Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Asma merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia, baik di negara maju


maupun di negara- negara sedang berkembang. Walaupun diagnosis dan
pengobatan pada kebanyakan penderita umumnya mudah, namun pada sebagian
penderita lainnya sering memberikan hasil pengobatan yang tidak memuaskan.
(Onigbanjou,2011). Kebiasaan Pengobatan dari dokter dan pasien untuk
mengatasi gejala asma saja khususnya terhadap gejala sesak nafas dan mengi
dengan pemakaian obat-obatan dan bukannya mengelola asma secara lengkap
(Salim, 2005). Padahal tujuan pengelolaan asma yang utama adalah manajemen
asma secara mandiri, agar dapat mengontrol penyakit tersebut (Hamick& Vorce,
2009; Boulet, 2011).

Menurut Ducharme, et.al., (2011) kunjungan pasien asma ke departemen gawat


darurat merupakan tanda gagalnya manajemen karena adanya hubungan dengan
kontrol yang buruk terhadap obat- obatan, tidak memiliki rencana tindakan
tertulis atau written asthma action plans (WAAPs), tidak ada edukasi pada saat
kunjungan ke fasilitas kesehatan, dimana itu semua adalah kunci dari panduan
manajemen mandiri penyakit asma. Perkembangan teknologi saat ini sangatlah
pesat sehingga mampu menembus usia dan lintas generasi. Penggunaan teknologi
internet dan perangkat digital tidak hanya dimanfaatkan oleh dewasa, tetapi
kalangan anak pun mampu menikmatinya dalam berbagai bentuk cara yang
edukatif. Penggunaan WAAPs pun dapat di gitalisasikan menjadi suatu prangkat
software yang membantu setiap pasien asma kedepannya.

Salah satu tujuan adanya sebuah asthma action plans (AAPs) adalah membuat
pasien mampu mengenali gejala dan mengahadapinya sedini mungkin, sehingga
pasien asma mampu mengontrol gejala asmanya dikemudian hari. Sehingga
Tujuan tata laksana asma saat ini lebih menitikberatkan pada kontrol asma dan

1
bukan lagi pada tata laksana serangan akut. Keberhasilan kontrol asma ini akan
meningkatkan kualitas hidup anak. Salah satu metode untuk menilai drajat control
gejala yang sering digunakan dan telah tervalidasi adalah ACT (Asthma Control
Test).
Sejauh ini belum ada penelitian yang mengkaji efikasi penggunaan aplikasi
recana aksi asma (RAA) pada handphone dengan derajat scoring keberhasilan
mengontrol kekambuhan gejala asma menggunakan scoring Athma Control test/
ACT, yang dibadingkan derajat kekambuhan tanpa pengenalan terhadap aplikasi
RAA tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Apakah Penggunaan Aplikasi Rencana Aksi Asma pada pasien asma

memberikan Keberhasilan mengontrol kekambuhan gejala asma yang diukur

menggunaan Athma Control test (ACT)?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh Penggunaan Aplikasi

Rencana Aksi Asma pada pasien asma memberikan Keberhasilan mengontrol

kekambuhan gejala asma yang diukur menggunaan Athma Control test (ACT).

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Praktis

Penelitian ini memberikan manfaat klinis berupa penggunaan Nigella sativa

sebagai terapi ajuvan dalam pengobatan asma dan peningkatan kualitas hidup pada

anak asma.

1.4.2 Manfaat Akademis

Menambah informasi ilmiah tentang pengaruh pemberian Nigella sativa

terhadap skor PedsQL (Pediatric Quality of Life Inventory) pada anak dengan asma.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Asma

Menurut Global Initiative for Asthma (GINA) 2014, asma didefinisikan

sebagai penyakit inflamasi kronik saluran nafas yang dapat dikontrol tetapi tidak

dapat sembuh. Asma ditandai dengan episode mengi (wheezing), sesak nafas, rasa

dada tertekan, dan batuk yang berulang. Manifestasi yang muncul dihubungkan

dengan bermacam gangguan ekspirasi karena bronkokonstriksi, penebalan dinding

saluran napas, dan peningkatan mukus. Gejala yang muncul mungkin dicetuskan

atau diperberat oleh faktor infeksi viral, alergen, merokok, olahraga dan stress.

Penegakan diagnosis asma ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisis

dan pemeriksaan penunjang. Tabel 1 merupakan kriteria diagnosis asma menurut

GINA tahun 2014. Anamnesis memegang peranan sangat penting mengingat

diagnosis asma pada anak sebagian besar ditegakkan secara klinis. Keluhan mengi

(wheezing) dan atau batuk berulang merupakan manifestasi klinis yang diterima

luas sebagai titik awal diagnosis asma. Gejala respiratori asma berupa kombinasi

dari batuk, mengi, sesak napas, rasa dada tertekan dan produksi sputum.

Karakteristik yang mengarah ke asma adalah gejala timbul secara episodik atau

berulang.

