Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN AUDIT HAKEKAT DAN KEBUTUHAN AKAN LAPORAN AUDIT, BAGIAN

DARI STANDAR LAPORANAUDIT, KONDISI LAPORAN WAJAR TAMPA


PENGECUALIAN, TIPE – TIPE LAPORAN AUDIT, KONDISI YANG MENYEBABKAN
PENYIMPANGAN, MATERIALITAS MEMPENGARUI LAPORAN AUDIT

KELOMPOK 2

AUDIT & ASSURANCE

Oleh :

1. Wilda Sofia Rini 12030119210001


2. Regita Mitha Dewi 12030119210008

PROGRAM STUDI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2019
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian laporan Audit

B. Hakekat dan Kebutuhan akan Laporan Audit

C. Bagian- bagian Dari Standar LaporanAudit

D. Kondisi Laporan Wajar Tampa Pengecualian

E. Tipe – tipe Laporan Audit

G. Kondisi Yang Menyebabkan Penyimpangan

F. Materialitas mempengaruh ilaporan audit

BAB III PENUTUP


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sebelum mempelajari prosedur audit secara mendalam,perlu difahami lebih dahulu isi
laporan audit, agar dapat diikuti kemana auditingdiarahkan. Isi laporan audit diarahkan. Isi
laporan baku terkait pada format yang telah ditetapkan oleh ikatan Akuntasi Indonesia
(IAI) dan menyajikan isi laporan yang akan dipakai untuk menjelaskan makna setiap kalimat
yang ada di dalam laporan.
Laporan audit juga merupakan media yang dipakai oleh ouditor dalam berkomunikasi
dengan masyarakat lingkungannya. Dalam laporan tersebut aouditor menyatakan
pendapatnya mengenai kewajiban laporan keuangan auditan. Pendapat auditor tersebut
disajikan dalam suatu laporan tertulis yang umumnya berupa audit baku. Laporan ini
sangatlah penting sekali dalam suatu audit atau proses atestasi lainya karena laporan
menginformasikan pemakai informasi mengenai apa yang dilakukan auditor dan kesimpulan
yang diperolehnya. Dan suatu pandangan pemakai, laporan dianggap sebagai produk utama
yang diperoleh. Dari satu pandang pemakai laporan sebagai produk utama dari proses
atastasi. Standar profesianal akutan publik (SPAP) mengharuskan dibuatnya laporan setiap
kali laporan akuntan publik dikaitkan laporan keuangan.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang dimaksud dengan laporan audit?
2. Apa hakekat dan kebutuhan akan laporan audit ?
3. Bagaimana cara membuat laporan audit?
4. Bagaimana kondisi laporan wajar tanpa pengecualian ?
5. Apa saja tipe-tipe laporan audit?
6. Apa yang mempengaruhi pelaporan audit ?
7. Apa yang menyebabkan penyimpangan ?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Laporan Audit


Laporan Audit adalah media formal yang digunakan oleh auditor dalam
mengkomunikasikan kepada pihak yang berkepentingan tentang kesimpulan atas laporaan
keuangan yang diaudit.Dalam menerbitkan laporan audit, auditor harus memenuhi empat
standar pelaporan yang ditetapkan dalam standar auditing yang berlaku umum.
Laporan audit merupakan media yang dipakai oleh auditor dalam komunikasi dengan
masyarakat lingkungannya. Dalam laporan tersebut auditor menyatakan
pendapatnyamengenai kewajaran laporan keuangan auditan. Pendapat auditor tersebut
disajikan dalam suatu laporan tertulis yang umumnya berua laporan audit baku.
Setelah mengetahui pengertian laporan audit, setelah pada akhir bulan dibuat suatu
pemeriksaan, dalam suatu pemeriksaan umun (general audit) KAP akan memberikan suatu
laporan akutan yang terdiri atas
a. Laporan opini
Laporan yang bertanggung jawab pada laporan akuntan public, dimana akutan public
memberikan pendapatanya terhadap kewajiban laporan keuangan yang disusun oleh
manajemen dan merupakan tanggung jawab manajemen
b. Laporan Keuangan yang terdiri atas
 Laporan posisis keuangan (Neraca)
 Laporan laba- rugi Komprehensif (Laporan Laba-Rugi)
 Laporan Peruban Ekuitas
 Laporan arus kas
 Catatan atas laporan keuangan yang antara lain berisi: bagian umum ( menjelaskan latar
belakang perusahaan) kewajiban akutansi atas penjelas ddan pos-pos laporan posisi
keuangan(neraca) dan laba rugu komperensif (laba rugi)
 Informasi tambahan berupa lampiran mengenai perincial pos-pos yang penting mengenai
perincian piutang, aset tetap, liebilities, bebas umum dan administrasi serta bebas
penjualan.
Dalam hal ini laporan akutan mepunyai dua tangal yang pertama tanggal selesainya
pemeriksaan lapangan, yang kedua tanggal terjanya peristiwa penting itu.
Standar umum auditing terdiri dari beberapa bagian yaitu:
1. Audit harus dilakukan oleh orang yang sudah mengikuti pelatihan yang sudah
memiliki kekapan teknis yang memadai sebagai seorang auditor.
2. Auditor harus melakukan sikap metal yang independen dalam semua hal yang
berhubungn dengan audit.
3. Auditor harus menerapkan kemahiran prefesional dalam melakukan audit dan
menyusun laporan

