Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Depkes dalam buku Panduan Lengkap Ilmu Penyakit mendefinisikan
bahwa Tuberkulosis paru ( TB Paru) ialah yang menyerang siapa saja (tua, muda,
laki-laki, perempuan, miskin, atau kaya) dan di mana saja. Setiap tahunnya,
Negara Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru TBC dan sekitar
140.000 kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TBC. Berdasarkan Data
Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2007 menyatakan jumlah penderita
Tuberkulosis di Indonesia sekitar 528.000 atau berada di posisi tiga di dunia
setelah India dan Cina. Menurut WHO pada tahun 2009, mencatat peringkat
Indonesia menurun ke posisi lima dengan jumlah penderita TBC sebesar 429.000
penderita.Lima negara dengan jumlah terbesar kasus insiden pada tahun 2009
adalah India, Cina, Afrika Selatan, Nigeria dan Indonesia.

Seseorang akan terinfeksi dengan bakteri Tuberculosis ketika ia menghirup


sedikit partikel-partikel dari dahak yang terinfeksi dari udara. Bakteri-bakteri
tercemar ke dalam udara ketika seseorang yang mempunyai infeksi Tuberculosis
Paru batuk, bersin, bersorak, atau meludah (yang adalah umum pada beberapa
budaya-budaya). Orang-orang yang berdekatan dapat kemudian kemungkinan
menghirup bakteri-bakteri ke dalam paru-paru mereka. Anda tidak akan
memperoleh TB hanya dengan menyentuh pakaian-pakaian atau menjabat tangan
dari beberapa orang-orang yang terinfeksi. Tuberculosis disebar (ditularkan)
terutama dari orang ke orang dengan menghirup udara yang terinfeksi selama
kontak yang dekat.

Basilus tuberkel disekret pernapasan membentuk nuclei droplet cairan yang


dikeluarkan selama batuk, bersin, dan berbicara. Droplet keluar dari jarak dekat
dari mulut, dan sesudah itu basilus yang ada tetap di udara untuk wakktu yang
lama. Infeksi pada penjamu yang rentan terjadi bila terhirup sedikit basilus ini.
Jumlah basilus yang dikeluarkan oleh kebanyakan orang yang terinfeksi tidak

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 1


banyak khas. Diperlukan kontak rumah tangga selama beberapa bulan untuk
penularannya. Namun demikian, pasien dengan Tuberculosis.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Penyusunan tugas kasus ini dilakukan agar siswa mampu memahami dam
mampu melakukan Asuhan Keperawatan pada Tn.A dengan diagnosa
Tuberculosis Paru di ruang Rawat Inap Penyakit Dalam ( Lumba) BLUD
RS Palabuhanratu.
1.2.2 Tujuan Khusus
a) Dapat melakukan pengkajian pada pasien dengan Tuberculosis Paru.
b) Dapat menganalisa data untuk merumuskan diagnosa keperawatan
yang ditemukan pada pasien Tuberculosis Paru.
c) Dapat membuat rencana asuhan keperawatan pada pasien dengan
Tuberculosis Paru.
d) Dapat melaksanakan rencana asuhan keperawatan pasa pasien dengan
Tuberculosis Paru.
e) Dapat mengevaluasi asuhan keperawatan pada pasien Tuberculosis
Paru.
f) Dapat membuat pendokumentasian pada pasien Tuberculosis Paru.
1.3 Metode pengumpulan data
Dalam Karya Tulis Ilmiah ini penulis menggunakan beberapa
metode, diantaranya adalah :
 Penulis melakukan observasi Asuhan Keperawatan kepada
pasien Tn. A dengan diagnosa Tuberculosis Paru di ruang
Rawat Inap Penyakit Dalam ( Lumba) BLUD RS Palabuhanratu.
 Penulis mewawancarai pasien selama 3 hari, terhitung dari
tanggal 05-08 Oktober 2012.
 Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis mengambil
materi dari beberapa sumber buku yang dijadikan studi pustaka
diantaranya :

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 2


 Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3.
 Kapita Medikal Bedah Edisi 3.
 Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Edisi 2.
 Panduan Lengkap Kesehatan , 2010.
 Panduan pemeriksaan fisik bagi mahasiswa keperawatan,
2011.
 Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3.
 Selain dari beberapa sumber buku, penulis juga mengambil
materi dari internet.
 http://Id.shvoong.com.kedokteran diambil pada tanggal
21 September 2012
1.4 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah :
 Bab I, berisi tentang latar belakang, tujuan penulisan yang terbagi menjadi
tujuan umum dan khusus, metode pengumpulan data, dan sistematika
penulisan.
 Bab II, berisi tentang tinjeksiauan teoritis yaitu pengertian, anatomi
fisiologi, etiologi, patofisiologi, menifestasi klinis, pemeriksaan
diagnostik.
 Baba III, berisi tentang pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
catatan perkembangan.
 Bab IV, berisi tentang kesimpulan dan rekomendasi.
 Daftar Pustaka.
 Lampiran.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 3


BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Dasar Tuberculosis Paru


2.1.1 Definisi
Adapun di bawah ini beberapa pendapat para ahli tentang Tuberculosis Paru,
yaitu :
Tuberculosis (TB) paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Mycrobacterium Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi (Kapita
Selekta Kedokteran, edisi 3, hal 472)
Tuberculosis adalah suatu infeksi menular dan bisa berakibat fatal, yang
disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis, Mycobacterium Bovis Atau
Mycobacterium Africanum (Panduan Lengkap Ilmu Penyakit,2010)
TBC Paru adalah penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru-paru dan
disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis (Iman, Somantri, 2009, hal 290)
Tuberkulosis (TB) adalah suatu infeksi akibat Mycobacterium Tuberculosis
yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru dengan gejala yang
sangat bervariasi. (Junaidi, Iskandar, 2010, Kapita Medikal Bedah, hal 290)

2.1.2 Anatomi Fisiologi


Pengertian pernapasan atau respirasi adalah suatu proses mulai dari
pengambilan oksigen, pengeluaran karbohindioksida Saluran penghantar udara
hingga mencapai paru-paru meliputi 2 bagian yaitu : (Irman Soemantri, 2009,
Kapita Medikal Bedah, hal 291)
Saluran pernapasan bagian atas (upper respiratory airway) terdiri dari :
a. Hidung (nasal, naso)
Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai 2 lubang
(kavum nasi), dipisahkan oleh sekat (septum nasi). Di dalamnya terdapat

