomena yang menarik adalah adanya lansia
perempuan yang menjadi KRT yang persentasenya mencapai 34,69
persen. Dibandingkan dengan KRT laki-laki, lansia perempuan yang

18
menjadi KRT hanya sepertiga dari lansia laki-laki . Keadaan tersebut
kemungkinan berhubungan dengan isu diskriminasi gender yang
sudah ada sejak lama sedikit banyak berpengaruh terhadap para
lansia perempuan, dimana kehidupan perempuan sejak dulu lebih
banyak berhubungan dengan hal domestik dan biasanya memiliki
tingkat pendidikan yang rendah. Beberapa penelitian sebelumnya
mengungkapkan bahwa rumah tangga yang dikepalai oleh lansia
perempuan cenderung memiliki status ekonomi yang rendah.

Status Tinggal Lansia

Ketika manusia memasuki masa tua, lansia akan mengalami

id
perubahan fisik, mental sosial dan kesehatan, sehingga tidak sedikit
lansia yang merasa sendirian, frustasi, dan kehilangan kepercayaan

.
go
diri (Osman et al, 2012). Pada kondisi inilah terlihat bahwa lansia
bergantung kepada penduduk yang lain untuk mendapatkan
s.
dukungan/bantuan baik secara ekonomi maupun sosial. Adanya
p
.b

keluarga atau pasangan akan sangat membantu lansia untuk dapat


menjalani kehidupannya sehari-hari baik fisik maupun
w

psikis. Pendampingan dari pasangan atau keluarga akan


w

lebih berarti dibandingkan dukungan dari orang lain yang


//w

tidak memiliki hubungan sama sekali. Dengan adanya


s:

dukungan dan pendampingan tersebut, risiko terkena


tp

penyakit dan kematian pada lansia dapat dikurangi.


ht

Tabel 2.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Status


Perkawinan, 2018

Status Perkawinan
Karakteristik Belum Cerai Cerai
Kawin Total
Kawin Hidup Mati
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Total 1,05 60,87 2,28 35,80 100,00
Tipe Daerah
Perkotaan 1,26 60,25 2,42 36,07 100,00
Perdesaan 0,82 61,53 2,13 35,51 100,00

Jenis Kelamin
Laki-Laki 0,86 82,65 1,51 14,99 100,00
Perempuan 1,22 41,11 2,99 54,68 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

19
Sebagian besar lansia masih mempunyai pasangan, sekitar
60,87 persen lansia berstatus kawin pada tahun 2018. Berdasarkan
Tabel 2.2, terlihat bahwa pola status kawin lansia di perkotaan
relatif sama dengan di perdesaan. Persentase lansia yang kawin di
perkotaan ada sekitar 60,25 persen, sedangkan di perdesaan sekitar
61,53 persen. Dukungan sosial yang terpenting adalah dukungan
yang berasal dari keluarga (Kaplan, 2010). Keluarga memberikan
intervensi perawatan kesehatan efektif untuk meningkatkan kualitas
hidup lansia yang optimal dan dalam memenuhi aktifitas sehari-
hari lansia termasuk status kesehatannya (Jikun, 2012). Jika dilihat
berdasarkan jenis kelamin, persentase lansia laki-laki yang kawin
(82,65 persen) banyaknya dua kali lipat dari lansia perempuan yang

id
kawin (41,11 persen). Hal ini diasumsikan karena umumnya lansia
laki-laki tidak dapat mengurusi kebutuhannya sendiri sehingga

.
go
memerlukan pasangan untuk membantunya.
s.
Tabel 2.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Status
p
Tinggal Bersama, 2018
.b
w

Status Tinggal Bersama


w

Karakteristik Tinggal Bersama Bersama Tiga


//w

Generasi Lainnya Total


Sendiri Pasangan Keluarga
s:

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)


tp

Total 9,28 19,93 27,03 43,18 0,58 100,00


ht

Tipe Daerah
Perkotaan 8,62 18,36 29,82 42,49 0,70 100,00
Perdesaan 9,98 21,61 24,06 43,90 0,44 100,00

Jenis Kelamin
Laki-Laki 4,45 25,19 32,33 37,64 0,39 100,00
Perempuan 13,66 15,17 22,23 48,20 0,74 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

Pola penetapan bertempat tinggal lansia juga berkaitan


erat dengan perawatan kesehatan lansia. Tabel 2.3 menunjukkan
jumlah penduduk lansia berdasarkan status tinggal lansia, yaitu
lansia yang tinggal bersama pasangannya (19,93 persen), keluarga
(27,03 persen), dan tiga generasi (43,18 persen). Umumnya,
kehidupan lansia yang masih memiliki pasangan akan diperhatikan
oleh pasangannya. Sedangkan lansia yang berstatus sebagai
orang tua/mertua kehidupannya akan diperhatikan oleh anak

20
atau menantunya. Memberi dukungan kepada penduduk lansia
juga diyakini merupakan tanggung jawab dan kewajiban keluarga,
terutama anak sebagai keturunannya. Anak dianggap sebagai
tempat bergantung jika mereka sudah tua dan tidak sanggup hidup
sendiri, baik karena alasan ekonomi maupun alasan kesehatan.
Hal menarik lainnya yang dapat dilihat dari Tabel 2.3
adalah keberadaan lansia yang tinggal bersama lainnya dimana
angkanya paling kecil yaitu 0,58 persen. Fenomena ini diduga
karena meningkatnya kesadaran keluarga dalam memperhatikan
kesejahteraan lansia, mengingat terjadi peningkatan persentase
lansia yang tinggal dengan anggota keluarga maupun pasangannya.
Jika dilihat berdasarkan tipe daerah, lansia yang tinggal dengan
keluarga ternyata lebih banyak di perkotaan (29,82 persen)

id
dibandingkan dengan di perdesaan (24,06 persen). Sedangkan jika

.
go
dilihat berdasarkan jenis kelamin, lansia laki-laki lebih banyak yang
bersama pasangan (25,19 persen) dan keluarga (32,33 persen).
s.
Namun kebalikannya, lansia perempuan justru lebih banyak yang
p
sendiri (13,66 persen) dan tinggal bersama tiga generasi (48,20
.b

persen).
w
w
//w
s:
tp
ht

21
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
3
PENDIDIKAN
Tingkat pendidikan yang dicapai penduduk lanjut usia merupakan cermin pendidikan
zaman dahulu. Pendidikan yang rendah menunjukkan pembangunan pendidikan
yang belum memadai untuk bangsa Indonesia pada saat itu. Berbeda dengan sistem
pendidikan kini, pada zaman dahulu fasilitas pendidikan kurang memadai dan
akses sekolah cenderung jauh. Pada bab ini disajikan gambaran tingkat pendidikan

id
penduduk lansia, antara lain kemampuan baca tulis dan rata-rata lama sekolah.

.
go
Kemampuan Baca Tulis Lansia
s.
Melek huruf merupakan kemampuan dasar untuk setiap
p
individu. Seseorang akan lebih mudah menjalani hidup dengan
.b

didukung oleh kemampuan membaca dan menulis. Akses informasi


w

akan lebih terbuka bagi mereka yang melek huruf. Oleh karena itu,
w

pemerintah menyelenggarakan program keaksaraan fungsional


//w

untuk membantu penduduk yang buta huruf belajar membaca dan


s:

menulis.
tp

Gambar 3.1 Angka Melek Huruf Penduduk Lansia, 2014-2018


ht

Sumber: BPS, Susenas Maret 2014-2018

Hasil Susenas 2018 menunjukkan Angka Melek Huruf (AMH)


lansia cenderung stagnan dalam lima tahun terakhir di angka
78 persen. Dilihat dari aspek gender, AMH lansia laki-laki naik
sebesar 3 persen. Sebaliknya, AMH lansia perempuan mengalami

25
penurunan. Belum optimalnya program
keaksaraan menghambat peningkatan
AMH lansia. Permasalahan yang muncul
dalam pelaksanaan program keaksaraan
antara lain adanya kecenderungan kembali
buta huruf setelah mengikuti program
keaksaraan dasar dan rendahnya kesadaran
masyarakat terhadap pentingnya mengikuti
program pemberantasan buta aksara
(https://pauddikmasntb.kemdikbud.go.id).
Adapun dilihat dari berbagai karakteristik, terdapat
perbedaan kemampuan baca tulis lansia. Angka buta huruf lansia
yang tinggal di perdesaan dua kali lebih besar dibandingkan di

id
perkotaan (27,90 persen berbanding 14,54 persen). Dilihat dari

.
go
segi gender, angka buta huruf lansia perempuan jauh lebih tinggi
dibandingkan lansia laki-laki. Sementara itu, angka buta huruf lansia
s.
semakin besar pada kelompok umur yang semakin tua.
p
.b

Tabel 3.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Kemampuan


w

Baca Tulis, 2018


w
//w

Kemampuan Baca Tulis


Karakteristik
Melek Huruf Buta Huruf Total
s:

(1) (2) (3) (4)


tp

Total 78,99 21,01 100,00


Tipe Daerah
ht

Perkotaan 85,46 14,54 100,00


Perdesaan 72,10 27,90 100,00
Jenis Kelamin
Laki-Laki 87,37 12,63 100,00
Perempuan 71,39 28,61 100,00
Kelompok Umur
Lansia Muda (60-69) 84,89 15,11 100,00
Lansia Madya (70-79) 72,93 27,07 100,00
Lansia Tua (80+) 55,43 44,57 100,00
Kelompok Pengeluaran
Rumah Tangga
40% terbawah 69,63 30,37 100,00
40% menengah 82,83 17,17 100,00
20% teratas 93,72 6,28 100,00
Status Disabilitas
Non Disabilitas 81,42 18,58 100,00
Disabilitas 66,13 33,87 100,00
Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

26
Kesenjangan ekonomi turut mempertajam disparitas
kemampuan baca tulis lansia. Semakin tinggi status ekonomi
semakin besar persentase lansia yang melek aksara. Status ekonomi
disini merupakan status ekonomi rumah tangga yang diukur
menggunakan pendekatan pengeluaran perkapita sebulan,
dengan asumsi bahwa pengeluaran perkapita sebulan
sama dengan pendapatannya. Kemudian dilihat dari status
disabilitas, lansia penyandang disabilitas lebih berisiko buta
huruf. Berdasarkan hasil Susenas 2018, sepertiga lansia
penyandang disabilitas tidak mampu baca tulis.

Gambar 3.2 Angka Melek Huruf Penduduk Lansia Menurut


Provinsi, 2018

. id
go
p s.
.b
w
w
//w

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018


s:
tp

Gambar 3.2 memperlihatkan wilayah provinsi Indonesia


ht

yang diberi gradasi warna biru. Semakin gelap semakin tinggi AMH
lansia di provinsi tersebut. Keseluruhan Pulau Sumatera tampak
berwarna gelap, artinya provinsi di Pulau Sumatera memiliki AMH
di atas angka nasional. Di sisi lain, meskipun masih di bawah angka
nasional, AMH lansia Provinsi Papua masih lebih tinggi dibandingkan
Provinsi Jawa Timur dan Bali yang merupakan provinsi besar dan
maju. Provinsi dengan AMH lansia terendah adalah Nusa Tenggara
Barat, dimana separuh penduduk lansianya buta huruf.

Tingkat Pendidikan Lansia

Secara umum, sebagian besar lansia berpendidikan rendah.


Sepertiga di antaranya tidak tamat SD. Sekitar 17 persen lansia tidak
pernah sekolah. Bahkan, angka tersebut masih lebih besar dari
persentase lansia yang memiliki ijazah SM/sederajat dan lebih tinggi.

27
Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan (persen)
Karakteristik Tidak Tidak Total
SD/ SMP/ SM/
pernah tamat PT
sederajat sederajat sederajat
sekolah SD
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Total 17,47 34,68 29,08 7,16 7,80 3,81 100,00
Tipe Daerah
Perkotaan 12,50 29,26 29,41 9,96 12,59 6,27 100,00
Perdesaan 22,77 40,45 28,73 4,16 2,70 1,19 100,00
Jenis Kelamin
Laki-Laki 10,32 32,33 32,34 9,01 10,81 5,20 100,00

id
Perempuan 23,97 36,80 26,12 5,48 5,08 2,56 100,00

.
Kelompok Umur

go
Lansia Muda (60-69) 12,61 33,98 31,87 7,37 9,58 4,59 100,00
Lansia Madya (70-79) 22,35 35,66 25,94 s. 7,90 5,31 2,84 100,00
Lansia Tua (80+) 37,27 36,56 18,79 3,23 2,89 1,26 100,00
p
.b

Tabel 3.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Pendidikan


w

Tertinggi yang Ditamatkan, 2018


w
//w

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018


s:

Disparitas daerah tempat tinggal terhadap tingkat pendidikan


lansia tampak nyata terlihat. Persentase lansia yang mengenyam
tp

jenjang pendidikan tinggi lebih besar di perkotaan dibandingkan


ht

perdesaan. Ketimpangan ini bisa jadi disebabkan karena fasilitas


pendidikan di daerah perkotaan kerap lebih unggul dibandingkan
perdesaan sejak zaman dahulu. Kemungkinan lainnya adalah migrasi
penduduk perdesaan yang berpendidikan tinggi menuju daerah
perkotaan hingga akhirnya menetap dan menua disana.

Gambar 3.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Pendidikan


Tertinggi yang Ditamatkan dan Kelompok
Pengeluaran, 2018

28
Sumber : BPS, Susenas Maret 2018
Sama halnya dengan angka melek huruf, status ekonomi
berbanding lurus dengan tingkat pendidikan. Sekitar 14 persen
lansia yang tinggal di rumah tangga dengan kelompok pengeluaran
20 persen teratas tamat perguruan tinggi. Sebaliknya, persentase
lansia dari kelompok pengeluaran 40 persen terbawah yang tamat
PT tidak sampai 1 persen. Mayoritas lansia dengan status ekonomi
terbawah hanya duduk di bangku sekolah dasar (68,48 persen),
namun tidak sampai separuhnya menamatkan SD/sederajat (28,95
persen).

Gambar 3.4 Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Penduduk Lanjut


Usia, 2018

. id
go
p s.
.b
w
w
//w
s:
tp
ht

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

Rendahnya pendidikan lansia sejalan dengan rata-rata


lama sekolah lansia yang rendah. Rata-rata lansia bersekolah
selama 4,72 tahun. Ketimpangan capaian pendidikan lansia
di perkotaan dan perdesaan nyata terlihat dimana lansia di
perkotaan lebih lama bersekolah dibandingkan di perdesaan.
Sementara itu, dilihat dari jenis kelamin, lansia laki-laki
bersekolah dua tahun lebih lama dibandingkan lansia perempuan.
Adapun dari segi usia, semakin bertambah usia semakin kecil rata-
rata lama sekolahnya. Lansia tua rata-rata bersekolah selama 2,59
tahun (setara kelas 2 SD/sederajat).
Imbas ketimpangan ekonomi terhadap pendidikan juga
tampak nyata pada indikator rata-rata lama sekolah. Kesenjangan
rata-rata lama sekolah begitu lebar antara status ekonomi tertinggi
dan lainnya. Lansia dari kelompok pengeluaran tertinggi rata-rata
bersekolah 8,06 tahun (setara kelas 2 SMP/sederajat), sedangkan
lansia dari kelompok pengeluaran menengah dan terbawah rata-rata

29
tidak lulus SD/sederajat. Lansia yang berpendidikan tinggi cenderung
memiliki kehidupan layak dan berkecukupan. Dengan demikian,
mempersiapkan kesejahteraan lansia dimulai sejak dini. Partisipasi
sekolah anak dan pemuda seyognya terus ditingkatkan sebagai bekal
hari tua mereka.

Gambar 3.5 Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Penduduk Lansia


Menurut Kelompok Pengeluaran dan Status
Disabilitas, 2018

. id
go
p s.
.b
w

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018


w
//w

Sementara itu, terdapat perbedaan rata-rata lama sekolah


antara lansia penyandang disabilitas dan bukan penyandang
s:

disabilitas. Lansia bukan penyandang disabilitas lebih lama bersekolah


tp

dibandingkan lansia penyandang disabilitas (4,96 tahun berbanding


ht

3,44 tahun).

Gambar 3.6 Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Lansia Menurut


Provinsi, 2018

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

30
Rata-rata lama sekolah lansia tidak merata di wilayah
Indonesia. DKI Jakarta yang merupakan ibu kota negara sekaligus pusat
pemerintahan memiliki angka tertinggi yakni 9,17 tahun, artinya rata-
rata lansia bersekolah sampai lulus SMP/sederajat. Bertolak belakang
dengan Jakarta, rata-rata lama sekolah provinsi lain tidak lebih besar
dari 7 tahun. Bahkan di NTB rata-rata lama sekolah penduduk lansia
hanya 2,94 tahun (tidak sampai selesai kelas 3 SD/sederajat).

Akses Teknologi Informasi dan Komunikasi

Salah satu target SDGs adalah meningkatkan akses teknologi


komunikasi bagi seluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali lansia.
Akses teknologi informasi dan komunikasi yang ditangkap dari Susenas

id
2018 antara lain menggunakan telepon seluler (HP), menggunakan
komputer, dan menggunakan internet dalam tiga bulan terkhir.

.
go
Di antara ketiga akses TIK tersebut, penggunaan telepon seluler
merupakan hal yang paling bersinggungan dengan lansia dimana 4 dari
s.
10 lansia menggunakan HP. Dilihat dari kelompok umur, separuh lansia
p
.b

muda menggunakan HP.


w

Tabel 3.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Akses Teknologi


w

Informasi dan Komunikasi, 2018


//w

Akses Teknologi Informasi dan Komunikasi


s:

Karakteristik Menggunakan Menggunakan


Menggunakan HP
tp

Komputer Internet
(1) (2) (3) (4)
ht

Total 41,81 2,57 5,73


Tipe Daerah
Perkotaan 48,32 4,44 10,12
Perdesaan 34,87 0,56 1,05
Jenis Kelamin
Laki-Laki 50,44 3,72 7,46
Perempuan 33,98 1,52 4,15
Kelompok Umur
Lansia Muda (60-69) 50,15 3,49 7,55
Lansia Madya (70-79) 30,93 1,12 3,06
Lansia Tua (80+) 15,91 0,42 1,00
Kelompok Pengeluaran
Rumah Tangga
40% terbawah 26,51 0,25 0,71
40% menengah 45,26 1,44 3,42
20% teratas 71,46 10,32 22,26
Status Disabilitas
Non Disabilitas 45,53 2,93 6,57
Disabilitas 22,06 0,65 1,26
Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

31
Ketimpangan akses TIK oleh lansia beriringan dengan
disparitas tipe daerah dan gender. Penggunaan HP, komputer,
ataupun internet lebih tinggi di perkotaan dibandingkan perdesaan.
Dilihat dari jenis kelamin, lansia laki-laki cenderung lebih terpapar
TIK. Separuh lansia laki-laki menggunakan HP, sedangkan persentase
lansia perempuan yang menggunakan HP
hanya sepertiga. Dalam menggunakan internet,
disparitas tipe daerah lebih lebar dibandingkan
disparitas gender.
Akses teknologi informasi dan
komunikasi turut dipengaruhi oleh status
ekonomi lansia. Semakin tinggi kelompok
pengeluaran rumah tangga, semakin besar

id
persentase lansia yang menggunakan HP,

.
go
komputer, maupun internet. Sekitar 70 persen
lansia dari kelompok pengeluaran 20 persen teratas menggunakan
s.
HP, sedangkan yang menggunakan komputer sekitar 10 persen.
p
Sejalan dengan itu, lebih dari seperlima lansia dari kelompok
.b

pengeluaran tertinggi menggunakan internet. Angka tersebut jauh


w

lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok pengeluaran 40 persen


w

terbawah. Sementara itu, dilihat dari status disabilitas, lansia


//w

penyandang disabilitas lebih rentan untuk tidak terpapar teknologi


s:

informasi dan komunikasi.


tp

Gambar 3.7 Persentase Penduduk Lansia yang Mengakses


ht

Internet, 2015-2018

Sumber : BPS, Susenas Maret 2015-2018

32
Target SDGs lainnya yang terkait TIK adalah menyediakan
akses internet yang terjangkau dan universal bagi seluruh lapisan
masyarakat, termasuk lansia. Gambar 3.7 memperlihatkan
perkembangan lansia yang mengakses internet. Meskipun persentase
lansia yang mengakses internet boleh dibilang kecil, angka ini terus
mengalami peningkatan setiap tahun. Pada tahun 2018, persentase
lansia yang mengakses internet melesat naik menjadi 5,73 persen.
Kenaikan ini adalah yang terbesar dalam empat tahun terakhir.

. id
go
p s.
.b
w
w
//w
s:
tp
ht

33
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
4
KESEHATAN
Indonesia patut berbangga dengan beberapa pencapaian yang telah diraih di
bidang kesehatan, salah satunya terlihat melalui persentase lansia yang cenderung
meningkat antar waktu. Kemajuan di bidang kesehatan telah memberikan
pengaruh positif terhadap terciptanya fenomena tersebut. Panjangnya masa hidup
pada lansia tak akan berarti tanpa disertai kesehatan prima dan produktivitas.
Berdasarkan laporan dari World Health Organization (WHO), Angka Harapan Hidup

id
Sehat (AHHS) Indonesia pada tahun 2016 adalah 12,7 tahun yang menandakan

.
go
bahwa lansia Indonesia dapat menjalani hidup mereka dalam kondisi sehat
sampai usia 72-73 tahun. Angka ini masih jauh di bawah AHHS negara maju
s.
yang besarannya mencapai 20 tahunan. Berangkat dari kondisi ini, pemerintah
p
.b

Indonesia telah menyiapkan PMK No. 25 Tahun 2016 tentang Rencana Aksi
Nasional (RAN) kesehatan lansia Indonesia tahun 2016-2019 sebagai bagian dari
w

perwujudan RPJMN 2015-2019. Dokumen tersebut memuat perhatian pemerintah


w

terhadap masalah utama lansia terkait pemenuhan kebutuhan akan pelayanan


//w

kesehatan, diantaranya dengan cara mengembangkan pelayanan kesehatan


s:

yang lebih mengutamakan upaya peningkatan, pencegahan, dan pemeliharaan


tp

kesehatan di samping upaya penyembuhan dan pemulihan. Hal ini juga menjawab
isu kesehatan dalam SDGs diintegrasikan dalam satu tujuan yakni tujuan nomor
ht

3, yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi


semua orang di segala usia, tidak terkecuali lansia (sdgs.bappenas.go.id).

Kondisi Kesehatan Lansia

Seiring dengan bertambahnya usia, maka menurunnya


fungsi organ tubuh karena proses degeneratif tidak dapat dihindari,
khususnya pada lansia. Hal ini akan menyebabkan tubuh mereka
lebih rentan terhadap penyakit tertentu, baik menular maupun
tidak menular yang terdeteksi melalui keluhan kesehatan.
Keluhan kesehatan adalah keadaan seseorang yang
mengalami gangguan kesehatan atau kejiwaan, baik karena
gangguan/penyakit yang sering dialami penduduk seperti panas,
pilek, diare, pusing, sakit kepala, maupun karena penyakit akut,
penyakit kronis, kecelakaan, kriminalitas atau keluhan lainnya.
Keluhan kesehatan tidak selalu mengakibatkan terganggunya
aktivitas sehari-hari. Tabel 4.1 menunjukkan bahwa separuh lansia
Indonesia mengalami keluhan kesehatan dan persentasenya

37
semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur lansia.

Tabel 4.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Kondisi


Kesehatan, 2018

Mengalami Keluhan
Karakteristik Mengalami Sakit
Kesehatan
(1) (2) (3)
Total 51,28 25,99
Tipe Daerah
Perkotaan 50,84 24,12
Perdesaan 51,76 27,98
Jenis Kelamin
Laki-Laki 50,16 25,91

id
Perempuan 52,30 26,06

.
go
Kelompok Umur
Lansia Muda (60-69) 48,69 23,60
Lansia Madya (70-79) 55,25
s. 29,12
Lansia Tua (80+) 57,45 33,32
p
.b

Kelompok Pengeluaran
Rumah Tangga
w

40% terbawah 50.93 26.83


w

40% menengah 52.51 26.16


//w

20% teratas 49.69 23.62


s:

Status Disabilitas
Non Disabilitas 48.54 22.30
tp

Disabilitas 65.84 45.58


ht

Sumber: BPS, Susenas 2018

Sementara itu, sakit adalah keluhan


kesehatan yang mengganggu kegiatan sehari-hari
sehingga tidak dapat melakukan kegiatan secara
normal sebagaimana biasanya. Persentase lansia
yang sakit disebut juga morbidity rate/angka
kesakitan lansia. Angka kesakitan merupakan salah
satu indikator yang digunakan untuk mengukur
derajat kesehatan.
Angka kesakitan lansia tahun 2018 sebesar
25,99 persen. Artinya, dari 100 lansia terdapat 25 sampai 26 lansia
yang sakit. Dalam empat tahun terakhir, angka kesakitan lansia terus
menurun. Akan tetapi, penurunannya relatif tidak terlalu besar.
Dibandingkan tahun 2015, angka kesakitan lansia turun tidak lebih
dari tiga persen.

38
Gambar 4.1 Angka Kesakitan Penduduk Lansia, 2015-2018

Sumber: BPS, Susenas 2018

id
Perilaku Pencarian Pengobatan Lansia

.
go
Segala bentuk keluhan kesehatan, baik yang mengganggu
s.
aktivitas sehari-hari maupun tidak, seyogyanya diobati sehingga
p
tidak berlarut-larut. Hal ini tercermin melalui perilaku kesehatan
.b

yang ditempuh lansia. Perilaku tersebut dapat dilakukan secara


w

mandiri (mengobati sendiri) atau dengan mengunjungi tempat


w

pengobatan (berobat jalan). Mengobati sendiri adalah melakukan


//w

pengobatan dengan menentukan sendiri jenis obatnya tanpa


saran/resep dari tenaga kesehatan/batra. Adapun berobat jalan
s:

adalah memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan dengan


tp

mendatangi tempat-tempat pelayanan kesehatan modern atau


ht

tradisional tanpa menginap, termasuk mendatangkan petugas


kesehatan ke rumah.
Sebagian besar lansia Indonesia sudah memiliki respon aktif
yang baik terhadap keluhan kesehatan yang mereka alami, baik
dengan cara mengobati sendiri, berobat jalan, maupun keduanya
(95,85 persen). Meskipun demikian, masih ada empat dari 100
orang lansia yang enggan untuk mengobati keluhan kesehatan yang
mereka alami. Dengan melakukan pembenahan terhadap sistem
pelayanan kesehatan di Indonesia, maka diharapkan beberapa
tahun ke depan persentase lansia yang tidak melakukan tindakan
apapun terhadap keluhan kesehatan yang dirasa akan mengalami
penurunan. Hal ini mengingat bahwa lansia perlu mempertahankan
kesehatan tubuh mereka agar tetap prima dalam menikmati masa
tua demi mewujudkan active ageing, sehingga tetap sejahtera
sepanjang hidup dan berpartisipasi dalam rangka meningkatkan
kualitas hidup sebagai anggota masyarakat.

39
Tabel 4.2 Persentase Penduduk Menurut Tindakan
Pengobatan, 2018
Tindakan Pengobatan
Tidak
Mengobati Mengobati
Karakteristik Mengobati Berobat Sendiri dan Sendiri / Total
Sendiri Jalan Berobat Berobat
Jalan Jalan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Total 40,35 25,57 29,93 4,15 100,00
Tipe Daerah
Perkotaan 38,89 26,72 30,77 3,62 100,00
Perdesaan 41,87 24,37 29,05 4,70 100,00
Jenis Kelamin

id
Laki-Laki 41,64 24,86 29,54 3,96 100,00

.
go
Perempuan 39,22 26,19 30,27 4,32 100,00
Kelompok Umur s.
Lansia Muda (60-69) 40,56 25,18 30,58 3,69 100,00
p
Lansia Madya (70-79) 39,01 26,36 30,01 4,62 100,00
.b

Lansia Tua (80+) 43,17 25,60 25,66 5,57 100,00


w

Kelompok Pengeluaran
w

Rumah Tangga
//w

40% terbawah 44,34 22,41 28,43 4,82 100,00


40% menengah 40,30 25,78 30,13 3,79 100,00
20% teratas 30,70 32,87 33,16 3,27 100,00
s:
tp

Status Disabilitas
Non Disabilitas 41,57 25,42 29,49 3,52 100,00
ht

Disabilitas 35,54 26,19 31,65 6,61 100,00

Sumber: BPS, Susenas 2018

Yang cukup menarik perhatian adalah persentase lansia


penyandang disabilitas yang memilih untuk tidak melakukan
pengobatan apapun, di mana besarannya mencapai hampir dua
kali lipat lansia dari yang bukan penyandang disabilitas (6,61
persen berbanding 3,52 persen). Kondisi ini menempatkan lansia
pada posisi sulit dan membutuhkan perhatian khusus, mengingat
adanya keterbatasan yang dimiliki. Saat inilah dibutuhkan perhatian
pemerintah terhadap mekanisme Perawatan Jangka Panjang/Long
Term Care (LTC) yang dapat mengakomodasi kebutuhan lansia
penyandang disabilitas agar cita-cita mereka untuk tetap dapat
melanjutkan hidup secara bermartabat dapat terwujud.

40
Tabel 4.3 Persentase Penduduk Lansia yang Berobat Jalan
Menurut Tempat Berobat, 2018
Tempat Berobat
Lansia Klinik/ Pengo-
Karakteristik Berobat RS RS Praktik Puskes-
dokter batan Lain-
Jalan Peme- Swas- dokter/ mas / UKBM
bersa- tradisi- nya
rintah ta bidan Pustu
ma onal
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Total 55,50 12,56 9,85 35,30 13,51 30,73 3,39 2,55 1,00
Tipe Daerah
Perkotaan 57,49 16,08 14,34 27,56 16,85 28,48 2,24 2,35 0,81
Perdesaan 53,42 8,60 4,79 44,03 9,74 33,27 4,69 2,77 1,21
Jenis Kelamin

id
Laki-Laki 54,40 14,75 10,70 33,65 14,13 29,36 2,75 2,65 1,00
Perempuan 56,46 10,73 9,14 36,69 12,98 31,88 3,93 2,46 1,00

.
go
Kelompok Umur
Lansia Muda (60-69) 55,76 12,91 10,19 s.33,74 13,87 31,20 3,11 2,57 0,95
Lansia Madya (70-79) 56,37 12,50 9,73 36,42 13,37 30,28 3,86 2,36 0,96
p
Lansia Tua (80+) 51,26 10,44 7,97 42,02 11,54 29,13 3,66 3,00 1,43
.b

Kelompok Pengeluaran
w

Rumah Tangga
w

40% terbawah 50,84 7,71 4,17 40,57 11,07 35,97 4,87 2,46 1,29
//w

40% menengah 55,91 12,79 9,20 35,69 13,30 31,77 3,04 2,71 0,92
20% teratas 66,03 21,28 21,69 24,71 18,45 19,05 1,23 2,42 0,60
s:

Status Disabilitas
tp

Non Disabilitas 54,90 11,81 9,40 35,38 13,98 31,36 3,38 2,10 0,85
Disabilitas 57,84 15,35 11,53 35,01 11,73 28,41 3,43 4,20 1,55
ht

Sumber: BPS , Susenas Maret 2018

Ketika mengobati sendiri tidak cukup untuk menghilangkan


keluhan kesehatan, seseorang perlu berkonsultasi ke tenaga
kesehatan untuk mengobati keluhannya. Lebih dari
separuh lansia yang mengalami keluhan kesehatan
melakukan berobat jalan dan mayoritas diantaranya
memilih fasilitas kesehatan sebagai tempat tujuan
berobat jalan. Hanya sebagian kecil saja yang melakukan
pengobatan tradisional/alternatif. Kepemilikan akses
akan penggunaan fasilitas kesehatan oleh lansia dapat
meningkatkan derajat kesehatan mereka (Howel & Priebe,
2013).
Dilihat dari jenis fasilitas kesehatan, lansia yang mengakses
fasilitas kesehatan pemerintah untuk berobat jalan cukup
besar. Sepertiga lansia berobat ke puskesmas/pustu. Sedangkan
persentase lansia yang berobat jalan ke rumah sakit pemerintah

41
lebih besar dibandingkan dengan rumah sakit swasta. Di sisi lain,
praktik dokter/bidan menjadi tujuan favorit lansia yang berobat
jalan dengan persentase tertinggi yakni 35,30 persen. Hal ini
kemungkinan terjadi mengingat keberadaan fasilitas tersebut lebih
mudah dijangkau oleh para lansia
Salah satu strategi dari Rencana Aksi Nasional Lanjut
Usia 2016-2019 adalah memperkuat dasar hukum pelaksanaan
pelayanan Kesehatan lanjut usia melalui tersedianya kebijakan
mengenai perlakuan khusus bagi lanjut usia dalam program Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN). Data Susenas 2018 menunjukkan bahwa
lansia yang berobat jalan dengan menggunakan jaminan kesehatan
belum mencapai separuh dari lansia yang mengalami keluhan
kesehatan (44,70 persen).

. id
go
Tabel 4.4 Persentase Penduduk Lansia yang Berobat Jalan
Menurut Jaminan Kesehatan yang Digunakan, 2018
s.
Lansia yang Jaminan Kesehatan
p
Berobat
.b

Jalan dengan Asu- Asuransi


Karakteristik Non Jamkesda
w

Menggunakan PBI ransi Perusahaan/


Jaminan PBI
w

Swasta Kantor
Kesehatan
//w

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)


Total 44,70 52,24 36,39 8,80 0,80 2,15
s:

Tipe Daerah
tp

Perkotaan 52,07 43,63 45,66 6,77 1,12 3,27


Perdesaan 36,39 66,13 21,44 12,07 0,28 0,35
ht

Jenis Kelamin
Laki-Laki 45,26 50,46 38,05 8,64 0,82 2,42
Perempuan 44,23 53,77 34,97 8,94 0,79 1,92
Kelompok Umur
Lansia Muda (60-69) 46,29 51,33 37,65 8,60 0,86 1,98
Lansia Madya (70-79) 44,09 53,13 35,00 8,84 0,71 2,60
Lansia Tua (80+) 36,07 56,47 31,25 10,35 0,67 1,78
Kelompok Pengeluaran
Rumah Tangga
40% terbawah 37,90 73,03 14,83 10,98 0,20 1,22
40% menengah 45,03 52,33 36,40 9,90 0,34 1,53
20% teratas 56,89 26,08 63,39 4,53 2,21 4,19
Status Disabilitas
Non Disabilitas 44,88 54,09 32,99 10,73 1,01 1,75
Disabilitas 44,03 51,75 37,29 8,29 0,75 2,26
Sumber: BPS, Susenas 2018

42
Sementara itu, dari mereka yang menggunakan jaminan
kesehatan untuk berobat jalan, penggunaan PBI masih mendominasi
diantara jaminan kesehatan lainnya (52,24 persen). Secara tidak
langsung hal ini mencerminkan bagaimana kondisi ekonomi rumah
tangga lansia Indonesia yang pada umumnya masih didominasi oleh
kelompok pengeluaran rumah tangga 40 persen terbawah. Demikian
halnya jika kita melihat penggunaan jaminan kesehatan menurut
kelompok pengeluaran rumah tangga, dimana semakin baik kondisi
ekonomi rumah tangga lansia, maka penggunaan jaminan kesehatan
semakin tinggi. Hal menarik lainnya ditunjukkan oleh lansia yang
tinggal di perkotaan maupun lansia yang berada pada kelompok
pengeluaran rumah tangga 20 persen teratas, dimana penggunaan
jaminan kesehatan Non PBI lebih mendominasi untuk digunakan

id
ketika mereka berobat jalan.

.
go
Gambar 4.2 Persentase Lansia yang Tidak Berobat Jalan Menurut
s.
Alasan Utama Tidak Berobat Jalan, 2018
p
.b
w
w
//w
s:
tp
ht

Sumber: BPS, Susenas 2018

Gambar 4.2 memperlihatkan bahwa sebagian besar lansia


Indonesia memilih tidak berobat jalan karena merasa cukup
dengan self treatment yang dilakukannya. Lebih dari seperempat
lansia merasa tidak perlu berobat jalan. Biasanya hal tersebut
dikarenakan keluhan kesehatan yang dialami belum mengganggu
aktivitas mereka. Di sisi lain masih ada sekitar tiga persen lansia
yang tidak berobat jalan karena tidak ada biaya, baik itu biaya untuk
berobat maupun untuk transportasi ke tempat berobat. Lansia yang
tidak berobat jalan karena alasan lainnya memiliki persentase yang

43
tidak jauh berbeda. Alasan lainnya yang dimaksud antara lain tidak
ada sarana transportasi, tidak ada yang mendampingi, dan waktu
tunggu pelayanan lama.

Gambar 4.3 Rata-rata Lama Rawat Inap Penduduk Lansia (hari)


Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2018

. id
go
p s.
.b
w
w
//w
s:
tp
ht

Sumber: BPS , Susenas Maret 2018

Waktu yang diperlukan seseorang


untuk sembuh dari sakitnya bervariasi,
tergantung tingkat keparahan penyakit dan
daya tahan tubuh. Kemunduran fungsi organ
dan menurunnya daya tahan tubuh pada
lansia memakan waktu yang tidak sebentar
untuk proses penyembuhan. Bahkan, selama
proses penyembuhan tersebut rawat inap
pada fasilitas pelayanan kesehatan seringkali
tidak dapat dihindari. Berdasarkan data
Susenas tahun 2018, rata-rata lamanya lansia dirawat inap kurang
dari seminggu (sekitar 6 hari), sebagaimana yang tersaji pada
Gambar 4.3. kemudian, berdasarkan Tabel 4.5, sebagian besar lansia
mengalami rawat inap sekitar 4-7 hari (44,26 persen). Pola tersebut
relatif sama dilihat dari berbagai karakteristik.

44
Tabel 4.5 Persentase Penduduk Lansia yang Rawat Inap
menurut Lamanya Rawat Inap, 2018

Lama Rawat Inap (Hari)


Karakteristik 1-3 8-14 >14
4-7 hari Total
hari hari hari
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Total 33,69 44,26 14,36 7,69 100,00
Tipe Daerah
Perkotaan 30,70 46,04 14,81 8,45 100,00
Perdesaan 37,47 42,00 13,80 6,73 100,00
Jenis Kelamin

id
Laki-Laki 31,43 43,98 15,82 8,77 100,00

.
Perempuan 36,08 44,55 12,81 6,55 100,00

go
Kelompok Umur s.
Lansia Muda (60-69) 34,59 43,40 14,41 7,61 100,00
p
Lansia Madya (70-79) 32,47 45,46 14,50 7,56 100,00
.b

Lansia Tua (80+) 31,97 45,68 13,54 8,81 100,00


w

Kelompok Pengeluaran
w

Rumah Tangga
40% terbawah 39,71 43,84 12,14 4,30 100,00
//w

40% menengah 33,37 45,99 13,76 6,88 100,00


20% teratas 27,63 42,34 17,58 12,46 100,00
s:

Status Disabilitas
tp

Non Disabilitas 36,42 43,72 13,57 6,29 100,00


ht

Disabilitas 25,75 45,81 16,68 11,77 100,00


Sumber: BPS, Susenas 2018

Beberapa tempat pilihan lansia untuk rawat inap sebagai


langkah kuratif maupun rehabilitatif digambarkan pada Tabel 4.6.
Sebesar 8,46 persen lansia pernah rawat inap dalam setahun
terakhir. Berbeda dengan berobat jalan, sebagian besar lansia rawat
inap di rumah sakit. Dibandingkan dengan rumah sakit swasta, lansia
yang rawat inap di rumah sakit pemerintah lebih banyak. Akan tetapi
apabila dilihat dari kelompok pengeluaran rumah tangga, lansia
dengan rumah tangga 20 persen teratas lebih banyak yang rawat
inap di rumah sakit swasta (51,60 persen). Hal ini disebabkan oleh
biaya pengobatan di rumah sakit swasta yang umumnya lebih mahal.
Selain itu, jaminan kesehatan yang mencakup biaya pengobatan
untuk lansia dengan golongan pengeluaran terbawah lebih banyak
tersedia di rumah sakit pemerintah.

45
Tabel 4.6 Persentase Penduduk Lansia yang Pernah Rawat
Inap Setahun Terakhir Menurut Tempat Rawat Inap,
2018
Tempat Berobat
Lansia Klinik/ Pengo-
Karakteristik Rawat RS Praktik Puskes-
RS dokter batan Lain-
Inap Peme- dokter/ mas /
Swasta bersa- tradisi- nya
rintah bidan Pustu
ma onal
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Total 8,46 47,55 36,49 1,99 3,77 13,66 0,39 0,45
Tipe Daerah
Perkotaan 9,16 47,81 44,30 1,19 2,84 7,24 0,37 0,53
Perdesaan 7,72 47,21 26,62 3,00 4,95 21,78 0,42 0,34
Jenis Kelamin

id
Laki-Laki 9,16 51,55 35,24 1,28 3,40 12,02 0,47 0,36

.
Perempuan 7,83 43,30 37,82 2,74 4,17 15,40 0,30 0,54

go
Kelompok Umur s.
Lansia Muda (60-69) 7,92 47,63 37,33 2,08 3,82 12,67 0,49 0,55
p
Lansia Madya (70-79) 9,72 48,26 35,05 1,79 3,34 15,25 0,05 0,37
.b

Lansia Tua (80+) 8,33 44,27 36,09 2,10 5,08 14,56 1,03 0,01
w

Kelompok Pengeluaran
w

Rumah Tangga
40% terbawah 5,97 46,87 23,17 2,60 4,50 24,67 0,36 0,77
//w

40% menengah 9,07 49,75 35,94 1,97 4,16 11,69 0,60 0,30
20% teratas 13,20 45,29 51,60 1,35 2,46 4,47 0,14 0,29
s:
tp

Status Disabilitas
Non Disabilitas 7,48 46,30 36,51 2,24 3,72 14,25 0,41 0,38
ht

Disabilitas 13,65 51,18 36,43 1,24 3,93 11,94 0,32 0,63

Sumber: BPS , Susenas Maret 2018

Jika penggunaan jaminan kesehatan pada lansia yang berobat


jalan tidak mencapai 50 persen, maka cerita berbeda terjadi pada
lansia yang rawat inap, dimana persentasenya melebihi 50 persen.
Hal ini terlihat melalui Tabel 4.7 yang menggambarkan bahwa dari
100 orang lansia yang melakukan rawat inap pada tahun 2018, ada
sekitar 67 orang diantaranya menggunakan jaminan kesehatan.
Kemungkinan hal ini terjadi karena penggunaan jaminan kesehatan
ketika rawat inap lebih menguntungkan dibandingkan berobat jalan
mengingat biaya yang dikeluarkan ketika rawat inap lebih besar.

46
Tabel 4.7 Persentase Penduduk Lansia yang Rawat Inap
Menurut Jaminan Kesehatan yang Digunakan, 2018
Lansia yang Jaminan Kesehatan
Rawat Inap
dengan Asuransi
Karakteristik Menggunakan Non Asuransi
PBI Jamkesda Perusahan/
Jaminan PBI Swasta
Kantor
Kesehatan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Total 67,39 52,51 39,37 5,63 0,59 2,20
Tipe Daerah
Perkotaan 71,83 43,44 48,44 4,22 0,96 3,25
Perdesaan 61,78 65,85 26,03 7,70 0,05 0,65
Jenis Kelamin

id
Laki-Laki 68,06 51,28 41,03 5,06 0,45 2,48
Perempuan 66,68 53,84 37,56 6,25 0,74 1,90

.
go
Kelompok Umur
Lansia Muda (60-69) 68,54 s.
50,97 41,04 5,73 0,78 1,88
Lansia Madya (70-79) 66,63 55,74 35,97 5,11 0,35 2,91
p
Lansia Tua (80+) 62,27 51,28 40,27 6,93 0,05 1,81
.b

Kelompok Pengeluaran
w

Rumah Tangga
w

40% terbawah 65,31 75,74 17,39 6,74 0,00 0,50


//w

40% menengah 66,17 54,31 37,86 6,27 0,47 1,30


20% teratas 71,31 27,30 62,97 3,73 1,33 5,01
s:

Status Disabilitas
tp

Non Disabilitas 66,55 52,19 39,93 5,32 0,59 2,20


ht

Disabilitas 69,83 53,38 37,81 6,49 0,59 2,19


Sumber: BPS, Susenas 2018

Berdasarkan jenis jaminan kesehatan, mayoritas lansia


Indonesia menggunakan PBI ketika melakukan rawat inap (52,51
persen). Akan tetapi, hal ini tidak terjadi pada lansia yang tinggal di
perkotaan maupun mereka yang berada pada kelompok pengeluaran
rumah tangga 20 persen teratas, dimana mayoritas menggunakan
jaminan kesehatan Non PBI ketika melakukan rawat inap.

Perilaku Merokok Lansia

Kebiasaan merokok memiliki pengaruh negatif


terhadap kesehatan, apalagi jika ini dilakukan oleh
para lansia, tentunya akan memiliki risiko yang lebih
tinggi terhadap penyakit-penyakit tertentu, kanker paru
salah satunya. Sayangnya masih ada lansia yang punya
kebiasaan merokok.

47
Intensitas merokok mencerminkan seberapa ‘akut’ kebiasaan
merokok lansia. Lansia yang merokok setiap hari tentu jauh lebih
berisiko terkena penyakit daripada yang kadang-kadang (tidak
setiap hari). Sayangnya, persentase lansia yang merokok setiap
hari jauh lebih besar dibandingkan yang tidak setiap hari. Berkaitan
dengan belum tersedianya data merokok yang bersumber dari
Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) 2018, maka yang disajikan pada
pembahasan ini adalah data merokok yang bersumber dari Susenas
Maret 2017.

Tabel 4.8 Persentase Lansia Menurut Kebiasaan Merokok,


2017

Merokok Tidak

id
Karakteristik Merokok Setiap Hari Setiap Hari

.
(1) (2) (3)

go
Total 21,73 2,53
Tipe Daerah
s.
Perkotaan 18,75 2,25
p
Perdesaan 24,67 2,81
.b

Jenis Kelamin
w

Laki-Laki 43,83 4,97


w

Perempuan 1,75 0,33


//w

Kelompok Umur
Lansia Muda (60-69) 24,80 2,66
s:

Lansia Madya (70-79) 17,63 2,39


tp

Lansia Tua (80+) 13,08 2,09


Kelompok Pengeluaran
ht

Rumah Tangga
40% terbawah 21,58 2,93
40% menengah 23,84 2,42
20% teratas 18,22 1,88
Sumber: BPS , Susenas Maret 2017

Hasil Susenas 2017 menunjukkan hampir seperempat lansia


merokok selama sebulan terakhir. Lansia perokok didominasi oleh
laki-laki. Terlihat dari Gambar 4.4 hampir separuh lansia laki-laki
adalah perokok. Di perkotaan lansia yang merokok lebih sedikit
dibandingkan perdesaan. Dilihat dari kelompok umur, persentase
lansia yang merokok semakin menurun seiring bertambahnya umur.
Kondisi fisik lansia yang melemah pada lansia tua agaknya menuntut
lansia untuk berhenti merokok dan mulai menghidupkan perilaku
sehat.

48
Gambar 4.4 Persentase Lansia yang Merokok Selama Sebulan
Terakhir, 2017

id
Sumber: BPS , Susenas Maret 2017

.
go
Lebih baik mencegah daripada mengobati. Sebelum terkena
s.
penyakit yang ditimbulkan oleh rokok, tidak diragukan lagi bahwa
p
satu-satunya jalan terbaik adalah berhenti merokok. Mungkin perokok
.b

yang sudah tua menganggap mereka terlalu tua untuk berhenti


w

merokok atau terlalu tua untuk mendapat manfaat dari berhenti


w

merokok. Padahal dengan tetap merokok dapat memperparah kondisi


//w

kesehatan lansia yang memang sudah rentan terkena penyakit.


s:

Gambar 4.5 Persentase Lansia yang Pernah Merokok Menurut


tp

Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2017


ht

Sumber: BPS , Susenas Maret 2017

Susenas 2017 memuat informasi mengenai riwayat kebiasaan


merokok lansia sebelum sebulan terakhir. Lansia yang tidak pernah
merokok ditanya mengenai kebiasaan merokok sebelumnya. Hasilnya,
6 persen lansia yang sudah tidak merokok selama sebulan terakhir
sebelumnya pernah merokok. Adapun lansia laki-laki yang berhenti
merokok cukup besar yakni sekitar 17 persen.

49
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b

51
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
5
KETENAGAKERJAAN
Lansia bekerja merupakan fenomena yang kerap terjadi. Motivasi yang
melatarbelakangi lansia bekerja terbagi menjadi dua, yaitu kebutuhan ekonomi
atau keinginan untuk tetap aktif di hari tua. Menurut Lembaga Demografi
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1993), lansia yang bekerja menganggap
bahwa bekerja adalah hal positif. Bekerja dapat meningkatkan harga diri,

id
kemandirian, dan partisipasi lansia dalam kegiatan ekonomi. Selain itu, menurut

.
go
Wirakartakusumah (1996), lansia bekerja merupakan bentuk aktualisasi diri.
s.
Di sisi lain, peningkatan usia pensiun yang ditetapkan oleh pemerintah
p
menunjukkan bahwa penduduk usia lanjut yang masih mampu dan sehat
.b

diharapkan untuk tetap bekerja dan aktif berpartisipasi dalam mendukung


w

perekonomian negara. Namun demikian, perlu dilihat karakteristik lain dari


w

lansia bekerja untuk menentukan apakah lansia bekerja merupakan hal positif
//w

yang patut didukung atau hal negatif yang perlu menjadi perhatian pemerintah.
s:

Pekerjaan yang sepantasnya dilakukan oleh lansia adalah pekerjaan yang layak
tp

mengingat kondisi kesehatan lansia yang tidak prima seperti masa mudanya.
ht

Konsep pekerjaan layak telah diatur oleh International Labour Organization (ILO)
yang mencakup 10 dimensi, yaitu kesempatan kerja, pendapatan yang mencukupi
dan pekerjaan yang produktif, jam kerja layak, menggabungkan pekerjaan, keluarga,
dan kehidupan pribadi, pekerjaan yang harus dihapuskan, stabilitas dan jaminan
pekerjaan, kesempatan dan perlakuan yang setara dalam pekerjaan, lingkungan kerja
yang aman, jaminan sosial, dan dialog sosial, representasi pekerja, dan pengusaha.
Kesempatan Lansia untuk Bekerja

Kesempatan lansia untuk bekerja telah


diatur dalam UU No. 13 Tahun 1998 Pasal 5. Dalam
Undang-Undang tersebut, dinyatakan bahwa sebagai
penghormatan dan penghargaan kepada lansia diberikan
hak untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dimana
salah satunya adalah pelayanan kesempatan kerja lansia.

53
Gambar 5.1 Persentase Penduduk Lansia Bekerja, 2015-2018

. id
go
Sumber: BPS , Sakernas Agustus 2018
p s.
Pada tahun 2018, persentase lansia bekerja mencapai 49,79
.b

persen. Dengan kata lain, 1 dari 2 lansia masih bekerja di usia


w

tuanya. Persentase tersebut meningkat dibandingkan tahun-tahun


w

sebelumnya.
//w

Gambar 5.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Jenis


s:

Kegiatan dalam Seminggu Terakhir, 2018


tp
ht

Sumber: BPS , Sakernas Agustus 2018

Sementara itu, sebesar 33,30 persen lansia mengurus rumah


tangga. Sebesar 16,60 persen lansia melakukan kegiatan lainnya.
Sisanya, sebesar 0,31 persen merupakan pengangguran.
Pada Tabel 5.1, dapat dilihat bahwa berdasarkan tipe daerah,
persentase lansia di perdesaan yang bekerja lebih tinggi dibandingkan
lansia di perkotaan (57,52 persen berbanding 42,68 persen). Hal ini
dapat disebabkan karena di daerah perdesaan tersedia lebih banyak

54
lapangan kerja informal, terutama sektor pertanian yang tidak
memerlukan keterampilan khusus. Akibatnya, lansia di perdesaan
lebih banyak yang terserap pada sektor tersebut dibandingkan
lansia di perkotaan. Alasan lain yang dapat melatarbelakangi lansia
di perdesaan tetap bekerja adalah kebutuhan ekonomi. Menurut
Giles et al. (2011), akumulasi kekayaan lansia di perdesaan lebih
rendah dibandingkan lansia di perkotaan sehingga mereka harus
bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tabel 5.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Jenis


Kegiatan dalam Seminggu Terakhir, 2018
Mengurus
Karakteristik Bekerja Pengangguran Rumah Lainnya Total

id
Tangga

.
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

go
Total 49,79 0,31 33,30 16,60 100,00
Tipe Daerah s.
Perkotaan 42,68 0,40 38,61 18,31 100,00
p
Perdesaan 57,52 0,21 27,52 14,75 100,00
.b

Jenis Kelamin
w

Laki-Laki 65,19 0,41 14,73 19,67 100,00


w

Perempuan 35,80 0,21 50,16 13,83 100,00


//w

Kelompok Umur
s:

Lansia Muda (60-69) 59,94 0,40 30,16 9,50 100,00


Lansia Madya (70-79) 36,56 0,13 40,18 23,23 100,00
tp

Lansia Tua (80+) 17,14 0,18 34,17 48,51 100,00


ht

Sumber: BPS , Sakernas Agustus 2018

Apabila dilihat berdasarkan jenis kelamin, persentase


lansia laki-laki yang bekerja jauh lebih tinggi dibandingkan lansia
perempuan yang bekerja (65,19 persen berbanding 35,80 persen).
Lansia perempuan lebih terkonsentrasi pada kegiatan mengurus
rumah tangga (50,16 persen).
Kemudian, jika melihat kelompok umur, semakin tua umur
lansia, semakin kecil persentase lansia yang bekerja. Persentase
lansia bekerja untuk kelompok umur lansia muda, lansia madya,
dan lansia tua berturut-turut adalah 59,94 persen, 36,56 persen,
dan 17,14 persen. Sementara itu, persentase lansia yang mengurus
rumah tangga dan melakukan kegiatan lainnya terus meningkat
seiring peningkatan kelompok umur. Hal ini dapat disebabkan
karena semakin tua lansia, semakin lemah kondisi fisiknya sehingga
menghalanginya untuk tetap bekerja.

55
Gambar 5.3 Distribusi Penduduk Lansia yang Bekerja Menurut
Tingkat Pendidikan, 2018

. id
Sumber: BPS , Sakernas Agustus 2018
go
p s.
Jika melihat distribusi lansia yang bekerja menurut tingkat
.b

pendidikan, terlihat bahwa pekerja lansia didominasi oleh lansia


w

berpendidikan rendah. Sebesar 47,59 persen lansia bekerja tidak


w

tamat SD dan sebesar 33,50 persen telah tamat SD. Persentase lansia
//w

bekerja tamat SMA dan tamat PT berturut-turut adalah 7,26 persen


s:

dan 3,22 persen. Hal ini dapat disebabkan karena lansia dengan
tingkat pendidikan tinggi telah memiliki kekayaan yang cukup untuk
tp

masa tuanya dibandingkan lansia dengan tingkat pendidikan rendah.


ht

Lapangan Usaha dan Status Pekerjaan Lansia

Salah satu indikator pekerjaan layak


adalah stabilitas dan keberlanjutan pekerjaan.
Sementara itu, precarious work adalah pekerjaan
yang berjangka pendek dan tidak stabil. Pekerjaan
yang termasuk precarious work adalah pekerja
bebas baik di sektor pertanian maupun non-
pertanian (ILO, 2011).
Berdasarkan lapangan usaha utama, sebesar 54,23 persen
lansia yang bekerja berada di lapangan usaha pertanian. Lapangan
usaha pertanian tidak memerlukan kualifikasi dan keterampilan
khusus, sehingga banyak lansia terserap dalam lapangan usaha ini.
Berdasarkan tipe daerah, terdapat pola lapangan usaha yang
berbeda antara lansia yang bekerja di perdesaan dan di perkotaan.
Lansia di perdesaan yang bekerja terkonsentrasi pada lapangan
usaha pertanian, yaitu sebesar 73,31 persen. Sementara itu, lansia

56
di perkotaan yang bekerja terkonsentrasi pada lapangan usaha jasa,
yaitu sebesar 50,41 persen.

Tabel 5.2 Persentase Penduduk Lansia Bekerja Menurut


Lapangan Usaha Utama, 2018

Karakteristik Pertanian Industri Jasa Total


(1) (2) (3) (4) (5)
Total 54,23 14,77 31,01 100,00
Tipe Daerah
Perkotaan 30,58 19,01 50,41 100,00
Perdesaan 73,31 11,35 15,34 100,00
Jenis Kelamin
Laki-Laki 58,77 15,35 25,88 100,00
Perempuan 46,71 13,80 39,49 100,00

id
Kelompok Umur

.
go
Lansia Muda (60-69) 51,50 15,56 32,94 100,00
Lansia Madya (70-79) 63,28
s. 11,98 24,74 100,00
Lansia Tua (80+) 62,00 13,52 24,48 100,00
p
Tingkat Pendidikan
.b

Tidak Tamat SD 62,61 13,80 23,59 100,00


w
w

Tamat SD/Sederajat 55,72 14,87 29,41 100,00


//w

Tamat SMP/Sederajat 34,90 18,70 46,40 100,00


Tamat SMA/Sederajat 27.83 17.61 54.56 100,00
s:

Tamat Pendidikan Tinggi 24.85 11.29 63.86 100,00


tp

Sumber: BPS , Sakernas Agustus 2018


ht

Kemudian, jika membandingkan antara tingkat pendidikan,


terjadi pergeseran pola seiring dengan peningkatan tingkat
pendidikan. Pada tingkat pendidikan SD/sederajat ke bawah,
sebagian besar lansia terserap di lapangan usaha pertanian.
Persentase lansia tidak tamat SD dan tamat SD/sederajat bekerja di
lapangan usaha pertanian berturut-turut sebesar 62,61 persen dan
55,72 persen. Sementara pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi,
sebagian besar lansia terserap di lapangan usaha jasa. Persentase
lansia tamat SMA/sederajat dan tamat Pendidikan Tinggi bekerja di
lapangan usaha jasa berturut-turut sebesar 54,56 persen dan 63,86
persen.
Hal ini dikarenakan semakin tinggi tingkat pendidikan lansia,
maka semakin tinggi kualifikasi dan keterampilan yang dimilikinya.
Sehingga, lansia tersebut dapat terserap di lapangan usaha jasa.
Dengan kata lain, lapangan usaha lansia bekerja sangat bergantung
pada latar belakang tingkat pendidikan lansia tersebut.

57
Tabel 5.3 Persentase Penduduk Lansia Bekerja Menurut
Status Pekerjaan Utama, 2018

Pekerja
Berusaha Buruh/
Berusaha Pekerja Keluarga/
Karakteristik Dibantu Karya- Total
Sendiri Bebas Tidak
Buruh wan Dibayar
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Total 28,16 39,07 10,54 9,97 12,26 100,00
Tipe Daerah
Perkotaan 32,50 31,64 17,15 9,66 9,06 100,00
Perdesaan 24,66 45,08 5,20 10,22 14,84 100,00
Jenis Kelamin
Laki-Laki 25,83 47,05 12,22 10,67 4,23 100,00
Perempuan 32,01 25,87 7,76 8,81 25,55 100,00

id
Kelompok Umur

.
go
Lansia Muda (60-69) 27,55 37,71 11,77 10,56 12,41 100,00
Lansia Madya (70-79) 29,83 43,58 6,85
s. 8,04 11,69 100,00
Lansia Tua (80+) 32,37 43,11 4,10 8,00 12,42 100,00
p
Tingkat Pendidikan
.b

Tidak Tamat SD 28,39 38,22 7,42 11,70 14,26 100,00


w
w

Tamat SD/Sederajat 28,04 39,87 9,63 10,99 11,48 100,00


//w

Tamat SMP/Sederajat 30,41 40,21 13,88 6,16 9,34 100,00


Tamat SMA/Sederajat 28,60 40,52 20,24 2,62 8,02 100,00
s:

Tamat Pendidikan Tinggi 18,97 37,23 35,48 0,27 8,06 100,00


tp
ht

Sumber: BPS , Sakernas Agustus 2018

Untuk menentukan apakah lansia termasuk precarious


work, perlu dilihat status pekerjaan lansia tersebut. Lansia yang
bekerja sebagai pekerja bebas termasuk ke dalam precarious
work. Berdasarkan Gambar 5.4, persentase lansia yang termasuk
precarious work adalah 9,97 persen. Precarious work cenderung
tidak stabil dari segi upah dan jam kerja. Hal ini pada akhirnya akan
berpengaruh pada kesejahteraan lansia tersebut.
Kemudian, persentase lansia yang berusaha sendiri adalah
sebesar 28,16 persen. Sementara itu, persentase lansia yang
merupakan pekerja keluarga/tidak dibayar sebesar 12,26 persen.
Kedua status pekerjaan ini dan pekerja bebas termasuk dalam
vulnerable employment. Menurut UN (2012), kedua status pekerjaan
tersebut cenderung tidak formal, tidak memiliki jaminan sosial, dan
lebih berisiko untuk bangkrut ketika keadaan ekonomi memburuk.

