Anda di halaman 1dari 27

ARSITEKTUR CHINA

Peradaban Cina mulai terbangun sejak 4000 hingga 5000 tahun yang lampau. Secara
garis besar Wilayah Cina terbagi atas Huabei ( China Utara) dan Huanan (China Selatan).
Pada abad ke 2 SM muncul sistem pemerintahan yang terstruktur pada masa kekaisaran
atau Dinasti. Dinasti Tang dikenal sebagai masa keemasan dalam Sejarah Cina. Pada saat itu
seni lukisan, patung, sastra, kayu cetak dan produksi massal buku mengalami perkembangan
yang pesat. Begitu pula, agama Budha disebarkan ke Jepang dan berpengaruh terhadap
karya arsitektur dan kota. Dinasti Ming, yang didirikan oleh Kubilai Khan merupakan dinasti
terakhir yang diperintah pribumi dan berkembang hingga ke Mongol atau Yuan.

Luas wilayah Cina 9,596,960 kilometer persegi dihuni oleh beragam etnis seperti
suku Han, Zhuang, Uygur, Hui, Yi, Tibetan, Miao, Manchu, dan Mongol. Sistem kepercayaan
Cina adalah memuja roh nenek moyang. Pada masa dinasti Chou, 1027-256 SM muncul
ajaran Konfusianisme, Lao-tse, Mo Ti, dan Mencius yang menjadi dasar filosofi masyarakat
Cina hingga kini. Budhisme dari India mencapai keemasan dalam penyebaran agama di Cina
pada masa Dinasti Han.

Hirarki sosial dalam masyarakat diperkenalkan ketika terbentuk organisasi


masyarakat yang sejalan

dengan ditemukannya aksara dan penulisan. Strata sosial pada masa itu terbagi
berdasarkan pekerjaan dan kemakmuran yang diperoleh yang membedakan antara Raja dan
bangsawan, petani, seniman, dan pedagang. Pada masa dinasti Chou sistem pertanian
dikelola baik. Sistem pembajakan sawah meluas hingga ke Asia Tenggara ketika terjadi
ekspansi wilayah dan budaya ke bagian selatan Cina.
PERKEMBANGANARSITEKTUR

A. Konsep dan Filosofi Arsitektur Cina

Filosofi arsitektur Cina sangat dipengaruhi oleh filosofi kepercayaan dan ajaran
Konfusianisme, Taoisme dan Budhisme. Terdapat simbol dan lambang-lambang dari bentuk
ideal dan keharmonisan dalam tatanan masyarakat. Bentuk ideal dan keharmonisan dalam
masyarakat dapat dilihat dari filosofi Tien-Yuan Ti-Fang yang berarti langit bundar dan bumi
persegi. Persegi melambangkan keteraturan, intelektualitas manusia sebagai manifestasi
penerapan keteraturan atas alam. Bundar melambangkan ketidakteraturan sifat alam.
Filosofi Tien-Yen-Chih-Chi, artinya di antara langit dan manusia, menggambarkan peralihan
dua alam yang disimbolkan dalam bentuk bundar-segi empat-bundar.

Konsep Keseimbangan dalam kehidupan diatur dalam dualitas Yin dan Yang, hong
Shui atau Feng Shui. Yang adalah sebagai energi positif, jantan, terang, kuat, buatan
manusia. Sementara, yin digambarkan sebagai energi negatif, betina, gelap, menyerap
elemen.

Hong shui atau Feng Shui merupakan kompas kehidupan yang mengaur
keseimbangan elemen alam seperti angin, air, tanah dan logam. Kompas merupakan
adaptasi metodis karya manusia terhadap struktur alam raya sehingga menjadi pedoman
dalam pendayagunaan energi dan sumber alam untuk penyelarasan nafas dunia. Feng shui
membantu manusia memanfaatkan gaya-gaya alam dari bumi dan menyeimbangkan Yin dan
Yang guna memperoleh Qi yang baik, yang menggambarkan kesehatan dan vitalitas.

Hal-hal yang mempengaruhi Hong Shui menyangkut keseimbangan 5 (Lima) Unsur


yaitu waktu Kelahiran, kondisi tanah pada lokasi ( tapak), arah dan ukuran bangunan,
orientasi ruang dalam, pola penempatan ruang dalam. Dari filosofi arsitektur yang dijelaskan
sebelumnya maka prinsip-prinsip dasar dalam arsitektur Cina adalah sebagai berikut:

1. Memfokuskan pada bumi bukan surga, mengutamakan


ilmu pengetahuan bukan kemuliaan, seperti tidak ada
pembedaan prinsip antara bangunan sakral/religius
dengan bangunan umum, hanya arah kegiatan, susunan
ruang yang memiliki penekanan berbeda, secara umum
bersifat sequensial Horisontal, sakral Hirarkis Konsentris,
mengutamakan posisi, gerak dan orientasi manusia
dalam ruang.
Eksplorasi prinsip tersebut dalam arsitektural yaitu

 Potensialitas Dinding
 Penonjolan individualitas bangunan
 Pengorganisasian susunan CourtYard
 Permainan tinggi lantai
 Bangunan dibatasi taman
 Rumah utama bersumbu Utara-Selatan dan selalu memilih tempat yang lebih tinggi
 Interior dengan elemen utama perabot berukir dengan warna megah sebagai
lambang gengsi.
 Pintu dan jendela menjadi elemen penunjang yang penting dalam tatanan
permukaan bangunan.
 Adanya privasi berdasarkan rasa hormat dan keintiman tata laku/ Etiket Bangsa Cina
yang diterapkan secara vertikal dengan langit-langit, atap dan secara horisontal
dengan Court Yard dan Lantai

2. Hirarki dan Status, pada umumnya dicirikan oleh lokasi lahan terhadap jalan
Utama/Strategis, jumlah Court Yard, warna tiang, bentuk dan kerumitan ornamen atap,
serta jumlah trave hall : 9 (kaisar ) 7 (putra mahkota) 5 (Mandarin) 3 ( rakyat biasa)

3. Koordinasi atau orientasi, sebagai sikap dan pandangan terhadap rumah sebagai sel dasar
arsitektur dan keluarga merupakan mikrokosmos dari tatanan masyarakat umum sehingga
pengaturan dan koordinasi sel dasar memiliki arti sebagai pengaturan dan koordinasi dunia

4. Tata Ruang Rumah

5. Struktur dan Konstruksi, konsep yang diterapkan pada rangka atap dengan sistem saling
tumpang, bukan kuda-kuda dengan penyangga miring, kolom sebagai pendukung beban
atap, dinding sebagai pembatas non struktural dan sistem bracket ( Tou Kung).