4. Sedangkan dalam standar pekerja lapang terdiri atas dari :


5. Auditor harus menyelesaikan pekerjaan secara memadai dan mengwasi semua
sistemsebagai mana mestinya.
6. Auditor harus memperoleh pemahaman yang cukup internal, untuk menilai resiko
salah saji yang material dalam laporankeuangan karna kesalahan atau kecurangan ,
dan selanjutnya untuk merancang sifat, waktu , serta luas prosedur audit.
7. Auditor harus memperoleh cukupbukti audit dengan tepan dengan melakukan
prosedur audit agar memiliki dasar yang layak untuk memberikan pendapat menyakut
laporan keuangan yang di audit.

B. Hakekat dan Kebutuhan Akan Laporan Audit


1. Pertentangan kepentingan, banyak pengguna laporan keuangan yang memberikn
perhatian tentang adanya pertentangan kepentingan aktual ataupun potensial antara
mereka sendiri dan manajemen entitas. Kekhawatiran berkembang menjadi ketakutan
bahwa laporan keuangan dengan data menyertainya telah disusun sedemikian rupa oleh
manajemen sehingga untuk kepentingan manajemen. Pertentangann kepentingan juga
dapat di antara berbagai kelompok pengguna laporan keuangan seperti para kreditor
dan pemegang saham. Oleh karena itu, para pengguna mencari keyakinan dari auditor
indpendent di luar bahwa informasi tersebut telah (1) bebas dari bias untuk kepentingan
manajemen dan (2) nettral untuk kepentingan berbagai kelompok pegguna (dengan
perkataan lain, informasi tidak disajikan sedemikian rupa sehingga menguntungkan
salah satu kelompok pengguna di atas kelompok lannya)
2. Konsekuensi, laporan keuangan yang diterbitkan menyajikan informasi yang penting,
dan dalam beberapa kasus merupakan satu-satunya sumber informasi yang digunakan
untuk membuat keputusan investasi yang signifikan, peminjamaan serta keputusan
lainnya. Oleh karena itu para pengguna mengingatkan laporan keuagan tersebut
memuat sebanyak mungkin data yang relevan. Kebutuhan ini diakui oleh persyaratan
pengungkapan ekstensif yang ditetapkan oleh SEC atau perusahaan-perusahaan yang
berada dibawah yurisdiksinya. Karena keputusan yang dibuat akan akan membawa
konsukensi ekonomi, sosial, dan kosekuensi lain yang signifikan maka para pengguna
laporan akan melirik pada auditor independen untuk memperoleh keyakinan bahwa
laporan keuangan telah disusun sesuai dengan GAAP, termasuk semua pengungkapan
yang memadai.
3. Kompleksitas, masalah akuntansi dan proses penyusunan laporan keuangan telah
menjadi demikian kompleks. Standar akuntansi dan pelaporan untuk sewa guna usaha
(leasing), pensiun, pajak penghasilan, dan laba perlembar saham merupakan contoh-
contoh dari fakta kompleksitas yang ada dewasa ini. Dengan meningkatnya
kompleksitas, maka resiko salah interprestasi dan resiko timbulnya kesalahan yang
tidak sengaja juga ikut meningkat. Karena para pengguna merasa semakin sulit, atau
bahkan mustahil untuk mengevaluasi sendiri mutu laporan keuangan, maka mereka
mengandalkan auditor independent untuk menilai mutu informasi yang dimuat dalam
laporan keuangan.
4. Keterpencilan, para pengguna laporan, bahkan pengguna yang paling pandai sekalipun
menganggap tidak praktis lagi untuk mencari akses langsung pada catatan akuntansi
utama guna melaksanakan sendiri ferisifikasi atas asersi laporan keuangan karena
adanya faktor jarak, waktu, dan biaya. Dari pada mempercayai mutu data keuangan
begitu saja, sekali lagi para pengguna lebih mengandalkan laporan auditor independent
untuk memenuhi kebutuhannya.
Empat kondisi diatas secara bersama-sama membentuk adanya resiko informasi yaitu
resiko bahwa laporan keuangan mungkin tidak benar, tidak lengkap, atau bias. Oleh karena
itu, dapat dikatakan audit laporan keuangan dapat meningkatkan kredibilitas laporan
keuangan dengan cara menekan resiko informasi.

