Anda di halaman 1dari 30

HIGIENE INDUSTRI

‘’ KEBISINGAN ‘’

OLEH :

KELOMPOK 1

NUR AFIAT WAHYUNI J1A117095


RISKA J1A117122
WA DESI J1A117149
YULIN FITRI CHINTIA J1A117168
ZAKIAH J1A117171
ALMAYANTI J1A117176
ERICK APRIANSYAH FAUZI J1A117200
ERNOL J1A117201
NURCAHYATI J1A117100

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALU OLEO

2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Pengasih lagi Maha

Panyayang, dengan ini kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan

rahmat-Nya kepada kami, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah Higiene Industri

dengan judul "Kebisingan ".

Penyusun sangat bersyukur dengan terselesaikannya makalah ini.Disamping itu,

penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu selama

pembuatan makalah ini berlangsung sehingga terealisasikanlah makalah ini.

Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah ini dapat diambil manfaatnya

sehingga dapat memberikan pengetahuan terhadap pembaca.Selain itu, kritik dan saran dari

Dosen dan teman – teman pembaca, sangat penyususn harapkan untuk perbaikan makalah ini

kedepannya.

Kendari, 30 April 2019

Kelompok 1
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap tempat kerja mempunyai potensi tersendiri untuk menyebabkan gangguan bagi

para pekerja yang akan mempengaruhi kesehatannya sehingga tidak mampu bekerja secara

maksimal. Dampak yang ditimbulkan salah satunya pada indera pendengaran manusia. Setiap

bagian dari telinga mempunyai fungsinya masing-masing dan harus berfungsi dengan baik agar

proses pendengaran berlangsung dengan sebagaimana mestinya.Kebisingan di tempat kerja

memberikan pengaruh yang sangat terasa dampaknya bagi kesehatan.Besarnya pengaruh

kebisingan terhadap kesehatan tergantung besarnya intensitas bising pada tempat kerja itu

sendiri.Gangguan yang ditimbulkan salah satunya adalah gangguan maupun yang permanen

karena paparan yang terus-menerus tanpa penggunaan alat pelindung diri yang

lengkappendengaran, baik yang bersifat sementara.

Data survei Multi Center Study di Asia Tenggara, Indonesia termasuk empat negara

dengan prevalensi ketulian yang cukup tinggi yaitu 4,6%, sedangkan tiga negara lainnya yakni

Sri Lanka 8,8%, Myanmar 8,4% dan India 6,3%. Walaupun bukan yang tertinggi tetapi

prevalensi 4,6% tergolong cukup tinggi. Menurut Sataloff diperoleh data sebanyak 35 juta orang

Amerika menderita ketulian dan 8 juta orang diantaranya merupakan tuli akibat kerja.

Paparan kebisingan merupakan salah satu penyebab tuli akibat kerja. Suara dari

kebisingan tersebut merupakan gelombang longitudinal yang merambat melalui medium (cair,

padat, udara) sebagai perantara sehingga dapat sampai ke telinga. Menurut Babba, kebisingan di

tempat kerja diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu kebisingan yang tetap dengan
frekuensi terputus dan tetap, dan kebisingan yang tidak tetap dengan kebisingan yang fluktuatif,

intermittent dan impulsif.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa Yang Dimaksud Dengan Kebisingan ?

2. Jelaskan Berbagai Jenis-Jenis Kebisingan?

3. Jelaskan Sumber-Sumber Kebisingan?

4. Bagaimana Cara Pengukuran Kebisingan?

5. Jelaskan Kasus Mengenai Kebisingan?

6. Sebutkan Dan Jelaskan Dampak Kebisingan?

7. Bagaimana Mekanisme Dampak Kebisingan?

8. Jelaskan Bagaimana Pengendalian Kebisingan?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan Umum

Untuk mengetahui dan memberitahu hal – hal yang berkaitan dengan kebisingan termasuk

dampak kepada kehidupan kita.

Tujuan Khusus

1. UntukMengetahui Apa Itu Kebisingan

2. Untuk Mengetahui Jenis-Jenis Kebisingan

3. UntukMengetahui Sumber-Sumber Kebisingan

4. Untuk Mengetahui Cara Pengukuran Kebisingan

5. Untuk Mengetahui Kasus Yang Terjadi Akibat Kebisingan

6. Untuk Mengetahui Dampak dari Kebisingan


7. Untuk Mengetahui Mekanisme Dampak Kebisingan

8. Untuk Mengetahui Pengendalian dari kebisingan


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kebisingan

Dalam konteks keselamatan dan kesehatan kerja, pembahasan suara (sound) agak

berbeda dibandingkan pembahasan-pembahasan suara dalam ilmu fisika murni maupun fisika

terapan. Dalam K3, pembahasan suara lebih terfokus pada potensi gelombang suara sebagai

salah satu bahaya lingkungan potensial bagi pekerja di tempat kerjabesertateknik-

teknikpengendaliannya (Tambunan,2005).

Menurut Suma’mur (1999), bunyi atau suara didengar sebagai rangsangan pada sel saraf

pendengaran dalam telinga oleh gelombang longitudinal yang ditimbulkan getaran dari sumber

bunyi atau suara dan gelombang tersebut merambat melalui media udara atau penghantar

lainnya, dan manakala bunyi atau suara tersebut tidak dikehendaki oleh karena mengganggu atau

timbul diluar kemauan orang yang bersangkutan, makabunyi-bunyian atau suara

demikiandinyatakansebagaikebisingan.

Menurut Siswanto (2002), kebisingan adalah terjadinya bunyi yang keras sehingga

mengganggu dan atau membahayakan kesehatan. Sedangkan menurut Gabriel (1996)

bisingdidefinisikan sebagai bunyi yangtidakdikehendaki yang merupakanaktivitasalam

danbuatanmanusia.

Menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 48. tahun 1996, tentang Baku Mutu

Tingkat Kebisingan, bahwa kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari suatu usaha atau

kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan

kenyamanan lingkungan.
Menurut Permenkes RI NO ; 718/MENKES/PER/XI/1987 tentang kebisingan yang

berhubungan dengan kesehatan, bab 1 pasal 1 (a) : kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak

dikehendaki, sehingga menganggu dan atau membahayakan kesehatan. Definisi lain tentang

kebisingan antara lain :

1. Denis dan Spooner, bising adalah suara yang timbul dari getaran – getaran yang tidak

teratur dan periodik.

2. Hirrs dan Ward, bising adalah suara yang kompleks yang mempunyai sedikit atau bahkan

tidak periodik, bentuk gelombang tidak dapat diikuti atau di produsir dalam waktu

tertentu

3. Sponner, bising adalah suara yang tidak mengandung kualitas musik.

4. Sataloff, bising adalah bunyi yang terdiri dari frekuensi yang acak dan tidak berhubungan

satu dengan yang lainnya.

5. Burn, Littler, dan Wall, bising adalah suara yang tidak dikehendaki kehadirannya oleh

yang mendengar dan menganggu.

2.2 Jenis – Jenis Kebisingan

Jenis – jeniskebisinganyangseringditemukanmenurutSuma’mur(1999)adalah

sebagaiberikut:

1) Kebisingan kontinue dengan spektrum frekuensi yang luas (steady state, wide band

noise). Jenis kebisingan seperti ini dapat dijumpai misalnya pada mesin-mesin

produksi,kipas angin,dapur pijar dan lain-lain.

2) Kebisingan kontinue dengan spektrum frekuensi sempit (steady state, narow band noise).

Jenis kebisingan seperti ini dapat dijumpai pada gergaji sirkuler, katup gas dan lain-lain
3) Kebisingan terputus-putus (intermitent). Kebisingan jenis ini dapat ditemukan misalnya

padalalu-lintasdarat,suarakapal terbangdan lain-lain

4) Kebisingan impulsif (impact or impulsive noise). Jenis kebisingan seperti ini dapat

ditemukan misalnya pada pukulan mesin kontruksi, tembakan senapan, atau suara

ledakan.

5) Kebisingan impulsive berulang. Jenis kebisingan ini dapat dijumpai misalnya pada

bagianpenempaanbesidiperusahaanbesi.

Gabriel (1996) membagi kebisingan berdasarkan frekuensi, tingkat tekanan bunyi, tingkat

bunyi dan tenaga bunyi. Bunyi dibagi menjadi tiga kategori yaitu bising pendengaran (audible

noise) disebabkan frekuensi bunyi antara 31,5-8000 Hz, bising yang berhubungan dengan

kesehatan (Occupational noise) yang disebabkan bunyi mesin di tempat kerja dan bising

impulsive adalah bising yang terjadi akibat adanya bunyi menyentak misalnya pukulan palu,

ledakan meriam, tembakan bedil dan lain-lain. Gabriel juga menbagi kebisingan berdasarkan

waktu terjadinya yaitu bising kontinue dengan spektrum luas, bising kontinue dengan spektrum

sempit, bising terputus-putus, bising sehari penuh, bising setengah hari, bising terus menerus dan

bising sesaat.Bising berdasarkan skala intensitasnya dibagi menjadi sangat tenang, tenang,

sedang, kuat, sangathirukdanmenulikan.

Berdasarkanpengaruhnya terhadapmanusia,bisingdibagiatas:

1. Bising yang mengganggu (irritating noise). Intensitas tidak terlalu keras, misalnya

mendengkur.

2. Bising yang menutupi (masking noise). Merupakan bunyi yang menutupi pendengaran

yang jelas. Secara tidak langsung bunyi ini akan mempengaruhi kesehatan dan
keselamatan pekerja, karena teriakan isyarat atau tanda bahaya tenggelamdari bisingdari

sumber lain.

3. Bisingyangmerusak(damaging/injuriousnoise),adalahbunyi yangmelampauiNAB. Bunyi

jenisiniakanmerusak/menurunkanfungsipendengaran.

2.3 Sumber Kebisingan

Sumber bising bisa tunggal atau ganda.Umumnya kebisingan ditimbulkan oleh beberapa

sumber (ganda) seperti lalu lintas, kawasan industri dan pemukiman. Beberapa sumber bising

ialah :

 Lalu lintas

Terjadi di kota-kota besar dan didominasi oleh kendaraan seperti truk, dump truck

sampah, bis, sepeda motor, generator dan vibrasi kendaraan.

 Industri

Awalnya pengaruh kebisingan lebih banyak menyangkut lingkungan di dalam

industri, tetapi akhirnya dirasakan juga oleh penduduk disekitarnya.

 Pemukiman

Penyebab utama kegiatan rumah tangga, fan, hair dryer, mixer, gergaji mesin,

mesin pemotong rumput, vacuum cleaner dan peralatan domestik lainnya.

Sumber kebisingan ditempat kerja berasal dari peralatan dan mesin-mesin yang sedang

beroperasi. Hal-hal yang dapat menimbulkan kebisingan pada peralatan dan mesin-mesin yaitu

(Tambunan S, 2005) :

1. Mengoperasikan mesin-mesin produksi yang sudah cukup tua.


2. Terlalu sering mengoperasikan mesin-mesin kerja pada kapasitas kerja cukup tinggi

dalam periode operasi cukup panjang.

3. Sistem perawatan dan perbaikan mesin-mesin produksi ala kadarnya. Misalnya mesin

diperbaiki hanya pada saat mesin mengalami kerusakan parah.

