Anda di halaman 1dari 20

Analisis Keselamatan Kerja, Identifikasi Potensi Bahaya dan Pengendaliannya

ANALISIS KESELAMATAN KERJA,


IDENTIFIKASI POTENSI BAHAYA
DAN PENGENDALIANNYA

Disusun oleh :
Vemy Ridantami, A.Md.

PENYEGARAN PROTEKSI RADIASI


Yogyakarta, 17 - 21 Juni 2013

Pusat Pendidikan dan Pelatihan


Badan Tenaga Nuklir Nasional
2013

Pusdiklat – BATAN, 2013 i


Identifikasi Bahaya, Penilaian dan Pengendalian Risiko

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN............................................................................1
BAB II ISTILAH DAN DEFINISI...............................................................3
ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.BAB III IDENTIFIKASI
BAHAYA,PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RESIKO......................5
ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.
3.1.Identifikasi Bahaya......................................................................…..5
Error! Bookmark not defined.3.2.................................Penilaian Risiko
7
Error! Bookmark not defined.3.3..........................Pengendalian Risiko
13
Error! Bookmark not defined.
DAFTAR PUSTAKA................................................................................16
ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.

Pusdiklat – BATAN, 2013 ii


Analisis Keselamatan Kerja, Identifikasi Potensi Bahaya dan Pengendaliannya

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang


telah memberikan rahmat, hidayah dan karuniaNya kepada kami sehingga
kami dapat menyelesaikan pembuatan diktat Penyegaran Proteksi Radiasi
dan Keselamatan Kerja yang berjudul Identifikasi Bahaya, Penilaian, dan
Pengendalian Risiko.
Diktat ini kami susun dengan tujuan untuk memudahkan para peserta
dalam memahami materi pelatihan. Pembuatan diktat ini dapat kami
selesaikan atas bantuan beberapa pihak. Pada kesempatan ini kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat kami
sebutkan satu persatu. Semoga kebaikan dan bantuannya mendapat pahala
dari Tuhan Yang Maha Esa.
Kami berharap semoga diktat ini dapat bermanfaat bagi para peserta.
Kami menyadari bahwa pembuatan diktat ini jauh dari sempurna, maka kami
mohon saran dan kritik dari para pembaca

Yogyakarta, 4 Juni 2013

penulis

Pusdiklat – BATAN, 2013 iii


BAB I
PENDAHULUAN

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)


merupakan bagian dari manajemen suatu organisasi atau satuan kerja secara
keseluruhan. SMK3 ini bermanfaat karena dapat menciptakan lingkungan
kerja yang aman, melindungi pekerja dan orang lain dari potensi bahaya dan
risiko keselamatan dan kesehatan kerja yang ada di tempat kerja.
Diktat ini merupakan pendalaman dari klausul 3.2 (Identifikasi Bahaya,
Penilaian, dan Pengendalian Risiko) Pedoman Standart BATAN SB 006-
OHSAS 18001:2008 tentang Persyaratan Sistem Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja. Dimana dalam diktat ini akan mengimplementasikan
tata cara pengendalian risiko dari setiap pekerjaan sehingga angka
kecelakaan dapat diminimalisir atau bahkan dihilangkan sama sekali.
Diktat ini khusus diarahkan pada kegiatan identifikasi bahaya,
penilaian, dan pengendalian risiko K3 yang dilakukan di lingkungan BATAN
dalam rangka menjamin K3. Tingkat kerumitan dalam melakukan identifikasi
bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko bergantung pada sifat kegiatan,
proses, atau bahan produksi yang mengakibatkan kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja.
Pelatihan ini akan mengarahkan dan memberi kepahaman kepada
peserta dalam menyiapkan perencanaan dan persiapan dalam melaksanakan
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terutama dalam menentukan
Identifikasi Bahaya, Penilaian dan Pengendalian Risiko dalam setiap
kegiatan guna mewujutkan proses perbaikan berkelanjutan untuk
meminimalisir kejadian dan kecelakaan kerja.

