Anda di halaman 1dari 37

Askep persalinan prematur

DISUSUN OLEH

1. Rara andika afriantari (P0 5120217 022)


2. Tiara afriani (P05120217 032)
3. Vioni febrianti (P05120217 035)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN

KESEHATAN BENGKULU

PRODI D3 KEPERAWATAN TAHUN AJARAN 2018/2019


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya
kami dapat menyelesaikan tugas dengan baik, tepat waktunya yang berjudul ”Asuhan
keperawatan persalinan prematur”.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, baik

dari segi penulisan, bahasan ataupun penyusunannya. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik

dan saran yang sifatnya membangun, khususnya dari guru mata kuliah guna menjadi acuan

dalam bekal pengalaman bagi kami untuk lebih baik dimasa yang akan datang.

Bengkulu, Mei 2019

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bayi Prematur adalah bayi yang lahir kurang dari usia kehamilan yang normal (37
minggu) dan juga dimana bayi mengalami kelainan penampilan fisik..Prematuritas dan
berat lahir rendah biasanya terjadi secara bersamaan, terutama diantara bayi dengan
badan 1500 gr atau kurang saat lahir, sehingga keduanya berkaitan dengan terjadinya
peningkatan mordibitas dan mortalitas neonatus dan sering di anggap sebagai periode
kehamilan pendek (Nelson 1988 dan Sacharin 1996)

Masalah Kesehatan pada bayi prematur, membutuhkan asuhan kebidanan, dimana


pada bayi prematur sebaiknya dirawat di rumah sakit karena masih membutuhkan cairan-
cairan dan pengobatan /serta pemeriksaan Laboratorium yang bertujuan untuk
meningkatkan derajat kesehatan terapi pada bayi dan anak yang meliputi peran perawat
sebagai advokad, fasilitator, pelaksanaan dan pemberi asuhan keperawatan kepada
klien.Tujuan pemberian pelayanan kesehatan pada bayi prematur dengan asuhan
keperawatan secara komprehensif adalah untuk menyelesaikan masalah keperawatan.

1.2 Batasan Masalah


a apa teori tentang persalinan prematur?
b Bagaimana asuhan keperawatan pada persalinan prematur ?
1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum

Untuk dapat mengetahui asuhan keperawatan pada masalah patologi persalinan prematur dan
manajemennya dalam asuhan keperawatan.

2. Tujuan Khusus

Agar dapat mngetahui mengenai :

a. pengertian prematur
b. penyebab bayi premature
c. tanda dan gejala persalinan prematur
d. factor resiko persalinan premature
e. klasifikasi bayi prematur
f. patofisiologi premature
g. masalah dan komplikasi yang ditimbulkan oleh persalinan premature
h. asuhan keperawatan prematur

1.4 Manfaat

 Mahasisawa mampu memahami konsep dan proses keperawatan pada klien


dengan persalinan prematur.

 Mahasisawa mampu memahami konsep dan proses keperawatan yang benar


sehingga dapat menjadi bekal dalam persiapan praktik dirumah sakit maupun di
masyarakat.
BAB II

Tinjauan Pustaka

2.1 Konsep Anfis

A. Anatomi dan Fisiologi

Uterus adalah organ genitalia femina interna yang memiliki panjang 8 cm, lebar 5

cm dan tebal 2-3 cm. Bagian-bagian uterus antara lain Corpus uteri, Fundus uteri, Cervix

uteri, serta Isthmus uteri yang menjadi penanda transisi antara corpus dan cervix. Bagian

memanjang di kedua sisi yang merupakan penghubung antara corpus uteri dan ovarium

disebut Tuba uterina. Terdapat dua ruang dalam uterus, yaitu Cavitas uteri di dalam

Corpus uteri dan Canalis cervicis di dalam Cervix uteri. Dinding uterus terdiri dari 3

lapisan. Dimulai dari yang terdalam yaitu Tunica mukosa atau endometrium, kemudian

lapisan otot yang kuat disebut Tunica muscularis atau miometrium, dan lapisan terluar

adalah Tunica serosa atau perimetrium (Paulsen dan Waschke, 2013).

(Encyclopaedia Britannica, 2010)


Gambar 2.1 Anatomi Uterus

Posisi uterus normal memiliki sudut di bagian ventral terhadap vagina dan Corpus

uteri melekuk ke anterior Portio vaginalis cervicis atau disebut posisi antefleksi. Hal ini

mencegah adanya prolaps Uterus melalui Vagina selama peningkatan tekanan

intraabdominal saat batuk dan bersin (Paulsen dan Waschke, 2013).

Otot polos uterus terdiri dari 2 sel penting, yaitu sel-sel otot polos dan sel intersisial

yang disebut telocyte. Sel-sel ini dapat ditemukan di organ lain seperti jantung, trakea,

placenta, pembuluh darah, dan lain-lain (Cretoiu, et al., 2013).

Perkembangan uterus dipengaruhi oleh hormon maternal dan plasental. Pada saat

lahir, besarnya Corpus uteri lebih kecil atau sama dengan besar Cervix uteri. Saat dewasa,

ukuran corpus uteri dua atau tiga kali lebih besar dari cervix. Uterus divaskularisasi oleh 2

arteri uterina, cabang dari arteri illiaca interna yang masuk mulai dari kedua sisi lateral

bawah uterus. Target steroid seks ovarium adalah endometrium. Seiring dengan

pertumbuhan folikel, terjadi perubahan histologik pada endometrium. Ada 2 lapisan pada

endometrium, yaitu lapisan basalis atau nonfungsional dan lapisan fungsional. Lapisan

basalis menempel pada miometrium dan tidak banyak berubah selama siklus menstmasi.

Disebut nonfungsional karena tidak memberikan respon terhadap stimulus steroid seks.

Lapisan di atasnya adalah lapisan fungsional yang memberikan respon terhadap stimulus

sterois seks dan nantinya akan terlepas pada saat menstruasi. Pada hari ke-7 pascaovulasi

terjadi peningkatan kadar estrogen dan progesteron yang memicu sintesis prostaglandin

sehingga permeabilitas pembuluh darah kapiler meningkat dan terjadi edema stroma.

Dengan meningkatnya kadar estrogen, progesteron, dan prostaglandin, menyebabkan

proliferasi pembuluh darah spiralis yang berlangsung sampai hari 22. Sel desidua mulai
terbentuk pada hari 22-23 siklus (Noerpramana, 2011; Samsulhadi, 2011).

Jika terjadi fertilisasi, uterus mengalami perubahan yang nantinya mempengaruhi

fisiologi hampir seluruh sistem dalam tubuh seperti pernapasan, kardiovaskular, dan

pencernaan. Volume uterus bisa membesar hingga 1000 kali, dan beratnya lebih dari 20

kali pada masa kehamilan. Pertumbuhan ukuran volume dan berat ini merupakan hasil dari

hiperplasia dan hipertropi (Maruyama, et al., 2012).

