Anda di halaman 1dari 33

Jenis-jenis MCB

Berdasarkan waktu pemutusannya, pengaman-pengaman otomatis dapat terbagi atas otomat-


L, otomat-H, dan otomat-G.
1. Otomat-L (Untuk Hantaran)
Pada otomat jenis ini pengaman termisnya disesuaikan dengan meningkatnya suhu hantaran.
Apabila terjadi beban lebih dan suhu hantaran melebihi suatu nilai tertentu, elemen
bimetalnya akan memutuskan arusnya. Kalau terjadi hubung singkat, arusnya diputuskan
oleh pengaman elektromagnetiknya. Untuk arus bolak-balik yang sama dengan 4In-6In dan
arus searah yang sama dengan 8In pemutusan arusnya berlangsung dalam waktu 0,2 detik.
2. Otomat-H (Untuk Instalasi Rumah)
Secara termis jenis ini sama dengan otomat-L, tetapi pengaman elektromagnetisnya
memutuskan dalam waktu 0,2 detik, jika arusnya sama dengan 2,5In-3In untuk arus bolak
balik atau sama dengan 4 In untuk arus searah. Jenis otomat ini digunakan untuk instalasi
rumah. Pada instalasi rumah, arus gangguan yang rendah pun harus diputuskan dengan
cepat. Jadi kalau terjadi gangguan tanah, bagian-bagian yang terbuat dari logam tidak akan
bertegangan.
3. Otomat-G
Jenis otomat ini digunakan untuk mengamankan motor-motor listrik kecil untuk arus bolak-
balik atau arus searah, alat-alat listrik dan juga rangkaian akhir besar untuk penerangan,
misalnya penerangan pabrik. Pengaman elektromagnetiknya berfungsi pada 8In-11In untuk
arus bolak-balik atau 14 In untuk arus searah. Kontak-kontak sakelarnya dan ruang
pemadam busur apinya memiliki konstruksi khusus. Karena itu jenis otomat ini dapat
memutuskan arus hubung singkat yang besar, yaitu hingga 1500 A.
Tipe-Tiper MCB
1. MCB tipe Z (rating dan breaking capacity kecil)
Digunakan untuk pengaman rangkaian semikonduktor dan trafo – trafo tegangan yang
peka.
2. MCB tipe K (rating dan breaking capacity kecil)
Digunakan untuk pengaman alat – alat rumah tangga (home appliance).
3. MCB tipe G ( rating besar) untuk pengaman motor.
4. MCB tipe L untuk pemgaman kabel atau jaringan.
5. MCB tipe H untuk pengaman instalasi penerangan bangunan.

4 Power loading of an installation


Fig. A15 An example in estimating the maximum predicted loading of an installation (the factor values used are for demonstration purposes only)

Fig. E34 List of design verifications to be performed, and verification options available (table D.1 of Annex D of IEC61439-1)

Fig. H41 below summarizes the main characteristics of the instantaneous or


short-time delay trip units.

Fig. H28 Tripping-current ranges of overload and short-circuit protective devices for LV circuit breakers

G30 The protective device must fulfill:


b instantaneous trip setting Im < Iscmin for
a circuit breaker
b fusion current Ia < Iscmin for a fuse

2.1 Elementary switching devices


Disconnector (or isolator)

Contactor (see Fig. H7)

Fuses (see Fig. H8)

Fusing zones - conventional currents

Tabel PHB Utama P – III


In - Breaking Busbar C.S.A Breaker C.S.A
No. Nama
breaker Capacity ke Sebelum ke Sesudah
Breaker Panel
(A) (KA) breaker (mm2) panel (mm2)
1 250 25 - - - - PP – III A
2 250 25 - - - - PP – III B
3 100 10 NYA 4 x 16 NYY 4 x 16 PP – III C
4 100 10 - - - - PP – III G
5 100 10 NYA 4 x 16 NYY 4 x 16 PP – III D
6 100 7,5 - - - - PP – III
7 63 10 NYA 4 x 16 NYY 4 x 16 PP – III E
8 63 NYA 4 x 16 NYY 4 x 16 PP – III F
Kabel Utama Fuse Utama (SIBA)
NYY 4 x mm2 NH gL 630A 120kA
Busbar
Nama dari PHB utama yaitu P – III. PHB cabang terdiri dari empat yaitu: PP – III C,
PP – III D, PP – III E dan PP – III F. Pada Tabel PP – III C, Tabel PP - III D, PP – III
E, dan Tabel PP – III F akan dijelaskan beban listriknya, breaker, dan kabel beserta
spesifikasinya.
Tabel PP – III C
In - Busbar C.S.A Breaker C.S.A
No.
breaker ke Sebelum ke Sesudah Nama Mesin IFL (A)
Breaker
(A) breaker* (mm2)** mesin (mm2)
1 16 NYA 3 (1 x 6) NYY 4x4 Mesin Bor (2.10) 2,6
2 32 NYA Lalu NYY 4x4 Stop Kontak 1 & 3 fasa 16
3 16 NYA 6 (1 x 4) NYY 4x4 Stop Kontak 1 & 3 fasa 16
4 16 NYA 3 (1 x 6) NYY 4x4 Stop Kontak 1 & 3 fasa 16
5 16 NYA Lalu NYY 4x4 Stop Kontak 1 & 3 fasa 16
6 16 NYA 6 (1 x 4) - - - -
7 16 NYA 3 (1 x 6) - - - -
8 16 NYA Lalu - - - -
9 16 NYA 6 (1 x 4) - - - -
10 16 NYA 3 (1 x 6) - - - -
11 16 NYA Lalu NYY 4x4 - -
12 16 NYA 6 (1 x 4) - - - -
13 16 NYA 3 (1 x 6) NYY 4 x 2.5 Mesin Bor (2.01) 3,2/1,9
14 16 NYA Lalu NYY 4 x 2,5 Mesin Bor (2.02) 3,2/1,9
15 16 NYA 6 (1 x 4) NYY 4 x 2,5 Mesin Bor (2.03) 3,2/1,9
16 16 NYA 3 (1 x 6) - - - -
17 16 NYA Lalu - - - -
18 16 NYA 6 (1 x 4) - - - -
Kabel Utama Kontaktor Utama (BBC) Fuse Utama (SIBA)
NYY 4 x 16 mm2 SLA 60 Ith 110A NH gL 80A 120kA
Busbar AC3 (380) 30 kW
Catatan: *(Busbar ke breaker) merupakan jenis kabel yang menghubungkan Busbar ke
breaker. (Breaker ke mesin) merupakan jenis kabel yang menghubungkan breaker
ke mesin. Ini juga berlaku untuk Tabel PP – III D, PP – III E, dan PP – III F.
**maksud dari (C.S.A Sebelum (mm2) merupakan ukuran luas penampang kabel yang
menghubungkan Busbar dengan Breaker. 3 (1 x 6) merupakan kabel yang
menghubungkan Busbar dengan salah satu breaker. Dan 6 (1 x 4) merupakan kabel
yang menghubungkan salah satu breaker dengan dua breaker lainnya sehingga 3 (1
x 6) menghubungkan 3 breaker dengan Busbar. (C.S.A Sesudah (mm2)) merupakan
luas penampang kabel yang menghubungkan breaker dengan mesin. Ini juga berlaku
untuk Tabel PP – III D, PP – III E, dan PP – III F.

Tabel PP – III D
No. In - Busbar C.S.A Breaker C.S.A
IFL -
Breaker breaker ke Sebelum ke Sesudah Nama Mesin
(A)
(A) breaker (mm2) mesin (mm2)
1 16 NYA 3 (1 x 6) NYY 4x4 3 Stop Kontak 3 fasa 3 x 16
2 16 NYA Lalu NYY 4x4 Stop Kontak 1 & 3 fasa 16
3 16 NYA 6 (1 x 4) NYY 4x4
4 16 NYA 3 (1 x 6) NYY 4x4
5 16 NYA Lalu NYY 4x4
6 16 NYA 6 (1 x 4) NYY 4x4
7 6 NYA 1 x 1,5* NYM 3 x 1,5 - -
8 16 NYA 3 (1 x 6) NYY 4 x 2,5 Mesin 4
9 40 NYA Lalu NYY 4 x 2,5 Mesin 4
10 32 1P NYA 5 (1 x 4) NYA 1 x 6 rm
11 40 1P NYA NYA 1x4
12 16 NYA 3 (1 x 6) - - - -
13 16 NYA Lalu - - - -
14 16 NYA 6 (1 x 4) NYY 4 x 6 re Hydracut (3.01)
Kabel Utama Kontaktor Utama Fuse Utama (SIBA)
NYY 4 x 16 mm2 (Telemecanique) NH gL 100A 120kA
Busbar LC1 D80 11 Ith 125A
AC3 (440) 37kW

