Anda di halaman 1dari 13

BAB III

KETERBUKAAN DAN KEADILAN


DALAM KEHIDUPAN
BERBANGSA DAN BERNEGARA
A. Pendahuluan

Era keterbukaan atau lebih dikenal dengan Globalisasi merupakan ( akibat / hasil )
perkembangan pemikiran baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun dalam bidang
Teknologi di paruh kedua abad ke -20. Hal ini telah mendorong dilakukannya
serangkaian penyesuaian terhadap perkembangan kelembagaan dalam kehidupan
berbangsa dam bernegara. Rangkaian penyesuaian yang diperlukan bukan hanya
menyangkut kebijakan penyelenggaraan Negara, strategi , serta tata kerja pemerintahan,
tetapi juga orientasi tata nilai aspek kelembagaan masyarakat dan bangsa itu sendiri
( aspek politik, ekonomi , soail – budaya, hokum, pertahana dan keamanan ).

Memasuki era keterbukaab, kita mesti secara arif merumuskan


danmengaktualisasikan kembali nilai – nilai kebangsaan yang tangguh dalam
berinteraksi dengan tatanan dunia luar dengan tetap berpijak pada jati diri bangsa, serat
menyegarkan dan memperluas makna pemahaman kebangsaan kita. Sudah saatnya
makna nasionalisme dan patriotism yang memiliki dimensi dan cakupan yang makin
kompleks memerlukan langkah – langkah arif dan bijaksana agar kita makin dapat
mewujudkan cita – cita proklamasi yang tercantum dalam Pembukaan Undang –
Undang Dasar 1945.

Secara Psikologis , tumbuhnya sikap keterbukaan berkaitan erat dengan jaminan


keadilan. Keterbukaan merupakan sikap jujur, rendah hati dan adil serta mau menerima
pendapat orang lain . sedangkan eadilan merupakan pengakuan dan perlakuan yang
seimbang antara hak dan kewajiban. Dengan demikian, penerapan jaminan keadilan
perlu dilandasi oleh sikap jujur, redah hati dan tindakan yang tidak berat sebelah.

Sebagai manusia kita diminta untuk tidak hanya menuntuk hak dan mengabaikan
kewajiban, karena hal yang demikian dapat mengarah pada pemerasan dan
memperbudak orang lain. Sebaliknya jika hanya menjalankan kewajiban dan
mengabaikan apa yang menjadi hak kita, kita akan mudah diperbudak atau dipperas
oleh orang lain. Contoh, seorang karyawan yang hanya menuntut kenaikan upah tanpa
diimbangi peningkatan kualitas kerjanya tentu dianggap sebegai pemeras. Sebaliknya,
seorang majikan yang terus menerus memeras tenaga pegawainya tanpa memperhatikan
upah dan peningkatan kesejahteran pekerjanya, bisa dianggap telah memperbudak
orang lain.
B. Pentingnya Keterbukaan dan Keadilan dalam Kehidupan Berbangsa dan
Bernegara

1. Pengertian Keterbukaan dan Keadilan

a. Keterbukaan

Keterbukaan merupakan perwujudan sikap jujur , rendah hati, adil serta mau
menerima pendapat dan kritik orang lain. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, keterbukaan berrati hal terbuka , perasaan toleransi dan hati – hati
serta merupakan landasan untu berkomunikasi . dengan demikian , dapat
dipahami bahwa yang dimaksud dengan keterbukaan adalah suatu sikap dan
perilaku terbuka dari individu dalam beraktivitas.

b. Keadilan

Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, kata keadilan yang berasaln dari
kata dasar “adil” mempunyai arti kejujuran, kelurusan dan keikhlasan yang
tidak berat sebelah. Sehingga keadilan mengandung pengertian sebagai suatu hal
yang tidak berat sebelah atau tidak memihak dan tidak sewenang wenang.

Sedangkan di dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa kata “adil” (


bahas Arab : adl) mengandung pengertian sebagai beikut :

• Tidak berat sebelah atau tidak memihak ke salah satu pihak.

• Memberikan sesuatu kepada setiap orang sesuai dengan hak yang


harus diperolehnya.

