Anda di halaman 1dari 103

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pondasi
Pondasi adalah bagian dari suatu bangunan yang berfungsi meneruskan berat
bangunan tersebut ke tanah dimana bangunan itu berdiri ( Terzaghi, Peck, 1987 ).
Semua konstruksi yang direkayasa untuk bertumpu pada tanah harus
didukung oleh pondasi.Pondasi ialah bagian dari suatu sistem rekayasa yang
meneruskan beban yang ditopang oleh pondasi dan beratnya sendiri kepada dan ke
dalam tanah dan batuan yang terletak dibawahnya ( Bowles, 1997 ).

2.1.1 Pondasi Dalam


Jenis pondasi dalam yang umum adalah pondasi tiang pancang dan pondasi
tiang bor. Material yang digunakan dapat berupa besi, beton, atau kayu. Biaya
konstruksi pondasi ini tidaklah murah, namun konstruksi ini memang
diperlukan untuk mencapai keamanan secara struktural. Beberapa kondisi yang
secara umum memerlukan pondasi dalam dijelaskan pada point point berikut ini
(Das, B.M. 2011) :
1. Saat satu atau lebih lapisan tanah sangat mudah memadat dan
terlalu lemah untuk menyalurkan beban struktur atas, pondasi dalam
digunakan untuk mentransferkan beban ke lapis batuan dasar atau lapisan
tanah keras seperti yang terlihat pada Gambar 2.1.a. Namun jika lapis
batuan dasar atau lapisan tanah keras tidak ditemui pada kedalaman
tertentu, pondasi dalam mentrasferkan beban struktural ke lapisan tanah
secara bertahap. Beban struktur secara keseluruhan ditahan oleh gaya
gesek yang terjadi antara tanah dengan permukaan pondasi dalam.
Ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 2.1.b.
2. Ketika mengalami gaya horizontal seperti yang terlihat pada Gambar
2.1.c, pondasi dalam akan melendut, sementara pondasi tetap menerima
beban vertikal dari struktur atas. Kondisi ini umumnya ditemui
pada konstruksi dinding penahan tanah dan pondasi struktur tinggi yang
menahan beban angin atau gempa.
5
3. Pada kasus tertentu, banyak struktur yang harus berdiri di atas
tanah ekspansif yang cukup dalam dari permukaan tanah. Tanah
ekspansif ini dapat mengalami kembang susut karena perubahan kadar
air tanah. Akibat kembang susut ini, terjadilah tekanan yang perlu
diperhitungkan. Jika pondasi dangkal digunakan dalam keadaan tanah
yang demikian, struktur dapat mengalami kerusakan berat. Pada keadaan
ini, pondasi dalam dapat dijadikan alternatif dengan syarat kedalaman
pondasi ini harus melewati daerah tanah yang mengalami kembang susut
dan mencapai lapisan tanah yang stabil. (lihat Gambar 2.1.d)
4. Pondasi dari beberapa struktur seperti tower transmisi, bangunan
lepas pantai dan lantai basement yang berada dibawah muka air tanah
mengalami gaya angkat oleh air. Pondasi dalam umumnya juga
digunakan untuk menahan gaya angkat ini. (lihat Gambar 2.1.e)
5. Abutmen jembatan dan Pier umumnya dikonstruksikan di atas
pondasi dalam untuk mencegah kehilangan daya dukung (bearing
capacity) yang diakibatkan erosi pada permukaan tanah. (lihat Gambar
2.1.f)

Gambar 2.1 Berbagai kondisi lapangan yang menghendaki penggunaan pondasi


dalam. Sumber : Das, B.M. 2011

6
2.1.2 Pondasi Tiang Pancang
Tiang pancang adalah bagian–bagian konstruksi yang dibuat dari
kayu,beton, dan/atau baja, yang digunakan untuk meneruskan (mentransmisikan)
beban–beban permukaan ke tingkat–tingkat permukaan yang lebih rendah dalam
massa tanah (Bowles, 1993).
Pemakaian tiang pancang dipergunakan untuk suatu pondasi untuk suatu
bangunan apabila tanah dasar di bawah bangunan tersebut tidak mempunyai daya
dukung (bearing capacity), yang cukup untuk memikul berat bangunan dan
bebannya, atau apabila tanah keras yang mana mempunyai daya dukung yang cukup
untuk memikul berat bangunan dan bebannya letaknya sangat dalam (Sardjono HS,
1996).
Tiang pancang berfungsi untuk memindahkan atau mentransferkan beban-
beban dari konstruksi di atasnya (uper structure) kelapisan tanah. Dalam
pelaksanaan pemancangan, pada umumnya dipancangkan tegak lurus dalam tanah,
tetapi ada juga dipancangkan miring (battle pile) untuk dapat menahan gaya-gaya
horizontal yang bekerja. Hal seperti ini sering terjadi pada dermaga, dimana terdapat
tekanan kesamping dari kapal dan perahu.
Sudut kemiringan yang dapat dicapai oleh tiang tergantung dari alat
yang dipergunakan serta disesuaikan pula dengan perencanaannya.
Tiang pancang pada umumnya digunakan :
1. Untuk membawa beban–beban konstruksi di atas tanah, ke dalam atau
melalui sebuah lapisan tanah. Di dalam hal ini beban vertikal dan beban
lateral dapat terlihat.
2. Untuk menahan gaya desakan ke atas, atau gaya guling, seperti untuk telapak
ruangan bawah tanah di bawah bidang batas air jenuh atau untuk kaki – kaki
menara terhadap guling.
3. Memampatkan endapan tak berkohesi yang bebas lepas melalui kombinasi
perpindahan isi tiang pancang dan dorongan. Tiang pancang ini dapat ditarik
keluar kemudian.
4. Mengontrol penurunan bila kaki – kaki yang tersebar atau telapak berada
pada tanah tepi atau didasari oleh sebuah lapisan yang kemampatannya
tinggi.
5. Membuat tanah di bawah pondasi mesin menjadi kaku untuk mengontrol
amplitudo getaran dan frekuensi alamiah dari sistem tersebut.
7
6. Sebagai faktor keamanan tambahan di bawah tumpuan jembatan dan/atau pir
(tiang), khususnya jika erosi merupakan persoalan yang potensial.
7. Dalam konstruksi lepas pantai untuk meneruskan beban – beban di atas
permukaan air melalui air dan ke dalam tanah yang mendasari air tersebut.

Hal seperti ini adalah mengenai tiang pancang yang ditanamkan sebagian dan
yang terpengaruh baik oleh beban vertikal (dan tekuk) maupun beban lateral
(Bowles, 1993). Tiang pancang seringkali digunakan untuk mengontrol
pergerakan tanah (seperti longsoran tanah).

2.2 Analisis Tiang Pancang Tunggal


2.2.1 Daya Dukung Tiang Pancang
Umumnya tanah di lokasi studi terdiri dari lapisan tanah lempung dengan
atau tanpa campuran jenis tanah lainnya (lanau dan pasir), juga lapisan yang terdiri
atas kandungan bahan organik. Tanah tersebut berasal dari pelapukan batuan yang
prosesnya dapat secara fisik dan kimia, dimana lapisan tanah keras/batuan terletak di
kedalaman lebih dari 12 m. Sifat fisik tanah kecuali dipengaruhi oleh sifat batuan
induk yang merupakan material asalnya dan unsur luar penyebab pelapukan batuan.
Besarnya gaya penetrasi persatuan luas ujung sondir (qc) menunjukkan identifikasi
dari jenis tanah dan konsistensinya. Pada tanah pasiran, tahanan ujung lebih besar
daripada tanah butiran halus. Tanah berbutir halus (lempung – lanau), ditentukan
oleh tingkat konsistensi, sedangkan pada tanah berbutir kasar (pasir – kerikil) dapat
ditentukan tingkat kepadatan relatifnya.
Oleh karena penyelidikan tanah yang dilakukan hanya metode uji lapangan
dengan sondir (DCPT/Dutch Cone Penetration Test). Maka, perhitungan daya
dukung dianalisis/dihitung dengan menggunakan data sondir didasarkan atas metode
Schmertmann (1978) untuk perhitungan daya dukung ujung tiang dan untuk
menentukan nilai tahanan gesek/friksi (fs) untuk tanah lempung.
Penjelasan mengenai metode ini diperlihatkan dalam Gambar 2.2 hingga
Gambar 2.5. Hasil-hasil sondir (S-1 hingga S-5) dan analisis perhitungan daya
dukung (S-1 hingga S-5) menggunakan Metode Schmertmann diperlihatkan pada
bagian Lampiran-7. Gambar. 2.6 menunjukkan plot tiang pancang pada
penampang data hasil uji sondir/CPT hingga kedalaman tanah keras, pengukuran
daya dukung tanah berdasarkan sondir ditetapkan yang dimulai dari kedalaman -1m
8
Gambar. 2.6 juga memperlihatkan hasil analisis perhitungan daya dukung dengan
menggunakan tiang pancang diameter 30 cm; 40 cm; dan 50 cm.
Dalam analisis ini, asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Daya dukung tanah timbunan tidak diperhitungkan dengan kedalaman ± 1.00
m, dengan demikian untuk perhitungan daya dukung dimulai dari kedalaman
tersebut.
2. Perhitungan kedalaman tanah ditentukan berdasarkan permukaan tanah asli.

a. Daya Dukung Tiang Pancang Total


Qult  Qp  Qs  q p . Ap  f s . As (2.1)

Dimana :
Qult = daya dukung tiang pancang total
Qp = daya dukung ujung tiang pancang
Qs = daya dukung friksi tiang pancang
qp = rata – rata daya dukung tahanan ujung
Ap = luas penampang tiang
fs = tahanan gesek/friksi
As = luas penampang friksi tiang pancang

2.2.2 Daya Dukung Ujung Tiang Pancang


Qp  q p . Ap (2.2)

qc1  qc 2
qp  (2.3)
2

Dimana :
qc1 = nilai minimum rata-rata tahanan ujung konus (qc), ditentukan 0.7 D
hingga 4 D ke arah bawah dari ujung tip konus (lihat Gambar 2.2).
qc2 = nilai minimum rata-rata tahanan ujung konus (qc), ditentukan 8 D
ke arah atas dari ujung tip konus (lihat Gambar 2.2).

9
Gambar 2.2 Pengambilan nilai-nilai qc1 dan qc2 untuk menentukan nilai qp

2.2.3 Daya Dukung Friksi Tiang Pancang


1. Daya Dukung Friksi Tiang Pancang Dalam Lapisan Pasir
 8B y L 
Qs  f s . As   '   f s . As   f s . As  (2.4)
 y  0 8 B y 8 B 
Dari Persamaan (2.4) diperoleh hasil daya dukung friksi lapisan pasir
berdasarkan:
 ’ = faktor koreksi untuk lapisan pasir, dimana dapat diperoleh
dari Gambar 2.3
y = kedalaman/panjang tahanan sisi tiang yang dihitung/ditentukan
L = panjang tiang
B = panjang sisi penampang tiang

Schmertmann mengusulkan batasan nilai (fs) adalah 1,2 TSF (120 kPa atau
1,20 kg/cm2).

10
Menurut Persamaan (2.4), tahanan friksi:
Qs   p .  L . f s
(2.5)

Gambar 2.3 Nilai α’ dengan rasio letak pondasi (L/D) pada lapisan pasir dengan
menggunakan sondir mekanis

Besaran tahanan friksi ( fs ) adalah sulit untuk memperkirakannya. Dalam


membuat estimasi terhadap besarnya fs beberapa faktor harus dipertimbangkan :
a. Kondisi pelaksanaan pemancangan tiang sesungguhnya di lapangan.
Untuk tiang yang dipancang di pasir, getaran yang diakibatkan
pemancangan akan membantu proses pemadatan di sekeliling tiang. Zona
pemadatan pasir bisa mencapai 2,5 dikalikan B (sisi tiang), khususnya
untuk tanah pasiran di sekeliling tiang.
b. Apabila diamati di lapangan, kondisi variasi nilai fs dapat diperkirakan
sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar 2.4. Besaran tahanan friksi
akan meningkat setidaknya medekati garis linear sesuai dengan
kedalaman / panjang tiang tertentu hingga L’ dan setelah itu akan menjadi
konstan. Besarnya kedalaman kritis L’ bisa mencapai 15 hingga 20 kali
diameter tiang. Secara khusus untuk aplikasi di lapangan bisa dipakai:
L'  15. D

11
c. Pada kedalaman yang sama, besaran friksi ( fs ) pada lapisan pasir lepas
adalah lebih tinggi untuk pergerakan tiang pancang yang besar, bila
dibandingkan dengan pergerakan tiang pancang yang kecil.
d. Pada kedalaman yang sama, tiang-tiang yang dibor atau dibasahi terlebih
dahulu dengan tekanan air akan memiliki besaran tahanan friksi ( fs )
lebih rendah daripada tiang yang dipancang.

Gambar 2.4 Besaran tahanan pasir tiang pancang pada tanah pasiran

Dengan mengambil faktor-faktor yang telah dikemukakan di atas, maka dapat


diperoleh hubungan untuk fs (sesuai dengan Gambar 2.4):

Untuk z = 0 hingga L’:

f s  K .  o' . tan  ' (2.6)

Dimana :
fs = tahanan friksi
K = koefisien tekanan tanah aktif
’o = tekanan tanah aktif pada kedalaman yang dipertimbangkan
δ’ = sudut friksi antara tanah dan tiang pancang

Untuk L’ hingga L :
f s  f s  z L  (2.7)

12
Dalam kenyataannya, parameter K bervariasi terhadap kedalaman, nilai K
bisa didekati degan koefisien tekanan tanah pasif Rankine, Kp, pada bagian atas
tiang, dan nilainya mungkin lebih kecil dariapada tekanan tanah saat ‘at rest’, Ko
pada kedalaman yang lebih besar. Berdasarkan beberapa hasil yang dicapai
sebelumnya, parameter K rata-rata bisa didekati sesuai yang diperlihatkan dalam
Tabel 2.1. untuk digunakan dalam Persamaan (2.6) :

Tabel 2.1. Parameter K terhadap variasi tipe tiang pancang

Variasi nilai ’ dari berbagai penyelidikan berkisar antara 0,50 hingga 0,80 ’
(sudut geser dalam).
Berdasarkan data hasil uji lapangan, Mansur dan Hunter (1970) mendapatkan
nilai K rata-rata sebesar :
1)Tiang H ................................... K = 1,65
2)Tiang pipa baja ...................... K = 1,26
3)Tiang beton pracetak ............. K = 1,50

Coyle dan Castello (1981) mengusulkan nilai Qs dengan nilai K sebagaimana


Gambar 2.5 :

Qs  K .  o' .  0,80  ' . p . L (2.8)

13
Gambar 2.5 Variasi parameter K berdasarkan nilai L/D
(Coyle dan Castello, 1981)

Briaud et al (1985) mengusulkan :

 
0,29
f av  0,224. pa . N60 (2.9)

Dengan demikian,
Qs  f s . L . f av (2.10)

2. Kapasitas Friksi Pada Tiang Pancang Dalam Lapisan Lempung


Nottingham & Schmertmann (1975) and Schmertmann (1978) mengusulkan
nilai tahanan gesek/friksi (fs) untuk tanah lempung dengan nilai  = 0 dinyatakan
sebagai :
f s   ' . fc (2.11)
Dimana :
Nilai fc diperoleh langsung berdasarkan data sondir / CPT (cone penetration
test).

14
Variasi nilai ’ dengan nilai fc diperlihatkan dalam Gambar 2.6 dan Gambar 2.7.

fc
Gambar 2.6 Kurva variasi α’ terhadap nilai tahanan gesek/friksi (friction)
Pa
penetrasi selimut tiang pancang pada lapisan lempung (dalam metode
Schmertmann), dimana Pa adalah tekanan atmosfir sebesar  100 kN/m2 atau 2000
lb/ft2)

Gambar 2.7 Harga koreksi α’ pada friksi tiang dengan penampang bujursangkar

15
2.2.4 Daya Dukung Ijin Tiang Pancang Berdasarkan Data Sondir / DCPT
Qijin ditentukan berdasarkan:
Qu
Qall  = (2.12)
FS
Umumnya FS diambil antara 2,5 sampai 4,0, dan tentunya terhadap kualitas
data yang ada. Pada umumnya untuk Indonesia diambil :

Qu Qp Qs
Q all     (2.13)
FS 3 5

2.2.5 Penurunan Elastis


Penurunan total tiang pancang akibat beban vertikal Qw dapat ditentukan
sebagai berikut :

S e  Se(1)  Se(2)  Se(3) (2.14)

Dimana :
Se(1) = penurunan elastis tiang
Se(2) = penurunan elastis tiang akibat beban tahanan ujung
Se(3) = penurunan elastis tiang akibat beban yang didistribusikan sepanjang
selimut tiang

Jika material seluruhnya dianggap elastis, maka deformasi tiang dapat


dievaluasi. Dengan berdasarkan prinsip dasar mekanika material, maka :

S e (1) 
Q
wp   Qws  . L
(2.15)
Ap . E p

Dimana :
Qwp = beban yang diterima ujung tiang berdasarkan beban ijin tiang pada ujung
tiang.
Qws = beban yang diterima selimut tiang berdasarkan beban ijin tiang pada selimut
Ap = luasan penampang tiang
L = panjang tiang
Ep = modulus elastisitas tiang, untuk tiang beton dapat dilihat dari Tabel 2.2.
 = faktor distribusi per satuan tahanan friksi tiang (fs) sepanjang selimut tiang,
biasanya diambil antara 0,5 hingga 0,67 (diperlihatkan dalam Gambar 2.8).