Tabel PP – III E
In - Busbar C.S.A Breaker C.S.A
No.
breaker ke Sebelum ke Sesudah Nama Mesin IFL (A)
Breaker
(A) breaker (mm2) mesin (mm2)
1 16 NYA 3 (1 x 6) NYY 4x4 Mesin Bubut 1 3,26
2 16 NYA Lalu NYY 4x4 Mesin Bor
3 16 NYA 6 (1 x 4) NYY 4x4 Mesin Bubut 2 3,26
4 16 NYA 3 (1 x 6) NYY 4x4 Mesin Bubut 4 3,26
5 16 NYA Lalu NYY 4x4 Mesin Bubut 3 3,26
6 16 NYA 6 (1 x 4) NYY 4x4 Mesin Bubut 5 3,26
7 16 NYA 3 (1 x 6) NYM 3 (3 x 1,5) Lampu 1,71
8 16 NYA Lalu NYM 3 x 1,5 - -
9 16 NYA 6 (1 x 4) NYY 4 x 2,5 - -
10 16 NYA 3 (1 x 6) NYY 4 x 2,5 - -
11 16 NYA Lalu NYY 4x4 Milling Machine Press 3,22
12 16 NYA 6 (1 x 4) NYY 4x4 - -
Kabel Utama Kontaktor Utama (EWIG) Fuse Utama (SIBA)
NYY 4 x 16 mm2 S-K25 Ith 50A NH gL 63A 120kA
Busbar AC3 (440) 18,5kW 40A

Tabel PP – III F
In - Busbar C.S.A Breaker C.S.A
No.
breaker ke Sebelum ke Sesudah Nama Mesin IFL (A)
Breaker
(A) breaker (mm2) mesin (mm2)
1 16 NYA 3 (1 x 6) - - - -
2 16 NYA Lalu - - - -
3 16 NYA 6 (1 x 4) NYY 4x4 Stop Kontak 1 & 3 fasa 16 +
+ 2 Mesin
4 16 NYA 3 (1 x 6) - - - -
5 16 NYA Lalu - - - -
6 16 NYA 6 (1 x 4) - - - -
7 16 NYA 3 (1 x 6) - - - -
8 16 NYA Lalu NYY 4x4 Promecam RG-80-25
6 (1 x 4) (3.10)
9 16 NYA - - - -
10 16 NYA 3 (1 x 6) - - - -
11 16 NYA Lalu - - - -
12 63 NYA 6 (1 x 4) NYY 4x4 SMT-Pullmax (3.01)
Kabel Utama Kontaktor Utama (BBC) Fuse Utama (SIBA)
NYY 4 x 16 mm2 SLA 40 Ith 50A NH gL 63A 120kA
Busbar AC3 (380) 22kW

Tabel KHA Kabel Trifase 3 dan 4-inti Berinsulasi dan Berselubung PVC dengan
Voltase Pengenal 0,6/1KV (1,2KV) Pada Suhu 30°C
C.S.A SNI 0225:2011 Kabelmetal Kabelindo
(mm2) (A) (A) (A)
Tanah Udara Tanah Udara Tanah Udara
1,5 26 18,5 27 22 24 18
2,5 34 25 35 29 32 25
4 44 34 46 39 41 34
6 56 43 57 50 52 44
10 75 60 77 68 69 60
16 98 80 99 90 89 80
Instalasi bukan rumah
Untuk instalasi bukan rumah perhitungan kebutuhan maksimum setiap fase dari
instalasi harus ditentukan dari Tabel 2.3-2 dengan mengambil jumlah dari nilai-nilai
yang diperoleh dengan menerapkan petunjuk yang tepat dalam kolom 2 dan 3 sesuai
dengan jenis instalasinya pada kelompok beban A, B dan seterusnya dalam kolom 1.
e) lihat 2.3.4.1 2.3.4.2 dan 2.3.5.3 untuk kebutuhan maksimum sirkit utama, sirkit
cabang dan sirkit akhir yang dapat ditentukan dengan pembatasan.
Kelompok Beban Perumahan, hotel, asrama, Pabrik, toko, kompleks,
rumah sakit, rumah perkantoran, komplek
penginapan, motel e) perdagangan e)

Tabel 2.4-4 Pembebanan dan jumlah titik sambung tiap sirkit akhir beban campuran
dalam instalasi bukan rumah
Tabel 2.4-4 Jumlah titik sambung untuk satu buah sirkit akhir untuk penggunaan
tunggal dalam instalasi bukan rumah
g) sambungan yang dibatasi
pada sirkit dengan penampang kurang dari 2,5 mm2, tidak boleh disambungkan KKB
atau KK fase satu 15A atau 20A.
No Nama No Nama C.S.A IB (A) In IZ (A) Keterangan
Panel Breaker Sirkuit (mm2) (A)
1 1 W6 4x4 2,6 G16 34 Sudah Sesuai
2 2 W7 4x4 16 C32 34 Sudah Sesuai
3 3 W8 4x4 16 G16 34 Sudah Sesuai
4 4 W9 4x4 16 G16 34 Sudah Sesuai
PP – III C
5 5 W10 4x4 16 G16 34 Sudah Sesuai
6 13 W11 4 x 2,5 3,2 G16 25 Sudah Sesuai
7 14 W12 4 x 2,5 3,2 G16 25 Sudah Sesuai
8 15 W13 4 x 2,5 3,2 G16 25 Sudah Sesuai
9 Fuse utama 4 x 16 80,2 80 72,72 Tidak Sesuai
10 1 W14 4x4 3 x 16 G16 34 Tidak Sesuai
11 2 W15 4x4 16 G16 34 Sudah Sesuai
12 PP – III D 8 W16 4 x 2,5 4 G16 25 Sudah Sesuai
13 9 W17 4 x 2,5 4 G40 25 Tidak Sesuai
14 14 W18 4x6 3,2 G16 44 Sudah Sesuai
15 Fuse utama 4 x 16 79,2 100 72,72 Tidak Sesuai
16 1 W19 4x4 3,26 G16 34 Sudah Sesuai
17 2 W20 4x4 3,2 G16 34 Sudah Sesuai
18 3 W21 4x4 3,26 G16 34 Sudah Sesuai
19 4 W22 4x4 3,26 G16 34 Sudah Sesuai
PP – III E
20 5 W23 4x4 3,26 G16 34 Sudah Sesuai
21 6 W24 4x4 3,26 G16 34 Sudah Sesuai
22 7 W25 4 x 1,5 1,71 G16 18 Sudah Sesuai
23 11 W26 4x4 3,22 G16 34 Sudah Sesuai
24 Fuse utama 4 x 16 25,25 63 72,72 Sudah Sesuai
25 PP – III F 3 W27 4x4 16 G16 34 Sudah Sesuai
26 8 W28 4x4 3,2 G16 34 Sudah Sesuai
27 12 W29 4x4 3,2 B63 34 Tidak Sesuai
28 Fuse utama 4 x 16 26,4 63 72,72 Sudah Sesuai
29 3 W2 4 x 16 80,2 100 80 Tidak Sesuai
30 5 W3 4 x 16 79,2 100 80 Tidak Sesuai
P - III
31 7 W4 4 x 16 25,25 63 80 Sudah Sesuai
32 8 W5 4 x 16 26,4 63 80 Sudah Sesuai
33 W1

Nama Faktor Cabang Faktor Faktor Utilitas Beban IB IB’


Sirkuit (Ks) Pengembangan (Ku) (A) (A)
Faktor kedepan (d)
Cabang Jenis Faktor
Ks
W1 7 0,7 1,2 Panel 1 231,1 194,12
W2 8 0,7 1,2 Panel 1 80,2 67,36
W3 5 0,8 1,2 Panel 1 79,2 76,03
W4 8 0,7 1,2 Panel 1 25,25 21,21
W5 3 0,9 1,2 Panel 1 26,4 28,51
W6 1 1 1 Bor 0,75 2,6 1,95
W7 1 0,2 1 Socket Outlet 1 16 3,2
W8 1 0,2 1 Socket Outlet 1 16 3,2
W9 1 0,2 1 Socket Outlet 1 16 3,2
W10 1 0,2 1 Socket Outlet 1 16 3,2
W11 1 1 1 Bor 0,75 3,2 2,4
W12 1 1 1 Bor 0,75 3,2 2,4
W13 1 1 1 Bor 0,75 3,2 2,4
W14 1 0,2 1 Socket Outlet 1 16 3,2
W15 1 0,2 1 Socket Outlet 1 16 3,2
W16 1 1 1 Mesin 0,75 4 3
W17 1 1 1 Mesin 0,75 4 3
W18 1 1 1 Mesin 0,75 3,2 2,4
W19 1 1 1 Mesin Bubut 0,75 3,26 2,445
W20 1 1 1 Bor 0,75 3,2 2,4
W21 1 1 1 Mesin Bubut 0,75 3,26 2,445
W22 1 1 1 Mesin Bubut 0,75 3,26 2,445
W23 1 1 1 Mesin Bubut 0,75 3,26 2,445
W24 1 1 1 Mesin Bubut 0,75 3,26 2,445
W25 1 1 1 Lampu 1 1,71 1,71
W26 1 1 1 Milling Machine 0,75 3,22 2,415
W27 1 0,2 1 Socket Outlet 1 16 3,2
W28 1 1 1 Mesin 0,75 3,2 2,4
W29 1 1 1 Mesin 0,75 3,2 2,4

Factor of maximum utilization (ku)

In normal operating conditions the power consumption of a load is sometimes

less than that indicated as its nominal power rating, a fairly common occurrence
that justifies the application of an utilization factor (ku) in the estimation of realistic

values.