• Mengetahui hak dan kewajiban, mengenai mana yang benar dan


mana yang salah, bertindak jujur dan tepat menurut peraturan atau syarat dan
rukun yang telah ditetapkan . tidak sewenang – wenang dan maksiat atau
berbuat dosa.

• Orabf yang berbuat adil , kebikan dari fasiq ( orang yang tidak
mengerjakan perintah).

Pengertian kata adil yang lebih member penekanan pada “tindakan


yang tidak berdasarkan kesewenang – wenangan “ sesungguhnya
menandaskan bahwa pada setiap diri manusia telah melekat sumber yang
disebut hati nurani. Tuhanlah yang menuntun hati nurani setiap manusi
beriman agar sanggup berbuat adil sesuai dengan salah satu sifat-Nya yang
maha adil. Kata keadilan dapat juga diartikan sebagai suatu tindakan yang
tidak berdasarkan kesewenang – wenang ; atau tindakan yang didasarkan
kepada norma – norma ( norma agama, norma kesusilaan, norma kesopnan,
dan norma hukum ).

Banyak ahli yang mencoba memberikan pendapat tentang kata “adil”


atau keadilan. Berdasarkan sudut pandangnya masing – masing mereka
memiliki pendapat yang berbeda namun tetap berpijak pada dasr –dasar
atau koridor yang sama. Berikut ini beberapa pengertian keadilan menurut
para ahli.

1) Aristoteles

Keadilan adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan yang


dimaksud adalah titik tengah antara kedua ujung ekstrim, tidak berat
sebelah, dan tidak memihak. Menurut Aristoteles terdapat 5 ( lima ) jenis
keadilan, yaitu :

No Keadilan Uraian Contoh

1 Keadilan komutatif Yaitu perlakuan terhadap Seseorang yang telah


seseorang dengan tidak melakukan kesalahan /
melihat jasa – jasa yang telah pelanggran tanpa
diberikannya. memandang
kedudukannya, dia tetap
dihukum sesuai dengan
kesalahan / pelanggaran
yang dibuatnya

2 Keadilan ditributif Yaitu perlakuan terhadap Beberapa orang pegawai


seseorang sesuai dengan jasa suatu perusahaan
– jasa yang telah memperoleh gaji yang
diberikannya. berbeda berdasarkan masa
kerja, golongan,
kepangkatan, jenjang
pendidikan, atau tingkat
kesulitan pekerjaannya.

3 Keadilan kodrat Yaitu member sesuatu sesuai Seseorang menjawab


Alam dengan yang diberikan oleh salam yang diucapkan
orang lain kepada kita orang lain dikatakan adil
karena telah menerima
salam dari orang tersebut.

4 Keadilan Yaitu jika seorang warga Penggunaan sabuk


Konvensional Negara telah menaati pengaman bagi pengendara
pertauran perundang – mobil dan helm bagi
undangan yang telah pengguna pengendara
dikeluarkan. motor.

5 Keadilan Yaitu jika seseorang telah Tindakan klarifikasi


Perbaikan berusaha memulihkan nama terhadap kesalahan yang
baik orang lain yang telah telah dilakukan seseorang.
tercemar

2) Plato
Keadilan diproyeksikan pada diri manusia sehingga orang dikatakan adil
adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaanya dikendalikan oleh
akal. Dalam pandangan Plato, keadilan dapat dibedakan atas :
• Keadilan Moral, yaitu suatu perbuatan yang dapat dikatakan
adil secara moral apabila telah mampu memberikan perlakuan yang
seimbang ( selaras ) antara hak dan kewajibannya. Contoh, seorang
karyawan menuntut kenaikan upah dengan diimbangi peningkatan
kualitas kerjanya.

• Keadilan Prosedural, ]
Suatu perbuatan dikatakan adil secara procedural jika seseorang telah
mampu melaksanakan perbuatan adil berdasarkan tata cara yang
telah ditetapkan. Contoh, siswa berprestasi, dimana didalam
pencapaian prestasi tersebut, diawali dengan belajar keras, dan tidak
menyontek saat ujian.
3) Thomas Hobbes

Keadilan adalah suatu perbuatan yang didasarkan pada perjanjian yang


telah disepakati.

