Anda di halaman 1dari 31

BAGIAN ILMU BEDAH LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN OKTOBER 2019

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

HERNIA NUKLEUS PULPOSUS (HNP)

Disusun oleh :

Ika Lukita Sari

10542 0174 10

Pembimbing :

dr. Wahyudi Maransyah, Sp.BS

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik

Bagian Ilmu Bedah

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2019
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menerangkan, bahwa:

Nama : Ika Lukita Sari

NIM : 10542 017410

Judul Laporan Kasus : Hernia Nukleus Pulposus (HNP)

Telah menyelesaikan Laporan Kasus dalam rangka Kepanitraan Klinik di Bagian Ilmu Bedah
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Oktober 2019

Pembimbing,

(dr. Wahyudi Maransyah, Sp.BS)


KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat, hidayah,
kesehatan dan kesempatan-Nya sehingga laporan kasus dengan judul “Hernia Nukleus Pulposus” ini
dapat diselesaikan. Salam dan shalawat senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, sang
pembelajar sejati yang memberikan pedoman hidup yang sesungguhnya.

Pada kesempatan ini, secara khusus penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada dosen pembimbing dr. Wahyudi Maransyah, Sp.BS yang telah memberikan
petunjuk, pengarahan dan nasehat yang sangat berharga dalam penyusunan sampai dengan selesainya
laporan kasus ini.

Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangan dalam
penyusunan laporan kasus ini, baik dari isi maupun penulisannya.Untuk itu kritik dan saran dari semua
pihak senantiasa penulis harapkan demi penyempurnaan laporan kasusini.

Demikian, Semoga laporan kasus ini bermanfaat bagi pembaca secara umum dan penulis secara
khususnya.

Billahi Fi Sabilill Haq Fastabiqul Khaerat

Wassalamu Alaikum WR.WB.

Makassar,Oktober 2019

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

Nyeri punggung bawah (NPB) merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama. Insiden
NPB di Amerika Serikat adalah sekitar 5% orang dewasa. Kurang lebih 60%-80% individu
setidaknya pernah mengalami nyeri punggung dalam hidupnya. Nyeri punggung bawah
merupakan 1 dari 10 penyakit terbanyak di Amerika Serikat dengan angka prevalensi berkisar
antara 7,6-37%. insidens tertinggi dijumpai pada usia 45-60 tahun. Pada penderita dewasa tua,
nyeri punggung bawah mengganggu aktivitas sehari-hari pada 40% penderita, dan menyebabkan
gangguan tidur pada 20% penderita. Sebagian besar (75%) penderita akan mencari pertolongan
medis, dan 25% di antaranya perlu dirawat inap untuk evaluasi lebih lanjut. Nyeri punggung
bawah (NPB) pada hakekatnya merupakan keluhan atau gejala dan bukan merupakan penyakit
spesifik. Penyebab NPB antara lain kelainan muskuloskeletal, system saraf, vaskuler, viseral, dan
psikogenik. Salah satu penyebab yang memerlukan tindak lanjut (baik diagnostik maupun terapi
spesifik) adalah hernia nukleus pulposus (HNP).1 Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah suatu
penyakit, dimana bantalan lunak diantara ruas-ruas tulang belakang (soft gel disc atau Nukleus
Pulposus) mengalami tekanan dan pecah, sehingga terjadi penyempitan dan terjepitnya urat-urat
saraf yang melalui tulang belakang kita. Saraf terjepit lainnya di sebabkan oleh keluarnya
nukleus pulposus dari diskus melalui robekan annulus fibrosus keluar menekan medullas spinalis
atau mengarah ke dorsolateral menekan saraf spinalis sehingga menimbulkan rasa nyeri yang
hebat.2
BAB II

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama :N
Usia : 45 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat : Bekang
Status : Menikah
Agama : Islam
Tanggal Masuk : 30 September 2019

II. ANAMNESISAutoanamnesis (30 September 2019)

Keluhan utama :

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke Poli RS.Pelamonia dengan keluhan nyeri pada tulang belakang dan
menjalar hingga ke kaki. Nyeri pinggang dirasakan seperti tersetrum dan menjalar hingga ke
bokong dan paha bawah. Pasien merasa kesakitan saat merubah posisi dari berbaring menjadi
duduk. Pasien memberikan nilai 7-8 untuk skala nyeri 1 hingga 10. Keluhan BAK dan BAB (-),
demam (-), kesemutan (-), baal (-), kelemahan anggota gerak (-), riwayat trauma (-). Karena
keluhannya dirasakan semakin berat dan mengganggu aktivitasnya sehari-hari, pasien berobat ke
Poliklinik Saraf RS TK.II Pelamonia.