6. Stilistika, seluruh permukaan bangunan penuh dengan dekorasi, pola lantai : diagonal (
jen), hexagonal (Kou), Susunan Bata ( Ting), bangunan menggunakan konstruksi kayu dan
dengan kombinasi warna yang menyolok seperti merah, kuning dan hitam.

B. Tipologi Arsitektur Cina

Dari perjalan sejarah yang panjang terhadap


perkembangan arsitektur di Cina terdapat beberapa
tipologi arsitektur Cina seperti Istana, Kuil atau
Kelenteng, Gerbang (Pai Lou), Pagoda ( 5 – 7 tingkat),
Tembok Raksasa sekitar 3000 kilometer, Kuburan
yang memiliki fungsi dan karakteristik sendiri.
C. PRINSIP ARSITEKTUR RUMAH CINA

1. Prinsip Arsitektur Tradisional Cina

Prinsip-prinsip struktural arsitektur Cina sebagian besar tetap tidak berubah,


perubahan utama hanya terjadi dari segi rincian dekoratif. Berikut ini, merupakan prinsip
arsitektur pada rumah Cina :

a). Feng Shui

Feng Shui merupakan, ilmu tata ruang untuk mengatur rumah, lingkungan dan
sebagainya, sehingga penghuni selaras dengan alam.Feng Shui memiliki hubungan yang erat
dengan pengetahuan geomorfologi, struktur tanah, arah angin, sirkulasi udara, aliran air,
sinar matahari, warna dan sebagainnya.

Dasar pengetahuan dan filsafat dari Feng Shui di bagi menjadi 3 yaitu unsur yaitu :

 Unsur Ekologi merupakan gambaran peta geomorfologi yang berupa struktur


geologi, medan dan keadaan topografi seperti gunung, angin, air dan sinar
matahari yang berdasar pada falsafah budaya peradaban.
 Unsur estetika dapat dilihat pada pondasi, bentuk, design bangunan dan tata
ruang yang dikaitkan dengan kehidupan alam dan sosial.
 Unsur psikologi dikaitkan dengan budaya sampai logika dan pola piker.
Sebagian besar, fokus terhadap rasa aman, nyaman, tentram, harmonis dan
serasi yang menggambarkan jiwa kepribadian.

Elemen-Elemen Feng Shui

Elemen dalam Feng Shui merupakan lima unsur alam yang sangat mempengaruhi
kehidupan manusia. Kelima elemen tersebut adalah :

 Air, Bersifat tenang, dingin dan menggambarkan suatu perjalanan. Dilambangkan


dengan warna biru.
 Api, Bersifat energik, panas dan berbahaya.
 Kayu, Menggambarkan kreativitas atau perubahan. Bersifat musim semi.
 Logam, Berhubungan dengan bisnis dan bersifat musim gugur dan menggambarkan
kesuksesan.
 Tanah, Berhubungan dengan kesabaran.
”Elemen-elemen fengshui”

”Tabel Lima Elemen/Energi”


Dalam Feng Shui juga terdapat Tai Chi, Ba Gua, dan Kua Pribadi.

1). Tai Chi

Tai Chi merupakan diagram dari 5 elemen dan


sebuah pandangan mengenai interaksi energi dari elemen-
elemen.Dan harmoni terjadi saat semuanya dalam keadaan
seimbang. Tapi setiap elemen dapat memperkuat atau
melemahkan elemen lainnya. Dengan cara menguntungkan
atau merusaknya.

2). Delapan Segitiga (Ba Gua)

Ba Gua merupakan delapan diagram yang digunakan di dalam kosmologi Tao


(Taoisme) digambarkan sebagai berbagai delapan konsep saling terkait. Diagram di
kelompokkan menjadi delapan trigrams, yang mewakili langit, danau, api, lightning, angin,
air, gunung dan bumi.

Metode Ba-Gua Trigram :

”Denah MIN-TANG 明堂 dari


BA-GUA, dan tiap ruang di
tempati angka LUOSHU”

“Tabel Ba-Gua (Trigram)”


Setiap Trigram mewakili banyak hal, termasuk arah, elemen, dan angka. Setiap
trigram menguasai bagian tubuh yang berbeda. Secara tradisional, setiap trigram
dihubungkan dnegan anggota keluarga. Trigram bermanfaat bagi penentuan penyakit dan
memebrikan penyembuhan spesifik berdasarkan elemen pengaturan trigram.

Untuk mencari angka dalam Ba-Gua Trigram dapat menggunakan rumus sebagai
berikut :

Untuk menganalisis suatu kasus dengan denah, trigram dapat diketahui dengan arah hadap
dan arah duduk bangunan atau rumah tersebut.

“Tabel Arah Duduk dan Hadap pada Denah”

3). Kua Pibadi

Kua adalah angka simbolis yang mengelompokkan seseorang dalam feng shui. Dengan
menegtahui angka kua maka kesesuain antara ruang dalam rumah dengan penghuni akan
diketahui. Kelompok tersebut adalah kelompok timur dan barat.