C. Bagian- bagian Dari Standar Laporan Audit.


Suatu laporan standar merupakan laporan yang lazim diterbitkan.Laporan ini memuat
pendapat wajar tanpa pengecualian yang menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan
secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, arus kas entitas
sesuai sengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Kesimpulan ini hanya dapat dinyatakan
bila auditor telah membentuk pendapat berdasarkan audit yang dilaksanakan sesuai Generally
Accepted Auditing Standars (GAAS = Standar Auditing yang Berlaku Umum).
Mengingat pentingnya audit laporan keuangan, maka pemahaman yang mendasar tentang
bentuk dan isi suatu laporan standar menjadi sangat penting. Laporan dirancang agar dapat
berkomunikasi secara lebih baik dengan para pengguna laporan keuangan yang telah diaudit
tentang pekerjaan audit yang telah dilaksanakan oleh editor berikut sifat dan keterbatasan
audit.Hal yang perlu diperhatikan bahwa laporan standar memiliki tiga paragraf yang lazim
disebut paragraf pendahulu, paragraf lingkup auudit, dan paragraf pendapat. Setiap paragraf
akan dijelaskan pada bagian berikut ini :
1. Paragraf Pendahulu
Paragraf pendahulu memuat tiga hal pernyataan faktual.Tujuan utamma paragaf ini adalah
untuk membedakan tanggung jawab manajemen dan tanggung jawab auditor. Kalimat pada
paragraf pendahuluan disajikan sebagai berikut :
Kami telah mengaudit... neraca... Perusahaaan X..untuk tahun-tahun yang
berakhir pada tanggal tersebut
Kalimat diatas menunjukan bahwa auditor telah mengaudit laporan keuangan tertentu dari
peusahaan yang ditunjuk.Setiap laporan keuangan disebut satu per satu berikut tanggal
penerbitan laporan keuangan tersebut.
Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen
Kalimat diatas menegaskan bahwa tanggung jawab atas laporan keuangan terletak
ditangan manajemen.Sebaliknya, kalimat tersebut dimaksudkan juga untuk menghilangkan
kesan bahwa auditor mengembangkan representasi yang mendasaari laporan keuangan.
Tanggung jawab kami adalah menyatakan... berdasarkan audit kami.
Kalimat diatas secara khusus menunjukkan tanggung jawab auditor. Auditor berperan
untuk melaksanakan audit dan menyatakan pendapat berdasarkan temuan-temuan. Apabila
kalimat diatas dibaca bersambung dengan kalimat kedua, akan nampak jelas perbedaan
tanggung jawab manajemen dengan tanggung jawab editor.

2. Paragraf Ruang Lingkup


Paragraf ini menguraikan sifat dan lingkup audit. Hal ini sesuai dengan bagian keempat
standar pelaporan yang mengharuskan auditor menunjukkan dengan jelas sifat audit yang
dilakukan. Paragraf ruang lingkup audit juga menunjukkan beberapa keterbatasan audit.
Kalimat dalam paragraf ini adalah :
Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang berlaku umum
Dalam konteks ini, standar auditing yang berlaku umum dapat diterapkan.Kalimat ini
merupakan penjelas bahwa editor telah memenuhi standar yang dimaksud dan standar yang
digunakkan merupakan standar profesional.
Standar tersebut mengharuskan kami... audit agar memperoleh keyakinan yang
memadai... laporan keuangan bebas dari salah saji material.
Kalimat diatas menunjukkan dua keterbatasan penting suatu audit.Pertama,
pemberitahuan bahwa auditor hanya mencari keyakinan yang memadai saja, bukan keyakinan
yang absolut.Oleh karena itu, kepada pembaca diinformasikan bahwa audit mengandung
beberapa resiko.Kedua, diperkenalkannya konsep matrealitas. Suatu audit direnanakan dan
dilaksanakan untuk menemukan salah saji yang material (meskipun tidak semunya) dalam
laporan keuangan.
Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar penguji, bukti-bukti yang mendukung...
laporan keuangan.
Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi... estimasi signifikan... penilaian
terhadap penyaji laporan keuangan secara keseluruhan.
Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar yang memdai untuk menyatakan
pendapat.
Kalimat diatas menjelaskan lebih jauh sifat audit, memberi penjelasan lebih lanjut pada
sifat audit dan menunjukkan bahwa keterbatasan lain dari suatu audit, dengan mengatakan
bahwa hanya dasar yang memadai saja yang diperlukan untuk memberikan pendapat. Kalimat
ini juga mengandung asersi bahwa auditor telah membentuk kesimpulan positif tentang
lingkup pekerjaan audit yang dilaksanakan.

