Anda di halaman 1dari 13

PENDEKATAN SISTEMATIS DALAM MANAJEMEN KELAS

Oleh: Sunawan, Ph.D.

a. Mendesain lingkungan fisik


Lingkungan fisik sangat berkontribusi terhadap proses bimbingan klasikal. Oleh
karena itu, pengelola kelas yang baik akan sadar pentingnya menata lingkungan fisik
yang mendukung terjalinnya interaksi konselor-siswa. Dengan demikian, penataan
lingkungan fisik bukan sekedar isu tentang menata barang di kelas. Berikut ini adalah
prinsip-prinsip dalam penataan kelas.
1) Pastikan bahwa konselor dapat dengan mudah bisa melihat semua siswa. Selama
bimbingan klasikal berlangsung, konselor dituntut untuk mampu memantau
aktivitas siswa dengan cermat. Oleh karena itu, posisi meja konselor, meja siswa,
dan posisi konselor dalam menyampaikan materi memungkinkan konselor dapat
menatap dan mengamati perilaku siswa.
2) Kurangi kepadatan di tempat lalu lalang. Tempat yang ramai untuk berlalu lalang
sangat potensial akan mendatangkan gangguan bagi kegiatan bimbingan klasikal.
Oleh karenanya, tempat-tempat semacam itu diharapkan dapat dijauhkan. Contoh
tempat yang potensial sebagai tempat lalu lalang adalah meja guru, pintu kelas, dan
seterusnya.
3) Perlengkapan siswa dan materi bimbingan klasikal harus mudah diakses. Apabila
diperlukan berikan siswa waktu khusus sebelum bimbingan klasikal untuk
mempersiapkan materi dan perlengkapan mereka. Ini penting untuk mengurangi
gangguan yang muncul selama bimbingan klasikal berlangsung.
4) Pastikan semua murid dapat melihat dengan mudah presentasi kelas. Posisi duduk
siswa yang tidak mudah mengakses presentasi kelas akan membuat mereka tidak
terlibat dalam pembelajaran. Konsekuensinya, mereka akan cenderung melakukan
aktivitas yang tidak terkait pelajaran dan berpotensi mengganggu siswa lain. Untuk
mengetahui seberapa baik para siswa dapat mengakses presentasi kelas, maka
konselor perlu duduk di posisi siswa.

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


Menurut Santrock (2004), terdapat beberapa lima gaya dalam penataan tempat
duduk siswa. Gaya penataan tempat duduk tersebut dapat dipilih sesuai dengan metode
bimbingan klasikal yang akan diaplikasikan. Gaya penataan tempat duduk tersebut
adalah: gaya auditorium, gaya tatap muka (face-to-face), gaya off-set, gaya seminar,
dan gaya klaster. Berikut ini paparan setiap gaya.
1) Gaya Auditorium. Susunan gaya auditorium menempathan semua siswa duduk
menghadap guru. Gaya auditorium ini sering dipakau ketika konselor memberikan
presentasi dalam kegiatan bimbingan klasikalnya.

Gambar 1. Gaya auditorium


2) Gaya tatap muka (face to face). Dalam susunan gaya tatap muka para siswa saling
tatap muka. Dalam susunan gaya tatap muka ini potensi gangguan dalam bimbingan
klasikal lebih besar dibandingkan gaya auditorium.

Gambar 2. Gaya tatap muka


3) Gaya off set. Sejumlah siswa yang biasanya terdiri atas tiga sampai empat siswa
duduk di bangku tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain. Gaya off

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


set umumnya digunakan untuk melaksanakan metode pembelajaran kooperatif
(cooperative learning).

Gambar 3. Gaya off set


4) Gaya seminar. Susunan tempat duduk dalam gaya seminar dibuat membuat pola
lingkaran atau persegi atau bentuk U. Gaya ini efektif untuk mengopetimalkan
interaksi antara siswa dengan konselor dan siswa dengan siswa lainnya.