Riwayat penyakit dahulu : (-)

Riwayat penyakit keluarga : Hipertensi (-), DM (-)

Riwayat pengobatan : (+) obat penghilang rasa sakit


Riwayat Alergi :
Riwayat alergi terhadap debu, cuaca, obat-obatan atau makanan tidak ada.

Riwayat sosial dan kebiasaan:


Pasien adalah seorang tentara

III. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan Umum

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang

GCS : E4M6V5

Tekanan Darah : 120/80 mmHg

Nadi : 84x/menit

Suhu : 36,6oC

Pernafasaan : 24x/menit

BB : 58 kg

Kepala

Ekspresi wajah : tampak meringis

Rambut : rambut pendek

Bentuk : normocephali

Mata

Konjungtiva : pucat (-/-)

Sklera : ikterik (-/-)


Kedudukan bola mata: ortoforia/ortoforia

Pupil : bulat isokor diameter 2 mm/2mm. Refleks cahaya

langsung (normal/normal), refleks cahaya tidak

langsung (normal/normal).

Palpebra : dalam batas normal.

Telinga

Selaput pendengaran : sulit dinilai Lubang : lapang

Penyumbatan : -/- Serumen : +/+

Perdarahan : -/- Cairan : -/-

Mulut

Bibir : darah (-), swelling (-), stomatitis (-).

Leher

Trakhea terletak ditengah

Tidak teraba benjolan/KGB yang membesar

Kelenjar Tiroid: tidak teraba membesar

Kelenjar Limfe: tidak teraba membesar

Thoraks

Bentuk : simetris

Pembuluh darah : tidak tampak pelebaran pembuluh darah

Paru – Paru

Pemeriksaan Depan Belakang


Inspeksi Kiri Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis
Kanan Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis
Palpasi Kiri - Tidak ada benjolan - Tidak ada benjolan
- Vocal fremitus simetris - Vocal fremitus simetris
Kanan - Tidak ada benjolan - Tidak ada benjolan
- Vocal fremitus simetris - Vocal fremitus simetris
Perkusi Kiri Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru
Kanan Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi Kiri - Suara vesikuler - Suara vesikuler
- Wheezing (-), Ronki (-) - Wheezing (-), Ronki (-)
Kanan - Suara vesikuler - Suara vesikuler
- Wheezing (-), Ronki (-) - Wheezing (-), Ronki (-)

Jantung

Inspeksi : Tidak tampak pulsasi iktus cordis

Palpasi : Teraba ictus cordissela igaV, 1cm sebelah lateral

linea midklavikularis kiri.

Perkusi :

Batas kanan : Sela iga III-V linea sternalis kanan.

Batas kiri : Sela igaV, 1cm sebelah lateral linea midklavikularis kiri.

Batas atas : Sela iga III linea parasternal kiri.

Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni reguler, Gallop (-), Murmur(-).

Abdomen

Inspeksi : tidak ada lesi, tidak ada bekas operasi, datar, simetris,

smiling umbilicus (-),dilatasi vena (-)

Palpasi :
Dinding perut : supel, tidak teraba adanya massa/benjolan, defense

muscular (-), tidak terdapat nyeri tekan pada epigastrium,

tidak terdapat nyeri lepas.

Hati :tidak teraba

Limpa : tidak teraba

Ginjal : ballotement -/-

Perkusi : timpani di keempat kuadran abdomen

Auskultasi : tympani(+)

Ekstremitas

Akral teraba hangat pada keempat ekstremitas. Edema (-). Nyeri pada kedua paha (+)

Kelenjar Getah Bening

Preaurikuler : tidak teraba membesar

Postaurikuler : tidak teraba membesar

Submandibula : tidak teraba membesar

Supraclavicula : tidak teraba membesar

Axilla : tidak teraba membesar

Inguinal : tidak teraba membesar

STATUS NEUROLOGIS

A. GCS : E3M6V5
B. Gerakan Abnormal : -
C. Leher : sikap baik, gerak terbatas
D. Tanda Rangsang Meningeal : Dalam batas normal
E. Nervus Kranialis
N.I ( Olfaktorius )

