Anda di halaman 1dari 22

Laporan Kasus Maret 2019

GANGGUAN ANSIETAS YANG TAK TERGOLONGKAN

Disusun Oleh:

Ira Andini Paransa


N111 18 026

Pembimbing Klinik
dr. Andi Soraya T., Sp. KJ., M. Kes

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA
RUMAH SAKIT UMUM ANUTAPURA PALU
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2019

1
LAPORAN KASUS PSIKIATRI

Nama : Ny. S

Umur : 36 tahun

Tanggal lahir : 06 Agustus 1983

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Jl. Kijang Raya No.7

Pekerjaan : Guru

Agama : Islam

Status Perkawinan : Sudah menikah

Pendidikan : Sarjana S1

Tanggal Pemeriksaan : 12 Maret 2019

Tempat Pemeriksaan : Bangsal Cendrawasi Atas RSU. Anutapura Palu

LAPORAN PSIKIATRIK

I. RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan utama
Cemas yang berlebihan.
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Seorang perempuan berusia 36 tahun sudah menikah,
dikonsultasikan ke bagian Penyakit Jiwa pada tanggal 12 Maret 2019
karena selalu merasa cemas yang dirasakan sejak 1 minggu yang lalu.
Keluhan disertai keringat berlebih dan perasaan tertekan saat pasien
masuk RS 1 minggu yang lalu. Saat masuk RS 1 minggu yang lalu,
pasien didiagnosis dengan penyakit DBD, setelah 5 hari pasien

2
dipulangkan karena kondisi pasien telah pulih. Tetapi menurut pasien,
kondisinya masih belum pulih baik. Awalnya pasien mengira, perasaan
cemas dan keringat berlebih adalah gejala yang ditimbulkan oleh
penyakitnya. Tetapi setelah 2 hari pulang dari RS pasien kembali
merasakan perasaan cemas dan tertekan yang disertai keringat berlebih.
Setelah 2 hari merasakan perasaan cemas dan tertekan pasien kembali
masuk RS dengan keluhan muntah-muntah dan pusing saat berjalan.
Saat dilakukan anamnesis pada pasien, pasien mengaku perasaan cemas
yang dialami karena pasien terus memikirkan tentan kondisi
penyakitnya. Dan sebelum sakit pasien juga mempunyai masalah
dengan orang dilingkungan kantornya, tetapi pasien enggan
menceritakan masalahnya.
Hendaya Disfungsi
Hendaya Sosial (+)
Hendaya Pekerjaan (+)
Hendaya Penggunaan Waktu Senggang (+)
 Faktor Stressor Psikososial
Pasien mempunyai masalah dengan orang-orang yang ada
dilingkungan perkantorannya.
 Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit fisik dan
psikis sebelumnya.
Pasien pernah dirawat di RS saat 1 minggu yang lalu, dengan
diagnosis penyakit DBD. Saat masuk RS pasien mengeluhkan
keluhan yang sama dengan keluhan yang dialami sekarang yaitu
perasaan cemas dan tertekan disertai keringat berlebih.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya.


Tidak ada riwayat kejang, penyakit jantung, infeksi berat dan trauma
capitis. Pasien tidak pernah mengalami gangguan sebelumnya. Pasien
pernah jatuh dari motor, tetapi hanya luka pada bagian extermitas,
trauma capitis (-).

