Anda di halaman 1dari 17

Cara menulis mudah yaitu :

1. Menulis
2. Coba ajukan dengan membuat pertanyaan,
3. Menjawab pertanyaan orang lain
4. Lihat masalah orang lain

Apa arti pribahasa hemat pangkal kaya ?

Hemat pangkal kaya adalah peribahasa yang mempunyai arti bahwa semakin banyak kita
menabung dan menyisihkan uang, maka kekayaan kita akan semakin bertambah. Orang yang
kaya adalah mereka yang pandai menyimpan uang dan tidak menghabiskan konsumsi lebih besar
daripada pemasukan. Selain itu, peribahasa ini menghimbau anak-anak bangsa untuk rajin
menabung sehingga tertanam jiwa hemat dan sederhana.

Menurut islam

Sebaliknya semakin banyak kita sedekah maka kita semakin kaya

Sedekah akan membuat manusia semakin


kaya
Merdeka.com - Rasulullah SAW adalah orang yang senang bersedekah. Terlebih lagi ketika bulan
Ramadan tiba. Beliau selalu bersedekah dalam bentuk apa pun. Karena seperti yang diketahui, pada
bulan Ramadan semua kebaikan bakal diganjar dengan pahala yang berlipat ganda oleh Allah SWT.

Dalam bersedekah, Beliau tidak pernah menyisakan harta benda dan membiarkannya berdiam di
rumahnya lebih satu hari. Semua itu selalu Beliau berikan kepada siapa saja yang memintanya.

Dari Ibnu Abbas ra berkata "Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan sesungguhnya
beliau paling dermawan pada saat bulan Ramadan. Ketika Jibril dayang menemui beliau pada tiap-tiap
malam Ramadan untuk mentadaruskan Alquran. Rasulullah SAW lebih dermawan dari pada angin yang
bertiup bebas,". (HR Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya dari bersedakah dengan niat ikhlas banyak manfaat langsung dapat dirasakan di dunia.
Bahkan, dengan banyak bersedekah maka seseorang akan semakin kaya. Karena Allah akan
meningkatkan derajat orang yang senang bersedekah.

Sebagaimana firman Allah SWT surat Al Baqarah ayat 261.

Artinya: "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan dari orang-orang yang menafkahkan hartanya di
jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas
(Karunia Nya) lagi Maha Mengetahui,". (QS Al Baqarah [2]:261).

Dikutip dari buku Hapus Gelisah Dengan Sedekah, karya Wahyu Indah Retnowati, bahwa Allah
bersungguh-sungguh dalam memberikan balasan lebih baik langsung di dunia terhadap orang-orang
yang suka bersedekah.

Sedekah tidak akan membuat orang jatuh miskin dan melarat. Namun sebaliknya, dengan bersedekah
akan membuat orang selalu diberikan kemudahan oleh Allah SWT dalam segala urusannya di dunia.
Orang yang senang bersedekah tidak akan pernah merasa kekurangan.

[hhw]

Siapakah yang Dimaksud Orang Kaya?