16
Tabel 2.2 Tabel modulus elastisitas jenis tanah dan bahan tiang pancang
(Bowles, 1977)

Jenis Tanah Modulus Elastisitas (kg/cm2)


Lempung
Sangat Lunak 3-30
Lunak 20-40
Sedang 45-90
Keras 70-200
Berpasir 300-425
Pasir
Berlanau 50-200
Tidak padat 100-250
Padat 500-1000
Pasir dan Kerikil
Padat 800-2000
Tidak padat 500-1400
Lanau 20-200
Loess 150-600
Serpih 1400-14000
Kayu 80.000-100.000
Beton 200.000-300.000
Baja 2.150.000

Gambar 2.8 Variasi tipe dari unit tahanan gesek sepanjang selimut tiang

Penurunan tiang akibat beban pada ujung tiang ditentukan berdasarkan:

1    . I
qwp . B
S e (2)  2
s wp (2.16)
Es
Dimana :
B = lebar

17
Qwp
qwp = beban yang diterima tiang per satuan luas ujung tiang =
Ap

Es = modulus elastisitas tanah di bawah ujung tiang


s = angka rasio Poisson tanah
Iwp = faktor pengaruh bentuk ujung tiang  0,85

Modulus Young didapat dari nilai perkerasan modulus elastisitas tanah


menurut Bowles (1977) bahwa jenis tanah lempung lunak, Es = 15 s/d 40 atau
menurut referensi Mekanika Tanah (Das, 1985), yaitu :
E = 2 . qc (kg/cm2) (untuk pasir bersih)
E = (2,0 hingga 3,0) . qc (untuk pasir berlempung atau pasir berlanau)
E = (2,0 hingga 8,0) . qc (untuk lempung)

Atau menggunakan Tabel 2.3. dan atau Tabel 2.4.

Tabel 2.3 Beberapa nilai modulus elastisitas tanah menurut Bowles (1977)
Jenis Tanah Es (Mpa)
Lempung
sangat lunak 2-15
Lunak 5-25
Sedang 15-40
Keras 50-100

Catatan:
1. Konversi gaya:
1 kg = 9,807 N = 9,807 . 10-3 kN
1 ton = 1000 kg = 9,807 kN
2. Konversi tegangan/tekanan:
1,0 t/ft2 = 1,0 kg/cm2 = 1 Atmosphere (atm) = 10,0 t/m2
= 100 kPa = 100 kN/m2 = 0,10 MPa

Vesic (1977) mengusulkan metode semi empiris untuk menentukan besarnya


penurunan untuk Se(2), yaitu :
Qwp . C p
S e (2)  (2.17)
D . qp

18
Dimana :
qp = tahanan ultimit ujung tiang
Cp = koefisien empiris, nilai-nilai diperlihatkan dalam Tabel 2.5.

Tabel 2.4 Beberapa nilai modulus elastisitas tanah menurut (CGS (1978) and Lambe
and Whitman (1969))
Material Young Modulus E** (kg/cm2) Poisson Ratio,  ***
Soils
Clay
Soft sensitive 20 – 40 (500Su)
Firm to stiff 40 – 80 (1000Su) 0,4 – 0,5
Very stiff 80 – 200 (1500Su) (undrained)
Loess 150 – 600 0,1 – 0,3
Silt 20 – 200 0,3 – 0,35
Fine sand
Loose 80 – 120
Medium dense 120 – 200 0,25
Dense 200 – 300

Sand
Loose 100 – 300 0,2 – 0,35
Medium dense 300 – 500
Dense 500 – 800 0,3 – 0,4

Gravel 300 – 800


Loose 800 – 1000
1000 – 2000
Rocks
Sound, intact igneous 6 – 10 . 103
rock and metamorphics
Sound, intact 4 – 8 . 105
sandstone and limestone
Sound, intact shale 1 – 4 .105
Coal 1 – 2 . 105

Other Material
Wood 1,2 – 1,5 . 105
Concrete 2 – 3 . 105 0,15 – 0,25
Ice 7 . 105 0,36
Steel 21 . 105 0,28 – 0,29
*After CGS (1978) and Lambe and Whitman (1969)
** Es (soil) usually taken as secant modulud between a deviator stress of 0 and 1/3 to ½ peak
deviator stress in the triaxial test (Lambe and Whitman, 1969). E r (rock) usually taken as the initial tangent
modulus (Farmer, 1968). Ec (clays) is the slope of consolidation curve when plotted on linear h/h versus p
plot (CGS, 1978).

*** Poisson’s ratio for soils is evaluated from the ratio of lateral strain to axial strain during triaxial
compression test with axial loading. Its value varies the strain level and becomes constant only at large strains
in the failure range (Lambe and Whitman, 1969). It is generally more constant under cyclic loading
cohesionless soils with range from 0,25 – 0,35 and cohesive soils from 0,4 – 0,5.

Tabel 2.5 Nilai-nilai Cp (Vesic, 1977)


Jenis tanah Tiang pancang Tiang bor
Pasir (padat hingga lepas) 0,02 – 0,04 0,09 – 0,18
Lempung (kaku hingga lunak) 0,02 – 0,03 0,03 – 0,06

19
Lanau (padat hingga lepas) 0,03 – 0,05 0,09 – 0,12

Penurunan elastis akibat beban yang didistribusikan sepanjang selimut tiang


diberikan oleh Persamaan 2.18 berikut :
Q  B
S e (3)   ws  . 1  s2  . I ws (2.18)
 p . L  Es
Dimana :
p = keliling penampang tiang
L = panjang total tiang
Iws = faktor pengaruh yang ditentukan sebagai :

L
I ws  2  0.35 (2.19)
B
Qws
Perlu dicatat bahwa adalah nilai rata-rata fs sepanjang tiang.
p.L
Vesic (1977) juga mengusulkan hubungan empiris untuk penurunan elastis
Se(3) :
Qws . Cs
S e (3)  (2.20)
L . qp

Dimana :
Cs = konstanta empiris yang besarnya:

 L
Cs   0,93  0,16  . Cp (2.21)
 D 

2.2.6 Daya Dukung Lateral


1. Aplikasi Metode Elastis
Untuk menentukan variasi defleksi; distribusi momen; dan gaya geser di
seluruh panjang tiang saat dibebani beban / gaya lateral dapat diselesaikan dengan
solusi teori elastisitas (Gambar 2.10). Bila telah diketahui panjang tiang L yang
telah memikul beban lateral Qg dan momen yang bekerja di permukaan tanah (z = 0)
sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar 2.11.a. Gambar 2.11.b menunjukkan
bentuk umum tiang yang mengalami defleksi dan tahanan tanah akibat beban dan
momen yang bekerja.

20
Gambar 2.10 Kondisi alami tiang yang mengalami beban/gaya lateral yang
mengakibatkan defleksi; momen; gaya geser untuk tiang kaku/pendek dan tiang
elastis/panjang

21
Gambar 2.11 (a) Tiang yang mengalami beban/gaya lateral; (b) tahanan
tanah yang mengalami beban lateral; (c) perjanjian tanda untuk pergeseran; putaran
sudut; momen; geser; dan reaksi tanah.

Berdasarkan model Winkler, suatu medium elastis (lapisan tanah) dapat


digantikan dengan suatu deret atau model pegas tak terbatas. Maka dapat
diasumsikan sebagai :
p '  kN / m ' atau lb / ft 
T  (2.22)
x  m atau ft 

Dimana :
k = modulus reaksi tanah dasar
p’ = tekanan tanah
x = defleksi

Modulus reaksi tanah dasar untuk lapisan pasiran pada kedalaman z dapat
ditentukan sebagai berikut :
k z  h . z (2.23)

dimana h adalah konstanta modulus reaksi tanah dasar.


22
Berdasarkan Gambar 2.12 dan dengan menggunakan teori balok pada
pondasi elastis, diperoleh :

d 4x
Ep . I p 4  p ' (2.24)
dz

Dimana :
Ep = modulus elastisitas material tiang
Ip = momen inersia penampang tiang

Berdasrkan Winkler model dapat ditunjukkan sebagai :


p'   k.x (2.25)

Tanda negatif di atas adalah menunjukkan reaksi tanah dalam arah


berlawanan dengan arah defleksi tiang. Dari Persamaan (2.24) dan Persamaan
(2.25) memberikan hasil :

d 4x
Ep . I p  k.x  0 (2.26)
dz 4

Persamaan (2.20) menghasilkan solusi untuk: (defleksi); (putaran sudut);


momen; gaya geser; dan reaksi tanah pada setiap kedalaman yang ditinjau (z),
lebih lanjut akan diuraikan berikut ini.
Metode non-dimensional untuk analisis beban lateral terhadap tiang elastis
berdasarkan penelitian oleh Reese dan Matlock (1956). Untuk tiang yang sangat
panjang, panjang,nilai L akan berkurang pengaruhnya akibat defleksi yang semakin
mendekati nol sesuai panjang tiang. Apabila asumsi sifat elastis diterapkan terhadap
tiang, dan defleksi terlampau kecil apabila dibandingkan dengan panjang tiang, maka
pondasi tiang yang dibebani secara lateral dapat bergerak secara elastis sesuai beban
yang diterima. Perbedaan defleksi antara tiang pendek yang kaku dan tiang panjang
yang elastis dapat dilihat pada Gambar 2.12 .

23
Gambar 2.12 Defleksi pada pondasi tiang pendek (kaku) dan pondasi tiang
panjang (elastis)

a. Tanah pasiran
Momen dan perpindahan dari suatu pondasi tiang yang tertanam di tanah
pasiran berdasarkan beban lateral dan momen yang terjadi di permukaan tanah
ditentukan oleh metode umum oleh Matlock dan Reese (1960). Pada Gambar 2.13
dapat dilihat pondasi tiang dengan panjang L diberikan gaya lateral Qg dan Momen
Mg pada permukaan tanah (z = 0).

24
Gambar 2.13 Beban lateral dan momen pada pondasi tiang

Defleksi pada tiang (xz) :


Qg .T 3 M g .T 2
X z  z   Ax  Bx (2.27)
Ep . I p Ep . I p

Tekuk pada tiang (θz) :


Qg .T 3 M g .T
 z  z   A  B (2.28)
Ep . I p Ep . I p

Momen pada tiang (Mz) :

M z z   Am . Qg .T  Bm . M g (2.29)

Gaya geser pada tiang (Vz) :


Mg
Vz  z   Av . Qg  Bv . (2.30)
T
Reaksi pada tanah (p’z) :
Qg Mg
p 'z  z   Ap ' .  Bp ' . (2.31)
T T2

25
Karakteristik panjang tiang :

Ep . I p
T 5 (2.32)
h
Dimana :
Ep = Modulus elastisitas tiang
Ip = Momen inersia penampang tiang
Qg = Beban lateral
Mg = Momen
z = kedalaman
k
ηh = = modulus konstan reaksi tanah
z
k = Modulus reaksi tanah dalam arah horizontal

Ax, Bx, Aθ, Bθ, Am, Bm, Av, Bv, Ap’, Bp’ adalah koefisien pada Tabel 2.6. atau
Gambar 2.14 dan Gambar 2.15

Dimana :
z
Z  (2.33)
T

26
Tabel 2.6. Koefisien untuk Tiang Panjang Vertikal pada tanah pasiran
dengan asumsi kz = ηh . z (ηh bisa dilihat dai Tabel 2.7.)

Sumber : Drilled Pier Foundations, by R. J. Woodward, W. S. Gardner, and


D. M. Greer. Copyright 1972 MCGraw-Hill. Used with permission of the McGraw-
Hill Book Company

27
Gambar 2.14 Koefisien Ax dan Am pondasi tiang (Broms, 1964)

28
Gambar 2.15 Koefisien Bx dan Bm pondasi tiang (Broms, 1964)

29
b. Tanah lempung
Menurut Davidson dan Gill (1963), persamaan solusi elastis untuk tiang yang
tertanam di tanah granular menyerupai dengan persamaan solusi elastis untuk tiang
yang tertanam di tanah kohesif.

Defleksi pada tiang (xz) :


Qg . R3 M g . R2
X z  z   A 'x .  B 'x . (2.34)
Ep . I p Ep . I p

Momen pada tiang :

M z  z   A 'm . Qg . T  B 'm . M g (2.35)

Karakteristik panjang tiang :

Ep . I p
R 4 (2.36)
k
Dimana :
Ep = Modulus elastisitas tiang
Ip = Momen inersia penampang tiang
Qg = Beban lateral
Mg = Momen
z = Kedalaman
k = Modulus reaksi tanah dalam arah horizontal

Nilai A’x, B’x, A’m, dan B’m diambil berdasarkan grafik pada Gambar 2.16

30
Gambar 2.16 Nilai A’x, B’x, A’m, dan B’m (Davidson dan Gill, 1963)

Dimana :
z
Z (2.36)
R
Suatu tiang vertikal yang menahan beban / gaya lateral akibat mobilisasi
tekanan tanah pasif di sekeliling tiang (Gambar 2.17). Derajat distribusi reaksi tanah
bergantung: (a) nilai kekakuan tiang; (b) nilai kekakuan tanah; (c) model / tipe
pengekangan (terjepit atau bebas) pada ujung tiang.

31
Gambar 2.17 Kondisi tiang yang menahan beban / gaya lateral

Untuk tiang yang dibebani secara lateral, Broms (1965) mengembangkan


suatu metode yang sederhana berdasarkan asumsi-asumsi: (a) keruntuhan geser
tanah, terutama untuk kasus-kasus tiang pendek, dan (b) kelenturan tiang yang
diakibatkan oleh keruntuhan tahanan batas plastis pada penampang tiang, dimana
diaplikasikan untuk tiang panjang.

2.2.7 Penentuan Kriteria Tiang Panjang dan Tiang Pendek

Untuk menghitung daya dukung lateral, perlu diketahui jenis tiang pondasi,
yaitu tiang pendek dan panjang. Dalam setiap kasus, klasifikasi tiang pendek dan
panjang harus diperiksa terlebih dahulu. Pondasi tiang individu terdiri dari dua
klasifikasi yaitu pondasi tiang pendek dan pondasi tiang panjang, yaitu :

32
1. Berdasarkan kekakuan relatif R atau T untuk lapisan pasiran :

Ep . I p
T  5
h
(2.37)

Dimana :
Ep = modulus elastisitas tiang
ηh = koefisien variasi modulus (diperlihatkan dalam Tabel 2.7)
1
Ip  . b . h3 untuk penampang segiempat
12
1
Ip  .  . R 4 untuk penampang lingkaran
2

Tabel 2.7 Nilai untuk parameter ηh (lapisan pasir)


Jenis tanah h
kN/m3 lb/in3
Pasir kondisi kering / asli
Lepas 1800 – 2200 6,5 – 8,0
Medium 5500 – 7000 20 – 25
Padat 15.000 – 18.000 55 – 65
Pasir jenuh
Lepas 1000 – 1400 3,5 – 5,0
Medium 3500 – 4500 12 – 18
Padat 9000 – 12000 32 – 45

Catatan konversi :
1 ton/m3 = 1000 kg/m3 = 1 gr/cm3 = 10-3 kg/cm3 = 9,807 kN/m3
1 kN/m3 = 1/9.807 *10-3 = 1,02 . 10-4 kg/cm3

Kriteria untuk tiang pancang pendek dan atau panjang diperlihatkan dalam Tabel
2.8.

Tabel 2.8. Kriteria tiang pendek dan panjang (lapisan pasir)


Jenis tiang Modulus tanah

Kaku (pendek) L≤2T L≤2R

Elastis (panjang) L≥4T L ≥ 0,35 R

Sumber : Paulus, 2005

33
2. Berdasarkan parameter  untuk lapisan lempung :

Pada tiang dengan kepala bebas, tiang panjang jika β (L) > 2,5 dan tiang
pendek jika  (L) < 2,5. Pada tiang dengan kepala terjepit, tiang panjang jika  (L) >
1,5 dan tiang pendek jika  (L) < 1,5. Parameter K diperlihatkan dalam Tabel 2.9.