3
D. Riwayat Kehidupan Peribadi
 Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien lahir normal, cukup bulan, di puskesmas dan dibantu
oleh bidan. Ibu pasien tidak pernah sakit bera t selama
kehamilan.
 Riwayat Masa Kanak Awal (1-3 tahun)
Pasien tidak dapat mengingat riwayat ini dengan jelas.
 Riwayat Masa Pertengahan (4-11 tahun)
Pasien diasuh oleh kedua orang tuanya bersama 1 kakak
perempuanya dan 2 orang adik laki-lakinya. Pertumbuhan dan
perkembangan pasien diusia ini baik dan sesuai dengan anak
seusianya.
 Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja. (12-18 tahun)
Pasien melanjutkan pendidikan ke SMP dan SMA. Pasien
memiliki banyak teman. Dan pasien juga mudah bergaul dengan
teman sebayanya. Selama masa SMP dan SMA pasien tidak
mempunyai masalah social dengan teman sebayanya.
 Riwayat Perkerjaan
Pasien bekerja sebagai seorang guru. Pasien mempunyai
banyak teman dilingkungan kerjanya. Tetapi hubungan pasien
dengan atasannya kurang baik. Pasien mengaku sering tertekan
dengan sikap atasannya yang sering memerintah pasien dengan
seenaknya. Dan akhir-akhir ini pasien mempunyai masalah dengan
atasannya yang enggan diceritakannya, sehingga membuat pasien
terus merasa tertekan dengan masalahnya.

E. Riwayat Kehidupan Keluarga


Anak ke-2 dari 4 bersaudara dengan hubungan bersama ayah dan ibu
belum dapat dinilai. Hubungan dengan saudara baik terutama dengan
kaka perempuan pasien hubungannya sangat dekat.

4
F. Situasi Sekarang
Pasien tinggal bersama suami dan anaknya, dan kesehariannya
mengurusi keperluan suami dan anaknya.

G. Persepsi pasien tentang diri dan kehidupan.


Pasien menyadari dirinya sakit secara penuh, dan pasien selalu
merasa terlalu banyak kekurangan yang ada pada dirinya.

II. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LEBIH LANJUT


Pemeriksaan Fisik:

 Tekanan Darah : 110/70 mmHg,


 Denyut Nadi : 90 x/menit, reguler
 Pernapasan : 21 x/menit
 Suhu : 36,8°C.
 Kepala : Normocepal
 Mata : Anemis (-/-), ikterik (-/-),
 Leher : Pembesaran KGB (-/-)
 Dada : Jantung : Bunyi Jantung I dan II regular, murmur
(-).Paru : Bunyi paru vesikuler (+/+), Rhonki (-/-),
whizing (-/-),
 Perut : Kesan datar, ikut gerakan nafas, bising usus (+)
 Anggota Gerak : Akral hangat, oedem pretibialis (-)

Status Lokalis

 GCS : E4V5M6
Status Neurologis

 Meningeal Sign : (-)


 Refleks Patologis : (-/-)

5
 Hasil Pemeriksaan nervus cranial : Tidak di evaluasi
 Pemeriksaan sistem motorik : Normal
 Kordinasi gait keseimbangan : Normal
 Gerakan-gerakan abnormal : (-)

III. STATUS MENTAL


A. Deskripsi Umum
 Penampilan:
Tampak seorang perempuan memakai baju tidur
berwarna kuning, baju tampak tidak rapi. Rambut sebahu tampak
tidak tersisir berwarna hitam. Postur tinggi badan pasien sekitar 155
cm, tampakan wajah pasien sesuai dengan umurnya dengan mimic
muka murung. Perawakan biasa. Perawatan diri kurang.
 Kesadaran: Compos Mentis
 Perilaku dan aktivitas psikomotor: tampak gelisah
 Pembicaraan : Spontan, berespon normal
 Sikap terhadap pemeriksa : kooperatif

B. Keadaan afektif
 Mood : Disforia
 Afek : Luas
 Keserasian : Serasi (appropriate)
 Empati : Dapat dirasakan

C. Fungsi Intelektual (Kognitif)


 Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
Pengetahuan dan kecerdasan sesuai taraf pendidikannya.
 Daya konsentrasi : Baik
 Orientasi : Baik
 Daya ingat
Jangka Pendek : Baik

6
Jangka sedang : Baik
Jangka Panjang : Baik
 Pikiran abstrak : Baik
 Bakat kreatif : belum dapat dinilai.
 Kemampuan menolong diri sendiri: Baik