Orang Kaya Menurut Islam

Siapakah yang dimaksud orang kaya? Bill Gates dengan jumlah kekayaan mencapai 800 Trilyun
Rupiah lebih? Warren Buffet? Mark Zuckerberg? Nadiem Makarim?
Sahabat, sebenarnya kita semua adalah orang kaya! Bukan karena kita punya bisnis raksasa,
bukan karena kita mendapatkan investasi sekian juta dolar, bukan karena kita memiliki rumah
mewah, villa dan kendaraan pribadi berjejer!
Kita bisa menjadi kaya seketika, saat ini juga! Dengan merasa cukup atas apa yang Allah beri!
“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya itu adalah hati yang
selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)
Dengan ukuran kaya dari Rasulullah ini, sudahkah kita percaya diri merasa sebagai bagian dalam
golongan orang-orang kaya?
Jika belum, apakah yang membuat kita masih merasa tidak cukup? Apa yang membuat kita
merasa miskin bahkan minder?
Sahabat, perasaan tidak cukup atas apa yang dimiliki biasanya bersumber dari rasa kurang
bersyukur, ketidakbersyukuran ini sendiri timbul karena kita selalu melihat apa yang tidak ada,
padahal begitu banyak kekayaan yang ada pada diri kita.
Maka untuk merasa diri kaya, kita perlu menyadari terlebih dulu betapa Allah telah mencukupi
kita dengan banyak aset kekayaan, berikut ini sedikit di antaranya:
1. Nikmat bola mata
Sahabat, maukah bola mata kanan yang Anda punya ditukarkan dengan uang sejumlah seratus
juta? Atau 1 Milyar Rupiah?
Jika tidak mau, berarti sebenarnya kita memiliki dua ratus juta atau bahkan 2 Milyar setiap
harinya yang harus disyukuri. Bukankah 2 bola mata yang kita miliki ini merupakan nikmat tak
terhingga?
Tahukah bahwa ibadah ratusan tahun lamanya belum sepadan dengan nikmat sebuah bola mata
yang Allah berikan?
Cobalah rasakan apa yang terjadi jika mata kita tercolok benda tajam atau terkena virus! Badan
menjadi demam, menggigil, makan tak enak tidur tak nyenyak, ke luar rumah tidak percaya diri
dengan mata merah diperban.
Rasanya ingin melakukan apapun dan membayar berapapun agar mata kembali normal dan
sembuh bukan? Maka, jika mata kita masih berfungsi baik, kita memiliki kekayaan yang tak
terkira.
2. Nikmat jantung yang berdetak
Tahukah bahwa jantung memompa sekitar 2000 galon darah yang melewati ribuan mil sepanjang
pembuluh darah? Artinya setiap menitnya jantung kita memompa 5 liter darah yang beredar ke
seluruh pembuluh darah dalam waktu 20 detik. Maasya Allah!
Jika jantung kita bermasalah, biaya operasi jantung yang perlu dikeluarkan per operasi bisa
mencapai 150-200 juta Rupiah, itupun kemungkinan tak cukup hanya dalam satu kali operasi
saja.
Lalu, apa yang membuat kita merasa tidak cukup ketika setiap harinya Allah masih membuat
jantung kita berdetak tanpa perlu bantuan alat apapun? Bahkan pasien penyakit jantung sekalipun
masih bisa bersyukur dan merasa puas masih bisa menemui hari baru, apalagi yang memiliki
jantung sehat wal afiat. Sadarilah betapa mahalnya detak jantung kita! Betapa luar biasa aset
yang Allah berikan pada kita!
Sahabat,
Itu baru penjabaran singkat mengenai nikmat 2 organ tubuh saja, belum lagi organ lainnya,
seperti organ pendengaran yang membuat kita bisa berkomunikasi dan mendengar bunyi yang
indah, organ pengecapan yang membuat kita bisa merasakan nikmatnya makanan dan minuman,
organ pernafasan yang otomatis bekerja tanpa perlu kita perintahkan, bahkan juga nikmat di luar
tubuh kita seperti nikmat memiliki keluarga, nikmat beragama Islam, bahkan juga nikmat
memiliki pekerjaan di saat ada jutaan pengangguran!
Rasanya tak akan habis tulisan ini jika satu per satu nikmat Allah dijabarkan di sini.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan
jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.
An Nahl: 18).
Intinya, kita perlu menyadari bahwa kekayaan sejati adalah saat kita merasa cukup dengan segala
pemberian Allah. Jika kita tak juga menyadari poin penting ini, maka selamanya kita akan
menjadi orang yang fakir alias miskin, meski sebanyak apapun harta yang telah kita kumpulkan.
Lalu, sekarang sudahkah kita merasa bahwa diri kita adalah orang kaya?
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh sangat beruntung seorang yang
masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan
kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah Ta’ala berikan
kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

Apa Yang Salah dengan Sistem Pendidikan


Kita?
9 Mei 2014 23:15 Diperbarui: 23 Juni 2015 22:40 1866 0 0

13996314291499028174

Saya seorang guru bimbingan belajar yang sudah mengajar selama 6 tahun. Semasa sekolah saya
mengalami 2 kurikulum Indonesia, kurikulum 1994 dan 2004 (KTSP). Selama mengajar,
mengalami 2 kurikulum, KTSP dan 2013. Sering saya berfikir, apakah yang salah dengan system
pendidikan kita, mengapa UN 2013 dan 2014 begitu kacaunya, mengapa sekarang kecurangan
UN banyak diberitakan bahkan menyebabkan peserta didik melakukan bunuh diri?

Saya rasa peserta didik tidak bisa disalahkan? Mereka adalah generasi penerus yang memang
menjadi tanggung jawab generasi diatasnya untuk mendidik mereka. Apakah guru-guru kita yang
harus disalahkan? Mungkin juga. Atau para petinggi kita yang tidak becus mengurusi pendidikan
negeri ini? Ya, sepertinya memang beberapa tahun terakhir seperti ini J. Apakah para orang tua?
Ya…..?

Ada satu hal, menurut saya, yang menjadikan system pendidikan kita carut marut, ambang batas
nilai!!! Ambang batas nilai, atau KKM menjadikan murid, orang tua, guru terfokus pada suatu
target semu, sebuah target yang salah sasaran. Mereka menjadi pengejar nilai / hasil akhir tanpa
memperdulikan proses belajar yang dilalui murid, tanpa memperdulikan kemampuan murid.
Contoh paling gampang adalah Ujian Nasional kita, sebut saja UN SMP, yang diujikan ada 4
mata pelajaran, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Ilmu Pengetahuan Alam,
menurut anda pembaca, apakah empat mata pelajaran ini mampu mewakili setiap anak
Indonesia? Teringat suatu perkataan dari seorang terkenal yang dianggap paling pintar di dunia :
Ya, pernahkah kita, petinggi pendidikan kita, memikirkan anak-anak didik kita yang memang
kurang memiliki kemampuan bidang eksata dan ternyata memiliki kemampuan luar biasa
layaknya seorang Picaso dalam hal seni, atau sehebat Warren Buffet sebagai seorang
businessman?

