Anda di halaman 1dari 12

TUGAS FILSAFAT PANCASILA

ANALISIS KASUS YANG TERJADI DALAM KEHDUPAN SEHARI-HARI DI


INDONESIA

Disusun oleh:
Nama: Salwa Muhamad
NIM: 21418008

Program Studi Sastra Inggris


Fakultas Sastra
Universitas Widya Mandala Madiun
2018
Abstrak

Pembunuhan merupakan suatu kejahatan yang sangat tidak manusiawi karena sudah
melanggar HAM (hak asasi manusia). Dan sebagai manusia, seharusnya kita saling
menghargai, menghormati, dan saling toleransi sebagai mahkluk ciptaan Tuhan. Seiring
dengan perkembangan zaman kita melihat banyak sekali pelanggaran yang dilakukan di
lingkungan masyarakat sekitar kita. Tapi semakin Indonesia menuju Indonesia yang dewasa
ini semakin maraknya terjadi kasus pembunuhan yang terjadi. Pelanggaran ini di lakukan
tidak hanya oleh orang dewasa saja melainkan anak dibawah umur juga ikut melakukan
pelanggaran ini. Pembunuhan merupakan pelanggaran yang melanggar etika moral pancasila
dan nilai demokrasi gotong-royong

Tindak pidana pembunuhan yang dilakukan secara disengaja maupun tidak disengaja, harus
di tindak lanjuti di ranah hukum sebagaimana hukum yang berlaku di Indonesia. Dan kasus
pembunuhan terbagi menjadi dua macm yaitu pembunuhna terencana dan tidak terencana.
Kasus pembunuhan terencana merupakan kasus pembunuhan yang sudah di rencanakan dan
sudah dipikirkan secara matang oleh si pelaku baik secara matang dan benar-siap dilakukan
atau dilaksanakan., sedangkan pembunuhan secara tidak terencana adalah pembunuhan yang
dilakukan atas dasar unsur ketidak sengajaan atau untuk melindungi diri dari ancaman yang
membahayakan nyawa.

Sudah banyak sanksi untuk para pelaku pembunuhan di Indonesia baik dalam bentuk tertulis
maupun tidak tertulis, tetapi masih maraknya kasus pembunuhan dikarenakan kurangnya
kesadaran para pelaku pembunuhan ini terhadap nilai-nilai luhur Pancasila, sehingga inilah
yang membuat para pelaku bertidak seenaknya.

(Key words: pembunuhan, pancasila, toleransi)


A. Seorang Petani Bunuh Istrinya yang Menuntut Hidup Mewah

Sumber:
https://regional.kompas.com/read/2018/11/30/19373921/seorang-petani-bunuh-istrinya-yang-
menuntut-hidup-mewah

KEBUMEN, KOMPAS.com- DR (38) pria asal Dukuh Tugusari, Desa Bonorowo,


Kebumen, Jawa Tengah berkali-kali menyapu air mata saat mengenang mendiang Eni
Hermawati (27), istri tercinta yang tewas di tangannya sendiri. Batin DR semakin sesak
tatkala dia harus mereka ulang adegan aksi pembunuhan di rumahnya sendiri, Kamis
(29/11/2018) pagi. "Reka ulang ini untuk melengkapi berkas penyidikan. Dari reka ulang ini
kami bisa mengetahui gambaran bagaimana tersangka melakukan penganiayaan kepada
istrinya," kata Kasat Reskrim Polres Kebumen AKP Aji Darmawanasat. Aji menjelaskan,
tragedi berdarah tersebut terjadi pada Kamis (15/11/2018) dini hari. Motif yang
melatarbelakangi aksi penganiayaan berujung maut ini adalah percekcokan keluarga.