D. Gangguan persepsi
 Halusinasi : Tidak ada
 Ilusi : Tidak ada
 Depersonalisasi : Tidak ada
 Derealisasi : Tidak ada

E. Proses berpikir
 Arus pikiran:
A. Produktivitas : banyak ide
B. Kontinuitas : Relevan
C. Hendaya berbahasa : Tidak ada
 Isi Pikiran
A. preokupasi : Tidak didapatkan
B. Gangguan isi pikiran : Baik

F. Pengendalian impuls
Baik

G. Daya nilai
 Norma sosial : Terganggu (Ada masalah dengan orang )
 Uji daya nilai : Baik
 Penilaian Realitas : Baik

7
H. Tilikan (insight)
Derajat 5: Pasien menyadari penyakitnya dan faktor yang
berhubungan dengan penyakitnya namun tidak menerapkan dalam
perilaku praktisnya.
Taraf dapat dipercaya
Dapat dipercaya

IV. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


 Pasien masuk dengan keluhan perasaan tertekan dan cemas yang disertai
dengan keringat berlebih saat pasien sendiri.
 Keluhan pasien dialami semenjak ± 1 minggu yang lalu.
 Pasien mengaku keluhan dialami sebelum pasien masuk RS yang
pertama kali, tetapi keluhan bersifat hilang timbul, pasien mengaku
keluhannya sering hilang sendiri seiring dengan waktu. Keluhan
memberat saat pasien masuk RS hingga sekarang
 Pasien mempunyai hendaya social, pekerjaan, dan penggunaan waktu
senggang. Yang paling menonjol adalah hendaya social dan pekerjaan.
Dimana pasien mempunyai masalah social dalam lingkungan pekerjaan
pasien. Pasien mempunyai masalah dengan atasan baru pasien.
 Saat pemeriksaan status mental, terlihat pasien dalam mood dismforia
dengan afek luas yang serasi antara afek dan mood, pasien koperatif
dalam berkomunikasi dengan baik. Pasien dapat menjawab sesuai
pertanyaan yang diberikan.

V. EVALUASI MULTIAKSIAL
 Aksis I :
Berdasarkan autoanamnesa didapatkan adanya gejala klinis yang
bermakna berupa perasaan tertekan (murung) dan cemas berlebihan.
Keadaaan ini menimbulkan disstress bagi pasien dan keluarganya dan
menimbulkan disabilitas dalam sosial dan pekerjaan dan dalam menilai

8
realita, sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami
Gangguan Jiwa Terkait Stress (F40).

Pada pasien ditemukan hendaya dalam pekerjaaan, juga terdapat


hendaya dalam sosial yang telah dialami sejak keluhan muncul,
sehingga pasien didiagnosa sebagai Gangguan Jiwa Anxietas Yang Tak
Tergolongkan (F41.9).

 Aksis II
Tidak ada diagnosis.
 Aksis III
Dispepsia.
 Aksis IV
Stressor berupa masalah dengan atasan pasien.
 Aksis V
GAF scale 80-71 (gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan
dalam pekerjaan).

VI. DAFTAR MASALAH


 Organobiologik
Tidak ditemukan adanya gangguan pada neurotransmitter.
 Psikologi
Ditemukan adanya masalah/stressor psikososial sehingga pasien
memerlukan psikoterapi.
 Sosiologi
Ditemukan adanya hendaya sosial, pekerjaan, dan waktu senggang
sehingga pasien memerlukan sosioterapi.

VII. DIAGNOSIS KERJA


Gangguan Anxietas yang tak tergolongkan.

9
VIII. DIAGNOSIS BANDING
Gangguan kepribadian Paranoid (F60.0).

IX. PROGNOSIS
Dubia ad bonam
 Faktor yang mempengaruhi :
Tidak ada kelainan organobiologik
Kurang support dari lingkungan social dalam ruang lingkup pekerjaan
pasien
 Faktor yang memperburuk :
Pasien merupakan tipikal orang yang sulit mengekspresikan perasaan yang dirasakan.