Regulasi aktivitas uterus selama masa kehamilan terbagi menjadi 4

fase :

a. Fase 0, yaitu masa dimana terjadi aktivitas inhibitor yang menyebabkan uterus

tidak berkontraksi. Inhibitor yang bekerja di antaranya progesteron, prostacyclin,

relaxin, parathyroid ho^^o^e- related peptide Nitric Oxide, kalsitonin,

adrenomedullin, dan peptida intestinal vasoaktif.

b. Fase 1 atau masa aktivasi myometrium dimana uterus mulai aktif berkontraksi

karena pengaruh dari uterotropin seperti estrogen. Fase ini ditandai dengan

menigkatnya ekspresi dari serangkaian reseptor kontraksi seperti reseptor

oksitosin dan prostaglandin, aktivasi beberapa ion tertentu, dan peningkatan gap

junction. Adanya peningkatan gap junction adalah untuk pembentukan kontraksi

yang terkoordinasi.

c. Fase 2 atau fase stimulatorik, yaitu kelanjutan dari fase 1. Kontraksi secara ritmis

terjadi hingga menjelang partus. Hal ini diperantarai oleh agonis uterotonik seperti

prostaglandin dan oksitosin.

d. Fase 3 atau fase involusi. Pada fase ini terjadi involusi uterus setelah terjadi

partus. Mekanisme ini paling dipengaruhi oleh oksitosin (Safdar, et al., 2013).
2.2 Definisi

Kelahiran prematur didefinisikan sebagai kelahiran sebelum terpenuhinya masa

gestasi 37 minggu atau kurang dari 259 hari sejak hari pertama haid terakhir (HPHT).

Dilihat dari usia gestasi, dibagi menjadi 3 subdivisi yaitu Extremely Preterm (<28

minggu), Ver;y Preterm (28 - <32 minggu), dan Moderate Preterm (32 - <37 minggu).

Moderate preterm, kemudian dibagi lebih fokus lagi menjadi Late Preterm (34 - <37

minggu) (WHO, 2012).


Kelahiran prematur adalah kontributor terbesar dalam kematian bayi, terutama yang
tergolong Ve^^ Preterm (<32 minggu). Selama kehamilan, bayi mengalami pertumbuhan dan
perkembangan penting pada sistem organ di antaranya otak, paru, dan liver. Perkembangan
ini akan tercapai sempurna selama minggu-minggu terakhir masa gestasi. Jika bayi lahir
sebelum mencapai masa ini, maka akan didapatkan gangguan pada pernapasan, perilaku,
penglihatan, pendengaran, juga beresiko terjadi cerebral palsy

Menurut Wibowo (1997) yang mengutip pendapat dari Herron,dkk. Persalinan prematur
adalah kontraksi uterus yang teratur setelah kehamilan 20 minggu dan sebelum 37 minggu,
dengan interval kontraksi 5 hingga 8 menit atau kurang dan disertai satu atau lebih tanda-
tanda berikut :

1. Perubahan serviks yang progresif.


2. Dilatasi serviks 2 cm atau lebih.
3. Penipisan serviks 80%
Menurut Firmansyah (2006) mengatakan partus prematur adalah kelahiran bayi pada
saat masa kehamilan kurang dari 259 hari dihitung dari hari terakhir haid ibu. Menurut
Mochtar (1998) partus prematur adalah persalinan pada kehamilan 28 sampai 37 minggu,
berat badan lahir 1000 sampai 2500 gram.

2.3 Etiologi
Penyebab sekitar 50% kelahiran premature tidak diketahui. Namun, sepertiga
persalinan premature terjadi setelah ketuban pecah dini (PROM). Komplikasi kehamilan
lain, yang berhubungan dengan persalinan premature, meliputi kehamilan multi
janin,hidramnion, serviks tidak kompeten, plasenta lepas secara premature dan infeksi
tertentu (seperti, polinefritis dan korioamnionitis) (Andersen, Merkatz, 1990).

Pada kebanyakan kasus, penyebab pasti partus prematurus tidak diketahui, namun
menurut Rompas (2004) ada beberapa resiko yang dapat menjadi faktor resiko, yaitu:

a. Faktor resiko mayor


Kehamilan multiple, hidramnion, anomali uterus, serviks terbuka lebih dari
1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari satu kali,
riwayat persalinan prematur sebelumnya, operasi abdominal pada kehamilan
preterm, riwayat operasi konisasi dan iritabilitas uterus.
b. Faktor resiko minor :
Penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam setelah kehamilan 12
minggu, riwayat pielonefitis, merokok lebih dari 10 batang perhari, riwayat abortus
trimester II, riwayat abortus pada trimester I lebih dari satu kali.
Menurut Manuaba (1998), faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya
persalinan preterm (prematur) atau berat badan lahir rendah adalah :
1. Faktor ibu :

- Gizi saat hamil yang kurang

- Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun

- Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat

- Penyakit menahun ibu: hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah (perokok)

- Faktor pekerja yang terlalu berat

2. Faktor kehamilan :

- Hamil dengan hidramnion


- Hamil ganda

- Komplikasi hamil: pre-eklamsia/eklamsia, ketuabn pecah dini.

3. Faktor janin:

- Cacat bawaan

- Infeksi dlam rahim.

Adapun faktor Risiko Prematur lainnya, yaitu :


