Anda di halaman 1dari 15

PENGELOLAAN PENYAKIT GERIATRI PARU

RANGKUMAN
Pembahasan tentang proses menua semakin sering muncul seiring
dengan semakin bertambahnya populasi usia lanjut di berbagai belahan
dunia. Penelitian-penelitian mengenai perubahan yang terkait usia
merupakan area yang menarik dan penting belakangan ini. Berbagai aspek
mengenai proses menua banyak dibahas seperti aspek sosial, psikologi,
ekonomi atau fisik.
Telah banyak dikemukakan bahwa proses menua amat dipengaruhi
oleh interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Usia kronologi yang
diukur dengan tahun dan usia fisiologi yang diukur dengan kapasitas
fungsional tidaklah selalu seiring sejalan. Seseorang dapat terlihat lebih
muda atau lebih tua dari umurnya, dan mungkin memiliki kapasitas
fungsional yang lebih besar atau lebih kecil dari yang diperkirakan
dimilikinya pada umur tertentu.
Proses menua bukanlah sesuatu yang terjadi hanya pada orang
berusia lanjut, melainkan suatu proses normal yang berlangsung sejak
maturitas dan berakhir dengan kematian. Namun demikian, efek penuaan
tersebut umumnya menjadi lebih terlihat setelah usia 40 tahun.
Proses menua seyogyanya dianggap sebagai suatu proses normal dan
tidak selalu menyebabkan gangguan fungsi organ atau penyakit. Berbagai
faktor seperti faktor genetik, gaya hidup, dan lingkugan, mungkin lebih besar
mengakibatkan gangguan fungsi, daripada penambahan usia itu sendiri. Di
sisi lain, hubungan antara usia dan penyakit amatlah erat. Laju kematian
untuk banyak penyakit meningkat seiring dengan menuanya seseorang,
terutama disebabkan oleh menurunnya kemampuan orang usia lanjut
berespons terhadap stress, baik stress fisik maupun psikologik.
Secara umum dapat dikatakan terdapat kecenderungan menurunnya
kapasitas fungsional baik pada tingkat selular maupun pada tingkat organ
sejalan dengan proses menua. Akibat penurunan kapasitas fungsional
tersebut, orang berusia lanjut umumnya tidak berespons terhadap berbagai
rangsangan, internal atau eksternal, seefektif yang dapat dilakukan oleh
orang yang lebih muda. Menurunnya kapasitas untuk berespons terhadap
lingkungan internal yang berubah cenderung membuat orang usia lanjut sulit
untuk memelihara kestabilan status fisikawi dan kimiawi di dalam tubuh,
atau memelihara homeostasis tubuh. Gangguan terhadap homoestasis
tersebut menyebabkan disfungsi berbagai sistim organ lebih mungkin terjadi
dan juga toleransi terhadap obat-obatan menuruna.
Perlu disadari bahwa amat sulit membedakan apakah proses menua
yang terjadi pada seseorang murni semata-mata karena proses menua itu
sendiri atau akibat penyakit yang menyertai usia lanjut tersebut. Amat
dibutuhkan penelitian yang dapat membedakan penurunan fungsi akibat
penyakit atau proses menua normal yang tentunya tidak mudah, karena
proses menua normal belum dapat sepenuhnya dijelaskana dan kebanyakan
orang yang berusia lanjut juga sudah mengalami beragam penyakit ketika
mereka bertambah tua. Penelitian yang sudah ada, sebenarnya lebih banyak
menggunakan disain potong lintang dimana parameter yang diteliti, diukur
dan dibandingkan pada saat yang sama untuk berbagai kelompok umur.
Kelemahan penelitian dengan disain tersebutaadalah amat sulit untuk
menetapkan apakah perubahan-perubahan fungsi organ yang terjadi
disebabkan karena usia atau perubahan akibat sejumlah faktor sosial dan
lingkungan, karena semuanya diukur pada satu saat yang sama dan tidak
diikuti dari waktu ke waktu (kohort).