X. RENCANA TERAPI
 Farmakoterapi :
 Buspiron 2 x 10 mg per hari
 Psikoterapi suportif
 Ventilasi
Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan
isi hati dan keinginannya sehingga pasien merasa lega.
 Persuasi
Membujuk pasien agar memastikan diri untuk selalu kontrol dan
minum obat dengan rutin.
 Sugesti
Membangkitkan kepercayaan diri dan kemauan pasien untuk dia
sembuh (penyakit terkontrol).

10
IX. FOLLOW UP
Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakit serta
menilai efektifitas pengobatan yang diberikan dan kemungkinan munculnya
efek samping obat yang diberikan.

X. PEMBAHASAN/ TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI GANGGUAN CEMAS

Cemas didefinisikan sebagai suatu sinyal yang menyadarkan; ia


memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan
seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman. Rasa tersebut
ditandai dengan gejala otonom seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi,
rasa sesak di dada, tidak nyaman pada perut, dan gelisah.

Rasa cemas dapat datang dari eksternal atau internal. Masalah


eksternal umumnya terkait dengan hubungan antara seseorang dengan
komunitas, teman, atau keluarga. Masalah internal umumnya terkait dengan
pikiran seseorang sendiri1,2

TANDA DAN GEJALA GANGGUAN CEMAS

Gejala-gejala cemas pada dasarnya terdiri dari dua komponen


yakni, kesadaran terhadap sensasi fisiologis ( palpitasi atau berkeringat )
dan kesadaran terhadap rasa gugup atau takut. Selain dari gejala motorik
dan viseral, rasa cemas juga mempengaruhi kemampuan berpikir, persepsi,
dan belajar. Umumnya hal tersebut menyebabkan rasa bingung dan distorsi
persepsi. Distorsi ini dapat menganggu belajar dengan menurunkan
kemampuan memusatkan perhatian, menurunkan daya ingat dan
menganggu kemampuan untuk menghubungkan satu hal dengan lainnya.

11
Aspek yang penting pada rasa cemas, umumnya orang dengan rasa
cemas akan melakukan seleksi terhadap hal-hal disekitar mereka yang
dapat membenarkan persepsi mereka mengenai suatu hal yang
menimbulkan rasa cemas.2

KLASIFIKASI GANGGUAN CEMAS

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (


DSM-IV), gangguan cemas terdiri dari :

(1) Serangan panik dengan atau tanpa agoraphobia;


(2) Agoraphobia dengan atau tanpa Serangan panik;
(3) Fobia spesifik;
(4) Fobia sosial;
(5) Gangguan Obsesif-Kompulsif;
(6) Post Traumatic Stress Disorder ( PTSD );
(7) Gangguan Stress Akut;
(8) Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder).2

Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa


di Indonesia III, gangguan cemas dikaitkan dalam gangguan neurotik,
gangguan somatoform dan gangguan yang berkaitan dengan stress (F40-
48).

F40–F48 GANGGUAN NEUROTIK, GANGGUAN SOMATOFORM


DAN GANGGUAN

YANG BERKAITAN DENGAN STRES

F40 Gangguan Anxieta Fobik

F40.0 Agorafobia

12
.00 Tanpa gangguan panic

.01 Dengan gangguan panic

F40.1 Fobia social

F40.2 Fobia khas (terisolasi)

F40.8 Gangguan anxietas fobik lainnya

F40.9 Gangguan anxietas fobik YTT

F41 Gangguan Anxietas Lainnya

F41.0 Gangguan panik (anxietas paroksismal episodik)

F41.1 Gangguan anxietas menyeluruh

F41.2 Gangguan campuran anxietas dan depresif

F41.3 Gangguan anxietas campuran lainnya

F41.8 Gangguan anxietas lainnya YDT

F41.9 Gangguan anxietas YTT

Gangguan Ansietas yang tak Tergolongkan

Sejumlah pasien mempunyai gejala gangguan ansietas, tetapi tidak


memenuhi criteria gangguan ansietas DSM-IV-TR yang spesifik aau
gangguan penyesuaian dengan ansietas atau gangguan campuran ansietas
dan mood depresi. Pasien seperti ini paling sesuai jika diklasifikasikan
memiliki gangguan ansietas yang tidak tergolongkan. DSM-IV-TR
mencakup empat contoh keadaan yang sesuai untuk diagnosis ini. Salah satu
contohnya adalah gangguan campuran ansietas depresif. 3