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 4


bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara,debu dan kotoran-kotoran
yang masuk ke dalam lubang hidung.
b. Sinus paranasalis
Merupakan daerah yang terbuka pada tulang kepala. Nama sinus
paranasalis sendiri disesuaikan dengan nama tulang di mana organ itu
berada. Organ ini terdiri atas sinus frontalis, sinus etmoidalis, sinus
spenoidalis dan sinus maksilaris. Fungsi dari sinus adalah untuk
membantu menghangatkan dan melembabkan udara, meringankan berat
tulang tengkorak, serta mengatur bunyi suara manusia dengan ruang
rosanansi.
c. Tekak (faring)
Tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan.
terdapat di bawah dasar tengkorak, di belakang rongga hidung dan mulut
sebelah depan ruas tulang leher.
Rongga tekak dibagi mejadi dua :
1. Nasofaring adalah bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan
koana.
2. Orofaring adalah bagian tengah yang sama tingginya dengan istmus.
3. Laringofaring adalah bagian bawah sekali.
d. Laring (tenggorok)
Saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara yang terletak
di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke
dalam trakea di bawahnya. Pangkal tenggorokan itu dapat ditutupi oleh
sebuah empang tenggorokan yang disebut epiglottis, yang terdiri dari
tulang-tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita menelan makanan
menutup laring.
Saluran pernapasan bagian bawah (lower airway) terdiri dari :
a. Trakea
Merupkan lanjutan dari laringyang dibentuk oleh 16-20 cincin yang
terdiri dari tulang-tulang rawanyang berbentuk seperti huruf C dan
panjangnya 9-11 cm. Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 5


berbulu getar yang disebut sel bersilia, hanya bergerak kearah luar. Sel-sel
bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk
bersama-sama dengan udara pernapasan.
b. Bronkus
Bronkus yang terbentuk dari belahan dua trakea pada ketinggian kira-
kira vertebrata torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trakea
dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke
bawah dan kesamping ke arah tampuk paru. Bronkus kanan lebih pendek
dan lebih lebar daripada yang kiri, terdiri dari 6-8 cincin, mempunyai 3
cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang kanan
terdiri dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang. Bronkus bercabang lagi
menjadi cabang yang lebih kecil disebut bronkioli. Pada bronkioli tidak
terdapat cincin-cincin lagi, dan pada ujung bronkioli terdapat gelembung
paru yang disebut alveoli.
c. Paru –paru
Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan.
Disinilah tempat terjadinya pertukaran udara, O2 masuk ke dalam darah
dan CO2 dikeluarkan dari darah. Banyaknya gelembung yang ada di paru
kanan dan kiri yaitu 700.000.000 gelembung.
Paru kanan dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior, medius dan
inferior sedangkan paru kiri dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan
inferior. Diperkirakan bahwa setiap paru-paru mengandung 150 juta
alveoli, sehingga mempunyai permukaan yang cukup luas untuk tempat
permukaan/pertukaran gas.

2.1.3 Etiologi
Berikut adalah penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinya Tuberculosis
Paru, yaitu :
Tuberkulosis disebabkan oleh kuman yaitu Mycobacterium Tuberculosis.
Kuman ini berbentuk batang, serta banyak mengandung lemak yang tinggi pada
membran selnya sehingga menyebabkan kuman ini tahan asam. kuman ini tidak

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 6


tahan terhadap sinar ultraviolet karena itu, penularannya terutama terjadi pada
malam hari. Ukuran dari kuman tuberkulosis kurang lebih 0,3 x 2 sampai 4 mm,
ukuran ini lebih kecil dari pada ukuran sel darah merah (Sumantri, 2008 hal 300).

Tuberculosis Paru merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan


oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Basil Mycobacterium masuk ke dalam
jaringan paru melalui saluran napas (dropplet infection) sampai ke alveoli dan
terjadilah infeksi primer (Ghon). kemudian ke kelenjar getah bening terjadilah
primer kompleks yang disebut “Tuberculosis Primer”.Sebagian besar mengalami
penyembuhan. Peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik
terhadap basil mycobacterium atau pada saat system imun seseorang sedang
menurun. Sedangkan “Tuberculosis Post Primer”(reinfection) adalah peradangan
yang terjadi pada jaringan paru oleh karena penularan ulang.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 7


2.1.4 Patofisiologi
Skema patofisiologi Tuberculosis Paru
M.Tuberculosis

Inhalasi droplet

basil berdistribusi bakteri mencapai alveolus perjalanan penyakit tb

merangsang peningkatan leukosit muncul respon tubuh berupa


gejala-gejala fisik yang mengganggu aktivitas

zat endogen pyrogen terjadi reaksi antigen-antibody kurangnya komunikasi

prostaglandin muncul reaksi radang stressor keluarga

berdistribusi ke hipotalamus terjadi pengeluaran secret atau mucus khawatir kondisi anggota keluarga
yang sakit
menggeser set point anterior dari titik normal akumulasi secret dijalan napas kurangnya pengetahuan

kecemasan

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 8


respon menggigil bersihan jalan napas tidak efektif
menghalangi proses difusi oksigen
peningkatan suhu tubuh respon batuk-batuk
peningkatan gerakan pernapasan
terjadinya demam penggunaan otot-otot abdomen
Sesak
terjadi peningkatan metabolesme tubuh reflug fagal
pola napas tidak efektif
terjadi pemecahan cadangan makanan mual,muntah
Transportasi O2 terganggu

kebututhan nutrisi sel meningkat cadangan makanan dijaringan berkurang kelelahan

nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh kelemahan fisik

otropi otot-otot

keterbatasan aktivitas

Aktivitas kehidupan sehari-hari terganggu

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 9


Penjabaran Patofisiologi
Individu sehat menghirup Bakteri Mycobacterium Tuberculosis di tularkan
melalui droplet yang dibatukan oleh seseorang yang terinfeksi TB. Bakteri masuk
melalui jalan napas ke alveoli, tempat dimana bakteri terkumpul dan berkembang
untuk memperbanyak diri, kemudian terjadi reaksi antigen dan antibody di dalam
tubuh yang menyebabakan peradangan sehingga dapat mengeluaran mucus atau
sekret yang menyebabkan ketidak efektifan jalan napas akibat adanya akumulasi
sekret. Secara spontan akan terjadi reflex batuk yang menggunakan kekuatan otot-
otot abdomen. Tertariknya otot-otot tersebut disebabkan karena adanya reflug
fagal, sehingga makanan yang ada didalam abdomen tertarik ke atas dan timbul
rasa mual disertai muntah.
Adanya akumulasi sekret dijalan napas juga menyebabkan proses difusi
oksigen terhalangi. Hal ini memacu peningkatakan gerak pernapasan tubuh yang
menimbulkan sesak. Sehingga, pola napas tidak efektif yang menyebabkan
transportasi O2 terganggu.
Bakteri yang mencapai alveolus akan berdistribusi sehingga dapar
merangsang leukosit (antibody). Leukosit tersebut melawan bakteri TB dengan
mengeluarkan zat endogen dan pyrogen. Adanya jaringan yang terluka atau sakit
akan menghasilkan prostaglandin yang berfungsi seperti layaknya senyawa sinyal
atau sebagai pesan kimia yang berdistribusi ke hipotalamus. Hipotalamus akan
menggeser set poin anterior didalam otak dari titik normal. Proses ini akan
menimbulkan respon menggigil dan demam akan terjadi akibat peningkatan suhu
tubuh.
Tubuh yang mengalami hypertermi akan memacu terjadinya peningkatan
metabolism tubuh. Cadangan makanan akan terpecah sehingga kebutuhan nutrisi
sel pun meningkat. Akibatnya nutrisi didalam tubuh berkurang.
Terjadinya pemecahan cadangan makanan menimbulkan cadangan makan
dijaringan berkurang. Hal ini mengakibatkan kelemahan fisik dan juga dipicu
karena adanya kelelahan yang menimbulkan otropi pada otot. Aktivitas kehidupan
semakin terganggu karena keterbatasan aktivitas.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 10


Perjalanan penyakit TB akan memacu munculnya respon tubuh berupa gejala-
gejala yang mengganggu aktivitas. Kurangnya komunikasi oleh keluarga akan
menyebabkan terjadinya stress karena khawatir akan kondisi anggota keluarga
yang sedang sakit, sehingga kecemasan akan timbul akibat kurangnya
pengetahuan tentang penyakit dan cara pengobatanya. (Sumber : Pedoman
Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi 2, cetakan pertama, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. 2007)

