Anda di halaman 1dari 13

HUKUM BISNIS

PENYELESAIAN SENGKETA BISNIS DALAM HUKUM BISNIS

Dosen Pembimbing :

Dina Anggraeni S.E


Disusun oleh kelompok 4

1. Della Dwi Rohmawati. 01117006

2. Siti Zumrotus S. 01117012

3. Chantika Claudia Tamara. 01117016

4. Dhela Adeliya Purnama. 01117034

5. Ruth Dayanti S. 01117036

6. Muhammad Al Ma'ruf. 01117060

7. Bima Yasa. 01118066

8. Ernawati Puji Astuti 01117019

9. Indah Febriani 01117013

10. M Romy Azzadin 01117050

Program Studi Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA

Tahun Pelajaran 2018/2019


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mengamati kegiatan bisnis yang jumlah transaksinya ratusan setiap hari tidak mungkin
dihindari terjadinya sengketa antar pihak yang terlibat. Setiap jenis sengketa yang terjadi
selalu menutut pemecahan dan penyelsaian yang cepat.

Makin banyak dan luas kegiatan perdagangan frekuensi terjadi sengketa makin tinggi. Ini
berarti makin banyak sengketa harus diselsaikan.

Membiarkan sengketa dagang terlambat diselsaikan akan mengakibatkan perkembangan


pembangunan tidak efisien, produktifitas menurun, dunia bisnis mengalami kemandulan dan
biaya produksi meningkat. Konsumen adalah pihak yang paling dirugikan, disamping itu
peningkatan kesejahteraan dan kemajuan sosial kaum pekerja juga terhambat

Kalaupun akhirnya hubungan bisnis ternyata menimbulkan sengketa di antara para pihak
yang terlibat, peranan penasihat hukum dalam menyelsaikan sengketa itu dihadapkan pada
alternative.

Secara konvensional, penyelsaian sengketa biasanya dilakukan secara litigasi atau


penyelsaian senngketa dimuka pengadilan. Dalam keadaan demikian, posisi para pihak yang
bersengketa sangat antagonistis (saling berlawanan satu sama lain). Penyelsaian sengketa
bisnis model ini tidak direkomendasikan. Kalaupun akhirnya ditempuh, penyelesaian itu
semata-matasebagai jalan terakhir (ultimatum remedium) setelah alternatif lain diniali tidak
membuahkan hasil. Proses penyelesaian sengketa yang membutuhkan waktu yang lama
mengakibatkan perusahaan atau para pihak yang bersengketa mengalami ketidakpastian.
Cara penyelsaian seperti itu tidak diterima dunia binis melalui lembaga peradilan tidak selalu
menguntungkan secara adil bagi kepentingan para pihak yang bersengketa.

Sehubungan dengan itu perlu dicari dan dipikirkan cara dan sistem penyelsaian sengketa
yang cepat, efektif dan efisien. Untuk itu harus dibina dan diwujudkan suatu sistem
penyelesaian sengketa yang dapat menyesuaikan diri dengan laju perkembangan
perekonomian dan perdagangan di masa datang. Dalam menghadapi liberalisasi
perdagangan harus ada lembaga yang dapat diterima dunia bisnis dan memiliki kemampuan
sistem menyelsaikan sengketa dengan cepat dan biaya murah.

Di samping model penyelesaian sengketa konvensional secara konvensional melalui litigasi


sistem peradilan, dalam praktik di Indonesia dikenalkan pula model yang relatif baru. Model
ini cukup populer di Amerika Serikat dan Eropa yang dikenal dengan nama ADR (alternative
dispute resolution) yang diantaranya meliputi negoisasi, mediasi dan arbitrase. Penggunaan
model ADR dalam penyelesaian sengketa secara non-litigasi tidak menutup peluang
penyelesaian makalahadedidiikirawan deperkara tersebut secara litigasi. Penyelesaian
sengketa secara litigasi tetap dipergunakan manakala penyelesaian secara nonlitigasi
tersebut tidak membuahkan hasil. Jadi penggunaan ADR adalah sebagai salah satu
mekanisme penyelesaian sengketa diluar pengadilan dengan mepertimbangkan segala
bentuk efesiensinya dan untuk tujuan masa yang akan datang sekaligus menguntungkan bagi
para pihak yang bersengketa.

