Anda di halaman 1dari 33

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

DENGAN ANAK USIA SEKOLAH

Dosen Pembimbing : Puji Lestari, S.Kep., M.Kep (Epid)

Disusun Oleh :

Ana Fitriyati

(010114a009)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

UNGARAN

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat yang telah dilimpahkan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
asuhan keperawatan keluarga.

Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari


kesempurnaan. Oleh karena itu, saya menerima berbagai saran dan kritik dari
pembaca. Saya mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca secara
umum dan bermanfaat bagi saya secara pribadi.
BAB I

Pendahuluan

Latar Belakang
Salah satu aspek penting dari perawatan adalah penekanannya pada
unit keluarga. Keluarga merupakan unit dasar dari masyarakat dan lembaga
sosial yang paling banyak memiliki efek-efek menonjol terhadap anggota
keluarga. Tujuan utama dari keluarga adalah sebagai perantara menanggung
semua harapan-harapan dan kewajiban masyarakat serta membentuk dan
mengubah sampai taraf tertentu hingga dapat memenuhi kebutuhan dan
kepentingan setiap anggota/ individu dalam keluarga. Setiap anggota keluarga
memiliki kebutuhan dasar fisik, pribadi, dan sosial. Keluarga harus berfungsi
menjadi perantara bagi tuntutan-tuntutan dan harapan dari semua individu
yang ada dalam unit keluarga.
Status sehat atau sakit dalam keluarga saling mempengaruhi satu sama
lain. Suatu penyakit dalam keluarga mempengaruhi seluruh keluarga dan
sebaliknya mempengaruhi jalannya suatu penyakit dan status kesehatan
anggotanya. Keluarga cenderung dalam pembuatan keputusan dan proses
terapeutik pada setiap tahap sehat dan sakit pada para anggota keluarga.
Duvall membagi keperawatan keluarga ke dalam beberapa tahapan.
Salah satunya adalah keluarga dengan anak usia sekolah. Untuk itu, di dalam
makalah ini, kelompok ingin mengetengahkan proses keperawatan keluarga
dengan anak usia sekolah. Tidak lupa kelompok sertakan contoh kasus pemicu
beserta pembahasannya
BAB II

TINJAUAN TEORI

1. Pengertian
Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan
lingkungannya dimana dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan
dasarnya dan untuk belajar mandiri (Aqib, 2008).
Anak usia sekolah adalah anak yang masuk dalam masa sekolah (6-12
tahun) sebagai masa tenang atau masa laten, apa yang telah terjadi dan
dipupuk pada masa-masa sebelumnya akan berlangsung terus untuk masa
selanjutnya, tahap usia ini disebut juga sebagai kelompok (gang age), anak
mulai mengalihkan perhatian dan hubungan intim dalam kelarga ke
kerjasama antarteman dan sikap terhadap kerja atau belajar (bahiyatun,
2008).
Anak usia sekolah sering disebut dengan masa anak anak menengah
yaitu 6-12 tahun. Fokus anak akan bergeser dari keluarga ke hubungan
kelompok yang lebih luas. Perkembangan fisik,mental, dan sosial masih
terus berjalan dengan penekanan apada pembangunan keterampilan.
Kerjasama sosial dan perkembangan moral akan semakin relevan untuk
tingkat kehidupan selanjutnya. Masa ini sangat penting untuk
pembentukan konsep diri (Hockenberry dan Wilson dalam Potter and
Perry, 2010).

2. Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah


Tahap perkembangan anak usia sekolah dapat dilihat dari berbagai
aspek teori. Bahiyatun (2008) memaparkan teori-teori perkembangan anak
usia sekolah sebagai berikut :
a. Perkembangan Pengamatan
Tipe pelihat warna adalah anak yang tergolong tipe pelihat warna
dalam perkembangan perasaannya lebih cepat terhadap warna.Bila
anak tipe ini sedang menggambar, mereka suka menghias gambar itu
dengan warna yang mencolok, sekalipun motif gambar tampak belum
sempurna.Tipe pelihat bentuk adalah anak yang tergolong pada tipe
pelihat bentuk perkembangan perasaannya lebih cepat terhadap
bentuk.Bila anak tipe pelihat bentuk sedang menggambar mereka
belum merasa puas jika bentuk gambarnya belum serupa benar dengan
contohnya.Masa anak sekolah ternyata anak-anak masih kurang
memperhatikan untuk yang digambarnya, dan diantara mereka tak
seberapa yang memperhatikan bagian-bagian gambar itu.
Beberapa macam fase pengamatan :
1) Menurut Meuman masa sintesis fantasi (7-8) tahun adalah masa
dimana pengamatan anak masih global, bagian-bagiannya belum
tampak jelas. Masa analisi (8-12 tahun adalah masa dimana anak
telah mampu membedakan sifat dan mengenal bagian-bagiannya,
walaupun hubungan antara bagian itu belum tampak seluruhnya.
2) Menurut Oswald Khroh yaitu masa sintesis fantasi (7-8 tahun)
yaitu kenyataannya dicampurbaurkan dengan fantasi. Masa realism
naïf (8-10 tahun). Semua yang diamati diterima begitu saja tanpa
ada kecaman atau kritik. Masa ini disebut juga masa
mengumpulkan ilmu pengetahuan. Masa realism kritik (10-12
tahun) adalah masa dimana anak mulai berfikir kritis dan mulai
mencapai tingkat berfikir abstrak.
b. Perkembangan Fantasi
Sejak anak berumur 5-6 tahun, perhatiannya mulai ditujukan ke
dunia luar, kea lam kenyataan.Setelah anak-anak mengalami masa
egosentris, fantasinya mengalami perkembangan melalui masa
dongeng (4-8 tahun).Masa ini bertepatan waktunya dengan
perkembangan anak ke arah kenyataan.Anak suka sekali
mendengarkan cerita kehidupan seperti anak yang lucu, anak yang
kotor, anak yang jarang mandi, dan sebagainya.Masa Robinson Crusoe
(8-12 tahun) dalam masa ini anak mengalami realism kritis, yaitu masa
anak tidak menyukai lagi dongeng yang fantastis, dongeng yang tidak
masuk akal.Masa pahlawan (12-15tahun) dalam masa ini anak suka
membaca buku-buku perjuangan, karya orang-orang kenamaan yang
pernah terjadi.
Ada beberapa nilai fantasi, yang terutama adalah fantasi dapat
dipergunakan sebagai hiburan, fantasi dapat memudahkan anak dalam
menerima pelajaran, fantasi membentuk budi-pekerti anak.Bila
membaca atau melihat yang baik-baik, anak terdorong meniru dan
berbuat seperti yang dibaca atau yang dilihat.
c. Perkembangan Menggambar
Tingkat perkembangan anak usia sekolah yaitu masa skema terjadi
pada anak umur (5-7 tahun). Masa bentuk dan garis (7-9 tahun) anak
mulai menyadari bahwa gambarnya tidak sesuai lagi dengan berntuk
benda sebenarnya.Masa siluet (baying-bayang) (9-10 tahun) anak
dianggap mampu menggambar sesuai dengan kenyataan. Anak mampu
menggambarkan bentuk benda dengan ukuran dua dimensi, yaitu
seperti siluet atau baying-bayang. Masa perspektif (10-14 tahun) yaitu
ketika anak-anak masih berusia 10 tahun, bentuk gambarnya selalu rata
semua.Selama masa menggambar itu, anak-anak mengalami dua sekali
kesukaran. Kesukaran yang pertama, yaitu waktu menggambar di kelas
3 atau kelas 4 sekolah dasar, ketika ia melihat bentuk benda-benda
yang sebenernya sedangkan bentuk gambarnya kurang sesuai dengan
bentuk dalam kenyataan.
d. Perkembangan Berfikir
Maksud dari intelek ialah piker, sedangkan dimaksud dengan
intelegensi ialah kemampuan kecerdasan.Dalam pertumbuhan yang
biasa, pikiran berkembang berangsur-angsur sampai anak mencapai
umur 8-12 tahun, ingatannya menjadi kuat sekali.Biasanya mereka
suka menghafal banyak hal anak mengalami masa belajar.
e. Perkembangan Perasaan
Anak-anak memiliki perasaan yang lebih kuat pengaruhnya
dibandingkan dnegan perasaan orang dewasa. Namun, pengaruh
perasaan itu lebih rendah jika dibandingkan dengan pengaruh perasaan
anak kecil.Anak sekolah lekas merasa puas, mereka tampak selalu
gembira, riang, bahkan tidak pernah menyesali perbuatannya. Mereka
belum mampu turut merasakan kesusahan yang dirasakan orang lain.
f. Perkembangan Rasa Sosial
Ketika anak bersikap “keras kepala” perkembangan rasa sosial
tampak seakan-akan terhenti.Sesungguhnya yang terjadi justru
sebaliknya. Bila anak mulai bersekolah ia menyebut kenalam-kenalan
baru dengan rasa gembira. Semua murid di kelas itu adalah
temannya.Belajar bergaul dan menyesuaikan diri dengan teman sebaya
merupakan suatu usaha untuk membangkitkan rasa sosial atau usaha
memperoleh nilai-nilai sosial.
g. Perkembangan Kemauan
Masa sekolah adalah yang sangat baik untuk pembentukan
kemauan. Anak usia sekolah suka dan rela tunduk kepada kepala
pimpinan yang kuat dan tegas.