3. Paragraf Pendapat
Paragraf pendapat memenuhi empat standar pelaporan. Kalimat paragraf dijelaskn
sebagai berikut :
Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut di atas...
Dalam menafsirkan arti dann pentingnya kalimat ini, hendaknya disimpulkan bahwa
pendapat tersebut dinyatakan oleh orang atau orang-orang yang profesional, berpengalman
dan ahli.
...menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material... posisi keuangan... hasil
usaha dan arus kas...
Yang di maksud dalaam kata-kata menyajikan secara wajar adalah bahwa penyajian
laporan keuangan telah memadai tanpa berat sebelah.Pendapat wajar tanpa pengecualian
menyatakan kepercayaan auditor bahwa laporan keuangan mencapai tujuan yang ditetapkan
dengan menyajikan secara wajar posisi keuangan neraca, laporan laba rugi, laporan laba
ditahan serta laporan arus kas.
...sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum...
Kalimat ini memenuhi standar pelaporan pertama yang menyatakan bahwa laporan harus
menunjukkan laporan keuangan disusun sesuai dengan GAAP.

D. Kondisi Laporan Wajar Tampa Pengecualian


Bentuk laporan Audit yang paling umum adalah laporan audit standar dengan pendapat
wajar tanpa penguacilan. Lebih dari 90 persen laporan audit menggunakan berikut ini,
laporan Audit standar wajar tanpa penguacualian digunakan bila kondisiberikut ini terpenuhi
diantara yaitu
1. Semua laporan keuangan-neraca, laporan Laba_Rugi, saldo laba, dan laporan arus kas-
sudah tercakup dalam laporan keuangan
2. Ketiga standar umum telah diikuti sepenuhnya dalam pengawasan.
3. Bahan bukti yang cukup telah dikumpulkan dan auditor tersebut telah melakukan
penugasan dengan cara yang memungkinkan baginya untuk menyimpulkan bahwa
stanhwa ketiga standar pekerjaan lapangan telah terpenuhi.
4. Laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntasi yang berlaku umum. Ini berati
bahwa pengukapan yang memadai telah disertakan catatan kaki dan bagian-bagian lain
dalam laporan.
5. Tidak terdapat situasi yang memperlukan penambahan paragraph penjelas atau modifikasi
kata-kata dalam laporan.
Jika semua persyaratan ini terpenuh, masing-masing Auditor dapat menggunakanistilah
yang sedikit berbeda tetapi maknanya adalah sama.

E. Tipe – tipe Laporan Audit


Ada lima pokok tipe laporan Audit yang diterbikan oleh auditor adalah:
1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion)
2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas yang ditambahkan dalam
laporan Audit bentuk baku (Unqualified opinion explanatory language)
3. Pendapat wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion)
4. Pendapat tidak wajar (adverse Opinion)
5. Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer opinion).
1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion)
Laporan Auditor, sebagai tahap akhir dan keseluruhan proses audit, sangatlah penting
bagi penugasan untuk mengkomunikasikan berbagai hasil temuannya. Para pemakai laporan
keuangan mengandalkan laporan auditor untuk memberikan kepastian atas laporan keuangan
sebuah perusahanan. Auditor akan bertanggung jawab apabila laporan audit yang diterbitkan
tidak tepat.laporan audit standar wajar tanpa pengecualian diterbitkan oleh public (auditor
exsternal) apabila semua kondisi audit telah terpenuhi dan tidak ada salah sajiyang
signifikasian serta laporankeuangan telah disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip-prinsip
akutansi yang umum.
Laporan audit wajar tanpa pengecualian berisi:
1) Judul laporan
Laporan harus diberi judul yang berisi kata independen, tepatnya adalah “laporan
Auditor independen” atau “ pendapat akutan independen”. Kewajiban mencantumkan
nama independen dimaksudkan agar pemakai laporan mengetahui bahwa audit
dilaksanakan secara tidak memihak (neral
2) Alamat laporan Audit
Laporan ini pada umumnya ditunjukan pada perusahaan, para pemegang saham , atau
dewen direksi perusahaan.
3) Paragraf pendahuluan
Ada tiga hal yang dimuat atau ditunjukan dalam pragraf ini , yaitu:
 Suatu pernyataan sederhana bahwa kantor Akutan publik bersangkutan telah
melaksanakan audit.pernyataan ini dibuat untuk membedakan laporan audit dari
laporan kompilasi atau laporan review.
 Menyertakan jenis laporan keuangan yang telah diaudit, termasuk tanggal neraca
secara priode akutansi untuk laporan laba rugi dan laporan arus kas.
 Menyatakan bahwa penyimpanan serta isi laporan keuangan merupakan tanggung
jawab laporan manjemen, sedangkan tanggung jawab auditor adalah hanya
sebatas member pendapat (opini) atas laporan keuangan tersebut berdasarkan
oudit yang telah dilakukan.
4) Paragraf ruang lingkup
Paragraf ini berisi pernyataan faktual tentang apa yang dilakukan auditor dalam
proses audit.
5) Pragraf pendapat
Paragraf ini merupakan paragraf terakhir dalam laporan oudit standar, yang memuat
kesimpulan atau pendapat auditor berdasarkan hasil audit yang telah dilakukannya.
6) Nama kantor akutan public
Pada bagian ini merupak nama kantor akutan public yang telah melaksanakan audit
atas laporan keuangan kliennya.
7) Tanggal laporan audit
Tanggal yang tepat untuk dicantumkan pada laporan audit adalah ketika audit telah
menyelesaikan keseluruhan prosedur audit di lokasi pemeriksaan (tanggal pekerjaan
lapangan diselesaikan).