Subjektif Dalam batas normal

N. II ( Optikus )

Tajam penglihatan Sulit dinilai Sulit dinilai


(visus bedside)
Lapang penglihatan Sulit dinilai Sulit dinilai

Ukuran Isokor, D 2mm Isokor, D 2mm

Fundus Okuli Tidak dilakukan

N.III, IV, VI ( Okulomotorik, Trochlearis, Abduscen )

Nistagmus - -

Pergerakan bola mata Sulit dinilai Sulit dinilai

Kedudukan bola mata Ortoforia Ortoforia

Reflek Cahaya Langsung & Tidak Langsung + +

Diplopia - -

N.V (Trigeminus)

Membuka mulut + +

Menggerakan Rahang + +

Oftalmikus + +
Maxillaris + +

Mandibularis + +

N. VII ( Fasialis )

Perasaan lidah ( 2/3 anterior ) Sulit dinilai

Motorik Oksipitofrontalis + +

Motorik orbikularis okuli + +

Motorik orbikularis oris + +

N.VIII ( Vestibulokoklearis )

Tes pendengaran Dalam batas normal

Tes keseimbangan Sulit dinilai

N. IX,X ( Vagus )

Perasaan Lidah ( 1/3 belakang ) Sulit dinilai

Refleks Menelan +

Refleks Muntah Tidak dilakukan

N.XI (Assesorius)

Mengangkat bahu +

Menoleh +
N.XII ( Hipoglosus )

Pergerakan Lidah Dalam batas Normal

F. Sistem Motorik Tubuh


Kanan Kiri

Ekstremitas Atas

Postur Tubuh Baik Baik

Atrofi Otot (-) (-)

Tonus Otot Normal Normal

Gerak involunter (-) (-)

Kekuatan Otot Normal Normal

Kanan Kiri

Ekstremitas Bawah

Postur Tubuh Baik Baik

Atrofi Otot (-) (-)

Tonus Otot Normal Normal

Gerak involunter (-) (-)

Kekuatan Otot (-) (-)


G. Refleks
Pemeriksaan Kanan Kiri
Refleks Fisiologis
Bisep + +
Trisep + +
Patella + +
Achiles + +

Pemeriksaan Kanan Kiri


Refleks Patologis
Tes range of movement nyeri nyeri
(ROM) - -
Laseque + +
-
Laseque menyilang - -
Tanda kerning + +
Ankle Jerk refleks - -
Knee Jerk Refleks - -

H. Gerakan Involunter
Kanan Kiri
Tremor - -
Chorea - -

I. Tes Sensorik (sentuhan) : dalam batas normal

J. Fungsi Autonom
Miksi : Baik

Defekasi : Baik
Sekresi keringat : Baik

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium

18 Maret 2019

Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal


Leukosit 10.33 ribu/μL 4.00-10.00
Eritrosit 5.12 juta/μL 4.00-6.00
Hemoglobin 14.2 gr/dL 12.0-16.0
Hematokrit 41.9 % 37.0-48.0
Trombosit 382 ribu/μL 150-400
MRI Thoracolumbal dengan Kontras potongan Axial dan sagital Tgl 30 September 2019
Hasil pemeriksaan MRI potongan axial reformat coronal dan 3D tanpa kontras:

- Alignment columna vertebra thoracolumbal intak


- Lesi pada endplateinferior Th11 dan endplate superior Th12 yang hipointens pada T1WI,
hiperintens T2WI, dan T2WI fatsat
- Lesi pada corpus vertebra L2 yang hiperintens pada T1WI,T2WI, dan T@WI fatsat
- Tidak tampak fraktur, destruksi, dan listhesis
- Tidak tampak lesi patologik pada medulla spinalis
- Tidak tamnpak tanda-tanda bulging, protrusion, maupun ekstrusio discus intervertebralis
- Edema facet joint pada level Th12-L1
- Intensitas discus intervertebralis kesan normal
- Lig.Flavum, lig.interspinosum, dan lig. Longitudinal anterior et posterior tidak menebal
- Conus medullaris berakhir pada level L2 dan menjadi fillum terminale
- Struktur paravertebra tidak tampak kelainan
- MR myelografi : tidak tampak stenosis canalis spinalis.