2.1.5 Manifestasi Klinis


Tanda – tanda klinis dari penderita tuberkulosis paru sangat beragam
tergantung pada kondisi tubuh penderita, akan tetapi gejala klinis yang paling
sering ditemui pada penderita antara lain (Smeltzer & Bare, 2002 ):

a. Batuk / Batuk darah


Pada penderita biasanya tampak batuk yang lama, batuk dapat
mengakibatkan iritasi pada saluran pernapasan, akan tetapi batuk juga
berfungsi mengeluarkan produk radang keluar seperti dahak.
b. Demam
Sering terjadi demam pada kondisi tertentu malahan kadang kadang
terjadi peningkatan suhu tubuh biasa mencapai 39 – 40 ˚C, karena kondisi
ini terpengaruh akan daya tahan tubuh terhadap infeksi kuman
tuberkulosis.
c. Sesak napas
Biasa terjadi jika kondisi penyakit sudah pada tahap yang kronis, serta
telah terjadi komplikasi pada paru–paru seperti terjadi efusi pleura,
pneumothorak dan abses paru.
d. Nyeri dada
Gejala ini jarang terjadi, akan tetapi dapat terjadi bila ada infiltrasi radang
yang sudah mencapai pleura, sehingga menimbulkan pleuritis atau radang
pleura. Tampak inspirasi dan ekspirasi yang tidak normal.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 11


e. Malaise
Gejala sering ditemukan berupa tidak nafsu makan (anoreksia), berat
badan turun secara drastis, pusing, nyeri otot dan lainnya.

2.1.6 Pemeriksaan penunjang


Menurut Soeparman (1994), ada beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan pada pemeriksaan TB Paru, sebagai berikut:
a. Radiologi
Pada hasil pemeriksaan rontgen thorak, sering didapat adanya suatu
lesi sebelum ditemukan gejala subjektif awal. Sebelum pemeriksaan fisik,
dokter juga menemukan suatu kelainan pada paru. Pemeriksaan rontgen
thorak ini sangat berguna untuk mengevaluasi hasil pengobatan.
b. Mikrobiologi
Pemeriksaan sputum sebanyak 3 kali setiap hari, berdasarkan
pemeriksaan pada basil tahan asam (BTA) guna memastikan hasil
diagnosis. Akan tetapi hanya 30% – 70% saja yang dapat didiagnosis
dengan pemeriksaan ini karena diduga tidak terlalu sensitif.
c. Bronkoskopi
Hasil dari biopsi pleura dapat memperlihatkan suatu gambaran dan
dapat digunakan untuk bahan pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA).
d. Tes Tuberculosis
Tes mantouk diberikan dengan menyuntikan 0,1 cc Derivat Protein
Murni (PPD) secara intra muskuler (IM), kemudian dapat terlihat dalam 48
– 72 jam setelah dites, dikatakan positif bila diameter durasi lebih besar
dari 10 mm. Gambar berikut ini merupakan gambaran pemeriksaan tes
mantouk.
e. Tes Peroksida Anti Peroksidase (PAP)
Merupakan uji serologi imunoperoksidase mengunakan alat histogen
imunoperoksidase skrining untuk menentukan IgG sepesifik terhadap basil
tuberkulosis paru.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 12


f. Pemeriksaan CT-Scan
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan hubungan kasus TB
inaktif/stabil yang ditunjukan dengan adanya gambaran garis-garis fibrotic
ireguler, pita parenkimal, klasifikasi nodul dan adenopati, perubahan
kelengkungan berkas bronkhovasikular, bronkhiektasis. Pemeriksaan CT-
scan sangan bermanfaat untuk mendeteksi adanya pembentukan kavitas
dan lebih dapat diandalkan daripada pemeriksaan rontgen thorak biasa.

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan Dasar dengan Tuberculosis Paru


2.2.1 Pengkajian Sederhana
Pengkajian adalah merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan
merupakan proses yang sistematis dalam pengumpulan data sebagai sumber data
untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Dikutip dari
Iyer, et. al., 1996 (Nursalam, 2001, hal. 17).
Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan askep sesuai
dengan kebutuhan individu, sehingga pengkajian akurat, lengkap, sesuai
kenyataan dan kebenaran data sangat penting dalam merumuskan diagnosa
keperawatan.
Dalam tahapan ini dilakukan pengumpulan data yag terdiri dari tiga metode
yaitu komunikasi efektif, observasi dan pemeriksaan fisik. Data yang
dikumpulkan terdiri atas data dasar dan data focus. Dikutip dari Iyer, et. al., 1996
(Nursalam, 2001, hal. 25).

Untuk kasus Tuberculosis Paru menurut Doenges (2000, hal. 241), pengkajian
yang dilakukan meliputi:

a. Identitas

Kajian ini meliputi nama, initial, umur, jenis kelamin, agama, suku,
pendidikan pekerjaan dan tempat tinggal klien. Selain itu perlu juga dikaji
nama dan alamat penanggung jawab, serta hubungannya dengan klien.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 13


b. Riwayat Penyakit Dahulu

Kaji riwayat penyakit yang pernah diderita dari masa kanak-kanak sampai
dewasa, termasuk pengalaman operasi atau cedera akibat kecelakaan, hal ini
penting untuk memaparkan masalah kesehatan klien yang mungkin dapat
menyebabkan komplikasi lebih berat terhadap penyakit tuberculosis ini.

c. Riwayat Penyakit Sekarang


1) Keluhan Utama
Keluhan demam malam, keringat malam, batuk-batuk
berdahak/berdarah,susah bernapas, keletihan, berkeringat malam, napsu
makan berkurang, penurunan berat badan.
2) Riwayat Perjalanan Penyakit
Berapa lama sakit dialami, hal-hal yang memperingan / memperberat
penyakit.
3) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi keluhan.
d. Pola Kesehatan
1) Pola Aktivitas / Istirahat
Klien dapat mengalami penurunan kelemahan, napas pendek karena
kerja, kesulitan tidur pada malam hari, demam malam hari, menggigil atau
berkeringat. Ditandai dengan kelemahan otot, nyeri, dan sesak (tahap
lanjut).
2) Pola Integritas ego
Klien dapat mengalami stress, masalah keuangan, perasaan tak
berdaya/ tak ada harapan ditandai menyangkal, ansietas, ketakutan, mudah
terangsang.
3) Pola Nutrisi Metabolik/ cairan
Klien dapat mengeluh kurang nafsu makan, tak dapat mencerna,
penurunan berat badan. Ditandai dengan turgor kulit buruk, kering/kulit
bersisik,kehilangan otot/hilang lemak subkutan.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 14


4) Pola Nyeri / Kenyamanan
Nyeri dada meningkat karena batuk berulang, Ditandai perilaku
distraksi dan gelisah.
5) Pola Pernapasan
Klien mengeluh batuk, produktif atau tak produktif, napas pendek,
riwayat tuberkulosis atau terpajan pada individu terinfeksi. Ditandai
dengan peningkatan frekuensi, pengembangan pernapasan tak simetris
(efusi pleura), perkusi pekak dan penurunan fremitus, bunyi napas:
menurun, tubuler dan atau bisikan pectoral di atas lesi luas. Krekels
tercatat di atas apek paru selama inspirasi cepat setelah batuk pendek
Karakteristik sputum hijau/purulen, mukoid kuning, atau bercak darah,
perubahan mental ( tahap lanjut).
6) Pola interaksi sosial
Klien merasa terisolasi/penolakan karena penyakit menular, perubahan
pola biasa dalam tanggung jawab atau perubahan kapasitas fisik untuk
melaksanakan peran.
7) Penyuluhan/pembelajaran
Ditandai dengan adanya riwayat keluarga yang menderita TBC,
ketidakmampuan umum/status kesehatan buruk, gagal untuk
membaik/kambuhnya penyakit serta tidak mau berpartisipasi dalam terapi.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan
respon manusia dari individu atau kelompok dimana perawat secara
akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan informasi secara
pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah
dan merubah. Dikutip dari Carpenito, 2000 (Nursalam, 2001, hal. 35).