This factor must be applied to each individual load, with particular attention

to electric motors, which are very rarely operated at full load.

In an industrial installation this factor may be estimated on an average at 0.75

for motors.

For incandescent-lighting loads, the factor always equals 1.

For socket-outlet circuits, the factors depend entirely on the type of appliances

being supplied from the sockets concerned.

For Electric Vehicle the utilization factor will be systematically estimated to 1, as it

takes a long time to load completely the batteries (several hours) and a dedicated

circuit feeding the charging station or wall box will be required by standards.

Tabel Faktor Diversitas (Diversity factor) untuk Apartemen dijelaskan pada standar
prancis NFC14-100 dan dapat diterapkan untuk apartemen tanpa pemanas listrik
Jumlah Diversity
Pelanggan Factor
Downstream (ks)
2-4 1
5 - 10 0,78
10 - 14 0,63
15 - 19 0,53
20 - 24 0,49
25 - 29 0,46
30 - 34 0,44
35 - 39 0,42
40 - 49 0,41
50 dan lebih. 0,38
Proteksi hubung pendek sirkit cabang
Suatu sirkit cabang yang menyuplai beberapa motor dan terdiri atas konduktor dengan
ukuran berdasarkan 510.5.3.2 harus dilengkapi dengan proteksi arus lebih yang tidak
melebihi nilai pengenal atau setelan gawai proteksi sirkit akhir motor yang tertinggi
berdasarkan 510.5.5.2.3, ditambah dengan jumlah arus beban penuh semua motor lain
yang disuplai oleh sirkit tersebut. (510.5.6.1) [13]
electric ada tiga metoda untuk menghitung Isc yaitu
a. Arus Hubung Pendek (Isc) Pada Terminal Sekunder dari Trafo Distribusi MV/LV
Jika instalasi hanya disuplai oleh satu trafo, maka untuk menghitung Isc pada sisi
sekunder trafo menggunakan rumus:
𝐼𝑛 𝑥 100 𝑆 𝑥 103
Isc = dimana In =
𝑈𝑠𝑐 𝑈20 √3

Keterangan:
S = Pengenal KVA Trafo (KVA)
U20 = Tegangan sekunder line-to-line tanpa beban (V)
In = Arus pengenal trafo (A)
Usc = Tegangan impedansi hubung pendek trafo (%)
U20 = 400 x 1,05 = 420V
𝑆 𝑥 103 250 𝑥 103
In = = = 343,66 A
𝑈20 √3 420 √3
𝐼𝑛 𝑥 100 343,66 𝑥 100
Isc = = = 8,591 kA
𝑈𝑠𝑐 4
Jadi arus hubung singkat yang akan terjadi pada instalasi tenaga listrik di sisi sekunder
trafo adalah 8,591 kA.
b. Arus Hubung Pendek (Isc) pada Setiap Titik di Instalasi LV dengan Menghitung
ZT
Tabel Perhitungan Hubung Pendek Maksimum Pada Setiap Panel
Isc =
RT XT
Instalasi LV R (mΩ) X (mΩ) 𝑼𝟐𝟎
(mΩ) (mΩ)
√𝟑 √𝑹𝑻𝟐 + 𝑿𝑻𝟐
Trafo Xtr = 0,95 Ztr 8,74 26,79 Isc = 8,604 kA
250 kVA 4202 4% = 0,95 x 28,2
Ztr = 𝑥 100
Usc = 4 % 250 = 26,79 mΩ
Un = 400V = 28,2 mΩ
Rtr = 0,31 Ztr
= 0,31 x 28,2
= 8,742 mΩ
Kabel tunggal 10 18,51 10 Xc = 0,08 x 10 8,93 27,59 Isc = 8,361 kA
Rc = 𝑥
m tembaga 4 240 = 0,8
= 0,192 mΩ
4 x 240 mm2/fasa
Kabel Inti 4 30 Xc = 0,08 x 30 43,62 29,99 Isc = 4,58 kA
Rc = 18,5 𝑥
30 m 16 = 2,4
16 mm2 tembaga = 34,68 mΩ
PP – III C
Kabel Inti 4 15 Xc = 0,08 x 15 26,27 28,79 Isc = 6,22 kA
Rc = 18,5 𝑥
15 m 16 = 1,2
16 mm2 tembaga = 17,34 mΩ
PP – III D
Kabel Inti 4 45 Xc = 0,08 x 45 60,96 31,19 Isc = 3,54 kA
Rc = 18,5 𝑥
45 m 16 = 3,6
16 mm2 tembaga = 52,03 mΩ
PP – III E
Kabel Inti 4 68 Xc = 0,08 x 68 87,55 33,03 Isc = 2,59 kA
Rc = 18,5 𝑥
68 m 16 = 5,44
16 mm2 tembaga = 78,62 mΩ
PP – III F

c. Menghitung Isc Ujung Penerima Menggunakan Method of Composition

Gambar Jaringan Instalasi Tenaga Listrik


Jaringan seperti gambar diatas, dapat mengetahui Isc pada panel berikutnya.
Menggunakan method of composition. Pada tabel method of composition ini
memberikan nilai hubung pendek (Isc) yang cepat dan cukup akurat. Untuk mengetahui
Isc pada suatu titik jaringan, harus diketahui:
a. Nilai Isc pada titik sebelumnya dari titik yang akan dicari Isc-nya (Isc Upstream).
b. Panjang serta C.S.A (luas penampang kabel) antara titik dimana Isc upstream dan
titik dimana Isc-nya akan dicari.
Tabel method of composition dapat dilihat pada Lampiran 3. Dengan data dari gambar
jaringan instalasi tenaga listrik untuk mengetahui Isc = ? maka pertama cari luas
penampang (C.S.A) konduktor yang digunakan yaitu 16 mm2. Lalu panjang kabelnya
yaitu 30 m, karena pada tabel tidak tersedia pilih panjang yang lebih kecil dari 30 m
yaitu 27 m. Setelah itu semua cari Isc upstream yang sudah diketahui yaitu sebesar 8,3
kA, karena tidak ada yang benar-benar pas dengan nilai tersebut maka pilih nilai yang
lebih besar yaitu 10 kA. Lalu ambil garis lurus kebawah panjang kabel 27 m dan garis
kearah sebelah kanan dari Isc upstream yaitu 10 kA. Pada titik pertemuan garis yang
dibuat tersebut merupakan Isc downstream atau Isc = ? pada gambar jaringan instalasi
tenaga listrik.

Gambar Mencari Isc untuk PP – III C (Lampiran 3)


Maka Isc pada PP – III C yang berada pada lingkaran biru yaitu 4,2 kA.
Tabel Isc Pada Setiap Panel
Nama Panel Panjang Kabel C.S.A (mm2) Isc (kA)
(m)
Asli Tabel
PP – III C 30 27 16 4,2
PP – III D 15 13,8 16 5,9
PP – III E 45 39 16 3,4
PP – III F 68 55 16 2,7

