Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Diagnosis dan Intervensi Komunitas

Diagnosis dan intervensi komunitas adalah suatu kegiatan untuk


menentukan adanya suatu masalah kesehatan di komunitas atau masyarakat
dengan cara pengumpulan data di lapangan dan kemudian melakukan intervensi
sesuai dengan permasalahan yang ada. Diagnosis dan intervensi komunitas
merupakan suatu prosedur atau keterampilan dari ilmu kedokteran komunitas.
Dalam melaksanakan kegiatan diagnosis dan intervensi komunitas perlu disadari
bahwa yang menjadi sasaran adalah komunitas atau sekelompok orang sehingga
dalam melaksanakan diagnosis komunitas sangat ditunjang oleh pengetahuan ilmu
kesehatan masyarakat (epidemiologi, biostatistik, metode penelitian, manajemen
kesehatan, promosi kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, kesehatan kerja
dan gizi) (Notoatmodjo, 2010).

2.2 Pengetahuan
2.2.1 Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari proses pembelajaran dengan melibatkan indra
penglihatan, pendengaran, penciuman dan pengecapkan (Setiawati, 2008).

Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang


terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan
sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu pengindraan sampai menghasilkan
pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi
terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra
pendengaran yaitu telinga dan indra penglihatan yaitu mata (Notoatmodjo,2012).
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2003). Berdasarkan
beberapa definisi diatas peneliti dapat mmenyimpulkan bahwa pengetahuan adalah

39
suatu proses belajar dari pengalaman, nilai, informasi konstektual dan kepakaran yang
dilakukan dengan menggunakan pasca indra terhadap objek tertentu.
Adapun ayat yang menjelaskan tentang pengetahuan dalam surah Surat Ar-
Rahman: 33, yaitu :

Terjemahnya:
“Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru
langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan
dengan kekuatan.” (QS. 55:33)

Dr. Abd. Al-Razzaq Naufal dalam bukunya Al-Muslimun wa al-Ilm al-


Hadis, mengartikan kata “sulthan” dengan ilmu pengetahuan dan kemampuan atau
teknologi. Kemudian beliau menjelaskan bahwa ayat ini member isyarat kepada
manusia bahwa mereka tidak mustahil untuk menembus ruang angkasa, bila ilmu
pengetahuan dan kemampuannya atau teknologinya memadai.
Al-Qur’an memang tidak memberi petunjuk-petunjuk secara rinci untuk
hal itu, tetapi al-Qur’an memberi modal dasar berupa akal dan sarananya secara
mentah untuk digali dan diolah sehingga bermanfaat untuk kehidupan manusia.
Karena akal pulalah manusia ditunjuk oleh Allah menjadi Khalifah fil- Ardl,
sebagai Khalifah di bumi dengan tugas mengurus dan memakmurkannya, serta
menjadi makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya.
Ayat tersebut anjuran bagi siapapun yang bekerja di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi, untuk berusaha mengembangkan kemampuan sejauh-
jauhnya sampai-sampai menembus (melintas) penjuru langit dan bumi. Namun al-
Qur’an member peringatan agar manusia bersifat realistic, sebab betapapun
baiknya rencana, namun bila kelengkapannya tidak dipersiapkan maka kesia-siaan
akan dihadapi. Kelengkapan itu adalah apa yang dimaksud dalam ayat itu dengan
istilah sulthan, yang menurut salah satu pendapat berarti kekuasaan, kekuatan
yakni ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa penguasaan dibidang ilmu dan
teknologi jangan harapkan manusia memperoleh keinginannya untuk menjelajahi
luar angkasa. Oleh karena itu, manusia ditantang dianjurkan untuk selalu
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 Kesimpulan
a. Al-Qur’an mendorong umat manusia untuk mengadakan penelitia baik dibumi
maupun di langit sehingga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup mereka.
b. Penjelajahan dan penelitian tersebut tidak bisa terlaksana tanpa adanya ilmu
pengetahuan dan sarana teknologi yang memadai.

40
c. Umat islam bisa terbang ke luar angkasa bila ilmu pengetahuan dan teknologinya
memadai seperti diisyaratkan dalam al-Qur’an.

