Anda di halaman 1dari 5

Mid-Exam Term Paper

Proses Mendesain Masa Lampau/Kini Dalam Berarsitektur

Magister Arsitektur UNPAR

NAMA : ​ALAN DARMA SAPUTRA


NPM : ​8111801020

Dosen :
DR. RAHADHIAN PRAJUDI HERWINDO, S.

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN


FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
Akreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No.78/D/O/1997
Dan BAN Perguruan Tinggi No : 429/SK/BAN-PT/Akred/S/XI/2014

BANDUNG
2019
Isu Sejarah Arsitektur
Nama : Alan Darma Saputra
Npm : 8111801020

’Proses Mendesain Masa Lampau/Kini


Dalam Berarsitektur’

Proses Mendesain Masa Lampau

Pada prakteknya para arsitek memiliki pemikiran yang berbeda-beda dalam


mencurahkan kreativitas pada karya mereka, akan tetapi para arsitek setidaknya memiliki
gambaran secara universal dalam membuat bangunan. Gambaran desain bangunan yang baik
ini sebenarnya sudah ada sejak lama bahkan sebelum Masehi di Roma yang diperkenalkan
oleh seorang arsitek yang bernama Marcus Vitruvius Polio, sehingga lahirlah teori Vitruvius
yang terkenal akan keindahan pada bangunan yaitu : Firmitas, Utilitas dan Venustas.

Figur 1. Teori Vitruvius

Mulai dari sanalah para ahli bangunan menjadikan ketiga nilai tersebut sebagai dasar
penilaian akan bangunan yang baik meskipun pada daerah satu dengan yang lainnya memiliki
penilaian dan caranya masing-masing di dalam mengembangkan hasil karyanya. Untuk
mencapai tujuan tersebut, yang paling sulit dari ketiga nilai tersebut adalah venustas
dikarenakan sifatnya yang paling subjektif dan tergantung pada selera masing-masing
manusia sedangkan firmitas dan utilitas dapat dibuat dengan menerapkan hukum sebab
akibat. Sehingga untuk mengejar nilai venustas tersebut, maka proses mendesain pertama kali
dibentuk dengan adanya teori golden ratio yang diciptakan oleh orang Yunani, sebagai
perwujudan bentuk yang paling indah dan merupakan standar bagi bangunan mereka.

Figur 2. Teori Golden Ratio


Akan tetapi lama-kelamaan nilai tersebut mulai luntur akibat perubahan gaya hidup
dan lunturnya budaya yang ada saat itu sehingga berubah sedikit demi sedikit. Setelah itu
mulai marak bidang seni dan keagamaan pada manusia yang dikemas dalam bentuk karya
seni dan agama, sehingga proses mendesain bangunan mencerminkan gaya hidup masyarakat
pada zamannya, terlihat dalam bentuk ornamen yang ramai pada tampak bangunan karena
proses mendesain lebih terfokus pada nilai seni dan juga kepercayaan masyarakat setempat,
sehingga bangunan pada masa itu memiliki makna tersendiri karena pada nalurinya, manusia
tidak dapat lepas dari makna hidup yang ada. Sehingga saat ini teori Vitruvius yang awalnya
lebih berfokus pada Fungsi, Bentuk dan Utilitas, sekarang mulai berubah menjadi Fungsi,
Bentuk dan Makna. Teori ini menjadi sangat penting khususnya bagi orang Timur yang
memiliki kepercayaan dan budaya yang lebih beragam.

Proses Mendesain Masa Kini

Pada buku Anthony C Antoniades yang berjudul ​“Poetic of Architecture”​, beliau


mengatakan bahwa kata ​“poetic” s​ ebenarnya berasal dari bahasa Yunani dan memiliki arti
kata yang lebih mendalam dari hanya sekedar puisi, akan tetapi kata tersebut memiliki makna
dalam membuat sesuatu menjadi puitis di dalamnya dan dapat diterapkan di berbagai bidang
seperti membuat ruang, musik sampai kepada arsitektur, akan tetapi pada zaman dimana kata
itu ditemukan, memang penyampaian keluh kesah manusia sedang marak, sehingga ​“poetic”
akrab dengan karya tulis puisi sampai saat ini. Dalam buku tersebut dijelaskan bagaimana
proses mendesain dalam diri seseorang dalam merancang dan dibagi menjadi 2 hal sebagai
berikut :