4. Melakukan modifikasi/perubahan/pergantian secara parsial pada komponen-komponen

mesin produksi tanpa mengidahkan kaidahkaidah keteknikan yang benar, termasuk

menggunakan komponen-komponen mesin tiruan.

5. Pemasangan dan peletakan komponenkomponen mesin secara tidak tepat (terbalik atau

tidak rapat/longgar), terutama pada bagian penghubung antara modul mesin (bad

conection).

6. Penggunaan alat-alat yang tidak sesuai dengan fungsinya.

2.4 Pengukuran Kebisingan

Alat untuk mengukur intensitas bising di tempat kerja yaitu Sound Level Meter

(SLM).Pengukuran ini dilakukan bila kebisingan diduga melebihi ambang batas hanya pada satu

atau beberapa lokasi saja.Pengukuran ini juga dapat dilakukan untuk mengevalusai kebisingan

yang disebabkan oleh suatu peralatan sederhana, misalnya kompresor/generator.Jarak

pengukuran dari sumber harus dicantumkan, misal 3 meter dari ketinggian1meter.Selain itu juga

harus diperhatikan arahmikrofon alat pengukur yangdigunakan.

1) Tombol pengatur hidup mati / power (on/of)

2) Tombol pengatur battery

3) Tombol pengatur penunjukan cepat lambat (slow / fast)

4) Tombol pengukur skala angka puluhan

5) Tombol pengatur penunjukkan maksimum (max.hold)


6) Microfone

7) Filter Microphone

8) Kalibrator

9) Display

Pengukuran intensitas kebisingan ditujukan untuk membandingkan hasil pengukuran

pada suatu saat dengan standar yang telah ditetapkan serta merupakan langkah awal untuk

pengendalian. Alat yang dipergunkan untuk mengukur intensitas kebisingan adalah sound level

meter (SLM) method pengukuran kebisingan :

1. Melakukan kalibrasi sebelum alat sound level meter digunakan untuk mengukur

kebisingan, agar menghasilkan data yang falid. Alat dikalibrasi dengan menetapkan

kalibrator suara (pistonphon) pada mikrofon sound level meter pada frekuensi 1 khZ dan

intensitas 114 db, kemudian aktifkan dengan memencet tombol “ON”, kemudian putar

sekerup (kekanan untuk menambah dan kekiri untuk mengurangi) sampai didapatkan

angka 114.

2. Mengukur kebisingan bagian lingkungan kerja, dengan cara alat diletakkan setinggi 1,2-

1,5 m dari alas lantai atau tanah pada suatu titik yang ditetapkan.
3. Angka yang terlihat pada layar atau display dicatat setiap 5 detik dan pengukuran

dilakukan selama 10 menit untuk setiap titik lingkungan kerja.

4. Setelah selesai alat dimatikan dengan menekan tombol “OFF”.

5. Data hasil pengukuran, kemudiandimasukan kerumus :

Leg=10 Log 1/N [(n1 x 10 L1/10) + (n2 x 10 L2/10) + … + (nn x 10Ln/10)]

Ket:

Leg = tingkan kebisingan ekivalen (db)

N = jumlah bagian yang diukur

Ln = tingkat kebisingan (db)

nn =frekuensi kemunculan Ln (tingkat kebisingan)

2.5 Kasus Kebisingan

Data survei Multi Center Study di Asia Tenggara, Indonesia termasuk empat negara

dengan prevalensi ketulian yang cukup tinggi yaitu 4,6%, sedangkan tiga negara lainnya yakni

Sri Lanka 8,8%, Myanmar 8,4% dan India 6,3%. Walaupun bukan yang tertinggi tetapi

prevalensi 4,6% tergolong cukup tinggi. Menurut Sataloff diperoleh data sebanyak 35 juta orang

Amerika menderita ketulian dan 8 juta orang diantaranya merupakan tuli akibat kerja.Paparan

kebisingan merupakan salah satu penyebab tuli akibat kerja.Suara dari kebisingan tersebut

merupakan gelombang longitudinal yang merambat melalui medium (cair, padat, udara) sebagai

perantara sehingga dapat sampai ke telinga. Menurut Babba, kebisingan di tempat kerja

diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu kebisingan yang tetap dengan frekuensi terputus
dan tetap, dan kebisingan yang tidak tetap dengan kebisingan yang fluktuatif, intermittent dan

impulsif.

Besarnya dampak yang disebabkan oleh kebisingan di tempat kerja tidak hanya

menyebabkan gangguan pendengaran tetapi gangguan-gangguan lainnya seperti gangguan

fisiologis, psikologis, komunikasi dan keseimbangan, sehingga memerlukan perhatian khusus,

terutama bagi pekerja yang terus terpapar agar kesehatannya tetap terjaga dan pekerjaannya

selesai sesuai dengan harapan. Berdasarkan masalah tersebut, kasus yang bisa diambil adalah

terjadinya gangguan pendengaran akibat paparan bising pada pekerja kayu di Mas Ubud. Di

pusat tempat para pekerja kayu di Mas Ubud terdapat 10 pekerja dari 36 pekerja yang mengalami

gangguan pendengaran baik itu ringan, sedang, maupun berat. Salah satu faktor yang

berhubungan terhadap terjadinya gangguan pendengaran adalah lamanya paparan terhadap

kebisingan tersebut. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan masa

paparan 6 sampai 10 tahun mempunyai risiko terjadinya gangguan pendengaran akibat bising

3,63 kali lebih tinggi dibanding masa paparan 1 sampai 5 tahun. Hal ini seharusnya menjadi

salah satu hal yang harus diperhatikan dalam industry kayu tersebut. Sebab apabila jumlah

pekerja yang menderita gangguan pendengaran bertambah, hal itu bisa menyebabkan pekerja

menjadi tidak produktif dan perusahaan akan mengalami penurunan omset.