Kronologi bermula saat tersangka memasuki rumah sepulang dari kegiatan ronda malam.
Selanjutnya, tersangka berbaring di samping istrinya di depan televisi, namun posisinya
saling membelakangi karena sedang tidak harmonis. “Saat berbaring tersangka merasa
tersinggung karena istrinya (korban) berkali-kali meludah ke tembok. Tersangka menegur
korban karena dianggap tidak sopan,” ujar Aji. Selanjutnya tersangka keluar untuk buang air
besar. Namun setelah kembali dari kamar kecil, tersangka justru memasuki gudang dan
mengambil sebilah sabit yang biasa digunakan untuk merumput. “Setelah menemukan sabit,
tersangka menghampiri istrinya yang masih tiduran dan menyabetkannya ke tubuh sang istri,”
jelasnya. Pada posisi ini, sang istri tak berdaya. Sementara sang suami yang kalap semakin
menjadi. Dia menganiaya Eni hingga tewas di tempat. Mengetahui korban sudah tak
bergerak, tersangka lalu kembali pergi ke gudang dan menemukan obat pembasmi serangga
Lenit. Tersangka pun berusaha mengakhiri hidupnya dengan menenggak obat serangga itu.
Namun upayanya untuk bunuh diri gagal setelah tim dokter dari RSUD Prembun berhasil
mengatasi keracunannya tersebut. Istri menuntut lebih Saat gelar perkara, Senin
(26/11/2018), Kapolres Kebumen Ajun Komisaris Besar Arief Bahtiar mengungkapkan,
tersangka DR tega menganiaya Eni Hermawati hingga tewas karena sakit hati yang
menumpuk. Sang istri yang baru dinikahinya April 2018 lalu itu menuntut lebih kepada
tersangka yang sehari-hari bekerja sebagai petani. “Istri ingin gaul pergi ke salon dan
mempunyai barang mewah. Selanjutnya suami merasa sakit hati kepada istrinya yang sudah
disimpan lama," katanya. Tersangka menganggap korban tidak menghargai pekerjaan dan
penghasilan sebagai petani. Bahkan, saat malam kejadian, keduanya terlibat percekcokan
hebat. “Korban tidur membelakangi suami. Keterangan tersangka DR, korban beberapa kali
meludah ke tembok dan ditegur oleh tersangka,” ungkapnya.

Tersangka menegur korban agar sopan saat meludah. Namun korban malah menjawab,
"Umah urung dicat, urung dikeramik beh ora ulih diidoni. Apa maning nek wis dicat,
dikramik. (Rumah belum dicat, belum dikeramik saja tidak boleh diludahi. Apalagi kalau
sudah dicat sama dikeramik)," katanya menirukan tersangka. Perkataan korban membuat
tersangka marah dan gelap mata. Tepat pukul 02.30 WIB, tersangka mengambil sabit yang
ada di gudang rumahnya hingga akhirnya terjadilah tragedi berdarah tersebut. Untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya, polisi menjerat tersangka dengan Pasal 338 KUHP
subs Pasal 44 ayat (3) UU RI No. 23 Th 2004 tentang KDRT ancaman 15 tahun penjara. Saat
rekonstruksi, tersangka berulang kali mengucapkan kata-kata penyesalan. Bahkan ia
mengungkapkan jika ia sangat mencintai istrinya. Setelah berakhirnya rekonstruksi, tersangka
menghambur ke arah ayahnya dan bersujud serta menangis di kakinya. Reka ulang menyita
perhatian warga sekitar yang ikut menyaksikan dari balik garis polisi. Warga sekitar tidak
pernah menyangka tersangka yang dikenal pendiam tersebut tega melakukan aksi keji tanpa
belas kasih.

B. TEORI PANCASILA

1. PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT


Pancasila adalah filsafat Negara yang lahir sebagai ideology kolektif (cita-cita bersama)
seluruh bangsa Indonesia. Pancasila dikatankan sebagai filsafat karena merupakan hasil
perenungan jiwa yang mendalam yang dilaukan oleh para pendahulu kita, yang kemudian
dituangkan dalma suatu system yang tepat. Notonagoro berpendapat bahwa filsafat pancasila
ini memberikan pengetahan dan pengertian ilmiah yaitu tentang hakikat pancasila. Jika
pancasila mau dipertanggung jawab kan secara sahih, logis, koheren, dan sistematis, di
dalamnya harus memuat kaidah-kaidah filosofis. Pancasila harus memuat juga dimensi
metafisis (ontologis), epitemologis, dan aksiologi.