Kua 1, 3, 4, 9 termasuk dalam kelompok timur. Ruang yang baik adalah selatan,
tenggara, timur, dan utara. Sementara kua 2, 5, 6, 7, dan 8 masuk dalam kelompok barat
dengan sektor yang baik adalah timur laut, barat laut, barat, barat daya.

Dalam analisis, setiap tempat tinggal dapat dibagi menjadi 9 sektor, yaitu delapan arah
mata angin dan satu pusat. Setiap sektor mata angin dapat menyiratkan kategori baik dan
buruk dari sektor tersebut. Empat kategori baik adalah sheng chi, tian yi, nian yan, dan fu
wei. Sementara empat kategori buruk adalah ho hai, wu gui, liu sha, dan jue ming.
Berikut ini, merupakan contoh rumah yang menggunakan feng shui :

b). Taoisme

Taoisme merupakan prinsip yang mengatur konstruksi dari tempat tinggal.

 Layar dinding untuk menghadapi pintu masuk utama rumah, yang merupakan
keyakinan bahwa perjalanan yang jahat dalam garis lurus.

 Jimat dan citra keberuntungan :

1). Dewa Pintu ditampilkan pada pintu untuk menangkal kejahatan dan mendorong
aliran keberuntungan
2). Tiga angka antropomorfik mewakili Fu Lu Shou (福祿壽fú-lu-Shou) bintang yang
ditampilkan secara jelas, kadang-kadang dengan proklamasi "tiga bintang yang hadir" (
三星在San-Xing-Zai)

3). Hewan dan buah-buahan yang melambangkan keberuntungan dan kemakmuran,


seperti kelelawar dan delima.

 Orientasi struktur dengan punggung menghadap ke landscape tinggi dan


memastikan bahwa ada air di depan. Pertimbangan juga dibuat sehingga
umumnya jendela belakang menghadap utara, di mana angin dingin di musim
dingin.
 kolam renang, sumur, dan sumber air lainnya biasanya dibangun ke dalam
struktur atau masuk ke tanah.

Konsep Taoisme diterapkan pada Kompleks Arsitektur Tao di Gunung Wudang, dan
Menara Porselen Nanjing. Keistimewaan tiga bangunan ini adalah genteng berkilau yang
dipernis dengan terang, berwarna-warni.

1. Menara Porselen Nanjing


Kuil ini dirancang dan didirikan atas perintah
Kaisar Yongle. Seluruh menara, tidak hanya
genteng, atap, dikonstruksi dari bata yang
mengkilap.
Penduduk sudah lazim dengan rumah yang
dibangun dari batu atau kayu, tetapi sangat jarang
untuk seluruh bangunan dibuat mengkilap. Menara
Porselen Nanjing 9 tingkat dan berbentuk segi
delapan, mempunyai alas dengan diamater 29,57
meter dan tinggi 79,25 meter. Dibangun dengan
bata porselen yang mengkilap baik di dalam maupun di luar. Tidak ada kayu pada
struktur kecuali satu tiang di ujungnya. Bata porselen berwarna dan mengkilap
digabungkan membentuk strukturnya, dari sisi dalam dan luar. Merupakan struktur
konstruksi glasir yang jarang ada.
Porselen yang mengkilap dipilih sebagai material utama bangunan karena
kecemerlangan dan kilauannya yang mencerminkan kemegahannya dengan artistik.

Seniman membuat lukisan pada bata porselen, termasuk pola bunga teratai, binatang
surga, dewa-dewi, dan lain lain. Bata tersebut dibakar dalam temperatur tinggi,
menghasilkan kilauan berwarna yang unik pada glasir. Bata ini kemudian satu per satu
disusun membentuk menara.
Pada Menara Porselen Yongle, kulit kerang digerinda hingga sangat tipis sehingga bisa
tertembus sinar. Ini diberi nama sebagai“genting terang”dan material ini adalah material
penerangan terbaik sebelum kaca diperkenalkan dari Barat. Selama Dinasti Ming dan
Qing, menara yang tingginya 79,25 meter dinyalakan sampai ke tempat tertinggi pada
malam hari. Cahaya seperti mimpi, menembus melalui kulit kerang yang transparan,
menjadikan menara ini sebagai istana dongeng.
2. Kompleks Arsitektur Tao di Gunung Wudang

Kompleks Arsitektur Tao didirikan berdasarkan titah dari Kaisar Yongle. Genting
biru yang mengkilap banyak dipakai pada konstruksi ini. Atap dari genting berwarna biru
merak membuat bangunan Tao menjadi menonjol di gunung yang bersih dan tenang.
Bangunan ini menonjolkan kemegahan Tao. Bangunan ini juga menonjolkan lis atap yang
berlapis-lapis, tiang dan balok yang dilukis, kombinasi kedamaian alamiah. Skala
Kompleks Arsitektur Tao Wudang.

D. Penerapan Konsep Arsitektur Rumah Cina

1). Courtyard

Courtyard merupakan ruang terbuka pada rumah Tradisional Cina. Ruang terbuka ini
bersifat lebih privat. Biasanya digabung dengan kebun atau taman.

Courtyard menghadap arah selatan karena


kehangatan datang dari selatan. Selain itu, ada juga yanga
mengarah ke timur yaitu arah matahari terbit.
- Penataan ruang mengikuti fengshui:

Feng shui mengenal empat orientasi kompas yang pokok: utara (melambangkan air),
timur (melambangkan kayu), selatan (melambangkan api), dan barat (melambangkan
logam). Setiap elemen berperan dan memiliki makna masing-masing. Oleh sebab itu fungsi
rumah tinggal dikaitkan dengan arti elemen tersebut.