3
Tabel 1. Kriteria diagnosis asma

Gejala Karakteristik
Wheezing, batuk, sesak • Biasanya lebih dari 1 gejala respiratori
napas, dada tertekan, • Gejala berfluktuasi intensitasnya seiring
produksi sputum waktu
• Gejala memberat pada malam atau dini hari
• Gejala timbul bila ada pencetus
Konfirmasi adanya limitasi aliran udara ekspirasi
Gambaran obstruksi • FEV1 rendah (<80% nilai prediksi)
saluran respiratori • FEV1/FVC ≤ 90%
Uji reversibilitas • Peningkatan FEV1 > 12%
Variabilitas • Perbedaan PEFR harian > 13%
Uji provokasi • Penurunan FEV1>20%, atau PEFR >15%
Kriteria diagnosis didasarkan pada anamnesis biasanya lebih dari 1 gejala respiratori dan
konfirmasi adanya limitasi aliran udara ekspirasi sekurangnya didapatkan satu kali FEV1
rendah dikonfirmasi FEV1/FVC berkurang. FEV1: Forced Expiratory Volume dalam 1
detik; PEF: Peak Expiratory Flow (GINA, 2014)

• Wheezing, batuk, sesak napas, dada


tertekan, produksi sputum
• Riwayat penyakit
• Pemeriksaan fisis

Patut diduga asma : • Tidak jelas


• Biasanya lebih dari 1 gejala respiratori
• Gejala berfluktuasi intensitasnya seiring
waktu
• Gejala memberat pada malam atau dini hari • Pertimbangkan
pemeriksaan

Pemeriksaan spirometri Spirometri


bisa dilakukan* tidak dapat Tidak mendukung diagnosis lain Mendukung diagnosis lain
• FEV1 rendah (<80% dilakukan
nilai prediksi)
• FEV1/FVC≤ 90%
• Peningkatan FEV1 > Diagnosis dan pengobatan
12% Berikan alternatif
• Perbedaan PEFR
harian >13 bronkodilato
• Penurunan FEV1
>20%, atau PEFR
>15% Pertimbangkan asma • Bukan
Respon negatif sebagai penyakit Asma
Respon positif penyerta

Mungkin

Temukan derajat dan faktor pencetusnya. Dan tatalaksana

Gambar 1. Alur Diagnosis Asma

4
Gejala respiratori asma berupa kombinasi dari batuk, mengi, sesak napas, rasa dada
tertekan dan produksi sputum (Kartasasmita, 2015)

2.2 Rencana Aksi Asma (RAA)

WAAPs adalah rencana darurat untuk membantu pasien menurunkan

keparahan dan waktu serangan asma.WAAPs hanya satu bagian dari manajemen

mandiri namun dasar untuk kesuksesan pemulihan (Caulfield, 2005; Rank, 2008).

Menurut Rank (2008) terdapat beberapa versi WAAPs tetapi pada

prinsipnya rencana tersebut terdiri dari: (1) Pasien harus memonitor gejala

mereka atau mengukur peak expiratory flow untuk mendeteksi penyimpangan

dari nilai normal pada saat asma terkontrol. (2)Mengingatkan adanya tanda

peringatan seperti faktor presipitasi atau pemicu personal. (3)Menunjukan pilihan

pengobatan yang diawali oleh pasien secara tertulis. (4) Menunjukkan waktu

respon, tanda bahaya, dan informasi contact person.Poin poin tindakan dalam

WAAPs ini dibuat disesuaikan dengan kondisi pasien, serta dibuat dengan

sederhana seperti menggunakan bentuk “traffic light”.Secara umum, poin-poin

tindakan membantu pasien dalam menentukan kapan menggunakan obat-obatan,

obat apa yang diminum, berapa dosis obatnya dan berapa lama, serta apa yang

menandai adanya kekambuhan asma. Pasien harus diberi edukasi tentang tanda

dari asma parah yang mengancam nyawa.

Mekanisme WAAPs adalah pada saat pemulangan, dokter akan

melengkapi WAAPs sebagai bagian dari instruksi pemulangan. Perawat

bertanggung jawab untuk memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga

bagaimana cara menggunakan WAAPs secara efektif. (Onigbanjou, 2011).

5
Berdasarkan hasil analisis dari artikel artikel ilmiah dapat diungkapkan bahwa

manfaat WAAPs antara lain mengontrol manajemen asma secara mandiri, dan

mengurangi kunjungan ke unit gawat darurat dan rumah sakit.

Beberapa studi telah menunjukkan hasil dari WAAPs dalam menajemen

mandiri bagi pasien.Ducharme et.al (2011) dalam studinya secara Randomized

Controlled Trial pada pasien asma akut anak-anak di departemen gawat darurat

menyatakan bahwa pemberian WAAPs secara signifikan dapat meningkatkan

kepatuhan dalam mengkonsumsi kortikosteorid oral maupun inhalasi serta dapat

mengontrol asma nya.