Kesan :
- Tidak tampak tanda-tanda bulging, protrusion maupun ekstrusio discus intervertebralis
- Lesi pada endplate inferior Th11 dan endplate superior Th12, sesuai modic tipe 1
- Lesi pada corpus vertebra L2, susp. Spinal Hemangioma
- Edema facet joint pada level Th12-L1
- MR myelografi : tidak tampak stenosis canalis spinalis.

V. RESUME

Pasien datang ke Poli RS.Pelamonia dengan keluhan nyeri pada tulang belakang dan menjalar
hingga ke kaki. Nyeri pinggang dirasakan seperti tersetrum dan menjalar hingga ke bokong dan
paha bawah. Pasien merasa kesakitan saat merubah posisi dari berbaring menjadi duduk. Pasien
memberikan nilai 7-8 untuk skala nyeri 1 hingga 10. Keluhan BAK dan BAB (-), demam (-),
kesemutan (-), baal (-), kelemahan anggota gerak (-), riwayat trauma (-). Karena keluhannya
dirasakan semakin berat dan mengganggu aktivitasnya sehari-hari, pasien berobat ke Poliklinik
Saraf RS TK.II Pelamonia.
VI. Diagnosis

Hernia Nukleus Pulposus L4-L5

VII. Penatalaksanaan:

1. Non medikamentosa
Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit dan pengobatan yang diberikan.

2. Medikamentosa
 Dari Spesialis Bedah Saraf
 IVFD NaCL 0.9% 1600 cc/24j/iv
 Inj.i Ceftriaxone 1 gr/12j/iv
 Inj.Ranitidin 1 amp/8j/iv
 Inj. Ketorolac 1 amp/8j/iv
 Operasi Epiduro Nefroplasty

IX. Prognosis

Ad vitam : Dubia ad bonam

Ad fungsionam : Dubia ad bonam

Ad Sanationam : Dubia ad bonam

Follow up 1 Oktober 2019

S O A P
Nyeri pada KU : sedang HNP IVFD Nacl 0,9 % 24tpm
punggung TD 120/70 mmHg, Nadi Inj. Ceftriaxon 1gr/12j/iv
menjalar 90x/menit, RR Inj.Ranitidin 1 amp/12j/iv
hingga kaki 24x/menit, S 36,6°C
Status Neurologis Rencana operasi hari ini
E4M6V5
Pupil bulat isokor, RCL
+/+, RCTL +/+
N. Kranialis
III, IV, dalam batas
normal.
VII dalam batas normal.
XII dalam batas normal.
Motorik, tidak ada
lateralisasi
RF +/+
RP -/-

Follow up 02 Oktober 2019

S O A P
Keluhan (-) KU : Baik HNP - Aff Infus
TD 100/60, Nadi - Boleh Rawat jalan
84x/menit, RR
22x/menit, S 36,7°C
Status Neurologis
E3M6V5
Pupil bulat isokor, RCL
+/+, RCTL +/+
N. Kranialis
III, IV, dalam batas
normal.
VII dalam batas normal.
XII dalam batas normal.
Motorik, tidak ada
lateralisasi
RF +/+
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

HNP Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah turunnya kandungan annulus fibrosus dari diskus
intervertebralis lumbal pada spinal canal atau rupture annulus fibrosus dengan tekanan dari
nucleus pulposus yang menyebabkan kompresi pada element saraf. Pada umumnya HNP pada
lumbal sering terjadi 3 pada L4-L5 dan L5-S1. Kompresi saraf pada level ini melibatkan root
nerve L4, L5, dan S1. Hal ini akan menyebabkan nyeri dari pantat dan menjalar ketungkai. Kebas
dan nyeri menjalar yang tajam merupakan hal yang sering dirasakan penderita HNP. Weakness
pada grup otot tertentu namun jarang terjadi pada banyak grup otot.3

2.2 Etiologi

Penyebab dari Hernia Nucleus Pulposus (HNP) biasanya dengan meningkatnya usia terjadi
perubahan degeneratif yang mengakibatkan kurang lentur dan tipisnya nucleus pulposus (Moore
dan Agur, 2013). Selain itu Hernia nucleus pulposus (HNP) kebanyakan juga disebabkan karena
adanya suatu trauma derajat sedang yang berulang mengenai discus intervertebralis sehingga
menimbulkan sobeknya annulus fibrosus. Pada kebanyakan pasien gejala trauma bersifat singkat,
dan gejala ini disebabkan oleh cidera pada diskus yang tidak terlihat selama beberapa bulan atau
bahkan dalam beberapa tahun.4