a. Faktor Iatogenik (Indikasi Medis pada Ibu/Janin)
Pengakhiran kehamilan yang terlalu dini dengan seksio caesaria karena alasan
bahwa bayi lebih baik dirawat di bangsal anak daripada dibiarkan dalam Rahim. Hal ini
dilakukan dengan alasan ibu atau janin dalam keadaan seperti diabetes maternal, penyakit
hipertensi dalam kehamilan dan terjadi gangguan pertumbuhan intrauterine.
b. Faktor Maternal
1) Umur Ibu
Umur reproduksi yang sehat dan aman adalah umur 20-35 tahun. Pada kehamilan
diusia kurang dari 20 tahun secara fisik dan psikis masih kurang, misalnya dalam
perhatian untuk pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi selama kehamilannya. Sedangkan
pada usia lebih dari 35 tahun berkaitan dengan kemunduran dan penurunan daya tahan
tubuh serta berbagai penyakit yang sering menimpa diusia ini.
Wanita yang berusia lebih dari 35 tahun beresiko lebih tinggi mengalami penyulit
obstetric serta morbiditas dan mortalitas perinatal. Wanita yang berusia lebih dari 35
tahun memperlihatkan peningkatan dalam masalah hipertensi, diabetes, solusio plasenta,
persalinan prematur, lahir mati dan plasenta previa.
2) Paritas Ibu
Para adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup.
Paritas adalah jumlah janin dengan berat janin lebih dari 500 gram yang pernah
dilahirkan, hidup maupun mati, bila berat badan tidak diketahui, maka dipakai umur
kehamilan lebih dari 24 minggu.(1)
Macam paritas menurut varney dibagi menjadi:
a) Primiparitas
Seorang wanita yang telah melahirkan bayi hidup atau mati untuk pertama kali.
b) Multiparitas
Wanita yang telah melahirkan bayi hidup atau mati beberapa kali (Sampai 5 kali
atau lebih).
3) Trauma
Terjatuh setelah berhubungan badan, terpukul pada perut atau mempunyai luka
bekas operasi/pembedahan seperti bekas luka SC merupakan trauma fisik pada ibu yang
dapat mempengaruhi kehamilan. Sedangkan trauma psikis yang dapat mempengaruhi
kehamilan ibu adalah stress atau terlalu banyak pikiran sehingga kehamilan ibu
terganggu. Ibu yang mengalami jatuh, terpukul pada perut atau riwayat pembedahan SC
sebelumnya.
Melakukan hubungan seksual dapat terjadi trauma karena menimbulkan
rangsangan pada uterus sehingga terjadi kontraksi uterus. Sperma yang mengandung
hormon prostaglandin merupakan hormon yang dapat merangsang kontraksi uterus.
4) Riwayat Prematur Sebelumnya
Persalinan premature dapat terjadi pada ibu dengan riwayat premature
sebelumnya. Risiko persalinan prematur berulang bagi wanita yang persalinan
pertamanya preterm, dapat meningkat tiga kali lipat dibanding dengan wanita yang
persalinan pertamanya mencapai aterm.
Riwayat premature sebelumnya merupakan ibu yang pernah mengalami
persalinan premature sebelumnya pada kehamilan yang terdahulu. Ibu yang tidak pernah
melahirkan bayi sampai usia aterm dapat disebabkan karena faktor rahim ibu yang telah
lemah atau faktor lain yang belum diketahui jelas penyebabnya. Wanita yang telah
mengalami kelahiran prematur pada kehamilan terdahulu memiliki resiko 20% sampai
40% untuk terulang kembali. Persalinan premature dapat terulang kembali pada ibu yang
persalinan pertamanya terjadi persalinan prematur dan risikonya meningkat pada ibu
yang kehamilan pertama dan kedua juga mengalami persalinan prematur.
Pemeriksaan dan perawatan antenatal yang ketat pada ibu hamil yang pernah
mengalami prematur sebelumya merupakan cara meminimalkan risiko terjadinya
persalinan premature kembali. Selain itu kesehatan ibu dan janin dapat dijaga semaksimal
mungkin untuk menghindari besarnya persalinan prematur dapat terulang dan
membahayakan kelangsungan bayi yang dilahirkan.
5) Plasenta Previa
Plasenta previa adalah posisi plasenta yang berada di segmen bawah uterus, baik
posterior maupun anterior, sehingga perkembangan plasenta menutupi os serviks).
Plasenta yang menutupi jalan lahir dapat menutupi seluruh osteum uteri internum,
sebagian atau tepi plasenta berada sekitar pinggir osteum uteri internum.
6) Inkompetensi serviks
Inkompetensi serviks merupakan kondisi ketidakmampuan serviks untuk
mempertahankan kehamilan hingga waktu kelahiran tiba karena efek fungsional serviks.
Inkompetensi serviks ditandai dengan terjadinya pembukaan serviks tanpa nyeri dan
berakhir dengan ketuban pecah dini saat pretem, sehingga terjadi kelahiran preterm,
bahkan lahirnya bayi sebelum mampu bertahan hidup di luar rahim. Gejala yang terjadi
dapat berupa pengeluaran cairan vagina yang encer, tekanan pada panggul, perdarahan
pervaginam, dan ketuban pecah dini preterm, namun pada sebagian besar wanita tidak
terjadi gejala apapun.
7) Infeksi Intra-amnion
Infeksi intra-amnion merupakan infeksi yang terjadi akibat ketuban pecah lebih
dari 18 jam. Agar tidak terjadi infeksi ini harus menghindari ketuban pecah lebih dari 18
jam dalam persalinan.
8) Hidramnion
Hidramnion merupakan kehamilan dengan jumlah air ketuban lebih dari 2 liter.
Produksi air ketuban berlebih dapat merangsang persalinan sebelum kehamilan 28
minggu, sehingga dapat menyebabkan kelahiran prematur dan dapat meningkatkan
kejadian BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) pada bayi.
9) Hipertensi
Hipertensi yang menyertai kehamilan merupakan penyebab terjadinya kematian
ibu dan janin. Hipertensi yang disertai dengan protein urin yang meningkat dapat
menyebabkan preeklampsia/ eklampsia. Preeklampsia-eklampsia dapat mengakibatkan
ibu mengalami komplikasi yang lebih parah, seperti solusio plasenta, perdarahan otak,
dan gagal otak akut. Janin dari ibu yang mengalami preeklampsi-eklampsia
meningkatkan risiko terjadinya kelahiran prematur, terhambatnya pertumbuhan janin
dalam rahim (IUGR), dan hipoksia.
10) Malnutrisi
Kekurangan gizi selama hamil akan berakibat buruk terhadap janin seperti
prematuritas, gangguan pertumbuhan janin, kelahiran mati maupun kematian neonatal /
bayi. Penentuan status gizi yang baik yaitu dengan mengukur berat badan ibu sebelum
hamil dan kenaikan berat badan selama hamil.
c. Faktor Janin
1) Gemeli
Proses persalinan pada kehamilan ganda bukan multiplikasi proses kelahiran bayi,
melainkan multiplikasi dari risiko kehamilan dan persalinan. Persalinan pada kehamilan
kembar besar kemungkinan terjadi masalah seperti resusitasi neonatus, prematuritas,
perdarahan postpartum, malpresentasi kembar kedua, atau perlunya seksio sesaria.
Berat badan kedua janin pada kehamilan kembar tidak sama, dapat berbeda 50-
1000 gram, hal ini terjadi karena pembagian darah pada plasenta untuk kedua janin tidak
sama. Pada kehamilan kembar distensi (peregangan) uterus berlebihan, sehingga
melewati batas toleransi dan sering terjadi persalinan prematur. Kematian bayi pada anak
kembar lebih tinggi daripada anak kehamilan tunggal dan prematuritas merupakan
penyebab utama.
Persalinan pada kehamilan kembar meningkat sesuai dengan bertambahnya
jumlah janin, yaitu lama kehamilan rata-rata adalah 40 minggu pada kehamilan tunggal,
37 minggu pada kehamilan kembar dua, 33 minggu pada kehamilan kembar tiga, dan 29
minggu pada kehamilan kembar empat.(10)
2) Janin mati dalam Rahim (IUFD)
Kematian janin dalam Rahim (IUFD) adalah kematian janin dalam uterus yang beratnya 500
gram atau lebih dan usia kehamilan telah mencapai 20 minggu atau lebih.(10)
3) Kelainan kongenital
Kelainan kongenital atau cacat baawaan merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi
yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Bayi yang dilahirkan dengan kelainan
kongenital, umumnya akan di lahirkan sebagai BBLR atau bayi kecil. BBLR dengan kelainan
kongenital diperkirakan 20% meninggal dalam minggu pertama kehidupannya.(1)
d. Faktor Perilaku
1) Merokok
Merokok pada ibu hamil lebih dari 10 batang setiap hari dapat mengganggu pertumbuhan janin
dan risiko terjadinya prematuritas sangat tinggi (1)
2) Minum Alkohol
Alkoholnya dapat mengganggu kehamilan, pertumbuhan janin tidak baik sehingga kejadian
persalinan prematur sangat tinggi pada ibu yang mengkonsumsi minuman beralkohol.