Sebuah penelitian kohort besar, Framingham studi, yang melibatkan
sekitar 5000 orang sejak tahun 1950-an, atau biasa disebut studi longitudinal
Framingham, dan Baltimore Longitudinal study of aging (BLSA) yang dimulai
pada tahun 1958 dan melibatkan lebih dari 1000 subjek, mencoba mengikuti
berbagai perubahan pada manusia dari waktu ke waktu seiring dengan
penuaan.
Penelitian-penelitian mengenai perubahan akibat proses menua
menjadi semakin populer dan dirasakan penting pada tahun-tahun
belakangan ini seiring dengan semakin bertambahnya populai usia lanjut di
berbagai belahan dunia. Berbagai artikel ilmiah dan populer semakin banyak
membincangkan masalah proses menua tersebut dari berbagai aspek, baik
sosial, psikologi, ekonomi, atau fisik. Tulisan ini akan lebih banyak membahas
aspek biologi proses menua, yakni berbagai perubahan pada tubuh akibat
proses menua pada tataran mikroskopik dan makroskopik. Selanjutya
fisiologi proses menua disertai dengan implikasi kliniknya akan dibicarakan
lebih jauh, dan akhirnya konsep menua yang sukses/ sehat akan
dikemukakan untuk melengkapi pembahasan mengenai proses menua ini.

Definisi dan Terminologi


Menua didefinisikan sebagai proses yang mengubah seorang dewasa sehat
menjadi seorang yang ‘frail’ (lemah, rentan) dengan berkurangnya sebagian
besar cadangan sistim fisiologis dan meningkatknya kerentanan terhadap
berbagai penyakit dan kematian secara eksponensial. Menua juga
didefinisikan sebagai penurunan seiring waktu yang terjadi pada sebagian
bessra makhluk hidup, yang berupa kelemahan, meningkatnya kerentanan
terhadap penyakit dan perubahan lingkungan, hilangnya mobilitas dan
ketangkasan, serta perubahan fisiologis yang terkait usia.
Terdapat beberapa istilah yang digunakan oleh gerontologis ketika
membicarakan proses menua:
1. Aging (bertambahnya umur): menunjukkan efek waktu, suatu proses
perubahan, biasanya bertahap dan spontan.
2. Senescence (menjadi tua): hilangnya kemampuan sel untuk membelah
dan berkembang (dan seiring waktu akan menyebabkan kematian).
3. Homeastatis: penyempitan/ berkurangnya cadangan homeostatis yang
terjadi selama penuaan pada setiap sistim organ.
Istilah aging yang hanya menunjukkan efek waktu, dianggap tidak
mewakili apa yang terjadi pada proses menua. Sebab berbagai proses yang
terjadi seiring waktu, seperti perkembangan (development), istilah yang
sering digunakan di bidang pediatri, dapat disebut sebagai aging. Aging
merupakan proses yang terus berlangsung (continuum), yang dimulai dengan
perkembangan (development) yaitu proses generatif seiring wkatu yang
dibutuhkan untuk kehidupan, dan dilanjutkan dengan senescence yaitu proses
degeneratif yang inkompatibel dengan kehidupan. Istilah senescence juga
digunakan untuk menggambarkan turunnya fungsi efisien suatu organisme
sejalan dengan penuaan dan meningkatnya kemungkinan kematian.
Membedakan antara aging dan senescence dianggap perlu, karena
banyak perubahan selama aging mungkin tidak merusak dan mungkin suatu
perubahan yang diharapkan. Sebagai contoh, kebijakan (wisdom) yang
meningkat seiring usia tidak dianggap sebagai senescence melainkan suatu
aging, walaupun hal itu merupakan bagian dari proses menua. Sebaliknya,
gangguan memori yang terjadi selama aging merupakan manifestasi
senescence.
Sementara konsep homeostatis menunjukkan bahwa sering dengan
bertambahnya usia maka makin kecil kapasitas seseorang tua untuk
membawa dirinya kekeadaan homoestatis setelah terjadinya suatu ‘challenge’
(disini yang dimaksud challenge adalah kondisi atau perubahan yang
mengganggu homeostatis). Penjelasan mengenai konsep homoestenosis ini
akan diuraikan pada bagian lain tulisna ini.
