Anda di halaman 1dari 20

BAB I

LAPORAN KASUS

A. Identitas
Nama : Ny. T

Tanggal Lahir/ Umur : 7 Agustus 1963/ 56 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Alamat : Lagnal Rt 01/16 Kel. Kebon Bawang

Pekerjaan : Guru

Tanggal pemeriksaan : 22 Agustus 2019

B. Anamnesis
a. Keluhan utama
Nyeri pinggang kiri memberat sejak 1 hari SMRS
b. Riwayat penyakit sekarang
Pasien perempuan datang dengan keluhan Nyeri pinggang kiri memberat sejak 1 hari.
Nyeri muncul secara tiba - tiba dan terasa seperti tertindih beban berat yang sifatnya
hilang timbul. Nyeri dirasakan di bagian pinggang kiri menjalar ke daerah bokong dan
tungkai kiri. Nyeri sudah dirasakan sejak 3 bulan, nyeri lama – kelamaan semakin
memberat ketika pasien berdiri, sedang melakukan aktivitas sebagai ibu rumah
tangga, seperti menyapu halaman, mencuci, serta membersihkan rumah. Nyeri mulai
berkurang ketika pasien sedang beristirahat berbaring terlentang. Saat ini pergerakan
pasien, terutama saat melakukan aktivitas sehari – hari terbatas akibat nyeri. Pasien
tidak ada riwayat trauma sebelumnya. Riwayat demam, batuk lama, penurunan berat
badan massif, kelemahan anggota gerak disangkal. BAB dan BAK tidak ada
kelainan.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


- Riwayat trauma /terjatuh terutama bagian pinggang dan bokong disangkal
- Riwayat hipertensi tidak terkontrol sejak kurang lebih 1 tahun yang lalu
- Riwayat diabetes melitus disangkal, Riwayat asam urat dan kolesterol disangkal,
Riwayat Asma, Tb paru disangkal

d. Riwayat Pengobatan
Pasien rutin kontrol karena keluhannya ke Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok
terakhir kontrol tanggal 15/08/19. Diberikan obat Natrium diklofenak 2x25mg,
Vitamin neurotropik 1x1. Namun keluhan tidak membaik.

e. Riwayat Alergi
Riwayat alergi obat dan makanan disangkal.

f. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti ini.

g. Riwayat Kebiasaan
Pasien adalah seorang guru yang mengajar di sekolah dasar, di mana pasien lebih
sering berdiri dan duduk saat melakukan proses belajar mengajar. pasien kerja dari
pagi hingga sore hari. Pasien juga melakukan aktivitas sebagai ibu rumah tangga
separti menyapu, mencuci, dan membersihkan rumah. Riwayat minum jamu-jamuan
atau obat-obatan disangkal.

h. Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien menggunakan asuransi kesehatan BPJS.

C. Pemeriksaan Fisik
a. Status Generalis
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Komposmentis
GCS : E4M6V5
Tinggi Badan : 148 cm
Berat Badan : 53 kg
Lokasi nyeri : pinggang kiri menjalar ke tungkai kiri
Skala nyeri (vas) :6

2
Tanda Vital :
Tekanan Darah : 130/70 mmHg
Nadi : 80x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36.6 0C

Kepala : Normosefali, deformitas (-), rambut hitam kecoklatan


Mata : anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil bulat isokor 3mm/3mm, refleks
cahaya langsung +/+, reflex cahaya tidak langsung +/+
Telinga : Deformitas (-), sekret (-), membran timpani intak
Hidung : Septum deviasi (-), sekret (-), konka edema (-)
Mulut : Bibir sianosis (-), lipatan nasolabial (+), deviasi lidah (-)
Leher : Trakea letak di tengah, pembesaran kelenjar getah bening (-)
Thorax : Bentuk simetris, tidak ada retraksi
Cor : Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba
Perkusi : batas-batas jantung normal
Auskultasi : bunyi jantung I dan II regular, bising (-)
Pulmo : Inspeksi : pergerakan simetris
Palpasi : fremitus kanan sama dengan kiri
Perkusi : sonor kanan sama dengan kiri
Auskultasi : suara pernapasan vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen : Inspeksi : cembung
Palpasi : nyeri tekan (-), hepar/lien tidak teraba
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) normal
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)

b. Status Neurologis

Ekstremitas Superior Ekstremitas Inferior


Status
Sinistra Sinistra Dekstra Dekstra
Gerakan Aktif Aktif Aktif Aktif

3
Kekuatan otot 5/5/5/5 5/5/5/5 5/5/5/5 5/5/5/5
Tonus otot Normal Normal Normal Normal

Refleks fisiologis Normal Normal Normal Normal


Refleks patologis (-) (-) (-) (-)
Sensibilitas Normal Normal Normal Normal

c. Tes Provokasi

TES Dekstra Sinistra


Valsava Test -
Lasegue / SLR - +
Bragard - -
Sicard - -
Patrick - -
Kontra Patrick - -