2.4. Klasifikasi

Menurut Usia kehamilannya maka prematur dibedakan menjadi beberapa, yaitu :


a. Usia kehamilan 32-36 minggu disebut persalinan prematur (preterm).
b. Usia kehamilan 28-32 minggu disebut persalinan sangat prematur (very preterm).
c. Usia kehamilan 20-27 minggu disebut persalinan ekstrim premature (extremely
preterm).
Menurut berat badan lahir, bayi premature dibagi dalam kelompok :
a. Berat badan bayi 1500-2499 gram disebut bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR).
b. Berat badan bayi 1000-1499 gram disebut bayi dengan Berat Badan Lahir Sangat
Rendah (BBLSR).
c. Berat badan bayi <1000 gram disebut bayi dengan Berat Badan Lahir Ekstrim Rendah
(BBLER).

2.5 Patofisiologi

Pada prinsipnya, kelahiran normal dan kelahiran prematur memiliki mekanisme

klinis yang sama, yaitu kontraksi uterus, dilatasi cervix, dan rupturnya chorioamniotic

membrane. Perbedaan utamanya terletak pada onset. Proses kelahiran prematur

dimulai dengan adanya perubahan pada myometrium, yaitu dari keadaan diam

menjadi berkontraksi kuat yang diikuti oleh pergerakan sinyal antara jalur anti-
inflamasi dan pro-inflamasi meliputi kemokin (IL-8), sitokin (IL-1 dan IL-6), juga

protein yang berhubungan dengan kontraksi yaitu reseptor oksitosin, connexin 43, dan

reseptor prostaglandin) (Romero, et al., 2014).

Adanya kontraksi yang bertambah kuat secara progresif menyebabkan cervix

meregang sehingga bayi terdorong ke jalan lahir. Hal ini menimbulkan umpan balik

positif dimana regangan cervix akibat terdorongnya bayi merangsang uterus untuk

berkontraksi lebih kuat pada siklus berikutnya. Dengan meningkatnya kontraksi, maka

cervix terus meregang menyebabkan pengeluaran bayi. Frekuensi kontraksi semakin

meningkat seiring majunya persalinan disertai peningkatan intensitas dan dapat

menyebabkan spasme uterus jika tidak diimbangi dengan relaksasi secara ritmis.

Spasme uterus akan berakibat pada penghentian aliran darah melalui plasenta

sehingga dapat menyebabkan kematian fetus (Guyton dan Hall, 2012).

Pematangan cervix dalam persiapan dilatasi didukung oleh perubahan pada

protein matrix ekstraselular, yang meliputi hilangnya crosslink kolagen dan

meningkatnya glikosaminoglikan, setara dengan perubahan pada barrier epitelial dan

immune surveillance properties. Hal ini menurunkan kekuatan regang cervix sehingga

terjadi dilatasi. Aktivasi desidua atau membran secara anatomi dan biokimia mengacu

pada aktivitas desidua selama kehamilan, pemisahan membran chorioamniotic dari

desidua, hingga pecahnya ketuban. Peningkatan ekspresi sitokin inflamasi (TNF-a dan

IL-1) dan kemokin, meningkatkan aktivitas protease (MMP-8 dan MMP-9), pelepasan

molekul angiogenesis seperti fibronektin, serta apoptosis telah terlibat dalam proses

ini (Romero, et al., 2014).

Adapun penyebab terj adinya kelahiran prematur adalah sebagai berikut :


1. Inflamasi

Satu dari tiga bayi prematur lahir dari ibu dengan infeksi intraamnion

yang kebanyakan subklinis. Ada 2 jalur infeksi, yaitu transplacental dan jalur

ascenden dari traktus genitalia bawah. Infeksi ekstrauterine juga dapat

memicu terj adinya kelahiran prematur, salah satunya adalah malaria.

2. Perdarahan Desidua dan Penyakit Vascular

Pasien yang melahirkan prematur dengan membran intak dan pecahnya

ketuban dini mengalami perdarahan per-vaginam yang menandakan adanya

defek hemostasis desidua. Pembentukan trombin selama terj adinya

perdarahan desidua menstimulasi kontraksi uterus dan menurunkan matrix

ekstraselular pada membran chorioamniotic, sehingga ketuban pecah.

Perdarahan uterus telah diamati memiliki hubungan dengan lesi vascular

pada plasenta. Pada kehamilan normal, invasi sitotropoblas secara fisiologis

mengubah arteri spiralis uterus yang mulanya berdiameter kecil dan memiliki

tahanan tinggi menjadi berdiameter besar dan bertahanan rendah yang

menyebabkan perfusi villi korionik plasenta. Pada kasus kelahiran prematur,

transformasi ini gagal terjadi sehingga lumen pembuluh darah tidak bisa

diperluas dan mengakibatkan terjadi perdarahan.

3. Penuaan Desidua

Selama masa implantasi, endometrium mengalami perubahan anatomi

dan fisiologi menjadi desidua yang sangat penting dalam proses implantasi,

maintenance kehamilan, serta partus. Desidualisasi ditandai dengan

terjadinya proliferasi dan diferensiasi sel stroma uterus menjadi tipe sel
khusus yang disebut sel desidua. Protein supresor tumor p53 memegang

peranan penting dalam pertumbuhan desidua dan jika protein ini tidak ada

maka akan terjadi kegagalan pada kehamilan atau jika kehamilan tetap

terjadi, adanya desidualisasi yang tidak adekuat. Oleh karena itu, jika terjadi

penuaan sel desidua yang lebih cepat dari waktu normal, desidualisasi tidak

berjalan sempurna dan memicu kelahiran prematur.