Gambar 4. Gaya seminar


5) Gaya klaster. Susunan gaya klaster menempatkan sejumlah siswa (antara 4 sampai
8 siswa) bekerja dalam kelompok kecil. Pembelajaran kolaboratif biasanya sangat
efektif dilaksanakan dengan menggunakan susunan gaya klister.

Gambar 5. Gaya klaster

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


b. Menciptakan lingkungan yang positif untuk bimbingan klasikal
Terdapat beberapa strategi yang dapat diaplikasikan konselor untuk menciptakan
lingkungan kelas yang positif.
1) Menggunakan gaya otoritatif. Konselor yang otoritatif mendorong siswa untuk
menjadi pemikir yang mandiri dengan sedikit monitor. Konselor yang otoritatif juga
menunjukkan sikap perhatian dan bekerjasama dengan siswa. Dalam hal tata tertib
kelas, konselor yang otoritatif akan menjelaskan aturan dan regulasi kelas serta
menentukan standar (seperti standar berperilaku) dengan mempertimbangkan
masukan dari siswa. Gaya ini berbeda dengan dua gaya lain yang tidak efektif untuk
menciptakan lingkungan positif, yakni gaya otoritarian dan permisif. Gaya
otoritarian dilakukan dengan kaku, tidak memberi kesempatan bagi siswa untuk
mandiri dan cenderung berorientasi pada hukuman dalam mengembangkan
perilaku. Sementara gaya permisif dilakukan dengan memberi kebebasan yang
seluas-luasnya kepada siswa tetapi tidak diikuti dengan pemberian dukungan.
Akibantnya, siswa cenderung memiliki kontrol diri yang rendah dan kompetensi
akademik yang rendah.
2) Mengelola aktivitas kelas secara efektif. Konselor yang efektif dalam mengelola
kelas berbeda dengan konselor yang tidak efektif dilihat dari cara mengelola
aktivitas kelompok secara efektif. Konselor yang efektif dalam mengelola kelas
cenderung menunjukkan hal-hal di bawah ini:
a) Menunjukkan seberapa jauh siswa “mengikuti” aktivitas kelas. Konselor yang
efektif senantiasa melakukan pemantauan secara berkala sehingga mereka
mampu melakukan deteksi dini perilaku siswa yang lepas kendali.
b) Atasi situasi tumpeng-tindih secara efektif. Dalam mengelola, konselor berpikir
untuk mengatasi situasi hambatan kelas satu persatu. Hal ini tidaklah efektif
karena hambatan tersebut akan terus-menerus datang. Oleh karena itu, konselor
yang efektif akan berkeliling kelas untuk mengecek pekerjaan siswa dan
sekaligus di saat yang sama mengamati atau memantau perilaku keseluruhan
siswa.

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


c) Menjaga kelancaran dan kesinambungan kegiatan bimbingan klasikal. Konselor
yang mengelola kelas secara efektif berusaha menjaga setiap tahapan atau
langkah bimbingan klasikal berjalan lancar, berusaha mempertahankan dan
menjaga minat siswa dalam mengikuti bimbingan klasikal.
d) Libatkan siswa dalam berbagai aktivitas yang menantang. Tugas yang menantang
adalah tugas yang tidak terlalu mudah dan sekaligus tidak terlalu sulit. Konselor
sebagai pengelola kelas diharapkan dapat mengajak siswa menyelesaikan tugas-
tugas menantang. Konsekuensinya, mereka akan bekerja lebih banyak di luar
pemantauan konselor
3) Membuat, mengajarkan dan mempertahankan aturan dan prosedur. Aturan dan
prosedur sama-sama standar atau ekspektasi perilaku siswa yang diharapkan.
Namun yang membedakan adalah kalau atura memfokus pada ekspektasi umum
atau spesifik atau standar perilaku, contoh aturan umum “Hargai orang lain”,
sedangkan contoh aturan yang spesifik “Dilarang mengunyah permen karet di dalam
kelas." Adapun prosedur adalah ekspektasi tentang perilaku umum yang bisanya
berlaku atau diterapkan pada aktivitas spesifik dan diarahkan untuk mencapai suatu
tujuan. Prosedur biasanya digunakan dalam penyelesaian tugas, pengumpulan PR,
memulai kelas, dan seterusnya.
Kotak 1. Membangun aturan dan prosedur kelas
Berikut ini prinsip dalam menyusun aturan dan prosedur kelas:
1. Aturan dan prosedur harus masuk akal dan sesuai dengan kebutuhan. Dalam
membuat aturan dan prosedur pastikan bahwa aturan dan prosedur itu tepat
dengan kebutuhan penyelenggaraan bimbingan klasikal dan memiliki
dasar/alasan yang penting. Jika datang tepat waktu penting dan dibutuhkan,
maka aturan datang tepat waktu menjadi penting menjadi aturan. Jika ada
siswa terlambat konselor dapat menjelaskan alasan penting datang tepat
waktu, yakni agar siswa tidak kehilangan materi penting dari kegiatan
bimbingan klasikal.

