Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan

sendiri atau secara bersamana-samaan dalam suatu organisasi yang

diselenggarakan sendiri atau secara bersama-samaan dalam suatu

organisasi untuk memelihara, mencegah dan menyembuhkan penyakit

serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan ataupun

masyarakat (Depkes RI, 2009).

Masalah gizi pada dasarnya merupakan masalah kesehataan

masyarakat, namun penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan

pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja (Supariasa, 2013).

Pengelolaan secara terpadu oleh beberapa sektor akan berpengaruh pada

kualitas sumber daya manusia yang berguna untuk menanggulangi

masalah kesehatan masyarakat. Penyebab timbulnya masalah kesehatan

masyarakat disebabkan oleh multifaktor, oleh karena itu pendekatan

penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor yang terkait. Hal ini

muncul tidak hanya karena dipengaruhi oleh penyakit infeksi (Alhamda,

2012 dalam Aspiannor R, dkk 2017).

Pemerintah terus berupaya meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat khususnya menangani masalah gizi balita karena hal itu


berpengaruh terhadap tercapainya salah satu tujuan Millenium

Development Goals (MDGs) pada tahun 2015 yaitu mengurangi dua per

tiga tingkat kematian anak-anak usia dibawah 5 tahun. Hasil dari Riset

Kesehatan Dasar (Riskesdes) tahun 2013 menyatakan bahwa prevalensi

bertat badan kurang (underweight) menurut secara nasional yaitu 19,6%

terdiri dari 5,7% gizi buruk dan 13,9% gizi kurang. Jika dibandingkan

dengan angka prevalensi nasional tahun 2007 (18,4%) dan pada tahun

2010 (17,9%) terlihat meningkat. Diantara 33 provinsi di Indonesia, 18

provinsi memiliki prevalensi gizi buruk-kurang diatas angka prevalensi

nasional yaitu berkisar antara 21,2% sampai dengan 33,1%. Urutan ke 19

provinsi tersebut yang tertinggi sampai terendah adalah (1) Nusa Tenggara

Timur (2) Papua Barat (3) Sulawesi Barat (4) Maluku (5) Kalimantan

Selatan (6) Kalimantan Barat (7) Aceh (8) Gorontolo (9) Nusa Tenggara

Barat (10) Sulawesi Selatan (11) Maluku Utara (12) Sulawesi Tengah (13)

Sulawesi Tenggara (14) Kalimantan Tengah (15) Riau (16) Sumatera

Utara (17) Papua (18) Sumatera Barat (19) Jambi. Data diatas menyatakan

bahwa Kalimantan Selatan masih termasuk dalam 5 besar prevalensi gizi

buruk-kurang.

Di Indonesia masalah gizi utama masih didominasi oleh masalah gizi

Kurang Energi Protein (KEP), masalah gangguan akibat kekurangan

yodium (GAKY) dan masalah kekurangan Vitamin A (KVA) dan mulai

meningkatnya masalah obesitas terutama dikota-kota besar. Disamping itu,

diduga ada masalah gizi mikro lainnya seperti defisiensi zinc yang sampai
saat ini belum terungkapkan karena adanya keterbatasan ilmu pengetahuan

dan teknologi diberbagai bidang pembangunan dan makin berkembangnya

paradigm pembangunan nasional yang berwawasan sumber daya manusia

(SDM), maka upaya untuk meningkatkan status gizi masyarakat dan

penanggulangan masalahnya (masalah gizi) makin mendapat prioritas

dalam staregi pembangunan nasional. Keadaan gizi masyarakat umum dan

individu khususnya mempunyai dampak terhadap pembangunan negara

secara umum dan khusus berdampak pada pertumbuhan fisik, mental dan

kecerdasan serta produktivias manusia. Oleh karena itu, pemecahan

masalah gizi ditempatkan sebagai ujung tombak paradigma sehat untuk

mencapai Indonesia sehat pada masa mendatang (Kepmenkes, 2007)

Menurut pasal 20 Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang

kesehatan dinyatakan bahwa perrbaikan gizi diselenggarakan untuk

mewujudkan kebutuhan gizi meliputi upaya peningkatan status dan mutu

gizi, pencegahan, penyembuhan dan atau pemulihan akibat gizi salah.

Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan tenaga tenaga gizi yang

menguassai segala permasalahan gizi yang dihadapi. Seorang ahli gizi

diharapkan dapat menangani permasalahan gizi pada tingkat yang tinggi

yang dapat dicapai sesuai dengan perrkembangan IPTEK, saran prasarana

dan kemampuan manajemen. Mengingta dan memperhatikan hal tersebut,

keberadaan ahli gizi dan ahli madya gizi di Indonesia sangat diperlukan

untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Kepmenkes, 2007).


Berdasarkan latar belakang diatas, kami tertarik untuk melakukan

kegiatan-kegiatan sebagai upaya perbaikan gizi di wilayah kerja Posyandu

Garuda Kelurahan Alalak Selatan Kecamatan Banjarmasin Utara Kota

Banjarmasin.

B. Tujuan Kegiatan

1. Tercapainya kesepakatan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam

rangka meningkatkan dan mengatassi masalah gizi di masyarakat

2. Meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan serta partisipasi

kader dalam melaksanakan kegiatan di Posyandu dan kegiatan

perbaikan gizi masyarakat

3. Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai beberapa masalah

gizi dan cara mencegah serta menanganinya

4. Meningkatkan status gizi balita kurang/ buruk (BGM).

C. Waktu dnn Tempat

A. Waktu : 11 Februari – 2 Maret 2019

B. Tempat : Kelurahan Alalak Selatan

D. Peserta Kegiatan

Peserta dalam kegiatan ini yaitu, Lurah Alalak Selatan, Ketua RT di

Kelurahan Alalak Selatan, tokoh pemuka masyarakat, Kader Posyandu


Garuda, anak sekolah, remaja, ibu hamil, ibu menyusui dan masyarakat

desa setempat.