4) Panitia Ad-hoc MPRS 1966.

Keadilan dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu :

1. Keadilan individual

Yaitu keadilan yang bergantung pada kehendak baik atau kehendak


buruk masing – masing individu.

2. Keadilan social

Yaitu keadilan yang pelaksanaannya tergantung pda struktur yang


terdapat dalam bisang polirik, ekonomi social ekonomi, social –
budaya, dan ideology. Dalam Pancasila setiap orang di Indonesia
akan mendapat perilaku yang adil dalam bidang hokum, politik,
ekonomi, dan kebudayaan.

2. Keterbukaan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sudah saatnya


ditumbuhkan sikap keterbukaan dalam rangka memberikan jaminan pemerataan
terhadap hasil – hasil pembangunan. Sikap keterbukaan sangat diperlukan dalam
upaya pelaksanaan pembangunan nasional untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat banyak dan bukan kesejahteraan kelompok orang.

Pelaksanaan pembangunan nasional harus dilandasi pada nilai – nilai yang


tercermin dalam sila keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Prinsip keadilan
social yang melandasi pelaksanaan pembangunan nasional di Indonesia adalah
sebagai berikut :

• Aasa adil dan merata, mengandung arti bahwa pembangunan nasional yang
diselenggarakan itu pada dasarnya merupakan usaha bersama yang harus merata
di semua lapisan masyarakat Indonesia dan diseluruh tanah air. Setiap warga
Negara berhak memeperoleh kesempatan berperan dan menikmati hasil –
jhasilnya secara adils esuai dengan nilai – nilai lkemanusiaan dan darma bakti
yang diberikannya kepada bangsa dan Negara.

• Asas keseimbangan, keserasian, dan keselarasan dalam perikehidupan,


yaitu berarti bahwa dalam pembangunan nasional harus ada keseimbangan
antara berbagai kepentingan. Kepentingan tersebut adalah kepentingan dunia
dan akhirat, material maupun spiritual.

a. Ciri – Ciri Keterbukaan

Sikap keterbukaan merupakan persyaratan dalam menciptakan pemerintahan


yang bersifat transparan. Keterbukaan juga merupakan sikap yang ibutuhkan
dalam harmonisasi kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.
Berdasarkan penjelasan tersbut, maka cirri – cirri keterbukaan adalah :

1. Terbuka ( transfaran ) dalam proses maupun pelaksanan kebijakan


public

2. Menjadi dasar atau pedoman dalam dialog dan berkomunikasi.


3. Berterus terang dan tidak menutup-nutupi kesalahn dirinya maupun
yang dilakukan orang lain.

4. Tidak merahasiakan sesuatu yang berdampak pada kecurigaan orang


lain.

5. Bersikap hati – hati dan selektif ( chek and recheck ) dalam


menerima dan mengolah informasi darimanapun sumbernya.

6. Toleransi dan tenggang rasa terhadap orang lain.

7. Mau mengakui kelemahan dan kekurangan dirinya atas segala yang


dilakukan.

8. Sangat menyadari keberagaman dalam berbagai bidang kehidupan.

9. Mau bekerja sama dan menghargai orang lain.

10. Mau dan mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang


terjadi.

b. Sikap terbuka kehidupan berbangsa dan bernegara

Sikap terbuka berarti ksediaan untuk menerima hal – hal yang berbeda
dengan kondisi dirinya. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara , sikap
terbuak diperlukan terutama dalam hal menjaga keutuhan bangsa, mempererat
hubungan toleransi, serta untul menghindari konflik. Dengan bersikap terbuka ,
setiap orang ,mau mengakui dan menerima keberagaman, sehinga melahirkan
sikap toleran terhadap orang lain.

Dalam kehidupan bernegara, pemerintah dan pejabat public harus juga


mampu untuk bersikap terbuka dalam mengatur Negara. Jika pemerintah dan
pejabat public mau dan mampu melaksanakan prismsip keterbukaan atau
transfaransi, kepercayaan rakyat untuk berpartisipasi dalam membangun bangsa
dan Negara akan meningkat. Dan akan lebih baik lagi jika pemerintah dan
pejabat public mampu mewujudkan “Clean Goverment” atau pemerintahan
yang bersih , kepercayaan masyarakat secara luas tentu saja akan semakin
bertambah.

