Anda di halaman 1dari 19

LEGAL :

LOGISTICS & TRANSPORTASI


Modul Pelatihan
Program Retooling Kompetensi Dosen Vokasi 2019
Gedung Raflesia, Kampus Politeknik Pos Indonesia, Bandung, 2 Agustus 2019

Instruktur :
DR. DHANANG WIDIJAWAN, S.H., M.H.
dhan_poltekpos@yahoo.com, 0818 428 255
Dosen Politeknik Pos Indonesia
& Sekolah Tinggi Manajemen Logistik, Bandung

POLITEKNIK POS INDONESIA


Bandung, 2 Agustus 2019
LEGAL :
LOGISTICS & TRANSPORTASI
BAGIAN II

DEFINISI, KEWAJIBAN, HAK,


TANGGUNG JAWAB, PERIZINAN
PELAKU USAHA TRANSPORTASI BARANG
berdasarkan
UU PERKERETAAPIAN (KA)
No. 23 Tahun 2007
DEFINISI PELAKU USAHA

UU (17) Penyelenggara sarana perkeretaapian adalah badan usaha


23/2007 yang mengusahakan sarana perkeretaapian umum.
Pasal 1
Angka 16, (16) Penyelenggara prasarana perkeretaapian adalah pihak yang
17 menyelenggarakan prasarana perkeretaapian.

DEFINISI
DEFINISI SARANA DEFINISI DEFINISI
BADAN DAN PERKERETA PENGGU-
USAHA PRASARA- APIAN NA JASA
NA
KEWAJIBAN PELAKU USAHA

PASAL
141 (1)

RDAPAT
KEWAJIBAN

PASAL 24
(1)
PERIZINAN PELAKU USAHA

IZIN IZIN
USAHA OPERASI
HAK PELAKU USAHA

HAK HAK
PENYELENGGARA PENYELENGGARA
SARANA PRASARANA
PERKERETAAPIAN PERKERETAAPIAN
TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA

TANGGUNG JAWAB TANGGUNG JAWAB


PENYELENGGARA PENYELENGGARA
SARANA PRASARANA
PERKERETAAPIAN PERKERETAAPIAN
DEFINISI BERDASARKAN PASAL 1 (1)

erkeretaapian adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas prasarana, sarana,
ber daya manusia, serta norma, kriteria, persyaratan, dan prosedur un
yelenggaraan transportasi kereta api.
DEFINISI BERDASARKAN PASAL 1 (3), (9)

Prasarana perkeretaapian adalah jalur kereta api, stasiun kereta api, dan fasi
rasi kereta api agar kereta api dapat dioperasikan.
arana perkeretaapian adalah kendaraan yang dapat bergerak di jalan rel.
DEFINISI BERDASARKAN PASAL 1 (10)

Badan Usaha adalah Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, at
dan hukum Indonesia yang khusus didirikan untuk perkeretaapian.
DEFINISI BERDASARKAN PASAL 1 (12)

Pengguna jasa adalah setiap orang dan/atau badan hukum yang menggunakan ja
gkutan kereta api, baik untuk angkutan orang maupun barang
KEWAJIBAN BERDASARKAN PASAL PASAL 141 (1)

