Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia salah satu penyakit jantung yang paling sering yaitu penyakit jantung koroner
(PJK). Penyakit jantung koroner merupakan gangguan fungsi dari jantung oleh karena
penyempitan pembuluh darah koroner (Anwar, 2004). Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar
(RISETDA) pada tahun 2013 menyatakan bahwa prevalensi penyakit jantung koroner di
Indonesia meningkat seiring bertambahnya usia tertinggi pada kelompok umur 65 -74 tahun
yaitu 2,0 persen dan 3,6 persen, menurun sedikit pada kelompok umur ≥ 75 tahun. Dan
prevalensi penyakit jantung koroner gejalanya paling sering terkena pada perempuan (0,5%
dan 1,5%), orang yang tidak bersekolah dan tidak berkerja (Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, 2013). Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya
penyakit jantung koroner (PJK) salah satunya yaitu Kolesterol.
Kolesterol adalah suatu zat yang berada di dalam tubuh yang diproduksi oleh hati dan
sangat diperlukan tubuh ((Pascoal et al., 2015). Kolesterol ini merupakan lipid ampifatik yang
akan membentuk suatu komponen structural esensial dan juga merupakan suatu lipoprotein
plasma. Lipoprotein akan membawa kolesterol ini ke sirkulasi darah dan juga memiliki empat
komponen utama yaitu Trigleserida, Very Low Density Lipoprotein (VLDL), Low Density
Lipoprotein (LDL),High Density Lipoprotein (HDL) (Sanhia, Pangemanan and Engka, 2015).
Kolesterol LDL merupakan pengangkut kolesterol ke dalam banyak di jaringan dan merupakan
pengangkut kolesterol utama dalam darah. Kolesterol LDL ini juga mengandung sekitar 45%
kolesterol dan merupakan yang paling banyak. Kolesterol LDL ini biasa disebut dengan
kolesterol jahat karena jika kadar kolesterol LDL meningkat dapat menyebabkan terjadinya
penumpukan kolesterol pada dinding arteri sehingga mengakibatkan terjadinya
atherosclerosis (Ardanan, Kaligis and Mewo, 2011).
Jintan hitam (Nigella Sativa L.) dipercaya masyarakat memiliki khasiat atau memiliki
berbagai macam manfaat dalam pengobatan. Menurut WHO (World Health Organization) ada
banyak macam tanaman obat tradisional yang digunakan salah satunya yaitu jintan hitam ini.
Jintan hitam (Nigella Sativa L.) merupakan tanaman dari Famili Rannculaceae tumbuh
endemik pada beberapa tempat di Timur Tengah dan negara-negara di Mediterania Selatan.
Masyarakat mengunakan jintan hitam ini untuk pengobatan karena dianggap memiliki efek
seperti anti-inflamasi, antikanker, antiparasit, antibakteri, dan antioksidan serta memiliki
berbagai macam unsur kimia. Kandungan utama dari jintan hitam ini yaitu Thymoquinone
(TQ), Dithymoquinone (DTQ), Thymohidroquinone (THQ), Thymol (THY) yang berperan
sebagai antioksidan dan juga mengandung nigellon dan glutathione yang berperan sebagai
protektor atau melindungi tubuh dari zat asing (Rumampuk and Tendean, 2016).
Berbagai macam informasi mengenai manfaat dari jintan hitam ini yang beredar kepada
masyarakat terutama pada media sosial dan belum diketauhi kebenaranya. Oleh karena itu,
dari latar belakang diatas maka penulis ingin mengetahui pengaruh ekstrak biji jintan hitam
(Nigella sativa L.) terhadap kadar kolesterol pada tikus putih (Rattus Norvegicus) jantan galur
wistar yang diinduksi diet tinggi lemak.

1.2 Rumusan Masalah Penelitian

a. Apakah ekstrak jintan hitam (Nigella sativa L.) dapat meningkatkan HDL pada tikus putih
(Rattus Norvegicus) jantan galur wistar yang diinduksi diet tinggi lemak?
b. Apakah ekstrak jintan hitam (Nigella sativa L.) dapat menurunkan LDL pada tikus putih
(Rattus Norvegicus) jantan galur wistar yang diinduksi diet tinggi lemak?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum Penelitian

Untuk mengetahui apakah ekstrak jintan hitam (Nigella sativa L.) dapat berpengaruh
terhadap kadar kolesterol HDL dan LDL pada tikus putih (Rattus Norvegicus) jantan galur
wistar yang diinduksi diet tinggi lemak.