58
Gambar 5.4 Persentase Penduduk Lansia Bekerja yang Termasuk
Precarious Work, 2018

id
.
go
Sumber: BPS , Sakernas Agustus 2018
s.
Berdasarkan Gambar 5.5, persentase lansia yang termasuk
p
vulnerable employment adalah sebesar 50,39 persen. Persentase
.b

vulnerable employment di perkotaan dan di perdesaan relatif tidak


w

berbeda jauh (51,21 persen berbanding 49,72 persen). Berdasarkan


w

jenis kelamin, terlihat bahwa persentase lansia perempuan yang


//w

terserap di vulnerable employment lebih tinggi dibandingkan


lansia laki-laki (66,37 persen berbanding 40,73 persen). Apabila
s:

dilihat dari kelompok umur, persentase vulnerable employment


tp

cenderung meningkat seiring dengan peningkatan kelompok


ht

umur. Lansia yang terserap dalam vulnerable employment lebih


cenderung untuk jatuh miskin ketika permintaan menurun.

Gambar 5.5 Persentase Penduduk Lansia Bekerja yang Termasuk


Vulnerable Employment, 2018

Sumber: BPS , Sakernas Agustus 2018

59
Jam Kerja Layak

Kondisi fisik yang sudah tidak prima membuat lansia tidak


dapat bekerja dengan jam kerja yang berlebihan. Selain mengancam
kondisi fisik dan mental lansia dalam jangka panjang, jam kerja
berlebihan dapat menurunkan produktivitas pekerjaan (ILO, 2011).
Menurut ILO, jumlah jam kerja maksimal seseorang dalam seminggu
adalah 48 jam. Apabila jam kerja melebihi batas tersebut, maka
pekerjaan tergolong tidak layak dari aspek jam kerja.

Tabel 5.4 Persentase Penduduk Lansia Bekerja Menurut


Jumlah Jam Kerja dalam Seminggu, 2018

id
1-14 15-34 35-48 49 jam
Karakteristik 0 jam Total

.
jam jam jam atau lebih

go
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Total 3,73 14,88 36,64 26,79
s. 17,96 100,00
Tipe Daerah
p
Perkotaan 3,69 12,65 28,92 29,72 25,02 100,00
.b

Perdesaan 3,75 16,69 42,88 24,42 12,27 100,00


w

Jenis Kelamin
w

Laki-Laki 3,86 11,60 36,51 30,27 17,76 100,00


//w

Perempuan 3,50 20,32 36,85 21,02 18,31 100,00


Kelompok Umur
s:

Lansia Muda (60-69) 3,41 13,15 35,39 28,52 19,52 100,00


tp

Lansia Madya (70-79) 4,64 19,72 41,17 21,37 13,10 100,00


ht

Lansia Tua (80+) 5,45 26,34 37,49 19,35 11,38 100,00


Lapangan Usaha
Pertanian 4,38 18,52 46,62 23,00 7,47 100,00
Industri 3,51 9,19 27,16 39,50 20,65 100,00
Jasa 2,68 11,24 23,70 27,34 35,03 100,00

Sumber: BPS , Sakernas Agustus 2018

Tabel 5.4 menunjukkan sebesar 17,96 persen


lansia bekerja dengan jam kerja berlebihan. Persentase
lansia yang bekerja secara berlebihan lebih tinggi
di perkotaan dibandingkan lansia di perdesaan
(25,02 persen berbanding 12,27 persen). Rendahnya
persentase lansia dengan jam kerja berlebih di
perdesaan dapat diakibatkan karena sebagian besar
lansia di perdesaan bekerja di lapangan usaha pertanian yang tidak
memerlukan waktu kerja yang lama.

60
Gambar 5.6 Rata-rata Jumlah Jam Kerja (dalam jam) dari
Penduduk Lansia yang Bekerja Menurut Kelompok
Umur, 2018

id
.
go
Sumber: BPS , Sakernas Agustus 2018
s.
Gambar 5.6 menunjukkan rata-rata jam kerja lansia bekerja
p
dalam seminggu adalah 32,31 jam. Apabila melihat kelompok umur,
.b

rata-rata jumlah jam kerja lansia semakin menurun seiring dengan


w

peningkatan umur. Hal ini dilatarbelakangi menurunnya kondisi fisik


w

lansia seiring dengan bertambahnya usia.


//w

Pendapatan/Upah/Gaji yang Mencukupi


s:
tp

Lansia memiliki hak untuk memperoleh pendapatan/upah/


ht

gaji yang layak guna menjamin kesejahteraan dan memenuhi


kebutuhan hidupnya. Lansia pun perlu biaya tambahan untuk
perawatan kesehatan dikarenakan kondisi fisik mereka yang
menurun.
Sebesar 48,32 persen lansia bekerja memperoleh
pendapatan/upah/gaji kurang dari satu juta per bulan. Apabila
dilihat tipe daerahnya, persentase lansia bekerja di perdesaan
yang memperoleh pendapatan/upah/gaji kurang dari satu juta per
bulan lebih tinggi dibandingkan lansia di perkotaan (57,23 persen
berbanding 40,86 persen).
Kemudian, lansia perempuan yang bekerja
dan memperoleh pendapatan/upah/gaji kurang
dari satu juta per bulan lebih tinggi dibandingkan
lansia laki-laki (64,03 persen berbanding 38,85
persen). Selain itu, seiring dengan bertambahnya
usia, persentase lansia bekerja yang memperoleh
pendapatan/upah/gaji kurang dari satu juta per
bulan semakin meningkat. Persentase lansia muda

61
bekerja yang memperoleh pendapatan/upah/gaji kurang dari satu
juta per bulan adalah 43,95 persen, jauh lebih rendah dibandingkan
dengan lansia tua (75,76 persen).

Tabel 5.6 Persentase Lansia Bekerja Menurut Pendapatan/


Upah/Gaji dalam Sebulan, 2018

Kurang 1.000.000 2.000.000 3.000.000


Karakteristik dari – – Total
atau lebih
1.000.000 1.999.999 2.999.999
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Total 48,32 29,35 11,52 10,81 100,00
Tipe Daerah
Perkotaan 40,86 31,10 13,03 15,01 100,00

id
Perdesaan 57,23 27,25 9,73 5,79 100,00

.
go
Jenis Kelamin
Laki-Laki 38,85 32,82 14,73 13,59 100,00
Perempuan 64,03 23,58
p s. 6,20 6,19 100,00
Kelompok Umur
.b

Lansia Muda (60-69) 43,95 31,18 12,65 12,22 100,00


w

Lansia Madya (70-79) 62,62 23,48 7,91 5,99 100,00


Lansia Tua (80+) 75,76 16,89 3,95 3,40 100,00
w
//w

Tingkat Pendidikan
Tidak Tamat SD 60,53 27,57 7,34 4,56 100,00
s:

Tamat SD/Sederajat 43,93 32,96 14,21 8,90 100,00


tp

Tamat SMP/Sederajat 32,84 32,11 17,06 17,99 100,00


Tamat SMA/Sederajat 25,50 28,76 18,76 26,98 100,00
ht

Tamat Pendidikan Tinggi 18,01 13,31 11,61 57,08 100,00

Sumber: BPS , Sakernas Agustus 2018

Berdasarkan tingkat pendidikan, persentase lansia yang


bekerja dan menerima pendapatan/upah/gaji rendah semakin
menurun seiring dengan peningkatan jenjang pendidikan. Persentase
lansia tidak tamat SD bekerja dan menerima pendapatan/upah/gaji
kurang dari satu juta per bulan adalah 60,53 persen. Sementara
itu, persentase lansia tamat PT dan menerima pendapatan/upah/
gaji kurang dari satu juta per bulan adalah 18,01 persen. Hal ini
disebabkan karena lansia yang menamatkan PT memiliki kualifikasi
dan kemampuan yang lebih tinggi sehingga dapat terserap dalam
pekerjaan yang menawarkan pendapatan/upah/gaji tinggi.

62
Gambar 5.5 Persentase Penduduk Lansia yang Bekerja dengan
Upah Rendah, 2018

id
Sumber: BPS , Sakernas Agustus 2018

.
go
Upah rendah adalah upah di bawah 2/3 median upah
(ILO, 2011). Dari Gambar 5.5, dapat dilihat bahwa sebesar 33,80
s.
persen lansia memperoleh upah rendah. Artinya, 3 dari 10 lansia
p
.b

yang bekerja memperoleh pendapatan/upah/gaji tidak layak.


Apabila dibedakan menurut tipe daerah, persentase lansia bekerja
w

dengan upah rendah lebih tinggi di perdesaan dibandingkan lansia


w

di perkotaan. Hal ini disebabkan karena pekerjaan di perdesaan


//w

didominasi lapangan usaha pertanian yang memberikan upah


s:

rendah. Apabila dibedakan berdasarkan jenis kelamin, persentase


tp

lansia perempuan dengan upah rendah lebih tinggi dibandingkan


lansia laki-laki (47,34 persen berbanding 25,64 persen).
ht

Gambar 5.6 Rata-rata Besarnya Pendapatan/Upah/Gaji (ribu


rupiah) dari Lansia yang Bekerja Menurut Lapangan
Usaha, 2018

Sumber: BPS , Sakernas Agustus 2018

63
Lansia yang bekerja di lapangan usaha pertanian memiliki
pendapatan/upah/gaji terendah dibandingkan lapangan usaha
lainnya, yaitu sekitar 1,020 juta per bulan. Sementara itu, lapangan
usaha dengan pendapatan/upah/gaji tertinggi adalah jasa. Lansia
yang bekerja di sektor jasa memperoleh pendapatan/upah/gaji rata-
rata sekitar 1,488 juta per bulan. Dari bahasan sebelumnya, diketahui
bahwa sebagian lansia bekerja di lapangan usaha pertanian.
Sehingga, perlu diperhatikan kesejahteraan lansia tersebut secara
ekonomi.

. id
go
p s.
.b
w
w
//w
s:
tp
ht
ht
tp
s:
//w
w
w
.b

65
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
6
SOSIAL EKONOMI
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat dan usia harapan hidup di Indonesia hingga mencapai 73,06
tahun untuk perempuan dan 69,16 tahun untuk laki-laki pada tahun 2017 (BPS,
2018). Dengan meningkatnya usia harapan hidup, jumlah populasi penduduk lansia
juga meningkat. Peningkatan jumlah penduduk lansia tersebut membawa dampak

id
salah satunya terhadap peningkatan ketergantungan lansia. Proses penuaan yang

.
go
dialami oleh lansia merupakan suatu proses yang akan dirasakan oleh setiap manusia.
Mulyati (2012) mengemukakan beberapa permasalahan yang berkaitan dengan
s.
lansia, diantaranya kondisi fisik semakin menurun serta penyesuaian kondisi hidup
p
dengan perubahan status ekonomi dan kondisi fisik. Fungsi panca indra yang menurun
.b

membuat lansia kadang memerlukan bantuan orang lain dalam melakukan aktivitas
w

sehari-hari. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap menurunnya kemampuan


w

lansia secara ekonomi. Dukungan sosial dan ekonomi baik dari keluarga dan
//w

masyarakat diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup lansia.


s:

Rumah Layak Bagi Lansia


tp
ht

Menurunnya kondisi fisik lansia membuat mereka jarang


melakukan aktivitas di luar rumah. Sebagian besar lansia lebih
banyak menghabiskan waktunya di
rumah. Untuk menunjang kehidupan
lansia tersebut, maka tempat tinggal
yang aman dan nyaman sangat
diperlukan. Kepemilikan tempat tinggal
juga menjadi salah satu gambaran
kesejahteraan penduduk lansia. Lansia
yang tinggal di rumah milik sendiri
dapat lebih fokus untuk pembiayaan
lainnya seperti kesehatan, pendidikan, dan investasi. Lansia yang
menempati rumah milik sendiri juga bisa menjadi suatu simbol
pencapaian yang tinggi secara ekonomi. Persentase penduduk lansia
menurut karakteristik demografi dan status kepemilikan tempat
tinggal dapat dilihat pada Tabel 6.1.

67
Tabel 6.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Karakteristik
Demografi dan Status Kepemilikan Tempat Tinggal,
2018
Status Kepemilikan Tempat Tinggal
Karakteristik Milik Kontrak/ Bebas Dinas Lainnya Total
sendiri sewa sewa
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Total 92,54 1,95 5,07 0,23 0,21 100,00
Tipe Daerah
Perkotaan 89,92 3,47 5,97 0,36 0,28 100,00
Perdesaan 95,33 0,33 4,11 0,09 0,14 100,00
Jenis Kelamin

id
Laki-Laki 93,24 2,13 4,21 0,26 0,15 100,00

.
Perempuan 91,90 1,78 5,85 0,20 0,26 100,00

go
Sumber: BPS, Susenas Maret 2018 s.
p
Persentase lansia yang tinggal di rumah milik sendiri pada
.b

tahun 2018 mencapai 92,54 persen atau dapat dikatakan 9 dari 10


w

lansia telah memiliki rumah sendiri. Jika dilihat berdasarkan tipe


w

daerah, lansia di perdesaan yang memiliki rumah sendiri (95,33


//w

persen) lebih banyak dibandingkan di perkotaan (89,92 persen).


Rosetta E. Parker (1984) dalam Tampubolon (2007) mengemukakan
s:

salah satu bentuk tempat tinggal lansia adalah aging in place


tp

(lansia tinggal di rumah milik sendiri). Lansia yang memilih untuk


ht

tetap tinggal di rumah miliknya sendiri kemungkinan karena telah


mengenal lingkungan sekitarnya selama bertahun-tahun sehingga
merasa nyaman dan tidak tertarik untuk pindah dan beradaptasi
dengan lingkungan baru.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah masih adanya
lansia yang tinggal di rumah kontrak/sewa. Dengan menurunnya
kondisi fisik dan kemampuan lansia secara ekonomi, mereka masih
harus memikirkan biaya kontrak/sewa. Berdasarkan data Susenas
2018, terdapat 3,47 persen lansia di perkotaan yang tinggal di
rumah kontrak/sewa. Persentase tersebut sepuluh kali lebih besar
dibandingkan lansia di perdesaan yang hanya sekitar 0,33 persen.
Dengan kata lain, jika di perkotaan terdapat 10 lansia yang tinggal di
rumah kontrak/sewa maka di perdesaan hanya ada 1 lansia.
Pedoman mengenai kota layak lansia yang berjudul
Global Age Friendly Cities: A Guide (2007) dari World Health
Organization (WHO) menuliskan bahwa perumahan yang layak
dapat memengaruhi kemandirian dan kualitas hidup penduduk
lansia. Rumah layak huni adalah rumah yang memenuhi persyaratan

68
keselamatan, bangunan, dan kecukupan minimum luas bangunan
serta kesehatan penghuninya. Selama kurun waktu tahun 2014
sampai dengan 2017, persentase penduduk lansia yang tinggal di
rumah layak huni mengalami peningkatan hingga mencapai 88,56
persen pada tahun 2017. Namun pada tahun 2018, persentase
tersebut turun menjadi 88,41 persen.

Gambar 6.1 Persentase Penduduk Lansia yang Tinggal di Rumah


Layak Huni, 2014-2018

.id
go
p s.
.b
w
w
//w
s:
tp
ht

Sumber: BPS, Susenas Maret 2014-2018

Peraturan mengenai perumahan di Indonesia


telah dituangkan dalam Undang-Undang No. 4 Tahun
1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. Dalam
Undang-Undang tersebut, khususnya pada Pasal 5 ayat
1, dinyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai
hak untuk menempati dan/atau menikmati dan/
atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan
yang sehat, aman, serasi, dan teratur (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1992 nomor 23).
Untuk menilai kelayakan rumah tempat tinggal lansia,
digunakan konsep rumah layak huni yang terdiri dari 3 kriteria:
layak huni, hampir tidak layak huni, dan tidak layak huni. Persentase
penduduk lansia menurut status kelayakan rumah tempat tinggal
dapat dilihat pada Tabel 6.2.
Menurut tipe daerah, kelayakan rumah tinggal bagi lansia
yang tinggal di daerah perkotaan terlihat lebih baik dibandingkan

69
lansia yang tinggal di daerah perdesaan (lihat Tabel 6.2). Hal ini
terlihat dari tingginya persentase lansia di perkotaan yang tinggal di
rumah layak huni dibandingkan lansia di perdesaan (92,20 persen
berbanding 82,96 persen). Jika dilihat menurut jenis kelamin, lansia
laki-laki lebih banyak yang tinggal di rumah layak huni dibandingkan
lansia perempuan (88,43 persen berbanding 87,09 persen). Secara
umum, sekitar 8 dari 10 lansia tinggal di rumah layak huni.

Tabel 6.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Karakteristik


Demografi dan Status Kelayakan Rumah Tempat
Tinggal, 2018

Kelompok Umur

id
Karakteristik Rumah Hampir tidak Tidak Total

.
layak huni layak huni layak huni

go
(1) (2) (3) s. (4) (5)
Total 87,72 9,16 3,12 100,00
p
Tipe Daerah
.b

Perkotaan 92,20 6,18 1,62 100,00


w

Perdesaan 82,96 12,32 4,72 100,00


w

Jenis Kelamin
//w

Laki-Laki 88,43 8,75 2,82 100,00


Perempuan 87,09 9,52 3,39 100,00
s:
tp

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018


ht

Status Ekonomi Lansia

Status ekonomi lansia dilihat berdasarkan status ekonomi


rumah tangga dimana lansia tersebut tinggal. Rumah tangga lansia
diurutkan berdasarkan pengeluaran per kapitanya kemudian
dikelompokan ke dalam 40 persen rumah tangga lansia dengan
ekonomi terbawah, 40 persen rumah tangga lansia dengan ekonomi
menengah, dan 20 persen rumah tangga lansia dengan ekonomi
teratas. Gambar 6.2 memperlihatkan persentase lansia menurut
status ekonomi rumah tangganya. Berdasarkan gambar tersebut
dapat dilihat bahwa lansia di Indonesia mayoritas berada di rumah
tangga dengan kelompok pengeluaran 40 persen terbawah (44,45
persen). Hal ini menunjukkan bahwa kondisi lansia di Indonesia
masih cukup mengkhawatirkan secara ekonomi. Untuk dapat
memenuhi kebutuhan kesehatan dan asupan yang cukup, lansia
memerlukan dukungan secara ekonomi dari keluarganya atau rumah
tangga tempat dia tinggal.

70
Gambar 6.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Kelompok
Pengeluaran Rumah Tangga, 2018

. id
go
p s.
Sumber: BPS, Susenas Maret 2018
.b
w

Jika dilihat kembali secara lebih rinci pada Tabel 6.3, secara
w

umum terdapat pola yang sama baik di perkotaan maupun di


//w

perdesaan dimana persentase tertinggi adalah lansia yang tinggal di


rumah tangga dengan kelompok pengeluaran 40 persen terbawah.
s:

Hal yang sama juga terlihat pada persentase lansia menurut jenis
tp

kelamin. Sekitar 4 dari 10 lansia laki-laki (42,87 persen) maupun


ht

perempuan (45,90 persen) berada pada rumah tangga dengan


kelompok pengeluaran 40 persen terbawah.
Nugroho W. (2000) dalam penelitiannya menyebutkan
bahwa kondisi lanjut usia akan menyebabkan kemunduran di
bidang ekonomi. Hal ini dikarenakan masa pensiun akan berakibat
pada turunnya pendapatan, hilangnya fasilitas-fasilitas, kekuasaan,
wewenang, dan penghasilan. Di sisi lain, lansia dituntut untuk
memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup sehari–hari yang
semakin meningkat dari sebelumnya, seperti kebutuhan akan
makanan gizi seimbang, pemeriksaan kesehatan secara rutin,
perawatan bagi yang menderita penyakit ketuaan dan kebutuhan
rekreasi. Kondisi fisik dan psikis yang menurun menyebabkan lansia
kurang mampu menghasilkan pekerjaan yang produktif. Oleh karena
itu, untuk mencukupi kebutuhan hidup terkadang lansia mendapat
bantuan dari anak-anak atau keluarga. Bantuan tersebut berupa
uang atau kebutuhan-kebutuhan lain seperti makanan, pakaian, dan
kesehatan.

71
Tabel 6.3 Persentase Lansia Menurut Kelompok Pengeluaran
Rumah Tangga, 2018

Kelompok Pengeluaran Rumah Tangga


Karakteristik 40% 40% 20% Total
Terbawah Menengah Teratas
(1) (2) (3) (4) (5)
Total 44,45 36,89 18,65 100,00
Tipe Daerah
Perkotaan 43,63 36,17 20,20 100,00
Perdesaan 44,46 37,06 18,48 100,00
Jenis Kelamin
Laki-Laki 42,87 37,90 19,24 100,00

id
Perempuan 45,90 35,98 18,12 100,00

.
go
Sumber: BPS - Susenas Kor 2018
s.
Berdasarkan data Susenas tahun 2018, sekitar 3 dari 4 rumah
p
.b

tangga lansia di Indonesia memiliki sumber pembiayaan terbesar


dari anggota rumah tangga (ART) yang bekerja. Jika dilihat menurut
w

tipe daerah, rumah tangga lansia di perdesaan (82,11 persen) lebih


w

banyak yang dibiayai ART bekerja dibandingkan dengan rumah


//w

tangga lansia di perkotaan (74,90 persen). Dan kurang dari 1 persen


s:

lansia yang sumber pembiayaannya dari investasi. Hal tersebut


tp

memberikan gambaran bahwa lansia di Indonesia kurang siap


dalam menghadapi masa tuanya. Akan lebih baik jika selama masih
ht

muda seseorang memiliki investasi sehingga pada saat lansia tinggal


menikmati hasil kerja kerasnya.

Gambar 6.3 Persentase Rumah Tangga Lansia Menurut Sumber


Pembiayaan Terbesar Rumah Tangga, 2018

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

72
Lansia Korban Kejahatan

Salah satu permasalahan sosial yang dihadapi oleh


masyarakat baik di perkotaan maupun di perdesaan adalah
kriminalitas atau tindak kejahatan. Dalam berbagai acara berita di
televisi misalnya, hampir setiap hari selalu
ada berita mengenai tindak kejahatan. Hal ini
tentunya cukup meresahkan bagi masyarakat.
Tindak kejahatan yang dilakukan sangat
bervariasi, mulai dari pencurian, perampokan,
penipuan, pembunuhan dan lain sebagainya.
Lansia yang lemah dan hidup sendiri ataupun
yang ada di lingkungan keluarganya sangat

id
rentan terhadap kekerasan dan kejahatan.

.
go
Faktor usia dan kondisi fisik lansia dianggap sebagai peluang bagi
para pelaku kejahatan untuk melakukan kejahatan, karena para
s.
pelaku kejahatan berpikir para lansia tersebut tidak bisa berbuat
p
.b

apa-apa jika menjadi korban kejahatan.


w

Gambar 6.4 Persentase Lansia yang Pernah Menjadi Korban


w

Kejahatan, 2018
//w
s:
tp


ht

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

Berdasarkan Gambar 6.4, terlihat bahwa 1,31 persen lansia


pernah menjadi korban kejahatan dalam setahun terakhir. Meskipun
persentase tersebut terbilang sangat kecil, namun seharusnya lansia
tidak perlu khawatir terhadap lingkungan sekitarnya karena masih
adanya kemungkinan bahwa lansia menjadi korban dalam suatu
tindak kejahatan. Persentase lansia yang menjadi korban kejahatan
di perkotaan tidak berbeda jauh dengan lansia di perdesaan (1,35
persen berbanding 1,26 persen). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat
keamanan di perkotaan maupun di perdesaan sama bagi lansia.

73
Tabel 6.4 Persentase Lansia yang Menjadi Korban Kejahatan
Menurut Jenis Kejahatan, 2018
Jenis Kejahatan
Karakteristik Pencurian Pelecehan Kejahatan
Pencurian Penganiayaan dengan Seksual Lainnya
Kekerasan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Total 86,41 2,98 1,96 1,09 16,13
Tipe Daerah
Perkotaan 84,11 2,82 1,95 1,22 19,67
Perdesaan 89,02 3,15 1,98 0,94 12,11
Jenis Kelamin
Laki-Laki 87,49 2,53 1,55 0,99 16,65

id
Perempuan 84,53 3,77 2,69 1,25 15,23

.
go
Sumber: BPS, Susenas Maret 2018
s.
Jenis kejahatan yang dialami oleh lansia yang menjadi
p
korban kejahatan dapat dilihat pada Tabel 6.4. Berdasarkan tabel
.b

tersebut terlihat bahwa jenis kejahatan yang paling banyak dialami


w

oleh lansia yang pernah menjadi korban adalah pencurian yaitu


w

sekitar 86,41 persen. Pola yang sama juga terjadi baik di perkotaan
//w

(84,11 persen) maupun di perdesaan (89,02 persen). Persentase


terbesar jenis kejahatan yang dialami oleh lansia adalah pencurian.
s:

Selain pencurian, jenis kejahatan lainnya yang pernah dialami yaitu


tp

penganiayaan, pencurian dengan kekerasan, pelecehan seksual,


ht

serta kejahatan lainnya. Jika dilihat menurut jenis kelamin, baik


lansia laki-laki (87,49 persen) maupun perempuan (84,53 persen)
juga mengalami jenis kejahatan dengan persentase terbesar yaitu
pencurian (86,41 persen).

74
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
7
PERLINDUNGAN SOSIAL
Kondisi fisik setiap orang akan menurun seiring dengan bertambahnya usia.
Itu artinya, penduduk lanjut usia (lansia) lebih rentan dibandingkan dengan
penduduk yang lebih muda sehingga perlu mendapatkan perlindungan dan
perhatian khusus. Seperti yang sudah disebutkan dalam bab sebelumnya,
Indonesia saat ini berada dalam struktur penduduk yang mengarah ke

id
struktur tua. Oleh sebab itu, hal-hal yang terkait perlindungan lansia serta

.
go
sarana dan prasarana yang ramah lansia harus disiapkan dari sekarang.
s.
Menurut UU No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, Perlindungan
p
Sosial adalah semua upaya yang diarahkan untuk mencegah dan menangani
.b

risiko dari guncangan dan kerentanan sosial seseorang, keluarga, kelompok, dan/
w

atau masyarakat agar kelangsungan hidupnya dapat dipenuhi sesuai dengan


w

kebutuhan dasar minimal. Perlindungan sosial dimaksudkan agar seseorang,


//w

keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat yang mengalami guncangan dan


kerentanan sosial dapat tetap hidup secara wajar. Bab ini akan membahas
s:

beberapa program terkait perlindungan sosial yang ditujukan kepada


tp

penduduk lansia, baik yang berupa bantuan sosial maupun jaminan sosial.
ht

Bantuan Sosial Lansia

Tahun 2018 merupakan awal peralihan program yang


semula berupa pola subsidi menjadi pola bantuan sosial. Program
Subsidi Beras Sejahtera (Rastra) yang selama ini berjalan, telah
bertransformasi atau berubah menjadi Bantuan Sosial Rastra
(Bansos Rastra). Bansos Rastra bertujuan untuk mengurangi beban
pengeluaran dan meningkatkan akses masyarakat miskin dan rentan
melalui pemenuhan kebutuhan pangan pokok yang menjadi hak
dasarnya.
Sebesar 42,06 persen rumah tangga lansia menerima bansos
rastra dalam empat bulan terakhir pada tahun 2018. Angka ini
mengalami penurunan jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya
(Gambar 7.1). Penurunan ini dapat terjadi karena adanya program
penyaluran Bantuan Sosial Pangan dalam bentuk non tunai atau
yang lebih dikenal dengan istilah Bantuan Pangan Non Tunai
(BPNT). Dari total 15,6 juta penerima subsidi rastra, mulai tahun

77
2018 akan bertransformasi menjadi 10 juta penerima BPNT dan 5,6
juta penerima bansos rastra.

Gambar 7.1 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Menerima


Bansos Rastra, 2016-2018

. id
go
s.
Sumber: BPS, Susenas Maret 2016-2018
p
.b

BPNT tahun 2018 dilaksanakan di 118 Kabupaten dan 98


w

Kota yang penyalurannya dilakukan dalam 4 tahap, yakni tahap


w

I pada bulan Februari, tahap II pada bulan Maret, tahap III pada
//w

bulan Juli, dan tahap IV pada bulan Agustus. Jika dilihat lebih rinci
menurut tipe daerah, Gambar 7.2 menunjukkan bahwa persentase
s:

rumah tangga lansia yang menerima bansos rastra di perdesaan dua


tp

kali lebih tinggi dibanding perkotaan (56,57 persen dibanding 28,52


ht

persen).

Gambar 7.2 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Menerima


Bansos Rastra Menurut Tipe Daerah, 2018

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

78
Jika sebelumnya pemerintah menetapkan rumah tangga
lansia menerima subsidi rastra sebanyak 15 kg per bulan dengan
harga/biaya tebus 1.600 rupiah per kg, melalui perubahan pola
subsidi menjadi pola bantuan sosial, mulai 2018 ini rumah tangga
lansia menerima Bansos Rastra sejumlah 10
kg dengan kualitas medium dan disalurkan
setiap bulan tanpa dikenakan harga/biaya
tebus. Namun, Tabel 7.1 menunjukkan
bahwa rata-rata besaran (kg) bansos rastra
yang diterima oleh rumah tangga lansia
masih jauh lebih rendah dari yang telah
ditetapkan pemerintah. Baik di perkotaan maupun di perdesaan,

id
tiap rumah tangga lansia hanya menerima sekitar separuh dari yang

.
go
ditetapkan pemerintah.
Bansos rastra yang harusnya diterima rumah tangga lansia
s.
secara cuma-cuma juga belum terlaksana sepenuhnya. Setiap rumah
p
tangga lansia masih harus membayar sekitar 800 rupiah untuk tiap
.b

kg rastra yang diterima. Meskipun demikian, harga rastra tersebut


w

sudah jauh lebih murah dibandingkan sebelum adanya peraturan


w

pemerintah, di mana sebelumnya harga per kg rastra mencapai


//w

1.900 rupiah.
s:

Tabel 7.1 Karakteristik Penyaluran Bantuan Sosial Beras


tp

Sejahtera (Bansos Rastra) kepada Rumah Tangga


Lansia, 2018
ht

Rata-rata Rata-Rata Harga


Bulan Bayaknya (kg) (rupiah) Bansos
Tipe Daerah Penerimaan Bansos Rastra Rastra yang
Bansos Rastra yang Diterima Dibeli per Bulan
per Bulan
(1) (2) (3) (4)
Nov-Des 2017 5,82 1987,96
Total
Jan-Feb 2018 4,51 881,91
Tipe Daerah
Nov-Des 2017 7,60 1898,19
Perkotaan
Jan-Feb 2018 5,10 776,18
Nov-Des 2017 6,99 1929,03
Perdesaan
Jan-Feb 2018 4,89 815,05
Sumber: BPS, Susenas 2018

Bansos Rastra merupakan bagian dari kebijakan pemerintah


untuk mengentaskan kemiskinan. Namun kenyataannya, masih ada
1 dari 10 rumah tangga lansia kelompok pengeluaran 20 persen
teratas yang menerima rastra. Sementara itu, dari 10 rumah

79
tangga lansia kelompok 40 persen terbawah yang seharusnya lebih
berhak menerima bansos rastra, tercatat hanya 6 yang menerima
rastra. Ketidaktepatan sasaran dalam penyaluran bansos rastra
lebih terlihat jelas di perdesaan, di mana persentase rumah tangga
lansia kelompok 20% teratas yang menerima rastra mencapai 9 kali
lebih besar dibandingkan perkotaan (37,62 persen dibanding 4,26
persen).

Tabel 7.2 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Menerima


Bansos Rastra Menurut Tipe Daerah dan Kelompok
Pengeluaran, 2018

Tipe Daerah
Karakteristik Total

id
Perkotaan Perdesaan

.
(1) (2) (3) (4)

go
Total 28,52 56,57 42,06
Kelompok Pengeluaran s.
Rumah Tangga
p
40% terbawah 47,37 66,90 59,14
.b

40% menengah 20,11 54,45 38,14


w

20% teratas 4,26 37,62 10,97


w

Sumber: BPS, Susenas 2018


//w

Selain Bantuan Sosial Pangan, pemerintah secara khusus


s:

menetapkan penduduk lansia sebagai penerima manfaat Program


tp

Keluarga Harapan (PKH) dalam komponen kesejahteraan sosial.


ht

PKH itu sendiri adalah program pemberian bantuan sosial bersyarat


kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang ditetapkan sebagai
keluarga penerima manfaat PKH. Merujuk pada Surat Keputusan
Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Nomor 26/
LJS/12/2016 tanggal 27 Desember 2016 tentang Indeks dan
Komponen Bantuan Sosial Program Keluarga Harapan Tahun 2017,
nilai bantuan lanjut usia adalah sebesar 2.000.000 rupiah. Adanya
bansos PKH ini dengan bantuan sosial dan program subsidi lainnya
diharapkan berdampak signifikan dalam percepatan penanganan
kemiskinan di Indonesia.
Gambar 7.3 menunjukkan bahwa sekitar 7,51 persen rumah
tangga lansia memiliki kartu PKH, dengan persentase di perdesaan
lebih besar dibanding perkotaan (9,76 persen dibanding 5,40
persen). Sementara itu, persentase rumah tangga lansia yang masih
tercatat menjadi penerima PKH sebesar 7,13 persen. Hal ini berarti
tidak semua rumah tangga lansia yang memiliki Kartu PKH menerima
bantuan PKH. Padahal idealnya, rumah tangga yang memiliki kartu
PKH juga menerima bantuan PKH tersebut.

80
Gambar 7.3 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki
Kartu PKH dan yang Masih Tercatat/Menjadi
Penerima PKH Menurut Tipe Daerah, 2018

. id
go
p s.
.b
w

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018


w
//w

Salah satu inovasi pemerintah dalam menyalurkan Bansos


dan Subsidi adalah melalui Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). KKS adalah
s:

kartu yang diterbitkan oleh pemerintah sebagai penanda keluarga


tp

kurang mampu dan pengganti Kartu Perlindungan Sosial (KPS). KKS/


ht

KPS mempunyai fungsi ganda, yaitu menjadi tabungan dan dompet


(e-wallet). Fungsi tabungan sebagai wadah menyalurkan bantuan
sosial PKH dan bantuan tabungan lainnya, sedangkan fungsi dompet
(e-wallet) sebagai wadah menyalurkan Bantuan Pangan Non Tunai
dan bantuan barang lainnya.

81
Gambar 7.4 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki
KPS/KKS, 2017-2018
Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

Pada Gambar 7.4 terlihat persentase


rumah tangga lansia yang memiliki KPS/
KKS tahun 2018 (15,85 persen) mengalami
penurunan dibandingkan tahun sebelumnya
(17,38 persen). Hal ini sejalan dengan
kondisi data kemiskinan di Indonesia dimana
persentase penduduk miskin tahun 2018
mengalami penurunan dibandingkan tahun
2017. Jika dilihat lebih rinci, tercatat persentase rumah tangga lansia

id
yang memiliki KPS/KKS dan dapat menunjukkan kartu sebesar 11,44

.
persen.

go
Berdasarkan tipe daerah, terlihat persentase rumah tangga
s.
lansia di perdesaan yang memiliki KPS/KKS lebih tinggi dibandingkan
p
di perkotaan (Gambar 7.5). Sementara itu, berdasarkan status
.b

ekonomi terlihat bahwa masih ada rumah tangga lansia pada


w

kelompok pengeluaran 20% teratas yang memiliki KPS/KKS yaitu


w

sebesar 4,53 persen. Kemudian, jika dilihat menurut provinsi


//w

(Lampiran 7.6), persentase tertinggi rumah tangga lansia yang


memiliki KPS/KKS adalah D.I. Yogyakarta (28,60 persen), dimana D.I.
s:

Yogyakarta merupakan provinsi dengan persentase penduduk lansia


tp

tertinggi.
ht

Gambar 7.5 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki


KPS/KKS, Menurut Tipe Daerah dan Kelompok
Pengeluaran, 2018

82
Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

Persentase penduduk lansia yang terus meningkat jika tidak


segera diantisipasi dapat menimbulkan masalah kelanjutusiaan.
Untuk itu, diperlukan suatu program pemberdayaan bagi para lanjut
usia, sehingga para penduduk lansia tersebut tidak menjadi beban
generasi muda dan negara. Salah satu jenis upaya yang dilakukan
Kementerian Sosial adalah pemberian bantuan usaha bagi lansia
potensial, yang secara khusus disebut dalam program Rehabilitasi
Sosial Lanjut Usia. Tabel 7.3 menunjukkan bahwa 22,29 persen
rumah tangga lansia pernah menerima kredit pengembangan usaha.
Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada penyaluran bantuan
jika dilihat menurut tipe daerah, dimana persentase di perkotaan

id
sedikit lebih tinggi daripada perdesaan (23,01 persen dibanding

.
go
21,52 persen). Berdasarkan jenis kredit usaha yang diterima, tercatat
rumah tangga lansia di perdesaan paling banyak menerima KUR
s.
(5,48 persen), sementara rumah tangga lansia di perkotaan paling
p
.b

Tipe Daerah
w

Karakteristik Total
Perkotaan Perdesaan
w

(1) (2) (3) (4)


//w

Rumah tangga lansia yang pernah 23,01 21,52 22,29


menerima kredit pengembangan usaha
s:

Jenis Kredit Pengembangan Usaha


tp

Kredit Usaha Rakyat (KUR) 4,33 5,29 4,80


ht

Kredit Bank Umum Selain KUR 5,48 3,90 4,71


Kredit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 1,48 1,31 1,40
Kredit Koperasi 4,09 4,34 4,21
Perorangan (Dengan Bunga) 1,98 2,07 2,03
Pegadaian 0,98 0,83 0,91
Perusahaan Leasing 4,27 2,07 3,21
Kelompok Usaha Bersama (KUBE/KUB) 0,21 0,55 0,37
Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) 0,35 0,65 0,49
Lainnya 3,36 3,92 3,63

banyak menerima Kredit Bank Umum Selain KUR (5,29 persen).

Tabel 7.3 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Menerima


Kredit Pengembangan Usaha Menurut Tipe Daerah
dan Kelompok Pengeluaran, 2018
Sumber: BPS , Susenas Maret 2018

83
Jaminan Sosial Lansia

Jaminan sosial adalah salah satu bentuk


perlindungan sosial untuk Jaminan sosial adalah salah
satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin
seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar
hidupnya yang layak (UU RI No 40 Tahun 2004 tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional). Jaminan sosial hanya
diberikan kepada peserta jaminan sosial, yakni setiap orang yang
telah membayar iuran. Salah satu jaminan sosial yang sangat penting
yakni jaminan kesehatan. Jaminan kesehatan diselenggarakan
dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat

id
Jenis Jaminan Kesehatan

.
Memiliki

go
Karakteristik Jaminan Asuransi
Kesehatan PBI Non PBI Jamkesda Perusahaan
s. Swasta
p
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
.b

Total 68,48 38,01 19,19 14,03 0,63 1,22


w

Jenis Kelamin
Laki-laki 68,94 37,44 20,15 13,91 0,66 1,41
w

Perempuan 68,07 38,52 18,33 14,14 0,60 1,05


//w

Tipe Daerah
s:

Perkotaan 73,45 34,71 28,38 12,47 1,01 2,08


Perdesaan 63,19 41,52 9,40 15,71 0,22 0,31
tp

Status Disabilitas
ht

Disabilitas 68,63 37,46 19,96 13,82 0,66 1,30


Non Disabilitas 67,70 40,89 15,12 15,17 0,44 0,83
Kelompok Pengeluaran
Rumah Tangga
40% terbawah 64,54 46,74 6,78 14,65 0,15 0,40
40% menengah 67,61 36,07 19,81 14,92 0,31 0,99
20% teratas 79,62 21,01 47,57 10,82 2,41 3,65

pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi


kebutuhan dasar kesehatan.

Tabel 7.4 Persentase Penduduk Lansia yang Menerima


Jaminan Kesehatan Menurut Jenis Jaminan
Kesehatan, 2018
Sumber: BPS , Susenas Maret 2018

Penerima Bantuan Iuran (PBI) adalah peserta jaminan


kesehatan bagi fakir miskin dan orang tidak mampu yang iurannya
dibayar oleh pemerintah sebagai peserta program Jaminan

84
Kesehatan. Program ini merupakan upaya pemerintah untuk
meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan bagi masyarakat
miskin dan rentan serta memberikan perlindungan keuangan atas
pengeluaran kesehatan akibat sakit. Sayangnya, program tersebut
tidak sepenuhnya tepat sasaran karena pada kenyataannya masih
ada 1 dari 5 lansia dengan status ekonomi 20% teratas yang
menerima PBI (21,01 persen). Sementara itu, tercatat baru sekitar
46,74 persen lansia dengan status ekonomi 40% terbawah yang
menerima PBI atau masih kurang dari setengahnya. Padahal, mereka
lah yang seharusnya lebih berhak menerima PBI.
Dengan bertambahnya usia, fungsi fisiologis mengalami
penurunan akibat proses degeneratif (penuaan), sehingga penyakit
tidak menular banyak muncul pada lanjut usia. Selain itu proses

id
degeneratif menurunkan daya tahan tubuh sehingga rentan terkena

.
go
infeksi penyakit menular (Kemenkes, Profil Kesehatan 2016). Kondisi
demikian membuat jaminan kesehatan menjadi hal penting bagi
s.
para lansia. Sayangnya, jaminan kesehatan belum menjangkau
p
seluruh lansia. Terlihat pada Tabel 7.4 bahwa dari tiga penduduk
.b

lansia, satu di antaranya tidak memiliki jaminan kesehatan. Jaminan


w

kesehatan nampaknya lebih merata di perkotaan dibandingkan


w

perdesaan. Hal ini terlihat dari persentase lansia di perkotaan yang


//w

memiliki jaminan kesehatan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan


s:

(73,45 persen dibanding 63,19 persen).


Selain jaminan kesehatan, jaminan sosial yang juga
tp

diterapkan di Indonesia adalah jaminan pensiun, jaminan hari


ht

tua, jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, dan pesangon


pemutusan hubungan kerja (PHK). Sekitar 13 dari 100 rumah tangga
lansia di Indonesia memiliki jaminan sosial (Gambar 7.6) dengan
persentase di perkotaan 3 kali lebih besar dibandingkan perdesaan
(19,54 persen dibanding 6,75 persen). Hal ini dapat dikarenakan
akses dan fasilitas di perkotaan yang lebih baik membuat para lansia
lebih mudah untuk mendapatkan jaminan sosial dibandingkan
mereka yang tinggal di perdesaan. 

Gambar 7.6 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki


Jaminan Sosial Menurut Tipe Daerah, 2018

85
Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

Jika dilihat menurut jenisnya, pada Gambar 7.7 terlihat


bahwa jaminan sosial yang paling banyak dimiliki oleh rumah tangga
lansia adalah jaminan pensiun/veteran (10,64 persen) dengan
persentase di perkotaan mencapai 3 kali lebih besar dibandingkan
perdesaan (15,86 persen berbanding 5,05 persen). Sementara itu,
pesangon PHK merupakan jaminan yang paing sedikit dimiliki oleh
rumah tangga lansia, yakni hanya 1,68 persen.

Gambar 7.7 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki


Jaminan Sosial Menurut Tipe Daerah dan Jenis
Jaminan Sosial, 2018

. id
go
p s.
.b
w
w
//w
s:
tp
ht

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018 

86
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
8
PROGRAM PRO LANSIA
Jumlah lansia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal ini menjadi salah
satu indikator keberhasilan pembangunan sekaligus sebagai tantangan dalam
pembangunan. Peningkatan jumlah lansia akan memberi dampak terhadap
kondisi sosial ekonomi di dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun
dalam pemerintahan. Kehadiran lansia dapat berdampak positif apabila lansia

id
berada dalam keadaan sehat, aktif, dan produktif. Disisi lain, besarnya jumlah

.
go
lansia dapat menjadi beban apabila lansia memiliki masalah penurunan derajat
kesehatan, penurunan pendapatan/penghasilan, peningkatan disabilitas,
s.
tidak adanya dukungan sosial, dan lingkungan yang tidak ramah lansia.
p
.b

Kebijakan Umum Pelayanan Kesejahteraan Sosial


w
w

Perhatian Pemerintah terhadap lansia mempunyai landasan


//w

yang kuat. Di dalam Undang-undang RI No 13 Tahun 1998 pasal


7 dan 8 tentang kesejahteraan lanjut usia pemerintah bertugas
s:

mengarahkan, membimbing, dan menciptakan suasana yang


tp

menunjang bagi terlaksananya upaya peningkatan kesejahteraan


ht

sosial lanjut usia; dan pemerintah, masyarakat, dan keluarga


bertanggungjawab atas terwujudnya upaya peningkatan
kesejahteraan sosial lanjut usia. Selanjutnya Undang-undang RI
No 11 Tahun 2009 pasal 6 tentang Kesejahteraan Sosial semakin
menegaskan perlu pemberian jaminan dan kesejahteraan bagi
lansia, khususnya lansia telantar.
Menurut Permensos RI Nomor 9 Tahun 2018 tentang standar
teknis pelayanan dasar pada standar pelayanan minimal bidang
sosial di daerah provinsi dan di daerah kabupaten/kota bahwa
lansia telantar merupakan salah satu penerimanya. Sementara itu,
dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2015-2019 mengamanatkan arah kebijakan kelanjutusiaan
melalui dua hal pokok, yakni peningkatan pemenuhan hak dasar dan
inklusivitas serta penguatan skema perlindungan sosial bagi lansia.
Hal ini sejalan dengan sasaran dan target baru dari Sustainable
Development Goals (SDGs) target 1.3 yaitu menerapkan secara
nasional sistem dan upaya perlindungan sosial yang tepat bagi
semua, termasuk kelompok yang paling miskin, dan pada tahun

89
2030 mencapai cakupan substansial bagi kelompok miskin dan
rentan, yang salah satu sasarannya adalah lansia.

Program-program Pelayanan Lansia

Di dalam Permensos RI Nomor 19 Tahun 2012 tentang


Pedoman Pelayanan Sosial Lansia menyebutkan bahwa pelayanan
sosial lansia adalah upaya yang ditujukan untuk membantu
lansia dalam memulihkan dan mengembangkan fungsi sosialnya.
Pelayanan sosial lansia ini meliputi kegiatan pelayanan dalam panti
dan luar panti; perlindungan; dan pengembangan kelembagaan
sosial lansia. Secara garis besar program-program pelayanan dan

id
pemberdayaan lansia antara lain sebagai berikut:

.
1. Pelayanan dalam Panti

go
Dalam Permensos RI Nomor 19 Tahun 2012, pelayanan dalam
s.
panti dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas
p
.b

hidup dan kesejahteraan lansia; terpenuhinya kebutuhan dasar


w

lansia; dan meningkatkan peran serta masyarakat pemerintah,


w

pemerintahan daerah provinsi, dan pemerintahan daerah


//w

kabupaten/kota dalam melaksanakan maupun menyediakan


berbagai bentuk pelayanan sosial lansia. Pelayanan dalam panti
s:

dilaksanakan dengan menempatkan lansia dalam panti lansia


tp

untuk memenuhi kebutuhan secara layak.


ht

Jenis pelayanan yang diberikan dalam panti, meliputi:


pemberian tempat tinggal yang layak; jaminan hidup berupa
makan, pakaian, pemeliharaan kesehatan; pengisian waktu luang
termasuk rekreasi; bimbingan mental, sosial, keterampilan,
agama; dan pengurusan pemakaman atau sebutan lain.
2. Program Pendampingan Sosial Lansia Melalui Perawatan di
Rumah (Home Care)
Home Care adalah bentuk pelayanan pendampingan dan
perawatan lansia di rumah sebagai wujud perhatian terhadap
lansia dengan mengutamakan peran masyarakat berbasis
keluarga. Sasaran program pelayanan Home Care adalah lansia
yang memiliki hambatan seperti sakit, penyandang cacat atau
uzur, dan keluarga lansia. Adapun tujuan penyelenggaraan Home
Care adalah:
a. Meningkatnya kemampuan lansia untuk menyesuaikan diri

90
terhadap proses perubahan dirinya secara fisik, mental, dan
sosial.
b. Terpenuhinya kebutuhan dan hak-hak- lansia agar mampu
berperan dan berfungsi di masyarakat secara wajar.
c. Meningkatnya peran serta keluarga dan masyarakat dalam
pendampingan dan perawatan lansia dirumah.
d. Terciptanya rasa aman, nyaman, dan tentram bagi lansia
baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya.
Dengan adanya program pendampingan Home Care
diharapkan dapat membantu lansia yang memiliki hambatan fisik,
mental, dan sosial, termasuk memberikan dukungan dan pelayanan
untuk hidup mandiri sehingga mengurangi beban pendamping

id
baik dari anggota keluarga, teman, kerabat, maupun tetangga yang

.
membantu memenuhi kebutuhannya.

go
3. Program Asistensi Sosial Lanjut Usia Telantar (ASLUT)
s.
p
ASLUT adalah bagian rehabilitasi sosial untuk membantu
.b

lansia telantar agar mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar


w

hidupnya yang layak. Pada tahun 2018 penerima ASLUT menjadi


w

target dari PKH. Peserta ASLUT tahun sebelumnya dimasukkan


//w

menjadi peserta PKH karena dari tahun ke tahun penerima


ASLUT tidak ada penambahan yang signifikan. Akan tetapi
s:

realisasinya terdapat permasalahan, salah satunya untuk lansia


tp

yang tinggal sendiri tidak dapat masuk sebagai penerima PKH


ht

karena sasaran PKH adalah keluarga. Selain itu, pada program


ASLUT perlu adanya pendampingan dari rehabilitasi sosial untuk
satu tahun penuh, lain halnya dengan PKH. Oleh karena itu, pada
tahun 2019 akan diadakan program ASLUT lagi.
4. Pelayanan Sosial Kedaruratan Bagi Lansia
Pelayanan Sosial Kedaruratan bagi lansia adalah
perlindungan lansia dari dampak bencana, kekerasan, perlakuan
salah, eksploitasi, ketidakberdaayan, dan penelantaran.
Ketelantaran adalah pengabaian lansia karena berbagai sebab
sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan dasarnya secara
wajar baik secara jasmani, rohani, dan sosial.
Sasaran pelayanan tersebut yaitu para lansia yang menjadi
korban bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial;
dan lansia dengan permasalahan khusus seperti korban tindak
kekerasan, korban perlakuan baik fisik mental maupun sosial,

91
korban eksploitasi, korban kerusuhan, terpisah dari anak dan
keluarga, mengalami ketidakberdayaan, tinggal di rumah
atau kamar tidak layak, dan tinggal di tempat tidak layak huni
(kuburan, kolong jembatan, tempat terpencil, atau daerah
rawan bencana). Adapun pelayanan kedaruratan lansia meliputi:
penyelamatan dan evakuasi, pemulihan kondisi fisik, pemulihan
kondisi psikologis lansia (konseling dan bimbingan psikososial),
pemulihan kondisi sosial, intervensi krisis, advokasi, dan rujukan.
5. Program Family Support Lansia
Family Support adalah setiap upaya yang ditujukan kepada
lansia guna memperkuat keberfungsian fisik, psikologis,

id
sosial, dan spiritual maupun ekenomi dengan dukungan dan

.
go
penyertaan keluarga lansia. Tujuan program Family Support
adalah memberikan bantuan dan dukungan kepada lansia
s.
potensial melalui peningkatan peran keluarga guna memperkuat
p
ketahanan sosio-ekonomi yang memungkinkan lansia terlindungi
.b

dari resiko sosial sehingga dapat memperbaiki dan meningkatkan


w

kesejahteraannya.
w
//w

Program Family Support lansia sesuai dengan tujuan dan


bentuk program pada dasarnya adalah sebagai salah satu
s:

upaya bagi lansia yang harus exit dari program ASLUT agar
tp

tetap mendapatkan bantuan untuk peningkatan kesejahteraan


ht

sosialnya, karena dikhawatirkan jika tidak mendapatkan bantuan


akan mengalami penurunan kesejahteraan sosialnya. Selain itu,
diharapkan agar anggota keluarga tidak menyia-nyiakan lansia
hanya karena kemiskinan keluarga dan memiliki komitmen,
dukungan, kepedulian, dan tanggung jawab dalam upaya
menyejahterakan lansianya.
6. Day Care Services
Day Care Services adalah suatu model pelayanan sosial yang
disediakan bagi lansia bersifat sementara, dilaksanakan pada
siang hari, di dalam atau di luar panti dalam waktu tertentu
(maksimum 8 jam) dan tidak menginap yang dikelola oleh
pemerintah atau masyarakat secara profesional. Terdapat tiga
jenis Day Care, yaitu sosial yang fokus pada interaksi, rekreasi,
dan pemberian makanan; kesehatan yang fokus pada pelayanan
medis dan pengobatan bagi lansia yang memiliki masalah
kesehatan yang parah; dan kondisi tertentu seperti Alzheimer.

92
Pelayanan yang diberikan diantaranya adalah pengisian waktu
luang misal dengan mendengar musik, kesenian, olahraga,
konseling, terapi fisik, bimbingan mental, terapi bicara, dan
pengobatan.
7. Pengembangan Kawasan Ramah Lansia
Kemensos mengeluarkan Peraturan Menteri Sosial
(Permensos) Nomor 4 Tahun 2017 tentang Pedoman
Pengembangan Kawasan Ramah Lanjut Usia sebagai upaya
untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak
lansia. Di dalam Permensos, yang dimaksud Kawasan Ramah
Lanjut Usia adalah wilayah dan masyarakat dengan fasilitas

id
yang mendukung pemenuhan hak dan memfasilitasi kebutuhan

.
go
lanjut usia. Adapun pengembangan Kawasan Ramah Lanjut Usia
bertujuan untuk: s.
a. Tersedianya wilayah dan masyarakat dengan fasilitas yang
p
.b

mendukung kebutuhan serta pemenuhan hak lansia;


b. Terwujudnya peran pemerintah pusat, pemerintah daerah,
w
w

masyarakat, dan dunia usaha dalam upaya peningkatan


//w

kesejahteraan sosial lansia;


c. Terwujudnya lansia yang mandiri, sehat, aktif, dan produktif;
s:

d. Terwujudnya perlindungan dan pendampingan bagi lansia


tp

yang mengalami keterbatasan fisik, mental, sosial, dan


ht

ekonomi.
Di dalam Permensos mengatur tentang kriteria kawasan
ramah lansia dari berbagai sisi. Kriteria Kawasan Ramah Lansia
terdiri atas:
a. Memiliki kebijakan kelanjutusiaan;
b. Perumahan dan kawasan permukiman;
c. Ruang terbuka dan bangunan yang ramah lansia;
d. Transportasi yang ramah lansia;
e. Penghormatan dan inklusi sosial;
f. Partisipasi sosial;
g. Partisipasi sipil;
h. Pekerjaan ramah lansia;
i. Dukungan komunitas dan pelayanan sosial;
j. Pelayanan kesehatan;
k. Layanan keagamaan dan mental spiritual;
l. Komunikasi dan informasi;
m. Advokasi sosial;

93
n. Bantuan hukum;
o. Perlindungan lansia dari ancaman dan tindak kekerasan.
Dalam mengembangkan Kawasan Ramah Lansia dilakukan
koordinasi antarkementerian/lembaga, organisasi perangkat
daerah, masyarakat, dan dunia usaha yang dilakukan mulai tahap
persiapan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi,
dan pelaporan.
8. Program Lansia Tangguh
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) mengembangkan kegiatan Bina Keluarga Lansia (BKL)
melalui program Lansia Tangguh yang saat ini telah berkembang

id
di sebagian besar kecamatan di seluruh Indonesia. Upaya

.
go
mewujudkan Lansia Tangguh dapat dilaksanakan melalui
penerapan 7 dimensi Lansia Tangguh yang terdiri dari: dimensi
s.
spiritual; dimensi intelektual; dimensi fisik; dimensi emosional;
p
.b

dimensi sosial kemasyarakatan; dimensi profesional vokasional;


w

dan dimensi lingkungan.


w

Tujuan pembangunan keluarga Lansia Tangguh yaitu


//w

meningkatkan lansia dan pemberdayaan keluarga rentan


s:

sehingga mampu berperan dalam kehidupan keluarga. Untuk


tp

mencapai tujuan pembangunan keluarga Lansia Tangguh


ditetapkan kebijakan sebagai berikut:
ht

a. Pengembangan kemitraan,
b. Penguatan komitmen para pengelola dan pelaksana,
c. Pemberdayaan keluarga dalam pembinaan Lansia Tangguh,
d. Peningkatan akses dan kualitas pelayanan.
Adapun program Lansia Tangguh di kabupaten/kota yaitu:
a. Sosialisasi program (sosialisasi kebijakan dan strategi
program, pedoman, materi, grand design, peta kerja, profil
program Lansia Tangguh, melakukan workshop/pokja dan
seminar).
b. Penguatan jejaring kemitraan (koordinasi kemitraan dan
pokja program Lansia Tangguh).
c. Penguatan SDM (capacity building yaitu melakukan ToT,
pelatihan, orientasi pengelola/pelaksana dan kader, serta
pentaloka).
d. Sarana dan prasarana (modul dan materi).
e. Pembinaan, monitoring, dan evaluasi

94
(menumbuhkembangkan kelompok BKL dan pembentukan
model Lansia Tangguh).

9. Program Bahtera Lansia


Program Bahagia Sejahtera Lanjut Usia (Bahtera lansia)
merupakan salah satu upaya Kementerian Sosial untuk
membantu para lansia potensial agar dapat menjaga dan
meningkatkan kualitas hidup mereka dengan melakukan
berbagai aktifitas positif dan bermanfaat bagi dirinya juga bagi
lingkungan sekitar. Program tersebut hanya diselenggarakan
pada tahun 2018, karena hanya sebagai pilot saja.

id
Bahtera lansia adalah serangkaian aktivitas pengisian waktu

.
go
luang bagi lansia potensial berbasis masyarakat. Lansia yang
mengalami penurunan kondisi fisik, kemampuan sosialnya tetap
s.
dapat dikembangkan dan dioptimalkan sesuai dengan potensi
p
.b

yang dimilikinya. Adapun bentuk program Bahtera lansia yaitu:


w

a. Bantuan sosial untuk peningkatan kualitas hidup: bantuan


w

modal usaha dan pengembangan minat dan bakat.


//w

b. Pertemuan kelompok lansia secara berkala, minimal 2


minggu sekali dengan kegiatan yang disesuaikan dengan
s:

kebutuhan, situasi, dan kondisi setempat. Kegiatan tersebut


tp

antara lain: pengisian waktu luang (penyaluran minat dan


ht

bakat), bimbingan kerohanian, bimbingan keterampilan,


senam lansia bersama, dan pemeriksaan kesehatan.
c. Pendampingan psikososial.
10. Program Nursing Care
Sejak tahun 2015 Kementerian Sosial melalui Direktorat
Rehabilitasi Sosial lansia meluncurkan program Nursing Care.
Nursing Care merupakan program revitalisasi/optimalisasi
fasilitas yang sudah dimiliki Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW)/
Sasana Tresna Werdha (STW)/Unit Pelaksana Teknis (UPT)/Balai/
Loka yang selama ini dikenal dengan ruang isolasi (perawatan
khusus). Melalui Nursing Care para lansia diberikan pelayanan
sosial untuk pemenuhan kebutuhannya dengan lebih berkualitas/
profesional dan holistik (biologis, psikologis, sosial, dan spiritual)
secara berkelanjutan. Kondisi lansia yang sakit kronis dan tidak
mandiri memerlukan perawatan jangka panjang (long term care
services atau LTC) untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.

