Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masa nifas atau puerperium adalah masa yang dimulai sejak satu jam

setelah plasenta lahir sampai dan berakhir minggu ke-6 atau berlangsung selama

42 hari, selama masa nifas ibu akan mengalami banyak perubahan, baik secara

fisik maupun psikologis, sebenarnya sebagian besar bersifat fisiologis, namun jika

tidak dilakukan pendampingan melalui asuhan kebidanan maka tidak menutup

kemungkinan akan terjadi keadaan patologis. (WHO, 2014).

Asuhan selama periode nifas perlu mendapat perhatian karena masalah

kesehatan pada ibu pasca persalinan menimbulkan dampak yang luas, di tinauj

dari aspek kehidupan menjadi salah satu parameter kemajuan bangsa dalam

penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Angka kematian ibu (AKI) adalah

banyaknya wanita yang meninggal dari suatu akibat kematian terkait dengan

gangguan pada saat kehamilannya dan cara penanganannya yang lambat, sekitar

60% Angka Kematian Ibu terjadi pada periode post partum. (Dewi Maritalia,

2012)

Berdasarkan data ASEAN dengan jumlah kematian ibu tiap tahunnya

mencapai 450/100.000 kelahiran hidup, Faktorpenyebab tingginya AKI adalah

perdarahan (45%), terutama perdarahan post partum. Selain itu adalah keracunan

kehamilan (24%), infeksi (11%), dll (30%) (Depkes, 2014).Berdasarkan (SDKI)

2012, masalah kesehatan ibu dan anak (KIA) masih menjadi masalah kesehatan di

Indonesia hal ini dikarenakan masih tingginya AKI (angka kematian ibu), tercatat

1
359/100.000 kelahiran hidup di Indonesia. Berdasarkan data dinas kesehatan

provinsi Kalimantan Timur jumlah kematian ibu terdapat 177/100.000 kelahiran

hidup. (Dinkes provinsi, 2014).

Data dari dinas kesehatan kota Samarinda pada tahun 2016 terdapat 40

jiwa kematian. Penyebab langsung dari kematian maternal terkait kehamilan dan

persalinan yaitu disebabkan oleh hipertensi dalam kehamilan, perdarahan, infeksi,

partus lama abortus dan lain-lain. (Dinkes kota, 2016). Data ibu bersalin/nifas di

kecamatan dan puskesmas kabupaten/kota samarinda sebanyak 13.921 jiwa.

(Dinkes kota, 2016). Data Klinik Kartika Jaya jumlah ibu bersalin/nifas pada

tahun 2017 sebanyak 220 jiwa dan jumlah ibu dengan luka perineum derajat II

sebanyak 43 jiwa. Tidak ada angka kematian ibu. (Data Klinik Kartika Jaya).

Sebagian besar penyebab langsung kematian ibu 90% terjadi saat

persalinan dan setelah persalinan (masa nifas). Penyebab langsungnya antara lain

akibat perdarahan (28%), eklampsia (24%), dan infeksi (11%). Sedangkan

berdasarkan laporan rutin PWS KIA tahun 2007, penyebab langsung kematian ibu

adalah karena perdarahan (39%), eklampsia (20%) infeksi (7%) dan lain-lain

(33%). (Sulistyawati, 2010).

1
3

Sebagian besar penyebab langsung kematian ibu 90% terjadi saat persalinan dan setelah

persalinan (masa nifas). Penyebab langsungnya antara lain akibat perdarahan (28%), eklampsia

(24%), dan infeksi (11%). Sedangkan berdasarkan laporan rutin PWS KIA tahun 2007, penyebab

langsung kematian ibu adalah karena perdarahan (39%), eklampsia (20%) infeksi (7%) dan lain-

lain (33%).(Sulistyawati, 2010).

Pada Negara berkembang penyebab kematian ibu akibat infeksi nifas

masih jauh dari sempurna, maka resiko terjadi infeksi nifas masih sangat besar

dan ini tidak boleh dianggap mudah karena dapat menyebabkan kematian pada

ibu.Oleh karena itu sangat penting bagi ibu nifas melakukan perawatan pada luka

perineumnya, untuk menghindari suatu hal yang tidak di inginkan.(Salmina,

2008).

Komplikasi masa nifas adalah keadaan abnormal pada masa nifas yang
disebabkan oleh masuknya kuman-kuman ke dalam alat genitalia pada waktu
persalinan dan nifas.oleh karena itu peran dan tanggung jawab bidan sangat
diperlukan dalam memberikan asuhan pada masa nifas. Adapun peran dan
tanggung jawab bidan dalam masa nifas yaitu memberikan dukungan secara
berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk
mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas (varney,2008).
Faktor penyebab terjadinya infeksi nifas berasal dari perlukaan pada jalan
lahir yang merupakan sarana baik untuk berkembangnya kuman.Maka dari itu
perlu di lakukan perawatan perineum.Perawatan perineum adalah pemenuhan
kebutuhan untuk menghindari terjadinya infeksi pada daerah antara paha yang
dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran plasenta
sampai dengan kembalinya organ reproduksi seperti sebelum hamil.(Refini,
2011).
4

Perawatan luka jahitan pada perineum sangatlah penting karena luka bekas
jahitan jalan lahir ini dapat menjadi pintu masuk kuman dan menimbulkan infeksi,
Seperti ibu menjadi demam, luka basah dan jahitan terbuka, bahkan ada yang
mengeluarkan bau tidak enak dari vagina. Perawatan luka jalan lahir dapat di
mulai sesegera mungkin 2 jam setelah persalinan normal. Dengan cara melatih ibu
untuk mobilisasi (bergerak duduk dan latihan berjalan). (Refini, 2011).
Pada perawatan luka perineum di perlukan perawatan secara Farmakologi
yaitu dengan memberikan obat Antibiotik oral 500mg dengan dosis 3 kali 1
perhari. (Susilo Damarini, 2013). Selain dengan cara Farmakologi, terdapat juga
perawatan luka secara Non-Farmakologi dengan menggunakan air rebusan daun
sirih yang memiliki sifat kimia yang mengandung minyak atsiri, terdiri dari
hidroksi kavikol, kavibetol, estragol, eugenol, metileugenol, karvakrol. Sepertiga
dari minyak atsiri = fenol,sebagiankavikol memiliki daya pembunuh bakteri lima
kali lipat dari fenol biasa. (Moeljanto 2003 dalam Celly, 2010).
Menurut penelitian yang dilakukan Ari Kurniawan, Anik Kurniawati pada
tahun 2015 menunjukan bahwa kesembuhan luka perineum pada responden yang
menggunakan air rebusan daun sirih cenderung lebih cepat dibandingkan
responden yang tidak menggunakan daun sirih, hal ini dikarenakan kandungan
kimia dari daun sirih yang dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Daun
sirih mengandung saponin yang memacu pembentukan kolagen, yaitu protein
struktur yang berperan dalam proses penyembuhan luka. (Moeljanto 2003 dalam
Celly, 2010).
Menurut penelitian yang dilakukan Tri Puspa Kusumaningsih dkk pada
tahun 2016 menunjukan bahwa daun sirih merupakan obat tradisional yang sangat
bermanfaat bagi kesehatan antara lain mengandung 4,2% minyak esensial yang
sebagian besar terdiri dari kavikol, estragol. Pada seluruh bagian
tanamanmengandung arecoline, daunnya mengandung eugenol yang mampu
membasmi jamur Candila albicans, dan bersifat analgetik sehingga dapat
meredakan rasa nyeri pada luka.
5

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah studi kasus


ini adalah Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas Normal dengan perawatan luka
perineum derajat II menggunakan rebusan air daun sirih di Klinik Kartika Jaya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan studi kasus ini adalah:
Bagaimana Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas Normal dengan luka perineum
derajat II di Klinik Kartika Jaya?

