Anda di halaman 1dari 94

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Tn.J DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG MURAI B RUMAH SAKIT KHUSUS JIWA SOEPRAPTO BENGKULU TAHUN 2019

B RUMAH SAKIT KHUSUS JIWA SOEPRAPTO BENGKULU TAHUN 2019 DISUSUN OLEH : MARDIANTO PRAYOGI NIM :

DISUSUN OLEH :

MARDIANTO PRAYOGI NIM : PO 5120216047

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU PRODI DIII KEPERAWATAN BENGKULU JURUSAN KEPERAWATAN TAHUN 2019

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA TN. J DENGAN GANGGUAN

PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN

DI RUANG MURAI B RUMAH SAKIT KHUSUS

JIWA SOEPRAPTO BENGKULU

TAHUN 2019

Diajukan Untuk Memenuhim Salah Satu Syarat Menyelesaikan Program

Studi Diploma III Keperawatan Bengkulu Jurusan Keperawatan Poltekkes

Kemenkes Bengkulu

MARDIANTO PRAYOGI NIM :P0 5120216047

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU

JURUSAN KEPERAWATAN BENGKULU

PRODI DIII KEPERAWATAN

2019

i

ii

ix

PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama Tempat, Tanggal Lahir NIM Judul Proposal Penelitian

: Mardianto Prayogi : Pering Baru, 25 Maret 1998 : P0 5120216 047

: Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Pasien Dengan Gangguan Persepsi Sensori :

Halusinasi Pendengaran Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu Tahun

2019.

Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa studi kasus ini adalah betul- betul hasil karya saya dan bukan hasil penjiplakan dari hasil karya orang lain. Demikian pernyataan ini dan apabila kelak dikemudian hari terbukti dalam studi kasus ada unsur penjiplakan, maka saya bersedia bertanggung jawab sesuaai dengan ketentuan yang berlaku.

v

ix

Bengkulu,

Februari 2019

Yang menyatakan,

Mardianto Prayogi

NIM. P0 5120216047

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Tn. J Dengan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran di ruang murai B Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Soeprapto Bengkulu tahun 2019. Dalam Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini Penulis mendapatkan

bimbingan dan bantuan baik materi maupun nasehat dari berbagai pihak sehingga dapat diselesaikan Karya Tulis Ilmiah ini tepat pada waktunya. Oleh karena itu Penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Darwis, S.Kp, M.Kes., selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Bengkulu.

2. Bapak Dahrizal S.Kp, M.PH selaku ketua jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu.

3. Ibu Ns. Mardiani, S.Kep., MM., selaku kepala prodi DIII Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu.

4. Bapak Sariman Pardosi. S.Kp., S.Sos., M.Si(Psi) selaku pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan pengarahan dengan penuh kesabaran dan perhatian kepada Penulis dalam menyusun studi kasus ini.

5. Seluruh Dosen dan staf prodi DIII Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu

6. Seluruh mahasiswa/i seperjuangan program Prodi DIII Keperawatan Poltekkes

Kemenkes Bengkulu. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih banyak kekurangan baik dari segi penulisan, maupun pencapaian teori yang mendasar studi kasus yang penulis angkat. Oleh karena itu Penulis

mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi perubahan yang baik di masa yang akan dating dan agar Penulis dapat berkarya lebih baik lagi.

vi

vi

ix

Akhir kata Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak serta dapat membawa perubahan positif terutama bagi penulis sendiri dan mahasiswa-mahasiswi jurusan keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu.

Bengkulu , Januari 2019

vii ix

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PERSETUJUAN

ii

HALAMAN PENGESAHAN

iii

LEMBAR PERSETUJUAN JUDUL

iv

PERNYATAAN

v

KATA PENGANTAR

vi

DAFTAR ISI

vii

DAFTAR LAMPIRAN

viii

DAFTAR TABEL

ix

DAFTAR BAGAN BAB I PENDAHULUAN

x

A. Latar Belakang

1

B. Batasan Masalah

5

C. Tujuan Penelitian

5

D. Manfaat Penelitian

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. KonsepTeori

1. Definisi

7

2. Rentang Respon Neurobiologis Halusinasi

7

3. Etiologi

8

4. Proses Terjadinya Halusinasi

10

5. Jenis Halusinasi

11

6. Tanda-tanda Halusinasi

13

7. Penatalaksanaan

14

B. Konsep Asuhan Keperawatan Jiwa Halusinasi Pendengaran

1. Pengkajian

16

2. Pohon masalah

19

3. Analisa Data

20

4. Diagnosa

21

ix

viii

5. Rencana Keperawatan

22

BAB III METODELOGI PENELITIAN

A. Pendekatan/Desain Penelitian

26

B. Subyek Penelitian

26

C. Batasan Istilah (Definisi Operasional)

26

D. Lokasi dan Waktu Penelitian

26

E. Prosedur Penelitian

26

F. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data

27

G. Keabsahan Data

28

H. Analisis Data

28

BAB IV TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian

29

B. Analisa Data

37

C. Pohon Masalah

38

D. Diagnosa Keperawatan

38

E. Perencanaan

39

F. Implementasi dan Evaluasi

40

BAB V PEMBAHASAN

A. Pengkajian

61

B. Diagnosa keperawatan

63

C. Perencanaan

64

D. Implementasi keperawatan

65

E. Evaluasi

69

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan

72

B. Saran

73

DAFTAR PUSTAKA

75

LAMPIRAN

ix

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat pra penelitian kampus

2. Surat penelitian kampus

3. Surat rekomendasi kesbangpol

4. Surat penelitian rumah sakit jiwa

5. Surat selesai penelitian

6. Lembar konsul

7. Biodata

ix

x

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Rentan Respon Neurobiologis Halusinasi

8

Tabel 2. Tanda-tanda Halusinasi

13

Tabel 3. Penatalaksanaan Farmakologis Halusinasi

15

Tabel 5. Analisa data studi kasus

34

Tabel 6. Perencanaan Keperawatan

36

Tabel 7. Implementasi dan Evaluasi

41

xi ix

DAFTAR BAGAN

Bagan 1. Pohon Masalah

35

Bagan 2. Genogram

28

xii ix

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Organisasi Kesehatan Dunia World Health Organization (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang tidak terganggu, bukan semata-mata tampa penyakit atau kelemahan (Videbeck, 2008;3). Kesehatan itu bukan hanya sekedar bebas dari penyakit namun kesehatan adalah bagian sejahtera dari badan, jiwa dan sosial. Salah satu bagian dari kesehatan yaitu kesehatan jiwa, menurut undang-undang N0. 36 Tahun 2009, kesehatan jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.

Beberapa penyakit yang merupakan penyakit gangguam jiwa yang sering menimbulkan masalah menurut WHO tahun 2016 adalah depresi, bipolar, skizofrenia, dan dimensia. Skizofrenia merupakan sekelompok reaksi yang mempengaruhi berbagai area fungsi berfikir dan berkomunikasi, menerima dan menginterpretasikan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi dan berprilaku yang dapat di terima secara sosial (Isaacs, 2004). Seseorang bisa di katakan skizofrenia jika sudah terdiagnosa penyakit waham, halusinasi, perubahan arus pikir, perubahan perilaku, apatis, blocking, isolasi sosial, dan menurunnya aktivitas sehari-hari (keliat, 2011). Menurut Stuart dan Laraia (2005), 70% klien skizofrenia mengalami halusinasi, hal ini di dukung oleh Thomas (1991, dalam Mc-Leod, et al., 2006) yang menyatakan halusinasi secara umum di temukan pada gangguan jiwa salah satunya adalah pada klien skizofrenia. Halusinasi merupakan suatu gangguan atau perubahan persepsi dimana pasien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi, suatu penghayatan yang di alami suatu persepsi melalui panca indera tampa stimulus eksternal (persepsi palsu) (Maramis, 2005). Halusinasi terbagi menjadi halusinasi pendengaran, pengelihatan, penghidu, perabaan dan

1

kinestetik. Salah satu bentuk halusinasi yang paling banyak terjadi adalah halusinasi pendengaran yaitu klien mendengar suara-suara yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata yang orang lain tidak mendengarnya (Dermawan dan Rusdi, 2013). Pasien halusinasi pendengaran paling sering mendengar suara-suara yang memerintahkan untuk melakukan tindakan yang berbahaya (Vedebeck, 2008). Halusinasi pendengaran adalah perubahan persepsi sensori pendengaran pada pasien berupa suara orang lain/kebisingan, suara tersebut bisa berupa suara yang mengajak untuk berbuat sesuatu yang membahayakan (Yosep, 2007 : 79). Halusinasi harus menjadi fokus perhatian oleh tim kesehatan karena jika halusinasi yang tidak di tangani secara baik, akan menimbulkan resiko terhadap keamanan diri klien sendiri, orang lain dan juga lingkungan sekitar. Hal ini di karenakan halusinasi sering berisikan perintah untuk melukai dirinya sendiri maupun orang lain ( Rogers, et al., 1990 dalam Dunn & Birchwood, 2009). Secara klinik dan evidence base, halusinasi pendengaran tersebut telah terbukti dapat menyebabkan distres pada individu, distress di sebabkan karena frekuensi halusinasi pendengaran yang sering muncul pada individu setiap hari, kekerasan dan suara-suara yang di dengar, isi dari halusinasi pendengaran dan juga keyakinan klien terhadap isi dari halusinasi. Selain itu, halusinasi pendengaran juga menyebabkan ketakutan/ kecemasan bahkan depresi pada klien gangguan jiwa. Dan 40% klien skizofrenia mengalami depresi akibat halusinasi pendengaran yang di alaminya. ( garety & hamsley 1987 dalam Dunn & Birchwood, 2009). Individu yang mengalami halusinasi pendengaran seringkali beranggapan penyebab halusinasi berasal dari lingkungannya, padahal ransangan halusinasi pendengaran timbul setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya, merasa nyaman dengan kondisi menyendiri sehingga dapat mengganggu metabolisme neukokimia seperti Bufotamin dan

2

Dimentyltransferase (DMT), hal ini meransang timbulnya halusinasi (Sunaryo, 2004). Menurut data WHO pada tahun 2016, terdapat 35 juta orang terkena depresi , 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Sekitar 70% orang dengan ganggguan jiwa mengalami halusinasi. Di Indonesia, dengan berbagai faktor predisposisi dan presipitasi dengan keanekaragaman penduduk, maka jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak pada beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka panjang. Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas, 2018), 136 juta jiwa mengalami gangguan jiwa berat. Jumlah gangguan jiwa di Indonesia penduduk yang mengalami gangguan jiwa skizofrenia sebanyak 31,1% di perkotaan dan 31,5% di pedesaan. Indonesia menjadi peringkat pertama dengan gangguan jiwa terbanyak. Gangguan jiwa berat terbanyak di DIY (2,7%), Aceh ( 2,7%), Sulawesi Selatan (2,6%), Bali (2,3%), dan Jawa Tengah (2,3%) di rumah sakit jiwa di indonesia sekitar 70% halusinasi yang di alami oleh pasien gangguan jiwa adalah halusinasi pendengaran, 20% pengelihatan dan 10% adalah halusinasi penghidu, pengecapan dan kinestetik. Di Provinsi Bengkulu khususnya di Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Soeprapto Provinsi Bengkulu data jumlah penduduk Bengkulu yang mengalami gangguan jiwa pada tahun 2017 sebanyak 27.128 jiwa, 5890 orang di antaranya di rawat inap di RSKJ Soeprapto dan 21.238 orang lainya menjalani rawat jalan di RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu. Berdasarkan data statisitik rekam medik tahun 2017 di RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu pasien gangguan jiwa yang mengalami halusinasi pendengaran pada tahun