95
Nursing Care bagi lansia adalah kegiatan yang dilakukan
secara holistik dan komprehensif untuk memastikan seorang
lansia yang tidak mandiri dalam memenuhi kebutuhan harian
bagi dirinya sendiri. Nursing Care bagi lansia dilaksanakan
melalui kegiatan/pelayanan sehari-hari oleh tenaga profesional
(Caregivers, pekerja sosial, perawat, dokter, psikolog), dengan
memiliki beberapa fungsi antara lain rehabilitasi, perlindungan,
dan perawatan sosial.
Pelayanan Nursing Care dilaksanakan melalui pendekatan
institusional base dalam bentuk:
a. Pendampingan sosial

id
Pendampingan sosial merupakan proses relasi

.
go
sosial antara pendamping dengan lansia yang bertujuan
untuk memecahkan masalah, memperkuat dukungan,
s.
mendayagunakan berbagai sumber dan potensi dalam
p
peningkatan kualitas hidup lansia, serta meningkatkan
.b

akses mereka terhadap pelayanan sosial dasar dan fasilitas


w

pelayanan lainnya. Pendampingan sosial dilaksanakan


w

terhadap lansia dalam melaksanakan aktivitas sehari-


//w

hari (activity daily living) sehingga tidak terhambat dalam


s:

mengakses sumber-sumber yang dibutuhkan.


tp

b. Perawatan sosial
ht

Perawatan sosial adalah bentuk kegiatan yang dilakukan


secara profesional untuk memastikan seorang lansia yang
dalam kondisi tidak sepenuhnya mampu merawat dirinya
sendiri agar tetap dapat mempertahankan kualitas tertinggi
dari kehidupannya.
c. Pemenuhan kebutuhan dasar lansia
Kebutuhan dasar lansia merupakan unsur-unsur
yang dibutuhkan dalam mempertahankan keseimbangan
fisiologis, maupun psikologis, dengan maksud untuk
mempertahankan kehidupan dan kesehatan, seperti
kebutuhan oksigen, cairan dan elektrolit, nutrisi, eliminasi
(BAK/BAB), personal hygiene, aktifitas, istirahat/tidur, bodi
mekanik, dan pengaturan posisi. Pemenuhan kebutuhan
dasar diberikan kepada lansia yang menderita sakit,
penyandang cacat, dan lansia yang uzur (bedridden).
d. Kosultasi dan konseling

96
Bentuk layanan konsultasi adalah bantuan dari konselor
ke lansia untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
Konsultasi pada dasarnya dilaksanakan secara perorangan
dalam format tatap muka antara konselor (sebagai konsultan)
dengan lansia. Konsultasi dapat dilakukan terhadap dua
orang atau lebih.
e. Pelayanan melalui telepon
Pelayanan melalui telepon dalam pelaksanaan Nursing
Care diperuntukkan bagi lansia yang membutuhkan
perlindungan atau yang berada dalam kondisi darurat serta
bagi mereka yang membutuhkan layanan konseling, sehingga

id
lansia yang bermasalah lebih mudah untuk menyampaikan
segala persoalannya. Pelayanan melalui telepon dalam

.
go
pelaksanaan Nursing Care bagi lansia berfungsi sebagai
s.
sebuah sistem yang menyediakan berbagai hal yang mereka
p
butuhkan.
.b

f. Pelayanan komunikasi, informasi, dan edukasi


w

Pelayanan berupa kemudahan berkomunikasi, akses


w

informasi dan pemberian edukasi sesuai kebutuhan dalam


//w

pelaksanaan Nursing Care sangat diperlukan bagi lansia


s:

terutama saat kondisi darurat (memerlukan penanganan


tp

segera) serta bagi mereka yang membutuhkan layanan


ht

sosial lainnya.
g. Pelayanan pasa saat proses dying (menjelang kematian)
Pelayanan pasa saat proses dying (menjelang kematian)
dalam pelaksanaan Nursing Care dilakukan dengan
pendekatan paliative care yang bertujuan memenuhi
kebutuhan lansia termasuk kebutuhan rasa aman, nyaman,
dan spiritulan untuk mempersiapkan diri lansia dan
keluarganya dalam menghadapi kematian yang dihadapi
lansia.
h. Pelayanan pemulasaran jenazah dan pemakanan
Pemulasaran adalah proses perlakuan pada jenazah
karena alasan kesehatan dan/atau agama. Jenis perlakuan
seringkali terkait dengan 'pemulangan' terakhir: dikremasi,
dikubur, diawetkan, dan lain sebagainya.
Sedangkan pemakaman adalah proses yang meliputi
kegiatan administrasi, pengaturan lokasi makam,

97
pengkoordinasian dan pemberian bimbingan atau petunjuk
serta pengawasan terhadap pelaksanaan kremasi,
penguburan, pengawetan, dan lain sebagainya jasad orang
yang meninggal dunia secara medis.

Program lansia yang dilaksanakan di beberapa provinsi di


Indonesia diantaranya sebagai berikut:
1. Provinsi Jawa Timur
Penanganan lansia pada Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Timur tercakup dalam Program Upaya Kesehatan
Masyarakat, khususnya pada pokok kegiatan Peningkatan

id
Kesehatan Anak, Remaja, dan Usila (ARU). Beberapa

.
kegiatan yang berhubungan langsung dengan lansia

go
adalah: Posyandu Lansia, Puskesmas Santun Lansia, dan
s.
Poli Geriatri Lansia.
p
a. Posyandu Lansia
.b
w

Posyandu Lansia dilaksanakan di seluruh kabupaten/


w

kota di Provinsi Jawa Timur. Jenis layanan kesehatan yang


//w

diberikan adalah: pemeriksaan tekanan darah, gula darah,


denyut nadi, timbang berat badan dan ukur tinggi badan,
s:

dan penyuluhan kesehatan. Tempat pelaksanaan bervariasi,


tp

yaitu di Balai Desa, menyatu pada Puskesmas Santun Lansia,


ht

dan diintegrasikan dengan Posbindu PTM (Pos Pembinaan


Terpadu Penyakit Tidak Menular). Kegiatan pelayanan
kesehatan Posyandu Lansia biasanya dilaksanakan setiap 1
bulan sekali.
Pada tahun 2016 jumlah Posyandu Lansia di Provinsi
Jawa Timur sebanyak 24.103 unit dan meningkat di tahun
2017 menjadi 24.500 unit. Sedangkan jumlah Kader
Posyandu Lansia di tahun 2016 sebanyak 52.777 orang dan
di tahun 2017 menjadi sebanyak 53.000 orang.
b. Puskesmas Santun Lansia
Puskesmas Santun Lansia adalah puskesmas yang
menyediakan ruang khusus untuk melakukan pelayanan
bagi kelompok usia lanjut. Ciri-ciri Puskesmas Santun
Lansia yaitu pelayanannya secara pro-aktif, baik, sopan,
memberikan kemudahan pelayanan kesehatan kepada
lansia, memberikan keringanan/penghapusan biaya bagi

98
lansia yang tidak mampu, dan memberikan bimbingan
kepada lansia untuk memelihara kesehatan.
Pada tahun 2016 jumlah Puskesmas Santun Lansia di
Provinsi Jawa Timur sebanyak 220 unit, dan pada tahun
2017 meningkat sebesar 10%, yaitu menjadi 242 unit.
c. Poli Geriatri Lansia
Program Poli Geriatri merupakan layanan kesehatan
yang diselenggarakan oleh rumah sakit rujukan terhadap
pasien geriatri yaitu pasien lansia dengan multi penyakit
dan/atau gangguan akibat penurunan fungsi organ,
psikologi, sosial, ekonomi yang membutuhkan pelayanan

id
kesehatan secara terpadu dengan pendekatan secara multi

.
go
disiplin yang bekerja secara interdisiplin. Rumah sakit di
Provinsi Jawa Timur yang menjadi rujukan untuk layanan poli
s.
geriatri adalah RS dr. Sutomo Surabaya dan RS Syaiful Anwar
p
Malang. Berdasarkan Permenkes 67 Tahun 2015 tentang
.b

Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia di Pusat


w

Kesehatan Masyarakat disebutkan bahwa untuk pelayanan


w

pasien geriatri dengan penyakit yang masih dapat ditangani


//w

oleh kompetensi dokter di Puskesmas diselenggaran oleh


s:

Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat


tp

pertama. Dalam hal pasien geriatri membutuhkan pelayanan


ht

lebih lanjut, dokter harus melakukan rujukan pasien geriatri


ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.
Pada tahun 2017 program-program pelayanan lansia
yang bersumber dari APBD Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur
adalah: Penilaian Karang Werda, Program Jaminan Sosial
Lansia Daerah, dan Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di
Islamic Center.
a. Penilaian Karang Werda
Setiap kabupaten/kota mengirimkan Karang Werda
terbaik di wilayahnya masing-masing. Karang Werda
terbaik di provinsi yang terpilih adalah perwakilan dari Kota
Surabaya, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Sidoarjo.
b. Program Jaminan Sosial Lansia Daerah
Program pelayanan lansia dengan memberikan
Bantuan Permakanan kepada masing-masing 30 lansia di
enam wilayah (Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Blitar,

99
Kabupaten Jombang, Kota Madiun, Kabupaten Ponorogo,
dan Kabupaten Lamongan). Sasaran program adalah
usia minimal 60 tahun, tidak mempunyai keluarga, tidak
mempunyai penghasilan tetap, dan telantar. Verifikasi
dilakukan oleh TKSK. Bantuan program sebesar masing-
masing Rp1.000.000,- berupa bahan permakanan (sembako).
c. Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Islamic Center
Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional dihadiri
peserta dari UPT lansia sebanyak 200 orang.
Kegiatannya antara lain senam, pemeriksaaan
kesehatan gratis, dan pemberian bantuan sembako.

id
Adapun program tahun 2018 dari Dinas Sosial Provinsi

.
go
Jawa Timur adalah Penilaian kabupaten/kota Ramah
Lansia dan Program PKH. s.
a. Penilaian Kabupaten/Kota Ramah Lansia
p
.b

Sasaran penilaian kabupaten/kota ramah lansia adalah:


w

kelembagaan (Komda Lansia, Karang Werda, lembaga


w

Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia, pegiat lanjut usia lainnya);


//w

dukungan/komitmen (penganggaran, program/kegiatan);


penghargaan yang pernah diproleh; dan kriteria layanan
s:

(memiliki kebijakan kelanjutusiaan, perumahan dan kawasan


tp

pemukiman, ruang terbuka dan bangunan yang ramah


ht

lansia, transportasi yang ramah lansia, penghormatan dan


inklusi sosial, partisipasi sosial, partisipasi sipil, pekerjaan
yang ramah lansia, dukungan komunitas dan pelayanan
sosial, pelayanan kesehatan, layanan keagamaan dan mental
spiritual, komunikasi dan informasi, advokasi sosial, bantuan
hukum dan perlindungan lansia dari tindak kekerasan).
Dari 38 kabupaten/kota, hanya 9 kabupaten/kota yang
mengirimkan profil ramah lansia dan yang masuk kategori
ada 3 kabupaten/kota, yaitu: Kota Surabaya, Kabupaten
Sidoarjo, dan Kabupaten Blitar.
b. Program PKH
Jumlah penerima PKH lansia di Provinsi Jawa Timur
sebanyak 334.329 orang dengan masing-masing sebesar
Rp2.000.000,-. Syarat penerima PKH lansia adalah lansia
dengan umur 70 tahun ke atas. Adapun jumlah pendamping
PKH di Provinsi Jawa Timur secara keseluruhan sebanyak

100
5.600 orang. Satu orang pendamping PKH mendampingi
sekitar 20 lansia.
Program pelayanan lansia pada Dinas Sosial Kota Surabaya
antara lain: Program Kota Ramah Lansia, UPT Griya Werda,
Gerak Jalan Lansia, dan Program Permakanan Lansia.
a. Program Kota Ramah Lansia
Tahun 2018 Kota Surabaya baru dinobatkan sebagai
Kota Ramah Lansia.
b. UPT Griya Werda
Bentuk kegiatan UPT Griya Werda yaitu menampung

id
1.600 lansia miskin dan telantar. Mereka dijamin makanan
sehari-harinya.

.
go
c. Gerak jalan lansia s.
Gerak jalan lansia diselenggarakan dengan jumlah
p
peserta sebanyak 1.600 orang. Peserta adalah para lansia
.b

dari UPT Griya Werda.


w
w

d. Program Permakanan Lansia


//w

Bentuk kegiatannya yaitu dengan memberikan bantuan


makanan (nasi, sayur, lauk pauk, buah, dan air mineral)
s:

kepada lansia miskin dan telantar, termasuk pra lansia (45


tp

tahun ke atas) yang sakit-sakitan. Pemberian makanan satu


ht

kali makan sehari selama 365 hari dalam setahun dengan


biaya sebesar Rp 11.000,- untuk sekali makan per lansia.
Pengadaan makanan dikelola oleh karang werda yang ada di
masing-masing kelurahan. Menu makanan juga dikelola oleh
karang werda bekerja sama dengan ahli gizi. Jumlah lansia
yang memperoleh program permakanan lansia sebanyak
17.537 orang. Usulan nama lansia berasal dari data PBDT
dan usulan dari kelurahan. Untuk memonitor program
tersebut dikerahkan 39 orang satgas, dimana tiap hari harus
memonitor 15 lansia.
2. Provinsi Kalimantan Barat
Pemberdayaan lansia Provinsi Kalimantan Barat di panti
sifatnya sangat dasar. Lansia pada umumnya buta huruf (hal
ini sesuai dengan data Statistik Pendidikan BPS bahwa Angka
Melek Huruf (AMH) lansia Provinsi Kalimantan Barat menempati
urutan terbawah ke-2 setelah Provinsi NTB), sehingga pelayanan

101
yang diberikan adalah yang sifatnya bukan penyuluhan, namun
lebih ke praktek. Misalnya praktek membaca huruf hijaiyah.
Saran kedepan adalah mulai didirikan panti Jompo muslim
yang non pemerintah karena layanan perawatan lansia semakin
diperlukan. Di lain pihak, layanan yang dapat diberikan kepada
panti pemerintah sangat terbatas. Petugas panti harus sangat
selektif menerima lansia yang akan tinggal di panti pemerintah.
Kenyataannya banyak juga lansia yang sebenarnya tidak
memenuhi kriteria untuk tinggal di panti pemerintah namun
memerlukan layanan panti.
Program lansia yang dilakukan di Provinsi Kalimantan Barat

id
hanya turunan dari program yang diberikan dari pusat, belum
ada program lain yang digagas oleh daerah, selain peringatan

.
go
hari lansia. Program-program tersebut adalah:
a. Day Care
p s.
Layanan Day Care dilakukan di Lembaga Kesejahteraan
.b

Sosial. Bentuk kegiatan biasanya hanya berupa senam


w

bersama.
w
//w

b. Home Care
Layanan Home Care yang dilakukan melalui panti dan
s:

kunjungan pada rumah tangga lansia yang sakit. Kunjungan


tp

oleh Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) dilakukan 40 kali


ht

per periode (1 bulan 8 kali kunjungan). Dalam kunjungan


tersebut dilakukan penyuluhan perawatan terhadap
keluarga, sekaligus juga pemberian bantuan dana kepada
lansia.
c. Usaha Ekonomi Produktif (UEP)
Pada tahun 2018 diberikan untuk daerah Kota Pontianak,
Kabupaten Sambas, dan Kabupaten Mempawah. Pemberian
bantuan berupa bantuan untuk usaha seperti usaha warung,
ternak, atau berdagang buah.
d. Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS)
Terdapat dua LKS di Provinsi Kalimantan Barat yaitu
di Panti Kubu Raya dan Panti Ketapang. Dikarenakan
keterbatasan dana maka bantuan diberikan secara
bergantian. Tahun 2018 bantuan untuk LKS hanya diberikan
untuk panti di Kubu Raya.

102
e. Asistensi Sosial Lanjut Usia Telantar (ASLUT)
Pelaksanaan ASLUT tahun 2018 mengalami masalah. Hal
ini dikarenakan penyaluran dananya digabungkan melalui
PKH. Secara tupoksi tugas pelayanan PMKS dilakukan oleh
seksi kesejahteraan, namun penyaluran dana oleh PKH. Hal
ini menyebabkan proses penyelesaian masalah menjadi
lambat karena antar proses pelayanan PMKS dan penyaluran
bantuan berada pada dua atap yang berbeda.
3. Provinsi Sumatera Selatan

id
Program lansia yang telah dilaksanakan di Provinsi
Sumatera Selatan adalah: pelayanan dasar lansia (Day Care)

.
go
di kota Palembang untuk 50 lansia yang diisi kegiatan-kegiatan
s.
keterampilan lansia, pengajian, termasuk posyandu lansia yang
p
dikelola oleh lembaga yang biasa menangani hal tersebut;
.b

Nursing Care untuk 15 lansia; Home Care bagi lansia miskin/


w

telantar; dan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) bagi 200 lansia.


w

4. Kota Surakarta
//w

Bina Lansia Sehat adalah program yang dilaksanakan oleh


s:

unit markas PMI kota Surakarta yang berkaitan dengan para lansia
tp

dengan memberikan berbagai macam kegiatan positif untuk


ht

para lansia yang dilakukan tiga bulan sekali, antara lain Ceramah
Kesehatan, Outbond, dan Pengobatan Gratis di Posyandu untuk
para lansia. Berbagai fasilitas diberikan bagi anggota Bina Lansia
PMI Kota Surakarta antara lain secara berkala mendapat fasilitas
untuk konsultasi dan mengontrolkan kesehatan di Poliklinik
PMI Kota Surakarta tanpa di pungut biaya, ceramah mengenai
kesehatan lansia oleh dokter ahli sesuai bidangnya, dan
disediakan forum pertemuan/sarasehan/kegiatan lainnya.
5. Provinsi Bali
Dinas Sosial Provinsi Bali khususnya bagian Rehabilitasi
Sosial mempunyai program kegiatan terkait lansi diantaranya:
Day Care, pemberian bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP),
Nursing Care, pelayanan kedaruratan lansia, pendampingan
dan perawatan lansia dilingkungan keluarga (Home Care), dan
Asistensi Sosial Lanjut Usia Telantar (ASLUT).

103
a. Day Care
Pusat pendidikan Day Care hanya terdapat di kabupaten
Badung. Informasi lebih detail tidak dapat diberikan karena
data lengkap hanya ada di kabupaten Badung.
b. Pemberian bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP)
Pemberian bantuan UEP diberikan kepada 100 lansia
miskin potensial di lima kabupaten/kota, yaitu kabupaten
Karangasem, kabupaten Tabana, kabupaten Buleleng,
kabupaten Klungkung, dan kota Denpasar masing-
masing sebanyak 20 lansia. Besarnya dana bantuan UEP

id
sebanyak Rp. 1.500.000,- tiap lansia langsung ditransfer

.
go
ke rekeningnya. Tujuan bantuan UEP adalah untuk
meningkatkan pendapatan bagi lansia; meningkatkan
s.
taraf hidup dan tingkat kesejahteraan lansia; serta
p
menumbuhkan kepercayaan, harga diri dan kemandirian
.b

lansia. Sasaran bantuan UEP adalah lansia Usia yang telah


w

berumur 60 tahun keatas, potensial, produktif dari keluarga


w

miskin, dan tidak mampu. Di setiap kabupaten/kota


//w

didampingi oleh satu orang pendamping. Pendampingan


s:

UEP lansia dimaksudkan untuk mendampingi, membimbing,


tp

mengarahkan, dan memfasilitasi sehingga lansia dapat


ht

mengelola dan mengembangkan usahanya dengan baik dan


benar.
c. Nursing Care
Nursing Care diberikan kepada lansia di dalam panti
dengan kondisi tidak sepenuhnya bisa merawat diri
sendiri. Bantuan dalam bentuk kebutuhan dasar seperti
popok dewasa dan selimut dengan nilai masing-masing
Rp 1.200.000,-. Tujuan Nursing Care adalah agar tercapai
pemberian pelayanan sosial dan terdampingi lansia yang
mengalami gangguan mental, depresi, dan demensia.
Permasalahan pada Nursing Care di Provinsi Bali adalah
kekurangan SDM untuk mengurus lansia.
d. Pelayanan Kedaruratan Lansia
Pelayanan Kedaruratan lansia adalah perlindungan
lansia dari dampak bencana, kekerasan, perlakuan salah,
eksploitasi ketidakberdayaan dan penelantaran. Tujuan

104
pelayanan kedaruratan lansia adalah meningkatkan
kesejahteraan lansia dan mengurangi masalah sosial yang
dihadapi lansia.
e. Home Care
Home Care merupakan salah satu upaya pemerintah
melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan sosial lansia dalam pelayanan
sosial berbasis keluarga. Sasaran Home Care di Provinsi
Bali sebanyak 400 orang lansia. Tujuan Home Care adalah
sebagai pemenuhan kebutuhan dasar lansia secara wajar;
meningkatkan peran serta keluarga dan masyarakat dalam

id
upaya meningkatkan kesejahteraan lansia; serta terciptanya
rasa aman, nyaman dan tentram bagi lansia.

.
go
f. Asistensi Sosial Lanjut Usia Telantar (ASLUT)
s.
ASLUT berlangsung setiap tahun dan diberikan di
p
sembilan kabupaten/kota di Provinsi Bali sebesar Rp
.b

800.000,- tiap tiga bulan. Setiap 10 orang penerima ASLUT


w

didampingi oleh satu orang pendamping. Pendamping


w

bertugas mengarahkan dalam pemanfaatan dana bantuan


//w

ASLUT sehingga terpenuhi kebutuhan dasar lansia, merasa


s:

aman, nyaman dan bahagia dihari tua.


tp
ht

105
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
RINGKASAN
DAFTAREKSEKUTIF
PUSTAKA

Affandi. 2009. Faktor-faktor yang mempengaruhi penduduk lanjut usia memilih


untuk bekerja. Journal of Indonesian Applied Economics, 3 (2).
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. 2014. Lansia Tangguh
dengan Tujuh Dimensi. Jakarta: Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional.
Badan Pusat Statistik. 2018. Indikator Strategis Nasional. Diakses pada
tanggal 24 September 2018 melalui https://www.bps.go.id/
QuickMap?id=0000000000.

id
Badan Pusat Statistik. 2018. Statistik Penduduk Lanjut Usia 2017. Jakarta: Badan

.
go
Pusat Statistik.
Glies et al. (2011). The Labor Supply and Retirement Behavior of China’s Older
s.
Workers and Elderly In Comparative Perspective. Policy Research
p
Working Paper : The World Bank.
.b

Howell, F. & Priebe, J. 2013. Asistensi Sosial untuk Usia Lanjut di Indonesia, Kajian
w

Empiris Program ASLUT. TNP2K dan Australia AID.


w

International Labour Office. 2011. Profil Pekerjaan yang Layak Indonesia. Geneva:
//w

ILO.
s:

Kaplan, H. I., Sadock, B. J., Grebb, J. A. 2010. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan
tp

Perilaku Psikiatri Klinis Jilid Satu. Jakarta: Bina Rupa Aksara.


Kementerian Sosial RI. 2018. Pedoman Bahagia Sejahtera Lanjut Usia (Bahtera
ht

Lansia). Jakarta: Kementerian Sosial Republik Indonesia.


Kementerian Sosial RI. 2018. Pedoman Penyelenggaraan Nursing Care. Jakarta:
Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia, Kementerian Sosial RI.
Kementerian Sosial RI. 2018. Pedoman Dukungan Kesejahteraan Sosial Lanjut
Usia dalam Keluarga (Family Support). Jakarta: Direktorat Jenderal
Rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial RI.
Mulyati. 2012. Thesis: Dukungan Sosial dan Ekonomi Keluarga Terhadap Kualitas
Hidup dan Kesejahteraan Lansia di Kota Bogor. Bogor: Sekolah Pasca
Sarjana IPB.
Newman, A.B., Cauley, J. A. 2012. The epidemiology of aging. Springer Science,
Business Media Dordrecht 2012. Pittsburgh: University of Pittsburgh.
Diakses melalui 10.1007/978-94-007-5061-6_1.
Nugroho W. 2000. Keperawatan Gerontik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Osman, A., Jane, L., Courtney. 2012. The depression unxiety stress scales-21
(DASS-21): further examnination of dimentions, skill reliability, and
correlates. Journal Of Clinical Psikologi , 68 (12). Diakses di online library.
Wiley.com

109
Peraturan Menteri Kesehatan No. 25 tentang Rencana Aksi Nasional Kesehatan
Lanjut Usia Tahun 2016-2019
Permensos RI Nomor 9 Tahun 2018 tentang Standar Teknis Pelayanan Dasar
pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Sosial di Daerah Provinsi dan di
Daerah Kabupaten/Kota.
Permensos RI Nomor 19 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelayanan Sosial Lansia.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
Suhartinah, Florentia. 1998. Social welfare services for the elderly independent
indonesia. Population Aging independent Asia (ASEAN Population
Studies). New York: United Nation.
Sustainable Development Goals (SDGs) target 1.3.
Tampubolon, Sabrina Evelin. 2007. Rumah Tinggal Sebagai Lingkungan Therapeutic
Bagi Lanjut Usia. Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan

id
dan Pemukiman. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992

.
go
nomor 23.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan
s.
Lanjut Usia.
p
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan
.b

Sosial.
w

United Nations. 2017. World Population Prospects the 2017 Revision, Key
w

Findings and Advance tables. Newyork : UNited Nation.


//w

United Nations. (2012). Proportion of Own-Account and Contributing Family


Workers in Total Employment. Diunduh dari http://mdgs.un.org/
s:

unsd/mi/wiki/1-7-Proportion-of-ownaccount-and-contributing-family-
tp

workers-in-totalemployment.ashx Diakses pada 3 Desember 2018


ht

Wang J., Zhao. 2012. Family functioning and social support for older patients
with depression in an urban area of shanghai, china. Arch Gerontol
Geriatr. 55 (3): 574-9.
WHO. 2007. Global Age-Friendly Cities: A Guide. France: WHO.
WHO. 2016. http://apps.who.int/gho/data/node.main.HALE?lang=en diakses
pada 13 Nopember 2018 jam 16.38
Wirakartakusumah, M. Djuhari, Hisar Sirait, dan Zainul Hidayat. 1996. Pelibatan
Penduduk Usia Lanjut dalam Keluarga. Jakarta: Lembaga Demografi
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
_____. 2014. Bina Lansia Sehat. Diunduh dari http://www.pmisolo.or.id/bina-
lansia-sehat/. Diakses pada November 2018.
_____. 2016. Seberapa Pentingkah Pemberantasan Buta Aksara. https:
pauddikmasntb.kemdikbud.go.id/seberapa-pentingkah-pemberantas
an-buta-aksara/. Diakses pada November 2018.
_____. 2017. Kemenkes Terus Tingkatkan Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan.
http://www.depkes.go.id/article/view/17010500003/kemenkes-terus-
tingkatkan-akses-dan-mutu-pelayanan-kesehatan.html. Diakses pada
November 2018

110
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
CATATAN TEKNIS

Penduduk Lanjut Usia adalah penduduk berumur 60 tahun ke atas (Undang-


undang No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia).

Angka Harapan Hidup (e0) adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk
dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur.

Tipe Daerah menggambarkan kelompok desa/kelurahan yang termasuk daerah

id
perkotaan atau perdesaan. Penentuan suatu desa/kelurahan termasuk perkotaan
atau perdesaan menggunakan suatu indikator komposit (indikator gabungan)

.
go
yang skor atau nilainya didasarkan pada skor atau nilai-nilai tiga buah variabel:
s.
kepadatan penduduk, persentase rumah tangga pertanian, dan akses ke fasilitas
umum.
p
.b
w

Blok Sensus adalah bagian dari desa/kelurahan yang merupakan daerah kerja
w

dari seorang petugas pencacah survei/sensus dengan pendekatan rumah tangga


//w

yang dilaksanakan BPS.


s:

Rumah Tangga Biasa adalah seorang atau sekelompok orang yang mendiami
tp

sebagian atau seluruh bangunan fisik atau sensus, dan biasanya tinggal bersama
ht

serta makan dari satu dapur. Rumah tangga biasa umumnya terdiri dari ibu,
bapak, dan anak. Yang dimaksud satu dapur adalah jika pengurusan kebutuhan
sehari-hari dikelola menjadi satu. Beberapa orang yang bersama-sama mendiami
satu kamar dalam satu bangunan sensus walaupun mengurus makannya sendiri-
sendiri dianggap satu rumah tangga biasa.

Rumah Tangga Khusus adalah orang yang tinggal di asrama seperti asrama
perawat, asrama mahasiswa dan asrama TNI/Polisi, panti asuhan, panti jompo,
dan sekelompok orang yang mondok dengan makan (indekos) berjumlah 10
orang atau lebih.

Rumah Tangga Lansia adalah rumah tangga yang minimal salah satu anggota
rumah tangganya berumur 60 tahun ke atas.

Kepala Rumah Tangga (KRT) adalah adalah seorang dari sekelompok anggota
rumah tangga yang bertanggung jawab atas kebutuhan sehari-hari rumah tangga.

Anggota Rumah Tangga (ART) adalah semua orang yang biasanya bertempat

113
tinggal di suatu rumah tangga (kepala rumah tangga, suami/istri,
anak, menantu, cucu, orang tua/mertua, famili lain, pembantu
rumah tangga atau anggota rumah tangga lainnya).

Tidak termasuk anggota rumah tangga yaitu orang yang telah


bepergian selama 6 bulan atau lebih, atau kurang dari 6 bulan tetapi
dengan tujuan pindah (akan meninggalkan rumah selama 6 bulan
atau lebih).

Di sisi lain, orang yang telah 6 bulan atau lebih tinggal di rumah
tangga yang sedang dicacah atau yang telah tinggal kurang dari 6
bulan tetapi berniat menetap dianggap sebagai anggota rumah
tangga dari rumah tangga yang sedang dicacah tersebut.

. id
go
Rasio Ketergantungan Penduduk Lansia adalah perbandingan
antara jumlah penduduk lansia (60 tahun ke atas) dengan jumlah
s.
penduduk usia produktif (15-59 tahun). Menggambarkan seberapa
p
.b

besar beban yang harus ditanggung penduduk usia produktif untuk


membiayai hidup penduduk lansia.
w
w
//w

Kawin adalah seseorang yang pada saat pencacahan hidup sebagai


suami atau istri berdasarkan peraturan hukum/adat/ajaran agama.
s:

Baik yang mendapatkan surat nikah ataupun tidak, namun sah


tp

menurut hukum/ adat/ajaran agama. Termasuk kategori kawin


adalah mereka yang mempunyai pasangan perempuan (bagi laki-
ht

laki) atau pasangan laki-laki (bagi perempuan) tanpa terikat dalam


perkawinan yang sah secara hukum (adat, agama, negara) namun
memiliki hubungan layaknya pasangan suami istri, baik tinggal
bersama dalam satu rumah maupun tidak.

Cerai Hidup adalah seseorang yang pada saat pencacahan telah


berpisah sebagai suami-istri karena bercerai dan belum kawin lagi.
Termasuk kategori ini adalah mereka yang mengaku cerai walaupun
belum resmi secara hukum, mereka yang pernah hidup bersama
tetapi pada saat pencacahan sudah berpisah (tidak hidup bersama
lagi), serta perempuan yang mengaku belum pernah menikah/
kawin/hidup bersama tetapi mempunyai anak termasuk yang
sudah meninggal. Sebaliknya tidak termasuk mereka yang hanya
hidup terpisah tetapi masih berstatus kawin, misalnya suami/
isteri ditinggalkan oleh isteri/suami ke tempat lain karena sekolah,
bekerja, mencari pekerjaan, atau untuk keperluan lain.

114
Cerai Mati adalah seseorang ditinggal mati oleh suami atau istrinya
dan belum kawin lagi.

Dapat Membaca dan Menulis adalah kemampuan seseorang untuk


bisa membaca dan menulis kata-kata/kalimat sederhana dalam
huruf tertentu.

Buta Huruf atau Buta Aksara adalah tidak bisa membaca dan
menulis kalimat sederhana dengan suatu aksara, termasuk huruf
Braille. Orang cacat yang pernah dapat membaca dan menulis
digolongkan tidak buta huruf.

id
Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan adalah jenjang pendidikan
tertinggi yang sudah ditamatkan oleh seseorang yang sudah tidak

.
go
sekolah lagi atau jenjang pendidikan tertinggi yang pernah diduduki
dan ditamatkan oleh seseorang yang masih bersekolah.
s.
p
.b

Tidak/Belum Pernah Sekolah adalah tidak atau belum pernah


w

terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan formal, termasuk mereka


w

yang tamat/belum tamat Taman Kanak-kanak dan tidak melanjutkan


//w

ke Sekolah Dasar.
s:

Tidak tamat SD adalah pernah/ sedang bersekolah di SD atau yang


tp

sederajat tetapi tidak/belum tamat.


ht

SD meliputi Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyah dan sederajat.

SMP meliputi jenjang pendidikan SMP Umum, Madrasah Tsanawiyah,


SMP kejuruan dan sederajat.

SM/Sederajat atau lebih meliputi tamat jenjang pendidikan


Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK),
Madrasah Aliyah, dan yang sederajat. Termasuk menamatkan
pendidikan program DI/DII/DIII atau mendapatkan gelar sarjana
muda pada suatu akademi/perguruan tinggi yang menyelenggarakan
program diploma/ mengeluarkan gelar sarjana muda, program
pendidikan diploma IV, sarjana pada suatu perguruan tinggi,
program pendidikan pasca sarjana (master atau doktor), spesialis 1
atau 2 pada suatu perguruan tinggi.

Keluhan Kesehatan adalah keadaan seseorang yang mengalami


gangguan kesehatan atau kejiwaan baik karena penyakit, kecelakaan,

115
kriminal dll.

Sakit adalah menderita penyakit baik akut/kronis maupun


mengalami gangguan kesehatan lainnya yang menyebabkan aktivitas
kerja sehari-harinya menjadi terganggu. Orang yang mempunyai
keluhan kesehatan ringan (misalnya masuk angin atau pilek) yang
tidak mengganggu kegiatan sehari-harinya dianggap tidak sakit.

Angkatan Kerja Penduduk Lansia adalah penduduk berumur


60 tahun ke atas yang selama seminggu sebelum pencacahan
sedang bekerja, sementara tidak bekerja, mencari pekerjaan, atau
mempersiapkan suatu usaha.

id
Bekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan maksud

.
go
memperoleh/membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan
paling sedikit selama satu jam dalam seminggu sebelum pencacahan.
s.
Bekerja selama satu jam tersebut harus dilakukan berturut-turut
p
.b

dan tidak terputus (termasuk pekerja keluarga tanpa upah, yang


membantu dalam kegiatan usaha/ekonomi).
w
w
//w

Mencari Pekerjaan adalah kegiatan dari mereka yang bekerja


tetapi karena suatu hal masih mencari pekerjaan; atau mereka
s:

yang dibebastugaskan dan akan dipanggil kembali tetapi sedang


tp

berusaha untuk mendapatkan pekerjaan; atau mereka yang pernah


bekerja dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan; atau mereka
ht

yang belum pernah bekerja dan sedang berusaha mendapatkan


pekerjaan.

Mempersiapkan Suatu Usaha adalah suatu kegiatan yang dilakukan


seseorang dalam rangka mempersiapkan suatu usaha yang baru,
yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan/keuntungan atas
resiko sendiri, dengan atau tanpa mempekerjakan buruh/ karyawan/
pegawai dibayar maupun tak dibayar. Mempersiapkan suatu usaha
yang dimaksud adalah apabila seseorang telah/sedang melakukan
tindakan nyata seperti mengumpulkan modal atau alat, mencari
lokasi, mengurus surat ijin usaha, dsb.

Pengangguran adalah penduduk yang tidak bekerja, mencari


pekerjaan/ mempersiapkan usaha, mereka yang putus asa mencari
pekerjaan dan tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, serta mereka
yang punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Sedangkan bukan
angkatan kerja terdiri dari penduduk yang pada periode rujukan

116
tidak mempunyai/melakukan aktivitas ekonomi, baik karena sekolah,
mengurus rumah tangga atau lainnya (pensiun, penerima transfer/
kiriman, penerima deposito/bunga bank, jompo atau alasan yang lain).

Bukan Angkatan Kerja Penduduk Lansia adalah penduduk berumur


60 tahun ke atas yang selama seminggu sebelum pencacahan hanya
mengurus rumah tangga, atau melakukan kegiatan lainnya. Termasuk
penduduk umur 60 tahun ke atas yang tidak melakukan kegiatan bekerja,
sementara tidak bekerja, atau mencari pekerjaan.

Lapangan Usaha adalah bidang kegiatan dari pekerjaan/usaha/


perusahaan/kantor/ instansi tempat seseorang bekerja.

id
Status/Kedudukan Pekerjaan adalah jenis kedudukan seseorang dalam

.
go
pekerjaannya, yang mencakup berusaha sendiri tanpa bantuan orang
lain, berusaha dibantu buruh tidak dibayar, berusaha dibantu buruh
s.
dibayar, atau sebagai buruh/karyawan/pegawai.
p
.b
w

Jam Kerja adalah jumlah waktu (dalam jam) yang digunakan untuk
w

bekerja.
//w

Vulnerable employment adalah penduduk bekerja dengan status


s:

dalam pekerjaan utama adalah berusaha sendiri, pekerja bebas baik


tp

di pertanian dan nonpertanian, serta pekerja keluarga atau pekerja tak


ht

dibayar.

Precarious worker adalah pekerja bebas baik di sektor pertanian


maupun non pertanian

Upah rendah adalah pendapatan/upah/gaji kurang dari 2/3 median


pendapatan/upah/gaji.

Jam kerja layak adalah jam kerja melebihi ambang batas 48 jam per
minggu.

Rumah Tidak Layak Huni didefinisikan sebagai rumah yang tidak


memenuhi persyaratan keselamatan, bangunan dan kecukupan
minimum luas bangunan serta kesehatan penghuninya (Peraturan
Menteri Perumahan Rakyat Nomor 22/Permen/ M/2008).

Suatu rumah tempat tinggal termasuk kriteria tidak layak huni jika
memenuhi setidaknya dua dari tujuh kriteria berikut ini; (1) Luas lantai

117
per kapita <7,2 m2, (2) Jenis atap rumah terbuat dari daun/lainnya,
(3) Jenis dinding rumah terbuat dari bambu/lainnya, (4) Jenis lantai
tanah, (5) Tidak mempunyai fasilitas buang air besar, (6) Sumber
penerangan bukan listrik, dan (7) Jarak sumber air minum utama ke
tempat pembuangan kotoran/tinja kurang dari 10 m.

Korban Kejahatan adalah seseorang atau harta bendanya yang


selama setahun terakhir mengalami atau terkena tindak kejahatan
atau usaha/percobaan tindak kejahatan.

Pencurian adalah perbuatan mengambil suatu barang yang sebagian


atau seluruhnya kepunyaan orang lain dengan maksud untuk dimiliki
secara melawan hukum.

. id
go
Penipuan adalah perbuatan dengan maksud untuk menguntungkan
diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan
s.
memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat,
p
.b

ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk


menyerahkan suatu barang kepadanya, atau supaya memberi
w

hutang maupun menghapuskan piutang.


w
//w

Beras untuk Masyarakat Miskin (Raskin) adalah salah satu program


s:

pemerintah untuk rakyat miskin yang diselenggarakan oleh BULOG


tp

dengan menjual beras dengan harga murah bersubsidi.


ht

Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) adalah program


bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin
di seluruh Indonesia. Sasaran dari program Jamkesmas adalah
masyarakat sangat miskin, miskin, dan mendekati miskin/tidak
mampu. Pengelola Jamkesmas adalah Kementerian Kesehatan RI
dan PT Askes (Persero), sedangkan yang memberikan pelayanan
kesehatan adalah puskesmas dan jaringannya, rumah sakit, dan
sarana pelayanan kesehatan lainnya yang ditunjuk. Jamkesmas
merupakan pengganti ASKESKIN (Asuransi Kesehatan Keluarga
Miskin). Pemegang kartu Jamkesmas dibebaskan dari biaya
pengobatan dan rawat inap di puskesmas atau di rumah sakit
pemerintah atau rumah sakit swasta yang ditunjuk.

Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah) adalah program jaminan


bantuan pembayaran biaya pelayanan kesehatan yang diberikan
pemerintah daerah kepada masyarakat daerah. Sasaran Program
Jamkesda adalah seluruh masyarakat yang belum memiliki jaminan

118
kesehatan berupa Jamkesmas, ASKES dan asuransi kesehatan lainnya.

JPK PNS/Veteran/Pensiun (Askes) adalah jaminan pemeliharaan


kesehatan bagi PNS/Veteran/Pensiunan yang ditandai dengan memiliki
kartu kepesertaan yang dikelola PT Askes (Persero).

JPK Jamsostek adalah jaminan pemeliharaan kesehatan untuk tenaga


kerja swasta di sektor formal yang ditandai dengan memiliki kartu
kepesertaan yang dikelola PT Jamsostek.

Kredit Usaha adalah sejumlah dana yang bersifat pinjaman yang diterima
untuk membantu menjalankan atau memperbesar kegiatan usaha. Pada

id
dasarnya jenis kredit usaha terdiri dari Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat (PNPM) Mandiri dan Program pemerintah lainnya.

.
go
p s.
.b
w
w
//w
s:
tp
ht

119
ht
tp
s:
//w
w
w

120
.b
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b

121
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
Tabel 2.1.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Kelompok
Umur, 2018
Perkotaan
Kelompok Umur (Tahun)
Provinsi Lansia Muda Lansia Madya Lansia Tua Lansia
(60-69) (70-79) (80+) (60+)
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 66,65 26,92 6,43 6,25
Sumatera Utara 68,91 24,42 6,67 7,41
Sumatera Barat 65,89 25,49 8,61 8,81
Riau 69,49 23,59 6,93 5,30
Jambi 69,00 23,03 7,97 7,25
Sumatera Selatan 67,62 25,44 6,93 7,52

id
Bengkulu 69,44 23,57 6,99 6,10

.
Lampung 65,69 26,17 8,14 7,80

go
Kep. Bangka Belitung 69,57 23,27 7,16 7,76
Kepulauan Riau 71,27
s. 22,51 6,23 4,09
DKI Jakarta 70,36 24,36 5,28 7,51
p
.b

Jawa Barat 64,12 28,44 7,44 8,24


Jawa Tengah 59,50 30,61 9,89 12,34
w

DI Yogyakarta 56,76 31,18 12,06 12,37


w

Jawa Timur 62,55 28,40 9,05 11,66


//w

Banten 69,84 24,55 5,60 5,50


Bali 61,84 28,97 9,19 9,68
s:

Nusa Tenggara Barat 63,98 27,30 8,72 7,98


tp

Nusa Tenggara Timur 63,31 27,46 9,23 6,80


Kalimantan Barat 65,34 28,33 6,32 7,84
ht

Kalimantan Tengah 70,12 24,19 5,69 5,56


Kalimantan Selatan 67,99 26,09 5,92 6,82
Kalimantan Timur 71,12 22,21 6,67 5,83
Kalimantan Utara 72,05 23,03 4,92 5,91
Sulawesi Utara 66,69 24,99 8,32 10,26
Sulawesi Tengah 69,24 23,79 6,96 7,18
Sulawesi Selatan 62,03 29,46 8,51 8,21
Sulawesi Tenggara 63,72 30,05 6,22 6,25
Gorontalo 69,91 26,60 3,49 7,62
Sulawesi Barat 62,90 26,50 10,60 6,99
Maluku 68,20 26,01 5,79 6,78
Maluku Utara 72,37 22,66 4,97 5,68
Papua Barat 74,30 20,53 5,17 4,42
Papua 74,81 22,22 2,97 4,84

Indonesia 64,18 27,76 8,06 8,75

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

123
Tabel 2.1.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Kelompok
Umur, 2018
Perdesaan
Kelompok Umur (Tahun)
Provinsi Lansia Muda Lansia Madya Lansia Tua Lansia
(60-69) (70-79) (80+) (60+)
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 64,46 26,43 9,12 7,00
Sumatera Utara 67,15 24,18 8,68 7,77
Sumatera Barat 64,25 26,36 9,39 10,01
Riau 69,15 25,26 5,58 5,60
Jambi 67,94 24,36 7,70 7,31
Sumatera Selatan 65,97 24,80 9,22 7,81

id
Bengkulu 64,13 24,90 10,97 7,67

.
Lampung 63,30 26,08 10,62 8,85

go
Kep. Bangka Belitung 68,77 25,99 5,24 7,22
Kepulauan Riau 68,32
s.
28,16
p
3,52 7,46
DKI Jakarta - - - -
.b

Jawa Barat 62,24 29,13 8,64 10,84


Jawa Tengah 58,67 30,27 11,06 13,53
w

DI Yogyakarta 55,98 32,80 11,21 18,28


w

Jawa Timur 61,37 28,83 9,80 13,50


//w

Banten 68,15 25,07 6,78 7,33


Bali 59,24 30,57 10,18 13,46
s:

Nusa Tenggara Barat 63,71 27,82 8,47 8,36


tp

Nusa Tenggara Timur 61,80 29,58 8,62 8,08


ht

Kalimantan Barat 66,44 26,87 6,69 7,37


Kalimantan Tengah 68,92 24,18 6,91 5,91
Kalimantan Selatan 66,78 26,47 6,75 7,48
Kalimantan Timur 69,13 23,40 7,47 6,43
Kalimantan Utara 72,10 23,05 4,84 6,65
Sulawesi Utara 64,68 27,33 7,99 11,20
Sulawesi Tengah 66,10 25,94 7,97 8,11
Sulawesi Selatan 59,42 30,29 10,28 10,10
Sulawesi Tenggara 62,72 27,39 9,89 7,17
Gorontalo 66,25 27,82 5,93 7,77
Sulawesi Barat 63,29 27,31 9,39 6,36
Maluku 63,71 27,06 9,23 7,18
Maluku Utara 69,50 23,51 7,00 6,40
Papua Barat 75,46 21,76 2,78 4,64
Papua 78,38 17,85 3,78 2,77

Indonesia 62,55 28,09 9,35 9,90

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

124
Tabel 2.1.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Kelompok
Umur, 2018
Laki-laki
Kelompok Umur (Tahun)
Provinsi Lansia Muda Lansia Madya Lansia Tua Lansia
(60-69) (70-79) (80+) (60+)
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 68,96 24,05 6,99 6,31
Sumatera Utara 71,11 23,12 5,77 6,96
Sumatera Barat 68,82 24,91 6,27 8,69
Riau 71,90 22,27 5,82 5,43
Jambi 70,00 23,33 6,67 7,20
Sumatera Selatan 69,31 23,23 7,46 7,39

id
Bengkulu 68,68 23,25 8,07 7,09

.
Lampung 66,32 23,91 9,77 8,44

go
Kep. Bangka Belitung 71,22 22,20 6,58 7,17
Kepulauan Riau 72,09
s. 23,27 4,64 4,41
DKI Jakarta 71,87 23,61 4,52 7,21
p
.b

Jawa Barat 66,27 27,42 6,30 8,56


Jawa Tengah 62,19 29,07 8,74 12,19
w

DI Yogyakarta 59,79 30,05 10,16 12,82


w

Jawa Timur 65,65 27,40 6,96 11,78


//w

Banten 72,41 22,96 4,62 5,89


Bali 63,08 29,66 7,26 10,21
s:

Nusa Tenggara Barat 65,36 26,36 8,28 7,87


tp

Nusa Tenggara Timur 63,44 28,20 8,36 7,40


ht

Kalimantan Barat 67,55 26,80 5,65 7,36


Kalimantan Tengah 71,76 23,80 4,44 5,75
Kalimantan Selatan 71,21 24,12 4,67 6,73
Kalimantan Timur 72,56 21,53 5,91 6,19
Kalimantan Utara 71,81 23,45 4,74 6,42
Sulawesi Utara 69,03 24,76 6,22 10,08
Sulawesi Tengah 67,59 25,24 7,16 7,65
Sulawesi Selatan 62,81 29,47 7,72 8,36
Sulawesi Tenggara 66,21 26,23 7,57 6,51
Gorontalo 70,12 26,21 3,67 7,17
Sulawesi Barat 65,36 26,18 8,47 6,09
Maluku 67,74 23,75 8,51 6,67
Maluku Utara 72,06 22,52 5,41 6,11
Papua Barat 75,39 21,84 2,78 4,66
Papua 77,59 20,19 2,21 3,63

Indonesia 66,36 26,60 7,03 8,78

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

125
Tabel 2.1.4 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Kelompok
Umur, 2018
Perempuan
Kelompok Umur (Tahun)
Provinsi Lansia Muda Lansia Madya Lansia Tua Lansia
(60-69) (70-79) (80+) (60+)
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 61,73 28,76 9,51 7,23
Sumatera Utara 65,47 25,31 9,22 8,19
Sumatera Barat 61,66 26,92 11,42 10,27
Riau 66,58 27,02 6,40 5,54
Jambi 66,53 24,55 8,92 7,38
Sumatera Selatan 63,97 26,76 9,27 8,02

id
Bengkulu 62,48 25,83 11,69 7,23

.
go
Lampung 61,52 28,35 10,13 8,64
Kep. Bangka Belitung 67,24 26,73
s. 6,04 7,87
Kepulauan Riau 69,12 24,35 6,53 4,73
p
DKI Jakarta 68,97 25,05 5,98 7,81
.b

Jawa Barat 60,93 29,82 9,25 9,28


w

Jawa Tengah 56,33 31,64 12,02 13,64


w

DI Yogyakarta 53,74 33,17 13,09 15,08


Jawa Timur 58,75 29,67 11,58 13,28
//w

Banten 66,11 26,49 7,40 6,18


s:

Bali 58,72 29,61 11,67 11,71


Nusa Tenggara Barat 62,50 28,65 8,86 8,48
tp

Nusa Tenggara Timur 60,90 30,01 9,09 8,16


ht

Kalimantan Barat 64,58 27,97 7,46 7,70


Kalimantan Tengah 66,77 24,59 8,64 5,81
Kalimantan Selatan 63,79 28,28 7,93 7,64
Kalimantan Timur 67,92 23,91 8,17 5,86
Kalimantan Utara 72,40 22,54 5,06 6,00
Sulawesi Utara 62,53 27,54 9,92 11,41
Sulawesi Tengah 66,21 25,53 8,26 8,06
Sulawesi Selatan 58,49 30,39 11,12 10,23
Sulawesi Tenggara 60,18 30,26 9,56 7,13
Gorontalo 65,50 28,35 6,16 8,26
Sulawesi Barat 61,28 27,93 10,79 6,93
Maluku 63,47 29,30 7,23 7,35
Maluku Utara 68,41 24,06 7,53 6,27
Papua Barat 74,56 20,62 4,83 4,43
Papua 76,08 18,81 5,11 3,01

Indonesia 60,69 29,12 10,19 9,77

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

126
Tabel 2.1.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Kelompok
Umur, 2018
Perkotaan + Perdesaan, Laki-Laki + Perempuan

Kelompok Umur (Tahun)


Provinsi Lansia Muda Lansia Madya Lansia Tua Lansia
(60-69) (70-79) (80+) (60+)
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 65,09 26,57 8,34 6,77
Sumatera Utara 68,06 24,31 7,64 7,58
Sumatera Barat 64,92 26,01 9,0-7 9,48
Riau 69,28 24,61 6,11 5,48
Jambi 68,28 23,94 7,78 7,29

id
Sumatera Selatan 66,57 25,04 8,39 7,70
Bengkulu 65,61 24,53 9,87 7,16

.
go
Lampung 63,95 26,10 9,95 8,54
Kep. Bangka Belitung 69,22 s. 24,48 6,31 7,51
Kepulauan Riau 70,58 23,82 5,60 4,57
p
DKI Jakarta 70,36 24,36 5,28 7,51
.b

Jawa Barat 63,53 28,66 7,82 8,91


w

Jawa Tengah 59,08 30,44 10,49 12,92


w

DI Yogyakarta 56,49 31,75 11,76 13,97


//w

Jawa Timur 61,95 28,62 9,43 12,54


Banten 69,25 24,74 6,02 6,03
s:

Bali 60,76 29,63 9,60 10,96


tp

Nusa Tenggara Barat 63,83 27,58 8,59 8,19


Nusa Tenggara Timur 62,10 29,16 8,74 7,79
ht

Kalimantan Barat 66,06 27,39 6,56 7,53


Kalimantan Tengah 69,36 24,18 6,46 5,78
Kalimantan Selatan 67,32 26,30 6,38 7,18
Kalimantan Timur 70,41 22,63 6,95 6,03
Kalimantan Utara 72,07 23,04 4,89 6,22
Sulawesi Utara 65,64 26,21 8,15 10,73
Sulawesi Tengah 66,90 25,39 7,71 7,85
Sulawesi Selatan 60,38 29,99 9,63 9,32
Sulawesi Tenggara 63,07 28,32 8,60 6,82
Gorontalo 67,65 27,35 5,00 7,71
Sulawesi Barat 63,20 27,11 9,70 6,51
Maluku 65,52 26,64 7,84 7,01
Maluku Utara 70,25 23,29 6,46 6,19
Papua Barat 75,00 21,27 3,72 4,55
Papua 76,95 19,60 3,45 3,34

Indonesia 63,39 27,92 8,69 9,27

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

127
Tabel 2.2 Persentase Rumah Tangga Lansia Menurut Provinsi dan Tipe
Daerah, 2018

Tipe Daerah
Provinsi
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
(1) (2) (3) (4)
Aceh 21,75 23,99 23,29
Sumatera Utara 24,35 24,86 24,59
Sumatera Barat 27,39 32,11 30,03
Riau 17,15 17,87 17,58
Jambi 22,60 21,70 21,98
Sumatera Selatan 23,77 23,35 23,50
Bengkulu 18,66 22,14 21,02

id
Lampung 24,01 25,51 25,09

.
Kep. Bangka Belitung 22,14 20,38 21,32

go
Kepulauan Riau 11,78 21,61 13,15
DKI Jakarta 21,52
s. - 21,52
Jawa Barat 23,66 28,62 25,02
p
.b

Jawa Tengah 34,84 37,26 36,03


DI Yogyakarta 30,24 45,87 34,36
w

Jawa Timur 32,67 36,82 34,66


w

Banten 18,03 24,78 19,95


//w

Bali 25,63 35,90 29,02


Nusa Tenggara Barat 22,37 23,15 22,79
s:

Nusa Tenggara Timur 23,51 28,79 27,54


tp

Kalimantan Barat 25,92 23,35 24,19


ht

Kalimantan Tengah 17,04 17,36 17,24


Kalimantan Selatan 20,47 22,07 21,32
Kalimantan Timur 17,93 20,40 18,75
Kalimantan Utara 19,30 22,04 20,41
Sulawesi Utara 29,33 31,79 30,56
Sulawesi Tengah 21,74 25,09 24,14
Sulawesi Selatan 27,56 31,85 30,12
Sulawesi Tenggara 20,41 24,39 22,87
Gorontalo 23,91 24,02 23,97
Sulawesi Barat 22,72 21,31 21,64
Maluku 24,14 26,90 25,71
Maluku Utara 20,68 22,61 22,04
Papua Barat 15,26 16,25 15,85
Papua 15,64 8,44 10,29

Indonesia 25,72 28,99 27,20

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

128
Tabel 2.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi, Tipe Daerah, dan Jenis
Kelamin, 2018
Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perkotaan
Laki- Laki- Laki-
Provinsi Laki- Perem- Laki+ Laki- Perem- Laki+ Laki- Perem- Laki+
Laki puan Perem- Laki puan Perem- Laki puan Perem-
puan puan puan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Aceh 5,84 6,66 6,25 6,52 7,49 7,00 6,31 7,23 6,77
Sumatera Utara 6,89 7,92 7,41 7,04 8,49 7,77 6,96 8,19 7,58
Sumatera Barat 8,06 9,55 8,81 9,18 10,84 10,01 8,69 10,27 9,48
Riau 5,23 5,37 5,30 5,56 5,65 5,60 5,43 5,54 5,48
Jambi 7,13 7,38 7,25 7,23 7,39 7,31 7,20 7,38 7,29

id
Sumatera Selatan 7,12 7,92 7,52 7,55 8,09 7,81 7,39 8,02 7,70
Bengkulu 6,00 6,19 6,10 7,60 7,75 7,67 7,09 7,23 7,16

.
go
Lampung 7,59 8,01 7,80 8,79 8,91 8,85 8,44 8,64 8,54
Kep. Bangka Belitung 7,35 8,20 7,76 6,97
s. 7,49 7,22 7,17 7,87 7,51
Kepulauan Riau 4,00 4,18 4,09 6,88 8,08 7,46 4,41 4,73 4,57
p
DKI Jakarta 7,21 7,81 7,51 0,00 0,00 0,00 7,21 7,81 7,51
.b

Jawa Barat 7,91 8,58 8,24 10,41 11,27 10,84 8,56 9,28 8,91
w

Jawa Tengah 11,59 13,07 12,34 12,82 14,23 13,53 12,19 13,64 12,92
w

DI Yogyakarta 11,33 13,40 12,37 16,97 19,51 18,28 12,82 15,08 13,97
//w

Jawa Timur 10,99 12,32 11,66 12,66 14,33 13,50 11,78 13,28 12,54
Banten 5,41 5,59 5,50 7,05 7,63 7,33 5,89 6,18 6,03
s:

Bali 9,04 10,34 9,68 12,55 14,36 13,46 10,21 11,71 10,96
Nusa Tenggara Barat 7,61 8,34 7,98 8,10 8,61 8,36 7,87 8,48 8,19
tp

Nusa Tenggara Timur 6,34 7,27 6,80 7,72 8,43 8,08 7,40 8,16 7,79
ht

Kalimantan Barat 7,62 8,06 7,84 7,23 7,52 7,37 7,36 7,70 7,53
Kalimantan Tengah 5,58 5,53 5,56 5,85 5,99 5,91 5,75 5,81 5,78
Kalimantan Selatan 6,47 7,19 6,82 6,96 8,02 7,48 6,73 7,64 7,18
Kalimantan Timur 5,94 5,72 5,83 6,68 6,14 6,43 6,19 5,86 6,03
Kalimantan Utara 6,09 5,71 5,91 6,88 6,40 6,65 6,42 6,00 6,22
Sulawesi Utara 9,54 11,01 10,26 10,62 11,83 11,20 10,08 11,41 10,73
Sulawesi Tengah 6,83 7,53 7,18 7,96 8,27 8,11 7,65 8,06 7,85
Sulawesi Selatan 7,33 9,06 8,21 9,10 11,06 10,10 8,36 10,23 9,32
Sulawesi Tenggara 6,00 6,51 6,25 6,82 7,52 7,17 6,51 7,13 6,82
Gorontalo 6,87 8,36 7,62 7,35 8,19 7,77 7,17 8,26 7,71
Sulawesi Barat 6,31 7,64 6,99 6,03 6,70 6,36 6,09 6,93 6,51
Maluku 6,32 7,25 6,78 6,93 7,43 7,18 6,67 7,35 7,01
Maluku Utara 5,42 5,95 5,68 6,39 6,40 6,40 6,11 6,27 6,19
Papua Barat 4,37 4,47 4,42 4,86 4,40 4,64 4,66 4,43 4,55
Papua 4,97 4,69 4,84 3,11 2,39 2,77 3,63 3,01 3,34

Indonesia 8,28 9,21 8,75 9,37 10,44 9,90 8,78 9,77 9,27

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

129
Tabel 2.4 Rasio Ketergantungan Penduduk Lansia Menurut Provinsi, Tipe Daerah, dan
Jenis Kelamin, 2018
Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perkotaan
Laki- Laki- Laki-
Provinsi Laki- Perem- Laki+ Laki- Perem- Laki+ Laki- Perem- Laki+
Laki puan Perem- Laki puan Perem- Laki puan Perem-
puan puan puan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Aceh 9,16 10,40 9,78 10,64 12,12 11,38 10,16 11,57 10,87
Sumatera Utara 10,93 12,51 11,72 12,01 14,52 13,26 11,42 13,41 12,42
Sumatera Barat 13,00 15,35 14,18 15,49 18,41 16,95 14,37 17,02 15,70
Riau 8,06 8,30 8,18 8,77 9,03 8,90 8,48 8,73 8,60
Jambi 10,66 11,13 10,89 11,13 11,43 11,28 10,98 11,33 11,15

id
Sumatera Selatan 10,94 12,17 11,55 11,92 12,88 12,38 11,55 12,60 12,07
Bengkulu 9,00 9,39 9,19 11,89 12,17 12,03 10,93 11,22 11,07