Parameter  dapat ditentukan sebagai:

K .D
 4 (2.38)
4 . Ep . I p

Tabel 2.9. Parameter K berdasarkan nilai kuat tekan bebas (qu) lapisan lempung
Kuat tekan bebas (qu) K
kN/m2 Lb/in2 kN/m 3
Lb/in3
200  30 10.000 – 20.000 37 – 75
200 - 800 30 – 120 20.000 – 40.000 75 – 150
 800  120  40.000  150

Dari beberapa korelasi Sondir dan N-SPT dapat dinyatakan sebagai :

qc  4 . N (2.39)

Sehingga nilai qu bisa didekati dengan menggunakan Tabel 2.10. :

Tabel 2.10. Parameter qu untuk tanah kohesif dan non-kohesif


Cohesionless Soil
N 0-10 11-30 31-50 >50
Unit Weight ɣ, kN/m3 12-16 14-18 16-20 18-23
Angle of Friction ϕ 25-32 28-36 30-40 >35
State Loose Medium Danse Very Dense
Cohesive
N <4 4-6 6-15 16-25 >25
Unit Weight ɣ, kN/m3 14-18 16-18 16-18 16-20 >20
qu, kPa <25 20-50 20-50 40-200 >100
Consistency Very Soft Soft Medium Stiff Hard

34
2.2.8 Daya Dukung / Tahanan Lateral Ultimit (Qu(g))

Solusi-solusi Brom untuk menghitung tahanan, untuk tiang-tiang pendek


diperlihatkan dalam Gambar 2.18.a untuk tiang-tiang yang diletakkan pada lapisan
pasir. Solusi yang sama untuk tiang-tiang yang diletakkan dalam lapisan tanah
kohesif diperlihatkan Gambar 2.18.b.

Gambar 2.18 Solusi Brom untuk menentukan tahanan lateral ultimit untuk
tiang pendek (short pile) pada: lapisan pasir (a) dan lempung (b)

 
Kp = koefisien tekanan tanah pasif dari Rankine = tan  45 
2
 (2.40)
 2
0, 75. qu 0, 75 . qu
cu = kohesi undrained    0,375 . qu (2.41)
FS 2

Parameter kohesi (c), nilai kohesi secara empiris dapat ditentukan dari data
sondir :

qc
cu  (2.42)
20

35
Parameter cu juga bisa diambil dari Begeman (1965), sebagaimana terlihat
dalam Tabel 2.11.
Tabel 2.11. Parameter cu pada lapisan tanah lempung
Konsistensi tanah Tekanan Konus qc Undrained Cohesion
(kg/cm2) (T/m2)
Very Soft <2,50 <1,25
Soft 2.50-5,0 1,25-5,0
Medium Stiff 5,0-10,0 2,50-5,0
Stiff 10,0-20,0 5,0-10,0
Very Stiff 20,0-40,0 10,0-20,0
Hard <40,0 >20,0

Dimana :
FS = Faktor keamanan diambil 2,0
qu = Nilai kuat tekan bebas

Gambar 2.19. menunjukkan analisis Brom tiang panjang. Dalam gambar


tersebut, momen batas lentur batas tiang adalah:

M  S . Fy (2.43)

Dimana :

S = modulus penampang, contoh untuk tiang bulat adalah: S   . D


3

32
Fy = tegangan batas tiang beton  400 . 103 kN/m2 = 4000 kg/cm2

Sebagai catatan bahwa dalam Gambar 2.18 dan Gambar 2.19 , Qu(g) adalah
daya dukung / tahanan lateral batas (ultimit). Untuk mengontrol daya dukung /
tahanan lateral ijin (Q(g)) berdasarkan persyaratan defleksi maksimum yang diijinkan
digunakan Gambar 2.20.

Besarnya defleksi kepala tiang, xz (z = 0), pada beban kerja lateral dapat
ditentukan dari Gambar 2.18.a dan Gambar 2.18.b adalah untuk tanah pasiran dan
tanah lempung, parameter dapat ditentukan sebagai :

nh
 5 (2.44)
Ep . I p

36
Kisaran nilai nh untuk tanah berbutir (lapisan pasiran) diberikan dalam Tabel 2.7.

Untuk tanah lempung sebagaimana terlihat dalam Gambar 2.18.b ,


parameter K adalah nilai modulus tanah horizontal dan dapat ditentukan sebagai :

pressure  kN / m2 atau lb / in 2 
K (2.45)
displacement  m atau inchi 

Parameter  dapat ditentukan menggunakan Persamaan (2.38).

Tabel 2.12. Berat volume jenis tanah (Bowless, 1977)


Jenis tanah sat dry
kN/m3 kg/cm3 (kN/m3) kg/cm3
Kerikil 20 – 23 0,0020 – 0,0023 15 – 17 0,0015–0,0017
Pasir 18 – 20 0,0018 – 0,0020 13 – 16 0,0016–0,0013
Lanau 18 – 20 0,0018 – 0,0020 14 – 18 0,0014–0,0018
Lempung 16 – 22 0,0016 – 0,0022 14 – 21 0,0014–0,0021

Dan, Tabel 2.13 memperlihatkan beberapa nilai sudut geser dalam


(Meyerhoff, 1965).

Tabel 2.13. Sudut geser dalam () untuk tanah pasiran


Kepadatan Relatif Density Nilai N SPT Tekanan Konus qc Sudut Geser
(ɣd) (kg/cm2) (φ)
Very Loose <0,2 <4 <20 <30
(sangat lepas)
Loose (lepas) 0,2-0,4 4-10 20-40 30-35
Medium Dense 0,4-0,6 10-30 40-120 35-40
(agak kompak)
Dense (kompak) 0,6-0,8 30-50 120-200 40-45
Very Dense 0,8-0,10 >50 >200 >45
(sangat kompak)

37
2.2.9 Kontrol Tahanan Lateral Ijin (Q(g)) Terhadap Defleksi Horizontal
Kepala Tiang

Pada perencanaan pondasi, besarnya defleksi atau lendutan di kepala tiang


akibat gaya horizontal maksimal 1,27 cm (1/2 inci) kecuali ditetapkan lain oleh
Kepala Dinas Pengawasan Pembangunan Kota (Peraturan DKI-Jakarta No.7 Tahun
1991 Tentang Bangunan Dalam Wilayah DKI-Jakarta, Paragraf 4 (Struktur Bawah),
Pasal 147.

38
Gambar 2.19 Solusi Brom untuk menentukan tahanan lateral ultimit untuk tiang
panjang tunggal (long pile) pada: lapisan pasir (a) dan lempung (b)

39
Gambar 2.20 Solusi Brom untuk menentukan defleksi untuk kepala tiang tunggal
pada: lapisan pasir (a) dan lempung (b)

40
2.3 Analisis Kelompok / Grup Tiang Pancang
2.3.1 Ketentuan Perencanaan Pondasi Dalam Permen PUPR No.
05/PRT/M/2007
Beberapa ketetapan yang perlu mendapat perhatian khusus :
1. Jarak dari tiang-tiang harus dipertimbangkan terhadap kondisi dari tanah dan
harus dipilih dengan memperhatikan pemadatan dan metode
pemasangan/pelaksanaannya. Jarak tiang harus diukur dari as ke as. Untuk
tiang-tiang yang paralel, jarak minimum tiang adalah 5 kali diameter atau
jarak terkecil dari tiang. Bila kepala tiang tergabung dalam suatu kumpulan
kepala tiang (pile-cap) beton, jarak dari satu sisi tiang ke tepi terdekat dari
kumpulan kepala tiang, tidak boleh kurang dari 250 mm. Kepala tiang harus
tertanam ke dalam beton tidak kurang dari 300 mm sesudah semua material
yang rusak akibat pemancangan dibuang. Untuk tiang-tiang beton harus
dibuat kait angkur atau pembesian yang diperpanjang ke dalam pile-cap
beton, maka masuknya kepala tiang dapat dikurangi sampai 100 mm.
Penurunan dari tiang-tiang yang dibebani secara aksial dan grup tiang pada
beban yang diijinkan harus diperhitungkan. Analisis elastis, cara transfer
beban dan/atau cara elemen hingga dapat digunakan. Penurunan dari tiang
atau grup tiang tidak boleh melebihi batas pergerakan struktur yang diijinkan.
Untuk perhitungan pergerakan tiang sebagaimana dalam SK SNI T-15-1993-
03.
2. Tahanan lateral tiang ditentukan oleh uji beban lateral, secara empiris atau
secara teoritis. Tahanan lateral tiang dari suatu kelompok tiang dapat diambil
sebagai jumlah komponen horisontal dari gaya dalam tiang-tiang miring dan
tahanan tanah pasif sekeliling kelompok tiang. Sebagai alternatif diberikan
rumusan untuk menghitung tahanan lateral ultimit dari satu tiang berkepala
bebas di dalam tanah kohesif dan non kohesif. Pada kelompok tiang,
pengaruh kelompok tiang.perlu diperhitungkan pula.
3. Pada keadaan batas ultimit, gesekan permukaan negatif tidak terfaktor yang
disebabkan oleh gaya negatif tiang-tiang polos (tidak dilapisi) dianggap sama
dengan 1,25 kali kekuatan tanah terfaktor. Satu rumusan untuk menghitung
gaya tarik gesekan negatif rencana; cara pencegahan/pengurangan gesekan
negatif; dan penjelasan mengenai panjang tiang di mana gesekan permukaan
negatif terjadi, dijelaskan dalam SK SNI T-15-1993-03. Gaya tarik gesekan
41
negatif terfaktor harus ditambahkan pada beban mati vertikal terfaktor yang
diaplikasikan pada pondasi dalam sewaktu menilai kapasitas dukung tiang.
4. Penurunan dari grup tiang dapat ditentukan dengan analisis teori dengan
menggunakan data investigasi lapangan. Lendutan lateral dan rotasi suatu
grup tiang vertikal dengan memperhatikan kondisi modulus tanah yang
seragam atau yang meningkat secara linier terhadap kedalaman dapat
dihitung dengan rumus-rumus yang tersedia.

2.3.2 Analisis Tiang Grup


Pada umumnya jarang pondasi tiang digunakan sebagai tiang tunggal,
melainkan berupa gabungan dari beberapa tiang yang disebut dengan tiang kelompok
(pile-group). Di atas pile-group, biasanya diletakkan suatu konstruksi kepala tiang
pile-cap (poer) yang mempersatukan kelompok tiang tersebut. Dalam perhitungan-
perhitungan pile-cap dianggap / dibuat kaku sempurna, sehingga:
1. Bila beban-beban yang bekerja pada kelompok tiang tersebut menimbulkan
penurunan maka setelah penurunan bidang pile-cap tetap akan merupakan
bidang datar.
2. Gaya-gaya yang bekerja pada tiang berbanding lurus dengan penurunan
tiang-tiang tersebut.

a. Jumlah Tiang Pondasi (n)


Jumlah tiang pondasi merupakan banyaknya tiang dalam memikul beban per
kolom. Banyaknya tiang pondasi dapat diperoleh dari beban yang dipikul pondasi
(P) dibagi dengan daya dukung ijin pondasi. Perhitungan jumtah tiang yang
dipertukan pada suatu titik kotom menggunakan beban aksiat dengan kombinasi
beban DL + LL (beban tak terfaktor).
P
np  (2.46)
Pall
Dimana :
np = jumlah tiang
P = gaya aksial yang terjadi atau beban vertikal yang bekerja (Q)
Pall = daya dukung ijin tiang (Qall)

42
b. Efisiensi Kelompok / Grup Tiang
Meskipun pada tiang yang berdiameter besar atau untuk beban yang ringan
sering digunakan pondasi tiang tunggal untuk memikul beban kolom atau beban
struktur, namun pada lazimnya beban kolom struktur atas dapat pula dipikul oleh
suatu kelompok tiang. Perhitungan jumlah tiang diperhitungkan dalam angka
efisiensi, hal ini dikarenakan dalam sistem kelompok tiang, baik pada ujung maupun
pada keliling tiang akan terjadi overlapping daerah yang mengalami
tegangan‑tegangan akibat beban kerja struktur (Gambar 2.21 dan Gambar 2.22).
Overlapping tegangan yang terjadi akan memperbesar tegangan keliling di sekitar
tiang. Hal ini menguntungkan untuk pondasi pada tanah pasiran, karena daya
dukungnya akan meningkat sebagaimana lapisan pasiran pada proyek ini.

Gambar 2.21 Tegangan di bawah ujung tiang tunggal dan kelompok tiang

43
Gambar 2.22 Overlapping daerah tegangan sekitar kelompok tiang

Kebanyakan peraturan bangunan gedung mensyaratkan jarak minimum


antara tiang sebesar 2 kali diameter, sedangkan jarak optimal antara tiang adalah 2.5
‑ 3.0 kali diameter. Berbagai konfigurasi grup tiang diperlihatkan dalam Gambar
2.23. Untuk pondasi yang memikul beban lateral yang besar, maka dianjurkan jarak
yang lebih besar. Tiang tahanan gesek pada tanah pasiran dengan jarak tiang sekitar
2.0 B ‑ 3.0 B akan memiliki daya dukung lebih besar daripada jumlah total daya
dukung individual tiang. Untuk tiang tahanan friksi tanah lempung, geser blok di
sekeliling kelompok tiang ditambah dengan daya dukung ujung besarnya tidak boleh
melebihi jumlah total daya dukung tiap-tiap tiang.

44
Gambar 2.23 Pola susunan tiang pancang; (s = jarak antar tiang)
(Wayne, Foundation Design)

Pengurangan daya dukung kelompok tiang yang disebabkan oleh grup


biasanya dinyatakan dalam suatu angka efisiensi. Efisiensi daya dukung grup tiang
dapat ditentukan sebagai :
Qg (u )
 (2.47)
Q u

Dimana :
 = efisiensi grup
Qg(u) = daya dukung ultimit grup tiang
Q(u) = daya dukung tiap-tiap tiang tanpa pengaruh grup tiang

Untuk lapisan tanah pasiran sebagaimana pada proyek ini, analisis dapat
dijelaskan dengan bantuan Gambar 2.24 . Bergantung dengan jarak tiang dalam
grup, semua tiang bisa :

45
1)Dianggap sebagai blok dengan dimensi Lg x Bg x L, maka kapasitas tahanan
friksi blok :
f av . pg . L  Qg u  (2.48)

dimana:
pg = keliling selimut penampang blok atau bisa dirumuskan secara
sederhana :
pg  2  n1  n2  2  d  4 B
(2.49)

fav = tahanan friksi rata-rata

2)Dianggap sebagai tiang tunggal, maka:


Qu   p . L . f av (2.50)

Dimana :
p = keliling selimut setiap tiang

Dengan demikian,
Qg (u ) f av  2  n1  n2  2  d  4 B  L
 
Q u n1 . n2 . p . L . f av
(2.51)
2  n1  n2  2  d  4 B

p . n1 . n2
 2  n1  n2  2  d  4 B 
Qg u     .  Qu (2.52)
 p . n1 . n2 

Dari Persamaan (2.51), jika jarak as ke as (d) adalah cukup kecil maka  <
1, maka bisa dianggap sebagai tiang tunggal. Dengan demikian, jika  < 1, maka:

Qg u   .  Qu (2.53)

Dan sebaliknya, bila  ≥ 1,

Qg u    Qu (2.54)

46
Gambar 2.24 Grup tiang pada lapisan tanah pasiran

Perhitungan efisiensi kelompok tiang berdasarkan rumus berikut dan Tabel


2.14 :
a)Formula sederhana:
2  m  n  2 s  4 B
Eg  (2.55)
p.m.n
dimana :
m = Jumlah tiang pada deretan baris.
n = jumlah tiang pada deretan kolom.
s = jarak antar tiang.
B = diameter atau sisi tiang
p = keliling dari penampang tiang

47
b) Converse – Labbarre dari Uniform Building Code AASHTO (Gambar
2.25) :
  n  1 m   m  1 n 
Eg  1    
 90 . m . n 
Dimana :
Eg = efisiensi kelompok tiang
 = arc tan (D/s) (o / derajat)
s = jarak antar tiang (as ke as)
D = ukuran penampang tiang
m = jumlah tiang dalam 1 kolom
n = jumlah tiang dalam 1 baris

Gambar 2.25 Efisiensi kelompok tiang (Converse – Labbarre)

48
c) NAVFAC DM 7.2 (1982)

Gambar 2.26 Efisiensi kelompok tiang pada tanah kohesif (NAVFAC DM 7.2
(1982)

Tabel 2.14. Perbandingan beberapa angka efisiensi () grup tiang

49
Sebagai pedoman dalam desain proyek ini efisiensi kelompok tiang pada
tanah pasiran :
Pada tiang pancang baik pada tiang tahanan gesek maupun tiang tahanan ujung
dengan jarak S ≥ 3.0 B, daya dukung kelompok tiang dapat diambil sama besar
dengan jumlah daya dukung masing‑masing tiang (Eg = 1).
(1.) Pada tiang pancang tahanan gesek S < 3.0 D, gunakan salah satu formula
di atas.
(2.) Tentukan apakah keruntuhan blok akan terjadi. Umumnya bila jarak antar
tiang cukup besar, keruntuhan tidak ditentukan oleh blok. Keruntuhan blok hanya
terjadi bila jarak antara tiang cukup rapat (S < 2 D), sehingga umumnya tidak
terjadi masalah.
(3.) Kapasitas dukung sementara kelompok tiang pada tanah lempung turun
sebagai akibat tekanan air pori yang timbul saat pemancangan. Efisiensi
kelompok sementara dapat turun hingga 0.4 ‑ 0.8 tetapi akan meningkat terhadap
waktu.
(4.) Kelompok tiang dalam tanah pasiran mencapai kapasitas maksimum sesaat
sesudah pemancangan karena tekanan air pori segera hilang. Efisiensi kelompok
umumnya lebih besar dari 1.0. Untuk desain dapat digunakan angka Eg = 1.2 pada
tiang pancang.