C. Tujuan Studi Kasus


1. Tujuan Umum

Mampu memberikan asuhan secara holistik terhadap ibu nifas dengan


perawatan luka perineum derajat II

2. Tujuan Khusus
a) Mampu menganalisa data kasus luka perineum pada ibu nifas di Klinik
Kartika Jaya
b) Mampu melakukan penatalaksanaan pada kasus luka perineum pada ibu
nifas
c) Mampu membahas faktor penyebab pada kasus luka perineum pada ibu
nifas di Klinik Kartika Jaya
d) Mampu melakukan identifikasi dan menetapkan kebutuhan yang
memerlukan penanganan segera pada ibu nifas
e) Mampu melakukan perencanaan asuhan yang menyeluruh pada ibu nifas
f) Mampu melakukan rencana yang telah dibuat pada ibu nifas
g) Mampu melakukan evaluasi pada ibu nifas
D. Manfaat
1. Bagi Ilmu Pengetahuan
Studi kasus ini untuk digunakan sebagai masukan dan pengetahuan tentang
ibu nifas
6

2. Bagi Ibu (Responden)


Untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan wawasan ibu khususnya
tentang perawatan kebidanan pada masa nifas
3. Bagi Bidan
Sebagai masukan dan bahan informasi untuk meningkatkan upaya
pencegahan dan penanganan pada luka perineum ibu nifas di Klinik Kartika
Jaya
4. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi sumber bacaan bagi mahasiswi
Akademi Kebidanan Permata Husada dalam menerapkan ilmu dan sebagai
acuan penelitian berikutnya.
5. Bagi Peneliti
Bahwa hasil laporan ini dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan
tentang perawatan masa nifas, dan sebagai bahan perbandingan antara teori
yang di peroleh dibangku kuliah dengan lahan praktek.
E. Ruang Lingkup
1. Ruang lingkup Materi
Ruang lingkup ini berfokus pada bidang studi Asuhan Kebidanan pada ibu
nifas dengan luka jahitan perineum derajat II
2. Ruang lingkup Responden
Ruang lingkup ini adalah ibu nifas dengan luka jahitan perineum derajat II
dari 2 jam – 7 hari post partum
3. Ruang lingkup Waktu
Ruang lingkup ini dilakukan dari bulan desember sampai januari 2017
4. Ruang lingkup Tempat
Ruang lingkup ini dilakukan di Klinik Kartika Jaya, merupakan salah satu
Klinik yang memiliki fasilitas yang memadai.
F. Keaslian Penelitian
Berdasarkan pencarian mengenai hasil penelitian.Belum pernah dilakukan
penelitian yang berjudul Asuhan Kebidanan Pada ibu Nifas dengan perawatan
7

luka perineum derajat II dengan menggunakan daun sirih di Klinik Kartika Jaya.
Adapun bahan pertimbangan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
Nama Judul Metode Analisis Hasil
Asuhan
Observasi Kelompok
Ari Keefektifan Bereksperimen
Quasi dengan
Kurniarumdan dengan
Penyembuhan
esperiment perlakuan
Anik mengelompokan
Luka daun sirih
Kurniawati Anggota.
Perineum lebih cepat
2015 Kelompok
pada ibu nifas kering di
dengan
dengan daun bandingkan
perlakuan daun
sirih dengan
sirih dan
kelompok
kelompok
dengan
dengan kontrol
perlakuan
bethadine
kontrol
bethadine

Asmuji dan Model Pendekatan Tehnik Ibu lebih


Diyan edukasi kualitatif purposive mengerti cara
Indriyani postnatal dan sampling, merawat luka
melalui kuantitatif wawancara, perineumnya,
2014
pendekatan observasi Luka lebih
family cepat kering
centered dalam waktu
maternity 4-5 hari
care
8

Nandika Efektivitas Deskriptif observasi 2 partisipan yang


Pravita Cahya, vulva analitik menggunakan air
Adinda Putri hygiene rebusan daun sirih
Sari Dewi dengan air sembuh dalam
S.ST ,. M.Keb rebusan daun waktu 6 hari
sirih untuk dengan luka baik
mempercepa dan 1 partisipan
t sembuh dalam
penyembuha waktu 8 hari
n luka dengan luka
perineum kurang baik
pada ibu (menggunakan
nifas betadhine)
Betel Leaf Quasy Observasi Sangat
Tri Puspa
Decoction as Experiment dan merekomendasika
Kusumaningsi
an al wawancar n ramuan rebusan
h, syarief
Antiseptic a daun sirih sebagai
Thaufik,
for Perineal antiseptik alami
Ngadiyono
Wound dalam
2016
Healing penyembuhan
luka perineum
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Masa Nifas
1. Definisi Nifas
Masa nifas atau puerperium adalah masa setelah pasca persalinan selesai
sampai 6 minggu atau 42 hari.Setelah masa nifas, secara perlahan organ
reproduksi di dalam kandungan kembali pulih seperti sebelum
hamil.Perubahan ini disebut involusi. (Dewi Maritalia, 2012). Masa nifas
adalah waktu yang diperlukan ibu untuk sembuh dari persalinan.Perhatiakan
bahwa ini tidak berarti tepat kembali ke keadaan sebelum hamil paling sedikit
6-7 minggu dinilai sampai kotoran dari secret vagina sudah bersih (Sinclair,
2011).
Puerperium adalah periode 6 minggu setelah kelahiran bayi ketika
perubahan fisiologis yang sangat besar terjadi karena tubuh ibu kembali ke
keadaan sebelum hamil.Puerperium ini adalah waktu ketika ibu mempelajari
cara merawat bayinya dan mulai beradaptasi dengan peran sebagai ibu
(Holmes, dkk, 2011). Masa nifas (puerperium) di mulai setelah kelahiran
plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan
sebelum hamil (Dewi, 2011).
Masa nifas disebut juga postpartum atau puerperium, adalah masa
dimana sesudah persalinan selesai, dilanjutkan dengan masa pemulihan dan
penyembuhan, serta kembalinya alat-alat kandungan atau reproduksi seperti
sebelum hamil yang lamanya 6 minggu pasca persalinan (Jannah, 2011).
Faktor penyebab terjadinya infeksi nifas biasa berasal dari perlukaan
pada jalan lahir (rupture perineum) yang merupakan sarana baik untuk
berkembangnya kuman.Maka dari itu perlu di lakukan perawatan
perineum.Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk
meminimalisir terjadinya infeksi pada daerah paha yang dibatasi vulva dan
anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran plasenta sampai dengan
kembalinya organ reproduksi seperti sebelum hamil.(Refini, 2011).

9
10

Pada masa nifas yang berlangsung selama kurang lebih 40 hari,


kebersihan vagina perlu mendapat perhatian lebih, apalagi jika adanya
perlukaan pada perineum, vagina merupakan bagian dari jalan lahir yang
dilewati janin pada saat proses bersalin. Kebersihan perineum yang tidak
terjaga dengan baik pada masa nifas dapat menyebabkan timbulnya infeksi
pada perineum itu sendiri yang dapat meluas sampai ke rahim. (Dewi
Maritalia, 2011).
B. Faktor –faktor terjadinya Ruptur perineum
1. Paritas
Persalinan adalah anak yang dilahirkan seorang ibu.Jumlah anak yang
dilahirkan berpengaruh terhadap kesehatan ibu.Kecenderungan kesehatan ibu
yang berparitas rendah lebih baik dari yang berparitas tinggi. Paritas dapat di
bedakan menjadi (Prawirohardjo, 2009) :
a). Primipara adalah seorang wanita yang melahirkan bayi hidup untuk
pertama kalinya.
b). Multipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi beberapa kali
(sampai 5 kali).
c). Grandemultipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi 6 kali
atau lebih, hidup ataupun mati.
2. Jarak Kelahiran
Jarak kelahiran adalah rentang waktu antara kelahiran anak sekarang
dengan kelahiran kurang dari dua tahun tergolong resiko tinggi karena dapat
menimbulkan komplikasi pada persalinan.Jarak kelahiran antara 2-3 tahun
merupakan jarak kelahiran yang lebih aman bagi ibu dan janin. Begitu juga
dengan keadaan jalan lahir yang mungkin pada persalinan terdahulu
mengalami robekan perineum derajat III dan IV, sehingga proses pemulihan
belum sempurna dan robekan perineum dapat terjadi. (Depkes dalam
Rosdiana, 2013).
3. Berat badan bayi
Menurut Winkjosastro berat badan lahir pada janin yang berat badannya
melebihi 4000 gram akan menimbulkan penyulit dalam proses persalinan,
11