2.6 Dampak Kebisingan

A. Dampak Auditory

Telinga siap untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan terhadap tingkat

suara atau bising, tetapi setelah terlalu sering mengalami perubahan yang berulang-ulang lama

kelamaan daya akomodasinya akan menjadi lelah dan gagal dalam memberikan reaksi. Dalam

keadaan ini pendengaran timbul akibat pekerjaan (occuptional deafness ),tidak hanya terdapat
pada pekerja pabrik saja tetapi juga pada pekerjaan-pekerjaan luar,seperti supir taksi/alat

transportasi,polisi lalu lintas,dan sebagainya.

Efek kebisingan pada indra pendengaran dapat di klasifikasikan menjadi :

a. Trauma akustik, gangguan pendengaran yang disebabkan oleh pemaparan tunggal

terhadap in tensitas kebisingan yang sangat tinggi dan terjadi secara tiba-tiba. sebagai

contoh ketulian yang disebabkan oleh suara ledakan bom.

b. Ketulan sementara ( temporary threshold shift/TTS ) ,gangguan pendengran yang dialami

seorang yang sifatnya sementara. Daya dengarnya sedikit demi sedikit pulih

kembali,waktu untuk pemulihan kembali adalah berkisar dri beberapa menit sampai

beberapa hari ( 3-7 hari),namun yang paling lama lebh dari 10 hari.

c. Ketulian permanen (permanent thresholdshift/PTS). Bila mana seorang pekerja

mengalami TTS dan kemudian terpajan bising kembali sebelum pemulihan secara

lengkap terjadi,maka akan terjadi “ akumulasi” sisa ketulian ( TTS) ,dan bila hal ini

berlangsung secara berulang dan menahun,sifat ketuliannya akan berubah menjadi

menetap (permanen) . PTS sering juga disebut NIHL (Noise Induced Hearing Loss) dan

NIHL terjadi umunya setelah terpanjan 19 tahun atau lebih.

Kelainan yang timbul pada telinga akibat bising terjadi tahap demi tahap sebagai berikut :

- Stadium adaptasi,adaptasi merupakan suatu daya proteksi alamiah dan keadaan yang

dapat pulih kembali,atau kata lain sifatnya reversible.

- Stadium “temporary threshold shift” disebut juga “ auditory fatigue” yang merupakan

kehilangan pendengaran “reversible” sesudah 48 jam terhindar dari bising itu. Batas

waktu yang diperlukan untuk pulih kembali sesudah terpapar bising adalah 16 jam. Bila
pada waktu bekerja keesokan hari pendengaran hanya sebagian yang pulih maka akan

terjadi “permanent hearing lose”

- Stadium “persisten threshold shift” dalam stadium ini ambang pendengaran meninggi

lebih lama,sekurang kurangnya 48 jam setelah meninggalkan lingkungan

bising,pendengaran masih terganggu.

- Stadium “permanent threshold shift”pada stadium ini meningginya ambang pendengaran

menetap sifatnya,gangguan ini banyak ditemukan dan tidak dapat disembuhkan. Tuli

akibat bising ini merupakan tuli persepsi yang kerusakannya terdapat dalam cochleat

berupa rusaknya syaraf pendengaran.

B. Dampak non-auditory

Kebisingan ditempat kerja dapat menimbulkan gangguan yang dapat dikelompokkan

secara bertingkat sebagai berikut:

a) Gangguan fisiologis

Gangguan fisiologis adalah gangguan yang mula-mula timbul akibat bising,dengan kata

lain fungsi pendengaran secaara fisiologis dapat terganggu. Pembicaraan atau instruksi

dalam pekerjaan tidak dapat didengar secara jelas,sehingga dapat menimbulkan gangguan

lain seperti kecelakaan. pembicaraan terpakssa berteriak-berteriak sehingga memerlukan

tenaga ekstradan juga menambah kebisingan.diisamping itu,kebisingan dapat juga

mengganggu “cardiac out put” dan tekanan darah. Pada berbagai penyelidikan ditemukan

bahwa pemaparan bunyi terutama yang mendadak menimbulkan reaksi fisiologis seperti :

denyut nadi,tekanan darah,metabolism,gangguan tidur,dan penyempitan pembuluh darah.

reaksi ini terutama terjadi pada permulaan pemaparan terhadap bunyi kemudian akan

kembali pada keadaan semula. Bila terus menerus terpapar maka akan terjadi adaptasi
sehingga perubahan tidak tampak lagi. Kebisingan dapat menimbulkan gangguan

fisiologis melalui tiga cara yaitu:

1. Sistem internal tubuh.

2. Sistem internal tubuh adalah sistem fisiologis yang penting untuk kehidupan seperti:

- kardiovaskuler (jantung,paru-paru,pembuluh)

- gastrointestinal (perut,usus)

- syaraf (urat syaraf)

- musculoskeletal (otot,tulang)

- endokrin (kelenjar)

sebenarnya proses adaptasi sendiri adalah indikasi dari perubahan fungsi tubuh karenanya

tidak begitu disukai kebisingan yang tidak tinggi juga dapat mengubah ketetapan

koordinasi gerakan,memperpanjang waktu reaksi dan menaikkan respon waktu,semuanya

ini dapat berakhir dengan human error.

pada keadaan-keadaan tetentu, kebisingan dapat menyebabkan penurunan resistensi

listrik dalam kulit, penurunan aktivitas lambung, atau adanya bukti elektromiographic

dalam hal peningkatan tensi otot Nesswetha pada tahun 1964 telah melakukan study

eksperrimental teknis mengenai adaptasi sistem syaraf vegetative dan pertimbangan-

pertimbangan bahwa yang menjadi subjek percobaan adalah mereka yang telah terbiasa

dengan kebisingan. umumnya ini mereka meiliki sistem kompensasi yang memungkinkan

untuk bekerja pada suatu lingkungan yang bising, dimana pada kasus subyek yang belum

terbiasa sistem tersebut harus dibentuk secara perlahan-lahan. peningkatan reflex-refleks

labirinthin telah dilaporkan pada telephonist.