3. Daya Dukung Kelompok / Grup Tiang


Daya dukung batas kelompok tiang pada tanah lempung didasarkan pada aksi
blok yaitu bila kelompok tersebut berperan sebagai blok (Gambar 2.27).

50
Gambar 2.27 Kelompok tiang sebagai pondasi blok

Daya dukung kelompok tiang dihitung sebagai berikut :


a. Tentukan jumlah total kapasitas kelompok tiang, yaitu:

Q u  m . n  Qp  QS 
(2.56)
 m . n  Ap . 9 . cu  p  
  . c u . p .  L

b. Tentukan daya dukung blok berukuran Lg x Bg x D

Q u  Lg . Bg . cu p . Nc*   2 L g . Bg  . cu .  L (2.57)

dimana :
Lg = panjang blok (grup)

Bg = lebar blok (grup)

p = keliling
 L = panjang segmen tiang

N c* = Ditentukan berdasarkan Gambar 2.28.

51
c. Bandingkan kedua besaran di atas, harga daya dukung diambil nilai yang
lebih kecil.

*
Gambar 2.28 Variasi parameter N c terhadap Lg / Bg dan L / Bg

Secara umum di dalam proyek ini, panjang tiang diambil (L = 11,0 m) yang
mencapai lapisan tanah pasiran (end bearing pile) dengan jarak antar tiang (S) ≥ (2 –
3 B).

2.3.3 Beban Maksimum Tiang Pada Kelompok Tiang


1. Analisis Terhadap Beban Statis
Akibat beban-beban dari atas dan juga dipengaruhi oleh formasi tiang dalam
satu kelompok tiang, tiang-tiang akan mengalami gaya tekan dan atau tarik. Oleh
karena itu tiang-tiang harus dikontrol untuk memastikan bahwa masing-masing tiang
masih dapat menahan beban dari struktur atas sesuai dengan daya dukungnya. Beban
aksial dan momen yang bekerja akan didistribusikan ke pile-cap dan kelompok tiang
berdasarkan rumus elastisitas dengan menganggap bahwa pile-cap kaku sempurna,
sehingga pengaruh gaya yang bekerja tidak menyebabkan pile-cap melengkung atau
deformasi.

52
Pu M y . X maks M x . Ymaks
Pmaks    (2.58)
np ny .  x 2 nx .  y 2

Dimana :
Pmaks = beban maksimum tiang
Pu = beban aksial yang terjadi (terfaktor)
My = momen yang bekerja tegak lurus sumbu Y
Mx = momen yang bekerja tegak lurus sumbu X
Xmaks = jarak tiang ke sumbu-X terjauh
Ymaks = jarak tiang ke sumbu-Y terjauh
x2 = jumlah kuadrat X
y2 = jumlah kuadrat Y
nx = jumlah tiang dalam sumbu X
ny = jumlah tiang dalam sumbu Y
np = jumlah total tiang

Bila P maksimum yang terjadi bernilai positif, maka tiang mendapatkan gaya
tekan. Bila P maksimum yang terjadi bernilai negatif, maka tiang mendapatkan gaya
tarik. Dari hasil-hasil tersebut dapat dilihat apakah masing-masing tiang masih
memenuhi daya dukung tekan dan/atau tarik bila ada.

2. Analisis Terhadap Beban Dinamis


Peristiwa gempa merupakan suatu peristiwa acak yang tidak dapat
diramalkan secara tepat waktu, besar dan lokasi kejadiannya. Analisis kegempaan
hanya dapat dilakukan dengan memperkirakan berapa probabilitas terjadinya gempa
di suatu daerah dengan intensitas tertentu selama periode ulang tertentu. Analisis
beban dinamis meliputi: (a) Analisis kegempaan dengan menggunakan SNI 1726 –
2012; (b) Analisis potensi likuifaksi dengan menggunakan metode Seed; (c) Analisis
beban horizontal berdasarkan SNI 1726 – 2012.

a. Analisis kegempaan
Gempa rencana dalam perancangan struktur gedung ini ditetapkan sebagai
gempa yang kemungkinan terlewati besarannya selama umur struktur bangungan 50
tahun adalah sebesar 2 persen (SNI 1726 – 2012).

53
Sesuai Tabel 1 SNI 1726-2012, untuk berbagai resiko struktur bangunan
gedung dan non gedung sesuai dengan Tabel 2.15. pengaruh gempa rencana
terhadapnya harus dikalikan dengan suatu faktor keutamaan Ie menurut Tabel 2.16.
Gempa bumi menurut M.T.Zen (Rahardjo, 1992) didefinisikan sebagai
getaran/guncangan tiba-tiba atau rentetan gerakan tiba-tiba dari tanah atau batuan
yang bersifat transient atau acak, gerakan tersebut berasal dari suatu daerah terbatas
menyebar ke segala arah karena dirambatkan oleh medium yang ada (lapisan bumi).
Katili (1966) mendefinisikan gempa sebagai suatu sentakan asli yang terjadi di bumi,
bersumber dari dalam bumi yang kemudian merambat ke permukaan. Kedua definisi
di atas memberikan beberapa hal pokok, yaitu bahwa dalam peristiwa gempa: (1)
getaran terjadi tiba-tiba, (2) ada sumber gempa dan (3) ada perambatan getaran.
Secara umum, mekanisme perhitungan percepatan gempa akibat kejadian di daerah
sumber gempa diperlihatkan pada Gambar 2.29.

Gambar 2.29 Skematis prosedur perhitungan pengaruh sumber gempa (a)


terhadap kondisi lapisan tanah lokal (b)

Perambatan getaran tersebut menyebabkan beban siklik pada tanah dan


mengakibatkan peristiwa likuifaksi di permukaan bumi. Berdasarkan hasil
pemantauan gempa yang menyebabkan likuifaksi, dapat ditarik suatu hubungan
antara besaran gempa dan jarak kritis suatu daerah terhadap episenter yang dapat
mengalami likuifaksi.

54
Tabel 2.15. Kategori Resiko Bangunan Gedung dan Non Gedung untuk beban
Gempa.
Jenis pemanfaatan Katagori
risiko
Gedung dan non gedung yang memiliki risiko rendah
terhadap jiwa manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi
tidak dibatasi untuk, antara lain :
1. Fasilitas pertanian, perkebunan, perernakan, dan
perikanan I
2. Fasilitas sementara
3. Gudang penyimpanan
4. Rumah jaga dan struktur kecil lainnya

Semua gedung dan struktur lain, kecuali yang


termasukdalam katagori resiko I,III,IV, termasuk, tapi tidak
dibatasi untuk :
1. Perumahan
2. Rumah toko dan rumah kantor II
3. Pasar
4. Gedung perkantoran
5. Gedung apartemen/rumah susun
6. Pusat perbelanjaan/mall
7. Bangunan industri

Gedung dan non gedung yang memiliki risiko tinggi


terhadap jiwa manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi
tidak dibatasi untuk:
1. Bioskop
2. Gedung pertemuan
3. Stadion III
4. Fasilitas kesehatan yang tidak memiliki unit bedah dan
unit gawat darurat
5. Fasilitas penitipan anak
6. Penjara
7. Bangunan untuk orang jompo

Gedung dan non gedung, tidak termasuk kedalam


kategori risiko IV, yang memiliki potensi untuk menyebabkan
dampak ekonomi yang besar dan/atau gangguan massal terhadap
kehidupan masyarakat sehari-hari bila terjadi kegagalan,
termasuk, tapi tidak dibatasi untuk :
1. Pusat pembangkit listrik biasa

55
2. Fasilitas penanganan air
3. Fasilitas penanganan limbah
4. Pusat telekomunikasi

Gedung dan non gedung yang tidak termasuk dalam


kategori risiko IV, (termasuk tetapi tidak dibatasi untuk fasilitas
manufaktur, proses, penanganan, penyimpanan, penggunaan atau
tempat pembuangan bahan bakar berbahaya, bahan kimia
berbahaya, limbah berbahaya, atau bahan yang mudah meledak)
yang mengandung bahan beracun atau peledak dimana jumlah
kandungan bahannya melebihi nilai batas yang diisyaratkan oleh
intansi yang berwenang dan cukup menimbulkan bahaya bagi
masyarakat jika terjadi kebocaran.
Gedung dan nongedung yang ditunjukan sebagai fasilitas
yang penting, termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk :
1. Bangunan-bangunan monumental
2. Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan
3. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang
memiliki fasilitas bedah dan gawat darurat
4. Fasilitas pemadam kebakaran, ambulans, dan kantor
polisi, serta garasi keadaan darurat
5. Tempat perlindungan terhadap gempa bumi, angin badai,
dan tempat perlindungan lainnya
6. Fasilitas kesiapan darurat, komunikasi, pusat operasi dan
IV
fasilitas lainnya untuk tanggap darurat
7. Pusat pembangkit energi dan fasilitas publik lainnya yang
dibutuhkan pada saat keadaan darurat
8. Struktur tambahan (termasuk menara komunikasi, tangki
penyimpanan bahan bakar, menara pendingin, struktur
stasiun listrik, tangki air pemadam kebakaran atau
struktur rumah atau struktur pendukung air atau material
atau peralatan pemadam kebakaran) yang diisyaratkan
untuk beroprasi pada saat keadaan darurat

Gedung dan non gedung yang dibutuhkan untuk


mempertahankan fungsi struktur bangunan lain yang masuk ke
dalam kategori risiko IV

Tabel 2.16. Faktor Keutamaan Gempa


Katagori resiko Faktor keutamaan gempa, Ie
I atau II 1,00
III 1,25
IV 1,50

56
Peninjauan dan penghitungan beban pada perancangan gedung ini
berdasarkan pada Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung SNI 2847-
2013 pasal 9.2.1 dan Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur
Bangunan Gedung dan Non Gedung SNI 1726-2012 Pasal 4.2.2 dan Pasal 7.4.

Kombinasi pembebanan struktur terdiri atas :


1. 1,4 D
2. 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (Lr atau R)
3. 1,2 D + 1,6 (Lr atau R) + (1,0Latau 0,5 W)
4. 1,2 D + 1,0 W + 1,0 L+ 0,5 (Lr atau R)
5. 1,2 D + 1,0E + 1,0 L
6. 0,9 D + 1,0 W
7. 0,9 D + 1,0 E

Dimana :
D = beban mati
L = beban hidup
Lr = beban hidup pada atap
R = beban hujan
W = beban angin
E = beban gempa

Dengan pengaruh beban gempa, E ditentukan oleh Persamaan (2.59) dan


Persamaan (2.60) :
1)Untuk penggunaan dalam kombinasi beban No. 5
E  Eh  Ev (2.59)
2)Untuk penggunaan dalam kombinasi beban No. 7
E  Eh  Ev (2.60)
Dengan Eh dan Ev ditentukan oleh Persamaan (2.61) dan Persamaan (2.62) :
Eh   . QE (2.61)

Ev  0.2 . S D s . D (2.62)
Dimana :

57
D = kuat perlu
Eh = pengaruh beban gempa horizontal
Ev = pengaruh beban gempa vertikal
ρ = faktor redundansi
QE = pengaruh gaya gempa horizontal dari V atau Fp
SDS = parameter percepatan spektrum respons desain pada perioda pendek

Dalam perumusan kriteria desain seismik suatu bangunan di permukaan


tanah atau penentuan amplifikasi besaran percepatan gempa puncak dari batuan
dasar ke permukaan tanah untuk suatu situs, maka situs tersebut harus
diklasifikasikan terlebih dahulu. Profil tanah di situs harus diklasifikasikan sesuai
dengan Tabel 2.17. berdasarkan profil tanah lapisan 30 m paling atas. Penetapan
kelas situs harus melalui penyelidikan tanah di lapangan dan pengujian di
laboratorium dengan minimal mengukur secara independen dua dari tiga parameter
tanah yang tercantum dalam Tabel 2.17.. Kelas situs yang diberlakukan adalah kelas
situs yang paling buruk dari hasil analisis.

Tabel 2.17. Klasifikasi situs


Kelas situs vs (m/detik) N atau N ch Su (kPa)
SA (batuan keras) >1500 N/A N/A
SB (batuan) 750 sampai 15000 N/A N/A
SC (tanah keras, 350 sampai 750 <50 <100
sangat padat dan
batuan lunak)
SD (tanah sedang) 175 sampai 350 15 sampai 50 50 sampai 100
<175 <15 <50
Atau setiap profil tanah yang mengandung lebih dari 3
SE (tanah lunak) m tanah denga karakteristik sebagai berikut :
1. Indeks plastisitas, PI > 20,
2. Kadar air, w ≥ 40 %
3. Kuat geser niralir Su < 25 kPa
SF (tanah khusus, Setiap profil lapisan tanah yang memiliki salah satu
yang membutuhkan atau lebih dari karakteristik berikut :
investigasi geoteknik 1. Rawan dan berpotensi gagal atau runtuh akibat
spesifik dan analisis beban gempa seperti mudah likuifaksi,
respons spesifik-situs lempung sangat sensitif, tanah tersementasi
yang mengikuti lemah
6.10.1) 2. Lempung sangat organik dan/atau gambut
(ketebalan H > 3 m)

58
3. Lempung berplastisitas sangat tinggi
(ketebalan H > 7,5 m dengan Indeks Plastisitas
PI > 75
Lapisan lempung lunak/setengah teguh dengan
ketebalan H > 35 m dengan Su < 50 kPa
Catatan : N/A = tidak dapat dipakai

Dalam klasifikasi situs, profil tanah yang mengandung beberapa lapisan


tanah dan atau batuan yang nyata berbeda, harus dibagi menjadi lapisan-lapisan dari
nomor ke-1 hingga ke-n dari atas ke bawah, sehingga ada total n-lapisan tanah yang
berbeda pada lapisan 30 m paling atas tersebut. Tabel 2.17. menunjukkan lapisan
tipikal di lokasi.

Untuk mendapatkan nilai kecepatan rata-rata gelombang geser, vs


menggunakan langkah Persamaan (2.63), tahanan penetrasi standar lapangan rata
rata N menggunakan Persamaan (2.64) dan tahanan penetrasi standar rata-rata

untuk lapisan tanah non-kohesif N ch menggunakan Persamaan (2.65) dan


Persamaan (2.66) serta kuat geser niralir (undrained shear strenght) rata-rata Su
harus melalui langkah dari Persamaan (2.67), yaitu :

1)Nilai Kecepatan rata-rata Gelombang Geser, vs


m

d
i =1
i

Vs = m
(2.63)
di

i = 1 Vsi

Dimana :
ti = tebal lapisan tanah ke-i antara kedalaman 0 sampai 30 m
Vsi = kecepatan rambat gelombang geser pada lapisan tanah ke – i
dalam satuan m/detik
m = jumlah lapisan tanah yang ada antara kedalaman 0 sampai 30 m
m

d
i =1
i = 30 m

2)Tahanan penetrasi standar lapangan rata-rata N dan tahanan penetrasi standar

rata-rata untuk lapisan tanah non-kohesif N ch

59
m

d
i =1
i

N= m
(2.64)
di

i = 1 Ni

Dengan Ni dan di dalam Persamaan (2.64) berlaku untuk tanah non-kohesif,


tanah kohesif, dan lapisan batuan.
ds
N ch = m (2.65)
di

i = 1 Ni

Dimana :
Ni = nilai hasil Uji Penetrasi Standar (SPT) lapisan tanah ke – i

Dengan Ni dan di dalam Persamaan (2.64) berlaku untuk tanah non-kohesif


saja, dan :
m m

 di  d s
i 1
d
i 1
i  ds (2.66)

Dengan :
ds = ketebalan total lapisan tanah non-kohesif 30 m paling atas
di = tahanan penetrasi standar 60 persen energi (N60) yang terukur
langsung di lapangan tanpa koreksi dengan nilai < 305 pukulan/m.

3)Kuat geser niralir rata-rata Su


m

d
i =1
i

Su = m
(2.67)
di

i = 1 Sui

Dengan
k

d
i 1
i  dc (2.68)

Dimana :
Sui = kuat geser undrained (tak terdrainase) lapisan tanah ke – i tidak lebih 250 kPa.