.
go
Lampung 11,67 12,30 11,98 13,92 14,19 14,05 13,25 13,61 13,43
Kep. Bangka Belitung 11,07 12,66 11,83 10,47
s. 11,64 11,02 10,79 12,20 11,45
Kepulauan Riau 6,04 6,39 6,21 10,77 13,24 11,94 6,70 7,30 6,99
p
DKI Jakarta 10,69 11,52 11,11 - - - 10,69 11,52 11,11
.b

Jawa Barat 12,09 13,12 12,60 16,58 17,98 17,27 13,21 14,34 13,77
w

Jawa Tengah 18,17 20,43 19,31 20,55 22,74 21,65 19,32 21,54 20,44
w

DI Yogyakarta 17,11 20,44 18,77 28,12 32,65 30,45 19,83 23,58 21,72
//w

Jawa Timur 16,72 18,69 17,71 19,75 22,35 21,07 18,14 20,41 19,29
Banten 8,02 8,29 8,15 11,28 12,24 11,75 8,91 9,37 9,14
s:

Bali 13,48 15,57 14,51 19,84 22,84 21,34 15,52 17,96 16,73
Nusa Tenggara Barat 12,26 12,94 12,62 13,43 13,70 13,57 12,88 13,34 13,12
tp

Nusa Tenggara Timur 10,26 11,62 10,94 13,96 14,90 14,44 13,03 14,10 13,57
ht

Kalimantan Barat 11,88 12,49 12,18 11,46 11,95 11,70 11,60 12,14 11,86
Kalimantan Tengah 8,27 8,28 8,27 8,75 9,16 8,94 8,57 8,81 8,68
Kalimantan Selatan 9,78 10,94 10,35 10,84 12,65 11,73 10,34 11,84 11,08
Kalimantan Timur 8,81 8,55 8,69 10,15 9,53 9,86 9,25 8,86 9,07
Kalimantan Utara 9,23 8,88 9,07 10,86 10,27 10,59 9,91 9,44 9,69
Sulawesi Utara 14,44 17,05 15,72 16,86 19,18 17,97 15,63 18,07 16,81
Sulawesi Tengah 10,21 11,48 10,84 12,76 13,31 13,03 12,03 12,77 12,39
Sulawesi Selatan 11,50 14,11 12,83 14,97 17,98 16,52 13,48 16,33 14,95
Sulawesi Tenggara 9,72 10,36 10,04 11,71 12,67 12,19 10,92 11,75 11,34
Gorontalo 10,37 12,69 11,55 11,54 12,88 12,20 11,08 12,81 11,94
Sulawesi Barat 10,22 12,30 11,28 9,72 10,79 10,25 9,83 11,16 10,49
Maluku 10,08 11,57 10,82 11,97 12,82 12,39 11,15 12,27 11,71
Maluku Utara 8,39 9,13 8,76 10,86 10,76 10,81 10,11 10,25 10,18
Papua Barat 6,53 6,88 6,69 7,60 7,05 7,34 7,15 6,97 7,07
Papua 7,28 7,16 7,22 4,80 3,66 4,25 5,52 4,61 5,09

Indonesia 12,68 14,10 13,39 15,04 16,75 15,89 13,72 15,27 14,47

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

130
Tabel 2.5.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
Keanggotaan rumah Tangga, 2018
Perkotaan
Status Keanggotaan Rumah Tangga
Provinsi Kepala Rumah Istri/ Mertua/ Lainnya Total
Tangga (KRT) Suami Orang Tua
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 69,88 15,11 13,33 1,68 100,00
Sumatera Utara 66,25 20,75 10,78 2,23 100,00
Sumatera Barat 56,81 21,21 20,51 1,47 100,00
Riau 62,98 18,78 16,17 2,06 100,00
Jambi 62,71 18,99 16,91 1,39 100,00

id
Sumatera Selatan 62,76 21,39 14,07 1,78 100,00
Bengkulu 64,43 18,25 15,22 2,10 100,00

.
go
Lampung 59,36 19,76 19,69 1,19 100,00
Kep. Bangka Belitung 63,03 23,11
s. 12,20 1,66 100,00
Kepulauan Riau 58,25 17,61 20,80 3,33 100,00
p
DKI Jakarta 67,43 21,12 8,97 2,48 100,00
.b

Jawa Barat 63,70 20,28 13,86 2,15 100,00


w

Jawa Tengah 60,73 20,87 16,14 2,27 100,00


w

DI Yogyakarta 59,95 22,63 13,75 3,66 100,00


//w

Jawa Timur 59,88 18,08 18,40 3,63 100,00


Banten 65,27 17,06 16,88 0,78 100,00
s:

Bali 41,06 18,02 36,38 4,54 100,00


Nusa Tenggara Barat 64,45 18,48 15,05 2,03 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 57,86 17,05 20,51 4,57 100,00


ht

Kalimantan Barat 60,30 20,28 16,88 2,54 100,00


Kalimantan Tengah 59,50 16,95 21,13 2,42 100,00
Kalimantan Selatan 66,10 14,05 16,34 3,51 100,00
Kalimantan Timur 63,04 18,83 15,79 2,35 100,00
Kalimantan Utara 60,73 17,12 18,68 3,47 100,00
Sulawesi Utara 57,40 22,18 17,05 3,37 100,00
Sulawesi Tengah 67,15 20,29 9,93 2,63 100,00
Sulawesi Selatan 61,12 17,90 15,69 5,29 100,00
Sulawesi Tenggara 65,73 21,72 10,99 1,55 100,00
Gorontalo 57,83 18,83 17,12 6,23 100,00
Sulawesi Barat 56,23 20,57 16,57 6,64 100,00
Maluku 60,79 19,69 15,10 4,43 100,00
Maluku Utara 58,15 13,46 25,00 3,39 100,00
Papua Barat 65,69 19,13 14,49 0,69 100,00
Papua 67,54 19,44 11,12 1,91 100,00

Indonesia 61,88 19,68 15,81 2,63 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

131
Tabel 2.5.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
Keanggotaan rumah Tangga, 2018
Perdesaan
Status Keanggotaan Rumah Tangga
Provinsi Kepala Rumah Istri/ Mertua/ Lainnya Total
Tangga (KRT) Suami Orang Tua
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 73,15 15,56 9,74 1,55 100,00
Sumatera Utara 66,05 21,38 11,44 1,12 100,00
Sumatera Barat 59,22 19,28 18,46 3,03 100,00
Riau 64,80 19,27 14,23 1,70 100,00
Jambi 63,72 20,32 14,30 1,66 100,00
Sumatera Selatan 59,60 20,90 18,43 1,07 100,00

id
Bengkulu 59,33 20,13 18,65 1,89 100,00

.
go
Lampung 60,89 20,02 17,92 1,17 100,00
Kep. Bangka Belitung 60,98 22,93 s. 14,50 1,60 100,00
Kepulauan Riau 66,20 20,59 11,90 1,30 100,00
p
DKI Jakarta - - - - -
.b

Jawa Barat 65,85 21,64 11,25 1,26 100,00


w

Jawa Tengah 58,54 20,87 18,81 1,78 100,00


w

DI Yogyakarta 54,53 24,83 18,77 1,87 100,00


Jawa Timur 58,55 18,85 19,26 3,35 100,00
//w

Banten 68,36 16,25 14,18 1,21 100,00


s:

Bali 44,29 21,17 29,15 5,39 100,00


Nusa Tenggara Barat 59,27 19,43 18,64 2,65 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 58,30 19,94 18,41 3,34 100,00


ht

Kalimantan Barat 57,17 19,92 20,23 2,68 100,00


Kalimantan Tengah 62,55 18,94 16,60 1,90 100,00
Kalimantan Selatan 64,85 15,97 17,13 2,05 100,00
Kalimantan Timur 67,17 16,88 13,55 2,41 100,00
Kalimantan Utara 64,86 21,09 11,67 2,39 100,00
Sulawesi Utara 55,12 23,38 18,78 2,72 100,00
Sulawesi Tengah 59,63 19,06 18,08 3,23 100,00
Sulawesi Selatan 60,21 19,49 16,36 3,94 100,00
Sulawesi Tenggara 63,01 17,58 17,37 2,04 100,00
Gorontalo 57,81 21,62 18,07 2,49 100,00
Sulawesi Barat 60,08 17,45 18,84 3,63 100,00
Maluku 60,16 21,39 14,22 4,23 100,00
Maluku Utara 57,02 22,82 16,65 3,50 100,00
Papua Barat 65,26 15,69 16,60 2,45 100,00
Papua 66,65 20,32 10,80 2,23 100,00

Indonesia 60,66 19,99 17,04 2,31 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

132
Tabel 2.5.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
Keanggotaan rumah Tangga, 2018
Laki-laki
Status Keanggotaan Rumah Tangga
Provinsi Kepala Rumah Istri/ Mertua/ Lainnya Total
Tangga (KRT) Suami Orang Tua
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 93,76 0,50 4,78 0,96 100,00
Sumatera Utara 93,17 0,24 5,42 1,17 100,00
Sumatera Barat 89,61 0,48 7,90 2,01 100,00
Riau 91,34 0,23 7,35 1,08 100,00
Jambi 92,95 0,00 5,54 1,51 100,00

id
Sumatera Selatan 91,49 0,18 7,36 0,97 100,00
Bengkulu 90,97 0,60 7,52 0,92 100,00

.
go
Lampung 90,02 0,33 9,11 0,54 100,00
Kep. Bangka Belitung 92,69 0,00 s. 5,94 1,37 100,00
Kepulauan Riau 88,29 0,71 9,67 1,34 100,00
p
DKI Jakarta 94,26 0,35 4,45 0,94 100,00
.b

Jawa Barat 93,45 0,38 5,23 0,94 100,00


w

Jawa Tengah 90,21 0,49 8,14 1,16 100,00


w

DI Yogyakarta 89,00 0,76 8,82 1,41 100,00


//w

Jawa Timur 89,02 1,04 8,23 1,71 100,00


Banten 94,54 0,13 5,05 0,29 100,00
s:

Bali 72,70 0,20 24,22 2,88 100,00


Nusa Tenggara Barat 88,81 0,76 8,09 2,34 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 88,65 0,12 9,38 1,85 100,00


ht

Kalimantan Barat 88,56 0,86 8,95 1,63 100,00


Kalimantan Tengah 88,79 1,05 8,56 1,59 100,00
Kalimantan Selatan 91,41 0,71 6,36 1,53 100,00
Kalimantan Timur 90,22 0,28 7,95 1,55 100,00
Kalimantan Utara 90,52 0,00 8,30 1,18 100,00
Sulawesi Utara 86,38 0,27 11,36 1,99 100,00
Sulawesi Tengah 91,01 0,00 6,76 2,23 100,00
Sulawesi Selatan 89,73 0,57 7,50 2,20 100,00
Sulawesi Tenggara 92,24 0,00 6,24 1,53 100,00
Gorontalo 88,65 0,55 9,14 1,66 100,00
Sulawesi Barat 84,83 0,70 12,00 2,47 100,00
Maluku 90,86 0,20 5,89 3,04 100,00
Maluku Utara 86,30 0,33 10,71 2,65 100,00
Papua Barat 90,26 0,00 8,07 1,67 100,00
Papua 93,90 0,00 4,04 2,06 100,00

Indonesia 90,61 0,52 7,51 1,36 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

133
Tabel 2.5.4 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
Keanggotaan rumah Tangga, 2018
Perempuan
Status Keanggotaan Rumah Tangga
Provinsi Kepala Rumah Istri/ Mertua/ Lainnya Total
Tangga (KRT) Suami Orang Tua
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 53,44 28,42 16,00 2,14 100,00
Sumatera Utara 43,28 38,67 15,91 2,14 100,00
Sumatera Barat 31,94 36,49 28,85 2,71 100,00
Riau 35,96 38,54 22,87 2,64 100,00
Jambi 33,38 40,09 24,88 1,64 100,00

id
Sumatera Selatan 31,49 40,97 25,87 1,67 100,00
Bengkulu 29,96 38,98 28,07 2,99 100,00

.
go
Lampung 30,20 40,05 27,92 1,83 100,00
Kep. Bangka Belitung 31,97 45,74 s. 20,40 1,89 100,00
Kepulauan Riau 32,78 35,35 27,52 4,34 100,00
p
DKI Jakarta 42,53 40,40 13,16 3,91 100,00
.b

Jawa Barat 36,85 39,97 20,43 2,75 100,00


w

Jawa Tengah 32,71 38,79 25,73 2,78 100,00


w

DI Yogyakarta 32,30 42,23 21,10 4,37 100,00


//w

Jawa Timur 33,40 33,56 28,02 5,02 100,00


Banten 38,44 33,27 26,72 1,57 100,00
s:

Bali 15,66 36,21 41,47 6,66 100,00


Nusa Tenggara Barat 37,80 34,97 24,83 2,39 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 31,15 36,48 27,23 5,14 100,00


ht

Kalimantan Barat 28,25 39,05 29,07 3,62 100,00


Kalimantan Tengah 31,83 36,74 28,80 2,64 100,00
Kalimantan Selatan 41,83 28,19 26,23 3,76 100,00
Kalimantan Timur 34,57 38,92 23,19 3,32 100,00
Kalimantan Utara 28,85 41,70 24,28 5,16 100,00
Sulawesi Utara 28,46 43,54 24,01 3,99 100,00
Sulawesi Tengah 32,37 38,57 25,14 3,92 100,00
Sulawesi Selatan 37,77 33,22 22,83 6,18 100,00
Sulawesi Tenggara 37,90 36,58 23,34 2,18 100,00
Gorontalo 30,94 37,99 25,17 5,89 100,00
Sulawesi Barat 36,34 33,76 23,81 6,09 100,00
Maluku 32,30 39,63 22,60 5,48 100,00
Maluku Utara 27,89 40,70 27,10 4,30 100,00
Papua Barat 36,40 36,98 24,77 1,85 100,00
Papua 31,01 46,68 20,15 2,15 100,00

Indonesia 34,69 37,35 24,48 3,49 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

134
Tabel 2.5.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
Keanggotaan rumah Tangga, 2018
Perkotaan+Perdesaan+Laki-Laki+Perempuan
Status Keanggotaan Rumah Tangga
Provinsi Kepala Rumah Istri/ Mertua/ Lainnya Total
Tangga (KRT) Suami Orang Tua
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 72,20 15,43 10,78 1,59 100,00
Sumatera Utara 66,15 21,05 11,10 1,69 100,00
Sumatera Barat 58,23 20,07 19,30 2,39 100,00
Riau 64,09 19,08 14,98 1,84 100,00
Jambi 63,39 19,90 15,14 1,57 100,00

id
Sumatera Selatan 60,75 21,08 16,84 1,33 100,00
Bengkulu 60,75 19,61 17,69 1,95 100,00

.
go
Lampung 60,48 19,95 18,40 1,18 100,00
Kep. Bangka Belitung 62,11 23,03s. 13,22 1,63 100,00
Kepulauan Riau 60,10 18,30 18,73 2,86 100,00
p
DKI Jakarta 67,43 21,12 8,97 2,48 100,00
.b

Jawa Barat 64,38 20,71 13,04 1,87 100,00


w

Jawa Tengah 59,61 20,87 17,50 2,02 100,00


w

DI Yogyakarta 58,04 23,41 15,53 3,03 100,00


//w

Jawa Timur 59,20 18,48 18,84 3,49 100,00


Banten 66,36 16,78 15,93 0,93 100,00
s:

Bali 42,40 19,33 33,38 4,89 100,00


Nusa Tenggara Barat 61,62 19,00 17,01 2,37 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 58,21 19,37 18,83 3,59 100,00


ht

Kalimantan Barat 58,27 20,04 19,06 2,63 100,00


Kalimantan Tengah 61,42 18,20 18,28 2,10 100,00
Kalimantan Selatan 65,40 15,12 16,78 2,70 100,00
Kalimantan Timur 64,50 18,14 15,00 2,37 100,00
Kalimantan Utara 62,58 18,89 15,54 2,98 100,00
Sulawesi Utara 56,21 22,81 17,95 3,03 100,00
Sulawesi Tengah 61,55 19,37 16,00 3,08 100,00
Sulawesi Selatan 60,55 18,91 16,11 4,43 100,00
Sulawesi Tenggara 63,97 19,03 15,13 1,87 100,00
Gorontalo 57,82 20,55 17,71 3,92 100,00
Sulawesi Barat 59,10 18,24 18,26 4,39 100,00
Maluku 60,42 20,70 14,57 4,31 100,00
Maluku Utara 57,32 20,37 18,84 3,47 100,00
Papua Barat 65,43 17,05 15,77 1,75 100,00
Papua 67,01 19,96 10,93 2,10 100,00

Indonesia 34,69 37,35 24,48 3,49 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

135
Tabel 2.6.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
Perkawinan, 2018
Perkotaan
Status Perkawinan
Provinsi
Belum Kawin Kawin Cerai Hidup Cerai Mati Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 1,01 54,62 1,41 42,96 100,00
Sumatera Utara 1,78 59,52 2,36 36,34 100,00
Sumatera Barat 1,05 63,67 3,20 32,08 100,00
Riau 0,44 60,66 2,52 36,38 100,00
Jambi 1,14 61,39 3,72 33,76 100,00
Sumatera Selatan 1,42 62,37 1,05 35,15 100,00

id
Bengkulu 1,39 60,83 2,10 35,68 100,00

.
go
Lampung 0,41 63,67 0,89 35,03 100,00
Kep. Bangka Belitung 2,93 63,07 1,44 32,56 100,00
Kepulauan Riau 1,23 64,01
p s. 2,85 31,90 100,00
DKI Jakarta 1,48 60,94 2,65 34,93 100,00
.b

Jawa Barat 0,61 62,06 2,51 34,81 100,00


Jawa Tengah 0,86 60,84 2,35 35,95 100,00
w

DI Yogyakarta 2,54 59,73 2,18 35,55 100,00


w

Jawa Timur 1,14 57,19 2,34 39,33 100,00


//w

Banten 0,27 59,95 2,54 37,23 100,00


Bali 2,93 64,57 1,47 31,03 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 1,85 57,26 6,65 34,24 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 3,31 58,28 1,69 36,71 100,00


ht

Kalimantan Barat 1,05 63,53 1,32 34,10 100,00


Kalimantan Tengah 1,92 60,55 3,71 33,82 100,00
Kalimantan Selatan 2,25 54,06 1,91 41,77 100,00
Kalimantan Timur 2,82 62,49 2,61 32,08 100,00
Kalimantan Utara 1,16 60,45 3,36 35,03 100,00
Sulawesi Utara 2,68 61,82 2,34 33,15 100,00
Sulawesi Tengah 1,21 59,94 3,83 35,02 100,00
Sulawesi Selatan 5,32 54,00 3,03 37,65 100,00
Sulawesi Tenggara 0,99 64,43 1,55 33,03 100,00
Gorontalo 3,54 54,47 1,44 40,55 100,00
Sulawesi Barat 3,56 57,38 2,41 36,65 100,00
Maluku 5,95 57,48 1,45 35,12 100,00
Maluku Utara 1,17 53,31 0,47 45,05 100,00
Papua Barat 1,05 65,42 2,72 30,81 100,00
Papua 2,27 70,92 1,99 24,82 100,00

Indonesia 1,26 60,25 2,42 36,07 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

136
Tabel 2.6.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
Perkawinan, 2018
Perdesaan
Status Perkawinan
Provinsi
Belum Kawin Kawin Cerai Hidup Cerai Mati Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 0,64 55,35 2,15 41,85 100,00
Sumatera Utara 0,57 58,84 1,75 38,83 100,00
Sumatera Barat 0,63 59,90 4,30 35,17 100,00
Riau 0,66 63,91 1,79 33,64 100,00
Jambi 0,51 63,64 1,51 34,34 100,00
Sumatera Selatan 0,62 63,75 1,65 33,97 100,00

id
Bengkulu 0,23 64,29 2,16 33,32 100,00

.
go
Lampung 0,25 65,19 2,11 32,45 100,00
Kep. Bangka Belitung 1,62 63,93 2,12 32,32 100,00
Kepulauan Riau 0,44 61,13
p s. 4,03 34,40 100,00
DKI Jakarta - - - - -
.b

Jawa Barat 0,22 65,05 2,40 32,32 100,00


Jawa Tengah 0,37 62,96 1,03 35,64 100,00
w

DI Yogyakarta 0,92 64,03 2,10 32,96 100,00


w

Jawa Timur 0,56 59,32 2,37 37,74 100,00


//w

Banten 0,34 58,41 2,69 38,55 100,00


Bali 3,79 65,46 1,59 29,16 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 1,26 59,53 4,95 34,25 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 2,77 60,65 1,42 35,16 100,00


ht

Kalimantan Barat 0,88 63,20 1,54 34,39 100,00


Kalimantan Tengah 0,68 65,86 1,70 31,75 100,00
Kalimantan Selatan 1,53 54,82 3,04 40,61 100,00
Kalimantan Timur 1,61 60,54 3,49 34,36 100,00
Kalimantan Utara 0,27 68,07 3,11 28,55 100,00
Sulawesi Utara 1,50 64,52 1,47 32,51 100,00
Sulawesi Tengah 2,10 60,56 2,99 34,35 100,00
Sulawesi Selatan 3,12 56,60 2,84 37,44 100,00
Sulawesi Tenggara 0,99 58,06 5,24 35,71 100,00
Gorontalo 2,10 63,77 2,78 31,35 100,00
Sulawesi Barat 2,58 55,33 4,55 37,53 100,00
Maluku 2,47 60,17 1,72 35,65 100,00
Maluku Utara 1,34 65,25 2,40 31,01 100,00
Papua Barat 1,92 61,75 2,34 33,99 100,00
Papua 0,51 67,82 1,27 30,40 100,00

Indonesia 0,82 61,53 2,13 35,51 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

137
Tabel 2.6.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
Perkawinan, 2018
Laki-laki
Status Perkawinan
Provinsi
Belum Kawin Kawin Cerai Hidup Cerai Mati Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 0,89 83,69 1,35 14,07 100,00
Sumatera Utara 0,92 80,20 1,44 17,44 100,00
Sumatera Barat 1,07 86,20 2,75 9,98 100,00
Riau 0,41 82,95 1,13 15,50 100,00
Jambi 0,88 83,53 2,02 13,57 100,00
Sumatera Selatan 0,62 83,25 1,08 15,05 100,00

id
Bengkulu 0,33 83,76 1,44 14,46 100,00

.
go
Lampung 0,17 84,66 1,06 14,11 100,00
Kep. Bangka Belitung 2,83 79,64 1,21 16,31 100,00
Kepulauan Riau 1,42 85,44
p s. 1,63 11,52 100,00
DKI Jakarta 1,32 80,07 1,38 17,23 100,00
.b

Jawa Barat 0,56 84,56 1,51 13,37 100,00


Jawa Tengah 0,60 83,99 1,05 14,35 100,00
w

DI Yogyakarta 1,04 79,85 1,72 17,38 100,00


w

Jawa Timur 0,81 82,07 1,70 15,41 100,00


//w

Banten 0,40 82,93 1,07 15,60 100,00


Bali 2,30 81,29 1,33 15,08 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 1,44 81,55 2,48 14,53 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 1,71 80,11 0,65 17,53 100,00


ht

Kalimantan Barat 0,76 82,21 0,92 16,10 100,00


Kalimantan Tengah 1,13 82,98 1,52 14,37 100,00
Kalimantan Selatan 2,07 80,46 1,89 15,58 100,00
Kalimantan Timur 2,34 78,26 3,14 16,25 100,00
Kalimantan Utara 1,39 78,96 3,40 16,25 100,00
Sulawesi Utara 1,49 78,33 1,98 18,20 100,00
Sulawesi Tengah 1,57 79,01 2,13 17,30 100,00
Sulawesi Selatan 1,44 79,57 2,22 16,78 100,00
Sulawesi Tenggara 0,51 82,48 3,51 13,50 100,00
Gorontalo 0,72 80,51 2,36 16,41 100,00
Sulawesi Barat 1,23 79,15 2,35 17,27 100,00
Maluku 2,41 76,07 1,28 20,25 100,00
Maluku Utara 0,87 78,96 2,35 17,82 100,00
Papua Barat 1,85 78,76 1,02 18,37 100,00
Papua 1,05 83,38 0,85 14,73 100,00

Indonesia 0,86 82,65 1,51 14,99 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

138
Tabel 2.6.4 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
Perkawinan, 2018
Perempuan
Status Perkawinan
Provinsi
Belum Kawin Kawin Cerai Hidup Cerai Mati Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 0,62 30,30 2,44 66,63 100,00
Sumatera Utara 1,44 41,40 2,60 54,56 100,00
Sumatera Barat 0,57 40,69 4,78 53,96 100,00
Riau 0,74 41,68 3,04 54,54 100,00
Jambi 0,54 42,00 2,42 55,04 100,00
Sumatera Selatan 1,19 44,21 1,78 52,82 100,00

id
Bengkulu 0,78 42,50 2,86 53,86 100,00

.
go
Lampung 0,42 44,41 2,52 52,66 100,00
Kep. Bangka Belitung 1,87 47,49 2,27 48,37 100,00
Kepulauan Riau 0,69 41,93
p s. 4,58 52,80 100,00
DKI Jakarta 1,64 43,18 3,82 51,36 100,00
.b

Jawa Barat 0,42 42,58 3,40 53,60 100,00


Jawa Tengah 0,61 42,52 2,23 54,64 100,00
w

DI Yogyakarta 2,74 45,79 2,50 48,97 100,00


w

Jawa Timur 0,87 37,70 2,93 58,50 100,00


//w

Banten 0,19 36,11 4,11 59,59 100,00


Bali 4,16 50,50 1,69 43,65 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 1,60 38,32 8,57 51,51 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 3,91 42,45 2,22 51,42 100,00


ht

Kalimantan Barat 1,11 44,58 2,00 52,30 100,00


Kalimantan Tengah 1,15 43,26 3,45 52,14 100,00
Kalimantan Selatan 1,65 30,94 3,13 64,28 100,00
Kalimantan Timur 2,45 42,65 2,67 52,23 100,00
Kalimantan Utara 0,00 45,63 3,07 51,30 100,00
Sulawesi Utara 2,61 49,33 1,80 46,26 100,00
Sulawesi Tengah 2,18 41,97 4,28 51,58 100,00
Sulawesi Selatan 5,87 36,97 3,45 53,70 100,00
Sulawesi Tenggara 1,44 39,85 4,33 54,38 100,00
Gorontalo 4,33 42,52 2,18 50,96 100,00
Sulawesi Barat 4,25 35,23 5,48 55,04 100,00
Maluku 5,22 43,40 1,92 49,46 100,00
Maluku Utara 1,72 45,02 1,43 51,83 100,00
Papua Barat 1,25 45,01 4,21 49,54 100,00
Papua 1,44 49,91 2,51 46,14 100,00

Indonesia 1,22 41,11 2,99 54,68 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

139
Tabel 2.6.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
Perkawinan, 2018
Perkotaan+Perdesaan+Laki-Laki+Perempuan
Status Perkawinan
Provinsi
Belum Kawin Kawin Cerai Hidup Cerai Mati Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 0,75 55,14 1,94 42,18 100,00
Sumatera Utara 1,20 59,19 2,07 37,54 100,00
Sumatera Barat 0,80 61,44 3,85 33,91 100,00
Riau 0,57 62,64 2,07 34,71 100,00
Jambi 0,71 62,92 2,22 34,15 100,00
Sumatera Selatan 0,91 63,25 1,43 34,40 100,00

id
Bengkulu 0,55 63,33 2,14 33,98 100,00

.
go
Lampung 0,29 64,78 1,78 33,15 100,00
Kep. Bangka Belitung 2,35 63,45 1,75 32,45 100,00
Kepulauan Riau 1,05 63,34
p s. 3,13 32,48 100,00
DKI Jakarta 1,48 60,94 2,65 34,93 100,00
.b

Jawa Barat 0,49 63,00 2,48 34,03 100,00


Jawa Tengah 0,61 61,92 1,68 35,79 100,00
w

DI Yogyakarta 1,97 61,25 2,15 34,63 100,00


w

Jawa Timur 0,84 58,28 2,36 38,52 100,00


//w

Banten 0,30 59,41 2,60 37,70 100,00


Bali 3,28 64,94 1,52 30,26 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 1,53 58,50 5,72 34,25 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 2,88 60,18 1,48 35,47 100,00


ht

Kalimantan Barat 0,94 63,31 1,46 34,29 100,00


Kalimantan Tengah 1,14 63,89 2,45 32,52 100,00
Kalimantan Selatan 1,85 54,49 2,54 41,13 100,00
Kalimantan Timur 2,39 61,80 2,92 32,88 100,00
Kalimantan Utara 0,76 63,86 3,25 32,13 100,00
Sulawesi Utara 2,07 63,23 1,89 32,82 100,00
Sulawesi Tengah 1,87 60,40 3,21 34,52 100,00
Sulawesi Selatan 3,93 55,64 2,91 37,52 100,00
Sulawesi Tenggara 0,99 60,30 3,94 34,77 100,00
Gorontalo 2,65 60,21 2,27 34,87 100,00
Sulawesi Barat 2,83 55,85 4,01 37,31 100,00
Maluku 3,87 59,08 1,61 35,43 100,00
Maluku Utara 1,29 62,12 1,90 34,69 100,00
Papua Barat 1,57 63,20 2,49 32,73 100,00
Papua 1,22 69,06 1,56 28,16 100,00

Indonesia 1,05 60,87 2,28 35,80 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

140
Tabel 2.7.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status Tinggal
Bersama, 2018
Perkotaan
Status Tinggal Bersama
Provinsi Tinggal Bersama Bersama Tiga Lainnya Total
Sendiri Pasangan Keluarga Generasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 9,44 11,94 33,12 44,95 0,55 100,00
Sumatera Utara 8,22 15,61 34,84 40,62 0,71 100,00
Sumatera Barat 5,25 19,58 27,38 47,48 0,31 100,00
Riau 4,56 13,95 35,74 45,54 0,21 100,00
Jambi 5,50 15,44 35,43 42,97 0,66 100,00
Sumatera Selatan 4,87 16,95 35,53 42,16 0,49 100,00

id
Bengkulu 6,50 15,65 30,39 46,64 0,82 100,00

.
go
Lampung 5,33 14,01 31,10 49,43 0,13 100,00
Kep. Bangka Belitung 9,50 17,67 29,23
s. 42,37 1,23 100,00
Kepulauan Riau 6,42 17,51 36,07 39,83 0,17 100,00
p
DKI Jakarta 8,10 16,57 41,28 33,25 0,79 100,00
.b

Jawa Barat 9,74 20,92 32,29 36,65 0,40 100,00


w

Jawa Tengah 9,85 21,22 25,36 43,06 0,51 100,00


w

DI Yogyakarta 10,40 20,73 27,18 40,94 0,75 100,00


Jawa Timur 9,79 19,70 24,41 45,01 1,09 100,00
//w

Banten 6,26 10,91 37,99 44,58 0,27 100,00


s:

Bali 4,94 15,07 21,40 57,84 0,74 100,00


Nusa Tenggara Barat 10,64 19,10 25,27 43,97 1,01 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 4,28 5,90 29,46 59,13 1,23 100,00


ht

Kalimantan Barat 4,00 10,88 32,93 51,38 0,81 100,00


Kalimantan Tengah 7,07 14,32 33,94 44,38 0,29 100,00
Kalimantan Selatan 10,11 14,18 36,28 38,12 1,31 100,00
Kalimantan Timur 6,51 14,91 32,38 45,88 0,32 100,00
Kalimantan Utara 4,30 17,70 29,76 47,38 0,87 100,00
Sulawesi Utara 6,96 17,93 22,65 51,61 0,84 100,00
Sulawesi Tengah 6,83 15,32 21,42 53,60 2,83 100,00
Sulawesi Selatan 5,09 11,04 29,49 52,17 2,21 100,00
Sulawesi Tenggara 4,94 6,01 31,95 57,07 0,03 100,00
Gorontalo 5,77 14,18 26,99 50,58 2,49 100,00
Sulawesi Barat 2,33 8,12 27,97 61,02 0,56 100,00
Maluku 5,28 7,61 30,16 53,85 3,10 100,00
Maluku Utara 1,42 6,80 25,84 65,87 0,07 100,00
Papua Barat 4,68 6,48 38,05 50,34 0,44 100,00
Papua 2,82 19,21 31,85 46,06 0,06 100,00

Indonesia 8,62 18,36 29,82 42,49 0,70 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

141
Tabel 2.7.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status Tinggal
Bersama, 2018
Perdesaan
Status Tinggal Bersama
Provinsi Tinggal Bersama Bersama Tiga Lainnya Total
Sendiri Pasangan Keluarga Generasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 13,81 13,46 34,90 37,51 0,33 100,00
Sumatera Utara 12,76 21,90 29,29 35,64 0,41 100,00
Sumatera Barat 10,43 18,71 24,68 45,68 0,50 100,00
Riau 7,40 18,02 29,84 44,17 0,56 100,00
Jambi 9,27 21,09 31,40 38,11 0,14 100,00
Sumatera Selatan 7,02 22,63 28,40 41,33 0,61 100,00

id
Bengkulu 9,83 24,99 24,81 40,26 0,11 100,00

.
go
Lampung 7,60 21,36 29,21 41,70 0,12 100,00
Kep. Bangka Belitung 11,22 21,37 36,22 31,02
s. 0,17 100,00
Kepulauan Riau 9,70 24,38 30,35 34,00 1,58 100,00
p
DKI Jakarta - - - - - -
.b

Jawa Barat 15,17 31,12 23,29 30,20 0,21 100,00


w

Jawa Tengah 9,72 23,25 20,92 45,95 0,16 100,00


w

DI Yogyakarta 9,21 28,05 18,41 44,06 0,28 100,00


Jawa Timur 9,97 21,30 19,62 48,64 0,47 100,00
//w

Banten 11,50 16,66 29,99 41,34 0,51 100,00


s:

Bali 6,76 24,81 19,81 47,77 0,86 100,00


Nusa Tenggara Barat 8,36 23,32 20,89 47,17 0,26 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 6,90 10,73 25,03 56,17 1,18 100,00


ht

Kalimantan Barat 6,33 15,81 27,94 49,59 0,33 100,00


Kalimantan Tengah 8,59 23,00 34,67 33,27 0,47 100,00
Kalimantan Selatan 12,67 20,17 29,46 36,96 0,73 100,00
Kalimantan Timur 14,12 17,82 31,43 35,95 0,67 100,00
Kalimantan Utara 4,32 14,86 33,73 47,09 0,00 100,00
Sulawesi Utara 6,06 22,11 21,06 49,69 1,08 100,00
Sulawesi Tengah 6,80 16,40 27,47 48,80 0,53 100,00
Sulawesi Selatan 7,56 13,69 25,68 51,78 1,30 100,00
Sulawesi Tenggara 9,56 15,62 22,19 51,54 1,08 100,00
Gorontalo 7,35 20,23 24,38 47,29 0,74 100,00
Sulawesi Barat 5,33 11,27 30,60 51,85 0,95 100,00
Maluku 5,20 11,42 26,00 56,01 1,37 100,00
Maluku Utara 4,37 9,79 26,22 58,87 0,76 100,00
Papua Barat 6,17 12,70 31,93 48,48 0,73 100,00
Papua 7,50 19,69 42,90 29,76 0,15 100,00

Indonesia 9,98 21,61 24,06 43,90 0,44 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

142
Tabel 2.7.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status Tinggal
Bersama, 2018
Laki-laki
Status Tinggal Bersama
Provinsi Tinggal Bersama Bersama Tiga Lainnya Total
Sendiri Pasangan Keluarga Generasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 4,23 16,97 44,85 33,64 0,31 100,00
Sumatera Utara 5,11 23,17 38,78 32,76 0,17 100,00
Sumatera Barat 4,22 24,81 30,84 39,92 0,20 100,00
Riau 2,67 19,90 38,92 38,03 0,47 100,00
Jambi 3,89 24,28 40,07 31,49 0,27 100,00
Sumatera Selatan 2,48 25,79 36,89 34,61 0,24 100,00

id
Bengkulu 4,81 27,37 32,13 35,30 0,39 100,00

.
go
Lampung 3,24 23,66 34,83 38,13 0,13 100,00
Kep. Bangka Belitung 7,79 22,75 34,38
s. 34,44 0,64 100,00
Kepulauan Riau 7,12 25,08 38,38 29,21 0,21 100,00
p
DKI Jakarta 5,15 19,27 46,61 28,39 0,58 100,00
.b

Jawa Barat 5,34 29,78 35,44 29,25 0,19 100,00


w

Jawa Tengah 4,03 27,85 27,64 40,29 0,19 100,00


w

DI Yogyakarta 6,23 28,87 26,80 38,10 0,00 100,00


Jawa Timur 4,56 27,25 25,94 41,48 0,77 100,00
//w

Banten 5,05 16,95 42,68 34,89 0,43 100,00


s:

Bali 3,19 22,98 24,19 48,83 0,81 100,00


Nusa Tenggara Barat 3,90 28,44 29,28 38,08 0,31 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 3,32 12,17 32,73 51,03 0,75 100,00


ht

Kalimantan Barat 3,48 17,49 34,42 44,44 0,17 100,00


Kalimantan Tengah 5,81 23,50 39,66 30,93 0,11 100,00
Kalimantan Selatan 5,53 24,19 38,87 30,45 0,96 100,00
Kalimantan Timur 6,46 19,01 35,94 38,40 0,19 100,00
Kalimantan Utara 3,22 19,28 33,25 43,37 0,88 100,00
Sulawesi Utara 4,09 23,97 25,05 46,28 0,61 100,00
Sulawesi Tengah 4,45 19,61 31,89 43,77 0,29 100,00
Sulawesi Selatan 2,65 17,95 32,13 46,63 0,64 100,00
Sulawesi Tenggara 2,73 16,43 32,63 47,78 0,43 100,00
Gorontalo 3,94 21,93 28,57 45,18 0,38 100,00
Sulawesi Barat 2,36 14,40 36,24 47,00 0,00 100,00
Maluku 4,22 12,42 34,39 47,79 1,18 100,00
Maluku Utara 2,14 10,61 29,85 57,03 0,37 100,00
Papua Barat 5,14 12,51 41,80 40,28 0,27 100,00
Papua 5,69 22,37 43,03 28,77 0,14 100,00

Indonesia 4,45 25,19 32,33 37,64 0,39 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

143
Tabel 2.7.4 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status Tinggal
Bersama, 2018
Perempuan
Status Tinggal Bersama
Provinsi Tinggal Bersama Bersama Tiga Lainnya Total
Sendiri Pasangan Keluarga Generasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 19,77 9,58 25,28 44,90 0,47 100,00
Sumatera Utara 14,90 14,82 26,54 42,83 0,89 100,00
Sumatera Barat 11,73 14,25 21,55 51,86 0,61 100,00
Riau 10,04 12,85 25,14 51,59 0,38 100,00
Jambi 12,31 14,21 25,18 47,95 0,34 100,00
Sumatera Selatan 9,82 15,60 25,38 48,32 0,88 100,00

id
Bengkulu 13,07 17,32 20,49 48,91 0,22 100,00

.
go
Lampung 10,83 14,98 24,49 49,58 0,12 100,00
Kep. Bangka Belitung 12,71 15,93 30,33s. 40,16 0,88 100,00
Kepulauan Riau 7,24 13,31 31,21 47,46 0,77 100,00
p
DKI Jakarta 10,83 14,07 36,34 37,77 1,00 100,00
.b

Jawa Barat 17,23 18,79 23,79 39,71 0,49 100,00


w

Jawa Tengah 14,84 17,34 19,10 48,27 0,46 100,00


w

DI Yogyakarta 13,09 18,71 21,82 45,31 1,07 100,00


Jawa Timur 14,49 14,70 18,50 51,53 0,77 100,00
//w

Banten 11,11 8,95 27,75 51,91 0,27 100,00


s:

Bali 7,91 15,70 17,69 57,93 0,77 100,00


Nusa Tenggara Barat 14,21 15,25 17,28 52,41 0,86 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 9,09 7,62 19,86 61,85 1,58 100,00


ht

Kalimantan Barat 7,52 10,70 25,01 55,94 0,83 100,00


Kalimantan Tengah 10,43 15,76 28,72 44,36 0,73 100,00
Kalimantan Selatan 16,98 11,46 26,69 43,85 1,02 100,00
Kalimantan Timur 12,38 12,36 27,52 47,00 0,74 100,00
Kalimantan Utara 5,62 12,98 29,47 51,93 0,00 100,00
Sulawesi Utara 8,71 16,55 18,86 54,60 1,29 100,00
Sulawesi Tengah 9,14 12,68 20,02 56,23 1,94 100,00
Sulawesi Selatan 9,77 8,63 23,14 56,05 2,41 100,00
Sulawesi Tenggara 12,74 8,38 19,16 58,74 0,98 100,00
Gorontalo 9,19 14,42 22,60 51,48 2,31 100,00
Sulawesi Barat 6,52 6,99 24,35 60,53 1,61 100,00
Maluku 6,16 7,54 21,48 61,92 2,89 100,00
Maluku Utara 5,06 7,37 22,34 64,44 0,78 100,00
Papua Barat 6,10 7,59 25,63 59,65 1,03 100,00
Papua 5,54 15,65 32,35 46,38 0,08 100,00

Indonesia 13,66 15,17 22,23 48,20 0,74 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

144
Tabel 2.7.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status Tinggal
Bersama, 2018
Perkotaan+Perdesaan, Laki-Laki+Perempuan
Status Tinggal Bersama
Provinsi Tinggal Bersama Bersama Tiga Lainnya Total
Sendiri Pasangan Keluarga Generasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 12,54 13,02 34,38 39,66 0,39 100,00
Sumatera Utara 10,42 18,65 32,16 38,21 0,56 100,00
Sumatera Barat 8,31 19,07 25,79 46,42 0,42 100,00
Riau 6,30 16,43 32,14 44,70 0,43 100,00
Jambi 8,07 19,29 32,68 39,66 0,30 100,00

id
Sumatera Selatan 6,24 20,57 30,99 41,63 0,57 100,00
Bengkulu 8,90 22,39 26,37 42,04 0,30 100,00

.
go
Lampung 6,99 19,37 29,72 43,79 0,13 100,00
Kep. Bangka Belitung 10,27 19,32 32,34
s. 37,32 0,76 100,00
Kepulauan Riau 7,18 19,10 34,74 38,48 0,50 100,00
p
DKI Jakarta 8,10 16,57 41,28 33,25 0,79 100,00
.b

Jawa Barat 11,45 24,13 29,46 34,62 0,34 100,00


w

Jawa Tengah 9,78 22,26 23,10 44,53 0,33 100,00


w

DI Yogyakarta 9,98 23,32 24,08 42,04 0,58 100,00


//w

Jawa Timur 9,88 20,52 21,95 46,87 0,77 100,00


Banten 8,10 12,93 35,18 43,44 0,35 100,00
s:

Bali 5,70 19,11 20,74 53,67 0,79 100,00


Nusa Tenggara Barat 9,39 21,41 22,88 45,72 0,60 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 6,37 9,76 25,92 56,76 1,19 100,00


ht

Kalimantan Barat 5,51 14,08 29,69 50,22 0,50 100,00


Kalimantan Tengah 8,03 19,78 34,40 37,39 0,41 100,00
Kalimantan Selatan 11,54 17,52 32,48 37,48 0,99 100,00
Kalimantan Timur 9,20 15,94 32,05 42,37 0,44 100,00
Kalimantan Utara 4,31 16,43 31,54 47,25 0,48 100,00
Sulawesi Utara 6,49 20,11 21,83 50,61 0,96 100,00
Sulawesi Tengah 6,81 16,13 25,92 50,03 1,11 100,00
Sulawesi Selatan 6,65 12,72 27,08 51,92 1,63 100,00
Sulawesi Tenggara 7,94 12,25 25,62 53,48 0,71 100,00
Gorontalo 6,75 17,92 25,38 48,55 1,41 100,00
Sulawesi Barat 4,57 10,47 29,93 54,18 0,85 100,00
Maluku 5,23 9,89 27,68 55,14 2,07 100,00
Maluku Utara 3,59 9,00 26,12 60,71 0,58 100,00
Papua Barat 5,58 10,24 34,35 49,21 0,62 100,00
Papua 5,63 19,50 38,47 36,30 0,11 100,00

Indonesia 9,28 19,93 27,03 43,18 0,58 100,00

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

145
Tabel 3.1.1 Angka Melek Huruf Penduduk Lanjut Usia Menurut Provinsi dan
Jenis Kelamin, 2018
Perkotaan

Provinsi Laki-Laki Perempuan Total

(1) (2) (3) (4)


Aceh 97,36 88,86 92,85
Sumatera Utara 98,46 95,74 97,00
Sumatera Barat 98,11 95,77 96,84
Riau 98,74 90,32 94,57
Jambi 97,07 85,42 91,21
Sumatera Selatan 98,52 95,21 96,78
Bengkulu 93,15 88,92 91,01

id
Lampung 96,28 83,08 89,55

.
Kep. Bangka Belitung 95,92 87,10 91,41

go
Kepulauan Riau 96,84 87,03 91,91
DKI Jakarta 99,32
p s. 96,08 97,64
Jawa Barat 94,60 85,44 89,90
.b

Jawa Tengah 88,59 69,13 78,18


DI Yogyakarta 91,93 75,51 83,00
w

Jawa Timur 86,74 70,36 78,01


w

Banten 93,96 78,32 86,15


//w

Bali 88,69 67,12 77,30


Nusa Tenggara Barat 68,58 36,16 51,11
s:

Nusa Tenggara Timur 90,18 79,33 84,39


tp

Kalimantan Barat 88,35 67,74 77,79


ht

Kalimantan Tengah 96,98 90,23 93,72


Kalimantan Selatan 97,75 89,01 93,22
Kalimantan Timur 97,07 89,36 93,44
Kalimantan Utara 87,26 73,24 80,83
Sulawesi Utara 99,70 99,94 99,82
Sulawesi Tengah 97,73 94,62 96,10
Sulawesi Selatan 90,12 78,85 83,79
Sulawesi Tenggara 83,40 67,32 75,08
Gorontalo 95,91 98,31 97,25
Sulawesi Barat 84,43 75,65 79,55
Maluku 99,51 96,05 97,67
Maluku Utara 99,55 90,79 95,02
Papua Barat 98,36 93,01 95,78
Papua 93,90 89,50 91,93

Indonesia 92,14 79,40 85,46

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

146
Tabel 3.1.2 Angka Melek Huruf Penduduk Lanjut Usia Menurut Provinsi dan
Jenis Kelamin, 2018
Perdesaan

Provinsi Laki-Laki Perempuan Total

(1) (2) (3) (4)


Aceh 89,82 74,71 81,71
Sumatera Utara 96,22 89,76 92,69
Sumatera Barat 96,94 90,47 93,43
Riau 93,81 83,17 88,60
Jambi 90,12 72,71 81,53
Sumatera Selatan 94,26 82,66 88,40
Bengkulu 91,78 67,56 79,89

id
Lampung 88,61 67,54 78,33

.
Kep. Bangka Belitung 93,01 78,10 85,65

go
Kepulauan Riau 89,41 80,68 84,83
DKI Jakarta -
p s. - -
Jawa Barat 91,51 81,85 86,55
.b

Jawa Tengah 80,01 55,57 67,07


DI Yogyakarta 75,52 57,90 65,82
w

Jawa Timur 71,64 44,84 57,19


w

Banten 90,96 71,01 80,84


//w

Bali 75,33 41,36 57,14


Nusa Tenggara Barat 63,82 31,81 46,90
s:

Nusa Tenggara Timur 75,13 60,50 67,40


tp

Kalimantan Barat 72,86 44,79 58,91


ht

Kalimantan Tengah 93,85 85,07 89,64


Kalimantan Selatan 89,88 75,71 82,38
Kalimantan Timur 90,39 80,16 85,81
Kalimantan Utara 64,22 55,46 60,31
Sulawesi Utara 99,28 99,46 99,38
Sulawesi Tengah 89,55 78,67 84,16
Sulawesi Selatan 68,27 51,29 58,73
Sulawesi Tenggara 80,79 54,02 66,82
Gorontalo 90,42 91,47 90,97
Sulawesi Barat 74,26 57,15 65,33
Maluku 98,78 96,33 97,53
Maluku Utara 91,83 81,15 86,61
Papua Barat 85,32 73,70 80,13
Papua 60,82 48,30 55,65

Indonesia 82,29 62,84 72,10

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

147
Tabel 3.1.3 Angka Melek Huruf Penduduk Lanjut Usia Menurut Provinsi dan
Jenis Kelamin, 2018
Perkotaan+Perdesaan

Provinsi Laki-Laki Perempuan Total

(1) (2) (3) (4)


Aceh 92,02 78,78 84,94
Sumatera Utara 97,39 92,83 94,92
Sumatera Barat 97,42 92,65 94,82
Riau 95,72 85,98 90,93
Jambi 92,30 76,82 84,62
Sumatera Selatan 95,77 87,33 91,44
Bengkulu 92,15 73,64 82,98

id
Lampung 90,61 71,87 81,36

.
Kep. Bangka Belitung 94,60 83,17 88,85

go
Kepulauan Riau 95,17 85,50 90,26
DKI Jakarta 99,32
s. 96,08 97,64
Jawa Barat 93,63 84,31 88,84
p
.b

Jawa Tengah 84,18 62,24 72,51


DI Yogyakarta 86,18 69,24 76,93
w

Jawa Timur 79,04 57,19 67,33


w

Banten 92,92 75,73 84,28


//w

Bali 83,20 56,36 68,94


Nusa Tenggara Barat 65,95 33,80 48,81
s:

Nusa Tenggara Timur 78,12 64,30 70,81


tp

Kalimantan Barat 78,19 53,01 65,54


ht

Kalimantan Tengah 95,00 86,99 91,15


Kalimantan Selatan 93,41 81,54 87,18
Kalimantan Timur 94,64 86,21 90,74
Kalimantan Utara 76,80 65,40 71,64
Sulawesi Utara 99,48 99,70 99,59
Sulawesi Tengah 91,55 82,91 87,21
Sulawesi Selatan 76,30 61,41 67,94
Sulawesi Tenggara 81,72 58,67 69,72
Gorontalo 92,42 94,19 93,37
Sulawesi Barat 76,70 62,07 68,94
Maluku 99,07 96,22 97,59
Maluku Utara 93,78 83,78 88,82
Papua Barat 90,27 81,68 86,31
Papua 73,59 65,66 70,20

Indonesia 87,37 71,39 78,99

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

148
Tabel 3.2.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Pendidikan
Tertinggi yang Ditamatkan, 2018
Perkotaan
Tidak Tidak SD/ SMP/ SM/
Provinsi pernah PT
tamat SD sederajat sederajat sederajat
sekolah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 4,42 22,31 34,51 9,66 20,71 8,37
Sumatera Utara 3,27 20,41 30,59 17,66 20,92 7,15
Sumatera Barat 3,63 32,54 22,35 14,26 18,94 8,29
Riau 4,54 20,56 33,59 12,28 19,75 9,27
Jambi 6,26 27,26 25,62 13,73 21,64 5,48
Sumatera Selatan 3,17 24,95 31,59 16,82 16,37 7,09

id
Bengkulu 4,29 30,84 26,88 9,40 17,44 11,15

.
Lampung 9,34 28,20 31,20 10,62 14,96 5,68

go
Kep. Bangka Belitung 6,48 33,74 33,02 11,08 12,08 3,59
Kepulauan Riau 11,00 26,88 29,38
s. 11,96 17,14 3,63
DKI Jakarta 5,02 10,60 25,21 14,65 28,10 16,42
p
Jawa Barat 12,09 27,65 32,77 8,55 13,35 5,60
.b

Jawa Tengah 16,76 33,14 27,44 9,50 8,06 5,10


w

DI Yogyakarta 15,20 33,54 23,54 9,67 12,24 5,81


w

Jawa Timur 15,39 38,99 31,06 8,39 3,61 2,56


//w

Banten 14,87 26,92 29,80 5,95 15,30 7,17


Bali 20,48 24,88 32,59 5,60 9,38 7,08
s:

Nusa Tenggara Barat 34,34 29,15 17,46 4,34 9,83 4,87


tp

Nusa Tenggara Timur 6,62 30,54 26,63 7,39 17,16 11,66


Kalimantan Barat 22,01 26,71 22,72 7,72 15,83 5,02
ht

Kalimantan Tengah 11,23 19,41 26,11 11,13 19,83 12,29


Kalimantan Selatan 6,36 33,23 26,48 9,00 17,07 7,87
Kalimantan Timur 7,41 24,69 32,26 14,28 14,83 6,53
Kalimantan Utara 13,57 30,94 22,92 15,71 14,19 2,67
Sulawesi Utara 0,84 26,13 24,15 15,17 25,61 8,10
Sulawesi Tengah 3,73 23,87 30,19 11,30 23,09 7,83
Sulawesi Selatan 11,75 26,26 24,01 10,06 15,59 12,32
Sulawesi Tenggara 17,58 22,07 24,68 8,77 18,83 8,07
Gorontalo 2,07 41,12 26,74 10,35 14,46 5,26
Sulawesi Barat 8,20 35,88 21,88 10,45 10,81 12,77
Maluku 2,57 21,28 27,07 17,96 19,18 11,94
Maluku Utara 4,22 24,22 27,70 19,45 17,75 6,66
Papua Barat 4,41 16,94 39,94 10,51 17,58 10,63
Papua 4,00 7,96 30,10 18,53 25,03 14,37

Indonesia 12,50 29,26 29,41 9,96 12,59 6,27

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

149
Tabel 3.2.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Pendidikan
Tertinggi yang Ditamatkan, 2018
Perdesaan
Tidak Tidak SD/ SMP/ SM/
Provinsi pernah PT
tamat SD sederajat sederajat sederajat
sekolah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 10,68 39,45 36,23 7,45 4,44 1,75
Sumatera Utara 8,72 38,61 32,95 11,62 6,74 1,36
Sumatera Barat 7,13 53,97 22,91 8,59 5,75 1,65
Riau 12,85 46,33 32,01 4,25 3,24 1,32
Jambi 18,34 42,67 28,81 5,37 3,09 1,72
Sumatera Selatan 13,01 46,54 28,78 7,83 2,86 ,98

id
Bengkulu 16,27 45,59 29,63 3,94 3,11 1,45

.
Lampung 15,08 51,43 25,36 4,93 2,03 1,17

go
Kep. Bangka Belitung 14,58 53,82 24,48 2,76 3,48 0,87
Kepulauan Riau 27,12 49,20 17,69
s. 2,67 2,90 0,42
DKI Jakarta - - - - - -
p
Jawa Barat 16,04 35,39 42,28 2,83 2,26 1,20
.b

Jawa Tengah 25,48 42,68 25,50 3,29 1,95 1,10


w

DI Yogyakarta 34,86 29,89 26,09 5,52 2,28 1,36


w

Jawa Timur 32,02 38,02 26,69 1,85 0,87 0,54


//w

Banten 18,32 44,37 30,59 3,00 3,41 0,31


Bali 35,64 31,61 25,21 4,59 1,68 1,26
s:

Nusa Tenggara Barat 44,17 35,84 15,55 1,46 1,52 1,45


tp

Nusa Tenggara Timur 23,60 40,81 27,86 3,02 3,12 1,60


Kalimantan Barat 36,59 40,02 17,85 2,85 1,28 1,41
ht

Kalimantan Tengah 12,38 37,77 38,31 6,68 3,41 1,46


Kalimantan Selatan 13,01 51,94 26,56 3,47 3,41 1,61
Kalimantan Timur 23,82 37,39 28,54 6,42 3,62 0,21
Kalimantan Utara 19,28 46,83 21,67 6,36 5,01 0,85
Sulawesi Utara 1,75 44,16 28,98 13,44 8,65 3,03
Sulawesi Tengah 10,40 32,06 40,78 7,98 7,31 1,46
Sulawesi Selatan 30,42 38,24 20,78 4,17 4,20 2,20
Sulawesi Tenggara 23,09 38,51 25,70 4,57 6,03 2,09
Gorontalo 3,96 53,87 30,70 5,47 4,31 1,69
Sulawesi Barat 26,41 36,14 26,54 4,62 3,90 2,40
Maluku 5,07 33,18 44,67 7,75 5,24 4,09
Maluku Utara 8,88 43,63 35,10 5,81 5,64 0,93
Papua Barat 15,20 32,04 35,32 4,80 8,23 4,40
Papua 45,47 15,81 25,95 4,74 5,93 2,09

Indonesia 22,77 40,45 28,73 4,16 2,70 1,19

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

150
Tabel 3.2.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Pendidikan
Tertinggi yang Ditamatkan, 2018
Laki-laki
Tidak Tidak SD/ SMP/ SM/
Provinsi pernah PT
tamat SD sederajat sederajat sederajat
sekolah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 3,98 29,94 37,87 9,70 13,49 5,03
Sumatera Utara 3,30 22,83 31,38 18,43 18,70 5,37
Sumatera Barat 2,77 41,11 24,02 12,72 14,74 4,65
Riau 4,77 32,88 34,51 8,50 12,95 6,39
Jambi 7,37 33,59 31,98 10,80 12,31 3,94
Sumatera Selatan 5,55 32,44 31,42 15,32 11,03 4,25

id
Bengkulu 6,28 36,42 34,14 6,54 10,33 6,28

.
Lampung 6,24 42,59 33,36 7,18 7,53 3,10

go
Kep. Bangka Belitung 6,34 38,69 28,28 10,33 12,31 4,06
Kepulauan Riau 10,12 26,25 28,64
s. 12,57 18,56 3,87
DKI Jakarta 2,10 7,26 22,70 15,99 30,07 21,88
p
Jawa Barat 8,24 25,76 37,01 9,60 13,72 5,67
.b

Jawa Tengah 11,65 37,19 31,96 7,92 7,05 4,22


w

DI Yogyakarta 12,75 31,34 25,94 10,92 13,46 5,60


w

Jawa Timur 14,70 38,72 34,70 5,99 3,89 2,00


//w

Banten 8,86 29,59 33,69 5,98 14,87 7,02


Bali 13,90 26,67 34,88 7,87 9,48 7,20
s:

Nusa Tenggara Barat 23,39 37,48 21,71 3,99 8,55 4,88


tp

Nusa Tenggara Timur 14,37 38,89 27,89 4,99 7,65 6,21


Kalimantan Barat 20,47 37,32 23,47 6,19 8,41 4,14
ht

Kalimantan Tengah 6,46 27,41 34,80 12,31 11,48 7,53


Kalimantan Selatan 5,77 34,34 30,84 7,66 14,43 6,96
Kalimantan Timur 8,32 23,34 33,14 14,31 15,19 5,72
Kalimantan Utara 9,78 34,42 25,18 13,75 13,74 3,12
Sulawesi Utara 1,15 32,67 24,69 15,28 19,30 6,90
Sulawesi Tengah 5,99 26,73 37,11 9,80 16,62 3,75
Sulawesi Selatan 16,83 31,96 23,27 7,74 12,33 7,87
Sulawesi Tenggara 12,30 27,44 27,93 8,05 17,01 7,27
Gorontalo 2,23 49,68 29,48 6,94 8,82 2,86
Sulawesi Barat 14,86 34,65 29,49 6,89 7,21 6,90
Maluku 1,66 25,73 36,41 12,52 14,66 9,02
Maluku Utara 4,43 33,73 33,04 12,69 13,03 3,08
Papua Barat 8,57 22,35 37,25 7,00 14,48 10,36
Papua 28,46 9,93 25,76 9,54 19,14 7,18