Dari ketiga metoda diatas, setelah dihitung akan mendapatkan nilai-nilai sebagai berikut:
Tabel Perbandingan Perhitungan Isc Menggunakan 3 Metode Berbeda
Nama Panel Isc Metode 1 Isc Metode 2 Isc Metode 3
(kA) (kA) (kA)
P – III 8,591 8,361 8,3
PP – III C 8,591 4,580 4,2
PP – III D 8,591 6,220 5,9
PP – III E 8,591 3,540 3,4
PP – III F 8,591 2,591 2,7
Keterangan:
Isc Metode 1 = Menghitung Arus Hubung Pendek (Isc) Pada Terminal Sekunder dari
Trafo Distribusi MV/LV.
Isc Metode 2 = Menghitung Arus Hubung Pendek (Isc) pada Setiap Titik di Instalasi LV
dengan Menghitung Z¬T
Isc Metode 3 = Menghitung Isc Ujung Penerima Menggunakan Method of Composition
Tabel Pemeriksaan Zona c
No Nama No C.S.A In Iscb Isc Keterangan
Panel Breaker (mm2) (A) (kA) (kA)
1 1 4x4 16 - -
2 2 4x4 32
3 3 4x4 16 - -
4 4 4x4 16 - -
PP – III C 4,2
5 5 4x4 16 - -
6 13 4 x 2,5 16 - -
7 14 4 x 2,5 16 - -
8 15 4 x 2,5 16 - -
9 Fuse utama 4 x 16 80 120 Sudah Sesuai
10 1 4x4 16 - -
11 2 4x4 16 - -
12 PP – III D 8 4 x 2,5 16 - 5,9 -
13 9 4 x 2,5 40 - -
14 14 4x6 16 - -
15 Fuse utama 4 x 16 100 120 Sudah Sesuai
16 1 4x4 16 - -
17 2 4x4 16 - 3,4 -
PP – III E
18 3 4x4 16 - -
19 4 4x4 16 - -
20 5 4x4 16 - -
21 6 4x4 16 - -
22 7 4 x 1,5 16 - -
23 11 4x4 16 - -
24 Fuse utama 4 x 16 63 120 Sudah Sesuai
25 PP – III F 3 4x4 16 - -
26 8 4x4 16 - -
2,7
27 12 4x4 63 10 Sudah Sesuai
28 Fuse utama 4 x 16 63 120 Sudah Sesuai
29 P - III 3 4 x 16 100 10 Sudah Sesuai
30 5 4 x 16 100 10 8,3 Sudah Sesuai
31 7 4 x 16 63 10 Sudah Sesuai
32 8 4 x 16 63 - -
Menghitung Panjang Maksimum (Lmax) Dari Sistem Pembumian TN
Menggunakan Metode Konventional
Metoda ini umumnya dianggap cukup akurat untuk memperbaiki batas atas panjang kabel.
Prinsipnya perhitungan arus hubung pendek didasarkan pada asumsi bahwa tegangan pada
asal-usul sirkuit yang bersangkutan (yaitu pada titik dimana peralatan proteksi berada)
tetap pada 80% atau lebih dari fase nominal ke tegangan netral. Nilai 80% digunakan,
bersama dengan impedansi loop sirkuit, untuk menghitung nilai arus hubung singkat.
Koefisien ini mengambil semua penurunan tegangan di bagian hulu dari titik yang
dipertimbangkan. Dalam kabel tegangan rendah, ketika semua konduktor sirkuit 4-kawat
3 fasa berada dalam jarak dekat (kasus normal), reaktansi induktif internal ke dan antara
konduktor adalah sangat kecil dibandingkan dengan resistansi kabel. Perkiraan ini
dianggap valid untuk ukuran kabel hingga 120 mm2. Diata ukuran tersebut, nilai resistansi
meningkat.

Gambar Perhitungan Panjang Maksimum (Lmax) untuk Sistem Pembumian TN


menggunakan metode konventional
Panjang maksimum sebuah sirkuit dalam instalasi yang dibumikan dengan TN rumusnya
sebagai berikut:
0,8 𝑈𝑜 𝑆𝑝ℎ
Lmax =
ρ (1+𝑚) 𝐼𝑎

Keterangan: Lmax = Panjang maksimum (m)


U0 = (VL-N) 230V untuk sistem 230/400V (V)
ρ = Resistifitas pada suhu kerja normal dalam ohm.mm2/meter
(23,7 x 10-3 tembaga; 37,6 x 10-3 alumunium)
Ia = Arus trip dari CB yang menjamin operasi instan.
Sph = Luas penampang konduktor fasa yang akan dihitung (mm2)
SPE = Luas penampang konduktor proteksi yang akan dihitung (mm2)
m = Sph/SPR

II.2.1. Menentukan Proteksi dan Ukuran dari Kabel


Pengaman atau proteksi merupakan suatu peralatan listrik yang digunakan untuk
melindungi komponen listrik dari kerusakan yang diakibatkan oleh gangguan seperti
arus beban lebih ataupun arus hubung singkat.
Fungsi dari pengaman dalam instalasi tenaga listrik ialah:
1. Isolasi, yaitu untuk memisahkan antara bagian instalasi listrik dengan sumber listrik.
2. Kontrol, yaitu untuk membuka atau menutup instalasi listrik selama kondisi operasi
normal untuk tujuan operasi dan perawatan.
3. Proteksi, yaitu untuk pengamanan kabel, peralatan listrik dan manusia terhadap
kondisi tidak normal seperti beban lebih, hubung singkat dengan memutuskan arus
gangguan dan mengisolasi gangguan yang terjadi.
Kabel dan proteksi kabel pada setiap level harus dapat memenuhi beberapa kondisi:
a. Dapat membawa arus beban penuh secara permanen dan arus beban lebih yang
normal seperti pengasutan motor.
b. Tidak menyebabkan drop voltase yang cenderung menghasilkan kinerja yang lebih
rendah dari beban tertentu. Misalnya pengasutan motor yang terlalu lama.
Selain itu, untuk peralatan proteksi (circuit breaker atau fuse) harus dapat:
a. Memproteksi kabel dan busbar dari semua jenis arus berlebih, dan termasuk arus
hubung singkat.
b. Memastikan perlindungan dari bahaya kontak tidak langsung (karena kesalahan
proteksi), khususnya sistem pembumian.
Beberapa definisi dari istilah yang biasa digunakan pada menentukan ukuran dan
proteksi kabel yaitu:
a. Arus beban penuh (IB)
Merupakan arus desain yang memperhitungkan berbagai faktor seperti faktor
diversitas (diversity factor), faktor pengembangan, dan faktor utilitas beban serta
memperhitungkan beban-beban yang mempunyai pengasutan yang dapat
menimbulkan beban lebih, dan akan mempengaruhi kabel dan proteksi thermal pada
beban tersebut.
b. Kuat hantar arus (IZ)
Kuat hantar arus (IZ) merupakan arus paling tinggi yang diizinkan pada kabel
tersebut tanpa mereduksi ekspektasi dari umur kabel tersebut.
c. Arus beban lebih
Arus beban lebih terjadi setiap nilai dari arus melebihi dari arus beban penuh (IB).
Arus lebih ini terjadi pada durasi yang singkat, terjadi pada operasi normal. Ada dua
tipe dari arus lebih yang membedakan yaitu:
1. Arus beban lebih (overload)
Arus lebih ini dapat terjadi pada instalasi listrik yang sehat. Seperti pengasutan
beberapa motor. Namun jika kondisi seperti ini melewati periode tertentu
(tergantung dari pengaturan proteksinya) sirkit akan terputus secara otomatis.
2. Arus hubung pendek (short-circuit)
Arus ini dihasilkan dari kegagalan insulasi diantara fasa-fasa konduktor atau
diantara fasa konduktor dan netral atau pembumian.
Sebuah peralatan proteksi memiliki fungsi diantaranya:
a. Bertindak untuk memutuskan arus dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan
karakteristik I2t kabel sirkit.
b. Tetapi mengizinkan arus beban penuh (IB) untuk mengalir.
Gambar Proteksi sirkit oleh a. circuit breaker b.fuses
Karakteristik konduktor berinsulasi ketika membawa arus hubung singkat untuk
periode hingga lima detik setelah inisiasi hubung singkat, ditentukan dengan rumus
yang menunjukan panas yang diperbolehkan sebanding dengan luas penampang
konduktor atau biasa disebut thermal stress.
I2t = K2 S2
Dimana: t = Durasi arus hubung singkat (detik)
S = Luas penampang kabel (mm2)
I = Arus hubung singkat (A)
K = Insulated conductor constant
Untuk konduktor berinsulasi, kuat hantar arus yang diizinkan bervariasi bergantung
pada lingkungan. Sebagai contoh, untuk suhu ambient yang tinggai (θa1 > θa2), IZ1 <
IZ2 dimana θ merupakan suhu.

Gambar Karakteristik I2t dari sebuah insulasi konduktor pada dua suhu ambient yang
berbeda
Untuk itu diperlukan proteksi pada instalasi tenaga listrik yang dapat bertindak
memutuskan arus dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan karakteristik I2t dan
juga tetap mengizinkan arus beban penuh untuk tetap beroperasi maka perlu digunakan
gawai proteksi beban lebih.
Proteksi beban lebih dimaksudkan untuk melindungi beban, dan perlengkapan kendali
beban, terhadap pemanasan berlebih misal sebagai akibat beban lebih seperti akibat
motor tak dapat diasut. Bila terjadi beban lebih atau arus lebih bertahan cukup lama
selama beban beroperasi dapat mengakibatkan kerusakan atau pemanasan yang
berbahaya pada beban tersebut. Untuk setiap beban trifase atau motor yang berdaya
pengenal satu daya kuda atau lebih, yang dijalankan tanpa pengawasan, harus diproteksi
terhadap beban lebih.
Gawai proteksi beban lebih terdiri atas:
a. GPAL
GPAL merupakan gawai pengaman arus lebih yang berfungsi untuk mengamankan
motor jika terjadi arus lebih pada beban tersebut. Arus pengenal GPAL motor
sekurang-kurangnya 110% - 115% arus pengenal motor.
b. GPHP
GPHP merupakan gawai pengaman hubung pendek yang berfungsi untuk
mengamankan motor jika terjadi hubung pendek. Arus pengenal GPHP harus
dikoordinasikan dengan KHA kabel.