b) ambang pendengaran
ambang pendengaran adalah suara terlemah yang masih di dengar. makin rendah level

suara terlemah yang di dengan berarti makin rendah nilai ambang pendengaran, berarti

makin baik pendengarannya. kebisingan dapat mempengaruhi mengenai nilai ambang

batas pendengaran baik bersifat sementara ( fisiologis ) atau menetap ( ptosiologis ).

kehilangan pendengaran bersifat sementara apabila telinga dengan segera dapat

mengembalikan fungsinya setelah terkena kebisingan.

c) gangguan pola tidur

pola tidur sudah merupaka pola alamiah, kondisi isstirahat yang berulang secara teratur,

dan penting untuk tubuh normal dan pemeliharaan mental serta kesembuhan. kbisingan

dapat mengganggu tidur dalam hal kelelapan, kontinuitas, dan lama tidur. Seseorang yang

tidak bisa tidur atu sudah tidur tapi belum terlelap.tiba-tiba ada gangguan suara yang

mengganggu tidurnya, maka orang tersebut mudah marah atau tersinggung. berperilaku

irasional yang ingin tidur. terjadinya pergeseran keleapan tidur dapat menimbulkan

kelelahan. berdasarkan penelitian yang menemukn bahwa persebtase seseorang bisa

terbangun dari tidurnya sebesar 5 % pada tigkat intensitas suara 40 dB (A) dan meningkat

sampai 30% pada tingkat 70 Db( A ). pada tingkat intensitas suara 100 Db ( A ) sampai

120 db ( A ) hampir semua orang akan bangun dari tidurnya.

d) gangguan psikologis

kebisingan dapat mempengaruhi stabilitas mental dan reaksi psikologis seperti rasa

kwatir, jenngkel, takut dan sebagainya. stabiltas mental adalah kemampuan seseorang

untuk berfungsi atau bertindak normal. suara yang tidak dikehendaki memang tidak

menimbulkan mental illness aakan tetapi dapat memperberat problem mental da perilaku

yang sudah ada.


reaksi terhadap gangguan ini sering menimbulkan keluhan terhadap kebisingan yang

berasal dari pabrik, lapangan udara dan lalu lintas. umumnya kebisingan pada

kenyaringan kebisingan meningkat maka dampak terhadap psikolois juga akan

meningkat. kebisingan dikatakan mengganggu, apabila pemaparannya menyebabkan

orang tersebut berusaha untuk mengurangi menolak suara tersebut atau meninggalkn

tempat yang bisa menimbulkan suara yang tidak dikehendakinya.

e) Komunikasi kebisingan dapat mengganggu pembicaraan.

Paling penting disini bahwa kebisingan menggangu kta dalam menangkap dan mengerti

apa yang dibicarakan oleh orang lain, apakah itu berupa :

1. percakapan langsung (face to face)

2. percakapan telepon.

3. melalui alat komunikasi lain, misalnya radio, televise dan pidato.

Tempat dimana komunikasi tidak boleh terganggu oleh suara bising adalah sekolah, area

latihan dan test, teater, pusat komunikasi militer,kantor,tempat

ibadah,perpustakaan,rumah sakit dan laboratorium. banyaknya suara yang bisa

dimengerti tergantung dari faktor seperti: suara yang bisa dimengerti tergantung dari

faktor seperti: level suara pembicaraan, jarak pembicaraan dengan pendengaran,

bahasa/kata yang dimengerti, suara yang dimengerti,suara lingkungan dan faktor lain.

2.7 Mekanisme Dampak Kebisingan

a. Fisiologi Pendengaran

Getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang diteruskan ke liang telinga dan mengenai

membran timpani sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang

pendengaran yang berhubungan satu sama lain. Selanjutnya stapes menggerakkan foramen ovale
yang juga menggerakkan perilimfe dalam skala vestibuli. Getaran diteruskan melalui membran

Reissner yang mendorong endolimfe dan membran basalis ke arah bawah dan perilimfe dalam

skala timpani akan bergerak sehingga foramen rotundum terdorong ke arah luar. Pada waktu

istirahat, ujung sel rambut Corti berkelok, dan dengan terdorongnya membran basal, ujung sel

rambut itu menjadi lurus. Rangsangan fisik ini berubah menjadi rangsangan listrik akibat adanya

perbedaan ion Natrium dan Kalium yang diteruskan ke cabang-cabang, kemudian meneruskan

rangsangan itu ke pusat sensorik pendengaran di otak melalui saraf pusat yang ada di lobus

temporalis.

b. Pengaruh Kebisingan Pada Pendengaran

Perubahan ambang dengar akibat paparan bising tergantung pada frekwensi bunyi,

intensitas dan lama waktu paparan, dapat berupa :

1) Adaptasi

Bila telinga terpapar oleh kebisingan mula-mula telinga akan merasa terganggu

oleh kebisingan tersebut, tetapi lama-kelamaan telinga tidak merasa terganggu

lagi karena suara terasa tidak begitu keras seperti pada awal pemaparan.

2) Peningkatan ambang dengar sementara

Terjadi kenaikan ambang pendengaran sementara yang secara perlahanlahan akan

kembali seperti semula. Keadaan ini berlangsung beberapa menit sampai beberapa

jam bahkan sampai beberapa minggu setelah pemaparan. Kenaikan ambang

pendengaran sementara ini mula-mula terjadi pada frekwensi 4000 Hz, tetapi bila

pemeparan berlangsung lama maka kenaikan nilai ambang pendengaran

sementara akan menyebar pada frekwensi sekitarnya. Makin tinggi intensitas dan
lama waktu pemaparan makin besar perubahan nilai ambang pendengarannya.