Indonesia 10,32 32,33 32,34 9,01 10,81 5,20

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

151
Tabel 3.2.4 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Pendidikan
Tertinggi yang Ditamatkan, 2018
Perempuan
Tidak Tidak SD/ SMP/ SM/
Provinsi pernah PT
tamat SD sederajat sederajat sederajat
sekolah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 13,12 38,44 33,87 6,69 5,38 2,49
Sumatera Utara 8,11 34,60 32,03 11,62 10,15 3,49
Sumatera Barat 8,16 48,62 21,55 9,40 8,15 4,13
Riau 14,61 39,78 30,68 6,23 6,30 2,39
Jambi 21,71 41,98 23,54 5,23 5,65 1,89
Sumatera Selatan 13,13 44,66 28,27 7,08 4,66 2,20

id
Bengkulu 19,71 46,65 23,50 4,36 3,81 1,97

.
Lampung 21,00 47,79 20,36 5,74 3,46 1,66

go
Kep. Bangka Belitung 13,78 46,61 30,15 4,47 4,26 ,73
Kepulauan Riau 19,22 37,69 24,76
s. 7,13 9,26 1,94
DKI Jakarta 7,74 13,71 27,53 13,40 26,27 11,35
p
Jawa Barat 18,16 34,18 34,58 4,05 6,20 2,83
.b

Jawa Tengah 29,62 38,73 21,60 4,93 3,09 2,04


w

DI Yogyakarta 29,97 33,01 23,19 5,95 4,77 3,11


w

Jawa Timur 31,90 38,30 23,73 4,21 ,74 1,11


//w

Banten 23,23 36,48 26,49 3,85 7,42 2,53


Bali 38,12 28,55 24,81 2,80 3,28 2,43
s:

Nusa Tenggara Barat 54,01 28,71 11,79 1,69 2,44 1,36


tp

Nusa Tenggara Timur 25,37 38,63 27,37 2,92 4,40 1,30


Kalimantan Barat 42,37 33,38 15,69 2,94 4,39 1,23
ht

Kalimantan Tengah 17,89 34,79 32,68 4,03 7,35 3,25


Kalimantan Selatan 13,95 52,10 22,61 4,34 4,95 2,05
Kalimantan Timur 18,91 35,97 28,40 8,23 5,85 2,64
Kalimantan Utara 23,78 42,44 18,96 8,83 5,66 ,33
Sulawesi Utara 1,46 38,12 28,47 13,34 14,48 4,14
Sulawesi Tengah 11,38 33,18 39,03 7,87 6,11 2,42
Sulawesi Selatan 28,82 35,30 20,95 5,23 5,30 4,39
Sulawesi Tenggara 29,32 37,61 22,96 4,20 4,55 1,35
Gorontalo 4,12 48,39 28,93 7,69 7,65 3,23
Sulawesi Barat 27,92 37,33 21,70 5,40 4,27 3,37
Maluku 6,27 30,83 38,64 11,27 7,36 5,63
Maluku Utara 10,94 43,41 33,28 6,05 4,55 1,77
Papua Barat 13,71 30,44 37,02 7,12 8,93 2,78
Papua 29,34 16,32 30,10 11,26 6,17 6,80

Indonesia 23,97 36,80 26,12 5,48 5,08 2,56

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

152
Tabel 3.2.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Pendidikan
Tertinggi yang Ditamatkan, 2018
Perkotaan+Perdesaan/Laki-laki+Perempuan
Tidak Tidak SD/ SMP/ SM/
Provinsi pernah PT
tamat SD sederajat sederajat sederajat
sekolah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 8,87 34,48 35,73 8,09 9,15 3,67
Sumatera Utara 5,90 29,20 31,73 14,74 14,07 4,35
Sumatera Barat 5,70 45,19 22,68 10,91 11,15 4,37
Riau 9,61 36,28 32,62 7,39 9,68 4,42
Jambi 14,49 37,76 27,80 8,04 9,00 2,92
Sumatera Selatan 9,44 38,70 29,80 11,10 7,77 3,20

id
Bengkulu 12,93 41,49 28,87 5,46 7,10 4,15

.
Lampung 13,53 45,16 26,94 6,47 5,52 2,39

go
Kep. Bangka Belitung 10,09 42,68 29,22 7,38 8,25 2,38
Kepulauan Riau 14,74 32,06 s. 26,67 9,81 13,84 2,89
DKI Jakarta 5,02 10,60 25,21 14,65 28,10 16,42
p
Jawa Barat 13,33 30,08 35,76 6,75 9,86 4,21
.b

Jawa Tengah 21,21 38,01 26,45 6,33 4,94 3,06


w

DI Yogyakarta 22,15 32,25 24,44 8,21 8,72 4,24


w

Jawa Timur 23,93 38,49 28,82 5,04 2,20 1,52


//w

Banten 16,08 33,05 30,08 4,91 11,12 4,76


Bali 26,76 27,67 29,53 5,18 6,19 4,67
s:

Nusa Tenggara Barat 39,71 32,81 16,42 2,77 5,29 3,00


tp

Nusa Tenggara Timur 20,19 38,75 27,62 3,90 5,93 3,61


Kalimantan Barat 31,47 35,34 19,56 4,56 6,39 2,68
ht

Kalimantan Tengah 11,95 30,96 33,78 8,33 9,50 5,48


Kalimantan Selatan 10,06 43,65 26,52 5,92 9,46 4,38
Kalimantan Timur 13,21 29,18 30,95 11,50 10,87 4,29
Kalimantan Utara 16,12 38,06 22,36 11,52 10,08 1,86
Sulawesi Utara 1,31 35,51 26,66 14,27 16,79 5,46
Sulawesi Tengah 8,70 29,97 38,08 8,83 11,34 3,09
Sulawesi Selatan 23,56 33,84 21,97 6,34 8,38 5,92
Sulawesi Tenggara 21,16 32,73 25,34 6,05 10,53 4,19
Gorontalo 3,24 48,99 29,18 7,34 8,19 3,06
Sulawesi Barat 21,79 36,07 25,36 6,10 5,65 5,03
Maluku 4,06 28,38 37,57 11,87 10,87 7,26
Maluku Utara 7,66 38,53 33,16 9,39 8,82 2,43
Papua Barat 10,94 26,08 37,15 7,05 11,92 6,86
Papua 28,84 12,66 27,62 10,27 13,59 7,02

Indonesia 17,47 34,68 29,08 7,16 7,80 3,81

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

153
Tabel 3.3.1 Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Lanjut Usia Menurut Provinsi
dan Jenis Kelamin, 2018
Perkotaan

Provinsi Laki-Laki Perempuan Total

(1) (2) (3) (4)


Aceh 8,61 6,42 7,45
Sumatera Utara 8,52 6,89 7,65
Sumatera Barat 7,89 6,45 7,10
Riau 8,81 6,34 7,59
Jambi 8,14 5,71 6,92
Sumatera Selatan 8,31 6,20 7,21
Bengkulu 8,34 5,84 7,07

id
Lampung 7,16 5,38 6,26

.
Kep. Bangka Belitung 7,13 4,73 5,90

go
Kepulauan Riau 7,21 4,98 6,09
DKI Jakarta 10,27
s. 8,15 9,17
Jawa Barat 7,14 4,81 5,94
p
.b

Jawa Tengah 5,98 4,04 4,95


DI Yogyakarta 7,05 4,49 5,66
w

Jawa Timur 5,29 3,82 4,50


w

Banten 7,18 4,74 5,96


//w

Bali 6,79 3,86 5,24


Nusa Tenggara Barat 5,48 2,61 3,93
s:

Nusa Tenggara Timur 8,37 5,93 7,07


tp

Kalimantan Barat 6,65 4,16 5,37


ht

Kalimantan Tengah 8,59 6,24 7,45


Kalimantan Selatan 8,06 5,01 6,48
Kalimantan Timur 7,89 5,27 6,66
Kalimantan Utara 6,83 4,21 5,63
Sulawesi Utara 8,63 7,48 8,02
Sulawesi Tengah 8,75 6,55 7,60
Sulawesi Selatan 8,19 5,91 6,91
Sulawesi Tenggara 8,11 4,48 6,23
Gorontalo 6,18 6,55 6,38
Sulawesi Barat 7,47 5,65 6,46
Maluku 9,07 7,30 8,13
Maluku Utara 8,43 6,33 7,35
Papua Barat 8,96 6,44 7,75
Papua 9,90 8,06 9,07

Indonesia 7,00 4,92 5,91

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

154
Tabel 3.3.2 Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Lanjut Usia Menurut Provinsi
dan Jenis Kelamin, 2018
Perdesaan

Provinsi Laki-Laki Perempuan Total

(1) (2) (3) (4)


Aceh 5,33 3,79 4,50
Sumatera Utara 6,05 4,05 4,96
Sumatera Barat 5,07 3,84 4,40
Riau 4,60 3,11 3,87
Jambi 4,73 2,75 3,75
Sumatera Selatan 4,93 2,90 3,90
Bengkulu 4,77 2,46 3,64

id
Lampung 4,30 2,64 3,49

.
Kep. Bangka Belitung 4,16 2,80 3,49

go
Kepulauan Riau 3,60 1,82 2,67
DKI Jakarta -
p s. - -
Jawa Barat 4,69 3,27 3,96
.b

Jawa Tengah 3,99 2,27 3,08


DI Yogyakarta 4,11 2,59 3,27
w

Jawa Timur 3,57 2,04 2,75


w

Banten 4,38 2,45 3,40


//w

Bali 4,15 1,85 2,92


Nusa Tenggara Barat 3,13 1,22 2,12
s:

Nusa Tenggara Timur 4,21 2,91 3,53


tp

Kalimantan Barat 3,31 1,60 2,46


ht

Kalimantan Tengah 5,20 3,40 4,34


Kalimantan Selatan 4,63 2,56 3,53
Kalimantan Timur 4,48 2,30 3,50
Kalimantan Utara 4,31 2,86 3,66
Sulawesi Utara 6,31 5,52 5,90
Sulawesi Tengah 5,65 4,40 5,03
Sulawesi Selatan 3,96 2,57 3,18
Sulawesi Tenggara 5,27 2,52 3,83
Gorontalo 4,69 4,14 4,40
Sulawesi Barat 4,56 2,86 3,68
Maluku 6,13 4,83 5,47
Maluku Utara 5,19 3,57 4,40
Papua Barat 5,58 4,25 4,99
Papua 3,83 2,88 3,44

Indonesia 4,31 2,67 3,45

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

155
Tabel 3.3.3 Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Lanjut Usia Menurut Provinsi
dan Jenis Kelamin, 2018
Perkotaan+Perdesaan

Provinsi Laki-Laki Perempuan Total

(1) (2) (3) (4)


Aceh 6,29 4,55 5,36
Sumatera Utara 7,34 5,51 6,35
Sumatera Barat 6,22 4,91 5,51
Riau 6,23 4,38 5,32
Jambi 5,80 3,70 4,76
Sumatera Selatan 6,13 4,13 5,10
Bengkulu 5,74 3,42 4,59

id
Lampung 5,05 3,40 4,23

.
Kep. Bangka Belitung 5,78 3,88 4,83

go
Kepulauan Riau 6,40 4,22 5,29
DKI Jakarta 10,27
s.
p
8,15 9,17
Jawa Barat 6,37 4,33 5,32
.b

Jawa Tengah 4,96 3,14 3,99


DI Yogyakarta 6,02 3,81 4,81
w

Jawa Timur 4,41 2,90 3,60


w

Banten 6,21 3,93 5,06


//w

Bali 5,70 3,02 4,28


Nusa Tenggara Barat 4,19 1,86 2,94
s:

Nusa Tenggara Timur 5,04 3,52 4,24


tp

Kalimantan Barat 4,46 2,52 3,49


ht

Kalimantan Tengah 6,45 4,46 5,49


Kalimantan Selatan 6,17 3,63 4,84
Kalimantan Timur 6,65 4,25 5,54
Kalimantan Utara 5,69 3,61 4,75
Sulawesi Utara 7,40 6,48 6,92
Sulawesi Tengah 6,41 4,97 5,68
Sulawesi Selatan 5,51 3,79 4,55
Sulawesi Tenggara 6,27 3,20 4,68
Gorontalo 5,23 5,10 5,16
Sulawesi Barat 5,26 3,60 4,38
Maluku 7,28 5,86 6,54
Maluku Utara 6,01 4,33 5,17
Papua Barat 6,87 5,15 6,08
Papua 6,17 5,06 5,70

Indonesia 5,70 3,84 4,72

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

156
Tabel 3.4 Persentase Penduduk Lansia Menurut Akses Teknologi Informasi
dan Komunikasi, 2018

Akses Teknologi Informasi dan Komunikasi


Provinsi
Menggunakan Menggunakan
Menggunakan HP Komputer Internet
(1) (2) (3) (4)
Aceh 45,20 1,59 2,75
Sumatera Utara 66,89 2,56 4,23
Sumatera Barat 63,51 2,28 3,75
Riau 61,23 2,92 3,82
Jambi 45,74 2,03 3,40
Sumatera Selatan 46,64 2,19 3,25

id
Bengkulu 43,13 1,30 2,83

.
Lampung 46,62 1,06 3,09

go
Kep. Bangka Belitung 53,83 2,00 4,41
Kepulauan Riau 64,06 s. 3,77 9,17
DKI Jakarta 64,45 13,08 31,24
p
Jawa Barat 37,14 3,23 7,49
.b

Jawa Tengah 32,29 1,72 4,05


w

DI Yogyakarta 38,26 3,26 8,77


w

Jawa Timur 35,05 1,43 4,29


//w

Banten 33,22 4,82 10,10


Bali 35,64 1,91 3,93
s:

Nusa Tenggara Barat 39,89 1,55 2,14


tp

Nusa Tenggara Timur 43,72 1,96 2,24


Kalimantan Barat 39,77 1,55 4,02
ht

Kalimantan Tengah 52,16 2,26 3,72


Kalimantan Selatan 46,49 2,19 4,32
Kalimantan Timur 64,69 2,71 7,04
Kalimantan Utara 67,02 2,83 5,50
Sulawesi Utara 58,99 3,19 6,15
Sulawesi Tengah 42,51 1,32 1,51
Sulawesi Selatan 55,66 2,28 3,46
Sulawesi Tenggara 60,70 1,38 1,31
Gorontalo 48,54 1,42 2,30
Sulawesi Barat 46,93 1,72 2,21
Maluku 52,60 2,93 4,52
Maluku Utara 45,23 1,25 2,20
Papua Barat 54,09 5,98 6,60
Papua 47,22 5,05 6,87

Indonesia 41,81 2,57 5,73

Sumber: BPS, Susenas Maret 2018

157
Tabel 4.1 Persentase Penduduk Lansia yang Mengalami Keluhan Kesehatan
Selama Sebulan Terakhir Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan Tipe
Daerah, 2018

Jenis Kelamin Tipe Daerah


Provinsi Total
Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 51,44 56,64 44,88 58,03 54,22
Sumatera Utara 46,82 46,74 44,89 48,81 46,78
Sumatera Barat 48,48 52,26 54,47 47,81 50,54
Riau 54,03 53,04 46,88 57,80 53,54
Jambi 47,50 48,37 44,85 49,37 47,93
Sumatera Selatan 49,12 52,38 52,20 49,98 50,79

id
Bengkulu 46,50 50,29 45,29 49,57 48,38

.
Lampung 47,15 51,60 50,31 48,99 49,35

go
Kep. Bangka Belitung 55,56 54,93 52,79 58,30 55,24
Kepulauan Riau 44,76 38,67
s. 37,49 55,46 41,67
DKI Jakarta 47,84 51,47 49,72 0,00 49,72
p
.b

Jawa Barat 52,70 55,15 54,04 53,77 53,96


Jawa Tengah 49,72 52,95 51,50 51,37 51,44
w

DI Yogyakarta 48,58 49,20 50,18 46,62 48,92


w

Jawa Timur 49,55 50,67 50,70 49,62 50,15


//w

Banten 55,93 57,03 52,51 63,81 56,48


Bali 42,35 45,66 38,57 51,93 44,11
s:

Nusa Tenggara Barat 54,08 59,74 59,66 54,98 57,10


tp

Nusa Tenggara Timur 54,47 56,13 46,17 57,65 55,35


ht

Kalimantan Barat 51,77 53,24 48,58 54,64 52,51


Kalimantan Tengah 50,07 54,46 48,56 54,31 52,18
Kalimantan Selatan 52,31 57,73 55,01 55,27 55,15
Kalimantan Timur 49,45 51,11 49,52 51,49 50,22
Kalimantan Utara 50,82 54,61 48,14 57,97 52,54
Sulawesi Utara 48,81 49,17 44,74 52,93 49,00
Sulawesi Tengah 52,43 58,75 53,22 56,42 55,60
Sulawesi Selatan 49,10 48,41 47,80 49,24 48,71
Sulawesi Tenggara 51,03 55,52 49,35 55,54 53,37
Gorontalo 61,99 63,24 60,75 63,84 62,66
Sulawesi Barat 54,36 55,39 47,79 57,33 54,91
Maluku 43,04 40,71 40,94 42,42 41,82
Maluku Utara 38,69 44,37 43,15 40,93 41,51
Papua Barat 44,13 44,15 45,15 43,48 44,14
Papua 39,48 38,89 32,70 43,60 39,23

Indonesia 50,16 52,30 50,84 51,76 51,28

Sumber: BPS - Susenas Kor 2018

158
Tabel 4.2 Angka Kesakitan Penduduk Lansia Menurut Provinsi, Jenis Kelamin,
dan Tipe Daerah, 2018

Jenis Kelamin Tipe Daerah


Provinsi Total
Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 29,36 30,36 21,81 33,19 29,90
Sumatera Utara 25,91 24,05 20,73 29,37 24,90
Sumatera Barat 24,33 25,68 23,12 26,42 25,07
Riau 31,33 28,96 25,45 33,19 30,17
Jambi 25,39 25,76 21,16 27,64 25,57
Sumatera Selatan 21,66 21,62 17,89 23,78 21,64
Bengkulu 24,72 25,24 19,52 27,09 24,98

id
Lampung 26,13 28,00 27,07 27,05 27,05

.
go
Kep. Bangka Belitung 25,27 25,00 20,73 30,63 25,13
Kepulauan Riau 29,44 22,06 s. 20,74 42,08 25,69
DKI Jakarta 18,29 20,63 19,50 0,00 19,50
p
Jawa Barat 28,19 28,16 27,89 28,80 28,17
.b

Jawa Tengah 24,82 24,90 23,26 26,40 24,86


w

DI Yogyakarta 22,90 22,31 21,07 25,34 22,58


w

Jawa Timur 23,43 24,19 22,75 24,86 23,83


Banten 33,58 34,45 30,63 40,27 34,02
//w

Bali 23,79 26,84 21,65 30,73 25,41


s:

Nusa Tenggara Barat 27,50 31,38 29,32 29,77 29,57


Nusa Tenggara Timur 31,32 30,88 19,33 34,03 31,09
tp

Kalimantan Barat 30,10 27,33 28,53 28,80 28,71


ht

Kalimantan Tengah 28,23 30,27 24,30 32,10 29,21


Kalimantan Selatan 24,28 25,04 22,96 26,04 24,68
Kalimantan Timur 28,62 19,99 20,84 31,56 24,63
Kalimantan Utara 26,90 29,21 21,20 36,25 27,94
Sulawesi Utara 30,00 28,20 26,08 31,82 29,07
Sulawesi Tengah 32,82 38,23 31,44 36,94 35,54
Sulawesi Selatan 24,35 23,96 21,37 25,73 24,13
Sulawesi Tenggara 32,93 30,27 24,82 35,19 31,55
Gorontalo 36,91 38,65 28,00 43,93 37,84
Sulawesi Barat 32,13 29,55 21,24 33,99 30,76
Maluku 24,87 24,85 23,50 25,77 24,86
Maluku Utara 26,18 30,60 25,40 29,44 28,38
Papua Barat 26,14 26,67 27,45 25,69 26,38
Papua 24,38 22,99 15,31 29,46 23,79

Indonesia 25,91 26,06 24,12 27,98 25,99

Sumber: BPS - Susenas Kor 2018

159
Tabel 4.3 Persentase Penduduk Lansia yang Mengalami Keluhan Kesehatan
Selama Sebulan Terakhir dan Mengobati Sendiri Menurut Provinsi,
Jenis Kelamin, dan Tipe Daerah, 2018

Jenis Kelamin Tipe Daerah


Provinsi Total
Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 59,81 59,44 58,04 60,10 59,60
Sumatera Utara 73,14 70,75 73,13 70,59 71,85
Sumatera Barat 53,79 51,66 47,91 56,29 52,59
Riau 80,32 74,53 69,28 81,75 77,49
Jambi 67,59 73,61 62,39 74,10 70,60
Sumatera Selatan 81,96 80,66 76,93 83,86 81,27

id
Bengkulu 71,05 65,38 61,65 70,42 68,13

.
Lampung 69,06 67,57 66,67 68,91 68,29

go
Kep. Bangka Belitung 65,31 68,56 60,32 74,41 66,93
Kepulauan Riau 57,58 55,29
s.58,33 52,43 56,50
DKI Jakarta 66,13 63,12 64,51 0,00 64,51
p
.b

Jawa Barat 77,45 76,37 75,34 80,26 76,88


Jawa Tengah 67,40 64,74 64,72 67,11 65,94
w

DI Yogyakarta 56,31 57,08 61,90 46,57 56,74


w

Jawa Timur 73,29 71,95 72,86 72,28 72,56


//w

Banten 80,05 83,68 78,74 86,68 81,89


Bali 50,07 47,66 51,57 45,77 48,74
s:

Nusa Tenggara Barat 65,74 65,84 67,69 64,09 65,80


tp

Nusa Tenggara Timur 61,46 64,59 63,89 62,99 63,14


ht

Kalimantan Barat 74,36 74,77 67,53 77,96 74,57


Kalimantan Tengah 78,89 78,73 75,53 80,54 78,81
Kalimantan Selatan 83,75 77,77 80,61 80,35 80,47
Kalimantan Timur 66,71 65,07 63,45 70,32 65,94
Kalimantan Utara 61,45 56,18 57,63 60,33 58,97
Sulawesi Utara 65,09 60,09 58,22 65,79 62,48
Sulawesi Tengah 71,25 71,16 72,57 70,76 71,20
Sulawesi Selatan 66,34 63,46 61,33 66,65 64,74
Sulawesi Tenggara 68,68 68,04 70,31 67,38 68,33
Gorontalo 79,20 75,78 71,72 80,68 77,35
Sulawesi Barat 64,46 61,70 54,24 65,46 62,98
Maluku 72,18 74,44 71,18 74,72 73,32
Maluku Utara 77,73 69,77 65,69 76,43 73,50
Papua Barat 61,53 59,43 72,72 52,32 60,56
Papua 67,25 61,14 72,23 60,86 64,66

Indonesia 71,18 69,49 69,66 70,92 70,28

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

160
Tabel 4.4 Persentase Penduduk Lansia yang Mengalami Keluhan Kesehatan
Selama Sebulan Terakhir dan Berobat Jalan Menurut Provinsi, Jenis
Kelamin, dan Tipe Daerah, 2018

Jenis Kelamin Tipe Daerah


Provinsi Total
Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 70,51 73,40 65,25 74,29 72,13
Sumatera Utara 54,46 57,34 55,09 56,94 56,02
Sumatera Barat 69,45 71,25 71,74 69,45 70,46
Riau 47,13 50,16 58,09 43,69 48,61
Jambi 52,34 48,55 59,94 46,41 50,44
Sumatera Selatan 48,37 46,42 50,38 45,53 47,34

id
Bengkulu 48,72 49,59 54,24 47,38 49,17

.
Lampung 51,19 53,35 52,15 52,37 52,31

go
Kep. Bangka Belitung 65,33 54,00 63,75 55,03 59,66
Kepulauan Riau 61,73 61,48
s. 56,58 72,87 61,61
DKI Jakarta 65,96 67,84 66,96 0,00 66,96
p
.b

Jawa Barat 54,59 59,14 58,95 52,66 56,98


Jawa Tengah 53,50 55,21 56,60 52,36 54,44
w

DI Yogyakarta 63,24 63,32 62,80 64,23 63,28


w

Jawa Timur 52,48 55,28 53,38 54,60 54,00


//w

Banten 56,05 53,50 59,86 47,01 54,76


Bali 68,92 72,73 66,32 75,94 71,01
s:

Nusa Tenggara Barat 56,68 53,69 55,54 54,54 55,02


tp

Nusa Tenggara Timur 51,22 48,10 45,48 50,36 49,55


ht

Kalimantan Barat 50,29 49,86 59,65 45,46 50,07


Kalimantan Tengah 39,55 39,88 45,74 36,55 39,72
Kalimantan Selatan 45,55 47,46 47,53 45,86 46,60
Kalimantan Timur 60,65 57,86 60,08 58,03 59,34
Kalimantan Utara 57,03 53,19 61,87 48,41 55,22
Sulawesi Utara 54,35 58,67 57,12 56,21 56,61
Sulawesi Tengah 50,29 53,78 55,17 51,16 52,14
Sulawesi Selatan 51,41 53,58 55,51 51,00 52,62
Sulawesi Tenggara 42,58 40,36 38,25 42,88 41,38
Gorontalo 53,93 58,24 57,77 55,36 56,26
Sulawesi Barat 53,63 50,28 53,91 51,25 51,84
Maluku 46,60 45,71 45,49 46,58 46,15
Maluku Utara 43,50 53,72 55,18 46,57 48,92
Papua Barat 48,44 53,12 38,55 58,77 50,60
Papua 60,52 66,96 60,20 64,78 63,25

Indonesia 54,40 56,46 57,49 53,42 55,50

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

161
Tabel 4.5 Persentase Penduduk Lansia yang Berobat Jalan Menurut Provinsi
dan Tempat Berobat, 2018

RS Praktik Klinik/ Puskes- Puskes-


RS dokter/
Provinsi Peme- Swasta dokter mas/ UKBM mas/ Lainnya
rintah bidan bersama Pustu Pustu

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)


Aceh 22,20 3,24 27,68 10,71 47,58 4,95 3,82 1,31
Sumatera Utara 12,35 15,81 40,59 9,02 23,23 2,41 3,92 1,04
Sumatera Barat 17,89 9,64 36,51 8,18 30,56 2,66 4,19 0,56
Riau 15,56 14,61 28,69 16,19 29,09 1,16 6,43 1,48
Jambi 16,57 11,71 32,02 8,33 31,85 3,25 4,31 0,73
Sumatera Selatan 13,48 7,71 43,91 11,08 25,11 3,87 3,19 0,23

id
Bengkulu 12,10 6,09 45,81 14,58 29,34 0,81 1,74 0,25

.
Lampung 5,28 8,01 47,26 13,69 25,24 2,18 4,76 1,34

go
Kep. Bangka Belitung 16,79 18,78 29,13 9,73 32,02 6,23 0,53 1,28
Kepulauan Riau 25,24 9,75 20,58
s.
12,20 35,48 3,41 0,60 0,33
DKI Jakarta 29,09 22,96 5,01 17,86 31,29 1,16 2,17 0,52
p
.b

Jawa Barat 11,82 11,79 29,67 19,26 31,37 2,38 2,45 1,16
Jawa Tengah 10,44 9,49 41,45 13,05 25,79 3,49 1,99 0,96
w

DI Yogyakarta 11,38 21,72 25,42 12,79 32,69 2,99 1,83 0,89


w

Jawa Timur 9,02 9,00 47,85 11,05 23,05 4,72 2,56 0,91
//w

Banten 13,46 8,86 22,70 24,40 36,20 1,90 1,98 0,66


Bali 14,38 4,28 53,70 8,33 24,05 0,32 1,30 0,18
s:

Nusa Tenggara Barat 9,68 1,53 41,80 11,87 36,50 3,80 3,37 3,03
tp

Nusa Tenggara Timur 7,12 3,11 13,68 7,91 63,48 9,42 1,63 0,32
ht

Kalimantan Barat 9,69 4,98 26,92 11,74 42,03 9,83 3,32 0,56
Kalimantan Tengah 22,82 1,04 22,14 4,97 44,58 7,05 2,37 1,11
Kalimantan Selatan 14,62 1,85 39,65 7,62 37,37 5,51 3,51 2,26
Kalimantan Timur 21,62 11,10 14,19 17,64 42,64 0,55 0,31 0,28
Kalimantan Utara 22,05 2,98 16,97 7,54 56,16 1,90 0,00 0,00
Sulawesi Utara 13,08 11,66 35,09 12,41 34,03 3,02 1,66 0,75
Sulawesi Tengah 17,48 1,25 21,06 8,05 50,21 6,90 2,67 1,49
Sulawesi Selatan 17,23 4,04 21,12 10,69 47,15 3,77 1,14 1,45
Sulawesi Tenggara 16,66 4,16 25,08 9,01 45,61 2,72 4,14 1,09
Gorontalo 9,39 0,96 39,40 16,20 43,88 1,14 4,17 2,97
Sulawesi Barat 11,73 1,24 18,68 3,97 61,45 0,89 1,47 4,02
Maluku 13,04 1,07 24,53 8,80 51,44 1,80 2,11 0,16
Maluku Utara 11,45 0,39 20,77 9,56 54,86 4,34 1,93 0,00
Papua Barat 20,03 8,70 8,13 4,22 70,87 0,33 1,10 1,30
Papua 25,94 3,00 7,59 4,57 61,31 0,49 0,28 0,50

Indonesia 12,56 9,85 35,30 13,51 30,73 3,39 2,55 1,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

162
Tabel 4.6 Persentase Penduduk Lansia yang Tidak Berobat Jalan Menurut
Provinsi dan Alasan Utama Tidak Berobat Jalan, 2018

Alasan Utama Tidak Berobat Jalan


Provinsi Tidak ada Mengobati Merasa tidak Total
Lainnya
biaya sendiri perlu
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 2,16 65,98 25,35 6,51 100,00
Sumatera Utara 5,39 61,75 27,99 4,87 100,00
Sumatera Barat 3,42 45,22 45,44 5,92 100,00
Riau 4,16 59,09 34,46 2,30 100,00
Jambi 6,86 60,51 30,04 2,59 100,00
Sumatera Selatan 4,23 71,31 21,09 3,37 100,00

id
Bengkulu 5,88 62,86 28,66 2,61 100,00

.
Lampung 2,77 61,28 32,59 3,35 100,00

go
Kep. Bangka Belitung 2,70 67,41 26,20 3,68 100,00
Kepulauan Riau 1,41 49,24 s. 40,57 8,77 100,00
DKI Jakarta 1,13 59,43 34,86 4,58 100,00
p
Jawa Barat 5,46 65,69 24,69 4,16 100,00
.b

Jawa Tengah 2,07 65,03 28,84 4,07 100,00


w

DI Yogyakarta 0,28 71,07 21,95 6,70 100,00


w

Jawa Timur 2,02 68,70 25,55 3,72 100,00


//w

Banten 6,70 61,96 28,90 2,44 100,00


Bali 4,06 63,55 29,43 2,96 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 6,74 61,76 28,76 2,74 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 7,34 69,34 19,60 3,71 100,00


Kalimantan Barat 7,98 58,01 30,96 3,05 100,00
ht

Kalimantan Tengah 4,65 61,76 29,93 3,66 100,00


Kalimantan Selatan 1,87 81,31 14,88 1,94 100,00
Kalimantan Timur 5,06 57,95 33,26 3,73 100,00
Kalimantan Utara 2,41 60,27 31,77 5,54 100,00
Sulawesi Utara 4,14 60,97 30,61 4,28 100,00
Sulawesi Tengah 5,74 69,56 22,04 2,67 100,00
Sulawesi Selatan 2,58 61,26 30,91 5,25 100,00
Sulawesi Tenggara 3,20 68,84 26,20 1,76 100,00
Gorontalo 4,16 87,54 5,56 2,74 100,00
Sulawesi Barat 2,16 59,20 34,69 3,94 100,00
Maluku 6,26 69,70 19,73 4,31 100,00
Maluku Utara 6,19 65,25 24,41 4,15 100,00
Papua Barat 0,72 60,77 34,21 4,30 100,00
Papua 4,75 63,18 21,16 10,92 100,00

Indonesia 3,64 65,31 27,13 3,92 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

163
Tabel 4.7 Persentase Penduduk Lansia Berobat Jalan yang Menggunakan
Jaminan Kesehatan untuk Berobat Jalan, 2018

Jaminan Kesehatan
Berobat
Provinsi Perusa-
Jalan
PBI Non PBI Jamkesda Asuransi haan/
Swasta Kantor
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 72,89 81,34 12,44 6,00 0,08 0,53
Sumatera Utara 42,73 47,34 45,66 2,77 1,77 2,47
Sumatera Barat 48,29 45,22 42,32 11,94 0,03 0,80
Riau 39,96 45,09 35,21 16,69 1,92 2,23
Jambi 46,28 48,53 38,01 7,28 0,00 6,19

id
Sumatera Selatan 40,19 36,56 36,64 24,47 0,00 2,33
Bengkulu 40,73 47,94 48,06

.
1,49 0,00 2,51

go
Lampung 30,58 56,94 27,92 13,23 0,62 1,58
Kep. Bangka Belitung 56,37 45,59 48,76
s. 4,43 0,57 0,66
Kepulauan Riau 59,98 36,61 43,78 16,42 1,79 1,40
p
DKI Jakarta 66,36 60,79 31,82 0,26 3,27 3,87
.b

Jawa Barat 40,77 46,51 40,66 7,88 0,94 4,43


w

Jawa Tengah 44,94 55,52 35,04 8,10 0,35 1,38


w

DI Yogyakarta 61,08 52,79 40,70 4,53 1,08 1,37


//w

Jawa Timur 34,28 49,16 37,59 11,25 0,60 1,86


Banten 43,48 42,35 42,66 10,41 2,44 2,75
s:

Bali 34,25 48,93 38,04 9,79 2,23 1,19


tp

Nusa Tenggara Barat 29,55 62,54 29,59 10,82 0,00 0,55


Nusa Tenggara Timur 64,08 71,10 16,72 12,44 0,00 0,25
ht

Kalimantan Barat 36,46 48,02 40,19 8,42 0,40 2,97


Kalimantan Tengah 55,58 43,66 40,70 15,51 0,00 0,13
Kalimantan Selatan 45,89 36,58 35,97 25,04 0,58 2,02
Kalimantan Timur 72,38 38,01 55,58 4,72 1,08 0,71
Kalimantan Utara 76,51 44,34 52,75 2,60 0,00 1,07
Sulawesi Utara 54,23 49,14 46,25 2,63 0,40 1,67
Sulawesi Tengah 54,36 67,75 26,36 5,98 0,00 0,00
Sulawesi Selatan 66,67 57,27 38,87 3,20 0,00 0,70
Sulawesi Tenggara 61,71 50,26 34,71 10,69 0,00 4,34
Gorontalo 54,73 79,62 19,99 0,39 0,00 0,00
Sulawesi Barat 70,91 63,49 21,10 17,96 0,00 0,34
Maluku 42,27 71,03 16,09 13,67 0,00 0,00
Maluku Utara 60,60 48,31 20,98 31,27 0,00 0,00
Papua Barat 81,01 80,03 14,15 6,58 0,91 0,00
Papua 84,45 43,48 11,93 45,82 0,00 0,00

Indonesia 44,70 52,24 36,39 8,80 0,80 2,15

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

164
Tabel 4.8 Persentase Penduduk Lansia yang Pernah Dirawat Inap Setahun
Terakhir Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan Tipe Daerah, 2018

Jenis Kelamin Tipe Daerah


Provinsi Total
Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 16,90 14,94 16,91 15,42 15,85
Sumatera Utara 8,08 8,22 8,75 7,52 8,16
Sumatera Barat 8,75 7,73 9,69 7,16 8,19
Riau 9,52 7,47 8,97 8,22 8,51
Jambi 9,44 6,05 10,15 6,64 7,76
Sumatera Selatan 7,27 5,50 7,61 5,65 6,36
Bengkulu 7,26 11,29 13,26 7,71 9,26

id
Lampung 7,29 8,52 11,19 6,69 7,90

.
go
Kep. Bangka Belitung 10,56 9,75 12,58 7,13 10,15
Kepulauan Riau 10,12 5,57s. 7,78 7,93 7,81
DKI Jakarta 9,23 6,64 7,89 0,00 7,89
p
Jawa Barat 8,91 8,10 8,95 7,50 8,49
.b

Jawa Tengah 9,97 8,56 9,67 8,80 9,22


w

DI Yogyakarta 10,24 7,24 8,86 8,13 8,60


w

Jawa Timur 8,40 7,58 8,66 7,29 7,96


Banten 8,99 4,71 7,83 4,99 6,83
//w

Bali 8,80 6,48 7,81 7,23 7,57


s:

Nusa Tenggara Barat 10,90 8,80 11,04 8,73 9,78


Nusa Tenggara Timur 7,20 6,28 8,23 6,33 6,71
tp

Kalimantan Barat 9,58 4,99 10,32 5,63 7,27


ht

Kalimantan Tengah 8,67 5,23 10,15 5,17 7,02


Kalimantan Selatan 7,19 5,19 6,14 6,14 6,14
Kalimantan Timur 11,15 9,32 9,84 11,15 10,30
Kalimantan Utara 13,49 9,96 13,53 9,88 11,89
Sulawesi Utara 14,48 8,57 11,69 11,14 11,40
Sulawesi Tengah 12,05 11,86 16,15 10,52 11,96
Sulawesi Selatan 10,00 9,07 11,99 8,02 9,48
Sulawesi Tenggara 7,73 6,03 8,49 5,95 6,84
Gorontalo 10,90 10,41 12,02 9,78 10,64
Sulawesi Barat 9,50 5,40 10,01 6,41 7,32
Maluku 7,56 4,46 6,01 5,91 5,95
Maluku Utara 7,43 6,39 11,01 5,45 6,91
Papua Barat 9,15 10,65 13,02 7,77 9,84
Papua 6,66 3,93 7,22 4,33 5,49

Indonesia 9,16 7,83 9,16 7,72 8,46

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

165
Tabel 4.9 Rata-rata Lama Rawat Inap (dalam hari) Lansia yang Pernah Dirawat
Inap Setahun Terakhir Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan Tipe
Daerah, 2018

Jenis Kelamin Tipe Daerah


Provinsi Total
Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 7,52 6,46 7,24 6,87 6,99
Sumatera Utara 6,97 7,35 7,43 6,86 7,18
Sumatera Barat 7,74 8,61 7,33 8,99 8,19
Riau 7,94 7,63 9,62 6,54 7,81
Jambi 6,24 6,00 5,08 6,91 6,15
Sumatera Selatan 6,52 6,24 6,74 6,13 6,40

id
Bengkulu 4,88 4,58 5,24 4,34 4,70

.
Lampung 4,83 4,28 4,53 4,54 4,53

go
Kep. Bangka Belitung 6,37 4,96 4,78 7,69 5,69
Kepulauan Riau 23,27 6,06
s. 20,22 6,72 17,04
DKI Jakarta 6,64 7,03 6,81 - 6,81
p
.b

Jawa Barat 6,49 5,14 6,05 5,26 5,83


Jawa Tengah 6,85 6,31 7,41 5,72 6,59
w

DI Yogyakarta 8,22 5,84 6,31 8,77 7,13


w

Jawa Timur 7,18 6,34 7,21 6,24 6,75


//w

Banten 6,05 5,10 5,89 5,22 5,72


Bali 8,20 6,38 7,27 7,53 7,37
s:

Nusa Tenggara Barat 6,31 8,04 9,84 4,31 7,14


tp

Nusa Tenggara Timur 7,11 4,47 7,15 5,36 5,80


ht

Kalimantan Barat 7,01 6,98 6,92 7,07 7,00


Kalimantan Tengah 9,96 5,63 9,01 7,70 8,41
Kalimantan Selatan 6,00 7,66 6,48 6,94 6,74
Kalimantan Timur 8,26 13,21 12,27 7,20 10,33
Kalimantan Utara 6,94 5,38 7,24 4,85 6,35
Sulawesi Utara 8,87 7,45 8,38 8,25 8,32
Sulawesi Tengah 8,57 7,22 9,85 6,86 7,89
Sulawesi Selatan 7,10 6,36 7,28 6,21 6,70
Sulawesi Tenggara 9,41 8,09 8,44 9,08 8,80
Gorontalo 6,65 8,11 7,63 7,24 7,41
Sulawesi Barat 6,67 6,09 3,98 7,74 6,44
Maluku 9,92 6,10 8,43 8,43 8,43
Maluku Utara 9,33 6,79 8,49 7,92 8,16
Papua Barat 5,58 4,69 4,95 5,34 5,14
Papua 13,69 7,14 7,03 16,89 11,69

Indonesia 7,08 6,26 7,05 6,22 6,68

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

166
Tabel 4.10 Persentase Penduduk Lansia yang Pernah Dirawat Inap Setahun
Terakhir Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan Tipe Daerah, 2018

Lama Rawat Inap (hari)


Provinsi
1-3 4-7 8-14 14+ Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 31,77 42,90 16,65 8,68 100,00
Sumatera Utara 29,30 47,61 14,91 8,19 100,00
Sumatera Barat 19,74 53,08 14,48 12,69 100,00
Riau 42,27 35,52 11,12 11,09 100,00
Jambi 31,58 52,31 7,42 8,69 100,00
Sumatera Selatan 34,60 45,25 10,67 9,48 100,00
Bengkulu 57,14 31,27 9,13 2,45 100,00

id
Lampung 49,61 36,77 11,98 1,64 100,00

.
Kep. Bangka Belitung 46,60 36,94 10,03 6,43 100,00

go
Kepulauan Riau 19,64 31,86 20,90 27,60 100,00
DKI Jakarta 24,08 54,07
p s. 17,01 4,84 100,00
Jawa Barat 41,00 40,28 12,26 6,46 100,00
.b

Jawa Tengah 30,79 46,83 15,21 7,17 100,00


DI Yogyakarta 32,00 44,98 14,86 8,16 100,00
w

Jawa Timur 31,21 45,63 14,55 8,61 100,00


w

Banten 37,30 44,74 11,42 6,55 100,00


//w

Bali 25,66 51,50 14,49 8,36 100,00


Nusa Tenggara Barat 42,93 40,91 10,90 5,26 100,00
s:

Nusa Tenggara Timur 49,01 32,70 12,36 5,93 100,00


tp

Kalimantan Barat 37,61 33,07 20,34 8,98 100,00


ht

Kalimantan Tengah 28,49 39,74 20,44 11,33 100,00


Kalimantan Selatan 33,31 42,82 13,78 10,09 100,00
Kalimantan Timur 28,50 44,76 14,49 12,24 100,00
Kalimantan Utara 35,83 51,53 8,86 3,78 100,00
Sulawesi Utara 23,89 45,32 18,03 12,75 100,00
Sulawesi Tengah 28,83 48,05 13,25 9,87 100,00
Sulawesi Selatan 28,62 43,62 20,99 6,77 100,00
Sulawesi Tenggara 33,61 40,14 13,21 13,04 100,00
Gorontalo 31,90 43,75 14,64 9,71 100,00
Sulawesi Barat 40,30 33,94 18,63 7,13 100,00
Maluku 27,26 33,72 28,11 10,92 100,00
Maluku Utara 27,06 45,66 18,00 9,28 100,00
Papua Barat 38,28 53,17 5,65 2,89 100,00
Papua 25,31 50,86 19,76 4,07 100,00

Indonesia 33,69 44,26 14,36 7,69 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

167
Tabel 4.11 Persentase Penduduk Lansia yang Rawat Inap Menurut Provinsi
dan Tempat Rawat Inap, 2018

Praktik Klinik/ Puskes- Pengo-


RS Peme- RS batan Lainnya
Provinsi rintah Swasta dokter/ dokter mas/ Tradi-
bidan bersama Pustu sional
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Aceh 75,64 12,00 0,45 1,03 15,23 0,14 0,26
Sumatera Utara 39,35 53,69 1,67 5,55 1,64 0,75 0,26
Sumatera Barat 67,62 25,62 0,00 1,45 7,23 0,00 0,00
Riau 47,91 42,78 5,26 4,43 6,49 0,89 0,00
Jambi 56,02 31,41 3,18 0,43 11,10 0,00 0,15
Sumatera Selatan 56,29 30,93 4,95 2,44 5,82 0,00 0,64

id
Bengkulu 55,72 27,20 3,75 2,21 11,11 0,00 0,00

.
Lampung 26,07 51,42 8,61 9,67 9,48 0,86 0,63

go
Kep. Bangka Belitung 39,67 50,38 2,17 3,08 8,72 0,00 0,00
Kepulauan Riau 66,90 32,63 3,29 0,00
s. 3,96 0,00 0,00
DKI Jakarta 58,98 40,23 0,40 0,72 2,26 0,00 0,00
p
Jawa Barat 44,46 39,60 2,90 5,41 11,28 0,14 1,15
.b

Jawa Tengah 42,20 40,48 1,59 4,40 13,93 0,68 0,32


w

DI Yogyakarta 38,22 57,56 1,22 2,42 7,12 0,00 0,00


w

Jawa Timur 36,56 40,09 1,68 4,10 22,82 0,69 0,52


//w

Banten 53,83 29,04 3,29 5,02 10,10 0,00 0,00


Bali 55,97 43,37 0,00 0,29 2,69 0,00 0,00
s:

Nusa Tenggara Barat 40,56 11,85 2,04 7,92 42,00 0,00 0,03
tp

Nusa Tenggara Timur 49,90 31,01 1,28 0,57 19,76 0,37 0,00
Kalimantan Barat 67,43 22,60 2,36 0,00 11,82 0,00 0,00
ht

Kalimantan Tengah 86,92 6,83 0,77 1,72 5,20 0,00 0,20


Kalimantan Selatan 84,50 6,58 0,00 0,19 10,29 0,00 0,00
Kalimantan Timur 64,43 27,92 0,00 0,00 8,97 0,00 0,00
Kalimantan Utara 90,72 3,11 0,00 0,00 8,08 1,86 0,00
Sulawesi Utara 47,15 44,73 0,20 0,72 10,99 0,00 0,00
Sulawesi Tengah 80,14 7,43 0,00 0,00 16,35 0,00 0,00
Sulawesi Selatan 61,96 22,62 0,76 1,10 14,97 0,00 0,74
Sulawesi Tenggara 77,55 14,02 1,74 2,07 7,46 0,00 0,00
Gorontalo 75,36 11,25 0,00 2,85 11,20 3,35 0,00
Sulawesi Barat 63,60 7,14 0,00 0,00 32,54 0,00 0,00
Maluku 83,66 14,26 1,78 0,00 2,58 0,00 0,00
Maluku Utara 80,85 6,07 1,97 0,00 13,05 0,58 0,00
Papua Barat 81,69 14,12 0,00 1,67 3,67 0,00 0,03
Papua 75,35 15,86 0,00 0,00 16,76 0,00 0,00

Indonesia 47,55 36,49 1,99 3,77 13,66 0,39 0,45

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

168
Tabel 4.12 Persentase Penduduk Lansia Rawat Inap yang Menggunakan
Jaminan Kesehatan untuk Rawat Inap, 2018

Jaminan Kesehatan
Provinsi Rawat Inap Perusa-
PBI Non PBI Jamkesda Asuransi haan/
Swasta Kantor
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 96,65 78,11 15,96 5,76 0,00 0,72
Sumatera Utara 70,63 41,76 53,56 1,58 0,47 2,63
Sumatera Barat 70,34 53,29 43,25 3,45 0,00 0,92
Riau 56,02 46,31 32,71 18,63 0,00 4,83
Jambi 69,11 39,31 46,93 8,97 0,00 4,80
Sumatera Selatan 76,69 31,42 40,86 27,38 0,00 0,63

id
Bengkulu 72,19 46,42 49,76 2,53 0,00 1,29

.
Lampung 57,87 42,68 47,58 9,69 0,05 0,00

go
Kep. Bangka Belitung 82,22 26,29 55,33 15,37 1,27 1,74
Kepulauan Riau 84,87 48,00 s.
39,81 6,83 2,04 3,33
DKI Jakarta 90,15 58,54 36,90 0,00 2,04 2,52
p
.b

Jawa Barat 65,57 46,37 44,59 3,50 0,82 4,73


Jawa Tengah 59,65 57,59 35,68 5,34 0,13 1,34
w

DI Yogyakarta 80,85 62,01 29,20 6,24 1,80 1,20


w

Jawa Timur 59,57 57,79 34,19 5,89 0,34 1,97


//w

Banten 69,11 35,60 55,28 3,75 2,43 4,22


Bali 69,10 49,51 38,01 7,70 3,05 2,71
s:

Nusa Tenggara Barat 59,84 64,15 30,83 6,55 0,00 0,00


tp

Nusa Tenggara Timur 71,55 72,71 19,20 7,49 0,00 0,91


ht

Kalimantan Barat 62,68 46,32 44,81 4,49 0,85 3,53


Kalimantan Tengah 83,59 37,40 53,15 9,45 0,00 0,00
Kalimantan Selatan 68,87 39,43 40,50 20,07 0,00 0,00
Kalimantan Timur 72,76 44,02 53,03 1,90 0,00 1,05
Kalimantan Utara 93,51 36,49 57,72 3,64 0,00 2,14
Sulawesi Utara 82,66 42,08 51,84 3,42 1,43 1,38
Sulawesi Tengah 70,91 60,50 33,57 4,84 0,00 1,26
Sulawesi Selatan 85,87 45,56 49,23 3,74 0,54 1,52
Sulawesi Tenggara 74,52 48,92 45,48 0,75 2,62 2,24
Gorontalo 98,69 81,91 18,09 0,00 0,00 0,00
Sulawesi Barat 88,98 53,45 41,53 13,31 0,00 0,00
Maluku 60,98 65,18 32,79 2,55 0,00 0,00
Maluku Utara 64,48 34,50 51,44 14,06 0,00 0,00
Papua Barat 92,49 74,63 21,41 5,07 1,81 0,00
Papua 86,03 55,83 32,47 13,16 0,00 0,00

Indonesia 67,39 52,51 39,37 5,63 0,59 2,20

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

169
Tabel 4.13 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Kebiasaan
Merokok, 2017

Merokok Tidak
Provinsi Tidak Setiap
Setiap Hari Total Merokok
Hari
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 19,45 2,00 21,45 78,55
Sumatera Utara 19,92 1,59 21,52 78,48
Sumatera Barat 23,31 1,51 24,82 75,18
Riau 23,29 2,12 25,41 74,59
Jambi 23,48 2,08 25,56 74,44
Sumatera Selatan 23,40 2,58 25,98 74,02
Bengkulu 27,14 2,58 29,72 70,28

id
Lampung 27,42 3,08 30,50 69,50

.
go
Kep. Bangka Belitung 19,76 1,09 20,85 79,15
Kepulauan Riau 21,77 2,53 s. 24,30 75,70
DKI Jakarta 12,38 1,75 14,13 85,87
p
Jawa Barat 26,05 2,88 28,92 71,08
.b

Jawa Tengah 21,71 2,65 24,37 75,63


w

DI Yogyakarta 15,64 2,01 17,65 82,35


w

Jawa Timur 20,99 2,57 23,55 76,45


Banten 25,43 2,36 27,79 72,21
//w

Bali 10,69 1,62 12,31 87,69


s:

Nusa Tenggara Barat 26,55 2,62 29,17 70,83


Nusa Tenggara Timur 16,12 3,91 20,03 79,97
tp

Kalimantan Barat 22,17 2,24 24,41 75,59


ht

Kalimantan Tengah 22,05 2,37 24,42 75,58


Kalimantan Selatan 16,64 1,51 18,16 81,84
Kalimantan Timur 17,74 1,95 19,70 80,30
Kalimantan Utara 20,65 3,09 23,74 76,26
Sulawesi Utara 18,08 3,40 21,48 78,52
Sulawesi Tengah 24,59 3,02 27,62 72,38
Sulawesi Selatan 18,54 1,37 19,91 80,09
Sulawesi Tenggara 24,77 2,14 26,91 73,09
Gorontalo 26,54 5,03 31,57 68,43
Sulawesi Barat 18,73 3,67 22,40 77,60
Maluku 15,59 6,07 21,66 78,34
Maluku Utara 20,47 5,72 26,20 73,80
Papua Barat 18,37 6,41 24,78 75,22
Papua 14,37 6,25 20,61 79,39

Indonesia 21,73 2,53 24,26 75,74

Sumber: BPS - Susenas Kor 2017

170
Tabel 5.1.1 Persentase Penduduk Lanjut Usia Menurut Provinsi dan Jenis
Kegiatan dalam Seminggu Terakhir, 2018
Perkotaan
Jenis Kegiatan dalam Seminggu Terakhir
Provinsi Pengang- Mengurus Total
Bekerja Lainnya
guran Rumah Tangga
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 38,52 0,08 38,70 22,70 100,00
Sumatera Utara 43,07 0,34 36,73 19,86 100,00
Sumatera Barat 44,41 0,74 35,74 19,11 100,00
Riau 33,17 0,52 45,48 20,83 100,00
Jambi 39,49 0,06 38,69 21,76 100,00

id
Sumatera Selatan 36,26 0,55 42,28 20,91 100,00
Bengkulu 45,11 0,00 31,63 23,26 100,00

.
go
Lampung 44,07 0,40 37,06 18,47 100,00
Kep. Bangka Belitung 35,97 0,19 s. 47,35 16,49 100,00
Kepulauan Riau 31,59 0,17 45,37 22,87 100,00
p
DKI Jakarta 27,73 0,33 43,99 27,95 100,00
.b

Jawa Barat 41,31 0,27 41,34 17,08 100,00


w

Jawa Tengah 45,82 0,67 35,98 17,53 100,00


w

DI Yogyakarta 53,25 0,07 33,50 13,18 100,00


//w

Jawa Timur 48,98 0,48 35,21 15,33 100,00


Banten 37,83 0,62 40,91 20,64 100,00
s:

Bali 52,42 0,00 36,23 11,35 100,00


Nusa Tenggara Barat 43,38 0,00 34,36 22,26 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 42,78 0,00 37,42 19,80 100,00


ht

Kalimantan Barat 35,18 0,34 41,46 23,02 100,00


Kalimantan Tengah 38,34 0,00 46,94 14,72 100,00
Kalimantan Selatan 39,30 0,71 41,58 18,41 100,00
Kalimantan Timur 35,47 0,00 40,10 24,43 100,00
Kalimantan Utara 39,71 0,00 45,10 15,19 100,00
Sulawesi Utara 43,28 0,56 36,43 19,73 100,00
Sulawesi Tengah 50,01 0,55 35,20 14,24 100,00
Sulawesi Selatan 30,64 0,26 46,38 22,72 100,00
Sulawesi Tenggara 43,00 0,37 35,11 21,52 100,00
Gorontalo 42,86 0,38 37,55 19,21 100,00
Sulawesi Barat 42,89 0,00 33,97 23,14 100,00
Maluku 42,08 0,07 31,79 26,06 100,00
Maluku Utara 34,86 0,15 42,17 22,82 100,00
Papua Barat 43,67 0,72 35,06 20,55 100,00
Papua 38,22 0,00 40,14 21,64 100,00

Indonesia 42,68 0,40 38,61 18,31 100,00

Sumber: BPS – Sakernas Agustus 2018

171
Tabel 5.1.2 Persentase Penduduk Lanjut Usia Menurut Provinsi dan Jenis
Kegiatan dalam Seminggu Terakhir, 2018
Perdesaan
Jenis Kegiatan dalam Seminggu Terakhir
Provinsi Pengang- Mengurus Total
Bekerja Lainnya
guran Rumah Tangga
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 47,61 0,16 31,19 21,04 100,00
Sumatera Utara 62,04 0,22 22,44 15,30 100,00
Sumatera Barat 53,05 0,00 31,29 15,66 100,00
Riau 51,69 0,00 28,88 19,43 100,00
Jambi 54,36 0,00 30,54 15,10 100,00

id
Sumatera Selatan 57,52 0,10 25,15 17,23 100,00
Bengkulu 59,31 0,14 25,07 15,48 100,00

.
go
Lampung 58,20 0,17 28,17 13,46 100,00
Kep. Bangka Belitung 55,15 0,23 s. 32,02 12,60 100,00
Kepulauan Riau 49,28 0,00 34,70 16,02 100,00
p
DKI Jakarta - - - - 100,00
.b

Jawa Barat 49,64 0,13 36,32 13,91 100,00


w

Jawa Tengah 59,05 0,23 26,15 14,57 100,00


w

DI Yogyakarta 71,54 0,25 18,47 9,74 100,00


//w

Jawa Timur 62,25 0,33 24,41 13,01 100,00


Banten 49,67 0,78 30,28 19,27 100,00
s:

Bali 66,35 0,00 25,33 8,32 100,00


Nusa Tenggara Barat 54,78 0,00 28,70 16,52 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 63,85 0,19 21,22 14,74 100,00


ht

Kalimantan Barat 54,39 0,12 27,52 17,97 100,00


Kalimantan Tengah 55,45 0,00 29,82 14,73 100,00
Kalimantan Selatan 61,80 0,00 27,02 11,18 100,00
Kalimantan Timur 61,39 0,00 22,99 15,62 100,00
Kalimantan Utara 52,01 0,69 27,01 20,29 100,00
Sulawesi Utara 48,17 0,53 33,61 17,69 100,00
Sulawesi Tengah 57,67 0,17 28,02 14,14 100,00
Sulawesi Selatan 47,97 0,12 33,84 18,07 100,00
Sulawesi Tenggara 57,68 0,00 24,54 17,78 100,00
Gorontalo 53,28 0,00 30,82 15,90 100,00
Sulawesi Barat 56,82 0,00 31,11 12,07 100,00
Maluku 55,09 0,15 25,52 19,24 100,00
Maluku Utara 56,74 0,50 25,80 16,96 100,00
Papua Barat 64,31 0,00 24,29 11,40 100,00
Papua 66,35 0,70 18,89 14,06 100,00

Indonesia 57,52 0,21 27,52 14,75 100,00

Sumber: BPS – Sakernas Agustus 2018

172
Tabel 5.1.3 Persentase Penduduk Lanjut Usia Menurut Provinsi dan Jenis
Kegiatan dalam Seminggu Terakhir, 2018
Laki-laki
Jenis Kegiatan dalam Seminggu Terakhir
Provinsi Pengang- Mengurus Total
Bekerja Lainnya
guran Rumah Tangga
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 63,63 0,29 10,14 25,94 100,00
Sumatera Utara 64,66 0,38 13,36 21,60 100,00
Sumatera Barat 62,96 0,71 14,74 21,59 100,00
Riau 62,70 0,39 13,55 23,36 100,00
Jambi 63,70 0,04 13,43 22,83 100,00

id
Sumatera Selatan 64,02 0,40 14,56 21,02 100,00

.
Bengkulu 70,22 0,20 8,79 20,79 100,00

go
Lampung 71,54 0,35 12,19 15,92 100,00
Kep. Bangka Belitung 60,04 0,42 s. 20,82 18,72 100,00
Kepulauan Riau 46,18 0,19 29,06 24,57 100,00
p
DKI Jakarta 36,99 0,68 20,07 42,26 100,00
.b

Jawa Barat 63,07 0,23 15,70 21,00 100,00


w

Jawa Tengah 67,29 0,56 14,84 17,31 100,00


w

DI Yogyakarta 71,04 0,00 17,13 11,83 100,00


//w

Jawa Timur 71,56 0,58 12,97 14,89 100,00


Banten 57,78 0,79 13,72 27,71 100,00
s:

Bali 66,37 0,00 22,75 10,88 100,00


tp

Nusa Tenggara Barat 61,52 0,00 13,45 25,03 100,00


Nusa Tenggara Timur 71,44 0,11 11,11 17,34 100,00
ht

Kalimantan Barat 62,65 0,40 14,67 22,28 100,00


Kalimantan Tengah 63,04 0,00 19,63 17,33 100,00
Kalimantan Selatan 65,44 0,46 16,96 17,14 100,00
Kalimantan Timur 59,11 0,00 18,48 22,41 100,00
Kalimantan Utara 58,14 0,54 17,93 23,39 100,00
Sulawesi Utara 62,45 0,76 15,63 21,16 100,00
Sulawesi Tengah 72,19 0,44 11,86 15,51 100,00
Sulawesi Selatan 60,08 0,30 16,31 23,31 100,00
Sulawesi Tenggara 67,63 0,22 12,98 19,17 100,00
Gorontalo 66,00 0,34 15,15 18,51 100,00
Sulawesi Barat 74,30 0,00 11,18 14,52 100,00
Maluku 60,23 0,06 9,86 29,85 100,00
Maluku Utara 67,20 0,08 12,46 20,26 100,00
Papua Barat 65,32 0,52 15,30 18,86 100,00
Papua 62,02 0,30 15,92 21,76 100,00