Sebagai contoh, api dikaitkan dengan fungsi dapur, karena di sana ada kegiatan yang
melibatkan unsur api. Air dikaitkan dengan fungsi-fungsi yang basah, seperti mencuci dan
kamar mandi/WC. Karena sebagian dari fungsi itu adalah fungsi service, maka ada deretan
bangunan yang diletakkan pada sisi paling belakang untuk menunjang fungsi service rumah
tinggal. Bangunan utama rumah courtyard diletakkan pada sektor utara, juga menghadap ke
selatan.

Sisi timur dilambangkan dengan matahari terbit, jadi dikaitkan dengan kegiatan bekerja
di lingkungan rumah tangga. Sedangkan sisi barat adalah arah matahari terbenam, yaitu
sesuai untuk kegiatan beristirahat dan tidur.

Dari segi arsitektur, tentu saja penempatan ruang tidur pada arah barat di rumah
courtyard akan menguntungkan. Karena jendela kamar akan menghadap ke timur, jadi pada
pagi hari cahaya matahari saat baru terbit akan mudah masuk dan pada siang atau sore hari
tidak terkena matahari barat.

2). Penekanan pada bentuk atap yang khas

Gambar di atas merupakan beberapa jenis bentuk atap yang menjadi ciri khas dari
arsitektur tradisional cina.

Pada bagian atap, terdapat elemen-elemen struktural yang terbuka (terkadang


disertai dengan ornamen ragam hias) Ukir-ukiran serta konstruksi kayu sebagai bagian dari
struktur bangunan pada arsitektur Cina, dapat dilihat sebagai ciri khas pada bangunan Cina.
Detail-detail konstruktif seperti penyangga atap (tou kung), atau pertemuan antara kolom
dan balok, bahkan rangka atapnya diperindah, sehingga tidak perlu ditutupi.
“Elemen Struktural yang Terbuka”

“Elemen Struktural Kuda-Kuda yang Terbuka”

3). Penggunaan warna yang khas


Warna pada arsitektur Cina mempunyai
makna simbolik. Warna tertentu pada umumnya
diberikan pada elemen yang spesifik pada bangunan.
Meskipun banyak warna-warna yang digunakan pada
bangunan, tapi warna merah dan kuning keemasan
paling banyak dipakai dalam arsitektur Cina. Warna
merah banyak dipakai di dekorasi interior, dan umumnya dipakai untuk warna pilar. Merah
menyimbolkan warna api dan darah, yang dihubungkan dengan kemakmuran dan
keberuntungan. Merah juga simbol kebajikan, kebenaran dan ketulusan. Warna merah juga
dihubungkan dengan arah, yaitu arah Selatan, serta sesuatu yang positif. Itulah sebabnya
warna merah sering dipakai dalam rumah Cina.

Hierarki Arsitektur Cina

Hierarki pada bangunan tradisional


Cina didasarkan pada penempatan bangunan
pada sebuah kompleks. Bangunan dengan
menghadap ke depan dan berada di tengah
kompleks dianggap paling penting
dibandingkan dengan bangunan yang berada di sisi kiri dan kanan.

Bangunan yang menghadap ke selatan di bagian belakang bersifat pribadi dengan


pencahayaan sinar matahari yang lebih tinggi dan dikhususkan untuk anggota keluarga yang
lebih tua atau untuk kamar leluhur. Bangunan yang menghadap ke timur dan barat
umumnya digunakan anggota keluarga yang lebih muda, sedangkan di bagian depan
biasanya untuk pegawai dan pembantu.

Bangunan yang menghadap ke depan di belakang komplek digunakan terutama


untuk kamar perayaan ritual dan penempatan ruang leluhur.

Konstruksi Arsitektur Tradisional Cina

Karakteristik yang terlihat jelas dari arsitektur


tradisional Cina adalah penggunaan kerangka kayu.
Tembok yang digunakan sebagai pemisah ruang.
Lukisan dan ukiran pada setiap elemen membuatnya
terlihat unik dan menarik. Atap berwarna, jendela
dengan desain berpola yang indah, tiang kayu yang
diukir mencerminkan tingginya seni dari arsitektur
Cina.

Umumnya, struktur bangunan merupakan rangka kayu yang menerima beban atap
dan diteruskan kebawah melalui kolom-kolom. Pintu dan jendela merupakan pengisi saja,
oleh karena itu bisa bersifat fleksibel. Sedangkan pintu dan jendela pada bagian teras
menggunakan sistem bongkar-pasang. Sistem kuda-kuda yang dipakai adalah kuda-kuda segi
empat yang menjadi khas arsitektur Cina. Lantai atas umumnya merupakan lantai-lantai
papan yang disanggah oleh balok. Plat beton ini juga dipakai untuk lisplank serta atap.
Beban bergerak dan beban mati diterima lantai dan diteruskan ke pondasi.

Semua proporsi dan aturan bergantung pada sistem standart dimensi kayu dan
pembagiannya. Keseluruhan bangunan Cina dirancang dalam modul-modul sederhaba dan
modulor dari variabel ukuran yang proporsinya benar serta melindungi dan
mempertahankan hubungan harmoni. Arsitektur Cina berkembang sesuai dengan
zamannya.

Struktur Arsitektur Tradisional Cina

1. Pondasi

Kebanyakan dari bangunan didirikan di atas


platform yang terangkat (臺基)sebagai plat lantai.
Pondasi yang digunakan adalah pondasi umpak.
Pada bangunan kelas atas, pondasi ini dihiasi
dengan ukiran. Sedangkan struktural balok kayu
digunakan untuk tiang-tiang utama. Balok-balok ini biasanya diekspos dan menjadi bagian
yang di dekorasi.

Sambungan struktural menggunakan lubang dan pen. Sambungan lurus berkait,


sambungan ekor burung, kemudian dipasak. Dengan menggunakan sistem ini, bangunan
akan bersifat fleksibel dan dapat menyerap guncangan, getaran dan gerakan tanah jika
terjadi gempa bumi tanpa memberikan dampak kerusakan terhadap strukturnya.

