Anda di halaman 1dari 6

AKUNTANSI FORENSIK DAN AUDIT INVESTIGASI

RESUME “ SIFAT DASAR KECURANGAN”

DOSEN PENGAMPU :
RONY WARDANA S.E., M.Ak., CPA., CTA., C.MICE

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 3


NAMA ANGGOTA :
1. DHELA ADELIYA PURNAMA (01117034)
2. ONY ARYA WIBOWO (01117053)
3. YULIANA VIDIA NENGRUM (01117056)

SEMSETER VI PRODI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI & BISNIS
UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA
JL. ARIEF RACHMAN HAKIM NO 51 SUKOLILO SURABAYA
TAHUN AJARAN 2020
SIFAT DASAR KECURANGAN
Pengertian kecurangan
Kecurangan adalah suatu bentuk tindakan yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh sesuatu melalui cara-cara yang bertentangan dengan norma atau
kaidah yang berlaku. Kecurangan adalah sebuah penipuan yang menyertakan
elemen-elemen berikut :
 Sebuah representasi,
 Mengenai sesuatu yang bersifat material,
 Sesuatu yang tidak benar,
 Dan secara sengaja atau secara serampangan dilakukan untuk kemudian,
 Dipercaya,
 Dan ditindaklanjuti oleh korban,
 sehingga pada akhirnya korban menanggung kerugian

Kecurangan melibatkan semua cara yang dapat digunakan untuk melakukan


penipuan dengan tujuan agar seseorang mendapatkan keuntungan yang lebih dari
orang lain melalui representasi salah. Kecurangan selalu berkaitan dengan
kepercayaan dan penipuan. Kecurangan berbeda dengan perampokan, karena
kekuatan fisik yang digunakan.

Jenis-jenis kecurangan
Kecurangan dibagi menjadi dua kelompok utama yakni
1. Kecurangan yang dilakukan terhadap organisasi
2. Kecurangan yang dilakukan atas nama organisasi
Kecurangan yang dilakukan terhadap organisasi yaitu kecurungan yang
dilakukan oleh pegawai dan yang menjadi korban adalah organisasi atau tempat
dimana mereka bekerja. Sedangkan Kecurangan yang dilakukan atas nama
organisasi yaitu kecurangan yang dilakukan para eksekutif dengan memanipulasi
laporan keuangan sehingga tidak mencerminkan hasil yang sebenarnya dan yang
menjadi korban ialah investor.
Klasifikasi kecurangan adalah penggunaan definisi Association of Certified Fraud
Examiner (ACFE) atas “kecurangan yang berhubungan dengan jabatan/pekerjaan
(occupational fraud)”. Artinya penggunaan suatu jabatan oleh seseorang untuk
memperkaya dirinya melalui penyalahgunaan yang disengaja atau penyalahgunaan
penggunaan aset atau sumber daya organisasi yang merupakan akibat dari
perbuatan tidak baik yang dilakukan oleh pegawai, manajer, atau para eksekutif.
Inti dari occupational fraud adalah bahwa semua aktivitas:
1. Dilakukan secara sembunyi-sembunyi
2. Melalaikan kewajiban pegawai terhadap organisasi
3. Dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan finansial bagi
pegawai, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, dan
4. Memanfaatkan biaya penggunaan aset, pendapatan, atau cadangan
perusahaan.

ACFE mengklasifikasikan occupational fraud dalam 3 kategori utama ;


1. Kecurangan aset, berupa pencurian atau penyalahgunaan aset organisasi
2. Korupsi , yaitu para pelaku kecurangan menggunakan pengaruhnya secara
tidak sah dalam transaksi bisnis untuk memperoleh manfaat bagi kepentingan
pribadi atau orang lain, bertentangan dengan kewajiban mereka terhadap
pekerjaan lain atau hak-hak kepada pihak lain, dan
3. Laporan yang berisi kecuragan, yang biasanya berupa pemalsuan laporan
keuangan suatu organisasi.

Skema pengklasifikasian kecurangan didasarkan pada korban :


1. Kecurangan dengan perusahaan atau oraganisasi yang menjadi korbannya.
a. Kecurangan pegawai (employee embezzlement), yaitu pegawai yang
mengguanakan posisinya untuk mengambil atau mengalihkan aset yang
dimiliki perusahaan.
b. Kecurangan pemasok (vendor fraud), yaitu pemasok memberikan tagihan
yang berlebihan atau menyediakan barang dengan kualitas rendah atau
jumlah barang lebih sedikit dari yang disepakati.
c. Kecurangan pelanggan (customer fraud), yaitu pelanggan tidak
membayar, membayar terlalu kecil, atau ingin mendapatkan yang lebih
banyak dari organisasi melalui penipuan.
2. Kecurangan manajemen (management fraud), manajemen memanipulasi
laporan keuangan untuk membuat perusahaan terlihat lebih baik daripada
yang seharusnya.
3. Penipuan investasi dan kecurangan pelanggan lainnya. Contohnya
kecurangan telemarketing, pencurian identitas, kecurangan internet dsb.
4. Kecurangan-kecurangan lainnya ( miscellaneous fraud) yaitu setiap kali ada
pihak yang mencoba mengambil keuntungan dari kepercayaan orang lain
untuk menipu atau melakukan kecurangan terhadap orang tersebut.