Indonesia 65,19 0,41 14,73 19,67 100,00

Sumber: BPS – Sakernas Agustus 2018

173
Tabel 5.1.4 Persentase Penduduk Lanjut Usia Menurut Provinsi dan Jenis
Kegiatan dalam Seminggu Terakhir, 2018
Perempuan
Jenis Kegiatan dalam Seminggu Terakhir
Provinsi Pengang- Mengurus Total
Bekerja Lainnya
guran Rumah Tangga
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 28,61 0,00 53,71 17,68 100,00
Sumatera Utara 41,37 0,20 44,03 14,40 100,00
Sumatera Barat 37,72 0,00 48,85 13,43 100,00
Riau 25,90 0,00 57,64 16,46 100,00
Jambi 35,22 0,00 53,23 11,55 100,00

id
Sumatera Selatan 36,40 0,12 47,26 16,22 100,00
Bengkulu 40,18 0,00 45,37 14,45 100,00

.
go
Lampung 36,57 0,12 49,53 13,78 100,00
Kep. Bangka Belitung 28,82 0,00 s. 60,30 10,88 100,00
Kepulauan Riau 23,82 0,10 57,54 18,54 100,00
p
DKI Jakarta 19,15 0,00 66,18 14,67 100,00
.b

Jawa Barat 25,55 0,23 62,69 11,53 100,00


w

Jawa Tengah 39,89 0,34 44,96 14,81 100,00


w

DI Yogyakarta 50,46 0,25 37,25 12,04 100,00


//w

Jawa Timur 41,96 0,25 44,27 13,52 100,00


Banten 26,42 0,56 60,35 12,67 100,00
s:

Bali 50,35 0,00 40,12 9,53 100,00


Nusa Tenggara Barat 38,70 0,00 47,12 14,18 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 48,91 0,18 36,51 14,40 100,00


ht

Kalimantan Barat 32,50 0,00 50,20 17,30 100,00


Kalimantan Tengah 33,41 0,00 54,70 11,89 100,00
Kalimantan Selatan 39,42 0,18 48,49 11,91 100,00
Kalimantan Timur 27,34 0,00 52,46 20,20 100,00
Kalimantan Utara 29,16 0,00 60,69 10,15 100,00
Sulawesi Utara 30,40 0,35 52,82 16,43 100,00
Sulawesi Tengah 39,14 0,11 47,92 12,83 100,00
Sulawesi Selatan 26,83 0,07 55,98 17,12 100,00
Sulawesi Tenggara 40,62 0,00 40,81 18,57 100,00
Gorontalo 34,12 0,00 49,69 16,19 100,00
Sulawesi Barat 35,59 0,00 50,03 14,38 100,00
Maluku 39,90 0,17 45,03 14,90 100,00
Maluku Utara 34,46 0,74 48,09 16,71 100,00
Papua Barat 45,81 0,00 43,89 10,30 100,00
Papua 44,44 0,57 44,19 10,80 100,00

Indonesia 35,80 0,21 50,16 13,83 100,00

Sumber: BPS – Sakernas Agustus 2018

174
Tabel 5.1.5 Persentase Penduduk Lanjut Usia Menurut Provinsi dan Jenis
Kegiatan dalam Seminggu Terakhir, 2018
Perkotaan+Perdesaan, Laki-laki+Perempuan
Jenis Kegiatan dalam Seminggu Terakhir
Provinsi Pengang- Mengurus Total
Bekerja Lainnya
guran Rumah Tangga
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 44,93 0,14 33,40 21,53 100,00
Sumatera Utara 52,06 0,28 29,96 17,70 100,00
Sumatera Barat 49,27 0,32 33,24 17,17 100,00
Riau 44,59 0,20 35,25 19,96 100,00
Jambi 49,58 0,02 33,16 17,24 100,00

id
Sumatera Selatan 49,87 0,26 31,32 18,55 100,00
Bengkulu 55,35 0,10 26,90 17,65 100,00

.
go
Lampung 54,26 0,24 30,64 14,86 100,00
Kep. Bangka Belitung 44,37 0,21 s. 40,64 14,78 100,00
Kepulauan Riau 34,99 0,14 43,32 21,55 100,00
p
DKI Jakarta 27,73 0,33 43,99 27,95 100,00
.b

Jawa Barat 43,80 0,23 39,84 16,13 100,00


w

Jawa Tengah 52,71 0,44 30,86 15,99 100,00


w

DI Yogyakarta 59,82 0,13 28,10 11,95 100,00


//w

Jawa Timur 55,70 0,40 29,74 14,16 100,00


Banten 42,04 0,68 37,12 20,16 100,00
s:

Bali 57,87 0,00 31,96 10,17 100,00


Nusa Tenggara Barat 49,36 0,00 31,39 19,25 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 59,52 0,15 24,55 15,78 100,00


ht

Kalimantan Barat 47,50 0,20 32,52 19,78 100,00


Kalimantan Tengah 48,85 0,00 36,42 14,73 100,00
Kalimantan Selatan 51,80 0,31 33,49 14,40 100,00
Kalimantan Timur 44,43 0,00 34,18 21,39 100,00
Kalimantan Utara 44,92 0,29 37,44 17,35 100,00
Sulawesi Utara 45,74 0,55 35,01 18,70 100,00
Sulawesi Tengah 55,62 0,27 29,94 14,17 100,00
Sulawesi Selatan 41,40 0,17 38,59 19,84 100,00
Sulawesi Tenggara 53,46 0,11 27,58 18,85 100,00
Gorontalo 48,97 0,16 33,60 17,27 100,00
Sulawesi Barat 53,82 0,00 31,73 14,45 100,00
Maluku 49,67 0,12 28,14 22,07 100,00
Maluku Utara 50,98 0,41 30,11 18,50 100,00
Papua Barat 56,35 0,28 28,45 14,92 100,00
Papua 54,70 0,41 27,69 17,20 100,00

Indonesia 49,79 0,31 33,30 16,60 100,00

Sumber: BPS – Sakernas Agustus 2018

175
Tabel 5.2 Persentase Penduduk Lanjut Usia Bekerja Menurut Provinsi dan
Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2018

Jenis Kegiatan dalam Seminggu Terakhir


Provinsi Tidak Tamat Total
Tamat SD Tamat SD Tamat SM Tamat PT
SMP
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 33,72 37,63 14,89 11,20 2,55 100,00
Sumatera Utara 31,51 36,24 16,66 12,17 3,43 100,00
Sumatera Barat 45,72 28,13 13,14 9,61 3,39 100,00
Riau 46,04 29,08 13,71 8,48 2,68 100,00
Jambi 43,78 37,79 9,33 5,54 3,55 100,00

id
Sumatera Selatan 47,46 37,12 7,29 6,10 2,02 100,00
Bengkulu 46,57 33,33 8,05 8,26 3,79 100,00

.
go
Lampung 51,39 34,38 8,59 4,44 1,20 100,00
Kep. Bangka Belitung 48,87 31,18 8,79
s. 9,63 1,53 100,00
Kepulauan Riau 48,88 27,79 14,48 5,29 3,56 100,00
p
DKI Jakarta 18,24 29,59 18,05 17,30 16,81 100,00
.b

Jawa Barat 36,75 45,02 6,45 8,00 3,78 100,00


w

Jawa Tengah 52,60 31,92 7,03 6,12 2,33 100,00


w

DI Yogyakarta 44,51 27,70 12,94 9,45 5,40 100,00


//w

Jawa Timur 53,35 31,85 7,23 5,30 2,28 100,00


Banten 46,93 32,60 6,59 8,10 5,78 100,00
s:

Bali 57,56 26,85 4,80 6,86 3,93 100,00


Nusa Tenggara Barat 76,05 15,09 3,03 3,91 1,92 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 56,14 29,86 6,13 5,45 2,41 100,00


ht

Kalimantan Barat 63,12 21,84 7,36 5,04 2,65 100,00


Kalimantan Tengah 43,60 36,56 7,53 10,15 2,17 100,00
Kalimantan Selatan 50,01 32,22 9,38 5,98 2,40 100,00
Kalimantan Timur 38,90 32,77 10,88 11,03 6,42 100,00
Kalimantan Utara 50,20 20,38 16,29 6,64 6,49 100,00
Sulawesi Utara 29,36 29,19 21,86 14,72 4,88 100,00
Sulawesi Tengah 35,10 43,40 10,72 7,95 2,83 100,00
Sulawesi Selatan 59,11 22,79 6,99 7,85 3,25 100,00
Sulawesi Tenggara 52,22 26,79 7,23 9,57 4,19 100,00
Gorontalo 52,63 33,07 6,51 5,97 1,82 100,00
Sulawesi Barat 58,96 24,36 5,15 6,94 4,58 100,00
Maluku 21,66 46,76 14,64 13,55 3,40 100,00
Maluku Utara 39,32 35,15 15,67 6,19 3,67 100,00
Papua Barat 52,02 23,19 13,75 8,15 2,89 100,00
Papua 46,04 24,71 9,33 12,61 7,32 100,00

Indonesia 47,59 33,50 8,43 7,26 3,22 100,00

Sumber: BPS – Sakernas Agustus 2018

176
Tabel 5.3 Persentase Penduduk Lanjut Usia Bekerja Menurut Provinsi dan
Lapangan Pekerjaan Utama, 2018

Lapangan Pekerjaan Utama


Provinsi Total
Pertanian Industri Jasa
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 59,57 12,21 28,22 100,00
Sumatera Utara 57,45 9,71 32,84 100,00
Sumatera Barat 59,54 11,76 28,70 100,00
Riau 63,92 9,38 26,69 100,00
Jambi 67,87 7,04 25,09 100,00
Sumatera Selatan 63,18 10,33 26,48 100,00
Bengkulu 70,82 10,15 19,03 100,00
Lampung 66,36 10,55 23,09 100,00

id
Kep. Bangka Belitung 53,98 17,12 28,89 100,00

.
go
Kepulauan Riau 28,58 24,74 46,68 100,00
DKI Jakarta 0,80 18,34
s. 80,86
Jawa Barat 41,58 17,00 41,42 100,00
p
Jawa Tengah 53,64 17,90 28,46 100,00
.b

DI Yogyakarta 57,38 17,02 25,59 100,00


w

Jawa Timur 58,26 13,58 28,17 100,00


w

Banten 41,53 15,43 43,04 100,00


Bali 45,86 24,02 30,12 100,00
//w

Nusa Tenggara Barat 58,13 15,89 25,98


s:

Nusa Tenggara Timur 75,75 15,00 9,26 100,00


Kalimantan Barat 68,91 11,44 19,66 100,00
tp

Kalimantan Tengah 65,98 11,25 22,77 100,00


ht

Kalimantan Selatan 57,20 11,48 31,32


Kalimantan Timur 43,73 14,59 41,69 100,00
Kalimantan Utara 50,65 15,34 34,01 100,00
Sulawesi Utara 44,99 17,16 37,85 100,00
Sulawesi Tengah 65,06 12,00 22,94 100,00
Sulawesi Selatan 65,34 9,88 24,78 100,00
Sulawesi Tenggara 60,70 14,71 24,59
Gorontalo 49,02 17,79 33,19 100,00
Sulawesi Barat 71,72 8,73 19,55 100,00
Maluku 55,95 17,57 26,48 100,00
Maluku Utara 69,37 11,44 19,20 100,00
Papua Barat 54,05 12,38 33,58 100,00
Papua 70,23 4,37 25,39 100,00

Indonesia 54,23 14,77 31,01 100,00

Sumber: BPS – Sakernas Agustus 2018

177
Tabel 5.4 Persentase Penduduk Lanjut Usia Bekerja Menurut Provinsi dan
Status Pekerjaan Utama, 2018

Status Pekerjaan Utama


Pekerja
Provinsi Berusaha Berusaha Buruh/ Pekerja Keluarga/ Total
Dibantu
Sendiri Buruh Karyawan Bebas Tidak
Dibayar
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 32,70 42,73 8,89 7,58 8,10 100,00
Sumatera Utara 31,55 39,33 12,59 4,40 12,14 100,00
Sumatera Barat 30,38 42,76 5,67 8,34 12,84 100,00
Riau 39,18 35,53 10,13 6,44 8,73 100,00
Jambi 30,07 39,57 13,46 5,52 11,38 100,00

id
Sumatera Selatan 31,73 37,02 11,99 5,34 13,92 100,00

.
Bengkulu 27,75 44,63 5,23 6,58 15,81 100,00

go
Lampung 26,18 41,86 7,24 10,80 13,92 100,00
Kep. Bangka Belitung 33,18 30,30 18,12 7,87
s. 10,53 100,00
Kepulauan Riau 55,47 20,53 18,65 0,86 4,50 100,00
p
.b

DKI Jakarta 34,79 26,22 28,65 3,72 6,61 100,00


Jawa Barat 31,15 33,76 13,68 16,06 5,35 100,00
w

Jawa Tengah 25,34 40,39 8,82 11,00 14,46 100,00


w

DI Yogyakarta 23,30 43,06 8,69 6,39 18,56 100,00


//w

Jawa Timur 22,96 40,25 9,94 12,49 14,35 100,00


Banten 31,27 29,16 18,52 11,15 9,91 100,00
s:

Bali 24,25 42,55 8,13 7,81 17,26 100,00


tp

Nusa Tenggara Barat 28,60 46,39 4,51 9,03 11,48 100,00


ht

Nusa Tenggara Timur 23,54 55,04 2,49 1,93 17,00 100,00


Kalimantan Barat 30,59 41,59 9,89 3,53 14,40 100,00
Kalimantan Tengah 39,28 35,89 12,46 3,96 8,40 100,00
Kalimantan Selatan 35,80 35,29 10,88 4,71 13,32 100,00
Kalimantan Timur 38,14 34,26 16,04 3,47 8,10 100,00
Kalimantan Utara 36,04 30,32 21,53 2,21 9,90 100,00
Sulawesi Utara 42,52 26,31 15,00 7,17 9,01 100,00
Sulawesi Tengah 30,86 47,38 5,23 3,17 13,36 100,00
Sulawesi Selatan 33,96 43,98 6,16 3,86 12,03 100,00
Sulawesi Tenggara 33,57 45,16 4,24 1,81 15,21 100,00
Gorontalo 37,16 30,76 12,51 12,22 7,35 100,00
Sulawesi Barat 29,53 46,31 5,33 3,03 15,81 100,00
Maluku 39,11 33,66 9,58 1,80 15,85 100,00
Maluku Utara 28,06 51,56 4,32 1,99 14,07 100,00
Papua Barat 36,72 39,29 11,15 0,26 12,58 100,00
Papua 29,95 45,42 11,28 0,86 12,49 100,00

Indonesia 28,16 39,07 10,54 9,97 12,26 100,00

Sumber: BPS – Sakernas Agustus 2018

178
Tabel 5.5 Persentase Penduduk Lanjut Usia yang Termasuk Precarious Work
Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2018

Tipe Daerah
Provinsi Total
Perkotaan Perdesaan
(1) (2) (3) (4)
Aceh 7,83 7,49 7,58
Sumatera Utara 4,30 4,48 4,40
Sumatera Barat 7,97 8,59 8,34
Riau 7,64 5,96 6,44
Jambi 5,25 5,61 5,52
Sumatera Selatan 7,81 4,47 5,34
Bengkulu 7,48 6,31 6,58

id
Lampung 9,72 11,12 10,80

.
go
Kep. Bangka Belitung 4,20 10,94 7,87
Kepulauan Riau 0,74 s. 1,18 0,86
DKI Jakarta 3,72 3,72
p
Jawa Barat 12,69 22,63 16,06
.b

Jawa Tengah 10,14 11,61 11,00


w

DI Yogyakarta 7,02 5,56 6,39


w

Jawa Timur 12,68 12,35 12,49


Banten 6,79 17,17 11,15
//w

Bali 8,60 6,85 7,81


s:

Nusa Tenggara Barat 8,91 9,11 9,03


Nusa Tenggara Timur 1,50 2,01 1,93
tp

Kalimantan Barat 3,44 3,56 3,53


ht

Kalimantan Tengah 4,47 3,74 3,96


Kalimantan Selatan 5,28 4,43 4,71
Kalimantan Timur 4,93 1,87 3,47
Kalimantan Utara 0,00 4,50 2,21
Sulawesi Utara 4,81 9,25 7,17
Sulawesi Tengah 1,41 3,73 3,17
Sulawesi Selatan 3,56 3,98 3,86
Sulawesi Tenggara 1,85 1,80 1,81
Gorontalo 9,83 13,57 12,22
Sulawesi Barat 2,59 3,12 3,03
Maluku 1,18 2,13 1,80
Maluku Utara 2,46 1,88 1,99
Papua Barat 0,86 0,00 0,26
Papua 2,77 0,09 0,86

Indonesia 9,66 10,22 9,97

Sumber: BPS – Sakernas Agustus 2018

179
Tabel 5.6 Persentase Penduduk Lanjut Usia yang Termasuk Vulnerable
Employment Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2018

Tipe Daerah
Provinsi Total
Perkotaan Perdesaan
(1) (2) (3) (4)
Aceh 49,81 47,89 48,37
Sumatera Utara 49,10 47,31 48,09
Sumatera Barat 51,77 51,43 51,57
Riau 52,72 55,00 54,35
Jambi 47,01 46,95 46,97
Sumatera Selatan 52,70 50,38 50,99
Bengkulu 53,09 49,26 50,13

id
Lampung 51,48 50,74 50,91

.
go
Kep. Bangka Belitung 45,99 56,25 51,57
Kepulauan Riau 57,61 s. 69,49 60,82
DKI Jakarta 45,12 - 45,12
p
Jawa Barat 51,93 53,80 52,56
.b

Jawa Tengah 52,08 49,89 50,80


w

DI Yogyakarta 47,90 48,73 48,25


w

Jawa Timur 50,79 49,05 49,81


Banten 53,12 51,23 52,33
//w

Bali 51,25 46,95 49,32


s:

Nusa Tenggara Barat 51,86 47,14 49,11


Nusa Tenggara Timur 52,47 40,73 42,47
tp

Kalimantan Barat 48,74 48,43 48,52


ht

Kalimantan Tengah 52,21 51,41 51,65


Kalimantan Selatan 55,87 52,79 53,83
Kalimantan Timur 54,26 44,72 49,70
Kalimantan Utara 44,56 51,87 48,15
Sulawesi Utara 56,91 60,27 58,69
Sulawesi Tengah 46,51 47,66 47,38
Sulawesi Selatan 52,99 48,64 49,86
Sulawesi Tenggara 48,66 51,18 50,60
Gorontalo 45,57 63,06 56,73
Sulawesi Barat 65,47 44,82 48,36
Maluku 57,77 56,20 56,76
Maluku Utara 51,04 42,60 44,12
Papua Barat 48,11 50,17 49,55
Papua 47,76 41,48 43,30

Indonesia 51,21 49,72 50,39

Sumber: BPS – Sakernas Agustus 2018

180
Tabel 5.7 Rata-rata dan Persentase Jumlah Jam Kerja dalam Seminggu dari
Penduduk Lansia Bekerja Menurut Provinsi, 2018

Rata-rata Jumlah Jam Kerja dalam Seminggu


Provinsi Jumlah Total
Jam Kerja 0 jam 1-14 15-34 35-48 49 jam
jam jam jam atau lebih
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8))
Aceh 30,57 4,98 15,67 37,13 28,42 13,81 100,00
Sumatera Utara 30,83 4,13 16,49 39,89 23,60 15,88 100,00
Sumatera Barat 30,58 3,72 19,11 36,25 24,55 16,37 100,00
Riau 28,38 3,33 21,78 38,63 23,72 12,55 100,00
Jambi 30,71 3,02 14,71 40,74 27,33 14,20 100,00
Sumatera Selatan 31,39 2,84 12,73 41,05 29,43 13,95 100,00

id
Bengkulu 28,97 4,53 16,13 40,68 28,50 10,16 100,00

.
Lampung 30,11 3,34 18,91 36,04 27,28 14,43 100,00

go
Kep. Bangka Belitung 32,70 4,77 11,67 36,15 31,48 15,94 100,00
Kepulauan Riau 35,72 4,06 15,99 23,00
s. 32,09 24,86 100,00
DKI Jakarta 42,60 0,40 10,21 23,33 30,31 35,76 100,00
p
Jawa Barat 36,03 4,12 10,06 32,53 29,64 23,65 100,00
.b

Jawa Tengah 31,88 4,33 14,55 36,19 27,35 17,59 100,00


w

DI Yogyakarta 29,01 3,36 22,63 34,84 25,68 13,49 100,00


w

Jawa Timur 32,02 2,45 15,71 38,75 25,54 17,55 100,00


//w

Banten 35,74 3,93 8,61 31,07 35,26 21,13 100,00


Bali 33,11 2,63 15,04 38,19 24,77 19,37 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 26,13 13,07 20,70 33,36 19,64 13,23 100,00
tp

Nusa Tenggara Timur 27,06 2,51 20,38 47,29 23,23 6,60 100,00
Kalimantan Barat 29,17 2,32 14,01 49,64 22,96 11,07 100,00
ht

Kalimantan Tengah 32,37 4,16 14,36 40,03 21,75 19,70 100,00


Kalimantan Selatan 30,32 4,78 16,56 35,95 29,06 13,66 100,00
Kalimantan Timur 37,62 4,34 11,27 27,21 29,15 28,03 100,00
Kalimantan Utara 36,08 4,29 10,88 31,41 26,58 26,84 100,00
Sulawesi Utara 35,20 3,62 11,13 31,66 35,17 18,42 100,00
Sulawesi Tengah 28,21 5,51 18,35 43,18 21,58 11,39 100,00
Sulawesi Selatan 29,42 4,02 20,58 39,57 19,98 15,85 100,00
Sulawesi Tenggara 29,98 8,88 17,96 32,70 23,00 17,46 100,00
Gorontalo 34,44 5,60 13,50 30,19 25,94 24,77 100,00
Sulawesi Barat 26,08 4,07 27,15 40,04 17,56 11,18 100,00
Maluku 36,47 2,81 8,32 34,60 29,60 24,67 100,00
Maluku Utara 33,12 4,93 13,80 32,26 32,76 16,26 100,00
Papua Barat 33,93 5,96 8,28 35,87 30,14 19,76 100,00
Papua 31,83 2,77 12,61 42,55 29,26 12,80 100,00

Indonesia 32,31 3,73 14,88 36,64 26,79 17,96 100,00

Sumber: BPS – Sakernas Agustus 2018

181
Tabel 5.8 Rata-rata dan Persentase Pendapatan/Upah/Gaji dari Penduduk
Lansia Bekerja Menurut Provinsi, 2018

Rata-rata Pendapatan/Upah/Gaji (Rupiah)


Jumlah
Provinsi Pendapatan/ Kurang 1.000.000 2.000.000 Lebih Total
Upah/Gaji dari s.d. s.d. dari
(000 rupiah) 1.000.000 1.999.999 2.999.999 3.000.000
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 1.597,94 46,82 23,35 14,69 15,13 100,00
Sumatera Utara 1.819,71 42,08 23,68 19,75 14,48 100,00
Sumatera Barat 1.860,11 31,84 27,13 24,36 16,66 100,00
Riau 1.980,36 21,95 32,06 24,05 21,95 100,00
Jambi 1.681,38 27,21 43,31 9,78 19,70 100,00

id
Sumatera Selatan 1.846,20 39,44 25,60 18,13 16,83 100,00

.
Bengkulu 1.786,67 54,17 31,42 11,25 3,16 100,00

go
Lampung 1.676,37 35,43 47,20 5,23 12,14 100,00
Kep. Bangka Belitung 2.320,44 30,22 42,68
s. 12,06 15,03 100,00
Kepulauan Riau 3.243,70 26,15 47,72 14,13 12,01 100,00
p
DKI Jakarta 3.671,12 13,84 19,81 16,75 49,59 100,00
.b

Jawa Barat 2.723,05 31,05 26,95 15,81 26,19 100,00


w

Jawa Tengah 1.720,72 37,99 34,37 16,10 11,54 100,00


w

DI Yogyakarta 1.699,12 39,45 43,30 9,27 7,98 100,00


//w

Jawa Timur 1.986,08 38,62 34,21 13,24 13,94 100,00


Banten 3.142,54 20,61 21,01 10,62 47,77 100,00
s:

Bali 2.424,57 35,36 29,83 18,16 16,64 100,00


tp

Nusa Tenggara Barat 1.476,37 66,17 20,30 2,06 11,48 100,00


Nusa Tenggara Timur 1.342,86 45,74 29,02 5,94 19,30 100,00
ht

Kalimantan Barat 1.929,58 28,98 30,19 21,72 19,11 100,00


Kalimantan Tengah 2.200,96 27,44 29,19 22,01 21,37 100,00
Kalimantan Selatan 2.057,02 33,90 36,45 8,15 21,51 100,00
Kalimantan Timur 2.897,18 18,34 23,59 27,60 30,48 100,00
Kalimantan Utara 2.438,09 8,18 30,46 43,63 17,72 100,00
Sulawesi Utara 2.416,41 14,25 28,03 31,65 26,07 100,00
Sulawesi Tengah 1.593,19 48,59 30,91 13,86 6,64 100,00
Sulawesi Selatan 1.954,01 31,76 27,58 19,73 20,94 100,00
Sulawesi Tenggara 1.625,31 46,80 25,71 8,50 18,98 100,00
Gorontalo 1.481,77 58,46 23,91 14,36 3,26 100,00
Sulawesi Barat 1.313,18 44,01 34,36 10,51 11,13 100,00
Maluku 1.779,79 25,66 26,48 26,10 21,76 100,00
Maluku Utara 1.843,11 49,61 1,90 15,91 32,58 100,00
Papua Barat 2.539,30 12,69 25,01 27,03 35,27 100,00
Papua 3.319,31 7,49 23,37 16,36 52,77 100,00

Indonesia 2.269,11 33,69 30,27 15,56 20,48 100,00

Sumber: BPS – Sakernas Agustus 2018

182
Tabel 5.9 Persentase Penduduk Lanjut Usia yang Bekerja sebagai Buruh dan
Memperoleh Upah Rendah, 2018
Perkotaan+Perdesaan, Laki-laki+Perempuan
Tipe Daerah Jenis Kelamin
Provinsi Total
Perkotaan Perdesaan Laki-laki Perempuan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 40,31 63,94 46,59 85,16 53,89
Sumatera Utara 47,21 65,93 41,84 84,36 52,79
Sumatera Barat 48,48 39,30 35,33 70,96 45,91
Riau 41,02 41,58 39,01 51,19 41,31
Jambi 36,29 53,89 46,37 54,81 47,86
Sumatera Selatan 51,60 61,13 44,36 85,03 56,34

id
Bengkulu 75,31 57,49 50,10 87,54 64,67

.
go
Lampung 63,20 59,38 51,43 89,21 61,47
Kep. Bangka Belitung 48,79 59,78 s. 46,54 63,76 52,78
Kepulauan Riau 38,25 48,83 28,66 83,75 39,87
p
DKI Jakarta 21,14 - 17,50 35,37 21,14
.b

Jawa Barat 41,08 58,50 37,75 61,94 43,42


Jawa Tengah 56,53 62,26 45,27 85,23 58,28
w

DI Yogyakarta 66,37 75,36 53,02 97,30 68,37


w

Jawa Timur 53,88 69,51 46,31 81,65 58,32


//w

Banten 27,63 59,55 26,73 55,69 32,21


Bali 45,55 68,33 32,08 80,61 51,05
s:

Nusa Tenggara Barat 67,14 74,99 51,45 100,00 69,73


tp

Nusa Tenggara Timur 46,78 73,74 60,46 59,83 60,28


ht

Kalimantan Barat 49,14 47,72 46,93 55,39 48,46


Kalimantan Tengah 37,02 39,48 28,83 95,22 38,35
Kalimantan Selatan 43,56 56,84 34,04 80,36 49,26
Kalimantan Timur 33,66 34,99 33,67 35,45 34,02
Kalimantan Utara 7,91 46,07 17,84 100,00 22,12
Sulawesi Utara 23,49 37,01 17,96 55,23 28,00
Sulawesi Tengah 68,79 84,64 70,45 80,19 73,90
Sulawesi Selatan 35,56 64,03 35,94 75,14 45,80
Sulawesi Tenggara 34,51 75,58 58,35 100,00 63,22
Gorontalo 67,64 56,49 42,15 86,76 64,14
Sulawesi Barat 83,60 74,58 72,16 100,00 78,37
Maluku 49,04 51,86 41,76 85,65 50,32
Maluku Utara 35,56 61,04 37,25 100,00 51,51
Papua Barat 26,89 17,17 16,55 61,89 20,68
Papua 9,18 25,89 17,17 26,94 17,72

Indonesia 45,73 60,93 40,00 75,62 49,88

Sumber: BPS – Sakernas Agustus 2018

183
Tabel 6.1.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
Kepemilikan Tempat Tinggal, 2018
Perkotaan
Jenis Jaminan Sosial
Provinsi Kontrak/ Total
Milik Sendiri Bebas Sewa Lainnya
Sewa
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 90,57 3,52 5,26 0,64 100,00
Sumatera Utara 80,93 7,60 9,51 1,96 100,00
Sumatera Barat 84,19 6,28 9,34 0,20 100,00
Riau 83,35 10,33 6,05 0,27 100,00
Jambi 90,25 5,53 3,66 0,56 100,00
Sumatera Selatan 86,04 6,50 6,10 1,36 100,00

id
Bengkulu 91,11 4,35 4,55 0,00 100,00

.
go
Lampung 92,02 3,62 3,59 0,77 100,00
Kep. Bangka Belitung 91,95 2,18 s. 5,67 0,20 100,00
Kepulauan Riau 85,61 9,59 4,68 0,12 100,00
p
DKI Jakarta 82,64 9,32 7,04 1,00 100,00
.b

Jawa Barat 89,94 3,18 6,36 0,52 100,00


w

Jawa Tengah 92,25 ,96 6,38 0,41 100,00


DI Yogyakarta 93,03 2,50 4,36 0,12 100,00
w

Jawa Timur 92,43 2,26 4,77 0,54 100,00


//w

Banten 92,98 3,48 2,63 0,90 100,00


Bali 92,28 3,39 4,27 0,05 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 92,03 0,55 7,20 0,22 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 94,72 2,53 2,66 0,09 100,00


ht

Kalimantan Barat 91,23 1,99 6,60 0,18 100,00


Kalimantan Tengah 89,76 1,92 5,09 3,23 100,00
Kalimantan Selatan 84,72 6,96 8,22 0,10 100,00
Kalimantan Timur 89,00 6,00 4,83 0,17 100,00
Kalimantan Utara 82,45 7,45 9,29 0,80 100,00
Sulawesi Utara 86,84 1,91 10,98 0,27 100,00
Sulawesi Tengah 87,93 2,19 7,17 2,71 100,00
Sulawesi Selatan 90,48 3,29 5,00 1,24 100,00
Sulawesi Tenggara 88,87 0,69 10,44 0,00 100,00
Gorontalo 86,61 0,00 13,39 0,00 100,00
Sulawesi Barat 93,10 3,88 2,23 0,79 100,00
Maluku 94,75 1,56 2,67 1,02 100,00
Maluku Utara 92,84 4,37 2,79 0,00 100,00
Papua Barat 80,44 5,97 8,25 5,35 100,00
Papua 76,42 11,98 5,94 5,66 100,00

Indonesia 89,92 3,47 5,97 0,64 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

184
Tabel 6.1.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
Kepemilikan Tempat Tinggal, 2018
Perdesaan
Jenis Jaminan Sosial
Provinsi Kontrak/ Total
Milik Sendiri Bebas Sewa Lainnya
Sewa
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 95,18 0,50 4,27 0,05 100,00
Sumatera Utara 90,98 1,23 7,23 0,55 100,00
Sumatera Barat 90,59 0,77 8,55 0,09 100,00
Riau 95,18 0,52 3,21 1,09 100,00
Jambi 95,71 0,35 3,61 0,33 100,00
Sumatera Selatan 93,57 0,72 5,45 0,26 100,00

id
Bengkulu 95,82 0,49 3,35 0,34 100,00

.
go
Lampung 96,19 0,20 3,49 0,13 100,00
Kep. Bangka Belitung 95,40 0,35 s. 4,25 0,00 100,00
Kepulauan Riau 98,37 0,00 0,90 0,72 100,00
p
DKI Jakarta - - - - -
.b

Jawa Barat 94,10 0,57 5,05 0,28 100,00


w

Jawa Tengah 96,04 0,07 3,76 0,13 100,00


DI Yogyakarta 96,93 0,06 2,59 0,42 100,00
w

Jawa Timur 96,70 0,26 2,90 0,15 100,00


//w

Banten 96,43 0,40 3,18 0,00 100,00


Bali 94,89 0,03 5,07 0,00 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 93,29 0,22 6,24 0,25 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 96,06 0,03 3,46 0,45 100,00


ht

Kalimantan Barat 97,41 0,14 2,11 0,34 100,00


Kalimantan Tengah 93,85 0,04 4,91 1,21 100,00
Kalimantan Selatan 94,71 0,92 4,09 0,28 100,00
Kalimantan Timur 97,12 0,48 2,31 0,08 100,00
Kalimantan Utara 93,93 0,00 6,07 0,00 100,00
Sulawesi Utara 93,40 0,41 5,72 0,46 100,00
Sulawesi Tengah 96,25 0,11 3,34 0,29 100,00
Sulawesi Selatan 95,41 0,14 4,35 0,09 100,00
Sulawesi Tenggara 96,50 0,26 3,24 0,00 100,00
Gorontalo 90,52 0,00 9,48 0,00 100,00
Sulawesi Barat 96,30 0,00 3,40 0,30 100,00
Maluku 93,75 0,44 5,56 0,25 100,00
Maluku Utara 96,95 0,17 2,69 0,19 100,00
Papua Barat 94,57 1,01 3,34 1,08 100,00
Papua 95,44 0,37 3,42 0,78 100,00

Indonesia 95,33 0,33 4,11 0,23 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

185
Tabel 6.1.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
Kepemilikan Tempat Tinggal, 2018
Laki-laki
Jenis Jaminan Sosial
Provinsi Kontrak/ Total
Milik Sendiri Bebas Sewa Lainnya
Sewa
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 94,01 1,80 4,06 0,13 100,00
Sumatera Utara 84,57 5,96 8,17 1,30 100,00
Sumatera Barat 87,74 3,22 8,82 0,23 100,00
Riau 89,64 5,16 4,48 0,73 100,00
Jambi 95,07 1,83 2,82 0,29 100,00
Sumatera Selatan 91,48 3,07 4,97 0,49 100,00

id
Bengkulu 95,77 1,53 2,46 0,24 100,00

.
go
Lampung 95,37 1,21 3,18 0,23 100,00
Kep. Bangka Belitung 95,49 1,22 s. 3,07 0,22 100,00
Kepulauan Riau 91,69 4,60 3,38 0,32 100,00
p
DKI Jakarta 82,73 9,87 6,45 0,95 100,00
.b

Jawa Barat 92,47 2,54 4,58 0,40 100,00


w

Jawa Tengah 95,59 0,60 3,69 0,12 100,00


DI Yogyakarta 95,02 0,85 3,85 0,28 100,00
w

Jawa Timur 95,00 1,23 3,41 0,36 100,00


//w

Banten 94,51 2,85 2,00 0,65 100,00


Bali 94,08 2,22 3,69 0,01 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 94,14 0,65 5,04 0,16 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 96,46 0,51 2,59 0,44 100,00


ht

Kalimantan Barat 95,59 0,87 3,23 0,31 100,00


Kalimantan Tengah 93,56 0,65 3,77 2,02 100,00
Kalimantan Selatan 91,82 3,68 4,22 0,28 100,00
Kalimantan Timur 92,01 4,55 3,30 0,14 100,00
Kalimantan Utara 90,64 2,38 6,64 0,34 100,00
Sulawesi Utara 90,77 1,40 7,35 0,48 100,00
Sulawesi Tengah 96,69 0,40 2,03 0,88 100,00
Sulawesi Selatan 93,79 1,42 4,22 0,57 100,00
Sulawesi Tenggara 94,45 0,39 5,17 0,00 100,00
Gorontalo 90,92 0,00 9,08 0,00 100,00
Sulawesi Barat 96,31 1,20 1,86 0,64 100,00
Maluku 94,53 0,92 4,13 0,42 100,00
Maluku Utara 96,01 1,14 2,85 0,00 100,00
Papua Barat 88,16 2,84 5,26 3,74 100,00
Papua 88,34 5,82 3,22 2,62 100,00

Indonesia 93,24 2,13 4,21 0,42 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

186
Tabel 6.1.4 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
Kepemilikan Tempat Tinggal, 2018
Perempuan
Jenis Jaminan Sosial
Provinsi Kontrak/ Total
Milik Sendiri Bebas Sewa Lainnya
Sewa
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 93,71 1,01 4,98 0,30 100,00
Sumatera Utara 86,82 3,30 8,61 1,26 100,00
Sumatera Barat 88,16 2,86 8,92 0,05 100,00
Riau 91,53 3,51 4,15 0,81 100,00
Jambi 92,86 2,18 4,44 0,52 100,00
Sumatera Selatan 90,21 2,59 6,37 0,82 100,00

id
Bengkulu 93,22 1,60 4,93 0,25 100,00

.
go
Lampung 94,74 1,03 3,86 0,37 100,00
Kep. Bangka Belitung 91,51 1,51 s. 6,98 0,00 100,00
Kepulauan Riau 85,55 10,04 4,21 0,20 100,00
p
DKI Jakarta 82,55 8,81 7,58 1,06 100,00
.b

Jawa Barat 90,09 2,19 7,24 0,49 100,00


w

Jawa Tengah 92,95 0,43 6,23 0,39 100,00


DI Yogyakarta 93,89 2,28 3,64 0,18 100,00
w

Jawa Timur 94,30 1,23 4,16 0,32 100,00


//w

Banten 93,88 1,96 3,64 0,52 100,00


Bali 92,73 1,81 5,41 0,05 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 91,47 0,12 8,11 0,30 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 95,20 0,55 3,93 0,31 100,00


ht

Kalimantan Barat 94,89 0,71 4,14 0,26 100,00


Kalimantan Tengah 91,01 0,83 6,28 1,88 100,00
Kalimantan Selatan 88,90 3,52 7,45 0,13 100,00
Kalimantan Timur 91,71 3,47 4,68 0,14 100,00
Kalimantan Utara 83,92 6,20 9,31 0,57 100,00
Sulawesi Utara 89,78 0,88 9,06 0,28 100,00
Sulawesi Tengah 91,58 0,88 6,60 0,94 100,00
Sulawesi Selatan 93,46 1,19 4,88 0,47 100,00
Sulawesi Tenggara 93,24 0,44 6,32 0,00 100,00
Gorontalo 87,37 0,00 12,63 0,00 100,00
Sulawesi Barat 94,76 0,79 4,20 0,24 100,00
Maluku 93,80 0,86 4,64 0,70 100,00
Maluku Utara 95,72 1,40 2,59 0,28 100,00
Papua Barat 89,95 3,12 5,30 1,63 100,00
Papua 87,09 3,97 6,05 2,89 100,00

Indonesia 91,90 1,78 5,85 0,46 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

187
Tabel 6.1.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status
Kepemilikan Tempat Tinggal, 2018
Laki-laki + Perempuan di Perkotaan + Perdesaan
Jenis Jaminan Sosial
Provinsi Kontrak/ Total
Milik Sendiri Bebas Sewa Lainnya
Sewa
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 93,85 1,38 4,55 0,22 100,00
Sumatera Utara 85,79 4,52 8,41 1,28 100,00
Sumatera Barat 87,97 3,02 8,87 0,13 100,00
Riau 90,57 4,35 4,31 0,77 100,00
Jambi 93,97 2,00 3,62 0,40 100,00
Sumatera Selatan 90,83 2,82 5,69 0,66 100,00

id
Bengkulu 94,51 1,57 3,68 0,24 100,00

.
go
Lampung 95,06 1,12 3,52 0,30 100,00
Kep. Bangka Belitung 93,49 1,37 s. 5,04 0,11 100,00
Kepulauan Riau 88,58 7,36 3,80 0,26 100,00
p
DKI Jakarta 82,64 9,32 7,04 1,00 100,00
.b

Jawa Barat 91,25 2,36 5,94 0,45 100,00


w

Jawa Tengah 94,19 0,51 5,04 0,26 100,00


DI Yogyakarta 94,40 1,63 3,74 0,23 100,00
w

Jawa Timur 94,62 1,23 3,81 0,34 100,00


//w

Banten 94,19 2,40 2,82 0,59 100,00


Bali 93,36 2,00 4,60 0,03 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 92,72 0,37 6,68 0,24 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 95,79 0,53 3,30 0,37 100,00


ht

Kalimantan Barat 95,24 0,79 3,69 0,29 100,00


Kalimantan Tengah 92,33 0,74 4,97 1,96 100,00
Kalimantan Selatan 90,29 3,59 5,92 0,20 100,00
Kalimantan Timur 91,87 4,05 3,94 0,14 100,00
Kalimantan Utara 87,59 4,11 7,85 0,44 100,00
Sulawesi Utara 90,25 1,13 8,24 0,37 100,00
Sulawesi Tengah 94,12 0,64 4,32 0,91 100,00
Sulawesi Selatan 93,60 1,29 4,59 0,51 100,00
Sulawesi Tenggara 93,82 0,41 5,77 0,00 100,00
Gorontalo 89,02 0,00 10,98 0,00 100,00
Sulawesi Barat 95,49 0,98 3,10 0,42 100,00
Maluku 94,15 0,89 4,39 0,56 100,00
Maluku Utara 95,87 1,27 2,72 0,14 100,00
Papua Barat 88,99 2,97 5,28 2,77 100,00
Papua 87,81 5,03 4,43 2,73 100,00

Indonesia 92,54 1,95 5,07 0,44 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

188
Tabel 6.2.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status Kelayakan
Tempat Tinggal, 2018
Perkotaan
Status Kelayakan Rumah Tempat Tinggal
Provinsi Total
TidakLayak Huni Hampir Tidak Rumah Layak
Layak Huni Huni
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 1,40 4,29 94,31 100,00
Sumatera Utara 0,87 3,29 95,84 100,00
Sumatera Barat 0,29 3,41 96,30 100,00
Riau 0,00 1,97 98,03 100,00
Jambi 0,27 2,16 97,58 100,00
Sumatera Selatan 0,52 3,12 96,36 100,00

id
Bengkulu 0,43 5,08 94,49 100,00

.
go
Lampung 0,76 3,82 95,42 100,00
Kep. Bangka Belitung 0,00 s. 1,32 98,68 100,00
Kepulauan Riau 0,00 1,09 98,91 100,00
p
DKI Jakarta 0,41 4,06 95,53 100,00
.b

Jawa Barat 2,58 10,00 87,42 100,00


w

Jawa Tengah 1,55 5,92 92,53 100,00


DI Yogyakarta 0,43 6,53 93,03 100,00
w

Jawa Timur 2,23 5,90 91,87 100,00


//w

Banten 0,74 4,73 94,53 100,00


Bali 0,96 2,22 96,82 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 2,97 11,10 85,93 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 5,11 8,23 86,66 100,00


ht

Kalimantan Barat 0,26 1,21 98,53 100,00


Kalimantan Tengah 0,13 1,93 97,95 100,00
Kalimantan Selatan 0,44 2,68 96,88 100,00
Kalimantan Timur 0,01 0,32 99,67 100,00
Kalimantan Utara 0,00 3,62 96,38 100,00
Sulawesi Utara 1,46 4,21 94,33 100,00
Sulawesi Tengah 1,96 2,82 95,22 100,00
Sulawesi Selatan 1,43 6,78 91,79 100,00
Sulawesi Tenggara 0,09 2,04 97,87 100,00
Gorontalo 1,95 12,32 85,73 100,00
Sulawesi Barat 2,26 11,79 85,94 100,00
Maluku 0,52 4,63 94,85 100,00
Maluku Utara 0,33 3,28 96,40 100,00
Papua Barat 0,00 5,23 94,77 100,00
Papua 0,47 7,33 92,20 100,00

Indonesia 1,62 6,18 92,20 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

189
Tabel 6.2.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status Kelayakan
Tempat Tinggal, 2018
Perdesaan
Status Kelayakan Rumah Tempat Tinggal
Provinsi Tidak Layak Hampir Tidak Rumah Layak Total
Huni Layak Huni Huni
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 3,63 15,57 80,80 100,00
Sumatera Utara 3,97 7,80 88,23 100,00
Sumatera Barat 1,72 8,63 89,65 100,00
Riau 1,07 6,55 92,38 100,00
Jambi 1,06 6,56 92,38 100,00
Sumatera Selatan 2,87 11,06 86,06 100,00

id
Bengkulu 1,80 10,39 87,82 100,00

.
go
Lampung 1,35 6,97 91,68 100,00
Kep. Bangka Belitung 0,00 2,44
s. 97,56 100,00
Kepulauan Riau 0,17 1,05 98,78 100,00
p
DKI Jakarta - - - -
.b

Jawa Barat 6,38 18,84 74,78 100,00


w

Jawa Tengah 3,47 11,90 84,62 100,00


DI Yogyakarta 2,66 5,70 91,64 100,00
w

Jawa Timur 5,55 13,23 81,22 100,00


//w

Banten 9,02 22,11 68,87 100,00


Bali 2,36 5,69 91,95 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 7,06 18,00 74,94 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 21,74 19,42 58,84 100,00


ht

Kalimantan Barat 3,19 9,03 87,78 100,00


Kalimantan Tengah 2,55 5,96 91,48 100,00
Kalimantan Selatan 0,60 8,32 91,08 100,00
Kalimantan Timur 0,00 2,71 97,29 100,00
Kalimantan Utara 0,73 1,94 97,33 100,00
Sulawesi Utara 3,25 8,30 88,45 100,00
Sulawesi Tengah 3,82 11,43 84,75 100,00
Sulawesi Selatan 2,35 10,36 87,29 100,00
Sulawesi Tenggara 2,58 6,85 90,57 100,00
Gorontalo 8,41 12,75 78,84 100,00
Sulawesi Barat 4,01 14,40 81,59 100,00
Maluku 6,97 13,67 79,36 100,00
Maluku Utara 5,84 16,27 77,90 100,00
Papua Barat 3,90 12,59 83,50 100,00
Papua 24,52 15,49 59,99 100,00

Indonesia 4,72 12,32 82,96 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

190
Tabel 6.2.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status Kelayakan
Tempat Tinggal, 2018
Laki-laki
Status Kelayakan Rumah Tempat Tinggal
Provinsi Tidak Layak Hampir Tidak Rumah Layak Total
Huni Layak Huni Huni
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 2,33 12,19 85,48 100,00
Sumatera Utara 2,29 4,95 92,75 100,00
Sumatera Barat 1,43 6,83 91,74 100,00
Riau 0,89 4,71 94,41 100,00
Jambi 0,63 5,12 94,25 100,00
Sumatera Selatan 2,11 7,50 90,39 100,00

id
Bengkulu 1,37 8,99 89,64 100,00

.
go
Lampung 0,58 5,66 93,76 100,00
Kep. Bangka Belitung 0,00 s. 1,75 98,24 100,00
Kepulauan Riau 0,00 0,74 99,26 100,00
p
DKI Jakarta 0,45 5,04 94,51 100,00
.b

Jawa Barat 3,32 12,34 84,34 100,00


w

Jawa Tengah 2,19 8,33 89,48 100,00


DI Yogyakarta 1,06 6,30 92,63 100,00
w

Jawa Timur 3,43 9,33 87,24 100,00


//w

Banten 3,04 9,17 87,79 100,00


Bali 1,65 4,13 94,22 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 4,02 13,25 82,73 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 17,90 16,32 65,78 100,00


ht

Kalimantan Barat 1,86 6,29 91,84 100,00


Kalimantan Tengah 1,85 4,98 93,17 100,00
Kalimantan Selatan 0,45 4,85 94,70 100,00
Kalimantan Timur 0,01 1,17 98,82 100,00
Kalimantan Utara 0,59 3,15 96,26 100,00
Sulawesi Utara 2,47 6,34 91,19 100,00
Sulawesi Tengah 3,22 9,91 86,87 100,00
Sulawesi Selatan 1,99 8,50 89,51 100,00
Sulawesi Tenggara 1,61 5,06 93,32 100,00
Gorontalo 5,90 14,01 80,08 100,00
Sulawesi Barat 4,01 11,57 84,42 100,00
Maluku 4,56 9,10 86,34 100,00
Maluku Utara 4,72 12,72 82,56 100,00
Papua Barat 2,81 9,03 88,16 100,00
Papua 17,80 11,11 71,09 100,00

Indonesia 2,82 8,75 88,43 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

191
Tabel 6.2.4 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status Kelayakan
Tempat Tinggal, 2018
Perempuan
Status Kelayakan Rumah Tempat Tinggal
Provinsi Tidak Layak Hampir Tidak Rumah Layak Total
Huni Layak Huni Huni
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 3,56 12,40 84,04 100,00
Sumatera Utara 2,43 5,91 91,66 100,00
Sumatera Barat 0,89 6,21 92,90 100,00
Riau 0,42 4,82 94,76 100,00
Jambi 0,99 5,19 93,82 100,00
Sumatera Selatan 1,93 8,82 89,25 100,00

id
Bengkulu 1,46 8,83 89,72 100,00

.
Lampung 1,82 6,60 91,58 100,00

go
Kep. Bangka Belitung 0,00 1,88 98,12 100,00
Kepulauan Riau 0,08
p s.
1,40 98,52 100,00
DKI Jakarta 0,38 3,15 96,47 100,00
.b

Jawa Barat 4,21 13,20 82,59 100,00


Jawa Tengah 2,83 9,55 87,62 100,00
w

DI Yogyakarta 1,35 6,19 92,46 100,00


w

Jawa Timur 4,37 9,94 85,69 100,00


//w

Banten 4,24 12,49 83,26 100,00


Bali 1,45 3,25 95,31 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 6,24 16,29 77,47 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 18,86 17,94 63,19 100,00


ht

Kalimantan Barat 2,45 6,28 91,27 100,00


Kalimantan Tengah 1,44 3,91 94,65 100,00
Kalimantan Selatan 0,60 6,70 92,70 100,00
Kalimantan Timur 0,00 1,16 98,84 100,00
Kalimantan Utara 0,02 2,53 97,46 100,00
Sulawesi Utara 2,32 6,33 91,35 100,00
Sulawesi Tengah 3,47 8,56 87,97 100,00
Sulawesi Selatan 2,03 9,47 88,50 100,00
Sulawesi Tenggara 1,79 5,25 92,96 100,00
Gorontalo 5,96 11,35 82,69 100,00
Sulawesi Barat 3,17 15,66 81,17 100,00
Maluku 4,20 10,86 84,94 100,00
Maluku Utara 4,05 13,00 82,95 100,00
Papua Barat 1,84 10,45 87,71 100,00
Papua 10,95 13,70 75,36 100,00

Indonesia 3,39 9,52 87,09 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

192
Tabel 6.2.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status Kelayakan
Tempat Tinggal, 2018
Laki-laki + Perempuan di Perkotaan + Perdesaan
Status Kelayakan Rumah Tempat Tinggal
Provinsi Tidak Layak Hampir Tidak Rumah Layak Total
Huni Layak Huni Huni
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 2,99 12,30 84,71 100,00
Sumatera Utara 2,37 5,47 92,16 100,00
Sumatera Barat 1,14 6,49 92,37 100,00
Riau 0,65 4,76 94,58 100,00
Jambi 0,81 5,15 94,04 100,00
Sumatera Selatan 2,02 8,18 89,81 100,00

id
Bengkulu 1,42 8,91 89,68 100,00

.
Lampung 1,19 6,12 92,69 100,00

go
Kep. Bangka Belitung 0,00 1,82 98,18 100,00
Kepulauan Riau 0,04
ps. 1,08 98,88 100,00
DKI Jakarta 0,41 4,06 95,53 100,00
.b

Jawa Barat 3,77 12,79 83,44 100,00


Jawa Tengah 2,53 8,98 88,49 100,00
w

DI Yogyakarta 1,22 6,24 92,54 100,00


w

Jawa Timur 3,93 9,66 86,41 100,00


//w

Banten 3,65 10,84 85,52 100,00


Bali 1,54 3,66 94,80 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 5,20 14,87 79,93 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 18,41 17,18 64,41 100,00


ht

Kalimantan Barat 2,16 6,29 91,56 100,00


Kalimantan Tengah 1,65 4,47 93,88 100,00
Kalimantan Selatan 0,53 5,82 93,65 100,00
Kalimantan Timur 0,00 1,16 98,83 100,00
Kalimantan Utara 0,33 2,87 96,80 100,00
Sulawesi Utara 2,39 6,34 91,27 100,00
Sulawesi Tengah 3,34 9,23 87,42 100,00
Sulawesi Selatan 2,01 9,05 88,94 100,00
Sulawesi Tenggara 1,71 5,16 93,13 100,00
Gorontalo 5,93 12,59 81,48 100,00
Sulawesi Barat 3,56 13,74 82,70 100,00
Maluku 4,37 10,02 85,61 100,00
Maluku Utara 4,39 12,86 82,75 100,00
Papua Barat 2,36 9,69 87,95 100,00
Papua 14,87 12,22 72,91 100,00

Indonesia 3,12 9,16 87,72 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

193
Tabel 6.3.1 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status Ekonomi
Rumah Tangga, 2018
Perkotaan
Status Ekonomi Rumah Tangga
Provinsi 40% Ekonomi 40% Ekonomi 20% Ekonomi Total
Terbawah Menengah Teratas
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 35,58 47,96 16,45 100,00
Sumatera Utara 34,90 44,98 20,11 100,00
Sumatera Barat 27,69 52,46 19,85 100,00
Riau 31,15 43,70 25,15 100,00
Jambi 34,10 43,58 22,32 100,00
Sumatera Selatan 38,24 40,93 20,84 100,00

id
Bengkulu 33,30 42,44 24,27 100,00

.
go
Lampung 44,88 41,78 13,34 100,00
Kep. Bangka Belitung 13,46 59,12
s. 27,42 100,00
Kepulauan Riau 16,09 50,59 33,32 100,00
p
DKI Jakarta 8,71 37,86 53,43 100,00
.b

Jawa Barat 48,66 32,24 19,10 100,00


w

Jawa Tengah 56,73 31,58 11,69 100,00


DI Yogyakarta 48,34 31,41 20,25 100,00
w

Jawa Timur 51,26 33,97 14,77 100,00


//w

Banten 30,97 40,77 28,26 100,00


Bali 39,48 37,54 22,98 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 56,07 30,86 13,07 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 41,77 46,30 11,92 100,00


ht

Kalimantan Barat 36,24 39,68 24,07 100,00


Kalimantan Tengah 32,64 40,49 26,87 100,00
Kalimantan Selatan 31,14 47,39 21,47 100,00
Kalimantan Timur 17,67 50,22 32,11 100,00
Kalimantan Utara 19,30 50,54 30,16 100,00
Sulawesi Utara 31,68 38,67 29,66 100,00
Sulawesi Tengah 36,21 48,37 15,43 100,00
Sulawesi Selatan 38,12 39,45 22,43 100,00
Sulawesi Tenggara 42,86 38,13 19,01 100,00
Gorontalo 41,79 38,59 19,62 100,00
Sulawesi Barat 60,19 17,22 22,59 100,00
Maluku 23,43 58,85 17,73 100,00
Maluku Utara 26,42 52,51 21,07 100,00
Papua Barat 19,15 48,91 31,94 100,00
Papua 17,04 49,22 33,75 100,00

Indonesia 43,63 36,17 20,20 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

194
Tabel 6.3.2 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status Ekonomi
Rumah Tangga, 2018
Perdesaan
Status Ekonomi Rumah Tangga
Provinsi 40% Ekonomi 40% Ekonomi 20% Ekonomi Total
Terbawah Menengah Teratas
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 32,19 46,68 21,13 100,00
Sumatera Utara 23,92 51,20 24,87 100,00
Sumatera Barat 18,35 52,09 29,55 100,00
Riau 19,81 49,41 30,78 100,00
Jambi 30,95 42,30 26,75 100,00
Sumatera Selatan 41,41 36,23 22,36 100,00

id
Bengkulu 28,29 48,92 22,79 100,00

.
Lampung 47,05 36,98 15,98 100,00

go
Kep. Bangka Belitung 5,98 50,92 43,10 100,00
Kepulauan Riau 11,58
p s.
53,55 34,87 100,00
DKI Jakarta - - - -
.b

Jawa Barat 44,61 35,71 19,68 100,00


Jawa Tengah 51,54 33,82 14,65 100,00
w

DI Yogyakarta 57,25 28,42 14,33 100,00


w

Jawa Timur 55,56 31,09 13,35 100,00


//w

Banten 31,14 45,02 23,84 100,00


Bali 30,65 40,91 28,44 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 52,34 32,54 15,12 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 59,61 33,70 6,70 100,00


ht

Kalimantan Barat 34,22 47,97 17,81 100,00


Kalimantan Tengah 20,36 45,75 33,89 100,00
Kalimantan Selatan 24,28 53,37 22,35 100,00
Kalimantan Timur 15,19 41,49 43,33 100,00
Kalimantan Utara 11,51 39,55 48,94 100,00
Sulawesi Utara 31,70 39,70 28,60 100,00
Sulawesi Tengah 37,23 44,13 18,64 100,00
Sulawesi Selatan 47,81 31,95 20,24 100,00
Sulawesi Tenggara 43,95 35,23 20,82 100,00
Gorontalo 49,71 29,18 21,11 100,00
Sulawesi Barat 49,84 37,96 12,20 100,00
Maluku 39,56 42,03 18,41 100,00
Maluku Utara 29,59 53,12 17,29 100,00
Papua Barat 36,48 29,44 34,07 100,00
Papua 39,37 24,59 36,04 100,00

Indonesia 44,46 37,06 18,48 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

195
Tabel 6.3.3 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status Ekonomi
Rumah Tangga, 2018
Laki-laki
Status Ekonomi Rumah Tangga
Provinsi 40% Ekonomi 40% Ekonomi 20% Ekonomi Total
Terbawah Menengah Teratas
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 39,29 45,80 14,91 100,00
Sumatera Utara 28,48 49,03 22,49 100,00
Sumatera Barat 22,87 56,20 20,93 100,00
Riau 26,31 50,31 23,38 100,00
Jambi 33,81 47,80 18,39 100,00
Sumatera Selatan 41,11 41,55 17,33 100,00

id
Bengkulu 34,94 48,26 16,80 100,00

.
go
Lampung 49,54 41,15 9,31 100,00
Kep. Bangka Belitung 8,44 55,04
s. 36,52 100,00
Kepulauan Riau 13,99 39,96 46,05 100,00
p
DKI Jakarta 4,86 30,79 64,35 100,00
.b

Jawa Barat 43,60 34,38 22,02 100,00


w

Jawa Tengah 53,51 34,78 11,71 100,00


DI Yogyakarta 48,92 32,22 18,85 100,00
w

Jawa Timur 51,83 34,27 13,91 100,00


//w

Banten 24,37 47,25 28,38 100,00


Bali 32,23 41,11 26,66 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 56,57 29,52 13,91 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 62,46 32,27 5,27 100,00


ht

Kalimantan Barat 38,00 44,08 17,92 100,00


Kalimantan Tengah 24,89 48,76 26,35 100,00
Kalimantan Selatan 26,28 51,42 22,30 100,00
Kalimantan Timur 15,05 43,47 41,47 100,00
Kalimantan Utara 14,44 49,42 36,14 100,00
Sulawesi Utara 31,50 41,69 26,81 100,00
Sulawesi Tengah 42,92 43,47 13,61 100,00
Sulawesi Selatan 46,19 35,93 17,88 100,00
Sulawesi Tenggara 42,35 40,13 17,52 100,00
Gorontalo 50,45 33,20 16,35 100,00
Sulawesi Barat 56,00 32,87 11,13 100,00
Maluku 35,77 47,21 17,02 100,00
Maluku Utara 36,58 49,06 14,35 100,00
Papua Barat 30,90 31,65 37,46 100,00
Papua 30,25 37,30 32,45 100,00

Indonesia 42,87 37,90 19,24 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

