Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Arsitektur merupakan sebuah refleksi dari apa yang ada di dalam diri seseorang terhadap
apa yang ia lihat dan rasakan. Seiring dengan berkembangannya cipta, rasa dan karsa dari
refleksi tadi, maka begitu pula dengan arsitektur. Ia ‘hidup’, berkembang, mengikuti apa yang
kita refleksikan. Sehingga ia (baca: arsitektur) akan berubah di setiap waktunya.

Arsitektur itu sendiri memiliki banyak gaya atau tema atau langgam atau masa yang
pernah hadir, diantaranya adalah Arsitektur Yunani, Arsitektur Romawi Kuno, Arsitektur Gothic,
Reinkarnasi, dan masih banyak lainnya. Dan salah satunya yaitu Arsitektur Pasca Modern atau
yang lebih dikenal dengan Arsitektur Post-Modern. Arsitektur Post-Modern sendiri merupakan
sebuah gaya, langgam, ide, maupun gagasan dari sebuah masa arsitektur. Sehingga kita perlu
untuk menggali lebih dalam mengenai apa itu arsitektur pasca modern, apa yang dapat kita ambil
sebagai kelanjutan atas roda waktu yang menggiring arsitektur menuju masa-masa selanjutnya.
Selain itu juga dengan memahami Arsitektur Post-Modern kita menjadi lebih siap dalam
melaksanakan pemabangunan yang telah ditetapkan.

Berangkat dari hal tersebut, maka dalam tugas mata kuliah Arsitektur Dunia 2 ini akan
dijelaskan dan diuraikan mengenai penerapan Arsitektur Post-Modern pada sebuah bangunan
gereja yaitu Gereja Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar karya dari Prof. Dr. Ir. Sulistyawati,
MS., MM., M.Mis.; yang berlokasi di Jalan Tukad Musi I nomor 1, Renon, Denpasar Selatan,
Bali, Indonesia.

1
1.2 TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan tugas ini, yaitu:
1. Menyelesaikan tuntutan tugas dalam mata kuliah Arsitektur Dunia 2
2. Mengetahui dan memahami apa itu Arsitektur Post-Modern
3. Mendata karya-karya arsitektur di Indonesia yang beridekan Arsitektur Post-
Modern

1.3 MANFAAT PENULISAN


Melalui tugas ini mahasiswa diharapkan mampu:
1. Mengetahui apa itu Arsitektur Pasca Modern
2. Memahami Arsitektur Pasca Modern serta ciri-ciri yang terdapat di dalamnya
3. Menjelaskan dan mengaplikasikan pengetahuannya dalam mendata karya-karya
arsitektur di Indonesia

1.4 METODE PENULISAN


Metode Pustaka
Melalui metode ini penulis menelusuri Arsitektur Post-Modern dari sumber-
sumber yaitu berupa buku, e-book, majalah, dan media cetak lainya. Metode ini sendiri
dipilih karena dianggap relevan dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Metode Analisis
Analisis data dilakukan terhadap objek Gereja Paroki Roh Kudus Katedral
Denpasar dengan data-data yang sebelumnya didapat dari berbagai sumber refrensi
terpercaya yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

2
BAB II
ISI

2.1 KAJIAN TEORI


“Postmodernism is often understood in opposition to modernism, as a corrective
movement that comes after—‘post’—modernism.” –Neil Leach, Rethinking
Architecture. A Reader in Cultural Theory-

Kalimat dari Neil Leach dalam bukunya yang berjudul Rethinking Architecture. A
Reader in Cultural Theory ini dapat diartikan menjadi

“Pasca Modern sering diartikan dan dimengerti sebagai sebuah hal yang berlawanan
dari Modern, sebagai sebuah gerakan yang dianggap lebih baik yang ada setelah
Modern”

Selain Neil Leach, terdapat pula definisi Post-Modern

“Postmodernisme merupakan gerakan kebudayaan pada umumnya, yang dicirikan oleh


penentangan terhadap totalitarianisme dan universalisme, secara kecenderungannya ke
arah keanekaragaman, ke arah melimpah ruah dan tumpang tindihnya berbagai citraan
atau gaya, sehingga menimbulkan fragmentasi kontradiksi, dan pendangkalan makna
kebudayaan.” (Yasraf, 2003 : 19) (dalam www.academia.edu;Semiotika Arsitektur
Postmodern)