Jika ditilik dari soal tempat, filsafat pancasila merupakan bagian dari Filsafat Timur (karena
Indonesia kerap digolongkan sebagai Negara yang ada di belahan bagian Timur).
Sebenarnya, ada banyak nilai ketimuran yang termuat dalam Pancasila, misalnya soal
pengakuan akan adanya Tuhan, kerakyatan, keadilan yang diidentikan dengan paham
mengenai ‘ratu adil’ dan seterusnya. Pancasila juga memuat paham-paham Barat, seperti :
Kemanusiaan, demokrasi, dan seterusnya. Sebagai sistem filsafat,

Pertama, secara onotologis, kajian Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai upaya
untuk mengetahui hakikat dasar sila-sila Pancasila. Menurut Notonarogo, hakikat dasar
ontologies Pancasila adalah manusia, karena manusia ini yang merupakan subjek hukum
pokok sila-sila Pancasila. Pancasila sebagai dasar filsafat Negara Republik Indonesia
memiliki susunan lima sila yang merupakan suatu persatuan dan kesatuan serta mempunyai
sifat dasar kesatuan yang mutlak, yang berupa sifat kodrat monodualis yaitu sebagai
makhluk individu sekaligus juga sebagai makhul social, serta kedudukannya sebagai makhlik
tuhan. Konsekuensinya, pancasila dijadikan dasar Negara diliputi oleh nilai-nilai Pancasila
yang merupakan kodrat manusia monodualis tersebut.

Kedua, kajian epistemologi Filsafat Pancasila dimaksudkan sebagi upaya untuk mencari
hakikat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan. Hal ini dimungkinkan adanya karena
epsitemologi merupakan bidang filsafat yang membahas hakikat ilmu pengetahuan (ilmu
tentang ilmu). Kajian epistemologi Pancasila ini tidak bisa dipisahkan degan dasar
onotologisnya. Oleh karena itu, dasar epitemologi Pancasila sangat berkaitan dengan konsep
dasarnya hakikat tentang manusia. Sebagai suatu paham epistemology, Pancasila medasarkan
pandanganya bahwa ilmu pengetahuan pada hakikatnya tidak bebas nilai karena harus
diletakan pada kerangka moralitas kodrat manusia serta moralitas religious dalam upaya
untuk mendapatkan suatu tingkatan pengetahuan dalam kehidupan manusia, oleh karena itu,
Pancasila secara epistemologis harus menjadi dasar moralitas bangsa dalam membangun
perkembangan sains dan teknologi pada saat ini.

Ketiga, kajian aksiologi Filsafat Pancasila pada hakikatnya membahas nilai praksis atau
manfaat suatu pengetahuan mengenai Pancasila. Hal ini disebabkan karena sila-sila Pancasila
sebagai suatu sistem filsafat memiliki sutu kesatuan dasar aksiologi, nilai-nilai dasar yang
terkandung di dalam Pancasila pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan yang utuh.
Aksiologi Pancasila ini mengandung arti bahwa kita membahas filsafat nilai Pancasila.
Secara aksiologi, bangasa Indonesia pendukung nilai-nilai Pancasila. Sebagai pendukung
nilai, bangsa Indonesia itulah yang mengakui, menghargai, menerima Pancasila sebagai
sesuatu yang bernilai. Pengakuan, penerimaan, dan penghargaan Pancasila sebagai sesuatu
yang bernilai itu akan tampak menggejala dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan bangsa
Indonesia.

Pancasila sebegai filsafat bangsa dan Negara Republik Indonesia mengandung makna bahwa
setiap aspek kehidupan kebangsaan, kenegaraan dan kemasyarakatan harus didasarkan pada
nila-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kenyataan, dan yang terakhir keadilan.
Pemikiran filsafat kenegaraan ini betolak dari pandangan bahwa Negara merupakan suatu
persekutuan hidup manusia atau organisasi kemasyrakatan, dimana merupakan masyrakat
hukum.

