Anda di halaman 1dari 4

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LEWOLEBA

NOMOR : 86 TAHUN 2017


T E N T A N G

KEBIJAKAN PELAYANAN ANESTESI DI LINGKUP


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LEWOLEBA

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LEWOLEBA

Menimbang : a. bahwa Rumah Sakit Umum Daerah Lewoleba sebagai rumah


sakit pusat rujukan di kabupaten Lembata memberikan
pelayanan holistik termasuk pelayanan Anestesi;
b. bahwa agar pelayanan anestesi dapat berjalan dengan baik
maka perlu dibuatkan kebijakan tentang pelayanan Anestesi;
c. bahwa untuk maksud tersebut pada butir a, b, dipandang perlu
ditetapkan kebijakan Pelayanan Anestesi dengan keputusan
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Lewoleba.

Mengingat :
1. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan;
2. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009
tentang Rumah Sakit;
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
519/MENKES/PER/III/2011 Tentang Pedomaan
Penyelenggaraan Pelayanan Anestesiologi Dan Terapi Intensif Di
Rumah Sakit;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 18 Tahun 2016 tentang Izin
dan Penyelenggaraan Praktek Penata Anestesi
5.Keputusan Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Nomor
HK.02.04/I/2790/11 Tentang Standart Akreditasi Rumah Sakit.
6.Peraturan Daerah Kabupaten Lembata No. 4 Tahun 2008
Tentang pembentukan organisasi dan Tata Kerja Inspektorat
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis
Daerah.
MEMUTUSKAN

MENETAPKAN :

PERTAMA : Dengan keputusan ini menetapkan Kebijakan Pelayanaan Anestesi


Di Lingkup Rumah Sakit Umum Daerah Lewoleba.
KEDUA : Kebijakan Pelayanaan Anestesi wajib dilaksanakan dan dipatuhi
dengan penuh tanggung jawab.
KETIGA : Pelayanan Anestesi dilakukan oleh dokter anestesi.
KEEMPAT : Pelayanan anestesi bisa dilakukan oleh penata anestesi bila:
a. Dokter anestesi tidak berada di tempat dan ditunjukan
dengan surat pendelegasian mandat.
b. Ketidaadaan dokter anestesi ditunjukan dengan surat
pelimpahan wewenang dari Pemerintah Daerah Setempat.
KELIMA : Pelaksanaan Pelayanaan Anestesi di Lingkup Rumah Sakit Umum
Daerah Lewoleba dilaksanakan dengan mengikuti Panduan
/Pedomaan dan Standart Operasional Pelayanan Anestesi.
KELIMA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan
apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam Keputusan ini,
maka akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

DITETAPKAN : Lewoleba
PADA TANGGAL : Desember 2017

DIREKTUR

BERNARDUS YOSEPH BEDA

Lampiran : Peraturan Direktur RSUD Lewoleba


Nomor : 86 Tahun 2017
Tanggal : 07 Desember 2017

KEBIJAKAN PELAYANAN ANESTESI DAN SEDASI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LEWOLEBA

Kebijakan Umum :
1. Peralatan anestesi dan sedasi selalu dilakukan pemeliharaan dan kalibrasi sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
2. Pelayanan anestesi dan sedasi harus selalu berorientasi kepada mutu dan
keselamatan pasien.
3. Semua petugas anestesi dan sedasi wajib memiliki izin sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
4. Dalam melaksanakan tugasnya, setiap petugas wajib mematuhi segala ketentuan
dalam Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), termasuk Alat Pelindung Diri (APD)
serta selalu mengacu pada Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
5. Setiap petugas harus bekerja sesuai dengan standar profesi, Standar Prosedur
Operasioanl yang berlaku, etika profesi, dan menghormati hak pasien dan
mengutamakan keselamatan pasien.
6. Pelayanan anestesi dan sedasi dilaksanakan dalam 24 (dua puluh empat) jam.
7. Penyediaan tenaga harus mengacu kepada pola ketenagaan.
8. Untuk melaksankan koordinasi dan evakuasi, wajib dilaksanakan rapat/
pertemuan rutin bulanan minimal satu bulan sekali.
9. Setiap bulan wajib membuat laporan.

Kebijakan Khusus :
1. Layanan anestesi dan sedasi dilakukan oleh dokter anestesi dan penata anestesi
dalam lingkup Rumah Sakit Umum Daerah Toto Kabila yang mencakup pelayanan
:
a. Layanan anestesi
b. Layanan sedasi
c. Penanganan nyeri (pain management)
d. Layanan resusitasi
e. Layanan terapi instensif (intensive care)
2. Layanan anestesi dan sedasi dilakukan di Unit Pelayanan RSUD Toto Kabila
3. Layanan anestesi dan sedasi yang diberikan harus dapat memenuhi kebutuhan
layanan anestesi dan sedasi dari disiplin ilmu serta sosial dengan bentuk layanan
anestesi dan sedasi yang dimiliki RSUD Toto Kabila.
4. Setiap layanan anestesi dan sedasi harus melalui proses penerimaan, penilaian,
perencanaan, dan persiapan.
5. Setiap tindakan anestesi dan sedasi yang dilakukan dokter anestesi dan sedasi
dan perawat anestesi harus melalui proses komunikasi dan pemberian informasi
serta mendapat persetujuan dari pasien atau keluarga pasien.
6. Setiap pemberi layanan anestesi dan sedasi bertanggungjawab untuk :
a. Ikut mengembangkan, menanamkan dan menjaga agar kebijakan serta
prosedur layanan anestesi dan sedasi yang ada terus dikembangkan dan
diperbaiki.
b. Mengawasi dan meninjau layanan enestesi dan sedasi yang telah dibentuk
serta melaksanakannya.
7. Laporan anestesi harus ditulis oleh dokter anestesi atau perawat anestesi secara
lengkap sesuai dengan formulir yang sudah tersedia dan disimpan dalam berkas
rekam medis pasien.
8. Setiap tenaga anestesi (dokter anestesi dan perawat anestesi) wajib mengikuti
pelatihan yang sudah diprogramkan untuk menambah kompetensi yang dimiliki.

DIREKTUR

BERNARDUS YOSEPH BEDA