Anda di halaman 1dari 13

Nama : Maulina Mawaddah

Nim : 160603001

STRUKTUR ATOM DAN PENGIKAT ATOM

1.1 Atom Bebas

1.2 Table Periodik

1.3 Pengikatan Interatomik

1.4 Pengikatan dan Level-level energi

Prodi Mipa Fisika

Fakultas Teknik
STRUKTUR ATOM DAN PENGIKAT ATOM

Dalam kehidupan sehar-hari khususnya dibidang rekayasa kita sering dihadapkan


kepada kebutuhan akan material yang memiliki sifat-sifat tertentu seperti kekerasan,
kekuatan, kegetasan, respon terhadap magnet, keausan dan lain lain. Rekayasawan
dituntut untuk mendesain, mensintesis dan mengembangkan material baru,
menganalisis kegagalan, dan puncaknya membuat material dengan bangun, bentuk,
dan sifat-sifat yang diinginkan dengan harga terjangkau. Dalam aplikasi sektor utama
adalah mewakili logam, keramik dan polimer. Semua material ini dapat diproduksi
dalam bentuk non-kristalin, sehingga ditampilkan sebuah rongga mirip gelas.
Penggabungan dua atau lebih material yang sifatnya sangat berbeda, sebuah
penemuan yang sudah berusia ratusan tahun, menghasilkan material-material
komposit yang penting: polimer penguatan serat-karbon (CFRP, ceramic fiber
reinforced polymer) dan komposit adalah mutahir. Ajektiva-ajektiva yang
menerangkan perilaku makroskopik material tentunya memainkan peranan yang
sangat penting dalam setiap bahasa. Kita menulis dan menyebut material sebagai
keras, kuat, getas, tahan aus, mampu tempa, magnetik dan lain-lain. Meskipun
terkesan sederhana, istilah-istilah seperti ini memiliki kedalaman kompleksitas ketika
dihadapkan penelitian ilmiah, khususnya ketika kita berusaha mengkaitkan suatu sifat
tertentu dengan struktur internal material. Sifat-sifat material sangat berkaitan dengan
entitas struktural terkecil dalam material dan keadaan-keadaan elektronik yang
menyertainya.

1.1 Atom Bebas


1.1.1 Keempat bilangan kuantum
Rutherford berpendapat bahwa atom adalah nucleus bermuatan positif, yang
membawa bagian terbesar massa atom tersebut, dengan elektron-elektron
mengelompok disekililingnya. Dia mengemukakan bahwa elektron-elektron tersebut
berevolusi mengelilingi nukleus itu dengan orbit-orbit yang berbentuk lingkaran
sehingga gaya sentrifungal dari elektron-elektron yang berevolusi ini tepat sama
dengan gaya tarik-menarik elektrostatik antar nukleus bermuatan positif ini dengan
elektron-elektron bermuatan negatif. Untuk menghindari kesulitan bahwa elektron
yang berputar harus berdasarkan hokum elektrodinamika klasik, terus menerus
memancarkan energi dalam bentuk radiasi elektromagnetik, Bhor pada tahun 1913,
terpaksa menarik kesimpulan bahwa, dari semua orbit yang mungkin ada hanya
beberapa orbit tertentu saja yang diperbolehkan. Kumpulan yang terdiri dari orbit-
orbit yang stabil ini ditandai dengan kriteria bahwa momentum angular dari elektron-
elektron pada orbit-orbit ini dinyatakan oleh ekspresi nh/2π, dimana h adalah
konstanta planck dan n adalah bilangan bulat (n = 1,2,3 dan seterusnya) .
pada perkembangan teori atomik selanjutnya, oleh de Brogli schrodinger dan
Heisenbarg, baru disadari bahwa hukum klasik mengenai dinamika partikel tidak
dapat diterapkan pada partikel fundamental. Bahkan suatu ketidakpastian harus
didalam pemahaman kita akan posisi dan momentum dari suatu partikel kecil, dan
produk dari tingkat ketidakpastian untuk setiap kuantitas terkait degan nilai konstanta
planck (h = 6,6256 x 10−34 J s).
bilangan kuantum terpenting adalah bilangan kuantum utama karena bilangan
ini terutama bertanggug jawab menentukan energi dari elektron. Bilangan kuantum
utama dapat memiliki nilai integral (bilangan bulat) yang dimulai engan n = 1, yaitu
keadaan energi terendah, dan elektron-elektronn yang memiliki nilai ini adalah
elektron yang paling stabil, dimana stabilitas berkurang dengan bertambah besarnya
n.