Laporan audit standar wajar tanpa pengecualian diterbitkan bila kondisi-kondisi berikut
ini terpenuhi:
1. Semua laporan , yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan laba ditambah, dan
laporan arus kas sedah termasuk dalam laporan keuangan.
2. Ketiga stadar umum telah dipatuhi dalam semua hal yang berkaitan dengan penugasan.
3. Bukti audit yang cukup memadai telah terkumpul , dan auditor telah dilaksanakan
penugasan audit sesuai dengan ketiga standar pekerjaan lapangan.
4. Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akutansi yang berlaku
umum.
5. Tidak terdapat situasi yang membuat auditor merasa perlu untuk menambah kan paragraf
penjelas atau modifikasi kata-kata dalam laporan Audit.

Contoh laporan Audit Standar Wajar


Tanpa pengecualian
Laporan Auditor Independen (judul laporan)
(alamat laporan audit)
Kepada Para Pemegang Saham
PT. Permata Indah
Jl. Jend. Surderman 51, Jakarta
(paragraf pendahulu)
Kita telah mengaudit neraca PT roda lingkar tanggal 31 Desember 2010 dan 2009,dan
laporan laba rugi, saldo laba, dan neraca arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal-
tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab perusahaan manajeman
perusahan.tanggung jawab kami adalah pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan
tersebut berdasarkan audit kami.
(paragraf ruang lingkup)
Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan ikatan akutan
Indonesia standar tersebut mengharuskan kami untuk merencanakan dan melaksanakanaudit
agar memperoleh keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji
material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar penyajian,bukti-bukti yang
mendukungjumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi
penilaian prinsip akutan yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh
manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara menyeluruhan. Kami
yakin bahwa audit kami memberikan dasar yang memadai utuk menyatakan pendapat.
(paragraf pendapat)
Menurut pendapat kami laporan keuangan yang kami sebutkan diatas menyajikan secara
wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan PT.Tiga roda lingkarpada tangal 30
desember 2010 dan 2009 serta hasil usaha dan arus kas untuk tahun berakhir pada tangal-
tanggal tersebut derngan prinsif-prinsif akutansi yang berlaku umum.
(nama kantor akutan publik)
Andy irawan
Akutan register Negara d-1234
(tanggal laporan audit)
25 Febuari 20011

2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas yang ditambahkan dalam
laporan Audit bentuk baku (Unqualified opinion explanatory language)
Pendapat ini diberikan jika terdapat keadaan tertentu yang mengharuskan auditor
menambahkan paragraph penjelas (atau bahasa penjelasan lain) dalam laoparan audit
miskipun tidak mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian yang dinyatakan oleh
auditor.
Keadaan tersebut meliputi:
1)Pendapat wajar sebagaian didasaarkan atas laporan auditor indepeden lain.
2)Untuk mencegah agar laporan tidak menyesatkan .
3)Jika terdapat kondisi dan peristiwa yang semula menyebabkan auditor yakin tentang adanya
kesangsian.
4)Diantara dua priode akutansi terdapat suatu perubahan materialdengan penggunakan standar
akutansi atau dalam metode penerapannya.
5)Keadaan tertentu yang berhubungan dengan laporan audit atas laporan komperatif
6)Data keuangan akutan tertentuyang berhubungan dengan laporan audit atas laporan keuangan
komperatif.
7)Data keuangan kuartalan tertentu yang diharuskan oleh badan pengawas pasar modal
(bapepam)
8)Informasi lain dalam suatu dokumen yang berisi laporan keuangan yang diaudit secara
materialtidak konsisten dengan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.

