Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mutu menurut ISO 9000:2000 didefinisikan sebagai karakteristik yang
melekat pada produk yang mencukupi persyaratan atau keinginan. Mutu
pelayanan kesehatan adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap
pemakai jasa pelayanan kesehatan yang sesuai dengan tingkat kepuasaan rata-
rata serata penyelenggaraannya sesuai dengan standart dan kode etik profesi
(Azrul Azwar, 1996)
Pengertian puskesmas adalah suatu unit pelaksana fungsional yang
berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta
masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan tingkat
pertama yang menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh, terpadu yang
berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalarn suatu
wilayah tertentu (Azrul Azwar, 1996)
Menurut Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009, imunisasi
merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya penyakit menular yang
merupakan salah satu kegiatan prioritas Kementerian Kesehatan sebagai salah
satu bentuk nyata komitmen pemerintah untuk mencapai Millenium
Development Goals (MDGs) khususnya untuk menurunkan angka kematian
pada anak.
Mutu pelayanan kesehatan merupakan tingkat kesempurnaan pelayanan
kesehatan yang diselenggarakan sesuai dengan kode etik dan standar pelayanan
yang ditetapkan, sehingga menimbulkan kepuasan bagi setiap pelanggan atau
pasien. Kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh kualitas pelayanan yang
dirasakan. Semakin tinggi tingkat kepuasaan pada diri pasien, semakin tinggi
pula tingkat mutu pelayanan kesehatan. Sebaliknya, semakin rendah tingkat
kepuasaan pasien, maka semakin rendah pula tingkat mutu pelayanan kesehatan.
(Muninjaya,2014)
Sasaran utama pembangunan kesehatan berdasarkan Rencana

1
Pembangunan Jangka Menengah nasional 2015-2019 (RJPM) Kementerian
Kesehatan yaitu (1) meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu dan anak, (2)
meningkatnya pengendalian penyakit, (3) meningkatnya akses dan mutu
pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama di daerah terpencil, tertinggal
dan perbatasan, (4) meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan universal
melalui Kartu Indonesia Sehat dan kualitas pengelolaan SJSN kesehatan, (5)
terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan, obat dan vaksin, serta(6)
meningkatkan responsivitas sistem kesehatan. (azwar,2010)
Penyelenggaraan program imunisasi di Indonesia ditetapkan berdasarkan
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:
1611/Menkes/SK/XI/2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi, yang
menyebutkan bahwa imunisasi merupakan salah satu upaya preventif untuk
mencegah penyakit melalui pemberian zat kekebalan tubuh, harus dilaksanakan
secara terus menerus, menyeluruh dan dilaksanakan sesuai standar sehingga
mampu memberikan perlindungan kesehatan dan memutus mata rantai
penularan penyakit (Depkes RI, 2006).
Tahun 2005-2006 terjadi wabah polio di beberapa propinsi karena anak
Indonesia tidak diimunisasi polio. Akibatnya 352 anak Indonesia lumpuh, cacat,
menjadi beban keluarga seumur hidup. Akibat penyebaran isu yang salah maka
banyak anak Indonesia tidak diimunisasi DPT sehingga terjadi wabah difteria di
Indonesia tahun 2007-2013. Akibatnya 2.869 anak dirawat di RS dan131 anak
meninggal dunia. Akibat penyebaran isu tersebut banyak anak tidak mau
imunisasi campak sehingga makin banyak anak yang sakit berat atau meninggal
akibat campak. Tahun 2010-2014 terjadi 1.008 kali wabah campak dan
menyerang 83.391 bayi dan anak Indonesia. (IDAI, 2017)
Pencapaian UCI desa/ kelurahan tahun 2009 masih sangat rendah, yaitu
69,6%. Hal ini disebabkan antara lain karena kurang perhatian dan dukungan
dari pemerintah daerah terhadap program imunisasi, kurangnya dana operasional
untuk imunisasi baik rutin maupun tambahan, dan tidak tersedianya fasilitas dan
infrastruktur yang adekuate. Selain itu juga kurangnya koordinasi lintas sektor
termasuk pelayanan kesehatan swasta, kurang sumber daya yang memadai serta

2
kurangnya pengetahuan masyarakat tentang program dan manfaat imunisasi.
Data dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit,
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menunjukkan sejak 2014-2016,
terhitung sekitar 1,7 juta anak belum mendapatkan imunisasi atau belum lengkap
status imunisasinya. (Kemenkes, 2018)
Pada tahun 2016 Tiani dkk melakukan penelitian tentang “Peran Petugas
Imunisasi dalam Pemberian Vaksinasi Pentavalen” didapatkan hasil bahwa
semakin baik peran petugas imunisasi maka akan semakin tinggi nilai cakupan
imunisasi di Kota Banda Aceh.
Pada tahun 2017 Diyan Indriyani dkk melakukan penelitian tentang
“Persepsi Ibu Muda dan Keluarga tentang Pemberian Imunisasi (Pendekatan
Maternal Sensitivity Models Berbasis Keluarga)” didapatkan hasil bahwa
cakupan imunisasi sudah mencapai target, namun persepsi ibu muda dan
keluarga tentang imunisasi perlu di tingkatkan. Merekomendasikan bahwa
adanya kerjasama yang sinergis antara petugas kesehatan, ibu muda dan
keluarga dalam optimalisasi persepsi tentang imunisasi.
Pada tahun 2016 Selviani melakukan penelitian tentang “Kualitas
Pelayanan Imunisasi di Pusat Kesehatan Masyarakat Kinovaro Kecamatan
Kinovaro Kabupaten Sigi” di dapatkan hasil dalam hal pelayanan imunisasi,
kualitas pelayanan yang ada saat ini belum tersedia secara optimal.
Data cakupan Imunisasi di Puskesmas Sukra pada tahun 2017 mengalami
penurunan dibandingkan dengan tahun 2016. Ini terlihat dari data Desa UCI
pada tahun 2016 hasilnya 62,5% (6 Desa) sedangkan hasilnya cakupan pada
tahun 2017 sebanyak 37,5% (3 Desa). Hal ini di dasarkan pada Target Desa UCi
tahun 2016 100% dan tahun 2017 90%.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian
mengenai mutu pelayanan kesehatan pasien Imunisasi Puskesmas Sukra
Indramayu. Puskesmas dapat mengukur kualitas pelayanan dari parapasien
melalui umpan balik terhadap apa yang diterima atau bagaimana pelayanan yang
didapatkan pasien kepada Puskesmas tersebut sehingga dapat menjadi masukan
untuk peningkatan kualitas pelayanan.

3
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah :
Bagaimanakah mutu pelayanan Imunisasi di Puskemas Sukra Indramayu?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu
pelayanan Imunisasi di Puskemas Sukra Indramayu.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Mengetahui gambaran kompetensi teknis terhadap mutu pelayanan
imunisasi di Puskesmas Sukra Indramayu
2. Mengetahui gambaran akses terhadap mutu pelayanan imunisasi di
Puskesmas Sukra Indramayu
3. Mengetahui gambaran efektifitas terhadap mutu pelayanan imunisasi
di Puskesmas Sukra Indramayu
4. Mengetahui gambaran hubungan interpersonal terhadap mutu
pelayanan imunisasi di Puskesmas Sukra Indramayu
5. Mengetahui gambaran efisiensi terhadap mutu pelayanan imunisasi
di Puskesmas Sukra Indramayu
6. Mengetahui gambaran kesinambungan terhadap mutu pelayanan
imunisasi di Puskesmas Sukra Indramayu
7. Mengetahui gambaran keamanan terhadap mutu pelayanan imunisasi
di Puskesmas Sukra Indramayu
8. Mengetahui gambaran kenyamanan dan kenikmatan terhadap mutu
pelayanan imunisasi di Puskesmas Sukra Indramayu

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat untuk Peneliti
Sebagai bahan pembelajaran untuk peneliti dibidang ilmu
kesehatan masyarakat.

4
1.4.2 Manfaat untuk Puskesmas
Agar Puskesmas mendapat masukan mengenai mutu pelayanan
Imunusasi sehingga Puskesmas dapat meningkatkan Pelayanan
Imunisasi, sehingga cakupan imunisasi meningkat dan angka kesakitan
dan menurun .

1.4.3 Manfaat untuk Dinas Kesehatan


Agar Dinas Kesehatan mendapat masukan mengenai mutu
pelayanan Imunusasi di Puskesmas sehingga Dinas Kesehatan dapat
meningkatkan Pelayanan Imunisasi, sehingga cakupan imunisasi
meningkat dan angka kesakitan dan menurun.