Terdapat pula pendapat dari tokoh dalam negeri mengenai apa itu Post-Modern.
Berikut adalah pendapat beliau

“Post-modern adalah istilah untuk menyebut sesuatu masa atau zaman yang dipakai
untuk menguraikan bentuk budaya dari suatu titik pandang yang berlawanan atau
pengganti istilah modernism.” –Yulianto Sumalyo, Arsitektur Modern Akhir Abad XIX
dan Abad XX-

3
Sedangkan, menurut Charles Jencks arsitektur Post-Modern dapat dibagi menjadi
beberapa bagian (dalam buku The Language of Postmodern Architecture), diantaranya:
1. Sintaksis
Sintaksis dalam ilmu bahasa diterjemahkan sebagai cara atau teknik dalam
menyusun kata-kata hingga membentuk sebuah kaliamat yang bermakna.
Sedangkan dalam konteks arsitektur, terjadi sebuah analogi terhadap
menyusunan kalimat tersebut tadi, yaitu bagaimana komponen-komponen
penyusun suatu bangunan dapat menghasilkan suatu tampilan visual yang
bermakna.
2. Semantik
Semantik dapat diartikan sebagai bagaimana gambaran, yang tercipta di
dalam benak seseorang ketika mendengar suatu kalimat. Sehingga dalam
hal ini Charles Jencks berpendapat bahwa sejak dahulu masyarakt sudah
memiliki purwarupa-purwarupa bangunan yang berkaitan dengan
penggunaannya, yang mana hal ini sangat membantu dalam memahami
hal yang dikomunikasikan bangunan terhadap lingkungan sekitarnya.
3. Metafora
Metafora erat kaitannya dengan menghadirkan suatu arti kiasan dari
‘kalimat’ yang dihasilkan setelah kata-kata dirangkaikan. Terdapat
beberapa syarat untuk mencapai metafora, diantaranya:
a. Berusaha untuk memindahkan rujukkan dari satu subjek ke
subjek lainnya.
b. Berusaha untuk ‘melihat’ sebuah subjek sebagaimana jika
subjek tersebut berupa subjek lain.
c. Memindahkan pusat perhatian kita dari satu hal ke hal lainnya
dengan harapan bahwa jalan memperbandingkannya atau
memikirkannya lebih jauh maka, dapat menemukan cara lain.

Berdasarkan uraian di atas, Charles Jencks berpendapat bahwa ada perkembangan


arsitektur yang menyimpang dari fungsional arsitektur Modern. Jencks membaginya ke
dalam enam aliran yaitu:

4
1. Historicism
Historicism merupakan aliran Post-Modern yang bermaksud untuk
menampilkan komponen-komponen klasik tetapi ditampilkan dengan
penyelesaian yang modern, misalnya komponen klasik yang dulunya
menggunakan bahan dari kayu diganti dengan bahan beton dengan tentunya
terdapat ornamen (karena Post-Modern mengakui keberadaan ornamen dan
dekorasi).
2. Straight Revivalism
Straight Revivalism adalah aliran yang menerapkan langgam klasik secara
tegas dan lugas tanpa penambahan yang berarti atau dengan kata lain bentuk,
ruang, dan fasade yang tercipta memang menerapkan aturan-aturan yang
terdapat dalam arsitektur klasik.
3. Neo-Vernacular
Neo-Vernacular adalah aliran yang yang menampilkan karya-karya baru
dengan secara tidak murni menerapkan prinsip-prinsip bangunan vernacular.
Biasanya unur vernacular diterapkan pada bagian tampilan visual bangunan,
unsur-unsur yang sering dipakai adalah: pemakian atap miring, batu bata
sebagai elemen, dan susunan masa yang indah. Selain itu dapat dijelaskan pla
bahwa neo-vernacular adalah mencampurkan antara unsur setempat dengan
unsur baru (kawasan yang berbeda) tetapi masih didominasi oleh unsur
setempat.
4. Urbanist
Urbanist merupakan aliran yang mengadaptasi pembaruan kota dengan
bentuk-bentuk khusus yang sudah dikenal masyarakat. Aliran ini memiliki
dua ciri khusus, yaitu:
a. Ad-Hoc yaitu penambahan komponen baru pada suatu perancangan
yang sedang dalam proses pengembangannya tanpa memikirkan posisi
dan lokasi yang tepat.
b. Kontekstual yaitu berusaha melayani aspirasi ideal masyarakat dengan
desainnya yang mengikuti lingkungan sekitar.