2014 berjumlah 413 pasien, tahun 2015 berjumlah 667 pasien, tahun 2016

berjumlah 752 pasien dan pada tahun 2017 berjumlah 895 pasien. Dan berdasarkan buku register Tahun 2017 di ruang rawat inap Murai A pasien

yang mengalami halusinasi sebanyak 15%, di ruang rawat inap murai B sebanyak 18%, di ruang rawat inap murai C 14% dan di ruang rawat inap

3

anggrek sebanyak 15 %. Hal ini menunjukkan pentingnya peran perawat untuk membantu pasien agar dapat mengontrol halusinasinya. Adapun gejala-gejala yang dapat di amati pada pasien dengan halusinasi pendengaran di antaranya bicara/ tertawa sendiri, marah-marah tenpa sebab, mengarahkan telinga ke arah tertentu, menutup telinga, mendengar suara atau kegaduhan, mendengar suara yang mengajak bercakap- cakap, dan mendengar suara yang menyuruh melakukan hal yang berbahaya, ketakutan pada suatu yang tidak jelas(Yusuf, dkk, 2015). Pada kasus halusinasi pendengaran pasien sulit membedakan ransangan internal (pikiran) dan ransangan eksternal (dunia luar), oleh karena itu stimulus dari halusinasi pendengaran khususnya akan berdampak pada prilaku pasien yang sulit berespon terhadap emosi, perilaku menjadi tidak terkendali, depresi berat, mengalami isolasi sosial karena tidak mampu bersosialisasi dengan baik, bahkan dapat merusak diri dan orang lain (Dunn&Birchwood,

2009).

Muhith (2015) mengatakan bahwa dampak yang dapat di tumbulkan oleh pasien yang mengalami halusinasi pendengaran adalah kehilangan kontrol dirinya. Pasien akan mengalami panik dan perilakunya di kendalikan oleh halusinasi pendengaran. Akibat dari suara halusinasi pendengaran tersebut pasien dapat melakukan bunuh diri (suiside), membunuh orang lain (homicide), bahkan merusak lingkungan. Maka dari itu untuk meminimalkan komplikasi dari dampak halusinasi tersebut di butuhkan peran perawat yang optimal dan cermat untuk melakukan pendekatan dan membantu klien untuk memecahkan masalah yang di hadapinya dengan cara membina hubungan saling percaya melalui pendekatan terapeutik dan membantu klien menghardik halusinasi. Meningkatkan derajat kesehatan jiwa, memulihkan, dan melaksanakan program rehabilitasi (Stiadi,

2006).

Berdasarkan masalah di atas, penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini dalam membuat studi kasus dengan judul “ Asuhan Keperawatan

4

Jiwa Pasien Dengan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran Di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu Tahun 2018. B. Batasan Masalah Dalam karya tulis ini penulis hanya membahas tentang asuhan keperawatan pada satu orang pasien yang mengalami gangguan persepsi sensori : halusinasi pendnegaran di Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Soeprapto Bengkulu.

C. Tujuan penelitian

1. Tujuan Umum Tujuan umum yang ingin di capai adalah mengetahui secara umum tentang gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran dan mampu menerapkan asuhan keperawatan jiwa yang komprehensif kepada pasien

dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran di Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Soeprapto Bengkulu.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui pengkajian data pada pasien dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.

b. Mengetahui diagnosa atau masalah keperawatan pada pasien dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.

c. Mengetahui rencana keperawatan secara menyeluruh pada pasien dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.

d. Mengetahui tindakan sesuai rencana keperawatan yang nyata pada pasien dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendegaran.

e. Mengetahui evaluasi asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendegaran.

D. Manfaat

1. Bagi Mahasiswa Karya tulis ini di harapkan dapat memberikan informasi dari asuhan keperawatan yang di berikan khususnya asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.

5

2. Bagi klien dan keluarga Sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan tenttang perawatan gangguan jiwa dan masukan dalam pengembangan ilmu keperawatan. Juga dapat memberikan kepuasan bagi keluarga klien atas asuhan keperawatan yang di lakukan.

3. Bagi pelayanan kesehatan a. Hasil tugas akhir asuhan keperawatan ini dapat di pergunakan terhadap hasil penerapan asuhan keperawatan yang telah di berikan. b. Hasil tugas akhir asuhan keperawatan ini dapat di jadikan sebagai bahan acuan dalam menentukan kebijaksanaan oprasional pelayanan kesehatan sebagai langkah untuk memajukan mutu pelayanan keperawatan.

4. Bagi Akademik Dapat meningkatkan kualitas dan pengembangan ilmu pengetahuan tentang asuhan keperawatan jiwa khususnya gangguan persepsi sensori :

halusinasi pendengaran dan dapat di jadikan sebagai bahan pertimbangan serta masukan sehingga dapat mengetai lebih banyak jenis pelayanan yang ada.

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teori 1. Definisi

Halusinasi adalah salah satu gangguaj jiwa dimana pasien mengalami perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa usara, pengelihatan, pengecapan, perabaan atau penghiduan (Muhith, 2015). Sedangkan menurut Direja (2011) halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan ransangan internal (pikiran) dan ransangan eksternal (dunia luar). Di dapatkan data bahwa pasien sering mendengar suara yang mengatakan memanggil-manggil namanya, suara itu muncul ketika pasien sendiri, suara itu muluncul ketika pasien sendiri, suara itu muncul pada malam hari, dan suara itu muncul ±5 menit. Berdasarkan pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa yang di maksud dengan halusinasi adalah gangguan persepsi sensori tanpa adanya objek pada individu yang di tandai dengan perubahan persepsi sensori seseorang yang hanya mengalami ransangan internal (pikiran) tanpa adanya ransangan eksternal (dari luar) yang sesuai dengan kenyataannya. 2. Rentang Respons Neurobiologis Halusinasi Halusinasi merupakan respon maladaptive yang berbeda dengan rentang respon neurobiology (Stuart and Laraia, 2005). Jika pasien sehat persepsinya akan akurat,mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasi yang di terima melalui panca indra (pendengaran, pengelihatan, penciuman, pengecapan dan perabaan) klien halusinasi mempersepsi sesuatu dengan tidak adanya stimulus. Rentang respon tersebut sebagai berikut :

7

Gambar 2.1 Rentang Respon Neurobiologis Halusinasi

Adaptif maladaptif
Adaptif
maladaptif

a. Pikiran logis

a. Distorsi pikiran/

a. Gangguan proses pikir : halusinasi

b. Persepsi akurat

pikiran kadang

c. Emosi konsisten dengan pengalaman

menyimpang

b. Halusinasi

b. Ilusi

c. Ketidakmampuan

d. Perilaku sesuai

c. Emosi tidak stabil

untuk mengontrol

e. Berhubungan sosial

d. Perilaku aneh/ tidak biasa

emosi

d. Ketidak teraturan

e. Menarik diri

e. Halusinasi

(Sumber : Stuart, 2013)

3. Etiologi Faktor penyebab terjadinya halusinasi (Stuart, 2007), adalah :

a. Faktor Predisposisi 1. Biologis Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan

respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai di pahami. Ini di tunjukan oleh penelitian-penelityian sebagai berikut :

a) Penelitian terhadap otak menunjukkan keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal, dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik.

b) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan dan masalah-masalah pada sistem reseptor dopami di kaitkan dengan terjadinya skizofrenia.

8

c) Pembesaran ventrikel dan penurunan masalah kortika menunjukkan atropi yang signifikan pada otak manusia sehingga anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis di temukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebrum).

2. Psiokologis Pengaruh keluarga dan lingkungan klien dapat mempengaruhi respon. Dan kondisi psikologis dapat menjadi salah satu penyebab gangguan orientasi realistis.

3. Sosial Budaya Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti : kemiskinan, konflik sosial budaya ( perang, kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan terisolasi di sertai stres.

b. Faktor Presipitasi Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, peran tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya, penilaian individu terhadap stresor dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kambuh (Keliat, 2006). Faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah : (Stuart, 2007) 1) Biologis Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang di terima otak untuk di interpretasikan. 2) Stres lingkungan Ambang toleransi terhadap stres yang berinteraksi terhadap stresor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.

9

3) Sumber koping Stres koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stres. 4. Proses Terjadinya Halusinasi Tahap halusinasi menurut Depkes RI (2000 dalam Dermawan &

Rusdi,

2013) sebagai berikut :

a. Tahap I (conforting) :

Memberi rasa nyaman, tingkat ansietas sedang, secara umum halusinasi

merupakan suatu kesenangan dengan karakteristik :

1)

Klien mengalami ansietas, kesepian, rasa bersalah dan ketakutan.

2)

Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan ansietas

Tersenyum dan tertawa sendiri.

3)

Pikiran dalan pengalaman masih dalam kontrol kesadaran.

1)

Perilaku klien :

2)

Menggerakkan bibir tanpa suara.

3)

Pergerakan mata yang cepat.

4)

Respon verbal yang lambat.

5)

Dian dan berkonsentrasi.

b. Tahap II (condeming) :

Menyalahkan, tingkat kesadaran berat, secara umum halusinasi menyebabkan rasa antisipasi dengan karakteristik :

1)

Pengalaman sensori menakutkan.

2)

Merasa di lecehkan oleh pengalaman sensori tersebut.

3)

Mulai merasakan kehilangan kontrol.

4)

Menarik diri dari orang lain. Perilaku klien :

1)

Terjadi peningkatan denyut jantung , pernapasan dan tekanan darah.

2)

Perhatian dengan lingkungan berkurang.

3)

Konsentrasi terhadap pengalaman sensorinya.

4) Kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dengan keadaan

realitas.

10

c.

Tahap III (Controlling) :

Mengontrol, tingkat kecemasan berat, pengalaman halusinasi tidak dapat di tolak lagi dengan karakteristik :

1)

Klien menyerah dan menerima pengalaman sensori halusinasinya.

2)

Isi halusinasi menjadi atraktif.

3)

Merasa kesepian jika halusinasinya berakhir.

Perilaku klien :

1)

Perintah halusinasi di taati.

2)

Sulit berhubungan dengan orang lain.

3)

Perhatian terhadap lingkungan berkurang, hanya beberapa detik.

