Anda di halaman 1dari 2

Komunikasi dan Koordinasi

Sangat penting sedini mungkin mendirikan suatu pusat komunikasi yang sebaiknya
didirikan di Polres/Polsek atau di tempat lain di dekat tempat terjadinya bencana. Pusat
komunikasi ini merupakan pusat pelayanan yang harus mampu melayani semua unit terkait,
misalnya:
a. Mendirikan Poskodal dan stasiun radio komunikasi yang siaga 24 jam, bekerja sama dengan
ORARI/RAPI.
b. Menerima dan melakukan instruksi-instruksi kepada yang berkepentingan di lapangan.
c. Melayani pertanyaan-pertanyaan dan informasi timbal balik dari kaum keluarga korban, pers,
media massa, dan pejabat-pejabat
d. Menggandakan dokumen.
e. Melayani penerjemahan atau menghubungi kedokteran kesehatan kepolisian apabila ada
korban asing yang terlibat dalam musibah tersebut, dapat juga menghubungi Sekretariat NCB
Interpol di Jakarta agar membantu dalam masalah komunikasi dengan negara asal korban
f. Setiap informasi yang disampaikan kepada mass media hendaknya menjadi tanggung jawab
Pejabat tertinggi di daerah tersebut atau yang ditunjuk.
Informasi penanganan krisis akibat bencana harus dilakukan dengan cepat, tepat, akurat
dan sesuai kebutuhan. Pada tahap pra, saat dan pasca bencana pelaporan informasi masalah
kesehatan akibat bencana dimulai dari tahap pengumpulan sampai penyajian informasi dilakukan
untuk mengoptimalisasikan upaya penanggulangan krisis akibat bencana.
Jenis Informasi dan Waktu Penyampaian Informasi yang dibutuhkan pada awal terjadinya
bencana disampaikan segera setelah kejadian awal diketahui dan dikonfirmasi kebenarannya,
meliputi:
1) Jenis bencana dan waktu kejadian bencana yang terdiri dari tanggal, bulan, tahun serta pukul
berapa kejadian tersebut terjadi.
2) Lokasi bencana yang terdiri dari desa, kecamatan, kabupaten/kota dan provinsi bencana
terjadi.
3) Letak geografi dapat diisi dan Informasi disampaikan menggunakan:
a) Telepon
b) Faksimili
c) Telepon seluler
d) Internet
e) Radio komunikasi
f) Telepon satelit
a. Alur Mekanisme dan Penyampaian Informasi Informasi awal tentang krisis pada saat kejadian
bencana dari lokasi bencana langsung dikirim ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau
Provinsi, maupun ke Pusat Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan dengan
menggunakan sarana komunikasi yang paling memungkinkan pada saat itu. Informasi dapat
disampaikan oleh masyarakat, unit pelayanan kesehatan dan lain-lain. Unit penerima
informasi harus melakukan konfirmasi. (Depkes, 2017)

Transportasi Korban
Koodinator Transportasi mengatur kedatangan dan keberangkatan serta transportasi
yang sesuai. Koordinator Transportasi bekerjasama dengan Koordinator Medik menentukan
rumah sakit tujuan, agar pasien trauma serius sampai kerumah sakit yang sesuai dalam periode
emas hingga tindakan definitif dilaksanakan pada saatnya. Untuk tidak membebani RS rujukan
melebihi kemampuannya. Cegah pasien yang kurang serius dikirim ke RS utama. (Jangan
pindahkan bencana ke RS).

Kholid, Ahmad. Prosedur Tetap Pelayanan Medik Penanggulangan Bencana.Jakarta:EGC

Saanin, S. (2010). Manajemen – penanganan korban bencana pada pasien gawat – darurat. BSB
Dinkes Propinsi Sumbar