2.2.2 Tingkatan Pengetahuan


Menurut Bloom (dalam Notoatmojdo, 2010) pengetahuan merupakan hasil dari
tahu dan terbentuk setelah seseorang melakukan pengeinderaan terhadap suatu
obyek tertentu. Terdapat beberapa tingkatan dari pengetahuan yakni:

1. Tahu.
Tahu diartikan hanya sebagai memanggil memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Tahu merupakan tingkatan
pengetahuan yang paling rendah.
2. Memahami.
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang obyek yang diketahui, dan menginterpretasikan materi
tersebut secara benar.
3. Aplikasi.
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi sebenarnya. Aplikasi dalam dilakukan dalam
beberapa hal seperti penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, dan
prinsip.
4. Analisis.
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan/atau
memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponenkomponen
yang terdapat dalam suatu masalah. Salah satu tanda seseorang sudah
mencapai tahap ini adalah orang tersebut mampu membedakan,
memisahkan, mengelompokkan, atau membuat diagram terhadap suatu
obyek.
5. Sintesis.
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru. Secara lebih sederhana, sintesis adalah kemampuan untuk menyusun

41
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.
6. Evaluasi. Evaluasi adalah kemampuan seseorang untuk melakukan
penilaian terhadap obyek tertentu. Penilaian tersebut didasarkan pada suatu
kriteria yang ditentukan sendiri atau yang telah ada sebelumnya.
2.2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Wawan dan Dewi (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi
pengetahuan yaitu :
A. Faktor Internal
1.4.3.1 Pendidikan
Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-
hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan
kualitas hidup. Pendidikan merupakan bimbingan yang diberikan
seseorang kepada orang lain agar dapat dipahami suatu hal.
Tidak dipungkiri semakin tinggi pendidikan seseorang semakin
mudah pula mereka menerima informasi, dan pada akhirnya
pengetahuan yang dimilikinya semakin banyak.
1.4.3.2 Pekerjaan
Pekerjaan adalah kebutuhan yang harus dilakukan terutama
untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga.
Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu serta
dapat memberikan pengalaman maupun pengetahuan baik secara
langsung maupun tidak langsung. Lingkungan pekerjaan dapat
membentuk suatu pengetahuan karena adanya saling menukar
informasi antara teman-teman di lingkungan kerja.
1.4.3.3 Usia
Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang,
semakin tua usia seseorang maka proses perkembangan
mentalnya bertambah baik sehingga pengetahuan yang ditangkap
akan lebih baik lagi, akan tetapi pada umur tertentu,
bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat
seperti ketika berusia belasan tahun. Selain itu, daya ingat

42
seseorang dipengaruhi oleh usia. Dari uraian ini maka dapat kita
simpulkan bahwa bertambahnya usia seseorang dapat
berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya,
akan tetapi pada usia-usia tertentu mengingat atau menjelang
usia lanjut kemampuan penerimaan atau mengingat suatu
pengetahuan akan berkurang. Seorang ibu yang berusia 40 tahun
pengetahuannya akan berbeda dengan saat dia sudah berusiar 60
tahun.
1.4.3.4 Sumber Informasi
Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah tetapi jika
ia mendapatkan informasi yang baik maka pengetahuan
seseorang akan meningkat. Sumber informasi yang dapat
mempengaruhi pengetahuan seseorang misalnya radio, televisi,
majalah, koran dan buku. Walaupun seorang ibu berpendidikan
rendah tetapi jika dia memperoleh informasi tentang
penatalaksanaan diare pada balita secara benar dan tepat maka
itu akan menambah pengetahuannya.
1.4.3.5 Penghasilan
Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan
seseorang. Namun bila seseorang berpenghasilan cukup besar
maka dia akan mampu untuk menyediakan atau membeli
fasilitas-fasilitas sumber informasi. Ibu yang keluarganya
berpenghasilan rendah akan sulit mendapatkan fasilitas sumber
informasi, tetapi apabila berpenghasilan cukup maka dia mampu
menyediakan fasilitas sumber informasi sehingga
pengetahuannya akan bertambah

B. Faktor Eksternal
SosialBudaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi sikap dalam
menerima informasi.

43
2.2.4 Jenis-Jenis Pengetahuan
Pada umumnya pengetahuan dibagi menjadi beberapa jenis diantaranya:
1. Pengetahuan Langsung(Immediate)
Pengetahuan immediate adalah pengetahuan langsung yang hadir
dalam jiwa tanpa melalui proses penafsiran dan pikiran. Umumnya
dibayangkan bahwa kita mengetahui sesuatu itu sebagaimana adanya,
khususnya perasaan ini berkaitan dengan realitas-realitas yang telah
dikenal sebelumnya seperti pengetahuan tentang pohon, rumah,
binatang, dan beberapa individu manusia. Namun, apakah perasaan ini
juga berlaku pada realitas-realitas yang sama sekali belum pernah
dikenal dimana untuk sekali melihat kita langsung mengenalnya
2. Pengetahuan Tak Langusng(Mediate)
Pengetahuan mediate adalah hasil dari pengaruh interpretasi dan
proses berpikir serta pengalaman-pengalaman yang lalu.
3. Pengetahuan Indrawi (Perceptual)
Pengetahuan indrawi adalah sesuatu yang dicapai dan diraih melalui
indra (seperti mata, telinga dan lain-lain).
4. Pengetahuan Konseptual (Conceptual)
Pengetahuan konseptual juga tidak terpisah dari pengetahuan indrawi.
Pikiran manusia secara langsung tidak dapat membentuk suatu
konsepsi-konsepsi tentang objek-objek dan perkara-perkara eksternal
tanpa berhubungan dengan alam eksternal. Alam luar dan konsepsi
saling berpengaruh satu dengan lainnya dan pemisahan di antara
keduanya merupakan aktivitas pikiran.