4) Tidak mampu mengikuti perhatian dari perawat, tanpak tremor dan berkeringat. d. Tahap IV (Conquering) :

Klien sudah sangat di kuasai oleh halusinasi, klien tampak panik. Karakteristiknya yaitu suara atau ide yang datang mengancam apabila tidak di ikuti. Perilaku klien :

1) Perilaku panik 2) Resiko tinggi menciderai 3) Agitasi atau kataton 4) Tidak mampu berespon terhadap lingkungan. 5. Jenis Halusinasi Walaupun temapk sebagai suatu yang khayal, halusinasi sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan mental penderita yang teropsesi. Halusinasi dapat terjadi karena dasar-dasar organik fungsional psikotik maupun histerik. (Menurut Yosep,2007 :79), jenis-jenis halusinasi adalah sebagai berikut :

1. Halusinasi Pendengaran (auditif, akustik) Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas dan

11

berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap antara 2 orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien di suruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.

2. Halusinasi Penglihatanm (visual, optik) Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias menyenangkan atau menakutkan. Biasanya sering uncul dengan penurunan kesadaran, menimbulkan rasa takut akibat gambar-gambar yang mengerikan (hantu/ monster).

3. Halusinasi Penghidu atau Penciuman (olfaktori) Halusinasi ini biasanya berupa mencium sesuatu bau tertentu dan di rasakan tidak enak melambangkan rasa bersalah pada penderita. Bau di lambangkan sebagai pengalaman yang di anggap penderita sebagai kombinasi moral. Bau sering berupa bau, urin, fases dan bau darah.

4. Halusinasi Pengecapan Walaupun jarang terjadi, biasanya bersamaan dengan halusinasi penciuman penderita merasa mengecap sesuatu. Halusinasi gastorik lebih jarang dari halusinasi gustatorik. Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin, dan fases.

5. Halusinasi Perabaan ( taktil)

Merasa mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersentrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain. 6. Halusinasi kinestetik Penderita merada badannya seperti bergerak-gerak dengan suatu atau anggota badannya bergerak-gerak misalnya “ phantom, phaenomeno” atau tungkai yang di amputasi selalu bergerak-gerak ( phantom limb).

12

6. Tanda-tanda Halusinasi

 

Jenis halusinasi

 

Data objektif

 

Data subjektif

1.

Halusinasi

a. Bicara atau ketawa sendiri

a. Mendengar suara atau kegaduhan

pendengaran

b. Marah-marah tenpa sebab

b. Mendengar suara yang mengajak bercakap-

c. Mengarahkan telinga ke arah tertentu

cakap

c. Mendengar suara yang

d. Menutup telinga

 

menyuruh melakukan sesuatu berbahaya

 

d. Mendengar suara orang yang sudah meninggal.

2.

Halusinasi

a. Menunjuk-nunjuk arah tertentu

ke

a. Melihat bahayangan, sinar dengan bentuk

Pengelihatan

b. Ketakutan terhadap sesuatu atau objek yang

geometris bentuk kartoon

b. Melihat hantu atau

di

lihat.

monster

c. Tatapan

mata

menuju

ke

arah tertentu

 

3.

Halusinasi

a. Adanya gerakan cuping hidung karena mencium

a. Mencium bau dari bau- bauan tertentu, seperti bau mayat, masakan, fases, bayi atau farfum.

b. Klien sering mengtakan

penghidup

sesuatu

 

atau

mengarahkan hidung ke tempat tertentu.

b. Menutup hidung

 

bahwa ia mencium bau sesuatu

 

c. Membau-bau seperti bau darah, urin, dan fases.

d. Halusinasi penciuman sering menyertai klien

13

   

demensia,

kejang,

atau

penyakit serebrovaskular.

4.

Halusinasi

a. Adanya

tindakan

a. Klien seperti

sedang

Pengecap

mengecap

sesuatu,

merasakan makanan atau rasa tertentu, atau mengunyah sesuatu.

gerakan

mengunyah,

sering

meludah,

atau

muntah.

 

5.

Halusinasi

a. Menggaruk-garuk permukaan kulit

a. Klien mengatakan ada sesuatu

yang

Peraba

b. Klien terlihat menatap tubuhnya dan terlihat merasakan sesuatu yang aneh seputar tubuhnya.

menggerayangi tubuh, seperti tangan, serangga atau makhluk halus.

b. Merasa sesuatu di permukaan kulit, seperti rasa yang sangat panas dan dingin, atau rasa tersengat aliran listik.

7. Penatalaksanaan Menurut Purba, Daulay (2009) penatalaksanaan klien halusinasi adalah dengan pemberian obat-obatan dan tindakan lain yaitu :

a. Psikofarmakologis Obat-obatan yang lazim di gunakan pada gejala halusinasi

pendengaran yang merupakan gejala psikosis pada klien skizoprenia adalah obat-obatan anti psikosis. Adapun kelompok yang umum di gunakan adalah

:

14

Tabel 2.2 Penatalaksanaan farmakologis halusinasi

Kelas kimia

Nama Generik (Dagang)

Dosis Harian

1. Fenotiazin

Asetofenazin (Tindal) Klorpromazin (Thorazine) Flufenazine (Prolixine, Permiti) Mesoridazin (Serentil) Perfenazin (Trilafon) Proklorperazin (Compazine) Promazin (Sparine)

60-12- mg

30-800 mg

1-40 mg

12-64 mg

2. Tioksanten

Klorprotiksen (Taractan)

75-600 mg

3. Butirofenon

Haloperidol (Haldol)

1-100 mg

4. Dibenzodiazepin

Klozapin (Clorazil)

300-900 mg

5. Dibenzokasazepin

Loksapin (loxitane)

20-150 mg

6. Dihidroindolon

Molindone (moban)

15-225

b. Terapi Aktivitas Kelompok ( TAK) TAK yang dapat di lakukan untuk pasien dengan halusinasi adalah

sebagai

berikut :

a. TAK orientasi realitas

1. Sesi 1 : Pengenalan orang

2. Sesi 2 : Pengenalan tempat

3. Sesi 3 : Pengenalan waktu

b. TAK stimulasi persepsi

1. Sesi 1 : Mengenal halusinasi

2. Sesi 2 : Mengontrol halusinasi dengan menghardik

3. Sesi 3 : Mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan.

4. Sesi 4 : Mencegah halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain.

5. Sesi 5 : Mengontrol halusinasi dengan patuh minum obat.

15

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1.

Pengkajian

a. Identitas klien Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, tanggal MRS (Masuk rumah sakit), tanggal pengkajian, No rekam medik, diagnose medis dan alamat klien.

b. Keluhan utama Menurut direja (2009), keluhan utama yang dirasakan klien gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran adalah klien sering m endengar suara-suara lain tanpa adanya rangsangan dari luar (Stimulus) yang mengakibatkan klien sering tersenyum, tertawa, berbicara sendiri, bahkan ada bisikan yang memerintahkan untuk berbuat jahat.

c. Faktor predisposisi Hal-hal yang dapat mempengaruhi terjadinya halusinasi adalah :

a) Faktor biologis Hal yang di kaji pada faktor biologis, meliputi adanya faktor heriditer gangguan jiwa, adanya resiko bunuh diri, riwayat penyakit atau trauma kepala, dan riwayat penggunaan NAPZA.

b) Faktor psikologis Pada klien yang mengalami halusinasi, dapat ditemukan adanya kegagalan yang berulang, individu korban kekerasan, kurang kasih sayang, atau overprotektif.

c) Sosiobudaya dan lingkungan Klien dengan halusinasi didapatkan sosial ekonomi rendah, riwayat penolakan lingkungan pada usia perkembangan anak, tingkat pendidikan rendah, dan kegagalan dalam hubungan sosial ( perceraian, hidup sendiri), serta tidak bekerja

16

d. Faktor presipitasi Secara fisik klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan , tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah koping dapat mengindikasi kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2011). Stresor presipitasi pada klien dengan halusinasi di temukan adanya riwayat penyakit infeksi, penyakit kronis atau kelainan struktur otak, kekerasan dalam rumah tangga, atau adanya kegagalan- kegagalan dalam hidup, kemiskinan, adanya aturan atau tuntutan di keluarga atau masyarakat yang sering tidak sesuai dengan klien serta konflik antar masyarakat. Sumber koping yang di pakai klien juga sangat penting untuk di kaji dalam faktor presipitasi.

e. Pemeriksaan fisik/biologis Hasil pengukuran tanda-tanda vital (Tekanan darah, Nadi, Suhu, Pernafasan, TB, BB) dan keluhan fisik yang dialami oleh klien. Klien sering terlihat menutup telinganya, mengarahkan telinga ke arah tertentu, tampak mengepal tangan, muka klien tampak merah, pandangan klien tajam, mengatup rahang dengan kuat.

f. Aspek psikososial

1. Genogram yang menggambarkan tiga generasi, apakah dalam keluarga klien ada yang mengalami gangguan jiwa sebelumnya.

2. Konsep diri klien meliputi gambaran diri, identitas diri, peran, ideal diri dan harga diri klien mengalami gangguan.

3. Hubungan sosial : klien mengatakan tidak memiliki teman dekat, klien merasa bingung untuk memulai pembicaraan, sering menyendiri dan melamun.

4. Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah.

17

g. Status mental Pengkajian status mental klien dengan gangguan persepsi sensori : halusinas pendengaran meliputi :

1)

Penampilan : tidak rapi, tidak serasi cara berpakaian.

2)

Pembicaraan : respon verbal lambat dan berbelit-belit,

3)

menggerakan bibir tanpa suara, lebih banyak diam, mengancam secara verbal dan fisik, marah-marah tanpa sebab, klien mengatakan bingung untuk memulai pembicaraan, dan klien berbicara dengan keras, kasar, suara tinggi, menjerit dan berteriak. Aktivitas motorik : meningkat atau menurun, klien tampak sering melempar, memukul benda atau orang lain dan merusak barang/ benda.

4) Alam perasaan : klien mengatakan cendrung emosi, dan klien

mengatakan kesal atau benci terhadap seseorang

5) Interaksi selama wawancara : respon verbal dan

6)

nonverbal biasanya lambat, kontak mata kurang dan tidak mau menatap lawan bicara, klien mengatakan tidak mempunyai kemampuan mencegah/mengontrol perilaku kekerasan karena mendengar suara-suara tersebut. Persepsi : klien sering mendengar suara atau kegaduhan,

7)

mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap, mendengar suara yang menyuruh melakukan hal yang berbahaya, mendengar suara orang yang sudah meninggal, klien tampak berbicara dan tertawa sendiri. Proses pikir : proses informasi yang diterima tidak

8)

berfungsi dengan baik. Isi pikir : berisikan keyakinan berdasarkan penilaian realistis

18

9)

Tingkat kesadaran: orientasi waktu, tempat dan orang.

10)

Memori

a) Memori jangka pendek : mengingat peristiwa seminggu yang lalu dan pada saat dikaji.

b) Memori jangka panjang : mengingat peristiwa setelah lebih setahun berlalu.

h. Mekanisme koping

a) Regresi : regresi berhubungan dengan proses informasi dan upaya yang di gunakan untuk menanggulangi ansietas. Energi yang tersisa untuk aktivitas sehari-hari tinggal sedikit, sehingga klien menjadi malas beraktiviras.

b) Proyeksi : menjelaskan perubahan suatu persepasi dengan berusaha untuk mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.

c) Menarik diri : sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus intrernal.

d) Keluarga mengingkari masalah yang di alami klien.

i. Aspek medik Diagnosa medis yang telah dirumuskan dokter, terapi farmakologi psikomotor, okopasional, TAK dan rehabilitasi.

j. Pohon masalah

(Akibat)

Resiko menciderai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.