1.2 Perumusan Masalah

Dengan memperhatikan latar belakang tersebut, agar dalam penulisan ini penulis
memperoleh hasil yang diinginkan, maka penulis mengemukakan beberapa rumusan
masalah. Rumusan masalah itu adalah:

1. Apa itu sengketa ?

2. Bagaimana cara Penyelesaian sengketa di Indonesia, dan prosedur apa saja yang
digunakan dalam penyelesaian sngketa bisnis tersebut?

1.3 Tujuan

Tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain:

1. Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Hukum Bisnis.

2. Untuk menambah pengetahuan tentang sengketa bisnis dan mengetahui bagaimana


cara penyelesaian sengketa bisnis.

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Sengketa Bisnis

Pengertian sengketa bisnis menurut Maxwell J. Fulton “a commercial disputes is one which
arises during the course of the exchange or transaction process is central to market
economy”. Dalam kamus bahasa Indonesia sengketa adalah pertentangan atau konflik.
Konflik berarti adanya oposisi, atau pertentangan antara kelompok atau organisasi terhadap
satu objek permasalahan.

Menurut Winardi, Pertentangan atau konflik yang terjadi antara individu – individu atau
kelompok – kelompok yang mempunyai hubungan atau kepentingan yang sama atas suatu
objek kepemilikan, yang menimbulkan akibat hukum antara satu dngan yang lain.

Menurut Ali Achmad, sengketa adalah pertentangan antara dua pihak atau lebih yang
berawal dari persepsi yang berbeda tentang suatu kepemilikan atau hak milik yang dapat
menimbulkan akibat hukum antara keduanya.

Dari pendapat diatas dapat di simpulkan bahwa Sengketa adalah perilaku pertentangan
antara kedua orang atua lembaga atau lebih yang menimbulkan suatu akibat hukum dan
karenanya dapat diberikan sanksi hukum bagi salah satu diantara keduanya.

Pertumbuhan ekonomi yang pesat dan kompleks melahirkan berbagai macam bentuk kerja
sama bisnis. mengingat kegiatan bisnis yang semakin meningkat, maka tidak mungkin
dihindari terjadinya sengketa diantara para pihak yang terlibat. Sengketa muncul dikarenakan
berbagai alasan dna masalah yang melatar belakanginya, terutama karena adanya conflict of
interest diantara para pihak. Sengketa yang timbul diantara para pihak yang terlibat dalam
berbagai macam kegiatan bisnis atau perdagangan dinamakan sengketa bisnis. Secara rinci
sengketa bisnis. Secara rinci sengketa bisnis dapat berupa sengketa sebagai berikut :

1. Sengketa perniagaan

2. Sengketa perbankan

3. Sengketa Keuangan

4. Sengketa Penanaman Modal

5. Sengketa Perindustrian

6. Sengketa HKI

7. Sengketa Konsumen

8. Sengketa Kontrak

9. Sengketa pekerjaan

10. Sengketa perburuhan

11. Sengketa perusahaan


12. Sengketa hak

13. Sengketa property

14. Sengketa Pembangunan konstruksi

2.2 Cara penyelesaian Sengketa Bisnis

1. Dari sudut pandang pembuat keputusan

a) Adjudikatif : mekanisme penyelesaian yang ditandai dimana kewenangan pengambilan


keputusan pengambilan dilakukan oleh pihak ketiga dalam sengketa diantara para pihak.

b) Konsensual/Kompromi : cara penyelesaian sengketa secara kooperatif/kompromi untuk


mencapai penyelesaian yang bersifat win-win solution.

c) Quasi Adjudikatif : merupakan kombinasi antara unsur konsensual dan adjudikatif.

2. Dari sudut pandang prosesnya

1. Litigasi : merupakan mekanisme penyelesaian sengketa melalui jalur pengadilan dengan


menggunakan pendekatan hukum. Lembaga penyelesaiannya :

1. Pengadilan Umum

2. Pengadilan Niaga

2. non Litigasi : merupakan mekanisme penyelesaian sengketa diluar pengadilan dan tidak
menggunakan pendekatan hukum formal. Lembaga penyelesaiannya melalui mekanisme :

a. Arbitrase : merupakan cara penyelesaian sengketa perdata diluar peradilan umum yang
didasrkan pada perjanjian yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa
(pasal 1 angka 1 UU No.30 Tahun 1999)

b. Negosiasi : sebuah interaksi sosial saat pihak-pihak yang terlibat berusaha untuk saling
menyelesaikan tujuan yang berbeda dan bertentangan untuk mendapatkan solusi dari yang
dipertentangkan.

