Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

Angka kematian ibu di Indonesia menurut departemen kesehatan tahun


2002 adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih jauh dibanding
dengan sasaran Indonesia sehat 2010 dimana sasaran angka kematian ibu sebesar 150
per 100.000. ( Prawirohardjo S, 2002)

Tiga Penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan, hipertensi dalam


kehamilan dan infeksi. Perdarahan menyebabkan 25% kematian ibu di dunia
berkembang dan yang paling banyak adalah perdarahan pasca salin. Diperkirakan ada
14 juta kasus perdarahan dalam kehamilan setiap tahunnya paling sedikit 128.000
wanita mengalami perdarahan sampai meninggal. Sebagian besar kematian tersebut
terjadi dalam waktu 4 jam setelah melahirkan. Di Inggris (2000), separuh kematian
ibu hamil akibat perdarahan disebabkan oleh perdarahan pasca salin. (Carroli G dkk,
2008)

Penanganan perdarahan pasca salin membutuhkan keahlian tersendiri dan


memerlukan kerjasama multi displin. Kegagalan untuk menilai gambaran klinis,
perkiraan kehilangan darah yang tidak adekuat, pengobatan yang tertunda, kurangnya
kerja tim multidisiplin dan kegagalan untuk mencari bantuan adalah beberapa
masalah yang penting untuk diperhatikan. Dokter harus menyadari tindakan bedah
dan waktu intervensi yang tepat serta tim yang efektif bekerja dapat memperbaiki
hasil akhir.( Mukherjee S, Arulkumaran S, 2009 )

1
BAB II

GAMBARAN UMUM PESKESMAS BARA-BARAYA

A. Gambaran Demografi Puskesmas


Puskesmas adalah pusat pengembangan pembinaan, dan pelayanan
sekaligus merupakan pos pelayanan terdepan dalam pelayanan pembangunan
kesehatan masyarakat yang menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh,
terpadu dan berkesinambungan pada masyarakat yang bertempat tinggal dalam
wilayah tertentu.

Menurut Permenkes 75 tahun 2014, puskesmas adalah fasilitas pelayanan


kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan
preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di
wilayah kerjanya.

Puskemas Bara-baraya merupakan salah satu puskesmas penyedia


fasilitas Rawat Inap dan merupakan satu dari tiga puskesmas yang berada di wilayah
KecamatanMakassar Kota Makassar. Letaknya tidak jauh dari pusat Kota Makassar,
yaitu di KelurahanBara-baraya tepatnya di jalan Abu Bakar Lambogo No. 141
Makassar. Dipimpin oleh dr. Fauziah Dachlan Saleh, M.Kes. Wilayah
kerjaPuskesmas Bara-baraya yang mencakup 6 Kelurahan dari 14 Kelurahan dalam
wilayah Kecamatan Makassar. Luas wilayah kerja Puskesmas Bara-baraya secara
keseluruhan adalah 0,98 km2 atausekitar 43,5 % dari luas Kecamatan Makassar yang
seluruhnya seluas 2,25 km2. Wilayah kerja Puskesmas Bara-baraya terdiri atas enam
kelurahan yaitu :
1. Kelurahan Bara-baraya
2. Kelurahan Bara-baraya Utara
3. Kelurahan Bara-baraya Timur
4. Kelurahan Bara-baraya Selatan

2
5. Kelurahan Lariangbangi
6. Kelurahan Barana
Dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

a. Sebelah timur : Kelurahan Tamamaung.


b. Sebelah utara : Kelurahan Kelurahan Maccini.
c. Sebelah selatan : Kelurahan Rappocini.
d. Sebelah barat : Kelurahan Maradekaya dan Pisang Utara.

Wilayah kerja Puskesmas Bara-Baraya terdiri dari sejumlah RW dan RT


sebagai berikut :
Tabel 1. Luas Wilayah Kerja dan Jumlah RW, RT Puskesmas Bara-Baraya 2018

No Kelurahan Luas Wilayah (km2) RW RT

1 Bara-baraya 0,16 5 32

2 Bara – baraya utara 0,11 5 19

3 Bara – baraya timur 0.15 5 28

4 Bara – baraya selatan 0,14 4 26

5 Lariangbangi 0,20 4 29

6 Barana 0,22 4 32

Jumlah 0,98 27 166

Puskesmas Bara-baraya memberikan pelayanan kepada pasien rawat inap


dengan total pegawai berjumlah 41 orang dengan luas wilayah kerja Kelurahan
Pampang 0,98 km2, dengan 27 RW dan 166 RT serta jumlah penduduk 36.953 orang.

3
Kelurahan Bara-baraya dengan luas wilayah 0,16km2, 5 RW dan 32 RT. Kelurahan
Bara – baraya utara dengan luas wilayah 0,11 km2, 5 RW dan 19 RT. Kelurahan Bara
– baraya timur dengan luas wilayah 0.15 km2, 5 RW dan 28 RT. Kelurahan Bara –
baraya selatan dengan luas wilayah 0,14 km2, 4 RW dan 26 RT. Kelurahan
Lariangbangi dengan luas wilayah 0,20 km2, 4 RW dan 29 RT. Kelurahan Barana
dengan luas wilayah 0,22 km2, 4 RW dan 32 RT.

Gambar 1. Peta Wilayah Kerja Puskesmas

Keterangan:
1) Keadaan Demografi
2) Luas wilayah : 0,98 km2
3) Jumlah KK : 9.484 KK
4) Jumlah penduduk : 36.953 orang
5) Jumlah ORW/ORT:
a. ORW : 27
b. ORT : 166

4
B. Susunan Organisasi Puskesmas Bara-Baraya
Pelaksanaan fungsi dan tugas masing-masing tenaga disusun dalam Organisasi
sebagai berikut :
1. Kepala Puskesmas : dr. Fauziah Dachlan Saleh, M.Kes
2. Wakil Manajemen Mutu : dr. Juniarsih
3. Ketua Audit Internal : Vonny Robert, SKM
a. Kepala Tata Usaha : Muhtar Rajab, S.Kep,NS
b. Bagian Keuangan : Iin Mardiana, A.Md.KG.
c. Bag. Umum dan Kepegawaian : Nurliah
Fitri Alkadar
4. Bag. Perlengkapan :Brunobras Beny R., S.Si., Apt.
Muh. Tahir
5. Jaringan Pelayanan Puskesmas
a. Unit Pustu : Wa Fatma, S.ST
b. Unit Puskel : Efsuarna, AMK
6. Unit Pelayanan Teknis Fungsional Puskesmas
a. Unit Kesehatan Masyarakat
1) P2M : Mulyani K, S.Kep, Ns
Yuliana Anwar
Asriani S.ST
Ismasari A. S.Kep, Ns
Naomi Tarima
Ma’mur S.kep
2) Kesehatan Lingkungan : Skolastika ALN, AmdKl
3) Promosi Kesehatan : Hj. Jaliah, S.Si
4) Perkesmas/Jiwa :Yuliana Anwar
5) Kesehatan Ibu dan Anak : Wa Fatma
Hj. Harabiah, S.ST
Sadariah, S.ST