“Dalam Pancasila sebagai filsafat hidup (Weltanschauung): Perikemanusiaan diambil dalam


arti yang seluas-luasnya, sedang sebagai dasar Negara Perikemanusiaan terutama berarti
internasionalisme. Dalam Pancasila sebagai filsafat hidup (Weltanschauung): Keadilan Sosial
diambil dalam arti yang seluas-luasnya, harus dilakukan dalam semua kerja sama manusia,
sedang sebagi dasar Negara mempunyai arti yang khusus, yaitu Keadilan Sosial seperti yang
harus dijelmakan oleh Negara. Demikian juga demokrasi dalam filsafat hidup
(Weltanschauung) berarti tiap-tiap kesatuan-karya harus melaksanakan Demokrasi,
sedangkan sebagai dasar Negara Demokrasi mempunyai arti yang tertentu pula, yaitu cara
menegara. Juga Kebangsaan, dalam rumusan filsafat dan dalam undang-undang Negara
artinya tidak tepat sama. Dalam filsafat hidup kebangsaan dinyatakan bahwa manusia itu
dilahirkan dan dicap oleh tanha airnya (bangsanya), dan bahwa dalam membentuk kesatuan-
karya. Dalam undang-undang Negara, bangsaan mempunyai arti yang khusus, yaitu kesatuan
yang sudah ada, yang kita sebut bangsa, itu harus menjadi landasan menegara. Demikian juga
halnya dengan sila Ketuhanan”
(Driyarkara 2006:859-860).

Gotong royong menggarambarkan secara filsuf manusia dan bangsa Indonesia. Gotong
royong mengandaikan pengakuan akan yang lain (manusia dan Tuhan), kebersamaan, kerja
sama demi keadilan, dan musyawarah. Driyarkara kemudianmenguraikan manusia dan
bangsa Indonesia yang bergotong royong ini menjadi lengkap secara ontologies,
epistemologis, dan aksiologis.

“Sebagai dalil filsafat, Pancasila dapat dijelaskan sebagi berikut:


1. Aku manusia mengakui bahwa adaku itu merupakan ada bersama-dengan-cinta-
kasih, yang disebut perikemanusiaan.
2. Perikemanusiaan itu harus kujalani bersama-sama menciptakan, dan
mengguankan barang dunia demi keadilan sosial.
3. Perikemanusiaan harus kulaksanakan juga dalam masyarakat. Aku manusia
niscaya memasyarakat …, dan berdemokrasi.
4. Perikemanusiaan harus juga kulaksanakan dalam hubunganku dengan kesatuan
…. Kesatuan yang besar itu, tempat aku pertama harus melaksanakan
perikemanusaan, disebut dengan Kebangsaan.
5. Aku mengakui bahwa adaku itu bersama, serba terhubung, serba tersokong, serba
terganung. Jadi adaku tidak sempurna, tidak atas kekuatan sendiri. Jadi adaku
bukanlah sumber dari adaku … melainkan kepada Yang Mutlak, sang Maha-ada
…. Itulah Tuhan Yang Maha Esa”
(Driyarkara 2006:856-857).

Analisis filsuf menunjukan bahwa gotong royong adalah filosofi hidup yang mengakar lama
dalam budaya Indonesia, dan kemudian diusulkan menjadi dasar Negara. Bangsa kita dahulu
memang belum berfilsafat secara sistematis, akan tetapi nilai-nilai filsuf yang berkembang
sejak dulu kala kemudian disistematisasi oleh soekarno, dan kemudian diringkasnya menjadi
gotong royong.

Formulasi formal dari Pancasila (atau bisa disebut sebagai Pancasila formal) itu mempunyai
akar yang dalam pada kegotongroyongan masyarakat Indonesia. Akar inilah yang kemudian
disebut Pancasila material oleh Notonagoro. Pancasila formal tak lain adalah cetusan rasional
(lewat penggalian bertahun-tahun) dari Pancasila material yang hidup dan berkembang dalam
sejarah, peradaban agam, hidup ketatanegaraan, lembaga sisial, dan lain sebagainya yang
bercirikan semangat gotong royong.