Resiko menciderai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. (Masalah Utama) (Penyebab) perubahan persepsi sensori :

(Masalah Utama)

(Penyebab)

perubahan persepsi sensori : halusinasi

Utama) (Penyebab) perubahan persepsi sensori : halusinasi gangguan interaksi : isolasi sosial Gambar 2.2 : pohon

gangguan interaksi : isolasi sosial

Gambar 2.2 : pohon masalah ( sumber : Keliat, 2006)

19

Analisa Data

No

Analisa data

Masalah

1

DS:

Halusinasi

1.

Klien mengatakan sering mendengar suara atau kegaduhan

pendengaran

2.

Klien mengatakan mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap

3.

Klien mengatakan mendengar suara yang menyuruh melakukan hal yang membahayakan

4.

Klien mengatakan mendengar suara orang yang sudah meninggal.

DO:

1.

Klian berbicara dan tertawa sendiri.

2.

Klien sering terlihat menutup telinganya.

3.

Mengarahkan telinga ke arah tertentu

4.

Klien marah-marah tanpa sebab.

2

DS:

Resiko

perilaku

1.

Klien mengatakan cinderung emosi

kekerasan

2.

klien mengatakan kesal atau benci terhadap seseorang.

3.

Klien mengatakan tidak mempunyai kemampuan mencegah/mengontrol perilaku kekerasan karena mendengar suara-suara tersebut.

DO:

1.

klien tampak mengapal tangan.

2.

muka klien tampak merah.

3.

klien berbicara keras, kasar, suara tinggi, menjerit dan berteriak.

4.

Pandangan klien tajam

5.

Mengatup rahang dengan kuat.

6.

Mengancam secara verbal dan fisik

7.

Melempar atau memukul benda atau orang lain

8.

Merusak barang/ benda.

3

DS:

Isolasi sosial :

menarik diri

1.

Klien mengatakan tidak memiliki teman dekat.

2.

Klien mengatakan bingung untuk memulai pembicaraan.

DO:

1. Klien tampak sering menyendiri dan melamun

2. Klien tampak tidak mau menatap lawan bicara

3. Tidak ada kontak mata dengan lawan bicara

20

2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang biasa muncul pada klien dengan gangguan persepsi

sensori

: halusinasi menurut Direja (2011), yaitu :

a. Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.

b. Resiko perilaku kekerasan

c. Isolasi sosial

21

22

3. Perencanaan Keperawatan

Table 3.2 perencanaan

No

Diagnosa

 

Perencanaan

 

Keperawatan

Tujuan

Kriteria Hasil

 

Intervensi

Rasional

1

Gangguan

TUM : Klien dapat mengontrol halusinasi pendengaran yang dialaminya TUK :

     

persepsi

sensori

:

halusinasi

pendengaran

Setelah

1-2

x

1. Bina hubungan saling percaya

- Hubungan saling percaya merupakan langkah awal untuk menentukan keberhasilan rencana selanjutnya

1. Klien

dapat

pertemuan

klien

dengan

menggunakan prinsip

membina

menunjukan

tanda-

komunikasi terapeutik

hubungan saling

tanda

percaya

kepada

a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun nonverbal

 

percaya

perawat :

1. Ekspresi bersahabat

wajah

b. Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan

2. Menunjukan senang

rasa

berinteraksi

c. Tanyakan nama lengkap dan

3. Ada kontak mata

nama panggilan yang disukai

4. Mau berjabat tangan

klien

5. Mau

menyebutkan

d. Buat kontrak jelas

nama

e. Tunjukan sikap jujur dan

6. Mau

menjawab

menepati janji setiap kali berinteraksi

salam

7. Mau

duduk

f. Tunjukan sikap empati dan menerima apa adanya

berdampingan

dengan perawat

8. Bersedia

g. Tanyakan perasaan dan

masalah yang dihadapi klien

mengungkapkan

h. Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien

masalah

yang

dihadapi

23

2. Klien

dapat

Setelah

1-2

x

1.Adakan

kontak

sering

dan

- Menjaga hubungan saling percaya antara perawat dan klien

mengenal

pertemuan

klien

singkat secara bertahap

halusinasi

menyebutkan :

   

pendenga

1.Isi

2.Observasi tingkah laku klien

- Mengetahui apakah halusinasi datang dan menentukan tindakan yang tepat atas halusinasi pendengarannya

ran

2. Waktu

terkait dengan halusinasi

3. Frekuensi

 

pendengaran, jika menemukan

4. Situasi

dan

kondisi

klien yang sedang berhalusinasi:

 

yang

menimbulkan

a. Tanyakan apakah klien mengalami sesuatu (halusinasi pendengaran/ raba/

halusinasi

 

pendengaran

5. Perasaan

dan

lihat/kecap/ penghidu

 

responnya

saat

b. Jika klien menjawab iya, tanyakan apa yang sedang dialaminya

mengalami halusinasi pendengaran

c. Katakan bahwa perawat percaya hal tersebut, namun perawat sendiri tidak mengalaminya (dengan nada bersahabat dan tidak menghakmi)

d. Katakan bahwa ada klien lain yang mengalami hal yang sama

e. Katakan bahwa perawat akan membantu klien Jika klien tidak sedang berhalusinasi klarifikasi tentang adanya pengalaman halusinasi pendengaran , diskusikan dengan klien :

a. Isi,

waktu

dan

frekuensi

terjadinya

halusinasi

pendengaran

 

24

     

(pagi,siang, malam, atau sering dan kadang-kadang)

 

b.

Situasi dan kondisi yang

menimbulkan dan tidak menimbulkan halusinasi pendengaran 3. Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi pendengaran dan beri kesempatan untuk mengungkapkannya 4. Diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk mengatasi

Mengetahui isi, waktu, frekuensi dan kondisi yang menyebabkan halusinasi pendengaran serta dapat mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah pada klien - Mengetahui perasaan klien saat halusinasi pendengaran

-

perasaan tersebut 5. Diskusikan dengan klien tentang dampak yang akan dialami jika klien menikmati halusinasi pendengarannya

- Mengetahui tindakan yang biasa klien lakukan saat halusinasi pendengarannya muncul

- Agar klien mengetahui dampak yang akan timbul jika klien larut dalam Halusinasi pendengarannya

3. Klien

dapat

Setelah

2-3

x

1. Identifikasi bersama klien cara atau tindakan jika terjadi halusinasi pendengaran (tidur, marah, menyibukan diri)

- Mengetahui

tindakan

yang

biasa

mengontrol

pertemuan

klien

 

klien

lakukan

saat

halusinasi

halusinasi

menyebutkan :

pendengarannya muncul

 

pendengaran

1.Tindakan

yang

 

biasanya

dilakukan

2. Diskusikan

cara

yang

- Agar klien mengetahui bahwa tindakannya dalam mengontrol

untuk mengendalikan halusinasi pendengarannya

digunakan klien :

a. Jika cara yang digunakan

 

halusinasi pendengarannya selama ini benar atau salah

 

adaptif, beri pujian

2.Cara

baru

b. Jika cara yang digunakan maladaptif, diskusikan kerugian cara tersebut

 

mengontrol halusinasi

pendengarannya

 

3.Memilih

dan

3. Diskusikan dengan klien cara baru memutus/ mengontrol timbulnya halusinasi pendengaran

- Membantu klien menentukan tindakan yang sesuai bagi klien untuk mengontrol halusinasi pendengaran nya

memperagakan

cara

mengatasi halusinasi

pendengarannya

 

4.Melaksanakan

cara

a.

Katakan pada diri sendiri bahwa ini tidak nyata (saya

 

yang

dipilih

untuk

25

 

mengendalikan

tidak mau dengar/raba/lihat /penghidu /kecap pada saat terjadi halusinasi pendengaran)

b. Menemui orang lain (perawat /teman /anggota/ keluarga) untuk menceritakan masalah halusinasi pendengarannya

 

halusinasi

pendengaran

c. Membuat dan melaksanakan jadwal kegiatan sehari-hari yang sudah disusun

d. Meminta keluarga/ teman/

perawat menyapa jika sedang berhalusinasi pendengaran

-

Membantu klien memilih tindakan

4. Bantu klien memilih cara yang sudah diajarkan dan latih untuk mencobanya

yang tepat mengontrol halusinasi pendengarannya

5. Beri kesempatan klien untuk melakukan cara yang dipilih dan dilatih sendiri

6. Pantau pelaksanaan yang telah dipilih dan dilatih, jika berhasil beri pujian

- Agar klien dapat menggunakan

tindakan yang telah diajarkan dengan benar

- Mengetahui tindakan yang dilakukan klien benar atau salah

4. Klien

dapat

Setelah 1-2 x interaksi

1. Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, warna dosis, cara, efek terapi, dan efek samping penggunaan obat

penggunaan

2. saat

Pantau

klien

- Meningkatkan pengetahuan klien tentang penggunaan obat dan efek sampingnya

memanfaatkan obat dengan baik

klien

dapat

menyebutkan :

 

1.Manfaat minum obat 2.Kerugian tidak minum obat 3.Nama, warna, dosis, cara, efek terapi, dan efek samping

- Mengetahui

apakah

klien

dapat

obat

minum obat dengan benar

3. jika

Beri

pujian

klien

- Reinforcement yang positif dapat meningkatkan kepercayaan dalam diri klien

4.Mendemostrasian

menggunakan

obat

dengan

cara penggunaan obat dengan benar

benar

4. akibat

Diskusikan

berhenti

- meningkatkan pengetahuan klien

26

 

5.Akibat

berhenti

minum obat tanpa konsultasi dengan dokter

tentang akibat jika klien putus minum obat

minum

obat

tanpa

konsultasi

dengan

5. Anjurkan klien konsultasi kepada dokter/perawat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan

- jika terjadi hal-hal yang tidak wajar setelah minum obat dapat dilakukan tindakan segera

dokter

5. klien

dapat

Setelah

1-3

x

1. buat kontrak dengan keluarga

- terciptanya hubungan saling percaya antara perawat dan keluarga klien

dukungan

dari

pertemuan

keluarga

untuk

pertemuan

(waktu

dan

keluarga

dalam

menyebutkan :

 

tempat)

 

mengontrol

1.pengertian,

tanda,

2. diskusikan dengan keluarga :

- meningkatkan pengetahuan keluarga

halusinasi

dan

gejala

proses

a. pengertian, tanda dan gejala halusinasi pendengaran

tentang halusinasi pendengaran yang dialami oleh anggota keluarga

pendengaran

terjadinya

halusinasi

pendengaran dan

b. proses terjadinya halusinasi pendengaran

 

tindakan

untuk

mengendalikan halusinasi pendengaran 2. keluarga setuju untuk mengikuti pertemuan denganperawat

c. dapat

cara

yang

dilakukan

klien

dan

keluarga

untuk

memutus

halusinasi

pendengaran

d. obat-obatan halusinasi pendengaran

 

e. cara

merawat

anggota

keluarga

dengan

halusinasi

pendengaran

dirumah

(beri

kegiatan,

jangan biarkan sendiri, makan

bersamaan,

bepergian

- meningkatkan pengetahuan keluarga tentang mencari bantuan jika halusinasi klien tidak dapat diatasi dirumah

bersama,

memantau

obat-

obatan

dan

cara

pemberiannya

untuk

mengatasi

halusinasi

 

pendengaran)

3. cara bantuan jika halusinasi tidak dapat diatasi dirumah

mencari

beri

informasi

26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan/Desain Penelitian Penelitian kualitatif ini menggunakan desain studi kasus yang bertujuan untuk mengeksplorasi tahapan proses asuhan keperawatan pasien yang mengalami gangguan persepsi sensori : Halusinasi Pendengaran. Pendekatan yang digunakan pada studi kasus ini yaitu proses asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosis keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan.