Beberapa istilah lain yang perlu dikemukakan terkait dengan proses
menua adalah gerontologi, geriatri, dan longevity. Gerontology adalah ilmu
yang mempelajari proses menua dan semua aspek biologi, sosiologi, dan
sejarah yang terkait dengan penuaan. Geriatri merujuk pada pemberian
pelayanan kesehatan untuk usia lanjut. Geriatri merupakan cabang ilmu
kedokteran yang mengobati kondisi dan penyakit yang dikaitkan dengan
proses menua dan usia lanjut. Pasien geriatri adalah pasien usia lanjut
dengan multipatologi (penyakit ganda), sementara longevity merujuk pada
lama hidup seorang individu. Dua aspek longevity adalah mean longevity dan
maximum longevity. Mean longevity merupakan longevity rata-rata suatu
populasi, disebut pula usia harapan hidup(life expectance). Mean longevity
dihitung berdasarkan penjumlahan umur semua anggota populasi saat
meninggal dibagi jumlah anggota populasi tersebut. Maximum longevity (life
span) merupakan usia saat meninggal dari anggota populai yang hidup paling
lama. Pada manusia, maximum longevity diyakini sekitar 110-120 tahun.

Teori Mengenai Proses Menua


Berbagai teori mengenai proses penuaan telah diajukan, namun hingga 20
tahun yang lalu teori-teori tersebut kelihatannya sama dengan teori-teori
penuaan yang pernah diajukan 200 tahun bahkan 2000 tahun yang lalu.
Beberapa teori mengenai proses menua yang telah ditinggalkan dan ditolak
antara lain adalah: (1) Model “error catastrophe” yang diperkenalkan oleh
Orgel; (2) teori “laju kehidupan” atau “rate of living” yang diajukan oleh Pearl;
dan (3) Hipotesis :glukokortikoid”.
Suatu teori mengenai penuaan dapat dikatakan valid bila ia dapat
memenuhi tiga kriteria umum berikut: (1) teori yang dikemukakan tersebut
harus terjadi secara umum di seluruh anggota spesies yang dimaksud, (2)
proses yang dimaksud pada teori itu harus terjadi secara progresif seiring
dengan waktu, dan (3) proses yang terjadi harus menghasilkan perubahan
yang menyebabkan disfungsi atau kegagalan suatu organ/ sistim tubuh
tertentu.
Berbagai penelitian eksperimental di bidang gerontologi dasar selama
20 tahun terakhir ini berhasil memunculkan teori-teori baru mengenai
proses menua yang mencoba memenuhi ketiga kriteria di atas. Dari berbagai
penelitian tersebut, terdapat tiga hal mendasar (fundamental) yang
didapatkan dan kemudian dipergunakan sebagai dasar untuk menyusun
berbagai teori menua. Ketiga hal fundamental tersebut adalah: (1) pola
penuaan pada hampir semua spesies mamalia diketahui sama, (2) laju
penuaan ditentukan oleh gen yang sangat bervariasi pada setiap spesies, dan
(3) laju penuaan dapat diperlampat dengan pembatasan kalori (caloric
restriction), setidaknya pada hewan tikus.
Beberapa teori tentang proses menua yang dapat diterima saat ini,
antara lain:
1. Teori “radikal bebas” yang menyebutkan bahwa produk hasil
metabolisme oksidatif yang sangat reaktif (radikal bebas) dapat
bereaksi dengan berbagai komponen penting selular, termasuk
protein, DN, dan lipid, dan menjadi molekul-molekul yang tidak
berfungsi namun bertahan lama dan mengganggu fungsi sel lainnya.
Teori radikal bebas (free radical teory of ageing) dipekenalkan
pertama kali oleh Denham Harman pada tahun 1956, yang
menyatakan bahwa proses menua normal merupakan akibat
keruskaan jaringan akibat radikal bebas. Harman menyatakan bahwa
mitokondria sebagai generator radikal bebas, juga merupakan target
kerusakan dari radikal bebas tersebut.