C. RELEFANSI NIALI-NILAI PANCASILA DAN KAITANNYA DENGAN KASUS


YANG TERJADI

Ditinjau dari sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, kasus ini termasik melanggar sila
pertama yang dimana dijelaskan bahwa Negara Indonesia adalah rakyak yang beragama.
membunuh sama dengan megambil nyawa seserorang dengan sengaja maupu tidak, dalam
kasus ini seorang pembunuh telah melanggara nilai-nilai agama. Agama manapun tidak
memperbolehkan umatnya melakukan pembunuhan. Manusia diciptakan Tuhan saling
menjaga, mengasihi daan saling menyayangi satu sama lain. Di setiap agama tentunya
mengajarkan nilai-nilai kebaikan.
Dari kasus ini sungguh menjadi suatu keprihatinan bagi Bangsa Indonesia dimana semakin
maraknya kejahatan menjadi-jadi setiap tahunnya yang dipengaruhi oleh perkembangnya
teknologi dan pengaruh ekonomi. Di setiap tahunnya pengganguran semakin meningkat,
lapangan perkerjaan yang tidak sebanding dengan tenaga kerja yang dibutuhkan ini juga
suatu hal yang mempengaruhi semakin meningkatnya kriminalitas di Indonesia termasuk
kasus pembunuhan ini. Banyak hal yang mempengaruhi pelaku melakukan hal ini faktor
ekonomi atau faktor lainnya sehingga pelaku dengan teganya melakukan hal yang tidak
berprikemanusiaa dan seperti bukan umat bergama. Seharusnya umat beragama saling
menghargai satu sama lain, mengasihi serta menebarkan kebaikan kepada sesama sesuai
Pancasila sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” bukan saling membunuh dan mengambil
nyawa orang lain yang dilarang oleh agama manapun.

Ditinjau dari sila kedua, kemausiaan yang adil dan beradab, Kasus ini juga termasuk
pelanggaran sila kedua, dimana dalam sila kedua ini menjelaskan bahwa sebagai rakyat
Indonesia sebaiknya memperlakukan setiap manusia secara adil dan beradab dengan cara
saling mengasihi sesama manusia, mengembangkan sikap rasa toleransi, tidak semena-mena
terhadap orang lain dan menjujung tinggi nilai kemanusiaan. Dari sila kedua ini juga
menjelaskan kita sebagai manusia seharusnya saling mengasihi sesama manusia dan
memperlakukan manusia sewajarnya. Dalam kasus ini Sungguh tidak mencerminkan sebagai
rakyat Indonesia yang menjujung Pancasila sebagai pedoman Bangsa Indonesia yang disusun
dengan proses yang begitu panjang.

Kasus pembunuhan ini sangat melanggar niali pancasila yang pertama dan kedua. Sungguh
ini tidak mencerminkan sebagai rakyat Indonesia yang “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan
“Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dimana dengan kejam dan ganasnya pelaku
merenggut milik orang lain dengan cara yang tidak wajar serta membunuh para korban
dengan cara yang sangat-sangat tidak berprikemanusiaan. Sesama rakyat Indonesia
seharusnya mencerminkan Pancasila itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari dengan cara
saling menghargai, memiliki sikap toleransi di tengah keberagaman Indonesia, bukan dengan
cara mengambil hak milik orang lain, membunuh, melakukan tindakan kekerasan yang tidak
sewajarnya dilakukan oleh rakyat Indonesia yang berdasar kepada Pancasila. Seharusnya
sesama rakyat Indonesia saling menjaga satu dengan lainnya karena Pancasila adalah
pedoman kehidupan Bangsa dan dasar Negara Indonesia. Rakyat Indonesia seharusnya
memiliki kesadaran sikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moral serta norma yang
ada yang berlandaskan Pancasila dan memperlakukan sesuatu hal sebagaiman mestinya.
Dalam Filsafat Pancasila “Sebagai bangsa dan negara Republik Indonesia mengandung
makna bahwa setiap aspek kehidupan kebangsaan, kenegaraan dan kemasyarakatan harus
didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan yang terakhir
keadilan”. Dari kasus Perampokan dan pembunuhan di Pulomas Jakarta Timur pelaku
melanggar nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan.