60
dc = ketebalan total dari lapisan-lapisan tanah kohesif di dalam lapisan 30
meter paling atas (dalam satuan m)
PI = indeks plastisitas
w = kadar air (%)

Dengan menggunakan Persamaan (2.39) atau (qc = 4 . N), maka nilai N dapat
ditentukan.
Setelah mengetahui klasifikasi situs dan mengetahui letak lokasi bangunan,
langkah berikutnya adalah mengetahui parameter percepatan batuan dasar pada
perioda pendek (Ss) dan percepatan batuan dasar pada perioda (T) = 1 detik (S1).
Kedua parameter ini bisa diambil dari peta gempa SNI 1726-2012 sebagaimana
diperlihatkan dalam Gambar 2.30.

Gambar 2.30 Peta gempa SNI 1726-2012

Setelah mengetahui klasifikasi situs dan paremater percepatan batuan dasar,


langkah berikutnya adalah menghitung koefisien atau parameter percepatan gempa
berdasarkan klas situs terdahulu dan nilai dari peta gempa supaya bisa didapatkan
respons spektral percepatan gempa maksimum yang dipertimbangkan risiko tertarget
(MCER). Untuk menentukan respons spektral percepatan gempa MCER di permukaan
tanah, diperlukan faktor amplifikasi sesimik pada perioda 0,2 detik dan perioda 1
detik. Faktor amplifikasi meliputi faktor amplifikasi getaran terkait percepatan pada
getaran perioda pendek (Fa) dan faktor amplifikasi getaran terkait percepatan pada

61
getaran perioda 1 detik (Fv). Parameter spektrum respons percepatan pada perioda
pendek (SMS) dan perioda (T) = 1 detik (SM1) yang disesuaikan dengan pengaruh
klasifikasi situs dari Persamaan (2.69) dan Persamaan (2.70).

SMS  Fa . SS (2.69)

SM 1  Fv . S1 (2.70)

dengan nilai Fa dan Fv ditentukan:


SS = parameter percepatan percepatan respon spektral MCE dari peta gempa
pada periode pendek, redaman 5%

S1 = parameter percepatan percepatan respon spektral MCE dari peta gempa


pada periode pendek 1 detik, redaman 5%
Fa = Koefisien situs perioda pendek (pada periode 0,20 detik) dalam Tabel 2.18.
Fv = Koefisien situs perioda panjang (pada periode 1.0 detik) dalam Tabel 2.19.

Tabel 2.18. Koefisien situs, Fa


Kelas situs Parameter respons spektral percepatan gempa (MCER)
terpetakan pada perioda pendek, T=0,2 detik, Ss
Ss ≤ 0,25 Ss = 0,5 Ss = 0,75 Ss = 1,0 Ss ≥ 1,25
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
SC 1,2 1,2 1,1 1,0 1,0
SD 1,6 1,4 1,2 1,1 1,0
SE 2,5 1,7 1,2 0,9 0,9
b
SF SS

Tabel 2.19. Koefisien situs, Fv


Kelas situs Parameter respons spektral percepatan gempa MCER
terpetakan pada perioda 1 detik, S1
S1 ≤ 0,25 S1 = 0,2 S1 = 0,3 S1 = 0,4 S1 ≥ 0,5
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
SC 1,7 1,6 1,5 1,4 1,3
SD 2,4 2 1,8 1,6 1,5
SE 3,5 3,2 2,8 2,4 2,4
SF SSb

62
Catatan :
1. Untuk nilai-nilai antara Ss dapat dilakukan interpolasi linier
2. SS = situs memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons
situs spesifik

Untuk lapisan tanah SC dan SD dari peta gempa diperoleh SS antara 0,75
hingga 1,20 (diambil 0,975) dan S1 berada pada rentang antara 0,4 hingga ≥ 0,50
(diambil 0,45), maka nilai Fa diambil SS = 1,0 dan Fv diambil 1,40. Dengan
demikian, dari Persamaan 2.69 dan Persamaan 2.70), diperoleh nilai SMS = 0,975
dan SM1 = 0,63.
Parameter percepatan spektral desain untuk perioda pendek, SDS dan pada
perioda 1 detik, SD1 harus ditentukan melalui Persamaan 2.71 dan Persamaan 2.72
:
2
S DS  . SMS (2.71)
3
2
S D1  . SM 1 (2.72)
3
Dimana :
SDS = parameter percepatan respon spektral pada periode pendek, redaman 5%
SD1 = parameter percepatan respom spektral pada periode 1 detik, redaman 5%
SMS = parameter percepatan respon spektral MCE pada periode pendek yang
sudah disesuaikan terhadap pengaruh kelas situs
SM1 = parameter percepatan respon spektral MCE pada periode 1 detik yang
sudah disesuaikan terhadap pengaruh kelas situs

Bila spektrum respons desain diperlukan oleh tata cara ini dan prosedur gerak
tanah dari spesifik situs tidak digunakan, maka kurva spektrum respons desain harus
dikembangkan dengan mengacu dan mengikuti ketentuan di bawah ini:
1)Untuk perioda yang lebih kecil dari To, spektrum respons percepatan desain,
Sa, harus diambil dari persamaan :
 T 
Sa  S DS  0, 4   (2.73)
 T0 

63
2)Untuk perioda yang lebih besar dari atau sama dengan To dan lebih kecil atau
sama dengan Ts, spektrum respons percepatan desain, Sa sama dengan SDS.
3)Untuk perioda yang lebih besar dari Ts, spektrum respons percepatan desain Sa,
harus diambil berdasarkan persamaan :
S D1
Sa  (2.74)
T
Keterangan:
S D1
To  0, 20 (2.75)
S DS
S D1
TS  (2.76)
S DS

Dimana:
T = periode fundamental struktur (diambil T = 1 detik)

Gambar 2.31 Gambar spektrum respons desain

Dari nilai SDS, SD1 dan kategori resiko gedung akan didapatkan Kategori
Desain Seismik. Nilai yang diambil adalah yang paling besar dari kedua KDS
tersebut. Nilai tersebut didapatkan harus dari nilai dalam Tabel 2.20. dan Tabel
2.21.

64
Tabel 2.20. Kategori Desain Seismik berdasarkan parameter Respons
Percepatan Perioda Pendek, SDS
Nilai SDS Katagori risiko
I atau II atau III IV
SDS < 0,167 A A
0,167 ≤ SDS < 0,33 B C
0,33 ≤ SDS < 0,50 C D
0,5 ≤ SDS D D

Tabel 2.21. Kategori Desain Seismik berdasarkan parameter Respons Percepatan


Perioda Pendek, SD1
Nilai SD1 Katagori risiko
I atau II atau III IV
SD1 < 0,167 A A
0,067 ≤ SD1< 0,133 B C
0,133 ≤ SD1< 0,20 C D
0,20 ≤ SD1 D D

Persyaratan tambahan laporan investigasi geoteknik untuk kategori desain


seismik (KDS) sama dengan D harus mencakup semua hal yang berlaku di bawah
ini:
1) Penentuan tekanan lateral tanah seismik dinamik pada dinding besmen dan
dinding penahan tanah akibat gerak tanah gempa rencana.
2) Potensi likuifaksi dan kehilangan kekuatan tanah yang dievaluasi terhadap
percepatan tanah puncak pada situs, magnitudo gempa, dan karakteristik sumber
yang konsisten dengan dengan percepatan puncak gempa maksimum yang
dipertimbangkan (MCEG). Percepatan tanah puncak harus ditentukan dengan (1)
studi spesifik – situs dengan mempertimbangkan pengaruh amplifikasi yang
secara spesifik, yang dijelaskan dalam pasal 6.9 atau (2) percepatan tanah puncak
PGAM dari Persamaan (2.77) :

PGAM  FPGA . PGA (2.77)

Keterangan:
PGAM = MCEG percepatan tanah puncak yang disesuaikan dengan

65
pengaruh klasifikasi situs
PGA = percepatan tanah puncak terpetakan yang ditunjukkan pasal 14
SNI 1726-2012
FPGA = koefisien situs dari Tabel 2.22..

3) Kajian konsekuensi potensi likuifaksi dan kehilangan kekuatan tanah,


termasuk, namun tidak terbatas pada, estimasi penurunan total dan beda
penurunan, pergerakan tanah lateral tanah, beban lateral tanah pada pondasi,
reduksi daya dukung tanah pondasi dan reaksi lateral tanah, friksi negatif
(drowndrag), reduksi reaksi aksial dan lateral tanah pada pondasi tiang,
peningkatan lateral pada dinding penahan tanah, dan pengapungan (floatation)
struktur-struktur tertanam.

Tabel 2.22. Koefisien situs FPGA


Kelas Situs PGA ≤ 0,1 PGA = 0,2 PGA = 0,3 PGA = 0,4 PGA ≥ 0,5
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
SC 1,2 1,2 1,1 1,0 1,0
SD 1,6 1,4 1,2 1,1 1,0
SE 2,5 1,7 1,2 0,9 0,9
SF Lihat 6.9
Catatan : Gunakan interpolasi linier untuk mendapatkan nilai PGA antara.

Pasal 14 SNI 1726-2012 memberikan peta-peta gerak tanah seismik dan


koefisien resiko dari gempa maksimum yang dipertimbangkan (maximum considered
earthquake / MCE) yang ditentukan pada Gambar 2.32 hingga Gambar 2.36, yang
diperlukan untuk menerapkan ketentuan-ketentuan beban gempa dalam standar ini.

Gambar 2.32 dan Gambar 2.33 menunjukkan peta gempa maksimum yang
dipertimbangkan resiko-tertarget (MCER) parameter-parameter gerak tanah SS dan
S1, kelas situs, SB. SS adalah parameter nilai percepatan respon spektral gempa MCER
resiko tertarget pada perioda pendek, teredam 5%, sebagaimana yang dijelaskan
dalam Pasal 6.1.1 SNI 1726-2012 . S1 adalah parameter nilai percepatan gempa
respons spektral gempa MCER resiko-tertarget pada perioda (T) = 1 detik, teredam
5%, sebagaimana yang dijelaskan dalam 6.1.1.

66
Pada pasal ini juga diberikan Gambar 2.35 , yang menyajikan gempa
maksimum yang dipertimbangkan rata-rata geometrik (MCEG), percepatan tanah
puncak dalam (gal / g), kelas situs SB.

Gambar 2.35 dan Gambar 2.36 menunjukkan nilai-nilai CRS dan CR1, CRS
adalah koefisien resiko terpetakan untuk spektrum respons perioda pendek yang
digunakan dalam Pasal 6.10.2.1 SNI 1726-2012. CR1 adalah koefisien resiko
terpetakan untuk spektrum respons perioda 1 detik yang digunakan dalam Pasal
6.10.2.1.

Nilai-nilai kontur percepatan puncak dijelaskan sebagai berikut :


1) Target resiko pada struktur saat mengalami keruntuhan didefinisikan dengan 1
persen kemungkinan keruntuhan bangunan dalam 50 tahun, berdasarkan
kekuatan umum struktur, dalam kaitan ini, MCER tertarget didefinisikan sebagai
nilai spektral SS dan S1MCE 2 % terlampaui dalam 50 tahun dikalikan dengan
koefisien resiko, masing-masing CRS dan CR1 (Gambar 2.35 dan Gambar 2.36
).
2) Faktor pengali 1,05 pada perioda 0,20 detik dan faktor pengali 1,15 pada
perioda 1 detik diterapkan terhadap nilai rata-rata geometrik hasil analisis
bahaya (hazard) gempa untuk memperhitungkan arah percepatan maksimum;
3) Batas atas deterministik digunakan pada daerah dekat sesar aktif dengan
mengambil faktor pengali 1,50 kali dari nilai tengah percepatan puncak hasil
analisis bahaya gempa deterministik (faktor 1,50 kali nilai median digunakan
untuk merepresentasikan respons 84th percentile, dan nilai spektral tidak kurang
1,5 g untuk perioda 0,20 detik dan tidak kurang dari 0,6 g untuk perioda 1 detik.

67
Gambar 2.32 SS, Gempa maksimum yang dipertimbangkan resiko-tertarget
(MCER) kelas situs SB

Gambar 2.33 S1, Gempa maksimum S1 yang dipertimbangkan resiko-


tertarget (MCER) kelas situs SB

68
Gambar 2.34 PGA, Gempa maksimum S1 yang dipertimbangkan resiko-tertarget
(MCER) kelas situs SB

Gambar 2.35 CRS, Koefisien resiko terpetakan perioda respons spektral 0,20
detik

69
Gambar 2.36 CR1, Koefisien resiko terpetakan perioda respons spektral 1
detik

Percepatan respon spektral spesifik situs gempa MCER pada setiap perioda
SAM harus diambil sebagai nilai terkecil dari percepatan respons spektral yang
didapatkan secara probabilistik, sehingga untuk nilai percepatan spektral-respon
desain berbagai perioda harus ditentukan dengan :
2
SA  . S AM (2.78)
3
Dimana: SAM adalah percepatan spektral-respons gempa MCER pada Pasal
6.10.1 dan Pasal 6.10.2 SNI 1726-2012 .

2. Analisis Potensi Likuifaksi


Likuifaksi tanah pasiran adalah suatu fenomena hilangnya ketahanan mekanik
dari tanah, sebagai akibat adanya beban siklik (seismik). Hilangnya ketahanan tanah
ditandai dengan hilangnya tegangan efektif antar butiran partikel tanah pasir (’ =
0), akibat naiknya harga tegangan air pori (u) hingga mencapai harga “ overburden
pressure ” (u =  dan u = ’) dalam suatu tanah jenuh air (Sr = 100 %) pada
kondisi “undrained atau short term” (Seed dan Idriss, 1971).
Perbandingan atau rasio tegangan siklik (CSR) digunakan untuk menentukan
tegangan geser maksimum elemen tanah. Parameter CSR dianalisis dengan metode
respon gempa berdasarkan teori “rigid body” (lihat Gambar 2.37). Teori tersebut

70
menggunakan model kolom tanah yang mudah berubah bentuk (deformable).
Parameter CSR ditentukan menurut Persamaan :

 av a 
 0,65 x max x o x rd  CSR  cyclic stress ratio  (2.79)
 'o g  'o

Faktor reduksi (rd) tegangan berkisar antara 1,0 di permukaan tanah sampai
0,85 pada kedalaman 30 ft (10 m). Gambar 2.38 digunakan untuk menghitung
potensi likuifaksi di lapangan berdasarkan nilai N-SPT yang dikorelasikan
berdasarkan nilai qc. Gambar 2.39 digunakan untuk menentukan nilai rd. Iwasaki
(1981) mengusulkan nilai rd dalam bentuk Persamaan :

rd = 1,0 – 0,015 z (2.80)

Likuifaksi terjadi apabila CSR  CCSR (rasio tegangan siklik kritis).


Selanjutnya, rasio tegangan siklik (CSR) juga merupakan fungsi kadar kehalusan (f),
ukuran butir D50, magnituda (M) dan nilai (N1)60, yaitu :
CSR  h  f , D50 , M ,  N1 60  (2.81)

Pada saat kondisi likuifaksi, daya lekat tanah atau friksi (friction) pada
kedalaman tanah yang mengalami likuifaksi menjadi hilang atau sama dengan nol (fs
= 0). Saat likuifaksi kekuatan friksi lapisan tanah lempung hanya menerima 30% dari
tegangan overburden total artinya tahanan friksi terkoreksi hingga mencapai 30%
(Idriss and Boulanger. 2010).

71
Gambar 2.37 Prosedur untuk menentukan (max)r (Seed et al, 1971)

72
Gambar 2.38 Variasi (h/v)lap berdasarkan N’ (SPT) dan nilai M (magnituda)
(Seed, 1979)

73
Gambar 2.39 Rentang harga rd untuk berbagai profil tanah

Uji lapangan yang populer adalah uji SPT dan uji Sondir (CPT). Kedua hasil
uji itu dijadikan dasar untuk mengembangkan grafik-grafik guna membedakan tanah
yang mengalami likuifaksi terhadap yang tidak mengalami likuifaksi. Sedangkan,
pekerjaan atau hasil uji laboratorium mempunyai kekurangan, karena tanah pasiran
pada umumnya tidak dapat diambil sampelnya dalam kondisi tak terganggu dan
pembentukan sampel memberikan pengaruh terhadap hasil uji. Pemilihan uji SPT
adalah wajar karena data SPT dapat diperoleh dimana-mana. Tetapi, banyak faktor
yang mempengaruhi variasi metoda ini berhubung dengan perbedaan energi hammer,
adanya air di dalam lubang bor, diameter dari lubang bor, jenis bit yang digunakan
untuk pengeboran, konfigurasi dari sampler dan kecepatan pemukulan (Seed & de
Alba, 1986). Berhubung dengan masalah-masalah yang menyangkut SPT di atas dan
kenyataan bahwa uji sondir adalah lebih ekonomis serta dapat memberikan profil
yang kontinu serta perkembangan terakhir dari sondir listrik dan elektronik, maka
para ahli telah mengalihkan perhatiannya kepada pemakaian uji sondir. Uji sondir
mengukur perlawanan ujung (qc) dan gesekan selimut (fs). Kedua besaran di atas

74
dicatat secara kontinu pada seluruh kedalaman.Untuk sondir mekanis lazimnya
pembacaan dilakukan tiap selang 20 cm. Hasil korelasi (qc) dan gesekan selimut (fs)
memberikan indikasi mengenai jenis tanah. Berdasarkan hasil uji lapangan,
Robertson et al (1985) menyusun suatu grafik hasil uji sondir untuk
mengidentifikasikan tanah yang rentan terhadap likuifaksi yang jatuh pada kategori
zona A (Gambar 2.40). Daerah di atas zona A adalah pasir bersih lepas dengan D50
> 0,25 mm, nilai qc = 30 – 150 kg/cm2 dan nilai FR < 1 %.