Menurut Doenges (2000, h. 242 – 248), diagnosa keperawatan yang


muncul pada klien dengan tuberkulosis paru adalah :

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 15


a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental,
upaya batuk buruk, kelemahan, edema trakeal/faringeal.

b. Resiko tinggi penyebaran infeksi/aktivasi ulang penyakit berhubungan


dengan pertahanan primer tak adekuat, penurunan kerja silia/stasis
sekret, kerusakan jaringan/penambahan infeksi, lingkungan dan
kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen.

c. Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan


penurunan permukaan efektif paru, atelektasis, kerusakan membrane
alveolar-kapiler, sekret kental, edema bronkhial.

d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan.


kelemahan, sering batuk/produksi sputum; dispnea, anoreksia.

e. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi,aturan


tindakanan, pencegahan berhungan dengan kurang sumber informasi.

2.2.3 Rencana Keperawatan


a. Bersihan jalan napas tak efektif efektif berhubungan dengan sekret
kental, upaya batuk buruk, kelemahan, edema trakeal/faringeal.
Tujuan : Jalan napas klien bersih dan tidak ada sekret.
Kriteria Hasil : Mempertahankan jalan napas, mengeluarkan sekret tanpa
bantuan., menunjukkan prilaku mempertahankan
bersihan jalan napas dan klien berpartisipasi dalam
pengobatan..
Intervensi :
1) Kaji fungsi pernapasan, bunyi napas, kecepatan, irama dan kedalaman dan
penggunaan otot dan aksesori.
Rasional : Penurunan bunyi napas dapat menunjukan atelektasis, Ronki,
menunjukan akumulasi sekret/ketidakmampuan untuk
membersihkan jalan napas yang dapat menimbulkan penggunaan
otot aksesori pernapasan dan peningkatan kerja pernapasan

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 16


2) Kaji kemampuan untuk batuk efektif, karakter dan jumlah sputum, adanya
hemoptisis.
Rasional: Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal. Sputum berdarah kental
atau darah cerah diakibatkan oleh kerusakan (kavitasi) paru atau
luka bronkial dan dapat memerlukan evaluasi/intervensi lanjut
3) Berikan posisi semi fowler.
Rasional: Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan
menurunkan upaya pernapasan.
4) Bantu pasien untuk batuk dan latihan napas dalam.
Rasional: Ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan
gerakan sekret ke dalam jalan napas besar untuk dikeluarkan.
5) Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari.
Rasional: Pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengencerkan sekret,
membuatnya mudah dikeluarkan.
Kolaborasi :
6) Pemberian obat kortikosteroid sesuai pesanan
Rasional: Berguna pada adanya keterlibatan luas dengan hipoksemia dan bila
respon inflamasi mengancam hidup.
b. Resiko tinggi penyebaran infeksi/aktivasi ulang penyakit berhubungan
dengan pertahanan primer tak adekuat, penurunan kerja silia/stasis sekret,
kerusakan jaringan/penambahan infeksi, terpajan lingkungan dan kurang
pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen.
Tujuan : Setelah diberikan intervensi tidak terjadi penyebaran infeksi dan
penularan penyakit terhadap orang lain.
Kriteria hasil : Dapat menentukan intervensi mencegah/menurunkan resiko
penyebaran infeksi, klien dan keluarga melakukan perubahan pola
hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman.
Intervensi:
1) Kaji patologi penyakit fase aktif/tidak aktif dan potensial penyebaran
infeksi melalui droplet udara selama batuk, bersin, meludah, bicara,
tertawa, menangis.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 17


Rasional: Membantu pasien menyadari/menerima perlunya mematuhi
program pengobatan untuk mencegah pengaktifan
berulang/komplikasi.
2) Observasi tanda-tanda vital (TD, N, S, R).
Rasional : Perubahan nilai tanda vital merupakan indikator adanya infeksi
lanjut.
4) Anjurkan klien untuk batuk/bersin menggunakan tisu dan buang pada
tempat yang tepat serta cuci tangan dengan desinfektan sebelum dan
sesudah kontak dengan klien
Rasional : mencegah terjadinya penularan nasokomial dari pasien ke perawat
atau orang lain.
4) Identifikasi orang yang berisiko terinfeksi.
Rasional: orang yang terpajan ini perlu program pengobatan untuk cegah
penularan dari klien pada orang lain.
5) Jelaskan cara penularan penyakit dan cara menguranginya.
Rasional: pengetahuan tentang ini dapat menurunkan resiko infeksi dengan
merubah pola hidup.
Kolaborasi:
6) Berikan agen anti infeksi sesuai dengan indikasi
Rasional: Agen anti infeksi dapat digunakan sebagai pengobatan dan cegah
komplikasi lanjut.
7) Tekankan untuk tidak menhentikan terapi obat.
Rasional: Karena penyebaran infeksi dapat berlanjut.
c. Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan
permukaan efektif paru, atelektasis, kerusakan membrane alveolar-kapiler,
sekret kental, edema bronkhial.
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan klien tidak mengalami
kerusakan pertukaran gas CO2 dan O2
Kriteria Hasil : Perbaikan ventilasidan oksigenisasi jaringan adekuat dengan
gas darah analisa dalam rentang normal.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 18


Intervensi:
1) Kaji dyspnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal, meningkatnya
respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan fatigue.
Rasional: TB paru menyebabkan efek luas pada paru dan bagian kecil
bronkopneumonia sampai inflamasi difus luas, nekrosis, effusi
pleural, dan fibrosis luas. Efek pernapasan dapat ringan sampai
dispnea berat sampai distres pernapasan.
2) Evaluasi perubahan tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis dan
perubahan kulit, selaput mukosa dan warna kuku.
Rasional: Akumulasi sekret/pengaruh jalan napas dapat mengganggu
oksigenisasi organ vital dan jaringan.
3) Demonstrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan napas dengan bibir
disiutkan, khususnya untuk pasien dengan fibrosis atau kerusakan
parenkim.
Rasional: Membuat tahanan melawan udara luar, untuk mencegah
kolaps/penyempitan jalan napas, sehingga membantu
menyebarkan udara melalui paru dan menghilangkan/menurunkan
napas pendek.
4) Anjurkan untuk bedrest/mengurangi aktifitas.
Rasional: Menurunkan konsumsi oksigen/kebutuhan selama periode
penurunan pernapasan dapat menurunkan beratnya gejala.
Kolaborasi :
5) Berikan oksigen tambahan .
Rasional:: Alat dalam perbaikan hipoksemia yang dapat terjadi sekunder
terhadap penurunan ventilasi/menurunnya permukaan alveolar
paru.
d. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia.
Tujuan : Meningkatkan perubahan/perilaku pola makan untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 19