Radikal bebas adalah senyawa kimia yang berisi elektron tidak
berpasangan yang terbentuk sebagai hasil sampingan berbagai proses
selular atau metabolisme normal yang melibatkan oksigen. Sebagai
contoh adalah reactive oxygen species (ROS) dan reactive nitrogen
species (RNS) yang dihasilkan selama metabolisme normal. Karena
elektronnya tidak berpasangan, secara kimiawi radikal bebas akan
mencari pasangan elektron lain dengan bereaksi dengan substansi lain
terutama dengan protein dan lemak tidak jenuh. Melalui proses
oksidasi, radikal bebas yang dihasilkan selama fosforilasi oksidatif
dapat menghasilkan berbagai modifikais makromolekul. Sebagai
contoh karena membran sel mengandung, ia dapat bereaksi dengan
radikal bebas sehingga membran sel mengalami perubahan. Akibat
perubahan pada struktur membran tersebut membran sel menjadi
lebih permeabel terhadap beberapa substansi tersebut melewati
membran secara bebas. Struktur di dalam sel seperti mitokondria dan
lisosom juga diselimuti oleh membran yang mengandung lemak
sehingga mudah diganggu oleh radikal bebas. Radikal bebas juga
dapat bereaksi dengan DN, menyebabkan mutasi kromosom dan
karenanya merusak mesin genetik normal dari sel. Radikal bebas
dapat merusak fungsi sel dengan merusak membran sel atau
kromosom sel. Lebih jauh, teori radikal bebas menyatakan bahwa
terdapat akumulais radikal bebas secara bertahap di dalam sel sejalan
dengan waktu, dan bila kadarnya melebih konsentrasi ambang maka
mereka mungkin berkontribusi pada perubahan-perubahan yang
seringkali dikaitkan dengan penuaan.
Sebenarnya tubuh diberi kekuatan untuk melawan radikal bebas
berupa antioksidan yang diproduksi oleh tubuh sendiri, namun pada
tingkat tertentu antioksidan tersebut tidak dapat melindungi tubuh
dari keruskan akibat radikal bebas yang berlebihan.
2. Teori “glikostilasi” yang menyatakan bahwa proses glikosilasi
nonenzimatik yang menghasilkan pertautan glukosa-protein yang
disebut sebagai advanced glycation end products (AGEs) dapat
menyebabkan penumpukan protein dan makromolekul lain yang
termodifikasi sehingga menyebabkan disfungsi pada hewan atau
manusia yang menua. Protein glikasi menunjukkan perubahan
fungsional, meliputi menurunnya aktifitas enzim dan menurunnya
degradasi protein abnormal. Manakala manusia menua, AGEs
berakumulasis di berbagai jaringan, termasuk kolagen, hemoglobin
dan lensa mata. Karena muatan kolagennya tinggi, jaringan ikat
menjadi kurang elastis dan lebih kaku. Kondisi tersebut dapat
mempengaruhi elastisitas dinding pembuluh darah. AGEs diduga juga
berinteraksi dengan DN dan karenanya mungkin mengganggu
kemampuan sel untuk memperbaiki perubahan pada DNA.
Bukti-bukti terbaru yang menunjukkan tikus-tikus yang dibatasi
kalorinya mempunyai gula darah yang rendah dan menyebabkan
perlambatan penumpukan produk glikosilasi (AGEs), merupakan hal
yang mendukung hipotesis glikosilasi ini.
3. Teori “DNA Repair” yang dikemukakan oleh Hart dan Setlow. Mereka
menunjukkan bahwa adanya perbedaan pola laju “repair” kerusakan
DNA yang diindukkan sinar ultra violet (UV) pada berbagai fibroblas
yang dikultur. Fibroblas pada species yang mempunyai umur
maksimum terpanjang menunjukkan laju DNA “repair” terbesar, dan
korelasi ini dapat ditunjukkan pada berbaga mamalia dan primata.