Gambar 2.40 Klasifikasi tanah untuk identifikasi potensi likuifaksi dari uji sondir

(Robertson & Campanella, 1985)

75
Secara umum, permukaan tanah di lokasi berupa lapisan puing
bangunan lama dan di beberapa tempat merupakan bekas pondasi lama
(pondasi dangkal) dan lapisan beton plat lantai.

Dari hasil pengukuran topografi, permukaan tanah relatif datar dengan


elevasi berkisar antara +11,944 hingga +12,858 (Lampiran-4). Lingkungan
sekitar merupakan daerah pemukiman padat dengan tipe bangunan semi
permanen.

Klasifikasi tanah berdasarkan hasil sondir (S-1 hingga S-5) yang


diinterpretasikan secara empirik menurut Terzaghi & Peck (1984) pada Tabel
2.22 dan Robertson & Campanella (1983).

Tabel 2.22 Konsistensi tanah lempung berdasarkan hasil Sondir


(Terzaghi dan Peck, 1984)

Konsistensi Conus Friction


Resistence (qc) Ratio
kg/cm 2 (FR) %
Sangat <5 3,5
Lunak/very soft
Lunak/soft 5-10 3,5
Teguh/Firm 10-35 4,0
Kaku/stiff 30-60 4,0
Sangat Kaku/very 60-120 6,0
stiff
Keras/Hard >120 6,0

Pada analisis likuifaksi nilai qc dari data Sondir / DCPT S-1 hingga S-5
dikorelasi untuk menentukan t dan sat, dan juga dikoreksi dengan tekanan
overburden lapisan tanah :

76
a. Lapisan pasir halus terkonsolidasi normal :
2
CN  (2.82)
  'v 
1  
 r 

b. Lapisan pasir kasar terkonsolidasi :


3
CN  (2.83)
  'v 
2  
 r 

c. Lapisan pasir terkonsolidasi berlebih :


1, 7
CN  (2.84)
  'v 
 0, 7  
 r 

dimana: r = 100 kPa (tegangan referensi)

Pendekatan probabilitas likuifaksi telah dikembangkan oleh Christian &


Swieger (1975), Yegian & Whitman (1978), Veneziano & Liao (1984) dan Liao et al
(1988). Probabilitas likuifaksi ditentukan dengan cara menggabungkan nilai CSR (M
= 7,50) dan harga (N1)60 dalam bentuk kurva-kurva pada Gambar 2.42.a dan
Gambar 2.42.b. Kurva-kurva pada gambar tersebut adalah bentuk Persamaan non-
linear, sehingga saat memplot suatu harga (N1)60 tertentu sangat sulit menghilangkan
pengaruh subyektivitas. Dengan demikian, persamaan kurva non linear harus diubah
guna menghindari pengaruh subyektivitas tersebut di atas. Liao et al (1988)
merumuskan secara empiris menurut Persamaan regresi linear:
1
P  L  (2.85)
1  exp  0  1 ln  CSR    2  N`1 60 

Parameter-parameter regresi linear diperlihatkan pada Tabel 2.23.

77
( (b)
a)

f< f

12 % > 12 %

N N
1(60) 1(60)

Gambar 2.42 Kontur probabilitas potensi likuifaksi Liao et al (1988)

Parameter CSR harus dikoreksi dengan menggunakan suatu faktor


penyesuaian terhadap pengaruh magnituda gempa (Seed et al, 1983 dan Seed &
Alba, 1986).

Tabel 2.23. Parameter regresi linear untuk evaluasi probabilitas potensi likuifaksi
Data-data Jumlah 0 1 2
Liao et al (1988) kasus
All 278 10,167 4.1933 0.24375
SW – SP 182 16,447 6,4603 0.39760
SP – SM 96 6,4831 2,6854 0,18190

Oleh karena kondisi lapisan tanah pasiran jarang atau sedikit sekali yang
terklasifikasi sebagai pasir bersih (clean sand). Maka, dari persamaan dalam Tabel
2.23. , untuk proyek ini diambil nilai-nilai o; 1; dan 2 dengan nilai-nilai positif.
Menurut Anderson et al (1982), nilai probabilitas potensi likuifaksi (P[L])
harus ditentukan berdasarkan percepatan gempa maksimum permukaan (PGA) atau
parameter (amax) dengan periode ulang (T) minimal 100 tahun (Tabel 2.24.).

78
Tabel 2.24. Nilai probabilitas potensi likuifaksi (P [L])

Probabilitas potensi likuifaksi Potensi likuifaksi


berdasarkan percepatan gempa
maksimum (PGA) T = 100 tahun
> 50 % Tinggi
10 – 50 % Sedang
5 – 10 % Rendah
<5% Sangat rendah

3. Analisis Beban Horizontal Akibat Gempa


Geser dasar seismik, V dalam arah yang ditetapkan harus ditentukan sesuai
dengan Persamaan 2.86 – Persamaan 2.89 :

V  CS . W (2.86)

dengan :
CS = koefisien respons seismik.
W = berat seismik efektif (kN)

Koefisien respons seismik, Cs harus ditentukan sesuai dengan:

S DS
CS  (2.87)
R
 
 Ie 
Dengan :
SDS = parameter percepatan spekturm respons desain dalam rentang perioda
pendek
R = faktor modifikasi respons ditentukan oleh sistem penahan gempa yang
dipilih
Ie = faktor keutamaan gempa yang ditentukan kategori risiko

Nilai Cs yang dihitung tidak perlu lebih dari:

79
S D1
CS  (2.88)
R
T . 
 Ie 

Tabel 2.25. Faktor R; Cd; o

Batasan sistem struktur


dan batasan tinggi
No Sistem penahan Seismik R Cd 𝜴𝑶 struktur, hn (m)
Katagori desain seismik
B C D E F
Sistem rangka pemikul momen
1 Rangka baja pemikul momen khusus 8 3 5,5 TB TB TB TB TB
2 Rangka batang baja pemikul momen 7 3 5,5 TB TB 48 30 TI
khusus
3 Rangka baja pemikul momen 4,5 3 4 TB TB 10 TI TI
menengah
4 Rangka baja pemikul momen biasa 3,5 3 3 TB TB TI TI TI
5 Beton bertulang pemikul momen 8 3 5,5 TB TB TB TB TB
khusus
6 Beton bertulang pemikul momen 5 3 4,5 TB TB TI TI TI
menengah
7 Beton bertulang pemikul momen 3 3 2,5 TB TI TI TI TI
biasa
8 Rangka baja dan beton komposit 8 3 5,5 TB TB TB TB TB
pemikul momen khusus
9 Rangka baja dan beton komposit 5 3 4,5 TB TB TI TI TI
pemikul momen menengah
10 Rangka baja dan beton komposit 6 3 5,5 48 48 30 TI TI
terkekang parsial pemikul momen
11 Rangka baja dan beton komposit 3 3 2,5 TB TI TI TI TI
pemikul momen biasa
12 Ragka baja canai dingin pemikul 3,5 3 3,5 10 10 10 10 10
momen khusus
TB : tidak dibatasi
TI : tidak diijinkan

Cs harus tidak kurang dari :


CS  0, 044 SDS . I e  0, 01 (2.89)

80
Struktur penahan beban lateral dengan kategori desain seismik D, E dan F
harus dikenakan faktor redundansi, ρ, sebesar 1,3 dalam kombinasi bebannya. Boleh
digunakan faktor redundansi sebesar 1,0 apabila syarat-syarat berikut ini terpenuhi:
1. Masing-masing tingkat yang menahan lebih dari 35% geser dasar dalam arah
yang ditinjau harus sesuai dengan Tabel 2.25.
2. Struktur dengan denah beraturan di semua tingkat dengan sistem penahan
gaya gempa terdiri dari paling sedikit dua bentang perimeter penahan gaya
gempa yang merangka pada masing-masing sisi struktur dalam masing-
masing arah orthogonal di setiap tingkat yang menahan lebih dari 35% geser
dasar. Jumlah bentang untuk dinding geser harus dihitung sebagai panjang
dinding geser dibagi dengan tinggi atau dua kalau panjang dinding geser
dibagi dengan tinggi tingkat, terutama konstruksi rangka ringan.

Perioda fundamental struktur, T, dalam arah yang ditinjau harus diperoleh


menggunakan properti struktur dan karakteristik deformasi elemen penahan dalam
analisis yang teruji. Perioda fundamental struktur, T, tidak boleh melebihi hasil
koefisien untuk batasan atas pada perioda yang dihitung (Cu) dari Tabel 2.26. dan
perioda fundamental pendekatan, Ta yang ditentukan sesuai Persamaan 2.90 .
Sebagai alternatif, pada pelaksanaan analisis untuk menentukan perioda fundamental
struktur, T, diijinkan secara langsung menggunakan perioda bangunan pendekatan,
Ta, yang dihitung dengan Persamaan 2.90 berikut :

Ta  Ct . hnx (2.90)
Dengan:
hn adalah ketinggian struktur, dalam (m), di atas sampai tingkat tertinggi
struktur, dan nilai parameter perioda pendekatan Ct dan x ditentukan dalam Tabel
2.27.

81
Tabel 2.26. Koefisien untuk batas atas pada periode yang dihitung
Parameter Percepatan respons Koefisien Cu
spektral desain pada 1 detik, SD1
≥ 0,4 1,4
0,3 1,4
0,2 1,5
0,15 1,6
≤ 0,1 1,7

Tabel 2.27. Nilai Parameter Perioda Pendekatan Ct dan x


Tipe Struktur Ct x
Sistem rangka pemikul momen dimana rangka memikul 100
persen gaya gempa yang diisyaratkan dan tidak dilingkupi
atau berhubungan dengan komponen yang lebih kaku dan
akan mencegah rangka dari defleksi jika dikenai gaya gempa :
Rangka baja pemikul momen 0,0724a 0,8
Rangka beton pemikul momen 0,0466a 0,9
Rangkabaja dengan bresing eksentris 0,0731a 0,75
Rangka baja dengan bresing terkekang tekuk 0,0731a 0,75
Semua sistem struktur lainnya 0,0488a 0,75

Sebagai alternatif, diijinkan untuk menentukan perioda fundamental


pendekatan (Ta), dalam detik, dan Persamaan 2.91 untuk struktur dengan
ketinggian tidak melebihi 12 tingkat dengan sistem penahan gaya gempa terdiri dari
rangka penahan momen beton atau baja secara keseluruhan dan tinggi tingkat paling
sedikit 3 m.
Ta  0.1 . N (2.91)

Dengan N adalah jumlah tingkat. Dari hasil perhitungan diperoleh Ta = 0.5


detik, perioda fundamental pendekatan ini sudah diperhitungkan pada struktur,
sehingga tidak diperlukan lagi dalam menentukan besarnya gaya horizontal (V) di
atas pondasi.

2.3.4 Penurunan Elastis Kelompok Tiang


Secara umum penurunan (settlement) pada tanah dapat dibagi dalam 3 (tiga)
bagian, yaitu:
1. Penurunan segera (immediate settlement), yaitu penurunan dimana akibat
perubahan bentuk elastis tanah tanpa perubahan kadar air.

82
2. Penurunan konsolidasi (consolidation settlement), yaitu penurunan yang
disebabkan oleh keluarnya air pori dalam tanah. Oleh karena tiang diletakkan di
lapisan keras (qc > 250 kg/cm2) atau mengandalkan tahanan ujung tiang (end
bearing pile), maka penurunan konsolidasi tidak diperhitungkan pada kelompok
tiang grup.
3. Penurunan sekunder (secondary settlement) yang merupakan penurunan akibat
dari perubahan plastis dari tanah.

Secara umum, penurunan tiang grup yang dibebani oleh suatu beban kerja
yang sama per tiang meningkat sesuai dengan lebar dari pile-cap (Bg) dan jarak as ke
as tiang (d). Beberapa penyelidikan yang berkaitan dengan penurunan tiang grup
telah dijelaskan dalam berbagai referensi, dengan variasi yang sangat luas.
Hubungan yang paling sederhana untuk menentukan tiang grup diusulkan oleh Vesic
(1969), yaitu:

Bg
S g (e)  . Se (2.92)
D
Dimana :
Sg(e) = penurunan elastis tiang grup
Bg = lebar pile-cap pada tiang grup
D = lebar atau diameter setiap tiang dalam grup
Se = penurunan elastis setiap tiang pada beban kerja setiap tiang (Sub.bab 2.2.5)

Untuk tiang grup pada lapisan tanah pasiran dan kerikil. Meyerhoff (1976)
mengusulkan Persamaan empiris :

2.q Bg . I
S g ( e )  in   (2.93)
N 60

Dimana :
Qg
q (dalam ton/ft2) (2.94)
Bg . Lg

Lg & Bg = panjang dan lebar pile-cap (ft)

83
N60 = jumlah pukulan SPT dimana diletakkan tiang pancang
( sedalam Bg di bawah ujung tiang
L
I = faktor pengaruh = 1   0,50
8 Bg
L = panjang tiang dalam ft

Persamaan 2.94 dalam besaran SI bisa ditulis :

0,96 . q Bg . I
S g ( e )  mm   (2.95)
N 60

Dimana :
L (m)
Q adalah dalam satuan kN/m2, dan Bg & Lg dalam (m), dan I  1   0,50
8 . Bg (m)
Dengan cara yang sama, penurunan tiang grup berdasarkan tahanan penetrasi
uji sondir / DCPT, dapat ditentukan dengan :

q . Bg . I
S g ( e )  mm   (2.96)
2 qc
Dimana :
qc = nilai tahanan rata-rata dimana penurunan terjadi di kedalaman tiang
pada Persamaan 2.96, dan semua satuan disesuaikan.

2.3.5 Kontrol Defleksi Pada Tiang


Defleksi ujung tiang di permukaan tanah (yo) dalam metode Brom (1964)
dinyatakan oteh persamaan-persamaan yang tergantung pada tipe jepitan tiang:
1. Tiang ujung bebas sebagai tiang pendek (bila L < 1,5)

4 H 1  1,5 . e / Lp 
Y0  (2.97)
K h . D . Lp

2. Tiang ujung jepit sebagai tiang pendek (bila Lp < 5)

84
H
Y0  (2.98)
K h . D . Lp

3. Tiang ujung bebas sebagai tiang panjang (bila Lp > 2,5)

2. H .   e  1
Y0  (2.99)
Kh . D
4. Tiang ujung jepit sebagai tiang panjang (bila Lp > 1,5)

H .
Y0  (2.100)
Kh . D

Untuk tiang dalam tanah kohesif, defleksi tiang dikaitkan dengan faktor tak
berdimensi L, dengan :
1
 K .D 
4

  h  (2.101)
 4 E .I
 p p 

Mc Nutty (1956) menyarankan perpindahan lateral ijin pada bangunan


gedung adalah 6 mm, sedangkan untuk bangunan-bangunan lain sejenis menara
transmisi adalah 12 mm atau sedikit lebih besar. Pada perencanaan pondasi, besarnya
lendutan di kepala tiang akibat gaya horizontal maksimal 1,27 cm (1/2 inci) kecuali
ditetapkan lain oleh Kepala Dinas Pengawasan Pembangunan Kota DKI Jakarta.

2.3.6 Gesekan Negatif


Gesekan negatif terjadi bila tiang pondasi bertumpu pada tanah keras,
sedangkan tanah di atasnya adalah tanah lunak. Akibat beban struktur di atasnya,
seharusnya tanah di ujung dan di sepanjang dinding tiang pondasi akan diam
sehingga akan menimbulkan gaya perlawanan, yaitu gaya tahan ujung dan gaya
gesekan.
Tapi pada kasus tiang pondasi berada pada tanah lunak, sedang pada ujung
merupakan tanah keras, kondisi ini bisa saja tidak terjadi. Sebagian atau seluruh
tanah di sepanjang dinding pondasi akan ikut bergerak ke bawah. Hal ini akan
menjadi tambahan beban pada ujung tiang pondasi. Peristiwa inilah yang disebut
gesekan negatif.