2.2.5 Cara Memperoleh Pengetahuan

44
Menurut Notoatmodjo (2010) dari berbagai macam cara yang telah
digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah, dapat
dikelompokkan menjadi dua, yakni:
a. CaraTradisional
Untuk Memperoleh Pengetahuan Cara kuno atau tradisional ini dipakai
orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum ditemukannya
metode ilmiah atau metode penemuan secara sistematik dan logis. Cara-
cara ini antara lain:
1. Cara coba-coba (Trial andError)
Melalui cara coba-coba atau dengan kata yang lebih dikenal “trial and
error”. Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan
kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan
tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yanglain.
2. Cara kekuasaan atauotoritas
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan,
baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama, maupun
ahli ilmu pengetahuan.
3. Berdasarkan pengalaman pribadi Dengan cara mengulang kembali
pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang
dihadapi pada masa yanglalu.
4. Melalui jalan pikiran kemampuan manusia menggunakan penalarannya
dalam memperoleh pengetahuannya. Dalam memperoleh kebenaran
pengetahuan manusia menggunakan jalanpikirannya.

b. Cara Modern Dalam Memperoleh Pengetahuan

Cara ini disebut “metode penelitian ilmiah” atau lebih popular disebut
metodologi penelitian (research methodology). Menurut Deobold van
Dalen, mengatakan bahwa dalam memperoleh kesimpulan pengamatan
dilakukan dengan mengadakan observasi langsung, dan membuat
pencatatan-pencatatan terhadap semua fakta sehubungan dengan objek
yang diamati. Pencatatan ini mencakup tiga hal pokok,yaitu:

45
1. Segala sesuatu yang positif, yakni gejala yang muncul pada saat
dilakukan pengamatan.
2. Segala sesuatu yang negatif, yakni gejala tertentu yang tidak muncul
pada saat dilakukanpengamatan.

3. Gejala-gejala yang muncul secara bervariasi, yaitu gejala-gejala yang


berubah-ubah pada kondisi-kondisitertentu.

2.3 Alas Kaki


2.3.1 Definisi dan Pentingnya Menggunakan alas kaki

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), alas kaki (footwear)


diartikan sebagai penutup telapak kaki (kasut, sandal, terompah, sepatu, dsb).
Sehingga, alas kaki ini lebih sering disebut sebagai sepatu maupun sandal. Dalam
kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), sepatu berartilapik atau pembungkus kaki
yg biasanya dibuat dari kulit, bagian telapak dan tumitnya tebal dan keras.

Pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 tahun


2014, dalam empat pilar gizi seimbang dijelaskan bahwa menggunakan alas kaki
merupakan hal yang penting dalam membiasakan perilaku hidup bersih, dengan
budaya perilaku hidup berih akan menghindarkan seseorang dari keterpaparan
terhadap sumber infeksi, salah satunya yaitu menggunakan alas kaki agar terhidar
dari penyakit kecacingan. Selain itu Soebaryo RW, menjelaskan bahwa dengan
menggunakan alas kaki dapat mencegah dermatitis kontak alergi yang
penyebabnya seperti debu semen, bulu binatang, tanaman, dan polutan lain, yang
dapat menimbulkan rasa gatal dan luka lecet di kaki. (Soebaryo RW, 1994)

2.3.2 Manfaat Menggunakan alas kaki


Menggunakan alas kaki merupakan salah satu bentuk dari personal
hygiene, yaitu suatu tindakanmemelihara kebersihan dan kesehatan seseorang
untuk kesejahteraan baik fisik maupun psikisnya. Manfaat dari perawatan higiene
perorangan salah satunya yaitu dengan menggunakan alas kaki adalah dapat
meningkatkan derajat kesehatan diri seseorang, memelihara kebersihan diri,

46
memperbaiki higiene perorangan yang kurang, meningkatkan percaya diri
seseorang, menciptakan keindahan, dan pencegahan penyakit kecacingan. (Isro’in
L, 2012)