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


2. Aturan dan prosedur harus jelas dan dapat dipahami. Aturan dan prosedur yang
tidak mudah dipahami membuat siswa menginterpretasi secara keliru tentang
perilaku yang diharapkan. Oleh karena peraturan idealnya disepakati bersama
siswa, maka konselor dapat mengajukan aturan umum dan siswa dapat
memberikan masukan terkait contoh spesifiknya.
3. Aturan dan prosedur harus konsisten dan relevan dengan tujuan bimbingan
klasikal. Konselor perlu mempertimbangkan manfaat bagi kegiatan
bimbingan klasikan ketika hendak mengusulkan aturan dan prosedur.
4. Aturan harus konsisten dengan peraturan sekolah. Sebelum membuat aturan
kelas bersama siswa untuk mendukung penyelenggaraan bimbingan klasikal,
konselor perlu mengenali terlebih dahulu peraturan sekolah. Rata-rata sekolah
saat ini telah memiliki peraturan tentang tata tertib sekolah dan kaidah
sanksinya.

4) Mengajak murid untuk bekerjasama. Ada beberapa hal yang dilakukan agar konselor
dan siswa dapat membangun suatu kerjasama. Pertama, menjalin hubungan positif
dengan siswa. Hal ini diawali dengan memberikan perhatian kepada seluruh siswa.
Perhatian ini ditunjukkan dengan kepekaan konselor terhadap kebutuhan siswa,
pemberian dukungan kepada siswa selama belajar dan menunjukkan keterampilan
komunikasi yang tepat (termasuk keterampilan mendengar). Kedua, mengajak
murid untuk berbagi dan mengemban tanggungjawab. Strategi mengajak murid
mengemban tanggungjawab dibahas dalam kotak …. Ketiga, memberi penguatan
pada perilaku yang tepat. Prinsip dalam teori behavioral menunjukkan bahwa
belajar terjadi apabila perilaku yang diharapkan mendapat penguatan
(reinforcement). Oleh karena itu, penting bagi konselor untuk mencermati setiap
pemberian konsekuensi atas perilaku siswa. Jangan sampai pemberian konsekuensi
positif malah disandingkan pada perilaku yang tidak diharapkan. Lihat kotak 2
untuk mengetahui penggunaan penguatan secara efektif dan tidak efektif.