2. Atap

Atap bangunan memiliki sudut kemiringan yang


cukup tinggi (model gabled), ada yang berbentuk atap
tunggal dan bertumpuk. Pada bangunan orang kaya
atau bangunan keagamaan, biasanya atap berbentuk
melengkung dengan dihiasi patung-patung keramik.
Selain berfungsi sebagai hiasan, juga berfungsi sebagai
stabilitas atap.

3. Dinding

Pada bangunan kelas atas, yang paling umum


digunakan adalah tirai dinding atau panel pintu
sebagai pemisah ruang ataupun pelindung bangunan.
Namun, akibat menurunnya ketersediaan pohon
sebagai bahan bangunan, batu dan batu bata mulai
digunakan.

4. Gerbang

Pintu gerbang ini berfungsi sebagai ruang transisi


antar luar bangunan dan di dalam bangunan. Pada pintu
gerbang biasanya dipasang tanda pengenal penghuni dan
juga gambar dewa atau tokoh dalam mitos Cina serta
tulisan-tulisan yang berfungsi sebagai penolak hal buruk.
5. Warna

Pada arsitektur Tionghoa, penggunaan dan pemilihan warna sangat penting, karena
melambangkan hal tertentu. Hal-hal ini berkaitan erat dengan kepercayaan terhadap baik
ataupun buruk pada Fengshui.

Umumnya warna yang dipakai adalah


warna primer seperti kuning, biru, putih, merah
dan hitam. Warna-warna tersebut
terinterprentasikan dari unsur alam dengan
elemen air, kayu, api, logam, dan tanah.
Biasanya warna biru dipakai untuk teras, warna
merah untuk kolom dan bangunan, biru dan
hijau untuk balok, siku penyangga dan atap.
Warna tersebut memiliki makna tersendiri,
warna biru dan hijau misalnya berada di posisi timur bermakna kedamaian, kesahatan, dan
keabadian, warna merah berada di selatan dan bermakna kebahagiaan dan nasib baik,
sedangkan warna kuning bermakna kekuatan, kekayaan, dan kekuasaan. Putih berada di
barat dengan makna penderitaan dan kedamaian.

Jenis Bangunan

Bangunan Cina klasik, terutama milik orang kaya, lebih menekankan pada luas bukan
pada tinggi rendahnya bangunan. Berbeda dengan arsitektur Barat, arsitektur Cina lebih
menekankan visual dari lebar bangunan. Seperti yang dikatankan Ronal G, Knapp (2003),
arsitektur vernakular Cina sangatlah dipengaruhi oleh kondisi geografis, historis dan budaya
dimana tempatnya berasal yang kemudian dimanifestasikan secara beragam di daerah-
daerah.

Berdasarkan jenis bangunan arsitektur Cina kuno terdiri dari tiga yaitu:

a. Rumah rakyat biasa

Rumah bagi pedagang dan petani memiliki


pusat bangunan yang berfungsi sebagai kuil untuk
para dewa ataupun leluhur. Pada sisi belakang,
terdapat kamar tidur untuk orang tua. Sedangkan
sisi kanan dan kiri merupakan tempat untuk
anggota keluarga yang lebih muda, ruang tamu,
ruang makan dan dapur. Di sisi terdepan
merupakan ruang tamu, servis dan kamar dari
pembantu. Setiap bangunan diatur secara hukum,
mulai dari tingkatan rumah, panjang bangunan dan warna yang digunakan juga bergantung
pada kelas pemilik rumah.
b. Kekaisaran

Genteng yang berwarna kuning keemasan


adalah satu-satunya elemen yang sangat penting
dan tidak ada pada bangunan yang bukan untuk
Kaisar Cina. Genteng kuning ini hingga saat ini
masih menghiasi hampir seluruh bangunan yang
ada di Forbidden City. Atap pada bangunan
kekaisaran juga ditopang oleh dougong
(kurungan), yakni elemen arsitektur yang hanya
ada pada bangunan keagamaan berukuran besar. Selain warna kuning, hitam juga
merupakan warna yang sering digunakan, karena dipercaya sebagai warna yang
menginspirasi para dewa untu turun ke bumi. Orang Cina kuno juga gemar memadukan
warna kuning keemasan mereka dengan warna merah, sehingga tampak banyak warna
merah digunakan pada pilar dan dinding bangunan. Hiasan pada balok, tiang dan pada pintu
bangunan kekaisaran diprakarsai oleh Kaisar Ming dengan menggunakan bentuk lima cakar
naga. Selain itu penggunaan kolom ganjil hanya boleh digunakan oleh bangunan kekaisaran.
Sehingga bangunan kekaisaran diizinkan memiliki sembilan jian (間, ruang antara dua
kolom). Bangunan kekaisaran juga harus menghadap ke arah Selatan karena angin dingin
dipercaya berasal dari Utara.

c. Bangunan Keagamaan

Secara umum, arsitektur keagamaan mengikuti gaya arsitektur


kekaisaran, bedanya adalah bagian kekaisaran diganti menjadi
tempat untuk patung-patung suci. Tempat tinggal untuk para
biarawan dan biarawati terletak di sisi kanan dan kiri bangunan. Di
sisi lain, arsitektur Taois (arsitektur keagamaan masyarakat Tao)
biasanya mengikuti gaya arsitektur rakyat jelata.
ARSITEKTUR TIMUR

Filosofi Arsitektur Jepang

Menurut kepercayaan Jepang, arah mata angin mempunyai


peran yang penting dalam perencanaan bangunan khususnya ruang
dalam dengan menggunakan A Compass Rose. Panduan A Compass
Rose ini menentukan sisi baik dan sisi buruk dalam penempatan ruang.

 Pintu masuk diusahakan berada di Selatan disesuaikan dengan A


Compass Rose sebagai kebudayaan dan sistem kepercayaan di
Jepang.