Seperti diketahui bahwa, dengan menggunakan alas kaki salah satunya


merupakan cara agar terhidar dari penyakit kecacingan. Kecacingan merupakan
salah satu penyakit berbasis lingkungan yang menjadi masalah bagi kesehatan
masyarakat. Kecacingan yang disebabkan oleh sejumlah cacing usus yang
ditularkan melalui tanah disebut Soil Transmitted Helminths (STH). Faktor yang
mempengaruhi yaitu kondisi iklim, keadaan sosial ekonomi, pendidikan yang
rendah, kondisi sanitasi lingkungan dan higiene perorangan yang buruk. ( Pullan
RL,dkk, 2008)
Selain itu, Huey,Sue&Rebeca, 2007 menjelaskan manfaat alas kaki
lainnya yaitu, melindungi dari kuman ataupun jamur yang dapat menyebabkan
gatal, bengkak, dan kemerahan. Dengan menggunakan alas kaki juga dapat
menghindari dari cedera, seperti adanya batu, kaca, benda tajam, dan benda-benda
lain yang bisa menyebabkan cedera. Jika ini terjadi, kuman dapat menyebabkan
infeksi pada luka terbuka. Mengenakan alas kaki dapat melindungi dari cidera dan
kaki akan tetap sehat dan aman. Menggunakan alas kaki juga memberi manfaat
yaitu membantu berjalan lebih mudah, karena ada bantalan atau sol yang memberi
kenyamanan untuk kaki. (Huey,Sue&Rebeca, 2007)

2.3.3 Dampak Tidak Menggunakan alas kaki

Risiko yang paling sering terjadi pada saat jalan tanpa alas kaki adalah
terluka akibat benda tajam atau terjadi luka bakar jika jalan yang dilewati
telampaupanas (Huey,Sue&Rebeca, 2007).Pada kasus seseorang dengan diabetes
melitus dan hipertensi, sering terjadi komplikasi yang disebut dengan neuropati
perifer atau dalam istilah awam yaitu kerusakan sistem saraf tepi yang
mengirimkan informasi dari otak dan sumsum tulang untuk setiap bagian dari
tubuh. Tanda klinis yang umum terjadi adalah kesemutan dan mati rasa. Jika

47
pasien dengan diabetes melitus dan hipertensi terjadi neuropati perifer, kemudian
jalan kaki tanpa alas dan terkena benda tajam atau luka bakar karena jalan yang
panas, maka tetap tidak terasa. (Bansal, 2014)
Pada kasus lain, ditemukan kelainan kulit akibat parasit yang masuk ke
dalam kulit diakibatkan berjalan tidak menggunakan alas kaki. Penyakit kulit
tersebut disebut dengan Cutaneous Larva Migrans/Creeping Eruption.Creeping
eruption atau cutaneous larva migrans adalah lesi pada kulit yang disebabkan oleh
infestasi larva filariformis spesies Ancylostoma brazilensis atau Ancylostoma
caninum atau spesies hookworm lain yang berasal dari kucing atau anjing, tapi
mungkin juga dari manusia. Diagnosis penyakit ditegakkan dari anamnesis adanya
kontak dengan tanah yang terkontaminasi oleh tinja kucing atau anjing, dan dari
pemeriksaan fisik ditemukan lesi kulit berupa lepuh, dapat tunggal atau multipel.
Beberapa hari kemudian lepuh memanjang berkelokkelok, kemerahan, menonjol
disertai dengan rasa gatal dan panas, kadang terjadi infeksi sekunder akibat
garukan (Aisah, 2010).
Dalam penelitian Kundaiaan (2011) anak yang tidak mencuci kaki dan
tangan dengan sabun setelah bermain di tanah, tidak menggunakan alas kaki ketika
bermain dan keluar dari rumah dapat menyebabkan kekacingan, haliniterlihatdari
hasil penelitian bahwa responden dengan personal higiene yang buruk mengalami
infeksi lebih banyak dari pada anak yang memiliki personal higiene yang baik
(Kundaiaan, 2011).