1.5 Batasan Penelitian


Penelitian ini dilakukan hanya pelayanan imunisasi pada bulan Oktober –
November 2018 di Posyandu di daerah Puskesmas Sukra dan Puskesmas Sukra
Indramayu.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mutu Pelayanan Kesehatan


Dalam mendefinisikan mutu ada beberapa pendapat yang berbeda- beda.
Berikut ini pengertian mutu menurutpara ahli.
1. Menurut Philip B. Crosby, mutu adalah conformance to requirement yaitu
kesesuaian dengan persyaratan atau spesifikasi.
2. Menurut W. Edwards Deming, mutu adalah pemecahan masalah untuk
mencapai penyempurnaan terus- menerus.
3. Joseph M. Juran, mutru adalah kecocokan penggunaan produk untuk
memenuhi kebutuhan dan kepuasan terhadap pelanggan.
4. K. Ishika, mutu adalah kepuasan pelanggan
5. Menurut ISO 9000:2000, mutu adalah karakteristik yang melekat pada produk
yang mencukupi persyaratan atau keinginan.
Menurut UU No 36 tahun 2009 Mutu pelayanan kesehatan yaitu derajat
dipenuhinya kebutuhan masyarakat atau perorangan terhadap asuhan kesehatan yang
sesuai dengan standar profesi yang baik dengan pemanfaatan sumber daya secara
wajar, efisien, efektif dalam keterbatasan secara aman dan memuaskan pelanggan
sesuai dengan norma dan etika yang baik.
Menurut Kemenkes RI (2010) dalam A.A. Gde Muninjaya (2011: 19), mutu
pelayanan kesehatan meliputi kinerja yang menunjukkan tingkat kesempurnaan
pelayanan kesehatan, tidak saja yang dapat menimbulkan kepuasan bagi pasien
sesuai dengan kepuasan rata-rata penduduk tapi tetapi juga sesuai dengan standar
dan kode etik profesi yang telah ditetapkan.
Mutu layanan kesehatan akan selalu menyangkut dua aspek yaitu aspek
teknis dari penyedia layanan kesehatan dan aspek kemanusiaan yang timbul akibat
hubungan yang terjadi antara pemberi layanan kesehatan dan penerima layanan
kesehatan. (Pohan, 2006)
Mutu kesehatan dapat ditingkatkan dengan kepemimpinan visioner yang
mendukung, perencanaan yang tepat, pendidikan dan pelatihan, ketersediaan sumber

6
daya, manajemen sumber daya secara efektif, karyawan dan proses, serta kolaborasi
dan kerja sama antara penyedia. (Pohan, 2006)

1.2.1 Dimensi Mutu


Bagi pemakai jasa pelayanan kesehatan, dimensi mutu pelayanan kesehatan
yang dianggap penting adalah efisiensi pelayanan kesehatan (45%), perhatian dokter
secara pribadi kepada pasien (40%), pengetahuan ilmiah yang diberikan dokter
(40%), keterampilan dokter (35%) serta kenyamanan pelayanan yang diberikan.
Bagi dokter, dimensi mutu yang penting adalah pengetahuan ilmiah yang dimiliki
seorang dokter (80%), perhatian dokter secara pribadi kepada pasien (60%),
keterampilan dokter (50%), efisiensi pelayanan kesehatan (45%), serta kenyamanan
pelayanan pasien (8%).Bagi penyelenggara pelayanan kesehatan, mutu lebih terkait
pada demensi kesesuaian pelayanan yang diselenggarakan dengan perkembangan
ilmu dan teknologi atau otonomi profesi dalam menyelenggarakan pelayanan
kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien. Bagi penyandang dana pelayanan
kesehatan, mutu terkait pada demensi efisiensi pemakaian sumber dana, kewajaran
pembiayaan kesehatan, dan atau kemampuan pelayanan kesehatan mengurangi
kerugian pemberi dana pelayanan kesehatan. (Azwar,2010)
Terdapat 8 dimensi mutu khusus untuk jaminan mutu pelayanan kesehatan di
Negara yang sedang berkembang yaitu: (Wanarto,2013)
1. Technical Competence (Kompetensi Teknis)
Dimensi kompetensi teknis mencakup skill (keterampilan), capability
(kapabilitas/kemampuan) dan actual performance (penampilan aktual) dari
pemberi pelayanan.Bagi para pemberi pelayanan kesehatan, dimensi ini
mencakup tindakan preventif, diagnosis, perawatan, dan konseling kesehatan.
2. Access to Services (Akses/KeterjangkauanTerhadap Pelayanan)
Dimensi keterjangkauan atau akses, artinya layanan kesehatan itu harus dapat
dicapai oleh masyarakat, tidak terhalang oleh keadaan geografis, sosial, ekonomi,
organisasi dan bahasa. Akses geografis diukur dengan jarak, lama perjalanan,
biaya perjalanan, jenis transportasi, dan/ atau hambatan fisik lain yang dapat
menghalangi seseorang untuk mendapat layanan kesehatan. Akses ekonomi

7
berkaitan dengan kemampuan membayar biaya layanan kesehatan. Akses sosial
atau budaya berhubungan dengan dapat diterima atau tidaknya layanan kesehatan
itu secara sosial atau nilai budaya, kepercayaan, dan perilaku. Akses organisasi
ialah sejauh mana layanan kesehatan itu diatur, agar memberi
kemudahan/kenyamanan kepada pasien atau konsumen. Akses bahasa, artinya
pasien harus dilayani dengan menggunakan bahasa atau dialog yang dapat
dipahami oleh pasien
3. Effectiveness (Efektifitas)
Mutu pelayanan kesehatan tergantung kepada efektifitas service delivery norms
(aturan pemberian pelayanan) dan clinical guidelines (panduan klinik). Layanan
kesehatan harus efektif, artinya harus mampu mengobati atau mengurangi
keluhan yang ada, mencegah terjadinya penyakit serta berkembangnya dan/atau
meluasnya penyakit yang ada. Efektifitas layanan kesehatan ini bergantung pada
bagaimana standar layanan kesehatan itu digunakan dengan tepat, konsisten, dan
sesuai dengan situasi setempat. Umumnya standar layanan kesehatan disusun
pada tingkat organisasi yang lebih tinggi, sementara pada tingkat pelaksana,
standar layanan kesehatan itu harus dibahas agar dapat digunakan sesuai dengan
kondisi setempat. Dimensi efektivitas sangat berkaitan dengan dimensi
kompetensi teknis, terutama dalam pemilihan alternative dalam relative risk dan
keterampilan dalam mengikuti prosedur yang terdapat dalam standard layanan
kesehatan.
4. Interpersonal Relations (Hubungan Interpersonal)
Hubungan antarmanusia merupakan interaksi antara pemberi layanan kesehatan
(provider) dengan pasien atau konsumen, antar sesama pemberi layanan
kesehatan, hubungan antara atasan-bawahan, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit,
Puskesmas, pemerintah daerah, LSM, masyarakat, dan lain-lain. Hubungan antar
manusia yang baik akan menimbulkan kepercayaan atau kredibilitas dengan cara
saling menghargai, menjaga rahasia, saling menghormati, responsive, memberi
perhatian, dan lain-lain. Mendengarkan keluhan dan berkomunikasi dengan
efektif juga penting. Penyuluhan kesehatan yang baik bersumber dari komunikasi
yang baik. Dimensi hubungan antarmanusia yang kurang baik dapat mengurangi

8
kadar dimensi efektivitas dan dimensi kompetensi teknis dari layanan kesehatan
yang diselenggarakan. Pengalaman menunjukkan bahwa pasien yang
diperlakukan kurang baik cenderung akan mengabaikan nasihat dan tidak akan
mau melakukan kunjungan ulang, (Pohan, 2007)
5. Efficiency (Efisiensi)
Efisiensi adalah memberikan pelayanan yang tepat atau sesuai dengan
kebutuhan. Efisiensi pelayanan kesehatan adalah dimensi penting dari mutu
karena: 1) efisiensi mempengaruhi afordabilitas (kemampuan) membayar
produk dan pelayanan, 2) sumber-sumber pelayanan kesehatan biasanya
terbatas. Pelayanan kesehatan yang efisien lebih cenderung memberikan
pelayanan yang optimal, dibandingkan dengan pelayanan yang maksimal bagi
pasien dan masyarakat. Oleh sebab itu, dimensi efisiensi sangat penting dalam
layanan kesehatan. Layanan kesehatan yang efisien dapat melayani lebih banyak
pasien dan atau masyarakat. Layanan kesehatan yang tidak memenuhi standar
layanan kesehatan umumnya berbiaya mahal, kurang nyaman bagi pasien,
memerlukan waktu lama, dan menimbulkan resiko yang lebih besar kepada
pasien. Dengan melakukan analisis efisiensi dan efektivitas, kita dapat memilih
intervensi yang paling efisien
6. Continuity (Kesinambungan)
Kesinambungan mengandung arti bahwa pasien harus bisa menjangkau
pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang telah
mengetahui riwayat kesehatan mereka. Kesinambungan tercapai dengan
menjaga akurasi rekam medik, sehingga pemberi pelayanan yang baru akan
mengetahui riwayat kesehatan pasien sehingga dapat meneruskan dan
melengkapi diagnosis dan perawatan yang diberikan oleh pemberi pelayanan
sebelumnya. Tak adanya kesinambungan dapat mengganggu efektifitas,
menurunkan efisiensi dan mengurangi mutu hubungan interpersonal.
7. Safety (Keamanan)
Dimensi keamanan maksudnya layanan kesehatan itu harus aman, baik
bagi pasien, bagi pemberi layanan, maupun bagi masyarakat sekitarnya.
Keamanan berarti menurunkan resiko injuri, infeksi, serta efek samping atau

9
bahaya lain yang berhubungan dengan pemberian pelayanan.
8. Amenities (Kenyamanan/Kenikmatan)
Kenyamanan adalah fitur pelayanan kesehatan yang tidak secara
langsung berhubungan dengan efektifitas klinik, tetapi dapat menimbulkan
kepuasan klien dan hasrat untuk kembali memanfaatkan pelayanan kesehatan
tersebut jika sedang membutuhkan. Kenyamanan juga penting karena dapat
mempengaruhi harapan klien dan kepercayaan terhadap aspek lain dari
pelayanan kesehatan. Jika biaya layanan kesehatan menjadi persoalan,
kenikmatan akan mempengaruhi pasien untuk membayar biaya layanan
kesehatan. Kenyamanan juga terkait dengan penampilan fisik layanan kesehatan,
pemberi layanan, peralatan medis dan non medis.
Terdapat banyak perbedaan dimensi mutu, oleh karena itu perlu diketahui
bahwa inti dari dimensi mutu adalah memenuhi kebutuhan dan tuntutan para
pemakai jasa pelayanan kesehatan, yang jika tercapai akan menimbulkan rasa puas.