Kriteria Hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan dan bebas dari tanda-
tanda malnutisi.
Rencana Tindakan:
1) Kaji status nutrisi, riwayat mual dan muntah.
Rasional: Berguna dalam mendefinisikan derajat/luasnya masalah dan pilihan
intervensi yang tepat.
2) Kaji pola diet pasien yang disukai/tidak disukai.
Rasional: Membantu dalam mengidentifikasikan kebutuhan/ kekuatan khusus.
Pertimbangan keinginan individu dapat memperbaiki masukan diet.
3) Monitor intake dan output secara periodik.
Rasional: Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan.
4) Dorong dan berikan periode istirahat sering.
Rasional: Membantu menghemat energi, khususnya bila kebutuhan metabolik
meningkat saat demam.
5) Dorong klien untuk makan sedikit tapi sering dengan makanan tinggi
protein dan karbohidrat.
Rasional: Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang
perlu/kebutuhan energi dari makanan, banyak menurunkan iritasi
gaster.
Kolaborasi
6) Rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
Rasional: Memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi
adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet.
7) Berikan obat penetralisir asam lambung sesuai indikasi.
Rasional: Dapat membantu menurunkan insiden mual dan muntah
sehubungan dengan obat atau efek pengobatan pernapasan pada
perut yang penuh
8) Berikan terapi parenteral sesuai indikasi.
Rasional: Membantu terpenuhinya kebutuhan cairan dan pengobatan
parenteral

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 20


e. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi, pengobatan dan pencegahan
berhubungan dengan kurangnya informasi
Tujuan : Setelah diberikan intervensi klien dan keluarga menunjukkan
perubahan prilaku untuk memperbaiki kesehatan.
Kriteria Hasil : Klien menyatakan pemahaman proses penyakit/ prognosis dan
kebutuhan pengobatan.
Intervensi:
1) Kaji kemampuan belajar pasien.
Rasional: Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan
pada tahapan individu.
2) Identifikasi gejala yang harus dilaporkan: hemoptisis, nyeri dada, demam,
kesulitan napas, kehilangan pendengaran, vertigo.
Rasional: Dapat menunjukkan kemajuan atau pengaktifan ulang atau efek
obat yang memerlukan evaluasi.
3) Tekanan pentingnya mempertahankan protein tinggi dan diet karbohidrat
serta pemasukan cairan adekuat.
Rasional: Memenuhi kebutuhan metabolik membantu meminimalkan
kelemahan dan meningkatkan penyembuhan. Cairan dapat
mengencerkan/ mengeluarkan sekret.
4) Berikan informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan.
Rasional: Informasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengingat
sejumlah besar informasi. Pengulangan menguatkan belajar
5) Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian dan kerja yang diharapkan.
Rasional: Meningkatkan kerjasama dalam program pengobatan dan mencegah
penghentian obat sesuai perbaikan kondisi pasien .
6) Kaji bagaimana Tuberkulosa ditularkan dan bahaya reaktivasi
Rasional: Pengetahuan dapat menurunkan risiko penularan/ reaktivitas ulang.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 21


BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1 Laporan kasus
3.1.1 Pengkajian Sederhana
a. Identitas Klien
Nama : Tn.A
Umur : 22 tahun
Alamat : Kp. Cigondong Arabaya Sukabumi
Jenis kelamin : Laki-laki
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Belum bekerja
Agama : Islam
Suku/bangsa : Indonesia
Tgl masuk RS : 04-09-12
No.RM : 142018
Ruangan : Penyakit dalam (Lumba)
Tgl pengkajian : 07-09-12
Diagnosa : Tuberculosis Paru
Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn.H
Umur : 35 tahun
Alamat : Kp. Cigondong Arabaya Sukabumi
Pekerjaan : Belum bekerja
Hub dengan klien : Kakak Ipar
b. Keluhan Utama
Klien mengatakan batuk disertai darah
c. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Kesehatan Sekarang
klien datang dari IGD pada tanggal 14-09-12 dengan keluhan batuk
selama dua minggu. sebelum dibawa ke RS Pelabuhan Ratu, Klien
mengatakan pernah berobat ke dokter dan diberi obat OAT. Klien

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 22


mengatakan bahwa dia tidak menghabiskan obat tersebut karena merasa
sudah sembuh. Kebiasaan merokok yang tidak bisa dihindari klien memicu
terjadinya batuk lagi. Klien mengatakan bahwa dirinya merasakan batuk
yang sama tetapi tidak dia hiraukan. Karena tidak diobati batukpun
menjadi semakin parah disertai keluarnya darah selama dua hari dan nyeri
yang dirasa menyebar ke daerah dada bagian bawah.
2) Riwayat Kesehatan Dahulu
klien mengatakan pernah mengalami sakit yang selama 2 kali.sakit
pertama terjadi pada waktu klien berumur 21 tahun selang 1 tahun
batukpun muncul kembali karena lama tak diobati. Tetapi batuk yang
dialami klien dahulu tidak disertai keluarnya darah.
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
klien mengatakan bahwa di dalam keluarganya tidak ada yang
menderita penyakit yang sama dan yang melakukan pengobatan rutin.

Genogram

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 23


Keterangan :

: Laki-laki : Perempuan

: Pasien

: Tinggal Satu Rumah

4) Riwayat Kesehatan Psikososial


pada saat dikaji klien tampak lebih tenang dan rasa kehawatiran
akan penyakit yang dideritanya berkurang karena merasa sudah tidak
mengeluarkan batuk darah lagi. Klien juga aktif berkomunikasi dengan
keluarganya tetapi tidak dengan pasien lain karena berbeda kamar.
5) Riwayat Spiritual
klien sangat taat beribadah walaupun dibantu oleh keluarganya untuk
mengambil air wudhu.
6) Pola Kebiasaan Sehari-hari
Table 1. Pola Kebiasaan Pasien
No Pola Kebiasaan Dirumah Dirumah Sakit
Pola Nutrisi
o Makanan
- Jenis makanan nasi,sayur, lauk bubur
- Frekuensi 3x/hari 1 porsi 3x/hari
(klien mengatakan
hanya memakan ¼
1 dari porsi yang
diberikan)

o Minum air putih air putih


- Jenis Minuman 1 ½ liter botol 2-4 gelas
- Frekuensi aqua

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 24


o Infus jumlah input: 2000 3 kolf/ hari
ml jumlah input :
2100 ml

Pola Eliminasi
o BAB
- Konsistensi semi padat encer
- Warna kuning kecoklatan kuning
- Frekuensi 2x/hari tidak teratur
2

o BAK kuning kuning kemerahan


- Warna 5x/hari 5/hari
- Frekuensi
3 Pola Kebiasaan merokok tidak merokok
Pola Istirahat
- Malam ±6 jam/hari susah tidur
4
- Siang 2 jam/hari 3 jam/hari

Pola Personal Hygiene


- Mandi 2x/hari - sekali hanya dilap
5 - Keramas 1x/2 hari - dua hari sekali
- Gunting kuku 1x/ minggu - belum pernah

