Anda di halaman 1dari 11

10 muwashshaffat tarbiyah from hassan al banna

September 18, 2012 at 5:53 pm · Filed under Islam

1. salimul ‘aqidah (akidah yang selamat)


2. shahihul ‘ibadah (ibadah yang benar dan sesuai sunnah)
3. matinul khuluq (akhlak yang mantap)
4. mujahidul linafsihi (bersungguh-sungguh)
5. qadirun ‘alal kasbi (mandiri)
6. qawiyyul jismi (fisik yang sehat dan kuat)
7. mutsaqaful fikri (berwawasan luas)
8. munazham fi syu’nihi (tertata/organized)
9. haritsun ‘ala waqtihi (menjaga dan menghargai waktu)
10. nafi’ul lighayrihi (bermanfaat bagi orang lain)

Pertama tau 10 muwashshaffat ini pas baca Gue Never Die-nya Salim A. Fillah tahun 2007
(benernya itu buku udah terbit tahun 2005-an). Saking terkesannya langsung saya catet di
notes jaman kuliah. Padahal waktu itu belum terlalu ngerti tentang tarbiyah (emangnya
sekarang ngerti?). Di lampiran buku itu, Akh Salim menjabarkan berbagai bentuk
implementasi sepuluh muwashshaffat yang dicetuskan oleh Asy Syahid Hassan al Banna,
yang ternyata maksudnya adalah bentuk pribadi Muslim ideal yang ingin dibentuk oleh
dakwah tarbiyah, ke dalam tiga aspek: fisik, emosi dan spiritual.

Pengamalannya, wow, sungguh bukan perkara mudah. Di mana kalau kita berhasil
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, akan melahirkan pribadi Muslim yang komplet
dan oke banget deh pokoknya. Penjabarannya gini nih (versi idealnya saya, tapi comot-comot
dari Gue Never Die juga sih).

Salimul ‘Aqidah

 nggak takut sama yang mistik-mistik


 nggak percaya firasat, pertanda, perasaan nggak enak, dll.
 nggak percaya ramalan, primbon, hari baik bulan baik, dll.
 nggak terlalu percaya diri dan percaya kekuatan fikiran (seperti yang
sekarang booming digemborkan para motivator)
 yakin sama laa hawlaa walaa quwwata illa billaah
 nggak menghina Islam dan marah kalau ada orang yang menghina Islam
 menanamkan takut (khauf) kepada Allah dan berharap (raja’) hanya kepada Allah
 sabar menerima segala ketentuan dari Allah (yakin bahwa Allah Maha Mengetahui
yang terbaik bagi hamba-Nya)
 sabar dalam melakukan ketaatan
 cinta Allah, Rasulullah dan jihad fi sabilillah melebihi apapun

Shahihul ‘Ibadah

 selalu berusaha menjaga wudhu, termasuk sebelum tidur


 menjaga shalat tepat waktu (dan berjama’ah tentunya buat laki-laki)
 menjaga shalat sunnah rawatib muakkad (qabliyah dan ba’diyah)
 menjaga tilawah Qur-an (berusaha khatam sebulan sekali, lebih bagus lagi kalau
sepekan sekali)
 bayar zakat kalau harta memenuhi nishab dan haul (nggak cuma fitrah aja lho)
 puasa sunnah (Senin Kamis atau ayaumul bidh: puasa pertengahan bulan qamariyah)
 berniat haji dengan buka rekening tabungan haji di bank syariah serta berkomitmen
untuk mengisinya setiap bulan)
 berniat qurban dengan nabung sejumlah uang setiap bulan untuk dibelikan kewan
qurban pas Idul Adha
 baca al ma’tsurat (zikir pagi dan sore) ba’da shalat subuh dan ashar
 qiyamul lail setiap malam
 shalat dhuha
 menyisihkan sebagian harta untuk shadaqah
 menjaga do’a dalam aktivitas apapun
 berdzikir dan berdo’a ba’da shalat
 mengawali segala sesuatu dengan basmalah serta mengakhirinya dengan hamdalah
dan istighfar
 meniatkan segala sesuatu karena Allah, bukan mencari ridha manusia
 khusyu’ dan menerapkan muraqabah (merasa selalu diawasi Allah) –> ihsan
(beribadah seolah-olah melihat Allah)
 mengikuti majelis ta’lim, liqo’ (setidaknya punya murabbi/pembina)