1.2.2 Tujuan Jaminan Mutu


Tujuan jaminan mutu mencakup dua hal pokok, yaitu tujuan antara dan
tujuan akhir. Tujuan antara yang ingin dicapai oleh program menjaga mutu ialah
diketahuinya mutu pelayanan. Jika dikaitkan dengan kegiatan program menjaga
mutu, tujuan ini dapat dicapai apabila masalah mutu berhasil ditetapkan.Tujuan
akhir yang ingin dicapai oleh program menjaga mutu ialah makin meningkatnya
mutu pelayanan. Sesuai dengan kegiatan program menjaga mutu, pengingkatan
mutu yang dimaksudkan disini akan dapat dicapai apabila program penyelesaian
masalah berhasil dilaksanakan. (Nursalam,2014)

1.2.3 Indikator Mutu Pelayanan Kesehatan


Menurut Bustami, (2015) indikator terdiri atas :
1. Indikator Persyaratan Minimal
Standar persyaratan minimal adalah yang menunjuk kepada keadaan
minimal yang harus dipenuhi untuk dapat menjamin terselenggaranya pelayanan
kesehatan bermutu.

10
a. Standar Masukan
Dalam standar masukan ditetapkan persyaratan minimal unsur masukan
yang diperlukan untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang
bermutu, yaitu jenis, jumlah, dan kualifikasi tenaga pelaksana, jenis, jumlah
dan spesifikasi pada tenaga pelaksana, serta jumlah dana (standar tenaga,
standar sarana)
b. Standar Lingkungan
Dalam standar lingkungan ditetapkan persyaratan minimal unsur
lingkungan yang diperlukan untuk dapat menyelenggarakan pelayanan
kesehatan yang bermutu, yaitu garis-garis besar kebijakan, pola organisasi
serta sistem manajemen yang harus dipenuhi oleh setiap pelaksana
pelayanan (standar organisasi dan manajemen).
c. Standar Proses
Dalam standar proses ditetapkan persyaratan minimal unsur proses yang harus
dilakukan untuk dapat menyelenggaran pelayanan kesehatan yang bermutu yaitu
tindakan medis dan tindakan nonmedis pelayanan kesehatan (standar tindakan)
2. Indikator Penampilan Minimal
Standar penampilan minimal adalah yang menunjuk kepada penampilan
pelayanan kesehatan yang masih dapat diterima. Standar ini, karena menunjuk
kepada unsur keluaran, disebut dengan nama standar keluaran atau standar
penampilan.
Pendekatan sistem pelayanan seharusnya juga mengkaji tentang hasil
pelayanan.Hasil pelayanan adalah tindak lanjut dari keluaran yang ada, sehingga
perlu ada indikator (tolak ukur) tentang hasil pelayanan tersebut.Indikator yang
dimaksud menunjuk pada hasil minimal yang dicapai berdasarkan standar yang
sudah ditentukan. Mutu pelayanan kesehatan dapat dikaji antara lain berdasarkan
tingkat pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan oleh masyarakat dan tingkat
efisiensi institusi sarana kesehatan. (Bustamin, 2011)
Syarat pokok dalam memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu adalah:
(Azhar,2001)
1. Tersedia dan berkesinambungan

11
Syarat pokok pertama pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan
tersebut harus tersedia di masyarakat (available) serta bersifat
berkesinambungan (continuous).Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang
dibutuhkan oleh masyarakat dan mudah dicapai oleh masyarakat.
2. Dapat diterima dan wajar
Syarat pokok kedua pelayanan kesehatan yang baik adalah apa yang dapat
diterima (acceptable) oleh masyarakat serta bersifat wajar (appropriate).
Artinya pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan adat istiadat,
kebudayaan, keyakinan, kepercayaan masyarakat dan bersifat wajar.
3. Mudah dicapai
Syarat pokok ketiga pelayanan kesehatan yang baik adalah yang mudah
dicapai (accessible) oleh masyarakat.Pengertian ketercapaian yang dimaksud
disini terutama dalam sudut lokasi.Dengan demikian untuk mewujudkan
pelayanan kesehatan yang baik, maka pengaturan sarana kesehatan menjadi
sangat penting.
4. Mudah dijangkau
Syarat pokok pelayanan kesehatan yang keempat adalah mudah dijangkau
(affordable) oleh masyarakat.Pengertian keterjangkauan disini terutama dari
sudut jarak dan biaya.Untuk mewujudkan keadaan seperti ini harus diupayakan
pendekatan sarana pelayanan kesehatan dan biaya kesehatan diharapkan sesuai
dengan kemampuan ekonomi masyarakat.
5. Bermutu
Syarat pokok pelayanan kesehatan yang kelima adalah yang bermutu
(quality). Pengertian mutu yang dimaksud adalah yang menunjuk pada tingkat
kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan, yang disatu pihak
dapat memuaskan para pemakai jasa pelayanan, dan pihak lain tata cara
penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta standar yang telah ditetapkan.

2.2 Puskesmas
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah salah satu sarana pelayanan
kesehatan masyarakat yang amat penting di Indonesia. Puskesmas adalah unit

12
pelaksana teknis dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan
pembangunan kesehatan di suatau wilayah kerja (Depkes, 2008).
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten atau kota
yang bertanggung jawab melaksanakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah
kerja. Puskesmas merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak
pembangunan kesehatan di Indonesia. Pengertian pembangunan kesehatan adalah
penyelenggaraan upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud
derajat kesehatan yang optimal. Puskesmas hanya bertanggung jawab sebagian
upaya pembangunan kesehatan dari yang dilimpahkan oleh dinas kesehatan
kabupaten atau kota sesuai dengan kemampuannya. Wilayah kerja satu puskesmas
adalah satu kecamatan, namun apabila dalam satu kecamatan terdapat lebih dari satu
puskesmas, maka tanggung jawab antar puskesmas dibagi antar puskesmas, dengan
memperhatikan keutuhan konsep wilayah (Desa/Kelurahan atau RW). Setiap
puskesmas bertanggung jawab terhadap Dinas Kesehatan kabupaten atau kota.
Sumber daya manusia yang terdapat dipuskesmas terdiri dari tenaga kesehatan dan
non kesehatan. Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di puskesmas harus memiliki
surat izin praktik.(Kemenkes,2014)
Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan tingkat pertama, yang terdiri
dari upaya kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat
pengembangan.Upaya kesehatan masyarakat esensial terdiri dari pelayanan promosi
kesehatan, pelyanan kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan ibu, anak, dan
keluarga bernecana, pelayanan gizi, serta pelayanan pencegahan dan pengendalian
penyakit.Upaya kesehatan esensial ini wajib dilaksanakan oleh seluruh
puskesmas.Upaya kesehatan pengemabangan adalah upaya kesehatan masyarakat
yang kegiatannya sesuai prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah kerja, dan
sumber daya yang tersedia di puskesmas tersebut, sebagai contoh upaya kesehatan
sekolah, upaya kesehatan jiwa, upaya kesehatan gigi dan mulut, dan lain
sebagainya.Untuk meningkatkan mutu Puskesmas, maka diadakan program penjaga
mutu yaitu akreditasi yang dilakukan secara berkala paling sedikit tiga tahun sekali.
(Kemenkes,2014)

13
2.1.1 Fungsi Puskesmas
Sebagai fasilitas pelayanan kesehatan, puskesmas memiliki beberapa fungsi
penting, yaitu sebagai berikut
1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan masyarakat
Puskesmas berupaya menggerakkan dan memantau penyelenggaraan
pembangunan lintas sektor di wilayah kerajanya, aktif memantau dan
melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program
pembangunan di wilayah kerjanya. Khusus untuk pembangunan kesehatan,
puskesmas mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit
tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan
2. Pusat pemberdayaan masyarakat
Puskesmas berupaya agar seluruh anggota masyarakat termasuk dunia
usaha memiliki kesadaran, kemauan, dan kemampuan melayani diri sendiri
dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan
kepentingan kesehatan termasuk pembiayaannya, serta ikut menetapkan,
menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan.
Pemberdayaan perorangan, keluarga dan masyarakat ini diselenggarakan
dengan memperhatikan kondisi dan situasi, khususnya sosial budaya
masyarakat setempat
3. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama
Puskesmas memberikan pelayanan kesehatan perorangan atau
masyarakat.Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang bersifat pribadi
(private goods) dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan pemulihan
kesehatanperorangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan
penyakit.Sedangkan pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan
masyarakat adalah pelayanan yang bersifat publik (public goods) dengan tujuan
utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa
mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Contoh pelayanan
kesehatan masyarakat yaitu promosi kesehatan, pemberantasan penyakit,
penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, dan lain-lain. (Menkes,2004)

14
2.3 Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Anak diimunisasi, berarti
diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten
terhadap suatu penyakit tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain.
Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan
seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga apabila suatu saat terpajan
dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.
Imunisasi merupakan salah satu investasi kesehatan yang paling cost-effective
(rnurah), karena terbukti dapat mencegah dan mengurangi kejadian sakit, cacat, dan
kematian akibat PD31yang diperkirakan 2 hingga 3 juta kematian tiap tahunnya
(Kemenkes RI, 2016).
Menurut Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009, imunisasi
merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya penyakit menular yang
merupakan salah satu kegiatan prioritas Kementerian Kesehatan sebagai salah satu
bentuk nyata komitmen pemerintah untuk mencapai Millenium Development Goals
(MDGs) khususnya untuk menurunkan angka kematian pada anak.
Rohman, dkk berpendapat bahwa imunisasi adalah suatu upaya untuk
mendapatkan kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara memasukkan kuman
atau produk kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan kedalam tubuh dan
diharapkan tubuh dapat menghasilkan zat anti yang pada saatnya digunakan tubuh
untuk melawan kuman atau bibit penyakit yang menyerang tubuh.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1611/Menkes/SK/XI/2005
tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi, yang menyebutkan bahwa imunisasi
merupakan salah satu upaya preventif untuk mencegah penyakit melalui pemberian
zat kekebalan tubuh, harus dilaksanakan secara terus menerus, menyeluruh dan
dilaksanakan sesuai standar sehingga mampu memberikan perlindungan kesehatan
dan memutus mata rantai penularan penyakit (Depkes RI, 2006).