Gambar Level arus untuk menentukan karakteristik circuit breaker atau fuse
KHA kabel (Iz) sesuai PUIL 2011 : 510.5.3.1 adalah 125 % arus pengenal beban penuh
motor (IB). Menurut persamaan pada Ayat 433.1 maka arus pengenal GPHP harus ≤
IZ,biasanya nilainya di antara IB dan IZ. Hal 161 (PUIL 2011 : 510.5.4.1 – 510.5.4.2)
Koordinasi antara GPAL dan konduktor, harus memenuhi dua kondisi yaitu:
IB ≤ IN ≤ IZ
I2 ≤ 1,45 × IZ
Dengan:
IB adalah arus desain untuk sirkit tersebut;
Iz adalah KHA kabel (lihat Ayat 523);
IN adalah arus pengenal gawai proteksi;
I2 adalah arus yang memastikan operasi efektif gawai proteksi dalam waktu
konvensional. Arus I2 yang memastikan operasi efektif gawai proteksi harus disediakan
oleh pabrikan atau diberikan dalam standar produk.
IB merupakan arus desain yang melalui lin dan IB ini dapat dianggap sebagai arus aktual
Ia sesudah menerapkan faktor koreksi. I2 bisa disebut juga It , ini juga merupakan
kelipatan In dan sebaliknya diperhatikan untuk mengoreksi representasi nilai dan
indeks.
Tabel Characteristics of the opening operation of inverse time-delay over-current
opening releases at the reference temperature
(60947-2 : Table 6) [16]
All poles loaded
Conventional
Conventional non-tripping Conventional tripping
time (h)
current current
1,05 times current setting 1,30 times current setting 2*
* 1 hour when In < 63A
I2 adalah hasil perkalian antara nilai arus nominal pengaman dan nilai yang ada pada
tabel diatas. Misalkan untuk pengaman beban lebih jenis MCB menggunakan
conventional tripping current dengan nilai 1,30 x In. Berarti I2 = 1,30 x In. Lalu ada
kriteria yang tidak kalah penting dalam penentuan karakteristik dan spesifikasi dari
peralatan proteksi (circuit breaker atau fuse) yaitu:
ISCB ≥ ISC
Dimana: ISCB = Arus breaking capacity pada circuit breaker (A)
ISC = Arus hubung singkat (A)
Menurut Electrical installation guide 2018, kriteria untuk pemilihan fuses yaitu:
IB ≤ IN ≤ IZ/K3
ISCF ≥ ISC
Dimana: ISCF = arus breaking capacity pada fuses
Kondisi I2 ≤ 1,45 × IZ, dimana I2 merupakan arus fuse pada saat meleleh, sama dengan
K2 x In (K2 jaraknya dari 1,6 sampai 1,9) tergantung dari fuse bersangkutan. Faktor yang
lebih jauh telah diperkenalkan (K3 = K2/1,45) seperti I2 ≤ 1,45 × IZ akan valid jika In ≤
IZ / K3.
Tabel Faktor K3 untuk Fuse Tipe gG
Arus Nominal Fuse Faktor K3
In < 16 A 1,31
In ≥ 16 A 1,10
Macam-macam GPAL dan GPHP diantaranya:
1. Fuse
Huruf pertama mengindikasikan jangkauan pemutusan (breaking):
a. “g” fuse-links (full-range breaking-capacity fuse-link)
b. “a” fuse-links (partial-range breaking-capacity fuse-link)
Huruf kedua mengindikasikan kategori utilisasi, huruf ini menjelaskan dengan
akurasi the time-current characteristics, conventional time dan arus.
a. “gG” mengindikasikan fuse-links dengan jangkauan penuh breaking capacity
untuk penggunaan umum.
b. “gM” mengindikasikan fuse-links dengan jangkauan penuh breaking capacity
untuk proteksi sirkuit motor.
c. “aM” mengindikasikan fuse-links dengan jangkauan sebagian breaking capacity
untuk proteksi sirkuit motor.
Standar yang menjelaskan 2 kelas fuse:
a. Instalasi domestik, diproduksi dalam bentuk katrid untuk arus pengenal hingga
100A dan tipe gG dijelaskan dalam IEC 60269-1 dan 3.
b. Penggunaan industri, dengan tipe katrid gG (penggunaan umum), gM dan aM
(untuk sirkuit motor) dijelaskan dalam IEC 60269-1 dan 2.
Fusing Zones – Conventional Currents
Kondisi fusing (melting) dari fuse dijelaskan oleh standar, berdasarkan kelas mereka.
Misalkan fuses kelas gG. Fuse ini digunakan untuk memproteksi dari beban lebih
dan hubung pendek. Conventional non-fusing dan fusing current pada gambar
berikut.

Gambar Zona fusing dan non-fusing untuk fuse gG dan gM


a. The conventional non-fusing current Inf merupakan nilai arus yang dapat dibawa
elemen peleburan untuk waktu tertentu tanpa meleleh. Misalkan sebuah fuse 32A
membawa arus 1,25In (40A) harus tidak meleleh sebelum mencapai 1 jam.
b. The conventional fusing current If (I2) merupakan nilai arus yang akan
melelehkan elemen peleburuan sebelum waktu spesifik. Misalkan sebuah fuse
32A membawa arus 1,6In (52,1A) harus meleleh sebelum mencapai 1 jam atau
kurang.
Tabel Zona fusing and non-fusing Tegangan Rendah fuses tipe gG dan gM
(IEC 60269-1 dan IEC 60269-2-1)
Rated current In Conventional Conventional Conventional
(A) non-fusing Inf fusing current I2 time (h)
In ≤ 4A 1,5 In 2,1 In 1
4 < In < 16A 1,5 In 1,9 In 1
16 < In ≤ 63A 1,25 In 1,6 In 1
63 < In ≤ 160A 1,25 In 1,6 In 2
160 < In ≤ 400A 1,25 In 1,6 In 3
400 < In 1,25 In 1,6 In 4
Pengenal Short-circuit Breaking Currents
Karakteristik dari fuses katrid modern adalah kecepatan fusi dalam kasus level arus
hubung pendek yang tinggi, pemutusan arus dimulai sebelum terjadinya puncak
utama pertama, sehingga arus gangguan tidak pernah mencapai puncaknya
prospective peak value.

Gambar Batas Arus Sebuah Fuse


Dengan demikian meminimalkan bahaya dan kerusakan pada saat terjadi gangguan.
Karenanya pengenal short-circuit breaking current dari fuse berdasarkan nilai rms
dari komponen AC arus gangguan prospektif.
Arus hubung pendek pada awalnya berisi komponen DC, besar dan durasinya
tergantung pada rasio XL/R dari loop arus gangguan (fault current loop).
Dekat dengan sumber (Trafo MV/LV) hubungan Ipeak/Irms (dari komponen AC)
setelah gangguan bisa mencapai 2,5 (standar IEC dan ditujukan pada gambar
Limited peak current VS prospective rms values of the AC component of fault current
for LV fuses). Pada distribusi yang lebih rendah dalam instalasi, XL lebih kecil
dibandingkan dengan R dan untuk sirkuit akhir Ipeak/Irms ≈ 1,41. Efek peak current
limitation terjadi hanya ketika gangguan arus prospective rms komponen AC
mencapai tingkat tertentu. Misalnya untuk fuse 100A akan mulai memotong puncak
pada prospective fault current (rms) 2 KA (a). Fuse yang sama dengan kondisi
prospective fault current (rms) 20 KA (b) akan membatas arus puncak hingga 10
KA. Tanpa current-limitting fuse puncak arusnya bisa mencapai 50KA (c).

Gambar Limited peak current VS prospective rms values of the AC component of


fault current for LV fuses
2. Circuit Breaker
Karakteristik dasar dari pemutus sirkuit diantaranya:
a. Pengenal tegangan (Ue)
Merupakan tegangan dimana CB telah dirancang untuk beroperasi, dalam kondisi
normal (tidak terganggu).
b. Pengenal arus (In)
Merupakan nilai maksimum dari arus yang dapat diputus atau diamankan oleh
CB, dilengkapi dengan specified overcurrent tripping relay, pada suhu sekitar
yang ditentukan oleh pabrikan, tanpa melebihi batas suhu yang ditentukan dari
komponen pembawa arus.
c. Rentang pengaturan tripping-current-level untuk proteksi beban lebih (Ir atau
Irth) dan proteksi hubung pendek (Im)
Dalam rangka menyesuaikan CB dengan persyaratan sirkuit yang diamankannya,
dan untuk menghindari memasang kabel yang terlalu besar, trip current dapat
disesuaikan.
Ir atau Irth merupakan arus yang jika melewati nilai tersebut maka akan
menyebabkan pemutusan sirkuit. Ini juga mewakili arus maksimum yang dapat
dibawa pemutus sirkuit tanpa trip.
d. Pengenal short-circuit current breaking (Icu untuk tipe CB industri dan Icn untuk
tipe CB domestik)
Dimaksudkan untuk memutuskan dengan CB secara cepat pada saat terjadinya
nilai arus gangguan yang tinggi.