13
Kriteria diagnostic DSM-IV-TR gangguan ansietas yang tidak
tergolongkan. Kategori ini mencakup gangguan dengan ansietas atau
penghindaran fobic yang nyata dan tidak memenuhi criteria gangguan
ansietas spesifik manapun, gangguan penyesuaian dengan ansietas, atau
gangguan penyesuaian campuran ansietas dan mood depresi. Contohnya
mencakup :

1. Gangguan campuran ansietas depresif : gejala ansietas dan depresi yang


secara klinis bermakna, tetapi tidak memenuhi criteria gangguan mood
spesifik atau gangguan ansietas spesifik.
2. Gejala fobia sosial yang secara klnis bermakna yang terkait dengan
dampak sosial karena memiliki keadaan medis umum atau gangguan
jiwa (contohnya penyakit Parkinson, penyakit kulit, gagap, anorexia
nervosa, gangguan dismorfik tubuh).
3. Situasi dengan gangguan yang cukup berat sehingga diperlukan
diagnosis gangguan ansietas, tetapi orang tersebut gagal melaporkan
cukup gejala guna memenuhi criteria lengkap gangguan ansietas
spesifik manapun; contohnya, orang yang melaporkan semua gambaran
gangguan panic tanpa agoraphobia kecuali bahwa serangan panic
semuanya merupakan serangan yang terbatas gejala.
4. Situasi saat klinis telah menyimpulkan bahwa terdapat gangguan
ansietas tetapi tidak mampu membedakan apakah gangguan tersebut
primer, akibat medis umum, atau dicetuskan zat. 3

Terapi

Terapi diberikan berdasarkan gejala yang muncul, keparahannya,


dan tingkat pengalaman klinisi tersebut dengan berbagai modalitas terapi.
Pendekatan psikoterapeutik dapat melibatkan pendekatan yang terbatas
waktu seperti terapi kognitif atau modifikasi perilaku, walaupun se-jumlah
klinisi menggunakan pendekatan psikoterapeutik yang kurang terstruktur,

14
seperti psikoterapi yang berorientasi tilikan.4 Farmakoterapi untuk
gangguan campuran ansietas-depresif dapat mencakup obat antiansietas,
obat antidepresif, atau keduanya. Penggunaan triazolobenzodiazepin
diindikasikan karena efektivitasnya dalam mengobati depresi yang disertai
ansietas. Obat yang memengaruhi reseptor 5-HTIA, seperti buspiron, juga
dapat diindikasikan. Antidepresan serotonergik (contohnya, fluoxetine)
dapat menjadi obat yang paling efektif dalam mengobati gangguan
campuran ansietas-depresif.5

15
Hasil wawancara dengan pasien Ny. S, pada tanggal 12 Maret 2019

Ira : “Asslammualaikum ibu, maaf menggangu yah. Perkenalkan saya Ira, dokter
muda dari bagian jiwa, mau bertanya sedikit tentang ibu, apakah boleh ibu?

Pasien: “iya boleh dok..”

Ira : “Iya ibu, namanya siapa? Umurnya berapa?”

Pasien: “Saya Sitmahanti. Umur 36 tahun.”

Ira : “Alamatnya dimana ibu?”

Pasien: “Di jalan Kijang Raya, No. 7”

Ira : “Ibu Asalnya dari mana? Sukunya apa?”

Pasien: “ Saya orang asli Palu dok.”

Ira : “Ibu pekerjaannya apa?”

Pasien: “Saya seorang guru dok.”

Ira : “Ibu sudah menikah?”

Pasien: “Iya sudah dok”

Ira : “Sudah punya anak ibu?”

Pasien: “iya, punya dok, anak saya 2. Yang pertama perempuan umur 8 tahun, dan
yang kedua cowok umur 5 tahun.”