2.3 Patomekanisme

2.3.1 Proses Degenaratif

Diskus intervertebralis tersusun atas jaringan fibrokartilago yang berfungsi sebagai


shock absorber, menyebarkan gaya pada kolumna. vertebralis dan juga memungkinkan gerakan
antar vertebra. Kandungan air diskus berkurang dengan bertambahnya usia (dari 90% pada bayi
sampai menjadi 70% pada orang usia lanjut). Selain itu serabut-serabut menjadi kasar dan
mengalami hialinisasi yang ikut membantu terjadinya perubahan ke arah herniasi nukleus
pulposus melalui anulus dan menekan radiks saraf spinal. Pada umumnya hernia paling mungkin
terjadi pada bagian kolumna vertebralis dimana terjadi peralihan dari segmen yang lebih mobil
ke yang kurang mobil (perbatasan lumbosakral dan servikotolarak).4,5,6

2.3.2 Proses Traumatik

Dimulainya degenerasi diskus mempengaruhi mekanika sendi intervertebral, yang dapat


menyebabkan degenerasi lebih jauh. Selain degenerasi, gerakan repetitive, seperti fleksi,
ekstensi, lateral fleksi, rotasi, dan mengangkat beban dapat memberi tekanan abnormal pada
nukleus. Jika tekanan ini cukup besar sampai bisa melukai annulus, nucleus pulposus ini
berujung pada herniasi. Trauma akut dapat pula menyebabkan herniasi, seperti mengangkat
benda dengan cara yang salah dan jatuh.4,5 Hernia Nukleus Pulposus terbagi dalam 4 grade
berdasarkan keadaan herniasinya, dimana ekstrusi dan sequestrasi merupakan hernia yang
sesungguhnya, yaitu:3,4,5,7

1. Protrusi diskus intervertebralis : nukleus terlihat menonjol ke satu arah tanpa kerusakan
annulus fibrosus.

2. Prolaps diskus intervertebral : nukleus berpindah, tetapi masih dalam lingkaran anulus
fibrosus.

3. Extrusi diskus intervertebral : nukleus keluar dan anulus fibrosus dan berada di bawah
ligamentum, longitudinalis posterior.

4. Sequestrasi diskus intervertebral : nukleus telah menembus ligamentum longitudinalis


posterior.
Gambar 1. Grading HNP

Tabel 1 Klasifikasi Degenerasi diskus berdasarkan gambaran MRI

Nukleus pulposus yang mengalami herniasi ini dapat menekan nervus di dalam medulla
spinalis jika menembus dinding diskus (annulus fibrosus); hal ini dapat menyebabkan nyeri,
rasa tebal, rasa keram, atau kelemahan. Rasa nyeri dari herniasi ini dapat berupa nyeri
mekanik, yang berasal dari diskus dan ligamen; inflamasi, nyeri yang berasal dari nucleus
pulposus yang ekstrusi menembus annulus dan kontak dengan suplai darah; dan nyeri
neurogenik, yang berasal dari penekanan pada nervus.4,7

2.4 Tanda dan Gejala

Manifestasi klinis utama yang muncul adalah rasa nyeri d punggung bawah disertai otot-otot
sekitar lesi dan nyeri tekan. HNP terbagi atas HNP sentral dan lateral. HNP sentral akan
menimbulkan paraparesis flasid, parestesia dan retensi urine. Sedangkan HNP lateral
bermanifestasi pada rasa nyeri dan nyeri tekan yang terletak pada punggung bawah, di tengah-
tengah area bokong dan betis, belakang tumit, dan telapak kaki. Kekuatan ekstensi jari kelima
kaki berkurang dan reflex achiller negative. Pada HNP lateral L5-S1 rasa nyeri dan nyeri tekan
didapatkan di punggung bawah, bagian lateral pantat, tungkai bawah bagian lateral, dan di
dorsum pedis. Kelemahan m. gastrocnemius (plantar fleksi pergelangan kaki), m. ekstensor
halusis longus (ekstensi ibu jari kaki). Gangguan reflex Achilles, defisit sensorik pada malleolus
lateralis dan bagian lateral pedis.
2.5 Penegakan Diagnosis

2.5.1. Anamnesis

Anamnesis dapat ditanyakan hal yang berhubungan dengan nyerinya. Pertanyaan itu
berupa kapan nyeri terjadi, frekuensi, dan intervalnya; lokasi nyeri; kualitas dan sifat nyeri;
penjalaran nyeri; apa aktivitas yang memprovokasi nyeri; memperberat nyeri; dan
meringankan nyeri. Selain nyerinya, tanyakan pula pekerjaan, riwayat trauma.8