Contoh soal :

Tentukan bilangan kuantum dari 20Ca !

Penyelesaian nya :

20Ca : 1s 2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2

n : 4 , l : 0, m : 0, s : -1⁄2
1.2 Tabel Periodik
Tabel periodik merupakan cara klasifikasi elemen kimia yang sangat berharga,
dimana elemen merupakan satu kumpulan yang berisi atom-atom sejenis. Dari 107
elemen yang muncul, 90 diantaranya terdapat di alam; sisanya diproduksi di reaktor-
reaktor nuklir atau akselerator-akselerator partikel. Disamping lambang kimia setiap
elemen dicantumkan bilangan atomik (Z) dari elemen bersangkutan, yang dianggap
sebagai jumlah proton dalam inti atau jumlah jumlah elektron yang mengorbit
mengelilingi atom. Elemen-elemen biasanya diklasifikasikan dalam (baris
horizontal), bergantung pada kulit elektron mana yang diisi, dan golongan (kolom
vertikal). Elemen yang terletak dalam satu golongan mempunyai konfigurasi elektron
yang sama pada kulit paling luar, dan sebagai akibat langsungnya, memiliki sifat-sifat
kimia yang sama.
Prinsip penyusunan (Aufbau prinsip) untuk tabel periodik pada dasarnya
bertumpu pada dua kaidah. Pertama, Prinsip Eksklusif Pauli harus diikuti. Kedua
sesuai dengan kaidah Hund mengenai multisiplitas maksimum, keadaan dasar selalu
harus menghasilkan spin maksimum, seperti terlihat dalam gambar berikut :

1.2.1 Azas Afbau

Pengisian elektron pada sub-kulit diisi dari tingkat energi yang lebih rendah ke
tingkat energi yang lebih besar.

Aturan pengisian sub-kulit:


Urutan tingkat energi :

1s2 2s2 2p6 3s 2 3p6 4s 2 3d10 4p6 5s2 4d10 5p6 6s 2 4f 14 5d10 6p6 7s2 5f 14

6d10 7p6

Contoh soal :

Bagaimana konfigurasi elektron dari unsur H, He, N dan Sc?

(Nomor atom H = 1, He = 2, N = 7, dan Sc = 21)

Penyelesaian:

1H : 1s1

2He : 1s 2

7N : 1s2 2s 2 2p3

21Sc : 1s 2 2s2 2p6 3s 2 3p6 4s2 3d

1.2.2 Kaidah Hund

Menurut friedrich Hund (1927), seorang ahli fisika dari jerman mengemukakan
aturan pengisian elektron pada orbital yaitu :

Pengisian elektron pada orbital yang satu sub kulit, mula-mula elektron mengisi
satu di tiap orbital, baru kemudian berpasangan.

Contoh soal :

Tentukan diagram orbital untuk unsur-unsur berikut :