Ira : “Iya ibu apakah ada yang bisa saya bantu ibu?”

Pasien: “ini dok, kambuh maghku dok, dari kemarin saya muntah-muntah terus dok.
Tidak enak juga perasaanku selalu saya rasa dok, dan kalau lagi sendiri saya sering
cemas dok, terus pasti habis itu saya berkeringat dingin dok.”

Ira : “Seperti apa perasaannya tidak enak yang ibu rasakan? Sejak kapan ibu rasa
tidak enak perasaannya?”

Pasien: “Seperti perasaan tertekan dan takut begitu dokter, biasanya kalau sudah
begitu saya mulai berkeringat dingin dok. Saya rasakan itu dari saya pertama kali
masuk RS dok minggu lalu.”

Ira : “Ibu sempat masuk RS minggu lalu? Kenapa ibu di rawat di RS?”

16
Pasien: “Iya dok, kemarin saya sempat dirawat di RS, karena waktu itu saya demam
tinggi, lemas saya rasa juga dok, terus mulai tidak enak sudah perasaanku semenjak
itu. Berkeringat dingin terus saya dok, tapi badanku panas. Waktu itu, dokter bilang
saya kena DBD, jadi dirawat 5 hari di RS. Setelah 5 hari, dokter bilang sudah bagus
kondisiku dok, sudah naik juga trombositku katanya, sudah tidak demam juga saya
dok. Jadi dikasih pulang dokterlah saya dok. Tapi waktu saya pulang dari RS, saya
rasa saya belum pulih sepenuhnya kondisiku dok, karena saya masih rasa tidak enak
begitu perasaanku dok. Tapi dokternya bilang sudah pulang ke rumah saja saya,
nanti kontrol dipoli 3 hari berikutnya. Nah pas saya 2 hari setelah pulang dari RS,
saya rasa tidak enak perasaanku lagi dan saya rasa cemas ulang dok, tidak tau juga
sebabnya kenapa. Tiba-tiba saja saya rasakan tidak enak perasaanku, terus saya itu
rasa was-was begitu kalau dirumah dok. Kalau lagi sendiri dirumah banyak hal yang
saya pikirkan dok, termasuk penyakitku. Saya pikir saya ini belum sembuh
sepenuhnya, kenapa saya dikasih pulang. Jadi setelah 2 hari itu, keadaanku jadi
makin memburuk saya rasa dok. Karena semenjak itu saya sering pusing dan
muntah-muntah, keluar semua isi perutku dok sampe sakit perutku. Jadi saya rasa
kambuh maghku dok, terus kalau BAB saya akhir-akhir ini sering mencret dok.
Kalau saya berjalan serasa oleng begitu dok, kayak mau jatuh. Jadi suamiku
putuskan saya harus di RS lagi dok. Makanya saya sekarang dirawat disini dok.

Ira : “Ibu tidurnya baik? Adakah ibu mengalami gangguan tidur seperti sulit
tidur/waktu tidurnya salah? Adakah ibu sering mimpi buruk saat tidur?

Pasien: “Tidak ada dok, tidurku bagus. Nyenyak juga, tidak ada juga saya bermimpi
buruk dok.”

Ira : “Adakah ibu mendengar seruan bisik-bisik, ataupun melihat sesuatu yang
ganjil?”

Pasien: “Tidak ada dok.”

Ira : “Apakah rasa cemas dan perasaan tertekan ini ibu rasakan saat ibu sakit
atau saat sebelum sakit sudah dirasakan sebelumnya?”

Pasien: “Sebenarnya dok, perasaan cemas itu sudah saya rasakan sejak sebelum
saya sakit seperti ini, tetapi biasanya hilang dengan sendirinya. Dan sekarang, rasa
cemas itu muncul kembali dan tidak hilang-hilang seperti waktu itu dok..”

Ira : “Mohon maaf sebelumnya ibu, bolehkah saya bertanya tentang hal yang
lebih sensitive?”