3. Peran Orangtua
a. Pengertian
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang
lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system
(Sarastika,2014). Orang tua adalah persekutuan dua orang atau lebih
individu yang terkait oleh darah, perkawinan atau adopsi yang
membentuk satu rumah tangga/ saling berhubungan dalam lingkup
peraturan keluarga serta saling menciptakan dan memelihara budaya
(Wibowo, 2013).
Peran orang tua adalah seperangkat perilaku interpersonal, sifat,
kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi
tertentu.Peranan individu dalam keluarga kelompok masyarakat
(Fatimah, 2008).
b. Fungsi Keluarga
Menurut Wibowo (2013), beberapa fungsi keluarga yang dapat
dijalankan adalah sebagai berikut :
1) Fungsi Biologis
Fungsi biologis yaitu fungsi untuk meneruskan keturunan,
memelihara dan membesarkan anak, serta memenuhii kebutuhan
gizi keluarga.
2) Fungsi Psikologis
Fungsi Psikologis yaiut memberikan kasih saying dan rasa
aman bagi keluarga, memberikan perhatian di antara keluarga,
memberikan perhatian di antara keluiarga, memberikan
kedewasaan kepribadian anggota keluarga, serta memberikan
identitas pada keluarga.
3) Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi yaitu mencari sumber-sumber penghasilan
untuk memenuhi kebutuhan keluarga saat ini dan menabung untuk
memenuhi kebutuhan keluarga dimasa yang akan datang.
4) Fungsi Sosialisasi Pada Anak
Fungsi sosialisasi pada anak, memberikan norma-norma
tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan masing-masing
dan meneruskan nilai-nilai budaya.
5) Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan yaitu menyekolahkan anak untuk
memberikan pengetahuan, ketrampilan, membentu perilaku anak
sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya, mempersiapkan
anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi
peranannya sebagai orang dewasa, serta mendidik anak sesuai
dengan tingkat perkembangannya.
c. Macam-Macam Peran Orang Tua
Menurut Fatimah (2008), macam-macam peran orang tua bagi anak
antara lain :
1) Peran Sebagai Pendidik
Orang tua hendaknya menyadari banyak tentang perubahan
fisik maupun psikis yang akan dialami oleh anak. Orang tua wajib
memberikan bimbingan dan arahan kepada anak.
2) Peran Sebagai Pendorong
Menghadapi masa peralihan menuju dewasa , anak sering
membutuhkan dorongan dari orang tua. Terutama saat mengalami
kegagalan yang mampu menyurutkan semangat mereka.
3) Peran Sebagai Panutan
Anak memerlukan model panutan di lingkungannya. Orang tua
perlu memberikan contoh dan teladan, baik dalam menjalankan
nilai-nilai agama maupun norma yang berlaku di masyarakat.
4) Peran Sebagai Pengawas
Menjadi kewajiban bagi orang tua untuk melihat dan
mengawasi sikap dan perilaku anak agar tidak terjerumus ke dalam
pergaulan yang membawanya ke dalam kenakalan anak dan
tindakan yang merugikan diri sendiri.
5) Peran Sebagai Teman
Menghadapi anak yang telah memasuki masa akil balik, orang
tua perlu lebih sabar dan mau mengerti tentang perubahan pada
anak. Perlu menciptakan dialog yang hangat dan akrab, jauh dari
ketegangan atau ucapan yang disertai cercaan.
6) Peran Sebagai Konselor
Peran orang tua sangat penting dalam mendampingi anak,
ketika menghadapi masa-masa sulit dalam mengambil keputusan
bagi dirinya.Orang tua dapat memberikan gambaran dan
pertiumbangan nilai yang positif dan negative, sehingga mereka
mampu belajar mengambil keputusan terbaik.
4. Fasilitas Yang Disediakan Orangtua Untuk Menunjang Tumbuh
Kembang Anak.
a. Menari bersama.
Menari mengikuti musik tertentu adalah kegiatan yang
menggugah ungkapan kreatif anak. Ajak anak untuk menari,
menampilkan gerakan yang sesuai dengan irama musik. Orang tua
ikut menari dengan anak
b. Berkebun bersama.
Ajak anak berkebun bersama orang tua. Gugah mereka
untuk menentukan tanaman apa yang hendak ditanam atau dirawat.
Ceritakan kepada anak karakteristik tanaman-tanaman yang ada
dan ajak ia untuk memikirkan nasib dari tanaman-tanaman itu.
Biarkan anak bermain dengan tanah, menggali, dan menanami
tanah dengan tanaman. Minta ia memberi nama khusus untuk
tanaman dan tanya alasannya mengapa ia menamai tanaman
dengan nama itu.
c. Bola keranjang.
Permainan yang dapat diberikan orang tua adalah bola
keranjang. Anak dapat memasukkan bola ke dalam keranjang
untuk dapat melatih anak berolahraga. Selain itu, Anda juga bisa
melatih anak untuk dapat berhitung berapa bola yang telah
dimasukkan ke dalam keranjang sebelumnya. Anak akan merasa
senang dan sekaligus belajar dari permainan yang anak sedang
lakukan.
d. Membuat kelompok band musik.
Ajak anak membuat kelompok band untuk memainkan
musik dengan peralatan yang ada di rumah. Biarkan anak
mengeksplor kemungkinan bunyi yang dapat dihasilkan alat-alat
itu. Lalu, beri peran pada anak dalam band dan mainkan musik
bersama sesuai selera dan ketertarikan anak.
e. Membuat layang-layang bersama.
Daripada membelikan anak layangan, lebih baik ajak anak
untuk membuat layangan. Beri contoh bagaimana cara
membuatnya dan libatkan ia dalam pembuatan. Beri keleluasaan
untuk memilih warna dan motif layangan.
f. Pemenuhan kebutuhan asih.
Fasilitas area bermain diadakan sebagai pemenuhan
kebutuhan akan emosi atau kasih saying bagi anak. Hal ini akan
didapatkan dari area fasilitas bermain yang menjadikan permainan
sebagai fasilitas interaksi antara orang tua dan anak sehingga emosi
satu sama lain dapat tersalurkan.
g. Pemenuhan kebutuhan stimulasi mental.
Fasilitas ekstrakulikuler dan area bermain diadakan sebagai
pemenuhan kebutuhan akan stimulasi mental bagi anak. Pada
kegiatan ekstrakulikuler, mental anak diasah bagaimana
mengerjakan sesuatu suatu kegiatan yang bermanfaat dengan
benar, sedangkan pada permainan mental anak diasah sehingga
bagaimana anak dapat menyelesekan permainan dengan tekun dan
tidak gegabah dalam menyelesaikan pada suatu permainan
(Nirwana, 2011).