Untuk mewujudkan sikap terbuka atau transfaran tersebut, diperlukan


kondisi – kondisi sebagai berikut :
• Terwujudnya nilai – nilai agama dan nilai – nilai budaya bangsa
sebagai sumber etika dan moral untuk berbuat baik dan menghindari
perbuatan tercela, serta perbuatan yang bertentangan dengan hokum dan hak
asasi manusia.

• Terwujudnya sila Persatuan Indonesia yang merupakan sila ketiga


dari Pancasila sebagai landasan untuk mempersatukan bangsa.

• Terwujudnya penyelenggara Negara yang mampu memahami dan


meneglola kemajemukan bangsa secara baik dan adil sehingga dapat
terwujud toleransi kerukunan social , kebersamaan dan kesetaraan
berbangsa.

• Terwujudnya demokrasi yang menjamin hak dan kewajiban


masyarakat untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan politik
secara bebas dan bertanggung jawab sehingga menumbuhkan kesadaran
untuk memantapkan persatuan bangsa.

• Pulihnya kepercyaan masyarakat kepeda penyelenggara Negara dan


antara sesame masyarakat dapat menjadi landasan untuk kerukunan dalam
hidup bernegara.

3. Jaminan Keadilan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Perbuatan adil tidak hanya merupakan idaman manusia , tetapi juga diperintahkan
Tuhan apapun agamanya. Bila suatu Negara – terutama pemerintah, pejabat public
dan aparat penegak hokumnya mampu memperlakukan warganya dengan “adil”
dalam segala bidang, niscaya kepedulian ( sense of belonging ) dan rasa tanggung
jawab ( sense of responsibility) warga Negara dalam rangka membangun Negara
serta memperkukuh persatuan dan kesatuan dapat terwujud.

Keadilan pada umunya relative sulit diperoleh. Untuk memperoleh keadilan


biasanya diperlukan pihak ketiga sebagai penegak, dengan harapan puhak tersebut
harus netral, tidak boleh menguntungkan salah satu pihak. Jadi, adanya pihak ketiga
bertujuan untuk menghindari konfrontasi antara pihak yang sedang berselisih.

Dalam rangka jaminan keadilan didalam suatu Negara memerlukan


peraturan yang disebut undang – undang atau hokum. Hokum merupakan suatu
system norma yang mengatur kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, apabila ada
seorang yang merasa mendapatkan ketidakadilan, ia berhak mengajukan tuntutan.
Setiap masyarakat memerlukan hokum, karena dikatakan “dimana ada
masyarakat disitu ada hukum” ( ubi societies ibi ius ). Hokum diciptakan untuk
mencegah agar konflik yang terjadi dipecahkan secara terbuka . Pemecahannya
bukan atas dasar – dasar siapa yang kuat, melainkan berdasarkan hokum ( aturan )
yang tidak membedakan antara orang kuat dan orang lemah. Berdasarkan hal
tersebut, keadilan merupakan salah satu ciri hokum dan jaminan keadilan yang
hanya bisa tercapai apabila hokum diterapkan tanpa memperhatikan aspek
subjektivitas.

Pelaksanaan jaminan keadilan sangat dituntut oleh penyelenggaraan Negara


( pemerintah dan pejabat public ) yang baik, dan transfaran. Penyelenggaraan
pemerintahan yang baik tersebut didasarkan pada beberapa asas umum, diantaranya
adalah :

a. Asas Kepastian Hukum ( Principiple of legal security = Rechts zekerhied


beginsed). Asas ini menghendaki agar sikap dan keputusan – pejabat
administrasi Negara yang manapun tidak boleh menimbulkan keguncangan
hokum atau status hokum. Dalam menjamin adanya kepastian hukum , pejabat
administrasi Negara wajib menentukan masa peralihan untuk menetapkan
peraturan baru atau perubahan status hukum suatu peraturan. Tanpa masa
peralihan, suatu keputusan administrasi Negara yang sah dan legal secara
mendadak ( tanpa masa peralihan ) menjadi tidak sah sehingga dapat merugikan
masyrakat. Keadaan tersebut akan menimbulkan ketidakpastian hukum dan
dapat mengurangi kepercayaan masyarakat pada hukum, peraturan – peraturan
serta wibawa pejabat administrasi Negara.