D. RESUME

Ny. T 53 tahun, pekerjaan sebagai seorang guru dengan aktivitas berdiri dan duduk
yang lama mengeluh Nyeri pinggang kiri sejak 1 hari SMRS. Nyeri dirasakan dari pinggang
kiri menjalar ke tungkai kiri, terasa linu. Nyeri Sudah dirasakan sejak 3 bulan yang lalu.
Nyeri hilang timbul, diperberat dengan aktivitas, membaik dengan istirahat atau berbaring.
Pasien mengalami kesulitan berjalan ketika nyeri timbul. Keadaan umum tampak sakit
sedang, kesadaran compos mentis. TB : 153 cm, Berat Badan : 48 kg, TD : 130/70 mmHg N:
80 x / menit, P: 20 x/ menit, S : 36,6°C. pada Pemeriksaan Neurologis laseque -/+.

E. DIAGNOSIS

Low Back Pain

F.PENATALAKSANAAN
Non Mediakamentosa

1. Pelatihan cara duduk dan aktivitas


2. Kurangi aktivitas berat

4
3. Hindari mengangkat beban berat
4. Rujuk dokter spesialis saraf

F. PROGNOSIS
Quo Ad Vitam : ad bonam
Quo Ad Fungtionam : dubia ad bonam
Quo Ad Sanationam : dubia ad bonam

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi


a. Kolumna Vertebralis
Kolumna vertebralis ini terbentuk oleh unit-unit fungsional yang terdiri dari :
1. Segmen Anterior
Berfungsi sebagai penyangga beban, dibentuk oleh korpus vertebra yang
dihubungkan satu dengan yang lainnya oleh diskus intervertebra. Struktur ini
masih diperkuat oleh ligamen longitudinal posterior dan ligamen longitudinal
anterior. Ligamen longitudinal posterior mempunyai arti penting dalam
patofisiologi penyakit justru karena bentuknya yang unik. Sejak dari oksiput,
ligamen ini menutup seluruh permukaan belakang diskus intervertebral. Mulai L1
ligamen ini menyempit, hingga pada daerah L5-S1 lebar ligamen hanya tinggal
separuh asalnya. Dengan demikian pada daerah ini terdapat daerah lemah yakni
bagian postero-lateral kanan dan kiri diskus intervertebra, daerah tak terlindung
oleh ligamen longitudinal posterior. Akan nyata terlihat, bahwa tingkat L5-S1
merupakan daerah paling rawan.8

2. Segmen Posterior
Bagian ini dibentuk oleh arkus prosesus transversus dan prosesus spinosus.
Satu dengan yang lainnya dihubungkan oleh sepasang artikulasi dan diperkuat
oleh ligamen serta otot. Ditinjau dari sudut kinetika tubuh (diluar kepala dan
leher), maka akan tampak bahwa gerakan yang paling banyak dilakukan tubuh
ialah fleksi kemudian ekstensi. Dalam kenyataannya gerakan fleksi-ekstensi
merupakan tugas persendian daerah lumbal dengan pusat sendi L5-S1. Hal ini
dimungkinkan oleh bentuk dan letak bidang sendi yang sagital. Lain halnya
dengan bidang sendi daerah torakal yang terletak frontal, bidang sendi ini hanya
memungkinkan gerakan rotasi dan sedikit latero-fleksi.8