15
2.3.1 Jenis Imunisasi
Jenis Imunisasi berdasarkan sifat penyelenggraannya di Indonesia.

Imunisasi wajib merupakan imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah untuk


seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi yang bersangkutan
dan masyarakat sekitarnya dari penyakit menular tertentu. Imunisasi wajib terdiri
atas imunisasi rutin, imunisasi tambahan, dan imunisasi khusus.
Imunisasi rutin merupakan kegiatan imunisasi yang dilaksanakan secara terus-
menerus sesuai jadwal.

16
2.4 Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah sutau hubungan antara konsep – konsep
atau variable – variable yang akan diamati (diukur) melalui penelitian yang
dimaksud (Notoatmodjo, 2010)

Kompetensi teknis

Akses/ Keterjangkauan Terhadap


Pelayanan

Efektifitas

Hubungan interpersonal

Efisiensi MUTU

Kesinambungan

Keamanan

Kenyamanan/ Kenikmatan

Sub variabel Variabel

17
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di Puskesmas Sukra Indramayu dan Pengambilan pada
bulan Oktober-November 2018.

3.3 Jenis dan Rancangan Penelitian


Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan rancangan
Cross sectional

3.4 Populasi dan Sampel Penelitian


3.4.1 Populasi target
Populasi target pada penelitian ini adalah semua pasien yang datang ke
Poli Imunisasi dan Posyandu di Puskesmas Sukra Indramayu pada Bulan
Oktober-November 2018

3.4.2 Populasi Terjangkau


Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah semua pasien yang datang
ke Poli Imunisasi dan Posyandu di Puskesmas Sukra Indramayu yang melakukan
imunisas yang memenuhi criteria inklusi dan eksklusi.

3.4.3 Sampel Penelitian


Sampel pada penelitian ini adalah pasien yang datang Imunisasi dan
Posyandu di Puskesmas Sukra Indramayu pada Bulan Oktober-November 2018
sesuai dengan criteria inklusi sebanyak 75 responden.

18
3.4.3.1 Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum dari subjek penelitian yang
layak untuk dilakukan penelitian atau dijadikan subjek. Kriteria inklusi pada
penelitian ini adalah:
 Semua pasien yang datang ke Poli Imunisasi dan Posyandu di
Puskesmas Sukra Indramayu pada Bulan Oktober-November 2018
 Kunjungan kedua atau lebih
 Dapat membaca, menulis
 Bersedia menjadi koresponden

3.4.3.2 Kriteria eksklusi


Kriteria eksklusi merupakan subjek penelitian yang tidak dapat mewakili
sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian. Kriteria
eksklusi pada penelitian ini adalah:
 Kunjungan pertama
 Tidak bersedia menjadi koresponden
 Tidak dapat membaca dan menulis

3.4.4 Teknik Pengambilan Sampel


Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive
sampling. Sample diambil yang peneliti kehendaki sesuai dengan kriteria inklusi
dan ekslusi pada saat pelayanan Imunisasi di Posyandu dan Puskesmas Sukra
Indramayu pada Bulan Oktober- November 2018.

19
3.5 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang akan di
teliti.
Tabel 1. Kisi- Kisi Alat Pengumpulan data Mutu Pelayanan Imunisasi
Item
Aspek Indikator Jumlah
Positif (+) Negatif (-)
 Kesigapan petugas 2,3,6 3
pemberi pelayanan
1. Kompetensi kesehatan
Teknis  Penampilan petugas
pemberi pelayanan
kesehatan
 Keterampilan petugas
pemberi pelayanan
kesehatan
 Administrasi pelayanan 5,9 2
2.Akses kesehatan
Terhadap  Keadilan pemberian
Pelayanan pelayanan kesehatan
 Jumlah petugas 11,21 2
3. Efektivitas pelayanan kesehatan
 Ketelitian pemberian
pelayanan kesehatan
 Perhatian petugas 8,13,18 3
4. Hubungan pelayanan kesehatan
Antar  Sikap petugas pelayanan
Manusia kesehatan
 Penerimaan keluhan
 Kecepatan pemberian 1,12, 4 3
pelayanan kesehatan

20
 Kedisiplinan petugas
5. Efisiensi pelayanan kesehatan
 Prosedur pelayanan
kesehatan
 Rekam medis pemberi 10,19,20 3
pelayanan kesehatan
 Kejelasan informasi
6.Kelangsungan  Pemberian rujukan
Pelayanan
 Pemberian obat-obatan 7,16 3
 Peralatan yang
7. Keamanan digunakan pemberi
pelayanan kesehatan
 Kebersihan lingkungan 14,17 15 3
8. tempat pelayanan
Kenyamanan kesehatan
dan  Fasilitas tempat
Kenikmatan pelayanan kesehatan
 Kerahasiaan pasien

Angket Penelitian
Nama/Inisial Responden :

Jenis Kelamin : L /P

Umur : .......Tahun

Pendidikan terakhir : SD/SMP/SMA/D1-D3/S1

Pekerjaan : buruh / ibu rumah tangga / pedagang / Karyawan/


Lain2

Petunjuk:

1. Isilah dengan tanda (X) pada pilihan jawaban yang anda setujui.
2. Jawablah dengan jujur yang sesuai dengan hati nurani anda.

21
3. Kerahasiaan jawaban dijaga oleh peneliti.
4. Keterangan pilihan jawaban tersebut adalah:
SS = Sangat setuju
S = Setuju
R = Ragu
TS = Tidak setuju
STS = Sangat tidak setuju

NO PERNYATAAN SS S R TS STS
1. Petugas Puskesmas datang ke Puskesmas sesuai
jam kerjanya.
2. Penampilan petugas Puskesmas rapi.
3. Petugas Puskesmas terampil dalam memberikan
pelayanan.
4. Prosedur pelayanan Puskesmas berbelit belit.
5. Proses administrasi di Puskesmas mudah.
6. Petugas Puskesmas selalu siap membantu
pasien.
7 Obat-obatan yang diberikan petugas Puskesmas
sesuai dengan resep dokter.
8. Petugas Puskesmas ramah dan sabar dalam
memberikan pelayanan.
9. Petugas tidak membeda-bedakan suku, agama,
dan status pasien dalam memberikan pelayanan.
10. Petugas Puskesmas memberikan penjelasan
yang lengkap dalam memberikan pelayanan.
11. Petugas Puskesmas teliti dalam memberikan
pelayanan.
12. Petugas Puskesmas tepat waktu dalam
memberikan pelayanan.
13. Petugas Puskesmas memberikan perhatian
terhadap keadaan pasien.
14. Data dan rahasia pasien tersimpan dengan aman

22
15. Kondisi lingkungan Puskesmas kotor.
16. Alat yang digunakan petugas Puskesmas dalam
melayani pasien layak digunakan.
17. Fasilitas fisik seperti gedung dan ruang tunggu
Puskesmas layak untuk digunakan.
18. Petugas Puskesmas menerima dan
mendengarkan keluhan pasien dengan baik.
19. Rekam medis pasien di Puskesmas tercatat
dengan baik.
20. Petugas Puskesmas memberikan rujukan sesuai
dengan kebutuhan pasien.
21. Jumlah petugas Puskesmas sudah cukup dalam
memberikan pelayanan.

3.6 Definisi Operasional


Batas pengertian yang dijadikan pedoman suatu pekerjaan atau kegiatan,
misal penelitian (Widjono, 2007). Menurut Thomas et al, 2010 definisi operasional
penelitian adalah fenomena observasi yang memungkinkan peneliti untuk
mengujinya secara empiric apakah outcome yang diprediksi tersebut benar atau
salah (Swarjana, 2012). Definisi operasional pada penelitian ini adalah:

23
Tabel 2. Definisi Operasional
Variabel Subvariabel Definisi
Indikator Skala Hasil Ukur
Penelitian / Dimensi Operasional
Terkait dengan  Kesigapan petugas  Ordinal 1. Kompetensi Teknis
keterampilan, pemberi pelayanan baik : 76-100%
1. Kompetensi kemampuan dan kesehatan 2. Kompetensi Teknis
Mutu Teknis penampilan  Penampilan petugas cukup : 56-75%
Pelayanan petugas pelayanan pemberi pelayanan 3. Kompetensi Teknis
Kesehatan kesehatan. kesehatan kurang : 41-55%
 Keterampilan petugas 4. Kompetensi Teknis
pemberi pelayanan tidak baik : 10-40%

Pelayanan kesehatan
 Administrasi pelayanan  Ordinal 1. baik 76-100%
2.Akses kesehatan yang kesehatan 2. cukup : 56 – 75 %
Terhadap tak terhalang  Keadilan pemberian 3. kurang : 41-55%
Pelayanan keadaan pelayanan kesehatan 4. tidak baik : 10-40%
geografis, sosial,
ekonomi,
Menyangkut
danbudaya.  Jumlah petugas  Ordinal 1. Efektivitas baik : 76-
3. Efektivitas norma pelayanan pelayanan kesehatan 100%
kesehatan dan  Ketelitian pemberian 2. Efektivitas cukup :
petunjuk klinis pelayanan kesehatan 56-75%
sesuai standar 3. Efektivitas kurang :
yang ada. 41-55%
4. Efektivitas tidak baik
: 10-40%
5.