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 25


7) Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum : Sedang
b. Kesadaran : Compos Mentis
Pada Saat Di Kaji GCS Klien
 Respon Motorik : 6 (Menuruti Perinta)
 Respon Verbal : 5 (Orientasi Baik)
 Respon Mata : 4 (Spontan) +
Jumlah Score : 15 (Normal)
c. Tanda-tanda Vital
 Tekanan Darah : 90/60 mmHg
 Nadi : 82x/ menit
 Respirasi : 22x/ menit
 Suhu : 36,7° C
d. Pemeriksaan antropometri
 TD : 47 cm
 TB : 165 kg
 BB ideal : 90% ( 100-TB )
90% ( 100-165 )
90 x 65 = 58,5 kg
100
e. Pemeriksaan head to toe
a. Keadaan rambut dan hygien kepala
 Warna : hitam
 Kerontokan : tidak terjadi kerontokan
 Kebersihan : berminyak, kotor, dan tidak terdapat lesi
b. Hidrasi (cairan di dahi )
Tidak ada tanda-tanda dehidrasi pada saat dilakukan penekanan pada
daerah dahi.
c. Palvebrae (kelopak mata)
Tidak terdapat edema atau secret mata yang berlebih pada palvebrae.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 26


d. Sklera dan konjungtiva
Sklera berwarna putih kemerahan dan konjungtiva tidak terlihat pucat.
e. Tekanan bola mata
Bola mata kanan simetris dengan bola mata kiri diketahui pada saat
dilakukan penekanan dalam keadaan tertutup.
f. Pupil dan refleks cahaya
Pupil mengecil ketika di senter dengan cahaya.
g. Visus atau ketajaman penglihatan
Pasien bisa membedakan warna dengan jarak 1 meter. Pasien
mengatakan tidak pernah mengalami gangguan pada mata dan tidak
pernah memakai kaca mata.
h. Rongga hidung
Bentuk : kedua lubang hidung simetris
Kebersihan : bersih, tidak ada kotoran maupun lesi
Penciuman : pasien dapat membedakan wangi teh dan wangi
kopi dalam keadaan mata tertutup
i. Daun telinga
Kebersihan : tidak terlihat adanya serum
Kesimetrisan : telinga kanan simetris dengan telinga kiri
Pendengaran : pasien dapat mendengarkan suara menggunakan
telinga kanan dan kiri
j. Kebersihan rongga mulut, gigi, lidah, dan tongsil
 Gigi : bersih berwarna putih
 Lidah :
- Kebersihan : tidak tampak adanya kotoran
- Fungsi pengecapan : pasien dapat membedakanrasa kopi dan
rasa gula dalam keadaan mata tertutup
 Rongga mulut dan gusi :
- Kebersihan : tidak tampak adanya kotoran maupun lesi

 Tonsil : Tidak ada pembengkakan pada tongsil

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 27


k. Leher
 Bentuk : panjang dan ramping
 Kebersihan : tampak adanya kotoran
l. Kelenjar getah bening
Tidak tampak adanya pembesaran kelenjar getah bening.
m. Tekanan vena jugularis
Tidak ada pembesaran pada vena jugularis
n. Pemeriksaan thorax
Pada saat pengkajian pada thorax, dilakukan beberapa tahap
pemeriksaan yaitu :
 Tahap pertama yang dilakukan adalah inspeksi hasil yan diperoleh
adalah bentuk kedua dada pasien simetris.
 Tahap kedua yang dilakukan adalan palpasi pada punggung, hasil
yang diperoleh pada saat pasien mengatakan 77 atau 99 adalah
adanya getaran.
 Tahap ketiga yang dilakukan adalah perkusi. Pada pemeriksaan ini
didapat bunyi pekak yaitu.
 Tahap terakhir adalah auskultasi. Hasil yang didapat adalah adanya
suara vesikular yaitu suara napas pasien pada saat inspirasi panjang
sedangkan ekspirasinya pendek. Pada pemeriksaan auskultasi juga
diperoleh bunyi napas tambahan ralles yaitu suara yang dihasilkan
saat udara melewati jalan napas yang penuh eksudat atau cairan,
biasanya terdengar saat inspirasi dan tidak hilang saat dibatukkan.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 28


o. Pemeriksaan penunjang
Table 2. Hasil Laboratorium
Jenis pemeriksaan Hasil lab Nilai normal
Kimia darah
Faal hati
SGOT 17 < 37 V/L
SGPT 20 < 37 V/L
Faal ginjeksial
Ureum 42 10-50 mg/dL
Kreatinin 1,4 0.8-13 mg/dl L
0.6-12 mg dl p
Gula darah
Sewaktu 133 < 180 mg/dL

p. Terapi / pengobatan
 obat oral
 antasida Syr 60 mg 3x1 sdm
 B complex 400 mg 3x1 tablet
 Asam tranexsamat 500 mg 3x1 tablet
 OAT
- Rhipamfisin 450 mg
1-0-0
- INH 300 mg
1-0-0
- Pirazinamid 500 mg
0-1-1
- Ethambutol 500 mg
0-1-1
 Codein 3x1 tab

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 29


 Obat injeksi
 Ranitidin 25 mg injeksi 2x1 amp
 Ondansetron 4 mg injeksi 2x1 amp
 Vit.K 5 mg injeksi 3x1 amp
 Ceftriaxone 1000 mg injeksi 2x1 vial
 Kalnex 500 mg injeksi 3x1 amp
 IVFD RL 20 TPM
 O2 nasal kanul 2-3 liter/ hari.
2. Analisa data
Table 3. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1 Data Subjektif : paru terinfeksi bakteri ketidak
Pasien mengatakan batuk disertai mikobakterium efektifan
darah tuberkulosa kebersihan
Data Objektif : jalan napas
- Pasien tampak sesak masuk ke saluran
- Respirasi 38x /menit pernapasan bawah
- Posisi semi fowler
- Pasien terpasang O2 membentuk
melalui nasal kanul 3-2 gumapalan yang lebih
liter besar
menyebabkan adanya
peradangan pada
jaringan paru

penumpukan sekret
pada saluran
pernapasan

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 30


2 Data Subjektif : penumpukan sekret perubahan
Pasien mengatakan mual disertai pada saluran nutrisi
muntah muntah. pernapasan kurang dari
Data Objektif : kebutuhan
- Pasien makan habis ¼ respon batuk-batuk tubuh.
porsi
- Pasien tampak lemah penggunaan otot-otot
- BB pasien 47 kg abdomen
BB ideal : 90% ( 100-TB )
90% (100-165) reflug fagal
90%(65)
= 58,5 kg mual muntah

Data Subjektif
4 : adanya proses penyakit kecemasan
3 Pasien dan keluarganya tb
mengatakan tidak mengetahui
proses penyebaran penyakit serta muncul respon tubuh
penangananya. berupa gejala-gejala
Data Objektif : fisik yang mengganggu
- Ekspresi wajah pasien aktifitas
dan keluarga tampak
tegang. kurangnya komunikasi
- Keluarga dan pasien
banyak bertanya. stressor keluarga

khawatir kondisi
anggota keluarga yang
sakit

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 31


ketidak lengkapan
informasi proses
penyakit dan
pengobatanya

kurangnya
pengetahuan mengenai
kondisi, aturan
tindakan dan
pencegahan

3.1.2 Diagnosa keperawatan yang muncul berdasarkan prioritas


1. Ketidak efektifan jalan napas berhubungan dengan adanya sekresi mucus
yang kental, hemaptosis, upaya batuk yang buruk dan trakheal/faringeal.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
adanya mual dan muntah.
3. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mengenai
kondisi, aturan tindakan dan pencegahan.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 32