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


Kotak 2. Perbedaan penguatan yang efektif dan tidak efektif

Penguatan Efektif Penguatan yang Tidak Efektif


1. Diberikan secara berkala 1. Diberikan secara acak atau tidak
sistematik
2. Mengarah perilaku tertentu yang 2. Tidak spesifik dan global
diperkuat secara spesifik
3. Dipersepsi kredibel oleh siswa, 3. “Seragam”, menunjukkan bahwa
melalui tanda-tanda bahwa pujian penguatan itu adalah reaksi
itu tidak rutin tapi spontan otomatik yang diberikan dengan
pemikiran minimal
4. Penguatan untuk kinerja tertentu 4. Menghargai partisipasinya saja,
(yang dapat memasukkan usaha) tanpa mempertimbangkan proses
atau hasilnya
5. Memberikan informasi yang 5. Tidak memberikan informasi
spesifik kepada siswa tentang kepada siswa atau informasi
prestasinya tentang statusnya

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


Penguatan Efektif Penguatan yang Tidak Efektif
6. Mengarahkan siswa pada apresiasi 6. Mengarahkan siswa pada
yang lebih baik terhadap on-task membandingkan dirinya-sendiri
behavior dan berorientasi pada dengan siswa lain dan memikirkan
penyelesaian masalah tentang kompetensi
7. Menggunakan prestasi siswa 7. Menggunakan prestasi teman-
sebelumnya sebagai dasar temannya sebagai dasar
perbandingan perbandingan
8. Diberikan untuk mengakui usaha 8. Dilakukan tanpa menghargai usaha
yang patut dihargai atau yang dikeluarkan atau makna
keberhasilan pada tugas yang sulit keberhasilannya
(bagi siswa tersebut)
9. Mengatribusikan kesuksesan pada 9. Mengatribusikan kesuksesan pada
usaha yang menyiratkan bahwa kemampuan saja atau pada faktor-
kesuksesan serupa dapat dicapai di faktor eksternal seperti
masa mendatang keberuntungan
10. Mendorong atribusi internal 10. Mendorong pada atribusi eksternal

Sumber: Muijs & Reynold (2008)


c. Menghadapi perilaku bermasalah
Saat konselor menghadapi perilaku bermasalah siswa dalam mengikuti
bimbingan klasikal, maka konselor dapat memanfaatkan strategi intervensi minor dan
moderat (Santrock, 2004). Berikut ini paparannya.
1) Intervensi minor. Beberapa perilaku cukup dengan dihadapi dengan intervensi minor
atau kecil, seperti bercanda, meninggalkan tempat duduk tanpa ijin. Perilaku
bermasalah ini ini biasanya mengganggu aktivitas belajar. Berikut ini strategi
intervensi minor.
a) Gunakan isyarat nonverbal. Contoh melihat siswa yang berbicara dengan temam
sebangku, konselor melakukan kontak mata kemudian menggeleng kepala.
b) Teruskan lanjutkan aktivitas belajar. Terkadang saat transisi atau jedah dalam
presentasi atau pemaparan guru ataupun jeda dalam diskusi yang terlalu lama
membuat siswa melakukan aktivitas yang tidak diharapkan seperti meninggalkan

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


tempat duduk. Menghadapi situasi ini, konselor bukan mengoreksi tindakan
siswa tetapi segeralah memulai aktivitas baru.
c) Dekati siswa. Ketika siswa bertindak menyimpang, seperti bicara dengan teman
sebangku, konselor cukup mendekati tempat duduknya kemudian dia akan diam.
d) Arahkan perilaku. Jika siswa mengabaikan tugasnya, termasuk tugas kelas, maka
ingatkan mereka tentang kewajibannya dengan mengatakan, “Baiklah, ingat,
semua siswa wajib menyelesaikan tugas ini!”
e) Beri instruksi yang diberikan. Siswa terkadang melakukan kesalahan tertentu saat
mengikuti bimbingan klasikal karena mereka memahami cara menyelesaikan
suatu tugas. Dalam situasi semacam ini, konselor perlu untuk memberi petunjuk
atau instruksi yang diperlukan dan pantau perkembangannya untuk memastikan
siswa paham cara menyelesaikan tugas tersebut.
f) Suruh murid berhenti dengan nada tegas (asertif) dan langsung. Jalin kontak mata
dengan siswa, bersikaplah asertif dan minta siswa menghentikan tindakan
mereka. Kemudian pantau perkembangannya sampai murid menjadi patuh.