24
Berkaitan dengan  Perhatian petugas  Ordinal 1. Hubungan baik 76-
4. Hubungan interaksi antara pelayanan kesehatan 100%
Antar petugas  Sikap petugas 2. Hubungan cukup : 56
Manusia Kesehatan pelayanan kesehatan – 75 %
dengan pasien.  Penerimaan keluhan 3. Hubungan kurang :
41-55%
4. Hubungan tidak baik :
10-40%
Pemberian  Kecepatan pemberian  Ordinal 1. Efisiensi baik 76-
pelayanan pelayanan kesehatan 100%
kesehatan yang  Kedisiplinan petugas 2. Efisiensi cukup : 56
5. Efisiensi optimal dengan pelayanan kesehatan – 75 %
sumberdaya  Prosedur pelayanan 3. Efisiensi kurang : 41-
yang dimiliki. kesehatan 55%
4. Efisiensi tidak baik :
10-40%
Pelayanan yang  Rekam medis pemberi  Ordinal 1. baik 76-100%
diberikan pelayanan kesehatan 2. cukup : 56 – 75 %
lengkap sesuai  Kejelasan informasi 3. kurang : 41-55%
6.Kelangsunga yang dibutuhkan  Pemberian rujukan 4. tidak baik : 10-40%
n Pelayanan tanpa interupsi,
berhenti atau
mengulangi
prosedur
diagnosis dan
terapi yang tak
perlu.

25
Berarti  Pemberian obat-obatan  Ordinal 1. Keamanan baik 76-
mengurangi  Peralatan yang 100%
7. Keamanan resiko cedera, digunakan pemberi 2. Keamanan cukup :
infeksi, efek pelayanan kesehatan 56 – 75 %
samping dan 3. Keamanan kurang :
bahaya lain yang 41-55%
berkaitan dengan 4. Keamanan tidak baik
pelayanan : 10-40%
kesehatan.dengan  Kebersihan lingkungan  Ordinal
Berkaitan 1. baik 76-100%
8. pelayanan tempat pelayanan 2. cukup : 56 – 75 %
Kenyamanan kesehatan yang kesehatan 3. kurang : 41-55%
dan tak berhubungan  Fasilitas tempat 4. tidak baik : 10-40%
Kenikmatan langsung dengan pelayanan kesehatan
efektifitas klinis,  Kerahasiaan pasien
tapi dapat
mempengaruhi
kepuasan pasien
dan bersedianya
untuk kembali
menggunakan
fasilitas
kesehatan.

3.7 Cara Pengumpulan Data


Penelitian ini menggunakan data primer berupa kuisioner dari penelitian
sebelumnya mengenai mutu pelayanan kesehatan Puskesmas yang sudah di uji
validitas dan uji reliabilitas. Sebelum mengisi kuesioner sampel diberi penjelasan
dan diminta untuk menandatangan iinformed consent. Setelah dikumpulkan
kemudian akan dilakukan pencatatan sesuai dengan variabel yang diteliti.
Pengumpulan dan pengolahan data dilakukan bulan Oktober-November 2018.

26
3.8 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian dilaksanakan dalam 3 tahap, yang meliputi:
a. Persiapan
1) Konsultasi ke pembimbing
2) Menyusun kuesioner
b. Tahap pelaksanaan
1) Memilih sampel sesuai kriteria inklusi
2) Penyebaran kuesioner
c. Tahap penyelesaian
1) Mengolah data dan menganalisis data
2) Menyusun laporan penelitian

3.9 Alur Penelitian

Membuat Menyusun Pengambilan sampel


Usulan kuesioner dengan cara purposive
Penelitian
sampling

Pengolahan Membagikan kuesioner Melakukan Informed


dan Analisis kepada responden concent kepada
data responden

Bagan 3.1 Alur Penelitian

3.10 Pengolahan, Penyajian, danAnalisis Data


3.10.1 Teknik Pengolahan Data
Proses pengolahan data yang akan dilakukan adalah editing, coding,
tabulating, entry dan analisis data. Proses editing dengan cara mengecek data
yang telah diisi pada kuisioner. Proses coding adalah memberikan kode jawaban.
Proses tabulating adalah membuat tabel untuk data yang diperoleh. Proses entry
adalah memasukkan data yang diperoleh ke komputer. Kemudian, setelah data
terkumpul, data kemudian diolah dan dianalisis menggunakan SPSS 22.

27
3.10.2 Teknik Penyajian dan Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisis univariat. Analisis ini digunakan
untuk mendeskriptifkan variabel penelitian ini dalam distribusi frekuensi dan
persentase. Kumpulan data akan dideskripsikan dalam bentuk tabel dan grafik
yang dilengkapi dengan narasi singkat. Untuk mendapatkan deskriptif
persentase, penulis menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Sudjana yaitu
sebagai berikut:

Keterangan:
F
P= x 100 % P = Angka persentase
N
F = Frekuensi jawaban

N = Jumlah responden
Penelitian ini menggunakan Skala Likert sebagai skala pengukuran
100% = Bilangan tetap
instrumen. Berikut ini adalah skor item Skala Likert:
Tabel 2. Skor Item Skala Likert

No. AlternatifJawaban Positif Negatif

1. Sangat Setuju 5 1

2. Setuju 4 2

3. Ragu-ragu 3 3

4. Tidak Setuju 2 4

5. Sangat Tidak Setuju 1 5

Untuk memberikan intepretasi atas nilai rata-rata yang diperoleh


digunakan pedoman intepretasi sebagaimana dikemukakan oleh Arikunto adalah
sebagai berikut:
1. Baik, jika nilai yang diperoleh berada pada interval 75%-100%.
2. Cukup Baik, jika nilai yang diperoleh berada pada interval 55%-75%.

28
3. Kurang Baik, jika nilai yang diperoleh berada pada interval 40%-55%.
4. Tidak Baik, jika nilai yang diperoleh berada pada interval l0%-40%.
Untuk menentukan presentase digunakan perhitungan sederhana dengan
langkah-langkah sebagai berikut: (Azwar,2001)
1. Menentukan Nilai Harapan (NH), nilai ini dapat diketahui dengan
mengalikan jumlah item pertanyaan dengan skor tertinggi.
2. Menghitung Nilai Skor (NS), nilai ini merupakan rata-rata sebenarnya yang
diperoleh dari hasil penelitian.
3. Menentukan kategori yaitu dengan menggunakan rumus:

P= NS x 100 % Keterangan:
NH
P = Angka presentase

NS = Nilai Skor

NH = Nilai Harapan

100% = Konstanta
3.11 Etika
Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu peneliti perlu mendapatkan
izin dari institusi dengan mengajukan permohonan ijin kepada Pembimbing.
Setelah mendapatkan persetujuan barulah melakukan penelitian dengan
menekankan masalah etika penelitian yang meliputi:
1. Informed concent
Peneliti memberikan penjelasan tentang tujuan serta maksud penelitian
sebelum menyerahkan kuesioner penelitian, kemudian peneliti memberikan
surat permohonan menjadi responden sebagai permintaan pasien untuk
menjadi responden.
2. Confidentiality (kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti, hanya data tertentu
sebagai hasil penelitian.

29
3.12 Jadwal Penelitian
Tabel 3. Jadwal penelitian
Bulan
No Kegiatan September Oktober November Desember Januari
2018 2018 2018 2018 2019
1 Membuat
usulan mini
project
2 Membuat
Kuesioner
3 Pengumpulan
data
4 Analisi data
5 Penyusunan
mini project
6 Pemaparan
mini project

30
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini telah dilakukan di Puskesmas Sukra Indramayu selama 1 bulan.


Pada bulan Oktober-November 2018 dengan metode penelitian deskriptif melalui
pendekatan crosssectional.
Sampel pada penelitian ini diambil dengan teknik purposive sampling pada
pasien yang datang Imunisasi sesuai dengan criteria inklusi di Posyandu dan Puskesmas
Sukra Indramayu pada bulan Oktober-November 2018. Semua sampel yang diteliti
memenuhi aspek inklusi. Dari kuesioner yang telah disebar, peneliti mendapatkan
kuesioner yang bersedia diisi oleh pasien yang datang Imunisasi di Posyandu dan
Puskesmas Sukra Indramayu.

4.1 Karakteristik Responden


4.1.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat dalam tabel
berikut:
Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
Pria 3 4%
Wanita 72 96 %
Total 75 100%

31
Tabel diatas merupakan tabel distribusi berdasarkan status Jenis kelamin
responden. Data diatas melihatkan bahwa responden terbanyak adalah wanita 72
responden (96%) dari 75 responden.

4.1.2 Distribusi Responden Berdasarkan Usia


Tabel 5. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Usia Frekuensi Persentasi
<20 tahun 9 12 %
20-29 tahun 31 41,3 %
30-39 tahun 32 42,7 %
40-50 tahun 3 4%
Total 75 100%

32
Tabel diatas merupakan tabel distribusi berdasarkan usia responden.
Responden terbanyak berusia 30-39 tahun (42,7%) dari 75 responden. Serta
terdapat responden kurang dari <20 tahun sebanyak 9 responden (12%) dari 75
responden.

4.1.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan


Tabel 6. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan Frekuensi Persentasi
Buruh 1 1,3 %
Ibu Rumah Tangga 68 90,7 %
Pedagang 4 5.3 %
Karyawan 2 2,7 %
Lain-lain 0 0
Total 75 100%

33
Tabel diatas merupakan tabel distribusi berdasarkan status pekerjaan
responden. Data diatas memperlihatkan bahwa responden terbanyak sebagai ibu
rumah tangga sebesar 68 responden (90.7%) dari 75 responden.