Matinul Khuluq

 menghindari ghibah, su’udhan, ghadhab, riya’, bakhil, ujub, takabur, serakah dan
kufur ni’mat
 menerapkan qaulan sadiida, qaulan ma’rufa, qaulan maysura, qaulan
layyina, dan qaulan kariima
 menjadi pribadi yang ramah: membiasakan senyum, sapa, salam, sopan dan santun (aa
gym banget), nggak jutek dan ngebetein
 memperhatikan orang lain, lebih banyak mendengarkan, nggak cuma mendengar
apalagi didengar
 mengurangi ngomong yang tidak bermanfaat
 apresiatif, menghargai orang lain dan tidak meremehkan
 mengurangi ego dengan banyak mengalah
 menghindari berdebat (walaupun berada di atas kebenaran)
 nggak hasad, ghill dan dendam
 bahagia dengan kehidupan sendiri, nggak membanding-bandingkn dengan kehidupan
orang lain, banyak bersyukur
 bahagia dengan kebahagiaan keluarga, sahabat dan teman
 mementingkan orang lain (menerapkan “muslim satu dengan muslim lain bagaikan
satu tubuh”)
 nggak menghakimi/nge-judge sembarangan
 menanamkan kepedulian
 nggak merasa diri paling baik, benar, bebas dosa sementara orang lain penuh dosa
 amanah (terhadap rahasia atau urusan yang dipercayakan orang lain kepada kita)
 nggak menasihati kecuali: perlu, diminta, hanya berdua
 percaya yang terbaik dari setiap orang
 menahan emosi dan nafsu untuk memenangkan pembicaraan
 nggak mudah marah, bisa mengendalikan diri
 pemberani terhadap apapun, kecuali Allah
 menerapkan birrul walidayn
 perhatian sama keluarga
 bersosialisasi di dunia nyata (nggak hanya eksis di dunia maya)
 menjaga izzah sebagai Muslim
 menutupi aib orang lain yang sudah ditutup Allah
 nggak mengadu domba, memata-matai dan memfitnah
 menerapkan al wala’ wal bara’ terhadap makhluk Allah
 menampakkan keceriaan dalam segala kondisi, terutama kondisi sulit
 menanamkan keikhlasan, nggak berharap balasan apapun kecuali ridha dan balasan
dari Allah
 nggak berlebihan, proporsional, bersikap wasath (pertengahan)
 lemah lembut
 sabar dan “ngemong” orang lain, terutama ketika menghadapi “orang sulit”
 nggak eksklusif dan membeda-bedakan orang (asal nggak niru yang jelas jelek)
 berperilaku sesuai prinsip Quran dan sunnah
 menjadi orang yang “sedikit”, nggak ngikutin tren sesaat, nggak terjebak mode dan
tren, nggak sembarang ngikut yang nggak ada juntrungan
 selalu ingat dosa dan nggak mengingat-ingat kebaikan
 selalu merasa kurang amal, kurang taat, kurang ibadah
 nggak mengeluh kepada manusia, hanya mengeluh kepada Allah
 memelihara empati, bukan malah nggak mau kalah soal “kemalangan”
 merahasiakan musibah, sakit dan sedekah
 nggak merekomendasikan diri sendiri
 belajar akhlak dari orang-orang shalih
 berguru nggak hanya dari buku atau internet, tapi murabbi beneran
 menjaga silaturrahim dan ukhuwah