5
6) Kesehatan Usila : Vonny R, SKM
7) Gizi : Hj. St. Saenab, AMG
Hj. I Murna, AMG
8) UKS/UKGS : Yuliana B, SKM, S.Kep, Ns
9) Keluarga Berencana : Sitti Radiah, S.ST
10) Kesehatan Mata : Paskalina Irainingsih, AMK
11) Kesehatan Kerja : Nurauliah Rahmah, SKM
12) Kesehatan Gigi & Mulut : drg. Mangatur
drg. Andi M. Aksadi Akib
Iin Mardiana, A.Md, KG
13) Pembinaan KesTra : Diana Alhan, S.Kep., Ns.
14) Kesehatan Olah Raga : Efsuarna AMK
7. Unit Kesehatan Perorangan Rawat Inap
1) Umum : dr. Juniarsih
Yuliana B. SKM, S.Kep, Ns
Paskalima AMK
Ridwan S.Kep
Diana Alham, S.kep, Ns
Rosmini Ladona
2) Persalinan : dr. Dahlia
Nurhaedah Amd. Keb
Asriani S.SIT
Mila Amelia, Amd. Keb
Erni Amd. Keb
Sri Ninsi Tamsi Amd.Keb
8. Unit Kesehatan Perorangan Rawat Jalan
1) Poli Umum : dr. Dahlia
Naomi Tarima
Yuliana Anwar

6
Afrianti DP. S.Kep, Ns
Ma’mur S.Kep
Ismasari A. S.Kep, Ns
2) Poli Gigi : drg. Mangatur
drg. Andi M. Aksadi Akib
Iin Mardiana, A.Md, KG
3) Poli Lansia : dr. Juniarsih
4) Loket Kartu : H. Muh. Hidayat S.E
Hayani
Fitri Alkadar
5) Laboratorium : Andi Tenri Ummu, S.ST
6) Apotik : Ika Puspita, S.Si, Apt
Beny R, S.Si, Apt
3) IGD/24 Jam : dr. Juniarsih
Yuliana B. SKM, S.Kep, Ns
Paskalima AMK
Ridwan S.Kep
Diana Alham, S.kep, Ns
Rosmini Ladona
Efsuarna AMK
Muhammad Idhan, S.Kep

C. Keadaan Lingkungan
Puskesmas Bara-baraya terletak di daerah perkembangan kota dengan
lingkungan pemukiman yang padat. Terdapat beberapa daerah yang masih
kumuh terutama daerah pinggiran. Sebagian wilayahnya merupakan datarn
rendah, sehingga memungkin terjadinya banjir.

7
D. Visi dan Misi
1. Visi:
Menjadi puskesmas yang mampu memberi pelayanan yang bermutu
menuju Makassar sehat dan nyaman.

2. Misi:
 Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia dalam
pelaksanaan pelayanankesehatan secara berkelanjutan.
 Meningkatkan sistem informasi dan manajemen puskesmas.
 Mengembangkan kemitraan.
 Meningkatkan upaya kemandirian masyarakat

E. Tata Nilai
1. Keikhlasan
2. Sikap (Attitude)
3. Profesionalisme
4. Komitmen
5. Inisiatif dan inovatif

F. Motto
PRIMA : Peduli, Ramah, Ikhlas, Mutu, Amanah

G. Jenis-Jenis Pelayanan
1. UKM Essensial
a. Promosi Kesehatan
b. Pelayanan kesehatan ibu dan anak/KB
c. Kesehatan Lingkungan
d. Gizi
e. Keperawatan Kesehatan Masyarakat

8
f. Penanggulangan Kesehatan Penyakit :
d. Imunisasi
e. Penyakit tidak menular
f. ISPA
g. Tifoid
h. Malaria
i. TB/Kusta
j. Diare
k. Kecacingan
l. Rabies
m. Surveilens
n. HIV/AIDS
o. DBD
2. UKM Pengembangan
a. Kesehatan Jiwa
b. Kesehatan Gigi Masyarakat
c. Kesehatan Tradisional
d. Kesehatan Olahraga
e. Kesehatan Lansia
f. Kesehatan Kerja
g. Kesehatan Indera
3. UKP (Upaya Kesehatan Perorangan)
a. Pemeriksaan umum, Lansia, dan Anak
b. Pemeriksaan Gigi dan Mulut
c. Pemeriksaan KIA/KB
d. Layanan ruang tindakan UGD
e. Pelayanan konseling
f. Pemeriksaan Laboratorium
g. Pelayanan Kefarmasian

9
h. Pelayanan Telemedicine (USG dan EKG)
i. Pemeriksaan IVA
j. Pelayanan HOMECARE CENTER

H. Upaya KesehatanKetenagaan
Jumlah tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Bara-baraya adalah 41 orang
masing-masing yang dirincikan sebagai berikut:

Tabel 2. Jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Bara-baraya

No Jenis Jumlah
1. Dokter Umum 3 orang
2. Dokter Gigi 2 orang
3. Penyelanggara Keperawatan 14 orang
4. Penyelenggara Kebidanan 9 orang
5. Apoteker 2 orang
6. Tata Usaha 1 orang
7. Penyelenggara Gizi 2 orang
8. Pelaksanaan Laboratorium 1 orang
9. Pelaksana sanitasi 1 orang
10. Rekam Medik 1 orang
11. Admin Kesehatan 4 orang
12. Perawat Gigi 1 orang
13 UPTD 2 orang
Jumlah 43 orang

Puskesmas Bara-baraya adalah Puskesmas Plus yang merupakan


puskesmas yang melayani selama 24 jam (Rawat Inap), maka tenaga perawat

10
merupakan tenaga terbanyak dengan jumlah 14 orang dan juga tenaga bidan
sebanyak 9 orang.

I. Pelaksanaan Kegiatan
1. Poliklinik (Health Care and Effective Communication With Patients)
Merupakan pelayanan yang bersifat pribadi (Private Goods) dalam bentuk
rawat jalan dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan pemulihan
kesehatan perorangan tanpa mengabaikan pemeliharaan kesehatan dan
pencegahan penyakit, yang terdiri dari :

 Poli umum
 Poli anak dan remaja
 Poli lansia
 Poli gigi dan mulut
2. Kamar Obat
Setelah pasien mendapatkan resep obat dari dokter, pasien dapat langsung
mengambil obat di kamar obat/apotek.
3. Pelayanan Imunisasi
Kegiatan imunisasi di Puskesmas melayani balita, ibu hamil, dan wanita yang
ingin menikah (Imunisasi Tetanus Toksoid).

4. Keluarga Berencana (KB)


Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk konseling dan cara penggunaan
bermacammacam alat kontrasepsi yang tersedia di Puskesmas.

5. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)


Kegiatan ini berupa pelayanan kesehatan yang ditujukan pada ibu hamil
(Antenatal Care) berupa penimbangan BB, Pengukuran TB, LLA, dan
Pemeriksaan Leopold.

11
6. Perawatan Umum
Terdapat kamar perawatan rawat inap, setiap pasien difollow up secara rutin
setiap hari oleh dokter umum yang bertugas dan dibantu oleh perawat.