4. Gangguan Toleransi Maternal-Fetal

Fetus dan plasenta memiliki antigen maternal dan paternal sehingga

keduanya merupakan semi-allograft. Toleransi imun sangat penting untuk

berhasilnya kehamilan. Jika terjadi gangguan toleransi maka akan terjadi

allograft rejection. Chorioamnionitis kronis, lesi plasenta yang paling sering

terjadi pada kelahiran prematur spontan yang ditandai dengan infiltrasi sel T

pada chorion disertai apoptosis tropoblas, menyerupai allograft rejection.

Gangguan toleransi maternal-fetal mungkin berhubungan dengan kelahiran

prematur yang terjadi pembedahan pada fetus atau intervensi transplantasi

stem cell dimana ada kenaikan sel T maternal di sirkulasi fetal. Mekanisme

kelainan pada toleransi dan kelahiran prematur spontan masih belum

diketahui.

5. Aktivitas Progesteron yang Tertunda

Progesteron memegang peranan penting dalam maintenance kehamilan,

terbukti dengan menurunnya kadar dalam serum pada kelahiran prematur.

Antagonis reseptor progesteron seperti mifepristone, menginduksi

pematangan cervix, abortus spontan, dan partus pada manusia dan hewan
sehingga jika ada penurunan progesteron akan menjadi salah satu penyebab

terjadinya kelahiran prematur. Selama masa gestasi, progesteron

menghambat kontraksi miometrium dengan mengurangi contraction-

associated protein serta kemokin atau sitokin inflamasi (Romero et al.,

2014).

Progesteron bertanggung jawab atas fase diam uterus dengan menekan

gen-gen kontraktil. Penekanan ekspresi miR-200 menjelang masa partus bisa

menurunkan gen kontraktil dan meningkatkan katabolisme progesteron.

Rangsangan dari kortisol janin mengaktifkan 17-a-hidroksilase plasenta

sehingga mengurangi sekresi progesteron. Dengan demikian, kadar

progesteron menurun sedangkan sekresi estrogen terus meningkat. Akibatnya

rasio estrogen terhadap progesteron menjadi terbalik. Perubahan rasio ini

meningkatkan produksi prostaglandin yang

nantinya memicu kontraksi uterus hingga berujung pada persalinan.

(Cunningham, et al., 2014).

Progesteron juga memiliki efek terhadap desidua, membran

chorioamniotic, dan pematangan cervix. Dengan menghambat apoptosis yang

diinduksi oleh TNF-a, progesteron mencegah rupturnya membran

chorioamniotic dan desidua karena aktivitas kematian selnya yang terhambat.

Pematangan cervix terjadi melalui regulasi metabolisme matrix ekstraselular

(Romero, et al., 2014).

6. Mekanisme Penyakit Lainnya

Overdistensi uterus dapat memicu protein gap junction serta protein lain
yang berhubungan dengan kontraksi seperti reseptor oksitosin. Stress pada

ibu juga salah satu faktor yang menstimulasi terjadinya kelahiran prematur.

Stress memicu produksi kortisol maternal dan fetal sehingga meningkatkan

produksi CRH oleh plasenta yang nantinya akan beredar di sirkulasi maternal

dan fetal.

7. Cell-free Fetal DNA (cffDNA)

Pada wanita hamil, dapat dideteksi adanya cffDNA dalam sirkulasi dan

konsentrasinya terus meningkat seiring usia gestasi. Puncaknya adalah pada

saat menjelang partus. Beberapa penelitian menunjukkan peningkatan

konsentrasi cffDNA pada midtrimester akan meningkatkan resiko kelahiran

prematur. Mekanisme cffDNA menstimulasi kelahiran prematur spontan

masih belum diketahui secara pasti (Romero, et al., 2014).

Pathway
2.6 Manifestasi Klinis

a. Sakit kram seperti menstruasi dapat membingungkan dengan sakit lingkar ligamen.
b. Sakit punggung, berbeda dengan yang dalami oleh wanita hamil.
c. Tekanan atau sakit suprapubik, dapat membingungkan dengan infeksi saluran kencing.
d. Sensasi tekanan atau berat pelviks.
e. Perubahan karakter jumlah muatan vaginal (lebih tebal, lebih tipis, berair, berdarah,
coklat, atau tak berwarna)
f. Diarrhea.
g. Kontraksi uterus yang tidak normal (sakit atau tidak) terasa lebih sering dari pada setiap
10 menit untuk 1 jam atau lebih dan tidak sembuh dengan berbaring.
h. Pecah membran prematur.
i. Tanda dan gejala kelainan preterm harus termasuk sebagia rutin pendidikan wanita
sekitar 20-24 minggu kehamilan.

2.7 komplikasi
1) Masalah kardiovaskular seperti PDA atau Duktus Arteriosus Paten dimana ductus
arteriosus tetap terbuka bahkan setelah anak lahir. Anak yang lahir prematur sangat rentan
terhadap masalah seperti masalah hipertensi, diabetes dan jantung di usia dewasa mereka.

2) Penyakit paru-paru kronis dan infeksi seperti displasia bronkopulmonalis, pneumonia dan
sindrom gangguan pernapasan.

3) Ada beberapa masalah neurologis seperti Ensefalopati hipoksik iskemik, retinopati


prematuritas, apnea, serebral palsi, cacat perkembangan, perdarahan intraventrikular. Beberapa
bayi cenderung mengalami pendarahan otak. Pendarahan otak parah dapat berakibat fatal.
Keterbelakangan mental adalah efek yang bisa terjadi pada kelahiran prematur.

4) Masalah hematologi yang bisa terjadi pada kelahiran prematur adalah trombositopenia,
anemia, ikterus atau hiperbilirubinemia yang menyebabkan kernikterus.

5) Bayi prematur menghadapi masalah pertumbuhan jangka panjang seperti tingkat


pertumbuhan di bawah rata-rata.

6) Beberapa masalah metabolik dan pencernaan yang juga bisa terjadi pada bayi prematur
seperti hernia inguinalis, hipokalsemia, rakhitis, nekrosis enterocolitis, hipoglikemia, dll.
Pengamatan yang dilakukan menemukan bahwa, bayi prematur menghadapi kesulitan dalam
menyusu, karena kurang energi untuk menghisap susu.

7) Anak yang lahir antara minggu ke-22 dan 27 lebih rentan terhadap kematian bayi dan
SIDS (Sudden Infant Death Syndrome).
8) Para ahli menyatakan bahwa anak-anak yang lahir prematur menghadapi masalah
reproduksi.

9) Beberapa masalah lainnya seperti sepsis, kebutaan total atau parsial, masalah penglihatan,
infeksi saluran kemih, masalah sosial dan emosional, keterampilan mengucap yang kurang,
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), masalah koordinasi mata tangan dan IQ lebih
rendah.