4.1.4 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir


Tabel 7. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Pendidikan Frekuensi Persentasi
SD Terakhir 12 16 %
SMP 39 52 %
SMA 20 26,7 %
D1-D3 3 4%
S1 1 1,3 %
Total 75 100%

34
Tabel diatas merupakan tabel distribusi berdasarkan Pendidikan Terakhir
responden. Data diatas memperlihatkan bahwa responden terbanyak berasal dari
lulusan SMP sebesar 39 responden (52%) dari 75 responden. Sesuai Penelitian
hakman dkk (2016) di Puskesmas Poasia Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara
bahwa ada hubungan antara Pendidkan dengan Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi .
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Hakman dkk (2016)
bahwa ada hubungan antara pendidikan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan.
Harianto (2011) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara
pendidikan responden dengan partisipasi masyarakat. Dalam penelitian Anderson
dan Andersen (1972) (dalam Sudarti, 2012) bahwa seseorang yang mendapat
pendidikan formal biasanya lebih banyak mengunjungi ahli kesehatan.

35
4.1.5 Distribusi Keterampilan Teknis
Tabel 8. Mutu Pelayanan Kesehatan Dimensi Keterampilan Teknis
T
No. Pernyataan SS S R TS STS Skor
Petugas Puskesmas selalu siap
1. 35 39 1 0 0 334
membantu pasien.
Penampilan petugas
2. 26 45 2 2 0 320
Puskesmas rapi.
Petugas Puskesmas terampil
3. 30 45 0 0 0 330
dalam memberikan pelayanan.
x = 328 984

Tabel diatas merupakan tabel mutu pelayanan kesehatan dalam


keterampilan teknis. Keterampilan teknis terdiri dari 3 Aspek yaitu mengenai
Petugas Puskesmas selalu siap membantu pasien. Penampilan petugas Puskesmas
rapi, Petugas Puskesmas terampil dalam memberikan pelayanan.
Aspek Petugas Puskesmas selalu siap membantu pasien banyak menjawab
setuju sebanyak 39 responden dari 75 responden.
Aspek Penampilan petugas puskesmas rapi , responden menjawab setuju
sebanyak 45 responden dari 75 responden.
Aspek Petugas Puskesmas terampil dalam memberikan pelayanan,
responden menjawab setuju sebanyak 45 responden dari 75 responden.

4.1.6 Distribusi Akses


Tabel 9. Mutu Pelayanan Kesehatan Dimensi Akses Terhadap Pelayanan
No. Pernyataan SS S R TS STS Skor
1. Proses administrasi di 15 54 5 1 0 308
Puskesmas mudah.
Petugas tidak membeda-
2. bedakan suku, agama, dan status 29 44 2 0 0 327
pasien dalam memberikan
pelayanan.

36
x = 317,5 635
Tabel diatas merupakan tabel mutu pelayanan kesehatan dalam Akses.
Akses pelayanan terrdiri dari 2 Aspek yaitu Proses administrasi di Puskesmas
mudah, Petugas tidak membeda- bedakan suku, agama, dan status pasien dalam
memberikan.
Aspek Proses administrasi di Puskesmas mudah, responden menjawab
setuju sebanyak 54 responden dari 75 responden .
Aspek Petugas tidak membeda- bedakan suku, agama, dan status pasien
dalam memberikan, responden menjawab setuju sebanyak 44 responden dari 75
responden .
.
4.1.7 Distribusi Efektivitas
Tabel 10. Mutu Pelayanan Kesehatan Dimensi Efektivitas

No. Pernyataan SS S R TS STS Skor


1. Jumlah petugas Puskesmas sudah
cukup dalam memberikan 10 61 4 0 0 306
pelayanan.
2. Petugas Puskesmas teliti dalam 20 55 0 0 0 330
memberikan pelayanan.
x = 318 636
Tabel di atas merupakan tabel mutu pelayanan kesehatan dalam efektivitas.
Aspek efektivitas terdiri dari 2 aspek yaitu Aspek jumlah petugas puskesmas
sudah cukup dalam memberikan pelayanan dan Petugas Puskesmas teliti dalam
memberikan pelayanan.
Aspek jumlah petugas puskesmas sudah cukup dalam memberikan
pelayanan, responden menjawab setuju sebanyak 61 responden dari 75
responden .
Aspek Petugas Puskesmas teliti dalam memberikan pelayanan, responden
menjawab setuju sebanyak 55 responden dari 75 responden .

37
4.1.8 Distribusi Hubungan Antar Manusia
Tabel 11. Mutu Pelayanan Kesehatan Dimensi Hubungan Antar Manusia
No. Pernyataan SS S R TS STS Skor
1. Petugas Puskesmas memberikan
perhatian terhadap keadaan 25 50 0 0 0 325
pasien.
2. Petugas Puskesmas ramah dan
sabar dalam memberikan 26 47 2 0 0 324
pelayanan.
3. Petugas Puskesmas menerima
dan mendengarkan keluhan 20 55 0 0 0 320
pasien dengan baik.
x = 323 969
Tabel diatas merupakan tabel distribusi mutu pelayanan kesehatan aspek
petugas dalam hubungannya dengan antar manusia. Aspek petugas dalam
hubungannya dengan antar manusia terdiri dari 3 aspek yaitu Aspek Petugas
Puskesmas memberikan perhatian terhadap keadaan, aspek Petugas Puskesmas
ramah dan sabar dalam memberikan, dan aspek Petugas Puskesmas menerima dan
mendengarkan keluhan pasien dengan baik. .
Aspek Petugas Puskesmas memberikan perhatian terhadap keadaan,
responden menjawab setuju sebanyak 50 responden dari 75 responden .
Aspek Petugas Puskesmas ramah dan sabar dalam memberikan, responden
menjawab setuju sebanyak 47 responden dari 75 responden .
Aspek Petugas Puskesmas menerima dan mendengarkan keluhan pasien
dengan baik. Responden menjawab setuju sebanyak 55 responden dari 75
responden .

38
4.1.9 Distribusi Efisiensi
Tabel 12. Mutu Pelayanan Kesehatan Dimensi Efisiensi
T
No. Pernyataan SS S R TS STS Skor
1. Petugas Puskesmas tepat waktu 16 54 0 5 0 306
dalam memberikan pelayanan.
Petugas Puskesmas datang ke
2. Puskesmas sesuai jam kerjanya. 20 52 2 1 0 316
3. Prosedur pelayanan Puskesmas 8 19 9 33 6 235
berbelit belit. (Negatif)
x = 385,7 857

Tabel diatas merupakan tabel distribusi mutu pelayanan kesehatan aspek


Efisiensi. Aspek efisiensi terdiri dari 3 aspek yaitu Aspek Petugas Puskesmas
tepat waktu dalam memberikan pelayanan, aspek Petugas Puskesmas datang ke
Puskesmas sesuai jam kerjanya, dan aspek Prosedur pelayanan Puskesmas berbelit
belit.
Aspek Petugas Puskesmas tepat waktu dalam memberikan pelayanan
responden9menjawab setuju sebanyak 54 responden dari 75 responden .
Aspek Petugas Puskesmas datang ke Puskesmas sesuai jam kerjanya,
responden menjawab setuju sebanyak 52 responden dari 75 responden .
Aspek Prosedur pelayanan Puskesmas berbelit belit. Responden menjawab
sangat setuju sebanyak 8 responden , menjawab tidak setuju sebanyak 33
responden dari 75 responden .

39
4.1.10 Distribusi Kelangsungan Pelayanan
Tabel 13.Mutu Pelayanan Kesehatan Dimensi Kelangsungan Pelayanan
T
No. Pernyataan SS S R TS STS Skor
Rekam medis pasien di
1. Puskesmas tercatat dengan baik. 18 57 0 0 0 318

Petugas Puskesmas memberikan


2. penjelasan yang lengkap dalam 17 56 2 0 0 315
memberikan pelayanan.
Petugas Puskesmas memberikan
3. rujukan sesuai dengan 27 48 0 0 0 327
kebutuhan pasien.
x = 320 960

Tabel diatas merupakan tabel distribusi mutu pelayanan kesehatan aspek


kelangsungan pelayanan. Aspek kelangsungan pelayanan terdiri dari 3 aspek yaitu
Aspek Rekam medis pasien di Puskesmas tercatat dengan baik, aspek Petugas
Puskesmas memberikan penjelasan yang lengkap dalam memberikan pelayanan,
dan aspek petugas Puskesmas memberikan rujukan sesuai dengan kebutuhan
pasien.
Aspek Rekam medis pasien di Puskesmas tercatat dengan baik, responden
menjawab setuju sebanyak 57 responden dari 75 responden.
Aspek Petugas Puskesmas memberikan penjelasan yang lengkap dalam
memberikan pelayanan, responden menjawab setuju sebanyak 56 responden dari
75 responden.
aspek petugas Puskesmas memberikan rujukan sesuai dengan kebutuhan
pasien, Responden menjawab setuju sebanyak 48 responden dari 75 responden.

40
4.1.11 Distribusi Keamanan
Tabel 14. Mutu Pelayanan Kesehatan Dimensi Keamanan
No. Pernyataan SS S R TS STS Skor
Obat-obatan yang diberikan
1. petugas Puskesmas sesuai 14 60 0 1 0 314
dengan resep dokter.
Alat yang digunakan petugas
2. Puskesmas dalam melayani 13 59 1 2 0 308
pasien layak digunakan.
x = 311 622
Tabel diatas merupakan tabel distribusi mutu pelayanan kesehatan aspek
petugas dalam hubungannya dengan antar manusia. Aspek petugas dalam
hubungannya dengan antar manusia terdiri dari 2 aspek yaitu Aspek Obat-obatan
yang diberikan petugas Puskesmas sesuai dengan resep dokter dan aspek alat
yang digunakan petugas Puskesmas dalam melayani pasien layak digunakan.
Aspek Obat-obatan yang diberikan petugas Puskesmas sesuai dengan resep
dokter, responden menjawab setuju sebanyak 60 responden dari 75 responden .
Aspek alat yang digunakan petugas Puskesmas dalam melayani pasien layak
digunakan, responden menjawab setuju sebanyak 59 responden dari 75 responden.