6
Gambar 1. Segmen Anterior dan Posterior Columna Vertebralis.8

b. Diskus Intervertebra
Berfungsi sebagai penyangga beban dan peredam kejut. Diskus intervertebra
dibentuk oleh anulus fibrosus yang merupakan anyaman serat-serat fibroelastik
hingga membentuk struktur mirip gentong. Tepi atas dan bawah gentong melekat
pada “end plate” vertebra sedemikian rupa hingga terbentuk rongga antar vertebra.
Rongga ini berisi nukleus pulposus suatu bahan mukopolisakarida kental yang banyak
mengandung air. Menjelang usia dekade kedua, mulailah terjadi perubahan-perubahan
baik menyangkut nukleus pulposus maupun anulus fibrosus. Pada beberapa tempat
serat-serat fibroelastik terputus, sebagian rusak dan sebagian diganti jaringan ikat.
Proses ini akan berlangsung secara kontinu hingga dalam anulus terbentuk rongga-
rongga.8
B. Definisi
Low back pain (LBP) merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan gejala utama
berupa rasa nyeri atau perasaan lain yang tidak enak yang terjadi di daerah punggung
bagian bawah dan dapat menjalar ke kaki terutama bagian belakang dan samping luar,
umumnya merupakan masalah yang terjadi karena gangguan pada otot bagian belakang.
Keluhan ini dapat demikian hebatnya sehingga seringkali pasien mengalami kesulitan
dalam setiap pergerakan dan pasien harus beristirahat. LBP termasuk salah satu gangguan
muskuloskeletal, gangguan psikologis dan akibat dari mobilisasi yang salah. LBP
menyebabkan timbulnya rasa pegal, linu, ngilu, atau tidak enak pada daerah lumboskaral
dan sakroiliaka yang dapat ditimbulkan oleh berbagai sebab, kadang-kadang disertai
dengan penjalaran nyeri kearah tungkai dan kaki. Nyeri punggung bawah lebih sering
terjadi pada pekerja yang sehari-harinya melakukan kegiatan mengangkat, memindahkan,
mendorong atau menarik benda berat.(1)

7
C. Etiologi

Dalam klinik, LBP dibagi menjadi 4 kelompok :


a. LBP oleh faktor mekanik :
1. LBP oleh mekanik akut. Rasa nyeri yang menyerang secara tiba-tiba, rentang
waktunya hanya sebentar, antara beberapa hari sampai beberapa minggu. Rasa
nyeri ini dapat hilang atau sembuh. LBP oleh mekanik akut dapat disebabkan
karena luka traumatic seperti kecelakaan mobil atau terjatuh, rasa nyeri dapat
hilang sesaat kemudian. Kejadian tersebut selain merusak jaringan, juga dapat
melukai otot, ligamen dan tendon. Pada kecelakaan yang lebih serius, fraktur
tulang pada daerah lumbal dan spinal masih dapat sembuh sendiri. Sampai saat ini
penatalaksanaan awal nyeri pinggang akut terfokus pada istirahat dan pemakaian
analgesik.21
2. LBP oleh mekanik kronik (menahun). Rasa nyeri yang menyerang lebih dari 3
bulan atau rasa nyeri yang berulang-ulang atau kambuh kembali. Fase ini biasanya
memiliki onset yang berbahaya dan sembuh pada waktu yang lama. LBP oleh
mekanik kronik dapat terjadi karena osteoarthritis, rheumatoidarthritis, proses
degenerasi discus intervertebralis dan tumor.21

b. LBP oleh faktor organik :


1. LBP Osteogenik, terdiri atas :
 Radang
 Trauma. Merupakan penyebab utama LBP. Pada orang yang tidak biasa
melakukan pekerjaan otot atau melakukan aktivitas dengan beban yang berat,
dapat menderita nyeri punggung bagian bawah yang akut. Gerakan bagian
punggung yang kurang baik dapat menyebabkan kekakuan dan spasme yang
tiba-tiba pada otot punggung, mengakibatkan terjadinya trauma punggung
sehingga menimbulkan nyeri. Kekakuan otot cenderung dapat sembuh dengan
sendirinya dalam jangka waktu tertentu. Namun pada kasus-kasus yang berat
memerlukan pertolongan medis agar tidak mengakibatkan gangguan yang
lebih lanjut. Tidak jarang LBP merupakan keluhan utama pada fraktur
vertebra lumbal. Terutama fraktur spontan akibat osteoporosis pada penderita
usia lanjut. Jenis fraktur ini sering disertai spondilolistesis L5-S1 dan L4-L5.