1.3.2 Tujuan Khusus Peneletian

Untuk membuktikan ekstrak biji jintan hitam (Nigella sativa L.) dapat meningkatkan kadar
HDL dan menurunkan kadar LDL pada tikus putih (Rattus Norvegicus) jantan galur wistar yang
diinduksi diet tinggi lemak.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai efek ekstrak biji
jintan hitam (Nigella sativa L.) terhadap peningkatan HDL dan penurunan LDL pada tikus putih
(Rattus Norvegicus) jantan galur wistar yang diinduksi diet tinggi lemak.
1.4.2 Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan acuan untuk penelitian lebih
lanjut tentang penggunaan jintan hitam sebagai suplemen untuk mengatasi atau meminimalisir
terjadinya hiperkolesterolemia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jintan Hitam

2.1.1 Definisi

Jintan hitam (Nigella Sativa) pada umumnya dikenal sebagai black seed atau tanaman
biji hitam yang merupakan salah satu tanaman dengan family Ranunculaceae. Nigella
sativa ini berasal dari Eropa Selatan, Afrika Utara, Asia Barat Daya. Tanaman ini juga
dibudidayakan di banyak negara seperti daerah Mediteranian Timur Tengah , Eropa
Selatan, India, Pakistan, Syria, Turki dan Saudi Arabia. Nigella sativa secara
tradisional sering juga digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit ,
gangguan ataupun kondisi yang berkaitan dengan sistem pernapasan, saluran
pencernaan, fungsi hati dan ginjal , cardiovascular dan juga untuk sistem kekebalan
tubuh. Pada beberapa negara Asia Tenggara dan Timur Tengah tanaman ini juga
digunakan untuk pengobatan penyakit seperti asma , bronkitis , rematik dan penyakit
radang lainnya (Ahmad et al., 2013).

2.1.2 Taksonomi

Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Filum : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Ranunculales
Family : Ranunculaceae
Genus : Nigella
Spesies : N. Sativa
(Asif et al., 2015)

Gambar 0-1 Biji Jintan Hitam


( Rajsekhar and kuldep,2011)
Gambar 0-2 Tanaman Jintan Hitam
( Rajsekhar and kuldep,2011)
2.1.3 Morfologi

Nigella sativa merupakan tanaman berbunga yang tumbuh tahunan pada daerah
yang memiliki ketinggian 20-90 cm (Asif et al., 2015) . Nigella sativa memiliki daun
linier yang terbagi halus menjadi segmen linier dengan panjang 2-3 cm. Bunga dari
tanaman ini berwarna biru pucat atau putih dan memiliki 5-10 kelopak dan cukup halus.
Buahnya berbentuk kapsul besar yang mengandung 3-7 folikel yang menyatu. Bijinya
berbentuk segitiga dan berwarna hitam (Sudhir, Deshmukh and Verma, 2016).
2.1.4 Kandungan Kimia Jintan Hitam

Komposisi aktif dari nigella sativa yang paling penting yaitu thymoquinone (TQ)
(30% - 48%), thymohydroquinone , dithymoquinone, p-cymene (7%-15%), carvacrol
(6%-12%), 4-terpineol (2%-7%), t-anethol (1%-4%), sesquiterpene longifolene (1%-
8%) α-pinene dan thymol, dll. Biji mengandung dua jenis dari alkaloid yaitu alkaloid
isoquinoline misalnya nigellicimine dan nigellicimine-N oxide ,dan alkaloid pirazole
atau bantalan cincin alkaloid indazole yang mengandung nigellidine dan nigellicine.
(Asif et al., 2015).
Biji dari Nigella Sativa ini mengandung protein (26.7%) , lemak (28.5%)
,karbohidrat (24.9%), serat kasar (8.4%) total abu (4.8%) dan mengandung beberapa
macam vitamin serta beberapa bahan seperti Cu , P, Zn , Fe, dll. Biji nigella sativa ini
juga mengandung karotin yang dikonversi oleh liver menjadi vitamin A. Akar dan
tunasnya juga mengandung asam vanicilic. Pada beberapa penelitian juga dikatakan
bahwa nbiji ini juga mengandung banyak minyak lemak pada asam lemak unsaturated
atau asam lemak yang tidak jenuh terutama asam linoleic (50-60%), asam oleic
(20%), asam eicodadienoic (3%), dan asam dihomolinoleic (10%). Asam lemak
saturated atau asam lemak jenuh (asam palmitic , asam stearic) berjumlah sekitar
30% atau kurang. α -sitosterol merupakan sterol utama yang memiliki jumlah sekitar
44% dan 54% dari total sterol pada variasi Tunisian dan Iranian pada masing-masing
minyak jintan hitam dengan stigmasterol (6.57-20.92% pada total sterol) (Ahmad et
al., 2013).