3. Pendapat wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion)


Jika auditor menjumpai kondisi-kondisi sepertoi ini, maka ia memeberikan pendapat wajar
dengan pengecualian laporan Audit, yaitu:
1)Lingkup audit dibatasi oleh klien
2)Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting atau tidak dapat memperoleh
informasi penting karna kondisi-kondisi yang berada di luar kekuasan klien maupun auditor,
3)Laporan keuangan tidak susun sesuai prinsip berterima umum
4)Prinsip akutansi berterima umum yang digunakan dalam laporan keuangan tidak diterapkan
secara kosisten
Pendapat wajar tanpa pengecualian diberikan oleh auditor jika dalam auditnya auditor menemukan
salah satu dari kondisi 1-4 yang telah tertera diatas.Pendapat ini hanya diberikan jika secara
keseluruhan laporan keuangan yang disajikan oleh klien adalah wajar, tetapi ada beberapa
unsur yang dikecualikan, yang pengecualiannya tidak mempengaruhi kewajaran laporan
keuangan secara keseluruhan.

4. Pendapat tidak wajar (adverse opinion)


Pendapat tidak wajar merupakan kebalikan dari wajar tanpa pengecualian. Akutan
memberikan pendapat tidak wajar jika laporan keuangan klien tidak disusun berdasarkan
prinsip akutansi berterima umum sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan,
hasil usaha, perubahan ekuitas, dan araus kas perusahan klien. Auditor merupakan pendapat
tidak wajar jika ia tidak dibatasi lingkup auditnya , sehingga ia dapat mengumpulkan bukti
kopeten yang cukup untuk mendukung pendapatnya. Jika laporan keuangan diberi pendapat
tidak wajar oleh auditor, maka informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangan
sama sekali tidak dapat dipercaya, sehingga tidak dapat dipakai oleh pemakai informasi
keuangan untuk pengambil keputusan.

5. Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer opinion)


Jika auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan, maka laporan audit
ini disebut laporan tanpa pendapat ( no opinion report). Kondisi yang menyebabkan auditor
menyatakan tidak memberikan pendapat adalah:
1) Pembatan yang luar biasa sifatnya terhadap lingkup audit
2) Auditor tidak independen dalam hubungan dengan kliennya.
Perbedaan antara pernyataan tidak memberikan pendapat dengan pendapat tidak wajar
(adverse opinion) adalah: pendapat tidak wajar ini diberikan dalam keadaan auditor
mengetahui ketidak wajaran laporan keungan klien, sedangkan auditor menyatakan tidak
memberikan pendapat ( no opinion) karena ia tidak cukup memperoleh bukti mengenai
kewajaran laporan keuangan auditan karena ia tidak independen dengan hubungan dengan
klien.