4.1.12 Distribusi Kenyamanan dan Kenikmatan


Tabel 15. Mutu Pelayanan Kesehatan Dimensi Kenyamanan dan Kenikmatan
No. Pernyataan SS S R TS STS Skor
1. Kondisi lingkungan Puskesmas 5 17 7 37 9 253
kotor. (negative)
Fasilitas fisik seperti gedung dan
2. ruang tunggu Puskesmas layak 14 59 2 0 0 312
untuk digunakan.
3. Data dan rahasia pasien 26 44 4 1 0 320
tersimpan dengan aman.

41
x = 295 885

Tabel diatas merupakan tabel distribusi mutu pelayanan kesehatan aspek


kenyamanan dan kenikmatan. Aspek kenyamanan dan kenikmatan terdiri dari 3
aspek yaitu Aspek Kondisi lingkungan Puskesmas kotor, aspek fasilitas fisik
seperti gedung dan ruang tunggu Puskesmas layak untuk digunakan dan aspek
data dan rahasia pasien tersimpan dengan aman.
Aspek Kondisi lingkungan Puskesmas kotor, responden menjawab tidak
setuju sebanyak 37 responden dari 75 responden .
Aspek fasilitas fisik seperti gedung dan ruang tunggu Puskesmas layak
untuk digunakan dan aspek data, responden menjawab setuju sebanyak 59
responden dari 75 responden .
Aspek data dan rahasia pasien tersimpan dengan aman, responden
menjawab setuju sebanyak 44 responden dari 75 responden.

4.2 Analisis dan Interpretasi Data


Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan diintepretasikan.Interpretasi hasil
penelitian bertujuan untuk memperoleh nilai rata-rata dari setiap dimensi variable
penelitian.
Berikut ini data dari hasil penyebaran kuesioner terhadap 75 responden yang
terdiri dari delapan dimensi:
Tabel 16. Kategori Nilai Jawaban Responden
Nilai Nilai Skor P = NS/NH x Kategori
No Dimensi Skor
Harapan (NS) 100% Nilai

Kompetensi (NH) 984/75= 13,12/15 x 100%= Baik


1. 984 3 x 5 = 15
Teknis 13,12 87,5%

Akses Baik
635/75 = 8,47/10 x 100%=
2. Terhadap 635 2 x 5 = 10
8,47 84,7%
Pelayanan
636 /75= 8,48/10 x 100%= Baik
3. Efektivitas 636 2 x 5 = 10
8,48 84,8%

42
Hubungan 969 / 75= 12,92/15 x 100%= Baik
4. 969 3 x 5 = 15
Antar Manusia 12,92 86,13%
857 / 75= 11,43/15 x 100%= Baik
5. Efisiensi 857 3 x 5 = 15
11,43 76,2%
Kelangsungan 960 / 75= 12,8/15 x 100%= Baik
6. 960 3 x 5 = 15
Pelayanan 12,8 85,3%
622 / 75= 8,29/10 x100%= Baik
7. Keamanan 622 2 x 5 = 10
8,29 82,9%
Kenyamanan Baik
885/75 = 11,8/15 x 100% =
8. dan 885 3 x 5 = 15
11,8 78,67%
Kenikmatan

Rata-rata 6.548 21x5 =105 6548/75 = 87,31/105 x 100%= Baik


87,31 83,15

Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat bahwa mutu pelayanan


Imunisasi dan Posyandu di Puskesmas Sukra Indramayu sudah tergolong baik
dengan persentase sebesar 83,15%. Dari penelitian ini didapatkan bahwa angka
persentase dari ke-8 dimensi mutu pelayanan kesehatan yang diteliti menunjukkan
kategori tergolong baik.
1. Dimensi kompetensi teknis sebesar 87,5% artinya bahwa dimensi kompetensi
teknis di Puskesmas Sukra masuk ke kategori Baik. Kompetensi teknis atau
pelayanan kehandalan adalah setiap pegawai memiliki kemampuan yang
handal, mengetahui mengenai seluk beluk prosedur kerja, mekanisme kerja,
memperbaiki berbagai kekurangan atau penyimpangan yang tidak sesuai
dengan prosedur kerja dan mampu menunjukkan, mengarahkan dan
memberikan arahan yang benar kepada setiap bentuk pelayanan yang belum
dimengerti oleh masyarakat, sehingga memberi dampak positif atas pelayanan
tersebut, yaitu pegawai memahami, menguasai, handal, mandiri dan
profesional atas uraian kerja yang ditekuninya (Parasuraman, 2001:101).
Sesuai penelitian Selviani (2016) Kehandalan tenaga kesehatan (Realibility)

43
dalam memberikan pelayanan imunisasi di Puskesmas Kinovaro belum
maksimal, dimana Puskesmas telah memberikan kemudahan pada prosedur
pelayanan imunisasi, namun tidak dapat dilaksanakan secara rutin, serta tenaga
kesehatan dalam pelayanan imunisasi belum cukup terlatih dalam memenuhi
kebutuhan masyarakat untuk tepat waktu dan siaga di seluruh wilayah kerja
Puskesmas Kinovaro.

2. Dimensi akses terhadap pelayanan sebesar 84,7% artinya bahwa dimensi akses
terhadap pelayanan di Puskesmas Sukra masuk ke kategori Baik. Menurut
Pohan (2007) akses, artinya layanan kesehatan itu harus dapat dicapai oleh
masyarakat, tidak terhalang oleh keadaan geografis, sosial, ekonomi,
organisasi dan bahasa. Sesuai dengan penelitian Halil dkk (2012) di
Puskesmas pamboang Majene bahwa terdapat hubungan antara faktor akses
dengan mutu pelayanan dengan nilai p=0,001 dengan kekuatan hubungan
C=0,357.

3. Dimensi efektifitas hasil baik sebesar 84,7% artinya bahwa dimensi efektifitas
di Puskesmas Sukra masuk ke kategori Baik. Secara teori dengan adanya
tenaga kesehatan yang memadai maka pelayanan kesehatan di Imunisasi juga
akan tercapai dimana tenaga kesehatan memiliki peranan penting untuk
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada
masyarakat agar masyarakat mampu untuk meningkatkan kesadaran, kemauan,
dan kemampuan hidup sehat sehingga akan terwujud derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia
yang produktif secara sosial dan ekonomi serta sebagai salah satu unsur
kesejahteraan umum sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Sesuai dengan kutipan dari
penelitian Hakman dkk 2016 Ada hubungan Ketersediaan Tenaga Kesehatan
Dengan Pemanfaatan Pelayanan Imunisasi di Puskesmas Poasia Kota Kendari
Provinsi Sulawesi Tenggara

44
4. Dimensi hubungan antar manusia sebesar 86,13% artinya bahwa dimensi
hubungan antar manusia di Puskesmas Sukra masuk ke kategori Baik. Rasa
empati yang ada tergambarkan pada kemampuan petugas imunisasi, dalam hal
ini bahwa karyawan/staf mampu menempatkan dirinya pada pelanggan, dapat
berupa kemudahan dalam menjalin hubungan dan komunikasi termasuk
perhatiannya terhadap para pelanggannya, serta dapat memahami kebutuhan
pelanggan. Dimensi ini menunjukkan derajat perhatian yang diberikan kepada
setiap pelanggan dan merefleksikan kemampuan pekerja (karyawan) untuk
menyelami perasaan pelanggan. Wujud empati petugas kesehatan (Emphaty)
dalam memberikan pelayanan imunisasi di Puskesmas Kecamatan Kinovaro
masih kurang baik, dimana petugas kesehatan Puskesmas Kinovaro tidak
berkompeten untuk memberikan perhatian kepada masyarakat serta kurang
memahami kebutuhan masyarakat penerima layanan imunisasi.

5. Dimensi efisiensi sebesar 76,2% artinya bahwa dimensi efisiensi di Puskesmas


Sukra masuk ke kategori Baik. Sejalan penelitain yang dilakukan Widuri di
Puskesmas Gambir tahun 2009 menyatakan bahwa yang tanggap terhadap
aspek lama waktu tunggu pelayanan kesehatan rawat jalan sebesar 64,50%,
oleh sebab itu diharapkan agar lebih mengoptimalkan lagi seluruh petugas
yang ada, dengan pembagian tugas yang lebih jelas dan mengatur jadwal yang
selektif mungkin sehingga tidak menggangu pelayanan kesehatan rawat jalan.
Dan sejalan penelitian Halil tahun 2012 di Puskesmas pamboang Majene
menyatakan bahwa ada hubungan antara faktor ketepatan waktu dengan mutu
pelayanan dengan nilai p=0.001 dengan kekuatan hubungan sedang C=0,464.

6. Dimensi kelangsungan pelayanan sebesar 85,3% artinya bahwa dimensi


kelangsungan pelayanan di Puskesmas Sukra masuk ke kategori Baik. Setiap
pegawai dalam memberikan bentuk-bentuk pelayanan, mengutamakan aspek
pelayanan yang sangat mempengaruhi perilaku orang yang mendapat
pelayanan, sehingga diperlukan kemampuan daya tanggap dari pegawai untuk
melayani masyarakat sesuai dengan tingkat penyerapan, pengertian,
ketidaksesuaian atas berbagai hal bentuk pelayanan yang tidak diketahuinya.