Pasien: “Iya, apa itu dok kalau boleh tau?”

Ira : “Apakah sebelumnya ibu mempunyai sebuah masalah?”

17
Pasien: “Iya, saya rasa saya mempunyai banyak masalah. Karena saya selalu merasa
kalau diriku ini masih banyak kekurangan dok..”

Ira : “Apakah ibu mau menceritakan masalahnya kepada saya?”

Pasien: “Maaf dok saya tidak suka menceritakan masalah saya kepada orang lain..”

Ira : “Baiklah ibu, kalau begitu apakah keluhannya ibu ini pernah terjadi saat ibu
kecil ataupun beranjak dewasa?”

Pasien: “Tidak pernah dok, saya rasakan cemas ini hanya dalam beberapa bulan ini
saja.”

Ira : “Sebelumnya apakah ibu pernah menderita suatu penyakit ataupun di rawat
di RS?”

Pasien: “Belum pernah dok, yang pertama kali itu saat 1 minggu yang lalu masuk
RS.”

Ira : “Apakah ibu pernah kecelakaan sebelumnya?”

Pasien: “Pernah dok, saat saya jatuh dari motor.”

Ira : “Bagaimana jatuhnya ibu? Apakah sempat terbentur kepalanya?”

Pasien: “Tidak dok, waktu jatuh hanya kaki dan tangan saja yang luka.”

Ira : “Apakah ibu sebelumnya mengkonsumsi obat-obatan?”

Pasien: “Tidak pernah dok, yang pernah saya minum itu hanya obat paracetamol
saja dok, waktu demam.”

Ira : “Mohon maaf ibu yah, saya ingin bertanya terkait dengan keluhan ibu.
Apakah sebelumnya ibu pernah konsumsi obat-obatan jenis narkoba ataupun
alkohol?”

Pasien: “Tidak pernah dok.”

Ira : “Apakah ibu merokok?”

Pasien: “Tidak dok.”

Ira : “Apakah dikeluarganya ibu ada keluhan yang sama dengan yang ibu
rasakan? Ataupun adakah dikeluarganya ibu yang mengalami gangguan kejiwaan?”

Pasien: “Tidak ada dok, hanya saya sajan yang alami cemas begini. Dikeluargaku
juga tidak ada yang alami gangguan jiwa dok.”

18
Ira : “Dikeluarganya ibu ada riwayat penyakit bawaan? Seperti tekanan darah
tinggi/ penyakit gula?”

Pasien: “Ibu saya dok penyakit tekanan darah tinggi.”

Ira : “Ibu berapa bersaudara? Apakah ibu tinggal sama orang tua dari kecil? Dan
apakah dekat dengan keluarganya ibu?”

Pasien: “Saya 4 bersaudara dok, saya anak ke dua, kaka saya perempuan, dan 2 adik
saya laki-laki. Saya dekat dengan saudara-saudara saya dok, terutama dengan kakak
perempuan saya dok. Saya juga dekat dengan anak dan suami saya dok.”

Ira : “Sekarang apakah ibu masih tinggal dengan orang tua ibu?”

Pasien: “Tidak dok, sekarang saya tinggal dengan suami dan anak saya.”

Ira : “Apakah di keluarganya ibu ada konflik-konflik tertentu yang sampai bisa
membuat ibu selalu memikirkannya?”

Pasien: “Tidak ada dok, palingan hanya konflik kecil saja yang satu hari biasanya
sudah selesai.”

Ira : “Kalau ada masalah ibu biasanya sering sharing atau minta pendapat ke
siapa?”

Pasien: “Biasanya ke suami saya dok, tetapi kalau suami saya keluar kota saya
sering curhat ke kakak perempuan saya dok.”

Ira : “Apakah ibu tau sifat masing-masing anggota keluarganya ibu? Adakah
sifat dari mereka yang kurang ibu sukai atau membuat ibu tertekan?”