2.5.2 Pemeriksaan Neurologi

Untuk memastikan bahwa nyeri yang timbul termasuk dalam gangguan saraf. Meliputi
pemeriksaan sensoris, motorik, reflex.8

a. Pemeriksaan sensoris, pada pemeriksaan sensoris ini apakah ada gangguan sensoris,
dengan mengetahui dermatom mana yang terkena akan dapat diketahui radiks mana yang
terganggu.

b. Pemeriksaan motorik, apakah ada tanda paresis, atropi otot.

c. Pemeeriksaan reflex, bila ada penurunan atau refleks tendon menghilang, misal APR
menurun atau menghilang berarti menunjukkan segmen S1 terganggu.
Gambar 2. Level neurologis yang terganggua sesuai dengan hasil pemeriksaan fisik.

Adapun tes yang dapat dilakukan untuk diagnosis HNP adalah:3,4,5,7

1. Pemeriksaan range of movement (ROM)


Pemeriksaan ini dapat dilakukan secara aktif oleh penderita sendiri maupun secara pasif
oleh pemeriksa. Pemeriksaan ROM ini memperkirakan derajat nyeri, function laesa, atau
untuk memeriksa ada/ tidaknya penyebaran rasa nyeri.3,4,7

2. Straight Leg Raise (Laseque) Test


Tes untuk mengetaui adanya jebakan nervus ischiadicus. Pasien tidur dalam posisi
supinasi dan pemeriksa memfleksikan panggul secara pasif, dengan lutut dari tungkai
terekstensi maksimal. Tes ini positif bila timbul rasa nyeri pada saat mengangkat kaki
dengan lurus, menandakan ada kompresi dari akar saraf lumbar.
3. Lasegue Menyilang

Caranya sama dengan percobaan lasegue, tetapi disini secara otomatis timbul pula rasa
nyeri ditungkai yang tidak diangkat. Hal ini menunjukkan bahwa radiks yang
kontralateral juga turut tersangkut.3,4,7

4. Tanda Kerning
Pada pemeriksaan ini penderita yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada
persendian panggung sampai membuat sudut 90 derajat. Selain itu tungkai bawah
diekstensikan pada persendian lutut. Biasanya kita dapat melakukan ekstensi ini sampai
sudut 135 derajat, antara tungkai bawah dan tungkai atas, bila terdapat tahanan dan rasa
nyeri sebelum tercapai sudut ini, maka dikatakan tanda kerning positif. 3,4,7

5. Ankle Jerk Reflex


Dilakukan pengetukan pada tendon Achilles. Jika tidak terjadi dorsofleksi pada kaki, hal
ini mengindikasikan adanya jebakan nervus di tingkat kolumna vertebra L5-S1. 3,4

6. Knee-Jerk Reflex
Dilakukan pengetukan pada tendon lutut. Jika tidak terjadi ekstensi pada lutut, hal ini
mengindikasikan adanya jebakan nervus di tingkat kolumna vertebra L2-L3-L4. 3,4,7

2.6. Diagnosis Penunjang


2.6.1. X-Ray
X-Ray tidak dapat menggambarkan struktur jaringan lunak secara akurat. Nucleus
pulposus tidak dapat ditangkap di X-Ray dan tidak dapat mengkonfirmasikan herniasi
diskus maupun jebakan akar saraf. Namun, X-Ray dapat memperlihatkan kelainan pada
diskus dengan gambaran penyempitan celah atau perubahan alignment dari vertebra.

2.6.2 Mylogram
Pada myelogram dilakukan injeksi kontras bersifat radio-opaque dalam columna
spinalis. Kontras masuk dalam columna spinalis sehingga pada X-ray dapat nampak
adanya penyumbatan atau hambatan kanalis spinalis
2.6.3. MR
Merupakan gold standard diagnosis HNP karena dapat melihat struktur columna
vertebra dengan jelas dan mengidentifikasi letak herniasi