F. Materialitas Mempengaruhi Laporan Audit


Materialitas adalah sebagai:“Besarnya suatu penghapusan atau salah saji informasi
keuangan yang, dengan memperhitungkan situasinya, menyebabkan pertimbangan yang
dilakukan oleh orang yang mengandalkan pada informasi tersebut akan berubah atau
terpengaruh oleh penghapusan atau salah saji tersebut.”Dari definisi materialitas di atas
mengharuskan auditor untuk mempertimbangkan baik (1) kedaan yang berkaitan dengan
entitas dan (2) kebutuhan informasi pihak yang akan meletakkan kepercayaan atas laporan
keuangan auditing. Sebagai contoh, suatu jumlah yang material dalam laporan keuangan
entitas tertentu mungkin tidak material dalam laporan keuangan entitas lain yang memiliki
ukuran dan sifat yang berbeda. Begitu juga, kemungkinan terjadi perubahan materialitas
dalam laporan keuangan dalam entitas tertentu dari periode akuntansi yang satu ke perode
akuntansi yang lain. Oleh karena itu, auditor dapat menyimpulkan bahwa tingkat materialitas
akun modal kerja harus lebih rendah bagi perusahaan yang memiliki current ratio4 : 1.
Dalam mempertimbangkan kebutuhan informasi pemakai informasi keuangan, semestinya
harus dianggap, sebagai contoh, bahwa pemakai informasi keuangan adalah para investor
yang perlu mendapatkan informasi memadai sebagai dasar untuk pengambilan keputusan
mereka.
Dalam audit atas laporan keuangan, audit tidak dapat memberikan jaminan bagi klien
atau pemakai laporan keuangan yang lain, bahwa laporan keuangan auditan adalah akurat.
Audit tidak dapat memberikan jaminan karena ia tidak memeriksa setiap transaksi yang
terjadi dalam tahun yang diaudit dan tidak dapat menentukan apakah semua transaksi yang
terjadi telah dicatat, diringkas,digolongkan, dan dikompilasi secara mestinya ke dalam
laporan keuangan. Jika auditor diharuskan untuk memberikan jaminan mengenai keakuratan
laporan keuangan auditan, hal ini tidak mungkin dilakukan, karena akan memerlukan waktu
dan biaya yang jauh melebihi manfaat yang dihasilkan. Di samping itu, tidaklah mungkin
seseorang menyatakan keakuratan laporan keuangan (yang berarti ketepatan semua informasi
yang disajikan dalam laporan keuangan), mengingat bahwa laporan keuangan sendiri berisi
pendapat, estimasi, dan pertimbangan tersebut tidak tepat atau akurat seratus persen.
Oleh karena itu, dalam audit atas laporan keuangan, auditor memberikan kekayakinan
berikut ini :
1. Auditor dapat memberikan keyakinan bahwa jumlah-jumlah yang disajikan dalam
laporan keuangan beserta pengungkapannya telah dicatat, diringkas, digolongkan, dan
dikompilasi.
2. Auditor dapat memberikan kekayakinan bahwa ia telah mengumpulkan bukti audit
kompeten yang cukup sebagai dasar memadai untuk memberikan pendapat atas
laporan keuangan auditan.
3. Auditor dapat memberikan keyakinan, dalam bentuk pendapat ( atau memberikan
informasi dalam hal terdapat perkecualian), bahwa laporan keuangan sebagai
keseluruhan disajikan secara wajar dan tidak terdapat salah saji material karena
kekeliruan dan kecurangan.
Dengan demikian ada dua konsep yang melandasi keyakinan yang diberikan oleh
auditor: konsep materialitas dan konsep risiko audit. Karena auditor tidak memeriksa setiap
transaksi yang dicerminkan dalam laporan keuangan, maka ia bersedia menerima beberapa
jumlah kekeliruan kecil.
Konsep materialitas menunjukan seberapa besar salah saji yang dapat diterima oleh
auditor agar pemakai laporan keuangan tidak terpengaruh oleh salah saji tersebut. Berapa
jumlah kekeliruan atau salah saji yang auditor bersedia untuk menerimanya dalam laporan
keuangan, namun ia tetap dapat memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian karena
laporan keuangan tidak berisi salah saji material. Konsep risiko audit menunjukan tingkat
risiko kegagalan auditor untuk mengubah pendapatnya atas laporan yang sebenarnya berisi
salah saji material.
G. Kondisi Yang Menyebabkan Penyimpangan
Dalam praktik, dapat muncul kondisi-kondisi tertentu yang tidak memungkinkan auditor
menerbitkan laporan. Penyimpangan dari laporan tergolong dalam salah satu dari dua
kategori berikut :
1. Laporan standar dengan bahasa penjelasan
2. Jenis-jenis pendapat lain
Laporan standar dengan bahasa penjelasan, karakteristik berbeda yang ada dalam
kategori laporan ini adalah bahwa paragraf pendapat tetap menyatakan pendapat wajar tanpa
pengecualian, karna laporan keuangan sesuai dengan GAAP. Kondisi yang mengharuskan
auditor menambahkan paragraf penjelasan atau bahasa penjelasan lain pada laporan standar.
Sebagai contoh, bila entitas memilih untuk mengubah prinsip-prinsip akuntansi.
Biasanya, informasi penjelasan diletakkan pada paragraf penjelasan yang mengikuti
paragraf pendapat, yang dalam beberapa hal hanya diperlukan susunan kata penjelasan. Hal
lain paragraf penjelasan diletakkan sebelum paragraf pendapat.
Jenis-jenis pendapat lain, kategori kedua penyimpangan dari laporan adalah apabila
terjadi salah satu kondisi berikut ini :
a. Laporan standar mengandung penyimpangan yang material dari GAAP
b. Auditor tidak mampu mendapatkan bukti kompeten yang cukup berkenaan dengan satu atau
lebih asersi manajemen, sehingga tidak memiliki dasar yang memadai untuk memberikan
pendapat wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan secara keseluruhan.

