Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Payudara merupakan organ tubuh yang dimiliki oleh setiap mamalia, termasuk manusia. Baik
mamalia jantan maupun betina, pria dan wanita sama-sama memiliki organ tubuh yang satu ini.
Perbedaannya, payudara betina dan wanita memiliki kelenjar susu yang dipersiapkan tubuh untuk
memberi makan anak-anak yang dilahirkannya nanti. Fungsi utama dari kelenjar susu adalah
menyuplai nutrisi yang dibutuhkan bayi dalam bentuk air susu. Proses pemberian air susu ini
dinamakan menyusui (Savitri, Astrid, dkk. 2015)

Payudara dimiliki oleh setiap orang, lelaki maupun wanita. Pada lelaki payudara mengalami
rudimenter dan tidak penting, sedangkan milik wanita menjadi besar dan penting. Payudara
merupakan salah satu organ penting wanita yang erat kaitannya dengan fungsi reproduksi dan
kewanitaan (kecantikan). Karena itu, gangguan payudara tidak sekadar memberikan gangguan
kesakitan sebagaimana penyakit pada umumnya, tetapi juga akan mempunyai efek estetika dan
psikologis khusus. Bila seorang wanita terkena kanker kedua payudaranya, mungkin harus
ditindaki dengan bedah dimana kedua payudaranya diangkat. Bisa dibayangkan bagaimana
perasaan dan kehidupan kewanitaan seorang perempuan yang hidup tanpa payudara. Hanya saja
tidak jarang ditemukan bahwa kalau terjadi gangguan pada payudara, seorang wanita pada
awalnya tidak terlalu mengacuhkannya sampai keadaannya menjadi serius. Akibatnya, penemuan
atau deteksi dini kanker menjadi terlambat ( Bustan Nadjib, 2015).

Secara fisiologis payudara wanita sangat penting untuk fungsi reproduksi, antara lai n sebagai
makanan atau susu bayi (breast feeding). Selain itu, terutama pada masa gadis, payudara
memegang peran dalam fungsi estetik dan penarik seksual (sexual appeal) ( Bustan Nadjib, 2015).

Kanker payudara merupakan 1-3°/o penyebab kematian akibat kanker pada wanita di seluruh
dunia. Sejak mamografi digunakan secara luas sebagai metode skerening, ukuran tumor saat
pertama dideteksi dan tingkat kematian akibat kanker payudara menurun cukup tajam sampai 20%
dalam 10 tahun terakhir. Kanker payudara di Indonesia sampai saat ini merupakan kanker kedua
tersering pada wanita setelah kanker mulut rahim. Dengan insiden kanker payudara sekitar 100 per
100.000 jiwa per tahun dan lebih dari 50% di antaranya ditemukan dalam stadium lanjut,
mamografi masih menjadi alat yang diandalkan dalam mendeteksi kanker payudara. Masih
sedikitnya penemuan kasus dalam stadium dini menyebabkan upaya deteksi d ini dan skerening
menjadi sangat penting. Mamografi sendiri sangat bermanfaat dalam menemukan lesi berukuran
sangat kecil, sampai 2 mm, yang tidak teraba dalam pemeriksaan klinis (biasanya berukuran di
bawah 1 cm)( Bustan Nadjib, 2015).

Dengan program skerening diharapkan dilakukan pemeriksaan dasar mamografi setiap 2-3 tahun
sekali pada perempuan berusia di atas 35-50 tahun, dan setiap satu tahun atau dua tahun pada
wanita berusia di atas 50 tahun. Pemeriksaan dasar ini akan memberikan data awal jaringan
payudara wanita. Bila mamografi dilakukan secara rutin diharapkan jika ada perubahan sedikit
saja dari jaringan Dayudara wanita akan dapat segera diketahui. Sayangnya, pola pikir seperti ini
tidak dijumpai pada kaum perempuan umumnya, sangat jarang seorang perempuan datang dengan
kesadaran sendiri dan meminta di lakukan mamografl. Hampir semua pasien datang dengan
keluhan nyeri atau benjolan, dan hampir semuanya membawa surat rujukan (Bustan Nadjib,
2015).

B. Tujuan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Fisiologi
Setiap payudara terdi atas dua belas sampai dua puluh kelenjar yang masing-masing tumbuh
besar; unit-unit yang bersama-sama membentuk stmktur kelenjar payudara yang berjendal-jendul
dan semuanya bennuara di puting. Payudara tidak ada kaitannya dengan otot dada besar (muskulus
pektoralis) yang melalui suatu urat yang kokoh melekat pada lengan atas dan di ujung lain
berpegangan kuat pada dinding dada dengan melebar seperti kipas. Burung menggunakan otot ini
untuk terbang, han'mau tutul menggunakannya untuk lari cepat memburu korbannya dan kita
memerlukannya untuk saling memeluk.

Jadi, kanker payudara pada prinsipnya adalah tumor ganas dari salah satu kelenjar kulit di sebelah
luar rongga dada. Kelenjar limfe ketiak membentuk sistem pengaliran limfe bagi kedua kuadran
atas tubuh, selain payudara termasuk di sini juga kedua lengan. Jumlah kelenjar limfe ini
bervariasi, meluasnya dari sisi luar atas kelenjar Payudara sampai di bawah dan belakang tulang
selangka. Di sini berhubungan dengan kelenjar limfe leher terbawah selain berhubung

A. Gambaran Umum Payudara dimiliki oleh setiap orang, lelaki maupun wanita. Pada lelaki
payudara mengalami rudimenter dan tidak penting, sedangkan milik wanita menjadi besar dan
penting. Payudara merupakan salah satu organ penting wanita yang erat kaitannya dengan fungsi
reproduksi dan kewanitaan (kecantikan). Karena itu, gangguan payudara tidak sekadar
memberikan gangguan kesakitan sebagaimana penyakit pada umumnya, tetapi juga akan
mempunyai efek estetika dan psikologis khusus. Bila seorang wanita terkena kanker kedua
payudaranya, mungkin harus ditindaki dengan bedah dimana kedua payudaranya diangkat. Bisa
dibayangkan bagaimana perasaan dan kehidupan kewanitaan seorang perempuan yang hidup tanpa
payudara. Hanya saja tidak jarang ditemukan bahwa kalau terjadi gangguan pada payudara,
seorang wanita pada awalnya tidak terlalu mengacuhkannya sampai keadaannya menjadi serius.
Akibatnya, penemuan atau deteksi dini kanker menjadi terlambat.

Secara fisiologis payudara wanita sangat penting untuk fungsi reproduksi, antara lai n sebagai
makanan atau susu bayi (breast feeding). Selain itu, terutama pada masa gadis, payudara
memegang peran dalam fungsi estetik dan penarik seksual (sexual appeal).

an dengan sistem pembuluh balik, jalan bagi metastasis hematogen

beq'arak. Apabila pengaliran keluar limfe tertutup oleh diseksi kelenjar limfe,

pertumbuhan masuk dari kanker, penyinaran atau kombinasi sebabsebab ini, teq'adilah edema
(sembab, pembengkakan) limfe yang

ditakuti dan' lengan dan tangan. Pada penyebaran kanker secara


Iimfogen, kelenjar satu per satu terkena. Kelenjar yang menampung penyebaran pertama disebut
kelenjar

penjaga gerbang pengawal. Terkena tidaknya kelenjar ini akan menentukan pilihan terapi. Jika
kelenjar ini bebas dari metastasis, penyebaran di kelenjar limfe lain yang letaknya lebih ke atas
tidak perlu

dipildrkan.