Mengapa nilai minimum kelulusan menjadi kesalahan fatal sistem pendidikan kita? Pertama,
sasaran pendidikan seharusnya menciptakan ruang bagi anak mengeksplorasi diri, menemukan
apa kemampuannya, dan melatih salah satu kemampuannya menjadi seorang professional dalam
bidang tersebut. Sistem pendidikan kita menciptakan generasi yang diharapkan bisa melakukan,
menguasai semua bidang, mulai dari bahasa, matematika, fisika, sejarah, biologi, seni dan
celakanya untuk mengukur penguasaan itu dibuatlah suatu nilai minimum. Siapa yang akan
menyangka jika ternyata obat untuk kanker / HIV tertanam dalam otak salah seorang anak
Indonesia yang gagal melanjutkan ke jenjang SMA karena terbentur UN Matematikanya tidak
mencapai KKM?

Kedua, nilai minimum ini membuat focus pembelajaran menjadi hasil tanpa menghargai proses
belajar, usaha yang dilakukan sang anak didik. Hal ini menghasilkan generasi instan, didukung
dengan perkembangan dunia yang mengedepakan kepraktisan, mulai dari mie instan sampai
kemudahan komunikasi melalui media. Nilai minimum jika tidak dibantu oleh pendidikan
keluarga yang baik, akan menyebabkan anak mengejar nilai dengan berbagai cara, termasuk
mencontek (alias mencuri). Kita sedang mendidik generasi koruptor, jika nilai saja bisa dengan
mencuri berarti ketika besar mereka akan berfikir korupsi untuk mencapai cita-cita
kemandiriannya (materi).

Ketiga, nilai minimum ini membuat anak didik menjadi tidak mengerti hal penting yang
dipelajarinya. Para pembaca yang merupakan praktisi pendidikan non-formal pasti sering
mendengar keluhan dari peserta didik mengapa mereka harus mempelajari suatu hal, yang
menurut mereka tidak penting. Misalknya anak 11 IPS akan bertanya, kenapa sih harus belajar
trigonometri? Hal ini karena adanya target nilai minimum ini sehingga pendidikpun tidak sempat
menjelaskan hal-hal tersebut. Dampaknya anak akan merasa yang dipelajarinya tidak
menyenangkan, sulit dan tidak beguna, sehingga menimbulkan sikap apatis terhadap apa yang
dipelajarinya.

Rasanya tidak berimbang kalau saya menuliskan sesuatu tanpa menuliskan solusi yang baik.
Pertama, nilai minimum ini harus dihapuskan, inkonsistensi jelas terlihat disistem kurikulum
2013. Penilaian rapot akhir menggunakan huruf (A,B,C,D,F seperti penilaian akhir perguruan
tinggi), tapi tahukah anda, peserta didik tetap diberikan target untuk ‘huruf’ kelulusan. Sebagai
contoh, salah satu lembaga pendidikan swasta tingkat SMA mengharuskan anaknya memperoleh
B- untuk bisa naik kelas pada mata pelajaran tertentu. Bandingkan dengan perguruan tinggi
dimana nilai C atau D masih di hargai, dengan konsekuensi tertentu yang menurut saya wajar-
wajar saja, misalkan kalau belum bisa kalkulus 1 ya jangan coba-coba mengambil kalkulus 2.

Kedua, saat SMP wajar setiap anak memperoleh semua pelajaran yang ada, untuk menggali
potensi dimana mereka bisa melakukan hal terbaik, tentunya tetap ada beberapa hal dasar yang
harus mereka pelajari, seperti bahasa dan matematika dasar. Sistem di SMA seharusnya sudah
lebih mengerucut, peserta didik yang sudah mengenal dirinya sejak SMP, bisa memilih untuk
mengembangkan. Penjurusan menurut saya baik, namun masih bisa di kerucutkan lagi. Sistem
yang digunakan oleh beberapa sekolah international di Jakarta cukup baik. Seorang anak di
jurusan IPA, tidak harus mengambil semua pelajaran ilmu alam, dia hanya diminta memilih dua
pelajaran ilmu alam di luar matematika. Saat akan masuk ke perguruan tinggi, ciptakanlah suatu
tes masuk /syarat yang sesuai dengan bidang yang akan diambil. Seorang yang ingin masuk
kedokteran, haruskah mengerjakan tes dinamika / integral yang begitu sulit? Saya rasa seorang
dokter tidak akan memakai integral dalam prakteknya, misalnya di minta syarat Bahasa
Indonesia min B, Inggris minimal B, Biologi harus A dan kimia minimal B, kalaupun ada syarat
Matematika, ya minimal C saja. Secara singkat, masa SD adalah masa perkenalan akan hal-hal
yang akan mereka pelajari. SMP adalah masa pengenalan diri mereka, potensi mereka. SMA
adalah masa mendalami apa yang mereka sukai. Masa perguruan tinggi adalah masa menguasai
keahlian mereka sampai menjadi seorang professional.