Kotak 3. Teknik komunikasi asertif


Ada empat gaya komunikasi verbal dalam menghadapi situasi konflik,
yaitu:
1. Gaya agresif merupakan gaya komunikasi yang cenderung kasar kepada
orang lain, menuntut, kasar, dan bertindak dengan pola bermusuhan.
Individu dengan gaya ini cenderung tidak peka dengan kebutuhan orang
lain.
2. Gaya manipulatif merupakan gaya komunikasi untuk mendapatkan sesuatu
yang diinginkan dari orang lain dengan membuat orang lain merasa
bersalah kepadanya.
3. Gaya pasif merupakan gaya komunikasi yang tidak tegas dan pasrah serta
tidak mau memberitahu apa yang seharusnya dilakukan orang lain.

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


4. Gaya tegas (assertive) merupakan gaya komunikasi yang mengekspresikan
perasaannya, meminta apa yang dia inginkan dan mengakatan “tidak”
untuk menolak apa yang tidak dia inginkan.
Dari keempat gaya komunikasi di atas, gaya tegas merupakan gaya yang
terbaik dalam menghadapi dan mengatasi konflik. Berikut ini adalah strategi
untuk meningkatkan asertivitas:
1. Evaluasilah hak-hak pribadi Anda. Dalam setiap situasi, kita perlu
menentukan hak-hak yang kita miliki, seperti hak untuk membuat
kesalahan dan mengubah pikiran atau pandangan.
2. Kemukakan masalah dan konsekuensinya kepada orang lain. Jelaskan sudut
pandang kita tentang situasi yang dihadapi, termasuk meski orang lain
sudah memahaminya. Diskripsikan masalah yang dihadapi secara objektif
tanpa perlu menyalahkan orang lain. Contoh, “Saya merasa terganggu
kalau kalian ribut di kelas. Jadi tolong jangan diulangi lagi ya!”
3. Ekspresikan perasaan tentang situasi tertentu. Ketika kita menyatakan
perasaan kita terhadap suatu situasi, maka orang lain baik yang setuju
maupun tidak setuju dengan kita akan memahami perasaan kita tentang
situasi yang dihadapi. Untuk menyatakan perasaan gunakan teknik
komunikasi pesan saya (I-message) bukan pesan kamu (you-message).
Contoh pesan saya, “Saya tidak suka kalau kamu datang terlambat.”
Bandingkan dengan pesan kamu, contoh, “Kamu pemalas, kerjaannya
terlambat terus!“
4. Kemukakan permintaan Anda. Poin ini merupakan hal paling penting dari
perilaku tegas. Kemukakan hal yang kita inginkan ataupun yang tidak kita
inginkan secara langsung dan lugas.
Beberapa pedoman dalam berperilaku tegas:
1. Gunakan perilaku non-verbal yang asertif, seperti percaya diri, tenang,
melakukan kontak mata.

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


2. Kemukakan permintaan secara sederhana. Kalimat permintaan diharapkan
lugas dan mudah dipahami.
3. Hindari pengajuan permintaan lebih dari satu dalam satu waktu.
4. Jangan minta maaf atas permintaan yang Anda ajukan.
5. Jelaskan manfaat dari permintaan atau penolakan Anda.