2.6.4. Elektromyografi
Untuk melihat konduksi dari nervus, dilakukan untuk mengidentifikasi kerusakan
nervus

2.7 Penatalaksanaan
2.7.1. Terapi Konservatif, terdiri atas:5,9
a. Terapi Non Farmakologis
 Terapi fisik pasif
Terapi fisik pasif biasanya digunakan untuk mengurangi nyeri punggung bawah akut,
misalnya:
 Kompres hangat/dingin
Kompres hangat/dingin ini merupakan modalitas yang mudah dilakukan.
Untuk mengurangi spasme otot dan inflamasi. Beberapa pasien merasakan
nyeri hilang pada pengkompresan hangat, sedangkan yang lain pada
pengkompresan dingin.
 Iontophoresis
Merupakan metode pemberian steroid melalui kulit. Steroid tersebut
menimbulkan efek anti inflamasi pada daerah yang menyebabkan nyeri.
Modalitas ini terutama efektif dalam mengurangi serangan nyeri akut.
 Unit TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulator)
Sebuah unit transcutaneous electrical nerve stimulator (TENS) menggunakan
stimulasi listrik untuk mengurangi sensasi nyeri punggung bawah dengan
mengganggu impuls nyeri yang dikirimkan ke otak.
 Ultrasound
Ultrasound merupakan suatu bentuk penghangatan di lapisan dalam dengan
menggunakan gelombang suara pada kulit yang menembus sampai jaringan
lunak dibawahnya. Ultrasound terutama berguna dalam menghilangkan
serangan nyeri akut dan dapat mendorong terjadinya penyembuhan jaringan.

 Latihan dan modifikasi gaya hidup


Berat badan yang berlebihan harus diturunkan karena akan memperberat tekanan ke
punggung bawah. Program diet dan latihan penting untuk mengurangi NPB pada
pasein yang mempunyai berat badan berlebihan. Direkomendasikan untuk memulai
latihan ringan tanpa stres secepat 20 mungkin. Endurance exercisi latihan aerobit
yang memberi stres minimal pada punggung seperti jalan, naik sepeda atau berenang
dimulai pada minggu kedua setelah awaitan NPB. Conditional execise yang
bertujuan memperkuat otot punggung dimulai sesudah dua minggu karena bila
dimulai pada awal mungkin akan memperberat keluhan pasien. Latihan memperkuat
otot punggung dengan memakai alat tidak terbukti lebih efektif daripada latihan
tanpa alat.

 Terapi Farmakologis
 Analgetik dan NSAID ( Non Steroid Anti Inflamation Drug) obat ini
diberikan dengan tujuan untuk mengurangi nyeri dan inflamasi sehingga
mempercepat kesembuhan. Contoh analgetik : paracetamol, Aspirin
Tramadol. NSAID : Ibuprofen, Natrium diklofenak, Etodolak, Selekoksib.
 Obat pelemas otot (muscle relaxant) bermanfaat bila penyebab NPB adalah
spasme otot. Efek terapinya tidak sekuat NSAID, seringkali di kombinasi
denganNSAID. Sekitar 30% memberikan efek samping mengantuk. Contoh
Tinazidin, Esperidone dan Carisoprodol.
 Opioid Obat ini terbukti tidak lebih efektif daripada analgetik biasa yang jauh
lebih aman. Pemakaian jangka panjang bisa menimbulkan toleransi dan
ketergantungan obat.
 Kortikosteroid oral Pemakaian kortikosteroid oral masih kontroversi.
Dipakai pada kasus HNP yang berat dan mengurangi inflamasi jaringan.
 Anelgetik ajuvan Terutama dipakai pada HNP kronis karena ada anggapan
mekanisme nyeri pada HNP sesuai dengan neuropatik. Contohnya :
amitriptilin, Karbamasepin, Gabapentin.
 Suntikan pada titik picu Cara pengobatan ini dengan memberikan suntikan
campuran anastesi lokal dan kortikosteroid ke dalam jaringan lunak/otot pada
titik picu disekitar tulang punggung. Cara ini masih kontroversi. Obat yang
dipakai antara lain lidokain, lignokain, deksametason, metilprednisolon dan
triamsinolon.