5
5. Metafora
Metafora adalah aliran yang mengambil bentuk-bentuk alam yang
fungsional dan mempunyai tanda-tanda atau simbol tertentu. Sehingga
biasanya refrensi akan dibuat tersamar.
6. Post Modern Space
Post Modern Space merupakan aliran yang difokuskan pada rancangan
spacial-interpretation yang berarti dua atau lebih ruang yang berlainan dapat
digabungkan secara overlapping dan saling bertemu, sehingga menghasilkan
aliran ruang yang menerus. Aliran ini mencoba untuk mendefinisikan ruang
lebih dari sekedar ruang abstrak dan menghasilkan arti ganda, keragaman, dan
kejutan.

Selain keenam aliran yang diuraikan seperti diatas, Jencks juga mengungkapkan
beberapa sub-definition sebagai berikut:
1. “Disharmony Harmony” Jencks menganggap bahwa Arsitektur Pasca Modern
merupakan perpaduan dari keindahan dan komposisi, dari yang selaras dengan
yang tidak selaras dan antara yang simetris dan yang asimetris.
2. “Pluralism” merupakan arsitektur yang tercipta dari beberapa aliran yang
masih mencerminkan arsitektur setempat.
3. “Urban Urbanism” diartikan sebagai arsitektur yang mampu menciptakan
hunian yang sesuai dengan lingkungan.
4. “Anthropomorphism” dengan kata lain ornamen yang terdapat dari suatu
karya aritektur Posmo memiliki bentuk yang sesuai dengan bentuk struktur
manusia.
5. “Anamnesis” mengandung arti bahwa adanya lambang-lambang yang
ditampilkan oleh suatu karya arsitektur yang dapat menimbulkan kenangan
masa lalu terhadap mereka yang melihatnya.
6. “Divergent Signification” berarti bentuk dari suatu arsitektur yang
mengandung kesan atau makna yang berbeda dari yang ditampilkan.

6
7. “Double Coding” berarti suatu karya arsitektur yang tercipta dari
penggabungan dua macam langgam.
8. “Multi-valance” berarti perpaduan beberapa macam gaya dalam sebuah karya
arsitektur.
9. “Traditional Reinterpretation” mengandung makna suatu karya arsitektur
dapat dijadikan representasi/pengulangan akan tradisi lama.
10. “New Rethorical Figures” bermakna memperbarui tata cara lama dengan
tampilan arsitektur atau cara representasi yang baru.
11. “Return to The Absent Center” diartikan sebagia mengembalikan apa yang
menjadi pusat tatanan lama ke dalam bentuk arsitektur.
12. “Semiotic” sebagai arsitektur menjadi sebuah pondasi yang
mengomunikasikan makna dari sang arsitek itu sendiri kepada para penikmat
arsitektur maupun kepada mereka yang menjadi civitas dari arsitektur yang
diciptakan sang arsitek.

Penulis disini setuju dengan pendapat dari Neil Leach bahwa arsitektur Post-
modern merupakan suatu perlawanan dari Modern, sebagai sebuah gerakan kea rah yang
lebih baik yang hadir setelah masa Modern itu sendiri yang kemudian disebut sebagai
Post-Modern. Selain itu, Arsitektur Post-Modern merupakan suatu hasil gagasan, ide,
maupun gaya yang timbul akibat dari kejenuhan kita (manusia) dalam menerapkan
Modernisme dengan sifatnya yang ingin menjadi eksklusif dan tampil berbeda. Post-
Modern hadir, mengembalikan aturan-aturan lama mengenai simbol, makna, ornamen,
serta secara tidak langsung juga mengharmoniskan Arsitektur Modern dengan Arsitektur
Klasik kedalam suatu tatanan yang lebih baik. Mengambil hal-hal baik diantara keduanya
sehingga menciptakan suatu langgam dan gaya yang kita kenal dengan Post-Modern atau
Pasca Modern.