Respon tiap individu terhadap kebisingan tidak sama tergantung dari sensitivitas

masing-masing individu.

3) Peningkatan ambang dengar menetap

Kenaikan terjadi setelah seseorang cukup lama terpapar kebisingan, terutama

terjadi pada frekwensi 4000 Hz. Gangguan ini paling banyak ditemukan dan

bersifat permanen, tidak dapat disembuhkan . Kenaikan ambang pendengaran

yang menetap dapat terjadi setelah 3,5 sampai 20 tahun terjadi pemaparan, ada

yang mengatakan baru setelah 10-15 tahun setelah terjadi pemaparan. Penderita

mungkin tidak menyadari bahwa pendengarannya telah berkurang dan baru

diketahui setelah dilakukan pemeriksaan audiogram.

Hilangnya pendengaran sementara akibat pemaparan bising biasanya sembuh setelah

istirahat beberapa jam ( 1 – 2 jam ). Bising dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup

lama ( 10 – 15 tahun ) akan menyebabkan robeknya sel-sel rambut organ Corti sampai terjadi

destruksi total organ Corti. Proses ini belum jelas terjadinya, tetapi mungkin karena rangsangan

bunyi yang berlebihan dalam waktu lama dapat mengakibatkan perubahan metabolisme dan

vaskuler sehingga terjadi kerusakan degeneratif pada struktur sel-sel rambut organ Corti.

Akibatnya terjadi kehilangan pendengaran yang permanen.Umumnya frekwensi pendengaran

yang mengalami penurunan intensitas adalah antara 3000 – 6000 Hz dan kerusakan alat Corti

untuk reseptor bunyi yang terberat terjadi pada frekwensi 4000 Hz (4 K notch).Ini merupakan

proses yang lambat dan tersembunyi, sehingga pada tahap awal tidak disadari oleh para pekerja.

Hal ini hanya dapat dibuktikan dengan pemeriksaan audiometri. Apabila bising dengan

intensitas tinggi tersebut terus berlangsung dalam waktu yang cukup lama, akhirnya pengaruh
penurunan pendengaran akan menyebar ke frekwensi percakapan ( 500 – 2000 Hz ). Pada saat

itu pekerja mulai merasakan ketulian karena tidak dapat mendengar pembicaraan sekitarnya.

c. Gambaran Klinis

Kekurangan pendengaran dibagi atas:

 Konduktif: disebabkan adanya gangguan hantaran dari saluran telinga, rongga

tympani dan tulang-tulang pendengaran

 Senso-neural: disebabkan kerusakan di telinga dalam seperti organ corti, nervus

cochlearis, N VIII sampai ke otak

 Campuran (mixed): tuli campuran dari kedua unsur konduktif dan sensoneural

Gangguan Pendengaran Akibat Bising (GPAP) atau Noise Induced Hearing Loss (NIHL)

adalah tuli senso-neural dimana terjadi kerusakan sel rambut luar cochlea karena paparan bising

terus menerus dalam jangka waktu lama.Ketulian biasanya bilateral dan jarang menyebabkan tuli

derajat sangat berat.Stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi atrofi sehingga mengurangi

respon terhadap stimulasi. Dengan bertambahnya intensitas dan lamanya paparan akan dijumpai

lebih banyak kerusakan seperti hilangnya stereosilia. Daerah yang pertama kali terkena adalah

daerah basal.Dengan hilangnya stereosilia, sel-sel rambut mati dan digantikan oleh jaringan

parut.Dengan semakin luasnya kerusakan sel-sel rambut dapat timbul degenerasi pada saraf yang

dapat sampai di nukleus pendengaran pada batang otak.Gejala awal yang sering dikeluhkan

adalah sensasi telinga berdenging (tinnitus) yang hilang timbul. Tinitus akan menjadi lebih keras

sensasinya bila terpapar bising dengan intensitas yang lebih besar. Tinitus lebih mengganggu bila

berada di tempat yang sepi atau saat penderita akan tidur sehingga menyebabkan sulit

konsentrasi dan sukar tidur. Pasien akan mengalami penurunan fungsi pendengaran sehingga
sulit bercakap-cakap walaupun berada di ruangan yang sunyi. Pendengaran yang terganggu

biasanya mudah marah, pusing, mual dan mudah lelah.

d. Perubahan anatomi yang berhubungan dengan paparan bising

Dari sudut makromekanikal ketika gelombang suara lewat, membrana basilaris meregang

sepanjang sisi ligamentum spiralis, dimana bagian tengahnya tidak disokong.Pada daerah ini

terjadi penyimpangan yang maksimal.Sel-sel penunjang disekitar sel rambut dalam juga sering

mengalami kerusakan akibat paparan bising yang sangat kuat dan hal ini kemungkinan

merupakan penyebab mengapa baris pertama sel rambut luar yang bagian atasnya bersinggungan

dengan phalangeal process dari sel pilar luar dan dalam merupakan daerah yang paling sering

rusak.Saluran transduksi berada pada membran plasma pada masing-masing silia, baik didaerah

tip atau sepanjang tangkai ( shaft ), yang dikontrol oleh tip links, yaitu jembatan kecil diantara

silia bagian atas yang berhubungan satu sama lain. Gerakan mekanis pada barisan yang paling

atas membuka ke saluran menyebabkan influks K+ dan Ca++ dan menghasilkan depolarisasi

membran plasma. Pergerakan daerah yang berlawanan akan menutup saluran serta menurunkan

jumlah depolarisasi membran. Apabila depolarisasi mencapai titik kritis dapat memacu peristiwa

intraseluler.Telah diketahui bahwa sel rambut luar memiliki sedikit afferen dan banyak efferen.