Tujuan Instruksional Umum


Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta mampu memahami:
1. Menentukan identifikasi bahaya
2. Melakukan penilaian risiko
3. Melakukan pengendalian risiko

Tujuan Instruksional khusus


Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta mampu:
Menyusun dokumen SMK3 yang terkait dengan Identifikasi Bahaya,
Penilaian dan Pengendalian Risiko di setiap kegiatan
BAB II
ISTILAH DAN DEFINISI

Dalam diktat ini berlaku istilah dan definisi sebagai berikut:


2.1 Bahaya adalah sumber, situasi, atau tindakan yang memiliki
potensi menimbulkan kecelakaan dalam pengertian cedera atau
gangguan kesehatan, atau kombinasinya.
CATATAN Sumber adalah sifat bahan/material, alat/mesin, proses,
lingkungan kerja, metode kerja, cara kerja, dan produk
2.2 Daerah kerja adalah setiap lokasi fisik tempat kegiatan terkait
pekerjaan yang dilakukan dibawah pengendalian organisasi.
CATATAN 1 Pada saat menentukan daerah kerja, organisasi harus
mempertimbangkan efek K3 pada personel yang melakukan
perjalanan atau dalam persinggahan (misalnya, berkendaraan darat,
laut, atau udara), dan bekerja pada tempat pelanggan.
CATATAN 2 Daerah kerja dikatakan aman apabila potensi bahaya
dapat teridentifikasi dan terkendali.
2.3 Gangguan Kesehatan adalah menurunnya kondisi fisik atau
mental yang dapat diidentifikasi dan/atau disebabkan makin buruknya
kegiatan kerja dan/atau terkait pekerjaan.
CATATAN 1 gangguan kesehatan dapat dalam bentuk fisika, biologi,
kimia, ergonomi, fisiologis, psikis dan lain-lain
CATATAN 2 Bahaya di lingkungan kerja adalah segala kondisi yang
dapat memberi pengaruh yang merugikan terhadap kesehatan atau
kesejahteraan orang yang terpapar.
2.4 Identifikasi bahaya adalah proses mengenali adanya bahaya dan
menentukan karakteritistiknya.
2.5 Kerugian finansial adalah berkurangnya nilai ekonomi suatu
sistem kegiatan.
2.6 Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda,
daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan
perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan
kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
2.7 Penilaian Risiko adalah proses evaluasi risiko yang timbul dari
bahaya, dengan mempertimbangkan kecukupan pengendalian yang
ada dan penentuan apakah risiko dapat diterima atau tidak.
2.8 Penyakit Akibat Kerja (PAK) adalah penyakit yang mempunyai
penyebab spesifik atau memiliki keterkaitan yang kuat dengan
pekerjaan.
CATATAN 1 Pada umumnya terdiri dari satu sumber penyebab dan
terdapat korelasi antara proses penyakit dan bahaya di tempat kerja.
CATATAN 2 Penegakan diagnosis PAK mengacu pada Keputusan
Menteri Tenaga Kerja Nomor 333 tahun 1989
2.9 Risiko adalah gabungan dari kemungkinan terjadinya bahaya atau
paparan (exposure) dan keparahan luka atau gangguan kesehatan
yang dapat disebabkan oleh kejadian atau paparan.
CATATAN 1 Risiko (keselamatan) adalah kesempatan untuk terjadinya
cedera atau kerugian dari suatu bahaya, atau kombinasi dari
kemungkinan dan akibat (konsekuensi).
CATATAN 2 Risiko (kesehatan) adalah paparan bahaya yang diterima
dalam kurun waktu tertentu untuk terjadinya gangguan kesehatan.
2.10 Risiko yang dapat diterima adalah risiko yang telah dikurangi
hingga tingkat yang dapat ditoleransi oleh organisasi dengan
mempertimbangkan kewajiban hukumnya dan kebijakan K3-nya.
BAB III
IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RISIKO