7. Perawatan Persalinan
Jika seorang ibu hamil melahirkan di puskesmas, disediakan perawatan
persalinan untuk dipantau perkembangannya.

8. Laboratorium
Fasilitas laboratorium yang tersedia adalah, Pemeriksaan Darah Rutin (Hb,
Leukosit, LED, Hematokrit, Trombosit), DDR, Widal, GDS, Urin rutin, Plano
Test.
9. Puskesmas Keliling
Kegiatan Puskesmas keliling ini, dirangkaikan dengan kegiatan posyandu,
imunisasi, pengobatan gratis. Pasien yang datang berupa balita, anak-anak, ibu
hamil, dan lansia.

10. Penyuluhan (Promosi Kesehatan)


Penyuluhan kesehatan dilakukan dibeberapa Sekolah yang berada di wilayah
kerja Puskesmas, serta di Posyandu.

11. Ruang Tindakan UGD


Selama 24 jam Puskesmas Bara-baraya membuka pelayan UGD, yang
melayani kasus emergency yang trauma maupun yang non trauma ataupun
non emergency.

12. Telemedicine
Pelayan yang berbasis internet dengan fasilitas USG dan EKG.
13. Ruang TB dan Kusta
Ruang Konseling

12
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi

Perdarahan pasca salin didefinisikan kehilangan darah 500 cc dalam


persalinan pervaginam atau 1000 cc dalam persalinan perabdominal.
(Ramanathan G, Arulkumaran S ,2006)

Menurut waktu terjadinya dibagi menjadi dua:

1) Perdarahan Pasca Persalinan Dini (Early Postpartum Haemorrhage, atau


Perdarahan Postpartum Primer, atau Perdarahan Pasca Persalinan Segera).
Perdarahan pasca persalinan primer terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab
utama perdarahan pasca persalinan primer adalah atonia uteri, retensio
plasenta, sisa plasenta, robekan jalan lahir dan inversio uteri. Terbanyak
dalam 2 jam pertama.

2) Perdarahan masa nifas (perdarahan pasca salin kasep atau Perdarahan


Persalinan Sekunder atau perdarahan pasca persalinan lambat). Perdarahan
pasca persalinan sekunder terjadi setelah 24 jam pertama. Perdarahan pasca
persalinan sekunder sering diakibatkan oleh infeksi, penyusutan rahim yang
tidak baik (subinvolusio uteri), atau sisa plasenta yang tertinggal.

13
3.2 EPIDEMIOLOGI

1. Insiden
Angka kejadian perdarahan pasca salin setelah persalinan pervaginam yaitu 5-
8 %. Perdarahan postpartum adalah penyebab paling umum perdarahan yang
berlebihan pada kehamilan, dan hampir semua tranfusi pada wanita hamil
dilakukan untuk menggantikan darah yang hilang setelah persalinan.(Alan H,
Decherney,2003)

2. Peningkatan angka kematian di Negara berkembang

Di negara kurang berkembang merupakan penyebab utama dari kematian


maternal. Hal ini disebabkan kurangnya tenaga kesehatan yang memadai,
kurangnya layanan transfusi, kurangnya layanan operasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perdarahan pasca persalinan

1. Perdarahan pasca persalinan dan usia ibu


Wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35
tahun merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan yang dapat
mengakibatkan kematian maternal. Hal ini dikarenakan pada usia dibawah 20
tahun fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang dengan sempurna,
sedangkan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah
mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal sehingga
kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pascapersalinan terutama perdarahan
akan lebih besar. Perdarahan pascapersalinan yang mengakibatkan kematian
maternal pada wanita hamil yang melahirkan pada usia dibawah 20 tahun 2-5
kali lebih tinggi daripada perdarahan pascapersalinan yang terjadi pada usia 20-
29 tahun. Perdarahan pascapersalinan meningkat kembali setelah usia 30-
35tahun.(Tsu VD,1993)

14
2. Perdarahan pascapersalinan dan gravida
Ibu-ibu yang dengan kehamilan lebih dari 1 kali atau yang termasuk multigravida
mempunyai risiko lebih tinggi terhadap terjadinya perdarahan pascapersalinan
dibandingkan dengan ibu-ibu yang termasuk golongan primigravida (hamil
pertama kali). Hal ini dikarenakan pada multigravida, fungsi reproduksi
mengalami penurunan sehingga kemungkinan terjadinya perdarahan
pascapersalinan menjadi lebih besar. (Tsu VD,1993)

3. Perdarahan pasca persalinan dan paritas


Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut perdarahan
pascapersalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Paritas satu dan
paritas tinggi (lebih dari tiga) mempunyai angka kejadian perdarahan
pascapersalinan lebih tinggi. Pada paritas yang rendah (paritas satu),
ketidaksiapan ibu dalam menghadapi persalinan yang pertama merupakan faktor
penyebab ketidakmampuan ibu hamil dalam menangani komplikasi yang terjadi
selama kehamilan, persalinan dan nifas..(Tsu VD,1993)

4. Perdarahan pascapersalinan dan Antenatal Care


Tujuan umum antenatal care adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan
mental ibu serta anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga
angka morbiditas dan mortalitas ibu serta anak dapat diturunkan.

Pemeriksaan antenatal yang baik dan tersedianya fasilitas rujukan bagi kasus
risiko tinggi terutama perdarahan yang selalu mungkin terjadi setelah persalinan
yang mengakibatkan kematian maternal dapat diturunkan. Hal ini disebabkan
karena dengan adanya antenatal care tanda-tanda dini perdarahan yang
berlebihan dapat dideteksi dan ditanggulangi dengan cepat. (Tsu VD,1993)

15
5. Perdarahan pascapersalinan dan kadar hemoglobin

Anemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan nilai hemoglobin
dibawah nilai normal. Dikatakan anemia jika kadar hemoglobin kurang dari 8
gr%. Perdarahan pascapersalinan mengakibatkan hilangnya darah sebanyak 500
ml atau lebih, dan jika hal ini terus dibiarkan tanpa adanya penanganan yang
tepat dan akurat akan mengakibatkan turunnya kadar hemoglobin dibawah nilai
normal .(Tsu VD,1993)

3.3 ETIOLOGI

Banyak faktor potensial yang dapat menyebabkan perdarahan pasca salin, faktor-
faktor yang menyebabkan perdarahan pasca salin adalah atonia uteri, perlukaan jalan
lahir, retensio plasenta, sisa plasenta, kelainan, pembekuan darah. Secara garis besar
dapat disimpulkan penyebab perdarahan post partum adalah 4 T: ( Mukherjee S,
Arulkumaran S, 2009 )

3.3.1 Tone Dimished : Atonia uteri

Atonia uteri adalah suatu keadaan dimana uterus gagal untuk berkontraksi dan
mengecil sesudah janin keluar dari rahim. Perdarahan postpartum secara fisiologis di
kontrol oleh kontraksi serat-serat miometrium terutama yang berada disekitar
pembuluh darah yang mensuplai darah pada tempat perlengketan plasenta. Atonia
uteri terjadi ketika myometrium tidak dapat berkontraksi. Pada perdarahan karena
atonia uteri, uterus membesar dan lembek pada palpasi. Atonia uteri juga dapat
timbul karena salah penanganan kala III persalinan, dengan memijat uterus dan
mendorongnya kebawah dalam usaha melahirkan plasenta, sedang sebenarnya bukan
terlepas dari uterus. Atonia uteri merupakan penyebab utama perdarahan pasca salin.