3.1.3 Perencanaan
Table 4. Diagnosa Keperawatan
Perencanaan
No Tanggal Diagnosa keperawatan
Tujuan Intervensi Rasional
1. 05-09-12 Ketidak efektifan jalan Tujuan umum: - Untuk
napas berhubungan dengan - Mempertahankan mengetahui
adanya sekresi mucus yang jalan napas. perkembangan
kental, hemaptosis, upaya - Mempertahankan - Kaji TTV klien. TTV.
batuk yang buruk dan bersihan jalan - Kaji keadaan umum - Untuk
trakheal/faringeal ditandai napas. klien. mengetahui
dengan : Tujuan khusus: - Beri posisi semi fowler keluhan yang
DS : Setelah dilakukan tindakan - Kolaborasi dengan dirasa pasien.
pasien mengatakan batuk keperawatan selama 3x24 dokter dalam - Untuk
disertai darah. jam diharapkan efektifnya pemberian terapi mengurangi
DO : jalan napas. sesak yang
- Respirasi 38 x/menit Dengan kriteri hasil: dirasa pasien.
- Posisi semi fowler - Batuk berkurang - Agar tidak
- Pasien terpasang o2 atau hilang terjadi
melalui nasal kanul - TTV terkontrol kesalahan

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 33


3-4 liter. - Napas stabil tanpa dalam
alat bantu pemberian
terapi.

2 05-09-12 Perubahan nutrisi kurang Tujuan umum: - Timbang BB klien  Untuk mengetahui
dari kebutuhan tubuh Mempertahankan - Anjurkan klien untuk perkembangan
berhubungan dengan mual keseimbangan nutrisi makan selagi hangat. BB klien.
muntah ditandai dengan : dalam tubuh. - Anjurkan klien untuk  Untuk
DS : Tujuan khusus: makan sedikit tapi meningkatkan
Pasien mengatakan mual Setelah dilakukan tindakan sering. selera makan
dan muntah keperawatan 3x24 jam - Kolaborasi dengan klien.
DO : diharapkan kebutuhan dokter dalam pemberian  Agar kebutuhan
- Pasien makan ¼ nutrisi terpenuhi. terapi nutrisinya
porsi Dengan kriteria hasil : terpenuhi.
- Pasien tampak lemas - Porsi makan habis Agar tidak terjadi
- Bb pasien 47 kg - Pasien tampak lebih kesalahan dalam
BB ideal : 90% ( 100-TB ) segar pemberian terapi.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 34


90% (100-165) - BB pasien seimbang
90%(65) dengan TB
= 58,5 kg - Nafsu makan
- Pasien tidak nafsu bertambah
makan
3 05-09-12 Kecemasan berhubungan Tujuan umum: - Kaji tingkat pengetahuan - Untuk
dengan kurangnya Menyatakan pemahaman tentang penyakit klien. mengetahui
pengetahuan mengenai proses penyakit/prognosis - Beritahu kepada pasien tingkat
kondisi, aturan tindakan dan dan kebutuhan untuk mengidentifikasi pengetahuan
pencegahan. pengobatan. gejala yang harus klien.
ditandai dengan : Tujuan khusus: dilaporkan ke perawat. - Untuk
DS : Setelah dilakukan tindakan mengetahui
Keluarga dan pasien keperawatan 1x24 jam kemampuan
mengatakan tidak diharapkan pasien dapat atau pengaktifan
mengetahui proses beraktifitas secara optimal. ulang penyakit
penyebaran penyakit serta Dengan kriteri hasil : atau efek obat
pencegahanya. - Pasien mengetahui yang
DO : tentang prosen memerlukan
- Ekspresi wajah penyakit dan cara evaluasi lanjut.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 35


pasien pencegahanya.
dan keluarga tampak
tegang.
- Keluarga dan pasien
banyak bertanya.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 36


3.1.4 Catatan perkembangan
Table 5. Catatan Perkembangan
Tanggal DX Implementasi Evaluasi
05-09-12 1 09.00 S : Pasien mengatakan
Mengkaji TTV masih batuk disertai
09.20 pengeluaran darah.
Mengkaji keadaan umun klien O:
09.40 - Pernapasan masih
Memberi posisi semi fowler tampak sesak :
09.50 TD : 100/70
Memberi terapi O2 melalui N : 82 x/menit
nasal kanul 3-4 liter R : 35 x/menit
10.00 S : 36,7 0C
Member terapi - Posisi semi fowler.
Obat oral - Pasien terpasang O2
- Codein 3x1 tab melalui nasal kanul
Obat injeksi 3-4 liter.
- Kalnex 500 mg 3x1 amp A:
- Vit K 5 mg 3x1 gr - Masalah belum
teratasi
P:
- Intervensi dilanjutkan

2 13.30 S:
Menimbang BB pasien - Pasien mengatakan
13.00 masih merasa mual.
Menganjurkan pasien untuk O :
makan selagi hangat. - Pasien hanya
13.10 menghabiskan ¼
Menganjurkan pasien untuk porsi makan.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 37


makan sedikit tapi sering. - Pasien tampak lemas.
09.50 - BB pasien : 47 kg.
Berkolaborasi dengan dokter - Pasien tidak nafsu
dalam pemberian terapi : makan
Obat oral A:
- Antasida Syr 60 mg - Masalah belum
3x1 sdm teratasi
- B Complex 400 mg P :
3x1 tab - Intervensi dilanjutkan
Obat injeksi
- Ranitidine 25 mg 2x1 gr
- Ondansetron 2x1 Amp
3 09.20 S:
- Mengkaji tingkat- Pasien mengatakan
pengetahuan tentang sudah mengerti dan
penyakit klien paham tentang
09.40 pertanyaanya.
- Beritahu kepada pasien O:
untuk mengidentifikasi - Pasien tampak lebih
gejala yang harus tenang
dilaporkan ke perawat. - Pasien dan
keluarganya sudah
tidak bertanya-tanya
lagi.
A:
- Masalah sudah
teratasi
P:
- Intervensi dihentikan

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 38


06-09-12 1 23.00 06-09-12
Memberikan terapi S:
Obat injeksi - Pasien mengatakan
- Asam traneksamat 3x1 gr batuk mulai
- Vit . K 3x1 gr berkurang masih
06.00 terdapat sedikit darah.
Mengkaji tanda-tanda vital O:
06.20 - Pernapasan tampak
Mengkaji keadaan umum klien sedikit teratur :
06.40 - TD : 90/60
Memberi posisi semi fowler - N : 82x/ menit
06.45 - R : 29x/menit
Memberi O2 melaluli nasal - S : 36,7 0C
kanul 3-4 liter - Posisi semi fowler.
07.00 - Pasien terpasang O2
Memberi terapi obat oral melalui nasal kanul
- Codein 3x1 tab 2-3 liter.
Obat injeksi A:
- Kalnex 500 mg 3x1 amp - Masalah teratasi
- Vit K 5 mg 3x1 gr sebagian.
P:
- Intervensi dilanjutkan

2 06.20 06-09-12
Menimbang BB pasien. S:
06.30 - Pasien masih rasa
Menganjurkan klien untuk mual mulai berkurang
makan selagi hangat.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 39