Tabel 2-1 Komposisi kimia jintan hitam (Rajsekhar and Kuldeep, 2011)
(Fundamental Oil Composition Nigella Sativa
(1,40 %)
Carvanone 21,1 %
Alfa – pinene 7,4 %
Sabinene 5,5 %
Beta – Pinene 7,7 %
P- cymene 46,8 %
Fatty Acid
Myristic Acid (C14 :0) 0,5%
Palmitic Acid (C16 :0) 13,7%
Palmitoleic Acid ( C16:1) 0,1%
Stearic Acid (C18:0) 2,6%
Oleic cid (C18:1) 23,7%
Linoleic Acid (C18:2)(Omega-6) 57,9%
Linolenic Acid ( C18:3n-3)(Omega-3) 0,2 %
Arachidic Acid ( C20:0) 1,3%
Saturated & Unsaturated Fatty Acids
Saturated Acid 18,1%
Monounsaturated Acids 23,8 %
Polyunsaturated Acids 58,1%
Nutritional Value
Protein 21%
Carbohydrates 35 %
Fats 35-38 %

2.1.5 Manfaat

Biji nigella sativa atau jintan hitam ini biasa digunakan untuk mengobati berbagai
macam penyakit seperti bronchitis ,rematik, diare, asma dan penyakit kulit (Asif et al.,
2015). Selain itu nigella sativa secara tradisional juga sering digunakan untuk
mengobati berbagai macam penyakit , gangguan ataupun kondisi yang berkaitan
dengan sistem pernapasan, saluran pencernaan, fungsi hati dan ginjal , cardiovascular
dan juga untuk sistem kekebalan tubuh(Ahmad et al., 2013).
Nigella sativa ini juga terdapat berbagai macam aktivitas biologis yang mempunyai
banyak efek seperti anti inflamasi ,anti ulcerasi dan anti kanker,antioksidan hepato-
protective,efek immodulatory , efek pada gula darah dan profle lipid, efek pada arthritis
, efek aktivitas anti kanker pada TQ, dll (Akram Khan and Afzal, 2016). Tidak hanya itu
, nigella sativa juga memiliki efek aktivitas sebagai antimikroba ,antifungi,
antischistosomiasis,
antioksidan,antidiabetic, aktivitas cardiovascular, aktivitas gastroprotektif , dan
aktivitas nephroprotektif , dll (Ahmad et al., 2013).
2.2 Lipid
Lipid merupakan suatu senyawa heterogen yang meliputi lemak, minyak, steroid,
waxes, dan senyawa terkalit lainnya yang berkaitan lebih karena sifat fisiknya daripada
sifat kimianya. Lipid juga memiliki sifat umum yaitu (1) relatif tidak larut dalam air
dan (2) larut dalam pelarut non polar misalnya ester dan kloroform. Kombinasi lipid
dan protein (Lipoprotein) adalah konstituen seluler yang terpenting yang dapat terjadi
baik di membrane sel dan di mitokondiria serta dapat sebagai transportasi lipid dalam
darah.

Tabel 2-2 komposisi lipoprotein di plasma pada manusia (Murray and Davis, 2003)