196
Tabel 6.3.4 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status Ekonomi
Rumah Tangga, 2018
Perempuan
Status Ekonomi Rumah Tangga
Provinsi 40% Ekonomi 40% Ekonomi 20% Ekonomi Total
Terbawah Menengah Teratas
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 40,17 45,49 14,33 100,00
Sumatera Utara 30,35 48,66 20,99 100,00
Sumatera Barat 27,35 53,07 19,58 100,00
Riau 28,84 48,14 23,02 100,00
Jambi 38,11 44,73 17,16 100,00
Sumatera Selatan 44,06 38,26 17,67 100,00

id
Bengkulu 40,44 44,13 15,43 100,00

.
go
Lampung 52,71 37,79 9,50 100,00
Kep. Bangka Belitung 9,60 s. 54,78 35,62 100,00
Kepulauan Riau 12,89 47,40 39,71 100,00
p
DKI Jakarta 4,28 30,26 65,46 100,00
.b

Jawa Barat 46,83 32,44 20,73 100,00


w

Jawa Tengah 55,95 32,22 11,83 100,00


DI Yogyakarta 50,79 31,44 17,77 100,00
w

Jawa Timur 54,10 32,94 12,96 100,00


//w

Banten 32,29 41,36 26,35 100,00


Bali 36,13 41,42 22,44 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 59,49 28,63 11,89 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 60,71 32,36 6,93 100,00


ht

Kalimantan Barat 40,89 43,22 15,89 100,00


Kalimantan Tengah 31,45 45,94 22,61 100,00
Kalimantan Selatan 34,02 48,46 17,53 100,00
Kalimantan Timur 13,63 47,87 38,50 100,00
Kalimantan Utara 17,68 47,58 34,74 100,00
Sulawesi Utara 32,98 41,22 25,79 100,00
Sulawesi Tengah 45,79 43,84 10,37 100,00
Sulawesi Selatan 48,48 33,48 18,04 100,00
Sulawesi Tenggara 49,67 35,64 14,69 100,00
Gorontalo 49,26 32,68 18,06 100,00
Sulawesi Barat 63,01 27,74 9,25 100,00
Maluku 35,53 47,44 17,03 100,00
Maluku Utara 37,14 49,79 13,07 100,00
Papua Barat 27,94 38,47 33,59 100,00
Papua 32,03 32,06 35,91 100,00

Indonesia 45,90 35,98 18,12 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

197
Tabel 6.3.5 Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi dan Status Ekonomi
Rumah Tangga, 2018
Laki-laki + Perempuan di Perkotaan + Perdesaan
Status Ekonomi Rumah Tangga
Provinsi 40% Ekonomi 40% Ekonomi 20% Ekonomi Total
Terbawah Menengah Teratas
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 39,76 45,64 14,60 100,00
Sumatera Utara 29,49 48,83 21,67 100,00
Sumatera Barat 25,31 54,50 20,19 100,00
Riau 27,55 49,24 23,20 100,00
Jambi 35,94 46,28 17,78 100,00
Sumatera Selatan 42,62 39,87 17,51 100,00

id
Bengkulu 37,67 46,21 16,12 100,00

.
go
Lampung 51,10 39,49 9,40 100,00
Kep. Bangka Belitung 9,03 54,91
s. 36,07 100,00
Kepulauan Riau 13,43 43,74 42,83 100,00
p
DKI Jakarta 4,56 30,52 64,92 100,00
.b

Jawa Barat 45,26 33,38 21,36 100,00


w

Jawa Tengah 54,81 33,42 11,77 100,00


DI Yogyakarta 49,94 31,80 18,26 100,00
w

Jawa Timur 53,04 33,55 13,40 100,00


//w

Banten 28,35 44,29 27,36 100,00


Bali 34,31 41,27 24,42 100,00
s:

Nusa Tenggara Barat 58,13 29,04 12,83 100,00


tp

Nusa Tenggara Timur 61,54 32,31 6,15 100,00


ht

Kalimantan Barat 39,45 43,65 16,90 100,00


Kalimantan Tengah 28,04 47,40 24,55 100,00
Kalimantan Selatan 30,34 49,87 19,79 100,00
Kalimantan Timur 14,40 45,51 40,10 100,00
Kalimantan Utara 15,91 48,59 35,50 100,00
Sulawesi Utara 32,27 41,45 26,28 100,00
Sulawesi Tengah 44,36 43,65 11,98 100,00
Sulawesi Selatan 47,48 34,55 17,97 100,00
Sulawesi Tenggara 46,16 37,79 16,04 100,00
Gorontalo 49,81 32,92 17,27 100,00
Sulawesi Barat 59,72 30,15 10,13 100,00
Maluku 35,64 47,33 17,03 100,00
Maluku Utara 36,86 49,42 13,72 100,00
Papua Barat 29,53 34,79 35,67 100,00
Papua 31,01 35,05 33,93 100,00

Indonesia 44,45 36,89 18,65 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

198
Tabel 6.4 Persentase Penduduk Lansia yang Pernah Menjadi Korban Kejahatan
Setahun Terakhir Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2018

Tipe Daerah
Provinsi Total
Perkotaan Perdesaan
(1) (2) (3) (4)
Aceh 0,95 1,22 1,14
Sumatera Utara 1,51 1,87 1,69
Sumatera Barat 1,45 1,07 1,23
Riau 0,90 1,66 1,36
Jambi 0,99 1,74 1,50
Sumatera Selatan 1,42 1,93 1,75
Bengkulu 1,66 2,58 2,32

id
Lampung 1,70 1,86 1,81

.
go
Kep. Bangka Belitung 1,13 0,28 0,75
Kepulauan Riau 2,43 s. 0,00 1,87
DKI Jakarta 1,29 0,00 1,29
p
Jawa Barat 1,50 1,47 1,49
.b

Jawa Tengah 1,17 0,98 1,07


w

DI Yogyakarta 1,51 0,10 1,01


Jawa Timur 1,11 0,79 0,95
w

Banten 0,74 1,61 1,05


//w

Bali 0,48 0,28 0,40


Nusa Tenggara Barat 2,96 2,35 2,63
s:

Nusa Tenggara Timur 1,32 2,48 2,25


tp

Kalimantan Barat 1,25 0,91 1,03


ht

Kalimantan Tengah 0,50 0,99 0,81


Kalimantan Selatan 0,57 1,22 0,93
Kalimantan Timur 1,19 1,37 1,25
Kalimantan Utara 4,25 2,26 3,36
Sulawesi Utara 1,95 2,55 2,26
Sulawesi Tengah 3,45 2,63 2,84
Sulawesi Selatan 1,75 0,96 1,25
Sulawesi Tenggara 1,97 1,42 1,61
Gorontalo 2,26 1,53 1,81
Sulawesi Barat 1,22 0,37 0,58
Maluku 2,70 1,95 2,25
Maluku Utara 2,06 1,20 1,42
Papua Barat 3,96 1,95 2,75
Papua 6,09 0,74 2,89

Indonesia 1,35 1,26 1,31

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

199
Tabel 7.1 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Membeli/Menerima
Bantuan Sosial Beras Sejahtera (Bansos Rastra) dalam Empat Bulan
Terakhir, 2018

Tipe Daerah
Provinsi
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan

(1) (2) (3) (4)


Aceh 41,69 77,55 67,08
Sumatera Utara 20,46 44,86 32,18
Sumatera Barat 14,11 28,23 22,55
Riau 14,14 36,66 27,79
Jambi 14,31 40,96 32,39
Sumatera Selatan 16,08 43,50 33,56

id
Bengkulu 25,01 47,91 41,39

.
go
Lampung 26,68 62,05 52,61
Kep. Bangka Belitung 19,65 36,87
s. 27,33
Kepulauan Riau 7,98 41,48 15,64
p
DKI Jakarta 0,48 - 0,48
.b

Jawa Barat 38,55 64,58 46,71


w

Jawa Tengah 40,34 66,99 53,92


w

DI Yogyakarta 26,49 76,27 44,01


Jawa Timur 28,93 58,79 44,14
//w

Banten 19,61 67,09 36,38


s:

Bali 12,10 25,83 17,70


Nusa Tenggara Barat 50,75 74,65 63,82
tp

Nusa Tenggara Timur 21,45 55,15 48,34


ht

Kalimantan Barat 13,81 39,68 30,57


Kalimantan Tengah 10,22 29,15 22,10
Kalimantan Selatan 18,45 36,83 28,64
Kalimantan Timur 13,54 35,84 21,58
Kalimantan Utara 16,42 30,56 22,62
Sulawesi Utara 22,39 47,85 35,59
Sulawesi Tengah 25,49 50,45 44,07
Sulawesi Selatan 11,56 41,43 30,41
Sulawesi Tenggara 33,28 48,44 43,29
Gorontalo 24,23 47,61 38,43
Sulawesi Barat 41,88 51,22 48,94
Maluku 24,26 75,44 54,69
Maluku Utara 18,64 39,29 33,54
Papua Barat 23,33 58,44 44,93
Papua 25,17 61,04 47,04

Indonesia 28,52 56,57 42,06

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

200
Tabel 7.2 Rata-rata Banyaknya (kg) Beras Sejahtera yang Dibeli/Diterima
Rumah Tangga Lansia Menurut Provinsi, 2018

Perkotaan +
Perkotaan Perdesaan Perdesaan
Provinsi
Nov-Des Jan-Feb Nov-Des Jan-Feb Nov-Des Jan-Feb
2017 2018 2017 2018 2017 2018
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 7,36 4,88 7,87 4,83 7,78 4,84
Sumatera Utara 7,20 5,32 8,23 5,57 7,90 5,47
Sumatera Barat 11,13 8,98 9,86 7,03 10,18 7,60
Riau 10,02 6,80 9,27 7,36 9,43 7,27
Jambi 8,43 7,80 10,52 7,68 10,18 7,70
Sumatera Selatan 8,02 7,12 8,99 6,07 8,85 6,28

id
Bengkulu 11,24 9,06 10,62 8,58 10,72 8,66

.
go
Lampung 6,30 5,45 6,42 4,30 6,41 4,45
Kep. Bangka Belitung 11,33 9,07 13,25
s. 9,49 12,46 9,33
Kepulauan Riau 13,86 7,80 16,38 8,97 15,53 8,02
p
DKI Jakarta 9,12 15,49 - - 9,12 15,49
.b

Jawa Barat 3,56 2,79 4,11 3,30 3,80 3,01


w

Jawa Tengah 5,78 4,64 6,09 4,87 5,98 4,78


w

DI Yogyakarta 9,30 5,73 7,50 5,93 8,16 5,88


Jawa Timur 6,23 5,24 6,57 5,24 6,47 5,24
//w

Banten 3,81 3,11 4,98 2,77 4,52 2,85


s:

Bali 11,90 8,40 12,03 8,13 11,98 8,27


Nusa Tenggara Barat 4,32 3,83 4,83 3,27 4,66 3,48
tp

Nusa Tenggara Timur 16,77 8,72 22,86 15,32 22,42 14,10


ht

Kalimantan Barat 9,55 7,89 7,95 7,69 8,21 7,75


Kalimantan Tengah 10,34 8,68 9,20 7,12 9,37 7,46
Kalimantan Selatan 11,39 7,85 10,92 6,62 11,07 6,98
Kalimantan Timur 14,13 8,80 12,02 8,12 12,89 8,44
Kalimantan Utara 11,89 5,21 13,09 5,70 12,70 5,43
Sulawesi Utara 10,28 8,66 7,82 5,97 8,52 7,12
Sulawesi Tengah 9,86 6,97 9,29 6,85 9,38 6,88
Sulawesi Selatan 11,39 8,36 10,65 7,45 10,75 7,57
Sulawesi Tenggara 8,62 7,61 9,14 5,87 8,99 6,15
Gorontalo 12,39 11,18 12,02 6,17 12,10 7,59
Sulawesi Barat 5,16 4,18 6,00 4,23 5,81 4,22
Maluku 13,65 10,78 17,01 13,91 16,40 13,27
Maluku Utara 15,21 7,30 14,49 11,77 14,59 10,94
Papua Barat 14,68 12,03 19,12 14,42 18,33 13,72
Papua 19,41 11,32 17,57 12,94 17,93 12,65

Indonesia 5,82 4,51 7,60 5,10 6,99 4,89

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

201
Tabel 7.3 Rata-rata Harga per kg (rupiah) Beras Sejahtera yang Dibeli/
Diterima Rumah Tangga Lansia Menurut Provinsi, 2018

Perkotaan +
Perkotaan Perdesaan Perdesaan
Provinsi
Nov-Des Jan-Feb Nov-Des Jan-Feb Nov-Des Jan-Feb
2017 2018 2017 2018 2017 2018
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 1081,47 299,99 929,46 367,03 956,74 356,34
Sumatera Utara 1982,98 526,31 2054,73 753,85 2031,23 664,86
Sumatera Barat 1975,23 836,04 1924,19 738,14 1937,12 766,66
Riau 1556,57 799,27 2041,86 1865,18 1937,47 1689,57
Jambi 3849,07 5311,60 2123,91 1153,22 2401,86 1808,28
Sumatera Selatan 2150,64 1168,77 2194,26 1204,49 2187,79 1197,26

id
Bengkulu 2096,46 473,76 2133,82 435,33 2127,47 441,91

.
go
Lampung 1934,07 521,78 2012,95 285,60 2004,13 317,02
Kep. Bangka Belitung 31,33 25,71 56,30
s. 53,92 46,04 43,09
Kepulauan Riau 1763,38 1065,27 1702,92 597,02 1723,26 975,14
p
DKI Jakarta 1155,02 1153,77 - - 1155,02 1153,77
.b

Jawa Barat 2263,59 1382,24 2223,77 1282,73 2246,29 1338,79


w

Jawa Tengah 1839,65 493,67 1879,11 532,16 1864,58 518,16


w

DI Yogyakarta 1796,28 472,73 1897,74 613,25 1860,34 573,20


Jawa Timur 1743,59 894,08 1723,18 923,30 1728,91 913,11
//w

Banten 2324,89 1733,38 2257,94 1646,11 2284,22 1666,61


s:

Bali 1454,90 347,79 1760,43 275,52 1649,62 312,80


Nusa Tenggara Barat 2148,73 41,22 2007,50 63,41 2053,54 55,13
tp

Nusa Tenggara Timur 1124,44 1018,92 1495,77 1084,20 1468,67 1072,12


ht

Kalimantan Barat 2370,39 1059,20 2953,84 3052,59 2859,95 2422,06


Kalimantan Tengah 2318,56 1384,50 2285,72 1466,46 2290,54 1448,85
Kalimantan Selatan 1402,06 747,99 1265,34 629,84 1309,21 664,33
Kalimantan Timur 1597,79 484,25 1300,62 985,49 1423,37 747,62
Kalimantan Utara 1438,33 610,76 1428,70 1329,18 1431,82 932,85
Sulawesi Utara 1782,51 707,75 1972,67 896,43 1918,64 815,56
Sulawesi Tengah 1911,71 814,38 1769,84 481,72 1792,06 553,00
Sulawesi Selatan 1359,22 346,59 1637,56 429,59 1599,16 418,32
Sulawesi Tenggara 2563,74 230,90 2080,54 498,68 2221,18 455,77
Gorontalo 1330,15 313,09 1397,24 333,96 1381,72 328,05
Sulawesi Barat 1620,20 199,80 2146,54 483,89 2025,42 414,28
Maluku 2052,67 1800,44 2041,66 1985,20 2043,66 1947,10
Maluku Utara 2024,06 1632,22 1965,67 1809,19 1973,99 1776,64
Papua Barat 3212,29 3135,18 2004,38 3078,07 2220,30 3094,66
Papua 2358,17 3223,04 1671,44 1278,98 1806,22 1631,13

Indonesia 1987,96 881,91 1898,19 776,18 1929,03 815,05

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

202
Tabel 7.4 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki Kartu PKH Menurut
Provinsi dan Tipe Daerah, 2018

Tipe Daerah
Provinsi
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
(1) (2) (3) (4)
Aceh 7,77 13,81 12,05
Sumatera Utara 4,82 5,92 5,35
Sumatera Barat 5,50 7,04 6,42
Riau 3,53 4,23 3,96
Jambi 3,73 5,31 4,80
Sumatera Selatan 5,35 6,94 6,36
Bengkulu 4,88 11,03 9,28

id
Lampung 5,15 8,09 7,30

.
go
Kep. Bangka Belitung 2,84 5,14 3,86
Kepulauan Riau 2,67 s. 7,40 3,76
DKI Jakarta 0,72 - 0,72
p
Jawa Barat 5,66 8,47 6,54
.b

Jawa Tengah 6,48 10,79 8,68


w

DI Yogyakarta 19,59 30,99 23,60


Jawa Timur 5,78 11,09 8,49
w

Banten 1,90 5,87 3,30


//w

Bali 1,88 4,43 2,92


Nusa Tenggara Barat 9,27 11,21 10,33
s:

Nusa Tenggara Timur 6,69 24,40 20,82


tp

Kalimantan Barat 1,78 6,02 4,53


ht

Kalimantan Tengah 1,40 6,37 4,52


Kalimantan Selatan 2,94 5,42 4,31
Kalimantan Timur 3,09 4,75 3,69
Kalimantan Utara 3,09 3,01 3,05
Sulawesi Utara 5,34 7,77 6,60
Sulawesi Tengah 7,51 9,72 9,15
Sulawesi Selatan 3,73 7,14 5,88
Sulawesi Tenggara 2,61 10,34 7,72
Gorontalo 8,29 11,01 9,94
Sulawesi Barat 6,59 10,04 9,19
Maluku 4,02 12,15 8,86
Maluku Utara 0,71 4,42 3,39
Papua Barat 9,97 4,58 6,65
Papua 1,51 1,62 1,58

Indonesia 5,40 9,76 7,51

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

203
Tabel 7.5 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Masih Tercatat/Menjadi
Penerima PKH Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2018

Tipe Daerah
Provinsi
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
(1) (2) (3) (4)
Aceh 7,68 13,29 11,65
Sumatera Utara 4,78 5,83 5,29
Sumatera Barat 5,31 6,98 6,31
Riau 3,53 4,50 4,12
Jambi 3,73 5,89 5,20
Sumatera Selatan 4,95 6,42 5,89

id
Bengkulu 4,60 10,30 8,68
Lampung 5,10 7,85 7,11

.
go
Kep. Bangka Belitung 3,01 5,30 4,03
Kepulauan Riau 2,67 s.7,79 3,84
DKI Jakarta 0,70 - 0,70
p
Jawa Barat 5,24 7,86 6,06
.b

Jawa Tengah 6,24 10,18 8,25


w

DI Yogyakarta 19,17 28,85 22,58


w

Jawa Timur 5,49 10,23 7,91


//w

Banten 1,56 5,59 2,98


Bali 1,77 4,48 2,88
s:

Nusa Tenggara Barat 9,84 9,60 9,71


Nusa Tenggara Timur 6,53 24,24 20,66
tp

Kalimantan Barat 2,22 5,82 4,55


ht

Kalimantan Tengah 1,09 5,83 4,06


Kalimantan Selatan 2,62 5,14 4,01
Kalimantan Timur 2,15 4,53 3,01
Kalimantan Utara 2,67 2,86 2,75
Sulawesi Utara 4,42 7,81 6,18
Sulawesi Tengah 7,51 9,36 8,89
Sulawesi Selatan 3,49 6,83 5,60
Sulawesi Tenggara 3,12 10,64 8,08
Gorontalo 8,60 10,33 9,65
Sulawesi Barat 6,59 10,00 9,16
Maluku 4,02 12,49 9,06
Maluku Utara 0,71 4,32 3,32
Papua Barat 9,97 4,57 6,65
Papua 0,93 2,20 1,71

Indonesia 5,15 9,25 7,13

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

204
Tabel 7.6.1 Persentase Rumah Tangga Lansia Menurut Provinsi dan Kepemilikan
Kartu Perlindungan Sosial (KPS)/Kartu Keluarga Sejahtera (KKS),
2018
Perkotaan
Kepemilikan KPS/KKS
Provinsi Memiliki, Dapat Memiliki, Tidak Tidak Total
Ditunjukkan Dapat Ditunjukkan Memiliki
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 5,58 3,48 90,94 100,00
Sumatera Utara 7,28 2,91 89,81 100,00
Sumatera Barat 6,11 1,86 92,03 100,00
Riau 6,14 1,85 92,01 100,00
Jambi 5,59 2,21 92,20 100,00

id
Sumatera Selatan 4,83 3,84 91,33 100,00

.
Bengkulu 4,76 2,83 92,41 100,00

go
Lampung 11,82 2,09 86,09 100,00
Kep. Bangka Belitung 4,89 s. 3,91 91,20 100,00
Kepulauan Riau 2,96 0,87 96,17 100,00
p
DKI Jakarta 5,52 3,47 91,02 100,00
.b

Jawa Barat 9,29 4,29 86,42 100,00


w

Jawa Tengah 11,08 3,92 85,00 100,00


w

DI Yogyakarta 17,41 6,67 75,92 100,00


//w

Jawa Timur 9,68 2,85 87,47 100,00


Banten 5,47 3,66 90,87 100,00
s:

Bali 7,90 2,35 89,76 100,00


tp

Nusa Tenggara Barat 15,80 6,08 78,12 100,00


Nusa Tenggara Timur 7,70 0,79 91,50 100,00
ht

Kalimantan Barat 2,69 1,46 95,85 100,00


Kalimantan Tengah 4,04 0,96 95,00 100,00
Kalimantan Selatan 5,71 1,58 92,71 100,00
Kalimantan Timur 4,14 1,10 94,76 100,00
Kalimantan Utara 3,45 4,39 92,16 100,00
Sulawesi Utara 7,02 3,85 89,13 100,00
Sulawesi Tengah 10,23 2,70 87,08 100,00
Sulawesi Selatan 5,66 3,03 91,30 100,00
Sulawesi Tenggara 9,00 2,50 88,50 100,00
Gorontalo 12,86 2,57 84,57 100,00
Sulawesi Barat 12,14 11,31 76,55 100,00
Maluku 2,87 1,81 95,32 100,00
Maluku Utara 2,57 1,66 95,77 100,00
Papua Barat 6,03 2,83 91,14 100,00
Papua 2,85 2,77 94,38 100,00

Indonesia 8,84 3,50 87,66 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

205
Tabel 7.6.2 Persentase Rumah Tangga Lansia Menurut Provinsi dan Kepemilikan
Kartu Perlindungan Sosial (KPS)/Kartu Keluarga Sejahtera (KKS),
2018
Perdesaan
Kepemilikan KPS/KKS
Provinsi Memiliki, Dapat Memiliki, Tidak Tidak Total
Ditunjukkan Dapat Ditunjukkan Memiliki
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 12,58 6,04 81,37 100,00
Sumatera Utara 10,61 4,15 85,24 100,00
Sumatera Barat 12,09 4,05 83,86 100,00
Riau 8,17 2,31 89,51 100,00
Jambi 7,41 2,60 90,00 100,00

id
Sumatera Selatan 10,66 3,68 85,66 100,00

.
Bengkulu 11,25 6,11 82,64 100,00

go
Lampung 13,95 4,89 81,16 100,00
Kep. Bangka Belitung 7,07 s. 3,71 89,21 100,00
Kepulauan Riau 12,19 8,72 79,09 100,00
p
.b

DKI Jakarta - - - 100,00


Jawa Barat 15,99 5,10 78,91 100,00
w

Jawa Tengah 16,22 5,50 78,28 100,00


w

DI Yogyakarta 26,83 10,09 63,08 100,00


//w

Jawa Timur 14,75 6,18 79,07 100,00


Banten 11,73 5,59 82,69 100,00
s:

Bali 13,11 4,92 81,96 100,00


tp

Nusa Tenggara Barat 15,71 5,81 78,48 100,00


ht

Nusa Tenggara Timur 20,70 6,48 72,82 100,00


Kalimantan Barat 8,00 4,44 87,56 100,00
Kalimantan Tengah 6,62 4,21 89,17 100,00
Kalimantan Selatan 9,71 3,22 87,07 100,00
Kalimantan Timur 10,69 3,99 85,32 100,00
Kalimantan Utara 8,77 4,00 87,23 100,00
Sulawesi Utara 13,31 5,39 81,30 100,00
Sulawesi Tengah 13,55 3,57 82,87 100,00
Sulawesi Selatan 14,22 5,72 80,06 100,00
Sulawesi Tenggara 17,26 6,55 76,19 100,00
Gorontalo 17,45 6,92 75,64 100,00
Sulawesi Barat 15,84 6,24 77,92 100,00
Maluku 16,17 5,55 78,28 100,00
Maluku Utara 6,59 3,26 90,14 100,00
Papua Barat 15,42 7,13 77,45 100,00
Papua 4,01 13,10 82,89 100,00

Indonesia 14,24 5,38 80,38 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

206
Tabel 7.6.3 Persentase Rumah Tangga Lansia Menurut Provinsi dan Kepemilikan
Kartu Perlindungan Sosial (KPS)/Kartu Keluarga Sejahtera (KKS),
2018
Perkotaan+Perdesaan
Kepemilikan KPS/KKS
Provinsi Memiliki, Dapat Memiliki, Tidak Tidak Total
Ditunjukkan Dapat Ditunjukkan Memiliki
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 10,54 5,30 84,17 100,00
Sumatera Utara 8,88 3,50 87,62 100,00
Sumatera Barat 9,68 3,17 87,15 100,00
Riau 7,37 2,13 90,50 100,00
Jambi 6,82 2,47 90,70 100,00

id
Sumatera Selatan 8,55 3,74 87,71 100,00

.
Bengkulu 9,40 5,17 85,42 100,00

go
Lampung 13,38 4,14 82,47 100,00
Kep. Bangka Belitung 5,86 s. 3,82 90,31 100,00
Kepulauan Riau 5,07 2,66 92,27 100,00
p
.b

DKI Jakarta 5,52 3,47 91,02 100,00


Jawa Barat 11,39 4,54 84,06 100,00
w

Jawa Tengah 13,70 4,72 81,57 100,00


w

DI Yogyakarta 20,72 7,88 71,40 100,00


//w

Jawa Timur 12,26 4,54 83,19 100,00


Banten 7,68 4,34 87,98 100,00
s:

Bali 10,03 3,40 86,57 100,00


tp

Nusa Tenggara Barat 15,75 5,93 78,32 100,00


ht

Nusa Tenggara Timur 18,07 5,33 76,60 100,00


Kalimantan Barat 6,13 3,39 90,48 100,00
Kalimantan Tengah 5,66 3,00 91,34 100,00
Kalimantan Selatan 7,93 2,49 89,59 100,00
Kalimantan Timur 6,50 2,14 91,36 100,00
Kalimantan Utara 5,78 4,22 90,00 100,00
Sulawesi Utara 10,28 4,65 85,07 100,00
Sulawesi Tengah 12,70 3,35 83,94 100,00
Sulawesi Selatan 11,06 4,73 84,21 100,00
Sulawesi Tenggara 14,45 5,17 80,37 100,00
Gorontalo 15,65 5,21 79,14 100,00
Sulawesi Barat 14,93 7,48 77,59 100,00
Maluku 10,78 4,04 85,18 100,00
Maluku Utara 5,47 2,82 91,71 100,00
Papua Barat 11,80 5,48 82,72 100,00
Papua 3,56 9,07 87,37 100,00

Indonesia 11,44 4,41 84,15 100,00

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

207
Tabel 7.7 Persentase Penduduk Lansia yang Memiliki Jaminan Kesehatan
Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan Tipe Daerah, 2018

Jenis Kelamin Tipe Daerah


Provinsi Total
Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 96,58 95,97 97,31 95,82 96,25
Sumatera Utara 60,35 57,96 64,71 53,01 59,06
Sumatera Barat 71,91 71,78 79,20 66,74 71,84
Riau 59,06 56,31 72,11 48,49 57,71
Jambi 53,40 55,15 72,98 45,51 54,26
Sumatera Selatan 87,17 85,52 88,19 85,26 86,32
Bengkulu 61,55 56,28 72,63 53,66 58,94

id
Lampung 54,71 55,01 71,99 48,52 54,86

.
go
Kep. Bangka Belitung 76,14 77,25 81,29 70,98 76,70
Kepulauan Riau 67,68 66,29 s. 63,74 77,66 66,98
DKI Jakarta 89,75 88,88 89,30 - 89,30
p
Jawa Barat 66,63 65,71 70,52 56,67 66,16
.b

Jawa Tengah 69,99 70,89 74,64 66,47 70,47


w

DI Yogyakarta 86,27 85,92 84,67 88,65 86,08


w

Jawa Timur 65,63 65,04 68,09 62,68 65,31


Banten 66,06 59,00 70,49 47,78 62,51
//w

Bali 66,41 63,49 71,22 55,89 64,86


s:

Nusa Tenggara Barat 61,76 58,94 68,95 53,05 60,26


Nusa Tenggara Timur 71,45 65,08 77,41 65,75 68,08
tp

Kalimantan Barat 49,54 46,92 55,96 44,03 48,22


ht

Kalimantan Tengah 65,93 64,70 78,08 57,83 65,34


Kalimantan Selatan 71,80 69,34 76,66 65,63 70,51
Kalimantan Timur 75,37 73,57 78,73 66,86 74,54
Kalimantan Utara 86,22 83,15 85,33 84,21 84,83
Sulawesi Utara 75,04 74,70 80,87 69,31 74,86
Sulawesi Tengah 66,61 68,46 76,57 64,44 67,54
Sulawesi Selatan 75,21 74,28 79,75 71,74 74,69
Sulawesi Tenggara 70,41 67,70 76,11 65,15 69,00
Gorontalo 83,79 81,36 86,84 79,80 82,49
Sulawesi Barat 88,18 86,03 92,52 85,18 87,04
Maluku 64,30 61,76 68,61 59,17 62,98
Maluku Utara 65,36 66,73 69,35 64,86 66,04
Papua Barat 87,56 87,66 84,88 89,38 87,60
Papua 89,61 87,19 84,70 91,17 88,57

Indonesia 68,94 68,07 73,45 63,19 68,48

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

208
Tabel 7.8 Persentase Penduduk Lansia yang Memiliki Jaminan Kesehatan
Menurut Provinsi dan Jenis Jaminan Kesehatan, 2018

Jenis Jaminan Kesehatan


Provinsi Penerima Perusa-
Asuransi
Bantuan Iuran Non PBI Jamkesda haan/
Swasta
(PBI) Kantor
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 77,37 13,71 8,43 0,11 0,44
Sumatera Utara 30,93 22,20 5,27 1,00 1,53
Sumatera Barat 32,68 24,82 17,47 0,13 0,61
Riau 27,06 17,10 16,62 0,70 1,31
Jambi 25,96 20,63 8,15 0,45 1,40
Sumatera Selatan 21,82 17,69 56,82 0,57 1,44

id
Bengkulu 33,98 22,73 1,87 0,00 0,73

.
go
Lampung 31,91 13,97 12,83 0,16 0,81
Kep. Bangka Belitung 35,36 32,84 s. 8,08 0,46 0,65
Kepulauan Riau 28,41 25,20 10,19 1,14 2,84
p
DKI Jakarta 49,96 32,85 1,55 3,82 3,66
.b

Jawa Barat 35,88 20,81 10,45 0,72 2,44


w

Jawa Tengah 43,49 16,91 12,91 0,34 0,63


DI Yogyakarta 56,10 24,49 20,47 0,59 0,54
w

Jawa Timur 35,06 14,54 20,49 0,48 0,95


//w

Banten 31,69 23,54 9,34 1,12 1,52


Bali 35,99 21,30 12,20 1,40 0,43
s:

Nusa Tenggara Barat 43,88 12,69 9,87 0,24 0,16


tp

Nusa Tenggara Timur 47,57 11,74 10,02 0,04 0,27


ht

Kalimantan Barat 26,21 17,92 4,46 0,55 1,10


Kalimantan Tengah 27,70 21,88 16,53 0,23 0,40
Kalimantan Selatan 24,23 20,98 26,41 0,34 0,85
Kalimantan Timur 29,27 40,11 4,85 1,22 1,27
Kalimantan Utara 36,17 41,89 10,70 0,71 1,99
Sulawesi Utara 37,42 34,18 2,69 0,54 1,39
Sulawesi Tengah 41,07 20,58 6,05 0,25 0,40
Sulawesi Selatan 46,79 23,90 3,96 0,33 0,55
Sulawesi Tenggara 36,91 21,23 10,19 0,31 0,85
Gorontalo 67,68 12,77 1,84 0,00 0,20
Sulawesi Barat 49,35 17,52 47,90 0,00 0,11
Maluku 38,46 18,85 6,46 0,00 0,18
Maluku Utara 29,36 12,77 25,08 0,00 0,06
Papua Barat 66,91 15,23 8,30 0,34 0,32
Papua 39,76 13,04 42,43 0,47 0,31

Indonesia 38,01 19,19 14,03 0,63 1,22

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

209
Tabel 7.9 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki Jaminan Sosial
Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2018

Tipe Daerah
Provinsi
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
(1) (2) (3) (4)
Aceh 29,54 10,75 16,23
Sumatera Utara 21,54 9,76 15,88
Sumatera Barat 24,04 8,85 14,96
Riau 20,83 6,69 12,26
Jambi 20,83 6,11 10,85
Sumatera Selatan 26,23 4,21 12,19
Bengkulu 28,56 6,39 12,70

id
Lampung 15,36 4,27 7,23

.
go
Kep. Bangka Belitung 17,66 5,02 12,03
Kepulauan Riau 20,14 s.6,07 16,92
DKI Jakarta 20,78 - 20,78
p
Jawa Barat 17,48 6,76 14,12
.b

Jawa Tengah 17,64 6,44 11,93


w

DI Yogyakarta 28,01 10,42 21,82


Jawa Timur 16,76 4,80 10,67
w

Banten 18,34 7,71 14,59


//w

Bali 21,07 8,51 15,95


Nusa Tenggara Barat 13,78 4,36 8,62
s:

Nusa Tenggara Timur 40,30 6,50 13,33


tp

Kalimantan Barat 19,03 5,47 10,24


ht

Kalimantan Tengah 32,17 8,96 17,61


Kalimantan Selatan 24,82 10,12 16,67
Kalimantan Timur 23,34 7,25 17,53
Kalimantan Utara 23,81 9,52 17,55
Sulawesi Utara 22,09 11,02 16,35
Sulawesi Tengah 26,51 8,90 13,39
Sulawesi Selatan 30,35 10,14 17,60
Sulawesi Tenggara 29,75 10,05 16,75
Gorontalo 21,38 6,49 12,34
Sulawesi Barat 16,49 9,16 10,95
Maluku 30,30 9,76 18,08
Maluku Utara 34,43 5,57 13,61
Papua Barat 29,26 16,60 21,47
Papua 32,77 7,23 17,20

Indonesia 19,54 6,75 13,36

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

210
Tabel 7.10 Persentase Rumah Tangga Lansia yang Memiliki/Menerima Jaminan
Sosial Menurut Provinsi dan Jenis Jaminan Sosial, 2018

Jenis Jaminan Sosial


Provinsi Jaminan Asuransi Jaminan/ Pesangon
Jaminan Hari Kecelakaan
Pensiun/ Asuransi
Tua PHK
Veteran Kerja Kematian
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 14,66 7,58 6,92 7,45 1,94
Sumatera Utara 13,73 5,05 4,47 5,15 1,75
Sumatera Barat 13,18 7,59 6,40 6,98 1,99
Riau 7,99 3,86 5,97 4,41 1,89
Jambi 9,06 3,77 2,83 2,71 0,75

id
Sumatera Selatan 10,55 4,91 4,23 4,20 2,13
Bengkulu 11,31 4,81 2,19 2,60 1,05

.
go
Lampung 6,23 1,57 1,34 1,23 0,82
Kep. Bangka Belitung 9,41 5,59 s. 5,11 4,24 2,20
Kepulauan Riau 11,57 8,17 7,47 7,81 2,51
p
DKI Jakarta 15,82 6,17 4,81 3,01 1,03
.b

Jawa Barat 10,96 4,72 4,43 4,50 2,13


w

Jawa Tengah 9,07 4,40 3,89 3,35 1,70


w

DI Yogyakarta 18,49 8,60 6,17 6,18 1,92


//w

Jawa Timur 8,32 3,79 2,95 3,05 1,19


Banten 9,20 6,16 5,65 4,49 2,44
s:

Bali 12,33 5,70 5,68 5,44 1,50


Nusa Tenggara Barat 7,49 4,47 3,84 4,60 1,22
tp

Nusa Tenggara Timur 12,38 5,61 4,35 5,58 1,69


ht

Kalimantan Barat 7,37 4,39 3,66 3,34 2,16


Kalimantan Tengah 13,27 7,76 6,03 8,20 3,89
Kalimantan Selatan 14,82 7,16 7,32 6,74 3,39
Kalimantan Timur 11,50 5,77 5,72 5,02 1,75
Kalimantan Utara 11,68 7,36 8,45 5,10 3,76
Sulawesi Utara 14,38 5,00 2,72 3,25 0,86
Sulawesi Tengah 11,90 5,95 5,12 5,22 1,48
Sulawesi Selatan 15,11 6,34 4,92 6,06 1,68
Sulawesi Tenggara 15,31 8,96 7,45 8,54 0,99
Gorontalo 10,94 5,82 5,33 6,90 1,47
Sulawesi Barat 10,01 5,73 3,72 5,63 1,40
Maluku 17,09 3,73 2,31 2,26 0,45
Maluku Utara 11,22 6,80 6,44 6,32 2,26
Papua Barat 19,50 7,88 6,33 4,03 1,20
Papua 16,55 5,53 3,63 3,43 1,43

Indonesia 10,64 4,88 4,21 4,14 1,68

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

211
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
ht
tp
s:
//w
w
w
.b
ps.
go
.id
PENGHITUNGAN
SAMPLING ERRROR

Nilai-nilai indikator yang diestimasi dari hasil Susenas 2018


dipengaruhi oleh dua jenis kesalahan (error), yaitu non sampling
error dan sampling error. Non sampling error adalah kesalahan
yang terjadi ketika proses pengumpulan maupun pengolahan
data. Misalnya kesalahan dalam menginterpretasikan pertanyaan-

id
pertanyaan di kuesioner, maupun kesalahan dalam melakukan

.
go
input data ke komputer.
s.
Sampling error adalah kesalahan yang terjadi sebagai akibat dari
p
penggunaan teknik sampling tertentu dalam suatu survei. Secara
.b

statistik, besarnya sampling error hasil Susenas 2018 ditunjukkan oleh


w

nilai standard error (galat baku) dari suatu ukuran statistik (ratarata,
w

persentase, atau jumlah). Untuk mengukur presisi suatu indikator


//w

digunakan nilai relative standard error (RSE), yaitu perbandingan


nilai standard error (SE) terhadap estimasi indikatornya, yang
s:

dinyatakan dalam persen. Standard error juga digunakan untuk


tp

menghitung besaran selang kepercayaan (confidence interval), yaitu


ht

interval nilai yang dapat menggambarkan populasi. Dengan tingkat


kepercayaan 95 persen, dapat disajikan selang kepercayaan (interval
estimation) dengan batas bawah sebesar nilai estimasi dikurangi
dua standard error dan batas atas sebesar nilai estimasi ditambah
dua standard error. Semakin rendah nilai RSE atau semakin pendek
selang kepercayaan menunjukkan nilai indikator yang semakin baik.
Menurut Aryago Mulia dkk (2008), kualitas hasil estimasi suatu survei
bisa diamati dari RSE yang dihasilkan dimana keputusan mengenai
keakuratan suatu estimasi bisa diamati dari hasil penghitungan
RSE tersebut. Kesalahan sampling dari beberapa estimasi harus
digunakan secara hati-hati. Untuk estimasi yang berdasarkan
jumlah kasus yang kecil, kesalahan relatif adalah sangat besar.
Secara umum, besaran SE meningkat seiring dengan meningkatnya
besaran estimasi. Sebaliknya, RSE menurun jika ukuran estimasi
tersebut meningkat. Estimasi yang sangat kecil dengan demikian
akan menghasilkan RSE yang tinggi sehingga nilainya menjadi tidak
akurat. Nilai estimasi dengan RSE ≤ 25 % dianggap akurat, sedangkan
nilai estimasi dengan RSE > 25 % tetapi ≤ 50 % perlu hati-hati jika

215
ingin digunakan, dan estimasi dengan RSE > 50% dianggap sangat
tidak akurat dan seharusnya digabungkan dengan estimasi yang lain
untuk memberikan estimasi dengan RSE ≤ 25 %.
Penghitungan tingkat sampling error untuk indikator-indikator
yang disajikan dalam publikasi Statistik Penduduk Lanjut Usia
2018 menggunakan software STATA 14.0 for Windows. Indikator
yang dihitung sampling error-nya meliputi demografi, pendidikan,
kesehatan, kegiatan ekonomi, kondisi sosial-ekonomi, dan
perlindungan sosial. Sampling error disajikan dalam 44 tabel
menurut provinsi, tipe daerah (perkotaan dan perdesaan), dan jenis
kelamin (laki-laki dan perempuan). Tingkat sampling error yang
disajikan meliputi nilai-nilai estimasi dari standard error, RSE, selang

id
kepercayaan 95 persen, dan design effect (deff).

.
go
Dalam publikasi ini penghitungan RSE menggunakan metode Taylor
Linearization untuk mengestimasi nilai total maupun rata-ratanya.
s.
Namun tidak semua variabel hasil pendataan dihitung SE dan RSE,
p
hanya beberapa variabel penting saja yang dihitung.
.b
w
w
//w
s:
tp
ht

216
Tabel A.1 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi,
2018
Perkotaan
Relative Selang
Kepercayaan Efek
Nilai Standard Standard Jumlah
Provinsi Rancangan
Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 6,25 0,32 5,07 5,63 6,87 1,21 13492
Sumatera Utara 7,41 0,25 3,42 6,91 7,91 3,05 33379
Sumatera Barat 8,81 0,41 4,67 8,00 9,62 2,13 16035
Riau 5,30 0,29 5,45 4,73 5,86 1,94 11156
Jambi 7,25 0,41 5,69 6,44 8,06 1,23 6451

id
Sumatera Selatan 7,52 0,38 5,01 6,78 8,26 2,71 12284

.
Bengkulu 6,10 0,41 6,75 5,29 6,90 0,81 5774

go
Lampung 7,80 0,42 5,39 6,97 8,62 2,60 9160
Kep. Bangka Belitung 7,76 0,48 s.
6,25 6,81 8,71 1,10 6573
Kepulauan Riau 4,09 0,37 9,04 3,36 4,81 2,72 9667
p
.b

DKI Jakarta 7,51 0,27 3,64 6,97 8,04 4,80 17779


Jawa Barat 8,24 0,19 2,30 7,87 8,61 7,32 55433
w

Jawa Tengah 12,34 0,21 1,74 11,92 12,76 3,20 51628


w

DI Yogyakarta 12,37 0,46 3,74 11,46 13,28 2,34 8280


//w

Jawa Timur 11,66 0,21 1,80 11,25 12,07 3,78 54913


Banten 5,50 0,26 4,76 4,99 6,01 5,06 17198
s:

Bali 9,68 0,40 4,10 8,90 10,46 2,19 13190


tp

Nusa Tenggara Barat 7,98 0,40 5,03 7,20 8,77 2,18 9728
Nusa Tenggara Timur 6,80 0,43 6,36 5,95 7,65 1,55 8337
ht

Kalimantan Barat 7,84 0,41 5,26 7,03 8,65 1,70 9180


Kalimantan Tengah 5,56 0,34 6,09 4,89 6,22 0,95 8517
Kalimantan Selatan 6,82 0,35 5,17 6,13 7,52 1,63 10363
Kalimantan Timur 5,83 0,31 5,36 5,22 6,45 1,85 12277
Kalimantan Utara 5,91 0,53 8,98 4,87 6,95 0,90 4135
Sulawesi Utara 10,26 0,42 4,12 9,44 11,09 1,03 11227
Sulawesi Tengah 7,18 0,53 7,32 6,15 8,21 1,49 5398
Sulawesi Selatan 8,21 0,29 3,49 7,65 8,78 1,70 19343
Sulawesi Tenggara 6,25 0,60 9,53 5,08 7,42 2,63 6435
Gorontalo 7,62 0,57 7,46 6,51 8,74 0,90 4040
Sulawesi Barat 6,99 0,80 11,44 5,42 8,55 1,34 2461
Maluku 6,78 0,43 6,28 5,94 7,61 0,91 7540
Maluku Utara 5,68 0,50 8,87 4,69 6,67 0,71 4377
Papua Barat 4,42 0,41 9,17 3,62 5,21 0,63 5471
Papua 4,84 0,36 7,41 4,14 5,55 1,10 9248

Indonesia 8,75 0,07 0,84 8,60 8,89 4,19 480469

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

217
Tabel A.2 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi,
2018
Perdesaan
Relative Selang
Kepercayaan Efek
Nilai Standard Standard Jumlah
Provinsi Rancangan
Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 7,00 0,20 2,91 6,60 7,40 0,99 32341
Sumatera Utara 7,77 0,20 2,51 7,38 8,15 1,55 42411
Sumatera Barat 10,01 0,28 2,76 9,47 10,55 1,09 23744
Riau 5,60 0,22 3,93 5,17 6,04 1,58 18428
Jambi 7,31 0,27 3,70 6,78 7,84 1,12 16646

id
Sumatera Selatan 7,81 0,22 2,83 7,38 8,25 1,53 25006

.
Bengkulu 7,67 0,30 3,90 7,08 8,26 0,71 12964

go
Lampung 8,85 0,25 2,87 8,35 9,34 2,01 24758
Kep. Bangka Belitung 7,22 0,53 7,33 s.
6,18 8,25 1,20 6637
Kepulauan Riau 7,46 0,76 10,22 5,97 8,95 1,09 3350
p
.b

DKI Jakarta - - - - - - -
Jawa Barat 10,84 0,27 2,47 10,31 11,36 3,98 27638
w

Jawa Tengah 13,53 0,21 1,56 13,11 13,94 2,75 45078


w

DI Yogyakarta 18,28 0,81 4,46 16,68 19,88 1,95 3835


//w

Jawa Timur 13,50 0,20 1,51 13,11 13,90 2,87 48463


Banten 7,33 0,36 4,89 6,63 8,04 2,95 8966
s:

Bali 13,46 0,55 4,11 12,37 14,54 1,63 8347


tp

Nusa Tenggara Barat 8,36 0,34 4,11 7,69 9,03 1,76 12555
Nusa Tenggara Timur 8,08 0,19 2,32 7,71 8,45 0,84 39907
ht

Kalimantan Barat 7,37 0,23 3,15 6,92 7,83 1,12 22272


Kalimantan Tengah 5,91 0,28 4,81 5,36 6,47 1,01 16700
Kalimantan Selatan 7,48 0,27 3,61 6,95 8,01 1,01 15701
Kalimantan Timur 6,43 0,38 5,92 5,68 7,17 1,24 7759
Kalimantan Utara 6,65 0,61 9,19 5,46 7,85 0,77 4448
Sulawesi Utara 11,20 0,39 3,51 10,43 11,97 0,82 16366
Sulawesi Tengah 8,11 0,27 3,30 7,59 8,64 0,89 19065
Sulawesi Selatan 10,10 0,23 2,26 9,66 10,55 1,25 36253
Sulawesi Tenggara 7,17 0,26 3,64 6,66 7,68 0,71 18929
Gorontalo 7,77 0,43 5,57 6,92 8,62 0,81 8002
Sulawesi Barat 6,36 0,30 4,78 5,77 6,96 0,68 9779
Maluku 7,18 0,33 4,60 6,53 7,82 0,72 15461
Maluku Utara 6,40 0,28 4,39 5,85 6,95 0,49 13907
Papua Barat 4,64 0,33 7,01 4,01 5,28 0,57 12114
Papua 2,77 0,19 7,03 2,38 3,15 1,44 33526

Indonesia 9,90 0,06 0,62 9,78 10,02 2,20 651356

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

218
Tabel A.3 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi,
2018
Laki-Laki
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 6,31 0,20 3,20 5,91 6,70 0,77 22777
Sumatera Utara 6,96 0,18 2,64 6,60 7,32 1,60 37831
Sumatera Barat 8,69 0,26 2,98 8,18 9,19 0,96 19702
Riau 5,43 0,20 3,76 5,03 5,83 1,21 15026
Jambi 7,20 0,26 3,60 6,69 7,70 0,78 11694

id
Sumatera Selatan 7,39 0,22 3,01 6,96 7,83 1,31 18953

.
Bengkulu 7,09 0,30 4,30 6,49 7,68 0,60 9472

go
Lampung 8,44 0,26 3,09 7,93 8,95 1,61 17313
Kep. Bangka Belitung 7,17 0,38 s.
5,29 6,43 7,92 0,70 6832
Kepulauan Riau 4,41 0,37 8,43 3,68 5,14 1,52 6569
p
.b

DKI Jakarta 7,21 0,30 4,12 6,62 7,79 2,96 8850


Jawa Barat 8,56 0,17 1,99 8,22 8,89 3,91 41704
w

Jawa Tengah 12,19 0,17 1,42 11,85 12,53 2,04 47761


w

DI Yogyakarta 12,82 0,46 3,61 11,92 13,73 1,54 5942


//w

Jawa Timur 11,78 0,17 1,47 11,44 12,12 2,40 50747


Banten 5,89 0,25 4,18 5,40 6,37 3,01 13179
s:

Bali 10,21 0,34 3,31 9,55 10,88 1,15 10792


tp

Nusa Tenggara Barat 7,87 0,32 4,07 7,25 8,50 1,47 11050
ht

Nusa Tenggara Timur 7,40 0,20 2,76 7,00 7,80 0,69 23796
Kalimantan Barat 7,36 0,24 3,26 6,89 7,83 0,92 16008
Kalimantan Tengah 5,75 0,24 4,21 5,27 6,22 0,64 12819
Kalimantan Selatan 6,73 0,26 3,85 6,22 7,24 0,97 13027
Kalimantan Timur 6,19 0,28 4,56 5,63 6,74 1,12 10271
Kalimantan Utara 6,42 0,45 6,94 5,55 7,29 0,53 4396
Sulawesi Utara 10,08 0,32 3,18 9,45 10,71 0,62 14058
Sulawesi Tengah 7,65 0,29 3,74 7,09 8,21 0,76 12479
Sulawesi Selatan 8,36 0,20 2,42 7,96 8,76 0,98 27190
Sulawesi Tenggara 6,51 0,34 5,21 5,84 7,17 1,07 12571
Gorontalo 7,17 0,37 5,18 6,44 7,90 0,53 6058
Sulawesi Barat 6,09 0,35 5,76 5,41 6,78 0,62 6135
Maluku 6,67 0,30 4,57 6,08 7,27 0,57 11557
Maluku Utara 6,11 0,30 4,92 5,52 6,71 0,42 9298
Papua Barat 4,66 0,33 7,05 4,02 5,30 0,51 9075
Papua 3,63 0,21 5,79 3,22 4,05 0,94 22352

Indonesia 8,78 0,06 0,63 8,67 8,89 2,16 567284

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

219
Tabel A.4 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi,
2018
Perempuan
Relative Selang
Kepercayaan Efek
Nilai Standard Standard Jumlah
Provinsi Rancangan
Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 7,23 0,22 3,03 6,80 7,66 0,81 23056
Sumatera Utara 8,19 0,20 2,40 7,81 8,58 1,59 37959
Sumatera Barat 10,27 0,30 2,92 9,68 10,86 1,12 20077
Riau 5,54 0,22 3,94 5,11 5,96 1,29 14558
Jambi 7,38 0,27 3,71 6,85 7,92 0,82 11403

id
Sumatera Selatan 8,02 0,24 3,00 7,55 8,50 1,38 18337

.
Bengkulu 7,23 0,30 4,19 6,64 7,82 0,56 9266

go
Lampung 8,64 0,26 3,03 8,13 9,16 1,51 16605
Kep. Bangka Belitung 7,87 0,43 5,48 s.
7,03 8,72 0,77 6378
Kepulauan Riau 4,73 0,42 8,91 3,90 5,55 1,76 6448
p
.b

DKI Jakarta 7,81 0,34 4,33 7,15 8,47 3,55 8929


Jawa Barat 9,28 0,19 2,07 8,90 9,65 4,51 41367
w

Jawa Tengah 13,64 0,19 1,36 13,27 14,00 2,17 48945


w

DI Yogyakarta 15,08 0,51 3,38 14,09 16,08 1,66 6173


//w

Jawa Timur 13,28 0,18 1,36 12,92 13,63 2,43 52629


Banten 6,18 0,28 4,48 5,63 6,72 3,50 12985
s:

Bali 11,71 0,40 3,44 10,92 12,50 1,43 10745


tp

Nusa Tenggara Barat 8,48 0,33 3,90 7,83 9,13 1,55 11233
Nusa Tenggara Timur 8,16 0,22 2,63 7,74 8,59 0,71 24448
ht

Kalimantan Barat 7,70 0,25 3,24 7,22 8,19 0,92 15444


Kalimantan Tengah 5,81 0,27 4,61 5,28 6,33 0,71 12398
Kalimantan Selatan 7,64 0,27 3,53 7,11 8,16 0,91 13037
Kalimantan Timur 5,86 0,34 5,76 5,20 6,52 1,53 9765
Kalimantan Utara 6,00 0,53 8,89 4,95 7,04 0,72 4187
Sulawesi Utara 11,41 0,35 3,09 10,72 12,10 0,64 13535
Sulawesi Tengah 8,06 0,30 3,72 7,47 8,65 0,76 11984
Sulawesi Selatan 10,23 0,23 2,27 9,78 10,69 1,12 28406
Sulawesi Tenggara 7,13 0,31 4,39 6,52 7,75 0,83 12793
Gorontalo 8,26 0,45 5,41 7,38 9,13 0,67 5984
Sulawesi Barat 6,93 0,38 5,44 6,19 7,67 0,63 6105
Maluku 7,35 0,31 4,20 6,75 7,96 0,52 11444
Maluku Utara 6,27 0,29 4,70 5,69 6,85 0,38 8986
Papua Barat 4,43 0,29 6,54 3,86 5,00 0,38 8510
Papua 3,01 0,19 6,14 2,65 3,38 0,79 20422

Indonesia 9,77 0,06 0,62 9,65 9,89 2,35 564541

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

220
Tabel A.5 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia Menurut Provinsi,
2018
Perkotaan+Perdesaan, Laki-laki+Perempuan
Relative Selang
Kepercayaan Efek
Nilai Standard Standard Jumlah
Provinsi Rancangan
Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 6,77 0,17 2,54 6,43 7,10 1,05 45833
Sumatera Utara 7,58 0,16 2,15 7,26 7,90 2,33 75790
Sumatera Barat 9,48 0,24 2,52 9,01 9,95 1,53 39779
Riau 5,48 0,18 3,21 5,14 5,82 1,73 29584
Jambi 7,29 0,23 3,11 6,84 7,73 1,16 23097

id
Sumatera Selatan 7,70 0,20 2,56 7,32 8,09 1,96 37290

.
Bengkulu 7,16 0,25 3,44 6,67 7,64 0,76 18738

go
Lampung 8,54 0,22 2,56 8,11 8,97 2,19 33918
Kep. Bangka Belitung 7,51 0,36 s.
4,76 6,81 8,21 1,14 13210
Kepulauan Riau 4,57 0,35 7,60 3,89 5,25 2,51 13017
p
.b

DKI Jakarta 7,51 0,27 3,64 6,97 8,04 4,80 17779


Jawa Barat 8,91 0,16 1,77 8,60 9,22 6,35 83071
w

Jawa Tengah 12,92 0,15 1,17 12,62 13,21 2,97 96706


w

DI Yogyakarta 13,97 0,40 2,90 13,17 14,76 2,21 12115


//w

Jawa Timur 12,54 0,15 1,17 12,25 12,83 3,34 103376


Banten 6,03 0,21 3,53 5,61 6,45 4,31 26164
s:

Bali 10,96 0,33 2,98 10,32 11,59 2,00 21537


tp

Nusa Tenggara Barat 8,19 0,26 3,20 7,67 8,70 1,95 22283
Nusa Tenggara Timur 7,79 0,18 2,26 7,44 8,13 0,98 48244
ht

Kalimantan Barat 7,53 0,21 2,75 7,13 7,94 1,31 31452


Kalimantan Tengah 5,78 0,22 3,78 5,35 6,20 0,99 25217
Kalimantan Selatan 7,18 0,22 3,06 6,75 7,61 1,29 26064
Kalimantan Timur 6,03 0,24 4,06 5,55 6,51 1,64 20036
Kalimantan Utara 6,22 0,40 6,45 5,43 7,01 0,84 8583
Sulawesi Utara 10,73 0,29 2,69 10,16 11,30 0,93 27593
Sulawesi Tengah 7,85 0,24 3,09 7,38 8,33 1,05 24463
Sulawesi Selatan 9,32 0,18 1,96 8,96 9,67 1,48 55596
Sulawesi Tenggara 6,82 0,28 4,06 6,28 7,36 1,36 25364
Gorontalo 7,71 0,34 4,47 7,04 8,39 0,85 12042
Sulawesi Barat 6,51 0,30 4,59 5,92 7,10 0,85 12240
Maluku 7,01 0,26 3,74 6,50 7,52 0,80 23001
Maluku Utara 6,19 0,25 3,99 5,71 6,68 0,55 18284
Papua Barat 4,55 0,25 5,58 4,05 5,05 0,59 17585
Papua 3,34 0,17 5,20 3,00 3,68 1,32 42774

Indonesia 9,27 0,05 0,53 9,17 9,37 3,26 1131825

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

221
Tabel B.1 Sampling Error Persentase Rumah Tangga Penduduk Lansia
Menurut Provinsi, 2018
Perkotaan
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampel
(RSE) Bawah Atas Sampling
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 21,75 1,04 4,77 19,71 23,78 1,23 3380
Sumatera Utara 24,35 0,75 3,07 22,88 25,81 2,72 8301
Sumatera Barat 27,39 1,20 4,39 25,03 29,74 2,06 4046
Riau 17,15 0,84 4,91 15,50 18,80 1,67 2814
Jambi 22,60 1,24 5,47 20,18 25,03 1,25 1663

id
Sumatera Selatan 23,77 1,07 4,51 21,67 25,87 2,37 3089

.
Bengkulu 18,66 1,22 6,55 16,27 21,06 0,81 1532

go
Lampung 24,01 1,17 4,86 21,72 26,30 2,28 2332
Kep. Bangka Belitung 22,14 1,21 5,46 19,77
s. 24,51 0,86 1785
Kepulauan Riau 11,78 1,05 8,88 9,73 13,83 2,60 2589
p
DKI Jakarta 21,52 0,72 3,34 20,11 22,93 4,33 4923
.b

Jawa Barat 23,66 0,47 2,00 22,73 24,59 5,97 15324


w

Jawa Tengah 34,84 0,53 1,51 33,80 35,87 2,89 14397


w

DI Yogyakarta 30,24 1,08 3,57 28,12 32,35 2,29 2543


//w

Jawa Timur 32,67 0,54 1,64 31,62 33,72 3,73 15641


Banten 18,03 0,82 4,56 16,42 19,64 5,07 4341
s:

Bali 25,63 1,11 4,33 23,45 27,81 2,47 3513


tp

Nusa Tenggara Barat 22,37 0,96 4,29 20,49 24,25 1,72 2725
Nusa Tenggara Timur 23,51 1,45 6,15 20,67 26,34 1,59 1922
ht

Kalimantan Barat 25,92 1,27 4,89 23,44 28,40 1,63 2239


Kalimantan Tengah 17,04 0,95 5,58 15,17 18,90 0,84 2256
Kalimantan Selatan 20,47 0,97 4,74 18,57 22,37 1,53 2973
Kalimantan Timur 17,93 0,90 5,00 16,17 19,69 1,67 3132
Kalimantan Utara 19,30 1,66 8,63 16,03 22,56 0,89 1009
Sulawesi Utara 29,33 1,12 3,83 27,13 31,54 0,98 2929
Sulawesi Tengah 21,74 1,54 7,07 18,73 24,75 1,47 1347
Sulawesi Selatan 27,56 0,91 3,31 25,77 29,35 1,74 4649
Sulawesi Tenggara 20,41 1,71 8,37 17,06 23,75 2,10 1559
Gorontalo 23,91 1,68 7,01 20,63 27,19 0,88 1020
Sulawesi Barat 22,72 2,38 10,47 18,06 27,39 1,18 581
Maluku 24,14 1,62 6,73 20,96 27,33 1,14 1645
Maluku Utara 20,68 1,77 8,58 17,20 24,16 0,75 1018
Papua Barat 15,26 1,55 10,13 12,23 18,29 0,79 1216
Papua 15,64 1,11 7,07 13,47 17,81 1,00 2133