8
 Keganasan. Dapat bersifat primer, multiple myeloma atau sekunder akibat
metastasis.8
2. LBP diskogenik. Dalam hal ini proses primer terletak pada diskus
intervertebralis. Bentuk dan gangguan yang sering dijumpai ialah :
 Spondilosis. Proses degenerasi progresif diskus intervertebra.
 Hernia Nukleus Pulposus. Yaitu keluarnya nukleus pulposus dari diskus
intervertebra melalui robekan anulus fibrosus keluar ke arah belakang/dorsal
menekan medulla spinalis atau mengarah ke dorsolateral menekan saraf
spinalis sehingga menimbulkan gangguan. Hernia Nukleus Pulposus (HNP)
paling sering terjadi pada pria dewasa, dengan insiden puncak pada dekade ke-
4 dan ke-5. Kelainan ini lebih banyak terjadi pada individu dengan pekerjaan
yang banyak membungkuk dan mengangkat.8
 Spondilitis ankilosa. Biasanya dimulai dari sendi sakroiliaka, lalu menjalar ke
atas daerah leher. Gejala permulaan bersifat ringan, sering hanya berupa kaku.
Keluhan terutama dirasakan pada waktu pagi bangun tidur, membaik setelah
melakukan pergerakan.8
 LBP neurogenik. Neoplasma, Arakhnoiditis, Stenosis kanal.8

c. Nyeri Rujukan
1. Nyeri rujukan somatis
Iritasi serabut-serabut sensoris dipermukaan dapat dirasakan lebih dalam pada
dermatom yang bersangkutan. Sebaliknya iritasi di bagian-bagian dalam dapat
dirasakan di bagian lebih superfisial.8,21
2. Nyeri rujukan viserosomatis
Adanya gangguan pada alat-alat retroperitoneum, intraabdomen atau dalam
ruangan panggul dapat dirasakan di daerah pinggang.8,21

d. Nyeri Psikogenik
Rasa nyeri yang tidak wajar dan tidak sesuai dengan distribusi saraf dan dermatom
dengan reaksi wajah yang sering berlebihan. Nyeri punggung bawah berdasarkan
sumber:
1. Nyeri punggung bawah Spondilogenik
Nyeri yang disebabkan karena kelainan vertebra, sendi, dan jaringan lunaknya.
Antara lain spondylosis, osteoma, osteoporosis, dan nyeri punggung miofasial.
9
2. Nyeri punggung bawah Viserogenik
Nyeri yang disebabkan karena kelainan pada organ dalam, misalnya kelainan
ginjal, kelainan ginekologi, dan tumor retroperitoneal.
3. Nyeri punggung bawah vaskulogenik
Nyeri yang disebabkan karena kelainan pembuluh darah, misalnya aneurisma, dan
gangguan peredaran darah.
4. Nyeri punggung bawah Psikogenik
Nyeri yang disebabkan karena gangguan psikis seperti neurosis, ansietas dan
depresi. Nyeri ini tidak menghasilkan definisi yang jelas, juga tidak menimbulkan
gangguan anatomi dari akar saraf atau saraf tepi. Nyeri ini superficial tetapi dapat
juga dirasakan pada bagian dalam secara nyata atau tidak nyata, radikuler maupun
non radikuler, berat atau ringan. Lama keluhan tidak mempunyai pola yang jelas,
dapat dirasakan sebentar ataupun bertahun-tahun.8,21