7
2.2 KAJIAN OBJEK GEREJA PAROKI ROH KUDUS
KATEDRAL DENPASAR
Gereja secara etimologi merupakan sebuah kata yang diambil dari bahasa
Portugis: igreja. Kata ini pun merupakan kata yang diambil dari bahasa Yunani:
ekkleksia. Arti dari kata ini apabila diterjemahkan adalah kumpulan orang yang dipanggil
ke luar dari dunia. Kemudian dari terjemahan tersebut terdapat pula beberapa penafsiran
mengenai arti dari kaliamat tersebut. Berikut adalah beberapa penafsirannya:
1. ‘Umat’, atau lebih tepatnya ‘persekutuan’ orang Kristen. Arti ini diterima
banyak kalangan umat Kristiani. Sehingga memunculkan makna bahwa
Gereja pertama kali bukanlah sebuah sebutan untuk gedung.
2. Sebuah perhimpunan atau pertemuan ibadah umat Kristen. Pada umumnya
dilakukan di rumah, lapangan, ruangan hotel maupun tempat rekreasi.
3. Mazhab (aliran) atau denominasi dalam agama Kristen. Contohnya adalah
Gereja Katolik, Gereja Protestan dan lain-lain.
4. Lembaga (administratif) dari sebuah mazhab Kristen. Contohnya, Gereja
menentang perang Suriah.
5. Rumah ibadah umat Kristiani.

8
Gambar 2.2.1 Gereja Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar
Sumber: www.wikimapia.org/1518741/Gereja-Katolik-Roh-Kudus-Katedral-
Denpasar diakses pada 11 Maret 2017

Gereja Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar merupakan sebuah paroki (dalam
bahasa Yunani parokein artinya musafir, pengembara.) dari Gereja Katolik Roma di
Keuskupan Denpasar; berpusat di Desa Sumerta Kelod – Kecamatan Denpasar Selatan, di
kota Denpasar, Bali. Gereja ini mulai dibangun (dilakukan perletakan batu pertama) pada
tanggal 15 Agustus 1993, dan mulai digunakan secara resmi sejak tahun 1998 dalam
sebuah acara perdana yaitu untuk perayaan Ekaristi. Gereja ini merupakan sebuah hasil
karya dari Prof. Dr. Ir. Sulistyawati, MS.,MM.,M.Mis.
Sekilas tentang sang arsitek, Prof. Dr. Ir. Sulistyawati, MS.,MM.,M.Mis.
merupakan seorang Guru Besar di Jurusan Teknik Arsitektur (Program Sarjana dan
Magister), Universitas Udayana sejak tahun 2000 serta, dosen di Program Magister dan
Doktoral Kajian Budaya Universitas Udayana. Beliau lahir di Denpasar, 6 Februari 1946.
Selain merancang Gereja Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar, beliau juga ikut andil
bagian dalam merancang The Hill Villas dan Taman Bhagawan.
Gereja Roh Kudus memiliki atap yang bertumpang dibagian bangunan utamanya
yang terlihat seperti atap bangunan berarsitektur Bali yaitu meru. Meru sendiri dalam
filosofi umat Hindu merupakan perlambang dari Gunung. Selain bentukan atap, pada
bagian fasade Gereja ini terdapat tiga buah menara yang melekat dengan bangunan
utama. Ketiga menara tersebut memiliki kesamaan bentuk dengan bentuk Bale Kulkul
yang tiada lain juga merupakan salah satu bangunan arsitektur tradisional Bali. Material

9
yang digunakan pada bangunan Gereja ini mengadaptasi dari bahan-bahan yang kerap
digunakan masyarakat Bali (banyak terdapat di Puri dan kediaman para kerabat kerajaan)
yaitu material batu bata. Namun, beberapa material yang diterapkan pada bangunan ini
tidak sepenuhnya menerapkan material lokal yang ada.
Contohnya adalah material pada bagian penutup atap yang merupakan material
genteng aspal. Selain hal tersebut, bagian dalam dari Gereja ini dan konsep-konsep
tentang Gereja Katolik juga menjadi unusur yang mendukung kehadiran Gereja ini.
Sehingga, dapat dilihat bahwa terjadi penggabungan dua gaya arsitektur yang berbeda
dalam sebuah bangunan Gereja Roh Kudus ini.
Berdasarkan pemaparan teori yang telah disampaikan sebelumnya dan melalui
analisis dan pengamatan terhadap Gereja Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar maka,
selanjutnya adalah penjelasan mengenai mengapa bangunan Gereja tersebut dapat
dikatakan sebagai sebuah karya arsitektur Post-Modern. Dilihat dari alirannya, dapat
diakatakan bahwa gereja tersebut menerapkan beberapa aliran kedalam bangunan
tersebut diantaranya adalah Historicism, Neo-vernacular, dan Metafora.
1. Historicism