5. Pencegahan Terjadinya Abuse Dan Neglect.


Pencegahan dan penanggulangan penganiayaan dan kekerasan pada anak
menurut Huraerah (2007) adalah :
a. Pelayanan kesehatan dapat melakukan berbagai kegiatan dan
program yang ditunjukkan pada individu,keluarga, dan masyarakat
b. Pendidikan sekolah mempunyai hak istimewa dalm mengajarkan
bagian badan yang sangat pribadi yaitu penis, vagina, anus,
mammae, dalam pelajaran biologi.perlu ditekankan bahwa bagian
tersebut sifatnya sangat pribadi dan harus di jaga agar tidak
diganggu orang lain. Sekolah juga perlu meningkatkatkan
keamanan di sekolah. Sikap atau cara mendidik anak juga perlu di
perhatikan agar tidak terjadi aniaya emosional.
c. Penegak hukum dan keamanan hendaknya UU no.4 thn 1979,
tentang kesejahteraan anak cepat di tegakkan secara konsekuen.
Hal ini akan melindungi anak dari semua bentuk penganiayaan dan
kekerasan. Bab II pasal 2 mentebutkan bahwa anak berhak atas
perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat
membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan
secara wajar.
d. Media massa pemberitaan penganiayaan dan kekerasan pada anak
hendakny diikuti oleh artikel-artikel pencegahan dan
penggulangan. Dampak pada anak baik jangka pendek maupun
jangka panjang diberitahukan agar program pencegahan lebih di
tekankan.

Sebagai orang tua perlu mengupayakan agar kekerasan terhadap


anak sebisa mungkin dicegah dan diatasi, pencegahan tersebut
kemudian dapat dilakukan melalui langkah internal dan eksternal.
Pencegahan hal terkait pencegahan internal yang bisa dilakukan antara
lain :

a. Bantu Anak Melindungi Diri.


Dengan menjelaskan kepada anak bahwa tidak ada seorang
pun yang boleh menyentuhnya dengan tidak wajar. Berikan
pemahaman dan ajarkan anak untuk menolak segala perbuatan
yang tidak senonoh dengan segera meninggalkan di mana
sentuhan terjadi. Ingatkan anak untuk tidak gampang
mempercayai orang asing dan buat anak untuk selalu
menceritakan jika terjadi sesuatu pada dirinya.
b. Pembekalan Ilmu Bela Diri.
Pembekalan ilmu bela diri pun dapat menjadi salah satu
solusi agar anak tidak menjadi korban kekerasan. Selain
mengajarkan kepada anak mengenai disiplin dan membentuk
mental juga jasmani yang kuat, bela diri dapat digunakan untuk
membela diri sendiri dari ancaman-ancaman yang ada. Namun
tetap harus diberikan pengarahan bahwa ilmu bela diri
dipelajari bukan untuk melakukan kekerasan.
c. Bekali Orang Tua dengan Ilmu tentang Bagaimana Menjadi
Orang Tua.
Ilmu tentang bagaimana menjadi orangtua bisa didapatkan
melalui membaca buku, sharing dengan psikolog anak,
melakukan komunikasi dengan pendidik/ guru dari anak, dan
rajin mengajak komunikasi dengan anak. Hal ini sangat penting
dilakukan agar orang tua memahami kondisi yang sedang
dialami anak. Karena seringkali kekerasan terhadap anak
terjadi karena banyak orang tua yang lebih membutuhkan
perhatian/pengertian dari anak ketimbang orang tua yang
mengerti akan kondisi anak.
d. Ciptakan Komunikasi Dua Arah Dengan Anak.
Masih banyak orang tua yang mengangap bahwa anak
adalah orang yang belum memahami apapun, sehingga tidak
perlu melakukan diskusi dengan anak. Padahal anak memiliki
hak untuk menentukan apa yang dia inginkan, dan orang tua
lebih pada mengarahkan bukan mengintervensi atau mendikte
anak. Komunikasi dua arah akan membangun keterbukaan anak
terhadap persoalan yang dihadapi, selain itu juga dapat
mengajak anak untuk memahami beberapa kondisi yang
dihadapi orang tua.
e. Dampingi Anak saat bermain Gadget dan Menonton Televisi.
Seringkali orang tua melakukan pembiaran terhadap anak
ketika bermain Gadget dan menonton televisi dan orang tua
lebih memilih untuk sibuk dengan aktivitas yang lain, seperti
memasak, menyelesaikan pekerjaan kantor, dll. Sehingga
seringkali orang tua tidak mengetahui apa yang dilihat oleh
anak melalui gadget dan televisi. Teknologi yang sangat
canggis seperti saat ini membuat siapa saja termasuk anak
mampu mengakses segala informasi dan tontonan sangat cepat.
Kekerasan terhadap sesama anak seringkali disebabkan karena
anak meniru atau mencontoh apa yang dia lihat. Selain
mendampingi dalam bermain gadget dan menonton televisi,
orang tua juga dapat menimimalisir kebiasaan anak anak
bermain gadget dengan bermain bersama anak, atau mengajak
berjalan – jalan anak atau bisa juga melibatkan anak
beraktivitas dengan orang tua seperti memasak bersama anak,
membersihkan rumah bersama anak, dll.
f. Kenali lingkungan tempat anak kita bersekolah dan bermain.
Ini menjadi penting bagi orang tua untuk bisa mengenal dan
mengetahui teman – teman dari anak kita dan orang tuanya pun
demikian dengan guru dari anak kita. Hal ini sangat penting
dilakukan agar sebagai orangtua kita dapat berhati – hati dalam
mempercayakan anak kita. Karena kekerasan terhadap anak
persentase terbesar adalah dilakukan oleh orang – orang
terdekat dari anak.
g. Perkuat anak dengan pemahaman agama.
Setiap agama pasti mengajarkan kebaikan kepada
pengikutnya. Mengajarkan untuk saling menghormati dan
menghargai disamping ajaran – ajaran lain di setiap agama.
Pembekalan ilmu agama terhadap anak secara bertahap sejak
usia dini menjadi langkah preventif adanya tindak kekerasan
anak terhadap sesama anak. Agama bukan menjadi senjata bagi
orang tua untuk menakut – nakuti anak, justru seharusnya
melalui pemahaman agama yang holistik, orang tua mampu
mengajarkan anak tentang kasih sayang dan hidup rukun.
Sedangkan Pencegahan Ekstrenal yang bisa dilakukan untuk
meminimalisir kekerasan terhadap anak antara lain :