apabila di jumpai kepala yang besar dapat menyebabkan rupture perineum /


perlukaan jalan lahir.
Tingkat atau derajat luka jahitan perineum dibagi menjadi 4 (Sulistyawati,
2010).
1. Derajat I : Robekan hanya terjadi pada selaput lender vagina dengan
atau tanpa mengenai kulit perineum sedikit
2. Derajat II: Robekan mengenai mukosa vagina, kulit perineum, otot
perineum
3. Derajat III : Robekan yang terjadi mengenai seluruh perineum sampai
mengenai otot-otor sfingter ani
4. Derajat IV: Robekan yang terjadi mengenai mukosa vagina, komisura
posterior, kulit perineum, otot sfingter ani, dinding depan
rectum.
C. Perawatan Luka Perineum
Kebersihan adalah keadaan bebas dari kotoran, termasuk diantaranya, debu,
virus, bakteri patogen dan bahan kimia berbahaya.Kebersihan merupakan salah
satu tanda dari keadaan hygiene yang baik. Kita sebagai manusia perlu menjaga
kebersihan lingkungan dan kebersihan diri agar kita tetap sehat, tidak kotor dan
menularkan kuman penyakit bagi diri sendiri maupun orang lain. Kebersihan
badan atau personal hygiene meliputi mencuci tangan, mandi, menyikat gigi,
berganti pakaian. Tingkat kebersihan antara setiap orang berbeda-beda satu sama
lain. (Dewi, 2011).
1. Beberapa alasan perlunya meningkatkan kebersihan perineum pada masa nifas
adalah (Dewi, 2011) :
a). Adanya darah dan cairan yang keluar dari vagina selama masa nifas yang
biasa disebut lochea
b). Letak vagina berdekatan dengan saluran buang air kecil (meatus eksternus
uretra) dan buang air besar (anus) yang setiap hari kita lakukan. Kedua
saluran tersebut merupakan saluran pembuangan dan banyak mengandung
mikroorganisme patogen.
12

c). Adanya luka/trauma di daerah perineum yang terjadi akibat proses


persalinan dan bila terkena kotoran dapat terjadi infeksi
d). Vagina merupakan organ terbuka yang mudah dimasuki mikroorganisme
yang dapat menjalar ke rahim.
2. Untuk menjaga kebersihan perineum pada masa nifas dapat dilakukan dengan
cara (Dewi, 2011) :
a). Setiap habis BAK atau BAB siramlah perineum dengan air bersih.
b). Setiap selesai BAK atau BAB siramlah perineum dengan rebusan air daun
sirih (Penelitian menurut Ari Kurniarum, Anik Kurniawati, 2015).
Basuh dari arah depan ke belakang hingga tidak ada sisa kotoran di
sekitar perineum baik itu urin maupun feses yang mengandung
mikroorganisme dan bias menimbulkan infeksi pada luka jahitan.
c). Mengganti pembalut setiap selesai membersihkan perineum agar
mikroorganisme yang ada pada pembalut tersebut tidak ikut terbawa ke
vagina yang baru di bersihkan.
d). Keringkan vagina dengan handuk bersih dan lembut setiap kali selesai
membasuh, agar luka dalam keadaan tetap kering dan kemudian kenakan
pembalut yang baru. Pembalut harus di ganti setiap selesai BAK atau BAB
atau minimal 3 jam sekali atau bila ibu sudah merasa tidak nyaman/penuh
Kesembuhan luka perineum pada ibu nifas yang menggunakan air rebusan
daun sirih cenderung lebih cepat dibandingkan ibu nifas yang tidak
menggunakan daun sirih, hal ini dikarenakan kandungan kimia dari daun sirih
yang dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Daun sirih mengandung
saponin yang memacu pembentukan kolagen, yaitu protein struktur yang
berperan dalam proses penyembuhan luka. (Moeljanto 2003 dalam Celly,
2010).
Susilo Damarini dkk, 2013 menunjukan bahwa daun sirih mempunyai
kandungan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan antara lain mengandung
acreoline di seluruh bagian tanaman. Daunnya mengandung eugenol yang
13

mampu membasmi jamur Candila albicans, dan bersifat analgetik sehingga


dapat meredakan rasa nyeri pada luka.(Prawirohardjo, 2007).
Tri Puspa Kusumaningsih dkk, 2016 juga menyatakan bahwa didapatkan
kandungan senyawa yang bersifat sebagai antibiotik.Menurut Elya (2002)
infusum daun sirih mempunyai efek antijamur. Berdasarkan karakteristik
tersebut, daun sirih dapat masuk sebagai golongan antiseptik ideal, sesuai
dengan percobaan laboratorium yang telah dilakukan dan hasil penelitian
penelitian yang dilakukan terhadap proses penyembuhan luka perineum pada
ibu nifas.
perawatan luka secara Non-Farmakologi dengan menggunakan air rebusan
daun sirih yang memiliki sifat kimia yang mengandung minyak atsiri, terdiri
dari hidroksi kavikol, kavibetol, estragol, eugenol, metileugenol, karvakrol.
Sepertiga dari minyak atsiri = fenol,sebagiankavikol memiliki daya pembunuh
bakteri lima kali lipat dari fenol biasa. (Moeljanto 2003 dalam Celly, 2010).
3. Efek zat aktif dari daun sirih (Arief Hariana, 2009) :
a). Fenol, sebagai zat antioksidan yang bisa membantu menjaga atau
mempertahankan sel tubuh. Kandungan fenol dalam sifat antiseptik daun
sirih lima kali lebih efektif dibandingkan dengan fenol biasa.
b). Kavikol, sebagai antiseptic
c). Eugenol, mematikan jamur Candida albicans, anti kejang, analgesic,
anestetik, pereda kejang pada otot, penekan pengendali gerak.
d). Acreoline, merangsang saraf pusat, merangsang daya pikir, meningkatkan
gerak peristaltik, meredakan sifat mendengkur.
e). Tanin, astringent (mengurangi sekresi pada perineum), penekanan
kekebalan tubuh, pelindung hepar, anti diare, anti mutagenil.
4. Prosedur pelaksanaan
Daun Sirih hijau sebanyak 25-30 lembar di rebus bersama 300 ml air
dengan waktu 10-15 menit, rebus sampai air rebusan tersisa 50 ml, dinginkan
lalu gunakan dengan cara mencebokan ke daerah perineum sebanyak 20 ml
per hari, 150-170 ml per 7 hari, di gunakan 2 kali dalam 1 hari. (Tri Puspa
Kusumaningsih, dkk. 2016).
14

5. Tanda dan Gejala Infeksi yang bisa dialami ibu pada masa nifas apabila tidak
melakukan perawatan luka perineum dengan baik (Dewi, 2011).

a). Suhu tubuh pada aksila melebihi 37,5 derajat celcius

b). Ibu menggigil, pusing dan mual


c). Keputihan (lochea) yang berbau tidak sedap
d). Keluar cairan seperti nanah dari vagina yang disertai bau dan rasa nyeri
e). Terasa nyeri di perut
f). Terjadinya perdarahan pervaginam yang lebih banyak dari biasanya

6. Perubahan sistem reproduksi pada masa nifas normal

1). Uterus

a). Involusi uterus

Involusi merupakan suatu proses kembalinya uterus pada kondisi


sebelum hamil. Dengan involusi uterus ini, lapisan luar dari desidua
yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi neurotik (mati).
Perubahan ini dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan palpasi
untuk meraba dimana TFU-nya (tinggi fudus uteri). Menurut
Sulistyawati (2009) :
b). Pada saat bayi lahir, fundus uteri setinggi pusat dengan berat 1000
gram.
c). Pada akhir kala III, TFU teraba 2 jari di bawah pusat.
d). Pada 1 minggu post partum, TFU teraba pertengahan pusat simpisis
dengan berat 500 gram.
e). Pada 2 minggu post partum, TFU teraba di atas simpisis dengan
berat 350 gram.
f). Pada 6 minggu post partum, fundus uteri mengecil (tak teraba)
dengan berat 50 gram.
15

2). Lokhea
Lokhea adalah ekskreasi cairan rahim selama masa nifas.Lokhea
mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang lepas dari dalam
uterus.Lokhea mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat
organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada
vagina normal. Lokhea berbau amis atau anyir dengan volume yang
berbeda-beda pada setiap wanita. Lokhea yang berbau tidak sedap
menandakan adanya infeksi (Sulistyawati, 2009).
Lokhea dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan warna dan waktu
keluarnya menurut Varney (2008) :
a). Lokhea rubra
Lokhea rubra adalah lokhea berwarna merah karena
mengandung darah. Ini adalah lokhea pertama yang mulai keluar
segera setelah kelahiran dan terus berlanjut selama 2-3 hari pertama
post partum. Lokhea rubra banyak mengandung darah dan jaringan
desidua.