Dengan cara ini, kita bisa membangkitkan generasi yang lebih baik untuk Indonesia yang lebih
baik. Kita menciptakan generasi yang sadar / memikirkan masa depan, bukan hanya nilai sesaat.
Mereka akan memikirkan , mencari jalan yang terbaik bagi dirinya. Peserta didik akan merasa
dihargai apa yang ada pada dirinya. Yang perlu dikembangkan adalah peran orangtua dan
pendidik dalam membimbing masing-masing peserta didik menemukan yang hal terbaik dalam
dirinya. Seorang pendidik yang baik, bukanlah dinilai dari seberapa hebat nilai yang dicapai
anaknya, namun pendidik yang baik adalah pendidik yang mampu membuat peserta didiknya
senang belajar.

9 Kesalahan Sistem Pendidikan di Indonesia


yang Wajib Kita Alami
Apa hal yang ga kita sukai dari pendidikan di Indonesia?

Apa hal-hal yang kita ga sukai


Dari pendidikan di Indonesia
Jangan berani kalau ramai
Coba sebut jangan berandai

Halo Mas Bro dan Mbak Bro?

Apa hal yang ga kita sukai dari pendidikan di Indonesia?

2 Mei 2016, Hari Pendidikan Nasional. Apa bedanya dengan hari pendidikan tahun sebelumnya?

Jawabnya gaada.

Ga ada perubahan yang terjadi secara siginifikan. Perubahan yang ada hanya bertambah tuanya
Hari Pendidikan Nasional dan si Mbah Pendidikan Kita Ki Hadjar Dewantara yang semakin
bertambah.
Oh ya ada kampanye baca buku 15 menit setiap hari. Itu bedanya dari tahun lalu. Dan …

Gaada lagi.

Pernyataan diatas Mas Bro dan Mbak Bro bukan pernyataan pesimis. Tapisebuah ungkapan
sadar atas apa yang udah dan harus kita lakukan.

Berkaca ke negeri penjajah yang berjuang dari bom atom selama puluhan tahun. Sampai
akhirnya sekarang mereka menjadi salah satu raksasa dunia. Mereka melakukan melalui
pendidikan. Pendidikan menjadi gerakan semesta yang merubah otomotif, teknologi, dan manga
menjadi alat “negara mereka” berkembang seperti sekarang.

Untuk kita, Indonesia. Konsep pendidikan sebagai gerakan semesta belum bisa 100% terjadi.
Karena kita masih terikat sama dosa pendidikan masa lalu. Kita perlu hentikan regerasi
kesalahan sistem pendidikan. Lakukan perbaikan atas kesalahan masa lalu.

Ada 9 kesalahan sistem pendidikan di Indonesia yang wajib kita alami, dulu.Dibilangwajib
karena memang gaada perubahan signifikan dari dulu sampai sekarang.

Lalu apa apa aja kesalahan itu?

9-kesalahan-sistem-pendidikan-di-indonesia-yang-wajib-kita-alami-sumber-gambar-palembang-
tribunnews-com-574901b82cb0bd21048b4580.jpg
1. Sekolah adalah Kewajiban Bukan Kesadaran

Itulah prinsip salah yang masih kita terapkan sampai sekarang. Nilai-nilai pemaksaan yang
dibiaskan menjadi sebuah kewajiban. Wajib belajar 9 tahun. Disadari atau gamaksudnya adanya
selama 9 tahun ga kita dipaksa untuk belajar. Dengan embel-embel uang sekolah gratis dan buku
gratis.

20160528-0727-wib-jumlah-anak-ga-sekolah-di-dki-jakarta-5749020a34937302068439bc.jpg
20160528-0727-wib-jumlah-anak-sekolah-di-dki-jakarta-574902396b7e61e004136b9d.jpg
Berdasarkan data dari BKKBN diatas anak laki-laki dengan umur 7-15 tahun ada 39.913 orang
yang gasekolah. Jumlahnya lebih banyak daripada anak laki-laki yang bersekolah yaitu 39.456
orang. Anak perempuannya hitung sendiri ya.

Dari data dibawah menunjukkan kalau gasekolah itu lebih wajib daripada gasekolah.

Sebagian dari mereka akhirnya memilih untuk mencari uang atas keinginan sendiri dan desakan
ekonomi. Tapi kita ga akan fokus pada mereka. Kita tetap pasang mata sama anak sekolahan.

Meski sekolah dibilang wajib, anak-anak sekolah punya banyak alasan untuk bolos sekolah.
Coba bedakan teriakan anak SD saat masuk sekolah, jam istirahat, dan pulang sekolah?

Lebih menyenangkan mana?

9-kesalahan-sistem-pendidikan-di-indonesia-yang-wajib-kita-alami-sumber-gambar-www-
rangkumanmakalah-com-574901df5b7b61500e492e5f.jpg
2. Belajar Karena Nilai Bukan Karena Menyenangkan

Fakta diatas semakin merosot lagi setelah kita masuk sekolah. Begitu udahmasuk sekolah
kesalahan selanjutnya udahmenanti diruangan kelas.