Gerakan mekanis membrana basilaris merangsang sel rambut luar berkontraksi sehingga

meningkatkan gerakan pada daerah stimulasi dan meningkatkan gerakan mekanis yang akan

diteruskan ke sel rambut dalam dimana neurotransmisi terjadi. Kerusakan sel rambut luar

mengurangi sensitifitas dari bagian koklea yang rusak. Kekakuan silia berhubungan dengan tip

links yang dapat meluas ke daerah basal melalui lapisan kutikuler sel rambut. Liberman dan

Dodds (1987) memperlihatkan keadaan akut dan kronis pada awal kejadian dan kemudian pada

stimulasi yang lebih tinggi, fraktur daerah basal dan hubungan dengan hilangnya sensitifitas
saraf akibat bising. Fraktur daerah basal menyebabkan kematian sel. Paparan bising dengan

intensitas rendah menyebabkan kerusakan minimal silia, tanpa fraktur daerah basal atau

kerusakan tip links yang luas. Tetapi suara dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan

kerusakan tip links sehingga menyebabkan kerusakan yang berat, fraktur daerah basal dan

perubahan-perubahan sel yang irreversibel.

2.8Pengendalian Kebisingan

Secara konseptual teknik pengendalian kebisingan yang sesuai dengan hirarki

pengendalian risiko menurut Tarwaka (2008) adalah:

1. Eliminasi : Eliminasi merupakan suatu pengendalian risiko yang bersifat permanen dan

harus dicoba untuk diterapkan sebagai pilihan prioritas utama. Eliminasi dapat dicapai

dengan memindahkan objek kerja atau sistem kerja yang berhubungan dengan tempat

kerja yang kehadirannya pada batas yang tidak dapat diterima oleh ketentuan, peraturan

dan standart baku K3 atau kadarnya melebihi Nilai Ambang Batas (NAB).

2. Subtitusi : Pengendalian ini dimaksudkan untuk menggantikan bahan-bahan dan

peralatan yang berbahaya dengan bahan-bahan dan peralatan yang kurang berbahaya atau

yang lebih aman, sehingga pemaparannya selalu dalam batas yang masih bias ditoleransi

atau dapat diterima.

3. Engenering Control : Pengendalian dan rekayasa tehnik termasuk merubah struktur objek

kerja untuk mencegah seseorang terpapar kepada potensi bahaya, seperti pemberian

pengaman pada mesin.

4. Isolasi : Isolasi merupakan pengendalian risiko dengan cara memisahkan seseorang dari

objek kerja. Pengendalian kebisingan pada media propagasi dengan tujuan menghalangi

paparan kebisingan suatu sumber agar tidak mencapai penerima, contohnya : pemasangan
barier, enclosure sumber kebisingan dan tehnik pengendalian aktif (active noise control)

menggunakan prinsip dasar dimana gelombang kebisingan yang menjalar dalam media

penghantar dikonselasi dengan gelombang suara identik tetapi mempunyai perbedaan

fase pada gelombang kebisingan tersebut dengan menggunakan peralatan control.

5. Pengendalian Administratif : Pengendalian administratif dilakukan dengan menyediakan

suatu sistem kerja yang dapat mengurangi kemungkinan seseorang terpapar potensi

bahaya. Metode pengendalian ini sangat tergantung dari perilaku pekerja dan

memerlukan pengawasan yang teratur untuk dipatuhinya pengendalian secara

administratif ini. Metode ini meliputi pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat, rotasi

kerja untuk mengurangi kelelahan dan kejenuhan.

6. Alat Pelindung Diri : Alat pelindung diri secara umum merupakan sarana pengendalian

yang digunakan untuk jangka pendek dan bersifat sementara, ketika suatu sistem

pengendalian yang permanen belum dapat diimplementasikan.APD (Alat Pelindung Diri)

merupakan pilihan terakhir dari suatu sistem pengendalian risiko tempat kerja. Antara

lain dapat dengan menggunakan alat proteksi pendengaran berupa : ear plug dan ear

muff. Ear plug dapat terbuat dari kapas, spon, dan malam (wax) hanya dapat digunakan

untuk satu kali pakai. Sedangkan yang terbuat dari bahan karet dan plastik yang dicetak

(molded rubber/ plastik) dapat digunakan berulang kali. Alat ini dapat mengurangi suara

sampai 20 dB(A). Sedangkan untuk ear muff terdiri dari dua buah tutup telinga dan

sebuah headband. Alat ini dapat mengurangi intensitas suara hingga 30 dB(A) dan juga

dapat melindungi bagian luar telinga dari benturan benda keras atau percikan bahan

kimia.
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki, sehingga menganggu dan

atau membahayakan kesehatan

2. Jenis jenis kebisingan yaitu :

a. Kebisingan kontinue dengan spektrum frekuensi yang luas (steady state, wide

band noise)

b. Kebisingan kontinue dengan spektrum frekuensi sempit (steady state, narow band

noise)

c. Kebisingan terputus-putus (intermittent)

d. Kebisingan impulsif (impact or impulsive noise)

e. Kebisingan impulsive berulang

3. Sumber bising bisa tunggal atau ganda. Umumnya kebisingan ditimbulkan oleh beberapa

sumber (ganda) seperti lalu lintas, kawasan industri dan pemukiman. Sumber kebisingan

ditempat kerja berasal dari peralatan dan mesin-mesin yang sedang beroperasi.

a. Mengoperasikan mesin-mesin produksi yang sudah cukup tua.

b. Terlalu sering mengoperasikan mesin-mesin kerja pada kapasitas kerja cukup

tinggi dalam periode operasi cukup panjang.

c. Sistem perawatan dan perbaikan mesin-mesin produksi ala kadarnya.

d. Melakukan modifikasi/perubahan/pergantian secara parsial pada komponen-

komponen mesin produksi tanpa mengidahkan kaidah kaidah keteknikan yang

benar.

e. Pemasangan dan peletakan komponen komponen mesin secara tidak tepat


f. Penggunaan alat-alat yang tidak sesuai dengan fungsinya.