2.3 Model Aplikasi RAA Android

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, aplikasi adalah penerapan dari

rancang sistem untuk mengolah data yang menggunakan aturan atau ketentuan

bahasa pemrograman tertentu. Aplikasi adalah suatu program komputer yang dibuat

untuk mengerjakan dan melaksanakan tugas khusus dari pengguna. Aplikasi

merupakan rangkaian kegiatan atau perintah untuk dieksekusi oleh komputer. Dari

defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa aplikasi adalah suatu program komputer

yang dibuat untuk mengerjakan dan melaksanakan tugas tertentu untuk pengguna.

Aplikasi yang dibuat dalam model aplikasi rencana aksi asma akan di buat

berdasarkan framework dan model opensource. Beberapa tahapan akan di

outsourcing kepada beberapa ahli untuk dilakukan uji validitas instrument.

Selanjutnya aplikasi yang sudah final akan diletakkan di google Appstore sebagai

6
penyerdia layanan aplikasi terbesar di android, maupun langsung dapat diberikan

secara gratis kepada user/pengguna aplikasi ini kedepannya.

2.4 Pengukuran Tingkat Kontrol Asma dengan ACT

Alat bantu untuk keperluan mendeskripsikan kontrol asma secara kuantitatif

maupun semikuantitatif diperlukan tidak hanya oleh klinisi, namun juga oleh

peneliti. Berbagai cara merekomendasikan penilaian kontrol asma berdasarkan

gejala dan fungsi paru. Salah satu metode baru yang dibuat untuk penilaian yang

dapat dilakukan dengan mudah dan cepat asma untuk menentukan pasien asma

telah terkontrol atau belum terkontrol, adalah Asthma Control Test (ACT).

Fakta bahwa tingkat kontrol asma biasanya dinilai berlebihan baik oleh

dokter maupun pasien mengindikasikan bahwa panduan penatalaksanaan asma saja

tidak cukup untuk mengontrol asma. Sehingga diperlukan metode yang mudah

untuk menilai tingkat kontrol terhadap asma. Walaupun beberapa alat sudah

ditemukan untuk menentukan tingkat kontrol terhadap asma, banyak diantaranya

sulit untuk digunakan dan membutuhkan pengukur yang tidak terintegrasi pada

praktik klinik. Pengukur yang ideal memiliki karakteristik berikut ini: mudah;

praktikal; dapat diterapkan pada pasien, klinisi, dan peneliti; bermakna;

mencerminkan kontrol asma dalam waktu panjang; diskriminatori; dan peka dengan

perubahan. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada pengukur yang ideal, walaupun

sepertinya kombinasi ACT dengan spirometri merupakan alat pengukur yang

komprehensif dan dapat memberikan penatalaksanaan lebih baik pada pasien asma.

7
ACT lebih komprehensif dalam menilai tingkat kontrol asma pasien. ACT

adalah alat yang tervalidasi dan reliable yang dapat mencerminkan perubahan

tingkat kontrol asma seiring berjalannya waktu. Kuesioner ini mudah digunakan

dan dapat memantau tingkat kontrol asma. Walaupun enam pertanyaan mudah dan

cepat untuk dijawab ya atau tidak, tanggapan belum dapat ditentukan. The Royal

College of Physicians three questions divalidasi dibandingkan dengan pengukur

lainnya, banyak digunakan di Inggris dan direkomendasikan pada panduan

penatalaksanaan. Dengan pertanyaan yang membutuhkan jawaban ya/tidak, metode

ini cepat dan mudah digunakan pada praktik klinik. Pengukur seperti Asthma

Control Test (ACT) dan Asthma Control Questionnaire (ACQ) juga sangat berguna,

dan menunjukkan korelasi yang baik di antaranya. ACT lebih singkat, tidak

membutuhkan kalkulasi, dan menyediakan pertanyaan yang mengarah ke

pandangan pasien tentang kontrolnya sehingga memberikan gambaran dari pasien

itu sendiri. Dibandingkan ACQ, ACT lebih mudah digunakan.

Asthma Control Test adalah suatu uji skrening berupa kuesioner tentang

penilaian klinis seseorang pasien asma untuk mengetahui asmanya terkontrol atau

belum. Kuesioner ini didesain untuk pasien berumur ≥ 14 tahun. Metode ini

dilakukan dengan cara meminta pasien untuk menjawab lima pertanyaan mengenai

penyakit mereka. Berapa sering penyakit asma mengganggu anda untuk melakukan

pekerjaan sehari-hari di kantor, di sekolah atau di rumah, mengalami sesak napas,

gejala asma (bengek, batuk-batuk, sesak napas, nyeri dada, atau rasa tertekan di

dada) menyebabkan anda terbangun malam hari atau lebih awal dari biasanya,

menggunakan obat semprot atau obat oral (tablet/sirup) untuk melegakan

pernapasan dan bagaimana anda sendiri menilai tingkat kontrol asma anda apakah

8
sudah terkontrol atau belum? Setiap pertanyaan mempunyai lima jawaban dan

penilaian dari asma terkontrol sebagai berikut. Skor jawaban dari kelima pertanyaan

itu 25 artinya asmanya sudah terkontrol secara total, skor antara 20 sampai 24

berarti asmanya terkontrol baik, skor jawaban kurang dari atau sama dengan 19

berarti asmanya tidak terkontrol.