D. Patofisiologi
Low back pain (LBP) sering terjadi pada daerah L4-L5 atau L5-S1, dimana pada
daerah tersebut terdapat dermatomal. Apabila dermatomal kehilangan refleks sensoriknya
maka refleks tendon dalam berkurang dan kelemahan otot terjadi. LBP mekanik banyak
disebabkan oleh rangsang mekanik yaitu penggunaan otot yang berlebihan. Hal ini dapat
terjadi pada saat tubuh dipertahankan dalam posisi statis atau postur tubuh yang salah
untuk jangka waktu yang cukup lama dimana otot-otot di daerah punggung akan
berkontraksi untuk mempertahankan postur tubuh yang normal atau pada saat aktivitas
yang menimbulkan beban mekanik yang berlebihan pada otot-otot punggung bawah.
Penggunaan otot yang berlebihan dapat menimbulkan iskemi atau inflamasi. Setiap
gerakan otot akan menimbulkan nyeri dan menambah spasme otot sehingga gerak
punggung bawah menjadi terbatas. Faktor mekanik juga berperan menyebabkan LBP
mekanik, diantaranya postur tubuh yang buruk, fleksibilitas yang buruk dan otot
penyusun vertebra yang lemah, dan exercise technique dan lifting technique yang kurang
tepat.
Postur tubuh yang buruk seperti sikap berdiri membungkuk ke depan, tidak tegak,
kepala menunduk, dada datar, dinding perut menonjol dan punggung bawah sangat
lordotik dapat memperparah kejadian LBP mekanik. Keadaan ini membuat titik berat
badan akan jatuh ke depan, sehingga punggung harus di tarik ke belakang dan akan
menimbulkan hiperlordosis lumbal.
10
Fleksibilitas yang buruk karena kurangnya olahraga membuat fleksibilitas sendi-sendi
dan ekstensibilitas jaringan ikat menjadi kurang baik sehingga mudah sekali mengalami
penarikan dan peregangan pada pergerakan yang sebenarnya kurang berarti.
Otot penyusun vertebra lumbal yang merupakan otot perut, otot punggung, gluteus
maksimus dan otot iliopsoas adalah otot yang sangat penting dalam mempertahankan
sudut lumbosacral pada posisi yang optimal, yaitu sebesar 30 derajat. Apabila otot pada
daerah ini lemah, dapat menimbulkan pembesaran sudut lumbosakral.
Exercise technique dan lifting technique yang kurang tepat seperti latihan yang salah
atau teknik mengangkat yang salah dapat meningkatkan tekanan ekstra pada punggung
bawah dan berpotensi menimbulkan keluhan LBP mekanik terutama pada daerah
punggung bawah karena nyeri menjalar ke daerah lutut, paha dan pantat.

E. Gambaran Klinik
Penderita LBP memiliki keluhan yang beragam tergantung dari patofisiologi,
perubahan kimia atau biomekanik dalam diskus intervertebralis, dan umumnya mereka
mengalami nyeri. Nyeri miofasial khas ditandai dengan nyeri dan nyeri tekan pada daerah
yang bersangkutan (trigger points), kehilangan ruang gerak kelompok otot yang
tersangkut (loss of range of motion) dan nyeri radikuler yang terbatas pada saraf tepi.
Keluhan nyeri sendiri sering hilang bila kelompok otot tersebut diregangkan.

Menurut McKenzie, LBP mekanik ditandai dengan gejala sebagai berikut:

1. Nyeri terjadi secara intermitten atau terputus-putus.


2. Sifat nyeri tajam dipengaruhi oleh sikap atau gerakan yang bisa meringankan ataupun
memperberat keluhan.
3. Membaik setelah istirahat dalam waktu yang cukup dan memburuk setelah digunakan
beraktivitas.
4. Tidak ditemukan tanda-tanda radang seperti panas, warna kemerahan ataupun
pembengkakan.
5. Terkadang nyeri menjalar ke bagian pantat atau paha.
6. Dapat terjadi morning stiffness.
7. Nyeri bertambah hebat bila bergerak ekstensi, fleksi, rotasi, berdiri, berjalan maupun
duduk.
8. Nyeri berkurang bila berbaring.

11
F. Diagnosis
Pendekatan diagnosis dimulai dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.
a. Anamnesis
1. Kapan mulai sakit, sebelumnya pernah tidak?
2. Apakah nyeri diawali oleh suatu kegiatan fisik tertentu? Apakah pekerjaan sehari-
hari? Adakah riwayat trauma?
3. Dimana letak nyeri? (Sebaiknya pasien sendiri yang disuruh menunjukkan dimana
letak nyerinya). Apakah ada penjalaran?
4. Bagaimana sifat nyeri? Apakah nyeri bertambah pada sikap tubuh tertentu? Apakah
bertambah pada kegiatan tertentu?
5. Apakah nyeri berkurang pada waktu istirahat?