16
Disamping menyebabkan kematian, perdarahan pasca salin memperbesar
kemungkinan infeksi puerperal karena daya tahan penderita berkurang. Perdarahan
yang banyak bisa menyebabkan “ Sindroma Sheehan “ sebagai akibat nekrosis pada
hipofisis pars anterior sehingga terjadi insufiensi bagian tersebut dengan gejala :
astenia, hipotensi, dengan anemia, turunnya berat badan sampai menimbulkan
kakeksia, penurunan fungsi seksual dengan atrofi alat-alat genital, kehilangan rambut
pubis dan ketiak, penurunan metabolisme dengan hipotensi, amenorea dan kehilangan
fungsi laktasi.

Beberapa hal yang dapat mencetuskan terjadinya atonia meliputi :

 Manipulasi uterus yang berlebihan


 General anestesi (pada persalinan dengan operasi )
 Uterus yang teregang berlebihan
 Kehamilan kembar
 Fetal macrosomia ( berat janin antara 4500 – 5000 gram )
 polyhydramnion
 Kehamilan lewat waktu
 Partus lama
 Grande multipara ( fibrosis otot-otot uterus ),
 Anestesi yang dalam
 Infeksi uterus ( chorioamnionitis, endomyometritis, septicemia ),
 Plasenta previa
 Solutio plasenta

17
Gambar 1. Atonia uteri.

Penatalaksanaan

1) Kenali dan tegakan kerja atonia uteri

2) Sambil melakukan pemasangan infus dan pemberian uterotonika, lakukan


pengurutan uterus

3) Pastikan plasenta lahir lengkap dan tidak ada laserasi jalan lahir

4) Lakukan tindakan spesifik yang diperlukan :

a) Kompresi bimanual eksternal yaitu menekan uterus melalui dinding


abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua belah telapak tangan
yang melingkupi uteus. Bila perdarahan berkurang kompresi diteruskan,
pertahankan hingga uterus dapat kembali berkontraksi atau dibawa ke
fasilitas kesehata rujukan.

18
b) Kompresi bimanual internal yaitu uterus ditekan diantara telapak tangan
pada dinding abdomen dan tinju tangan dalam vagina untuk menjempit
pembuluh darah didalam miometrium.

c) Kompresi aorta abdominalis yaitu raba arteri femoralis dengan ujung jari
tangan kiri, pertahankan posisi tersebut genggam tangan kanan kemudian
tekankan pada daerah umbilikus, tegak lurus dengan sumbu badan, hingga
mencapai kolumna vertebralis, penekanan yang tepat akan menghetikan
atau mengurangi, denyut arteri femoralis. ( Widfa Satriani, 2013)

3.3.2 Tissue

Retensio plasenta& sisa plasenta

Retensio Plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir dalam


waktu 1 jam setelah bayi lahir. Faktor-faktor yang mempengaruhi
pelepasan plasenta:

1. Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks;
kelemahan dan tidak efektifnya kontraksi uterus; kontraksi yang
tetanik dari uterus; serta pembentukan constriction ring.
2. Kelainan dari placenta dan sifat perlekatan placenta pada uterus.
3. Kesalahan manajemen kala tiga persalinan, seperti manipulasi dari
uterus yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta
menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik; pemberian uterotonik yang
tidak tepat waktu dapat menyebabkan serviks kontraksi dan menahan
plasenta; serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan
kontraksi uterus.

19
Sebab-sebab terjadinya retensio plasenta ini adalah:
1. Plasenta belum terlepas dari dinding uterus karena tumbuh melekat
lebih dalam. Perdarahan tidak akan terjadi jika plasenta belum lepas
sama sekali dan akan terjadi perdarahan jika lepas sebagian. Hal ini
merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. Menurut tingkat
perlekatannya dibagi menjadi:
2. Plasenta adhesiva, melekat pada endometrium, tidak sampai membran
basal.
3. Plasenta inkreta, vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus
desidua sampai ke miometrium.
4. Plasenta akreta, menembus lebih dalam ke miometrium tetapi belum
menembus serosa.
5. Plasenta perkreta, menembus sampai serosa atau peritoneum dinding
rahim.

Plasenta sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar,
disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah
penanganan kala III, sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian
bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta (plasenta inkarserata)

Tanda-tanda lepasnya plasenta adalah fundus naik dimana pada perabaan


uterus terasa bulat dan keras, bagian tali pusat yang berada di luar lebih
panjang dan terjadi perdarahan sekonyong-konyong. Cara memastikan
lepasnya plasenta:

1. Kustner
Tangan kanan menegangkan tali pusat, tangan kiri menekan di atas
simfisis. Bila tali pusat tak tertarik masuk lagi berarti tali pusat telah
lepas.

20
2. Strassman
Tangan kanan menegangkan tali pusat, tangan kiri mengetuk-ngetuk
fundus. Jika terasa getaran pada tali pusat, berarti tali pusat belum lepas.

3. Klein
Ibu disuruh mengejan. Bila plasenta telah lepas, tali pusat yang berada
diluar bertambah panjang dan tidak masuk lagi ketika ibu berhenti
mengejan.

Apabila plasenta belum lahir ½ jam-1 jam setelah bayi lahir, harus
diusahakan untuk mengeluarkannya. Tindakan yang dapat dikerjakan adalah
secara langsung dengan perasat Crede dan Brant Andrew dan secara langsung
adalah dengan manual plasenta.

Tertinggalnya sebagian plasenta (sisa plasenta) merupakan penyebab


umum terjadinya pendarahan lanjut dalam masa nifas (pendarahan pasca
persalinan sekunder). Pendarahan pasca salin yang terjadi segera jarang
disebabkan oleh retensi potongan-potongan kecil plasenta. Inspeksi plasenta
segera setelah persalinan bayi harus menjadi tindakan rutin. Jika ada bagian
plasenta yang hilang, uterus harus dieksplorasi dan potongan plasenta
dikeluarkan. (Winkjosastro H dkk ,2002)

Sewaktu suatu bagian dari plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal,
maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat
menimbulkan perdarahan. Tetapi mungkin saja pada beberapa keadaan tidak
ada perdarahan dengan sisa plasenta. (Winkjosastro H dkk ,2002)

21
A B

Gambar 2. A. Retensio Plasenta, B. Sisa Plasenta

3.3.3 Trauma

Sekitar 20% kasus perdarahan postpartum disebabkan oleh trauma jalan


lahir :

1. Ruptur uterus

Ruptur spontan uterus jarang terjadi, faktor resiko yang bisa menyebabkan
antara lain grande multipara, malpresentasi, riwayat operasi uterus
sebelumnya, dan persalinan dengan induksi oxytosin. Rupture uterus sering
terjadi akibat jaringan parut section secarea sebelumnya.