B. Subyek Penelitian Subyek penelitian dalam asuhan keperawatan ini adalah seorang pasien yang didiagnosis gangguan persepsi sensori : Halusinasi Pendengaran yang menjalani perawatan di Ruang Murai B Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Soeprapto Bengkulu Tahun 2019.

C. Batasan Istilah (Definisi Operasional) Pasien yang mengalami halusinasi pendengaran yang di rawat di ruang Murai B, dengan pasien yang koperatif untuk di berikan tindakan keperawatan.

D. Lokasi dan Waktu Penelitian Studi kasus ini dilakukan di Ruang Murai B RSKJ Soeprapto kota Bengkulu. Studi kasus ini dilaksanakan pada tanggal 31 Desember 2018 s.d 8 Januari 2019.

E. Prosedur Penelitian Penelitian diawali dengan penyusunan usulan proposal studi kasus tentang penyakit klien Halusinasi Pendengaran di Ruang Murai B RSKJ Soeprapto Kota Bengkulu tahun 2018 . Setalah proposal disetujui dewan penguji, maka tahap yang dilakukan adalah pengurusan surat izin penelitian. Selanjutnya penulis mulai akan melakukan pengumpulan data, analisa data, menegakkan diagnosa keperawatan, menyusun intervensi keperawatan, dan melaksanakan implementasi keperawatan, serta evaluasi keperawatan. Proses implementasi dari rencana keperawatan di lakukan selama 7 hari berturut-

27

turut selama jam dinas. Secara konsisten pasien di observasi terhadap perubahan klien setelah di berikan tindakan keperawatan yang sudah di rencanakan.

F. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data

1. Teknik Pengumpulan data

a. Wawancara Hasil anamnesis yang harus didapatkan berisi tentang identitas klien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, riwayat psikologi, faktor predisposisi, faktor presipitasi. Data hasil wawancara dapat bersumber

dari klien keluarga dan dari perawat lainnya.

b. Obsevasi dan pemeriksaan fisik Teknik pengumpulan data ini meliputi keadaan umum, pemeriksaan integumen, pemeriksaan kepala leher, pemeriksaan dada, pemeriksaan abdomen, pemeriksaan inguinal, genetalia, anus, ekstremitas, pemeriksaan system Endokrin dengan pendekatan:

inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi pada sistem tubuh klien. Data fokus yang harus didapatkan adalah pada system Endokrin.

c. Studi dokumentasi Instrumen dilakukan dengan mengambil data dari MR (Medical Record), mencatat pada status pasien, mencatat hasil pemeriksaan penunjang pasien, melihat cataan harian perawat ruangan, mencatat hasil pemeriksaan diagnostik.

2. Instrumen Pengumpulan Data Alat atau instrumen pengumpulan data menggunakan format pengkajian asuhan keperawatan jiwa yang sudah baku digunakan di prodi D III Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu.

28

G. Keabsahan Data Keabsahan data dilakukan oleh peneliti dengan cara peneliti mengumpulkan data secara langsung pada pasien dengan menggunakan format pengkajian yang baku dari kampus, yang dilakukan 6 jam sesuai jadwal dinas perawat di Ruang Murai B RSKJ Soeprapto Bengkulu selama minimal 7 hari berturut-turut. Pengumpulan data dilakukan pada catatan medis/status pasien, anamnesa dengan klien langsung, anamnesa dengan kelurga klien, dokter, dan perawat ruangan agar mendapatkan data yang valid, disamping itu untuk menjaga validitas dan keabsahan data peneliti melakukan obsevasi dan pengukuran ulang terhadap data data klien yang meragukan yang ditemukan melalui data sekunder.

H. Analisis Data Analisis data dilakukan dengan menyajikan data hasil pengkajian keperawatan, yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi hasil laboratorium dalam bentuk narasi. Selanjutnya data pengkajian yang berhasil dikumpulkan tersebut akan dianalisis dengan membandingkannya terhadap pengkajian teori yang telah disusun.

Analisis data terhadap diagnosis keperawatan, intervensi keperawatan, impelementasi, serta evaluasi keperawatan, yang dilaksanakan pada studi kasus ini akan dianalisis dengan membandingkan antara hasil dengan tahapan proses yang telah diuraikan pada tinjauan teori.

1

29

BAB IV TINJAUAN KASUS

A.

Pengkajian

Ruang rawat

: Murai B

Tanggal Rawat

: 27-12-2018

No.RM

: 063825

Tanggal Pengkajian :

31-12-2018

1. Identitas Pasien Pasien berinisial Tn. J berumur 33 tahun, tempat dan tanggal lahir : Seluma 5 Mei 1985, jenis kelamin laki – laki, agama islam, pendidikan terakhir lulusan SMP, status pasien sudah menikah, dan bersuku serawai. Yang bertanggung jawab adalah keluarga pasien yaitu istri.

2. Alasan masuk

Pasien baru mengalami gangguan jiwa dan pertama kali masuk RSKJ Seoprapto Bengkulu diantar keluarga pada tanggal 27 Desember 2018 dengan keluhan marah-marah mengamuk-ngamuk di rumah dengan keluarga dan orang di lingkungan sekitar pasien, kehendaknya harus selalu di turuti dan jika tidak di turuti klien kesal dan marah serta tidak bisa mengendalikan dirinya, ingin melukai keluarga dan orang lain, membanting barang, dan tampak bekas ikatan tali di pergelangan kaki klien.

Keluarga mengatakan pasien berbicara dan tertawa sendiri, gejala di cetuskan saat klien di berhentikan dari pekerjaannya ± 1 bulan yang lalu. Pada saat di kaji Tn.J sedang duduk di tempat tidur dan tidak marah-marah lagi, Tn.J mengatakan mendengar suara yang memanggilnya dan mengajaknya untuk rukiyah, mendengar suara yang selalu menyalahkanya dan memerintahkannya untuk menciderai diri sendiri, keluarga dan lingkungan, serta mendengar

30

suara yang me nganggap dirinya adalah manusia yang kuat dan selalu benar.

Tn. J mengatakan sangat terganggu dengan suara yang didengarnya, Tn.J merasa emosi serta ingin marah. MK: Resiko perilaku kekerasan Halusinasi pendengaran 3 . Faktor Predisposisi

Keluarga mengatakan bahwa Tn.J tidak pernah dirawat

di Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Soeprapto Bengkulu.

Keluarga pasien mengatakan bahwa ibu Tn.J pernah mengalami gangguan jiwa seperti Tn.J dan Tn.J mengatakan pernah mengalami kekerasan fisik oleh ayahnya saat klien berusia 7 tahun sampai dengan usia 18 tahun. Keluarga mengatakan Tn.J mulai mengalami ganguan jiwa ± 1 bulan yang lalu karena di cetuskan dengan di berhentikan dari pekerjaanya. Saat di ketahui mengalami gangguan jiwa keluarga Tn.J memutuskan untuk menjalani pengobatan dengan terapi rukiyah, dalam proses pengobatan sebelumnya tidak berhasil karena klien merasa dengan rukiyah penyakitnya bertambah sehingga klien tidak ingin kembali melanjutkan terapi rukiyah. 4. Pemeriksaan Fisik

Tanda – tanda vital pada Tn. J tekanan darah 110/80 Mmhg

nadi 86 x/menit pasien tidak mengalami demam suhu 36,8 o c pernapasan 20 x/menit pemeriksaan antropometri pasien memiliki tinggi badan 163 cm dan berat badan 60 kg.

a. Keluhan Fisik Pasien mengatakan selama perawatan dirumah sakit klien tidak pernah mengalami sakit fisik, tidak mempunyai riwayat penyakit sebelumnya dan tidak ada masalah kesehatan yang sering terjadi.

31

1. Genogram

31 1. Genogram Ket : : : Laki-laki, : Meninggal : Perempuan, : Tinggal serumah, :

Ket :

: : Laki-laki,31 1. Genogram Ket : : Meninggal : Perempuan, : Tinggal serumah, : Klien Gambar 3.1

31 1. Genogram Ket : : : Laki-laki, : Meninggal : Perempuan, : Tinggal serumah, :

: Meninggal31 1. Genogram Ket : : : Laki-laki, : Perempuan, : Tinggal serumah, : Klien Gambar

: Perempuan,

: Tinggal serumah,

: : : Laki-laki, : Meninggal : Perempuan, : Tinggal serumah, : Klien Gambar 3.1 Genogram

: Klien

Gambar 3.1 Genogram Tn. J merupakan anak kedua dari emam bersaudara, Tn.J sudah menikah dan memiliki satu orang anak perempuan yang tinggal satu rumah bersama istri Tn. J, anggota keluarga yang sudah meninggal adalah ibu Tn. J, anggota keluarga yang pernah mengalami gangguan jiwa adalah ibu Tn. J. 2. Konsep diri

a. Citra tubuh Pasien mengatakan” seharusnya dia memiliki ukuran tubuh yang tinggi dan berkulit putih.”

b. Identitas diri Pasien mengatakan” berumur 33 tahun, jenis kelamin laki-laki pendidikan terakhir SMP. Tn. J mengatakan kalau dirinya sudah menjadi seorang ayah dan mempunyai satu orang anak dari hasil pernikahannya.

c. Peran

Tugas yang selalu di kerjakannya,

sekarang tidak dikerjakannya lagi, dan tidak menafkahi istrinya dan anaknya, sehingga klien merasa bersalah.

Pasien mengatakan”

32

d. Ideal diri Pasien mengatakan” ingin cepat sembuh, setelah pulang nanti ingin berkerja kembali untuk menafkahi anak dan istrinya serta ingin kembali di terima oleh lingkungannya.

e. Harga diri Pasien mengatakan “ bahwa ia minder dengan teman satu ruangannya karena ia di berhentikan dari pekerjaanya dan klien kurang di perhatikan oleh keluarga, serta klien minder dan menarik diri dengan lingkungannya saat menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan kejiwaan. MK : Harga Diri Rendah

3. Hubungan sosial

a. Orang yang berarti Pasien mengatakan” orang yang paling berarti dalam hidupnya adalah anak dan istrinya”.

b. Peran serta dalam kelompok Pasien terlihat tidak beaktivitas, sering menyendiri, sering tidur di tempat tidur dan jarang ngobrol dengan orang lain. Pada saat di rumah pasien juga mengatakan lebih suka menyendiri, jarang bergabung bersama tetangga rumah dan kurang melakukan aktivitas kelompok dengan masyarakat. Saat bergabung di kelompok klien mengatakan tidak suka terlalu banyak bicara jika berkumpul dengan orang banyak. MK : Isolasi sosial

c. Hambatan dalam hubungan sosial Pasien mengatakan karena telah di berhentikan dari pekerjaanya klien merasa minder untuk bersosialisasi dengan orang lain, dan klien hanya ingin bersosialisasi dengan teman yang sudah benar-benar dekat dengan klien.