Mujahidul Linafsihi

 menerapkan gaya hidup halal mulai dari makanan, tempat tinggal, sumber
penghasilan, dll
 hanya mengonsumsi produk-produk yang terjamin kehalalannya (bersertifikat MUI
atau organisasi lain yang berhak menyatakan kehalalan suatu produk)
 nggak memajang foto, patung, boneka atau apapun yang menyerupai makhluk hidup
di rumah
 menghindari uang syubhat, apalagi haram
 nggak merubah ciptaan Allah kecuali darurat dan alasan kesehatan
 nggak ber-KB buatan kecuali alasan kesehatan
 menjauhi tempat-tempat maksiat
 nggak ber-khalwat dan ikhtilat dengan non mahram
 menutup aurat dan ghadul bashar (menjaga pandangan)
 memprioritaskan dakwah, tarbiyah, harakah (ini kata Ummi Salim)
 belajar dari kehidupan syaikhut tarbiyah Ustadz Rahmat Abdullah (Allah yarham) dan
Ustadzah Yoyoh Yusroh (Allah yarham)
 punya murabbi, konsisten dalam menuntut ilmu dan mengamalkan
 menerapkan muraqabah (merasa selalu diawasi Allah), mu’ahadah (menepati
komitmen), muhasabah (evaluasi diri), mu’aqabah (menghukum diri jika melakukan
kesalahan) dan mujahadah (bersungguh-sungguh)
 bersungguh-sungguh dalam mencapai cita-cita
 mencita-citakan akhirat, memprioritaskan akhirat jauh di atas dunia dan seisinya
Qadirun ‘Alal Kasbi

 menjauhi riba, uang syubhat, apalagi uang haram


 belajar dari buku-buku tentang manajemen keuangan dan investasi yang sesuai
syariah
 bercita-cita dan berusaha menjadi pengusaha (agar lebih mandiri, memberdayakan
orang lain dan menciptakan lapangan pekerjaan)
 menginvestasikan kelebihan harta, lebih dari menabung
 menghindari hutang kecuali terpaksa
 menyimpan uang di bank syariah
 jika butuh jasa asuransi, pilih asuransi syariah
 melatih kemandirian finansial pada anak sejak dini
 memprioritaskan membantu orang yang sungguh-sungguh bekerja, bukan meminta-
minta
 membantu orang-orang yang kesulitan finansial, dengan pemberdayaan dan (bila
perlu) uang
 membantu orang-orang yang iffah (menjaga diri dari meminta) dan para gharimin
(orang yang berhutang) di jalan Allah
 rajin shadaqah: kepada orang tua, mertua, kerabat, orang-orang yang membutuhkan
 menyalurkan uang riba dan syubhat untuk keperluan fasilitas umum
 menghindari hasad terhadap orang yang memiliki kelebihan harta dari kita
 menerapkan zuhud pada dunia dan pada apa yang dimiliki manusia
 proporsional dalam membelanjakan harta: nggak terlalu boros dan kikir
 berikhtiar sungguh-sungguh mencari rizqi yang halal dan thayyib dengan do’a dan
usaha
 mendidik anak untuk bekerja keras dan nggak serba instan
 berusaha wakaf agar menjadi amal jariyah
 memberi pinjaman pada orang-orang yang membutuhkan (tentu saja tanpa bunga)

Qawiyyul Jismi

 olahraga minimal sepekan sekali


 menghindari makanan bervetsin
 hanya makan makanan yang halal dan thayyib
 memasak makanan yang halal dan thayyib
 berlibur dan berhibur dengan objek liburan dan hiburan yang bermanfaat serta
mencerahkan (supaya lebih menyadari kebesaran Allah)
 bergaya hidup bersih, rapi dan sehat
 menjaga adab makan, minum dan tidur sesuai tuntunan Rasulullah
 bersabar dan nggak mengeluh saat tertimpa musibah sakit
 menanamnkan sikap kuat dan nggak takut sakit
 berobat dengan dzikir dan Quran
 menepati adab bersuci dengan baik dan benar
 menanamkan cinta kebersihan dan kerapian pada anak sejak dini

Mutsaqaful Fikri

 hanya membaca dan berlangganan media massa terpercaya, berimbang dan tidak
mendiskreditkan Islam
 hanya membaca dan membeli buku bermutu yang bermanfaat dantidak menyesatkan
 melatih kemampuan menulis
 melatih kemampuan menyampaikan pendapat dan berbicara di depan umum
 memanfaatkan social dan information media dengan bijak
 nggak mudah terprovokasi isu-isu menyesatkan dengan membiasakan klarifikasi dan
mengembangkan perspektif tajam
 mencari tahu perkembangan dunia Islam melalui media terpercaya
 berniat dan berusaha memperbaiki bacaan Quran
 berniat dan berusaha menghafal Quran
 mengikuti kajian keislaman serta liqa’at tarbiyah
 mengikuti seminar, workshop, training yang bermanfaat bagi diri dan pekerjaan
 profesional dalam bekerja
 nggak nonton televisi kecuali secukupnya
 nggak ngikutin gosip artis atau aneka rupa berita remeh yang nggak bermanfaat
 berorientasi pada solusi, bukan masalah yang dihadapi