c. Mediasi : Negosiasi dengan bantuan pihak ketiga. Dalam mediasi yang memainkan
peran utama adalah pihak-pihak yang bertikai. Pihak ketiga (mediator) berperan sebagai
pendamping,pemangkin dan penasihat.

d. Konsiliasi : Usaha untuk mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk


mencapai persetujuan dan menyelesaikan perselisihan tersebut.

e. Konsultasi

f. Penilaian Ahli
A. Penyelesaian Melalui proses Litigasi

1. Pengadilan umum

Pengadilan Negeri berwenang memeriksa sengketa bisnis, mempunyai karakteristik :

1) Prosesnya sangat formal

2) Keputusan dibuat oleh pihak ketiga yang ditunjuk oleh negara (hakim)

3) Para pihak tidak terlibat dalam pembuatan keputusan

4) Sifat keputusan memaksa dan mengikat (Coercive and binding)

5) Orientasi ke pada fakta hukum (mencari pihak yang bersalah)

6) Persidangan bersifat terbuka

2. Pengadilan niaga

Pengadilan Niaga adalah pengadilan khusus yang berada di lingkungan pengadilan umum
yang mempunyai kompetensi untuk memeriksa dan memutuskan Permohonan Pernyataan
Pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan sengketa HAKI. Pengadilan
Niaga mempunyai karakteristik sebagai berikut :

1) Prosesnya sangat formal

2) Keputusan dibuat oleh pihak ketiga yang ditunjuk oleh negara (hakim)

3) Para pihak tidak terlibat dalam pembuatan keputusan

4) Sifat keputusan memaksa dan mengikat (coercive and binding)

5) Orientasi pada fakta hukum (mencari pihak yang salah)

6) Proses persidangan bersifat terbuka

7) Waktu singkat.

B. Penyelesaian Non_Litigasi

Selain itu banyak cara menyelesaikan suatu pertikaian diantaranya yaitu dengan Arbitrase,
Negosiasi, Mediasi, dan Konsiliasi. Ketiga cara penyelesaian ini bisa digunakan agar pertikaian
dapat segera teratasi.bermula dari penyelesaian dengan membicarakan baik – baik diantara
kedua pihak yang bertikai, berlanjut bila pertikaian tidak dapat diselesaikan diantara mereka
maka dibutuhkan pihak ketiga yaitu sebagai mediasi, selanjutnya jika tidak dapat melalui
mediasi maka dibutuhkan pihak yang tegas untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
Jika tidak dapat diselesaikan juga maka membutuhkan badan hukum seperti pengadilan
untuk menyelesaikan masalah tersebut, cara ini bisa disebut dengan Ligitasi. Secara
keseluruhan cara – cara tersebut dapat digunakan sehingga pertikaian dapat terselesaikan.

1. Arbitrase

Pengertian Arbitrase :

Istilah arbitrase berasal dari kata “Arbitrare” (bahasa Latin) yang berarti “kekuasaan untuk
menyelesaikan sesuatu perkara menurut kebijaksanaan”.

1) Asas kesepakatan, artinya kesepakatan para pihak untuk menunjuk seorang atau
beberapa oramg arbiter.

2) Asas musyawarah, yaitu setiap perselisihan diupayakan untuk diselesaikan secara


musyawarah, baik antara arbiter dengan para pihak maupun antara arbiter itu sendiri;

3) Asas limitatif, artinya adanya pembatasan dalam penyelesaian perselisihan melalui


arbirase, yaiu terbatas pada perselisihan-perselisihan di bidang perdagangan dan hak-hak
yang dikuasai sepenuhnya oleh para pihak;

4) Asa final and binding, yaitu suatu putusan arbitrase bersifat puutusan akhir dan
mengikat yang tidak dapat dilanjutkan dengan upaya hukum lain, seperi banding atau kasasi.
Asas ini pada prinsipnya sudah disepakati oleh para pihak dalam klausa atau perjanjian
arbitrase.

Sehubungan dengan asas-asas tersebut, tujuan arbitrase itu sendiri adalah untuk
menyelesaikan perselisihan dalam bidang perdagangan dan hak dikuasai sepenuhnya oleh
para pihak, dengan mengeluarkan suatu putusan yang cepat dan adil,Tanpa adanya
formalitas atau prosedur yang berbelit-belit yang dapat yang menghambat penyelisihan
perselisihan.