Gambar Tripping curve thermal magnetic CB


Tabel Rentang Pemutusan Arus Overload dan Proteksi Hubung Pendek untuk CB
Tegangan Rendah
Tipe
Proteksi
Proteksi Proteksi Short-Circuit
Overload
Relay
Domestic Low setting type Standard setting High setting
Thermal-
Breakers Ir = In B type C circuit type D
magnetic
IEC 60898 3In ≤ Im ≤ 5In 5In ≤ Im ≤ 10In 10In ≤ Im ≤ 20In
Low setting type Low setting type Low setting type
Modular Thermal- Ir = In B or Z C D or K
Industrial CB magnetic fixed 3,2In ≤ fixed ≤ 7In ≤ fixed ≤ 10In ≤ fixed ≤
4,8In 10In 14In
Industrial CB Thermal- Ir = In
Fixed: Im = 7 – 10In
IEC 60947-2 magnetic fixed
Adjustable Adjustable:
0,7In ≤ Ir - Low setting: 2 – 5In
≤ In - Standard setting: 5 – 10In
Lalu ada jenis-jenis lainnya dari circuit breaker berdasarkan waktu pemutusannya
yaitu:
Tabel Proteksi Hubung Pendek untuk CB Tegangan Rendah
Jenis CB Proteksi Short-circuit Digunakan
H 2,5In ≤ Im ≤ 3In Pengaman instalasi penerangan
L 4In ≤ Im ≤ 6In Pengaman instalasi kabel
G 8In ≤ Im ≤ 11In Pengaman motor (rating besar)
Menghitung Arus Hubung Singkat (ISC)
Menurut Electrical Installation Guide 2018 – Schneider electric [18] ada tiga metoda
untuk menghitung Isc yaitu
a. Arus Hubung Pendek (Isc) Pada Terminal Sekunder dari Trafo Distribusi MV/LV
Instalasi tenaga listrik yang disuplai oleh satu trafo, maka untuk menghitung Isc pada
sisi sekunder trafo menggunakan rumus:
𝐼𝑛 𝑥 100 𝑆 𝑥 103
Isc = dimana In =
𝑈𝑠𝑐 𝑈20 √3

Keterangan:
S = Pengenal KVA Trafo (KVA)
U20 = Tegangan sekunder line-to-line tanpa beban (V)
misal 400 x 1,05 = 420V
In = Arus pengenal trafo (A)
Usc = Tegangan impedansi hubung pendek trafo (%)

b. Arus Hubung Pendek (Isc) pada Setiap Titik di Instalasi LV dengan Menghitung ZT
Menghitung ZT dari sumber listrik menuju ke titik yang diinginkan misalnya PHB,
sesudah itu baru dapat diketahui Isc yang dapat terjadi pada titik tersebut dengan
rumus yang ada pada tabel rumus menghitung arus hubung singkat.
Tabel Rumus Menghitung Arus Hubung Singkat
𝑅𝑎 𝑈202
Sumber Jaringan = 0,1 Xa = 0,995 Za; Za =
𝑋𝑎 𝑃𝑠𝑐
𝑃𝑐𝑢 𝑥 103
Rtr =
3𝐼𝑛2
𝑆𝑛 𝑥 103 Xtr = √𝑍𝑡𝑟 2 − 𝑅𝑡𝑟 2
dimana In =
𝑈20 √3 Dengan
Trafo Rtr sering diabaikan 𝑈202 𝑈𝑠𝑐
jika dibandingkan ke Ztr = 𝑥
𝑆𝑛 100
Xtr untuk trafo lebih
dari 100 KVA
CB
Diabaikan untuk
S > 200 mm2,
Busbar Menggunakan formula Xb = 0,15 mΩ/m
𝐿
R=ρ
𝑆
𝐿
Konduktor R=ρ Kabel Xc = 0,08 mΩ/m
𝑆
3 fasa maximum
𝑈20
short circuit Isc =
√3 √𝑅𝑡 2 + 𝑋𝑡 2
current in kA
Keterangan:
U20 : Phase-to-phase no-load secondary voltage of MV/LV transformer (V)
Psc : 3-phase short-circuit power at MV terminals of the MV/LV transformers
(kVA)
Pcu : 3-phase total losses of the MV/LV transformer (W)
Sn : Rating of the MV/LV transformer (kVA)
Usc : Short-circuit impedance voltage of the MV/LV transfomer (%)
Rt : Total resistansi
Xt : Total reaktansi
c. Menghitung Isc Ujung Penerima Menggunakan Method of Composition
Untuk mengetahui Isc pada suatu titik jaringan, jika menggunakan method of
composition harus diketahui:
c. Nilai Isc pada titik sebelumnya dari titik yang akan dicari Isc-nya (Isc Upstream).
d. Panjang serta C.S.A (luas penampang kabel) antara titik dimana Isc upstream dan
titik dimana Isc-nya akan dicari.
Setelah itu dapat dilihat pada Lampiran 3, nilai Isc downstream atau nilai Isc yang
dicari pada PHB. Caranya dengan mengambil garis lurus antara luas penampang
(C.S.A) konduktor yang digunakan, lalu panjang dari konduktor tersebut dan tarik
garis kebawah. Lalu disebelah kiri tabel method of composition (Lampiran 3)
terdapat Isc upstream lalu pilih, dan tarik garis lurus ke sebelah kanan. Pertemuan
antara garis lurus dari panjang kabel dan Isc upstream merupakan Isc yang dapat
terjadi pada PHB tersebut.
Perhitungan Tingkat Minimum dari Arus Hubung Pendek
Jika peralatan proteksi pada sirkuit hanya untuk melindungi terhadap gangguan arus
hubung pendek, penting juga beroperasi pada tingkat arus hubung singkat terendah
yang mungkin terjadi pada rangkaian.
Secara umum, pada sirkuit tegangan rendah, peralatan proteksi tunggal melindungi
terhadap semua level arus, dari ambang batas beban berlebih melalui kapasitas pemutus
arus hubung singkat maksimum terukur dari peralatan. Perangkat pelindung harus dapat
beroperasi dalam waktu maksimum untuk memastikan keselamatan orang dan sirkuit,
untuk semua arus sirkuit atau arus gangguan yang mungkin terjadi. Untuk memeriksa
perlaku tersebut, perhitungan arus hubung pendek minimal atau arus gangguan
diperlukan.
Peralatan proteksi harus dapat memenuhi dua syarat berikut:
a. Nilai breaking capacity pada peralatan proteksi harus lebih besar dari Isc (nilai arus
hubung pendek 3 fasa pada titik instalasi tersebut).
b. Mengeliminasi minimum short-circuit current yang mungkin terjadi pada sirkuit,
dalam waktu tc sesuai dengan kendala termal dari konduktor sirkuit, di mana:
𝐾2𝑆 2
Tc ≤ (benar jika tc < 5 detik)
𝐼𝑠𝑐𝑚𝑖𝑛 2

Dimana: S = Luas penampang kabel


K = Faktor yang bergantung pada material konduktor kabel
dapat dilihat pada IEC 60364-4-43 ayat 434.3.2 table 43A
Menghitung Panjang Maksimum (Lmax) Dari Sistem Pembumian TN
Menggunakan Metode Konventional
Metoda ini umumnya dianggap cukup akurat untuk memperbaiki batas atas panjang
kabel. Prinsipnya perhitungan arus hubung pendek didasarkan pada asumsi bahwa
tegangan pada asal-usul sirkuit yang bersangkutan (yaitu pada titik dimana peralatan
proteksi berada) tetap pada 80% atau lebih dari fase nominal ke tegangan netral. Nilai
80% digunakan, bersama dengan impedansi loop sirkuit, untuk menghitung nilai arus
hubung singkat. Koefisien ini mengambil semua penurunan tegangan di bagian hulu
dari titik yang dipertimbangkan. Dalam kabel tegangan rendah, ketika semua konduktor
sirkuit 4-kawat 3 fasa berada dalam jarak dekat (kasus normal), reaktansi induktif
internal ke dan antara konduktor adalah sangat kecil dibandingkan dengan resistansi
kabel. Perkiraan ini dianggap valid untuk ukuran kabel hingga 120 mm 2. Diata ukuran
tersebut, nilai resistansi meningkat.
Gambar Perhitungan Panjang Maksimum (Lmax) untuk Sistem Pembumian TN
menggunakan metode konventional
Panjang maksimum sebuah sirkuit dalam instalasi yang dibumikan dengan TN
rumusnya sebagai berikut:
0,8 𝑈𝑜 𝑆𝑝ℎ
Lmax =
ρ (1+𝑚) 𝐼𝑎

Keterangan: Lmax = Panjang maksimum (m)