b. Pemeriksaan fisik :
1. Inspeksi
Perhatikan cara berjalan, berdiri, duduk. Inspeksi daerah punggung perhatikan
lurus tidaknya tulang belakang, lordosis, kifosis, gibus, deformitas, ada tidak jalur
spasme otot paravertebral.10
2. Palpasi
Palpasi sepanjang kolumna vertebralis ada tidaknya nyeri tekan pada salah satu
prosessus spinosus, atau gibus/deformitas kecil dapat teraba pada palpasi atau
adanya spasme otot paravertebral.10
3. Pemeriksaan Neurologik
Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk memastikan apakah kasus nyeri punggung
bawah adalah benar karena adanya gangguan saraf atau karena sebab yang lain.10
4. Pemeriksaan Motorik
Apakah ada kelumpuhan, atrofi fasikulasi. Jika ada kelumpuhan segmen mana
yang terganggu.10

c. Tes-tes Provokasi:
1. Tes Laseque
Tungkai difleksikan pada sendi coxae sedangkan sendi lutut tetap lurus. Saraf
ischiadiscus akan tertarik. Bila nyeri punggung dikarenakan iritasi pada saraf ini
12
maka nyeri akan dirasakan pada sepanjang perjalanan saraf ini, mulai dari pantat
sampai ujung kaki.11

Gambar 2. Tes Laseque11

2. Tes Patrick
Pada tes ini pasien berbaring, tumit dari salah satu kaki diletakkan pada sendi lutut
tungkai yang lain. Setelah itu dilakukan penekanan pada sendi lutut hingga terjadi
rotasi keluar. Bila timbul rasa nyeri, maka hal ini berarti ada suatu sebab yang non
neurologik misalnya coxitis. Tes ini dilakukan pada kedua kaki.12

Gambar 3. Tes Patrick 12

3. Tes Kontra Patrick


Tes kontra Patrick dilakukan saat pasien tidur terlentang, sama halnya dengan
melakukan tes Patrick akan tetapi kaki dirotasi kedalam (internal). Tangan
pemeriksa memegang pergelangan kaki dan bagian lateral dari lutut. Setelah itu
lakukan penekanan pada sendi lutut ke rotasi dalam. Apabila nyeri timbul (+)
menunjukkan sumber nyeri di sacroiliaka.13

13
Gambar 4. Tes Kontra Patrick.13

4. Tes Bragard
Modifikasi yang lebih sensitif dari tes Laseque. Caranya sama seperti tes Laseque
dengan ditambah dorso fleksi kaki. Bila nyeri punggung dikarenakan iritasi pada
saraf ini maka nyeri akan dirasakan pada sepanjang perjalanan saraf ini, mulai dari
pantat sampai ujung kaki.14

Gambar 5. Tes Bragard.14

5. Tes Sicard

Sama seperti tes Laseque namun ditambah dorsofleksi dari ibu jari kaki. Bila nyeri
punggung dikarenakan iritasi pada saraf ini maka nyeri akan dirasakan pada
sepanjang perjalanan saraf ini, mulai dari pantat sampai ujung kaki.14
6. Femoral Nerve Stretch Test (FNST)
Tes ini bertujuan untuk menilai iritasi pada saraf femoralis (dibentuk oleh radiks
L2, L3, dan L4) dengan cara pasien berbaring miring pada sisi yang tidak sakit
dengan sendi paha dan sendi lutut yang sakit sedikit fleksi, pinggang dan
punggung lurus dan kepala difleksikan. Secara perlahan-lahan fleksi lutut
ditambah dan sendi paha diekstensikan. Tes positif bila terasa nyeri yang menjalar
sepanjang permukaan paha bagian anterior.15

Gambar 6. Femoral Nerve Stretch Test (FNST).15

7. Tes Valsava
Tes ini mengakibatkan naiknya tekanan intratekal sehingga muncul nyeri
radikuler. Pasien diminta mengejan dan menahan napas kemudian dinilai apakah
ada nyeri atau tidak.16

14
Gambar 7. Tes Valsava.16

d. Pemeriksaan Penunjang
Beberapa macam metode diagnostik yang dapat dipakai untuk memastikan penyebab
low back pain.
1. Foto polos
Pada pasien dengan keluhan nyeri punggung bawah, dianjurkan berdiri saat
pemeriksaan dilakukan dengan posisi anteroposterior, lateral dan oblique.
Gambaran radiologis yang sering terlihat normal atau kadang-kadang dijumpai
penyempitan ruang diskus intervertebral, osteofit pada sendi facet, penumpukan
kalsium pada vertebra, pergeseran korpus vertebra (spondilolistesis), dan infiltrasi
tulang oleh tumor. Penyempitan ruangan intervertebral terlihat bersamaan dengan
suatu posisi yang tegang, melurus dan suatu skoliosis akibat spasme otot
paravertebral.
2. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
MRI digunakan untuk melihat defek intra dan ekstra dural serta melihat jaringan
lunak. Pada pemeriksaan dengan MRI bertujuan untuk melihat vertebra dan level
neurologis yang belum jelas, kecurigaan kelainan patologis pada medulla spinalis
atau jaringan lunak, menentukan kemungkinan herniasi diskus pada kasus post
operasi, kecurigaan karena infeksi atau neoplasma.
3. CT-Mielografi
CT-mielografi merupakan alat diagnostik yang sangat berharga untuk diagnosis
LBP untuk menentukan lokalisasi lesi pre-operatif dan menentukan adanya
sekuester diskus yang lepas dan mengeksklusi suatu tumor. 10,18,21