b). Lokhea serosa

Lokhea ini mulai terjadi sebagai bentuk yang lebih pucat dari
lokhea rubra, serosa, dan merah muda. Lokhea ini berhenti sekitar 7
hingga 8 hari, kemudian dengan berwarna merah muda, kuning atau
putih hingga menjadi transisi menjdai lokhea alba. Lokhea serosa
banyak mengandung cairan serosa, jaringan desidua, leukosit,eritrosit.
c). Lokhea alba
Lokhea ini mulai terjadi pada hari kesepuluh post partum dan
hilang sekitar periode dua hingga empat minggu. Pada beberapa
wanita, lokhea ini tetap ada pada saat pemeriksaan post partum. Warna
lokhea alba putih krem dan banyak mengandung leukosit dan sel
desidua.
Lokhea mempunyai karakteristik bau menstruasi.Bau lokhea ini
paling kuat saat keluarnya lokhea serosa. Bau tersebut akan lebih kuat
16

lagi apabila bercampur dengan keringat. Dan harus lebih cermat lagi
dibedakan dengan bau tidak sedap yang mengindikasikan adanya
infeksi.
3). Perubahan pada serviks
Perubahan yang terjadi pada serviks ialah bentuk serviks terbuka,
segera setelah bayi lahir.Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang
berkontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi seolah-olah pada
perbatasan antara korpus dan serviks berbentuk semacam cincin.
Serviks berwarna merah kehitaman karena penuh dengan pembuluh
darah (Sulistyawati, 2009).Konsistensinya lunak.Setelah bayi lahir, tangan
dapat masuk ke dalam rongga rahim. Setelah 2 jam post partum, hanya
dapat dimasuki 2-3 jari. Pada minggu ke-6 post partum, serviks sudah
menutup kembali (Sulistyawati, 2009).

4). Vulva vagina

Vulva dan vagina mengalami penekanan, serta peregangan yang


sangat besar selama proses melahirkan bayi. Dalam beberapa hari pertama
sesudah kelahiran, kedua organ ini tetap dalam keadaan kendur. Setelah 3
minggu, vulva dan vagina akan kembali pada keadaan tidak hamil dan
rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali,
sementara labia menjadi lebih menonjol (Sulistyawati, 2009).

5). Perineum

Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena


sebelumnya terengang oleh tekanan bayi yang bergerak maju. Pada post
natal hari ke-5, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian tonusnya,
sekalipun tetap lebih kendur dari pada keadaan sebelum hamil
(Sulistyawati, 2009).
17

6). Perubahan sistem gastrointestinal


Umumnya ibu post partum akan merasa kelaparan setelah persalinan
berlangsug cukup lama dan mulai makan satu atau dua jam setelah
melahirkan. Kecuali ada komplikasi saat proses persalinan, tidak ada alas
an untyk menunda pemberian makan pada ibu post partum yang sehat.
Konstipasi akan menjadi masalah pada puerperium awal karena kurangnya
asupan makanan pada saat persalinan dan menahan defeksi. Ibu post
partum menahan defekasi dikarenakan perineumnya mengalami perlukaan
atau karena ia kurang pengetahuan dan takut akan merobek atau merusak
jahitan jika melakukan defekasi (Varney, 2008).
Supaya buang air besar kembali normal, dapat diatasi dengan diet
tinggi serat, peningkatan asupan cairan, dan ambulasi awal.Selain
konstipasi, ibu juga mengalami anoreksia akibat penurunan dari sekresi
kelenjar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi, serta
penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan kurang nafsu makan
(Sulistyawati, 2009).

7). Perubahan sistem renal

Setelah proses persalinan berlangsung, biasanya ibu akan sulit


untuk buang air kecil dalam 24 jam pertama. Kemungkinan penyebab dari
keadaan ini adalah terdapat spasme sfinker dan edema leher kandung
kemih akibat dari komresi (tekanan) antara kepala janin dan tulang pubis
selama persalinan berlangsung (Sulistyawati, 2009).
Kandung kemih yang penuh menggeser uterus dan dapat
menyebabkan perdarahan pascapartum, dan distensi kandung kemih dapat
menyebabkan distensi urine. Ureter yang berdilatasi akibat dari proses
persalinan dan pelvis renal kembali keadaan sebelum hamil dalam waktu 6
sampai 10 minggu setelah melahirkan (Strigh, 2005).
18

8). Perubahan sistem musculoskeletal

Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah partus. Pembuluh-


pembuluh darah yang berada diantara otot-otot uterus akan terjepit. Proses
ini akan menghentikan perdarahan setelah plasenta lahir. Ligamen-
ligamen diafragma pelvis, serta fasia yang merengang pada waktu
persalinan, secara berangsur-angsur akan mengecil dan pulih kembali
sehingga tak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi
karena ligamentum rotundum menjadi kendor (Sulistyawati, 2009).
Dan tidak jarang ibu mengeluh rahimnya turun setelah melahirkan
karena ligament fasia yaitu jaringan penunjang alat genetalia menjadi
kendor (Sulistyawati, 2009).
Sebagian besar wanita melakukan ambulasi 4-8 jam setelah
melahirkan, ambulasi dini dianjurkan untuk menghindari komplikasi,
meningkatkan involusi.Relaksasi dan peningkatan mobilitas artikulasio
pelvik terjadi dalam 6-8 minggu setelah melahirkan (Stright, 2005).

9). Perubahan sistem endokrin

Adapun perubahan yang terjadi pada sistem ini menurut


Sulistyawati (2009) adalah sebagi berikut :

a). Hormon plasenta

Hormone plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan.


HCG (Human Chorionic Gonadotropin) menurun dengan cepat dan
menetap dalam 3 jam hingga hari ke-7 post partum.
b). Hormon pituitary
Prolaktin darah akan meningkat dengan cepat. Pada wanita
yang tidak menyusui, prolaktin akan menurun dalam waktu 2 minggu.
FSH dan LH akan meningkat pada fase konsentrasi folikuler (minggu
ke-3) dan LH tetap rendah hingga ovulasu terjadi.
19

c). Kadar estrogen


Setelah persalinan, terjadi penurunan kadar estrogen yang
bermakna sehingga aktivitas prolaktin yang sedang meningkat dapat
mempengaruhi kelenjar mamae dalam menghasilkan ASI.

10). Perubahan tanda vital

a). Suhu tubuh

Dalam 1 hari (24 jam) post partum, suhu badan akan naik sedikit
(37,5 ºC-38 ºC) sebagai akibat dari kerja keras sewaktu melahirkan,
kehilangan cairan dan kelelahan. Apabila keadaan normal, suhu
badan akan menjadi ke keadaan semula. Biasanya pada hari ke 3 suhu
badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI.Payudara menjadi
bengkak dan berwarna merah karena banyaknya ASI.Bila suhu tidak
turun, kemungkinan adanya infeksi (mastitis, tractus genetalis, atau
sistem lainnya) (Sulistyawati, 2009).
b) Nadi
Denyut nadi yang meningkat selama persalinan akhir, kembali
normak setelah beberapa jam pertama pascapartum.Nadi diatas 100
selama puerperium menunjukan keabnormalan masa nifas (Varney,
2008).
c) Tekanan darah
Tekanan darah biasanya tidak berubah. Kemungkinan tekanan
darah akan lebih rendah setelah ibu melahirkan karena ada
perdarahan. Tekanan darah tinggi pada saat post partum dapat
menandakan terjadinya pre eklampsia post partum (Sulistyawati,
2009).
d) Pernapasan
Fungsi pernapasan kembali pada rentang normal wanita selama
jam pertama post partum. Napas pendek, cepat, atau perubahan lain
memerlukan evaluasi adanya kondisi-kondisi seperti kelebihan cairan,
eksaserbasi asma, dan embolus paru (Varney, 2008). Keadaan
20

pernapasan selalu berhubungan dengan suhu dan denyut nadi. Bila


suhu dan nadi tidak normal maka pernapasan juga akan mengikutinya
(Sulistyawati, 2009).