Pasien: “Sejauh ini tidak dok, karena ibu dan bapak saya didikannya memang keras,
tetapi tidak sampai membuat saya tertekan. Begitupun juga dengan saudara dan
suami saya. Ada memang beberapa sifat yang saya kurang sukai dari mereka tetapi
itu tidak terlalu saya permasalahkan dok.”

Ira : “Apakah ibu tau riwayat kelahirannya ibu? Seperti apakah ibu dilahirkan
cukup bulan? Proses kelahirannya bagaimana? Di operasi atau normal? Adakah
masalah selama proses kehamilan?”

Pasien: “Saya lahir normal dok, cukup bulan. Lahirnya di Bidan Desa.
Alhamdullilah kata ibu saya sehat-sehat selama di kandungan dok.”

Ira : “Apakah ibu mengingat masa kecilnya ibu?”

Pasien: “Saya sudah lupa dok, hehe..”

19
Ira : “Ibu masih ingat masa SMP dan SMAnya? Bagaimana pergaulannya ibu
selama masa SMP dan SMA?”

Pasien: “Bagus dok, waktu SMP dan SMA lumayan banyak temanku, saya
tergolong orang yang mudah bergaul dengan siapa saja dok. Alhamdullilah
pergaulanku baik selama masa-masa itu.”

Ira : “Kalau dilingkungan pekerjaannya ibu bagaimana?”

Pasien: “Teman-teman kantor saya baik semua dok, saya bergaul dengan semua
orang dan selama saya kerja tidak ada masalah dengan teman kantor saya. Tetapi
saya agak kurang cocok dengan atasan saya yang baru pindah ini dok. Karena beliau
cenderung suka memerintah dan sering menekan saya ataupun teman-teman saya
dok. Dan akhir-akhir ini saya sering bermasalah dengan beliau dok.”

Ira : “Apakah ibu bersedia untuk menceritakannya?”

Pasien: “Maaf dokter, saya lagi tidak ingin membicarakannya.”

Ira : “Kalau sekarang apa yang ibu rasakan?”

Pasien: “Alhamdullilah sudah baik dokter, hanya saja saya masih merasakan cemas
dan keringat berlebih, tetapi itu bisa hilang ketika saya bercerita tentang sesuat
kepada orang lain.”

Ira : “Alhamdullilah kalau begitu yah bu, memang sebaiknya selama ibu merasa
kondisinya masih sakit lebih baiknya ada yang temani ibu. Dan sebaiknya juga ibu
menceritakan masalahnya ibu ke orang terdekat sehingga ibu tidak merasa tertekan
sendiri. Sharing ke orang terdekat dapat membuaat perasaan menjadi lebih
lega/rileks. Baiklah ibu nanti saya akan konsultasikan masalah ibu ke dr. Soraya
yah ibu. Nanti beliau yang akan memberikan obat kepada ibu. Sembari diberikan
obat juga ibu juga sebaiknya melatih diri dan pikiran lebih rileks atau santai saat
dilanda perasaan cemas, seperti saat cemas terjadi ibu dapat melatih pernapasan,
mengendurkan otot-otot yang tegang, dan mensugestikan pikiran menjadi lebih
tenang.”

Pasien: “Iya dokter, nanti akan saya coba lakukan seperti yang dokter katakana.”

Ira : “Iya ibu, apakah ada sesuatu yang ingin ibu tanyakan ke saya?”

Pasien: “Tidak ada dokter.”

Ira : “Baiklah ibu terima kasih sudah mau sharing ke saya, saya permisi pamit
dulu yah ibu. Asalammualaikum.”

20
Pasien: “Iya dokter, wa’alaikumsalam.”

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim R, 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas


dari PPDGJ-III. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya,
Jakarta.

2. Benjamin J. Sadock, Virginia A. Sadock. Buku Ajar Psikiatri klinis Edisi


2. Jakarta: ECG, 2010. H; 233-241.

3. Elvira S, Hadisukanto G, 2013. Buku Ajar Psikiatri Edisi Kedua. Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
4. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi 3.
Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. 2007. H;52-
54.

5. Departemen Farmakologi dan Terapetik. Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia. Jakarta.

22