Selain itu Pengertian arbitrase juga termuat dalam pasal 1 angka 8 Undang Undang Arbitrase
dan Alternatif penyelesaian sengketa Nomor 30 tahun 1999: “Lembaga Arbitrase adalah
badan yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa untuk memberikan putusan mengenai
sengketa tertentu, lembaga tersebut juga dapat memberikan pendapat yang mengikat
mengenai suatu hubungan hukum tertentu dalam hal belum timbul sengketa.”

Dalam Pasal 5 Undang-undang No.30 tahun 1999 disebutkan bahwa: ”Sengketa yang dapat
diselesaikan melalui arbitrase hanyalah sengketa di bidang perdagangan dan hak yang
menurut hukum makalahadedidiikirawandan peraturan perundang-undangan dikuasai
sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa.”

Dengan demikian arbitrase tidak dapat diterapkan untuk masalah-masalah dalam lingkup
hukum keluarga. Arbitase hanya dapat diterapkan untuk masalah-masalah perniagaan. Bagi
pengusaha, arbitrase merupakan pilihan yang paling menarik guna menyelesaikan sengketa
sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka.

Dalam banyak perjanjian perdata, klausula arbitase banyak digunakan sebagai pilihan
penyelesaian sengketa. Pendapat hukum yang diberikan lembaga arbitrase bersifat mengikat
(binding) oleh karena pendapat yang diberikan tersebut makalahadedidiikirawanakan
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian pokok (yang dimintakan pendapatnya
pada lembaga arbitrase tersebut). Setiap pendapat yang berlawanan terhadap pendapat
hukum yang diberikan tersebut berarti pelanggaran terhadap perjanjian (breach of contract -
wanprestasi). Oleh karena itu tidak dapat dilakukan perlawanan dalam bentuk upaya hukum
apapun.

Putusan Arbitrase bersifat mandiri, final dan mengikat (seperti putusan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap) sehingga ketua pengadilan tidak diperkenankan
memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase nasional tersebut.

Jenis-jenis Arbitrase

Arbitrase dapat berupa arbitrase sementara (ad-hoc) maupun arbitrase melalui badan
permanen (institusi). Arbitrase Ad-hoc dilaksanakan berdasarkan aturan-aturan yang sengaja
dibentuk untuk tujuan arbitrase, misalnya UU No.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa atau UNCITRAL Arbitarion Rules. Pada umumnya arbitrase
ad-hoc direntukan berdasarkan perjanjian yang menyebutkan penunjukan majelis arbitrase
serta prosedur pelaksanaan yang disepakati oleh para pihak. Penggunaan arbitrase Ad-hoc
perlu disebutkan dalam sebuah klausul arbitrase.

Arbitrase institusi adalah suatu lembaga permanen yang dikelola oleh berbagai badan
arbitrase berdasarkan aturan-aturan yang mereka tentukan sendiri. Saat ini dikenal berbagai
aturan arbitrase yang dikeluarkan oleh badan-badan arbitrase seperti Badan Arbitrase
Nasional Indonesia (BANI), atau yang internasional seperti The Rules of Arbitration dari The
International Chamber of Commerce (ICC) di Paris, The Arbitration Rules dari The
International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID) di Washington. Badan-
badan tersebut mempunyai peraturan dan sistem arbitrase sendiri-sendiri.

BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia) memberi standar klausul arbitrase sebagai
berikut:

"Semua sengketa yang timbul dari perjanjian ini, akan diselesaikan dan diputus oleh Badan
Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) menurut peraturan-peraturan prosedur arbitrase
BANI,yang keputusannya mengikat kedua belah pihak yang bersengketa,sebagai keputusan
dalam tingkat pertama dan terakhir".
Standar klausul arbitrase UNCITRAL (United Nation Comission ofInternational Trade Law)
adalah sebagai berikut:

"Setiap sengketa, pertentangan atau tuntutan yang terjadi atau sehubungan dengan
perjanjian ini, atau wan prestasi, pengakhiran atau sah tidaknya perjanjian akan diselesaikan
melalui arbitrase sesuai dengan aturan-aturan UNCITRAL.”