3.1 Identifikasi Bahaya


Identifikasi bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko yang terkait
dengan setiap kegiatan harus dipastikan agar sesuai, cukup, dan
selalu tersedia. Oleh sebab itu, organisasi harus mengidentifikasi,
mengevaluasi dan mengendalikan risiko K3 di setiap kegiatannya.
Identifikasi bahaya harus dilakukan secara cermat sehingga tidak ada
potensi bahaya yang terlewatkan atau tidak teridentifikasi
3.1.1 Tahapan identifikasi bahaya meliputi:
a. Pengenalan kegiatan untuk menemukan, mengenali, dan
mendeskripsikan tahapan kegiatan tertentu dari
serangkaian pekerjaan yang dilakukan oleh organisasi yang
menghasilkan atau mendukung satu atau lebih produk atau
jasa.
b. Pengenalan bahaya untuk menemukan, mengenali, dan
mendiskripsikan potensi bahaya yang terdapat dalam setiap
tahapan kegiatan atau pekerjaan ( persiapan, pelaksanaan,
penyelesaian) dan akibatnya (kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja)
c. Pengukuran potensi bahaya
d. Validasi daftar bahaya merupakan tahapan memasukkan
setiap sumber bahaya ke dalam suatu daftar bahaya
CATATAN Sumber bahaya di tempat kerja dapat berasal dari
bahan/material, alat/mesin, proses, lingkungan kerja, metode kerja,
cara kerja, maupun produk. Target yang mungkin terpapar/terpengaruh
sumber bahaya adalah pekerja, peralatan/fasilitas, proses produk,
lingkungan, dan lain-lain.
3.1.2 Faktor bahaya di lingkungan kerja yang harus diidentifikasi
meliputi bahaya fisik, bahaya kimia, bahaya biologik, bahaya
ergonomik, bahaya fisiologik (pembebanan kerja fisik) dan
bahaya psiko-sosial.
a. Bahaya fisik
Bahaya fisik dapat berupa kebisingan, radiasi pengion
dan/atau non-pengion, temperatur ekstrim, gelombang
elektromagnetik, arus listrik, bahaya mekanik, dan lain-
lain.
b. Bahaya kimia
Bahaya kimia dapat berupa bahan yang mudah meledak,
bahan yang mudah terbakar, bahan korosif, bahan
karsinogen, dan lain-lain
CATATAN Jalan masuk bahan kimia ke dalam tubuh
dapat melalui pernafasan (inhalation), kulit, dan/atau
tertelan (ingestion).
c. Bahaya biologik
Bahaya biologik ditimbulkan oleh mikro organisme,
seperti virus, bakteri, jamur, racun binatang, dan lain-lain
d. Bahaya ergonomik
Bahaya ergonomik ditimbulkan akibat interaksi pekerja
dengan mesin/alat, tugas kerja dan daerah kerja, maka
kemungkinan penyakit akibat kerja yang terjadi antara
lain ketidaknyamanan, kelelahan, Low back pain, dan
lain-lain.
e. Bahaya fisiologik (pembebanan kerja fisik)
Bahaya fisiologik dapat ditimbulkan akibat pembebanan
kerja, sehingga fungsi anggota tubuh pekerja terganggu,
seperti cara mengangkat yang tidak benar yang dapat
mengakibatkan tubuh tidak simetris, dan lain-lain.
f. Bahaya psiko-sosial
Bahaya psiko-sosial ditimbulkan akibat interaksi sosial
antar sesama pegawai dan sistem manajemen, sehingga
menimbulkan gangguan perilaku dan kejiwaan seperti
stres, cemas, gelisah, gangguan emosional,
psikosomatis, dan lain-lain.