45
Hal ini memerlukan adanya penjelasan yang bijaksana, mendetail, membina,
mengarahkan dan membujuk agar menyikapi segala bentuk-bentuk prosedur
dan mekanisme kerja yang berlaku dalam suatu organisasi, sehingga bentuk
pelayanan mendapat respon positif (Parasuraman, 2001:52). Sesuai dengan
penelitian Selviani dkk (2016), daya tanggap petugas kesehatan
(Responsiveness) dalam pelayanan imunisasi di Puskesmas Kecamatan
Kinovaro masih kurang baik, sebab tenaga kesehatan Puskesmas Kinovaro
belum bisa memberikan pelayanan yang cepat tanggap dalam merespon
keluhan penerima layanan imunisasi.

7. Dimensi keamanan sebesar 82,9% artinya bahwa dimensi keamanan di


Puskesmas Sukra masuk ke kategori Baik. Inti dari bentuk pelayanan yang
meyakinkan pada dasarnya bertumpu kepada kepuasan pelayanan yang
ditunjukkan oleh setiap pegawai, komitmen organisasi yang menunjukkan
pemberian pelayanan yang baik, dan perilaku dari pegawai dalam memberikan
pelayanan, sehingga dampak yang ditimbulkan dari segala aktivitas pelayanan
tersebut diyakini oleh orang-orang yang menerima pelayanan, bahwa mereka
akan dilayani dengan baik sesuai dengan bentuk-bentuk pelayanan yang
diyakini sesuai dengan kepastian pelayanan. Sebab setiap bentuk pelayanan,
memerlukan adanya kepastian atas pelayanan yang diberikan. Penelitian dari
Selviani dkk (2016) bahwa Jaminan pelayanan (Assurance) yang diberikan
oleh petugas kesehatan dalam pelayanan imunisasi di Puskesmas Kecamatan
Kinovaro, masih belum bisa dikatakan memadai, sebab, tenaga kesehatan di
Puskesmas Kinovaro tidak dapat memberikan pengetahuan yang tepat pada
masyarakat di wilayah kerjanya, serta masyarakat tidak mendapatkan
kenyamanan saat menerima layanan imunisasi oleh tenaga kesehatan
Puskesmas Kinovaro.
8. Dimensi kenyamanan dan kenikmatan sebesar 78,67% artinya bahwa dimensi
kenyamanan dan kenikmatan di Puskesmas Sukra masuk ke kategori Baik.
Fasilitas yang memadai seperti ruangan yang nyaman, kebersihan dan kerapian
turut berpengaruh pada kualitas pelayanan prima (Depkes RI, 2001).

46
Kenyamanan ruang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
kepuasan pelanggan. Kenyamanan ruang periksa dan ruang tunggu merupakan
aspek penting bagi suatu jasa pelayanan kesehatan karena kenyamanan bisa
memberikan warna pada suasana hati pemakai jasa pelayanan sehingga dapat
mempengaruhi penilaian terhadap jasa tersebut.

47
BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Dari hasil penelitaian yang dilakukan di Puskesmas Sukra
Indramayu dalam hal imunisasi, dalam bidang mutu yang mecakup delapan
dimensi yaitu:
1. Dimensi kompetensi teknis sebesar 87,5% artinya bahwa dimensi
kompetensi teknis di Puskesmas Sukra masuk ke kategori Baik.
2. Dimensi akses terhadap pelayanan sebesar 84,7% artinya bahwa dimensi
akses terhadap pelayanan di Puskesmas Sukra masuk ke kategori Baik.
3. Dimensi efektifitas hasil baik sebesar 84,7% artinya bahwa dimensi
efektifitas di Puskesmas Sukra masuk ke kategori Baik
4. Dimensi hubungan antar manusia sebesar 86,13% artinya bahwa dimensi
hubungan antar manusia di Puskesmas Sukra masuk ke kategori Baik
5. Dimensi efisiensi sebesar 76,2% artinya bahwa dimensi efisiensi di
Puskesmas Sukra masuk ke kategori Baik
6. Dimensi kelangsungan pelayanan sebesar 85,3% artinya bahwa dimensi
kelangsungan pelayanan di Puskesmas Sukra masuk ke kategori Baik
7. Dimensi keamanan sebesar 82,9% artinya bahwa dimensi keamanan di
Puskesmas Sukra masuk ke kategori Baik
8. Dimensi kenyamanan dan kenikmatan sebesar 78,67% artinya bahwa
dimensi kenyamanan dan kenikmatan di Puskesmas Sukra masuk ke kategori
Baik.
Dari hasil rerata didapatkan presentasi sebesar 83,15% Jadi dapat terlihat bahwa
mutu pelayanan Imunisasi dan Posyandu di Puskesmas Sukra Indramayu sudah
tergolong baik.

48
5.2 SARAN
Setelah penelitian ini, perlu adanya penelitian lebih lanjut terhadap
pengembangan kualitas pelayanan imunisasi khususnya di Puskesmas Sukra
Kabupaten Indramayu serta secara praktik perlu adanya perbaikan:
1. Untuk pencapaian target program masih kurang sehingga perlu adanya
perbaikan
2. Untuk meningkatkan mutu pelayanan Imunisasi di Puskesmas Sukra perlu
realisasi ketersediaan fasilitas standar puskesmas sesuai Nomer 42 Tahun
2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
3. Perlu digalakanya promosi tentang Imunisasi kepada masyarakat baik
imunisasi lengkap ataupun imunisasi tambahan.
4. menjalin komunikasi yang efektif dan berkelanjutan antara lintas sector dan
lintas program yang berhubungan dengan program imunisasi

5.3 Keterbatasan Penelitian


Adapun keterbatasan penelitian ini meliputi:
1. Ketika mencari responden dalam penelitian ini yang sesuai dengan kriteria
inklusi dan ekslusi merupakan suatu tantangan karena kadang setelah
melakukan imunisasi bayi menangis dan ibu enggan untuk menjadi
responden.
2. Instrument mutu ini memakai pertanyaan tertutup, sehingga bisa jadi
pernyataan dalam instrument ini belum mewakili apa yang dirasakan
responden. Namun peneliti sudah meminimalkan hal tersebut dengan
melakukan uji validitas dan reabilitas instrument.
3. Informasi bias pada penelitian ini dapat terjadi karena pendidikan responden
atau kurang paham dengan pernyataannya. Dimana sebaiknya dapat
dilakukan selain menggunakan kuesioner yaitu dengan wawancara
mendalam.

49
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka


Cipta. Jakarta
Azwar, A. 2010. Pengantar Administrasi Kesehatan. EdisiKetiga. Jakarta:Bina rupa
Aksara.
Azwar. 2001. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Binarupa. Hal: 45
Bustami. 2011. Penjamin Mutu Pelayanan Kesehatandan Akseptabilitas-nya. Jakarta :
Erlangga, hal : 5,6, 25
Departemen Kesehatan R.I, 2006, Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta
Departemen Kesehatan R.I, 2008. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta
Hakman, dkk. 2016. Faktor Yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan
Imunisasi Di Puskesmas Poasia Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara
Tahun 2016.
Halil, Sitti N, dkk. 2012. Faktor yang Berhubungan dengan Mutu Pelayanan Di
Puskesmas Pamboang Kabupaten Majene Tahun 2012
Harianto. 2011. Analisis Factor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemanfaatan
Pelayanan Imunisasi Di Puskesmas banjar Kecamatan Hulu Kabupaten Banjar
masin Utara. Bidang Minat Administrasi Kebijakan Kesehatan Fakultas
Kesehatan Masyrakat Universitas Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan.
IDAI, 2018. Seputar Pekan Imunisasi Dunia 2018.
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/seputar-pekan-imunisasi-dunia-
2018, diakses pada 26 November 2018
Indriyani, Diyan dkk, 2017. Persepsi Ibu Muda dan Keluarga tentang Pemberian
Imunisasi (Pendekatan Maternal Sensitivity Models Berbasis Kelaurga). Diakses
pada bulan November 2018
Kemenkes RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75
Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Author

50
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia nomor: 128/MENKES/SK/II/2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat
Kesehatan Masyarakat. Jakarta: MenteriKesehatan.
Muninjaya, A. 2014. Manajemen Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Notoatmodjo, S. 2012. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Nursalam. 2014. Manajemen Keperawatan :Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional Edisi 4. Jakarta : Salemba Medika, hal : 296, 312
Pohan, Imbalo S. 2006. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan. Jakarta: EGC, hal :
5,15,156.157
Rochman, dkk, 2012, Panduan Belajar Asuhan Neonatus Bayi dan Balita, Penerbit
Buku Kedokteran.
Selviani, 2016. Kualitas Pelayanan Imunisasi di Pusat Kesehatan Masyarakat Kinovaro
Kecamatan Kinovaro Kabupaten Sigi. Diakses pada November 2018
Sudarti,Kresno. 2008. Laporan Penelitian Study Pemanfaatan Posyandu di Kelurahan
Cipinang Muara kecamatan Jatinegara Kodya Jakarta Timur Tahun 2007. Tesis
Program Studi Kesehatan Masyarakat Pasca Sarjana UI.
Swarjana, I. K. 2012. Metode Penelitian Kesehatan. CV.Andi Offset (ANDI).
Yogyakarta
Tiani,Irmailis., dkk. 2016. Peran Petugas Imunisasi dalam Pemberian Vaksinasi
Pentavalen.. Diakses pada Oktober 2018
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesahatan.
Wanarto, G B. 2013. Penilaian Mutu Pelayanan Kesehatanoleh Pelanggan. JawaTimur:
FORIKES (Forum IlmiahKesehatan).

51