Menurut Nur Cahyo (2008) komplikasi partus prematur yaitu:


 Sindroma gawat janin
 Ketidakmatangan pada system saraf
 Rentang terjadinya perdarahan otak atau serangan apneu
 Intoleransi pemberian makanan
 Retinopati dan gangguan penglihatan atau kebutaan (fibroplasia retrolental)
 Displasia bronkopulmoner
 Penyakit jantung
 Jaundice
 Infeksi atau septicemia
 Anemia
 Hipoglikemia/ Hiperglikemia
 Perkembangan dan partumbuhan yang terhambat
 Keterbelakangan mental dan motorik

2.7 Pemeriksaan Diagnostik


 Ultrasonografi : Pengkajian getasi (dengan berat badan janin 500 sampai 2500
gram)
 Tes nitrazin : menentukan KPD
 Jumlah sel darah putih : Jika mengalami peningkatan, maka itu menandakan
adanya infeksi amniosentesis yaitu radio lesitin terhadap sfingomielin (L/S)
mendeteksi fofatidigliserol (PG) untuk maturitas paru janin, atau infeksi
amniotik.
 Pemantauan elektronik : memfalidasi aktifitas uterus / status janin.

2.8 Penatalaksanaan
1. Tirah baring (bedrest)
Kepentingan istirahat disesuaikan dengan kebutuhan ibu.
2. Rehidrasi
Rehidrasi oral maupun intravena sering dilakukan untuk mencegah persalinan preterm
karena sering terjadi hipovolemik pada ibu dengan kontraksi prematur.
Tirah baring dan rehidrasi merupakan salah satu upaya agar aliran darah ke plasenta
meningkat dan lancar sehingga janin selalu dalam keadaan baik 14.
3. Pemberian terapi konservatif (ekspetan) tokolitik
Menurut Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dan Rujukan 2013,
jika ditemui salah satu dari keadaan berikut ini, tokolitik tidak perlu diberikan dan bayi
dilahirkan secara pervaginam atau perabdominam sesuai kondisi kehamilan15:
a. Usia kehamilan di bawah 24 dan di atas 34 minggu
b. Ada tanda korioamnionitis (infeksi intrauterine), preeklampsia, atau perdarahan aktif
c. Ada gawat janin
d. Janin meningal atau adanya kelainan kongenital yang kemungkinan hidupnya kecil
Pemberian tokolitik dilakukan usia 24-34 minggu karena tujuan utama penggunaan
tokolitik ini memberi kesempatan bagi terapi kortikosteroid untuk menstimulur surfaktan paru-
paru janin, sedangkan paru-paru janin matang usia 34 minggu 15,16.
American College of Obstetricians and Gynecologisis membuat pernyataan berikut
mengenai tokolitik: “sampai saat ini, belum ada penelitian secara meyakinkan membuktikan
terjadinya peningkatan kesintasan atau indeks prognosis neonatus jangka panjang lainnya pada
pemberian terapi tokolitik. Di pihak lain, kemungkinan gangguan akibat terapi tokolitik pada ibu
dan neonatus sudah terbukti. Pemberian kortikosteroid sebelum 34 minggu gestasi jelas
bermanfaat, pemberian obat tokolitik untuk perpanjangan kehamilan jangka pendek dapat
dibenarkan. Di luar itu, pertanyaan apakah obat tokolitik perlu digunakan pada usia gestasi
berapapun tidak dapat dijawab saat ini, terutama setelah 34 minggu gestasi” 17.
Obat tokolitik yang memiliki fungsi kerja untuk menghambat saluran kalsium (antagonis
kalsium). Aktifitas otot polos, termasuk miometrium, secara langsung berhubungan dengan
kalsium bebas di dalam sitoplasma dan penurunan konsentrasi kalsium akan menghambat
kontraksi. Ion kalsium mencapai sitoplasma melalui portal atau saluran membran spesifik.
Penyekat saluran kalsium bekerja menghambat pemasukan kalsium melalui membran sel dengan
berbagai mekanisme18. Dengan demikian, terjadi penurunan konsentrasi kalsium.
Meskipun beberapa fakta memperlihatkan bahwa penyekat kanal kalsium menjanjikan
beberapa harapan sebagai obat tokolitik terapi persalinan prematur, beberapa penelitian juga
mengingatkan untuk mengklarifikasi bahaya potensial pada ibu atau janin sebab relaksasi otot
polos tidak terbatas pada uterus saja, melainkan juga mengenai pembuluh darah sistemik dan
uterus. Resistensi vaskular yang menurun karena nifedipin dapat menyebabkan hipotensi pada
ibu sehingga menurunkan perfusi uteroplasenta18. Studi-studi hewan dengan berbagai spesies
yang dilaporkan telah memperlihatkan adanya hiperkapnia, asidosis, hipoksemia, dan kematian
janin. Pada pengamatan yang dilakukan Lirette dkk. menunjukkan hasil terjadi penurunan aliran
darah uteroplasenta pada kelinci18,19. Hepatotoksisitas maternal yang diinduksi oleh obat telah
dilaporkan ketika nifedipin digunakan untuk terapi persalinan prematur sehingga mengakibatkan
dihentikannya pemberian obat ini19. Oleh karena itu, diperlukan prediktor diagnosis yang baik
agar menghindarkan pasien dari terapi tokolitik dan efek sampingnya, serta menurunkan angka
perawatan rumah sakit dan angka rujukan ke fasilitas perawatan perinatologi.
4. Pemberian terapi kortikosteroid
Mekanisme kerja kortikisteroid pada perkembangan paru adalah meningkatkan surfaktan
paru. Kortikosteroid melibatkan induksi protein yang mengatur sistem biokimia dengan sel tipe
II pada paru janin yang memproduksi surfaktan. Pada sel-sel paru janin manusia yang dikultur,
pemberian deksametason meningkatkan kandungan protein surfaktan A, B, C, D, sambil
merangsang aktifitas semua enzim penting untuk biosistesi fosfolipid. Karena itu, konsentrasi
fosfatidilkolin yang larut meningkat. Pada gilirannya hal ini merangsang perkembangan badan-
badan lamelar, yang kemudian disekresikan ke dalam lumen ruang udara14.
Pemberian kortikosteroid ini mencegah morbiditas neonatal pada penggunaan usia
kehamilan 24-34 minggu. Semua kehamilan kurang dari 34 minggu yang akan diakhiri diberikan
kortikosteroid dalam bentuk deksamethasone atau betamethasone20. Evaluasi dari beberapa
penelitian menyebutkan bahwa pemberian kortikosteroid pada usia kehamilan 24-34 minggu
efektif memperbaiki outcome neonatal. Pemakaian kortikosteroid pada kehamilan setelah usia 34
minggu jarang ditemukan penurunan angka morbiditas dan tidak ada bukti yang kuat untuk
mendukung atau membantah. Penggunaan kortikosteroid hanya direkomendasikan jika terbukti
adanya immaturitas paru pada pemeriksaan amnionsintesis22,23. Kehamilan > 34 minggu hanya
perlu dilakukan observasi kemajuan persalinan serta kesejahteraan janin intrauterine. Terdapat
efek jangka pendek pada ibu, antara lain oedem paru, infeksi, dan pengendalian glukosa yang
lebih sulit pada ibu diabetik.18,23 Pada penelitian Elliot dan Radin juga melaporkan bahwa
kortikosteroid menginduksi uterus dan persalinan preterm pada manusia. Dengan demikian,
pemberian kortikosteroid akan meningkatkan angka persalinan prematur. Pemberian
kortikosteroid yang tidak memiliki manfaat kuat pada pematangan paru umur kehamilan setelah
34 minggu justru dapat mempercepat angka persalinan prematur dan hal ini akan berpengaruh
dengan outcome bayi lahir preterm. Oleh karena itu, keputusan pemberian kortikostreoid harus
tepat sesuai klasifikasi umur kehamilan.
5. Pemberian Antibiotik
Dalam Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dan Rujukan juga
menjelaskan bahwa pemberian antibiotika profilaksis pada persalinan prematur digunakan untuk
mencegah infeksi streptococus grup B.
6. Perencanaan Persalinan
Pengambilan keputusan untuk melakukan persalinan merujuk pada analisis skor bishop dan
baumgarten. Analisis kedua skor tersebut menguraikan bahwa PPI susah untuk dihambat jika
terjadi pengeluaran darah bertambah banyak dan konsistensi serviks lunak. Umur kehamilan
kurang dari 34 minggu adalah syarat untuk penundaan persalinan24. Usia kehamilan > 34 minggu
dapat melahirkan di tingkat dasar/ primer, mengingat prognosis relatif baik dan morbiditas
dianggap sama dengan kehamilan aterm.
BAB III