3.1.3 Informasi Identifikasi Bahaya


Untuk mengetahui tahapan kegiatan dan bahaya yang ditimbulkan, diperlukan
beberapa informasi kunci sebagai berikut:
Tabel 1. Informasi Identifikasi Bahaya
Parameter yang perlu diketahui Cara mendapatkan informasi
 Tempat pekerjaan dilakukan  Denah lokasi pekerjaan
 Personel yang melakukan  Data pekerja, observasi
pekerjaan
 Peralatan dan bahan yang  Daftar alat dan bahan yang
digunakan digunakan, MSDS, dll
 Tahapan/urutan pekerjaan  Diagram alir/prosedur/instruksi
kerja
 Tindakan kendali yang telah ada  Laporan kecelakaan dan atau
PAK
 Peraturan terkait yang mengatur  Peraturan, standart, dan
pedoman

Secara sederhana dalam menemukan potensi bahaya yang terdapat


dalam suatu tahapan pokok kegiatan, dilakukan dengan cara menentukan
kegiatan utama dalam pekerjaan tersebut untuk kemudian dianalisis masing-
masing potensi bahaya yang muncul dari setiap kegiatan pokok tersebut.

3.2 Penilaian risiko


Menurut Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (2010), penilaian risiko
adalah proses untuk:
a. Mengidentifikasi dan mengukur setiap potensi bahaya dari setiap
tahapan pekerjaan yang berdampak pada keselamatan dan Keshatan
Kerja di lingkungan kerja
b. Menilai besaran risiko
c. Mengendalikan risiko atas dasar prioritas tertentu.

Langkah-langkah atau tahapan dalam penilaian risiko dapat dilihat pada


gambar 3.1 dan gambar 3.2 berikut:

Gambar 3.1 Langkah-langkah penilaian risiko

Gambar 3.2 Identifikasi bahaya dan proses penilaian risiko

Dari tahapan di atas dapat dijelaskan bahwa penilaian risiko harus


dilakukan pada tahap awal dengan melakukan identifikasi bahaya,
melakukan pengukuran dan menilai risikonya, mengevaluasi risiko yang ada
serta menetapkan pengendalian risiko, dan menerapkan pengendalian
tersebut. Selanjutnya adalah memutuskan apakah risiko dapat diterima atau
tidak, kemudian melakukan monitor dan review, dengan mempertimbangkan
dan mengelola perubahan jika ada dan diperlukan, serta mengembangkan
metodologi dalam melakukan identifikasi bahaya yang dilakukan secara
berkelanjutan.
Perhitungan risiko secara sederhana dapat dilakukan dengan terlebih
dahulu melakukan identifikasi bahaya sehingga potensi bahaya yang
terdapat dalam tahapan kegiatan dapat diketahui. Tahapan kegiatan dapat
diperoleh dengan menentukan pekerjaan dan kegiatan utama dalam
pekerjaan tersebut.
Tahapan selanjutnya adalah melakukan evaluasi risiko, dengan
melakukan penilaian seberapa besar peluang (kemungkinan) dan
konsekuensi apabila risiko benar-benar terjadi.
Ada beberapa metode analisis risiko yang digunakan yang disesuaikan
dengan kebutuhan masing-masing organisasi. Metode analisis tersebut
adalah:
a. Analisis kuantitatif
Analisis ini menggunakan hasil perhitungan numerik untuk masing-
masing konsekuensi dan tingkat probabilitas (kemungkinan) dengan
menggunakan data variasi, seperti catatan kejadian, literatur, eksperimen.
b. Analisis kualitatif
Analisis ini menggunakan bentuk skala deskriptif untuk menjelaskan
seberapa besar kondisi potensial dan kemungkinan yang akan diukur. Pada
umumnya analisis kualitatif digunakan untuk menentukan prioritas tingkat
risiko yang lebih dahulu harus diselesaikan.
c. Analisis semi kuantitatif
Analisis semi kuantitatif menghasilkan prioritas yang lebih rinci
dibandingkan dengan analisis kualitatif, karena risiko dibagi menjadi
beberapa kategori dan dinyatakan dengan nilai atau skor tertentu.
Analisis ini dilakukan dengan mengkombinasikan antara
peluang/probabilitas dan konsekuensi/dampak dari terjadinya suatu resiko.
1. Peluang
Peluang/probabilitas merupakan kemungkinan terjadinya suatu
kecelakaan/kerugian ketika terpapar dengan suatu bahaya. Di tempat kerja
peluang dapat terjadi misalnya karena jatuh melewati jalan licin, terinfeksi
virus, bakteri, terpapar atau terkontaminasi zat radioaktif, tersengat listrik
dan sebagainya.
Untuk menentukan skala dan pengukuran peluang, dilakukan
dengan mengacu skala yang ditetapkan seperti pada tabel 2. Jika suatu
sumber risiko dinilai mempunyai skala peluang berbeda, maka yang
digunakan adalah skala peluang yang tertinggi.