Kita akan berjuang mati-matian belajar “hanya” kalau gurunya “pembunuh”dan “raja pelit” kasih
nilai. Tapikalau “ga”,kita akan santai aja bro.Hidup kayak dipantai, santai.

Pelajaran olahraga yang cuma sekali 1 minggu dan jam istirahat yang cuma 15 menit. Justru
adalah waktu yang paling berkesan selama sekolah. Karena saat jam itulah kita bisa bebas
bermain. Kita bisa menikmati setiap detik dan menitnya.

Sayangnya rasa menyenangkan itu gabisa didapatkan saat belajar. Tekanan agar dapat nilai
bagus dan gatinggal kelas yang mendorong kita untuk belajar. Yah, selain rasa malu biar gajadi
anak yang “dianggap” terbodoh dikelas.
9-kesalahan-sistem-pendidikan-di-indonesia-yang-wajib-kita-alami-sumber-gambar-
cookiesmantap-wordpress-com-5749026190fdfdaa0ece1314.jpg
3. Kesalahan Bukan Untuk Disalahkan Tapi Diperbaiki

Pernah salah dan dihukum didepan banyak orang?

Pernah dibuat malu sama guru didepan banyak orang?

Apakah itu membuat kita belajar atau malah benci sama gurunya?

Simpan aja jawaban masing-masing.

Kalau aja ada satu jawaban “ya” atas pertanyaan diatas. Maka kita adalah temen. Kita korban
regenerasi pendidikan yang salah.

Konsep salah disalahkan dan dipermalukan itu bersyukurnya mulai berkurang diperkotaan.
Karena dengan mudahnya pada siswa akan diliput sama media.

Kalau didesa mah, masih banyak yang menjadi korban “salah mendidik”.

9-kesalahan-sistem-pendidikan-di-indonesia-yang-wajib-kita-alami-sumber-gambar-
bdismkn1turen-wordpress-com-57490273d17a610705eb2775.png
4. Belajar Hanya Kalau Ada Tugas

Kenapa orang lebih suka main daripada belajar?

Yap, balik lagi ke poin yang pertama dan kedua diatas. Karena belajar itu kewajiban yang
gamenyenangkan.
Daritadi kita memojokkan sistem pendidikan terus ya?

Baiklah, anggaplah sistem pendidikannya udah benar. Kita mau ditekan belajar sampai lulus
SMA. Liat saat kuliah berapa banyak akhirnya yang menjadi burung liar dan kuda liar. Harus
jatuh dan mengalami kuliah yang berantakan.

Kewajiban belajar ga membuat mereka sadar. Justru kesadaran kalau pendidian itu penting yang
membuat kita sadar. Sampai akhirnya mengejar ketertinggalan kuliah.

Lalu paksaan belajar ga berhenti sampai disitu. Berapa banyak kita yang akhirnya bekerja
gasesuai sama “gelar sarjana”?

Kita akhirnya memilih bekerja sesuai dengan hal yang kita senangi. Bukan jurusan yang
dipaksakan. Hal ini berkaitan erat dengan kesalahan selanjutnya.

9-kesalahan-sistem-pendidikan-di-indonesia-yang-wajib-kita-alami-sumber-gambar-www-
gogirlmagz-com-574903221a7b61ad1adf7633.jpg
5. Anak IPA itu Pintar dan Anak IPS itu Bodoh

Siapa yang sempat merasakan itu?

Gadipungkiri memang, kemampuan berpikir anak IPA lebih daripada anak IPS. Lalu kenapa
anak IPA bisa pintar dan anak IPS bisa bodoh?

Bukannya tujuan sekolah membuat anak bodoh menjadi pintar?

Kita bisa pecah karena perbedaan soal agama dan kepercayaan. Disadari gakalau sebenarnya
guru dan segenap jajaran sekolah membentuk perbedaan antara IPA dan IPS?

Bukankah itu udah bertentangan dengan tiga prinsip pendidikan ala Mbah Ki Hadjar Dewantara?
9-kesalahan-sistem-pendidikan-di-indonesia-yang-wajib-kita-alami-2-sumber-gambar-www-
kaskus-co-id-574903a25a7b618d04f2c361.jpg
6. Kesalahan Dibayar Hukuman

Itulah hal yang lumrah dan legal terjadi disekolahan. Lalu kalau anak lebih banyak salah maka
akan dihukum terus?

Kapan dia akan mendapatkan perhatian sama dengan yang lainnya?

Kenapa sistem hukuman gadihilangkan aja dan diganti dengan “prestasi dapat hadiah”.

9-kesalahan-sistem-pendidikan-di-indonesia-yang-wajib-kita-alami-sumber-gambar-www-pulsk-
com-574903b990fdfd5f0fce12f3.jpg
7. Jago Matematika Pintar, Jago Main Bola Bodoh

Konsep lain dari pintar dan bodoh disekolah adalah perbandingan jago matematika dan jago
main bola. Guru dan orang tua sering bilang “Mau makan apa kamu main bola?”.