Munazham Fi Syu’nihi

 membuat prioritas
 membuat rencana kegiatan dan mengevaluasinya
 membuat rencana keuangan dan mengevaluasinya
 menyusun proposal hidup dan berusaha memenuhinya (versi Pak Jamil Azzaini)
 merapikan dokumen pribadi dan pekerjaan
 aktif dalam kegiatan dakwah dan masyarakat
 bersosialisasi di masyarakat: pengajian, takmir masjid setempat, PKK, RT RW,
komunitas yang bisa meng-upgrade diri
 memegang janji dan amanah yang dipercayakan
 profesional dan semangat belajar sepanjang hayat
 berani ber-‘amar ma’ruf nahi munkar
 menjaga komitmen dalam aktivitas dan resolusi yang telah disepakati

Haritsun ‘Ala Waqtihi

 memprioritaskan waktu untuk kegiatan yang: penting dan mendesak, penting tetapi
tidak mendesak, mendesak tetapi tidak penting, tidak penting dan tidak mendesak
 berusaha produktif dengan menetapkan prioritas
 tidak menunda-nunda perbuatan baik sedetikpun
 boleh menunda kesenangan sesaat
 berusaha menepati janji dan waktu yang telah disepakati
 membuat perencanaan kegiatan serta evaluasinya
 mengurangi kegiatan yang tidak bermanfaat
 menerapkan reward and punishment pada diri sendiri kalau berhasil dan gagal dalam
menggunakan waktu
 selalu ingat mati, agar lebih produktif dalam beramal shalih
 mendisiplinkan shalat