33

4. Spiritual

a. Nilai dan keyakinan Pasien mengatakan” nilai yang dianut oleh pasien adalah agama Islam”.

b. Kegiatan ibadah Pasien mengatakan kadang-kadang melakukan ibadah, karena ia takut suara bisikan tersebut datang lagi kepada klien saat klien ingin menjalankan shalat dan berdoa.

5. Status mental

a. Penampilan Pasien berpenampilan rapi, rambut disisir dan baju klien diganti 2 kali sehari.

b. Pembicaraan Pasien berbicara lambat dan harus berpikir dahulu untuk menjawab pertanyaan yang dianjurkan, terkadang klien mengucapkan kata-kata dengan nada suara yang tinggi, dan mudah tersinggung, klien dapat menjawab semua pertanyaan yang dianjurkan oleh perawat.

c. Aktivitas motorik Pasien terlihat lesu, jari-jari tampak gemetaran, menggerakkan otot muka secara pelan-pelan dan mudah mengantuk.

d. Alam perasaan Pasien tampak sedih dan khawatir, karena memikirkan istri dan anaknya yang di tinggal di rumah, pasien sering berdiam diri di tempat tidur dan melamun, dan pasien terkadang terlihat tertawa sendiri, karena mendengar suara yang selalu mengatakan dirinya adalah manusia yang paling kuat dan hebat.

e. Afek

Datar, yaitu tidak terdapat perubahan roman muka pada klien saat ada stimulus eksternal.

34

f. Interaksi selama wawancara Pasien tampak mempertahankan pendapatnya saat perawat memberikan pertanyaan, kontak mata dengan perawat kurang, terkadang menunjukkan pandangan mata yang tajam dan terkadang pasien banyak berbohong, klien tampak curiga dengan orang lain dan perawat, dan klien sering meminta izin untuk mencuci muka dan meminta izin untuk tidur.

g. Persepsi Pasien mengatakan” bahwa klien mendengar suara yang memanggil namanya, mendengar suara yang mengajaknya untuk rukiyah, mendengar suara yang mengatakannya manusia yang paling kuat dan benar, dan mendengar suara yang menyalahkannya dan menyuruh untuk menciderai diri nya sendiri dan keluarga. Suara tersebut terdengar 2-4x sehari, suara tersebut terdengar klien membayangkan dirinya sedang solat padahal saat itu klien sedang duduk dan melamun, dan suara tersebut juga terdengar di siang hari saat dirinya menyendiri atau sedang melamun. Saat klien sedang berhalusinasi, respon klien terhadap suara tersebut, klien lebih suka menyendiri, berbicara dan tertawa sendiri, mondar mandir berjalan di ruangan mengikuti arah suara dan mengatakan aku lebih kuat dari bisikan, serta kadang kesal dan marah. Adanya gerakan bibir klien yang menunjukkan klien berbicara atau tertawa sendiri, dan saat mendengar suara tersebut klien tampak agresif ,mudah tersinggung, Untuk mengurangi bisikan tersebut Tn.J mengatakan dia lebih kuat dari bisikan, dan Tn.J marah dengan suara yang datang, namun tak kunjung reda dengan cara tersebut. MK : Halusinasi pendengaran

35

h. Isi pikir Pasien tidak mengalami gangguan seperti obsesi, depersonalisasi, hipokondria, fobia, klien mengalami waham kebesaran.

i. Proses pikir Pasien pembicaraan yang berbelit-belit saat di tanya oleh perawat tapi sampai pada tujuan.

j. Tingkat kesadaran Pasien dapat menyebutkan, tempat, orang secara benar dan pasien tampak stabil, namun sering salah dalam memberikan penilaian terhadap waktu

k. Memori

1. Ingatan jangka panjang : Pasien tidak mampu mengingat kejadian 1 bulan yang lalu

2. Ingatan jangka pendek : Pasien mampu mengingat kejadian

1 minggu terakhir

l. Tingkat konsentrasi dan berhitung Konsentrasi klien kurang namun pasien dapat berhitung jumlah anggota keluargamya, mudah beralih dan tidak konsentrasi.

m. Kemampuan penilaian Pasien memiliki kemampuan penilaian ringan, karena klien dapat mengambil keputusan yang sederhana dengan bantuan orang lain. Contoh : klien memilih untuk mencuci tangan sebelum makan.

n. Daya titik diri Pasien mengatakan “ tahu dan sadar bahwa dirinya berada di rumah sakit jiwa, tetapi pasien belum paham pada gejala dan cara mengendalikan penyakitnya sendiri.

36

6. Kebutuhan persiapan pulang Persiapan pasien pulang belum direncanakan, karena masalah keperawatan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran belum teratasi, sehingga pasien masih tetap menjalankan terapi pengobatan di RSKJ.

7. Mekanisme koping Tn. J memiliki mekanisme koping maladaptif,dimana Tn. J lebih suka menyendiri dan jika banyak pikiran Tn. J mengkonsumsi alkohol , dan reaksi Tn.J cepat.

8. Aspek medik pada tanggal 31-12-2018

1. Chlopromazine : 2 x 50 mg

2. Clobazam : 2 x 10 mg

3. Risperidone : 2 x 2 mg

a. Indikasi dari obat-obatan diatas :

1. Chlopromazine adalah obat dengan fungsi untuk mengobati gangguan jiwa. Chlopromazine membantu untuk berpikir lebih, tidak gugup, dan beraktivitas normal , dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat mengurangi perilaku agresif dan keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain. 2. Clobazam, digunakan untuk mengatasi epilepsi dan kejang, clobazam dapat mengontrol kejang dengan menyeimbangkanb aliran listrik yang ada di dalam otak, obat ini juga di gunakan untuk melemaskan otot. 3. Kegunaan risperidone berhubungan dengan kondisi kejiwaan diantaranya adalah :

a. Skizofrenia. Merupakan gangguan jiwa yang mennyebabkan perubahan pemikiran dan persepsi dengan gejala

37

b. Gangguan Bipolar. Merupakan gangguan kondisi mood dimana terjadi fluktuasi ekstrim dan bahagia ke sedih atau sebaliknya. c. Lekas marah yang berhubungan dengan autisme. Kondisi ini sering dialami oleh penderita autisme dewasa dan anak-anak.

9. Diagnosa Medik : Skizofrenia Paranoid

B. Analisa Data

Tabel 3.1 Analisa data

No

Data Senjang

Masalah

1.

Data subjektif

Gangguan persepsi sensori :

a. Pasien mengatakan sering mendengar suara yang memanggil-manggil namanya.

Halusinasi pendengaran

b. Pasien mengatakan sering mendengar suara-suara yang mengajaknya untuk rukiyah

c. Pasien mengatakan suara datang ± 2-4 x setiap harinya.

d. Klien mengatakan suara tersebut datang di siang

hari saat klien sendiri.

Klien mengatakan cara mengatasi suara dengan cara mondar-mandir di ruangan Data objektif

e.

a. Pasien berbicara dan tertawa sendiri saat melamun dan lebih sering terjadi pada siang hari

b. Ada gerakan bibir klien yang menunjukkan klien sedang berbicara

c. Tanpak mondar-mandir di dalam ruangan seakan- akan mengikuti arah suara.

2.

Data subjektif

Resiko Perilaku Kekerasan

a. Keluarga mengatakan Tn.J pernah mengamuk dan membanting-banting barang dan melukai orang lain dan keluarga.

b. Pasien mengatakan perasaan kesal dan marah

Data objektif

a. Pada saat interaksi klien mudah tersinggung

b. Pada saat interaksi Pasien menunjukkan curiga dengan orang lain

c. Klien berbicara dengan nada suara yang tinggi

d. Sesekali menunjukkan tatapan mata yang tajam

e. Tanpak bekas ikatan di kedua pergelangan kaki

3.

Data subjektif

Isolasi Sosial : Menarik Diri

a. Pasien mengatakan lebih suka menyendiri

b. Pasien mengatakan tidak suka terlalu banyak bicara jika berkumpul dengan orang banyak

38

Data objektif

a. Pasien tampak sering tidur di tempat tidur

b. Pasien tampak sering menyendiri

c. Pasien jarang ngobrol dengan orang lain

C. Pohon Masalah

Resiko periaku kekerasan

dengan orang lain C. Pohon Masalah Resiko periaku kekerasan Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran Isolasi

Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran

kekerasan Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran Isolasi sosial : menarik diri Gambar 3.2 Pohon Masalah

Isolasi sosial : menarik diri

Gambar 3.2 Pohon Masalah

D. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran

2. Resiko perilaku kekerasan

3. Isolasi sosial : menarik diri

D. Perencanaan Keperawatan Perencanaan keperawatan adalah rencana tindakan keperawatan tertulis

yang menggambarkan masalah kesehatan pasien. Hasil yang akan di harapkan,

tindakan-tindakan keperawatan dan kemajuan pasien secara spesifik

(manurung, 2011). Menurut Kusumawati & Yudi (2010) tujuan umum yaitu

berfokus pada penyelesaian permasalahan dari diagnosa keperawatan dan dapat

dicapai jika serangkaian tujuan khusus tercapai. Tujuan khusus berfokus pada

penyelesaian penyebab dari diagnosis keperawatan. Tujuan khusus merupakan

rumusan kemampuan klien yang perlu dicapai atau dimiliki. Kemampuan ini

dapat bervariasi sesuai dengan masalah dan kebutuhan klien serta untuk

menyelesaikan masalahnya.

Menurut Rasmun (2009) tujuan umum gangguan persepsi sensori

halusinasi pendengaran yaitu agar klien dapat mengontrol halusinasi yang

dialaminya. Ada lima tujuan khusus gangguan halusinasi, antara lain: tujuan

khusus pertama, klien dapat membina hubungan saling percaya. Rasional dari

tindakan yang dilakukan yaitu hubungan saling percaya sebagai dasar interaksi

terapeutik antara perawat dan klien. Tujuan khusus kedua, klien dapat

mengenal halusinasinya dari situasi yang menimbulkan halusinasi, isi, waktu,

frekuensi halusinasi, dan respon klien terhadap halusinasinya. Rasional dari

tujuan kedua adalah peran serta aktif klien sangat menentukan efektifitas

tindakan keperawatan yang dilakukan.