11). Perubahan sistem kardiovaskuler

Selama kehamilan, volume darah normal digunakan untuk


menampung aliran darah yang meningkat, yang diperlukan oleh plasenta
dan pembuluh darah uteri.Pada persalinan, ibu kehilangan darah sekitar
200-500 ml, sedangkan pada persalinan dengan SC, pengeluaran dua kali
lipatnya (Sulistyawati, 2009).
Bradikardi sementara akan terjadi selama 24 sampai 48 jam partama
setelah melahirkan dan bisa berlanjut hingga 6-8 hari. Hematokrit akan
meningkat pada hari ke-3 sampai ke-7 post partum, dan leukositosis
(20.000 sampai 30.000 sel-sel darah putih per mm3) berlanjut untuk
beberapa hari setelah melahirkan (Stright, 2005).
12). Perubahan sistem hematologi

Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan


plasma, serta faktor-faktor pembekuan darah makin meningkat. Pada hari
pertama post partum, kadar fibrinogen dan plasma akan menurun, tetapi
darah akan mengental sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah.
Jumlah Hb, hemotokrit, dan eritrosit sangat bervariasi pada saat awal-
awal post partum sebagai akibat dari volume darah, plasenta, dan tingkat
volume darah yang berubah-ubah (Sulistyawati, 2009).
Semua tingkatan ini akan dipengaruhi oleh status gizi dan gidrasi
ibu post partum tersebut. Penurunan volume dan peningkatan sel darah
pada hari ke-3 sampai hari ke-7 post partum, dan akan kembali normal
dalam 4-5 minggu post partum (Sulistyawati, 2009).
21

13). Fisiologi laktasi

Selama masa kehamilan,hormone estrogen dan progesterone


menginduksi perkembangan alveoli dan duktus lactiferous di dalam
payudara, serta merangsang produksi kolostrum. Produksi ASI tidak
berlangsung sampai masa sesudah kelahiran bayi ketika kadar hormone
estrogen menurun. Penurunan kadar estrogen ini memungkinkan naiknya
kadar prolaktin dan produksi ASI. Produksi prolaktin yang
berkesinambungan di sebabkan oleh menyusunya bayi pada payudara ibu
(Sulistyawati, 2009).
Pelepasan ASI berada dibawah kendali neuro endokrin.
Rangsangan sentuhan pada payudara ibu (bayi menghisap) akan
merangsang produksi oksitosin yang menyebabkan kontraksi sel-sel
myoepithel. Proses ini disebut sebagai refleks prolaktin yang membuat
ASI tersedia bagi bayi, nantinya refleks ini dapat dihambat oleh keadaan
emosi ibu bila ia merasa takut, lelah, malu, merasa tidak pasti, atau
merasakan nyeri. Hisapan bayi memicu pelepasan ASI dari alveolus
mamae melalui duktus ke sinus lactefirus (Sulistyawati, 2009).
Hisapan merangsang produksi oksitosin oleh kelenjar hypofisis
posterior.Oksitosin memasuki darah darah menyebabkan kontraksi sel-sel
khusus (myoephitel).Yang mengelilingi alveolus mamae dan duktus
lactiferous. Kontraksi sel-sel mioepitel ini mendorong ASI keluar dari
alveoli melalui duktus lactiferous menuju sinus lactiferous, tempat ASI
akan disimpan. Pada saat bayi menghisap, ASI di dalam sinus akan
tertekan keluar, ke mulut bayi (Sulistyawati, 2009).
22

B. Teori Manajaemen Varney

Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan


sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori
ilmiah, temuan, serta keterampilan dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk
mengambil suatu keputusan yang berfokus pada pasien. (Varney, 2007).
Manajemen kebidanan terdiri atas tujuh langkah yang berurutan, diawali
dengan pengumpulan data sampai dengan evaluasi.Langkah pertama, dilakukan
mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara
keseluruhan, yaitu dengan mengumpulkan semua informasi yang akurat dan
lengkap dari berbagai sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. (Sulistyawati,
2009).
Langkah kedua, dilakukan interpretasi data untuk diagnosis atau masalah
dan kebutuhan pasien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang
telah dikumpulkan.Dalam langkah kedua ini bidan membagi interpretasi data
dalam tiga bagian, diagnosis kebidanan/nomenklatur dan masalah. (Sulistyawati,
2009).
Pada langkah ketiga dilakukan identifikasi diagnosi atau masalah potensial
dan mengantisipasi penanganannya berdasarkan rangkaian masalah yang
lain.Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan
pencegahan, sambil terus mengamati kondisi klien.(Sulistyawati, 2009).
Langkah keempat yaitu menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera,
konsultasi, kolaborasi, dengan tenaga kesehatan lain serta melakukan rujukan
berdasarkan kondisi klien.Lalu langkah kelima adalah melakukan penyusunan
rencana asuhan secara menyeluruh dengan mengulang kembali manajemen
proses untuk aspek-aspek sosial yang tidak efektif.Pada langkah ini direncanakan
asuhan yang menyeluruh berdasarkan langkah sebelumnya.semua perencanaan
yang dibuat harus berdasarkan pertimbangan yang tepat,meliputi pengetahuan,
tori yang up to date, perawatan berdasarkan bukti (evidance based care), serta
divalidasikan dengan asumsi mengenai apa yang diinginkan dan apa yang tidak
diinginkan oleh pasien.
23

Lalu pada langkah keenam, dilakukan pelaksanaan langsung asuhana


secara efisien dan aman.Pada langkah ini rencana asuhan dilaksanakan secara
efisien dan aman .Pada langkah ini rencana asuhan dilaksanakan secara efisien
dan aman. Realisasi dari perencanaan dapat dilakukan oleh bidan, pasien atau
anggota keluarga lainnya.Dan langkah terakhir adalah melakukan evaluasi
keefektivitan asuhan yang diberikan dengan mengulang kembali manajemen
proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang kita berikan kepada pasien,
mengacu kepada tujuan asuhan kebidanan, efektivitas tindakan untuk mengatasi
masalah dan hasil asuhan.(Sulistyawati, 2009).
1. Konsep dasar manajemen asuhan kebidanan pada nifas
Pengkajian
A. Data subyektif
1. Alasan datang periksa
Apakah alasan ibu melakukan pemeriksaan?
Apakah saat ini ibu memiliki keluhan?
2. Keluhan utama
Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien
datang ke fasilitas kesehatan. Misalnya ibu post partum normal ingin
memeriksakan kesehatannya setelah persalinan atau ibu post partum
fatologis dengan keluhan demam, keluar darah segar yang banyak,
nyeri dan infeksi luka jahitan, dan lain-lain (sulistyawati, 2009).
Keluhan utama berupa nyeri setelah lahir, keringat berlebih, nyeri
perineum, dll (varney, 2008).
3. Riwayat Kesehatan Klien
a. Riwayat kesehatan yang lalu
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
riwayat atau penyakit akut, kronis seperti : jantung, DM,
hipertensi, Asma yang dapat mempengaruhi pada masa nifasini
(Ambarwati, 2009).
24

1). Penyakit/Kelainan Reproduksi:

Faktor resiko lain untuk endometritis antara lain adalah


ruptus membran lama, persalinan dan pemeriksaan dalam
berulang (Bahiyatun, 2009).
2). Penyakit kardiovaskuler:
Penyakit jantung terjadi 1-4 % dari kehamilan pada
perempuan-perempuan yang tanpa gejala penyakit jantung
sebelumnya (Prawirohardjo, 2010).
3). Penyakit darah:
Anemia sel sabit masa kehamilan dan postpartum masih
berpotensi bahaya bagi ibu dengan penyakit sel sabit
(Prawirohardjo, 2010).
4). Penyakit paru-paru:
TBC Pada ibu dengan TBC aktif resiko pada bayi 50 %
pada tahun pertama (Prawirohardjo, 2010).
5). Penyakit Saluran Pencernaan:
Hemoroid jika pasien telah menderita hemoroid sebelum
kehamilan, dan saat persalinan kondisi ini akan sedikit
bertambah tetapi tidak akan hilang (Bahiyatun, 2009).
6). Penyakit Hati:
Hepatitis B pada wanita dengan penyakit hepatitis B akan
beresiko meningkatkan perdarahan pasca persalinan, bahkan
jika meningkat menjadi artrofi kuning hati akan menimbulkan
kematian (Sastrawinata dkk, 2005).
7). Penyakit Endokrin :
Ibu dengan riwayat diabetes mellitus akan meningkatkan
resiko perdarahan pasca persalinan (Sastrawinata dkk, 2005).
8). Penyakit jiwa :
Depresi post partum adalah depresi yang relatif berat dan
timbul segera sesudah seorang wanita melahirkan anak
(Hopkins,et al., 1984; Pitt, 1982 dalam buku kesehatan, 2006).
25

9). Penyakit infeksi :