06.35 O:
Menganjurkan pasien untuk - Pasien tampak lebih
makan sedikit tapi sering. segar.
07.00 - Pasien menghabiskan
Berkolaborasi dengan dokter ½ porsi makan.
dalam pemberian terapi : - BB pasien : 48 kg
Obat oral : A:
- Antasida Syr 60 mg - Masalah teratasi
3x1 sdm sebagian
- B Complex 400 mg P :
3x1 tab - Intervensi dilanjutkan
Obat injeksi :
- Ranitidine 25 mg 2x1
amp
- Ondansetron 2x1 amp
- IVFD 20 TPM
3 07.20 06-09-12
- Menekankan kepada pasien S :
tentang pentingnya - Pasien dan keluarga
mempertahankan protein, mengatakan cukup jelas
diet karbohidrat dan tentang penjelasan yang
pemasukan cairan adekuat. diberikan.
07.30 -O:
- Mengkaji pengetahuan - Pasien tampak lebih
tingkat pengetahuan pasien tenang
tentang makanan yang tidak - Pasien dan keluarga
boleh dikonsumsi. tidak banyak bertanya
lagi.
A:
Masalah teratasi

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 40


P:
Intervensi dihentikan

08-09-12 1 09.00 08-09-12


Mengkaji TTV klien S:
09.20 - Pasien mengatakan
Mengkaji keadaan umum klien sudah tidak batuk
09.30 lagi.
Memberi posisi semi fowler
09.40 O:
Memberi O2 melalui nasal - Pernapasan tampak
kanul 2-3 liter. teratur
10.00 TD : 120/80
Memberi terapi obat oral : N : 84x/menit
- Codein 3x1 tab R : 22x/menit
- Asam Traneksamat S : 36,2 0C
500 mg - Pasien bernapas
3x1 tab tanpa menggunakan
Obat injeksi alat bantu.
- Vit K 5 mg 3x1 gr A:
- Masalah teratasi
P:
- Intervensi
dihentikan sesuai
intruksi dokter.
2 13.30 08-09-12
Menimbang BB klien
13.00 S:
Menganjurkan pasien untuk - Pasien mengatakan
makan selagi hangat. tidak mual lagi.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 41


13.10 O:
Menganjurkan pasien untuk - Pasien
menghabiskan makanan selama menghabiskan
tidak merasa mual. 1 porsi makan penuh
09.50 - Pasien tampak segar
Berkolaborasi dengan dokter - BB pasien : 50 kg
dalam pemberian terapi. A:
Obat oral - Masalah teratasi
- Antasida 60 mg Syr P :
3x1 Sdm Intervensi dihentikan
- B Complex 400 mg sesuai intruksi dokter.
3x1 tab
Obat injeksi
- Ranitidine 25 mg
2x1 amp
- Ondansetron 4 mg
2x1 amp
- IVFD 20 TPM

3 09.20 08-09-12
- Memberi penjelasan tentang S :
dosis obat, frekuensi - Pasien mengatakan
pemberian, kerja yang cukup jelas dan
diharapkan dan alasan paham akan jawaban
pengobatan lama. dari pertanyaanya.
10.10 O:
- Mengkaji potensi efek - Pasien tampak lebih
samping pengobatan. tenang.
10.30 - Pasien dan
- Menekankan kebutuhan untuk keluarganya tidak

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 42


tidak minum alkohol bertanya-tanya lagi.
sementara minum INH. A:
10.50 - Masalah teratasi
- Memberi dan informasi tertulis P :
khusus pada pasien untuk - Intervensi dirumah
rujukan. Contoh : jadwal obat sakit dihentikan dan
kontrol secara rutin.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 43


BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Menurut teori dalam buku Kapita Selekta Kedokteran, jilid 1, hal 472,
Tuberculosis (TB) paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Mycrobacterium Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi. Sama dengan
penyebab penyakit yang terjadi pada pasien Tn.A yang disebabkan karena bakteri
Mycrobacterium Tuberculosis.
Pada menifestasi klinis, batuk disertai pengeluaran sputum maupun sekret
akan terjadi. Dan pada saat dilakukan pengkajian terhadap pasien ternyata keluhan
utama yang dialami adalah batuk disertai pengeluaran darah, hal ini berarti ada
kesamaan antara teori yang didapat dari beberapa buku serta internet dengan
pengkajian dan pengumpulan data.
Pada pengobatan pasien wajib meminum obat OAT secara rutin sesuai
perintah dokter. Hal ini menjelaskan bahwa pengobatan yang diberikan sesuai
dengan yang ada pada teori.
Komplikasi pada pasien tidak ditemukan. Pasien hanya mendapatkan
diagnosa Tuberculosis Paru.
Masalah atau diagnosa yang didapat dari data hasil observasi ternyata sesuai
dengan yang ada dalam teori yaitu :
 Ketidak efektifan jalan napas berhubungan dengan adanya sekresi mucus
yang kental, hemaptosis, upaya batuk yang buruk dan trakheal/faringeal.
 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
adanya mual dan muntah.
 Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mengenai
kondisi, aturan tindakan dan pencegahan.
Itulah data yang dapat dihubungkan antara teori yang didapat dari beberapa
sumber buku serta internet dengan pengkajian dan pengumpulan data yang
diperoleh.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 44


4.2 Saran
Dari kesimpulan di atas, penulis dapat menyimpulkan saran yang bersifat
membangun, dikhususkan untuk mencapai kinerja yang lebih baik di BLUD RS
Palabuhanratu, diantaranya adalah :
1. Diperlukan adanya komunikasi yang lebih baik antara perawat atau tenaga
kesehatan dengan pasien atau keluarga pasien.
2. Pengaplikasian yang dilakukan di Rumah Sakit harusnya tidak
menyimpang jauh dari ilmu teori.
3. Pelayanan Asuhan Keperawatan baiknya dilakukan dengan sistematika.
4. Tetap menjaga kebersihan dan kerapihan serta kedisiplinan kinerja di
Rumah Sakit.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 45


DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E 2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta:


EGC.
Junaidi, Iskandar. 2010. Penyakit Paru dan Saluran Napas. Jakarta: Buana Ilmu
Populer.
Mansjoer, Arif 2002. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Mardiana, Ratna 2010. Panduan Lengkap Kesehatan. Yogyakarta: Citra Pustaka.
Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 2007. Edisi 2. Cetakan
Pertama. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Somantri, Iman. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
Tambunan, Eviana. 2011. Panduan Pemeriksaan Fisik Bagi Mahasiswa
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
http://Id.shvoong.com.kedokteran&kesehatan.

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 46


DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Paru-paru normal

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 47


Lembar 2. Biodata Penulis

1. Nama Lengkap : Septy Laras Waty


2. Nama Panggilan : Septy
3. Tempat Tanggal Lahir : Pati, 16 September 1995
4. Agama : Islam
5. Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
6. Umur : 17 Tahun
7. Jenis Kelamin : Perempuan
8. Pendidikan
SD : SD Negeri Pesagi 02
SMP : SMP Negeri 02 Rogomulyo
SMK : SMK Kesehatan Al-Ikhlas
9. Nama Sekolah : SMK Kesehatan Al-Ikhlas
10. Status : Pelajar
11. Nama Orang Tua
Ayah : Sunaim
Ibu : Suwartini
12. Alamat : Desa. Pesagi Rt 07 Rw 01 Kec. Kayen Kab. Pati
13. No. Telp : 085779909689

Karya Tulis Ilmiah SMK Kesehatan Al-Ikhlas 48