1. 7N
2. 9F
Penyelesaian :
1. 7N : 1s 2 2s 2 2p3

2. 9F : 1s 2 2s 2 2p5

1.2.3 prinsip eksklusif pauli


Asas larangan Pauli adalah prinsip mekanika kuantum yang dirumuskan oleh
fisikawan Austria Wolfgang Pauli pada tahun 1925. Dalam bentuk yang paling
sederhana untuk elektron pada atom tunggal, aturan ini menyatakan bahwa tidak ada
dua elektron yang memiliki bilangan kuantum yang sama. Jadi bila n, l, dan ml kedua
elektron semuanya sama, ms haruslah berbeda, sehingga kedua elektron tersebut
memiliki spin berlawanan.
Aturan ini dikemukakan oleh Wolfgang Pauli pada tahun 1926. Yang
menyatakan “Tidak boleh terdapat dua elektron dalam satu atom dengan empat
bilangan kuantum yang sama”. Orbital yang sama akan mempunyai bilangan
kuantum n, l, m, yang sama tetapi yang membedakan hanya bilangan kuantum spin
(s). Dengan demikian, setiap orbital hanya dapat berisi 2 elektron dengan spin (arah
putar) yang berlawanan. Jadi, satu orbital dapat ditempati maksimum oleh dua
elektron, karena jika elektron ketiga dimasukkan maka akan memiliki spin yang sama
dengan salah satu elektron sebelumnya.

Contoh soal :

Tentukan bilangan kuantum dan diagram orbital yang dimiliki oleh atom-atom
berikut:

a. 19K

b. 20Ca

Penyelesaian :
a. 19K = (AR) 4s1
n = 4, l = 0, m = 0, dan s = + 1⁄2

b. 20Ca = (AR) 4s2


n =4, l = 0, m = 0 dan s = - 1⁄2

1.3 Pengikatan interatomik pada material

Materi umumnya berbentuk tiga wujud yaitu wujud padat, cair dan gas. Pada
saat atom-atom berubah langsung dari wujud gas (desublimasi) atau wujud cair
(solidifikasi) ke wujud padat (solid) yang biasaya lebih rapat, atom-atom tersebut
membentuk agregat-agregat didalam ruang tiga dimensi. Gaya-gaya pengikatan
perlahan-lahan muncul ketika atom-atom didekatkan satu sama lain. Kadang-kadang
gaya-gaya ini memiliki arah tertentu di dalam ruang. Sifat dasar dari gaya-gaya ini
berdampak langsung pada struktur padatan yang terjadi dan karenanya berdampak
langsung pada sifat-sifat fisis material. Titik leleh memberikan petunjuk langsung
yang berguna mengenai jumlah energi thermal yang digunakan untuk memutuskan
ikatan interatomik atau interionik ini. Jadi sejumlah padatan meleleh pada temperatur
relatif rendah ( titik leleh timah = 232 C) sedangkan banyak jenis keramik meleleh
pada temperatur sangat tinggi (titik leleh alumina melampaui 2000 C).
biasanya kita mengenal empat tipe pengikatan utama dalam material yaitu,
pegikatan metalik, pengikatan ionik, pengikatan kovalen dan pengikatan yang relatif
jauh lebih lemah yaitu pengikatan van der waals. Didalam suatu logam, setiap
elektron valensi “bebas” terbagi rata keseluruh atom bukannya terikat pada suatu
atom tertentu, dan membentuk bagian dari apa yang disebut sebagai “gas elektron”
yang berputar-putar secara acak ditengah-tengah susunan yang teratur dari inti-inti
elektron bermuatan positif, atau kation (gambar 1.3a). penerapa suatu gradient
potensial listrik akan menyebabkan “gas” tersebut terbawa melalui struktur tanpa
hambatan.
Gambar 1.3 skema (a) pengikatan metalik, (b) pengikatan ionik, (c) pegikatan
kovalen, dan (d) pengikatan van der waals.

Sehingga jelaslah mengapa konduktivitas listrik sangat baik pada keadaan


metalik. Ikatan metalik berasal dari tarik-menarik antara kation dan elektron bebas
dan, sesuai perkiraan timbullah komponen tolak menolak dari gaya ketika kation
didekatkan. Ikatan ionik terjadi apabila elektron ditransfer dari atom-atom elemen
metalik aktif ke atom-atom elemen nonmetalik aktif, sedemikian rupa sehingga ion-
ion resultannya dapat memilki kulit yang stabil. Sebagai contoh struktur ionik
magnesia (MgO), suatu oksidasi keramik terbentuk ketika setiap atom magnesium (Z
= 12) kehilangan elektron dari kulit L nya (n = 2) dan elektron-elektron ini diikat oleh
sebuah atom oksigen (Z = 8), menghasilkan oktet stabil pada kulit L nya (gambar
1.3). secara keseluruhan, muatan-muatan ionik tersebut berada dalam kesetimbangan
dan struktur nya secara listrik netral (1.3b)