Tuntutan Pidana dan Perdata atas kecurangan


1. Hukum Pidana
Hukum pidana adalah salah satu cabang hukum yang
menangani pelanggaran terhadap kepentingan umum terkait
dengan perlanggaran terhadap masyarakat secara keseluruhan.
2. Hukum Perdata
Hukum perdata merupakan bentuk hukum yang
menyediakan ganti rugi terhadap pelanggaran atas hak-hak
pribadi seorang individu.
Tabel perbedaan antara kasus pidana dan kasus perdata
KASUS PIDANA KASUS PERDATA
Tujuan Untuk meluruskan kesalahan Untuk mendapatkan ganti
rugi
Konsekuensi Penjara dan/atau denda Ganti rugi dan pembayaran
atas kerugian yang
ditimbulkan dari kerusakan
Beban Pembuktian Diluar karagu-raguan yang Jumlah bukti yang sedikit
beralasan- beyond a lebih banyak –
reasonable doubt preponderance of evidence
Juri Juri harus terdiri dari 12 Jumlah juti dapat kurang dari
orang 12 orang
Langkah Awal Adanya informasi bagi dewan Pengajuan gugatan oleh
juri tentang kecukupan bukti penggugat
untuk mengajukan dakwaan
Keputusan Keputusan bulat Para pihak yang terlibat
dapat menetapkan
keputusan meskipun tanpa
suara bulat
Gugatan Hanya satu gugatan pada Berbagai gugatan dapat
suatu waktu digabungkan dalam satu
tindakan

PERSIAPAN MENJADI PROFESIONAL DALAM PEMBERANTASAN


KECURANGAN
Beberapa kemampuan yang harus dimiliki antara lain :
1. Kemampuan analitis ( Analitycal-skills). Pendeteksian dan investigasi
kecurangan merupakan proses analitis tempat investigator mengidentifikasi
berbagai kecurangan, berbagai indikator kecurangan dan cara-cara untuk
menguji dan melakukan tindak lanjut terhadap indikator-indikator yang
ditemukan.
2. Kemampuan komunikasi ( Communication skills). Pemeriksa kecurangan
menghabiskan banyak waktu untuk melakukan wawancara dengan para saksi
dan pihak-pihak yang dicurigai, kemudian mengkomunikasikan temuan
tersebut kepada para saksi, pengadilan dan pihak lainnya.
3. Kemampuan dalam bidang teknologi ( Technological skills). Teknologi yang
memungkinkan pemeriksa kecurangan untuk melakukan analitis terhadap
basis data yang sangat besar dengan sangat efisien
4. Kemampuan terkait pemahaman akuntansi dan bisnis.
5. Pengetahuan terkait hukum perdata dan pidana, kriminologi, isu-isu privasi,
hak-hak pegawai, UU mengenai kecurangan dan masalah hukum lainnya.
6. Kemampuan untuk menulis dan berbicara dalam bahasa asing
7. Pengetahuan terkait perilaku manusia, diantaranya mengapa dan bagaimana
manusia merasionalisasi ketidakjujuran, bagaimana mereka beraksi ketika
tertangkap dan cara apa yang paling efektif dalam menimbulkan efek jera
bagi individu dalam melakukan kecurangan.
PEMERIKSA KECURANGAN BERSERTIFIKASI ( CERTIFIED FRAUD
EXAMINERS- CFE)
CFE dipandang sebagai pemimpin dalam komunitas anti-kecurangan dan
mendapat pengakuan di seluruh dunia.
Persyaratan akademik
1. Memiliki gelar min. S1
2. Berasal dari semua jurusan
Persayaratan Profesional
Pengalaman profesional min. 2 tahun. Dengan kategori sebagai berikut :
1. Akuntansi dan auditing
2. Kriminologi dan sosiologi
3. Investigasi kecurangan (pengawas umum, dan pengacara investigator
wilayah/distrik)
4. Pencegahan kerugian ( konsultan keamanan)
5. Hukum
DAFTAR PUSTAKA
Zimbelman, Mark F, Conan C Albrecht, W. Steve Albrecht, Chad O. Albrecht.
Akuntansi Forensik (Forensic Accounting) Edisi 4, Jakarta : Salemba Empat.