Tabel 2. Skala peluang terjadinya risiko

2. Konsekuensi
Konsekuensi adalah nilai yang menggambarkan suatu
keparahan/kerugian yang mungkin terjadi dari suatu kecelakaan/loss akibat
sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan. Seluruh kegiatan harus
dilakukan pengukuran konsekuensi seperti pada tabel 3.

Tabel 3. Skala pengukuran konsekuensi


CATATAN 1 Kerugian finansial dihitung berdasarkan nilai nominal sebuah
kegiaatan
CATATAN 2 Kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan di unit kerja yang
disetujui oleh kepala pusat
CATATAN 3 Baku mutu lingkungan merupakan ukuran batas atau kadar
makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau
harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang
keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai
unsur lingkungan hidup.

3. Risiko
Risiko menurut SB 006-OHSAS 18001:2008 adalah gabungan dari
kemungkinan terjadinya bahaya atau paparan dan keparahan luka atau
gangguan kesehatan yang dapat disebabkan oleh kejadian atau paparan.
Risiko dapat dihitung dengan mengalikan nilai skala peluang dengan nilai
gabungan skala konsekuensi sesuai persamaan berikut:

R = P x (K1+K2+K3+K4+K5)

Keterangan :
R = Risiko ( Tabel 1)
P = Peluang ( Tabel 2 )
K1,K2,K3,K4,K5 = Konsekuensi ( Tabel 3)

Selanjutnya nilai hasil perhitungan risiko (R) dibandingkan dengan


skala Tabel 4 sehingga didapatkan pemeringkatan risiko kegiatan atau
tahapan pekerjaan pada suatu unit kerja atau kelompok kerja.

Peringkat Skala Kesimpulan


Risiko
A 0 – 24 Risiko dapat diterima, langkah pengendalian
dinilai efektif
B 25 – 49 Risiko belum dapat diterima, perlu dilakukan
tindakan pengendalian tambahan
C 50 – 74 Risiko tidak dapat diterima, harus dilakukan
tindakan pengendalian
D 75 – 99 Risiko sangat tidak dapat diterima harus
dilakukan tindakan pengendalian segera
E 100 - 125 Risiko amat sangat tidak dapat diterima,
kegiatan tidak dilaksanakan hingga dilakukan
pengendalian untuk mereduksi risiko

CATATAN Langkah terakhir dalam penilaian risiko dilakukan dengan


cara:
1. Mengumpulkan semua rating risiko yang didapatkan (A,B,C,D,E)
2. Jika terdapat rating D atau E ditetapkan dengan memilih yang
terburuk.
3. Jika hanya terdapat rating A, B, C, ditetapkan dengan memilih yang
terbanyak, yaitu A atau B atau C

3.3 Pengendalian Risiko


Pengendalian risiko merupakan langkah selanjutnya setelah
melakukan penilaian dan evaluasi risiko. Bagian terpenting dari proses
pengendalian risiko adalah mengambil tindakan korektif seperti yang
diperlukan.
Pada tahap pengendalian, risiko yang telah teridentifikasi dan
dianalisis, dikaji ulang kembali secara menyeluruh agar dapat
dikembangkan sebagai alternatif pengendalian.
Pengendalian risiko berdasarkan Kementrian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi sebagai berikut:

