Anda di halaman 1dari 6

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Hormon tiroid memberikan pengaruh yang besar pada sistem kardiovaskular dengan sejumlah
mekanisme langsung atau tidak langsung. Efek kardiovaskular penting pada hipo- dan
hipertiroidisme. Hormon tiroid menyebabkan peningkatan pada metabolisme dan konsumsi
oksigen seluruh tubuh yang secara tidak lansung memberikan beban kerja tambahan pada
jantung. Selain itu, meskipun mekanisme yang jelas belum didefinisikan, hormon tiroid
memberikan efek langsung inotropik, kronotropik, dan dromotropik yang mirip dengan apa yang
terlihat dengan stimulasi adrenergic.

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 – Anamnesis
Pemeriksaan anamnesa merupakan pemeriksaan yang dilakukan oleh seorang dokter dengan
cara memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan penyakit yang dikeluhkan
oleh pasien. Pertanyaan-pertanyaan ini adalah usaha dari dokter untuk menggali informasi
tentang penyakit pasien sehingga di dapat diagnosa dari penyakit tersebut. Berdasarkan
skenario, pertanyaan-pertanyaan tersebut meliputi identitas pasien, riwayat penyakit pasien,
gejala-gejala yang timbul, pengobatan yang telah dijalankan sebelumnya jika ada, dan
sebagainya yang berkaitan.1
1. Menanyakan keluhan utama? (lokasi, onset, durasi, faktor yang perberat)
2. Menanyakan gejala dan keluhan penyerta lainnya? (demam, penurunan BB, mudah lelah,
gejala sistemik lainnya)
3. Menanyakan riwayat penyakit dahulu (penyakit sebulumnya, riwayat trauma) dan sosial
(aktivitas sehari-hari)
4. Menanyakan riwayat penyakit keluarga

2.2 – Pemeriksaan Fisik


 Tanda-tanda vital
 Leher : - inspeksi
- Palpasi

 Thoraks : - Inspeksi
- Palpasi
- Perkusi
- Auskultasi

2.3 – Pemeriksaan Penunjang 7


 Pemeriksaan Laboratorium
1) Darah Rutin
2) Fungsi Ginjal
 Serologi8
I. TSH ultrasensitive : merupakan metode terbaik untuk mendiagnosis hipertiroidisme.
Akan menurun sebagai respons terhadap peningkatan hormon tiroid di dalam sirkulasi
pada 98% kasus.
II. T4 bebas : merupakan ukuran hormon tiroid aktif, tidak dipengaruhi pleh perubahan
globulin pengikat tiroksin (TBG), akan meningkat pada sebagian besar kasus
hipertiroidisme.
III. T4 total : pengukuranyya dipengaruhi oleh peningkatan kadar TBG. Dengan demikian,
peningkatan T$ total tidak sensitif atau spesifik. Akan meningkat pada keadaan-keadaan
yang meningkatkan TBG antara lain. Kehamilan, terapi estrogen serta kontrasepsi oral.
IV. T3 bebas : kira-kira 5% orang yang hipertiroid akan memiliki kadar T4 yang normal,
tetapi suatu peningkatan kadar T3, menunjukkan hipertiroidisme T3 tersendiri.
V. Antibodi antitiroid : meningkat terutama pada tiroiditis autoimun.
VI. Tes TRH (Thyroid releasing Hormon)
Dilakukan pada orang tua yang klinis hipertiroid, namun T3 dan T4 normal. Tidak
adanya adanya respon TSH pada tes ini dengan T3 dan T4 normal menunjukan
hipertiroid subklinis
VII. RAIU (Radio Iodine Uptake)
Hanya dapat membantu sedikit pada adenoma toksik, sebab pada beberapa
penderita biasanya tes ini normal.
VIII. Sidik Tiroid (Thyroid Scan)
Untuk dibedakan dengan tumor
 USG Thyroid
 Pemeriksaan Radiologi :
• Gambaran foto toraks umumnya normal
• Kadang : Pembesaran aorta desenden atau asenden
• Pada kasus berat : kardiomegali
 Pemeriksaan EKG :
• Gangguan irama atau gangguan konduksi jantung. Biasanya dengan sinus takikardi, atrium
fibrilasi ditemui 10-20 % kasus
• Kasus berat: left ventricle hypertrophy (LVH).
• pelebaran dan pemanjangan gelombang P dan pemanjangan PR interval, gelombang T yang
prominen, peninggian voltase, perobahan gelombang ST-T dan pemendekan interval QT.
2.4 – Diagnosis 2

Diagnosis penyakit jantung tiroid ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan hasil pemeriksaan
laboratorium, ditambah dengan pemeriksaan penunjang lain seperti elektrokardiografi dan
ekokardiografi. Status fungsional kelenjar tiroid dapat dipastikan dengan perantaraan tes-tes
fungsi tiroid. Tes-tes berikut digunakan untuk diagnosis penyakit tiroid seperti dapat dilihat pada
tabel 1.

