Anda di halaman 1dari 3

RESUME

TUGAS INDIVIDU PSIKOSOSIAL DAN BUDAYA

ANALISIS PENERAPAN BUDAYA DALAM BIDANG


KESEHATAN

Oleh :
Siti Nur Luthfiana
NIM. P1337420615025

PROGRAM STUDI PROFESI NERS SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2019
Aspek penerapan budaya dalam kesehatan sangat luas cakupannya yang meliputi
aspek kesehatan pada kehidupan manusia dan kebudayaan yang dihasilkan. Aspek sosial
diantaranya antropologi, sosiologi, dan Psikologi sosial. Antropologi mempelajari kebudayaan
secara khusus seperti wujud, unsur-unsur, dan aspek-aspek. Dalam kebudayaan sangat
berpengaruh dalam tingkat kesehatan bila dibandingkan dengan masyarakat modern,
masyarakat dengan pengaruh budaya yang sangat kuat akan mengikuti aturan budayanya
begitu pula dalam memperlakukan perilaku sehat sakit bagi diri sendiri dan keluarganya
sehingga akan sangat sulit untuk mengubah persepsinya. Pada dasarnya sosiologi
mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik gejala-gejala sosial (hubungan antar
manusia, struktur sosial, proses-proses sosial, perubahan sosial). Psikologi sosial merupakan
aspek perilaku sehubungan dengan kelompok sosialnya. Tujuan pendidikan kesehatan
adalah merubah perilaku ke arah yang menguntungkan kesehatan. Perilaku kesehatan
sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial budaya di mana individu tersebut hidup. Seperti
contoh, petugas kesehatan perlu mengetahui aspek sosial budayanya agar usaha pendidikan
kesehatan yang dilakukan berhasil.

Perilaku adalah aktivitas manusia yang dapat diamati maupun yang tidak dapat
diamati yang resultante antara faktor internal dan eksternal dari fisik, psikis, sosial individu.
Perilaku merupakan fungsi dari sikap, norma, kebiasaan, dan harapan individu yang berupa
tindakan nyata yang dapat diamati indera bahkan dapat dipelajari dan merupakan tindak
lanjut pengetahuan, sikap, dan niat seseorang terhadap suatu obyek. Aspek Budaya yang
Mempengaruhi Perilaku Kesehatan meliputi. Pertama persepsi masyarakat terhadap sehat
dan sakit. Masyarakat mempunyai batasan sehat atau sakit yang berbeda dengan konsep
sehat dan sakit versi sistem medis modern (penyakit disebabkan oleh makhluk halus, guna-
guna, dan dosa). Kedua kepercayaan dalam masyarakat sangat dipengaruhi tingkah laku
kesehatan, beberapa pandangan yang berasal dari agama tertentu kadang-kadang memberi
pengaruh negatif terhadap program kesehatan. Sifat fatalistik atau fatalism adalah ajaran
atau paham bahwa manusia dikuasai oleh nasib. Seperti contoh, orang-orang Islam di
pedesaan menganggap bahwa penyakit adalah cobaan dari Tuhan, dan kematian adalah
kehendak Allah. Jadi, sulit menyadarkan masyarakat untuk melakukan pengobatan saat
sakit. Ketiga nilai kebudayaan masyarakat Indonesia terdiri dari macam-macam suku bangsa
yang mempunyai perbedaan dalam memberikan nilai pada satu obyek tertentu. Nilai
kebudayaan ini memberikan arti dan arah pada cara hidup, persepsi masyarakat terhadap
kebutuhan dan pilihan mereka untuk bertindak. Seperti contoh wanita sehabis melahirkan
tidak boleh memakan ikan karena ASI akan menjadi amis
Tidak ada kehidupan sosial masyarakat tanpa perubahan, dan sesuatu perubahan
selalu dinamis. artinya setiap perubahan akan diikuti perubahan kedua, ketiga dan
seterusnya. Seorang petugas kesehatan jika akan melakukan perubahan perilaku kesehatan
harus mampu menjadi contoh dalam perilakukanya sehari-hari. Ada anggapan bahwa
petugas kesehatan merupakan contoh rujukan perilaku hidup bersih sehat, bahkan diyakini
bahwa perilaku kesehatan yang baik adalah kepunyaan atau hanya petugas kesehatan yang
benar. Sehingga sebagai petugas kesehatan yang baik harus mampu dalam mempengaruhi
seseorang dalam persepsi kesehatan meskipun dalam pengaruh budaya sekalipun.