Lebih kaya mana pemain bola sekarang dan ilmuwannya?

Kenapa soal kaya, ya karena tadi pertanyaannya mau makan apa.

Guru hanya fokus pada kemampuan anak yang jago matematika dan didukung oleh banyak
orang untuk ikut olimpiade. Lalu anak yang jago main bola hanya didukung sama temen-
temencowoknya.

Betul?
9-kesalahan-sistem-pendidikan-di-indonesia-yang-wajib-kita-alami-sumber-gambar-hello-pet-
com-574903cbd17a61d304eb275c.png
8. Guru Boleh Salah Siswa Ga Boleh

Pernah telat dan kena hukuman?

Disuruh hormat bendera atau disuruh berdiri satu kaki didepan kelas sambil pegang kuping. Lalu
ketika kita udahberada dalam kelas dan gurunya terlambat masuk. Kita biasa ajaseolah gaterjadi
apa-apa.

Guru hanya bilang, “Maaf Ibu telat, kita lanjutkan pelajaran ya”. Enak banget ya jadi guru?

Emang mereka gapernah jadi murid ya?

Gapernah merasakan korban amarah guru?

Atau mungkin mereka korban sistem pendidikan salah. Mereka adalah “sianak yang pintar” yang
dulu dikasih perhatian.

9-kesalahan-sistem-pendidikan-di-indonesia-yang-wajib-kita-alami-sumber-gambar-kfk-kompas-
com-574903f15b7b61d40d492e7e.jpg
9. Anak Pintar Disayang Guru dan Anak Bodoh Ga

Fakta terakhir ini gabisa dielak. Seolah udahmenjadi aturan alami disekolahan.

Anak pintar dan rajin akan mendapatkan perhatian khusus dengan pujian dan nilai bagus. Anak
bodoh dan malas hanya akan mendapat teguran dan rasa malu. Sayangnya gasemua guru akan
memberikan perhatian khusus untuk mereka?

Bukankah tugas guru adalah mendidik?

“Kalau menjadikan anak pintar menjadi semakin pintar. Apa hebatnya guru?”

@kekitaan
9-kesalahan-sistem-pendidikan-di-indonesia-yang-wajib-kita-alami-sumber-gambar-
infounikmenarikterbaru-blogspot-com-574904005a7b618d04f2c365.jpg
Akhirnya Konsep Pendidikan sebagai Gerakan Semesta di Bulan Pendidikan Kebudayaan hanya
akan menjadi selebrasi tanpa solusi. Kalau kita ingin gerakan ini mengembalikan kesadaran
masyarakat akan pentingnya pendidikan. Perubahan mulai dari atas bukan dari bawah.
Perubahan gadimulai dari orang yang dididik tapidari pendidik.

“Perubahan dimulai dari pendidik bukan terdidik”

@kekitaan

Nilai-nilai dan karakter dari Pancasila sebagai tujuan utama dari pendidikan nasional gaakan
mempan sama siswa. Gaakan masuk. Nilai-nilai sebaik apapun akan tetap sia-sia.

Siswa sebagai terdidik adalah mesinnya. Sedangkan guru sebagai pendidik adalah supirnya. Arah
kemana pendidikan Indonesia tergantung arah kemudi.

Semoga berguna.

Senang bisa berbagi dengan kalian

Perubahan dimulai dari pendidik


Bukan malah yang sebaliknya
Perbaikan belum sampai titik
Masih banyak waktu lakukannya

Suka tulisannya?
Jangan lupa berbagi sama temen di sosial media ya

Ada yang mau didiskusiin?


Kasih komentar dibawah aja Mas Bro / Mbak Bro

Tembalang, Semarang
05:05 WIB Sabtu, 28 Mei 2016
2016/05/28/7-168
Tulisan Kita

Sumber Gambar
bdismkn1turen.wordpress.com diakses pukul 09:11 WIB hari Sabtu, 28 Mei 2016
cookiesmantap.wordpress.com diakses pukul 09:11 WIB hari Sabtu, 28 Mei 2016
family.fimela.com diakses pukul 09:11 WIB hari Sabtu, 28 Mei 2016
hello-pet.com diakses pukul 09:11 WIB hari Sabtu, 28 Mei 2016
infounikmenarikterbaru.blogspot.com diakses pukul 09:11 WIB hari Sabtu, 28 Mei 2016
kfk.kompas.com diakses pukul 09:11 WIB hari Sabtu, 28 Mei 2016
palembang.tribunnews.com diakses pukul 09:11 WIB hari Sabtu, 28 Mei 2016
www.kaskus.co.id diakses pukul 09:11 WIB hari Sabtu, 28 Mei 2016
www.gogirlmagz.com diakses pukul 09:11 WIB hari Sabtu, 28 Mei 2016
www.kaskus.co.id diakses pukul 09:11 WIB hari Sabtu, 28 Mei 2016
www.pulsk.com diakses pukul 09:11 WIB hari Sabtu, 28 Mei 2016
www.rangkumanmakalah.com diakses pukul 09:11 WIB hari Sabtu, 28 Mei 2016