Teori “DNA repair” atau tepatnya “mitochondrial DNA repair” ini
terkait erat dengan teori radikal bebas (terutama ROS) dihasilkan
melalui fosforilasi oksidatif yang terjadi di mitokondria. Mutasi DNA
mitokondria (mtDNA) dan pembentukan ROS di mitokondria saling
mempengaruhi satu sama lain, membentuk “vicious cycle” yang secara
eksponensial memperbanyak kerusakan oksidatif dan disfungsi
selular, yang pada akhirnya menyebabkan kematian sel. Mutasi mtDNA
di manusia terutama terjadi setelah umur pertengahan tiga puluhan,
terakumulasi seiring pertambahan umur, dan jarang melebihi 1 %.
Rendahnya mutasi mtDNA yang terakumulasi ini diakibatkan oleh
proses repair yang terjadi di tingkat mitokondria. Bukti-bukti
menunjukkan gangguan repair pada kerusakan oksidatif ini
menyebabkan percepatan proses penuaan (accelerated aging). Selain
itu mutasi mtDNA akibat gangguan repair ini juga terkait dengan
munculnya keganasan, diabetes melitus dan penyakit-penyakit
neurodegeneratif.

Selain teori-teori di atas, beberapa teori lain juga telah dikemukakan


untuk menjelaskan proses yang terjadi selama penuaan, antara lain: aging by
program; teori gen dan mutasi gen, cross linkage theory, dan teori autoimun.
Yang pasti, tidak ada satu teori tunggal pun yang dapat menjelaskan seluruh
proses menua. Semua teori-teori tersebut saling mengisi dan mencoba
menjelaskan berbagai sebab dan perubahan akibat proses menua, walaupun
belum dapat menjelaskan seluruh proses yang terjadi.
Fisiologi Proses Menua
Seiring dengan bertambahnya usia, terjadi berbagai perubahan fisiologis
yang tidak hanya berpengaruh terhadap penampilan fisik, namun juga
terhadap fungsi dan responsnya pada kehidupan sehari-hari. Namun harus
dicermati, bahwa setiap individu mengalami perubahan-perubahan tersebut
secara berbeda. Pada beberapa individu, laju penurunannya mungkin cepat
dan dramatis; sementara untuk lainnya perubahannya lebih tidak bermakna.
Membicarakan fisiologi proses penuaan tidak dapat dilepaskan dengan
pengenalan konsep homeostenosis. Konsep ini diperkenalkan oleh Walter
Cannon pada tahun 1940- yang telah disinggung di atas, terjadi pada seluruh
sistim organ pada individu yang menua. Pengenalan pada konsep ini penting
untuk memahami berbagai perubahan yang terjadi pada proses penuaan.
Homeostenosis yang merupakan karakteristik fisiologi penuaan adalah
keadaan penyempitan (berkurangnya) cadangan homeostasis yang terjadi
seiring meningkatnya usia pada setiap sistim organ. Konsep homeostenosis
dapat lebih mudah dipahami dengan memperhatikan gambar 1.
Pada gambar di atas dapat dilihat bahwa seiring bertambahnya usia
jumlah cadangan fisiologis untuk menghadapi berbagai perubahan yang
mengganggu homeostasis (challenge) berkurang. Setiap challenge terhadap
homestasis merupakan pergerakan menjauhi keadaan dasar (baseline), dan
semakin besar challenge yang terjadi maka semakin besar cadangan fisiologis
yang diperlukan untuk kembali ke homeostasis. Disisi lain dengan makin
berkurangnya cadangan fisiologis, maka seorang usia lanjut lebih mudah
untuk mencapai suatu ambang (yang disebut sebagai precipice), yang dapat
berupa keadaan sakit atau kematian akibat challenge tersebut.