g) Beri murid pilihan. Strategi ini dilakukan dengan memberi siswa tanggung jawab
membuat pilihan dengan mengatakan bahwa dia memiliki pilihan untuk
bertindak benar atau salah, kesemuanya ada konsekuensinya dan kita tidak bisa
memilih konsekuensi itu.
2) Intervensi moderat. Jenis intervensi ini lebih kuat dibandingkan dengan intervensi
minor yang telah dibahas sebelumnya. Berikut ini strategi dalam intervensi moderat:
a) Jangan beri siswa kesempatan untuk melakukan aktivitas yang dia inginkan. Hal
ini dilakukan dengan tidak mengijinkan atau mencabut ijin bagi siswa yang
berperilaku menyimpang di dalam kelas untuk, misalnya, mengerjakan tugas
dengan teman.
b) Buat kontrak perilaku (behavioral contract). Apabila siswa masih melakukan
perilaku yang tidak diharapkan dalam mengikuti bimbingan klasikal, maka
konselor bersama siswa tersebut membuat kontrak perilaku yang disepakati
kedua belah pihak. Kontrak perilaku berisi perilaku yang diharapkan dari siswa
dan penguatan yang akan diperoleh jika melakukan perilaku tersebut. Dalam
kontrak perilaku juga dicantumkan saksi atas kesepakatan atau kontrak tersebut.
Semua pihak membubuhkan tanda tangan dalam kontrak perilaku.
c) Pisahkan atau keluarkan siswa dari kelas. Strategi ini sebenarnya adalah teknik
time out dari pendekatan behavioral. Ada beberapa pilihan dalam penerapan
intervensi ini. Pertama, meminta siswa tetap di kelas, tetapi dia tidak memiliki
akses terhadap penguatan positif (positive reinforcement). Kedua, mengeluarkan
siswa dari kelas atau area aktivitas. Terakhir, menempatkan siswa di ruang time

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


out yang disediakan oleh sekolah. Tempat time out biasanya bisa juga di belakang
tempat duduk siswa dalam kelas atau di depan kelas. Penempatan time out tidak
boleh terlalu lama karena siswa perlu kembali untuk mengikuti bimbingan
klasikal.
d) Kenakan hukuman atau sanksi. Pemberian hukuman atau sanksi harus menjadi
pilihan yang terakhir dari sekian banyak strategi intervensi. Penegakannya pun
harus berhati-hati mengingat saat ini banyak kasus malpraktik dalam pendidikan
dikarenakan guru memberikan hukuman kepada siswa secara tidak tepat (tidak
etis). Pemberian hukuman bisa berupa pemberian tugas tambahan atau tambahan
berlari atau aktivitas lain yang memiliki makna sanksi. Pemberian hukuman tidak
boleh bersifat membahayakan sikap siswa terhadap pokok persoalan. Artinya,
jangan sampai pemberian hukuman membuat siswa bertambah malas atau malah
tidak mau mengikuti bimbingan klasikal.
Apabila intervensi minor dan moderat tidak mengurangi perilaku yang tidak
diharapkan siswa, maka konselor perlu memanfaatkan sumber daya lain. Pertama,
berikan penanganan siswa yang berperilaku tidak diharapkan melalui pelayanan
bimbingan konseling yang relevan, seperti bimbingan kelompok, konseling individu
ataupun konseling kelompok. Kedua, lakukan konferensi antara konselor dengan
orangtua siswa untuk membahas perilaku siswa. Dalam posisi ini, konselor tidak
diharapkan menyalahkan orangtua sehingga orang tua menjadi difensif. Konselor
cukup mendiskripsikan perilaku yang tidak diharapkan siswa secara objektif kepada
orangtua dan menyampaikan kalau membutuhkan bantuan dan kerja sama dari
orangtua. Hasilnya, biasanya perilaku siswa menjadi berubah.

Daftar Pustaka
Arends, R.I. 2007. Learning to Teach (7th ed.). Diterjemahkan oleh H.P. Soetjipto &
S.M. Soetjipto. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.
Muijs, D., & Reynolds, D. 2008. Effective Teaching: Evidence and Practice (2nd ed.).
Diterjemahkan H.P. Soetjipto & S.M. Soetjipto. Yogyakarta: Penerbit Pustaka
Pelajar.

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


Omrod, J.E. 2014. Educational Psychology: Developing Learners (8th ed.). London:
Pearson Education.
Santrock, J.W. 2004. Educational Psychology (2nd ed.). Diterjemahkan T. Wibowo.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018