Gambar 3. Ruptur uteri

22
2. Robekan jalan lahir

Gambar 4. Robekan jalan lahir

Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari perdarahan


pasca persalinan. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri.
Perdarahan pasca persalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya
disebabkan oleh robekan serviks atau vagina. Setelah persalinan harus selalu
dilakukan pemeriksaan vulva dan perineum. Pemeriksaan vagina dan serviks
dengan spekulum juga perlu dilakukan setelah persalinan.

a. Robekan vulva
Sebagai akibat persalinan, terutama pada seorang primipara, bisa timbul
luka pada vulva di sekitar introitus vagina yang biasanya tidak dalam akan
tetapi kadang-kadang bisa timbul perdarahan banyak, khususnya pada luka
dekat klitoris.

23
b. Robekan perineum
Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak
jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya
terjadi di garis tengah dan menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu
cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa, kepala janin melewati
pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar dari sirkumferensia
suboksipitobregmatika atau anak dilahirkan dengan pembedahan vaginal.

Tingkatan robekan pada perineum:

 Tingkat 1: hanya kulit perineum dan mukosa vagina yang robek


 Tingkat 2: dinding belakang vagina dan jaringan ikat yang menghubungkan
otot-otot diafragma urogenitalis pada garis tengah terluka.
 Tingkat 3: robekan total m. Spintcher ani externus dan kadang-kadang
dinding depan rektum.

Pada persalinan yang sulit, dapat pula terjadi kerusakan dan peregangan m.
puborectalis kanan dan kiri serta hubungannya di garis tengah. Kejadian ini
melemahkan diafragma pelvis dan menimbulkan predisposisi untuk terjadinya
prolapsus uteri.

c. Perlukaan vagina
Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum jarang
dijumpai. Kadang ditemukan setelah persalinan biasa, tetapi lebih sering
terjadi sebagai akibat ekstraksi dengan cunam, terlebih apabila kepala janin
harus diputar. Robekan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada
pemeriksaan spekulum. Robekan atas vagina terjadi sebagai akibat
menjalarnya robekan serviks. Apabila ligamentum latum terbuka dan cabang-
cabang arteri uterina terputus, dapat timbul perdarahan yang banyak. Apabila

24
perdarahan tidak bisa diatasi, dilakukan laparotomi dan pembukaan
ligamentum latum. Jika tidak berhasil maka dilakukan pengikatan arteri
hipogastika.

 Kolpaporeksis
Adalah robekan melintang atau miring pada bagian atas vagina. Hal ini terjadi
apabila pada persalinan yang disproporsi sefalopelvik terdapat regangan
segmen bawah uterus dengan serviks uteri tidak terjepit antara kepala janin
dengan tulang panggul, sehingga tarikan ke atas langsung ditampung oleh
vagina. Jika tarikan ini melampaui kekuatan jaringan, terjadi robekan vagina
pada batas antara bagian teratas dengan bagian yang lebih bawah dan yang
terfiksasi pada jaringan sekitarnya. Kolpaporeksis juga bisa timbul apabila
pada tindakan per vaginam dengan memasukkan tangan penolong ke dalam
uterus terjadi kesalahan, dimana fundus uteri tidak ditahan oleh tangan luar
untuk mencegah uterus naik ke atas.

 Fistula
Fistula akibat pembedahan vaginal makin lama makin jarang karena tindakan
vaginal yang sulit untuk melahirkan anak banyak diganti dengan seksio
secarea. Fistula dapat terjadi mendadak karena perlukaan pada vagina yang
menembus kandung kemih atau rektum, misalnya oleh perforator atau alat
untuk dekapitasi, atau karena robekan serviks menjalar ke tempat menjalar ke
tempat-tempat tersebut. Jika kandung kemih luka, urin segera keluar melalui
vagina. Fistula dapat berupa fistula vesikovaginalis atau rektovaginalis.

d. Robekan serviks
Persalinan selalu mengakibatkan robekan serviks, sehingga serviks seorang
multipara berbeda dari yang belum pernah melahirkan pervaginam. Robekan
serviks yang luas menimbulkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen

25
bawah uterus. Apabila terjadi perdarahan yang tidak berhenti meskipun plasenta
sudah lahir lengkap dan uterus sudah berkontraksi baik, perlu dipikirkan
perlukaan jalan lahir, khususnya robekan serviks uteri. Apabila ada robekan,
serviks perlu ditarik keluar dengan beberapa cunam ovum, supaya batas antara
robekan dapat dilihat dengan baik. Apabila serviks kaku dan his kuat, serviks
uteri dapat mengalami tekanan kuat oleh kepala janin, sedangkan pembukaan
tidak maju. Akibat tekanan kuat dan lama ialah pelepasan sebagian serviks atau
pelepasan serviks secara sirkuler. Pelepasan ini dapat dihindarkan dengan
seksio secarea jika diketahui bahwa ada distosia servikalis. (Winkjosastro H
dkk ,2002)

3. Inversio uterus

Inversio uteri dapat menyebabkan pendarahan pasca persalinan segera,


akan tetapi kasus inversio uteri ini jarang sekali ditemukan. Pada inversio uteri
bagian atas uterus memasuki kavum uteri, sehingga fundus uteri sebelah
dalam menonjol ke dalam kavum uteri. Inversio uteri terjadi tiba-tiba dalam
kala III atau segera setelah plasenta keluar.

Inversio uteri bisa terjadi spontan atau sebagai akibat tindakan. Pada
wanita dengan atonia uteri kenaikan tekanan intraabdominal dengan
mendadak karena batuk atau meneran, dapat menyebabkan masuknya fundus
ke dalam kavum uteri yang merupakan permulaan inversio uteri. Tindakan
yang dapat menyebabkan inversio uteri adalah perasat Crede pada korpus uteri
yang tidak berkontraksi baik dan tarikan pada tali pusat dengan plasenta yang
belum lepas dari dinding uterus.

Pada penderita dengan syok, perdarahan, dan fundus uteri tidak


ditemukan pada tempat yang lazim pada kala III atau setelah persalinan
selesai, pemeriksaan dalam dapat menunjukkan tumor yang lunak di atas

26
serviks atau dalam vagina sehingga diagnosis inversio uteri dapat dibuat. Pada
mioma uteri submukosum yang lahir dalam vagina terdapat pula tumor yang
serupa, akan tetapi fundus uteri ditemukan dalam bentuk dan pada tempat
biasa, sedang konsistensi mioma lebih keras daripada korpus uteri setelah
persalinan. Selanjutnya jarang sekali mioma submukosum ditemukan pada
persalinan cukup bulan atau hampir cukup bulan. (Winkjosastro H dkk ,2002)

Walaupun inversio uteri kadang-kadang bisa terjadi tanpa gejala dengan


penderita tetap dalam keadaan baik, namun umumnya kelainan tersebut
menyebabkan keadaan gawat dengan angka kematian tinggi (15-70%).
Reposisi secepat mungkin memberi harapan yang terbaik untuk keselamatan
penderita. (Winkjosastro H dkk ,2002)