Konsep Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
A. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas Pasien
Ibu
Nama : Ny. “I”
Umur : 43 tahun
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : S1
Pekerjaan : IRT
Alamat : Glp.Baro
No. Telp :

2. Identitas penanggung jawab


Nama : Tn.D
Umur : 47 tahun
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Aceh/Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Glp.Baro

3. Keluhan Utama
Ibu mengatakan sudah kencang-kencang teratur sejak jam 05.00 WIB tanggal 05-04-2017
Ibu mengatakan sudah keluar lendir bercampur darah sejak jam 14.00 WIB tanggal 05-04-2017
4. Riwayat Menstruasi
Menarche : 14 tahun Siklus : 28 hari
Lama : 5-6 hari Teratur : Teratur
Sifat Darah : Cair (khas menstruasi) Keluhan: Tidak ada
Bau : Khas darah (amis)

5. Riwayat Perkawinan
Status pernikahan : Menikah Menikah ke : Pertama
Lama : 19 tahun Usia menikah pertama kali : 23 tahun

6. Riwayat Obstetrik : G5 P4 A0 AH4

Hamil Persalinan Nifas


ke Tanggal Umur Jenis Penolo Komplik JK BB Bayi Lakta Komplikasi
kehamilan persalin ng asi Lahir si
an
1. 20-07-1998 36 minggu Normal Bidan - P 3600 Normal - -

2. 10-03-2000 37 minggu Normal Bidan - L 3200 Normal - -

3. 04-07-2006 35 minggu Normal Bidan - P 3800 Normal - -

4. 05-08-2009 38 minggu Normal Bidan - P 3400 Normal - -

7. Riwayat kontrasepsi yang digunakan

Jenis
Pasang Lepas
No Kontrasepsi
Tanggal Oleh Tempat Keluhan Tanggal Oleh Tempat Alasan
Ibu mengatakan
tidak pernah
menggunakan
alat kontrasepsi
apapun

8. Riwayat Kehamilan sekarang


a. HPHT : 02-09-2016
HPL : 09-06-2017
b. ANC pertama umur kehamilan : 12 minggu
c. Pergerakan janin selama 24 jam (dalam sehari)
Ibu mengatakan merasakan gerakan janin ± 12 kali dalam 24 jam

9. Riwayat Kesehatan
a. Penyakit yang pernah/sedang diderita (menular, menurun, dan menahun)
Ibu mengatakan tidak pernah/sedang menderita penyakit menular
(Hepatitis,HIVAIDS),menurun(DM,Hipertensi),menahun(TBC, Jantung)

b. Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga (menular,menurun, dan menahun)


Ibu mengatakan keluarga tidak pernah/sedang menderita penyakit
menular(Hepatitis,HIVAIDS),menurun(DM,Hipertensi),menahun(TBC, Jantung)

c. Riwayat keturunan kembar


Ibu mengatakan tidak mempunyai keturunan kembar baik dari pihak ibu maupun suami

d. Riwayat Operasi
Ibu mengatakan tidak pernah operasi apapun

e. Riwayat Alergi Obat


Ibu mengatakan tidak mempunyai alergi obat apapun
10. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
a. Pola Nutrisi
Sebelum hamil Selama hamil
- Makan
Frekuensi : 3 x/hari Frekuensi : 2x/hari
Porsi : 1 piring Porsi : 1/2 piring
Jenis : Nasi, sayur, lauk Jenis : Nasi,sayur,lauk
Pantangan : Tidak ada Pantangan: Tidak ada
Keluhan : Tidak ada Keluhan : Tidak ada

- Minum
Frekuensi : 5 x/hari Frekuensi : 5 x/hari
Porsi : 1 gelas Porsi : 1 gelas
Jenis : Air putih, teh Jenis : Air putih, susu, teh
Pantangan : Tidak ada Pantangan : Tidak ada
Keluhan : Tidak ada Keluhan : Tidak ada

b. Pola Eliminasi
- BAB
Frekuensi : 1 x/hari Frekuensi : 1 x/hari
Konsistensi : Lunak Konsistensi : Lunak
Warna : Coklat Warna : Coklat
Bau : Khas feses Bau : Khas feses
Keluhan : Tidak ada Keluhan : Tidak ada

- BAK
Frekuensi : +/-4 x/hari Frekuensi : +/-6 x/hari
Konsistensi : Cair Konsistensi : Cair
Warna : Kuning jernih Warna :Kuning jernih
Bau : Khas urin Bau : Khas urin
Keluhan : Tidak ada Keluhan : Tidak ada

c. Pola Istirahat
- Tidur siang
Lama : 1 jam Lama : 1 jam
Keluhan : Tidak ada Keluhan : Tidak ada
- Tidur malam
Lama : 5 jam Lama : 5 jam
Keluhan : Tidak ada Keluhan : Tidak ada

d. Personal hygiene
Mandi : 3 x/hari Mandi : 3 x/hari
Ganti pakaian : 2 x/hari Ganti pakaian : 2 x/hari
Gosok gigi : 2 x/hari Gosok gigi : 2 x/hari
Keramas : 2 x/minggu Keramas : 2 x/minggu

e. Pola seksualitas
Tidak dilakukan

11. Kebiasaan yang mengganggu kesehatan (merokok, minum jamu, minuman


beralkohol)
Ibu mengatakan tidak mempunyai kebiasaan yang dapat mengganggu kesehatan seperti
merokok,minum jamu,minuman beralkohol.