 Terapi operatif pada pasien dilakukan jika:


 Pasien mengalami HNP grade 3 atau 4.
 Tidak ada perbaikan lebih baik, masih ada gejala nyeri yang tersisa, atau ada
gangguan fungsional setelah terapi konservatif diberikan selama 6 sampai 12
minggu.
 Terjadinya rekurensi yang sering dari gejala yang dialami pasien
menyebabkan keterbatasan fungsional kepada pasien, meskipun terapi
konservatif yang diberikan tiap terjadinya rekurensi dapat menurunkan gejala
dan memperbaiki fungsi dari pasien.
 Terapi yang diberikan kurang terarah dan berjalan dalam waktu lama. Pilihan
terapi operatif yang dapat diberikan adalah:
 Distectomy Pengambilan sebagian diskus intervertabralis.
 Percutaneous distectomy Pengambilan sebagian diskus intervertabralis
dengan menggunakan jarum secara aspirasi.
 Laminotomy/laminectomy/foraminotomy/facetectomy. Melakukan
dekompresi neuronal dengan mengambil beberapa bagian dari
vertebra baik parsial maupun total.
 Spinal fusion dan sacroiliac joint fusion: Penggunaan graft pada
vertebra sehingga terbentuk koneksi yang rigid diantara vertebra
sehingga terjadi stabilitas.
2.8 Pencegahan
Hernia nukleus pulposus dapat dicegah terutama dalam aktivitas fisik dan pola hidup.
Hal-hal berikut ini dapat mengurangi risiko terjadinya HNP:5
a. Olahraga secara teratur untuk mempertahankan kemampuan otot, seperti berlari dan
berenang.
b. Hindari mengangkat barang yang berat, edukasi cara mengangkat yang benar.
c. Tidur di tempat yang datar dan keras.
d. Hindari olahraga/kegiatan yang dapat menimbulkan trauma e. Kurangi berat badan.
BAB III
KESIMPULAN

Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah suatu penyakit, dimana bantalan lunak
diantara ruas-ruas tulang belakang (soft gel disc atau Nukleus Pulposus) mengalami
tekanan dan pecah, sehingga terjadi penyempitan dan terjepitnya urat-urat saraf yang
melalui tulang belakang kita. Saraf terjepit lainnya di sebabkan oleh keluarnya
nukleus pulposus dari diskus melalui robekan annulus fibrosus keluar menekan
medullas pinalis atau mengarah ke dorsolateral menekan saraf spinalis sehingga
menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Hernia Nukelus Pulposus(HNP) merupakan
suatu gangguan yang melibatkan ruptur annulus fibrosus sehingga nucleus pulposis
menonjol (bulging) dan menekan kearah kanalis spinalis. Pada penelitian HNP paling
sering dijumpai pada tingkat L4-L5; titik tumpuan tubuh di L4-L5-S1.
DAFTAR PUSTAKA

1. Pinzon, Rizaldy. Profil Klinis Pasien Nyeri Punggung Akibat Hernia Nukelus Pulposus. Vol
39. SMF Saraf RS Bethesda Yogyakarta. Indonesia. 2012. Hal 749-751.
2. Kumala, poppy. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta. Edisi Bahasa Indonesia. 1998. hal
505
3. Company Saunder. B. W. Classification, diagnostic imaging, and imaging characterization of a
lumbar. Volume 38. 2000
4. Autio Reijo. MRI Of Herniated Nucleus Pulposus. Acta Universitatis Ouluensis D Medica.
2006. Hal 1-31
5. Meli Lucas, Suryami antradi. Nyeri Punggung. Use Neurontin. 2003. Hal 133-148 6. Sylvia A.
Price. Lorraine M. Wilson. Patofisiologi Konsep-konsep prose penyakit. Jakarta : 1995. EGC.
Hal 1023-1026.
7. Rasad, Sjahriar. Radiologi Doagnostik. Jakarta. Balai Penerbit FK Universitas Indonesia.
Jakarta.2005. Hal 337
8. S.M Lumbantobing. Neurologi Klinik. Badan Penerbit FK UI. Jakarta Badan Penerbit FK UI.
Hal 18-19
9. Rahim H. A., Priharto K. Terapi Konservatif untuk Low Back Pain. [online]. [cited Jan 12].
Available from http://www.jamsostek.co.id. Hal 1-15
10.Pfirman CWA, Hodler J, Zanetti M, Boos N. magnetic Resonance Classification of Lumbar
Invertebral Disc Degeneration. Spine Journal. 2001. DOI:10.1097/00007632-200109010-
00011.
11.Gregory DS, Seto CK, Wortley GC, Shugart CM. Acute Lumbar Disk Pain : Navigating
Evaluation and Treatment Choices. American Family Physician:2008:78(7).
12.The Bone and Joint Decade Task Force on Neck Pain. Neck Pain Evidence Summary.