Gambar 5. Inversio uterus

3.3.4 Thrombin : Kelainan pembekuan darah

Kegagalan pembekuan darah atau koagulopati dapat menjadi penyebab


dan akibat perdarahan yang hebat. Gambaran klinisnya bervariasi mulai dari
perdarahan hebat dengan atau tanpa komplikasi trombosis, sampai keadaan
klinis yang stabil yang hanya terdeteksi oleh tes laboratorium. Setiap kelainan
pembekuan, baik yang idiopatis maupun yang diperoleh, dapat merupakan

27
penyulit yang berbahaya bagi kehamilan dan persalinan, seperti pada
defisiensi faktor pembekuan, pembawa faktor hemofilik A (carrier),
trombopatia, penyakit Von Willebrand, leukemia, trombopenia dan purpura
trombositopenia. Dari semua itu yang terpenting dalam bidang obstetri dan
ginekologi ialah purpura trombositopenik dan hipofibrinogenemia.

a. Purpura trombositopenik

Penyakit ini dapat bersifat idiopatis dan sekunder. Yang terakhir


disebabkan oleh keracunan obat-obat atau racun lainnya dan dapat pula
menyertai anemia aplastik, anemia hemolitik yang diperoleh, eklampsia,
hipofibrinogenemia karena solutio plasenta, infeksi, alergi dan radiasi.

b. Hipofibrinogenemia

Adalah turunnya kadar fibrinogen dalam darah sampai melampaui batas


tertentu, yakni 100 mg%, yang lazim disebut ambang bahaya (critical
level). Dalam kehamilan kadar berbagai faktor pembekuan meningkat,
termasuk kadar fibrinogen. Kadar fibribogen normal pada pria dan wanita
rata-rata 300mg% (berkisar 200-400mg%), dan pada wanita hamil menjadi
450mg% (berkisar antara 300-600mg%).

3.4 Hubungan Faktor Resiko dengan Pendarahan Pasca Partum

1) Grande multipara
Uterus yang telah melahirkan banyak anak cenderung bekerja tidak efisien
dalam semua kala persalinan. Paritas tinggi merupakan salah satu faktor
resiko terjadinya perdarahan postpartum. Hal ini disebabkan pada ibu
dengan paritas tinggi yang mengalami persalinan cenderung terjadi atonia

28
uteri. Atonia uteri pada ibu dengan paritas tinggi terjadi karena kondisi
miometrium dan tonus ototnya sudah tidak baik lagi sehingga menimbulkan
kegagalan kompresi pembuluh darah pada tempat implantasi plaseta yang
akibatnya terjadi perdarahan postpartum. (Oktinikilah, 2009)

2) Perpanjangan persalinan
Bukan hanya rahim yang lelah cenderung berkontraksi lemah setelah
melahirkan tetapi juga ibu yang kelelahan kurang mampu bertahan terhadap
kehilangan darah.(Oktinikilah, 2009)

3) Chorioamnionitis

Chorioamnionitis merupakan infeksi selaput ketuban yang juga akan


merusak selaput amnion sehingga bisa pula pecah. Penyebabnya adalah
peningkatan tekana intracterine seperti pada kehamilan kembar dan
polihidromion,trauma pada amniosintesis, hipermotilitas uterus dimana
kontraksi otot uterus rahim menjadi meningkat, menekan selaput amnion.

Semua hal tersebut dapat menyebabkan ketuban pecah dini. Pada ibu dengan
ketuban pecah dini tetapi his (-) sehingga pembukaan akan terganggu dan
terhambat sementara janin mudah kekeringan karena pecahnya selaput
amnion tersebut, maka Janin harus segera untuk dilahirkan atau pengakhiran
kehamilan harus segera dilakukan.

Ketuban yang telah pecah dapat menyebabkan persalinan menjadi terganggu


karena tidak ada untuk pelicin Jalan lahir. Sehingga persalinan menjadi
kering ( dry labor). Akibatnya terjadi persalinan yang lama. (Iche Baretz,
2012)

29
4) Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi ketika darah yang dipompakan
oleh jantung mengalami peningkatan tekanan, hingga hal ini dapat membuat
adanya tekanan dan merusak dinding arteri di pembuluh darah. Seseorang
dikatakan mengalami hipertensi jika tekanan darahnya di atas 140/90 mmHG
(berarti 140 mmHg tekanan sistolik dan 90 mmHg tekanan diastolik).
Hipertensi pada kehamilan banyak terjadi pada usia ibu hamil di bawah 20
tahun atau di atas 40, kehamilan dengan bayi kembar, atau terjadi pada ibu
hamil dengan kehamilan pertama.

5) Kehamilan multiple
Uterus yang mengalami peregangan secara berlebihan akibat keadaan-
keadaan seperti bayi besar, kehamilan kembar dan polihidramnion
cenderung mempunyai daya kontraksi yang jelek. (Oktinikilah, 2009)

6) Injeksi Magnesium sulfat dan Perpanjangan pemberian oxytocin


Terjadi relaksasi miometrium yang berlebihan, kegagalan kontraksi serta
retraksi, atonia uteri dan perdarahan post partum.

Stimulasi dengan oksitoksin atau protaklandin dapat menyebabkan


terjadinya inersia sekunder karena kelelahan pada otot-otot uterus(
(Oktinikilah, 2009)

30
BAB IV

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
Nama : Ny. I

Umur : 35 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Jl. Pettarani II Blok 9B/21

Agama : Islam

Pekerjaan : Penjaga toko

Pekerjaan Suami : Buruh Harian

Pendidikan : SMA

Paritas : GIVPIIIA0

Tanggal masuk : 28 Juli 2019 Pukul 19.30 WITA

B. Anamnesis
GIVPIIIA0

HPHT : 17−10−2018

HTP : 24−07−2019

Gestasi : 37 Minggu

31
Anamnesis Terpimpin :

Wanita 35 tahun GIVPIIIA0 hamil 37 minggu datang ke UGD PKM Bara-


baraya pada hari Minggu , tanggal 28 Juli 2019 pukul 19.30 WITA dengan
keluhan nyeri perut tembus kebelakang sejak pukul 15.00 WITA, riwayat
pelepasan lendir (+) dan darah (+).
Riwayat ANC 2 kali di Bidan, kunjungan pertama dan kedua pasien tidak
mendapat buku KMS. Hipertensi dalam kehamilan tidak ada, riwayat penyakit
sebelumnya tidak ada, riwayat HT tidak ada, DM tidak ada, Asma tidak ada, dan
alergi tidak ada.
Riwayat KB pil tidak teratur. Riwayat suntik TT (-)

Riwayat Obstetri :

I. Perempuan / 16 tahun/ BBL 2.8 kg / PPN / ASI (-)


II. Peempuan/4 tahun / BBL 2.9 kg / PPN / ASI (-)
III. Perempuan / 11 bulan / BBL 3.1 kg / PPN / ASI (-)
IV. 2019/ kehamilan sekarang