Pemakaian bersama elektron valensi merupakan ciri utama dari tipe


pengikatan primer kuat yang ketiga. Ikatan-ikatan kovalen terjadi ketika elektron-
elektron valensi dengan spin berlawanan dari atom-atom tetangganya dapat
berpasang-pasangan di dalam orbital-orbital berarah spasial yang bertumpang tindih,
sehingga setiap atom dapat mencapai konfigurasi elektronik yang stabil ( gambar
1.3c). jenis pengikatan yang terakhir ditimbulkan oleh gaya-gaya van der waals yang
terjadi ketika atom-atom atau gugus-gugus atom yang berdekatan bertindak sebagai
dipol listrik. Misalkan dua atom dengan perbedaan ukuran sangat besar berkombinasi
membentuk sebuah molekul sebagai hasil pengikatan kovalen. “awan” elektron yang
terbentuk untuk keseluruhan molekul dapat dikatakan berbentuk seperti buah pir dan
memiliki distribusi muatan elektron yang tidak simetris. Sebuah dipol listrik telah
terjadi sehingga gaya-gaya tarik menarik elektrostatik searah yang lemah bisa hadir
didalam agregat berisi moleku-molekul seperti itu (gambar 1.3d).

1.4 pengikatan dan level level energi

Jika seseorang membayangkan atom-atom dikumpulkan bersama-sama secara


uniform untuk membentuk, misalnya sebuah struktur metalik, maka ketika jarak antar
atom yang berdekatan mendekati nilai interatomik, elektron-elektron luar tidak lagi
berada disekitar atom individu. Begitu elektron-elektron luar tersebut tidak dapat lagi
dianggap terikat pada atom-atom individu tetapi telah bebas bergerak ke seluruh
bagian logam maka, berdasarkan prinsip eksklusi pauli, elektron-elektron ini tidak
dapat mempertahankan setiap bilangan kuantum yang sama dengan yang sebelumnya
mereka miliki ketika masih menjadi bagian dari atom. Akibatnya elektron-elektron
bebas tersebut tidak dapat lagi memiliki lebih dari dua elektron spin berlawanan
energi tertentu. Energi-energi dari elektron-elektron bebas ini terdistribusi dalam
suatu rentang tertentu yang bertambah pada saat atom-atom ini terkumpul
membentuk logam. Jika atom-atom tersebut ketika terkumpul bersama harus
membentuk struktur metalik yang stabil, maka energi rata-rata (mean energy) dari
elektron-elektron bebas nya harus lebih rendah dari pada energi dari level elektron
didalam atom bebas tempat elektron-elektron tersebut berasal. Gambar 1.4
memperlihatkan meluasnya suatu level elektron atomic ketika atom didekatkan, dan
juga penurunan energi elektron yang menyertai nya, Sejauh mana terjadi nya
penuruan energi rata-rata dari elektron-elektron terluar ini menentukan stabilitas
logam. Jarak kesetimbangan antar atom didalam suatu logam adalah jarak dimana
untuk jarak tersebut setiap kali terjadi pengurangan pada jarak atomik akan terjadi
kenaikan interaksi tolak-menolak antar ion-ion positif ketika ion-ion ini dipaksa
untuk berdekatan satu sama lain, yang mungkin akan lebih besar dari pada penurunan
energi elektron rata-rata.

Dalam struktur metalik, elektron bebas, karena alasan-alasan diatas harus


dianggap menempati sederetan level-level energi diskrit dengan interval yang sangat
dekat. Setiap level atomik yang pecah menjadi sebuah pita memiliki level energi yang
sangat banyak dengan banyak nya N atom didalam bagian logam. Sebagaimana yang
telah diuraikan sebelum nya, hanya dua elektron dengan spin berlawanan aja yang
dapat menempati salah satu level dari level-level ini, sehingga satu pita dapat
mengandung maksimum 2N elektron.