U0 = (VL-N) 230V untuk sistem 230/400V (V)
ρ = Resistifitas pada suhu kerja normal dalam ohm.mm2/meter
(23,7 x 10-3 tembaga; 37,6 x 10-3 alumunium)
Ia = Arus trip dari CB yang menjamin operasi instan.
Sph = Luas penampang konduktor fasa yang akan dihitung (mm2)
SPE = Luas penampang konduktor proteksi yang akan dihitung (mm2)
m = Sph/SPR
Verifikasi Kemampuan Menahan Kabel Dalam Kondisi Arus Hubung Pendek
Thermal Contrains
Kerika durasi arus hubung singkat (dari mili detik sampai maksimum lima detik) semua
panas yang dihasilkan diasumsikan tetap berada pada konduktor, menyebabkan
suhunya naik. Proses pemanasan dikatakan adiabatik, sebuah asumsi yang
menyederhanakan perhitungan dan memberikan pesimistis hasil yaitu suhu konduktor
lebih tinggi daripada yang sebenarnya akan terjadi, karena dalam praktiknya, panas
akan meninggalkan konduktor dan masuk ke dalam isolasi.
Untuk periode lima detik atau kurang, hubungang I2t = K2S2 mencirikan waktu dalam
detik dimana luas penampang konduktor (mm2) dapat diizinkan untuk membawa arus
I, sebelum suhunya mencapai tingkat yang akan merusak isolasi sekitarnya.
Faktor k diberikan pada tabel dibawah ini.
Tabel Nilai Konstan k Menurut IEC 60364-4-43 table 43A
Conductor Insulation
PVC ≤ PVC > EPR Rubber
300 mm2 300 mm2 XLPE 60°
Initial Temperature °C 70 70 90 60
Final Temperature °C 160 140 250 200
Conductor Copper 115 103 143 141
material Alumunium 76 68 94 93

Metode verifikasi terdiri dalam memeriksa bahwa energi termal I2t per ohm dari bahan
konduktor, diizinkan untuk melewati proteksi CB (dari katalog produsen) kurang dari
yang diizinkan untuk konduktor tertentu.
Tabel Maximum Allowable Thermal Stress For Cables I2t (A2.S.106)
S (mm2) PVC XLPR
Copper Alumunium Copper Alumunium
1,5 0,0297 0,0130 0,0460 0,0199
2,5 0,0826 0,0361 0,1278 0,0552
4 0,2116 0,0924 0,3272 0,1414
6 0,4761 0,2079 0,7362 0,3181
10 1,3225 0,5776 2,0450 0,8836
16 3,3856 1,4786 5,2350 2,2620
25 8,2656 3,6100 12,7806 5,5225
34 16,2006 7,0756 25,0500 10,824
50 29,839 13,032 46,133 19,936

0,8 𝑉𝐿−𝑁
Isc min = √3 1 1
2𝐿ρ ( + )
𝑆𝑝ℎ 𝑆𝑝𝑒

I2t = K2 S2
II.2.2. Kabel
Kabel merupakan suatu perlengkapan listrik yang bersifat dapat mengalirkan arus listrik
dari satu titik ke titik yang lain.
Dalam pemilihan jenis kabel yang akan digunakan dalam suatu instalasi dan luas
penampang yang dipasang, ditentukan berdasarkan kurang lebih 5 pertimbangan
dibawah ini:
1. Kuat Hantar Arus
Menentukan KHA konduktor atau penghantar bergantung pada nilai arus beban yang
akan melewati penghantar tersebut. Arus beban yang akan melewati suatu
penghantar dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
Untuk arus bolak-balik satu fasa: Dimana:
I = Arus beban (A)
P = Daya aktif (W)
V = Tegangan (V)
Cos φ = Faktor daya
Untuk arus bolak-balik tiga fasa:

Setiap konduktor harus mempunyai KHA yang ditentukan dengan memenuhi


persyaratan.
Persyaratan pada sirkit motor yang menyuplai motor tunggal, KHA penghantar tidak
boleh kurang dari 125% arus pengenal beban penuh.
Bila menyuplai dua motor atau lebih, tidak boleh kurang dari jumlah arus beban
penuh semua motor tersebut ditambah 25% dari arus beban penuh motor yang
terbesar dalam kelompok tersebut.(510.5.3.1 dan 510.5.3.2) [13]
Bila motor memiliki daur kerja tertentu atau tidak terus menerus bekerja seperti
pembebanan singkat, intermiten atau karena tidak semua motor bekerja bersamaan,
dapat digunakan konduktor utama yang lebih kecil daripada yang ditentukan diatas,
asalkan konduktor tersebut mempunyai KHA yang cukup untuk beban maksimum
yang ditentukan oleh ukuran dan jumlah motor yang disuplai. (510.5.3.3) [13]
Tabel KHA Kabel Trifase 3 dan 4-inti Berinsulasi dan Berselubung PVC dengan
Voltase Pengenal 0,6/1KV (1,2KV) Pada Suhu 30°C
C.S.A SNI 0225:2011 Kabelmetal Kabelindo
(mm2) (A) (A) (A)
Tanah Udara Tanah Udara Tanah Udara
1,5 26 18,5 27 22 24 18
2,5 34 25 35 29 32 25
4 44 34 46 39 41 34
6 56 43 57 50 52 44
10 75 60 77 68 69 60
16 98 80 99 90 89 80
Ukuran luas penampang penghantar
Luas penampang konduktor atau penghantar dalam instalasi listrik arus bolak-balik
tidak boleh kurang dari nilai yang diberikan dalam tabel dibawah.
Tabel Luas Minimum Konduktor (Tabel 52.2 MOD) [17]
Konduktor
Jenis sistem perkawatan Penggunaan sirkit
Bahan Luas Penampang mm2
Instalasi Kabel dan Sirkit daya dan Tembaga 1.5
magun konduktor pencahayaan Alumunium Selaras dengan standar
berinsulasi (Catatan 1)
kabel SNI IEC 60228
(10 mm2)
Sirkit sinyal dan kendali Tembaga 0.5 (lihat catatan 2)
Konduktor Sirkit daya Tembaga 10
telanjang Alumunium 16
Sirkit sinyal dan kendali Tembaga 4
Hubungan fleksibel Untuk peranti spesifik Tembaga Seperti ditentukan
dengan konduktor dalam standar IEC
berinsulasi dan kabel yang relevan
Untuk setiap penerapan 0,75*
lain
Sirkit voltase ekstra 0,75
rendah untuk penerapan
khusus
Catatan 1 Konektor yang digunakan untuk terminasi konduktor alumunium harus diuji dan
disahkan untuk penggunaan spesifik ini.
Catatan 2 Pada sirkit sinyal dan kendali yang dimaksudkan untuk perlengkapan elektronik,
diizinkan menggunakan luas penampang minimum 0,1 mm2.
Catatan 3 Untuk pesyaratan khusus untuk pencahayaan ELV lihat IEC 60364-7-715
Catatan 4 Tidak diadopsi
Catatan 5 Tidak diadopsi
* Pada kabel fleksibel multiinti berisikan tujuh inti atau lebih, berlaku Catatan 2.
Seperti yang dapat dilihat pada tabel diatas, luas penampang konduktor untuk
instalasi daya (tenaga) dan pencahayaan yang memiliki bahan tembaga memiliki
luas sekurang-kurangnya 1,5 mm2.
Pada SNI 0225:2011 ayat 2.6.2 yaitu Penampang sirkit cabang harus
memperhitungkan semua beban sirkit akhir yang terhubung padanya.
Direkomendasikan sebaiknya penampang sirkit cabang minimum 4 mm2 untuk
mengantisipasi kebutuhan beban yang akan datang.
2. Drop Voltase
Direkomendasikan untuk drop voltase antara awal instalasi pelanggan dan
perlengkapan sebaiknya tidak lebih dari 4% dari voltase nominal instalasi. (525) [14]
Drop voltase antara awal instalasi dan setiap titik beban sebaiknya tidak melebihi
tabel dibawah ini yang dinyatakan berkaitan dengan nilai voltase nominal instalasi.
Tabel Drop voltase (525) [19]
Jenis Instalasi Pencahayaan (%) Penggunaan lain (%)
A – Instalasi voltase rendah yang
disuplai langsung dari sistem 3 5
distribusi voltase rendah publik.
B – Instalasi voltase rendah yang
6 8
disuplai dari suplai VR privat*
*Sejauh mungkin, direkomendasikan bahwa drop voltase di dalam sirkit akhir tidak
melebihi yang ditunjukan dalam instalasi jenis A.
Jika sistem perkawatan utama instalasi lebih panjang dari 100 m, drop voltase ini dapat
dinaikkan dengan 0,005% per meter sistem perkawatan di atas 100 m, tambahan ini tidak
boleh lebih besar dari 0,5%.
Drop voltase ditentukan dari pertumbuhan pemanfaat listrik, dengan menerapkan faktor
diversitas jika dapa diterapkan, atau nilai arus desain sirkit.