a. Maksimalkan Peran Sekolah.


Sekolah harus memiliki fungsi kontrol sosial, yakni sekolah
memiliki assessment (penilaian) terhadap perilaku anak. Sekolah
juga harus menggagas aktivitas-aktivitas internal sekolah yang
bersifat positif, memfasilitasi aktivitas orang tua siswa dan siswa
minimal setahun sekali seperti yang diterapkan sekolah-sekolah di
Jepang.
Sekolah juga bisa membentuk petugas breaktime watch dari
kalangan pengurus sekolah yang bertugas berkeliling dan
memantau kegiatan siswa. Selain itu sekolah tidak hanya fokus
terhadap aktivitas anak, sekolah juga perlu secara rutin
melakukan komunikasi dengan orangtua terkait dengan
perkembangan anak dan hal – hal yang dialami anak. Selain
sebagai media komunikasi dengan orangtua, sekolah juga bisa
menjadi fasilitator dalam mentransfer materi terkait dengan
pemenuhan hak – hak anak, dan persoalan kekerasan terhadap
anak baik untuk anak – anak sendiri, dan orangtua. Tidak harus
sekolah yang menyampaikan namun sekolah bisa bekerjasama
dengan kepolisian (unit perlindungan anak).
Lembaga Sosial yang konsentrasi dengan isu anak,
Psikolog anak, dll. Ini menjadi penting dilakukan sebagai
rangkaian pendidikan anak yang holistik.. Pendidikan Budi
Pekerti, Salah satu solusi untuk mencegah krisis moral yang
melanda di kalangan generasi penerus adalah mengajarkan budi
pekerti, baik di rumah maupun di sekolah. Seperti yang kita
ketahui, pendidikan budi pekerti masih belum merata dan belum
benar-benar menjadi mata pelajaran wajib di semua sekolah.
b. Laporkan kepada Pihak Berwajib.

Hal terakhir yang harus dilakukan bila terjadi kekerasan


fisik, psikis, ataupun seksual adalah segera melaporkan kepada
pihak berwajib. Hal ini bertujuan agar segera diambil tindakan
lebih lanjut terhadap tersangka dan mengurangi angka kejahatan
yang sama terjadi. Adapun korban kekerasan harus segera
mendapatkan bantuan ahli medis serta dukungan dari keluarga.

6. Program UKS
a. Sasaran UKS.
Sasaran UKS/M dalam Peraturan Bersama ini meliputi:
 Peserta didik.
 Pendidik.
 Penaga kependidikan; dan
 Masyarakat sekolah.
b. Program Pembinaan dan Pengembangan UKS meliputi:
Program pembinaan peserta didik :
 Pendidikan kesehatan.
 Pelayanan kesehatan.

Program Pembinaan Pembina UKS (ketenagaan):

Peningkatan jumlah (kuantitas), melalui:

 Pendidikan formal dan non formal.


 Pelatihan, bimbingan teknis, seminar, dan lokakarya.
 Monitoring dan evaluasi.
 Pengawasan.
Program Pembinaan Sarana Prasarana Pendidikan dan Pelayanan
Kesehatan.
 Ruang UKS, tempat tidur, alat ukur Berat Badan dan Tinggi
Badan, Obat-obatan sederhana, tensi meter, kartu snellen,
media Komunikasi Informasi Edukasi (KIE), alat peraga
kesehatan.
 Buku pencatatan pemerikasaan kesehatan peserta didik,
buku/lembar rujukan.
Program Pembinaan lingkungan.
 Lingkungan fisik (konstruksi ruang dan bangunan,
pencahayaan, ventilasi, kebisingan, kepadatan, sarana air
bersih dan sanitasi, halaman, jarak papan tulis, vektor penyakit,
kantin, meja, kursi).
 Lingkungan non fisik (perilaku tidak merokok, perilaku
membuang sampah pada tempatnya, perilaku mencuci tangan
menggunakan sabun dan air bersih mengalir, dan perilaku
memilih makanan jajanan yang sehat).
Program Pengembangan.
Pihak sekolah/madrasah dapat melakukan program pengembangan
dengan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait (stakeholder) dalam
pelaksanaan program UKS. Disamping itu pihak sekolah/madrasah
diharapkan dapat menularkan ke sekolah/madrasah-sekolah/madrasah
lain di lingkungannya.
c. Tugas dan Fungsi Tim Pelaksana UKS.
Tugas:
 Melaksanakan tiga program UKS yaitu Pendidikan Kesehatan,
Pelayanan Kesehatan, dan Pembinaan Lingkungan
Sekolah/madrasah Sehat.
 Menjalin kerjasama dengan orang tua murid (komite
sekolah/madrasah).
 Mengadakan pengendalian/evaluasi, menyusun program dan
menyampaikan laporan ke TP UKS Kecamatan.
 Melaksanakan ketatausahaan