Menurut Priyatna Abdurrasyid, Ketua BANI, yang diperiksa pertama kali adalah klausul
arbitrase. Artinya ada atau tidaknya, sah atau tidaknya klausul arbitrase, akan menentukan
apakah suatu sengketa akan diselesaikan lewat jalur arbitrase. Priyatna menjelaskan bahwa
bisa saja klausul atau perjanjian arbitrase dibuat setelah sengketa timbul.

Keunggulan dan Kelemahan Arbitrase

Keunggulan arbitrase dapat disimpulkan melalui Penjelasan Umum Undang Undang Nomor
30 tahun 1999 dapat terbaca beberapa keunggulan penyelesaian sengketa melalui arbitrase
dibandingkan dengan pranata peradilan. Keunggulan itu adalah :

a) kerahasiaan sengketa para pihak terjamin ;

b) keterlambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif dapat


dihindari ;

c) para pihak dapat memilih arbiter yang berpengalaman, memiliki


makalahadedidiikirawanlatar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan,
serta jujur dan adil ;

d) para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk penyelesaian masalahnya ;

e) para pihak dapat memilih tempat penyelenggaraan arbitrase ;

f) putusan arbitrase merupakan putusan yang mengikat para pihak melalui prosedur
sederhana ataupun dapat langsung dilaksanakan.

Disamping keunggulan arbitrase seperti tersebut diatas, arbitrase juga memiliki kelemahan
arbitrase. Dari praktek yang berjalan di Indonesia, kelemahan arbitrase adalah masih sulitnya
upaya eksekusi dari suatu putusan arbitrase, padahal pengaturan untuk eksekusi putusan
arbitrase nasional maupun internasional sudah cukup jelas.

2. Negosiasi

Pengertian Negosiasi :

· Proses yang melibatkan upaya seseorang untuk mengubah (atau tak mengubah) sikap
dan perilaku orang lain.
· Proses untuk mencapai kesepakatan yang menyangkut kepentingan timbal balik dari
pihak-pihak tertentu dengan sikap, sudut pandang, dan kepentingan-kepentingan yang
berbeda satu dengan yang lain.

· Negosiasi adalah suatu bentuk pertemuan antara dua pihak: pihak kita dan pihal lawan
dimana kedua belah pihak bersama-sama mencari hasil yang baik, demi kepentingan kedua
pihak.

Pola Perilaku dalam Negosiasi:

· Moving against (pushing): menjelaskan, menghakimi, menantang, tak menyetujui,


menunjukkan kelemahan pihak lain.

· Moving with (pulling): memperhatikan, mengajukan gagasan, menyetujui,


membangkitkan motivasi, mengembangkan interaksi.

· Moving away (with drawing): menghindari konfrontasi, menarik kembali isi


pembicaraan, berdiam diri, tak menanggapi pertanyaan.

· Not moving (letting be): mengamati, memperhatikan, memusatkan perhatian pada


“here and now”, mengikuti arus, fleksibel, beradaptasi dengan situasi.

Ketrampilan Negosiasi:

1) Mampu melakukan empati dan mengambil kejadian seperti pihak lain


mengamatinya.

2) Mampu menunjukkan faedah dari usulan pihak lain sehingga pihak-pihak yang
terlibat dalam negosiasi bersedia mengubah pendiriannya.

3) Mampu mengatasi stres dan menyesuaikan diri dengan situasi yang tak pasti dan
tuntutan di luar perhitungan.

4) Mampu mengungkapkan gagasan sedemikian rupa sehingga pihak lain akan


memahami sepenuhnya gagasan yang diajukan.

5) memahami latar belakang budaya pihak lain dan berusaha menyesuaikan diri
dengan keinginan pihak lain untuk mengurangi kendala.

Teknik Negoisasi

Secara umum terdapat beberapa cara teknik negoisasi yang dikenal dapat dibagi kedalam:

4) tahap negoisasi kompetitip

5) tahap negoisasi koperatif

6) tahap negoisasi lunak dan keras

7) tahap negoisasi interest based


3. Mediasi

Pengertian mediasi :

Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses perundingan atau mufakat para
pihak dengan dibantu oleh mediator yang tidak memiliki kewenangan memutus atau
memaksakan sebuah penyelesaian. Ciri utama proses mediasi adalah perundingan yang
esensinya sama dengan proses musyawarah atau konsensus. Sesuai dengan hakikat
perundingan atau musyawarah atau konsensus, maka tidak boleh ada paksaan untuk
menerima atau menolak sesuatu gagasan atau penyelesaian selama proses mediasi
berlangsung. Segala sesuatunya harus memperoleh persetujuan dari para pihak.