Mastitis infeksi pada payudara dalam 6 minggu setelah
melahirkan disebabkan oleh stafilokokus aureus. Sekitar 0,5-
1,0% pasien nifas terkena mastitis, dan sebagian besar adalah
primipara (Benson, 2009).
10). Penyakit Menular Seksual:
Penyakit sifilis dapat beresiko melahirkan kurang bulan,
kematian janin dan infeksi perinatal ((Sastrawinata dkk,
2004).AIDS pada kehamilan dapat menyebabkan kematian
pada ibu (WHO, 2012).
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pukul berapa ibu melahirkan ?Apakah persalinan ibu
normal?Apakah ibu memiliki luka perineum?Apakah ASI ibu
lancar?Bagaimana kondisi psikis ibu saat ini?Siapa yang
membantu mengurus bayi?
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Penyakit tertentu dapat terjadi secara genetik atau berkaitan
dengan keluarga, dan beberapa di antaranya berkaitan dengan
lingkungan fisik atau sosial tempat keluarga tersebut tinggal (Fraser &
Cooper, 2009).
5. Riwayat Menstruasi
Data ini memang tidak secara langsung berhubungan dengan
mas nifas, namun dari data yang bidan peroleh, bidan akan mempunyai
gambaran tentang keadaan dasar dari organ reproduksinya
(sulistyawati, 2009).
Siklus : 28 hari (Heffner, 2005).
Lama : 4-7 hari (Manuaba, 2007).
a. Menarche : usia pertama kali mengalami menstruasi.
b. Siklus : jarak antara menstruasi yang dialami dengan menstruasi
berikutnya dalam hitungan hari. Biasanya sekitar 23-32 hari.
26

c. Jumlah/ volume : data ini menjelaskan seberapa banyak darah


menstruasi yang keluar atau beberapa pertanyaan pendukung
seperti berapa kali ganti pembalut dalam sehari.
d. Keluhan : keluhan yang dirasakan ibu saat mengalami menstruasi
(sulistyawati, 2009).
6. Riwayat Obstetri

Kehamilan Persalinan Anak Nifas


No.
suami Ank UK Peny Jenis Pnlg Tmpt Peny JK BB/PB H M Abnormalitas Laktasi Peny

Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu. Berapa kali


ibu hamil, apakah ada penyulit saat kehamilan, persalinan dan nifas,
cara persalinan yang lalu, penolong persalinan, keadaan nifas yang
lalu.

7. Riwayat Kehamilan Sekarang


Menurut Varney (2006) riwayat kehamilan saat ini dikaji untuk
mendeteksikomplikasi, beberapa ketidaknyamanan, dan setiap keluhan
seputar kehamilan yang dialami klien sejak haid terakhir (HPHT).
Apakah keluhan ibu tiap trimester?
Kapankah dirasakan gerakan janin untuk pertama kalinya?
Apakah ibu melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur?
Pendidikan kesehatan apa saja yang pernah ibu dapatkan selama
kehamilan?
Apakah ibu sudah pernah mendapatkan imunisasi selama kehamilan?
8. Riwayat kontrasepsi
Riwayat penggunaan kontrasepsi, meliputi jenis kontrasepsi yang
pernah digunakan, lama pemakaian dan jarak antara pemakaian
terakhir dengan kehamilan.
27

Meskipun pemakaian alat kontrasepsi masih lama, namun tidak


ada salahnya jika bidan mengkajinya lebih awal agar pasien
mendapatkan informasi sebanyak mungkin mengenai pilihan beberapa
alat kontrasepsi yang tepat dengan kondisi dan keinginan pasien
(sulistyawati, 2009).
9. Riwayat Psikososiokultural spiritual
a. Riwayat pernikahan
Pernikahan keberapa, lama menikah, status pernikahan
sah/tidak. Hal ini penting untuk dikaji karena dari data ini bidan
akan mendapatkan gambaran mengenai suasana rumah tangga
pasangan (sulistyawati, 2009).
b. Respon klien dan keluarga terhadap masa nifas
Adanya respon positif dari keluarga terhadap kelahiran bayi
akan mempercepat proses adaptasi ibu menerima perannya
(sulistyawati, 2009).
c. Bagaimana psikis ibu menghadapi masa nifas
d. Pengetahuan ibu tentang merawat bayi
Pengalaman atau riwayat kehamilannya dapat pula dijadikan
sebagai bahan pertimbangan tentang sejauh mana klien mengetahui
tentang perawatan bayi (sulistyawati, 2009).
e. Adat istiadat yang masih dilakukan oleh ibu dan keluarga saat nifas
Adat istiadat yang dianut berhubungan dengan proses
penyembuhan pasca persalinan (sulistyawati, 2009).
10. Data Bayi
Lahir tanggal : jam :
Jenis kelamin : laki-laki/ perempuan
Antropometri : BB: 2.500-4000 gram (vivian, N. I. D, 2010).
PB : 48-52 cm (Dewi, 2011)
LK : 33-35,5 cm (Wong, 2009)
LD : 30,5-33 cm (Wong, 2009)
Kecatatan : Ada/ tidak
IMD : ( ) Ya ( ) Tidak
28

Eliminasi : BAK :
Frekuensi : ………. x/hari, warna : ……..
Konsistensi : ……….
BAB :
Frekuensi : ………. x/hari, warna : ……..
Konsistensi : ……….
Nutrisi : ASI/PASI/Lainnya : ……….

B. Data Obyektif

1. pemeriksaan Umum

Kesadaran : Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien,


kita dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien dari
keadaan compos mentis sampai dengan koma (Sulistyawati, 2009).

Tanda Vital

Tekanan darah : 110-120/70-80 mmHg

Tekanan darah biasanya tidak berubah kemungkinan tekanan darah


akan lebih rendah setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan.
Tekanan darah tinggi pada saat post partum dapat menandakan
terjadinya preeklamsia post partum (Sulistyawati, 2009).

Nadi : 60-80 x/menit

Denyut nadi yang meningkat selama persalinan akhir, kembali normal


setelah beberapa jam pertama pascapartum.Nadi diatas 100 selama
puerperium menunjukkan keabnormalan masa nifas (Varney, 2008).

Pernafasan : 16-20 x/menit

Fungsi pernapasan kembali pada rentang normal wanita selama jam


pertama post partum. Napas pendek, cepat, atau perubahan lain
memerlukan evaluasi adanya kondisi-kondisi seperti kelebihan cairan,
eksaserbasi asma, dan embolus paru (Varney, 2008). Keadaan
29

pernapasan selalu berhubungan dengan suhu dan denyut nadi. Bila


suhu dan nadi tidak normal maka pernapasan juga akan mengikutinya
(Sulistyawati, 2009).

Suhu : 36,5-37,0OC

Dalam 1 hari (24jam) post partum, suhu badan akan naik sedikit (37,5-
38oC) sebagai akibat dari kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan
cairan dan kelelahan. Apabila keadaan normal, suhu badan akan
menjadi ke keadaan semula. Biasanya pada hari ke-3 suhu badan naik
lagi karena adanya pembentukan ASI.Bila suhu tidak turun,
kemungkinan adanya infeksi (mastitis, tractus genetalis, atau sistem
lainnya) (Sulistyawati, 2009).

Antropometri :

Tinggi badan :

BB sekarang : Rata-rata 5,5 kg hilang setelah melahirkan


(Sinclair, 2010).

LILA : ≥ 23,5 cm

Ukuran LILA yang kurang dari 23,5 cm merupakan indicator kuat


untuk status gizi yang kurang/buruk. (Hidayat, 2009).

2. Pemeriksaan fisik

Inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi

Kepala : Tampak bersih, penyebaran rambut tampak merata,


tekstur rambut tampak halus, kulit kepala tampak bersih,
tidak tampak oedem, massa ataupun lesi, tidak teraba
oedem, tidak teraba massa.

Wajah : Tampak simetris, tidak tampak oedem, wajah tidak


tampak pucat, tidak teraba massa, tidak teraba oedema.
30

Mata : Tampak simetris, palpebra tidak tampak oedem,


konjungtiva tidak tampak pucat, sclera tidak tampak
kuning, pada palpebra tidak teraba massa.

Telinga : Bentuk simetris, tidak ada serumen yang berlebihan dan


tidak berbau, tidak teraba oedem, benjolan atau massa.

Hidung : lubang hidung tidak tampak secret/bersih, tidak tampak


polip, tidak tampak pernapasan cuping hidung, normal
tidak ada polip, kelainan bentuk, kebersihan cukup.