Nafi’un Lighayrihi

 shadaqah
 ‘amar ma’ruf nahi munkar
 tulus ikhlas dalam berbuat baik
 nggak membunuh binatang apapun yang nggak mengganggu
 cinta lingkungan: menerapkan green lifestyle dengan bergabung dalam green
community
 dinamis, enerjik, nggak pasif
 peka dengan masalah yang menimpa orang lain dan berusaha mencarikan solusinya
 menjadi orang yang solutif, bukan malah membebani
 hanya melakukan yang bermanfaat bagi orang lain dan diri sendiri
 mementingkan orang lain (menerapkan “muslim satu dengan muslim lain bagaikan
satu tubuh”)
 bergabung dalam komunitas pemberdayaan masyarakat
 mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan
 menjadi donatur/relawan panti asuhan/lembaga amal
 berkontribusi pada masyarakat
 tolong-menolong dalam kebaikan
 saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran
 orang lain harus merasa aman dari gangguan lisan dan tangan kita
 nggak membawa mudharat bagi orang lain
 nggak membuat sedih orang lain, nggak mematikan harapan orang lain
 nggak mencela orang lain
 berusaha keras menjadi manusia wajib, dan menghindarkan diri dari menjadi manusia
yang mubah, makruh bahkan haram
 REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tidak semua orang melakukan perbuatannya
dengan ikhlas (mukhlish) dapat disebut mukhlash. Dengan kata lain, semua orang
yang memiliki kapasitas mukhlash sudah pasti mukhlish, tetapi belum tentu seorang
mukhlish adalah mukhlash.
 Dari kata ikhlash lahir kata mukhlash, yang berarti orang yang mencapai puncak
keikhlasan sehingga bukan dirinya lagi yang yang berusaha menjadi orang ikhlas
(mukhlish) tetapi Allah SWT yang proaktif untuk memberikan keikhlasan itu.
Mukhlish masih sadar bahwa dirinya berada pada posisi ikhlas, sedangkan mukhlash
sudah tidak sadar bahwa dirinya sedang berada pada posisi ikhlas. Keikhlasan sudah
menjadi bagian dari habit dan karakternya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
 Kalangan sufi memaksudkan konsep ikhlas itu sebagai mukhlash. Syekh al-Fudhail
mengatakan: "Menghentikan suatu amal karena manusia adalah riya, dan
mengerjakan suatu karena manusia adalah syirik." Sahl bin Abdullah mengatakan,
ikhlas merupakan ibadah yang paling sulit bagi jiwa, sebab diri manusia tidak punya
bagian di dalamnya. Abu Said al-Kharraz menambahkan, riyanya para 'arifin (ahli
makrifat) adalah lebih utama dari pada ikhlasnya para murid.
 Al-Sariy Rahmatullah 'alaih mengatakan, barang siapa berhias karena manusia dengan
apa yang bukan miliknya, maka ia akan terlempar dari penghargaan Allah. Kata
Ruwaim bin Ahmad bin Yazid al-Baghdadi, ikhlas adalah segala amal yang dilakukan
pelakunya tanpa bermaksud mendapatkan balasan, baik di dunia maupun di akhirat.
 Ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia
menyembunyikan kejelekannya. Abu Ya'kub al-Susiy Rahimahullah mengatakan,
barang siapa melihat dalam keikhlasannya suatu keikhlasan, maka keikhlasannya itu
masih memerlukan keikhlasan lagi.
 Jika masih dalam kadar mukhlish maka yang bersangkutan masih riskan untuk digoda
berbagai manuver iblis, karena masih menyadari dirinya berbuat ikhlas. Sedangkan
dalam kadar mukhlash, iblis sudah menyerah dan tidak bisa lagi mengganggunya
karena langsung di-back-up oleh Allah SWT.
 Firman Allah SWT menyebutkan, orang-orang yang sudah sampai di tingkat
mukhlash, iblis sudah tidak berdaya lagi untuk menggodanya, sebagaimana
pernyataan iblis yang disebutkan dalam ayat berikut: "Iblis berkata: 'Ya Tuhanku,
oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan
mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan
menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlash di
antara mereka'." (QS al-Hijr [15]: 39-40).
 Dalam ayat lain disebutkan: "Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan
menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara
mereka. (QS Shad [38]: 82-83).
 Perhatikan ayat-ayat tersebut di atas semuanya menggunakan kata al-mukhlashin
(bentuk jamak dari mukhlash)¸ bukannya al-mukhlishin (bentuk jamak dari
mukhlish). Ini menunjukkan bahwa jika keikhlasan seseorang baru sampai di tingkat
keikhlasan awal maka tidak ada jaminan untuk bebas dari godaan iblis. Orang-orang
yang sudah mencapai tingkat al-mukhlashin bukan hanya terhindar dari cengkeraman
iblis tetapi juga terhindar dari fitnah dan berbagai kecelakaan sosial.
 Untuk mencapai tingkat mukhlash diperlukan latihan spiritual (mujahadah) yang
tinggi dan telaten (istiqamah). Mencapai derajat mukhlish saja begitu sulit, apalagi
mencapai tingkat mukhlash.
 Seorang ulama tasawuf bernama Makhul mengatakan: "Tidak seorang pun hamba
yang ikhlas selama 40 hari kecuali akan tampak hikmah dari hatinya melalui
lidahnya." Barang siapa yang sudah mencapai tingkat mukhlash maka patutlah
bersyukur karena ia sudah berhasil menjadi orang yang langka. Kelangkaannya
terlihat dari sulitnya menemui orang yang betul-betul ikhlas tanpa pamrih sedikit pun
dari amal kebajikannya.
 Banyak sekali orang yang kelihatannya sudah menjadi tokoh bahkan ulama, tapi
masih berhasil tergoda dan jatuh ke dalam cengkeraman nafsu dan perbuatan
terlarang. Itu menjadi pertanda perlunya kita selalu mengasah keikhlasan. Kita
memohon agar kita ditingkatkan menjadi manusia yang tadinya tidak pernah ikhlas
menjadi mukhlis, lalu terus berdoa dan berusaha untuk meraih martabat mukhlash.
Wallahu alam.

Posting kali ini adalah posting berseri dari judul “Berusaha untuk Ikhas“. Kita nanti akan
memulai mengenal definisi ikhas, tanda-tanda ikhlas dan beberapa point ikhlas lainnya.
Semoga Allah memudahkan.

