Anda di halaman 1dari 4

TUGAS KELOMPOK KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER II

PERUNDANG-UNDANGAN DAN PERATURAN PEMERINTAH TENTANG


PEMOTONGAN TERNAK, KESEHATAN DAGING, DAN PRODUKSI SUSU
DALAM NEGERI

OLEH:

DERFINA LIJUNG 1609511078

RAISIS FARAH D. A. 1609511080

VANESYA YULIANTI 1609511082

Kelas 2016 D

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019
BAB VIII

PERUNDANG-UNDANGAN DAN PERATURAN PEMERINTAH TENTANG


PEMOTONGAN TERNAK, KESEHATAN DAGING, DAN PRODUKSI SUSU
DALAM NEGERI

Perundang-undangan dan Peraturan Pemerintah tentang pemotongan ternak,


kesehatan daging, dan produksi susu dalam negeri merupakan landasan hukum serta
pedoman bagi pelaksana kegiatan. Berikut dijabarkan secara ringkas perundangan dan
peraturan pemerintah yang mengatur hal tersebut .

1. Staatsblad Nomor 614 tahun 1936 tentang Pemotongan Ternak Besar Betina
Bertanduk
Menurut undang-undang ini dilarang menyembelih sapi atau kerbau betina. Hal
ini dimaksudkan untuk mencegah penurunan populasi ternak sapi/kerbau. Larangan
tidak berlaku apabila ternak telah diafkir oleh petugas Dinas Peternakkan dengan
alasan ternak sapi/kerbau betina tersebut :
a. Memiliki sifat ras yang tidak d. Warna bulu menyimpang.
sesuai (menyimpang). e. Berumur lebih dari 8 tahun.
b. Cacat atau dikhawatirkan akan f. Sudah beranak minimal 5 kali.
cacat. g. Eksterior tubuh jelek.
c. Majir (mandul) atau
dikhawatirkan majir.
Dinyatakan juga ternak betina terpaksa dipotong apabila (a) mengamuk
membahayakan sekitar, (b) kecelakaan berat, (c) terserang penyakit, (d) jiwanya
terancam, dan (e) berkaitan peraturan pencegahan dan pemberantas penyakit
menular.

2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok


Peternakkan dan Kesehatan Hewan
Pada undang-undang ini dijelaskan perombakan dan pembangunan di bidang
peternakan dan kesehatan hewan bertujuan untuk meningkatkan produksi untuk
meningkatkan taraf hidup peternak serta memenuhi keperluan bahan makanan asal
ternak untuk seluruh rakyat Indonesia. Maka dari itu dilakukan perombakan dan
pembangunan di bidang usaha :
a. Peningkatan hasil d. Perbaikan pengolahan bahan
perkembangbiakan ternak asal ternak.
b. Perbaikan mutu ternak e. Perwilayahan ternak dan usaha
c. Perbaikan situasi makan ternak penyaluran ternak.
f. Pemeliharaan kesehatan hewan.

3. Peraturan Daerah Bali Nomor 5 tahun 1974 tentang Pemotongan Ternak


Potong
Pada peraturan ini dijelaskan ternak potong yang akan disembelih dibawa ke
RPH sehari sebelumnya dan diperiksa oleh juru daging (meliputi biaya potong,
kesehatan hewan, dan kegunaannya). Ternak yang baik untuk dipotong diberi cap
“P”. Pemeriksaan ante-mortem dilakukan setiap hari mulai matahari terbit sampai
terbenam. Berikut perlakuannya :
a. Digantung pada alat-alat yang ada menurut petunjuk dokter hewan.
b. Dibelah memanjang (tapi kedua bagiannya masih bergandengan).
c. Organ di rongga dada, perut, dan pinggul kecuali ginjal dikeluarkan.

Pekerjaan membersihkan daging dilarang dilakukan di ruang lain dari ruang


yang telah disediakan.

4. Instruksi Bersama Menteri Dalam Ngeri dan Menteri Pertanian Nomor 18/
1979 dan Nomor 5/ 1979 tentang Pencegahan dan Larangan Pemotongan
Ternak Sapi/ Kerbau Betina Bunting dan atau Sapi/ Kerbau Betina Bibit
Inti materi instruksi bersama ini merupakan penegasan hal-hal yang terkandung
dalam Staatblad Nomor 614 tahun 1936. Penegasan ini dianggap penting karena
terjadi kecendrungan penurunan populasi ternak sapi/ kerbau akhir- akhir ini. Di
samping itu, terdapat fakta bahwa para jagal cenderung untuk memotong sapi/
kerbau betina karena harga belinya lebih murah, sedangkan harga jual dagingnya
tidak berbeda dengan ternak jantan.

5. Instruksi Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali Tanggal 1 Oktober 1980


tentang Pencegahan dan Larangan Pemotongan Ternak Sapi/ Kerbau Betina
Bibit atau Sapi/ Kerbau Betina yang Masih Produktif
Instruksi Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali ini mempertegas lagi Staablad
Nomor 614 Tahun 1936 dan Instruksi Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri
Pertanian tahun 1979 di atas.

6. Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular


Isi pedoman ini memuat Pendahuluan, etiologi, epizootiologi, pengenalan
penyakit, tindakan, dan perlakuan pemotongan hewan dan daging.
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1983 tentang
Kesehatan Masyarakat Veteriner
Peraturan pemerintah ini terdiri atas 8 Bab dan 30 pasal.
 Bab I mengatur ketentuan umum yang berisi tentang beberapa istilah seperti
Daging, Usaha pemotongan hewan, zoonosis.
 Bab II diatur ikhwal pengawasan kesehatan masyarakat veteriner (pasal 2-15)
 Bab III mengatur ikhwal-pengujian (pasal 16-20)
 Bab IV mengatur ikhwal pemberantasan rabies (pasal 21-25)
 Bab V diatur ikhwal pengawasan dan pengendalian zoonosis lainnya (pasal 26-
27)
 Bab VI mengatur ikhwal ketentuan pidana

8. Surat Keputusan Direktorat Jendral Peternakan Nomor 17 tahum 1983


tentang syarat-syarat, Tata Cara Pengawasan, dan Pemeriksaan Kualitas
Susu Produksi Dalam Negeri
 Bab I mengatur ketentuan umum yang berisi tentang beberapa istilah seperti
susu dan jenis-jenis nya, laboratorium, usaha peternakan sapi perah, pengumpul
susu, penampung susu, kamar susu, waktu henti obat
 Bab II mengatur syarat-syarat kesehatan sapi perah dan kualitas susu yang
diproduksi
 Bab III menhatur Tata cara pengawasan dan pengujian kualitas Air susu
 Bab IV mengatur ikhwal Hasil pemeriksaan dan pengujian kualitas susu

9. Surat Keputusan Mentri Pertanian Nomor 413/Kpts/TN.310/7/1992 tentang


Pemotongan Hewan Potong dan Penanganan Daging Serta Hasil Ikutannya
 Bab I mengatur ketentuan umum post -ante mortem
 Bab II membahas Syarat-Syarat dan Tata Cara pemotongan Hewan Potong
 Bab III membahas Tata Cara penanganan daging sebagai berikut
 Bab IV mengatur ikhwal penanganan hasil ikutan dan limbah
 Bab V mengatur ketentuan-ketentuan lain seperti petugas pemotongan hewan
dan penanganan daging