Gambar 2.2.2 Gereja Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar Eksterior


Sumber: www.secapramana.com/frescos-sculptures/indonesia1.htm
diakses pada 11 Maret 2017

Hal ini dapat dilihat dari elemen-elemen yang membentuk


bangunan Gereja. Gereja ini sendiri merupakan paroki (jika diartikan bisa
berarti pengembara secara harfiah atau dengan kata lain perwakilan) dari
Gereja Katolik Roma di Itali. Sehingga, elemen-elemen pembentuk
bangunan Gereja ini merupakan turunan dari elemen klasik yang berasal

10
dari gereja induknya. Namun, diselesaikan dengan cara menerapkan
material yang lebih baru, atau merepresentasikan tempat berdirinya Gereja
ini yaitu di Bali. Material yang digunakan sebagai elemen pembentuk
yang baru adalah batu bata dan atap genteng aspal. Sedangkan, di Gereja
induknya sendiri yaitu Gereja Katolik Roma penggunaan material lebih
kepada beton. Namun, ornamen-ornamen di bagian dalam bangunan tetap
mempertahankan ciri khas Gereja Katolik itu sendiri.
2. Neo-vernacular
Bangunan Gereja ini dapat dikatakan memiliki aliran neo-
vernacular karena dapat dilihat dari fasade dan yang memiliki bentuk
seperti bentuk arsitektur setempat yang digabungkan dengan arsitektur
Gereja Katolik namun, masih didominasi oleh unsur arsitektur setempat.
Hal ini dapat kita lihat dari material yang digunakan, material yang erat
kaitannya dengan arsitektur setempat (Bali) yaitu batu bata. Selain
material, beberapa bagian fasade dari Gereja ini mengambil bentuk dari
arsitektur tradisional Bali yaitu Bale Kulkul. Kemudian, dilihat dari
bentukan atapnya, gereja ini mengambil bentuk seperti bentuk meru (atap
bertumpang) yang juga merupakan salah satu bagian dari arsitektur
tradisional Bali.

Gambar 2.2.3 Penggambaran dalam Aspek Neo-vernacular


Sumber: www.wikimapia.org/1518741/Gereja-Katolik-Roh-
Kudus-Katedral-Denpasar, www.secapramana.com/frescos-
sculptures/indonesia1.htm, www.alamy.com/stock-photo/pura-
meru.html, www.gustibali.com/archives/kulkul-wooden-bell diakses pada
11Maret 2017

11
3. Metafora
Metafora adalah aliran yang mengambil bentuk alam yang
kemudian direpresentasikan secara samar kedalam bentuk arsitektural.
Gereja ini secara tidak langsung juga menerapkan hal itu, karena gereja ini
mengadopsi bentuk atap dari meru yang bertumpang. Dimana dalam
filosofi umat Hindu, meru memiliki makna filosofi dari Gunung. Sehingga
secara tidak langsung Gereja ini juga menerapkan unsur aliran metefora
tadi.

Gambar 2.2.4 Penggambaran dalam Aspek Metafora


Sumber: www.wikimapia.org/1518741/Gereja-Katolik-Roh-Kudus-Katedral-Denpasar, www.alamy.com/stock-
photo/pura-meru.html, www.cadventura/gunung-di-jawa-yang-ramah-untuk-pendaki-pemula/ diakses pada 11 Maret
2017

Kemudian, selain beberapa aliran yang telah diuraikan di atas terdapat pula
beberapa sub-definition yang dikemukakan oleh Jencks yang juga menjadi acuan bahwa Gereja
Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar ini menerapkan arsitektur Post-Modern. Sub-definition
yang mendukung hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Pluralism
Makna dari pluralism adalah arsitektur yang tercipta dari beberapa aliran
yang masih mencerminkan arsitektur setempat. Hal ini jelas merupakan
sebuah pendapat pendukung terhadap Post-Modern pada bangunan Gereja
tersebut. Aliran yang diterapkan pada bangunan Gereja Paroki Roh Kudus
yaitu aliran historicm, neo-vernacular, dan metafora.
2. Multi-valance
Multi-valance dapat diartikan sebagai perpaduan beberapa macam gaya
dalam arsitektur. Gereja ini menerapkan lebih dari satu gaya arsitektur
kedalam rancangan bangunannya, yaitu arsitektur bergaya Katolik Roma
(di bagian interior Gereja) dan tradisional Bali (di bagian eksterior
Gereja).