85
Di bawah ini adalah hal-hal yang harus diwaspadai. Bila ada salah satu
kondisi terpenuhi, maka gaya gesekan negatif perlu dihitung. Tahanan friksi negatif
adalah gaya tekan lapisan tanah ke arah bawah akibat tekanan dari suatu tiang, Gaya
friksi negatif ini diperhitungkan bila terdapat kondisi, antara lain:
1. Jika terdapat lapisan tanah timbunan lempung pada lapisan tanah pasiran
terhadap tiang yang dipancang. Proses konsolidasi akan terjadi gesekan
negatif pada sekeliling tiang (Gambar 2.43.a) terutama saat masa tanah
terkonsolidasi.
2. Jika tanah terdapat lapisan tanah pasiran yang ditimbun pada lapisan tanah
lempung lunak, sebagaimana Gambar 2.43.b, juga akan mengakibatkan
proses konsolidasi di sekeliling tanah, dengan demikian akan mengakibatkan
gesekan negatif pada tiang.
3. Penurunan muka air tanah akan meningkatkan tegangan efektif pada tanah di
setiap kedalaman, yang akan mengakibatkan penurunan pada lapisan
lempung. Jika tiang diletakkan pada lapisan lempung, akan memikul gesekan
negatif.
4. Secara praktis, terhadap kondisi-kondisi lain sebegai berikut:
a. Penurunan total permukaan tanah lebih dari 100 mm.
b. Penurunan permukaan tanah setelah tiang-tiang dipancang melebihi 10
mm.
c. Tinggi timbunan di atas permukaan tanah lebih dari 10 m.
d. Tebal lapisan lunak yang berkonsolidasi lebih dari 10 m.
e. Muka air tanah mengalami penurunan lebih dari 4 m.
f. Panjang tiang lebih dari 25 m

86
Gambar 2.43 Tahanan gesek negatif

Dalam beberapa kasus, gesekan negatif bisa menjadi masalah dan mampu
membuat kegagalan pondasi.

1. Tahanan Gesek Negatif Tiang Tunggal


a. Lapisan lempung yang terletak di atas lapisan tanah pasiran (Gambar
2.43.a):
Gaya gesek negatif pada tiang tunggal menurut Johanessen & Bjerrum
(1965):

Qneg  As . ca (2.102)

ca   o' . K tan  ' (2.103)

Dimana :
Qneg = gaya gesek negatif tiang tunggal
As = luas selimut dinding tiang
ca = gaya gesek negatif persatuan luas tiang tunggal
o’ = tekanan overburden efektif tanah rata-rata atau tegangan efektif
sebelum penerapan beban, di tengah-tengah tapisan
K tan ’ = tergantung pada tekanan tanah lateral pada tiang (Tabel 2.28.)

Tabel 2.28. Nilai K tan ’ yang disarankan oleh Broms (1976)

87
Macam tanah K tan '
1. Urugan batu 0,40
2. Pasir dan kerikil 0,35
3. Lanau atau lempung terkonsolidasi normal berplastisitas 0,30
rendah sampai sedang (PI < 50%)
4. Lempung terkonsolidasi normal berplastisitas tinggi 0,20

Das (1981) mengembangkan persamaan :


f n  K ' .  o' tan  ' (2.104)

Dimana :
K’ = koefisien tekanan tanah = Ko = 1 – sin ’
’= tegangan efektif vertikal pada setiap kedalaman = z = f ‘ , z
f ‘ = berat volume efektif tanah timbunan
’ = sudut friksi antara tiang - tanah  0,50 hingga 0,70 '

Untuk, nilai total gesekan negatif pada tiang tunggal dapat diperhitungkan
sebagai :
p . K ' .  'f . H 2f . tan  '
hf

Qn  p . K'. . tan  ' . z . dz  (2.105)


'
f
0
2

Dimana :
Hf = tinggi timbunan

Jika timbunan di atas muka air tanah, maka berat volume efektif (f’) diganti
dengan t.

b. Lapis pasiran di atas lapisan lempung (Gambar 2.43.b):


Dalam kasus ini, suatu bukti menunjukkan tegangan negatif pada selimut
tiang dari kedalaman z = 0 hingga z = L1 yang disebut sebagai kedalaman netral
(Vesic, 1977). Kedalaman netral dapat ditentukan dengan persamaan (Bowless,
1982):

88

L  H   L  H
f f  'f  2  'f H f
 
L1  (2.106)
L  2  '  '

Dimana f’ dan ’ = berat volume efektif tanah timbunan dan di atas lapisan
tanah lempung. Untuk tiang dengan daya dukung ujung atau (end bearing pile),
kedalaman netral diasumsikan terletak pada ujung tiang (L1 = L – Hf). Pada saat nilai
L1 ditentukan, tahanan gesek negatif diperoleh dengan cara berikut. Besaran gaya
gesek negatif pada kedalaman dari z = 0 hingga z = L1 adalah:

f n  K ' .  o' tan  ' (2.107)


Dimana :
K '  K 0  1  sin 
 0'   'f H f   ' z
 '   0,50  0, 70   '
L1 L1

Qn   p .f . dz   p . K '  . H f   ' . z  tan  ' dz


'
n f
0 o

L12 . p . K ' .  ' . tan  '


  p . K ' .  'f . H f . tan  ' L1 
2

Jika tanah asli dan timbunan di atas muka air, berat volume efektif digantikan
dengan berat volume tanah asli. Beberapa nilai berat volume tanah asli (t) dan berat
volume jenuh (sat) diperlihatkan dalam Tabel 2.29. dan Tabel 2.30. Hubungan
antara nilai tahanan konus (qc) dan tegangan efektif tanah (’v0) untuk menentukan
sudut geser dalam () diperlihatkan dalam Gambar 2.44 dan Tabel 2.13. Dalam
beberapa kasus, tiang-tiang dapat dicat dengan aspal untuk menghindari tahanan
gesek negatif.

Tabel 2.29. Nilai sat dan d jenis tanah


(Soil Mechanics and Foundation, John Willey & Son, 2000)
Jenis Tanah 𝜸𝒔𝒂𝒕 (KN/m3) 𝜸𝒅𝒓𝒚 (KN/m3)
Kerikil 20-22 15-17
Pasir 18-20 13-16

89
Lanau 18-20 14-18
Lempung 16-22 14-21

Catatan: 1 kN/m3 = 1/9.807 *10-3 = 1,02 . 10-4 kg/cm3

Tabel 2.30. Korelasi empiris antara nilai N-SPT; kuat tekan bebas; dan berat volume
jenuh (sat) Berdasarkan Soil Mechanics, Lambe & Whitman from Terzaghi & Peck
1948, International Edition 1969
N SPT qu 𝜸𝒔𝒂𝒕
(blows/ft) Konsistensi (Unconfined Compreeive Strength) (KN/m3)
tons/ft2
<2 Very soft <0,25 16-19
2-4 Soft 0,25-0,50 16-19
4-8 Medium 0,50-1,00 17-20
8-15 Stiff 1,00-2,00 19-22
15-30 Very Stiff 2,00-4,00 19-22
>30 Hard >4,00 19-22

Catatan: (lihat Persamaan 2.39, bahwa qc = 4 . N)

90
Gambar 2.44 Hubungan antara nilai qc dan tegangan vertikal efektif (’vo) untuk
menentukan sudut geser dalam (Meyerhoff, 1976)

2. Tahanan Gesek Negatif Untuk Kelompok / Grup Tiang


Gaya gesek negatif yang bekerja pada tiang tunggal dari suatu kelompok
tiang:

Qneg 
1
np

2 . Dn  Bg  Lg  cu   . Bg . Lg . Dn 
(2.108)

Dimana :
Qneg = gaya gesek negatif pada masing-masing tiang dalam kelompok tiang
np = jumlah tiang dalam kelompoknya
Dn = kedalaman tiang sampai titik netral (m)
Lg = panjang area kelompok tiang
Bg = lebar area kelompok tiang

cu = kohesi tak terdrainase rata-rata pada lapisan

 = berat volume tanah sedalam Dn

91
Jika Pu adalah beban yang bekerja pada masing-masing tiang pancang yang
dipancang menembus lapisan timbunan baru di atas tanah lempung lunak yang
terletak pada lapisan tanah pasir, bagian ujung bawah tiang akan memikul beban
terfaktor (Qt) sebesar :
Qt  Pu  Qneg (2.109)

2.4 Penurunan Konsolidasi (Consolidation Settlement)


Konsolidasi adalah suatu lapisan tanah apabila mengalami tambahan beban
diatasnya, maka air pori akan mengalir dari lapisan tersebut dan isinya (volumenya)
akan menjadi lebih kecil. Penurunan konsolidasi terjadi dari waktu ke waktu, dan itu
terjadi di tanah lempung yang dipenuhi ketika mereka diperlakukan untuk kenaikkan
beban oleh konstruksi pondasi.
Konsolidasi tanah dapat disebabkan oleh faktor-faktor berikut :
1. Karena beban statis dari bangunan yang ada diatas tanah tersebut.
2. Karena berat tanah itu sendiri.
3. Karena merendahnya muka air tanah.
4. Karena keluarnya air tanah dari pori-pori tanah.

Gambar 2.45 Perhitungan penurunan pondasi

92
Penyelesaian penurunan konsolidasi didasarkan pada satu dimensi, dapat
ditulis pada Persamaan 2.110 :

e
S H  (2.110)
1  eo

Dimana :
S = Settlement
eo = angka pori tanah

Untuk mencari nilai angka pori (eo) digunakan nilai berat jenis tanah (Gs)
yang didapatkan dari Tabel 2.32.

Tabel 2.31. Penyusunan parameter


Lapisan 1 Humus Kedalaman 0.00 - 1.40 m
tf 0.00 - 14.15 qc (sondir) 0 - 34 kg/cm²
No Parameter Simbol Nilai Satuan Sumber
1 Berat isi tanah tak jenuh γunsat 14 - 21 kN/m³ Soil Mechanics, John Miley 2000
2 Berat isi tanah jenuh γsat 16 - 22 kN/m² Soil Mechanics, John Miley 2000
3 Permeabilitas k < 10¯6 cm/detik Mekanika Tanah, (Das, 1985)
4 Modulus Young Eref 2 qc 55 - 221 kg/cm² Mekanika Tanah, (Das, 1985)
5 Angka Poisson υ 0.3 - 0.4 Tabel Farmer 1968
6 Kohesi C qc/20 1,4 Dosen T. Pondasi
7 Sudut Geser Ø 42,5 25 derajat (˚) Wesley LD, 1997

Lapisan 2 Lempung Berlanau Kedalaman 1.60 - 8.20 m


tf 17.56 - 97.40 qc (sondir) 29 - 34 kg/cm²
No Parameter Simbol Nilai Satuan Sumber
1 Berat isi tanah tak jenuh γunsat 14 - 21 kN/m³ Soil Mechanics, John Miley 2000
2 Berat isi tanah jenuh γsat 16 - 22 kN/m² Soil Mechanics, John Miley 2000
3 Permeabilitas k < 10¯6 cm/detik Mekanika Tanah, (Das, 1985)
4 Modulus Young Eref 2 qc - 8 qc 59,47 - 237,88 kg/cm² Mekanika Tanah, (Das, 1985)
5 Angka Poisson υ 0.4 - 0.5 Tabel Farmer 1968
6 Kohesi C qc/20 1,5 Dosen T. Pondasi
7 Sudut Geser Ø 42,5 25 - 30 derajat (˚) Wesley LD, 1997

Lapisan 3 Pasir Kedalaman 8.40 - 11.20 m


tf 108.29 - 180.16 qc (sondir) 52 - 250 kg/cm²
No Parameter Simbol Nilai Satuan Sumber
1 Berat isi tanah tak jenuh γunsat 13 - 16 kN/m³ Soil Mechanics, John Miley 2000
2 Berat isi tanah jenuh γsat 18 - 20 kN/m² Soil Mechanics, John Miley 2000
3 Permeabilitas k 1- 10¯2 cm/detik Mekanika Tanah, (Das, 1985)
4 Modulus Young Eref 2 qc - 8 qc 214,9 - 859,73 kg/cm² Mekanika Tanah, (Das, 1985)
5 Angka Poisson υ 0.1 - 1.00 Tabel Farmer 1968
6 Kohesi C qc/20 5,37 Dosen T. Pondasi
7 Sudut Geser Ø 42,5 35 - 40 derajat (˚) Wesley LD, 1997

93
Tabel 2.32. Berat jenis tanah spesifik grafity
Macam Tanah Berat Jenis
Kerikil 2,65-2,68
Pasir 2,65-2,68
Lanau anorganik 2,62-2,68
Lempung organik 2,58-2,65
Lempung anorganik 2,68-2,75
Humus 1,37
Gambut 1,25-1,80

Untuk lempung yang terkonsolidasi secara normal dimana e versus log p


merupakan garis lurus, dapat ditulis menggunakan Persamaan 2.111 :

e  Cc log  Po  P   log Po  (2.111)

Dimana :
Cc = Kemiringan kurva e versus log P dan didefinisikan sebagai
“Indeks Pemampatan” (compression index).

Untuk mencari nilai indeks pemampatan (CC) digunakan Tabel 2.33.

Tabel 2.33 Hubungan untuk indeks pemampatan


Pedoman Acuan Daerah Pemakaian
Cc = 0.007 (LL-0.7) Skempton Lempung yang terbentuk kembali (remolded)
Cc = 0.01 (wn ) Lempung Chicago
Cc = 1.15 (eo -0.27) Nishida Semua lempung
Tanah kohesi anorganik: lanau, lempung
Cc = 0.30 (eo - 27) Hough
berlanau lempung
Tanah organik, gambut, lanau organik, dan
Cc = 0.0015 wn
lempung.
Cc = 0.0046 (LL - 9) Lempung Brazilia
Cc = 0.75 (eo - 15) Tanah dengan plastisitas rendah
Cc = 0.208 eo + 0.0083 Lempung Chicago
Cc = 0.156 eo +0.0107eo Semua lempung
Sumber : Das, Braja M

94
Untuk Lempung yang terkonsolidasi berlebihan (overconsolidated) apabila
po  pav  pc lapangan, variasi e versus log p terletak disepanjang garis cb dengan
kemiringan yang hampir sama dengan kemiringan “rebound curve”. Kemiringan
rebound curve (Cs) disebut “Indeks Pemuaian “ (swell index).

e  Cs log  Po  P   log Po  (2.112)

Jadi :
1. Lapisan lempung terkonsolidasi normal :
Cc  H c po  pav
Sc   log (2.113)
1  eo po

2. Lapisan lempung terkonsolidasi berlebih dengan po  pav  pc :

Cs  H c po  pav
Sc   log (2.114)
1  eo po

3. Untuk overconsolidasi pada tanah lempung dengan po  pc  pc  pav :

 C  Hc p   C  Hc p  pav 
Sc   s  log c    c  log o  (2.115)
 1  eo po   1  eo pc 
1 1
Cs   Cc (2.116)
5 10
Dimana :
po = tekanan rata-rata efektif di lapisan lempung sebelum konstruksi
pondasi.
pav = kenaikan tekanan rata-rata di lapisan lempung sebelum konstruksi
pondasi.
pc = tekanan pra konsolidasi.

eo = angka pori awal dari lapisan lempung

Cc = indeks pemampatan (Compression Index)

Cs = indeks pengembangan (Swell Index)

Hc = tebal dari lapisan lempung

95
Catatan :
Bahwa peningkatan tekanan ( p ) di lapisan lempung tidaklah tetap dengan
kedalaman. Besarnya p akan berkurang dengan peningkatan dari kedalaman diukur
dari dasar pondasi itu. Bagaimanapun, rata-rata kenaikan dari tekanan mungkin
mendekati :

1
pav    pt  4.pm  pb  (2.117)
6
Keterangan :
pav = kenaikan tekanan rata-rata (kN/m2)

pt = kenaikan tekanan yang berada atas (kN/m2)


pm = kenaikan tekanan yang berada tengah (kN/m2)

pb = kenaikan tekanan yang berada bawah (kN/m2)

2.5 Analisis Pile-Cap dan Sloof


Suatu pondasi tiang umumnya terdiri lebih dari satu tiang atau disebut tiang
kelompok. Tiang kelompok ini biasanya disatukan oleh kepala tiang yang juga
disebut Pile-cap atau Poer. Pile-cap tersebut mempunyai suatu reaksi yang
merupakan sederet beban terpusat (tiang pancang). Perencanaan pile cap juga
mempertimbangkan beban kolom dan momen dari setiap tanah yang
mendasari pile-cap (atau jika poer berada di bawah permukaan tanah), dan
berat pile-cap. Pile-cap berfungsi untuk mengikat tiang-tiang menjadi satu kesatuan
dan memindahkan beban kolom kepada tiang.
Pile-cap biasanya terbuat dari beton bertulang. Perencanaan pile-cap
dilakukan dengan anggapan sebagai berikut :
1. Pile-cap sangat kaku, Dalam perhitungan, poer dianggap atau dibuat kaku
sempurna sehingga bila beban-beban yang bekerja pada kelompok tiang
tersebut menimbulkan penurunan maka setelah penurunan bidang poer tetap
akan merupakan bidang datar. Gaya-gaya yang bekerja pada tiang
berbanding lurus dengan penurunan tiang-tiang tersebut.
2. Ujung atas tiang menggantung pada pile-cap. Karena itu, tidak ada momen lentur
yang diakibatkan oleh pile-cap ke tiang. Tiang merupakan kolom pendek dan
elastis. Karena itu distribusi tegangan dan deformasi membentuk bidang rata.