 Arah Selatan pada A Compass Rosememiliki filosofi yang artinya adalah


“kedatangan” (ri), sehingga letak entrance khususnya pada bangunan umum,
bangunan ritual dan banguanan pemerintahan berada pada bagian selatan.

 Kamar mandi tidak ditempatkan di bagian Timur Laut karena menurut kepercayaan
Jepang (kebudayaan) dapat menimbulkan penyakit.

 Taman dibuat di bagian Timur Laut yang diyakini sebagai penangkal setan dan dapat
diyakini membawa keberuntungan bagi anggota keluarga.

 Perletakan taman tidak boleh berada di arah Barat Daya karena membawa dampak
yang buruk yaitu kemiskinan.

 Ruang minum teh “Chashitsu” pada arsitektur Jepang tradisional berbeda dengan
arsiterktur Jepang modern, di sini ruang minum teh letaknya tidak diharuskan pada
sisi/ samping bangunan.

 Perluasan bangunan dapat dilakukan kecuali ke arah Timur Laut karena menurut
kepercayaan Jepang apabila perluasan dilakukan pada arah tersebut dapat
menimbulkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga.
RUMAH TRADISIONAL ARSITEKTUR JEPANG

Rumah tradisional Jepang cenderung berbentuk kecil dan berdekatan antara satu
dengan yang lainnya, baik itu di perkotaan ataupun di pedesaan. Namun, elemen kunci dari
desain rumah hunian tradisional Jepang terletak pada privasi, cahaya alami, perlindungan
dari bagian luar rumah, dan tidak mementingkan ukuran atau lokasi rumah.

Walaupun sebagian besar orang Jepang yang tinggal di perkotaan tidak mampu
membangun rumah, apartemen mereka juga sering memiliki unsur-unsur tradisional,
seperti bak untuk berendam dan penggunaan satu buah anak tangga di bagian pintu masuk
rumah. Banyak juga rumah bergaya Barat di Jepang yang memiliki satu ruangan tradisional
Jepang dengan lantai Tatami. Elemen desain rumah tradisional Jepang telah menjadi
inspirasi bagi arsitek Barat sejak lama, dan dapat ditemukan di rumah-rumah lain di seluruh
dunia.

Elemen-elemen rumah tradisional Jepang:

 Pintu gerbang khas Jepang.

Sebagian besar jalan-jalan perumahan di Jepang tidak


memiliki trotoar di depan rumah. Pemisahan antara ruang
publik dan ruang pribadi biasanya hanya dipisahkan oleh pintu
gerbang rumah. Seperti di Kyoto misalnya yang memiliki ciri
khas pintu gerbang beratap tradisional yang memisahkan antara
jalan dan bagian dalam rumah.
 Tembok pelindung rumah.

Privasi dari tiap rumah di kompleks perumahan


biasanya dipisahkan dengan dinding di luar rumah. Blok
beton adalah bahan yang paling umum digunakan untuk
membuat dinding di luar rumah, baik di kota-kota ataupun
di desa-desa. Akan tetapi, beberapa rumah besar di Kyoto
sering menggunakan dinding batu dengan pagar kayu di
atasnya.

 Atap keramik yang luas.

Jepang adalah negara dengan curah hujan yang tinggi.


Atap rumah di Jepang didesain dengan sistem drainase
untuk mengeluarkan air dalam jumlah besar dari dalam
rumah. Bentuk atap yang luas mampu melindungi penghuni
rumah dengan maksimal saat hujan dan membuat air hujan
tidak masuk ke dalam rumah.

 Penempatan arah rumah.

Rumah di Jepang biasanya memiliki lokasi di sebelah


Utara atau Selatan, dengan ruang utama yang menghadap
ke Selatan untuk memastikan sinar matahari dapat masuk
dengan optimal sepanjang hari. Pemandangan paling ideal
yang dicari dari setiap rumah di Jepang adalah pegunungan
atau air. Akan tetapi, pemandangan taman di rumah sangat
penting. Cahaya alami dianggap sebagai sebuah hak asasi manusia bagi setiap pemilik
rumah dan apartemen di Jepang.

 Satu buah anak tangga di pintu masuk (step-up entryways).

Genkan merupakan tempat untuk orang yang ingin masuk


ke dalam rumah mengganti sepatu outdoor mereka dengan
sandal atau slipper.Genkan merupakan sebuah ruang transisi
antara bagian luar dan dalam rumah. Pada Genkan terdapat
lemari untuk meletakkan sepatu serta benda-benda dekoratif
lain seperti keramik, bunga, atau karya seni. Genkanjuga
terkadang tergabung atau menghadap tokonama (ceruk pada dinding), tempat meletakkan
gulungan atau karya seni lainnya, serta ikebana (rangkaian bunga tradisional) ditampilkan.
 Lorong di luar ruangan.

Engawa adalah lorong-lorong luas yang berfungsi untuk


menghubungkan kamar dan menjadi ruang transisi antara ruangan di
dalam rumah dan bagian luar. Engawa berfungsi sebagai tempat
masuknya udara dan cahaya, juga sebagai beranda pada musim panas.

 Pintu geser.

Pintu-pintu geser menjadi ciri khas utama pada budaya


Jepang. Pintu geser dengan panel kayu dan celah-celah kecil
(mushiko mado) biasanya paling sering digunakan pada
Kyoto machiya(rumah kerja tradisional). Pintu geser juga
sering digunakan untuk menghubungkan antara ruang utama
dan taman.

 Kayu.

Kayu di rumah-rumah Jepang sering memiliki noda dan


terlihat tua, tetapi tidak pernah dicat karena cat dapat
menutupi serat-serat kayu yang dinilai sangat berharga oleh
masyarakat Jepang. Batang pohon utuh dapat digunakan
sebagai atap balok, sedangkan bagian pohon paling mahal,
seperti batang pohon cemara Jepang, digunakan
untuk tokonama.