Dalam kasus ini, polisi menjerat tersangka dengan Pasal 338 KUHP subs Pasal 44 ayat (3)
UU RI No. 23 Th 2004 tentang KDRT ancaman 15 tahun penjara.

Dari kasus ini menjadi pembelajaran bagi Bangsa Indonesia untuk bersama-sama menjujung
tinggi Pancasila sebab Pancasila adalah pedoman kehidupan Bangsa Indonesia. Masyarakat
Indonesia juga harus bersama-sama menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, melakukan
kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan berani membela kebenaran serta keadilan.

Rakyat Indonesia harusnya menerapkan pedoman ini dalam kehidupan seahari-hari. Memiliki
kesadaran untuk bersama membangun Indonesia menjadi lebih baik dan memberantas
tindakan-tindakan yang melanggar hukum dan Pancasila. Agar peristiwa-peristiwa seperti ini
tidak terjadi lagi di Indonesia. Indonesia dapat menjadi Negara yang sadar hukum bagi
rakyatnya dan ini bukan perkerjaan pemerintah atau siapapun ini adalah tugas kita semua
sebagai rakyat Indonesia agar Indonesia dapat menjadi Negara yang adil, damai dan
sejahtera.

D. KESIMPULAN

Dari keterkaitan kasusu yang saya analisis, saya menarik kesimpulan bahwa masih
maraknya kasus pembunuhan karna masih kurangnya kesadaran masyarakat akan
nilai-nilai pancasila. Jika warga Indonesia sudah memiliki kesadaran yang tinggi akan
nila-nilai Pancasila tentunya tidak akan ada terjadi kasus-kasus yang seperti di bahas
dalam paper ini. Karena dari keterkaitan teori yang saya ambil yaitu terkait dalam
nilai-nilai sila pertama dan kedua kasus ini menunjukan pelanggaran akan sila-sila
tersebut, karena tidak termuat dalam nilai-nilai sila tersebut yang mengizinkan kita
untuk membunuh atau mencabut nyawa orang lain.
Terkait kasus pembunuhan ini perlindungan akan HAM seharusnya lebih di
perhatikan oleh pemerintah, seiring sering terjadinya kasus yang sama dan dengan
ditingkatkannya kesadaran akan HAM tetntunya manusia akan lebih menghargai
sesamanya dan tidak akan terjadi kasus pembunuhan lagi.
Dalam kasus ini dikarenakan para pelaku sering diberikan keringanan hukuman
sehingga kasus seperti ini masih sering terjadi di Negara kita.

REFERENSI

https://regional.kompas.com/read/2018/11/30/19373921/seorang-petani-bunuh-
istrinya-yang-menuntut-hidup-mewah

Dewantara, Agustinus W. 2017. Diskursus Filsafat Pancasila Dewasa Ini.


Yogyakarta: PT. Kanisius.

Dewantara, A. (2017). Alangkah Hebatnya Negara Gotong Royong (Indonesia


dalam Kacamata Soekarno).

Dewantara, A. (2017). Diskursus Filsafat Pancasila Dewasa Ini.

Dewantara, A. (2017). Filsafat Moral (Pergumulan Etis Keseharian Hidup


Manusia).

Dewantara, A. W. (2015). PANCASILA SEBAGAI PONDASI PENDIDIKAN


AGAMA DI INDONESIA. CIVIS, 5(1/Januari).

Dewantara, A. (2012). Belajar sebagai Aktivitas Remaja Mempersiapkan Masa


Depan.

Dewantara, A. W. (2013). Merefleksikan Hubungan antara Etika Aristotelian dan


Bisnis dengan Studi Kasus Lumpur Lapindo. Arete, 2(1), 23-40.
Dewantara, A. (2014). Filosofi Pendidikan Katolik dalam Perspektif Filsafat
Aristotelian.

Dewantara, A. (2017). Kerasulan Awam di Bidang Politik (Sosial


Kemasyarakatan) dan Relevansinya bagi Multikulturalisme Indonesia.

Dewantara, A. (2015). Filosofi Pendidikan yang Integral dan Humanis dalam


Perspektif Mangunwijaya.