Menurut Rasmun (2009) tujuan khusus ketiga, klien dapat melatih

mengontrol halusinasinya, dengan berlatih cara menghardik halusinasi,

bercakap-cakap dengan orang lain, dan mengalihkan halusinasinya dengan

beraktivitas secara terjadwal. Rasionalnya adalah tindakan yang biasa dilakukan

klien merupakan upaya mengatasi halusinasi. Tujuan khusus keempat, klien

dapat memanfaatkan obat untuk mengontrol halusinasi dengan rasionalnya

yaitu dapat meningkatkan pengetahuan dan motivasi pasien untuk minum obat

secara teratur. Tujuan khusus kelima, pasien dapat dukungan keluarga dalam

mengontrol halusinasi dengan rasionalnya keluarga mampu merawat klien

dengan halusinasi saat berada di rumah.

F. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

Tabel 3.3 Implementasi dan Evaluasi

No

Hari /

Diagnosa

Tindakan Keperawatan

 

Evaluasi ( SOAP)

Tanggal

 

1.

Senin, 31

Belum di ketahui

1.Bina hubungan saling percaya dengan:

S:

Desember

a. Pasien mengatakan selamat pagi

2018

a. Beri salam setiap berinteraksi

b. Pasien mengatakan namanya Tn.J, senang di panggil Tn.J

09.30

b. Perkenalkan nama, nama panggilan, dan tujuan perawat berkenalan

c. Tanyakan dan panggil nama kesukaan klien

c. Tn.J mengatakan belum mau menceritakan masalah yang di hadapinya.

O:

d. Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji, setiap kali berinteraksi

a. Pasien dapat menjawab salam dari perawat

b. Pasien dapat menyebutkan namanya

e. Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien

c. Pasien tampak mondar-mandir di dalam ruangan seperti mengikuti arah suara.

f. Buat kontrak interaksi yang jelas

A :

g. Dengarkan dengan penuh perhatian

a. Hubungan saling percaya belum Terbina

b. Masalah keperawatan belum di dapatkan

c. Didapatkan masalah keperawatan halusinasi pendengaran pada pasien

P :

a. Buat kontrak pertemuan pada pukul 11.00 Wib

b. Lakukan interaksi yang sering dan singkat kepada Tn.J

c. Lanjutkan intervensi point d, e, f dan g

d. Lanjutkan bina hubungan saling percaya

2.

Senin, 31

Gangguan persepsi sensori :

a. Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji, setiap kali berinteraksi

S :

Desember

halusinasi pendengaran

a.

Pasien mengatakan belum mau menceritakan masalah yang sedang di hadapinya

2018

11.00

b. Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien

O :

c. Buat kontrak interaksi yang jelas

a. Pasien belum mau menceritakan masalah yang di hadapinya

b. Pasien tampak mondar-mandir di dalam ruangan mengikuti arah suara yang

d. Dengarkan dengan penuh perhatian

       

datang.

 

c.

Pasien duduk di tempat tidur dan tampa tertawa dan berbicara sendiri

A

:

a.

Hubungan saling percaya belum terbina

P

:

a.

Buat kontrak pertemuan pada pukul 13.00 Wib

b.

Lakukan interaksi yang sering dan singkat kepada Tn.J

c.

Lanjutkan intervensi point d, e, f dan g

d.

Lanjutkan bina hubungan saling percaya

3. Senin, 31

Gangguan persepsi sensori :

a.

Tunjukkan

sikap

jujur

dan

S

:

Desember

halusinasi pendengaran

menepati

janji,

setiap

kali

a.

Pasien mengatakan kesal dan ingin marah jika ada suara lain yang datang

2018

berinteraksi

 

13.00

b.

Tanyakan

perasaan

klien

dan

 

b.

Pasien mengatakan masalahnya masuk rumah sakit karena mengamuk dan mendengar suara yang \tidak di ketahui wujudnya.

masalah yang dihadapi klien

 

c.

Buat kontrak interaksi yang jelas

d.

Dengarkan

dengan

penuh

perhatian

O

:

 

a.

Pasien mau menceritakan masalah yang di hadapinya

b.

Pasien menunjukkan sikap terbuka kepada perawat

c.

Pasien tampak mondar-mandir di dalam ruangan mengikuti arah suara yang datang.

A

:

a.

Hubungan saling percaya terbina

b.

Di dapatkan masalah keperawatan halusinasi pendengaran pada Tn.J

P

:

a.

Pertahankan hubungan saling percaya

b.

Buat kontrak pertemuan pada hari selasa 1 Januari 2019 pukul 09.00 Wib

c.

Lanjutkan SP 1 halusinasi pendengaran

4. Selasa, 1

Gangguan persepsi sensori :

1. Mengidentifikasi jenis halusinasi pendengaran pasien

S

:

Januari 2019

halusinasi pendengaran

a.

Pasien mengatakan belum mau di ajak berinteraksi untuk mengidentifikasi tentang halusinasi pendengarannya

09.00

2. Mengidentifikasi isi halusinasi pendengaran pasien

   

3. Mengidentifikasi waktu halusinasi pendengaran pasien

 

b.

Pasien mengatakan masih ingin tidur.

O:

   

a.

Pasien tampak berbohong

     

4. Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pendengaran pasien

b. Pasien belum mau bercerita tentang halusinasi pendengarannya

5. Mengindentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi pendengaran

6. Mengindentifikasi perasaan pasien jika halusinasi pendengaran muncul

7. Mengidentifikasi respon klien saat halusinasi pendengaran

 

c. Saat Tn.J sedang berhalusinasi Tn.J tampak berbicara dan tertawa sendiri.

A

:

 

a. Tn.J belum mau di ajak berinteraksi

b. Tujuan dari Sp 1 halusinasi pendengaran belum tercapai

P

:

8. Menjelaskan kepada klien dampak yang akan di alami jika menikmati halusinasi pendengarannya.

 

a.

Buat kontrak pertemuan pukul 11.00 Wib

b.

Lanjutkan intervensi No. 2 sd No. 10

9. Mengajarkan pasien menghardik halusinasi pendengaran

 

c.

Lanjutkan SP 1 halusinasi pendengaran pada pertemuan selanjutnya

10. Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi pendengaran dalam jadwal kegiatan harian

 

5.

Selasa, 1

Gangguan persepsi sensori :

1. Mengidentifikasi isi halusinasi pendengaran pasien

S :

Januari 2019

halusinasi pendengaran

 

a. Pasien megatakan isi halusinasi pendengarannnya “ ada suara yang memanggil namanya, mengajaknya untuk rukiyah, ada yang mengatakan

11.00

2. Mengidentifikasi waktu halusinasi pendengaran pasien

3. Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pendengaran pasien

4. Mengindentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi pendengaran

5. Mengindentifikasi perasaan pasien jika halusinasi pendengaran muncul

6. Mengidentifikasi respon klien saat terjadi halusinasi pendengaran

7. Menjelaskan kepada klien dampak yang akan di alami jika menikmati halusinasi pendengarannya.

8. Mengajarkan pasien menghardik halusinasi pendengaran

dirinya adalah manusia yang paling kuat dan paling benar, dan mendengar suara yang selalu menyalahkannya dan

menyuruhnya untuk menciderai diri sendiri dan keluarga.

b. Pasien mengatakan waktu halusinasi pendengarannya “pada waktu siang hari

dan pada saat klien ingin solat dan saat klien sendiri”

c. Pasien mengatakan frekuensi halusinasinya “ 2 -4 kali/hari”

 

d. Pasien mengatakan kondisi yang menimbulkan halusinasi pendengaran ialah saat klien sedang sendiri dan diwaktu siang hari saat menyendiri serta jika pasien mempersepsikan dirinya sedang solat.

e. Pasien mengatakan belum mau melanjutkan interaksi karena masih ingin tidur.

9. Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi pendengaran dalam jadwal kegiatan harian

O:

 

a.

Pasien hanya mampu menceritakan isi,

         

frekuensi dan situasi yang menimbulkan halusinasi pendengaram

 

b.

Pasien belum mau melanjutkan interaksi untuk bercerita tuntas tentang halusinasi pendengarannya

A

:

 

a. Tn.J mau menceritakan isi, frekuensi dan situasi yang menimbul halusinasi pendengaran.

b. Tujuan dari Sp 1 halusinasi pendengaran belum tercapai

P

:

a.

Buat kontrak pertemuan pada pukul 13.00 Wib

b.

Lanjutkan intervensi no 5 sd no.9

 
 

c.

Lanjutkan SP 1 halusinasi pendengaran pada pertemuan selanjutnya

6.

Selasa, 1

Gangguan persepsi sensori :

 

S

:

Januari 2019

halusinasi pendengaran

a. Pasien mengatakan perasaannya saat

13.00

1. Mengindentifikasi perasaan pasien jika halusinasi pendengaran muncul

2. Mengidentifikasi respon klien saat terjadi halusinasi pendengaran

3. Menjelaskan kepada klien dampak yang akan di alami jika menikmati halusinasi pendengarannya.

4. Mengajarkan pasien menghardik halusinasi pendengaran

5. Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi pendengaran dalam jadwal kegiatan harian

halusinasi pendengaran muncul, klien merasa menjadi manusia yang paling

kuat dan selalu benar, dan merasa kesal dan ingin marah.

b. Pasien mengatakan tindakan yang dilakukan saat terjadi halusinasi pendengaran ialah melawannya dan

dengan tidur dan mondar mandir di dalam ruangan

c. Pasien mengatakan belum mau belajar cara memutus / mengontrol halusinasi pendengaran

O:

   

a.

Pasien

dapat

mengungkapkan

 

perasaan,

dan

respon

pasien

jika

halusinasi pendengaran muncul.

b.

Pasien tampak mondar-mandir di dalam ruangan mengikuti arah suara yang datang.

 

c. Pasien belum mau belajar cara mengontrol halusinasi pendengaran dengan cara pertama

 

a. Pasien tampak kembali ke tempat tidur untuk tidur, terkadang berjalan mondar- mandir di dalam ruangan sambil berbicara dan tertawa sendiri.

         

A

 

:

 

a.

Pada pertemuan ini pasien mampu mengungkapkan perasaan, dan respon pasien jika halusinasi pendengaran muncul.

b.

 

Pasien

belum

mau belajar cara

 

mengendalikan halusinasi dengan cara menghardik

 

c.

Tujuan dari Sp 1 halusinasi pendengaran belum tercapai

 

P

:

 

a.

Membuat kontrak pertemuan pada hari Rabu, 2 janauri 2019 pukul 09.00 Wib

b.

Lanjutkan intervensi no. 8 sd no. 9 untuk memutus halusinasi.

c.

Ulangi SP 1 halusinasi pendengaran untuk mengontrol halusinasi pendengaran.

7.

Rabu, 2

Gangguan persepsi sensori :

1. Mengajarkan pasien menghardik halusinasi pendengaran

S

:

Januari 2019

halusinasi pendengaran

 

a.

Pasien mengatakan mau untuk menghilangkan/ memutus halusinasi pendengaran yang datang.

09.00 Wib

2. Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi pendengaran dalam jadwal kegiatan harian

 
 

b.

Pasien mengatakan mau mempelajari cara mengendalikan halusinasi pendengaran

 

c.

Pasien mengatakan ingin melakukan cara menghardik halusinasi pada saat halusinasi pendengaran datang

d.