Penerapan konsep homeostenosis ini tergambar pada sistim skoring
APACHE (acute physiology and chronic health evaluation), suatu skala
penilaian beratnya penyakit. Penilaian perubahan fisiologi akut yang terjadi
dinyatakan dengan semakin besarnya deviasi dari nilai homeostatis pada 12
variabel, antara lain tanda vital, oksigenasi, pH, elektrolit, hematokrit, hitung
leukosit dan kreatinin. Seorang normal pada keadaan homeostasis
mempunyai nilai nol. Semakin besar penyimpangan dari homeostasis skornya
semakin besar. Pada awal penerapannya, skoring APACHE ini tidak
memasukkan variabel usia sebagai salah satu faktor penilaian. Namun ketika
diterapkan pada pasien-pasien yang dirawat karena kondisi akut, terdapat
perbedaan nilai yang signifikan antara kelompok usia muda dan kelompok
usia tua pada satu kondisi penyakit yang sama; skor APACHE pada kelompok
usia tua cenderung lebih rendah. Terlihat bahwa dengan penyimpangan yang
lebih kecil dari keadaan homeostasis, seorang usia tua lebih rentan untuk
menjadi sakit atau meninggal dibandingkan dengan orang muda. Oleh karena
itu penggagas sistim skoring APACHE kemudian memasukkan variabel usia
sebagai ‘nilai bonus’ pada skoring itu,sehingga skor total untuk satu keadaan
sakit tidak berbeda antara usia muda dan usia tua.
Dengan mengingat bahwa mempertahankan keadaan homeostasis
merupakan proses yang aktif dan dinamis, konsep homeostenosis yang
digambarkan pada gambar 1 dapat diinterpretasi seperti apa yang terlihat
pada gambar 2. Seorang usia lanjut tidak hanya memiliki cadangan fisiologis
yang semakin berkurang, namun mereka juga memakai atau menggunakan
cadangan fisiologis ini hanya untuk mempertahankan homeostasis, akibatnya
akan semakin sedikit cadangan yang tersedia untuk menghadapi challenge..
Konsep homeostenosis inilah yang dapat menjelaskan berbagai
perubahan fisiologis yang terjadi selama proses menua dan efek yang
ditimbulkannya. Walaupun merupakan suatu proses fisiologis, perubahan
dan efek penuaan terjadi sangat bervariasi dan variabilitas ini makin
meningkat seiring peningkatan usia. Variasi terjadi antara satu individu
dengan individu yang lain pada umur yang sama, antara satu sistim organ
dengan organ lain, bahkan dari satu sel terhadap sel lain pada individu yang
sama. Tabel 1 merangkum berbagai perubahan utama berbagai sistim organ
pada proses menua.
Tabel 1. Beberapa Perubahan yang terjadi pada berbagai sistim tubuh
pada proses menua
Sistim Endoktrin
Toleransi glukosa terganggu (gula darah puasa meningkat 1
mg/dl/dekade)
Insulin serum meningkat, HbA1C meningkat, IGF-1 berkurang.