Fungsi:
Sebagai penanggung jawab dan pelaksana program UKS di
Sekolah/madrasah berdasarkan prioritas kebutuhan dan kebijakan
yang ditetapkan TP UKS Kecamatan.
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN ANAK USIA


SEKOLAH

1. Pengkajian.
a. Data Umum.
1) Nama kepala keluarga : Bpk S
2) Alamat dan nomor telepon : RT 01 RW 01 Siroto Candirejo
3) Komposisi keluarga (Genogram Keluarga) :

Keterangan :

: Perempuan

: Laki-laki

: Klien

4) Tipe bentuk keluarga : The Nuclear Family.


5) Suku bangsa : Suku jawa.
6) Identitas agama : Islam.
7) Status sosial ekonomi keluarga :
Pencari nafkah di keluarga adalah Bpk P sebagai wiraswasta
dan Ny. P sebagai ibu rumah tangga.
b. Tahap Perkembangan dan riwayat keluarga
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini.
Tahap perkembangan keluarga dengan anak usia sekolah.
2) Sejauh mana perkembangan keluarga memenuhi tugas
perkembangan.
Keluarga Bpk P menjadi kepala keluarga sekaligus sebagai
ayah dari anak sulungnya yang baru berusia 6 tahun.
3) Riwayat keluarga inti.
Ny.P mengatakan bahwa didalam keluarganya jarang yang
terkena sakit, sakit yang biasa dialami keluarganya demam, flu dan
batuk.
4) Riwayat keluarga asal kedua orang tua.
Dilama riwayat keluarga sebelumnya perintah ada yang
mengalami tekanan darah tinggi.
c. Data Lingkungan
1) Karakteristik rumah.
Jenis rumah Bpk P adalah petak, yaitu bangunan permanen, ada
teras, atap rumah dari genting. Ventilasi cukup baik, pencahayaan
cukup baik, ada jendela. Status rumah milik sendiri, keluarga
menggunakan sumber air PDAM dan sumur, dapur tampak bersih
lantai dapur sudah menggunakan lantai plester dan berdinding
tembok. Kamar mandi dan wc milik sendiri jenis wc menggunakan
leher angsa dengan kondisi baik ada tempat pembuangan sampah
dan pembuangan air cucian.
2) Karakteristik tetangga dan komunitas yang lebih besar.
Masyarakat RT 01 RW 01 biasanya membersihkan lingkungan
setiap sebulan sekali acara kerja bakti dan ketika akan tiba hari
besar.
3) Mobilitas geografis keluarga.
Keluarga Bpk P tidak pernah berpindah-pindah tempat tinggal.
4) Interaksi keluarga dengan masyarakat.
Bpk. P dapat berkumpul dengan istri dan anaknya setiap hari,
interaksi dengan tetangga baik. Dalam hidup bertetangga masih
saling membantu.
d. Struktur keluarga
1) Pola komunikasi keluarga.
Pola komunikasi keluarga adalah secara langsung dan terbuka,
bila ada masalah maka akan berkomunikasi untuk menyelesaikan
masalah tersebut. Komunikasi dengan menggunakan bahasa jawa
dan indonesia.
2) Struktur kekuasaan keluarga.
Pemegang keputusan pada keluarga Bpk. P adalah Bpk. P.
Namun tetap saja berkomunikasi atau meminta pendapat dari Ny.
P.
3) Struktur peran.
Bpk. P secara formal berperan sebagai seorang suami
sedangkan secara informal sebagai anggota masyarakat pelaksana
kegiatan masyarakat sekaligus pelaksana norma-norma yang ada di
masyarakat. Sedangkan Ny. P berperan sebagai seorang istri dan
ibu dari kedua anaknya. Dalam perannya Ny. P harus dapat
membagi waktunya untuk mengurus keluarganya. Sedangkan tugas
dari anaknya adalah mematuhi kedua orang tuanya.
4) Nilai keluarga.
Dalam keluarga Bpk. P terdapat satu suku yaitu suku jawa dan
tidak ada nilai yang dianut di dalam keluarganya yang bertentangan
dengan kesehatan.
e. Fungsi-fungsi keluarga
1) Fungsi afektif.
Masing-masing anggota keluarga merasa dirinya berharga
dalam keluarganya. Tidak ada anggota keluarga yang cacat dan
menyesali keadaan tubuhnya. Antar anggota keluarga saling
menghargai.
2) Fungsi sosialisasi.
Interaksi dalam keluarga harmonis, tugas yang ada dirumah
dikerjakan bersama-sama dan saling membantu.
3) Fungsi perawatan kesehatan.
Pendapatan keluarga digunakan untuk menyediakan makanan,
pakaian, kebutuhan sehari-hari dan beberapa disisikan untuk
tabungan. Keluarga mengajak anaknya untuk pergi ke posyandu
dan jika ada anggota keluarga yang sakit dibawa ke puskesmas,
bidan dan dokter.
f. Stress dan koping keluarga.
1) Stresor jangka pendek dan panjang
a) Stresor jangka pendek.
Dalam keluarga Bpk. P dan Ny. P terdapat stressor saat ini
adalah ketika anaknya mulai ketergantungan pada Gadget
karena kalau mau belajar harus nonton televisi “Upin dan Ipin”
dan harus main game di Gadget terlebih dulu.
b) Stresor jangka panjang.
Dalam keluarga Bpk. P dan Ny. P terdapat stressor dalam
waktu yang lama adalah ketika anak sulungnya akan memasuki
SD (Sekolah Dasar).
2) Kekuatan keluarga berespon terhadap situasi/stressor.
Dalam keluarga Bpk. P ketika menghadapi stressor dengan
cara berdiskusi bersama anggota keluarganya dan saling
mendukung satu sama lain.
3) Strategi koping yang digunakan.
Dalam keluarga Bpk. P dan Ny. P ketika menghadapi
stressor dengan cara berdiskusi dengan istri nya yaitu Ny. P
4) Strategi adaptasi disfungsional.
Anggota keluarga tidak menunjukkan sikap dan perilaku
yang menyimpang ketika menghadapi suatu masalah di
keluarganya.
1. Analisa Data