C. Pemeriksaan Fisik dan Obstetri


Keadaan Umum : Sedang

Kesadaran : Compos Mentis

Tekanan darah : 90/70 mmHg

Nadi : 70 x/menit

Pernapasan : 20 x/menit

Suhu : 36,5°C

BB : 60 kg

32
TB : 159 cm

IMT : 23,71

Status : Baik

1. Pemeriksaan Luar :
Inspeksi

 Kepala : Simetris, tidak ada benjolan


 Mata
- Konjungtiva : Normal (-/-)
- Sklera : Putih
 Mulut
- Caries : Tidak ada
- Stomatitis : Tidak ada
 Leher : Tidak ada pembengkakan pada kelenjar tiroid dan vena
jugularis
 Payudara
- Bentuk/Ukuran : Simetris
- Areola mamae : Kehitaman
- Puting susu : Menonjol
- Colostrum : Tidak ada
 Abdomen
- Pembesaran : Sesuai dengan usia kehamilan
- Strie livida : Tidak ada
- Strie albicans : Tidak ada
- Linia nigra : Ada
-

33
 Ekstermitas bawah
- Oedem : Tidak ada
- Varices : Tidak ada

Palpasi

 TFU : 38 cm
 HIS : 5 x 10’, 40 “

Auskultasi

 DJJ : 135x / menit

2. Pemeriksaan Dalam Vagina:


 Vulva : Tidak ada kelainan
 Vagina : Tidak ada kelainan
 Pembukaan : 5 cm
 Ketuban : Utuh

PDV I : Jam 20.00 WITA, portio lunak, ketuban (+), posisi kepala,
pembukaan 5 cm, bagian terendah hodge II, pengeluaran
lender
PDV II : Jam 00.00 tanggal 29/07/2019, portio lunak, ketuban (+),
posisi kepala, pembukaan 6 cm,bagian terendah hodge II,
pelepasan lender dan darah
PDV III : Jam 03.00, portio tipis, ketuban jernih, posisi kepala,
pembukaan 8, bagian terendah hodge II-III, pelepasan
darah

34
portio melesap, ketuban (-), posisi kepala, pembukaan 10,
bagian terendah hodge IV, pelepasan darah.
Kala I : Pukul 03.00 inpartu fase aktif
Kala II : Pimpin persalinan
Pukul 03.20 lahir bayi segera menangis
Pukul 03.22 injeksi oksitosin 1 ampul
Kala III : Pukul 03.25 plasenta lahir lengkap
Kala IV : Pukul 03.30 kontraksi uterus lemah, perdarahan > 500 cc
Pukul 03.32 injeksi oksitosin 1 ampul, cairan RL cor
Pukul 03.55 ganti cairan RL + oksitosin 1 ampul 20 tetes
per menit
TFU setinggi pusat
Tekanan darah 90/70 mmhg
Perdarahan 100 cc
Hb post partum 9,0 g/dl

E. Diagnosis Sementara

GIVPIIIA0 + inpartu fase aktif + perdarahan post partum (atonia uteri)

F. Penatalaksanaan
 Persalinan normal
 Pemberian cairan RL + oxy 1 amp 20 tpm

G. Diagnosis Kerja
Perdarahan post partum (Atonia uteri)
Wanita 35 tahun GIVPIIIA0 hamil 37 minggu datang ke UGD PKM
Bara-baraya pada hari Minggu , tanggal 28 Juni 2019 pukul 19.30 WITA

35
dengan keluhan nyeri perut tembus kebelakang sejak pukul 15.00 WITA,
riwayat pelepasan lendir (+) dan darah (+).
Riwayat ANC 2 kali di Bidan, kunjungan pertama dan kedua pasien
tidak mendapat buku KMS. Hipertensi dalam kehamilan tidak ada, riwayat
penyakit sebelumnya tidak ada, riwayat HT tidak ada, DM tidak ada, Asma
tidak ada, dan alergi tidak ada.
Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik/sadar, TD : 90/70
mmHg, N : 70 x/i, P : 20 x/i, S : 36,5°C. TFU : 38 cm, HIS : 5x10’, 40 ”, DJJ :
135x/ menit. Pemeriksaan dalam didapatkan Pembukaan : 5 cm, Ketuban :
Utuh.

PDV I : Pukul 20.00 WITA, portio lunak, ketuban (+), posisi


kepala,pembukaan 5 cm, bagian terendah hodge II,
pengeluaran lender
PDV II : Pukul 00.00 tanggal 29/07/2019, portioluak, ketuban (+),
posisi kepala, pembukaan 6 cm,bagian terendah hodge II,
pelepasan lender dan darah
PDV III : Pukul 03.00, portio tipis, ketuban jernih, posisi kepala,
pembukaan 8, bagian terendah hodge II-III, pelepasan
darah portio melesap, ketuban (-), posisi kepala,
pembukaan 10, bagian terendah hodge IV, pelepasan
darah.
Kala I : Pukul 03.00 inpartu fase aktif
Kala II : Pimpin persalinan
Pukul 03.20 lahir bayi segera menangis
Pukul 03.22 injeksi oksitosin 1 ampul
Kala III : Pukul 03.25 plasenta lahir lengkap
Kala IV : Pukul 03.30 kontraksi uterus lemah, perdarahan > 500 cc
Pukul 03.32 injeksi oksitosin 1 ampul, cairan RL cor

36
Pukul 03.55 ganti cairan RL + oksitosin 1 ampul 20 tetes
per menit
TFU setinggi pusat
Tekanan darah 90/70 mmhg
Perdarahan 100 cc
Hb post partum 9,0 g/dl

Riwayat Obstetri :
I/Perempuan / 16 tahun/ BBL 2.8 kg / PPN
II/Perempuan/ 4 tahun / BBL 2.9 kg / PPN
III/Perempuan / 11 bulan / BBL 3.1 kg / PPN
IV/2019/ kehamilan sekarang

H.Kunjungan Rumah (2 Agustus 2019)


1. Pemeriksaan Ibu
S : Keluhan (-)
O :
 Keadaan Umum : Sedang
 Kesadaran : Compos Mentis
 Tekanan darah : 110/70 mmHg
 Nadi : 80 x/menit
 Pernapasan : 20 x/menit
 Suhu : 36,4°C
 BB : 55 kg
 TB : 159 cm
 TFU : Tidak teraba
 ASI :+/+
 Lokia : Serosa

37
2. Pemeriksaan Bayi
Bayi
KU : Baik
HR : 126x / menit
P : 44x/ menit
S : 36,4 C
BB : 4 kg

PB : 52 cm

Lingkar Kepala : 32 cm

Ikterik : Tidak ada

Refleks mengisap :+
Refleks menelan :+
Kulit : Terkelupas
BAB/BAK : Lancar

38
BAB V

PEMBAHASAN

Perdarahan pasca salin didefinisikan kehilangan darah 500 cc dalam


persalinan pervaginam atau 1000 cc dalam persalinan perabdominal.

Perdarahan menyebabkan 25% kematian ibu di dunia berkembang dan


yang paling banyak adalah perdarahan pasca salin. Diperkirakan ada 14 juta kasus
perdarahan dalam kehamilan setiap tahunnya paling sedikit 128.000 wanita
mengalami perdarahan sampai meninggal. Sebagian besar kematian tersebut terjadi
dalam waktu 4 jam setelah melahirkan. Di Inggris (2000), separuh kematian ibu
hamil akibat perdarahan disebabkan oleh perdarahan pasca salin.