 Anyaman jerami.

Lantai tatami, yang terbuat dari anyaman Igusa (sejenis


rumput), digunakan untuk lantai karena terasa sejuk di
musim panas dan hangat di musim dingin. Meskipun mahal,
lantai tatamidapat bertahan hingga bertahun-tahun karena
orang Jepang tidak pernah memakai sepatu di dalam rumah.
Tikar yang dipakai biasanya berbentuk persegi panjang yang
ujung-ujungnya terikat dengan kain hitam, atau dengan
brokat pada rumah orang kaya.

 Sedikit penghalang antara indoor dan outdoor.

Akses keluar yang mudah, dengan pintu geser yang


mudah dibuka dan jendela, merupakan elemen paling
penting dalam desain Jepang.
 Ruang serbaguna.

Tempat tidur tradisional (futon) yang digunakan


selalu dilipat dan disimpan di lemari pada siang hari. Hal
ini membuat sebuah ruang besar dapat memiliki banyak
sekali kegunaan, seperti untuk duduk santai, makan dan
tidur. Ruangan yang fleksibel dan furnitur yang mudah
dipindahkan memungkinkan rumah berukuran kecil
dapat menampung seluruh anggota keluarga dengan nyaman.

 Kamar mandi tradisional.

Di masa lalu, banyak orang Jepang yang mandi di


tempat pemandian umum karena hanya orang-orang kaya
saja yang mampu membuat furo. Untuk
membuat furo tidak hanya membutuhkan ruang, tetapi
juga bahan bakar yang mampu mempertahankan suhu air
antara 37-42 derajat celcius. Walaupun saat ini masih
terdapat tempat pemandian umum, mayoritas rumah di
Jepang sudah memiliki furo mereka sendiri, yang hanya
digunakan untuk berendam. Sedangkan, kegiatan lain
seperti menyabuni badan dan membilas dilakukan di luar bak menggunakan shower atau
ember. Sejak dulu, mandi merupakan ritual keseharian yang penting di Jepang.

 Sedikit penghalang antara indoor dan outdoor.

Akses keluar yang mudah, dengan pintu geser


yang mudah dibuka dan jendela, merupakan elemen
paling penting dalam desain Jepang. Estetika indoor-
outdoor ini sangat mempengaruhi arsitek modernis di
seluruh dunia.
RUMAH MACHIYA

Sejarah Rumah Machiya

Machiya merupakan rumah rakyat Jepang yang berada di tengah kota, memiliki
konsep sebagai tempat tinggal sekaligus tempat usaha. Fisik bangunan mewadahi aktivitas
usaha sekaligus aktivitas hidup sehari-hari. Karena keterbatasan lahan, biasanya rumah ini
cenderung memanjang ke belakang. Pada masa sekarang, rumah jenis ini sudah termasuk
langka, namun kota Kyoto masih memelihara machiya paling banyak. Rumah ini pada
awalnya dijadikan sebagai hunian bagi kelas bukan samurai, seperti seniman dan pedagang.

Rumah jenis ini diperkirakan sudah ada sejak zaman Heian (794-1185). Kota Kyoto,
yang dikenal dengan khas rumah jenis Machiya, pernah menderita kebakaran pada tahun
1864 karena pemberontakan Hamaguri oleh karena itu banyak bangunan yang terbakar.
Semenjak kejadian itu, rumah-rumah baru didirikan. Bangunan-bangunan ini lah yang
menjadi Machiya tua yang masih tersisa sekarang.

Ciri Khas Machiya

“Denah Rumah Machiya”

Seperti rumah Jepang pada umumnya, Machiya menggunakan material dominan


kayu. Hal ini digunakan karena Jepang termasuk Negara yang rawan terhadap gempa.
Dengan memakai bahan-bahan konstruksi yang ringan diharapkan agar kerusakan tidak
terlalu fatal saat terjadi gempa.

Dinding dan atap tersusun menjadi satu kesatuan. Bagian depan bangunan digunakan
sebagai toko kemudian bagian belakang terdapat kamar berlantai kayu dan bertikar tatami.
Kemudian juga terdapat dapur dan gudang. Desain dari Machiya ini memperhatikan
iklim di lingkungan Kyoto yang bisa sangat dingin di musim dingin, dan sangat panas dan
lembab di musim panas. Beberapa lapisan pintu geser (fusuma dan Shoji) digunakan untuk
mengatur suhu; menutup semua layar di musim dingin sehingga mampu digunakan
sebagai perlindungan dari dingin, ketika membuka mereka semua di musim panas mampu
menahan panas dan kelembaban. Rumah ini ditandai dengan memiliki warna hitam untuk
dinding luar yang diplester. Warna ini dibuat dari tinta India ,kapur dan hancuran cangkang
tiram kemudian dibakar.

Walaupun dianggap sebagai bangunan tradisional yang patut untuk dilestarikan,


namun sebagian orang Jepang memandang negatif machiya karena seringkali merupakan
hunian orang miskin dan tidak resmi.

Tata Ruang

Tata ruang rumah Machiya hampir mirip dengan denah rumah tradisional Jepang
pada umumnya. Yang membedakan adalah pada rumah Machiya biasanya terdapat toko di
depan rumahnya dan rumah ini cenderung memanjang ke belakang. Machiya dibagi-bagi
menjadi beberapa bagian, antara lain dengan ruangan sempit untuk toko di bagian depan,
tempat tinggal dan taman di bagian tengah, gudang dan bangunan tambahan di bagian
belakang.

 Toko

Merupakan bagian depan dari rumah Machiya yang


dipergunakan untuk usaha seperti pertokoan.