Dalam hal ini, auditor akan menyatakan salah satu pendapat dari jenis pendapat berikut ini:
a. Pendapat wajar dengan pengecualian, yang menyatakan bahwa kecuali dampak dari hal-hal
yang berkaitan dengan pengecualian tersebut, laporan keuangan menyajikan secara wajar
sesuai dengan GAAP.
b. Pendapat tidak wajar, yang menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara
wajar sesuai GAAP.
c. Menolak memberikan pendapat, yang menyatakan bahwa auditor tidak memberi pendapat
atas laporan keuangan.
Penyimpangan dari GAAP, meliputi prinsip akuntansi yang tidak berlaku umum,
penerapan GAAP ynag salah, dan kegagalan untuk membuat pengungkapan yang diwajibkan
oleh GAAP.Sebagai contoh, apabila laporan keuangan entitas mencerminkan perubahan
prinsip-prinsip akuntansi yang tidak dibuat sesuai dengan pendapat APB No.20, maka
laporan keuangan mengandung penyimpangan dari GAAP. Dalam kondisi ini, auditor akan
menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar. Pendapat tidak
wajar hanya digunakan pada penyimpangan yang berdampak sangat material terhadap
laporan keuangan.
Pada kondisi ini auditor tidak mampu mendapatkan bukti kompeten yang mencukupi
untuk membuktikan satu atau lebih asersi sesuai dengan GAAP atau tidak dikenal dengan
istilah pembatasan lingkup. Auditor akan memberikan pendapat wajar dengan pengecualian
atau menolak memberikan pendapat. Penolakkan untuk memberikan pendapat hanya
digunakan apabila terdapat pembatasan lingkup yang berkaitan dengan masalah yang dapat
memberikan dampak sangat material terhadap laporan keuangan. Apabila salah satu dari
pendapat jenis lain ini dinyatakan, pendapat tersebut harus diberikan penjelasan atau lebih
paragraf tepat sebelum paragraf pendapat. Paragraf pendapat yang diawali dengan refrensi
paragraf penjelas, diikuti dengan susunan kalimat sesuai untuk jenis pendapat yang telah
disebutkan diatas.

H. Laporan audit modifikasi dari berbagai macam situasi dan kondisi


Proses pengambilan keputusan laporan uditor :
- menentukan apakah kondisi apapun eksis membutuhkan keberangkatan dari laporan
wajar tanpa pengecualian standar
- memutuskan materialitas untuk setiap kondisi
- memutuskan jenis yang sesuai kondisi laporan tersebut, mengingat tingkat materialitas
- menulis laporan audit
Lebih dari satu kondisi yang membutuhkan depaartemen atau modifikasi
Seorang auditor sering dalam kondisi yang membutuhkan laporan yang wajar sesuai dengan
standar akuntansi yang berterima umum.
situasi berikut adalah contoh ketika lebih dari satu modifikasi harus dimasukkan dalam
laporan :
 auditor tidak independen dan auditor tahu bahwa perusahaan belum mengikuti prinsip-
prinsip akuntansi yang berlaku umum
 ada batasan ruang lingkup dan tidak ada keraguan substansial kemampuan untuk
kelangsungan perusahaan
 ada keraguan substansial tentang kemampuan perusahaan untuk terus berkesinambungan
dan informasi tentang penyebab ketidakpastian tidak memadai diungkapkan dalam
catatan kaki
 ada penyimpangan dalam penyusunan laporan sesuai dengan GAAP dan prinsip
akuntansi yang lain diterapkan secara yang tidak konsisten dengan tahun sebelumnya

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Laporan audit adalah media formal yang digunakan oleh auditor dalam
mengkomunikasikan kepada pihak yang berkepentingan tentang kesimpulan atas laporan
keuangan yang di audit. Dalam menerbitkan laporan audit, auditor harus memenuhi empat
standar pelaporan yang ditetapkan dalam standar auditing yang berlaku umum.
Ada lima pokok tipe laporan Audit yang diterbikan oleh auditor adalah:
1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion)
2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas yang ditambahkan dalam laporan
Audit bentuk baku (Unqualified opinion explanatory language)
3. Pendapat wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion)
4. Pendapat tidak wajar (adverse Opinion)
5. Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer opinion)
Kondisi yang menyebabkan penyimpangan, kondisi-kondisi tertentu yang tidak
memungkinkan auditor menerbitkan laporan. Penyimpangan dari laporan tergolong dalam
salah satu dari dua kategori berikut :
1. Laporan standar dengan bahasa penjelasan
2. Jenis-jenis pendapat lain

Anda mungkin juga menyukai