No Data Fokus Etiologi Problem

1. Data Subyektif : Berhubungan Perilaku kesehatan


 Ny. P mengeluh anaknya kurang pemahaman cenderung beresiko
sedang sakit diare. tentang cuci tangan Domain 1
 Ny. P mengatakan anaknya Kelas 2
susah kalau disuruh cuci 00188
tangan.
 Ny. P mengatakan anaknya
belum mengatakan mengerti
cara cuci tangan yang baik
dan benar.
 Ny. P mengatakan anaknya
sering makan tanpa cuci
tangan sebelum dan
sesudahnya.

Data Obyektif :

 An. K tangannya tampak


kotor.
 An. K tampak ketika selesai
bermain tidak mencuci
tangan.
 An. K tampak tidak mencuci
tangan ketika akan makan.
2. Data Subyektif : Berhubungan Ketidakefektifan
 Ny. P mengatakan anaknya dengan sumber daya pemeliharaan
menggosok gigi ketika pagi pengetahuan tentang kesehatan
saja. gosok gigi yang Domain 1
 Ny. P mengatakan anaknya kurang. Kelas 2
jarang gosok gigi sebelum 00099
tidur.
 Ny. P mengatakan anaknya
suka makan makanan manis.
 Ny. P mengatakan anaknya
suka jajan sembarangan.

Data Obyektif :

 An. K tampak suka makan


makanan manis.
 An. K tampak sering jajan.
 An. K giginya tampak
berlubang.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Perilaku kesehatan cenderung beresiko berhubungan dengan
berhubungan kurang pemahaman tentang cuci tangan (Domain 1.
Promosi kesehatan, kelas 2. Manajemen kesehatan,00188).
b. Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan
sumber daya pengetahuan tentang gosok yang kurang (Domain 1:
promosi kesehatan, kelas 2. Manajemen kesehatan, 00099).
3. Rencana tindakan keperawatan keluarga

No DX Kep NOC NIC

1. Perilaku kesehatan 1. Keseimbangan Peningkatan koping (5230)


cenderung gaya hidup
1. Dukung kesabaran keluarga
beresiko (2013).
dalam mengembangkan
berhubungan 2. Kontrol resiko
kebiasaan mencuci tangan.
dengan (1902)
2. Dukung keluarga dalam
berhubungan
Keseimbangan kemampuan mengatasi anak
kurang
gaya hidup (2013) yang susah disuruh cuci
pemahaman
tangan.
tentang cuci
 Mengenali
tangan (Domain 1.
kebutuhan Pendidikan kesehatan (5510)
Promosi
untuk
kesehatan, kelas 2. 3. Menentukan pengetahuan dan
menyeimbangak
Manajemen gaya hidup perilaku keluarga.
an aktivitas-
kesehatan,00188). 4. Rumuskan tujuan dalam
akivitas hidup
program pendidikan kesehatan.
dipertahankan
5. Memberikan pendidikan
pada skala 2
kesehatan tentang mencuci
ditingkatkan ke
tangan dengan baik dan benar.
skala 4.
6. Mendemonstrasikan cara
 Mencari
mencuci tangan yang baik dan
informasi
benar.
tentang strategi
untuk aktivitas
hidup yang
seimbang
dipertahankan
pada skala 2
ditingkatkan ke
skala 4.
 Ikut dalam
aktivitas yang
sesuai dengan
nilai-nilai
personal
dipertahankan
pada skala 2
ditingkatkan ke
skala 4

Kontrol resiko
(1902).

 Mencari
informasi
tentang resiko
kesehatan
dipertahankan
pada skala 3
ditingkatkan ke
skala 4.
 Mengidentivika
si faktor resiko
dipertahankan
pada skala 2
ditingkatkan ke
skala 4.
 Mengenali
faktor resiko
individu
dipertahankan
pada skala 2
ditingkatkan ke
skala 4