Penurunan yang bermakna pada dehidroeplandrosteron (DHEA)
Penurunan testosteron bebas maupun yang bioavailabe
Penurunan hormon T3
Peningkatan hormon paratiroid (PTH)
Penurunan produksi vitamin D oleh kulit
Ovarian failure disertai menurunnya hormon ovarium
Peningkatan kadar homosistein serum
Kardiovaskular
Tidak ada perubahan frekuensi jantung saat istirahat, penurunan frekuensi
jantung maksimum
Berkurangnya pengisian ventrikel kiri
Berkurangnya sel pacu jantung (pacemaker) di nodus SA
Hipertrofi atrium kiri
Kontraksi dan relaksasi ventrikel kiri bertambah lama
Menurunnya respons inotropik, kronotropik, lusitropik terhadap simulasi
beta adrenergik
Menurunnya curah jantung maksimal
Menurunnya hipertrofi sebagai respons terhadap peningkatan volume dan
tekanan
Peningkatan aterial natriuretic peptide (ANP) serum
Lapisan subendotal menebal dengan jaringan ikat
Ukuran dan bentuk yang iregular pada sel-sel endotel
Fragmentasi elastin pada lapisan media dinding arteri
Peningkatan resistensi vaskular perifer
Tekanan darah
Peningkatan tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik tidak berubah
Berkurangnya vasodilatasi yang dimediasi beta-adrenergik
Vasokonstriksi yang dimediasi alfa-adrenergik tidak berubah
Terganggunya perfusi autoregulasi otak
Paru-paru
Penurunan FEV1 dan EVC
Meningkatnya volume residual
Berkurangnya efektifitas batuk
Berkurangnya efektifitas fungsi sillia
Ventilation perfution mismatching yang menyebabkan PaO2 menurun
seiring bertambahnya usia: 100 – (0,32 x umur)
Peningkatan diameter trakea dan napas utama
Membesarnya duktus alvaolaris akibat berkurangnya elastisitas struktur
penyangga area permukaan
Penurunan masssa jaringan paru
Ekspansi toraks
Penurunan tekanan maksimum inspirasi dan ekspirasi
Berkurangnya kekuatan otot-otot pernafasan
Kekakuan dinding dada
Berkurangnya difusi CO
Berkurangnya respons ventilasi akibat hiperkapnia
Hematologi
Berkurangnya cadangan sumsum tulang akibat kebutuhan yang meningkat
Attenuated retikulosis terhadap pemberian entroprotein
Ginjal
Menurunnya bersihan kreatinin (creatinin clearance) dan laju filtrasi
glomerulus (GFR) 10 ml/dekade
Penurunan massa ginjal sebanyak 25%, terutama dari korteks dengan
peningkatan relatif perfusi nefron yukstamedular
Menurunnya ekskresi dan konservasi natrium
Menurunnya ekskresi dan konservasi kalium
Menurunnya kapasitas konsentrasi dan dilusi
Berkurangnya sekresi akibat pembebanan asam
Aksentuasi pelepasan ADH sebagai respons terhadap dehidrasi
Berkurangnya produksi nitrit oksida
Meningkatnya ketergantungan prostaglandin ginjal untuk
mempertahankan perfusi
Menurunnya aktivasi vitamin D
Regulasi suhu tubuh
Berkurangnya vasokonstriksi dan vasidilatasi pembuluh darah kutaneus
Berkurangnya produksi keringat
Meningkatnya temperatur inti untuk mulai berkeringat
Otot
Massa otot berkurang secara bermakna (sarkopenia) karena berkurangnya
serat otot
Efek penuaan paling kecil pada otot diafragma, lebih pada otot tunggal
dibandingkan lengan
Berkurangnya sintesis rantai berat miosin
Berkurangnya invervasi, meningkatnya jumlah miofibril per unit otot
Infiltrasi lemak ke berkas otot
Peningkatan fatigabilitas
Berkurangnya laju metabolisme basal (berkurang 4%/ dekade setelah usia
50)
Tulang
Melambatnya penyembuhan fraktur
Berkurangnya massa tulang pada pria dan perempuan, baik pada tulang
trabekular maupun kortikal
Berkurangnya formasi osteoblas tulang

Penatalaksanaan
Terapi infeksi selalu memerlukan anti mikroba yang sesuai dengan penyebab
infeksi. Tetapi pada infeksi virus banyak virus tidak ada anti virusnya,
sehingga diperlukan peningkatan daya tahan tubuh yang prima untuk
mengeliminasi virus tersebut. Beberapa infeksi virus seperti influenza,
pneumonia, hepatitis, meningitis, enterovirus dapat dilakukan pencegahan