nyelenggara Sarana Perkeretaapian wajib mengangkut barang yang telah diba


ya angkutannya oleh pengguna jasa sesuai dengan tingkat pelayanan yang dipilih.
KEWAJIBAN
ERDASARKAN UU NO 23 TAHUN 2007 PASAL 24 (1
dan Usaha yang menyelenggarakan prasarana perkeretaapian umum sebagaima
maksud dalam pasal 23 ayat (1) wajib memiliki:
zin Usaha
zin Pembangunan
zin Operasi
PERIZINAN
BERDASARKAN PM NO 91 TAHUN 2018 PASAL 2 (1), (2), (3), (4
enis OSS (online single submission) Sektor Perhubungan di Bidang Perkeretaapian terdiri atas:
Izin Usaha; dan
b. Izin Komersial atau Operasional.
enis OSS Sektor Perhubungan di bidang Perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
in Penyelenggaraan Prasarana Perkeretaapaian Umum;
in Penyelenggaraan Sarana Perkeretaapaian Umum;
in Penyelenggaraan Perkeretaapaian Khusus; dan
in Perpotongan dan/atau persinggungan Jalur Kereta Api dengan bangunan lain.
zin Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas:
in Penyelenggaraan Prasarana Perkeretaapaian Umum;
in Penyelenggaraan Sarana Perkeretaapaian Umum; dan
in Penyelenggaraan Perkeretaapaian Khusus.
PERIZINAN
BERDASARKAN PP 56/2009 & PM 91/2018 PASAL 2
No. 56 Tahun 2009
sal 337 mengatur mengenai izin operasi yang akan diatur lebih lanjut di dal
etapan menteri. Mengenai ketentuan penyelenggaraan prasarana perkeretaap
nya mengatur persyaratan teknis dan persyaratan sistem yang harus dipenuhi d
oses memperoleh perizinan penyelenggaraan prasarana perkeretaap
a.Sedangkan mengenai pengusahaannya tidak diatur secara tegas serta tid
emerintahkan untuk diatur lebih lanjut dalam peraturan menteri.
M NO 91 TAHUN 2018 Pasal 2 (4)
Izin Komersial atau Operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
rupa Izin Perpotongan dan/atau persinggungan Jalur Kereta Api dengan bangun
n.
HAK
BERDASARKAN UU 23/2007 PASAL 90
nyelenggara Prasarana Perkeretaapian berhak dan berwenang:
mengatur, mengendalikan, dan mengawasi perjalanan kereta api;
menghentikan pengoperasian sarana perkeretaapian apabila dapat membahayak
rjalanan kereta api;
melakukan penertiban terhadap pengguna jasa kereta api yang tidak memen
rsyaratan sebagai pengguna jasa kereta api di stasiun;
mendahulukan perjalanan kereta api di perpotongan sebidang dengan jalan;
menerima pembayaran dari penggunaan prasarana perkeretaapian; dan
menerima ganti kerugian atas kerusakan prasarana perkeretaapian yang disebabk
h kesalahan Penyelenggara Sarana Perkeretaapian atau pihak ketiga.
HAK
BERDASARKAN UU NO 23 TAHUN 2007 PASAL 161 (1)

Penyelenggara Sarana Perkeretaapian berhak menahan barang yang diangk


ngan kereta api apabila pengirim atau penerima barang tidak memenuhi kewajib
am batas waktu yang ditetapkan sesuai dengan perjanjian angkutan.
TANGGUNG JAWAB
BERDASARKAN UU 23/2007 PASAL 158 (1), (2), (3), (4)
Penyelenggara Sarana Perkeretaapian bertanggung jawab atas kerugian ya
erita oleh pengirim barang karena barang hilang, rusak, atau musnah ya
ebabkan oleh pengoperasian angkutan kereta api.
Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimulai sejak barang diteri
h Penyelenggara Sarana Perkeretaapian sampai dengan diserahkannya bara
pada penerima.
Kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan kerugian ya
ata dialami, tidak termasuk keuntungan yang akan diperoleh dan biaya jasa ya
ah digunakan.
Penyelenggara Sarana Perkeretaapian tidak bertanggung jawab atas kerugian ya
ebabkan oleh keterangan yang tidak benar dalam surat angkutan barang.
TANGGUNG JAWAB
BERDASARKAN UU 23/2007 PASAL 87 (1), (2), (3), (4)
Penyelenggara Prasarana Perkeretaapian bertanggung jawab kepada Penyelenggara Sar
keretaapian dan pihak ketiga atas kerugian sebagai akibat kecelakaan yang disebabkan kesala
goperasian prasarana perkeretaapian.
Tanggung jawab Penyelenggara Prasarana Perkeretaapian
ada Penyelenggara Sarana Perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasar
janjian kerja sama antara Penyelenggara Prasarana Perkeretaapian dan Penyelenggara Sar
keretaapian.
Penyelenggara Prasarana Perkeretaapian bertanggung jawab kepada pihak ketiga atas kerugian ha
da, luka-luka, atau meninggal dunia yang disebabkan oleh penyelenggaraan prasar
keretaapian.
Penyelenggara Prasarana Perkeretaapian bertanggung jawab terhadap Petugas Prasar
keretaapian yang mengalami luka-luka, atau meninggal dunia yang disebabkan oleh pengoperas
sarana perkeretaapian.
Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan kerugian yang ny
ami.