2. Ketidakefektifan 1. Pengetahuan Pendidikan kesehatan (5510)


pemeliharaan promosi
1. Tentukan pengetahuan
kesehatan kesehatan
kesehatan dan gaya hidup
berhubungan (1823).
perilaku keluarga.
dengan sumber 2. Perilaku
2. Identifikasi faktor internal atau
daya pengetahuan promosi
eksternal yang dapat
tentang gosok kesehatan
meningkatkan atau mengurangi
yang kurang (1602)
motivasi untuk melakukan
(Domain 1:
Pengetahuan kebiasaan gosok gigi.
promosi
promosi kesehatan 3. Memberikan pendidikan
kesehatan, kelas 2.
(1823) kesehatan tentang gosok gigi.
Manajemen
kesehatan, 00099)
 Perilaku yang Pengajaran individu (5606)
meningkatkan
4. Identifikasi tujuan yang
kesehatan
diperlukan yang dicapai untuk
dipertahankan
mencapai tujuan.
pada skala 2
5. Membina hubungan baik
ditingkatkan ke
dengan keluarga dan pasien.
skala 4.
6. Tentukan motivasi pasien
 Pencegahan dan
untuk membiasakan gosok gigi.
pengendalian
7. Berikan lingkungan yang
infeksi
kondusif untuk belajar.
dipertahankan
pada skala 1
ditingkatkan ke
skala 4.
 Pemeriksaan
kesehatan yang
direkomendasik
an
dipertahankan
pada skala 1
ditingkatkan ke
skala 4.
 Strategi untuk
menghindari
paparan bahaya
lingkungan
dipertahankan
pada skala 1
ditingkatkan ke
skala 4

Perilaku promosi
kesehatan (1602)

 Menghindari
paparan
penyakit
menular
dipertahankan
pada skala 1
ditingkatkan ke
skala 4.
 Memperoleh
pemeriksaan
rutin
dipertahankan
pada skala 1
ditingkatkan ke
skala 4
4. Implementasi dan Ealuasi formatif
Hari, No Tanda
Tanggal, Dx Implementasi Evaluasi Formatif Tangan
Jam Kep
Rabu, 5 1 1. Dukung kesabaran DS :
Desember keluarga dalam  Ny. P mengeluh
2017 mengembangkan anaknya sedang
09:00 kebiasaan mencuci sakit diare.
WIB tangan.  Ny. P
2. Dukung keluarga mengatakan
dalam kemampuan anaknya susah
mengatasi anak yang kalau disuruh
susah disuruh cuci cuci tangan.
tangan.  Ny. P
3. Menentukan mengatakan
pengetahuan dan gaya anaknya belum
hidup perilaku mengatakan
keluarga. mengerti cara
4. Rumuskan tujuan cuci tangan
dalam program yang baik dan
pendidikan kesehatan. benar.
5. Memberikan  Ny. P
pendidikan kesehatan mengatakan
tentang mencuci anaknya sering
tangan dengan baik makan tanpa
dan benar. cuci tangan
6. Mendemonstrasikan sebelum dan
cara mencuci tangan sesudahnya.
yang baik dan benar
DO :
 An. K
tangannya
tampak kotor.
 An. K tampak
ketika selesai
bermain tidak
mencuci tangan.
 An. K tampak
tidak mencuci
tangan ketika
akan makan.
Rabu, 5 2 1. Tentukan DS :
Desember pengetahuan
2017 kesehatan dan gaya  Ny. P

09:00 hidup perilaku mengatakan

WIB keluarga. anaknya

2. Identifikasi faktor menggosok gigi

internal atau eksternal ketika pagi saja.

yang dapat  Ny. P

meningkatkan atau mengatakan

mengurangi motivasi anaknya jarang

untuk melakukan gosok gigi

kebiasaan gosok gigi. sebelum tidur.

3. Memberikan  Ny. P

pendidikan kesehatan mengatakan

tentang gosok gigi. anaknya suka

4. Identifikasi tujuan makan makanan

yang diperlukan yang manis.

dicapai untuk  Ny. P

mencapai tujuan. mengatakan


anaknya suka
5. Membina hubungan jajan
baik dengan keluarga sembarangan.
dan pasien.
DO :
6. Tentukan motivasi
pasien untuk
 An. K tampak
membiasakan gosok
suka makan
gigi.
makanan manis.
7. Berikan lingkungan
 An. K tampak
yang kondusif untuk
sering jajan.
belajar
 An. K giginya
tampak
berlubang.

5. Catatan Perkembangan
Tanda
Tgl Dx Keperawatan Evaluasi Sumatif Tangan

Rabu, 5 Perilaku kesehatan S :


Desember cenderung beresiko  Ny. P dan An. K
2017 berhubungan dengan mengatakan senang
09:00 berhubungan kurang setelah mencoba
WIB pemahaman tentang senam cuci tangan.
cuci tangan (Domain  Ny. P mengatakan
1. Promosi kesehatan, akan mulai
kelas 2. Manajemen membiasakan
kesehatan,00188). anaknya untuk
mencuci tangan.
O:
 An. K tampak senang.
 An. K tampak ingin
mencobanya terus
menerus.
A : Masalah Sebagian
Teratasi
P : Lanjutkan Intervensi :
 Senam cuci tangan.
Ketidakefektifan S:
pemeliharaan  Ny. P dan An. K
kesehatan mengatakan senang
berhubungan dengan setelah mencoba
sumber daya gosok gigi dengan
pengetahuan tentang diiringi gerakan dan
gosok yang kurang music.
(Domain 1: promosi  Ny. P mengatakan
kesehatan, kelas 2. akan mulai
Manajemen membiasakan
kesehatan, 00099). anaknya untuk gosok
gigi 2x sehari.
O:
 An. K tampak senang.
 An. K tampak ingin
mencobanya terus
menerus.
A : Masalah Sebagian
Teratasi
P : Lanjutkan Intervensi :
 Demonstrasi gosok
gigi.