2.2.1 Klasifikasi Lipid


1. Lipid sederhana meliputi ester asam lemak dengan berbagai alcohol. Contoh lipid
sederhana antara lain:
a. Lemak (fat) merupakan ester asam lemak dengan gliserol.
b. Minyak (oil) merupakan lemak dalam keadaan cair
c. Waxes merupakan ester asam lemak dengan alcohol monohidrat yang berat
molekulnya tinggi.
2. Lipid komplex merupakan ester asam lemak yang mengandung gugus-gugus selain
alcohol dan asam lemak. Lipid komplec terdiri dari :
a. fosfolipid adalah lipid yang mengandung asam residu fosfor, selain asam lemak
dan alcohol
b. Glikolipid (glikosfingolipid) merupakan lipid yang mengandung asam
lemak,sfingosin dan karbohidrat
c. Lipid kompleks lain yaitu lipid seperti sulfolipid dan aminolipid. Lipoprotein juga
dapat dimasukkan dalam kelompok ini.
3. Prokursor dan turunan lipid pada kelompok ini mencakup asam lemak, gliserol,
steroid, alcohol lain, aldehida lemak, badan keton, hidrokarbon, vitamin larut lemak,
dan hormone. Karena tidak bermuatan, asilgliserol (gliserida) , kolesterol dan ester
kolesteril disebut lipid netral (Murray and Davis, 2003).
2.2.2 Kilomikron
Kilomikron adalah lipoprotein dengan ukuran molekul terbesar. Sebagian besar
kandungannya adalah triasilgliserol yang diabawa ke jaringan lemak dan otot rangka.
Kilomikron juga mengandung kolesterol untuk dibawa ke hati. Triasilgliserol dari diet
dalam usus diubah menjadi asam lemak bebas, gliserol dan monoasilgliserol. Asam
lemak bebas dan monoasilgliserol ini diserap oleh sel-sel usus, dan mengalami
esterifikasi menjadi triasilgliserol kembali. Kolesterol dan diet diserap dan dalam sel
diesterifikasi menjadi kolesterol ester dengan enzim asil-KoA : kolesterol
asiltransferase (ACAT) (Murray, 2009). Kilomikron nascent yang terbentuk terutama
mengandung apo B-48 disamping apo A-I, A-II, A-IV. Setelah masuk dalam sirkulasi,
kilomikron mendapat tambahan apo C-I, C-II, C-III, E yang berasal dari VLDL dan
HDL. Dalam pembuluh darah kapiler, kilomikron bersentuhan dengan lipoprotein
lipase pada endotel pembuluh darah dengan mediator apo C-II, sehingga triasilgliserol
terurai menjadi asam lemak bebas dan monoasilgliserol yang diserap oleh sel-sel otot
untuk digunakan sebagai sumber energi, lalu diserap ke jaringan lemak tubuh dan
mengalami esterifikasi kembali menjadi triasilgliserol.Hasil akhir penguraian
kilomikron oleh lipoprotein lipase ialah kilomikron remnant, yaitu partikel yang jauh
lebih kecil dan telah kehilangan sebagian triasilgliserolnya dan sebagian besar apo
telah berpindah ke lipoprotein-lipoprotein lain. Kilomikron remnant hanya
mengandung kolesterol, triasilgliserol dan apo B-48 dan E. Selanjutnya kilomikron
remnant diserap oleh hati melalui reseptor kilomikron remnant dengan mediator apo
E. Dalam sel hati kilomikron remnant diuraikan dan kolesterol diubah menjadi asam
empedu yag bercampur dengan kolesterol bebas disalurkan ke usus sebagai
detergen. Sebagian lain dari kolesterol dipakai untuk membuat VLDL (Murray, 2009).
2.2.3 VLDL (Very Low Density Lipoprotein)
VLDL merupakan lipoprotein yang terbesar kedua setelah kilomikron. VLDL dibuat
dalam hati dan mengandung 60% triasilgliserol endogen dan 10-15% kolesterol
dengan apo B-100, C-I, C-II, C-III dan E. Apo B-100 berbeda dengan apo B-48 yang
dibuat dalam usus. Sintesa VLDL meningkat bila konsumsi karbohidrat, alkohol, dan
jumlah kalori meningkat. Fungsi VLDL adalah untuk mengangkut triasilgliserol dan
kolesterol endogen ke jaringan perifer. Dalam sirkulasi pada dinding kapiler, VLDL
diuraikan oleh lipoprotein lipase (sama dengan yang bekerja pada kilomikron)
sehingga triasilgliserol terurai menjadi asam lemak bebas dan monoasilgliserol yang
selanjutnya dipergunakan sebagai sumber energi penggunaan VLDL menghasilkan
IDL yang hanya mengandung sedikit triasilgliserol, sedangkan apo A dan C berpindah
pada HDL (Murray, 2009).
2.2.4 LDL (Low Density Lipoprotein)
LDL adalah lipoprotein pengangkut kolesterol tersebar untuk disebarkan keseluruh
endotel jaringan perifer dan pembuluh nadi. Inti LDL hanya mengandung kolesterol,
sedangkan apo proteinnya hanya apo B-100. LDL merupakan metabolit VLDL yang
disebut juga kolesterol jahat dalam pembuluh darah, dan menyebabkan penumpukan
lemak yang dapat menyempitkan lumen pembuluh darah. Proses tersebut dinamakan
aterosklerosis. Kadar LDL di dalam darah tergantung dari konsumsi makanan yang
tinggi kolesterol dan asam lemak jenuh,tingginya kadar VLDL,serta kecepatan
produksi, dan eliminasi (Murray, 2009). Ada dua cara LDL memberika kolesterol ke
dalam sel :

a) Jalur reseptor LDL, yaitu LDL ditangkap oleh reseptor LDL yang terdapat
pada permukaan sel-sel perifer dan hati. Jumlah dari reseptor LDL kolesterol
dalam sel meningkat, maka jumlah reseptor LDL akan menurun. Lebih
kurang 70-80% dari LDL dibersihkan dengan cara ini.
b) Jalur pembersih (scavenger), yaitu pembersih LDL yang berlebihan oleh sel
pembersih (makrofag) yang selanjutnya menjadi sel-sel busa yang
mengawali proses atherosclerosis (Mayes, 2003).