Gambar 3.3 Hirarki Pengendalian Risiko

a. Eliminasi, merupakan pengendalian dengan cara menghilangkan


bahaya dari tempat kerja, umumnya diterapkan pada bahan, proses
dan bahkan pada teknologinya.
b. Substitusi, merupakan usaha menurunkan tingkat risiko dengan
mengganti potensi bahaya (bahan dan proses) dengan sumber lain
yang memiliki petensial bahaya yang lebih rendah.
c. Rekayasa Teknik, merupakan pengendalian yang berfokus pada
rekayasa mesin, seperti memodifikasi alat, cara kerja mesin dan
komponennya. Misalnya pemasangan ventilasi yang cukup,
pemasangan penahan radiasi, design keteknikan untuk
kenyamanan kerja.
d. Administratif, merupakan usaha pengendalian risiko yang lebih
mengutamakan manajemen seperti, membuat prosedur, instruksi
kerja, pengaturan jadwal kerja, pendidikan dan pelatihan,
pemasangan simbol/tanda-tanda keselamatan, MSDS di daerah
kerja.
e. Alat Pelindung Diri, merupakan pengendalian untuk melindungi
anggota tubuh pekerja, seperti masker, sarung tangan, sepatu
keselamatan, ear plug, safety gogles.

DAFTAR PUSTAKA
1. Peraturan Kepala BATAN No 20 tentang pedoman penilaian risiko
dan keselamatan kerja
2. SB 006 – OHSAS 18001:2008 Sistem Manajemen Keselamatan
Kerja
3. Sunarto, 2012. Pedoman Penilaian Risiko, Pusdiklat-BATAN
4. Farida, 2012. Perencanaan SMK3, Pusdiklat-BATAN
Formulir Penilaian Resiko

Satuan Kerja : PSTA – BATAN Dibuat oleh : Pembimbing ttd


Kegiatan : Radiasi/ Mekanik/ Biologi/ Kimia/ Umum/Elektrik Diperiksa oleh : Ka. Bid ttd
Pekerjaan : Klasifikasi Sumber Radiasi Berdasarkan PP Proteksi dan Keselamatan Divalidasi oleh : Ir. Gede Sutresna, M.Eng
Radiasi
Bagian/Sub Bagian : BK3 / KKPR Tanggal : 30 Juni 2016
Lokasi : Gedung 13 ; Ruang Penyimpanan Sumber Radiasi

Akibat Risiko
Potensi Kecelakaan Pengendalian Tingkat
No. Tahapan Pokok Pekerjaan Peluang Konsekuensi Skala
Bahaya dan Penyakit Risiko
Akibat Kerja Jenis Aplikasi K1 K2 K3 K4 K5
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1. Tahap Persiapan (Alat dan Bahan )
- Menghidupkan alat cacah Tersengat Luka ringan Eleminasi NA 1 1 1 1 1 1 5 A
(GM 2) listrik sampai berat Subtitusi NA
- Penyiapan alat dan bahan Rekayasa NA
(kertas usap, pendose/TLD, Teknik
surveymeter, kertas merang, Administratif Petunjuk
baki, jaslab, sarung tangan, pengoperasian
masker) APD Jaslab, sarung
tangan, masker
2. Tahap Pelaksanaan
a. Pengecekan sumber - Terpapar - Efek Eleminasi NA 1 2 1 1 1 1 6 A
radiasi (keberadaan radiasi stokastik Subtitusi NA
sumber dan tingkat - Menghirup - Gangguan Rekayasa NA
kontaminasi) debu/gas saluran Teknik
- Kelelahan pernafasan Administratif Petunjuk
- Stress pelaksanaan
APD pendose/TLD,
surveymeter,
jaslab, sarung
tangan, masker
b. Pencacahan sampel - Tersengat - Luka ringan Eleminasi NA 1 2 1 1 1 1 6 A
listrik sampai berat Subtitusi NA
- Terpapar - Efek Rekayasa NA
radiasi stokastik Teknik
Administratif Petunjuk
pengoperasian
APD pendose/TLD,
jaslab, sarung
tangan, masker
3. Tahap Penyelesaian
Mematikan alat Tersengat Luka ringan Eleminasi NA 1 1 1 1 1 1 5 A
listrik sampai berat Subtitusi NA
Rekayasa NA
Teknik
Administratif Petunjuk
pengoperasian
APD Jaslab, sarung
tangan, masker

*Coret yang tidak perlu


NA : Not Applitable

Profil Kegiatan :
A