dengan vaksinasi untuk mencegah terjadinya penyakit tersebut. Vaksinasi
pada usila kenapa tidak? Seperti dikemukakan dimuka bahwa masih terdapat
kontroversi terhadap penurunan fungi limfosit B pada Usila. Limfosit Blah
yang dibutuhkan peranannya dalam keberhasilan imunisasi. Masih banyak
yang setuju dan berbagai penelitian menunjukkan hasil baik dari imunisasi
pada Usila untuk pencegahan terhadap infeksi virus terutama untuk usila
dengan risiko tinggi. Yang termasuk usila dengan risiko tinggi menurut the
national health dan Medical Research Council (NHMRC) Amerika Serikat
adalah sebagai berikut:
 Seluruh individu dengan umur >65 tahun
 Individu dengan asplenia baik fungsional maupun anatomi, termasuk
penyakit sickle-cell
 Pasien immunocompromised seperti : HIV (+) sebelum muncul AIDS,
nefrosis akut, multiple mieloma, limfoma, penyakit Hodgkin dan pasien
dengan transplatansi organ
 Pasien dengan immunocompetent, tetapi menderita penyakit kronik
seperti: penyakit jantung kronik, penyakit ginjal kronik, diabetes mellitus,
penyakit paru kronik, pecandu alkohol
 Orang aborigin dan torrest strait islander dengan umur > 50 tahun
 Pasien dengan kelemahan CSF

Untuk infeksi bakterial diperlukan terapi antibiotika yang sesuai


dengan hasil kultur, tetapi bila hasil kultur belum ada, diperlukan terapi
empirik yang sesuai dengan lokasi infeksi, lokasi penderita dan lokasi
terjadinya infeksi (dimasyarakat atau di rumah sakit). Dalam pemberian
dosis dan pemilihan jenis antibiotika perlu diingat adanya perubahan fungsi
organ akibat proses menua serta ko-morbid yang ada pada usial yang
kesemuanya akan berakibat pada terjadinya perubahan distribusi obat,
metabolisme obat, ekskresi dan interaksi obat. Penuaan sendiri telah
menyebabkan menurunnya filtrasi glomerulus sebanyak 50% pada usia 70
tahun, sehingga diperlukan penurunan dosis obat yang diekskresi lewat
ginjal. Beberapa antibiotika juga berinteraksi dengan obat-obat lain yang
secara bersamaan sering diminum usila untuk terapi penyakit ko-morbidnya.
Interaksi obat tersebut dapat meningkatkan toksisitas obat, atau
penurunan efektifitas obat. Contohnya makrolid, tetrasiklin, sulfa dll (tidak
termasuk azitromisin) dapat meningkatkan toksisitas digoksin, warfarin,
teofilin, dan terfenadin, atau pemakaian antasid atau H2 bloker akan
menurunkan absorbsi kuinolon.
Efektifitas antibiotika juga dapat berubah atau menurun karena
adanya perubahan motilitas gaster, penurunan permukaan untuk absorbsi,
peningkatan jaringan adiposa dan interaksi obat.
Penatalaksanaan infeksi pada usila tidak hanya dengan antibiotika
saja, tetapi terapi terhadap penyakit komorbidnya dan perbaikan keadaan
umum (nutrisi, hidrasi, oksigenasi, elektrolit, albumin, dll). Sangat diperlukan
juga untuk mengeliminasi infeksi. Penyakit ko-morbid yang berat serta
keadaan umum yang jelek sering menimbulkan sepsis. Terapi nutrisi sangat
penting bagi usila, dan perlu diingat bahwa usila yang tidak sakitpun sudah
susah makan apalagi bila sakit, karena itu evaluasi terhadap diet harus sangat
ketat. Bila penderita tidak dapat/mau makan seperti biasa, perlu diberikan
per-sonde atau kalau perlu secara parenteral. Cairan juga harus cukup,
monitor osmolaritas plasma atau kalau perlu monitor CVP serta balans
cairan, diperlukan untuk mengetahui kecukupan cairan pada penderita.
Peranan asuhan keperawatan yang baik sangat diperlukan, seperti menjaga
kenyamanan penderita, kebersihan penderita dan tempat tidurnya terutama
bila ada inkontinensia, mencegah terjadinya dekubitus dan kontraktur pada
penderita-penderita yang tidak dapat bergerak ataupun kesadaran menurun.
Jadi jelas bahwa penatalaksanaan infeksi pada usia lanjut sangat
membutuhkan kerjasama tim multi disiplin yang bekerja secara inter disiplin.