Prosedur Untuk Mediasi

• Setelah perkara dinomori, dan telah ditunjuk majelis hakim oleh ketua, kemudian majelis
hakim membuat penetapan untuk mediator supaya dilaksanakan mediasi.

• Setelah pihak-pihak hadir, majelis menyerahkan penetapan mediasi kepada mediator


berikut pihak-pihak yang berperkara tersebut.

• Selanjutnya mediator menyarankan kepada pihak-pihak yang berperkara supaya perkara ini
diakhiri dengan jalan damai dengan berusaha mengurangi kerugian masing-masing pihak
yang berperkara.

• Mediator bertugas selama 21 hari kalender, berhasil perdamaian atau tidak pada hari ke 22
harus menyerahkan kembali kepada majelis yang memberikan penetapan.

Jika terdapat perdamaian, penetapan perdamaian tetap dibuat oleh majelis.

Mediator

Mediator adalah pihak netral yang membantu para pihak dalam proses perundingan guna
mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan cara memutus
atau memaksakan sebuah penyelesaian. Ciri-ciri penting dari mediator adalah :

1) Netral

2) Membantu para pihak

3) Tanpa menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian

Jadi, peran mediator hanyalah membantu para pihak dengan cara tidak memutus atau
memaksakan pandangan atau penilaiannya atas masalah-masalah selama proses mediasi
berlangsung kepada para pihak.

Tugas Mediator

1. Mediator wajib mempersiapkan usulan jadwal pertemuan mediasi kepada para


pihakuntuk dibahas dan disepakati.
2. Mediator wajib mendorong para pihak untuk secara langsung berperan dalam proses
mediasi.

3. Apabila dianggap perlu, mediator dapat melakukan kaukus atau pertemuan terpisah
selama proses mediasi berlangsung.

4. Mediator wajib mendorong para pihak untuk menelusuri dan menggali kepentingan
mereka dan mencari berbagai pilihan penyelesaian yang terbaik bagi para pihak

4. Konsiliasi

Konsiliasi adalah usaha mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk mencapai
persetujuan dan penyelesaian. Namun, undang-undang nomor 30 tahun 1999 tidak
memberikan suatu rumusan yang eksplisit atas pengertian dari konsiliasi. Akan tetapi,
rumusan itu dapat ditemukan dalam pasal 1 angka 10 dan alinea 9 penjelasan umum, yakni
konsiliasi merupakan salah satu lembaga untuk menyelesaikan sengketa.

Penyelesaikan perselisihan, konsiliator memiliki hak dan kewenangan untuk menyampaikan.

pendapat secara terbuka dan tidak memihak kepada yang bersengketa. Selain itu, konsiliator
tidak berhak untuk membuat keputusan dalam sengketa untuk dan atas nama para pihak
sehingga keputusan akhir merupakanmakalahadedidiikirawan proses konsiliasi yang diambil
sepenuhnya oleh para pihak dalam sengketa yang dituangkan dalam bentuk kesepakatan di
anatar mereka.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

· Sengketa bisnis menurut Maxwell J. Fulton “a commercial disputes is one which arises
during the course of the exchange or transaction process is central to market economy”.
Dalam kamus bahasa Indonesia sengketa adalah pertentangan atau konflik. Konflik berarti
adanya oposisi, atau pertentangan antara kelompok atau organisasi terhadap satu objek
permasalahan.

Menurut Winardi, Pertentangan atau konflik yang terjadi antara individu – individu atau
kelompok – kelompok yang mempunyai hubungan atau kepentingan yang sama atas suatu
objek kepemilikan, yang menimbulkan akibat hukum antara satu dngan yang lain.
Menurut Ali Achmad, sengketa adalah pertentangan antara dua pihak atau lebih yang
berawal dari persepsi yang berbeda tentang suatu kepemilikan atau hak milik yang dapat
menimbulkan akibat hukum antara keduanya.

Dari pendapat diatas dapat di simpulkan bahwa Sengketa adalah perilaku pertentangan
antara kedua orang atua lembaga atau lebih yang menimbulkan suatu akibat hukum dan
karenanya dapat diberikan sanksi hukum bagi salah satu diantara keduanya.