2.4 Pentingnya Menggunakan alas kaki Menurut Islam


2.4.1 Alas Kaki Dalam Perspektif Islam
Menggunakan alas kaki adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan
terutama kesehatan kaki. Kesehatan kaki yang baik dimulai dengan menjaga kebersihan.
Kebersihan dalam Islam mempunyai aspek ibadah dan aspek moral, dan karena itu sering
juga dipakai kata “Thaharah” yang artinya bersuci dan lepas dari kotoran. Ajaran
kebersihan dalam Islam merupakan konsekuensi daripada iman (ketaqwaan).
Menjaga kebersihan merupakan salah satu sarana dari berbagai sarana
yang dianjurkan Islam dalam rangka memelihara kesehatan. Sikap Islam terhadap

48
kebersihan sangat jelas dan di dalamnya terdapat ibadah kepada Allah SWT.
Sesungguhnya kitab-kitab syariat Islam selalu diawali dengan bab taharah yang
merupakan kunci ibadah sehari-hari. Islam itu adalah bersih, maka jadilah kalian
orang yang bersih. Sesungguhnya tidak masuk surga kecuali orang-orang yang
bersih (H.R. Baihaqi).
Selain itu juga Islam mengatur cara pemakaian alas kaki melalui adab-
adab menggunakan alas kaki, yaitu :

Artinya :

“Jika salah seorang di antara kalian memakai sandal maka mulailah dari yang
kanan dan jika melepas maka mulailah dari yang kiri. Jadikanlah kaki kanan
terlebih dahulu memakai sandal dan yang terakhir melepasnya.” (HR. Muslim,
Abu Daud dan yang lainnya).

2.5 Kerangka Teori

Konsep teori yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada Wawan dan
Dewi 2010 dalam buku berjudul “Teori; Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan
Perilaku Manusia”, yang menyatakan bahwa pengetahuan dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu;

Faktor Internal

Usia
Tingkat Pendidikan
Sumber Informasi Pengetahuan
Penghasilan

Faktor Eksternal

49
Sosial Budaya

Bagan 2.1 Kerangka Teori

2.6 Kerangka Konsep


Berdasarkan buku Notoatmodjo tahun 2010 berjudul “Metodologi Penelitian
Kesehatan,” kerangka konsep dibuat dengan menghubungkan variabel independen
dari kerangka teori yang relevan dengan “Pengetahuan Pentingnya
Menggunakan alas kaki pada Keluarga Binaan RT 004/001, Desa Rancailat,
Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten”.

Variable Independen Variable Dependen

Pengetahuan Pentingnya
Tingkat Pendidikan Menggunakan alas kaki pada
Penghasilan Keluarga Binaan RT 004 / RW
Sumber Informasi
001, Desa Rancailat, Kecamatan
Usia
Kresek, KabupatenTangerang,
Provinsi Banten

Bagan 2.2 Kerangka Konsep

50
2.7 Definisi Operasional
Tabel 2.1 Definisi Operasional

Alat Cara Hasil


No. Variabel Definisi Ukur Ukur Ukur Skala
Pengukuran

Pengetahuan Kuisioner Wawancara Ordinal


Pengetahuan responden 0=
1. pentingnya
tentang manfaat dan
menggunakan pengetahu
dampak tidak
alas kaki
menggunakan alas kaki an buruk :
0-2

1=
pengetahu
an baik :
3-6

2. Kuisioner Wawancara 0= Ordinal


Tingkat
pendidikan
Pendidikan Derajat tertinggi jenjang rendah
pendidikan yang :Tidak
diselesaikan dari sekolah sekolah - SD
formal terakhir dengan 1=
sertifikat kelulusan pendidikan
sedang :
SMP
2=
pendidika
n tinggi :
SMA

51
No. Variabel Definisi Alat Cara Hasil Skala
Ukur Ukur Ukur Pengukuran

Penghasilan keluarga yang 1=


penghasilan
mempengaruhi daya beli tinggi:
3. Penghasilan keluarga tersebut untuk Kuisioner Wawancara > 3.555.853 Ordinal
2=
mendapatkan informasi penghasilan
dari cukup:
1.000.000 -
berbagai prasarana, seperti 3.555.853
handphone, televisi, dan 3=
penghasilan
internet, merujuk pada rendah:
UMR Kabupaten <1.000.000
Tangerang
tahun 2017 sebesar
Rp.3.555.853,-
4. Sumber Sumber informasi yang Kuisioner Wawancara 0 = Nominal
Informasi menjelaskan Tidak memiliki
tentangpentingnya sumber
menggunakan alas kaki baik informasi : <1
dari media masa 1 = memiliki
(TV,Radio), media cetak sumber
(poster,koran, majalah), informasi : > 1
penyuluhan dari fasilitas
kesehatan, atau
Informasi dari mulut ke
mulut.

52
No. Variabel Definisi Alat Cara Hasil Skala
Ukur Ukur Ukur Pengukuran

5. Usia Lamanya waktu hidup yaitu Kuisioner Wawancara 1 =Dewasa dini Ordinal
terhitung sejak lahir sampai : 18-40
dengan sekarang 2 =Dewasa
madya : 41-60
3 =Lanjut usia :
> 60

53
54