Tabel 1. Tes-tes fungsi tiroid

Tes Hipertiroidisme Hipotiroidisme


Ambilan radioisotope iodium (RAI) meningkat menurun
Tiroksin serum meningkat menurun
Ambilan T3 resin meningkat menurun
Serum TSH menurun meningkat

Umumnya pada hipertiroidisme, tanda-tanda vital (suhu, nadi, laju pernafasan, tekanan darah)
menunjukkan peningkatan denyut jantung. Tekanan darah sistolik bisa meningkat. Pemeriksaan
fisik bisa menunjukkan adanya pembesaran kelenjar tiroid atau gondok.

Pada kasus yang didapat, tekanan darah sistolik pasien meningkat, frekuensi nadi juga sedikit
meninggi, laju pernafasan dan suhu normal serta denyut jantung meningkat dan irregular. Pada
pemeriksaan fisik juga terdapat struma difusa yaitu pembesaran kelenjar tiroid yang merata.
 Hipertiroidisme
Hipertiroidisme adalah suatu keadaan dimana kelenjar tiroid bekerja secara berlebihan,
sehingga menghasilkan sejumlah besar hormon tiroid. Hipertiroid merupakan keadaan klinis
akibat dari produksi T4 , T3 , atau keduanya. Hipertiroid relatif lebih sering mengenai 4-8 kali
pada perempuan disbanding pria, dengan insiden terbanyak pada decade ke tiga atau ke
empat. Hipertiroidisme bisa ditemukan dalam bentuk penyakit Graves, gondok noduler
toksik atau hipertiroidisme sekunder.
Gejala yang sering ditemukan adalah kelelahan, hiperaktif, insomnia, kepanasan, palpitasi,
sesak napas, nafsu makan meningkat, berat badan turun, nokturia, diare, oligomenorrhoea,
kelemahan otot, tremor, emosi labil, denyut jantung meningkat, hipertensi
sistolik,hipertermia, kulit lembab dan hangat, kelopak mata turun, dan refleks halus.3

1) Penyakit Graves2
Penyakit ini disebabkan oleh kehadiran antibody dalam darah yang bukan sahaja merangsang
kelenjar tiroid merembeskan jumlah hormone tiroid yang berlebihan tetapi juga menambah
saiz kelenjar tiroid dan mengakibatkan goiter bagi sesetengah individu. Penyebab
penghasilan antibody ini tidak diketahui dan disebabkan oleh penyakit Graves ini berlaku
dalam sesebuah keluarga, jadi factor gen mamainkan peranan penting. Penyakit ini umumnya
terjadi pada usia 30-40 dan lebih sering ditemukan pada wanita daripada laki-laki. Antara
gejalanya adalah hipermetabolisme dan aktifitas simpatis yang berlebihan. Pasien dapat
mengeluh lelah, gemetar, tidak tahan panas, keringat berlebihan, berat badan menurun,
palpitasi, takikardi. Kemudian, terdapat ciri tiroidal berupa goiter akibat hiperplasia hormon
tiroid yang berlebihan. Manifestasi esktratiroidal berupa oftalmopati yang ditandai
denganmata melotot, fisura palpebra melebar, kedipan berkurang, lid lag (keterlambatan
kelopak mata dalam mengikuti gerakan mata)

2) Goiter Nodular Toksik2


Pada goiter noduler toksika, satu atau beberapa nodul di dalam tiroid menghasilkan terlalu
banyak hormon tiroid dan berada di luar kendali TSH (thyroid-stimulating hormone). Nodul
tersebut benar-benar merupakan tumor tiroid jinakdan tidak berhubungan dengan penonjolan
mata serta gangguan kulit pada penyakit Graves. Ditemukan pada usia lanjut. Gejala
hipertiroidisme dan hipermetabolisme timbul lebih lambat dan lebih ringan daripada penyakit
Graves. Penderita mungkin menglami gagal jantung , aritmia yang resisten dengan terapi
Digitalis.

3) Hipertiroidisme sekunder2
Hipertiroidisme bisa disebabkan oleh tumor hipofisa yang menghasilkan terlalu banyak TSH,
sehingga merangsang tiroid unyuk mengahsilakn hormon tiroid yang berlebihan. Penyebab
lainnya adalah perlawanan hipofisa terhadap hormon tiroid, sehingga kelenjar hipofisa
menghasilkan terlalu banyak TSH.

Gambar 1; Hipertiroidisme Akibat Adenoma Tiroid