***

Allah akan senantiasa menolong kaum muslimin karena keikhlasan sebagian orang dari umat
ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ِ ‫ص ََلتِ ِه ْم َو ِإ ْخ ََل‬
‫ص ِه ْم‬ َ ‫َّللاُ َه ِذ ِه ْاْل ُ َّمةَ ِب‬
َ ‫ض ِعي ِف َها ِبدَع َْوتِ ِه ْم َو‬ ُ ‫ِإنَّ َما َي ْن‬
َّ ‫ص ُر‬

“Allah akan menolong umat ini karena sebab orang miskin, karena do’a orang miskin
tersebut, karena shalat mereka dan karena keikhlasan mereka dalam beramal.”[1]

Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amalan, di samping amalan tersebut harus
sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa ikhlas, amalan jadi sia-sia belaka.
Ibnul Qayyim dalam Al Fawa-id memberikan nasehat yang sangat indah tentang ikhlas,
“Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir.
Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.”

Perintah untuk Ikhlas

Setiap amalan sangat tergantung pada niat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,

ٍ ‫ َوإِنَّ َما ِل ُك ِل ْام ِر‬،ِ‫إنَّ َما اْل َ ْع َما ُل ِبالنِيَّات‬


‫ئ َما ن ََوى‬

“Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa
yang dia niatkan.”[2]

Dan niat itu sangat tergantung dengan keikhlasan pada Allah. Hal ini berdasarkan firman
Allah Ta’ala,

‫ِين ْالقَيِِّ َم ِة‬


ُ ‫الز َكاة َ َوذَلِكَ د‬ ‫صينَ لَهُ ال ِدِّينَ ُحنَفَا َء َويُ ِقي ُموا ال ه‬
‫صالة َ َويُؤْ تُوا ه‬ ‫َو َما أ ُ ِم ُروا إِال ِليَ ْعبُدُوا ه‬
ِ ‫َّللاَ ُم ْخ ِل‬
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka
mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS.
Al Bayyinah: 5)

Allah pun mengetahui segala sesuatu yang ada dalam isi hati hamba. Allah Ta’ala berfirman,

َّ ُ‫ُور ُك ْم أ َ ْو ت ُ ْبدُوهُ َي ْعلَ ْمه‬


ُ‫َّللا‬ ِ ‫صد‬ُ ‫قُ ْل ِإ ْن ت ُ ْخفُوا َما ِفي‬
“Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu
melahirkannya, pasti Allah mengetahui”.” (QS. Ali Imran: 29)

Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya’ –yang merupakan lawan dari
ikhlas- dalam firman-Nya,

َ‫ع َملُك‬ َ َ‫لَئِ ْن أ َ ْش َر ْكتَ لَيَحْ ب‬


َ ‫ط َّن‬
“Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.” (QS. Az Zumar:
65)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َ ‫ع َمالً أ َ ْش َركَ فِي ِه َم ِعى‬


ُ‫غي ِْرى ت ََر ْكتُه‬ َ ‫ش ِْر ِك َم ْن‬
َ ‫ع ِم َل‬ ِّ ‫ع ِن ال‬ ُّ ‫اركَ َوتَعَالَى أَنَا أ َ ْغنَى ال‬
ِ ‫ش َر َك‬
َ ‫اء‬ ‫قَا َل ه‬
َ َ‫َّللاُ تَب‬
ُ‫َو ِش ْر َكه‬

“Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam
perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan
meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan
syiriknya.”[3] An Nawawi mengatakan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas),
itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.”[4]

Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ف‬ َ ‫ضا ِمنَ الدُّ ْنيَا لَ ْم يَ ِج ْد‬


َ ‫ع ْر‬ ً ‫ع َر‬
َ ‫يب ِب ِه‬ ِ ‫ع هز َو َج هل الَ يَت َ َعله ُمهُ إِاله ِلي‬
َ ‫ُص‬ ‫َم ْن ت َ َعله َم ِع ْل ًما ِم هما يُ ْبتَغَى ِب ِه َوجْ هُ ه‬
َ ِ‫َّللا‬
‫ْال َجنه ِة يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة‬

“Barangsiapa yang menutut ilmu yang sebenarnya harus ditujukan hanya untuk mengharap
wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan materi duniawi, maka ia
tidak akan pernah mencium bau surga pada hari kiamat nanti.”[5]

Pengertian Ikhlas Menurut Para Ulama

Para ulama menjelaskan ikhlas dengan beberapa pengertian, namun sebenarnya hakikatnya
sama. Berikut perkataan ulama-ulama tersebut.[6]

Abul Qosim Al Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah
dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka
mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan
perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan
diri pada Allah.”

Abul Qosim juga mengatakan, “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.”