Tentang Kita

Website :kekitaan.com
Twitter :kekitaan_
Line : @jat6583f
Facebook :Kekitaan Kita
Youtube :Kita/
Instagram : kekitaan_

Mengapa Demokrasi Melahirkan Banyak


Koruptor?
Penulis: Luthfi Assyaukanie Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC)

Seno

HAMPIR setiap minggu kita mendapatkan berita tentang penangkapan kepala daerah atau
pejabat pemerintah oleh KPK. Dengan sumber daya yang terbatas saja, KPK begitu sering
membongkar kasus korupsi, apalagi jika mereka memiliki sumber daya lebih besar.

Mungkin setiap hari kita akan disuguhkan berita penangkapan para koruptor.

Begitu seringnya KPK menangkapi para pejabat yang korup, Ketua MPR, Zulkifli Hasan, sampai
khawatir jika KPK meneruskan operasinya menggeledah kantor atau rumah para pejabat, suatu
saat nanti tidak akan ada lagi orang yang mengurus negeri ini karena semuanya telah tertangkap
KPK.

Pertanyaannya, apakah banyaknya kasus korupsi itu karena ada KPK? Artinya, kalau tidak ada
KPK yang beroperasi, negeri kita aman-aman saja, tidak ada korupsi? Ini ialah pertanyaan keliru
dari logika yang sesat. Ia sama dengan pertanyaan ini, mengapa banyak orang sakit gigi? karena
banyak dokter dan klinik gigi. Jika tak ada dokter gigi, tak akan ada orang yang sakit gigi.

Menarik mencermati bagaimana masyarakat kita menyikapi korupsi. Pada satu sisi, ada orang-
orang yang menganggap korupsi suatu hal yang biasa dan bukan sebuah kejahatan besar. Bahkan
ada yang menganggap bahwa korupsi untuk tujuan tertentu, misalnya demi syiar agama (korupsi
syari atau suap syari) dibolehkan, seperti belum lama ini disuarakan seorang ustaz.

Alih-alih mengecam, agama digunakan melegitimasi tindakan kejahatan. Namun, sesungguhnya,


ini bukan pertama kali agama dipakai untuk melakukan kejahatan. Sudah seringkali agama
dipakai untuk menyakiti orang, menipu, menyerang, merampas, membunuh, hingga meneror.
Agama ialah alat paling efektif untuk menutupi kejahatan.

Pada sisi lain, ada masyarakat yang betul-betul muak melihat maraknya korupsi di negeri kita.
Mereka berharap KPK terus konsisten melakukan operasinya. Mereka tahu bahwa
pemberantasan korupsi tidak mudah. KPK bukan hanya berhadapan dengan para koruptor, tapi
juga harus berhadapan dengan sebagian masyarakat yang tak mengerti betapa jahatnya korupsi.

Kualitas pemilih
Mengapa demokrasi kita melahirkan begitu banyak pemimpin yang korup? Mengapa pemilu dan
pilkada yang prosesnya diselenggarakan dengan cukup fair dan terbuka berujung pada pemilihan
orang-orang yang tidak kompeten? Apa yang salah?

Pertanyaan itu sesungguhnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Para pemerhati demokrasi di
dunia belakangan mempertanyakan kualitas demokrasi yang melahirkan pemimpin yang tidak
sesuai cita-cita demokrasi. Contoh terbaru, Rusia yang pemilunya baru-baru ini

memenangkan Vladimir Putin untuk keempat kalinya sebagai presiden. Meski UU Rusia hanya
membolehkan orang menjadi presiden selama dua periode, lewat manuver politiknya, Putin bisa
berkuasa empat periode diselingi koleganya, Dmitry Medvedev pada 2008-2012.

Sebelumnya, Pemilu AS 2016, dipertanyakan banyak orang karena melahirkan politisi yang
paling tidak diunggulkan dan dianggap mustahil menjadi presiden: Donald Trump. Sampai
sekarang, banyak rakyat AS yang masih belum percaya bagaimana mungkin demokrasi mereka
melahirkan seorang presiden seperti Trump?

Di Indonesia, demokrasi bukan hanya melahirkan wakil-wakil rakyat (DPR) yang tidak
kompeten, tetapi juga menghasilkan banyak kepala daerah yang korup dan intoleran. Kita sudah
menyelenggarakan empat kali pemilu dan ratusan pilkada di berbagai daerah, tapi kualitas

wakil dan pemimpinnya tidak mengalami perbaikan. Bahkan, jika melihat indikator korupsi,
kualitasnya semakin parah.