Mulut : Bibir tampak simetris, tampak lembab, tidak tampak


pucat, lidah tampak tremor, gigi tampak lengkap, dan
tenggorokan tidak tampak peradangan, dan tidak
tampak pembesaran tonsil.

Leher : Tidak tampak pembesaran vena jugularis, tidak tampak


pembesaran kelenjar tiroid, dan tidak tampak
pembesaran kelenjar limfe, dan tidak teraba
pembesaran kelenjar tiroid, tidak teraba pembesaran
kelenjar limfe dan tidak teraba pembesaran kelenjar
getah bening.

Dada : Bentuk dada tampak simetris, tidak tampak retraksi


dinding dada, tidak terdapat dimpling. Normalnya
simetris, dan tidak teraba pergerakan pernafasan yang
berlawanan, vesikuler/broncovesikuler/bronchial.

Payudara : Tampak simetris, tidak tampak dimpling, tampak


pengeluaran ASI/kolostrum, putting susu menonjol,
mengkaji konsistensi, ada pembengkakkan atau tidak,
putting menonjol/tidak, dan lecet/tidak.

Abdomen : tidak terdapat bekas luka, terdapat linea, striae atau tidak.
Menurut Sulistyawati (2009) :
31

a. pada bayi baru lahir, fundus uteri setinggi pusat

b. pada akhir kala III, TFU teraba 2 jari dibawah pusat

c. pada 1 minggu post partum, TFU teraba pertengahan


pusat simpisis

d. pada 2 minggu post partum, TFU teraba di atas


simpisis

e. pada minggu ke-6 post partum, fundus uteri mengecil


(tidak teraba)

setelah janin lahir, uterus secara berangsur-angsur


akan menjadi kecil sehingga akhirnya kembali seperti
sebelum hamil. Cek kontraksi uterus dan
konsistensinya, cek diastasis rectis abdominalis, cek
kandung kemih.

Genetalia : Tidak teraba massa dan tidak terdapat tanda REEDA (red,
ekimosis, edema, discharge, aproxiamately), lokhea
dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan warna dan waktu
keluarnya menurut Varney (2008).

a. Lokhea rubra : lokhea rubra berwarna merah


karena mengandung darah. Ini adalah lokhea pertama
yang mulai keluar.

b. Lokhea serosa : lokhea serosa mulai terjadi sebagai


bentuk yang lebih pucat dari lokhea rubra. Lokhea ini
berhenti sekitar tujuh hingga delapan hari.

c. Lokhea alba : lokhea alba mulai terjadi sekitar


hari kesepuluh pascapartum

Anus : Tidak tampak adanya hemoroid, tidak teraba oedem,


benjolan, atau massa. Hemoroid dapat terjadi pada ibu
32

hamil karena penurunan motilitas gastrointestinal dan


perubahan usus serta tekanan pada sistem pembuluh
darah oleh pembesaran uterus (Doenges, dkk, 2001).

Ekstremitas : tampak simetris, tidak tampak oedem, dan tidak tampak


varises, tidak teraba oedem, turgor kulit kembali < 2
detik, dan tidak ada tromboflebitis dan pada kuku cavilari
refill < 2 detik dan perkusi untuk mengecek reflex patella,
trisep dan bisep.

1. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium : kadar Hb, hemotokrit, kadar leukosit, dan


golongan darah, urine lengkap (sesuai kebutuhan pasien) (Sulistyawati,
2009).

1. Interpretasi data dasar

Diagnose : Ny..P..A.., jam/hari ke..dengan postpartum fisiologis.

Masalah : Adapun masalah yang sering dijumpai oleh ibu postpartum


yaitu : nyeri perineum, infeksi luka, cemas, masalah pada payudara
(putting susu lecet, tidak Menonjol, abses payudara, payudara bengkak )
(Sulistyawati,2009).

Kebutuhan : Hal-hal yang dibutuhkan oleh klien dan belum teridentifikasi dalam

diagnosis dan masalah

2. Identifikasi diagnosis/masalah potensial

Langkah ini diambil berdasarkan diagnosis dan masalah aktual yang telah
diidentifikasi.Pada langkah ini juga dituntut untuk erumuskan tindakan antisipasi agar
diagnosis/masalah potensial tersebut tidak terjadi.
33

3. Identifikasi kebutuhan tindakan segera

Langkah ini mencakup rumusan tindakan emergensi/darurat yang harus dilakukan


untuk menyelematkan ibu dan bayi.Rumusan ini mencakup tindakan segera yang bisa
dilakukan secara mandiri, kolaborasi, atau bersifat rujukan.

4. Intervensi

1. Berikan KIE tentang perawatan perineum


2. Berikan KIE tentang masase pada daerah fundus
3. Berikan KIE tentang proses eliminasi pada masa nifas
4. Berikan KIE tentang mobilisasi dini
5. Ajarkan senam kegel pada ibu
6. Berikan ibu pemenuhan istirahat tidur
7. Berikan KIE tentang menyusui pada ibu
8. Ajarkan ibu cara perawatan payudara
9. Berikan KIE tentang ASI eksklusif
10. Ajarkan ibu cara menyusui yang benar
5. Implementasi
Pelaksanaan dilakukan dengan efisien dan aman sesuai dengan rencana asuhan yang
telah disusun.Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian
dikerjakan oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya.
6. Evaluasi
Evaluasi merupakan penilaian tentang keberhasilan dan kefektifan asuhan kebidanan
yang telah dilakukan. Evaluasi didokumentasikan dalam bentuk SOAP
34

C. Kerangka Alur Pikir Penelitian

NIFAS
Membasuh luka
Perawatan luka dengan rebusan air
perineum derajat daun sirih
II
Luka perineum
derajat II
Faktor yang
memengaruhi
Makanan dan
penyembuhan
luka Kebersihan
luka perineum
Peningkatan
pengetahuan
tentang perawatan
luka perineum

Melakukan
penyuluhan
tentang perawatan
luka perineum
BAB III
METODELOGI PENELITIAN

A. Rancangan Studi Kasus


Jenis penelitian yang digunakan menusun studi kasus ini adalah deskriptif
kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian deskritif adalah penelitian yang
dilakukan untuk mengetahui nilai variable mandiri, baik satu variable atau lebih tanpa
membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variable lain. Laporan studi kasus
merupakan kegiatan yang dilakukan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui
suatu proses yang terjadi dari unit tunggal (Notoatmojo, 2010).
Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan peristiwa-peristiwa yang
terjadi pada masa kini. Deskripsi peristiwa dilakukan secara sistematis dan lebih
menekankan pada data faktual daripada penyimpulan (Nursalam, 2008).
B. Tempat dan Waktu Studi Kasus

Lokasi merupakan tempat dimana pengambilan kasus akan dilakukan. Tempat


studi kasus ini dilakukan di Klinik Kartika Jaya Samarinda. Waktu studi kasus
merupakan jangka waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh data dari studi kasus yang
akan dilakukan. Studi kasus ini dilakukan dari bulan Desember 2017 sampai Maret 2018.
Asuhan kebidanan dilakukan pada kala IV, selama memberikan asuhan penulis juga
memantau adanya kemajuan penyembuhan luka pada perineum.

C. Subjek Studi Kasus


Subyek studi kasus merupakan sesuatu yang dijalankan sebagai bahan penelitian
yang diambil datanya (Notoatmojo, 2010). Istilah lain yang digunakan untukmenyebut
subjek studi kasus adalah resonden. Subyek studi kasus ini adalah seorang ibu nifas
dengan luka perineum derajat II di Klinik Kartika Jaya Samarinda.

D. Jenis Data
Studi kasus ini menggunakan jenis data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh dengan cara pemeriksaan fisik, Wawancara, dan observasi secara langsung
sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumen rekam medis dan studi kepustakaan.

35
36

Pengumpulan data akan dilakukan selama proses pemberian asuhan kebidanan

berlangsung. Teknik pengumpulan data yang akan digunakan adalah :

1). Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh langsung di lapangan oleh peneliti.

sebagai objek penulisan, berupa :

a. Observasi, yaitu melakukan pengamatan secara langsung terhadap klien yang

dikelola atau diamati perilaku kebiasaan klien.

b. Wawancara, yaitu melakukan pengumpulan data dengan melakukan wawancara

langsung kepada orang tua klien.

c. Pemeriksaan fisik, yaitu dengan melakukan inspeksi, palpasi, perkusi dan

auskultasi yang dilakukan untuk memperoleh data sesuai dengan asuhan yang

dilakukan.

d. Proses pemberian asuhan kebidanan tentang pijat bayi pada bayi baru lahir.