b. Asas keseimbangan, asas ini menyatakan bahwa tindakan disiplin yang


dijatuhkan oleh pejabat administrasi Negara harus seimbang dengan kesalahan
yang dibautnya. Hal ini diatur dalam undang – undang kepegawaian dan
peraturan tentang pegawai negeri umum (ambtenarenwt juncto algmene
rijksambte narenreglement). Dalam Undang – Undang ini terdapat banyak cara
untuk menjatuhkan putusan terhadap suatu kelalaian , tetapi harus didingat
tindakan yang dijatuhkan harus seimbang / sebanding dengan kelalaian yang
dibuat.

c. Asas Kesamaan, dalam asas ini dinyatakan bahwa pejabat administrasi


Negara menjatuhkan hukuman tanpa pandang bulu. Sebelum keputusan
diambil , harus dipikirkan dulu secara matang agar terhadap kasus yang sama
dapat diambil keputusan yang sama pula. Pejabat administrasi Negara tidak
boleh melakukan diskriminasi dalam mengambil keputusan . jika beberapa
orang dalam situasi atau kondisi hukum yang sama mengajukan suatu
permohonan , mereka harus mendapatkan keputusan dikenai syarat – syarat
tambahan yang subjektif. Misalnya, karena mereka mendapat masalah pribadi ,
keputusannya lebih berat . hal demikian sangat terlarang karena selain merusak
tujuan hukum objektif juga kan merongrong hukum dan menurunkan wibawa
pejabat administrasi Negara.

d. Asas larangan kesewenang – wenangan. Keputusan sewenang – wenang


adalah keputusan yang tidak mempertimbangkan semua factor yang kurang
relevan secara lengjap dan wajar sehingga secara akal kurang sesuai.
Contohnya sikap sewenag – wenang seorang pejabat administrasi Negara ialah
menolak meninjau kembali keputusannya yang dianggap kurang wajar oleh
masyarakat. Pada prisnsipnya, keputusan yang sewenang – wenang dilarang dan
keputuan semacam itu dapat digugat melalui pengadilan Perdata ( Pasal 1365
KUH Perdata ).

e. Asas larangan penyalahgunaan wewenang. Asas ini menyatakan bahwa


penyalahgunaan wewenang terjadi bilamana suatu wewenang oleh pejabat yang
bersangkutan dipergunakan untuk tujuan yang bertentangan atau menyimpang
dari apa yang telah ditetapkan semula oleh undang – undang.

f. Asas bertindak cermat. Jika pejabat administrasi Negara telah mengambil


keputusan dengan kurang hati – hati sehingga menimbulkan kerugian
masyarakat , keputusan tersebut otomatis menjadi berat. Jika terjadi tanpa
menunggu instruksi atasan atau pejabat yang bersangkutan wajib memperbaiki
keputusannya dengan menerbitkan keputusan baru.

g. Asas perlakuan yang jujur. Asas ini menghendaki adanya pemberian


kebebasan yang seluas – luasnya kepada warga masyarakat untuk kebenaran.
Asas ini memberikan pengharagaan yang lebih kepada masyarakat dalam
mencari kebanaran melalui instansi banding. Pengajuan banding ini dapat
dilakukan kepada pejabat administrasi Negara yang lebih tinggu tingkatannya (
administratief beroep) atau kepada badan – badan peradilan (judicial review.
asas ini penting untuk diketahui masyarakat karena pejaba administrasi Negara
memberikan kebebasan untuk bertindak. Adanya asas ini berarti masyarakat
dapat melakukan banding.
h. Asas meniadakan akibat ( Suatu Keputusan Yang Batal ), . Dalam asas ini
dimaksudkan bahwa keputusan central Raad van Beroep, 20 September 1920
tentang seorang pegawai yang mengadakan peradiln tingkat banding, putusan
pemberhntian dibatalkan. Di Indonesia asas ini telah memperoleh
pengaturannya dalam pasal 9 ayat 1 Undang – Undang Nomor 14 Tahun 1970,
yang berbunyi; “seorang yang ditangkap, ditahan, dituntut ataupun diadili
tanpa alas an yang berdasarkan undang - undang atau karena kekeliruan
mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan , berhak menuntut ganti
kerugian dan rehabilitasi”