Metabolisme LDL melalui jalur ini tidak diatur dengan reseptor LDL,
sehingga tidak ada kejenuhan dari makrofag untuk menangkap LDL. LDL yang
dibersihkan oleh jalur ini ialah LDL yang terlalu lama dalam peredaran darah
sehingga mengalami oksidasi. LDL yang teroksidasi ini ditangkap oleh “reseptor
pembersih” dari makrofag (Mayes,2003).

LDL merupakan metabolit VLDL yang disebut juga kolesterol jahat karena
efeknya yang aterogenik, yaitu mudah melekat pada dinding bagian dalam
pembuluh darah dan menyebabkan penumpukan lemak yang dapat
menyempitkan lumen pembuluh darah. Proses tersebut dinamakan
atherosclerosis. Kadar LDL di dalam darah tergantung dari konsumsi makanan
yang tinggi kolesterol dan asam lemak jenuh, tingginya kadar VLDL, serta
kecepatan produksi, dan eliminasi LDL (Mayes, 2003).

2.2.5 HDL (High Density Lipoprotein)


HDL disintesis di usus dan hati, mula-mula dalam bentuk HDL nascent,
yang dalam peredaran mendapat apo A-I, A-II, C-II, dan E. HDL mempunyai
beberapa subklas, yang terpenting dalam sirkulasi adalah HDL-2 dan HDL-3. HDL
mempunyai tugas transport baik kolesterol dari jaringan perifer ke hati. HDL
merupakan lipoprotein yang mengandung apo A dan mempunyai efek
antiaterogenik kuat, sehingga disebut juga kolesterol baik. Fungsi utama HDL yaitu
mengangkut kolesterol bebas yang terdapat dalam endotel jaringan perifer,
termasuk pembuluh darah, ke resepror HDL di hati untuk dikeluarkan lewat
empedu. Dengan demikian, penimbunan kolesterol di perifer berkurang. Kadar
HDL diharapkan tinggi di dalam darah (Murray, 2009).

2.3 Tikus
2.3.1 Klasifikasi Tikus
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Mamalia
Ordo : Rodentia
Subordo : Myomorpha
Family : Muridae
Genus : Rattus
Spesies : Rattus norvegicus albinus
Strain : Wistar (Sundana, 2016 dalam Nuringhati, 2015)

2.3.2 Morfologi Tikus Putih


Tikus putih galur wistar memiliki panjang 400 mm mulai dari hidung hingga ekor
dan juga memiliki berat badan sekitar 140-500 gr. Secara umum , tikus berjenis
kelamin jantan ini berukuran lebih besar dibandingkan betina. Tikus ini tidak pernah
muntah dibandingkan tikus lainnya oleh sebab itu tikus jenis ini sering digunakan
untuk eksperimental (penelitian). Tikus ini tidak memiliki kandung empedu, dan
lambungnya terdiri dari glandular dan non glandular. Saat mencapai umur 2 bulan,
berat badannya sekitar 200-300 gram. Ciri fisik tikus galur wistar ini memiliki bulu
pada seluruh tubuhnya, kecuali pada bagian telinga dan ekor (Andari, 2014).
Temperature yang baik untuk tikus puth yaitu berkisar antara 19° C – 23° C dan
kelembabannya berkisar 40 - 70% (Wolfensohn & Lloyd, 2013).
Pada umumnya penampakan fisik dari tikus putih ini berbulu, kecuali pada bagian
telinga, bulu ekor lebih pendek, geraham pada rahang atasnya mempunyai tuberkel-
tuberkel dalam bentuk memanjang. Rata-rata panjang tubuh dari hidung sampai ujung
ekor 399 mm dengan panjang ekor 187 mm. Terdapat dua sifat yang membedakan
tikus dengan hewan percobaan lain, yaitu tikus tidak dapat muntah karena struktur
anatomi yang tidak lazim di tempat esophagus bermuara ke dalam lambung dan tikus
tidak mempunyai kandung empedu (Sundana, 2016 dalam Nuringhati, 2015).

Gambar 2-3 Tikus Putih (Rattus norvegicus)