Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehamilan dengan anemia saat ini masih menjadi masalah

utama yang diderita oleh hampir separuh wanita hamil di seluruh

negara di dunia termasuk Indonesia. Anemia pada kehamilan

merupakan masalah nasional karena mencerminkan nilai

kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, dan pengaruhnya sangat

besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Seringkali disebut

potential danger to mother and child. (Azra & Rosha, 2015).

Anemia merupakan komplikasi umum dari kehamilan yang

disebabkan oleh kadar HB di bawah 11 gram% pada trimester I & III ,

kadar HB < 10,5 gram% pada trimester II (Saifudin, 2014). Meskipun

anemia disebut sebagai penyebab tidak langsung terjadinya kematian

ibu, akan tetapi menjadi masalah yang serius apabila tidak ditangani

dengan baik. Anemia selama kehamilan ini dapat berdampak bagi

kesehatan ibu dan juga bayinya. (Widyawati et al, 2014).

Dampak kehamilan dengan anemia pada ibu diantaranya

sesak nafas, kelelahan, pelpitasi, gangguan tidur, meningkatkan risiko

pendarahan saat persalinan, pre-eklamsia dan sepsis. Dan dampak

pada janin yaitu intra uterine growth retardation (IUGR), lahir


prematur, berat bayi lahir rendah (BBLR), dan peningkatan risiko

kematian neonatus (noran dan mohammed, 2015).

World Health Organization (WHO) pada tahun 2012,

melaporkan bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil di dunia berkisar

rata-rata 41,8% WHO. Prevalensi anemia pada ibu hamil di Asia

sebesar 48,2 %, Afrika 57,1 %, Amerika 24,1 %, dan Eropa 25,1%. Di

negara berkembang, anemia menjadi perhatian yang serius karena

dampaknya pada ibu maupun janin berkontribusi terhadap kematian

matenal (Ratna,2017)

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun

2013, prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia sebesar 37, 1 %.

Menurut sistem kesehatan nasional (SKN) tahun 2012, angka ibu

hamil dengan anemia di indonesia yaitu sebesar 40% Berdasarkan

data survei Demografi kesehatan Indonesia (SDKI) angka kematian

ibu (AKI) di Indonesia sangat memprihatinkan karena jumlah

kamatian ibu di Indonesia pada tahun 2012 mengalami peningkatan

yaitu 359/100.000 kelahiran hidup (KH), padahal pada tahun 2007 AKI

di Indonesia sebesar 228/100.000 (KH) (Mandarska, 2013). Angka ini

sangat jauh dari target SDGs yaitu AKI dapat mencapai 70/100.000

KH pada tahun 2030.

Angka kematian Ibu (AKI) di kota Ambon, pada tahun 2013

terjadi 4 kematian ibu atau 28,6 per 100.000 kelahiran hidup. Tahun

2014 sebesar 2 ibu atau 59,9 per 100.000 kelahiran hidup dan di
tahun 2015 terjadi peningkatan sebesar 5 atau 36,3 per 100.000

kelahiran hidup. Penyebab utama kematian adalah perdarahan

dikarenakan tidak tertanganinnya anemia (Dinkes Kota Ambon, 2015).

Kejadian anemia pada ibu hamil dapat dipengaruhi oleh

Beberapa faktor - faktor risiko yang berperan dalam meningkatkan

prevalensi anemia zat besi antara lain usia ibu, pendidikan rendah,

paritas, pekerja berat, kepatuhan mengkonsumsi tablet besi (Fe) dan

makan < 3 kali dan kurang mengandung zat besi (Manuaba, 2010).

Umur merupakan salah satu faktor risiko yang dapat

menyebabkan terjadinya anemia pada kehamilan. Umur seorang ibu

berkaitan dengan alat-alat reproduksi wanita. Umur reproduksi yang

sehat dan aman adalah pada usia 20 – 35 tahun. Kehamilan diusia <

20 tahun dan > 35 tahun dapat menyebabkan anemia karena pada

kehamilan diusia < 20 alat reproduksi untuk hamil belum matang

sehingga dapat merugikan kesehatan ibu dan juga perkembangan

serta pertumbuhan janin. Disamping itu akan terjadi kompetisi

makanan antar janin dan ibunya sendiri yang masih dalam

pertumbuhan dan adanya pertumbuhan hormonal yang terjadi selama

kehamilan. Sedangkan pada usia > 35 tahun terkait dengan

kemampuan sistem reproduksi sudah menurun, kemunduran dan

penurunan daya tahan tubuh serta berbagai penyakit yang sering

menimpa diusia ini (Nurhidayati, 2013). Dalam hasil penelitian


Ningrum dkk (2017) menemukan adanya hubungan usia ibu dengan

kejadian anemia pada kehamilan.

Paritas juga merupakan salah satu faktor risiko kejadian

anemia karena Semakin sering mengalami kehamilan dan melahirkan

maka semakin banyak kehilangan zat besi dan menjadi semakin

anemia karena kehamilan menguras cadangan zat besi dalam tubuh.

Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut

kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3)

mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas,

lebih tinggi kematian maternal. Risiko pada paritas 1 dapat ditangani

dengan asuhan obstetrik lebih baik, sedangkan risiko pada paritas

tinggi dapat dikurangi atau 6 dicegah dengan keluarga berencana.

Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan

(Saifuddin, 2013). Menurut Hasil Penelitian purwandari dkk (2016)

menyatakan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara paritas

dengan kejadian anemia pada ibu hamil.

Selain usia dan paritas, kepatuhan mengkosumsi tablet besi

(Fe) juga merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian

anemia. Kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet besi adalah ketaatan

ibu hamil melaksanakan anjuran petugas kesehatan untuk

mengkonsumsi tablet zat besi. Kepatuhan mengkonsumsi tablet besi

(Fe) diukur dari ketepatan jumlah tablet yang dikonsumsi, ketepatan

cara mengkonsumsi tablet besi (Fe) frekuensi tablet perhari. Ibu hamil
banyak yang mengalami anemia defisiensi zat besi karena kepatuhan

mengkonsumsi yang tidak baik ataupun cara mengkonsumsi yang

salah penyebab kurangnya penyerapan zat besi pada tubuh ibu

tersebut (Novita dkk,2013). Berdasarkan hasil penelitian Dhiny Easter

Yanti (2016) mengatakan bahwa ada hubungan bermakna antara

tingkat kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe terhadap kejadian anemia

pada ibu hamil.

Frekuensi Antenatal Care (ANC) juga dapat mempengaruhi

kejadian anemia. Penelitian Asyirah (2012) Frekuensi Antenatal Care

(ANC) dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Hal ini dikarenakan

ANC merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk

mencegah terjadinya anemia. Skrining dini anemia, konseling dan

pemberian tablet Fe dapat diperoleh dari asuhan ANC. Selain itu,

kunjungan ANC memberikan informasi kesehatan essensial bagi ibu

hamil salah satunya adalah informasi tentang pemenuhan nutrisi zat

besi (Sulistyoningsih, 2011)

Berdasarkan data rekam medik yang diperoleh dari Pukesmas

Passo Kota Ambon tahun 2015 jumlah ibu hamil dengan kejadian

anemia sebesar 80 orang dari 230 ibu hamil, pada tahun 2016 jumlah

ibu hamil dengan anemia sebesar 90 orang dari 196 ibu hamil, pada

tahun 2017 jumlah ibu hamil dengan anemia sebesar 56 orang dari

115 ibu hamil (Puskesmas Passo Kota Ambon).


Berdasarkan latar belakang diatas dan serta tingginya angka

kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Passo Kota Ambon

Provinsi Maluku sehingga menarik perhatian peneliti untuk melakukan

penelitian mengenai Faktor-Faktor Risiko Kejadian Anemia Pada Ibu

Hamil Di Puskesmas Passo Kota Ambon Provinsi Maluku.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dipaparkan, maka

rumusan masalah yang dapat peneliti rumuskan adalah sebagai

berikut

1. Berapakah besar risiko umur terhadap kejadian anemia di

Puskesmas Passo Kota Ambon Provinsi Maluku?

2. Berapakah besar risiko paritas terhadap kejadian anemia di

Puskesmas Passo Kota Ambon Provinsi Maluku?

3. Berapakah besar risiko kepatuhan mengkonsumsi tablet besi (fe)

terhadap kejadian anemia di Puskesmas Passo Kota Ambon

Provinsi Maluku?

4. Berapakah besar risiko frekuensi ANC terhadap kejadian anemia

di Puskesmas Passo Kota Ambon Provinsi Maluku?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor risiko kejadian anemia pada ibu

hamil di Puskesmas Passo kota Ambon.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui besar risiko umur terhadap kejadian

anemia di Puskesmas Passo Kota Ambon.

b. Untuk mengetahui besar risiko paritas terhadap kejadian

anemia di Puskesmas Passo Kota Ambon.

c. Untuk mengetahui besar risiko mengkonsumsi tablet besi (Fe)

terhadap kejadian anemia di Puskesmas Passo Kota Ambon.

d. Untuk mengetahui besar risiko frekuensi ANC terhadap

kejadian anemia di puskesmas Passo Kota Ambon.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan masukan

untuk menambah ilmu pengetahuan tentang faktor-faktor risiko

kejadian anemia pada ibu hamil sebagai upaya pencegahan dan

perbaikan status kesehatan ibu hamil terhadap kejadian anemia.

2. Manfaat Aplikatif

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan

informasi pada ibu hamil tentang anemia yang terjadi dalam

kehamilan serta cara pencegahan dan penatalaksanaan.


b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi bagi

keluarga untuk memperhatikan kondisi dan kesehatan ibu hamil

dalam menjalani kehamilan agar terhindardari anemia.

c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan kepada

petugas kesehatan di Puskesmas dalam memberikan asuhan

keperawatan kepada pasien khususnya ibu hamil.