12
3. New Rethorical Figure
New Rethorical Figures bermakna memperbarui tata cara lama dengan
tampilan arsitektur atau cara representasi yang baru. Adapun hal ini
sejalan dengan aliran Historicim itu sendiri yang mana berusaha
menerapkan tata cara lama dalam Gereja Katolik roma yang diadopsi
kedalam Gereja Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar dengan cara
representasi yang baru.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Arsitektur merupakan suatu hal yang sangat esensial dalam kehidupan manusia
karena ia (baca: arsitektur) juga ikut berkembang seiring dengan perkembangan yang ada
dari masyarakat yang menghendakinya. Arsitektur memiliki banyak gaya dan langgam
yang berkembang hingga saat ini, salah satunya adalah Arsitektur Post-Modern. Gaya
arsitektur ini diilhami dari kejenuhan masyarakat kala itu dengan gaya arsitektur Modern.
Arsitektur Post-Modern juga dikenal sebagai kebalikan dari arsitektur Modern karena
yang dahulu Modern tidak menghiraukan ornamen, symbol dan makna, kini berbalik
malah mementingkan ketiganya. Selain itu, arsitektur pasca modern juga mengambil hal-
hal baik yang telah dicapai oleh arsitektur Modern dan menyempurnakannya guna
mencapai ‘impian’ yang gagal dari arsitektur tersebut.
Gereja Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar merupakan salah satu bangunan di
Indonesia, khususnya di Bali yang dibangun oleh arsitek Indonesia yaitu Prof. Dr. Ir.
Sulistyawati, MS.,MM.,M.Mis. Bangunan Gereja ini menerapkan beberapa gaya
arsitektur yang kemudian disatukan menjadi sesuatu yang harmonis. Karya Bu Sulis
(begitu beliau kerap disapa) ini termasuk kedalam gaya arsitektur Post-modern karena
mengandung unsur-unsur definisi arsitektur pasca modern itu sendiri, yang dikemukakan
oleh Charles Jencks.

3.2 SARAN
Globalisasi membuat perubahan besar dalam segala bidang, termasuk bidang
arsitektur. Arsitektur tradisional Bali yang telah sejak lama ada juga ikut mengalami
dampak dari masuknya globalisasi ke tanah Bali. Alih-alih meninggalkan dan melupakan
arsitektur tradisi yang ada, kita sebagai generasi penerus dan pewaris dari arsitektur masa
kini seharusnya ikut melestarikan dan mengupayakan hidup dan berkembangnya
arsitektur tradisi. Melestarikan yang telah ada tidaklah selalu harus mempertahankan
segala sesuatunya secara utuh dan menyeluruh. Namun, dapat dilakukan dengan
mengadopsi dan menerapkan nilai-nilai luhur pada arsitektur tradisi kedalam arsitektur

14
masa kini. Hal semacam ini telah ditunjukkan oleh sang arsitek dari Gereja Paroki Roh
Kudus Katedral Denpasar. Tentunya hal semacam ini dapat kita contoh agar arsitektur
tradisi tetap lestari dan relevan dengan tuntutan jaman.

15
DAFTAR PUSTAKA

Leach, Neil. 1996. Rethinking Architecture A Reader in Cultural Theory. Routledge. London

Jencks, Charles A. 1977. The Language of Post-modern Architecture. Rizzoli. London

Sumalyo, Yulianto. 1997. Arsitektur Modern Akhir Abad XIX dan Abad XX. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta

www.wikimapia.org/1518741/Gereja-Katolik-Roh-Kudus-Katedral-Denpasar diakses pada 11 Maret


2017

www.secapramana.com/frescos-sculptures/indonesia1.htm diakses pada 11 Maret 2017

www.alamy.com/stock-photo/pura-meru.html diakses pada 11 Maret 2017

www.gustibali.com/archives/kulkul-wooden-bell diakses pada 11 Maret 2017

www.cadventura/gunung-di-jawa-yang-ramah-untuk-pendaki-pemula/ diakses pada 11 Maret 2017

16