2). Data Sekunder

Data sekunder adalah data tidak langsung memberikan data pada peneliti,

misalnya studi kasus harus melalui orang lain atau mencari dokumen. Pengumpulan

data sekunder dilakukan beberapa cara :

a. Menggali data melalui status kohort ibu hamil dilahan praktik.

b. Buku kesehatan Ibu dan Anak.

c. Mencari data – data penunjang yang didapatkan dari literatur pendukung.

Analisis data yang digunakan untuk mengubah data hasil penelitian

menjadi suatu informasi yang dapat dugunakan untuk mengambil kesimpulan

adalah menggunakan pendekatan kebidanan menurut varney dan


37

pendokumentasian soap.

E. Alat dan Metode Pengumpulan Data

1. Alat pengumpulan Data

Alat dan metode yang digunakan dalam teknik pengumpulan data antara lain :

a. Alat dan bahan untuk pemeriksaan

1). Format Asuhan Kebidanan

2). Jam Tangan

3). Sampiran

4). Tensimeter

5). Timbangan

6). Air Rebusan Daun Sirih

7). Handuk bersih atau tissue

b. Alat dan bahan untuk dokumentasi

1). Data sekunder

2). Status catatan pasien

3). Rekam medis

4). Alat tulis

2. Metode Pengumpulan Data

a. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari obyek

penelitian baik individu maupun organisasi. Data primer dapat diperoleh dari :
38

Pemeriksaan Fisik

a). Inspeksi

Merupakan proses observasi yang dilakukan secara sistematis. Inspeksi

dilakukan dengan indra penglihatan, pendengaran, dan penciuman secara

sistematis dari kepala sampai kaki (Nursalam, 2008).

b). Palpasi

Merupakan tekhnik pemeriksaan menggunakan indra peraba. Palpasi

dilakukan secara sistematis dari kepala sampai kaki.

c). Wawancara

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data studi kasus ini adalah

dengan wawancara. Wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan

untuk mengumpulkan data, dan mendapat keterangan atau informasi secara

lisan dari seseorang sasaran responden, atau bercakap-cakap bertatapan muka

dengan klien (Notoadmojo, 2010).

d). Observasi

Observasi dilakukan dengan cara mengamati langsung keadaan umum,

pemeriksaan fisik, serta mengamati intake dan output. Hasil observasi dicatat

pada format SOAP dan pada perkembangan.

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan dokumentasi catatan medis dan sumber informasi

yang penting bagi tenaga kesehatan untuk mengidentifikasi masalah, menegakkan

diagnosa, merencanakan tindakkan kebidanan, dan memonitor respon pasien

terhadap tindakkan baik dalam bentuk resmi maupun tidak.


39

1). Dokumentasi

Data yang diperoleh dengan cara mempelajari status pasien, catatan

asuhan kebidanan. Studi dokumentasi merupakan bentuk informasi yang

berhubungan dengan dokumentasi pasien atau status pasien.

2). Kepustakaan

Studi Kepustakaan adalah bahan – bahan pustaka yang sangat

penting dalam menunjang latar belakang teoristis dalam suatu penelitian.

Studi kepustakaan dengan Pijat Bayi Pada Bayi Baru Lahir mengambil dari

buku – buku, jurnal kesehatan tahun 2007 – 2017.

F. Analisa Data

Prosedur analisi dilakukan dengan tiga fase, digambarkan oleh Miles and

Huberman dalam Sugiyono (2012) yang disebut sebagai :

1. Reduksi data (data reductition)

Tahap ini merupakan proses pemilihan dan data kasar dan masih mentah yang

berlangsung terus menerus selama penelitian berlangsung melalui tahap pembuatan

ringkasan, memberi kode, menelusuri tema dan menyusun ringkasan.

2. Penyajian Data (display data)

Pada tahap ini data yang telah dipilah – pilah diorganisasikan dalam kategori

tertentu dalam bentuk matriks (display data) agar memperoleh gambaran secara utuh.

Penyajian data dilakukan dengan cara penyampaian informasi berdasarkan data yang

dimiliki serta disusun secara runtut dan baik dalam bentuk naratif, sehingga mudah

dipahami. Adapun dalam tahap ini peneliti membuat rangkuman secara deskriptif dan

sistematis sehingga tema sentral yaitu ibu nifas dengan luka perineum dapat diketahui
40

dengan mudah.

3. Penarikan Kesimpulan (conclusion drawing)

Kesimpulan yang diambil akan ditangani secara longgar dan tetap terbuka

sehingga kesimpulan yang semula belum jelas, kemudian akan meningkat menjadi

lebih rinci dan mengakar dengan kokoh.

G. Jalannya Studi Kasus

Berikut ini merupakan jalannya penelitian :

1. Melakukan studi pustaka dan penyusunan proposal terkait masalah yang akan diteliti

oleh peneliti.

2. Melakukan studi pendahuluan di Klinik Kartika Jaya.

3. Melakukan ujian proposal pada tanggal 15 januari 2018.

4. Melakukan pelaksanaan studi kasus; Mengurus ijin penelitian pada januari sampai

dengan februari 2018, mengumpulkan data dengan mengkaji data subyektif dan

obyektif.

5. Melakukan asuhan pada ibu nifas dengan luka perineum derajat II, memantau intake

dan output.

6. Melakukan analisa data dengan metode SOAP yang telah diperoleh dan melakukan

penatalaksanaan sesuai dengan kondisi ibu nifas.

7. Melakukan penyusunan data yang telah diperoleh dengan cara data yang mentah diolah

dan diurutkan secara sistematis dan diringkas untuk menarik kesimpulan berdasarkan

kasus.

8. Setelah penyusunan data selesai dilakukan, melakukan bimbingan hasil penelitian

dengan pembimbing Laporan Tugas Akhir.


41

9. Setelah melakukan bimbingan dan telah sesuai maka dilakukan ujian hasil penelitian.

10. Setelah ujian penelitian selesai dilakukan, maka melakukan pengumpulan hasil

penelitian pada tim LTA.

H. Etika Studi Kasus

Penelitian ini dilakukan setelah peneliti mendapatkan persetujuan dari pihak Klinik

Kartika Jaya Samarinda. Sebelum melakukan penelitian, peneliti menyerahkan surat izin

kepada Kepala Bagian Klinik. Setelah mendapat izin peneliti melakukan penelitian

dengan memperhatikan masalah etika antara lain sebagai berikut :

1. Lembar persetujuan menjadi responden (informed consent).

Peneliti perlu meminta persetujuan dari responden dalam keikutsertaannya

menjadi responden nkarena menjadi setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang

sama untuk menentukan dirinya sendiri. Sebelum meminta persetujuan, peneliti harus

memberikan informasi tentang tujuan dilakukannya penelitian. Responden

menyetujuinya, maka responden diminta menandatangani persetujuan menjadi

responden. (Sulistyawati, 2009).

2. Anonymity (tanpa nama)

Pada lembar persetujuan maupun lembar pertanyaan wawancara tidak akan

menuliskan nama responden tetapi hanya dengan memberikan simbol saja.

3. Judge (Bertindak adil)

Pada penelitian ini peneliti bertindak adil, yaitu dengan cara mengambil semua

responden yang sesuai dengan kriteria tanpa membeda – bedakan agama, suku,

pendidikan dan status sosialnya.


42

4. Confidentiality (Kerahasiaan)

Pemberian informasi oleh responden dan semua data yang terkumpul akan

menjadi data pribadi tidak akan disebarluaskan kepada orang lain tanpa izin

responden.
43

. DAFTAR PUSTAKA
Elisabeth, Th. Endang. Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Yogyakarta : PT. Pustaka Baru;
2015.

Kurniawan Ari, Anik. 2015. Keefektifan Penyembuhan Luka Perineum Pada Ibu Nifas
Menggunakan Daun sirih. J. Terpadu Ilmu Kesehatan Volume 4 nomor 2 November 2015.
Maritalia Dewi. Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Yogyakarta : Pustaka Pelajar; 2012.
Maritalia, Dewi. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Yogyakarta : Gosyen Publishing; 2017.

Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. Edisi ke-3. Winkjosastro H, Saifuddin AB, Rachmiadi T,


editor. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2007.
Retna, Eny Ambarwati, Diah. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta : Mitra Cendikia; 2010.
Saleha, Sitti. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba Medika; 2009.
Sunarsih, Vivian Nanny. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Jakarta : Salemba Medika; 2011