Lalu, haruskah kita menyalahkan demokrasi? Haruskan kita meninjau ulang sistem pemilihan
yang kita lakukan? Para sarjana sudah cukup lama memperdebatkan hal ini. Demokrasi punya
cacat bawaan yang sampai kini sulit diperbaiki. Sejak zaman filsuf Yunani kuno,

cacat bawaan itu sudah dideteksi. Realitas masyarakat yang terfragmentasi dalam kaya-miskin,
pandai-bodoh, kuat-lemah, menjadi pangkal kelemahan demokrasi. Menurut Plato, demokrasi
menjadi alat kaum tiran yang kaya, pintar dan kuat, untuk memobilisasi massa yang miskin,
bodoh, dan lemah.
Dari zaman ke zaman, realitas masyarakat itu tidak banyak berubah. Kalaupun ada perubahan
dalam peningkatan jumlah masyarakat terdidik, persentase masyarakat yang sadar politik dan
yang tidak, jumlahnya kurang lebih sama dengan fragmentasi yang dihadapi Plato dulu.

Jason Brennan, seorang pengajar ilmu politik di Universitas Georgetown, AS, mengonversi
kelas-kelas sosial yang dihadapi Plato itu menjadi ‘masyarakat melek politik’ dan ‘masyarakat
buta politik’. Dalam bukunya, Against Democracy, Brennan menjelaskan jumlah masyarakat
melek politik sangat kecil. Sebagian besar masyarakat yang datang ke bilik suara ialah mereka
yang sesungguhnya buta politik.

Kalaupun mereka tahu politik, lanjut Brennan, mereka hanya tahu sedikit-sedikit saja. Informasi
mereka tentang calon pemimpin, wakil rakyat, dan program kerja partai, hampir nol. Mereka
yang antusias berpolitik umumnya seperti holigan yang mendukung satu klub bola semata-mata
karena fanatisme buta, bukan karena kualitas klubnya.

Sumber masalah
Di situlah letak persoalannya. Pemilu dan pilkada tidak menyediakan mekanisme yang adil untuk
menilai dan memilih calon-calon terbaik. Sebagian besar yang datang ke bilik suara adalah
orang-orang yang secara pengetahuan politik tidak layak. Merekalah yang akan menentukan
nasib suatu bangsa atau pemerintahan di daerah. Jika kualitas pemilihnya buruk, bersiaplah
mendapatkan hasil pemimpin buruk.

Selama ini, satu-satunya cara untuk menangani cacat bawaan demokrasi itu dengan membuat
program-program yang biasa dikenal dengan ‘pendidikan pemilih’. Pemerintah dan NGO
berlomba-lomba menciptakan berbagai program agar pemilih menjadi cerdas dan melek politik.

Namun, Ilya Somin, Guru Besar di George Mason University, meragukan efektivitas program-
program semacam itu. Terlalu besar jumlah kaum ignorant dalam demokrasi. Pemerintah tak
akan mampu memberdayakan jumlah masyarakat yang sangat besar. Dalam bukunya,
Democracy and Political Ignorance, Somin menjelaskan salah satu pangkal masalah mengapa
masyarakat menjadi ‘bodoh’ dalam politik karena terlalu banyak yang mereka pikirkan.

Demokrasi menjadi tidak efektif karena masyarakat menghadapi begitu banyak pilihan. Seperti
orang yang bingung berbelanja di supermarket, perlu waktu berpikir dan merenung barang mana
yang terbaik yang harus diprioritaskan. Jika tidak berpikir, seseorang akan salah mengambil
barang atau akan mengambil barang dengan kualitas yang buruk.

Menurut Somin, demokrasi yang kita miliki seperti sebuah supermarket yang menyediakan
begitu banyak item. Kita tidak punya cukup waktu untuk menyeleksi mana calon yang bagus dan
mana calon yang buruk. Dengan segala keterbatasan itu, kita dipaksa untuk menentukan pilihan.
Jangan heran kalau kita mendapatkan hasil yang jelek.

Sumber masalah dari banyaknya pilihan itu ialah pemerintahan yang gemuk. Terlalu banyak
posisi publik yang diperebutkan, belum lagi jumlah wakil rakyat. Semakin gemuk sebuah
pemerintahan, semakin besar masyarakat menjadi ignorant dalam demokrasi. Solusinya, menurut
Somin, ialah merampingkan pemerintahan.
Usulan Somin sangat masuk akal, tapi mungkin akan sulit dilaksanakan, terutama di RI.
Pemerintahan yang gemuk bukan (hanya) terkait banyaknya persoalan yang mesti diurus, tapi
terkait bagi-bagi jabatan dan posisi. Banyaknya partai yang ikut bergabung dalam pemerintahan
(baik di pusat dan di daerah) menuntut jumlah posisi dan jabatan publik yang harus diisi. Setiap
orang harus memiliki bagian.

Jangan-jangan persoalan korupsi di Indonesia berpangkal pada gemuknya pemerintahan


ditambah political ignorance para pemilih. Setiap kepala daerah yang terpilih merasa berhutang
pada partai yang mendukungnya. Ketika berkuasa, dia sekuat tenaga akan ‘membayar
utang’kepada para pendukungnya, dengan memberi jabatan atau memberi insentif lain, yang
berpotensi mengandung korupsi.