4. Alat untuk mengukur intensitas bising di tempat kerja yaitu Sound Level Meter (SLM).

1) Melakukan kalibrasi sebelum alat sound level meter digunakan untuk mengukur

kebisingan, agar menghasilkan data yang falid. Alat dikalibrasi dengan

menetapkan kalibrator suara (pistonphon) pada mikrofon sound level meter pada

frekuensi 1 khZ dan intensitas 114 db, kemudian aktifkan dengan memencet

tombol “ON”, kemudian putar sekerup (kekanan untuk menambah dan kekiri

untuk mengurangi) sampai didapatkan angka 114.

2) Mengukur kebisingan bagian lingkungan kerja, dengan cara alat diletakkan

setinggi 1,2-1,5 m dari alas lantai atau tanah pada suatu titik yang ditetapkan.

3) Angka yang terlihat pada layar atau display dicatat setiap 5 detik dan pengukuran

dilakukan selama 10 menit untuk setiap titik lingkungan kerja.

4) Setelah selesai alat dimatikan dengan menekan tombol “OFF”.

5) Data hasil pengukuran, kemudiandimasukan kerumus :

Leg=10 Log 1/N [(n1 x 10 L1/10) + (n2 x 10 L2/10) + … + (nn x 10Ln/10)]

5. Kasus yang bisa diambil adalah terjadinya gangguan pendengaran akibat paparan bising

pada pekerja kayu di Mas Ubud. Di pusat tempat para pekerja kayu di Mas Ubud terdapat

10 pekerja dari 36 pekerja yang mengalami gangguan pendengaran baik itu ringan,

sedang, maupun berat. Salah satu faktor yang berhubungan terhadap terjadinya gangguan

pendengaran adalah lamanya paparan terhadap kebisingan tersebut. Hal ini sesuai dengan

penelitian sebelumnya yang menyatakan masa paparan 6 sampai 10 tahun mempunyai

risiko terjadinya gangguan pendengaran akibat bising 3,63 kali lebih tinggi dibanding

masa paparan 1 sampai 5 tahun. Hal ini seharusnya menjadi salah satu hal yang harus
diperhatikan dalam industry kayu tersebut. Sebab apabila jumlah pekerja yang menderita

gangguan pendengaran bertambah, hal itu bisa menyebabkan pekerja menjadi tidak

produktif dan perusahaan akan mengalami penurunan omset.

6. Dampak Kebisingan

Dampak Auditory ;Trauma akustik, Ketulan sementara ( temporary threshold shift/TTS),

Ketulian permanen (permanent thresholdshift/PTS).

Dampak non-auditory ;Gangguan fisiologis, ambang pendengaran, gangguan pola tidur,

gangguan psikologis, Komunikasi kebisingan dapat mengganggu pembicaraan.

7. Getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang diteruskan ke liang telinga dan mengenai

membran timpani sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang-

tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain. Selanjutnya stapes menggerakkan

foramen ovale yang juga menggerakkan perilimfe dalam skala vestibuli. Getaran

diteruskan melalui membran Reissner yang mendorong endolimfe dan membran basalis

ke arah bawah dan perilimfe dalam skala timpani akan bergerak sehingga foramen

rotundum terdorong ke arah luar. Pada waktu istirahat, ujung sel rambut Corti berkelok,

dan dengan terdorongnya membran basal, ujung sel rambut itu menjadi lurus.

Rangsangan fisik ini berubah menjadi rangsangan listrik akibat adanya perbedaan ion

Natrium dan Kalium yang diteruskan ke cabang-cabang, kemudian meneruskan

rangsangan itu ke pusat sensorik pendengaran di otak melalui saraf pusat yang ada di

lobus temporalis.

8. Secara konseptual teknik pengendalian kebisingan yang sesuai dengan hirarki

pengendalian risiko menurut Tarwaka (2008) adalah : Eliminasi, Subtitusi, Engenering

Control, Isolasi, Pengendalian Administratif, Alat Pelindung Diri.


3.2 Saran

Penulis berharap makalah ini kiranya dapat bermanfaat bagi para pembaca.Pembaca

akan mengetahui hal – hal yang berkaitan dengan kebisingan termasuk dampak kepada

kehidupan kita sehingga mampu untuk menerapkannya. Dan kiranya pembaca makalah ini bisa

mengkritik dan memperbaiki cara penulisan atau penyusunan pada makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Adnyani, A. L., Made, L., Sri, I., & Adiputra, H. (2017). Prevalensi Gangguan Fungsi
Pendengaran Akibat Kebisingan Lingkungan Kerja pada Pekerja Kayu di Desa Mas
Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar, 144–147.

Lintong, F., Fisika, B., Kedokteran, F., Sam, U., & Manado, R. (n.d.). Gangguan pendengaran
akibat bising.

Pertamina, P. T., & Ii, R. U. (2015). Analisis Intensitas Kebisingan Lingkungan Kerja pada Area
Utilities Unit, 12(2), 278–285.

Pratiwi, AD. 2016. Higiene Industri. Bahan Ajar. Kendari: Program S1 Kesehatan Masyarakat

Rambe, A. (2015). Gangguan Pendengaran Akibat Bising, (January).

Ramdan, IM. 2013. Higiene Industri. Yogyakarta: Bimotry