 Genkan

Genkan adalah tempat di mana orang melepas sepatu


mereka. Ketika mereka melepaskan sepatu mereka, orang-
orang melangkah naik ke lantai yang lebih tinggi 40-50 cm (15-
19 inci) dari genkan. Disamping genkan terdapat sebuah rak
atau lemari disebut Getabako di mana orang dapat
menyimpan sepatu mereka. Sandal untuk dipakai di rumah
juga tersimpan di sana. Menurut kepercayaan Jepang, pintu
masuk diusahakan berada di Selatan yang memiliki filosofi “kedatangan” (ri)
 Doma

Merupakan ruang utama yang mengambil sepertiga dari luas denah rumah.
Fungsinya adalah untuk kegiatan memasak, sehingga tersedia oven tanah dan tempat
mencuci yang terbuat dari kayu yang didirikan dibelakang doma. Di sekitar ruang doma
terdapat tiga baris ruang. Ruang yang paling dekat dengan jalan disebut dengan mise. Di
sinilah barang-barang dagangan dipamerkan, dan transaksi perdagangan dilakukan.

Ruang yang terletak di bagian tengah, dipergunakan sebagai kantor, dan juga tempat
anggota keluarga menerima tamu. Ruang yang terletak di bagian paling belakang
menghadap ke arah taman tertutup. Ruang ini dibuat menyerupai zashiki, lengkap dengan
tokonoma, yang berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan harian dari anggota rumah
tangga tersebut.

 Zushi

Ruang di loteng yang terdiri dari dua bagian, yaitu bagian yang dekat dengan jalan
mempunyai langit-langit rendah berfungsi sebagai gudang. Bagian kedua adalah bagian
belakang yang dipergunakan sebagai kamar tidur.

 Toko na ma (床の間)

Merupakan suatu ruangan yang berukuran lebih kecil


dari ruangan yang ada di dalam rumah. Letaknya berada di
dalam kamar dengan posisinya lebih tinggi beberapa inchi dari
lantai tatami (gaya ruangan masyarakat Jepang). Alasan
mengapa tokonoma dibuat satu tingkat lebih tinggi dari lantai
sebuah ruangan (tatami) adalah karena pada zaman dahulu
sebelum pengaruh agama Budha masuk ke Jepang, bangsa
Jepang telah mengalami sistem kepercayaan dinamisme yaitu
percaya bahwa alam adalah segalanya dan dapat dikatakan
sebagai dewa bagi mereka.

 Washiki

Toilet tradisional jepang (washiki) adalah kloset jongkok juga


dikenal sebagai kloset Asia. Kebanyakan kloset jongkok di Jepang
terbuat dari porselen. Para pengguna toilet di Jepang kebalikan dari
Indonesia dimana mereka menghadap ke dinding di belakang toilet
pada gambar terlihat di sebelah kanan. Kloset jongkok dibagi menjadi
dua jenis: kloset yang berada di permukaan lantai, dan kloset yang
berada di bagian lantai yang ditinggikan sekitar 30 cm.
 Kura/Dozou

Tempat menyimpan harta benda milik keluarga yang terletak di belakang ruang
utama (omoya). Selain itu untuk menyimpan harta benda keluarga bisa juga digunakan
zashiki, yang terletak terpisah dari ruangan utama. Untuk dapat memasuki ruangan ini,
dibuatkan pintu pada ruang doma menuju ke pekarangan belakang.

 Roka

Merupakan lorong dengan lantai kayu yang berada di


pinggir sekeliling rumah.

 Taman

Dalam taman Jepang tidak dikenal garis-garis lurus


atau simetris. Taman Jepang sengaja dirancang asimetris
agar tidak ada satu pun elemen yang menjadi dominan. Bila
ada titik fokus, maka titik fokus digeser agar tidak tepat
berada di tengah.Taman Jepang berukuran besar dilengkapi
dengan bangunan kecil seperti rumah teh, gazebo, dan
bangunan pemujaan (kuil).

 Atap Rumah Machiya

Atap dipasang dengan genting tanah liat. Umumnya memiliki 2 atau 3 lantai. Di
berbagai tempat di Jepang machiya memiliki ciri khasnya masing-masing. Contoh kyo-
machiya, dibangun dengan bahan-bahan berkualitas bagus dan ringan. Teknik
pembangunan menempatkan tiang pada landasan pada bangunan ini merupakan cara yang
biasa digunakan untuk kuil-kuil. Teknik ini sangat berguna sebagai penahan bangunan
daripada gempa bumi. Gudang dibuat dari lempung dan sangat tahan api.

Atap machiya sering dibuat curam, dan biasanya terbuat dari tanah liat atau genteng
(kawarabuki yane). Atap machiya termasuk jenis atap irimoya dan kirizuma.

Irimoya

Merupakan jenis atap berbentuk tiga segi, dengan


atap tambahan yang berbentuk agak miring di sekitarnya,
sehingga ruang dalam rumah menjadi luas. Pada rumah yang
atapnya terbuat dari genteng keramik, genteng juga dipasang
sampai ke ujung bubungan, dan untuk menghias puncak
bubungan dipasang genteng yang ujungnya berbentuk kepala
raksasa, yang disebut onigawara. Pada rumah yang beratap
rumput juga dipasang hiasan pada kedua sudutnya yang
disebut denganmunekazari.

Kirizuma

Merupakan jenis atap yang paling sederhana yang


berbentuk segi tiga (gabled roof). Jenis atap ini mempunyai
dua sisi yang menurun dari balok bubungan utama (mune).

Prinsip Dasar Konstruksi Rumah Jepang :

 Meredam dampak gempabumi


 Penggunaan material kayu
 Kayu memiliki kekuatan tarik
 Sistem bongkar pasang (knock down)
 Pengerjaan yg lebih presisi
 Perencanaan di pabrikasi
 Perencanaan menggunakan prinsip modul, panjang modul 910 – 1000 cm

Pengerjaan pondasi pada struktur rumah Jepang Pengerjaan balok lantai dasar
Pengerjaan balok dan kolom Pengerjaan atap