96
Anggapan bahwa setiap tiang pancang di dalam sebuah kelompok mengangkut
beban yang sama mungkin hampir benar bila hal berikut dipenuhi :
a. Pile cap bersentuhan dengan tanah
b. Tiang pancang semuanya tegak lurus
c. Beban diletakkan pada pusat kelompok tiang pancang
d. Kelompok tiang pancang adalah simetris
3. Umumnya, jarak antar tiang dalam kelompok berkisar antara 2,5 D sampai
3D. Dimana D atau s adalah diameter atau lebar tiang pancang. Ketentuan ini
berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
a. Bila jarak antar tiang s < 2,5 D kemungkinan tanah di sekitar
kelompok tiang akan naik terlalu berlebihan karena terdesak oleh tiang-
tiang yang dipancang terlalu berdekatan. Selain itu dapat
menyebabkan terangkatnya tiang-tiang di sekitarnya yang telah
dipancang lebih dahulu.
b. Bila jarak antar tiang s > 3 D akan menyebabkan perencanaan menjadi tidak
ekonomis sebab akan memperbesar ukuran/dimensi dari poer, jadi
memperbesar biaya konstruksi.

Beberapa ketentuan yang berlaku pada pondasi telapak (pondasi dangkal)


dari beton bertulang berlaku pula pada perhitungan pile-cap.
Fungsi utama balok sloof adalah sebagai pengikat antar pondasi, sehingga
diharapkan bita terjadi penurunan pada pondasi, penurunan itu dapat tertahan
(differensial settlement) atau akan terjadi secara bersamaan.

2.5.1 Pile-cap
Jarak tiang mempengaruhi ukuran pile-cap. Jarak tiang pada kelompok tiang
biasanya diambit 2,5D - 3 D, di mana D adalah diameter tiang, dalam hal ini
digunakan penampang bujursangkar (s). Beberapa ketentuan yang diambil dari SNI-
03-2847-2013 :
1. Ketebalan pondasi telapak di atas lapisan tulangan bawah tidak boleh kurang dari
300 mm untuk pondasi telapak di atas pancang.
2. Tebal selimut beton minimum untuk beton yang dicor langsung di atas tanah dan
selalu berhubungan dengan tanah adalah 75 mm.

97
1. Tulangan Lentur
Perhitungan momen lentur pada pile cap didasarkan pada asumsi bahwa
reaksi dari masing-masing tiang pancang terpusat pada pusat berat penampang tiang
pancang. Ketebalan minimum dari sebuah pile-cap ditentukan sebesar 300 mm.
Untuk dapat mentransfer beban dengan baik ke lapisan tanah, maka jarak antar tiang
pancang dibatasi minimal sebesar 3 kali diameter tiang pancang.

2. Geser
Dalam kontrol geser, kuat geser pondasi telapak di sekitar kolom, beban
terpusat, atau daerah reaksi ditentukan oleh kondisi terberat dari dua hal :
a. Aksi balok satu arah di mana masing-masing penampang kritis yang akan
ditinjau menjangkau sepanjang bidang yang memotong seluruh lebar
pondasi telapak.
b. Aksi dua arah di mana masing-masing penampang kritis yang akan
ditinjau harus ditempatkan sedemikian hingga perimeter penampang
adalah minimum.

Perhitungan gaya geser 1 arah dan 2 arah untuk pile cap sama dengan
perhitungan gaya geser 1 arah dan 2 arah pada pondasi telapak. Momen terfaktor
maksimum untuk sebuah pondasi telapak setempat harus dihitung pada penampang
kritis yang terletak di :
1. Muka kolom, pedestal, atau dinding, untuk pondasi telapak yang mendukung
kolom, pedestal atau dinding beton.
2. Setengah dari jarak yang diukur dari bagian tengah ke tepi dinding, untuk pondasi
telapak yang mendukung dinding pasang
3. Setengah dari jarak yang diukur dari muka kolom ke tepi pelat atas baja, untuk
pondasi yang mendukung petat dasar baja.
4. Beban akibat Pu yang bekerja dibebankan sama rata ke seluruh tiang. Masing-
masing tiang mendapatkan beban akibat sebesar Pu/n.

Gaya geser harus dicek dalam 1 arah dan 2 arah pile-cap :


a. Kontrol dalam gaya geser dalam 1 arah:
Gaya geser 1 arah yang terjadi pada penampang kritis (Vu):

98
Vu   . L . G ' (2.118)

Dimana :
Vu = gaya geser 1 arah yang terjadi pada penampang kritis
 = gaya vertikal per satuan luas = P / A
S = panjang pondasi
d = tebal efektif pile-cap

Daerah pembebanan (G’) yang diperhitungkan untuk geser penulangan satu arah.


G '  L  L / 2  L kolom / 2  d  (2.119)

Kuat geser beton:


1
 Vc   . . f c' . b . d (2.120)
6

Dimana :
b = panjang pondasi
d = tebal efektif pile-cap = h – selimut beton
h = tebal pile-cap
Vc = gaya geser nominal yang disumbangkan oleh beton
f’c = kuat tekan beton yang disyaratkan

Gaya geser nominal (Vc) harus lebih besar daripada gaya geser yang terjadi
(Vu).
b. Kontrol gaya geser dalam 2 arah :
1) Lebar penampang kritis (B') adalah

1
a) B '  L kolom  2   . d (2.121)
2

2) Gaya geser 2 arah yang bekerja pada penampang kritis adalah

b) Vu   .  L2g  Bg2  (2.122)

99
3) Besar Vc adalah nilai terkecil dari :

 2  f c' . b0 . d
c) Vc  1  . (2.123)
 c  6
Dimana :
k
c 
bk (2.124)

b0  4 . B '
(2.125)
k = lebar kolom
d = tinggi efektif pile-cap
h = tebal pile-cap
bo = keliling penampang kritis pondasi telapak / pile-cap
s = konstanta untuk perhitungan pondasi telapak / pile-cap

 s .d  f c' . b0 . d
1) Vc    2 . (2.126)
 b0  12
Dimana :
s = 40 untuk kolom dalam
s = 30 untuk kolom tepi
s = 20 untuk kolom sudut
1
2) Vc  f c' . b0 . d (2.127)
3

Gaya geser nominal (Vc) harus lebih besar daripada gaya geser yang terjadi
(Vu).

3. Penulangan Pile-Cap
Momen terfaktor maksimum untuk sebuah pondasi telapak setempat harus
dihitung pada penampang kritis yang terletak di :
a. Muka kolom, pedestal, atau dinding, untuk pondasi telapak yang mendukung
kolom, pedestal atau dinding beton.

100
b. Setengah dari jarak yang diukur dari bagian tengah ke tepi dinding, untuk pondasi
telapak yang mendukung dinding pasangan.
c. Setengah dari jarak yang diukur dari muka kolom ke tepi pelat atas baja, untuk
pondasi yang mendukung pelat dasar baja.

Beban aksial Pu yang bekerja dibebankan sama rata ke seluruh tiang. Masing-
masing tiang mendapatkan beban aksial sebesar Pu/np.

Untuk menentukan lebar penampang kritis (B’):


Bg
B'   k 2 (2.228)
2

Untuk menentukan berat pile-cap pada penampang kritis:

q '   (beton ) . L . h (2.229)

Dimana :
L = dimensi pile-cap
Untuk menentukan momen ultimit yang bekerja pada pile-cap :
 P   1
Mu   2 .  u  .  s   M maks   . q ' .  B ' 
2
(2.230)
  np  2
   

Untuk menentukan momen nominal penampang pile-cap :

 1 
 M n   . As . f y  d  . a  (2.231)
 2 

Tinggi bidang tekan pada penampang pile cap :


As . f y
a (2.232)
0,85 . f c' . b
Dengan demikian, penggambaran penampang tulangan dapat direncanakan.

2.5.2 Balok Sloof


Balok sloof akan menerima beban akibat :

101
1. Perbedaan penurunan pondasi :
Perbedaan penurunan antar pondasi (s), adalah 1/150 Ls hingga
1/300 Ls (Ls adalah panjang bentang bersih as ke as balok sloof). Akibat
dari penurunan tersebut, maka balok sloof akan mengalami momen  M
sebesar:
6 . E . I . s
M 
L2s (2.233)

Dimana :
    M = Momen yang terjadi akibat penurunan
E = Modulus elastisitas beton
I = Momen inersia penampang
   s = penurunan yang terjadi
Ls = bentang bersih atau jarak as ke as pile-cap

2. Gaya aksial 10% dari kolom yang bekerja bersamaan dengan gaya
momen:
Gaya aksial 10% ini bekerja bolak-balik sebagai gaya normal pada
balok sloof, sehingga perhitungannya dapat dilakukan seperti perhitungan
kolom. Momen-momen dapat terjadi akibat beban dari struktur atas.

1. Tulangan Lentur
Berdasarkan SNI-03-2847-2002, tulangan lentur untuk komponen struktur
non_prategang dengan tulangan sengkang pengikat, kuat tekan aksial terfaktor, tidak
boleh diambil lebih dari Persamaan 2.234 sebagai berikut :

 Pn maks   0,80 .  0,85. f c' .  Ag  Ast   Ast . f y  (2.234)

Ada beberapa kondisi yang terjadi, yaitu :


a. Bila beban aksial tekan terfaktor  Pn ≤ 0,10 f’c Ag, maka persyaratan harus
dipenuhi kecuali bila dipasang tutangan spiral. Persyaratan tersebut adalah
mengenai persyaratan jarak tulangan sengkang sesuai dengan pendetailan
tulangan geser.

102
b. Kuat lentur positif komponen struktur lentur pada muka kolom tidak boleh
lebih kecil dari 1/3 kuat lentur negatifnya, pada muka tersebut. Baik kuat
lentur negatif maupun kuat lentur positif pada setiap irisan penanrpang di
sepanjang bentang tidak boleh kurang Jari 1/5 kuat lentur yang terbesar yang
disediakan pada kedua muka kolom di kedua ujung komponen struktur
tersebut.
c. Tulangan lentur As minimum tidak boleh kurang dari :

f c'
As  min   .b.d (2.235)
4 . fy

dan tidak lebih kecil dari :


1, 4 . b . d
As  min   (2.236)
fy
Dimana :
b = lebar balok
d = tinggi efektif balok (tinggi balok - selimut beton dan diameter sengkang),
selimut beton diambil 10 cm.
fc' = kuat tekan beton
fy = tegangan leleh baja

2. Tulangan Geser
Tulangan geser dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan :
 Vn  Vu (2.237)

Dimana :
Vn  Vc  Vs
(2.238)
 Vc  Vs   Vu
(2.239)
 = faktor reduksi kekuatan geser = 0,75
Vn = tegangan geser nominal
Vu = gaya geser terfaktor
Vc = kuat geser nominal yang disumbangkan oleh beton
Vs = kuat geser nominal yang disumbangkan oleh tulangan geser

103
Untuk komponen struktur yang hanya dibebani oleh gaya tarik aksial yang
besar, kuat geser Vc boleh dihitung dengan perhitungan yang lebih rinci dengan
persamaan :

 0,3. Nu  f c' . bw . d
Vc  1   . (2.240)
 Ag 6
 
Dimana :
Vc = kuat geser nominal yang disumbangkan oleh beton
fc' = kuat tekan beton
Ag = luas penampang beton
bw = lebar badan balok
d = jarak dari serat tekan terluar ke titik berat tulangan tarik longitudinal
= tinggi balok – selimut beton-diameter sengkang
Nu = gaya tarik terfaktor

Dari Persamaan 2.239 atau  Vc  Vs   Vu , maka :

Vu
Vs   Vc (2.241)

Dimana :
Av . f y . d
Vs 
s (2.242)
Av = luas tulangan geser
fy = kuat leleh tulangan
d = jarak dari serat tekan terluar ke titik berat tulangan tarik longitudinal
= tinggi balok selimut beton-diameter tulangan sengkang
s = jarak tulangan geser

Di dalam menghitung jarak tulangan geser, perlu diperhatikan :


1) Pada kedua ujung balok harus dipasang sengkang pertama pada jarak tidak lebih
dari 50 mm dari muka perletakan sepanjang jarak = 2 x tinggi balok diukur dari
muka perletakan ke arah bentang.
2) Sengkang ini harus mempunyai spasi yang tidak lebih dari:

104
a. 1/4 tinggi efektif balok
b. 8 kali diameter tulangan longitudinal terkecil
c. 24 kali diameter sengkang
d. 300 mm
e. gunakan ukuran terkecil

Gambar 2.46 Pemasangan tulangan pada balok sloof berdasarkan SNI


(pada daerah tumpuan) (SNI -03-2847-2002)

Tabel 2.34 Tabel kuat tekan beton


Mutu Beton Kuat Tekan
kg/cm2 Mpa
K-225 225 18
K-250 250 20
K-275 275 22
K-300 300 24
K-350 350 28
K-400 400 32
K-450 450 36
K-500 500 40

105
Tabel 2.35 Tabel kuat tarik baja
Jenis Simbol Tegangan Leleh Kuat Tarik Minimum Regangan Patah
Minimum (Mpa) Minimum (%)
(Mpa)
Tulangan Bj TP 24 235 382 20
polos Bj TP 30 294 480 16
Tulangan Bj TD 24 235 382 18
Ulir/Deform Bj TD 30 294 480 14
Bj TD 35 343 490 18
Bj TD 40 392 559 16
Bj TD 50 490 618 12

Tabel 2.36 Tabel luas tulangan geser untuk pile-cap


Spasi Diameter (mm)
(mm) Polos Deform/Ulir
8 10 12 13 16 19 22 25 29
50 1005 1571 2262 2655 4021 5671 7603 9817 13210
75 670 1047 1508 1770 2681 3780 5068 6545 8807
100 503 785 1131 1327 2011 2835 3801 4909 6605
125 402 628 905 1062 1608 2268 3041 3927 5284
150 335 524 754 885 1340 1890 2534 3272 4403
175 287 449 646 758 1149 1620 2172 2805 3774
200 251 393 565 664 1005 1418 1901 2454 3303
225 223 349 503 590 894 1260 1689 2182 2936
250 201 314 452 531 804 1134 1521 1963 2642
275 183 286 411 483 731 1031 1382 1785 2402
300 168 262 377 442 670 945 1267 1636 2202

Tabel 2.37 Tabel luas tulangan lentur untuk pile-cap


Jumlah Diameter (mm)
(buah) Polos Deform/Ulir
8 10 12 13 16 19 22 25 29
1 50 79 113 133 201 284 380 491 661
2 101 157 226 265 402 567 760 982 1321
3 151 236 339 398 603 851 1140 1473 1982
4 201 314 452 531 804 1134 1521 1963 2642
5 251 393 565 664 1005 1418 1901 2454 3303
6 302 471 679 796 1206 1701 2281 2945 3963
7 352 550 792 929 1407 1985 2661 3436 4624
8 402 628 905 1062 1608 2268 3041 3927 5284
9 452 707 1018 1195 1810 2552 3421 4418 5945
10 503 785 1131 1327 2011 2835 3810 4909 6605
11 553 864 1244 1460 2212 3119 4181 5400 7266

106
12 603 942 1357 1593 2413 3402 4562 5890 7926
13 653 1021 1470 1726 2614 3686 4942 6381 8587
14 704 1100 1583 1858 2815 3969 5322 6872 9247
15 754 1178 1696 1991 3016 4253 5702 7363 9908
16 804 1257 1810 2124 3217 4536 6082 7854 10568
17 855 1335 1923 2256 3418 4820 6462 8345 11229
18 905 1414 2036 2389 3619 5104 6842 8836 11889
19 955 1492 2149 2522 3820 5387 7223 9327 12550
20 1005 1571 2262 2655 4021 5671 7603 9817 13210
21 1056 1649 2375 2787 4222 5954 7983 10308 13871
22 1106 1728 2488 2920 4423 6238 8363 10799 14531
23 1156 1806 2601 3053 4624 6521 8743 11290 15192
24 1206 1885 2714 3186 4825 6805 9123 11781 15852
25 1257 1963 2827 3318 5027 7088 9503 12272 16513
26 1307 2042 2941 3451 5228 7372 9883 12763 17174
27 1357 2121 3054 3584 5429 7655 10264 13254 17834
28 1407 2199 3167 3717 5630 7939 10644 13744 18495
29 1458 2278 3280 3849 5831 8222 11024 14235 19155
30 1508 2356 3393 3982 6032 8506 11404 14726 19816

Tabel 2.38 Spesisikasi tiang pancang


Dimension Concrete Concrete Weight Class Bending Moment Allowable Length
(D) Thicknes (T) Area Crack Ultimate Axial Load Pile (L)
cm mm cm2 kg/m Ton.m Ton.m Ton m
A2 6.5 10 182
277 A3 8.5 12.5
40 x 40 75 1109 180 6-16
B 10 18 173
C 11 22 169
A1 8.5 12.5 227
341 A2 11 17
45 x 45 80 1364 A3 13 20.9 219 222 6-16
B 13.5 24 215
C 15.5 31 208

107