Gambar 1.4 meluasnya level energi atomik dalam sebuah logam

Jelas bahwa pada keadaan energi terendah logam semua level energi yang rendah
telah terisi.
Celah energi antar level-level yang berurutan tidak konstan akan tetapi
berkurang dengan meningkat nya energi dari level-level tersebut. Ini biasanya
dinyatakan dalam kerapatan dari keadaan elektronik N(E) sebagai fungsi dari energi
E. kuantitas N(E)dE memberikan banyak nya level energi didalam suatu interval
energi yang kecil dE, dan untuk elektron bebas merupakan fungsi parabolik dari
energi seperti diperlihatkan pada gambar 1.5.

Karena hanya dua elektron yang dapat menempati setiap level, energi dari
elektron yang menempati level energi rendah tidak dapat ditingkat kan terkecuali
elektron tersebut diberi cukup energi sehingga dapat melompat kesebuah level
kosong dibagian atas pita. Lebar energi 1 dari pita-pita ini umum nya sekita 5 atau 6
eV, sehingga harus diberi masukkan energi yang memadai pada logam agar dapat
mengeksitasi seuah elektron yang letaknya rendah. Energi-energi yang demikian
tidak muncul pada temperatur normal, dan hanya elektron yang energi nya mendekati
energi dari elektron dipuncak pita (dikenal sebagai level Fermi dan permukaan Fermi)
yang dapat dieksitasi, dan oleh karena itu hanya sedikit elektron bebas didalam logam
yang dapat ambil bagian dalam proses-proses termal. Energi dari leve Fermi EF
bergantung pada jumlah elektron N per volume satuan V, dan dinyatakan oleh (h2 /
8m) (3N / πV )2/3 .

Elektron didalam pita metalik harus dianggap bergerak secara kontinu melalui
struktur dengan energi yang tergantung dilevel-level mana yang ditempati elektron itu
pada pita. Dari sudut mekanika kuantum, pergerakan elektron yang seperti ini dapat
dinyatakan dalam gelombang dengan panjang gelombang yang ditentukan oleh energi
h
dari elektron itu berdasarkan hubungan de Broglie ℷ = mv , dimana h adalah konstanta
planck, dan m dan v masing-masing adalah massa dan kecepatan dari elektron yang
bergerak . semakin besar energi elektron, semakinn besar pula momentum mv
elektron itu, dan akibatnya semakin pendeklah panjang gelombang dari fungsi
gelombang ditunjau dari apakah gerakan elektron itu dapat dijabarkan. Karena
pergerakan elektron memilik aspek mirip gelombang ini, elektron yang bergerak
dapat menimbulkan, seperti gelombang optik, efek-efek difraksi.
Satu elektron volt adalah energi kinetic yang diperoleh elektron apabila
bergerak bebas melalui perbedaan potensial sebesar 1 volt ( 1 eV = 1,602 x 10−19 J; 1
eV per partikel = 23050 x 4,186 J per mol partikel) .

Gambar 1.5 (a) kerapatan level-level energi diplot terhadap energi. (b) pengisian level
energi oleh elektron-elektron pada temperatur nol absolut. Pada temperature biasa
beberapa dari elektron tersebut tereksitasi secara termal kel level-level energi yang
lebih tinggi dari pada level-level yang dimiliki oleh Emaks seperti yang diperlihatkan
oleh kurva yang terputus pada (a).
Daftar pustaka

Cottrel, A .H (1975). Introduction to Metallurgy. Edward Arnold, London.

Huheey, J. E. (1983). Inorganic Chemistry. edisi ketiga. Harper and Row, New York.

Hume-Rothery, W,. Smallman, R. E dan Haworth, C. W. (1975). The Structure of


Metals and Alloy, Edisi kelima (dicetak ulang 1988). Institute of Materials, London.

Puddhepatt, R. J . dan Monaghan, P. K. (1986). The Periodic Table of Elements.


Clarendon prees, Oxford.

Van Vlack, L. H. (1985). Elements of Materials Science, edisi kelima. Addison-


Wesley, Reading, MA.