Penanganan perdarahan pasca salin membutuhkan keahlian tersendiri dan


memerlukan kerjasama multi displin. Kegagalan untuk menilai gambaran klinis,
perkiraan kehilangan darah yang tidak adekuat, pengobatan yang tertunda, kurangnya
kerja tim multidisiplin dan kegagalan untuk mencari bantuan adalah beberapa
masalah yang penting untuk diperhatikan. Secara umum semua masalah yang
berkaitan dengan Ibu hamil merupakan tanggung jawab bagi seluruh tenaga
kesehatan. Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat 1 (primer)
memiliki peranan penting sebagai yankes pertama untuk memantau perkembangan
Ibu hamil dan mencegah risiko yang dapat mengancam keberlangsungan
kehamilannya. Dibutuhkan koordinasi yang baik dan sistematis antara UKM, UKP
dan semua tenaga kesehatan terhadap pasien untuk efektif dalam melakukan
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi.

Atonia uteri adalah suatu keadaan dimana uterus gagal untuk berkontraksi
dan mengecil sesudah janin keluar dari rahim. Perdarahan postpartum secara
fisiologis di kontrol oleh kontraksi serat-serat miometrium terutama yang berada
disekitar pembuluh darah yang mensuplai darah pada tempat perlengketan plasenta.

39
Atonia uteri terjadi ketika myometrium tidak dapat berkontraksi. Pada perdarahan
karena atonia uteri, uterus membesar dan lembek pada palpasi. Atonia uteri juga
dapat timbul karena salah penanganan kala III persalinan, dengan memijat uterus dan
mendorongnya kebawah dalam usaha melahirkan plasenta, sedang sebenarnya bukan
terlepas dari uterus. Atonia uteri merupakan penyebab utama perdarahan pasca salin.

Disamping menyebabkan kematian, perdarahan pasca salin memperbesar


kemungkinan infeksi puerperal karena daya tahan penderita berkurang. Perdarahan
yang banyak bisa menyebabkan “ Sindroma Sheehan “ sebagai akibat nekrosis pada
hipofisis pars anterior sehingga terjadi insufiensi bagian tersebut dengan gejala :
astenia, hipotensi, dengan anemia, turunnya berat badan sampai menimbulkan
kakeksia, penurunan fungsi seksual dengan atrofi alat-alat genital, kehilangan rambut
pubis dan ketiak, penurunan metabolisme dengan hipotensi, amenorea dan kehilangan
fungsi laktasi.

40
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
 Pada pasien ini penegakan diagnosis perdarahan pada persalinan (atonia
uteri) berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
 Pengetahuan ibu mengenai pemeriksaan Ante Natal Care yang teratur dan
efektif sangat dibutuhkan untuk deteksi dini kehamilan demi kesejahteraan
ibu dan janin.
 Edukasi untuk mengikuti program KB dan kemungkinan terjadinya
perdarahan pada kehamilan berikutnya perlu untuk dipikirkan agar tidak
terjadi kehamilan yang terlalu dekat jarak antara satu anak dan anak lainnya.
A. Saran
Saran untuk UKM :
 Memotivasi wanita usia subur dan ibu hamil untuk selalu aktif dan menambah
pengetahuan dengan membaca dan mengikuti penyuluhan terutama tentang
pentingnya menjaga kesehatan pada saat hamil.
 Memberikan edukasi dan memotivasi ibu untuk mengikuti KB pasca
persalinan untuk mencegah resiko yang tidak di inginkan.
 Ibu hamil wajib memeriksakan kehamilannya di Pelayanan Kesehatan
terutama pada ibu hamil yang beresiko dan riwayat penyakit tertentu
sebelumnya.
 Pemeriksaan berkala pada ibu hamil.
 Melakukan edukasi kepada ibu dan keluarga/suami mengenai asuhan sayang
ibu saat persalinan.

41
Saran Untuk UKP :

 Konseling pemilihan KB yang tepat dan terbaik yang disesuaikan dengan


kondisi Ibu.
 Aktif mendata dan memantau Ibu hamil yang tidak datang ANC di PKM
sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
 Aktif terjun ke lapangan untuk mencari tahu penyebab tidak datangnya pasien
yang bersangkutan dan kondisi terkini pasien tersebut.

Saran Untuk PKM :


 Semua tenaga kesehatan yang terkait harus mampu menilai dan mengetahui
penyulit-penyulit yang dapat terjadi pada persalinan serta memberikan
tindakan yang efektif dan efisien.
 Meningkatkan kualitas pemeriksaan ANC agar dapat mendeteksi resiko tinggi
pada kehamilan.
 Agar setiap bidan yang bertanggung jawab di setiap kelurahan rutin
melakukan kunjungan ke rumah, terutama bila ibu hamil tidak datang kontrol
ke Puskesmas.
 Agar setiap bidan dan kader yang bertanggung jawab lebih aktif untuk
memantau Ibu hamil yang tidak datang pada kunjungan ANC yang telah
dijadwalkan.
Saran untuk pasien dan keluarga
 Diharapkan agar Ibu dan keluarga menyadari akan pentingnya pemeriksaan
rutin kehamilan di pelayanan kesehatan.
 Diharapkan kepada calon Ibu agar mempersiapkan diri secara fisik maupun
psikis dalam merencanakan kehamilan.
 Diharapkan kepada Ibu dan calon Ibu agar aktif mencari informasi mengenai
tanda-tanda yang muncul saat sebelum memasuki waktu melahirkan, sehingga

42
apabila waktu melahirkan telah tiba pasien segera mengunjungi Pelayanan
Kesehatan terdekat.

43
DAFTAR PUSTAKA

Akhter S, Begum MR, Kabir Z, Rashid M, Laila TR, Zabeen F.(2003): Use of a
condom to control massive PPH. Medscape General Medicine.

AlanH, DeCherney , Lauren Nathan ( 2003) Curren Obstretric & Gynecologic


Diagnosis & Tretment, Ninth edition; The McGraw-Hill Companies, Inc

Carroli G,Cuesta C, Abalos E,Gulmezoglu AM, (2008): Epidemiology of postpartum


haemorrhage:a systematic review; Best Practice & Research Clinical Obstetrics and
Gynaecology,vol 22:6 , 999-1012

Castaneda S, Karrison T, Cibils LA, (2000):Peripartum Hysterectomy , J Perinat


med, vol 28(6):472-81

Chandraharan E, Arulkumaran S.(2008) : Surgical aspects of postpartum


haemorrhage. Best Pract Res Clin Obstet Gynecol ;22: 1089–1102

John M. Kirby, John R. Kachura, Dheeraj K. Rajan, Kenneth W. Sniderman, Martin


E. Simons, Rory C. Windrim, John C. Kingdom, (2009) : Arterial embolization for
primary postpartum hemorrhage, Journal of Vascular and Interventional Radiology,
Volume 20, Issue 8, Pages 1036-1045

Mukherjee S, Arulkumaran S, (2009): Post-partum haemorrhage; Obsterics,


Gynaecology and Reproductive medicine, vol 19:5, hal 122-126

Prawirohardjo S.(2002) : Perdarahan Pasca Persalinan. Buku Acuan Nasional


Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBP-

44
LAMPIRAN FOTO

45
46
47