12. Psikososiospiritual (persiapan menghadapi persalinan)


Ibu, suami, dan keluarga sangat senang dengan persalinan ini
Ibu mengatakan Ibadahnya lancar
Ibu mengatakan suami sebagai tulang punggung keluarga
Ibu mengatakan keadaan ekonominya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga
Ibu mengatakan hubungan dengan tetangga baik-baik saja

13. Pengetahuan ibu (tentang kehamilan, persalinan, dan nifas)


Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang persalinan, dan nifas. Karena ibu sudah pernah
mengalami persalinan sebelumnya.

14. Lingkungan yang berpengaruh (sekitar rumah dan hewan peliharaan)


Ibu mengatakan lingkungan di sekitar rumah bersih,dan ibu tidak mempunyai hewan peliharaan
apapun.

B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Sakit
Kesadaran : Composmentis
Tanda vital Sign
Tekanan Darah : 100/60 mmHg Nadi :74x/menit
Pernafasan : 24x/menit Suhu :37,2 °C
Berat badan sebelum hamil : 45 kg
Tinggi badan : 149 cm
Berat badan saat hamil : 50 kg

1. Pemeriksaan Fisik

1) Kepala
a. Bentuk :Mesocephal,tidak ada Massa,tidak ada bekas operasi.
b. Warna kulit : Putih bersih
c. Nyeri tekan : Tidak ada

2) Rambut
a. Bentuk : Keriting
b. Bau rambut : Tidak berbau
c. Warna rambut : Hitam

3) Muka
a. Bentuk : Oval
b. Oedem : Tidak ada
c. Cloasma gravidarum : Tidak ada

4) Mata
a. Kesimetrisan : Simetris
b. Konjungtiva : Pucat

5) Hidung
a. Kesimetrisan : Simetris
b. Polip : Tidak ada
c. Infeksi : Tidak ada
d. Serumen : Tidak ada

6) Mulut
a. Kesimetrisan : Simetris
b. Keadaan bibir : Lembab
c. Keadaan gigi : Tidak ada caries
d. Keadaan gusi : Tidak ada perdarahan, tidak ada pembengkakan
e.Keadaan Lidah : Bersih
f. Kelenjar Tonsil : Tidak ada pembengkakan

7) Telinga
a. Kesimetrisan : Simetris
b. Lubang Telinga : Ada
c. Gendang Telinga : Baik
d. Pendengaran : Baik
e. Serumen : Tidak ada

8) Leher
a. Tidak ada Pembesaran kelenjar tiroid
b. Tidak ada Pembesaran kelenjar limfe
c. Tidak ada Pembesaran kelenjar parotis
d. Tidak ada Pembesaran vena jugularis

9) Dada
a. Lukas bekas Operasi : Tidak ada
b. Kesimetrisan : Simetris
c. Mengi : Tidak ada
d. Retraksi dinding dada : Tidak ada
e. Bunyi jantung : Normal

10) Payudara
a. Simetris : Simetris
b. Hiperpigmentasi : Ada
c. Massa : Tidak ada
d. Pembesaran : Ada
e. Puting susu : Menonjol
f. Kolostrum : Ada

11) Abdomen
a. Bekas luka : Tidak ada
b. Linea nigra : Tidak ada
c. Striae gravidarum : Ada

Palpasi Leopold
- Leopold I
TFU 3 jari atas pusat, pada fundus teraba satu bagian bulat, lunak (bokong).

- Leopold II
Bagian kanan ibu teraba memanjang seperti papan, ada tahanan dan keras (punggung)
Bagian kiri ibu teraba kecil-kecil, banyak, (ekstremitas)

- Leopold III
Bagian terendah janin teraba satu bagian bulat, keras (kepala).

- Leopold IV
Kedua tangan tidak bertemu /divergen(sudah masuk panggul)
Osborn test : Tidak dilakukan
TFU menurut Mc. Donald :21 cm,
TBJ :(21-11) x155=1550 gram
His :1x/10 menit,selama 45 detik
Auskultasi DJJ :148x/menit, irama teratur kuat

12) - Ekstremitas atas


Simetris,gerakan aktif,tidak sianosis,tidak odema.

-Ekstremitas bawah
Simetris,gerakan aktif,tidak sianosis,tidak odema.

13) Genetalia luar


Tidak ada odema,tidak ada pembesaran kelenjar bartolini

14) Anus
Tidak ada haemorroid

15) Pemeriksaan dalam Tanggal 07-04-2017, Pukul 15.00 WIB


Indikasi : keluar air ketuban dan kenceng-kenceng teratur
Tujuan : untuk mengetahui ibu sudah masuk persalinan atau belum
Hasil : pembukaan 3 cm,selaput ketuban(-), air ketuban jernih, presentasi
kepala.

3. Pemeriksaan Penunjang : Tidak ada

4. Data Penunjang : Tidak ada

B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hambatan upaya nafas
3. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN

Premature adalah persalinan dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu atau
berat bayi kurang dari 2500 gram. Masalah Kesehatan pada bayi prematur, membutuhkan
asuhan kebidanan.
Faktor penyebat persalinan bayi prematur adalah adanya faktor maternal, faktor fetal, dan
faktor lain, seperti kehamilan, kondisi medis, faktor sosial ekonomi dan faktor gaya idup
kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman persalinan preterm, yaitu:

1. Kontraksi yang berulang sdikitnya setiap 7-8 menit sekali, atau 2-3 kali dalam
waktu 10 menit
2. Adanya nyeri pada punggung bawah (low back pain)
3. Perdarahan bercak
4. Perasaan menekan daerah serviks
5. Pemeriksaan serviks menunjukan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm, dan
penipisan 50-80%
6. Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina ischiadika
7. Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal terjadinya persalinan preterm
8. Terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu

3.1 SARAN
Dalam pelaksanaan praktek kerja lapangan diharapkan mahasiswa lebih berperan aktif
dalam melakukan pembinaan kasus. Sehingga asuhan yang diberikan dapat diterapkan
sesuai dengan teori yang didapat di institusi pendidik.
DAFTAR PUSTAKA

1. Mochtar Rustam, Prof. Dr. MPH, 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.
2. Doengoes, E. Marlyn, 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Jakarta: EGC.
3. Manuaba,I,B,G,dkk 2007.pengantar kuliah obsetri.Jakarta : EGC.
4. http://khanzima.wordpress.com/2010/10/20/asuhan-keperawatan-patologi-persalian-
dengan-partus-prematurs.
5. Soepardan,suryani,2008,konsep keperawatan,jakarta;EGC.