15
G. Diagnosis Banding

Kelainan Red Flags

Kanker atau infeksi - Usia <20 tahun atau >50 tahun


- Riwayat kanker
- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
- Terapi imunosupresan
- Infeksi saluran kemih, IV drug abuse, demam, menggigil
- Nyeri punggung tidak membaik dengan istirahat
Fraktur vertebra - Riwayat trauma bermakna
- Penggunaan steroid jangka panjang
- Usia >70 tahun
Sindrom kauda ekuina - Retensi urin akut atau inkontinensia overflow
atau deficit neurologik - Inkontinensia alvi atau atonia sfingter ani
berat - Saddle anesthesia
- Paraparesis progresif atau paraplegia

H. Penatalaksanaan
Pada prinsipnya penanganan low back pain terdiri dari :
a. Farmakologis
Langkah pertama adalah pemberian obat-obatan, untuk mengurangi nyeri tanpa
menghiraukan penyebab dasar low back pain. Obat yang diberikan berupa golongan
analgetik dimana golongan ini terdiri dari analgetik antipiretik dan analgetik narkotik.
Yang umum digunakan analgetik antipiretik yang bekerja menghambat sintesa dan
pelepasan endogenous pain substance sehingga mencegah sensitisasi reseptor nyeri.
Disamping itu dikenal pula obat yang mempunyai potensi anti-inflamasi disamping
analgetik misalnya pirasolon dan derivat-derivat asam organik lainya dikenal sebagai
non steroidal antiinflamatory drugs (NSAID). Selain itu juga dapat digunakan
tranquilizer minor yang bekerja sentral menurunkan respon terhadap rangsangan
nyeri, mengurangi kegelisahan dan untuk relaksasi otot.8

16
b. Program Rehabilitasi Medik
1. Low back pain oleh faktor mekanik akut
Tirah baring total disertai pemanasan setempat seperti infra merah, kompres air
hangat, bantal panas. Biasanya kesembuhan 4-5 hari.8
2. Low back pain oleh faktor mekanik kronis
Pada keadaan ini hiperlordosis mendasari patofisiologi nyeri. Karena itu
tatalaksana ditujukan pada latihan-latihan untuk menghilangkan hiperlordosis
tersebut.8
 Tujuan pemberian latihan, yaitu8
 Mengurangi hiperlordosis, memperbaiki postur tubuh.
 Membiasakan diri untuk melakukan gerakan-gerakan yang sesuai dengan
biomekanik tulang punggung.
 Prinsip pemberian latihan, yaitu8
 Latihan penguatan dinding perut otot gluteus maksimus.
 Latihan peregangan otot yang memendek, terutama otot punggung dan
hamstring.
 Teknik latihan:
 Pasien berbaring terlentang, sendi panggul dan lutut dalam keadaan fleksi.
Dengan kekuatan otot perut, tekan pinggang hingga menempel dasar.
Kemudian angkat pinggul keatas sementara posisi pinggang tetap
dipertahankan melekat pada dasar. Hal ini dimungkinkan oleh kontraksi
otot gluteus maksimus.20
 Pasien berbaring terlentang, sendi panggul dan lutut dalam keadaan fleksi.
Dengan kedua belah tangan di dada, angkatlah kepala dan bahu hingga
dagu menempel di dada.20
 Pasien berbaring terlentang, sendi panggul dan lutut dalam keadaan fleksi.
Tarik salah satu lutut ke arah perut sambil mengangkat kepala dan bahu
seolah-olah hendak mencium lutut. Lakukan bergantian dengan tungkai
satunya.20
 Sama seperti latihan sebelumnya tetapi dilakukan pada dua lutut
sekaligus.20

17
 Berdiri membelakangi dinding dengan jarak kurang lebih 15 cm dari
dinding. Tekan pinggang kearah dinding hingga tidak lagi ada celah antara
pinggang dan dinding.2

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Advanced Assesment Of Lower Extremity Injuries.