i. Asas penyelenggaraan kepentingan umum. Dalam asas ini tindakan aktif


dan positif dari pejabat negara adalah penyelenggaraan kepentingan umum.
Kepentingan umum meliputi kepentingan nasional, yaitu kepentingan bangsa,
masyarakat dan Negara. Berdasarkan asas ini kepentingan umum harus lebih
didahulukan daripada kepentingan indovidu yaitu memberikan hak mutlak pada
hak – hak pribadi.

Jaminan keadilan bagi warga Negara dapat ditemukan dalam beberapa contoh
peraturan perundang – undangan, antara lain sebagai berikut :

a. Undang – Undang Dasar 1945

1. Bidang Hukum dan Pemerintahan ( Pasal 27 );

2. Bidang Politik ( Pasal 28 );

3. Bidang Hak Asasi Manusia ( Pasal 28 A – 28 I )

4. Bidang Keagamaan ( Pasal 29 )

5. Bidang Pertahanan Negara ( Pasal 30 )

6. Bidang Pendidikan dan Kebudayaan ( Pasal 31 dan 32 )

7. Bidang Kesejahteraan Sosial ( Pasal 33 dan 34 )

b. Undang – Undang

1. Undang – undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang –


undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

2. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung .


3. Undang – undang nomor 5 Tahun 1985 tentang Konvensi
Menentang Penyiksaan dn Perlakuan atau Penghukuman Lain Yang
Kejam, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia.

4. Undang – Undang Nomor 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan


Menyampaikan Pendapat di Muka Umum

5. Undang – Undang Nomor 35 Tahun 1999 tentang Kekuasaan


Kehakiman.

6. Undang – Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi


Manusia

7. Undang – Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak


Asasi Manusia

8. Undang – Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik

9. Undang – Undang Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pertahanan Negara

10. Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan


Nasional.

Beberapa contoh peraturan perundang – undangan yang dibuat dalam rangka


memberikan jaminan kepada warga Negara merupakan bukti nyata
kesungguhan pemerintah. Sikap keterbukaan yang telah ditunjukan
pemerintah melalui berbagai peraturan perundang – undangan yang dibuat
menurut komitmen masyarakat dan mentalitas aparat dalam melaksanakan
peraturan tersebut. Kesiapan infrastruktur fisik dan mental aparat penegak
hukum ( polisi, jaksa dan hakim ) sangat menentukan jalannya “jaminan
keadilan” yang dibutuhkan masyarakat bila berurusan dengan hukum agar
“taat asas” dan “taat aturan”.

Sikap keterbukaan yang dituntut kepada aparat penegak hukum


adalah adanya transfaransi, akuntabilitas, dan Profesionalisme dalam
bekerja seta hasil kinerja yang optimal. Jika suatu Negara memiliki aparat
penegak hukum yang melakukan tindakan Korupsi, Klusi dan Nepotisme

( KKN) , maka Negara itu akan terjerumus dalam keterpurukan


pemerintahan mobokrasi atau istilah polybios disebut okhlokrasi.
Pemerintah okhlokrasi digambarkan sebagai suatu pemerintahan yang
banyak diwarnai denga kekacauan, kebobrokan dan korupsi yang merajalela
sehingga hukum dan keadilan sulit ditegakan. Bila keadaan tersebut tidak
segera diperbaiki, akan muncul krisis kepercayaan masyarakat yang pada
gilirannya timbul konflik kepentingan, konflik vertical dan horizontal,
hukum berpihak kepada penguasa dan orang – orang berduit, sehingga
jaminan keadilan hanya ada dalam mimpi – mimpi.