Indonesia 25,72 0,19 0,76 25,34 26,10 3,20 126566

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

222
Tabel B.2 Sampling Error Persentase Rumah Tangga Penduduk Lansia
Menurut Provinsi, 2018
Perdesaan
Relative Selang
Kepercayaan Efek
Nilai Standard Standard Jumlah
Provinsi Rancangan
Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 23,99 0,62 2,60 22,77 25,21 0,68 8082
Sumatera Utara 24,86 0,54 2,16 23,81 25,92 0,94 10294
Sumatera Barat 32,11 0,76 2,38 30,61 33,61 0,72 5986
Riau 17,87 0,67 3,75 16,56 19,19 1,13 4678
Jambi 21,70 0,75 3,44 20,24 23,16 0,77 4498

id
Sumatera Selatan 23,35 0,61 2,61 22,16 24,54 1,03 6643

.
Bengkulu 22,14 0,77 3,48 20,63 23,65 0,45 3532

go
Lampung 25,51 0,63 2,47 24,27 26,75 1,23 6913
Kep. Bangka Belitung 20,38 1,29 s.
6,32 17,85 22,90 0,68 1799
Kepulauan Riau 21,61 1,83 8,48 18,02 25,21 0,59 907
p
.b

DKI Jakarta - - - - - - -
Jawa Barat 28,62 0,60 2,10 27,44 29,80 2,41 8279
w

Jawa Tengah 37,26 0,50 1,35 36,27 38,25 1,87 12897


w

DI Yogyakarta 45,87 1,95 4,26 42,04 49,69 1,71 1154


//w

Jawa Timur 36,82 0,47 1,27 35,90 37,73 1,86 14139


Banten 24,78 0,99 3,98 22,85 26,72 1,72 2247
s:

Bali 35,90 1,38 3,84 33,20 38,61 1,16 2240


tp

Nusa Tenggara Barat 23,15 0,87 3,74 21,45 24,85 1,19 3536
Nusa Tenggara Timur 28,79 0,62 2,15 27,57 30,00 0,62 8881
ht

Kalimantan Barat 23,35 0,67 2,86 22,04 24,66 0,75 5625


Kalimantan Tengah 17,36 0,85 4,88 15,70 19,02 0,81 4503
Kalimantan Selatan 22,07 0,72 3,28 20,65 23,49 0,70 4504
Kalimantan Timur 20,40 1,24 6,10 17,96 22,84 1,08 1951
Kalimantan Utara 22,04 1,88 8,52 18,36 25,72 0,52 1025
Sulawesi Utara 31,79 0,98 3,08 29,87 33,70 0,52 4347
Sulawesi Tengah 25,09 0,75 3,00 23,62 26,57 0,60 4813
Sulawesi Selatan 31,85 0,65 2,04 30,58 33,12 0,89 9138
Sulawesi Tenggara 24,39 0,79 3,25 22,84 25,95 0,48 4582
Gorontalo 24,02 1,15 4,80 21,76 26,27 0,48 1995
Sulawesi Barat 21,31 1,02 4,80 19,31 23,32 0,56 2330
Maluku 26,90 1,01 3,76 24,92 28,88 0,41 3186
Maluku Utara 22,61 0,90 3,99 20,84 24,38 0,32 3048
Papua Barat 16,25 1,08 6,65 14,13 18,37 0,41 2701
Papua 8,44 0,61 7,18 7,25 9,63 1,11 8136

Indonesia 28,99 0,16 0,55 28,68 29,30 1,63 168589

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

223
Tabel B.3 Sampling Error Persentase Rumah Tangga Penduduk Lansia
Menurut Provinsi, 2018
Perkotaan+Perdesaan
Relative Selang
Kepercayaan Efek
Nilai Standard Standard Jumlah
Provinsi Rancangan
Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 23,29 0,54 2,31 22,23 24,34 0,86 11462
Sumatera Utara 24,59 0,47 1,90 23,67 25,51 1,73 18595
Sumatera Barat 30,03 0,69 2,28 28,68 31,37 1,23 10032
Riau 17,58 0,53 2,99 16,55 18,61 1,35 7492
Jambi 21,98 0,64 2,92 20,72 23,24 0,94 6161

id
Sumatera Selatan 23,50 0,55 2,33 22,43 24,58 1,48 9732

.
Bengkulu 21,02 0,66 3,15 19,72 22,32 0,58 5064

go
Lampung 25,09 0,56 2,23 23,99 26,19 1,56 9245
Kep. Bangka Belitung 21,32 0,88 4,13 s.
19,59 23,04 0,75 3584
Kepulauan Riau 13,15 0,98 7,42 11,23 15,06 2,05 3496
p
.b

DKI Jakarta 21,52 0,72 3,34 20,11 22,93 3,70 4923


Jawa Barat 25,02 0,38 1,53 24,27 25,77 4,43 23603
w

Jawa Tengah 36,03 0,37 1,01 35,32 36,75 2,31 27294


w

DI Yogyakarta 34,36 0,95 2,77 32,49 36,22 1,94 3697


//w

Jawa Timur 34,66 0,36 1,04 33,95 35,36 2,69 29780


Banten 19,95 0,66 3,29 18,66 21,24 3,59 6588
s:

Bali 29,02 0,90 3,09 27,26 30,78 1,90 5753


tp

Nusa Tenggara Barat 22,79 0,64 2,82 21,53 24,05 1,41 6261
Nusa Tenggara Timur 27,54 0,59 2,13 26,39 28,69 0,85 10803
ht

Kalimantan Barat 24,19 0,61 2,52 23,00 25,39 1,03 7864


Kalimantan Tengah 17,24 0,64 3,70 15,99 18,49 0,85 6759
Kalimantan Selatan 21,32 0,60 2,80 20,15 22,49 1,04 7477
Kalimantan Timur 18,75 0,73 3,90 17,32 20,18 1,37 5083
Kalimantan Utara 20,41 1,25 6,13 17,96 22,86 0,69 2034
Sulawesi Utara 30,56 0,75 2,45 29,09 32,02 0,72 7276
Sulawesi Tengah 24,14 0,70 2,89 22,78 25,51 0,85 6160
Sulawesi Selatan 30,12 0,54 1,80 29,06 31,18 1,22 13787
Sulawesi Tenggara 22,87 0,81 3,54 21,29 24,46 0,98 6141
Gorontalo 23,97 0,96 4,01 22,09 25,86 0,63 3015
Sulawesi Barat 21,64 0,96 4,43 19,76 23,52 0,73 2911
Maluku 25,71 0,91 3,55 23,92 27,50 0,69 4831
Maluku Utara 22,04 0,83 3,75 20,42 23,66 0,45 4066
Papua Barat 15,85 0,90 5,66 14,10 17,61 0,55 3917
Papua 10,29 0,54 5,24 9,24 11,35 1,13 10269

Indonesia 27,20 0,13 0,47 26,95 27,46 2,48 295155

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

224
Tabel C.1 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia yang Tinggal Sendiri
Menurut Provinsi, 2018
Perkotaan
Relative Selang
Kepercayaan Efek
Nilai Standard Standard Jumlah
Provinsi Rancangan
Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 9,34 1,67 17,91 6,06 12,62 1,79 937
Sumatera Utara 8,22 0,76 9,29 6,72 9,71 2,28 2711
Sumatera Barat 5,24 0,72 13,83 3,82 6,66 1,16 1536
Riau 4,42 0,87 19,64 2,72 6,13 1,36 703
Jambi 5,50 1,00 18,14 3,54 7,45 0,83 503

id
Sumatera Selatan 4,87 0,84 17,33 3,21 6,52 1,88 1055

.
Bengkulu 6,50 1,40 21,56 3,75 9,25 0,66 431

go
Lampung 5,33 0,91 17,06 3,55 7,11 1,65 842
Kep. Bangka Belitung 9,50 1,30 s.
13,67 6,96 12,05 0,62 608
Kepulauan Riau 5,61 0,98 17,45 3,69 7,53 0,71 647
p
.b

DKI Jakarta 7,71 0,80 10,34 6,15 9,28 3,67 1511


Jawa Barat 9,64 0,54 5,64 8,57 10,71 5,27 4799
w

Jawa Tengah 9,77 0,45 4,66 8,88 10,66 2,68 5973


w

DI Yogyakarta 10,20 0,99 9,75 8,25 12,15 1,94 1194


//w

Jawa Timur 9,57 0,47 4,86 8,66 10,49 3,16 6501


Banten 6,11 0,93 15,16 4,29 7,93 3,87 1090
s:

Bali 4,94 0,64 12,99 3,69 6,20 1,26 1594


tp

Nusa Tenggara Barat 10,58 1,38 13,08 7,87 13,30 1,97 804
Nusa Tenggara Timur 4,28 1,03 24,14 2,26 6,31 1,14 617
ht

Kalimantan Barat 4,00 0,74 18,45 2,55 5,44 0,98 822


Kalimantan Tengah 7,07 1,38 19,46 4,38 9,77 0,86 535
Kalimantan Selatan 10,11 1,16 11,42 7,85 12,38 1,02 772
Kalimantan Timur 6,51 1,29 19,85 3,97 9,04 2,04 714
Kalimantan Utara 4,30 1,40 32,45 1,56 7,04 0,61 201
Sulawesi Utara 6,96 0,88 12,69 5,23 8,69 0,81 1205
Sulawesi Tengah 6,83 2,01 29,46 2,89 10,78 2,01 340
Sulawesi Selatan 5,09 0,61 11,94 3,90 6,28 1,20 1762
Sulawesi Tenggara 4,94 1,36 27,52 2,27 7,60 1,31 413
Gorontalo 5,77 1,43 24,78 2,96 8,57 0,69 285
Sulawesi Barat 2,33 1,03 44,31 0,31 4,35 0,55 170
Maluku 5,28 1,37 25,96 2,59 7,96 0,98 525
Maluku Utara 1,42 0,68 48,22 0,08 2,76 0,35 262
Papua Barat 4,68 1,37 29,26 2,00 7,37 0,37 288
Papua 2,82 1,19 42,33 0,48 5,16 1,21 379

Indonesia 8,50 0,20 2,30 8,12 8,89 2,61 42729

Keterangan: Warna kuning ( ) artinya perlu kehati-hatian dalam menggunakan hasil estimasi
Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

225
Tabel C.2 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia yang Tinggal Sendiri
Menurut Provinsi, 2018
Perdesaan
Relative Selang
Kepercayaan Efek
Nilai Standard Standard Jumlah
Provinsi Rancangan
Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 13,81 0,87 6,29 12,10 15,51 0,55 2400
Sumatera Utara 12,76 0,77 6,01 11,26 14,27 0,96 3357
Sumatera Barat 10,43 0,69 6,64 9,07 11,79 0,53 2568
Riau 7,40 0,87 11,71 5,70 9,10 0,86 1135
Jambi 9,27 0,94 10,20 7,42 11,12 0,65 1323

id
Sumatera Selatan 7,02 0,61 8,62 5,83 8,21 0,79 2105

.
Bengkulu 9,83 1,06 10,77 7,75 11,90 0,44 1066

go
Lampung 7,60 0,57 7,47 6,49 8,71 0,82 2328
Kep. Bangka Belitung 11,22 1,93 17,22 s.
7,43 15,00 0,63 462
Kepulauan Riau 9,70 1,99 20,56 5,79 13,61 0,35 251
p
.b

DKI Jakarta - - - - - - -
Jawa Barat 15,17 0,77 5,05 13,67 16,67 2,14 3151
w

Jawa Tengah 9,72 0,44 4,50 8,86 10,58 1,71 6305


w

DI Yogyakarta 9,21 1,17 12,70 6,91 11,50 1,06 778


//w

Jawa Timur 9,97 0,40 4,02 9,19 10,76 1,57 7206


Banten 11,50 1,33 11,59 8,89 14,11 1,61 682
s:

Bali 6,76 0,85 12,53 5,10 8,42 0,76 1265


tp

Nusa Tenggara Barat 8,36 1,12 13,43 6,16 10,56 1,27 1111
Nusa Tenggara Timur 6,90 0,49 7,14 5,93 7,86 0,43 3828
ht

Kalimantan Barat 6,33 0,66 10,49 5,03 7,63 0,63 1853


Kalimantan Tengah 8,59 1,03 12,04 6,56 10,62 0,45 1151
Kalimantan Selatan 12,67 1,00 7,89 10,71 14,63 0,52 1208
Kalimantan Timur 14,12 2,60 18,42 9,02 19,22 1,49 530
Kalimantan Utara 4,32 1,41 32,58 1,56 7,08 0,33 274
Sulawesi Utara 6,06 0,60 9,89 4,89 7,23 0,30 1954
Sulawesi Tengah 6,80 0,70 10,34 5,42 8,18 0,47 1416
Sulawesi Selatan 7,56 0,48 6,29 6,62 8,49 0,58 3995
Sulawesi Tenggara 9,56 0,95 9,98 7,69 11,43 0,43 1351
Gorontalo 7,35 1,25 17,00 4,90 9,80 0,45 582
Sulawesi Barat 5,33 0,88 16,53 3,60 7,06 0,35 686
Maluku 5,20 0,84 16,18 3,55 6,85 0,37 1286
Maluku Utara 4,37 0,66 15,22 3,06 5,67 0,20 943
Papua Barat 6,17 1,59 25,77 3,05 9,29 0,39 559
Papua 7,50 1,30 17,26 4,97 10,04 0,55 815

Indonesia 9,98 0,17 1,71 9,65 10,32 1,61 59924

Keterangan: Warna kuning ( ) artinya perlu kehati-hatian dalam menggunakan hasil estimasi
Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

226
Tabel C.3 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia yang Tinggal Sendiri
Menurut Provinsi, 2018
Laki-laki
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 4,23 0,59 13,92 3,08 5,39 0,61 1543
Sumatera Utara 5,11 0,57 11,10 4,00 6,23 1,42 2667
Sumatera Barat 4,22 0,54 12,88 3,16 5,29 0,73 1828
Riau 2,67 0,55 20,77 1,58 3,76 0,96 900
Jambi 3,89 0,71 18,24 2,50 5,28 0,75 903

id
Sumatera Selatan 2,48 0,43 17,23 1,64 3,31 1,01 1527

.
Bengkulu 4,81 0,94 19,63 2,96 6,66 0,59 746

go
Lampung 3,24 0,49 15,09 2,28 4,20 1,18 1592
Kep. Bangka Belitung 7,79 1,33 s.
17,02 5,19 10,38 0,57 530
Kepulauan Riau 6,16 1,40 22,73 3,42 8,91 0,69 432
p
.b

DKI Jakarta 5,03 0,93 18,57 3,20 6,86 2,95 750


Jawa Barat 5,34 0,44 8,17 4,49 6,20 3,39 3910
w

Jawa Tengah 4,03 0,28 6,91 3,49 4,58 1,79 5840


w

DI Yogyakarta 6,06 0,89 14,62 4,33 7,80 1,42 881


//w

Jawa Timur 4,51 0,30 6,71 3,91 5,10 2,09 6332


Banten 5,05 0,83 16,35 3,43 6,67 2,31 909
s:

Bali 3,19 0,48 15,21 2,24 4,14 0,72 1385


tp

Nusa Tenggara Barat 3,90 0,74 19,03 2,44 5,35 1,20 898
ht

Nusa Tenggara Timur 3,32 0,42 12,70 2,49 4,14 0,47 2120
Kalimantan Barat 3,48 0,57 16,44 2,36 4,60 0,78 1314
Kalimantan Tengah 5,81 1,05 18,14 3,74 7,87 0,69 851
Kalimantan Selatan 5,53 0,81 14,59 3,95 7,12 0,76 913
Kalimantan Timur 6,46 1,23 19,01 4,05 8,87 1,26 677
Kalimantan Utara 3,22 1,15 35,72 0,97 5,48 0,44 264
Sulawesi Utara 4,09 0,58 14,31 2,94 5,23 0,48 1523
Sulawesi Tengah 4,45 1,02 22,92 2,45 6,45 1,23 869
Sulawesi Selatan 2,65 0,34 12,76 1,99 3,32 0,68 2505
Sulawesi Tenggara 2,73 0,55 20,13 1,65 3,81 0,42 857
Gorontalo 3,94 1,12 28,32 1,75 6,13 0,60 399
Sulawesi Barat 2,36 0,77 32,62 0,85 3,87 0,45 397
Maluku 4,22 1,07 25,46 2,11 6,32 0,73 873
Maluku Utara 2,14 0,65 30,23 0,87 3,41 0,33 603
Papua Barat 5,14 1,37 26,71 2,45 7,84 0,38 439
Papua 5,69 1,15 20,16 3,44 7,94 0,67 643

Indonesia 4,43 0,13 2,91 4,18 4,68 1,92 48820

Keterangan: Warna kuning ( ) artinya perlu kehati-hatian dalam menggunakan hasil estimasi
Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

227
Tabel C.4 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia yang Tinggal Sendiri
Menurut Provinsi, 2018
Perempuan
Relative Selang
Kepercayaan Efek
Nilai Standard Standard Jumlah
Provinsi Rancangan
Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 19,72 1,28 6,50 17,21 22,23 0,84 1794
Sumatera Utara 14,90 0,84 5,67 13,25 16,56 1,41 3401
Sumatera Barat 11,73 0,78 6,64 10,20 13,25 0,69 2276
Riau 9,93 1,07 10,74 7,84 12,02 0,99 938
Jambi 12,31 1,17 9,50 10,02 14,60 0,69 923

id
Sumatera Selatan 9,82 0,86 8,79 8,13 11,51 1,18 1633

.
Bengkulu 13,07 1,34 10,23 10,45 15,69 0,47 751

go
Lampung 10,83 0,83 7,71 9,19 12,46 1,08 1578
Kep. Bangka Belitung 12,71 1,70 13,40 s.
9,37 16,05 0,61 540
Kepulauan Riau 6,94 1,07 15,45 4,84 9,05 0,37 466
p
.b

DKI Jakarta 10,20 1,29 12,67 7,67 12,74 3,17 761


Jawa Barat 17,10 0,71 4,17 15,70 18,50 3,40 4040
w

Jawa Tengah 14,77 0,51 3,45 13,77 15,76 2,08 6438


w

DI Yogyakarta 12,99 1,14 8,78 10,76 15,22 1,42 1091


//w

Jawa Timur 14,34 0,49 3,38 13,39 15,29 2,17 7375


Banten 10,93 1,24 11,31 8,50 13,35 2,56 863
s:

Bali 7,91 0,80 10,17 6,33 9,49 0,94 1474


tp

Nusa Tenggara Barat 14,16 1,42 10,02 11,38 16,94 1,54 1017
Nusa Tenggara Timur 9,09 0,75 8,26 7,62 10,56 0,64 2325
ht

Kalimantan Barat 7,52 0,80 10,68 5,95 9,10 0,75 1361


Kalimantan Tengah 10,43 1,27 12,13 7,95 12,91 0,54 835
Kalimantan Selatan 16,98 1,23 7,24 14,57 19,39 0,72 1067
Kalimantan Timur 12,38 2,30 18,55 7,88 16,88 2,10 567
Kalimantan Utara 5,62 1,75 31,09 2,19 9,04 0,49 211
Sulawesi Utara 8,70 0,84 9,62 7,06 10,35 0,52 1636
Sulawesi Tengah 9,14 1,05 11,48 7,08 11,20 0,67 887
Sulawesi Selatan 9,77 0,58 5,98 8,62 10,91 0,76 3252
Sulawesi Tenggara 12,74 1,30 10,23 10,18 15,29 0,61 907
Gorontalo 9,19 1,52 16,57 6,21 12,18 0,58 468
Sulawesi Barat 6,52 1,18 18,13 4,20 8,84 0,46 459
Maluku 6,16 1,07 17,43 4,06 8,27 0,55 938
Maluku Utara 5,06 0,85 16,86 3,39 6,74 0,24 602
Papua Barat 6,10 1,80 29,52 2,57 9,62 0,47 408
Papua 5,54 1,23 22,16 3,13 7,94 0,58 551

Indonesia 13,56 0,21 1,55 13,15 13,97 2,02 53833

Keterangan: Warna kuning ( ) artinya perlu kehati-hatian dalam menggunakan hasil estimasi
Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

228
Tabel C.5 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia yang Tinggal Sendiri
Menurut Provinsi, 2018
Perkotaan+Perdesaan, Laki-laki+Perempuan
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 12,51 0,78 6,23 10,98 14,04 0,83 3337
Sumatera Utara 10,42 0,55 5,29 9,34 11,50 1,49 6068
Sumatera Barat 8,30 0,52 6,21 7,29 9,32 0,75 4104
Riau 6,24 0,63 10,08 5,01 7,47 1,05 1838
Jambi 8,07 0,72 8,92 6,66 9,48 0,76 1826

id
Sumatera Selatan 6,24 0,49 7,91 5,27 7,21 1,12 3160

.
Bengkulu 8,90 0,86 9,63 7,22 10,58 0,53 1497

go
Lampung 6,99 0,48 6,90 6,04 7,93 1,07 3170
Kep. Bangka Belitung 10,27 1,12
s.
10,95 8,06 12,47 0,63 1070
Kepulauan Riau 6,56 0,89 13,58 4,81 8,31 0,53 898
p
.b

DKI Jakarta 7,71 0,80 10,34 6,15 9,28 2,94 1511


Jawa Barat 11,38 0,45 3,92 10,51 12,26 3,58 7950
w

Jawa Tengah 9,74 0,32 3,24 9,13 10,36 2,11 12278


w

DI Yogyakarta 9,85 0,76 7,76 8,35 11,34 1,46 1972


//w

Jawa Timur 9,78 0,31 3,13 9,18 10,38 2,20 13707


Banten 8,00 0,76 9,51 6,51 9,49 2,51 1772
s:

Bali 5,70 0,51 8,99 4,69 6,70 0,96 2859


tp

Nusa Tenggara Barat 9,37 0,88 9,37 7,65 11,09 1,56 1915
ht

Nusa Tenggara Timur 6,37 0,45 7,00 5,50 7,25 0,58 4445
Kalimantan Barat 5,51 0,50 9,12 4,53 6,50 0,76 2675
Kalimantan Tengah 8,03 0,83 10,28 6,41 9,65 0,59 1686
Kalimantan Selatan 11,54 0,76 6,57 10,05 13,02 0,71 1980
Kalimantan Timur 9,20 1,25 13,55 6,76 11,64 1,71 1244
Kalimantan Utara 4,31 1,00 23,10 2,36 6,26 0,44 475
Sulawesi Utara 6,49 0,53 8,10 5,46 7,52 0,51 3159
Sulawesi Tengah 6,81 0,73 10,78 5,37 8,25 0,84 1756
Sulawesi Selatan 6,65 0,38 5,64 5,91 7,39 0,78 5757
Sulawesi Tenggara 7,94 0,77 9,70 6,43 9,45 0,61 1764
Gorontalo 6,75 0,95 14,02 4,89 8,60 0,54 867
Sulawesi Barat 4,57 0,71 15,65 3,17 5,97 0,43 856
Maluku 5,23 0,75 14,27 3,77 6,69 0,58 1811
Maluku Utara 3,59 0,52 14,59 2,57 4,62 0,25 1205
Papua Barat 5,58 1,10 19,75 3,42 7,74 0,41 847
Papua 5,63 0,90 16,07 3,85 7,40 0,71 1194

Indonesia 9,22 0,13 1,42 8,96 9,47 2,09 102653

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

229
Tabel D.1 Sampling Error Rata-rata Lama Sekolah dari Penduduk Lansia
Menurut Provinsi, 2018
Perkotaan
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 7,45 0,23 3,12 6,99 7,91 1,48 937
Sumatera Utara 7,65 0,17 2,22 7,31 7,98 4,54 2711
Sumatera Barat 7,10 0,23 3,27 6,65 7,56 2,86 1536
Riau 7,59 0,26 3,48 7,07 8,10 2,60 703
Jambi 6,92 0,28 4,09 6,36 7,47 1,73 503

id
Sumatera Selatan 7,21 0,23 3,14 6,76 7,65 3,36 1055

.
Bengkulu 7,07 0,33 4,69 6,42 7,73 0,89 431

go
Lampung 6,26 0,27 4,35 5,72 6,79 3,71 842
Kep. Bangka Belitung 5,90 0,24 4,09
s.
5,43 6,37 1,16 608
Kepulauan Riau 6,09 0,31 5,08 5,48 6,69 1,86 647
p
.b

DKI Jakarta 9,17 0,20 2,15 8,79 9,56 6,56 1511


Jawa Barat 5,94 0,13 2,12 5,70 6,19 11,59 4799
w

Jawa Tengah 4,95 0,09 1,88 4,76 5,13 4,80 5973


w

DI Yogyakarta 5,66 0,20 3,60 5,26 6,06 3,65 1194


//w

Jawa Timur 4,50 0,08 1,67 4,36 4,65 5,45 6501


Banten 5,96 0,29 4,91 5,39 6,54 9,25 1090
s:

Bali 5,24 0,19 3,58 4,87 5,61 2,20 1594


tp

Nusa Tenggara Barat 3,93 0,28 7,03 3,39 4,48 3,18 804
ht

Nusa Tenggara Timur 7,07 0,33 4,65 6,42 7,71 1,89 617
Kalimantan Barat 5,37 0,29 5,42 4,80 5,95 2,44 822
Kalimantan Tengah 7,45 0,37 4,98 6,73 8,18 1,49 535
Kalimantan Selatan 6,48 0,27 4,15 5,96 7,01 2,15 772
Kalimantan Timur 6,66 0,25 3,77 6,16 7,15 2,35 714
Kalimantan Utara 5,63 0,45 8,00 4,74 6,51 1,29 201
Sulawesi Utara 8,02 0,20 2,49 7,63 8,41 1,34 1205
Sulawesi Tengah 7,60 0,36 4,71 6,90 8,30 2,08 340
Sulawesi Selatan 6,91 0,22 3,19 6,48 7,34 2,76 1762
Sulawesi Tenggara 6,23 0,57 9,17 5,11 7,36 3,86 413
Gorontalo 6,38 0,35 5,55 5,69 7,08 1,33 285
Sulawesi Barat 6,46 0,76 11,79 4,97 7,95 2,55 170
Maluku 8,13 0,31 3,83 7,52 8,74 1,27 525
Maluku Utara 7,35 0,35 4,81 6,65 8,04 0,67 262
Papua Barat 7,75 0,33 4,20 7,11 8,38 0,48 288
Papua 9,07 0,40 4,41 8,29 9,86 1,87 379

Indonesia 5,91 0,05 0,77 5,82 6,00 5,06 42729

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

230
Tabel D.2 Sampling Error Rata-rata Lama Sekolah dari Penduduk Lansia
Menurut Provinsi, 2018
Perdesaan
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 4,50 0,10 2,32 4,30 4,71 0,77 2400
Sumatera Utara 4,96 0,10 1,98 4,76 5,15 1,31 3357
Sumatera Barat 4,40 0,11 2,46 4,19 4,62 0,94 2568
Riau 3,87 0,15 3,98 3,57 4,17 1,68 1135
Jambi 3,75 0,13 3,53 3,49 4,01 0,89 1323

id
Sumatera Selatan 3,90 0,11 2,86 3,68 4,12 1,60 2105

.
Bengkulu 3,64 0,15 4,08 3,35 3,93 0,66 1066

go
Lampung 3,49 0,10 2,99 3,28 3,69 1,92 2328
Kep. Bangka Belitung 3,49 0,20
s.
5,62 3,10 3,87 0,66 462
Kepulauan Riau 2,67 0,33 12,40 2,02 3,32 0,90 251
p
.b

DKI Jakarta - - - - - - -
Jawa Barat 3,96 0,09 2,38 3,78 4,15 4,01 3151
w

Jawa Tengah 3,08 0,06 2,05 2,96 3,21 2,99 6305


w

DI Yogyakarta 3,27 0,18 5,54 2,92 3,63 1,73 778


//w

Jawa Timur 2,75 0,06 2,10 2,63 2,86 3,41 7206


Banten 3,40 0,17 5,11 3,06 3,74 2,73 682
s:

Bali 2,92 0,16 5,53 2,60 3,24 1,48 1265


tp

Nusa Tenggara Barat 2,12 0,15 6,92 1,84 2,41 1,64 1111
ht

Nusa Tenggara Timur 3,53 0,09 2,49 3,35 3,70 0,74 3828
Kalimantan Barat 2,46 0,11 4,57 2,24 2,68 1,06 1853
Kalimantan Tengah 4,34 0,17 3,91 4,00 4,67 0,81 1151
Kalimantan Selatan 3,53 0,15 4,32 3,24 3,83 1,14 1208
Kalimantan Timur 3,50 0,26 7,53 2,99 4,02 1,66 530
Kalimantan Utara 3,66 0,36 9,93 2,95 4,38 0,74 274
Sulawesi Utara 5,90 0,13 2,19 5,65 6,16 0,60 1954
Sulawesi Tengah 5,03 0,15 2,97 4,73 5,32 1,04 1416
Sulawesi Selatan 3,18 0,10 3,28 2,97 3,38 1,29 3995
Sulawesi Tenggara 3,83 0,16 4,06 3,53 4,14 0,64 1351
Gorontalo 4,40 0,22 5,01 3,97 4,84 0,84 582
Sulawesi Barat 3,68 0,20 5,41 3,29 4,07 0,63 686
Maluku 5,47 0,22 4,07 5,03 5,90 0,96 1286
Maluku Utara 4,40 0,17 3,79 4,07 4,73 0,43 943
Papua Barat 4,99 0,37 7,32 4,27 5,70 0,67 559
Papua 3,44 0,27 7,87 2,91 3,97 0,99 815

Indonesia 3,45 0,02 0,72 3,41 3,50 2,69 59924

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

231
Tabel D.3 Sampling Error Rata-rata Lama Sekolah dari Penduduk Lansia
Menurut Provinsi, 2018
Laki-laki
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 6,29 0,14 2,25 6,01 6,56 0,81 1543
Sumatera Utara 7,34 0,13 1,72 7,09 7,58 1,95 2667
Sumatera Barat 6,22 0,15 2,46 5,92 6,52 1,29 1828
Riau 6,23 0,19 3,11 5,85 6,61 1,56 900
Jambi 5,80 0,17 2,89 5,47 6,13 0,94 903

id
Sumatera Selatan 6,13 0,14 2,36 5,85 6,41 1,66 1527

.
Bengkulu 5,74 0,20 3,54 5,34 6,14 0,65 746

go
Lampung 5,05 0,13 2,60 4,79 5,30 1,82 1592
Kep. Bangka Belitung 5,78 0,23 3,90
s.
5,34 6,22 0,70 530
Kepulauan Riau 6,40 0,33 5,10 5,76 7,04 1,10 432
p
.b

DKI Jakarta 10,27 0,23 2,22 9,82 10,72 3,78 750


Jawa Barat 6,37 0,10 1,64 6,16 6,57 4,95 3910
w

Jawa Tengah 4,96 0,07 1,43 4,82 5,10 2,58 5840


w

DI Yogyakarta 6,02 0,19 3,19 5,64 6,39 1,94 881


//w

Jawa Timur 4,41 0,06 1,35 4,30 4,53 2,87 6332


Banten 6,21 0,24 3,83 5,74 6,67 4,20 909
s:

Bali 5,70 0,16 2,85 5,39 6,02 1,14 1385


tp

Nusa Tenggara Barat 4,19 0,21 4,96 3,78 4,59 1,66 898
ht

Nusa Tenggara Timur 5,04 0,13 2,67 4,78 5,30 0,76 2120
Kalimantan Barat 4,46 0,17 3,84 4,13 4,80 1,24 1314
Kalimantan Tengah 6,45 0,23 3,52 6,01 6,90 0,83 851
Kalimantan Selatan 6,17 0,20 3,31 5,77 6,57 1,16 913
Kalimantan Timur 6,65 0,24 3,67 6,17 7,13 1,54 677
Kalimantan Utara 5,69 0,37 6,44 4,97 6,40 0,72 264
Sulawesi Utara 7,40 0,16 2,18 7,08 7,72 0,75 1523
Sulawesi Tengah 6,41 0,19 2,94 6,04 6,78 1,04 869
Sulawesi Selatan 5,52 0,15 2,65 5,23 5,80 1,27 2505
Sulawesi Tenggara 6,27 0,27 4,36 5,74 6,81 1,13 857
Gorontalo 5,23 0,24 4,56 4,76 5,70 0,73 399
Sulawesi Barat 5,26 0,35 6,62 4,58 5,94 1,05 397
Maluku 7,28 0,23 3,16 6,83 7,74 0,73 873
Maluku Utara 6,01 0,22 3,67 5,58 6,44 0,45 603
Papua Barat 6,87 0,34 4,99 6,19 7,54 0,52 439
Papua 6,17 0,36 5,90 5,46 6,89 1,31 643

Indonesia 5,70 0,03 0,57 5,64 5,76 2,64 48820

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

232
Tabel D.4 Sampling Error Rata-rata Lama Sekolah dari Penduduk Lansia
Menurut Provinsi, 2018
Perempuan
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 4,55 0,12 2,64 4,31 4,78 0,84 1794
Sumatera Utara 5,51 0,12 2,17 5,27 5,74 2,14 3401
Sumatera Barat 4,91 0,14 2,77 4,64 5,18 1,29 2276
Riau 4,38 0,17 3,91 4,04 4,71 1,54 938
Jambi 3,70 0,16 4,34 3,39 4,02 0,98 923

id
Sumatera Selatan 4,13 0,15 3,68 3,83 4,42 2,34 1633

.
Bengkulu 3,42 0,17 4,82 3,10 3,75 0,59 751

go
Lampung 3,40 0,13 3,82 3,15 3,66 1,99 1578
Kep. Bangka Belitung 3,88 0,17
s.
4,46 3,55 4,22 0,66 540
Kepulauan Riau 4,22 0,36 8,61 3,51 4,93 1,62 466
p
.b

DKI Jakarta 8,15 0,23 2,80 7,70 8,60 3,73 761


Jawa Barat 4,33 0,10 2,32 4,13 4,52 6,19 4040
w

Jawa Tengah 3,14 0,06 1,97 3,02 3,27 2,82 6438


w

DI Yogyakarta 3,81 0,17 4,39 3,49 4,14 2,15 1091


//w

Jawa Timur 2,90 0,05 1,81 2,80 3,00 3,14 7375


Banten 3,93 0,20 5,12 3,53 4,32 3,89 863
s:

Bali 3,02 0,13 4,46 2,76 3,28 1,33 1474


tp

Nusa Tenggara Barat 1,86 0,14 7,68 1,58 2,14 1,77 1017
ht

Nusa Tenggara Timur 3,52 0,11 3,09 3,31 3,73 0,90 2325
Kalimantan Barat 2,52 0,14 5,41 2,25 2,78 1,16 1361
Kalimantan Tengah 4,46 0,20 4,59 4,06 4,86 0,79 835
Kalimantan Selatan 3,63 0,15 4,07 3,34 3,92 1,09 1067
Kalimantan Timur 4,25 0,24 5,67 3,78 4,72 1,62 567
Kalimantan Utara 3,61 0,33 9,20 2,96 4,27 0,72 211
Sulawesi Utara 6,48 0,14 2,11 6,21 6,75 0,68 1636
Sulawesi Tengah 4,97 0,17 3,35 4,64 5,29 1,04 887
Sulawesi Selatan 3,79 0,13 3,37 3,54 4,04 1,65 3252
Sulawesi Tenggara 3,20 0,22 6,81 2,78 3,63 1,40 907
Gorontalo 5,10 0,23 4,50 4,65 5,55 0,75 468
Sulawesi Barat 3,60 0,27 7,36 3,08 4,12 0,87 459
Maluku 5,86 0,23 3,88 5,41 6,30 0,91 938
Maluku Utara 4,33 0,19 4,37 3,96 4,70 0,46 602
Papua Barat 5,15 0,30 5,83 4,56 5,74 0,48 408
Papua 5,06 0,35 6,84 4,38 5,74 1,06 551

Indonesia 3,84 0,03 0,76 3,78 3,89 2,98 53833

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

233
Tabel D.5 Sampling Error Rata-rata Lama Sekolah dari Penduduk Lansia
Menurut Provinsi, 2018
Perkotaan+Perdesaan, Laki-laki+Perempuan
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 5,36 0,10 1,93 5,15 5,56 0,98 3337
Sumatera Utara 6,35 0,11 1,69 6,14 6,56 2,94 6068
Sumatera Barat 5,51 0,12 2,23 5,27 5,75 1,80 4104
Riau 5,32 0,16 2,93 5,01 5,62 2,10 1838
Jambi 4,76 0,13 2,83 4,50 5,03 1,18 1826

id
Sumatera Selatan 5,10 0,12 2,43 4,86 5,35 2,54 3160

.
Bengkulu 4,59 0,15 3,26 4,30 4,89 0,74 1497

go
Lampung 4,23 0,11 2,63 4,02 4,45 2,58 3170
Kep. Bangka Belitung 4,83 0,17 3,47
s.
4,50 5,15 0,88 1070
Kepulauan Riau 5,29 0,28 5,22 4,75 5,84 1,57 898
p
.b

DKI Jakarta 9,17 0,20 2,15 8,79 9,56 5,24 1511


Jawa Barat 5,32 0,09 1,69 5,14 5,50 7,87 7950
w

Jawa Tengah 3,99 0,06 1,42 3,88 4,10 3,65 12278


w

DI Yogyakarta 4,81 0,15 3,21 4,51 5,12 2,81 1972


//w

Jawa Timur 3,60 0,05 1,32 3,51 3,70 4,07 13707


Banten 5,06 0,20 3,93 4,67 5,45 6,12 1772
s:

Bali 4,28 0,13 3,02 4,03 4,53 1,66 2859


tp

Nusa Tenggara Barat 2,94 0,15 5,02 2,66 3,23 2,20 1915
ht

Nusa Tenggara Timur 4,24 0,10 2,38 4,04 4,43 1,07 4445
Kalimantan Barat 3,49 0,14 3,91 3,22 3,75 1,73 2675
Kalimantan Tengah 5,49 0,18 3,36 5,13 5,86 1,10 1686
Kalimantan Selatan 4,84 0,15 3,06 4,55 5,13 1,44 1980
Kalimantan Timur 5,54 0,20 3,61 5,15 5,93 1,93 1244
Kalimantan Utara 4,75 0,29 6,20 4,17 5,32 0,91 475
Sulawesi Utara 6,92 0,12 1,75 6,68 7,16 0,93 3159
Sulawesi Tengah 5,68 0,15 2,60 5,39 5,97 1,36 1756
Sulawesi Selatan 4,55 0,12 2,55 4,32 4,78 2,00 5757
Sulawesi Tenggara 4,68 0,20 4,31 4,28 5,07 1,45 1764
Gorontalo 5,16 0,20 3,85 4,77 5,55 1,04 867
Sulawesi Barat 4,38 0,27 6,08 3,86 4,90 1,39 856
Maluku 6,54 0,19 2,95 6,16 6,92 1,10 1811
Maluku Utara 5,17 0,16 3,08 4,86 5,49 0,51 1205
Papua Barat 6,08 0,27 4,41 5,55 6,60 0,64 847
Papua 5,70 0,30 5,26 5,11 6,28 1,61 1194

Indonesia 4,72 0,03 0,57 4,67 4,77 4,02 102653

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

234
Tabel E.1 Sampling Error Angka Kesakitan Penduduk Lansia Menurut Provinsi,
2018
Perkotaan
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 21,81 2,05 9,40 17,79 25,83 1,33 937
Sumatera Utara 20,73 1,26 6,07 18,26 23,20 2,85 2711
Sumatera Barat 23,12 1,87 8,08 19,46 26,78 2,15 1536
Riau 25,45 2,47 9,69 20,61 30,28 2,44 703
Jambi 21,16 2,68 12,64 15,92 26,41 1,86 503

id
Sumatera Selatan 17,89 1,73 9,68 14,49 21,29 2,50 1055

.
Bengkulu 19,52 2,96 15,15 13,73 25,32 1,14 431

go
Lampung 27,07 2,84 10,48 21,51 32,63 4,11 842
Kep. Bangka Belitung 20,73 2,31
s.
11,14 16,20 25,25 1,03 608
Kepulauan Riau 20,74 2,20 10,61 16,42 25,05 1,15 647
p
.b

DKI Jakarta 19,50 1,39 7,11 16,78 22,22 5,03 1511


Jawa Barat 27,89 1,02 3,64 25,90 29,88 7,97 4799
w

Jawa Tengah 23,26 0,80 3,42 21,70 24,82 4,04 5973


w

DI Yogyakarta 21,07 1,82 8,63 17,50 24,63 3,57 1194


//w

Jawa Timur 22,75 0,79 3,46 21,21 24,30 4,46 6501


Banten 30,63 2,45 8,01 25,82 35,44 7,33 1090
s:

Bali 21,65 1,48 6,85 18,74 24,55 1,87 1594


tp

Nusa Tenggara Barat 29,32 2,14 7,31 25,12 33,53 2,16 804
ht

Nusa Tenggara Timur 19,33 2,42 12,50 14,60 24,07 1,64 617
Kalimantan Barat 28,53 2,37 8,30 23,89 33,17 1,90 822
Kalimantan Tengah 24,30 2,57 10,57 19,27 29,33 1,07 535
Kalimantan Selatan 22,96 1,86 8,11 19,31 26,61 1,36 772
Kalimantan Timur 20,84 2,11 10,12 16,71 24,98 2,00 714
Kalimantan Utara 21,20 3,62 17,10 14,10 28,31 1,01 201
Sulawesi Utara 26,08 1,90 7,28 22,36 29,81 1,25 1205
Sulawesi Tengah 31,44 3,89 12,38 23,81 39,06 2,22 340
Sulawesi Selatan 21,37 1,45 6,78 18,53 24,21 1,96 1762
Sulawesi Tenggara 24,82 2,88 11,59 19,18 30,46 1,47 413
Gorontalo 28,00 3,36 12,02 21,41 34,60 1,03 285
Sulawesi Barat 21,24 4,13 19,46 13,14 29,35 1,19 170
Maluku 23,50 3,17 13,47 17,30 29,71 1,46 525
Maluku Utara 25,40 3,84 15,13 17,87 32,93 0,81 262
Papua Barat 27,45 4,49 16,36 18,65 36,25 0,89 288
Papua 15,31 2,69 17,55 10,04 20,58 1,30 379

Indonesia 24,12 0,37 1,52 23,41 24,84 3,87 42729

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

235
Tabel E.2 Sampling Error Angka Kesakitan Penduduk Lansia Menurut Provinsi,
2018
Perdesaan
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 33,19 1,33 4,00 30,59 35,80 0,69 2400
Sumatera Utara 29,37 1,20 4,08 27,02 31,71 1,26 3357
Sumatera Barat 26,42 1,17 4,44 24,11 28,72 0,74 2568
Riau 33,19 1,80 5,42 29,66 36,71 1,14 1135
Jambi 27,64 1,68 6,08 24,34 30,93 0,86 1323

id
Sumatera Selatan 23,78 1,29 5,43 21,25 26,31 1,30 2105

.
Bengkulu 27,09 1,66 6,12 23,84 30,34 0,49 1066

go
Lampung 27,05 1,29 4,77 24,52 29,58 1,52 2328
Kep. Bangka Belitung 30,63 2,77 9,03
s.
25,20 36,05 0,60 462
Kepulauan Riau 42,08 6,18 14,69 29,96 54,20 1,22 251
p
.b

DKI Jakarta - - - - - - -
Jawa Barat 28,80 1,22 4,25 26,40 31,20 3,44 3151
w

Jawa Tengah 26,40 0,83 3,15 24,77 28,03 2,79 6305


w

DI Yogyakarta 25,34 2,28 8,98 20,88 29,80 1,77 778


//w

Jawa Timur 24,86 0,72 2,91 23,44 26,28 2,46 7206


Banten 40,27 2,65 6,58 35,08 45,47 2,70 682
s:

Bali 30,73 2,08 6,76 26,66 34,81 1,36 1265


tp

Nusa Tenggara Barat 29,77 1,83 6,14 26,19 33,36 1,24 1111
ht

Nusa Tenggara Timur 34,03 1,12 3,30 31,83 36,23 0,65 3828
Kalimantan Barat 28,80 1,49 5,17 25,88 31,72 0,91 1853
Kalimantan Tengah 32,10 2,24 6,97 27,72 36,49 0,76 1151
Kalimantan Selatan 26,04 1,78 6,84 22,55 29,53 0,95 1208
Kalimantan Timur 31,56 3,52 11,17 24,66 38,47 1,54 530
Kalimantan Utara 36,25 5,17 14,26 26,12 46,39 0,79 274
Sulawesi Utara 31,82 1,70 5,33 28,50 35,15 0,63 1954
Sulawesi Tengah 36,94 1,86 5,03 33,30 40,58 0,90 1416
Sulawesi Selatan 25,73 1,00 3,88 23,77 27,69 0,93 3995
Sulawesi Tenggara 35,19 2,07 5,88 31,14 39,25 0,76 1351
Gorontalo 43,93 2,54 5,79 38,95 48,92 0,51 582
Sulawesi Barat 33,99 2,61 7,68 28,88 39,11 0,69 686
Maluku 25,77 1,98 7,68 21,90 29,65 0,52 1286
Maluku Utara 29,44 2,18 7,41 25,16 33,71 0,44 943
Papua Barat 25,69 3,37 13,13 19,08 32,30 0,53 559
Papua 29,46 3,56 12,08 22,49 36,44 1,39 815

Indonesia 27,98 0,31 1,11 27,37 28,59 2,39 59924

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

236
Tabel E.3 Sampling Error Angka Kesakitan Penduduk Lansia Menurut Provinsi,
2018
Laki-laki
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 29,36 1,53 5,22 26,36 32,37 0,80 1543
Sumatera Utara 25,91 1,21 4,69 23,53 28,29 1,65 2667
Sumatera Barat 24,33 1,38 5,66 21,63 27,03 1,02 1828
Riau 31,33 1,97 6,28 27,48 35,19 1,46 900
Jambi 25,39 1,74 6,84 21,98 28,79 0,89 903

id
Sumatera Selatan 21,66 1,34 6,17 19,04 24,27 1,41 1527

.
Bengkulu 24,72 1,86 7,53 21,08 28,37 0,56 746

go
Lampung 26,13 1,44 5,53 23,30 28,96 1,67 1592
Kep. Bangka Belitung 25,27 2,39
s.
9,45 20,59 29,95 0,70 530
Kepulauan Riau 29,44 3,26 11,07 23,05 35,83 1,05 432
p
.b

DKI Jakarta 18,29 1,69 9,23 14,98 21,60 3,09 750


Jawa Barat 28,19 0,96 3,42 26,30 30,08 4,13 3910
w

Jawa Tengah 24,82 0,72 2,89 23,42 26,23 2,46 5840


w

DI Yogyakarta 22,90 1,81 7,91 19,35 26,45 1,92 881


//w

Jawa Timur 23,43 0,69 2,94 22,07 24,78 2,60 6332


Banten 33,58 2,32 6,91 29,03 38,13 3,92 909
s:

Bali 23,79 1,48 6,23 20,88 26,70 1,14 1385


tp

Nusa Tenggara Barat 27,50 1,82 6,61 23,93 31,06 1,36 898
ht

Nusa Tenggara Timur 31,32 1,33 4,25 28,71 33,92 0,69 2120
Kalimantan Barat 30,10 1,65 5,49 26,86 33,34 1,04 1314
Kalimantan Tengah 28,23 2,09 7,39 24,14 32,32 0,73 851
Kalimantan Selatan 24,28 1,71 7,04 20,92 27,63 0,97 913
Kalimantan Timur 28,62 2,43 8,50 23,85 33,38 1,46 677
Kalimantan Utara 26,90 3,68 13,69 19,68 34,11 0,71 264
Sulawesi Utara 30,00 1,57 5,22 26,93 33,08 0,64 1523
Sulawesi Tengah 32,82 2,07 6,30 28,76 36,87 0,97 869
Sulawesi Selatan 24,35 1,08 4,43 22,23 26,46 0,97 2505
Sulawesi Tenggara 32,93 2,41 7,31 28,21 37,65 0,97 857
Gorontalo 36,91 2,77 7,50 31,48 42,33 0,60 399
Sulawesi Barat 32,13 2,96 9,21 26,33 37,93 0,71 397
Maluku 24,87 2,19 8,80 20,58 29,16 0,65 873
Maluku Utara 26,18 2,29 8,74 21,70 30,67 0,44 603
Papua Barat 26,14 3,19 12,22 19,88 32,40 0,52 439
Papua 24,38 3,25 13,35 18,00 30,76 1,56 643

Indonesia 25,91 0,30 1,17 25,32 26,51 2,34 48820

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

237
Tabel E.4 Sampling Error Angka Kesakitan Penduduk Lansia Menurut Provinsi,
2018
Perempuan
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 30,36 1,43 4,71 27,56 33,17 0,79 1794
Sumatera Utara 24,05 1,11 4,62 21,87 26,23 1,70 3401
Sumatera Barat 25,68 1,31 5,10 23,11 28,24 1,06 2276
Riau 28,96 1,82 6,28 25,40 32,53 1,25 938
Jambi 25,76 1,88 7,30 22,07 29,45 1,02 923

id
Sumatera Selatan 21,62 1,34 6,20 19,00 24,25 1,49 1633

.
Bengkulu 25,24 1,89 7,47 21,55 28,94 0,56 751

go
Lampung 28,00 1,51 5,41 25,04 30,97 1,71 1578
Kep. Bangka Belitung 25,00 2,27 9,07
s.
20,55 29,44 0,64 540
Kepulauan Riau 22,06 2,66 12,07 16,84 27,28 0,87 466
p
.b

DKI Jakarta 20,63 1,76 8,53 17,18 24,07 3,28 761


Jawa Barat 28,16 0,99 3,52 26,22 30,10 4,60 4040
w

Jawa Tengah 24,90 0,70 2,83 23,52 26,28 2,67 6438


w

DI Yogyakarta 22,31 1,72 7,73 18,93 25,69 2,12 1091


//w

Jawa Timur 24,19 0,65 2,67 22,92 25,45 2,58 7375


Banten 34,45 2,24 6,49 30,07 38,83 3,61 863
s:

Bali 26,84 1,53 5,70 23,85 29,84 1,27 1474


tp

Nusa Tenggara Barat 31,38 1,83 5,83 27,80 34,97 1,45 1017
ht

Nusa Tenggara Timur 30,88 1,25 4,06 28,42 33,34 0,69 2325
Kalimantan Barat 27,33 1,50 5,48 24,40 30,27 0,91 1361
Kalimantan Tengah 30,27 2,09 6,90 26,18 34,37 0,65 835
Kalimantan Selatan 25,04 1,62 6,48 21,86 28,22 0,94 1067
Kalimantan Timur 19,99 2,20 11,02 15,67 24,31 1,31 567
Kalimantan Utara 29,21 4,24 14,51 20,90 37,52 0,74 211
Sulawesi Utara 28,20 1,62 5,75 25,02 31,38 0,77 1636
Sulawesi Tengah 38,23 2,15 5,63 34,01 42,45 0,99 887
Sulawesi Selatan 23,96 1,01 4,20 21,99 25,93 1,09 3252
Sulawesi Tenggara 30,27 2,37 7,84 25,62 34,92 1,07 907
Gorontalo 38,65 2,79 7,22 33,18 44,12 0,68 468
Sulawesi Barat 29,55 2,81 9,52 24,03 35,06 0,76 459
Maluku 24,85 2,06 8,29 20,81 28,89 0,62 938
Maluku Utara 30,60 2,36 7,73 25,97 35,24 0,42 602
Papua Barat 26,67 3,45 12,94 19,91 33,43 0,51 408
Papua 22,99 2,70 11,74 17,70 28,28 0,83 551

Indonesia 26,06 0,30 1,14 25,48 26,64 2,46 53833

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

238
Tabel E.5 Sampling Error Angka Kesakitan Penduduk Lansia Menurut Provinsi,
2018
Perkotaan+Perdesaan, Laki-laki+Perempuan
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 29,90 1,12 3,75 27,70 32,09 0,89 3337
Sumatera Utara 24,90 0,88 3,51 23,19 26,62 1,87 6068
Sumatera Barat 25,07 1,03 4,11 23,05 27,09 1,21 4104
Riau 30,17 1,45 4,81 27,32 33,01 1,55 1838
Jambi 25,57 1,43 5,59 22,77 28,38 1,17 1826

id
Sumatera Selatan 21,64 1,04 4,81 19,60 23,68 1,72 3160

.
Bengkulu 24,98 1,45 5,80 22,14 27,82 0,66 1497

go
Lampung 27,05 1,21 4,49 24,67 29,43 2,23 3170
Kep. Bangka Belitung 25,13 1,80
s.
7,17 21,60 28,66 0,79 1070
Kepulauan Riau 25,69 2,32 9,03 21,15 30,24 1,15 898
p
.b

DKI Jakarta 19,50 1,39 7,11 16,78 22,22 4,02 1511


Jawa Barat 28,17 0,80 2,82 26,61 29,73 5,67 7950
w

Jawa Tengah 24,86 0,58 2,32 23,73 25,99 3,32 12278


w

DI Yogyakarta 22,58 1,42 6,29 19,79 25,36 2,56 1972


//w

Jawa Timur 23,83 0,53 2,24 22,79 24,88 3,26 13707


Banten 34,02 1,83 5,38 30,43 37,61 4,77 1772
s:

Bali 25,41 1,22 4,80 23,02 27,80 1,54 2859


tp

Nusa Tenggara Barat 29,57 1,39 4,72 26,84 32,30 1,60 1915
ht

Nusa Tenggara Timur 31,09 1,04 3,35 29,04 33,13 0,88 4445
Kalimantan Barat 28,71 1,27 4,44 26,21 31,21 1,25 2675
Kalimantan Tengah 29,21 1,70 5,82 25,88 32,54 0,90 1686
Kalimantan Selatan 24,68 1,29 5,24 22,14 27,21 1,13 1980
Kalimantan Timur 24,63 1,86 7,56 20,98 28,28 1,72 1244
Kalimantan Utara 27,94 3,15 11,27 21,77 34,12 0,91 475
Sulawesi Utara 29,07 1,28 4,39 26,57 31,57 0,88 3159
Sulawesi Tengah 35,54 1,70 4,78 32,20 38,87 1,25 1756
Sulawesi Selatan 24,13 0,83 3,42 22,51 25,75 1,27 5757
Sulawesi Tenggara 31,55 1,66 5,27 28,29 34,81 0,97 1764
Gorontalo 37,84 2,10 5,56 33,71 41,96 0,72 867
Sulawesi Barat 30,76 2,26 7,36 26,32 35,20 0,89 856
Maluku 24,86 1,74 6,99 21,45 28,26 0,84 1811
Maluku Utara 28,38 1,90 6,70 24,65 32,10 0,57 1205
Papua Barat 26,38 2,71 10,27 21,07 31,69 0,67 847
Papua 23,79 2,47 10,37 18,95 28,62 1,55 1194

Indonesia 25,99 0,24 0,93 25,51 26,46 3,11 102653

Sumber : BPS, Susenas Maret 2018

239
Tabel F.1 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia yang Bekerja Menurut
Provinsi, 2018
Perkotaan
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 38,52 2,00 5,19 34,60 42,43 1,15 362
Sumatera Utara 43,07 1,66 3,86 39,81 46,32 1,70 817
Sumatera Barat 44,41 2,11 4,76 40,26 48,55 1,93 562
Riau 33,17 2,53 7,64 28,21 38,14 1,21 195
Jambi 39,49 2,80 7,10 33,99 44,98 1,33 227

id
Sumatera Selatan 36,26 2,32 6,41 31,70 40,81 1,64 366

.
Bengkulu 45,11 3,50 7,77 38,24 51,98 1,15 146

go
Lampung 44,07 2,42 5,50 39,32 48,82 1,57 337
Kep. Bangka Belitung 35,97 2,57 7,13
s.
30,94 41,00 0,98 170
Kepulauan Riau 31,59 4,70 14,87 22,38 40,80 1,94 120
p
.b

DKI Jakarta 27,73 1,61 5,79 24,58 30,88 1,06 306


Jawa Barat 41,31 1,18 2,85 39,00 43,61 1,61 1339
w

Jawa Tengah 45,82 0,99 2,15 43,89 47,75 1,65 2077


w

DI Yogyakarta 53,25 2,41 4,53 48,52 57,98 1,44 381


//w

Jawa Timur 48,98 0,94 1,92 47,14 50,82 1,53 2309


Banten 37,83 2,17 5,73 33,59 42,08 1,20 294
s:

Bali 52,42 1,95 3,72 48,59 56,24 1,20 508


tp

Nusa Tenggara Barat 43,38 3,02 6,95 37,47 49,29 1,84 223
ht

Nusa Tenggara Timur 42,78 3,07 7,17 36,77 48,80 2,13 258
Kalimantan Barat 35,18 2,23 6,33 30,82 39,54 1,31 234
Kalimantan Tengah 38,34 3,31 8,63 31,86 44,83 1,48 188
Kalimantan Selatan 39,30 2,72 6,91 33,98 44,62 1,51 234
Kalimantan Timur 35,47 2,88 8,11 29,84 41,11 1,63 182
Kalimantan Utara 39,71 4,09 10,30 31,69 47,72 0,72 40
Sulawesi Utara 43,28 2,04 4,72 39,27 47,29 1,27 400
Sulawesi Tengah 50,01 3,43 6,85 43,29 56,72 1,63 195
Sulawesi Selatan 30,64 1,51 4,94 27,67 33,61 1,30 482
Sulawesi Tenggara 43,00 3,65 8,48 35,85 50,15 1,74 190
Gorontalo 42,86 4,67 10,91 33,70 52,02 1,72 85
Sulawesi Barat 42,89 5,30 12,36 32,50 53,29 1,51 59
Maluku 42,08 3,96 9,42 34,31 49,85 2,29 203
Maluku Utara 34,86 4,61 13,23 25,82 43,90 1,92 84
Papua Barat 43,67 4,01 9,18 35,81 51,53 0,87 86
Papua 38,22 3,34 8,73 31,68 44,76 1,47 123

Indonesia 42,68 0,43 1,01 41,83 43,53 2,20 13782

Sumber : BPS, Sakernas Agustus 2018

240
Tabel F.2 Sampling Error Persentase Penduduk Lansia yang Bekerja Menurut
Provinsi, 2018
Perdesaan
Relative Selang
Efek
Nilai Standard Standard Kepercayaan Rancangan Jumlah
Provinsi Estimasi Error Error Batas Batas Sampling Sampel
(RSE) Bawah Atas
(1) (2) (3) (4) (5) ((6)6 (7) (8)
Aceh 47,61 1,69 3,54 44,31 50,92 1,43 726
Sumatera Utara 62,04 1,35 2,17 59,40 64,67 1,59 1365
Sumatera Barat 53,05 1,68 3,17 49,76 56,35 1,51 858
Riau 51,69 2,26 4,38 47,25 56,12 1,22 360
Jambi 54,36 2,40 4,42 49,64 59,07 1,53 427

id
Sumatera Selatan 57,52 1,76 3,07 54,06 60,98 1,37 755

.
Bengkulu 59,31 2,48 4,18 54,45 64,18 1,56 388

go
Lampung 58,20 1,57 2,70 55,12 61,28 1,23 790
Kep. Bangka Belitung 55,15 3,80
s.
6,90 47,69 62,61 1,69 171
Kepulauan Riau 49,28 4,36 8,84 40,74 57,81 1,93 135
p
.b

DKI Jakarta - - - - - - -
Jawa Barat 49,64 1,26 2,53 47,18 52,10 1,26 1073
w

Jawa Tengah 59,05 0,99 1,67 57,12 60,98 1,52 2381


w

DI Yogyakarta 71,54 1,97 2,75 67,68 75,41 1,11 486


//w

Jawa Timur 62,25 0,87 1,40 60,54 63,96 1,29 2920


Banten 49,67 2,60 5,24 44,56 54,78 1,10 222
s:

Bali 66,35 2,05 3,09 62,34 70,36 1,48 609


tp

Nusa Tenggara Barat 54,78 2,62 4,78 49,65 59,90 1,61 334
ht

Nusa Tenggara Timur 63,85 1,19