Jika kita sedang melakukan suatu amalan maka hendaklah kita tidak bercita-cita ingin
mendapatkan pujian makhluk. Cukuplah Allah saja yang memuji amalan kebajikan kita. Dan
seharusnya yang dicari adalah ridho Allah, bukan komentar dan pujian manusia.

Hudzaifah Al Mar’asiy mengatakan, “Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba


antara zhohir (lahiriyah) dan batin.” Berkebalikan dengan riya’. Riya’ adalah amalan zhohir
(yang tampak) lebih baik dari amalan batin yang tidak ditampakkan. Sedangkan ikhlas,
minimalnya adalah sama antara lahiriyah dan batin.

Dzun Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas:

1. Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain.


2. Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat.
3. Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia).

Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’.
Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Sedangkan ikhlas adalah engkau terselamatkan
dari dua hal tadi.”

Ada empat definisi dari ikhlas yang bisa kita simpulkan dari perkataan ulama di atas.

1. Meniatkan suatu amalan hanya untuk Allah.


2. Tidak mengharap-harap pujian manusia dalam beramal.
3. Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang tersembunyi.
4. Mengharap balasan dari amalannya di akhirat.
Nantikan pembahasan selanjutnya mengenai tanda-tanda ikhlas. Semoga Allah memudahkan
dalam setiap urusan.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel https://rumaysho.com

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/654-berusaha-untuk-ikhlas.html

TINGKATAN NIAT YANG IKHLAS


17 Februari 2016 puskomUncategorized

1. Keikhlasan Diri
Tingkatan ini adalah ikhlasnya seseorang untuk meraih kebahagiaan duniawi. Ketika berdoa
pun, ia berharap keinginan duniawi semata. Walaupun ini tingkatan terendah, namun lebih
baik karena ia hanya meminta hanya kepada Allah saja.
2. Keikhlasan Seorang Pedagang
Pada tingkatan ini seseorang berusaha ikhlas namun dengan menghitung-hitung pahala
terlebih dahulu. Jika suatu amal banyak mendatangkan pahala, pasti ia semangat
mengerjakannya. Berharap amal tersebut dapat menghapuskan dosa serta menguntungkan
duniawinya.
3. Keikhlasan Hamba Sahaya
ia takut sekali dengan ancaman Allah, sehingga ia berusaha ikhlas dalam berbuat, hanya demi
Allah agar Allah tidak murka kepadanya.
4. Keikhlasan Golongan Ibadah
Yakni mereka yang beramal hanya kepada Allah semata, agar amalannya tersebut dibalas
oleh Allah dengan pahala (surga) sebagai balasan tertinggi dari Allah dan terhindar dari siksa
api neraka.
5. Keikhlasan Golongan Mahabbah
Yakni mereka yang beramal hanya semata-mata karena kecintaannya kepada Allah dan
bukan untuk mendapatkan pahala atau dihindarkan dari siksa neraka. Ia hanya berkehendak
dapat berjumpa Allah kelak, selain itu terserah Allah, ia tidak begitu peduli dengan balasan
Allah. Cukup baginya cinta dan persuaan dengan Allah nanti.
6. Keikhlasan Golongan Ma’rifat
Ini adalah tingkatan tertinggi dari keikhlasan. Golongan ini berpendapat bahwa apabila ia
beramal, maka yang mendorong dan menggerakkan amal ibadahnya adalah Allah semata dan
mereka tidak memiliki daya dan upaya apapun untuk melakukan sesuatu termasuk
peribadatan kepada Allah. Inilah golongan yang telah sampai kepada La hawla wa la
kuwwata illa billah. Subhanaallah, mudah-mudahan suatu saat kita dapat meraih tingkatan
ikhlas tertinggi ini. Amiin.
Untuk menjadi seorang yang ikhlas pasti memerlukan latihan (riyadhah), berat memang pada
awalnya, namun jika sungguh-sungguh berupaya, pasti akan berbuah keikhlasan yang tiada
bandingnya dengan kehidupan dunia ini.
Cobalah mulai berusaha melupakan setiap amal yang kita lakukan, seakan-akan kita tidak
pernah melakukannya. Dan jangan membeda-bedakan amal besar atau amal kecil, semua
amal sama saja, upayakan berbuat terbaik dalam amal apapun juga.

kitab arbain nawawi, Irsyadul Ibad, Nashoihul ibad dll..