2. Angliadi L.S, Sengkey L, Gessal J, Mogi Th. I. Low Back Pain. Ilmu Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi. Manado: FKUNSRAT. 2006:79-90.
3. Anonim. Physical therapy management of hip OA.. Diunduh dari: http://morphopedics.w
ikidot.com/physical-therapy-management-of-hip-oa
4. Anonim. Test bragard.. Diunduh dari : http://dottoraus.com/2009/07/test-di-bragard.html
5. Anonim. The valsava manuver. Dinduh dari: http://fervorate.tumblr.com/post/408007205
antara Karakteristik, Antropometrik, Kebiasaan, Status Psikososial, dan
Back Pain pada operator komputer perusahaan travel di manado. eCl. 2015;3:687-94.
6. Bahar A, Wuysang D. Pemeriksaan Neurologi Lainnya. Departement
Banjarmasin. 2012:19-24.
7. Basuki K. Faktor Risiko Kejadian Low Back Pain Pada Operator Tambang

Diunduh dari: http://www.medicinageriatrica.com.br/tag/sinal-de-lasegue


Diunduh dari:https://www.slideshare.net/JLS10/kin19-ach1-lumbar-thoracic-evaluation
8. Docking RE, Fleming J, Brayne C, et al. Epidemiology of back paon in older adults: prevalence
and risk factors for back pain onset. Rheumatology 2011;50:164-1653.
9. Elsya Adetia. Low Back Pain ec Mekanik Kronik.[Jurnal]Universitas Diponegoro Fakulta
s Kedokteran Universitas Diponegoro. 2015.

FKUNSRAT. 2015; (3):143-9.

Gambaran Radiografis Responden dengan Kejadian Spondylogenic Low Back Pain. Diu
nduh dari : http://journal.unair.ac.id/downloadfullpapersHubungan%20antara%20Karakt
eristik.pdf.
10. Huldani. Referat Nyeri Punggung. FK Universitas Lambung Mangkurat
11. Kalangi P, Angliadi E, Gessal J. Perbandingan Kecepatan Berjalan pada

Kesehatan Indonesia Vol.4;no.2. 2013, 115-121.

12. Miguel AJ. Dor lombar – como previnir.


Neurologi Unhas. 2015: 23.
13. Nurazizah S, Widayanti, Rukanta D. Hubungan Kebiasaan Olahraga Dengan Low Back P
ain Disability. Prosiding Pendidikan Dokter. 2015 Hal 968-74.

19
Pasien Nyeri Punggung Bawah Mekanik Subakut dan Kronik Menggunakan Timed Up
And Go Test. Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Manado:

14. Pengukuran ROM Ekstremitas Superior. Diunduh dari:http://med.unhas.ac.id/fisioterapi/


wcontent/uploads/2016/12/PENGUKURAN-ROM.pdf
15. Perdani P, The effect of body posture and body position in development of low back pain.
[Artikel]Universitas Diponegoro Fakultas Kedokteran UniversitasDiponegoro 2012; h.1-
18

16. Red Flags-Low Back Pain. Diunduh dari : https://www.aci.health.nsw.gov.au/__data/ass


ets/pdf_file/0003/212889/Red_Flags.pdf
17. Sari NP, Mogi TI, Angliadi E. Hubungan lama duduk dengan kejadian Low
18. Sarwili I. Hubungan beban kerja perawat terhadap angka kejadian LBP (Low Back Pain).
[Journal] 2015 ;5:25-33.
Sebuah Perusahaan Tambang Nickel Di Sulawesi Selatan. Jurnal Promosi

19. Snell’s R. Clinical Neuroanatomy Spasm. Edisi ke-7, Philadelphia: Wolters Kluwer
Lippincott & Wilkins; 2010. h.136.
20. The Thoracolumbar Spine.. Diunduh dari: https://musculoskeletalkey.com/the-thoracolu
mbar-spine/
21. Yasin M, Komang A, Sustini, Andreani S, Fatchur Rochman F. Hubungan

20