3. Kondisi Suhu
Arus yang dihantarkan oleh setiap konduktor untuk periode berkesinambungan
selama operasi normal harus sedemikian sehingga batas suhu yang sesuai yang
ditentukan dalam tabel Suhu operasi maksimum untuk jenis insulasi tidak dilampaui.
Selain itu suhu ambien sangat berpengaruh dengan KHA dari sebuah kabel.
Sehingga perlu diperhitungkan suhu ambien tersebut.
4. Kondisi Lingkungan
Didalam pemilihan jenis penghantar yang digunakan harus disesuaikan dengan
kondisi dan tempat penghantar tersebut akan ditempatkan atau dipasang. Seperti
jenis penghantar yang dapat ditanam didalam tanah akan berbeda dengan penghantar
yang hanya dapat dipasang di udara.
Pada tabel daftar kontruksi kabel instalasi akan menjelaskan tentang nama kabel,
nomenklatur, voltase nominal (antara konduktor), jumlah inti, luas penampang
nominal inti, serta daerah penggunaannya.
Pada tabel daftar konstruksi dan penggunaan kabel tanah berinsulasi dan
berselubung termoplastik ini akan menjelaskan tentang nama kabel tanah,
nomenkaltur, voltase nominal, jumlah inti, luas penampang nominal,
perlindungan/konduktor konsentris, penggunaan utama, dan penggunaan dengan
pembatasan. Lampiran 4
5. Kemungkinan Perluasan
Setiap instalasi listrik dirancang dan dipasang dengan perkiraan adanya penambahan
beban dimasa yang akan datang, oleh karena itu luas penampang penghantar dapat
dipilih lebih besar minimal satu tingkat diatas luas penampang sebenarnya,
tujuannya adalah jika dilakukan penambahan beban maka penghantar tersebut masih
mencukupi dan susut tegangan (drop voltase) yang terjadi akan kecil.
Kemungkinan perluasan ini akan dijelaskan kembali pada bagian faktor pemasangan
dan desain.
II.2.3. Faktor Pemasangan dan Desain
Pada faktor pemasangan dapat dilihat dari tabel dibawah ini:
Tabel Faktor Koreksi Untuk KHA Kabel Tanah Yang Dipasang Di Udara Dengan
Suhu Ambien Lain dari 30 C
(PUIL 2011 : Tabel 7.3-18) [13]
Suhu ambien 25°C 30°C 35°C 40°C
Kabel dengan
voltase pengenal 1,06 1,00 0,94 0,87
0,6/1kV (1,2kV)

Lalu pada Lampiran 5 Faktor Koreksi untuk KHA Terus-menerus dari beberapa Kabel
Tanah Inti Tunggal pada Sistem Arus Searah dan Kabel Tanah Multiinti pada Sistem
Arus Trifase.
Faktor Utilisasi Maksimum (ku)
Pada pengoperasian normal konsumsi daya pada beban terkadang lebih sedikit dari
yang dicantumkan pada pengenal daya nominal, kejadian yang cukup umum
membenarkan penerapan faktor utilisasi (ku) dalam estimasi nilai realistis.
Faktor ini harus diterapkan pada setiap beban, terutama pada motor listrik, yang mana
sangat jarang beroperasi pada keadaan beban penuh.
Tabel Faktor Utilisasi (ku)
No Jenis Beban ku
1 Motor 0,75
2 Incandescent-lighting 1
3 Socket-outlet Tergantung kepada jenis
beban yang disuplai
socket-outlet
4 Electric Vehicle 1
Faktor Pengembangan (d)
Untuk instalasi industri, selalu mempertimbangkan peningkatan beban mesin. Untuk
PHB, margin 20% direkomendasikan. In ≤ IB x ks x 1.2. [24]
Tabel Faktor Pengembangan
Jenis Sirkuit Faktor Pengembangan (d)
Bukan Sirkuit Akhir 1,2
Sirkuit Akhir 1

Faktor Diversity – Coincidence Factor (ks)


Faktor ini dijelaskan dalam IEC 60050 sebagai:
Coincidence factor merupakan rasio yang dinyatakan sebagai nilai numerik atau
sebagai presentase dari permintaan maksimum simultan dari sekelompok peralatan
listrik atau konsumen dalam periode tertentu, hingga jumlah individu tuntutan
maksimum mereka dalam periode yang sama. Seperti penjelasannya, nilai dari
diversity factor selalu ≤ 1 dan di nyatakan dalam persen.
Diversity factor merupakan kebalikan dari coincidence factor. Itu berarti akan selalu
jadi ≥ 1.
Catatan : dalam praktiknya, istilah yang paling umum digunakan adalah diversity
factor tetapi itu digunakan sebagai pengganti coincedence factor, dengan demikian
akan selalu menjadi ≤ 1. Istilah faktor simultan (simultaneity factor) merupakan
alternatif lain yang terkadang digunakan. Faktor ks diterapkan pada setiap kelompok
beban (misalnya, dipasok dari PHB).
Faktor pengenal diversitas (rated diversity factor) untuk distribusi PHB
Pada standar IEC 61439-1 dan 2 menjelaskan cara yang sama faktor pengenal
diversitas untuk distribusi PHB (selalu ≤ 1).
IEC 61439-2 juga menyatakan bahwa, tidak adanya kesepakatan antara panel builder
dan pengguna mengenai actual load current (diversity factor), beban diasumsikan
kelompok sirkuit keluar didasarkan pada nilai-nilai pada tabel dibawah ini.
Tabel Rated Diversity Factor for Distribution Boards (IEC 61439-2 Table 101)
Jenis Beban Asumsi Faktor Beban
Distribusi – 2 dan 3 Sirkuit 0,9
Distribusi – 4 dan 5 Sirkuit 0,8
Distribusi – 6 sampai 9 Sirkuit 0,7
,Distribusi – 10 sampai lebih Sikuit 0,6
Electric Actuator 0,2
Motors ≤ 100 kW 0,8
Motors > 100 kW 1,0

Faktor Diversitas Menurut Fungsi Sirkuit


Faktor ks yang mana digunakan untuk sirkuit yang mensuplai beban yang biasanya
terjadi, ditunjukan pada tabel dibawah. Disediakan pada french practical guide UTE
C 15-105
Tabel Diversity Factor According to Circuit Function (UTE C 15-105 table AC)
Circuit Function Diversity Factor (ks)
Lighting 1
Heating and air conditioning 1
Socket-outles 0,1 sampai 0,2*
Lifrs and catering hoist:
 For the most powerful motor 1
 For the second most powerful motor 0,75
 For all motors 0,60
* Pada kasus tertentu, terutama pada instalasi listrik industri, faktor tersebut
dapat lebih tinggi nilainya.

Nama No Faktor Cabang Faktor Faktor Utilitas Beban IB IB’


Sirkuit Breaker (Ks) Pengembangan (Ku) (A) (A)
Cabang Faktor kedepan (d) Jenis Faktor
W1 7 0,7 1,2 Panel 1 80,63 67,73
W2 3 8 0,7 1,2 Panel 1 22,75 19,11
W3 4 5 0,8 1,2 Panel 1 16,30 15,65
W4 7 8 0,7 1,2 Panel 1 25,11 21,10
W5 8 3 0,9 1,2 Panel 1 10,20 11,01
W6 1 1 1 1 Bor 0,75 2,60 1,95
W7 2 1 0,2 1 Socket Outlet 1 16,00 3,20
W8 3 1 0,2 1 Socket Outlet 1 16,00 3,20
W9 4 1 0,2 1 Socket Outlet 1 16,00 3,20
W10 5 1 0,2 1 Socket Outlet 1 16,00 3,20
W11 13 1 1 1 Bor 0,75 3,20 2,40
W12 14 1 1 1 Bor 0,75 3,20 2,40
W13 15 1 1 1 Bor 0,75 3,20 2,40
W14 1 1 0,2 1 Socket Outlet 1 16,00 3,20
W15 2 1 0,2 1 Socket Outlet 1 16,00 3,20
W16 8 1 1 1 Mesin 0,75 4,00 3,00
W17 9 1 1 1 Mesin 0,75 4,00 3,00
W18 14 1 1 1 Mesin 0,75 4,13 3,10
W19 1 1 1 1 Mesin Bubut 0,75 4,34 3,26
W20 2 1 1 1 Bor 0,75 4,13 3,10
W21 3 1 1 1 Mesin Bubut 0,75 4,34 3,26
W22 4 1 1 1 Mesin Bubut 0,75 4,34 3,26
W23 5 1 1 1 Mesin Bubut 0,75 4,34 3,26
W24 6 1 1 1 Mesin Bubut 0,75 4,34 3,26
W25 7 1 1 1 Lampu 1 1,71 1,71
W26 11 1 1 1 Milling Machine 0,75 4,30 3,23
W27 3 1 0,2 1 Socket Outlet 1 16,00 3,20
W28 8 1 1 1 Mesin 0,75 4,13 3,10
W29 12 1 1 1 Mesin 0,75 4,13 3,10