Pasien mengatakan senang mempelajari cara untuk memutus halusinasi pendengaran

O :

 
 

a. Pasien tampak mau mempelajari cara mengendalikan halusinasi dengan cara pertama

b. Pasien tanpak memperhatikan perawat memberikan contoh cara pertama mengendalikan halusinasi

c. Pasien dapat mempragakan ulang cara yang di contohkan perawat

d. Pasien tampak senang belajar cara untuk mengendalikan halusinasi pendengaran

A

:

a.

Pasien mampu mempelajari cara pertama

         

untuk memutus halusinasi pendengaran

 

b. Pasien dapat mempragakan cara yang di ajarkan

c. Pasien tampak merasa senang mempelajari cara untuk memutus halusinasi

P :

 

a.

 

Buat kontrak pertemuan pada pukul 11.00 Wib

b.

Lanjutkan SP ke dua halusinasi pendengaran pada pertemuan berikutnya

8

Rabu, 02

Gangguan persepsi sensori :

1. Mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan oleh klien

S

:

Januari 2019

halusinasi pendengaran

a.

 

Tn. J mengatakan telah melakukan kegiatan menghardik halusinasi jika halusinasi datang.

Pasien mengatakan halusinasi pendengaran masih datang ± 2-4 kali perhari

Pasien mengatakan belum mau di ajak diskusi tentang cara kedua untuk mengendalikan halusinasi pendengarannya

11.00

2. Memberikan pujian kepada klien jika mampu mengulangi cara yang sudah di pelajari

 

b.

 

3. Mendiskusikan dengan klien cara mengontrol halusinasi pendengaran cara yang kedua yaitu dengan brercakap-cakap pada orang lain saat halusinasi datang

 

c.

4. Menjelaskan dengan klien cara bercakap-cakap dengan orang lain saat halusinasi pendengaran muncul

b.

Pasien mengatakan masih ingin tidur.

O

:

   

a. Pasien masih sering berbicara dan tertawa sendiri

5. Menjelaskan keuntungan bagi klien saat bercakap-caka p

6. Mengajarkan cara bercakap-cakap dengan orang lain saat halusiansi pendengaran muncul

7. meminta klien untuk memperagakan

cara bercakap-cakap saat halusinasi pendengaran muncul

8. Memberikan pujian atas kebersihan klien

b. Pasien bisa menyebutkan cara yang telah di pelajari

c. Pasien tampak bisa mengulangi cara menghardik

d. Pasien tanpak belum mau mempelajari cara kedua untuk memutus halusinasi

e. Pasien tanpak kembali ke tempat tidur untuk kembali tidur.

9. Menganjurkan klien untuk menggunakan cara kedua saat terjadi halusinasi pendengaran

A

:

 

a. Halusinasi masih terjadi pada Tn.J

 

b. Tn. J dapat menyebutkan dan mengulangi cara pertama untuk memutus halusinasi

 

c. Tn.J belum mau berdiskusi tentang cara memutus halusinasi dengan cara

         

bercakap-cakap dengan orang lain

 
 

d.

Tujuan

dari

Sp

2

halusinasi

belum

 

tercapai

 

P

:

a.

Buat rencana pertemuan pada pukul 13.00 Wib

b.

Lanjutkan intervensi SP ke dua point No.3 sd No.9 pada pertemuan selanjutnya.

9.

Rabu, 02

Gangguan persepsi sensori :

1. Mendiskusikan dengan klien cara mengontrol halusinasi pendengaran cara yang kedua yaitu dengan brercakap-cakap pada orang lain saat halusiansi datang

S

:

Januari 2019

halusinasi pendengaran

 

a.

Pasien

mengatakan

belum

mau

13.00

b.

berdiskusi dengan perawat Pasien mengatakan ingin tidur siang.

O

:

2. Menjelaskan dengan klien cara bercakap-cakap dengan orang lain saat halusinasi pendengaran muncul

 

a.

Pasien belum dapat di ajak berdiskusi tentang cara memutus/mengontrol halusinasi dengan cara kedua

Pasien tanpak merenung di tempat tidur di sertai dengan berbicara dan tertawa sendiri

Pasien juga tampak mondar-mandir di ruangan seakan-akan ada yang di ikutinya.

3. Menjelaskan keuntungan bagi klien saat bercakap-cakap

b.

4. Mengajarkan cara bercakap-cakap

c.

dengan orang lain saat halusiansi pendengaran muncul

5. meminta klien untuk memperagakan

 

A

:

cara bercakap-cakap saat halusinasi pendengaran muncul

6. Memberikan pujian atas kebersihan klien

a.

Klien belum mau di ajak berdiskusi tentang cara kedua untuk memutus halusinasi pendengaran

7. Menganjurkan klien untuk menggunakan cara kedua saat halusinasi pendengaran muncul

b.

Klien masih menunjukkan tanda- tanda halusinasi pendengaran

P

:

 

a.

Buat kontrak petemuan pada hari kamis 3 januari 2019 pukul 09.00

b.

Lanjutkan intervensi SP 2No. 3 sd No. 9

c.

10.

Kamis, 3

Gangguan persepsi sensori :

1. Mendiskusikan dengan klien cara mengontrol halusinasi pendengaran cara yang kedua yaitu dengan brercakap-cakap pada orang lain saat halusiansi datang

2. Menjelaskan dengan klien cara bercakap-cakap dengan orang lain saat halusinasi pendengaran muncul

S

:

Januari 2019

halusinasi pendengaran

 

a. Pasien mengatakan mau belajar cara kedua untuk mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap b. Pasien mengatakan suara lain masih muncul saat pasien menyendiri c. Pasien mengatakan telah menggunakan cara menghardik untuk

09.00 Wib

     

3. Menjelaskan keuntungan bagi klien saat bercakap-cakap 4. Mengajarkan cara bercakap-cakap dengan orang lain saat halusiansi pendengaran muncul 5. Meminta klien untuk memperagakan cara bercakap-cakap saat halusinasi pendengaran muncul

 

mengontrol suara halusinasi yang datang. d. Pasien mengatakan ingin menggunakan cara kedua bercakap- cakap dengan orang lain untuk mengontrol halusinasi e. Pasien mengatakan senang telah belajar cara kedua untuk mengontrol halusinasi pendengaran.

6. Memberikan pujian atas kebersihan klien

 

O :

7. Menganjurkan klien

untuk

 

a. Pasien dapat di ajak berdiskusi tentang cara memutus/mengontrol

halusinasi dengan cara kedua “bercakap-cakap”.

menggunakan cara kedua saat halusinasi pendengaran muncul

b. Pasien tampak memperhatikan perawat menjelaskan tentang cara kedua untuk mengontrol halusinasi

c. pasien tampak dapat mempragakan kembali cara mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain

 

A

:

 

a.

pasien mau di ajak berdiskusi cara kedua untuk mengendalikan halusinasi pendengaran

b. Pasien dapat mempragakan ulang cara mengontrol halusinasi pendengaran dengan cara kedua

c. Pasien menunjukkan rasa menerima cara yang telah di ajarkan.

P

:

 

a.

Buat kontrak petemuan pukul 11.00 Wib

b.

Lanjutkan SP 3 halusinasi pendengaran.

11.

Kamis , 03 Januari 2018 11.00 Wib

Gangguan persepsi sensori :

1. Mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan oleh klien

 

S :

Halusinasi pendengaran

a.

Pasien mengatakan belum mau berinteraksi dengan perawat.

Pasien mengatakan belum mau di ajak diskusi tentang cara ketiga yang bisa di lakukan untuk mengontrol halusinasi.

2. Memberikan pujian kepada pasien jika pasien dapat menyebutkan cara yang sudah di pelajari

3. Mendiskusikan dengan klien cara memutuskan/ mengontrol halusinasi pendengaran cara ketiga yaitu dengan melakukan aktivitas yang terjadwal

4. Menjelaskan dengan klien pentingnya

b.

 

O :

a.

Pasien belum mau di ajak diskusi

b.

Pasien tampak duduk di pinggir tempat

     

melakukan aktivitas yang terjadwal untuk mengatasi halusinasi pendengaran

 

tidur sambil melamun.

 

c.

Pasien tampak berbicara dan tertawa sendiri di tempat tidur

5. Mendiskusikan dengan klien kegiatan yang biasa klien lakukan di rumah sakit

A

:

a.

Pasien belum mau berdiskusi tentang cara memutu/ mengontrol halusinasi

6. Menyususn dan membuat jadwal kegiatan yang biasa dilakukan oleh klien dari bangun tidur sampai klien tidur kembali

b.

Tujuan dari SP 3 halusinasi pendengaran belum tercapai

P

:

 

a.

b.

Buat kontrak pertemuan pukul 13.00 Wib

7. Memberikan pujian atas keberhasilan klien menyusun jadwal kegiatan sehari-hari

8. Mengajurkan klien untuk melakukan aktivitas yang telah disusun

 

lanjutkan intervensi SP 3 pada pertemuan selanjutnya

12.

Kamis , 03

Gangguan persepsi sensori :

1. Mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan oleh klien

S

:

Januari 2018

Halusinasi pendengaran

 

a.

Pasien mengatakan telah menggunakan

13.00

Wib

2. Memberikan pujian kepada pasien jika pasien dapat menyebutkan cara yang sudah di pelajari

 

cara 1 dan 2 untuk memutus halusinasi pendengaran

   

b.

3. Mendiskusikan dengan klien cara memutuskan/ mengontrol halusinasi pendengaran cara ketiga yaitu dengan melakukan aktivitas yang terjadwal

4. Menjelaskan dengan klien pentingnya melakukan aktivitas yang terjadwal untuk mengatasi halusinasi pendengaran

5. Mendiskusikan dengan klien kegiatan yang biasa klien lakukan di rumah sakit

6. Menyususn dan membuat jadwal kegiatan yang biasa dilakukan oleh klien dari bangun tidur sampai klien tidur kembali

7. Memberikan pujian atas keberhasilan klien menyusun jadwal kegiatan sehari-hari

Pasien mengatakan belum mau di ajak diskusi tentang cara ketiga yang bisa di lakukan untuk mengontrol halusinasi.

O :

 

a.

Pasien belum mau di ajak diskusi

b.

Pasien tampak duduk sendiri di tempat tidur

c.

Pasien tampak berbicara dan tertawa sendiri di tempat tidur

A

:

a.

Pasien belum mau berdiskusi tentang cara memutus halusinasi

b.

Tujuan dari SP 3 halusinasi pendengaran belum tercapai

P

:

 

a.

Buat kontrak pertemuan pada hari jumat

 

4

januari 2019 pukul 09.00 Wib

 

b.

Lanjutkan intervensi No. 3 sd No. 8 SP

8. Mengajurkan klien untuk melakukan aktivitas yang telah disusun

 

halusinasi pendengaran pada pertemuan selanjutnya

3

13.

Jumat , 04 Januari 2018

Gangguan persepsi sensori :

1. Mendiskusikan dengan klien cara memutuskan/ mengontrol halusinasi pendengaran cara ketiga yaitu dengan melakukan aktivitas yang terjadwal