INTANGIBLE TANGIBLE

Kreatifitas Sejarah

Metafora Mimesis

Paradox Geometris

Transformasi Material

Abstrak Alam

Puitis Seni

Multikultural

Figur 3. Teori Poetic of Architecture

Dengan pembagian tersebut, maka proses mendesain terbagi menjadi kelompok yang
dapat dilihat dan tidak dapat dilihat yang sifatnya sangat berbanding terbalik. Kelompok yang
tidak dapat dilihat merupakan hasil pemikiran manusia secara murni dan bersumber pada isi
kepala manusia itu sendiri. Sehingga hal ini bersifat sangat subjektif dan dapat memberikan
hasil dan penilaian yang berbeda-beda pada tiap individu. Kelompok ini bergantung pada
pengalaman manusianya.
Sedangkan pada kelompok yang dapat dilihat berasal dari sesuatu benda fisik yang
asalnya dari luar kepala manusia sehingga bersifat sangat objektif dan bersumber kepada
sumber daya dan keadaan disekitarnya, serta dapat diperhitungkan pada setiap aspeknya.
Akan tetapi hasil yang dihasilkan dapat berbeda juga tergantung dimana manusia itu tinggal
dan pengaruh geografis yang ada. Juga kelompok ini sangat bergantung pada pengetahuan
manusianya.
Akan tetapi setelah para pedagang mulai menguasai sebuah negara karena tingkat
kekuatan diukur dari uang dan industri lahir(1750-1850), maka kelompok intangible menjadi
sangat lemah dan mulai memudar dari waktu ke waktu karena manusia mulai berfokus pada
uang dalam seluruh aspek kehidupannya, khususnya dalam bidang arsitektur. Sehingga
kelompok tangible dianggap sangat penting karena langsung berhubungan dengan barang
fisik nyata, dimana secara langsung mempengaruhi kekuatan mereka karena berhubungan
dengan uang. Contoh nyata yang ada yaitu ketika pada masa sekarang seseorang mulai
membuat suatu proyek, hal utama yang menentukan secara makro adalah segi ekonomi pada
masyarakat. Bahkan di kalangan masyarakat saat ini sudah memiliki stigma bahwa produk
yang dihasilkan arsitek adalah bangunan, padahal sesungguhnya tugas arsitek adalah
mendesain ruang dan membuat wadah untuk penggunanya, karena kelompok tangible sangat
dominan maka hasil yang keluar adalah hasil dari produk industri dalam bentuk bangunan.
Padahal pada awalnya dikatakan bahwa arsitek membangun ​“shelter” yang memiliki arti
tempat bernaung, akan tetapi sekarang arsitek dikenal dengan kemampuannya membangun
bangunan karena terbatas material industri yang berdiri pondasi bernama uang. Sehingga
arsitek zaman sekarang banyak yang hanya membuat ​“house” dan tidak membentuk
“home”.​ Hal ini juga dibuktikan dalam gaya arsitektur yang berlaku dari waktu ke waktu
yang mulai menghilangkan arti yang terkandung dalam bangunan dan semakin sederhana
dalam pengaplikasian bentuknya dan gaya arsitektur minimalis sampai saat ini masih menjadi
pilihan yang paling relevan dengan gaya hidup manusia pada saat ini.

Gaya Arsitektur Sebelum Revolusi Industri :


1. Klasik
2. Romanesk
3. Renaissance
4. Gothic
5. Barok dan Rokoko
6. Neoklasik

Gaya Arsitektur Setelah Revolusi Industri :


1. Art Nouveau
2. Art Deco
3. Internasional
4. Post-Modern
5. Minimalis

Memang proses mendesain pada bangunan makin lama makin menghilangkan


maknanya karena membutuhkan dana yang lebih mulai dari pembuatan hingga
maintenancenya sehingga pada saat itu dunia arsitektur digemparkan kalimat ​“Ornament is a
Crime” o​ leh Adolf Loos, sehingga cara berpikir manusia saat ini lebih dibatasi oleh
keadaan-keadaan tersebut dan lebih mengutamakan ​“Form Follow Function” ​oleh Louis
Sullivan, pada bangunan yang dibuat saat ini.
Akibat dari berbagai macam keadaan yang memojokkan arsitek, maka kreativitas
pada arsitek menjadi tidak leluasa dalam mendesain dan bangunan yang dibuatnya cenderung
sama dari waktu ke waktu, berbeda dengan masa lalu yang memiliki ciri khas dan
keunikannya sendiri-sendiri. Pada masa ini yang menjadi pertimbangan utama adalah
seberapa besar biaya yang disediakan klien mereka untuk membangun suatu proyek dan
dituntut oleh gaya hidup yang serba cepat, sehingga lebih sedikit bangunan yang memiliki
persona yang berbeda dibandingkan bangunan lainnya, bahkan dalam mendesain produk
seperti furnitur juga sudah dibuat melalui industri sehingga proses pembuatan cenderung
dibuat massal dan juga cenderung sama antara satu dengan yang lainnya.